1
ABSTRACT
ANALYSIS OF BIOGAS PROGRAM IMPLEMENTATION IN DEVELOPMENT OF COMMUNITY PERSPECTIVE
(Study Case in Pesawaran Indah Village, Subregency Padang Cermin, Pesawaran Regency, Province of Lampung)
BY
EKO MARISTIYAWAN
Empowerment is a key to self community development. Community is a key actors in empowerment perspective and have to aware and to understand important of public initiative to fulfill its necessaries. Although community empowerment needed an assist from external actor, however it can be an autonomous subject for an empowerment program.
Biogas program was initiated by LPM Unila and has supported by Ministry of ESDM. The problem is only reactor from LPM Unila along with founding concept. Unfortunately, the reactor from Ministry of ESDM was not attached by a real program. By means of biogas program community has directed to consciously and sustainably develop the program in order that the benefits can be continued and continuously.
Focus of this research is analysis how to biogas program implementation from community development perspective. This study found that the community has still depending on University of Lampung. Community has concentrated to cow fertilizer than development of biogas program continuously. Biogas program has not successful yet to build empowerment construction for community autonomous because of three reasons. Firstly, lack of skills and innovation distribution. Secondly, there is no enough time for community empowerment program. Thirdly, there is no supported from local government.
ABSTRAK
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM BIOGAS DALAM PERSPEKTIF DEVELOPMENT OF COMMUNITY
(Studi Kasus Di Desa Pesawaran Indah
Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung)
OLEH
EKO MARISTIYAWAN
Pemberdayaan adalah kunci untuk membangun kemandirian masyarakat. Pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama yang harus dapat menyadari, memahami, dan menginternalisasi urgensi inisiatif komunal dalam rangka memenuhi kebutuhan komunitasnya. Meskipun tetap diperlukan peran penting dari pihak eksternal masyarakat yang hendak diberdayakan, namun prinsip dasarnya tetaplah masyarakat yang merupakan subyek mandiri sebuah program pemberdayaan.
Sebagaimana yang terdapat di Desa Pesawaran Indah, program biogas pertama kali dicetuskan dan dibantu pengadaannya oleh LPM Unila, kemudian oleh Kementerian ESDM. Persoalannya adalah hanya reaktor bantuan LPM Unila yang disertai konsep pembinaan, tidak demikian halnya dengan reaktor dari Kementerian ESDM. Melalui biogas ini masyarakat diarahkan untuk secara sadar dan berkelanjutan meneruskembangkan biogas, agar kebermanfaatannya dapat terus berlangsung secara kontinyu.
Fokus penelitian yang peneliti pilih yakni menganalisis bagaimana pelaksanaan program biogas dilihat dari perspektif Development of Community. Peneliti menemukan bahwa masyarakat masih tergantung dengan Unila. Masyarakat lebih terkonsentrasi dengan penggemukan sapi, bukan pada upaya simultan pengembangan biogas. Kendala minimnya pemberian keterampilan perawatan dan inovasi oleh Unila, serta terbatasnya waktu pemberdayaan yang dilakukan, dan ditambah dengan tidak adanya dukungan pemda, menjadikan program biogas ini belum berhasil membangun konstruksi pemberdayaan yang memandirikan masyarakat.
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM BIOGAS DALAM
PERSPEKTIF
DEVELOPMENT OF COMMUNITY
(Studi Kasus Di Desa Pesawaran Indah
Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung)
Oleh
EKO MARISTIYAWAN
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER ILMU PEMERINTAHAN
Pada
Program Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Lampung
PROGRAM PASCA SARJANA
MAGISTER ILMU PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM BIOGAS DALAM
PERSPEKTIF
DEVELOPMENT OF COMMUNITY
(Studi Kasus Di Desa Pesawaran Indah
Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung)
(Tesis)
Oleh
EKO MARISTIYAWAN
PROGRAM PASCA SARJANA
MAGISTER ILMU PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Eko Maristiyawan, dilahirkan di Tanjung Karang pada tanggal 25 Maret 1984 sebagai putra pertama dari tiga bersaudara, pasangan Ayahanda M. Komar dan Kanjeng Ibunda Siti Sri Asih.
Penulis menyelesaikan pendidikan informal dari Taman Kanak-Kanak hingga SMP di Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Tengah, yang kini menjadi wilayah Kabupaten Lampung Timur; kemudian jenjang SMA penulis tempuh di Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Metro di Kota Metro dan lulus tahun 2002; pada tahun tersebut pula penulis diterima di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila) melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), dan lulus pada tahun 2008.
Setelah lulus dari Strata 1 Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila pada tahun 2008, tahun 2009 penulis diterima sebagai CPNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran. Sejak awal resmi sebagai PNS hingga sekarang, penulis bertugas di Kecamatan Punduh Pedada, sebuah wilayah eksotis yang berada di ujung Selatan di wilayah Kabupaten Pesawaran.
M O T O
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d:11)
Sa-Sa-Sa (Tiga Pedoman Hidup) Sabar Atine – selalu sabar
Saleh Pikolahe – selalu saleh, taat beragama Sareh Tumindake – selalu bijaksana
(H.M. Soeharto)
P E R S E M B A H A N
Alhamdulillahirabbil„alamin....
Kupersembahkan sebuah karya kecil dan sederhana ini
dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT dan setiap orang yang berharga dalam kehidupanku atas segala dukungan yang telah diberikan selama ini
serta doa yang tiada henti: Ibunda tersayang dan Ayahanda Istriku tercinta ”Dwi Restia Ningrum” Putriku terkasih “Adzkiya Rashna Thafana”
Ayahanda dan Ibunda Mertua tersayang Adik-adik kandungku
Kakak, adik iparku Seluruh keluarga
S A N W A C A N A
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmaan, rahiim, karunia, hidayah, ilham, dan barakah-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul ”Analisis Pelaksanaan Program Biogas Dalam Perspektif Development of Community (Studi Kasus di Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung)”.
Tesis ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Magister Ilmu Pemerintahan pada Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan.
Tesis ini, penulis sangat menyadari terdapat banyak sekali kekurangan, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan dari penulis. Tanpa bantuan dari berbagai pihak, penulisan tesis ini tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas;
3. Bapak Drs. Yana Ekana Priyahita S., M.Si., selaku Sekretaris Program MIP FISIP Unila, yang telah membantu, memberikan motivasi dan mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan studi;
4. Bapak Dr. Suwondo, M.A., selaku Pembimbing Utama. Terima kasih atas saran, masukan, motivasi, komitmen, serta dedikasinya yang tinggi untuk membantu penulis dalam penyelesaian studi.
5. Bapak Dr. Hartoyo, M.Si., selaku Pembahas Seminar dan Penguji Utama yang telah memberikan banyak sekali masukan kepada penulis demi kesempurnaan tesis ini;
6. Bapak Drs. R. Sigit Krisbintoro, M.I.P., selaku Pembimbing Pembantu. Terima kasih penulis sampaikan atas segala bimbingan, dukungan, dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini dengan baik;
7. Bapak Drs. Denden Kurnia Drajat, M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila dan Dosen Pembimbing Akademik, yang telah memberikan motivasi dan semangat pantang mundur sehingga penulis dapat menyelesaikan studi lanjut ini;
8. Seluruh Dosen MIP FISIP Unila yang telah mendidik penulis dan memberikan landasan intelektual kepada penulis dengan penuh kesabaran dan ketulusan, yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis maupun terapan, serta Staf Akademik MIP FISIP Unila yang telah membantu penulis secara administratif;
10.Kanda Dr. Agus Muhammad Septiana, S.I.P., MH., Kanda Arizka Warganegara, S.I.P., M.A., Kanda Darmawan Purba, S.I.P., M.I.P., Kangmas Sudibyo, S.I.P., yang telah memberikan semangat dan perhatian kepada penulis, bukan saja selama penulis menimba ilmu di MIP FISIP Unila bahkan sejak penulis memulai kehidupan sebagai mahasiswa S1 di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila;
11.Kangsoe Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah, S.I.P., M.Soc.Sc., Ph.D.. Terima kasih atas bantuannya yang luar biasa;
12.Brother Yahnu Wiguno Sanyoto, S.I.P., M.I.P. Terima kasih tak terhingga atas perkenan waktunya membantu penulis menyelesaikan tesis ini, dari dulu hingga kini, sahabatmu yang tidak seberapa ini selalu merepotkanmu;
13.Bapak Drs. Mursalin, MM., selaku Camat Punduh Pedada Kabupaten Pesawaran, dan Bapak Sutomo, S.Pd., MM., selaku Sekretaris Kecamatan Punduh Pedada Kabupaten Pesawaran, yang telah memberikan izin, kesempatan, dan toleransi yang luar biasa, sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan jenjang pendidikan Pascasarjana ini;
15.Bang Muhammad Haluti, dan Bro Yamin Hasis, Lc., atas bantuan, dan dukungan bagi penulis;
16.Keluarga Besar Bapak Kaspin dan Ibu Sri, yang dengan segala ketulusan kebaikannya memberikan tempat berteduh bagi penulis selama berada mengabdi di Kecamatan Punduh Pedada;
17.Bapak Drs. Nur Asikin, M.I.P., Bapak Fauzan Murdapa, ST., MT., Bapak Drs. Achmadi, Bapak Agung Setiawan, Bapak Syamsul Hidayat, Bapak Nizar, Bapak Ruwadi, dan Bapak Suhandayono, yang telah menjadi informan bagi penulis dalam rangka penyelesaian tesis ini. Informasi yang penulis peroleh sangat berharga dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang menyangkut masalah pemberdayaan;
18.Mahasiswa MIP Angkatan 2011, Kakangmas Purwanto, Mas Heri Agus Setiawan, Mas Sunu Jatmiko, Bang Agustam, Bang Rosidi, Bung Fery, Bang Rendi, Uda Ardian Oktora, Bang Indra Saputra, Bang Taufik Widodo, Kang Ahmad Mahmudi, Bang Cecep, Bang Marhendra Jalyas, Slamet Riadi, Septiansyah, Adi Suhendra, Romi Gusman, Mba Pipien, Atu Eka, Atu Ririe, Mb Lily, Mb Omeg, Rema, Neysa, Sari, Irma, Bu Susiam, Bu Eny, dan Bu Yeni;
19.Ayahanda M. Komar dan Kanjeng Ibunda Siti Sri Asih, yang telah tanpa lelah
mendo’akan penulis, menjadi suri teladan, sumber inspirasi dan kesabaran,
dan motivator yang mengajarkan makna dari semboyan ”ing ngarso sung
si cantik Quin, Adinda Astri Septi Malasari. Keluarga tercinta di Bandar Lampung, Batanghari dan Pekalongan Lampung Timur, Wonosobo Tanggamus, Malang, yang selalu memberikan motivasi dan pengarahan kepada penulis. Terima kasih untuk segala kebersamaannya selama ini, karena telah mewarnai kehidupan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Kalian adalah orang-orang yang menjadi bagian dari catatan sejarah kehidupan penulis. Semoga kebahagiaan senantiasa kita rasakan bersama;
20.Istriku tercinta Dwi Restia Ningrum, atas kesetiaan, dedikasi moril dan material untuk selalu mendampingi, mengingatkan, memotivasi, dan
mendo’akan keberhasilan penulis dalam segala macam keadaan untuk
melayari samudera kehidupan yang tidak berujung, yang telah mencurahkan cinta dan kasih sayang dalam kehidupan penulis dalam suka maupun duka; 21.Ananda terkasih, penyuluh hidup, Adzkiya Rashna Thafana. Semoga
keberkahan, kemuliaan, kejayaan, kehormatan, dan kemenangan senantiasa terlimpah atasmu, hingga generasi yang Insya Allah akan kau lahirkan kelak; 22.Ayahanda Faizul (Almarhum) dan Ibunda Yulia Kristiani, kakak ipar dan adik
ipar penulis: Mb Eka dan Mas Didit, Ifa. Terima kasih atas doa, dukungan, dan kasih sayangnya selama ini;
23.Keluarga Besar Lek Hari dan Bibi Yoni, Indrie, Yuddi, serta Lek Ntong. Terima kasih tak terhingga atas pengorbanannya semenjak penulis memulai jenjang pendidikan S1 dan S2 di Universitas Lampung;
25.Teman-teman seperjuangan. Terima kasih atas kebersamaan dan kenangan indah yang kalian berikan selama ini. Semoga selalu teringat sepanjang masa; 26.Adinda-adindaku di HMI Komisariat Sosial Politik Unila dan HMI Cabang
Bandarlampung, lanjutkan perjuangan, ”Yakin Usaha Sampai”;
27.Kepada semua pihak yang telah membantu keberhasilan penulis, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua perhatian yang diberikan.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amien. Semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.
Bandarlampung, Mei 2014 Penulis,
DAFTAR ISI
B. Rumusan Masalah Penelitian ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pemberdayaan Masyarakat ... 11
B. Strategi Pemberdayaan Masyarakat ... 16
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 33
B. Karakteristik Potensi Masyarakat ... 35
C. Perkembangan Program Biogas Di Desa Pesawaran Indah ... 47
D. Peluang Pengembangan Program Biogas ... 52
E. Sinergi Antara Ternak Sapi Dan Program Biogas ... 56
F. Partisipasi Masyarakat Dalam Program Biogas ... 59
G. Hambatan-hambatan Dalam Program ... 62
H. Peran Pemerintah Dalam Pemberdayaan ... 67
I. Nilai Tambah Ekonomi, Sosial, Dan Budaya Pada Program Biogas ... 71
J. Relevansi Program Dalam Pemberdayaan Masyarakat ... 75
K. Development of Community Pada Program Biogas ... 78
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 94
B. Saran ... 97 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
DAFTAR SINGKATAN
ADD Alokasi Dana Desa
APBN Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara APDASI Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia BRI Bank Rakyat Indonesia
BPMPD Badan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemerintah Desa Caleg Calon Anggota Legislatif
CD Community Development
Dapil Daerah Pemilihan
Dinsosnakertrans Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Distamben Dinas Pertambangan Dan Energi
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DPR RI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia ESDM Energi Dan Sumber Daya Mineral
Kabid Kepala Bidang
Kades Kepala Desa
Kasi Kepala Seksi KKN Kuliah Kerja Nyata
KUBE Kelompok Usaha Bersama
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LPM Unila Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Lampung LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
Perdes Peraturan Desa
PNPM-MPd Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Perdesaan
PNS Pegawai Negeri Sipil PLN Perusahaan Listrik Negara
PLTAMH Pembangkit Listrik Tenaga Air Mikro Hidro Sekdes Sekretaris Desa
SDA Sumber Daya Alam
SDM Sumber Daya Manusia
SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah TTG Teknologi Tepat Guna
Unila Universitas Lampung
1
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
2
sebagai pedoman berbangsa dan bernegara, tafsir oleh pemerintah masihlah limitatif. (Septiana, 2012:35).
Persoalan masyarakat Indonesia masih lekat dengan rendahnya kemampuan untuk memberikan pendidikan hingga tingkat tertinggi bagi anak-anaknya, untuk mengakses fasilitas kesehatan yang sigap dan antisipatif dengan kualitas prima, serta bahkan untuk mengonsumsi sumber nutrisi yang ideal secara periodik dan teratur konstan. Penyelesaian persoalan yang demikian tentu membutuhkan kerjasama dan kesadaran bersama, bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak akan dapat menyelesaikan masalahnya secara mandiri, melainkan membutuhkan orang lain dan lembaga yang ada disekitarnya, sehingga dari sinilah kemudian terjadi kontrak sosial antara individu-individu untuk menyerahkan sebagian hak yang dimilikinya kepada institusi bernama negara guna diatur dan dikelola agar terpenuhi kebutuhan hidup, seperti: kesejahteraan, keamanan, pendidikan, kesehatan, dll. (Indiahono, 2009:58).
Kenyataannya memang, meskipun kini telah memasuki era desentralisasi yang dilaksanakan pasca Reformasi, dengan konsekuensi berupa munculnya keterbukaan adanya suatu kesadaran (consiousness) bahwa penyelenggaraan pembangunan tidak bisa lagi dimobilisasi secara seragam dibanyak tempat dan dalam rentang waktu yang bersamaan, namun tetap saja masih terdapat ganjalan berupa minimnya komitmen pemangku kepentingan yang menjadikan masyarakat dominan berada pada porsi marginal.
3
politik dan ekonomi (political and economical accesbility). Akibat paling mungkin dari situasi ini tentu saja adalah eksisnya keterbatasan masyarakat untuk dapat berkembang menjadi lebih baik melalui upaya pengelolaan potensi yang ada disekitarnya.
Rendahnya inisiatif pemangku kepentingan daerah dan belum dimilikinya kapasitas komunal oleh masyarakat, menjadikan kompleksitas masalah pemberdayaan mengharuskan Pemerintah melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan menjamin bahwa pandangan masing-masing diperhatikan, sebab hanya dengan pembuatan proses penyusunan kebijakan menjadi lebih partisipatori, transparan, dan akuntabel, maka keberhasilan bisa dicapai, sebab, Pemerintah dalam hal ini adalah institusi legal yang secara konstitusional diberi amanah oleh rakyat untuk memenuhi kebutuhan kolektif. Pemerintah tidak selayaknya hanya bertindak atas nama pemilik otoritas tunggal formal, melainkan wajib mengoordinir berbagai pemangku kepentingan terkait; civil society1, kalangan pebisnis, kelompok pendonor, dan tentu saja adalah masyarakat itu sendiri, hal ini bertujuan agar langkah-langkah pemberdayaan tersebut bisa dijalankan penuh sinergisitas.
Secara teoritis, sebagai bentuk pembangunan alternatif, pemberdayaan masyarakat menekankan pentingnya pembangunan berbasis masyarakat (community based development) yang bersifat bottom up (atas inisiatif masyarakat) dan lokalitas (Zubaedi, 2013:vi). Prinsip ini dimaksudkan agar program yang dijalankan tidak bersifat memaksakan pemberdayaan tanpa mengakomodasi keluhuran lokalitas
1
4
masyarakat. Pemberdayaan diarahkan untuk dapat menjadikan masyarakat mandiri secara inisiatif sehingga tidak lagi tergantung dengan pihak luar yang telah memberikan bimbingan serta pendampingan. Dengan demikian, pemberdayaan merupakan proses berkelanjutan yang hendaknya terus berjalan meskipun pendampingan sudah tidak dilakukan. Meskipun hal ini sulit sekali dicapai mengingat mayoritas penduduk sebagai sasaran pemberdayaan, berada di berbagai daerah di Indonesia yang cenderung lebih besar ada di wilayah perdesaan yang rata-rata penduduknya menggantungkan diri pada sektor agraris. (Alfitri, 2011:4).
Namun demikian, bukan berarti pemberdayaan tidak dapat untuk dilakukan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memperkuat hubungan kelembagaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat serta memperluas partisipasi masyarakat baik laki-laki maupun perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan dasar. (Wrihatnolo, dan Riant, 2007:33).
5
pemberdayaan, luasan cakupan area implementasi program, atau kurang idealnya konseptualisasi pemberdayaan oleh pemerintah. Salah satu cara yang dapat ditempuh guna meminimalisir hal-hal tersebut adalah dengan pendekatan CD. Pendekatan CD memungkinkan dilakukannya pemberdayaan oleh pihak di luar pemerintah, hal ini sebagai alternatif cara mengantisipasi kekurangsiapan finansial pemerintah terhadap kewajiban pemberdayaan, sedangkan terdapat pihak-pihak lain yang dimungkinkan memiliki kecukupan kapabilitas untuk turut serta aktif membantu pemerintah dalam rangka memberdayakan masyarakat, mengolah sumber daya lokal masyarakat setempat.
Seperti yang terjadi di Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Berdiri pada tahun 2007, Desa Pesawaran Indah yang merupakan hasil pemekaran dari Desa Bunut Kecamatan Padang Cermin ini, sejak berdirinya telah berhasil beberapa kali memperoleh program pemberdayaan. Desa dengan keindahan alamnya ini secara geografis berada pada wilayah dataran tinggi. Mata pencaharian masyarakatnya didominasi oleh petani dan pekebun. Sebagai desa yang merupakan bekas areal perkebunan negara, Desa Pesawaran Indah memiliki ragam potensi sebagai pengembangan pemberdayaan.
6
dari limbah (kotoran) ternak sapi. Pembuatan reaktor boigas ini disumbangkan oleh Kementerian ESDM dan LPM Unila.
Ketiga, usaha ternak sapi. Usaha ini berada dalam pembinaan APDASI. Sesuai dengan kesepakatan, APDASI menyediakan bimbingan teknis, kesehatan, pasar, dan penjualan hasil. Keempat, program peningkatan kapasitas hutan koservasi. Program ini melibatkan juga Unila serta salah seorang Anggota DPD RI Provinsi Lampung. Kelima, ADD. ADD ini merupakan dana stimulus yang berasal dari APBN. Besaran dana ini yang secara khusus diperuntukkan bagi langkah pengentasan kemiskinan baru sebatas stimulus, dengan persentase yang hanya 9% dari keseluruhan dana ADD.
Keenam, pendirian koperasi. Atas inisiasi Unila, Desa Pesawaran Indah
diberdayakan melalui Koperasi “Sinar Banyu Mandiri”, koperasi ini dikuatkan
eksistensinya dengan menjadi penghubung utama dalam mengembangkan kerjasama dengan pihak luar Desa Pesawaran Indah. Ketujuh, PNPM-MPd. Program ini meliputi pemberdayaan desa dari sisi infrastruktur berikut pemberdayaan potensi ekonomis desa. Kedelapan, program hibah bibit kambing dan sapi dari Dinsosnakertrans Provinsi Lampung. Hibah ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangbiakkan ternak sapi dan kambing tanpa harus kesulitan mencari modal finansial guna pengadaan bibit, sekaligus tanpa terbebani kewajiban pengembalian.
7
limbah ternak sapi ini di satu sisi menjadikan residu ternak sebagai bahan bakar yang tidak hanya murah namun juga ramah lingkungan karena tidak terbuang begitu saja, di sisi lain, karena sifatnya yang membutuhkan limbah ternak sapi sebagai bahan bakarnya, maka diperlukan ketersediaan ternak sapi yang memadai guna memenuhi kebutuhan biogas tersebut, dengan demikian diperlukan jumlah ternak sapi yang cukup untuk menjamin ketersediaan limbah. Secara ekonomis hal ini tentu akan membantu peternak dalam hal pengurangan pengeluaran biaya untuk konsumsi bahan bakar gas.
Menurut hasil riset Hartoyo dan Sigit (2012:8-9), faktor utama Desa Pesawaran Indah berhasil dalam membangun desa mandiri energi terletak pada kemampuannya menggali serta memanfaatkan ragam sumber daya sebagai modal, antara lain:
1) Modal Alam. Secara alamiah, Desa Pesawaran Indah terletak di lereng gunung Wan Abdul Rahman. Daerah ini berhawa sejuk, bertanah subur dengan sungai yang mengalir sepanjang tahun. Desa ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wilayah pengembangan pertanian dan peternakan secara kolektif dan berkelanjutan.
2) Modal Fisik. Secara fisik sarana prasarana transportasi di Desa Pesawaran Indah sudah cukup memadai. Kondisi ini menunjang pemasaran hasil-hasil pertanian dan peternakan.
8
bersemangat untuk maju dan tidak tertutup dengan inovasi atau hal baru yang berasal dari luar.
4) Modal Finansial. Pada mulanya penduduk Desa Pesawaran Indah amat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan finansial guna mengelola usaha pertanian dan peternakan, akhirnya mereka berhasil berhubungan dengan pihak luar untuk memperoleh bantuan finansial.
5) Modal Sosial. Modal sosial dibedakan menjadi dua, pertama, modal sosial struktural. Modal sosial ini ditunjukkan oleh hubungan yang kuat antara individu masyarakat (sebagai anggota) dengan organisasi lokal. Kedua, modal sosial kognitif atau kultural. Modal ini ditunjukkan oleh adanya kapasitas kultural seperti, norma-norma, nilai-nilai bersama, hubungan timbal-balik, solidaritas sosial, kepercayaan, dan keyakinan.
Hartoyo dan Sigit menerangkan bahwa kelima modal tersebutlah yang kemudian disinergikan fungsinya dengan mewujudkan manfaat utama untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Pesawaran Indah, yang terealisasi pada pengembangan energi listrik tenaga air dan energi biogas. Energi biogas yang membutuhkan asupan residu (kotoran) ternak sapi sebagai bahan bakar, sudah barang tentu harus dipenuhi secara berkelanjutan agar dapat terus diberdayakan kebermanfaatannya.
9
keberadaan program mandiri energi biogas belum dielaborasi pada ranah bagaimana dampaknya terhadap masyarakat. Peneliti mengambil fokus penelitian pada bagaimana pelaksanaan pemberdayaan melalui adanya program ini, dengan menggunakan pendekatan CD karena program biogas merupakan injeksi dari pihak eksternal masyarakat desa yang diimplementasikan menurut potensi yang ada.
Analisis ini menarik bagi peneliti karena untuk melihat sejauh mana program biogas yang dilaksanakan di Desa Pesawaran Indah ini memberikan kebermanfaatan ataupun justru persoalan baru, sehingga dapat diupayakan formulasi program secara lebih baik. Sebagaimana yang peneliti ketahui, beberapa persoalan yang muncul dalam pengembangan energi ini yakni minimnya pakan untuk ternak sapi yang digemukkan, dan sering terhentinya aktifitas biogas karena bila sapi yang digemukkan telah memasuki masa panen, maka tidak ada lagi sapi yang tersisa untuk dapat diambil kotorannya.
10
tidak hanya memberikan suplai finansial tanpa disertai pemberian bekal keterampilan yang bisa menjadikan masyarakat mandiri. Analisis ini akan memberikan gambaran secara jelas tentang bagaimana program biogas ini diterapkan di masyarakat. Tujuannya tidak lain adalah agar terwujud kerja nyata dari beragam pihak berkemampuan guna memberikan sumbangsihnya melalui pemberdayaan. Secara spesifik, peneliti menggunakan pendekatan development of community yang merupakan salah satu varian dari CD. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai subyek inisiator yang partisipatif dan mandiri, meskipun diawali dengan bimbingan dan pembinaan dari pihak luar.
B.Rumusan Masalah Penelitian
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah, bagaimana pelaksanaan program biogas di Desa Pesawaran Indah dalam perspektif development of community.
C.Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program biogas di Desa Pesawaran Indah dalam perspektif development of community.
D.Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis, hasil penelitian dapat menambah pengetahuan tentang pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
11
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.Tinjauan Pemberdayaan Masyarakat
Friedmann dalam Wrihatnolo, dan Riant (2007:59) menyatakan bahwa konsep pemberdayaan muncul sebagai konsep alternatif pembangunan yang pada intinya menekankan otonomi pengambilan keputusan dari suatu kelompok masyarakat yang berlandaskan sumber daya pribadi, partisipatif, demokratis, dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung. Konsep pemberdayaan sekaligus mengandung konteks pemihakan kepada lapisan masyarakat yang berada di lapisan paling bawah. (Mubyarto, dalam Wrihatnolo, dan Riant, 2007:60).
Paradigma pemberdayaan masyarakat yang mengemuka sebagai isu sentral dewasa ini muncul sebagai tanggapan atas kenyataan adanya kesenjangan yang belum tuntas terpecahkan terutama antara masyarakat di perdesaan, kawasan terpencil, dan terbelakang. Pemberdayaan pada dasarnya menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian dan sekaligus pelaku utama pembangunan. Paradigma pemberdayaan adalah pembangunan yang berpusat pada rakyat dan merupakan proses pembangunan yang mendorong prakarsa masyarakat yang berakar dari bawah. (Alfitri, 2011:21).
12
pemberdayaan adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Craig dan Mayo dalam Alfitri (2011:22) mengatakan bahwa konsep pemberdayaan termasuk dalam pengembangan masyarakat dan terkait dengan konsep: kemandirian (self help), partisipasi (participation), jaringan kerja (networking), dan pemerataan (equity).
Pengertian konvensional (Wrihatnolo, dan Riant, 2007:115) konsep pemberdayaan yakni sebagai terjemahan empowerment yang mengandung arti: (1) to give power or authority to atau memberikan kekuasaan, mengalihkan kekuatan, atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain; (2) to give ability to atau usaha untuk memberi kemampuan atau keberdayaan. Pengertian tersebut secara eksplisit menerangkan bagaimana menciptakan peluang untuk mengaktualisasikan keberdayaan seseorang.
Dubois dan Miley (dalam Wrihatnolo, dan Riant, 2007:116) menjelaskan bahwa dasar-dasar pemberdayaan antara lain meliputi:
1. Proses kerjasama antara klien dan pelaksana kerja secara bersama-sama;
2. Memandang sistem klien sebagai komponen dan kemampuan yang memberikan jalan ke sumber penghasilan dan memberikan kesempatan;
3. Klien harus merasa sebagai agen bebas yang dapat memengaruhi; 4. Kompetensi diperoleh atau diperbaiki melalui pengalaman hidup;
5. Meliputi jalan ke sumber-sumber penghasilan dan kapasitas, untuk menggunakannya secara efektif;
13
7. Pencapaian melalui struktur-struktur paralel dari perseorangan dan perkembangan masyarakat.
Secara konseptual, pemberdayaan harus memenuhi enam hal berikut:
1. Learning by doing. Pemberdayaan adalah proses belajar, dan terdapat tindakan konkrit yang kontinyu dan dampaknya apat terlihat.
2. Problem solving. Pemberdayaan harus memberikan pemecahan masalah krusial pada waktu yang tepat.
3. Self evaluation. Pemberdayaan harus mampu mendorong masyarakat melakukan evaluasi secara mandiri.
4. Self development and coordination. Pemberdayaan agar mendorong pengembangan diri dan melakukan koordinasi dengan pihak lain secara luas. 5. Self selection. Pemberdayaan menumbuhkan kemandirian dalam menetapkan
langkah kedepan.
6. Self decisim. Pemberdayaan membuka kesadaran untuk memilih tindakan yang tepat dengan percaya diri dalam memutuskan sesuatu secara mandiri.
(Saraswati, dalam Alfitri, 2011:24).
Proses pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan:
1. Pemungkinan. Menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal.
2. Penguatan. Memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhannya.
14
4. Penyokongan. Memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas kehidupannya.
5. Pemeliharaan. Menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.
(Suharto, dalam Alfitri, 2011:27).
Azis dalam Alfitri (2011:26) memberikan panduan tahapan pemberdayaan sebagai berikut, pertama, membantu masyarakat menemukan masalahnya; kedua, melakukan analisis masalah tersebut secara mandiri; ketiga, menentukan skala prioritas masalah; keempat, mencari solusi atas masalah; kelima, implementasi penyelesaian masalah; keenam, evaluasi.
Pemberdayaan sebagai suatu perubahan yang terencana, dirinci oleh Lippit dalam Mardikanto, dan Riant (2012:123-124) kedalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Penyadaran. Yakni kegiatan untuk menyadarkan masyarakat tentang eksistensinya tidak hanya sebagai individu dan anggota masyarakat, namun juga dalam kapasitas dalam lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi.
2. Menunjukkan adanya masalah. Yaitu menunjukkan masalah terutama menyangkut kelemahan dan kekuatan yang dimiliki.
3. Membantu pemecahan masalah. Melakukan analisis akar masalah, alternatif solusi, serta pilihan alternatif paling mungkin.
4. Menunjukkan pentingnya perubahan. Perubahan sebagai sebuah keniscayaan universal harus diantisipasi secara terencana.
15
6. Memproduksi dan publikasi informasi. Penggunaan teknologi informasi diperlukan sekali untuk menyesuaikan dengan karakteristik penerima manfaat penyuluhannya.
7. Melaksanakan pemberdayaan/penguatan kapasitas. Yaitu pemberian kesempatan kepada masyarakat lapisan terbawah untuk bersuara menentukan pilihan-pilihannya.
Menurut Wrihatnolo, dan Riant (2007:38-39), beberapa alasan mengapa usaha pemberdayaan perlu dilakukan adalah, pertama, demokratisasi proses pembangunan. Konsep pemberdayaan memberikan peluang sebesar-besarnya kepada lapisan masyarakat paling bawah untuk terlibat dalam pengalokasian sumber daya pembangunan. Pembangunan digerakkan oleh masyarakat sekaligus menjadi wahana pembelajaran pencerdasan bagi rakyat untuk mengenali kebutuhannya sendiri serta melaksanakan dan melestarikan upaya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Penerapan konsep pemberdayaan dengan demikian memberikan efek positif dalam penyelenggaraan ketatanegaraan secara baik.
16
Keempat, penguatan kapasitas birokrasi lokal. Konsep pemberdayaan memaksa jajaran pemerintah lokal memberikan perhatian lebih besar kepada rakyat untuk memperoleh dan memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam proses pemberdayaan rakyat pun bertambah cerdas sehingga mampu memaksa penyelenggara layanan publik untuk belajar memahami dan melayani rakyat dengan baik. Kelima, mempercepat penanggulangan kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat menuntut pemerintah, dan pihak di luar pemerintah untuk memberikan pemihakan dan perlindungan terhadap rakyat miskin sehingga senantiasa teralokasi sumber daya pembangunan untuk rakyat miskin.
B.Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Secara teoritis, kecenderungan primer menunjuk pemberdayaan sebagai proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan kepada masyarakat agar setiap individu menjadi lebih berdaya. Sebaliknya, kecenderungan sekunder menekankan pada proses memberikan stimulus, dan mendorong individu agar mampu menentukan pilihan hidupnya melalui proses dialog. (Pranarka dan Vidhyandika Moeljarto, dalam Wrihatnolo, dan Riant, 2007:119).
Sehubungan dengan deskripsi konseptual di atas, maka minimal terdapat tiga strategi pemberdayaan yang umum dilaksanakan (Wrihatnolo, dan Riant, 2007:119-120), yakni:
17
Bentuk strateginya adalah mengubah sikap mental masyarakat yang tidak berdaya dan pemberian bantuan. Program-program berjenis karitatif dan sinterklas termasuk dalam kategori ini. Kedua, pemberdayaan yang berkutat di “batang” atau pemberdayaan reformis. Konsep ini tidak mempermasalahkan tatanan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang ada, yang terpenting adalah kebijakan operasional. Pemberdayaan difokuskan pada upaya peningkatan kinerja operasional dengan membenahi pola kebijakan, peningkatan kualitas SDM, penguatan kelembagaan, dsb.
Ketiga, pemberdayaan yang berkutat di “akar” atau pemberdayaan struktural. Strategi ini melihat bahwa ketidakberdayaan masyarakat adalah karena struktur sosial, politik, budaya, dan ekonomi yang kurang memberikan peluang bagi kaum yang lemah, dengan demikian pemberdayaan ini menempuh strategi melalui transformasi struktural secara mendasar.
Menurut Soetomo (2011:72-85), dalam proses pemberdayaan masyarakat pendekatan yang dipergunakan yaitu:
1. Sentralisasi menjadi desentralisasi. Desentralisasi dalam hal ini diarahkan pada bentuk kewenangan masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap pengambilan keputusan dan sumber daya. Desentralisasi ini berarti mencakup lapisan masyarakat miskin akar rumput, bukan semata berhenti pada elit lokal setempat.
18
masyarakat direspon sendiri oleh masyarakat bersangkutan dalam bentuk program pembangunan yang direncanakan dan sekaligus dilaksanakan oleh masyarakat. Kedua, identifikasi masalah dan kebutuhan masyarakat diakomodir oleh pemerintah untuk dimasukkan kedalam program pembangunan pemerintah.
3. Uniformity menjadi variasi lokal. Pendekatan pemberdayaan sangat memberikan toleransi kepada variasi lokal/kearifan lokal, dengan demikian program-program yang dirumuskan dan dilaksanakan sangat berorientasi pada permasalahan dan kondisi serta potensi setempat.
4. Sistem komando menjadi proses belajar. Pendekatan pemberdayaan memosisikan masyarakat lebih berkedudukan sebagai subyek atau aktor, dalam hal ini, proses belajar yang dilakukan untuk meningkatkan inisiatif merupakan rangkaian pemantapan kapasitas. Peningkatan kapasitas ini bermakna pengakuan akan kemampuan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah menuju kemajuan.
5. Ketergantungan menjadi keberlanjutan. Pemberian kewenangan kepada masyarakat dalam pengelolaan pembangunan akan lebih mendorong tumbuh kembangnya inisiatif dan kreatifitas yang memacu keberlanjutan.
6. Social exclusion menjadi social inclution. Seluruh lapisan masyarakat terutama lapisan bawah, mendapatkan peluang yang sama dalam berpartisipasi pada semua proses kehidupan, dalam mengakses semua pelayanan, serta dalam mengakses sumber daya dan informasi.
19
perubahan pada tataran struktur, sedangkan pendekatan pemberdayaan lebih menekankan pada transformation, dimana fokus perubahan adalah pada level sistem dan struktur sosialnya.
C.Pendekatan Pemberdayaan dengan CD
CD atau pengembangan komunitas merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk terus dikaji dan direalisasikan. Berkembangnya konsep CD yang berbasis nilai-nilai pemberdayaan, partisipasi, dan kemandirian (self reliance) dalam masyarakat tidak terlepas dari kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, pengembangan komunitas bukan hanya merupakan strategi pemberdayaan masyarakat yang berjalan satu arah melainkan memungkinkan pemberi dan penerima terlibat dalam prosesnya yang mencakup perencanaan, pengawasan dan evaluasi.
20
atau tanpa intervensi) untuk mengubah situasi ekonomi, sosial, kultural, dan lingkungan. Penekanan konsepsi Christenson dan Robinson tersebut yakni pada prakarsa dan partisipasi masyarakat agar pemberdayaan dapat menolong diri masyarakat sendiri untuk keluar dari masalah.
Terdapat tiga pendekatan untuk perencanaan CD , yaitu, pertama, development for community. Pencetus pemberdayaan adalah perusahaan berstatus pendonor, sedangkan komunitas adalah sebagai obyek. Kedua, development with community. Pemberdayaan dalam hal ini dirumuskan bersama-sama oleh perusahaan pendonor dan masyarakat. Ketiga, development of community. Pemberdayaan dengan pendekatan ini berorientasi pada pemenuhan kebutuhan komunitas.
CD sebagai konsep pembangunan yang digerakkan masyarakat, dapat secara tegas diterangkan merupakan kontrol keputusan dan sumber daya oleh komunitas. Selain itu, kelompok dalam komunitas ini berpasangan dengan organisasi pendukung yang secara mendalam memperhatikan kebutuhan komunitas. (Wrihatnolo, dan Riant, 2007:136).
Inisiator Perusahaan Perusahaan dan
masyarakat
Masyarakat
Status of corporate
Pendonor Agen pembangunan Agen pembangunan
Status of society
Obyek Obyek atau subyek Sebagai subyek
21
Development of Community yang digunakan dalam penelitian ini, merupakan salah satu pendekatan CD, dimana CD muncul dalam diskursus keilmuan, menjadi respon terhadap banyaknya masalah yang dihadapi dunia menjelang format politik baru pada awal abad ke-20 (Zubaedi, 2013:1). Development of Community berorientasi pada pemberdayaan untuk memenuhi kebutuhan komunitas.
Perspektif Development of Community sebagai konsep ideal dalam riset ini, menempatkan masyarakat sebagai pemilik sumber daya mendasar yang mencakup tidak hanya pada potensi manusia dan alam, namun juga sumber daya sosial, budaya. Sehingga setiap pemberdayaan dengan pendekatan Development of Community menyediakan ruang pengembangan potensi menurut kapasitas tertentu demi menjangkau komunal masyarakat secara luas.
22
bagaimana pemberdayaan yang dilakukan di Desa Pesawaran Indah melalui keberadaan program biogas.
Dengan pendekatan ini peneliti berusaha pula menemukan karakteristik kekuatan masyarakat Desa Pesawaran yang peneliti arahkan pula untuk mengidentifikasi karakteristik lokal setempat. Dengan pendekatan Development of Community ini peneliti hendak menganalisis bagaimana pelaksanaan dari program biogas ini. Apakah program biogas sebagai ranah pemberdayaan telah relevan dengan yang disyaratkan dalam Development of Community, yang secara konseptual menggariskan bahwa pemberdayaan tidak hanya menumbuhkan dan mengembangkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga nilai tambah sosial dan nilai tambah budaya.
Dengan demikian, peneliti mengetengahkan alur kerangka pikir berupa, elaborasi atas pemberdayaan yang dilakukan di Desa Pesawaran Indah melalui program biogas. Program ini kemudian peneliti analisis menggunakan pendekatan Development of Community, guna menjelaskan secara deskriptif kualitatif perihal bagaimana pelaksanaan program biogas di Desa Pesawaran Indah, untuk menjelaskan apakah dalam pelaksanaannya telah relevan dengan Development of Community serta memberikan optimalisasi pemberdayaan asset based (potensi lokal) masyarakat.
23
agar dapat mengalisis secara obyektif tentang bagaimana program biogas dilaksanakan sebagai bagian dari pemberdayaan.
Bagan 1. Alur Kerangka Pikir
Pemberdayaan
Development of Community
Aset Based Masyarakat: - Sosial
- Budaya
- SDM
- SDA
24
III. METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Pada penelitian ini, peneliti telah mengumpulkan data dalam bentuk hasil wawancara dengan beberapa informan, meliputi aparat desa dan beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pesawaran. Dokumentasi yang penulis peroleh adalah foto-foto lokasi reaktor biogas, dan foto bahan pakan fermentasi ternak sapi, serta foto beberapa ekor ternak sapi dalam kandang dengan reaktor biogas.
25
Metode yang peneliti pergunakan ini juga menggambarkan bahwa terdapat relasi yang tidak berbanding lurus antara yang telah dilakukan oleh pihak eksternal Desa Pesawaran Indah, melalui program biogas, dengan pemahaman Pemda Pesawaran terkait program tersebut. Secara obyektif hal ini peneliti amati merupakan persoalan mendasar bahwa Pemda seringkali lambat dalam merespon aktifitas pemberdayaan oleh pihak non-pemerintah. Pada pembahasan yang peneliti sampaikan, hal ini menjadi salah satu faktor yang berakibat pada tidak lancarnya upaya untuk meneruskembangkan program biogas di Desa Pesawaran Indah.
B.Fokus Penelitian
Masalah dalam penelitian ini peneliti batasi pada bagaimana pelaksanaan program biogas di Desa Pesawaran Indah. Batasan ini mencakup fokus yang peneliti uraikan pada bab pembahasan, meliputi antara lain:
1. Awal mula program biogas dilaksanakan di Desa Pesawaran Indah; 2. Pihak-pihak yang terlibat;
3. Obyektifikasi pelaksanaan biogas; dan
4. Bagaimana pemberdayaan masyarakat melalui program biogas ini dilihat dari perspektif Development of Community.
26
C.Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung.
D.Penentuan Informan
Informan yang peneliti wawancarai dalam rangka penelitian ini terdiri dari elemen:
1. Pemda Pesawaran; 2. Unila;
3. Aparat Desa Pesawaran Indah; dan
4. Pengelola ternak sapi sekaligus penerima bantuan program biogas.
Secara singkat, uraian mengenai para informan tersebut adalah: 1. Pemda Pesawaran:
a. Bapak Drs. Nur Asikin, MIP.
27
Dari informasi yang diberikan, peneliti peroleh data bahwa Pemda Pesawaran sebenarnya pernah melakukan komunikasi dengan LPM Unila terkait pengembangan TTG yang berkenaan dengan pemberdayaan masyarakat melalui program biogas. Namun hal tersebut tidak berjalan dengan baik karena ketiadaan inisiatif Bidang TTG di BPMPD Kabupaten Pesawaran. (Transkrip wawancara terlampir).
b. Bapak Agung Setiawan.
28
c. Bapak Drs. Achmadi
Informan selanjutnya ini adalah Sekretaris Dinsosnakertrans Kabupaten Pesawaran. Data yang peneliti peroleh banyak yang merupakan ranah pemberdayaan. Data paling relevan untuk penelitian ini adalah tentang KUBE. Peneliti menyampaikan kajian bahwa optimalisasi KUBE sebenarnya dapat untuk lebih memberdayakan para peternak sapi yang mengelola biogas, agar biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan guna aktifitas ekonomi yang lebih terorganisir, selain usaha pokok penggemukan sapi. (Transkrip wawancara terlampir).
2. LPM Unila.
29
sampai program ini tuntas dilakukan pendampingannya pada akhir tahun 2013. (Transkrip wawancara terlampir).
3. Aparat Desa Pesawaran Indah.
Aparat Desa Pesawaran Indah yang peneliti wawancarai adalah Bapak Ruwadi. Beliau merupakan Sekdes yang telah diangkat sebagai PNS. Informan dari pihak aparat desa ini merupakan pemberi data bagi peneliti pada masa pra-riset. Informasi yang diberikan Pak Ruwadi sangat membantu peneliti untuk mulai mengkaji pembahasan pokok permasalahan apa yang menarik untuk dikaji. Pak Ruwadi tak jarang harus menyempatkan waktu luangnya kepada peneliti untuk melakukan wawancara, di tengah kesibukan beliau sebagai Sekdes Pesawaran Indah, yang juga memiliki aktifitas beternak ayam dan kelinci dirumahnya. Peneliti bahkan beberapa kali berkunjung ke kediaman Pak Ruwadi saat malam hari.
Peneliti tidak mewawancarai Kades Pesawaran Indah dikarenakan yang bersangkutan berstatus sebagai Caleg DPRD Kabupaten Pesawaran Dapil Kecamatan Padang Cermin, sehingga Pak Ruwadi-lah yang merangkap menjabat sebagai Pejabat Sementara Kades Pesawaran Indah.
30
Indah, informasi seputar pemberdayaan di Desa Pesawaran Indah, dan pelaksanaan program biogas. (Transkrip wawancara terlampir).
4. Pengelola ternak sapi sekaligus penerima bantuan program biogas.
Informan berikutnya adalah Pak Suhandayono. Beliau merupakan ketua kelompok peternak penggemukan sapi yang memperoleh bantuan reaktor biogas. Informasi dari Pak Suhandayono merupakan data amat penting yang peneliti pergunakan sebagai bahan analisis terkait pemberdayaan melalui biogas di Desa Pesawaran Indah. Informan ini menyampaikan fakta bahwa sebenarnya peternak ingin lebih melokalisir para peternak lain kedalam lahan khusus yang dapat mengintegrasikan reaktor biogas yang lebih besar agar kebermanfaatannya dapat dinikmati secara lebih luas. (Transkrip wawancara terlampir).
E.Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini didasarkan pada data primer dan data sekunder. Data primer peneliti peroleh dari wawancara dengan para informan yang pada bagian sebelumnya telah diuraikan secara singkat, dan observasi terhadap salah satu reaktor biogas milik pak Suhandayono (Foto terlampir).
1. Wawancara
31
2. Dokumentasi
Dokumentasi yang berhasil peneliti peroleh, sepenuhnya terlampir.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan peneliti lakukan pada lingkup Desa Pesawaran Indah secara kewilayahan, dan pada kandang sapi tempat salah satu reaktor biogas dibangun.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data yang peneliti lakukan adalah setelah melakukan wawancara dan memperoleh dokumentasi sebagaimana terlampir, adalah memilih data dari hasil wawancara dan dokumentasi tersebut, menurut klasifikasi sumbernya. Data dari hasil wawancara peneliti tulis ulang sebagai transkrip wawancara, dimana wawancara peneliti lakukan dengan menggunakan alat perekam.
32
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Reduksi Data
94
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan dalam bab sebelumnya, maka untuk menjawab rumusan masalah tentang bagaimana pelaksanaan program biogas di Desa Pesawaran Indah dalam perspektif development of community, dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut, sebagai kesimpulan dalam riset ini.
Pertama, pemanfaatan biogas yang telah dilakukan di Desa Pesawaran Indah yang dibantu oleh Kementerian ESDM, dan LPM Unila, serta sepenuhnya memperoleh pembinaan berkelanjutan dari LPM Unila, merupakan program pemberdayaan yang belum mampu memberdayakan masyarakat untuk dapat menjadi inisiator dari keberlanjutan seperti apa yang diinginkan masyarakat untuk lebih mengembangkan biogas. Penggunaan yang baru terbatas pada penggunaan gas untuk masak-memasak, belum diikuti kesadaran masyarakat penerima bantuan program biogas, untuk berinisiatif merencanakan inovasi lanjutan. Namun demikian, masyarakat memiliki kesadaran bahwa biogas ini dapat dikembangkan untuk kepentingan kreatif lainnya yang salah satunya menambah nilai ekonomi, baik melalui pemanfaatan komersil residu biogas, atau pengkondisian lingkungan bebas polusi, serta penerangan.
95
informan, para entitas yang telah melakukan upaya pemberdayaan melalui program biogas telah melakukan upaya yang meskipun signifikasn namun masih belum komprehensif. Seperti yang telah dilakukan oleh APDASI, bermula dari pendekatannya kepada masyarakat untuk membuka peternakan penggemukan sapi, kini simbiosis mutualisme yang berkelanjutan, sudah tidak ada lagi.
Termasuk dengan LPM Unila, walaupun oleh pengelola LPM Unila, program biogas diupayakan dapat menjadi dasar hukum untuk membuat perdes agar setiap peternak memiliki reaktor biogas, dan menjadikan biogas di Desa Pesawaran Indah sebagai wahana edukasi bagi generasi muda, akan tetapi kendala besarnya modal untuk membangun reaktor biogas, dan belum siapnya SDM untuk mewujudkan Desa Pesawaran Indah sebagai model edukasi, belum dapat berjalan. Pada akhirnya masyarakat penerima program terpaku semata pada program yang telah diberikan. Status of corporate sebagai agen pembangunan yang disematkan kepada APDASI, LPM Unila, maupun Kementerian ESDM, belum sepenuhnya mewujud pada aksi konkrit yang berkelanjutan. Butuh waktu untuk terus berproses.
96
Penyebutan pihak LPM Unila bahwa Desa Pesawaran Indah merupakan Desa Mandiri Energi, justru disanggah oleh Pemda Kabupaten Pesawaran, dengan alasan bahwa untuk memberikan status demikian, diperlukan kajian mendalam terkait pemenuhan kriteria yang diwajibkan, serta harus didahului dengan koordinasi dan musyawarah antar instansi. Perdebatan ini menunjukkan pemda masih terpaku pada tataran prosedural yang tidak memberikan bukti konkrit pembinaan pemberdayaan yang seharusnya dilakukan.
Ketiga, status of society masyarakat Desa Pesawaran Indah yang menerima bantuan program biogas masih berupa obyek. Penerima program masih menekankan untuk dilakukan pembinaan terus-menerus oleh Unila. Masyarakat penerima program belum memiliki komitmen sebagai subyek yang seyogianya mampu merancang pemenuhan kebutuhannya. Masyarakat Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran sangat mengharapkan bahwa terus dilakukan pembinaan dalam rangka pemanfaatan yang lebih beragam atas program biogas. Rekayasa teknologi ini diperlukan untuk makin mengembangkan potensi yang dimiliki Desa Pesawaran Indah.
Keempat, dalam pendekatan yang dipergunakan pada riset ini, goal dari program pemberdayaan adalah pembangunan berproses. Namun proses lanjutan yang seharusnya, belum terbukti terlaksana melalui program ini. Dampak yang diinginkan agar masyarakat meneruskembangkan program pemberdayaan melalui biogas tersebut, tidak dapat dibuktikan.
97
masyarakat untuk berubah menjadi memiliki kesatuan kolektif keswadayaan, ternyata tidak terbentuk. Begitu pula dengan time frame, baik LPM Unila maupun Kementerian ESDM tidak mempunyai derivasi inovasi keberlanjutan pendampingan untuk program ini.
Keenam, asset based yang dimiliki oleh masyarakat Desa Pesawaran Indah baru sebatas pada pengkondisian lingkungan untuk kondusif menerima pengaruh kebaikan dari pihak eksternal, belum mewujud pada rekayasa sosial untuk menciptakan dukungan massif bagi masyarakat agar berinisiatif mengembangkan secara mandiri potensi yang dimiliki melalui program biogas yang telah dirintis. Partisipasi pada internal kelompok peternak sapi untuk mengelola biogas pun tidak terwujud.
Ketujuh, beberapa detail hambatan pemberdayaan melalui program biogas ini adalah, mahalnya biaya pembuatan reaktor biogas, pakan ternak yang masih harus dicari hingga ke luar daerah, belum adanya kapasitas personal penerima program untuk merawat reaktor biogas, dan masih minimnya pemanfaatan biogas yakni untuk masak-memasak.
B.Saran
Dengan kerangka development of community, berikut ini beberapa saran yang layak untuk dipertimbangkan:
1. Pemerintah Daerah.
98
sehingga dengan demikian berbagai kelompok masyarakat yang hendak mengajukan pinjaman, tidak kesulitan untuk mengaksesnya, apalagi APDASI tidak lagi memberikan pendampingan. Langkah ini amat penting karena seringkali bank sulit percaya dengan masyarakat, dalam hal ini pemda dapat melakukan pendataan terlebih dahulu kelompok yang akan mengajukan pinjaman. Membuatnya secara lebih rinci kedalam database yang valid, akurat, mencakup identitas kelompok, analisis kesanggupan jaminan berikut pembayaran angsuran, serta informasi valid lainnya yang selain memudahkan bank memberikan pertimbangan kebijakan pemberian kredit, juga memudahkan pemda memantau perkembangan kelompok.
b. Memberikan pelatihan, dan mendorong masyarakat untuk mengorganisir diri dalam KUBE yang sejatinya adalah wahana proses pemberdayaan. Bila terkendala pada pendanaan, maka biogas yang telah dimanfaatkan di Desa Pesawaran Indah, dikembangkan untuk pemanfaatan gas yang dihasilkan. Langkah ini bisa dilakukan dengan pemberdayaan KUBE yang diberikan pelatihan keterampilan. Ternak sapi yang dikelola pun dirancang tidak hanya untuk penggemukan, namun juga untuk pemeliharaan pengembangan jangka panjang. c. Walaupun terjadi silang pendapat dengan Unila perihal penyebutan
99
menjadikan Desa Pesawaran Indah sebagai wisata edukasi berbasis teknologi tepat guna, dan pelestarian ekologi, serta memberikan monitoring kontinyu untuk mengarahkan, membimbing Desa Pesawaran Indah melahirkan perdes tentang pewajiban biogas.
d. Pemda harus segera melakukan pembicaraan dengan Unila selaku pihak yang telah menunjukkan prestasi pemberdayaan di Desa Pesawaran Indah, dimana pemda belum melakukan apapun untuk itu di Desa Pesawaran Indah, hal ini amat penting untuk menyamakan persepsi, sehingga bisa diformulasikan kebijakan yang lebih tepat sebagai model bagi desa lain.
e. Pemerintah harus lebih peka mengambil kebijakan yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurut potensi apa yang telah dimiliki masyarakat, dan sejauh mana potensi itu diupayakan diberdayakan. Langkah nyata yang mungkin dapat dilakukan adalah memperkuat hubungan kerjasama dengan pihak terkait, dalam hal ini seperti Unila, untuk mengembangkan apa yang telah ada, duduk bersama memformulasikan cetak biru yang ideal.
100
Termasuk pakan, maka menjadi penting untuk LPM Unila melokalisir fokus dalam pemberdayaan masyarakat melalui biogas ini, yakni, sebagaimana yang masih dikeluhkan oleh masyarakat, yaitu pakan. Pakan yang masih acapkali menemukan kendala, harus lebih diupayakan diversifikasinya. Berikut pula pengembangan reaktornya agar berkapasitas lebih cukup untuk menjangkau rumah tangga sekitar, dan bermanfaat untuk aktifitas lain, semisal penerangan listrik.
DAFTAR PUSTAKA
Alfitri. 2011. Community Development Teori dan Aplikasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Bungin, Burhan. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Prenada Media Group. Jakarta.
Hasiholan, Dheyna, dkk. 2007. Politik dan Kemiskinan. Penerbit Koekoesan. Depok.
Huberman, Michael, Miles Matthew. 1992. Analisis Data Kualitatif. UI Press. Jakarta.
Indiahono, Dwiyanto. 2009. Kebijakan Publik Berbasis Dynamic Policy Analysis. Penerbit Gava Media. Yogyakarta.
Kuntowijoyo. 1987. Budaya Dan Masyarakat. PT Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta.
Mardikanto, Totok, Poerwoko Soebiato. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Alfabeta. Bandung.
Moleong, Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Nawawi, Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Gajah Mada University. Yogyakarta.
Sanyoto, Yahnu Wiguno. 2006. Pemahaman Aparatur Pemerintah Kota Bandarlampung Terhadap Prinsip-Prinsip Good Governance. Tesis. Unila Press. Bandarlampung.
Septiana, Agus Muhammad. 2012. Politik Hukum Demokrasi Pancasila. Penerbit Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Soetomo. 2011. Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Sumarto, Hetifah Sj. 2009. Inovasi, Partisipasi, dan Good Governance. Yayasan Obor Indonesia (YOI). Jakarta.
Wrihatnolo, Randy R., Riant Nugroho Dwidjowijoto. 2007. Manajemen Pemberdayaan. Elex Media Komputindo. Jakarta.
Zubaedi. 2013. Pengembangan Masyarakat. Kencana. Jakarta.
Perundangan-undangan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa.
Makalah
Susetyo. Metode Penelitian Kualitatif. Makalah. Disampaikan pada Pelatihan Metodologi Penelitian Kualitatif PHK A2 Umum Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila.
Dokumen
Data Monografi Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Tahun 2012.
Surat Kabar