• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Kesehatan Hutan Di Areal Reklamasi Tambang Batubara Pt Indominco Mandiri Kalimantan Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Status Kesehatan Hutan Di Areal Reklamasi Tambang Batubara Pt Indominco Mandiri Kalimantan Timur"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

i

STATUS KESEHATAN HUTAN DI AREAL REKLAMASI

TAMBANG BATUBARA PT INDOMINCO MANDIRI

KALIMANTAN TIMUR

MAMUN

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

iii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Status Kesehatan Hutan di Areal Reklamasi Tambang Batubara PT Indominco Mandiri Kalimantan Timur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2016

Mamun

(4)
(5)

1

ABSTRAK

MAMUN. Status Kesehatan Hutan di Areal Reklamasi Tambang Batubara PT Indominco Mandiri Kalimantan Timur. Dibimbing oleh SUPRIYANTO.

Usaha pertambangan dengan teknik penambangan terbuka mengakibatkan kerusakan lingkungan dan harus segera dilakukan reklamasi lahan bekas tambang. Kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang telah dilakukan pada area-area yang telah selesai ditambang, namun saat ini belum diketahui status kesehatan hutan tersebut. Metode pemantauan kesehatan hutan merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi kondisi kesehatan tegakan hasil dari revegetasi. Metode FHM akan memberikan informasi status, perubahan, kecenderungan dan saran manajemen kepada pengelola agar hutan hasil reklamasi memiliki kondisi dan fungsi sesuai tujuan pembangunannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai status kesehatan hutan di areal reklamasi PT Indominco Mandiri Kalimantan Timur berdasarkan metode FHM. Penelitian ini menggunakan indikator vitalitas, kualitas tapak dan biodiversitas tumbuhan bawah. Areal penelitian sebanyak 4 klaster plot, dengan tahun tanam 2004, 2006, 2008 dan 2010. Tipe kerusakan didominasi oleh kerusakan cabang patah atau mati (kode 22) dan lokasi kerusakan didominasi pada ranting. Status kesehatan tegakan hasil revegetasi lahan bekas tambang di PT Indominco Mandiri menunjukkan nilai sehat pada tegakan umur 7 tahun dan nilai sedang pada tegakan umur 5 tahun, 9 tahun dan 11 tahun. Kerusakan tegakan terbesar disebabkan oleh cabang patah atau mati, liana dan daun berubah warna (tidak hijau). Kesuburan tanah yang rendah terdapat pada tegakan umur 11 tahun, 9 tahun dan 7 tahun serta pada tegakan umur 5 tahun termasuk sangat rendah.

(6)

ABSTRACT

MAMUN. Forest Health Status in Coal Mining Reclamation Area at PT Indominco Mandiri East Kalimantan. Supervised by SUPRIYANTO.

Mining activities using opened mining technique has caused damages, therefore mining reclamation must be done in very soon after mining activities. Reclamation and revegetation has been done in post mining area, however the information about status of forest health is still very limited. Forest health monitoring (FHM) method is one of the techniques to evaluate the forest stand condition after revegetation. FHM method will give information related to the status, change, trend and recommendation to the management for management decisions of reclamation and revegetation. The aims of this research was to assess the status of forest health in reclamation area of PT Indominco Mandiri, East Kalimantan using FHM method. Indicator of vitality, soil quality and ground cover crop was used in this research. Four cluster plots planted on 2004, 2006, 2008 and 2010 was established. The result showed that damage type was dominated by branch damage such as broken or death (code 22) and the damage location was dominated on twig (code 7). The health status of post mining reclamation forest stand in PT Indominco Mandiri was in healthy status for the 7 years old stand, and medium health for the 5 years old stand, 9 years and 11 years old stand. The biggest stand damage caused by broken or death branch, liana, leave decoloration (not green). The low soil fertility was found on the stand of 11 years, 9 years and 7 years, while very low soil fertility on the 5 years old stand.

(7)

3

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Silvikultur

STATUS KESEHATAN HUTAN DI AREAL REKLAMASI

TAMBANG BATUBARA PT INDOMINCO MANDIRI

KALIMANTAN TIMUR

MAMUN

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)
(10)
(11)

7

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan dengan baik. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April sampai Mei 2015 ini mengenai penilaian kesehatan hutan, dengan judul Status Kesehatan Hutan di Areal Reklamasi Tambang Batubara PT Indominco Mandiri Kalimantan Timur.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Supriyanto selaku Dosen Pembimbing, serta Bapak Dr Ir Yadi Setiadi yang telah memberikan kesempatan melaksanakan penelitian di PT Indominco Mandiri. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Eddy Susanto selaku Main Operation Manager, Bapak Sudjarwanto selaku Superintendent Departemen Reklamasi dan Rehabilitasi, Bapak Rudi Harsono selaku Supervisor, Bapak Wiji H, Bapak A. Fadilah, Bapak Suwanto, Bapak Hendri Yasin, Bapak Gozali dan Bapak Erwan selaku pendamping di lapangan dan Nursery. Terima Kasih kepada Bapak Yohannes P, Bapak Ganda S, dan Bapak Martinus T, di bagian penanaman serta Bapak Macarius D selaku Supervisor, Bapak F.Yayan, Bapak Resowanto dan Bapak Lucas L, dibagian pemeliharaan yang telah membantu selama kegiatan penelitian serta kepada kelompok PKP yakni Saifurrohman Wahid, Evangelia T Silaen dan M. Iqbal Maulana. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga skripsi ini bermanfaat untuk pengembangan silvikultur di lahan bekas tambang.

Bogor, Maret 2016

(12)
(13)

9

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xiv

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xiv

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 2

METODE 2

Waktu dan Lokasi Penelitian 2

Alat dan Bahan 2

Metode Penelitian 3

HASIL 11

Kondisi Umum Lokasi Penelitian 11

Pengukuran Indikator Kesehatan Hutan 13

Penilaian Kesehatan Hutan 18

PEMBAHASAN 19

SIMPULAN DAN SARAN 26

Simpulan 26

Saran 26

DAFTAR PUSTAKA 27

LAMPIRAN 29

(14)

DAFTAR TABEL

1 Kriteria kondisi tajuk (Anderson et al. dalam Putra 2004) 5 2 Penentuan nilai VCR (Visual Crown Rating) 6 3 Nilai skor kondisi tajuk pada klaster plot berdasarkan nilai VCR 6

4 Deskripsi kode lokasi kerusakan 6

5 Deskripsi kode jenis kerusakan dan nilai ambang keparahan 7 6 Nilai pembobotan untuk setiap kode keparahan, kerusakan dan lokasi 8 7 Nilai skor kerusakan pohon pada klaster plot berdasarkan nilai PLI 8 8 Skoring kesuburan tanah berdasarkan nilai KTK (Hardjowigeno 2010) 9 9 Penilaian pH tanah (Brandy 1974 dalam Iskandar 2014) 9 10 Nilai skor kualitas tapak pada klaster plot berdasarkan nilai KTK 9 11 Nilai skor biodiversitas tumbuhan bawah pada klaster plot berdasarkan

nilai indeks kemerataan jenis Pielou 10

12 Skoring berdasarkan status kesehatan 11

13 Lokasi klaster plot FHM di areal reklamasi PT Indominco Mandiri 12 14 Sebaran lokasi kerusakan di empat klaster 13 15 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 1 (umur 11 tahun) 13 16 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 2 (umur 9 tahun) 14 17 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 3 (umur 7 tahun) 14 18 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 4 (umur 5 tahun) 15 19 Nilai indeks kerusakan tingkat plot (Plot Level Index/PLI) 16 20 Nilai visual crown rating (VCR) pohon di setiap klater plot 16 21 Kandungan sifat kimia tanah dan rata-rata penutupan vegetasi 17 22 Keanekaragaman jenis, indeks keragaman jenis dan indeks kemerataan

jenis tumbuhan bawah 17

23 Keanekaragaman jenis, indeks keragaman jenis dan indeks kemerataan

jenis biota tanah 18

24 Skoring indikator dan nilai akhir kesehatan hutan 18

DAFTAR GAMBAR

(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Penambangan merupakan bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya (Permen ESDM No 7 Tahun 2014).

Kegiatan penambangan dalam kawasan hutan telah mengakibatkan kerusakan lingkungan dan harus segera dilakukan reklamasi lahan bekas tambang. Reklamasi hutan merupakan usaha untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal sesuai peruntukannya. Keberhasilan dalam reklamasi ditentukan oleh penilaian. Penilaian dilakukan secara periodik terhadap kegiatan reklamasi hutan untuk menjamin bahwa rencana kegiatan yang diusulkan, jadwal kegiatan, hasil yang diinginkan dan kegiatan lain yang diperlukan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan dijadikan dasar perpanjangan, pengembalian izin penggunaan kawasan hutan dan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan reklamasi hutan (Permenhut No 60 Tahun 2009).

Salah satu kegiatan dalam reklamasi adalah revegetasi. Revegetasi adalah usaha untuk memperbaiki dan memulihkan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pada lahan bekas penggunaan kawasan hutan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan kondisi kawasan hutan yang rusak sebagai akibat usaha pertambangan sehingga kawasan hutan dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya. Teknik penambangan batubara terbuka memiliki dampak negatif diantaranya adalah vegetasi yang rusak bahkan hilang, biodiversitas turun, kesuburan tanah yang rendah, erosi dan sedimentasi, hilangnya satwa liar, mengubah bentuk topografi, pencemaran air, udara dan suara serta lubang yang besar akibat pengambilan batubara yang tidak bisa ditimbun kembali. PT Indominco Mandiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penambangan batubara yang telah melakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi. Kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang yang dilakukan pada area-area yang telah selesai ditambang, namun saat ini belum diketahui status kesehatan hutan tersebut.

(16)

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menilai status kesehatan hutan di areal reklamasi PT Indominco Mandiri Kalimantan Timur berdasarkan metode Forest Health Monitoring (FHM).

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan data/atau informasi tentang status kesehatan hutan di lokasi penelitian. Data atau informasi tersebut diharapkan dapat digunakan oleh PT Indominco Mandiri sebagai bahan evaluasi terhadap kegiatan reklamasi yang telah dilakukan serta dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan manajemen dalam menjalankan kegiatan reklamasi yang lebih baik dimasa mendatang.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan di hutan yang merupakan areal reklamasi PT Indominco Mandiri. Penilaian kesehatan hutan dilakukan dengan metode FHM. Indikator kesehatan hutan yang digunakan pada penelitian ini dibatasi hanya pada indikator vitalitas dan indikator kualitas tapak dan biodiversitas tumbuhan bawah. Indikator vitalitas diamati dengan menggunakan dua parameter, yaitu parameter kondisi kerusakan pohon (lokasi, tipe, dan tingkat keparahan kerusakan) dan parameter kondisi tajuk (nilai nisbah tajuk hidup, kerapatan tajuk, transparansi tajuk, diameter tajuk, dan dieback). Lokasi kerusakan dapat terjadi di akar, batang, cabang, tajuk, daun, pucuk, dan tunas. Pada indikator kualitas tapak dilakukan pengamatan terhadap parameter kapasitas tukar kation (KTK) dan pH tanah.

METODE

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di areal reklamasi PT Indominco Mandiri Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2015.

Alat dan Bahan

(17)

3

Metode Penelitian Pembuatan Plot Pengamatan

Plot pengamatan dibuat dengan menggunakan desain klaster plot FHM. Satu klaster terdiri dari empat plot berbentuk lingkaran dan setiap plot memiliki jari-jari 17.95 m. Plot lingkaran memiliki beberapa keunggulan yaitu tidak terlalu banyak patok, cukup teliti karena tidak membuat sudut, serta fokus ke titik pusat dan jari-jari. Satu klaster dapat mewakili luasan 1 ha. Luasan satu klaster ini adalah seluas 4,048.93 m2 (USDA-FS 1999 dalam Darmansyah 2014). Desain klaster FHM disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Desain klaster Plot FHM

Titik pusat pada plot 1 merupakan titik pusat bagi keseluruhan plot. Titik pusat plot 2 terletak pada arah 360⁰ dari titik pusat plot 1 dengan jarak 36.6 m. Titik pusat plot 3 terletak pada arah 120⁰ dari titik pusat plot 1 dengan jarak 36.6m. Titik pusat plot 4 terletak pada arah 240⁰ dari titik pusat plot 1 dengan jarak 36.6 m. Titik sampel tanah diambil dari tiga buah titik berbentuk lingkaran berdiameter 16 cm yang terletak diantara plot 1 dan plot 2, plot 1 dan plot 3 serta plot 1 dan plot 4. Jumlah klaster plot yang dibangun sebanyak 4 klaster dengan tahun tanam 2004, 2006, 2008 dan 2010. Klaster plot yang dibangun mempunyai beberapa kriteria, yaitu klaster plot berada dalam kawasan perusahaan, harus ada tegakannya dan tegakan tersebut cenderung rapat serta topografinya relatif datar.

Penilaian Kesehatan Pohon

(18)

1) Pengukuran Kondisi Tajuk

Kondisi tajuk pohon yang diukur adalah nisbah tajuk hidup (LCR–Live Crown Ratio), kerapatan tajuk (Cden–Crown Density), dieback (CDb), transparansi tajuk (FT–Foliage Transparancy) dan diameter tajuk (CdWd–Crown Diameter Width

dan CD90–Crown Diameter at 900). Penilaian terhadap parameter tajuk kemudian menghasilkan nilai peringkat tajuk visual (VCR-Visual Crown Rating).

LCR menggambarkan perbandingan panjang batang pohon yang tertutup daun dengan tinggi total pohon (Gambar 2). Secara umum LCR berubah perlahan dan berkurang dengan pertambahan umur pohon, walaupun ada juga yang meningkat. Peningkatan kerapatan tegakan dapat mengurangi nilai LCR, sedangkan pembukaan suatu tegakan akan meningkatkan pertumbuhan yang berakibat pada peningkatkan nilai LCR. Pengukuran tinggi tajuk harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada tegakan rapat, karena sulit membedakan tajuk pohon sasaran dengan yang lainnya. Pengukuran nilai LCR dilakukan dengan menggunakan magic card, dengan menggunakan kartu atau alat ini bisa langsung didapat nilai dari LCR.

(19)

5

Gambar 3 Ilustrasi cara pengukuran diameter tajuk pada pohon (Tallent-Halsell 1994 dalam Cahyono 2014)

Kerapatan tajuk (Cden) menggambarkan besarnya persentase cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk sehingga tidak mencapai lantai hutan, sedangkan transparansi tajuk (FT) menggambarkan banyaknya persentase cahaya matahari yang dapat melewati tajuk dan mencapai permukaan tanah (Putra 2004). Dalam keadaan normal persentase kerapatan tajuk berbanding terbalik dengan persentase transparansi tajuk. Dieback (CDb) adalah cabang dan ranting yang baru saja mati, dan bagian yang mati dimulai dari bagian ujung kemudian merambat ke bagian pangkal.

Kelima kondisi tajuk tersebut dikumpulkan ke dalam peringkat tajuk visual (VCR-Visual Crown Rating) (Tabel 1). Nilai VCR diperhitungkan pada tingkat pohon, untuk kemudian dirata-ratakan untuk tiap pohon pada subplot sehingga diperoleh nilai untuk tingkat plot dan tingkat klaster. VCR memiliki nilai 1, 2, 3 dan 4 berdasarkan pengelompokan nilai parameter kondisi tajuk (Tabel 2). Nilai skor kondisi tajuk pada klaster plot berdasarkan nilai VCR dapat dilihat pada Tabel 3. Data primer yang diambil pada plot FHM adalah tinggi pohon menggunakan haga hypsometer, diameter pohon menggunakan meteran jahit, jarak datar (horizontal distance) menggunakan meteran 30 m dan kompas, pengukuran panjang dan lebar tajuk menggunakan meteran, dan azimuth menggunakan kompas. Tabel 1 Kriteria kondisi tajuk (Anderson et al. dalam Putra 2004)

Parameter Nilai=3 Nilai=2 Nilai=1

Rasio Tajuk Hidup ≥ 40% 20%–35% 5%–15%

Kerapatan Tajuk ≥ 55% 25%–50% 5%–20%

Transparansi Tajuk 0%–45% 50%–70% ≥ 75%

Dieback 0%–5% 10%–25% ≥ 30%

(20)

Tabel 2 Penentuan nilai VCR (Visual Crown Rating)

Nilai VCR Kriteria

4 Seluruh parameter bernilai 3, atau hanya 1 parameter memiliki nilai 2,

tidak ada parameter bernilai 1

3 Lebih banyak kombinasi antara nilai 3 dan 2 pada parameter tajuk, atau

semua bernilai 2, tetapi tidak ada parameter bernilai 1

2 Setidaknya 1 parameter bernilai 1, tetapi tidak semua parameter

1 Semua parameter kondisi tajuk bernilai 1

Tabel 3 Nilai skor kondisi tajuk pada klaster plot berdasarkan nilai VCR

VCR Skor

Kerusakan pohon terdiri dari tiga sistem kode berurutan yang menggambarkan lokasi terjadinya kerusakan, jenis kerusakan dan tingkat keparahan yang ditimbulkan pada pohon. Ketiga sistem pengukuran ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah indeks kerusakan (IK). Deskripsi kode lokasi, jenis kerusakan dan nilai ambang keparahan terdapat pada Tabel 4 dan 5. Nilai pembobotan untuk setiap kode keparahan, kerusakan dan lokasi terdapat pada Tabel 6.

IK = [xTipe kerusakan*yLokasi*zKeparahan]

Tabel 4 Deskripsi kode lokasi kerusakan (USDA-FS-1999 dalam Darmansyah 2014)

Kode Definisi

0 Tidak ada kerusakan

1 AꞋar terbuꞋa dan “stump” (12 inch (30 cm) di atas permukaan tanah) 2 Kerusakan pada akar dan antara akar dan batang bagian bawah

3 Kerusakan pada batang bagian bawah (di bawah pertengahan antara “stump” dan dasar tajuk

4 Kerusakan pada batang bagian bawah yang terdapat pula pada batang bagian atas

5 Kerusakan batang bagian atas (di atas pertengahan antara “stump” dan dasar tajuk)

6 Kerusakan pada dahan utama yang terdapat pada bagian tajuk, diatas dasar tajuk

7 Kerusakan pada ranting (dahan-dahan kecil dan dahan lain selain dahan utama) 8 Kerusakan pada daun muda dan pucuk daun

(21)

7

Gambar 4 Kode lokasi untuk indikasi kerusakan (USDA-FS 1999 dalam Darmansyah 2014)

Tabel 5 Deskripsi kode jenis kerusakan dan nilai ambang keparahan (USDA-FS 1999 dalam Darmansyah 2014)

Kode Definisi Nilai ambang keparahan

(pada kelas 10% - 99%)

01 Kanker, gol (puru) ≥ 20% dari titik pengamatan

02 Konk, tubuh buah dan indikator

lain tentang lapuk lanjut

TidaꞋ ada, Ꞌecuaꞌi ≥ 20% pada aꞋar > 0.91 m dari batang

03 Luka terbuka ≥ 20% dari titik pengamatan

04 Resinosis/gummosis ≥ 20% dari titik pengamatan

05 Batang pecah Tidak ada

06 Sarang Rayap ≥ 20% dari titik pengamatan

11 Batang atau akar patah kurang dari

0.91 m dari batang Tidak ada

12 Brum pada akar atau batang Tidak ada

13 Akar patah atau mati > 0.91 m dari

Batang ≥ 20% pada akar

14 Kutu lilin ≥ 20%

20 Liana ≥ 20%

21 Hilangnya ujung dominan, mati

Ujung ≥ 1% pada dahan pada tajuk

22 Cabang patah atau mati ≥ 20% pada ranting atau pucuk

23 Percabangan atau brum yang

Berlebihan ≥ 20% pada ranting atau pucuk

24 Daun, kuncup atau tunas rusak ≥ 30% dedaunan penutupan tajuk

25 Daun Berubah warna (tidak hijau) ≥ 30% dedaunan penutup tajuk

(22)

Tabel 6 Nilai pembobotan untuk setiap kode keparahan, kerusakan dan lokasi Tingkat

keparahan Nilai Kode tipe kerusakan Nilai

Kode lokasi

Data Indeks Kerusakan (IK) dihitung pada tingkat pohon dengan menggunakan rumus :

TDLI= (Tipe 1*Lokasi1*Keparahan 1) + (Tipe 2 *Lokasi 2* Keparahan 2) + (Tipe 3* Lokasi 3* Keparahan 3)

Indeks Kerusakan (IK) dapat dihitung pada tingkat plot dan tingkat area dengan menggunakan rumus :

Plot Level Index (PLI) = rata-rata ꞋerusaꞋan pohon [pohon1, pohon2, pohon3,…] Nilai skor kondisi kerusakan pohon pada klaster plot berdasarkan nilai PLI kerusakan pohon dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Nilai skor kerusakan pohon pada klaster plot berdasarkan nilai PLI

Rata – rata PLI Skor

(23)

9

indikator kesuburan tanah karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah. Nilai pH berkisar dari 0 –14, pada umumnya pH tanah berkisar antara 3.0-9.0. pH tanah menunjukan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Berdasarkan nilai pH tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori (Tabel 9). Nilai skor kualitas tapak pada setiap klaster plot berdasarkan nilai KTK dapat dilihat pada Tabel 10. Pengamatan untuk pengukuran penutupan vegetasi dan ketebalan serasah dilakukan di dalam mikroplot dengan luas 1 m2.

Tabel 8 Skoring kesuburan tanah berdasarkan nilai KTK (Hardjowigeno 2010)

Nilai KTK (me/100 g) Kriteria

> 40 Sangat Tinggi

25–40 Tinggi

17–24 Sedang

5–16 Rendah

< 5 Sangat Rendah

Tabel 9 Penilaian pH tanah (Brandy 1974 dalam Iskandar 2014)

Nilai pH Kategori

Tabel 10 Nilai skor kualitas tapak pada klaster plot berdasarkan nilai KTK

(24)

4. Biodiversitas

Biodiversitas mengacu pada jumlah tumbuhan bawah dan biota tanah yang ditemukan pada lokasi penelitian. Pengamatan indikator ini dilakukan pada mikroplot berbentuk lingkaran dengan jari-jari 2.07 m yang terletak pada arah 90o dari titik pusat subplot dengan jarak 3.66 m. Data yang diamati yaitu semua jenis tumbuhan bawah dan jumlah dari masing-masing jenis tersebut.

Terdapat tiga tolak ukur yang digunakan pada indikator biodiversitas tumbuhan bawah, yaitu kekayaan jenis, kelimpahan jenis dan keragaman jenis. Penilaian biodiversitas didasarkan kondisi kemerataan jenis dengan menggunakan indeks kemerataan (Evenness Index) Pielou J (Pielou 1969), dimana indeks ini mencakup penghitungan kekayaan jenis, distribusi relatif jenis dan keanekaragaman jenis. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

J

'

=

ꞌnSH' , dengan nilai

H

'

=-

∑ [

ni N

ꞌn

ni N

]

Keterangan:

J = indeks kemerataan jenis Pielou

H = indeks keragaman jenis Shannon-Wiener

S = jumlah jenis yang ditemukan ni = jumlah individu spesies ke-i N = jumlah total individu

Suatu komunitas dikatakan stabil bila mempunyai nilai indeks kemerataan jenis mendekati 1 dan semakin kecil nilai indeks kemerataan jenis mengindikasikan bahwa penyebaran jenis tidak merata. Nilai skor biodiversitas tumbuhan bawah pada setiap klaster plot berdasarkan nilai indeks kemerataan jenis Pielou dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Nilai skor biodiversitas tumbuhan bawah pada klaster plot berdasarkan nilai indeks kemerataan jenis Pielou

(25)

11

kesehatan yang semakin tinggi. Tabel 12 menunjukkan skoring berdasarkan status kesehatan

Tabel 12 Skoring berdasarkan status kesehatan

Nilai Akhir Status Kesehatan

0 – 08 Sangat rendah

09 – 16 Rendah

17 – 24 Sedang

25 – 32 Sehat

33 – 40 Sangat sehat/ideal

HASIL

Kondisi Umum Lokasi Penelitian

PT. Indominco Mandiri merupakan perusahaan pemegang Izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan perjanjian No. 097.B.ji/292/U/90 yang secara administrasi berada di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Bontang Selatan, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Secara Geografis wilayah Kuasa Penambangan PKP2B PT. Indominco Mandiri terletak diantara 117o12 50117o23 30 BT dan 00o02 2000o13 00 LU.

Klasifikasi iklim di sekitar lokasi penambangan batubara PT Indominco Mandiri, merupakan hasil pengukuran rata-rata di lapangan periode tahun 1995– 2009 untuk masing-masing blok tambang. Blok barat dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 9.95–15.04 mm per hari dengan banyaknya hari hujan perbulannya berkisar antara 9.48–13.40 hari. Blok timur dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 9.65–19.38 mm per hari dengan banyaknya hari hujan perbulannya berkisar antara 9.50–12.88 hari. Berdasarkan karakteristik curah hujan dan hari hujan, klasifikasi iklim di wilayah studi termasuk Tipe A (sangat basah) menurut Schmidt dan Ferguson. (Andal 2011).

Gambar 5 Lokasi areal pertambangan PT Indominco Mandiri

Blok Barat : 18.100 Ha

(26)

Kegiatan penambangan batubara PT Indominco Mandiri di areal seluas 25 121 ha yang terbagi dalam dua blok. Blok barat seluas 18 100 ha dan blok Timur seluas 7 021 ha (Gambar 5). Berdasarkan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Timur areal tersebut berada pada Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK), dimana seluas 20 990 ha merupakan kawasan Hutan Produksi Tetap dan seluas 4 131 ha terdiri dari Hutan Lindung Bontang dengan sebagian lokasi sudah berstatus lahan pinjam pakai dari Menteri Kehutanan.

PT Indominco Mandiri saat ini telah memiliki izin eksploitasi/produksi batubara dengan Surat No. SK.015.K/20.01/DJG/2001 pada tanggal 2 Mei 2001 di areal 25 121 ha dengan produksi batubara sebesar 11 juta ton per tahun. Perusahaan juga telah mendapatkan persetujuan (Surat Kelayakan Lingkungan Hidup) dari Gubernur Kalimantan Timur dengan Surat No. 660.1/K.88/2006 pada tanggal 8 Maret 2006. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan/evaluasi AMDAL-nya dalam tingkat Provinsi, PT Indominco Mandiri telah melengkapi kegiatannya dengan sistem manajemen lingkungan dengan ISO 14001:1996.

Plot pengambilan data penelitian di PT Indominco Mandiri pada tahun tanam revegetasi 2004, 2006, 2008 dan 2010 dibangun di dalam kawasan perusahaan, harus ada tegakannya dan tegakan tersebut cenderung rapat, dan topografinya relatif datar (Lampiran 3, 4 dan 5). Komposisi jenis di semua klaster terdapat campuran tegakan yang ditanam. Pada klaster 2 terdapat komposisi jenis yang paling banyak, yaitu 5 jenis tanaman yaitu trembesi, gmelina, sengon buto, johar, dan makaranga. Pada klaster 1 terdapat campuran jenis trembesi dan johar dengan dominan trembesi. Pada klaster 3 terdapat campuran jenis sengon buto dan trembesi dengan dominan sengon buto. Pada klaster 4 terdapat campuran jenis johar, trembesi, dan duabanga dengan dominan johar (Tabel 13).

Tabel 13 Lokasi klaster plot FHM di areal reklamasi PT Indominco Mandiri Klaster

Titik pusat klaster plot (GPS) Tanaman pokok

(27)

13

Pengukuran Indikator Kesehatan Hutan Vitalitas (kondisi kerusakan pohon dan kondisi tajuk)

Indikator vitalitas diamati dengan menggunakan parameter kerusakan pohon dan kondisi tajuk. Penilaian kerusakan pohon dilakukan dengan mengamati setiap pohon yang meliputi lokasi kerusakan, tipe kerusakan, dan tingkat keparahan kerusakan. Hasil pengamatan tersebut kemudian dilakukan skoring dan dirangkum dalam sebuah indeks kerusakan. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan pada pohon di areal penelitian ditemukan beberapa lokasi dan tipe kerusakan. Sebaran lokasi kerusakan pada empat klaster dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran lokasi kerusakan di empat klaster Klaster paling banyak memiliki sebaran lokasi kerusakan. Kerusakan tegakan banyak terjadi pada lokasi 7 terutama pada jenis sengon buto. Sebaran tipe kerusakan pada klaster 1, 2, 3 dan 4 dapat dilihat pada Tabel 15, 16, 17 dan 18.

Tabel 15 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 1 (umur 11 tahun)

No Jenis tanaman Tipe kerusakan Frekuensi

(28)

Tabel 16 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 2 (umur 9 tahun)

No Jenis tanaman Tipe kerusakan Frekuensi

1 Trembesi 1 1

Tabel 17 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 3 (umur 7 tahun)

No Jenis tanaman Tipe kerusakan Frekuensi

(29)

15

Tabel 18 Sebaran tipe kerusakan pada klaster plot 4 (umur 5 tahun)

No Jenis tanaman Tipe kerusakan Frekuensi

1 Johar 1 2

3 1

4 3

6 2

20 9

22 28

24 2

25 2

2 Trembesi 20 5

22 18

25 6

3 Duabanga 20 1

22 1

25 1

Berdasarkan tipe kerusakan, terdapat berbagai tipe kerusakan yang berbeda-beda tiap klaster dan jenis pohon dengan tingkat kerusakan yang berberbeda-beda-berbeda-beda. Tabel 15, 16, 17 dan 18 menunjukkan tipe kerusakan 22 (cabang patah atau mati) merupakan penyebab kerusakan yang paling dominan. Hal ini dapat di interpretasikan dari frekuensi kejadian. Tipe kerusakan lain yang cukup penting adalah 20 (liana) dan 24 (daun, kuncup atau tunas rusak). Secara keseluruhan tegakan umur 9 tahun (klaster plot 2) merupakan tegakan yang paling banyak memiliki berbagai tipe kerusakan. Tipe kerusakan yang dominan ditemukan di seluruh klaster plot dan seluruh jenis pohon yaitu tipe kerusakan cabang patah atau mati (Gambar 6). Pada pohon trembesi di klaster plot 2, 3 dan 4 didominasi tipe kerusakan daun berubah warna. Pada pohon johar yang hanya ada di klaster plot 1, 2 dan 4 serta pohon gmelina di klaster plot 2, didominasi tipe kerusakan liana (Gambar 7).

(30)

Gambar 7 Tipe kerusakan liana

Tabel 19 Nilai indeks kerusakan tingkat plot (Plot Level Index/PLI)

Klaster plot Tahun tanam Umur tegakan Nilai PLI

1 2004 11 tahun 3.92

2 2006 9 tahun 4.01

3 2008 7 tahun 2.71

4 2010 5 tahun 3.19

Hasil penilaian kesehatan pohon yang telah dilakukan terhadap tiga parameter lokasi kerusakan, tipe kerusakan, dan tingkat keparahan kerusakan kemudian dikumpulkan dan diperhitungkan dalam indeks kerusakan pohon. Berdasarkan nilai PLI kerusakan pohon, klaster plot tiga mempunyai nilai PLI terkecil dengan nilai 2.71, sedangkan klaster plot dua mempunyai nilai PLI terbesar dengan nilai 4.01 (Tabel 19). Semakin tinggi nilai PLI maka kerusakan pohon yang terjadi semakin parah, sebaliknya nilai PLI yang rendah menunjukkan bahwa tingkat kerusakan pohon yang terjadi sedikit atau tidak parah.

Tabel 20 Nilai visual crown rating (VCR) pohon di setiap klater plot

Klaster plot Tahun tanam Umur tegakan Nilai VCR

1 2004 11 tahun 2.94

2 2006 9 tahun 2.92

3 2008 7 tahun 3.36

4 2010 5 tahun 3.13

Pengamatan kondisi tajuk dilakukan dengan pengukuran terhadap parameter rasio tajuk hidup, kerapatan tajuk, transparansi tajuk, diameter tajuk dan

(31)

17

dua memiliki kondisi tajuk kurang baik dengan nilai VCR terendah yaitu 2.92 (Tabel 20).

Kualitas tapak

Penilaian kualitas tapak dilakukan dengan pengukuran tebal serasah di setiap klaster plot, penutupan vegetasi dan analisis sifat kimia tanah (Tabel 21). Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB (Lampiran 6). Penilaian terhadap tebal serasah, klaster plot satu mempunyai ketebalan serasah tertinggi yaitu 2.55 cm dan klaster plot tiga mempunyai ketebalan serasah terendah dengan ketebalan 1.51 cm. Penilaian terhadap nilai pH dan KTK tanah, klaster plot tiga mempunyai nilai KTK tertinggi, yaitu 20.47 dengan nilai pH 4.10 dan klaster plot empat dengan nilai KTK terendah, yaitu 1.16 dengan nilai pH 4.71. Pada penilaian terhadap penutupan vegetasi, klaster plot tiga mempunyai persentase terbuka tertinggi dengan nilai 33.75 % dan klaster plot dua mempunyai persentase terbuka terendah dengan nilai 22.50 %.

Tabel 21 Kandungan sifat kimia tanah dan rata-rata penutupan vegetasi Klaster

Hasil identifikasi tumbuhan bawah di setiap klaster plot memiliki jumlah jenis bervariasi antara 8–10 jenis. Hasil identifikasi biota tanah di setiap klaster plot memiliki jumlah jenis bervariasi antara 1–3 jenis. Hasil identifikasi jenis yang terdapat di empat klaster plot dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2. Penilaian indikator biodiversitas didasarkan kondisi keanekaragaman dan kemerataan jenis dengan menggunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener dan indeks kemerataan jenis Pielou. Data hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 22 dan Tabel 23.

(32)

Tabel 23 Keanekaragaman jenis, indeks keragaman jenis dan indeks kemerataan

Berdasarkan perhitungan, pada tumbuhan bawah, nilai indeks kemerataan jenis (J ) terkecil terdapat pada klaster plot dua yaitu 0.53, sedangkan klaster plot satu mempunyai nilai indeks kemerataan jenis (J ) terbesar yaitu 0.70 (Tabel 22). Pengamatan yang dilakukan di areal penelitian, tumbuhan bawah yang ditemukan berjumlah 15 jenis. Terdapat enam jenis yang dominan di keempat klaster plot yaitu

Paspalum conjugatum, Nephrolepis exaltata, Ageratum conyzoides, Imperata cylyndrica, Lygodium flexuosum dan Mikania micrantha. Pengamatan yang dilakukan di areal penelitian, biota tanah yang temukan terdapat empat famili, yaitu

Formicidae, Gryllidae, Acrididae dan Reduviidae. Berdasarkan perhitungan pada biota tanah, klaster plot 3 memiliki nilai indeks Ꞌemerataan jenis (J’) yaitu nol karena hanya memiliki satu jenis (Tabel 23).

Penilaian Kesehatan Hutan

Hasil penilaian tingkat kesehatan hutan di areal bekas tambang dengan menggunakan metode FHM menunjukkan bahwa data atau informasi yang diperoleh manajemen pengelola memberikan gambaran status saat ini dari dari kondisi hutan tersebut dan perubahan yang akan terjadi berikutnya dapat dilakukan kembali pengukuran pada areal dan indikator yang sama, dengan demikian data atau informasi tersebut dapat digunakan pada tingkat kebijakan di PT Indominco Mandiri. Nilai tingkat kesehatan tegakan hutan didapatkan dari penggabungan indikator kondisi kerusakan pohon, kondisi tajuk, kualitas tapak dan biodiversitas. Skoring dari masing-masing indikator pada setiap klaster plot dapat dilihat pada Tabel 24. Nilai akhir kesehatan hutan berturut – turut mulai dari klaster plot 1, yaitu 22, 22, 26 dan 20 dari nilai tertinggi yaitu 40.

(33)

19

PEMBAHASAN

Vitalitas

Kesehatan hutan dinilai berdasarkan kerusakan yang terjadi. Mongold (1997) dalam Hadiyan (2010) menyebutkan bahwa menilai kesehatan hutan berdasarkan kesehatan pohon penyusunannya, sedangkan kesehatan pohon dipengaruhi oleh kerusakan yang terjadi pada pohon tersebut. Indikator vitalitas diamati dengan menggunakan parameter kerusakan pohon dan kondisi tajuk. Parameter pengukuran dalam indikator kondisi kerusakan pohon terdiri dari tiga sistem kode berurutan yang menggambarkan lokasi terjadinya kerusakan, tipe kerusakan dan tingkat keparahannya. Pohon dikatakan sehat atau normal jika pohon tersebut dapat melaksanakan fungsi-fungsi fisiologisnya. Pohon dikatakan sakit apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal dan salah satu atau lebih fungsi fisiologisnya terganggu. Kerusakan pohon (tergantung lokasi, jenis dan keparahannya) akan berpengaruh terhadap fungsi fisiologis pohon, menurunkan laju pertumbuhan pohon dan dapat menyebabkan kematian pohon (Putra 2004).

Lokasi kerusakan di areal penelitian ditemukan di beberapa bagian pohon. Adanya polusi udara, aktivitas manusia, faktor biologis serta usia pohon-pohon yang makin meningkat, diduga mengakibatkan penurunan kualitas pohon. Penurunan kualitas pohon dapat dilihat dari tingkat kerusakan yang dialami oleh pohon-pohon penyusunnya. Kerusakan yang terjadi dapat disebabkan oleh adanya penyakit, serangan hama, gulma, cuaca maupun satwa liar.

Lokasi ditemukannya kerusakan didominasi pada lokasi kerusakan 7 (kerusakan pada ranting) yaitu sebanyak 208 pohon, diikuti pada lokasi kerusakan 6 (dahan utama) sebanyak 68 pohon. Lokasi kerusakan 4 (batang bagian bawah) sebanyak 67 pohon, diikuti lokasi kerusakan 9 (tajuk) sebanyak 49 pohon dan lokasi kerusakan 5 (batang atas) sebanyak 33 pohon. Lokasi kerusakan 3 (batang bawah) sebanyak 13 pohon, diikuti lokasi kerusakan 8 (daun muda dan pucuk daun) sebanyak 11 pohon dan lokasi kerusakan 2 (akar dan antara akar dan batang bagian bawah) sebanyak 10 pohon.

(34)

Gambar 8 Kerusakan cabang atau ranting akibat aktivitas orangutan

Hasil pengamatan di lapangan, dapat diketahui bahwa pada pohon trembesi sangat mudah terserang kerusakan pada bagian daun, yaitu berubah warna. Kerusakan yang sering dijumpai adalah klorosis. Perubahan warna ini dapat disebabkan oleh rusaknya klorofil (zat hijau daun) atau akibat kekurangan cahaya matahari atau karena serangan penyakit. Perubahan warna juga terjadi dalam bentuk bercak-bercak cokelat karat, ungu,hitam, kelabu, keputih-putihan atau bersama-sama (Pracaya 2003). Pada pohon johar dan gmelina di dominasi terlilit liana, diduga kurangnya pemeliharaan untuk melakukan pemotongan akar liana untuk mematikan dan melepaskan jeratan pada pohon. Kerusakan pada bagian cabang, ranting dan daun akan mengakibatkan tajuk menjadi tidak berkembang dengan baik sehingga proses fotosintesis terganggu. Gangguan fotosintesis dapat mengakibatkan pertumbuhuan pohon kurang optimal dan menurunkan kualitas kayu.

Tipe kerusakan lain yang ditemukan adalah tipe kerusakan luka terbuka (kode 03) dan daun, kuncup atau tunas rusak (kode 24). Tipe kerusakan luka terbuka terjadi pada lokasi akar dan antara akar dan batang bagian bawah serta pada batang bagian bawah, diduga terjadi karena adanya aktivitas hewan babi hutan di lokasi pengamatan dengan ditemukannya jejak kaki babi hutan di sekitar pohon yang terkena kerusakan. Menurut penelitian Harahap (2012) babi hutan merusak perkebunan dan ladang bukan hanya oleh populasinya, tetapi erat hubungannya dengan sifat rakusnya. Pada umumnya babi hutan termasuk hewan nocturnal yaitu hewan yang beraktivitas dan mencari makan pada malam hari. Makanan babi hutan diantaranya akar-akaran dan merambat ke batang, dedaunan, buah bahkan tanah. Batang secara fisik merupakan penopang tajuk dan secara fisiologis berperan sebagai organ penyangga sistem transport untuk distribusi unsur hara. Peran batang menurut Widyastuti et.al. (2005) dalam proses kelangsungan hidup pohon menempati urutan ketiga setelah akar dan daun. Kerusakan pada bagian batang dan akar ini akan meningkatkan resiko pohon rubuh atau tumbang.

Berdasarkan nilai rata-rata PLI pada Tabel 18, pada klaster plot 2 memiliki nilai PLI paling besar. Nilai PLI ini menggambarkan bahwa pada klaster plot 2 memiliki kondisi kerusakan pohon yang paling parah dibandingkan klaster plot lainnya. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah kerusakan pohon pada setiap tipe kerusakan yang ditemukan di klaster plot 2.

(35)

21

berperan penting bagi tanaman. Proses fotosintesis terjadi di bagian daun. Kondisi dan ukuran tajuk dapat mencerminkan kesehatan suatu pohon secara umum. Tajuk yang lebar dan lebat menggambarkan laju pertumbuhan yang cepat, sebaliknya tajuk yang kecil dan jarang menunjukkan kondisi tapak tumbuh yang tidak atau kurang mendukung pertumbuhan (seperti kompetisi dengan pohon lain atau kelembaban yang terlalu atau berlebih) atau pengaruh lainnya seperti serangan serangga, penyakit pada dedaunan atau badai angin. Kondisi tajuk dapat diketahui dari nilai Visual Crown Rating (VCR), semakin tinggi nilai VCR maka kondisi tajuk semakin baik.

Dari hasil pengamatan dan perhitungan, pada klaster plot 3, memiliki nilai VCR tertinggi, yaitu 3.36, hal ini menandakan bahwa kondisi tajuk di klaster plot 3 merupakan terbaik dari ketiga plot lainnya. Tajuk yang baik ini diduga hanya ada 2 jenis tanaman pokok yang ditanam, yaitu sengon buto dan trembesi karena adanya perbedaan jenis tanaman pokok akan menyebabkan perubahan kerapatan dan transparansi tajuk dan dari pengamatan dilapangan terdapat drainase yang baik dan kondisi lalu lintas kendaraan tambang yang sepi daripada jalan–jalan lainnya.

Pada klaster plot 2, memiliki nilai VCR, yaitu 2.94, terendah dari ketiga klaster plot lainnya, dikarenakan terdapat kerusakan cabang maupun ranting yang patah dan tajuk yang rusak dikarenakan aktivitas orangutan. Pada klaster plot 1, memiliki nilai VCR, yaitu 2.94, dari pengamatan dilapangan, hal ini dikarenakan

dieback yang tinggi antara 5%-35%. Semakin tinggi dieback memperlihatkan kondisi tajuk semakin tidak sehat. Pada klaster plot 4, memiliki nilai VCR 3.13. Berdasarkan pengamatan dilapangan kerusakan terjadi lebih banyak di bagian tajuk dan penyusunnya. Hal ini dikarenakan aktivitas kendaraan tambang yang padat dan kualitas tanah yang dilihat dari nilai KTK tanah yang sangat rendah.

Tindakan pemeliharaan bertujuan untuk menanggulangi atau mencegah berkembangnya penyebab kerusakan, sehingga pohon dapat menjalankan fungsi fisiologisnya secara normal. Pohon–pohon yang telah mengalami kerusakan perlu adanya upaya pencegahan dalam jangka mendatang. Upaya ini diperlukan untuk perkiraan perkembangan kerusakan yang telah ada sampai jangka waktu kerusakan tersebut tidak dapat ditolerir dan mengharuskan pohon untuk ditebang.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin tua umur tegakan, tidak berpengaruh terhadap kerusakan pohon, namun berpengaruh terhadap kondisi tajuk. Pada kerusakan pohon, dilihat dari nilai PLI yang fluktuatif di setiap klaster plot yang berbeda umurnya. Klaster plot 2 yang berumur 9 tahun memiliki nilai PLI tertinggi, dengan nilai 4.01, sedangkan klaster plot 3 yang berumur 7 tahun memiliki nilai PLI terendah, dengan nilai 2.71. Perbedaan ini disebabkan pada klaster plot 2 memiliki jumlah jenis pohon yang lebih banyak dari keempat klaster plot lainnya, yaitu sebanyak 5 jenis, sedangkan klaster plot 3 memiliki 2 jenis pohon. Jenis pohon yang beragam menunjukkan ketahanan yang semakin kuat terhadap kerusakan, karena daya tahan setiap jenis pohon berbeda – beda dalam menerima serangan kerusakan.

(36)

revegetasi selanjutnya dapat menerapkan jenis yang beragam dan melakukan pencegahan dini terhadap tanda kerusakan untuk membangun tegakan hutan yang lebih baik.

Kualitas Tapak

Penambangan terbuka batubara telah menyebabkan lapisan bawah dan permukaan tanah menjadi terbongkar dan terjadi penurunan kualitas tanah yang sangat drastis (Agus 2014). Kualitas tapak yang baik merupakan salah satu aspek yang penting dalam keberhasilan revegetasi lahan pasca tambang. Tanah sebagai sumber nutrisi dan media alami bagi akar pohon serta mempunyai efek penting dalam pertumbuhan tanaman. Indikator kesuburan tanah salah satunya adalah kapasitas tukar kation (KTK). Penilaian kualitas tapak dilakukan dengan melihat nilai kapasitas tukar kation (KTK) tanah. KTK adalah suatu variabel kimia tanah yang menunjukkan kemampuan partikel-partikel tanah untuk memegang hara (Tan 1982).

Nilai KTK pada tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam menjerap unsur-unsur hara tanah hingga menjadi tersedia bagi tanaman. KTK merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowigeno 2007). Nilai KTK pada tanah-tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam menjerap unsur-unsur hara tanah hingga menjadi tersedia bagi tanaman.

Analisis tanah terhadap pH dan KTK tanah di lokasi penelitian dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. Pada klaster plot 4 mempunyai nilai KTK yang paling rendah yaitu 1.16 me/100g dan masuk dalam kategori sangat rendah menurut Hardjowigeno (2010). Hal ini disebabkan karena tanah di klaster plot 4 berpasir. Pada klaster plot 2 dan 3 memiliki nilai KTK masing-masing 15.45 me/100g dan 20.47 me/100g dan masuk dalam kategori sedang. Nilai KTK yang rendah menunjukkan kemampuan partikel-partikel tanah untuk memegang hara dan menyediakan hara kepada akar tanaman rendah. Hal ini dapat menyebabkan kebutuhan hara dan mineral lainnya pada tumbuhan tidak terpenuhi, sehingga dapat mengganggu proses fotosintesis dan proses fisiologi lainnya. KTK memiliki pengaruh pada keberhasilan revegetasi pada lahan bekas tambang, dengan penambahan bahan organik maka nilai KTK akan meningkat (Agus 2014).

Nilai pH di areal pengamatan memiliki nilai yang hampir sama. Pada klaster plot 2, 3 dan 4 memiliki nilai pH 4.12, 4.10 dan 4.71 dan masuk dalam kategori masam serta pada klaster plot 1 memiliki nilai pH 5.05 dan masuk dalam kategori kemasaman sedang menurut Brandy (1974) dalam Iskandar (2014). Kondisi tanah yang masam selain menimbulkan keracunan Al, juga menyebabkan kekahatan beberapa unsur hara. Kekahatan adalah kondisi dimana tanaman mengalami kekurangan pasokan hara (Munawar 2011).

(37)

23

23 %. Klaster plot 1 memiliki akumulasi serasah paling tinggi dengan ketebalan rata-rata 2.55 cm dan persentase penutupan vegetasi rata-rata 38 %. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi keseluruhan areal pengamatan sudah tersedia serasah dan dapat menjadi pertanda adanya keberlangsungan siklus unsur hara.

Hasil analisis tanah, menunjukkan bahwa semakin tua umur tegakan, berpengaruh terhadap nilai KTK tanah. Dilihat dari nilai KTK yang diperoleh, semakin tua umur tegakan semakin menurun nilai KTKnya, kecuali pada klaster plot 4 yang berumur 5 tahun memiliki nilai KTK yang terendah dari klaster plot lainnya. Klaster plot 1, 2 dan 3 memiliki nilai KTK berturut–turut yaitu 9.64 me/100g, 15.45 me/100g dan 20.47 me/100g sedangkan pada klaster plot 4 memiliki nilai KTK 1.16 me/100g. Perbedaan klaster plot 4 dengan klaster plot lainnya disebabkan tekstur tanah yang berpasir dan belum sempurnanya dekomposisi serasah walaupun telah terakumulasi serta kondisi tanah yang kering. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan pemberian bahan organik dan dekomposer untuk mendekomposisi serasah yang tersedia untuk menjamin ketersediaan dan siklus unsur hara. Pemberian ini dapat dilakukan saat melakukan penanaman dan perawatan tanaman lokal.

Biodiversitas

Dalam suatu ekosistem hutan, tumbuh-tumbuhan berhubungan erat satu sama lain. Terbentuknya pola keanekaragaman dan struktur spesies vegetasi hutan merupakan proses yang dinamis, erat hubungannya dengan kondisi lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Tumbuhan bawah adalah suatu tipe vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan, herba dan semak belukar. Keberadaan tumbuhan bawah di lantai hutan dapat berfungsi sebagai penahan pukulan air hujan dan aliran permukaan sehingga meminimalkan bahaya erosi serta indikator kesuburan tanah dan penghasil serasah dalam meningkatkan kesuburan tanah (Hilwan 2013).

Komposisi jenis tumbuhan bawah pada klaster plot 1 dan 2 memiliki 9 jenis, pada klaster plot 3 memiliki 10 jenis dan pada klaster plot 4 memiliki 8 jenis. Dari 15 jenis tumbuhan yang ditemukan di areal pengamatan, terdapat tiga jenis yang selalu dijumpai di keempat klaster plot dan masuk kedalam urutan ke 2, 3 dan 5 dalam jumlah terbanyak yaitu Nephrolepis exaltata, Ageratum conyzoides dan

Lygodium flexuosum. Jenis Paspalum conjugatum dan Imperata cylyndrica

menempati urutan ke 1 dan 4. Dominannya kelima jenis tumbuhan bawah tersebut dapat membuktikan bahwa jenis-jenis tumbuhan bawah tersebut memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh, terutama naungan dan tanah. Menurut Filter dan Hay (1998) dalam Setyawan (2006) menyatakan bahwa salah satu kondisi lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tumbuhan di bawah tegakan antara lain cahaya matahari atau naungan.

(38)

Dari hasil perhitungan, dapat diketahui bahwa keempat klaster plot memiliki nilai H antara 1.43–1.91 dan masuk dalam kategori keanekaragaman jenis yang sedang. Penilaian biodiversitas didasarkan kondisi kemerataan jenis dengan menggunakan indeks kemerataan (Evenness Index) Pielou (J ) dimana indeks ini mencakup perhitungan kekayaan jenis, distribusi relatif jenis dan keanekaragaman jenis. Suatu komunitas dikatakan stabil bila mempunyai nilai indeks kemerataan jenis mendekati 1 dan semakin kecil nilai indeks kemerataan jenis mengindikasikan bahwa penyebaran jenis tidak merata. Jumlah jenis yang ditemukan di areal pengamatan yaitu 15 jenis. Dari hasil perhitungan, keempat klaster plot memiliki nilai J antara 0.53–0.70. Klaster plot 1 memiliki nilai J tertinggi yaitu 0.70 karena memiliki 9 jenis dan jumlah tumbuhan bawah yang hampir sama yaitu 7 jenis antara 17–75 dan 2 jenis masing–masing berjumlah 4 dan 5. Pada klaster plot 2 memiliki nilai J terendah dengan nilai 0.53 karena memiliki 9 jenis namun jumlah tumbuhan bawah didominasi oleh satu jenis, yaitu Paspalum conjugatum (245 tanaman), terhadap 8 jenis lainnya yang berjumlah antara 4–48 tanaman.

Pengamatan yang dilakukan terhadap biota tanah di areal pengamatan hanya menemukan 3 famili, yaitu Formicidae, Gryllidae dan Reduviidae. Klaster plot 3 memiliki nilai H dan J yaitu 0 karena hanya memiliki 1 jenis yaitu Formicidae.

Kꞌaster pꞌot 2, 3 dan 4 memiꞌiꞋi niꞌai H antara 0.07 – 0.19 dan masuk dalam kategori keanekaragaman jenis yang rendah dan memiliki nilai J antara 0.05–0.14. Rendahnya keanekaragaman biota tanah ini diduga karena lingkungan yang belum mendukung. Formicidae adalah sejenis semut dan ditemukan di seluruh klaster plot. Keberadaan semut ini dapat dijadikan permulaan untuk jenis hewan lainnya. Menurut Hilwan (2013) semut dapat menggali sejumlah besar tanah sehingga menyebabkan terangkatnya nutrisi tanah dan dapat bersimbiosis yang menguntungkan dengan berbagai serangga, tumbuhan dan fungi. Semut merupakan mangsa yang penting bagi berbagai serangga, laba – laba, reptil, burung, kodok, mamalia bahkan tumbuhan karnivora.

Hasiꞌ perhitungan tumbuhan bawah terhadap niꞌai H dan J , dapat diꞋetahui

bahwa semakin tua umur tegakan, tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman

jenis (H ), namun berpengaruh terhadap Ꞌemerataan jenis (J). Pada keempat klaster

yang berumur 5 tahun sampai 11 tahun memiꞌiꞋi niꞌai ꞋeaneꞋaragaman jenis (H )

antara 1.43–1.91 dan termasuk dalam kategori yang sedang. Kondisi kemerataan jenis di keempat klaster plot dapat diketahui bahwa semakin tua umur tegakan

memiꞌiꞋi niꞌai J mendeꞋati niꞌai 1 yang artinya mendeꞋati stabiꞌ, yaitu antara 0.53–

0.70. Hasil ini bisa diketahui bahwa semakin tua umur tegakan, maka terjaminnya kemerataan jenis di areal pengamatan. Nilai keanekaragaman jenis yang berkategori sama diduga karena kondisi lingkungan yang belum mendukung untuk jenis tumbuhan yang lain.

Tingkat Kesehatan Hutan

(39)

25

(2006), indikator yang dipilih harus efisien dalam waktu, hemat biaya dan mudah untuk diterapkan, terukur dan dapat digambarkan.

Tingkat kesehatan hutan di areal pengamatan umumnya dipengaruhi oleh indikator kualitas tapak karena pada skoring indikator, skor kualitas tapak merupakan skor yang paling berpengaruh terhadap nilai akhir kesehatan hutan. Pada indikator kerusakan pohon, semua klaster plot mendapatkan skor yang sama, yaitu 8. Pada indikator biodiversitas, skor yang didapatkan antara 5–7, dan pada indikator kondisi tajuk, skor yang didapatkan antara 6–8. Klaster plot 1, 2 dan 4 mendapatkan status sedang dan klaster plot 3 mendapatkan status sehat.

Klaster plot 3 dari keempat indikator, mendapatkan skor 26. Nilai terendah dari semua indikator terdapat pada kualitas tapak. Kualitas tapak di klaster plot 3 memiliki nilai KTK yaitu 20.47 me/100g, tertinggi dari semua klaster plot dan masuk dalam kategori sedang. Pada indikator kerusakan pohon dan kondisi tajuk mendapatkan nilai yang sama, yaitu 8 dan indikator biodiversitas mendapatkan skor 6. Klaster plot 1 dan 2 memiliki skor yang sama, yaitu 22. Pada indikator kerusakan pohon dan kondisi tajuk, memiliki skor yang sama, yaitu masing–masing 8 dan 6. Pada klaster plot 1 skor terkecil terdapat pada indikator kualitas tapak dengan nilai 1, karena memiliki nilai KTK yaitu 9.65 me/100g dan masuk dalam kategori rendah, namun pada indikator biodiversitas mendapatkan skor 7, tertinggi dari semua klaster plot karena memiliki 9 jenis dan jumlah tumbuhan bawah yang hampir sama yaitu 7 jenis antara 17–75 dan 2 jenis masing–masing berjumlah 4 dan 5. Pada klaster plot 2 skor terkecil terdapat pada indikator kualitas tapak dengan nilai 3, karena memiliki nilai KTK yaitu 15.45 me/100g dan masuk dalam kategori rendah, serta pada indikator biodiversitas mendapatkan skor 5.

Klaster plot 4 dari keempat indikator, mendapatkan skor 20. Nilai terendah dari semua indikator terdapat pada kualitas tapak dengan nilai 0, karena memiliki nilai KTK yaitu 1.16 me/100g, terendah dari semua klaster plot dan masuk dalam kategori sangat rendah. Pada indikator kerusakan pohon mendapatkan skor 8, pada indikator kerusakan tajuk mendapatkan skor 7 dan indikator biodiversitas mendapatkan skor 5.

Berdasarkan skoring pada setiap indikator, menunjukkan bahwa semakin tua umur tegakan, tidak berpengaruh terhadap hasil akhir status kesehatan hutan. Hal ini disebabkan adanya skor yang rendah dan tinggi yang berbeda–beda disetiap indikator serta penyebabnya masing–masing. Pada indikator kerusakan pohon (PLI) keempat klaster mendapatkan skor yang sama, yaitu 8. Pada indikator kondisi tajuk

(VCR) dan biodiversitas (J ) sꞋor yang didapatꞋan berbeda 2 poin dan tidaꞋ ada

(40)

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Status kesehatan tegakan hasil revegetasi lahan bekas tambang di PT Indominco Mandiri menunjukkan nilai sehat pada tegakan umur 7 tahun dan nilai sedang pada tegakan umur 5 tahun, 9 tahun dan 11 tahun. Kerusakan tegakan terbesar disebabkan oleh cabang patah atau mati, liana dan daun berubah warna (tidak hijau). Kesuburan tanah yang rendah terdapat pada tegakan umur 11 tahun, 9 tahun dan 7 tahun serta pada tegakan umur 5 tahun termasuk sangat rendah.

Saran

1. Pembenahan kualitas tapak dengan pemberian bahan organik pada saat penanaman tanaman non-lokal (non-endemik) dan lokal (endemik) untuk meningkatkan nilai KTK yang lebih baik dan pH yang lebih sesuai, sehingga revegetasi yang dilakukan dimasa yang akan datang menjadi lebih baik dan menghasilkan tegakan yang sehat.

2. Melaksanakan pemeliharaan dan pemantauan secara berulang, seperti pembebasan pohon dari liana dan tumbuhan bawah yang melilit untuk menghindari terjadinya kerusakan dan meminimalisir kerusakan yang semakin parah.

3. Pemantauan aktivitas orangutan dan babi hutan untuk mencegah kerusakan pohon yang tidak dapat ditolerir dan menyebabkan kerusakan terhadap pohon– pohon disekitarnya, walaupun orangutan dan babi hutan bersifat merusak, namun hal tersebut merupakan keberhasilan dari perbaikan habitat orangutan dan babi hutan.

(41)

27

DAFTAR PUSTAKA

[Kemenhut] Kementerian Kehutanan. 2009. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P/60/Menhut-II/2009 tentang Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan. Jakarta(ID): Kemenhut.

[Kementerian ESDM] Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2014. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 07 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Jakarta(ID):Kementerian ESDM.

[PT. Indominco Mandiri]. 2011. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Samarinda(ID): PT. IMM.

[USDA-FS] USDA Forest Service. 1999. Forest Health Monitoring Field Methods Guide (National 1999). Washington NC: USDA Forest Service Research Triangle Park.

Abdiyani S. 2008. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah berkhasiat obat di dataran tinggi Dieng. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol V No.1: 79-92, 2008.

Agus C, Pradipa E, Wulandari D, Supriyo H, Saridi, Herika D. 2014. Peran revegetsi terhadap restorasi tanah pada lahan rehabilitasi tambang batubara di daerah tropika. J. Manusia dan Lingkungan. Vol.21 No.1 Maret 2014:60-66. Aprianti RR. 2006. Penilaian Kesehatan Pohon Plus Kayu Afrika (Maesopsis

eminii Engl.) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Sukabumi dengan Metode FHM (Forest Health Monitoring) [Skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

Cahyono B. 2014. Penilaian kesehatan pohon plus damar (Agathis loranthifolia Salisb.) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat dengan metode Forest Health Monitoring [Skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

Darmansyah RA. 2014. Penilaian kondisi kesehatan tegakan di areal pasca tambang PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

Hadiyan Y. 2010. Cara menilai status kesehatan tegakan hutan (Studi kasus uji keturunan jati (Tectona grandis) di Hutan Pendidikan Wanagama, Yogyakarta.

Warna Benih. Vol.11 No.2:47-59.

Harahap WH, Patana P, Afifuddin Y. 2012. Mitigasi konflik satwaliar dengan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Leuseur (Studi kasus Desa Timbang Lawan dan Timbang Jaya Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat). Medan(ID): Universitas Sumatera Utara.

Hardjowigeno S. 2010. Ilmu Tanah. Jakarta(ID): Akademika Pressindo.

Hilwan I, Handayani EP. 2013. Keanekaragaman mesofauna dan makrofauna tanah pada areal bekas tambang timah di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Jurnal Silvikultur Tropika. Vol.04 No.01 April 2013, Hal 35-41.

(42)

Munawar A. 2011. Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman. Bogor(ID): IPB Press. Miardini A. 2006. Analisis Kesehatan Pohon di Kebun Raya Bogor [Skripsi].

Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

Pracaya. 2003. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta(ID):Penebar Swadaya. Putra IE. 2004. Pengembangan metode penilaian kesehatan hutan alam produksi

[Tesis]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

Setyawan AD, Setyaningsih S, Sugiyarto. 2006. Pengaruh jenis dan kombinasi tanaman sela terhadap diversitas dan biomassa gulma di bawah tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) di resort pemangkuan hutan Jatirejo Kediri. Biosmart. Vol. 8:1. April 2006 Hlm 27-32.

Tan KH. 1982. Dasar-dasar Kimia Tanah. Radjagukguk B, penerjemah. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Principles of Soil Chemistry.

(43)

29

LAMPIRAN

Lampiran 1 Biodiversitas tumbuhan bawah di empat klaster plot

Klaster plot Jenis Jumlah Total

1 Ageratum conyzoides 5 277

(44)

Lampiran 2 Biodiversitas biota tanah di empat klaster plot

Klaster plot Jenis Jumlah Total

1 Formicidae 413

432

Gryllidae 19

2 Formicidae 145

147

Gryllidae 2

3 Formicidae 182 182

4 Formicidae 178

185

Gryllidae 2

(45)

31

Lampiran 3 Peta revegetasi PT Indominco Mandiri (klaster plot 1 dan 2)

(1) : Klaster plot tahun 2004 (2) : Klaster plot tahun 2006

(46)

Lampiran 4 Peta revegetasi PT Indominco Mandiri (klaster plot 3)

(3) : Klaster plot tahun 2008

(47)

33

Lampiran 5 Peta revegetasi PT Indominco Mandiri (klaster plot 4)

(4) : Klaster plot tahun 2010

(48)
(49)

35

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Bogor tanggal 29 April 1993 sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Edih dan Ibu Iis. Penulis memulai pendidikan formal pada tahun 1999 di SD Negeri Cibatok VI, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Cibungbulang tahun 2005 dan di SMA Negeri 1 Cibungbulang tahun 2008 dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Undangan (SNMPTN-Undangan).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam organisasi Himpunan Profesi Tree Grower Community (Himpro TGC). Selain aktif dalam organisasi himpro TGC, penulis aktif mengikuti kepanitiaan diantaranya koordinator lapangan dan ketua divisi logistik dan transportasi dalam Kejuaraan Terbuka Tenis Meja Internasional IPB dan Himpunan Alumni IPB ke-5 2015 dan Ketua Divisi Konsumsi dalam kepanitiaan yang sama tahun 2014 berskala nasional, pendamping santunan anak yatim dan dhuafa tahun 2013 dan 2014. Penulis juga aktif dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) selama dua tahun dan menjadi ketua di dua kegiatan PKM tahun 2014 dan 2015, serta anggota di satu kegiatan PKM tahun 2015 yang didanai Dikti dan pendamping field trip PKM-M Oshibana

Creative dan malam puncak PKM-M “JejaꞋ Petarung Rimba” tahun 2014.

Penulis telah melaksanakan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di lokasi Pangandaran-Gunung Sawal tahun 2013 dan Praktik Pengelolaan Hutan (PPH) di lokasi Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Sukabumi, Bandung dan Cianjur tahun 2014, serta pada tahun 2015 penulis melaksanakan Praktik Kerja Profesi (PKP) di PT. Indominco Mandiri, Kalimantan Timur. Penulis telah menyelesaikan skripsi dengan juduꞌ “Status Kesehatan Hutan di Areaꞌ ReꞋꞌamasi

Tambang Batubara PT Indominco Mandiri Kaꞌimantan Timur” sebagai upaya untuꞋ

Gambar

Gambar 1 Desain klaster Plot FHM
Gambar 2 Ilustrasi cara pengukuran LCR (Tallent-Halsell 1994 dalam Cahyono
Gambar 3 Ilustrasi cara pengukuran diameter tajuk pada pohon (Tallent-Halsell
Tabel 2 Penentuan nilai VCR (Visual Crown Rating)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Rata-rata skor terendah dipilih menjadi bobot (power) terbaik dari hasil perhitungan skor yang digunakan dalam proses interpolasi metode IDW dengan nilai kesalahan terkecil.

Pada penelitian ini kelompok jenis dipterocarpaceae lebih banyak dijumpai dibandingkan kelompok jenis dipterocarpaceae yaitu 59,92% dari total populasi (1.215

Persen hidup Shorea agamii, Shorea balangeran, Parashorea smythiesii, dan Cotylelobium burckii yang berada di plot A memiliki nilai terbesar dibandingkan dengan jenis yang sama

Air asam tambang (AAT) atau disebut juga dengan Acid Mine Drainage (AMD) adalah air yang bersifat asam (tingkat keasaman yang tinggi) dan sering ditandai dengan

Tabel 2 menyajikan nilai rata-rata pengukuran pohon pada Blok I yang menunjukkan bahwa pada plot 1 jenis pohon didominasi oleh Jati Putih (Gmelina arborea) sebanyak 14 pohon

Adaro Indonesia Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan, tumbuhan familia Mimosaceae yang ditemukan pada kawasan tersebut yaitu 9 spesies yang terdiri dari

Tabel 2 menyajikan nilai rata-rata pengukuran pohon pada Blok I yang menunjukkan bahwa pada plot 1 jenis pohon didominasi oleh Jati Putih (Gmelina arborea) sebanyak 14 pohon

Persen hidup Shorea agamii, Shorea balangeran, Parashorea smythiesii, dan Cotylelobium burckii yang berada di plot A memiliki nilai terbesar dibandingkan dengan jenis yang sama