KAJIAN MANFAAT
VERTICAL GREENERY
PADA GEDUNG
PERKANTORAN DI DKI JAKARTA
(STUDI KASUS BANK BTPN)
YOZI FITRI YENI
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kajian ManfaatVertical Greenery pada Gedung Perkantoran di DKI Jakarta (Studi Kasus pada Bank BTPN) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Maret 2014
Yozi Fitri Yeni
ABSTRAK
YOZI FITRI YENI. Kajian Manfaat Vertical Greenery pada Gedung Perkantoran di DKI Jakarta (Studi Kasus pada Bank BTPN). Dibimbing oleh INDUNG SITTI FATIMAH dan PINGKAN NURYANTI.
Peningkatan ruang terbangun dan peralihan fungsi lahan di perkotaan terutama DKI Jakarta, menyebabkan berkurangnya lahan yang digunakan untuk ruang terbuka hijau. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan dinding bangunan sebagai lahan penghijauan, yang dikenal dengan istilah vertical greenery. Bank BTPN merupakan salah satu gedung perkantoran yang telah mengaplikasikan konsep vertical greenery untuk setiap Kantor Cabang Pembantu (KCP) di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji manfaat pemasangan vertical greenery pada Bank BTPN pada aspek vegetasi yang digunakan, terutama untuk nilai estetika dan kualitas iklim mikro yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan dua metode yang dilakukan untuk memperoleh data yaitu observasi dan wawancara. Pada penelitian ini, vegetasi yang digunakan adalah lee kwan yew (Vernonia elliptica). Bank BTPN yang telah memasang
vertical greenery sebanyak 13 KCP di DKI Jakarta. Untuk analisis masing-masing faktor yang mempengaruhi kualitas iklim mikro dan kualitas estetika yang dihasilkan menggunakan uji statistik Chi-Square. Jumlah sisi dan kerapatan vegetasi berpengaruh nyata untuk penurunan suhu dan peningkatan kelembaban. Pemasangan vertical greenery pada dua sisi (depan dan samping bangunan) 100% menurunkan suhu ≥ 5°C dalam satu harinya. Serta, pemasangan vertical greenery
dua sisi 84.6% meningkatkan kelembaban ≥ 10%. Kerapatan vegetasi 76 sampai 100% sebesar 85.7% menurunkan suhu ≥ 5°C, dan meningkatkan kelembaban ≥ 10% dalam satu harinya. Nilai estetika dari vertical greenery berpengaruh besar pada kerapatan vegetasi dan warna daun yang dihasilkan. Intensitas perawatan berpengaruh nyata terhadap nilai estetika yang dihasilkan. Intensitas perawatan satu minggu satu kali, sebesar 85.7% memberikan warna daun hijau tua (untuk tanaman lee kwan yew) dan kerapatan vegetasi 76 samapai 100%.
Kata kunci:kualitas iklim mikro, nilai estetika, vertical greenery
ABSTRACT
YOZI FITRI YENI. Benefits Study of Vertical Greenery on Office Building at DKI Jakarta (Case Study at Bank BTPN). Supervised by INDUNG SITTI FATIMAH and PINGKAN NURYANTI.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Arsitektur Lanskap
KAJIAN MANFAAT
VERTICAL GREENERY
PADA GEDUNG
PERKANTORAN DI DKI JAKARTA
(STUDI KASUS PADA BANK BTPN)
YOZI FITRI YENI
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Kajian Manfaat Vertical Greenery pada Gedung Perkantoran di DKI Jakarta (Studi Kasus pada Bank BTPN)
Nama : Yozi Fitri Yeni NIM : A44090021
Disetujui oleh
Dr Ir Indung Sitti Fatimah Msi Pembimbing I
Pingkan Nuryanti ST MEng Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Bambang Sulistyantara MAgr Ketua Departemen Arsitektur Lanskap
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 ini ialah
vertical greenery, dengan judul Kajian Manfaat Vertical Greenery pada Gedung Perkantoran di DKI Jakarta (Studi Kasus pada Bank BTPN).
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Indung Sitti Fatimah Msi dan Ibu Pingkan Nuryanti ST MEng selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Erwin Wisnu, Bapan Nandang, Bapak Suherman dari Bank BTPN, serta kepada Bapak Kevin dari pihak Konsultan di Bank BTPN, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Februari 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
Ruang Lingkup Penelitian 3
TINJAUAN PUSTAKA 5
Vertical Greenery 5
Kualitas Iklim Mikro 8
Nilai Estetika 9
METODE 10
Lokasi Penelitian 10
Waktu Penelitian 10
Bahan dan Alat Penelitian 11
Metode Penelitian 12
Tahapan Kegiatan Penelitian 14
HASIL DAN PEMBAHASAN 20
Kondisi Umum DKI Jakarta 20
Inventarisasi 20
Analisis 34
Sintesis 68
Rekomendasi 70
SIMPULAN DAN SARAN 77
Simpulan 77
Saran 77
DAFTAR PUSTAKA 78
LAMPIRAN 83
DAFTAR TABEL
1. Deskripsi dari sistem vertical greenery 6
2. Jadwal kegiatan penelitian 11
3. Bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian 11
4. Alat yang digunakan dalam penelitian 11
5. Narasumber dan fungsi dari wawancara yang dilakukan untuk
penelitian ini 14
6. Jenis, bentuk dan sumber data penelitian untuk inventarisasi 15
7. Tabulasi hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada KCP Bank BTPN yang telah memasang vertical greenery 16
8. Tabulasi analisis pengkajian warna daun dan kerapatan vegetasi berdasarkan aspek luas vertical greenery dan tahun pemasangan
vertical greenery 18
9. Tabulasi analisis pengkajian warna daun dan kerapatan vegetasi berdasarkan aspek intensitas perawatan dan arah hadap vertical
greenery 19
10. Batas tapak masing-masing gedung KCP Ban BTPN 22
11. Waktu, intensitas, dan aktivitas pengguna di luar/sekitar gedung
KCP Bank BTPN 25
12. Dimensi, jumlah lantai, luas dan jumlah penggunaan AC pada
gedung KCP Bank BTPN yang diteliti 26
13. Klasifikasi tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica) 28
14. Ukuran dan deskripsi tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica) 29
15. Lokasi, arah hadap, luas dan gambar vertical greenery yang
Replication dari pengukuran suhu 36
18. Hasil analisis menggunakan uji statistik Anova Two Factor with
Replication dari pengukuran kelembaban 36
19. Analisis ΔT dan ΔRH yang dihasilkan dari pemasangan vertical greenery yang dikelompokkan berdasarkan arah hadap terhadap kerapatan vegetasi dan luas vertical greenery 37
20. Tabulasi hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk penurunan suhu berdasarkan arah hadap 38
21. Hasil Uji Chi-Square untuk penurunan suhu terhadap arah hadap
pemasangan vertical greenery 39
22. Tabulasi Hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk peningkatan kelembaban berdasarkan arah
hadap 39
23. Hasil Uji Chi-Square untuk peningkatan kelembaban terhadap
arah hadap pemasangan vertical greenery 40
25. Hasil Uji Chi-Square untuk penurunan suhu terhadap jumlah
pemasangan vertical greenery 41
26. Tabulasi hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk peningkatan kelembaban berdasarkan jumlah pemasangan vertical greenery pada masing-masing gedung 42
27. Hasil Uji Chi-Square untuk peningkatan kelembaban terhadap
jumlah pemasangan vertical greenery 42
28. Tabulasi hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk penurunan suhu berdasarkan luas vertical
greenery pada masing-masing gedung 43
29. Hasil Uji Chi-Square pengaruh luas pemasangan vertical
greenery terhadap penurunan suhu yang dihasilkan 44
30. Tabulasi hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk peningkatan kelembaban berdasarkan luas
vertical greenery pada masing-masing gedung 45
31. Hasil Uji Chi-Square untuk peningkatan kelembaban berdasarkan
luas pemasangan vertical greenery 45
32. Tabulasi hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk penurunan suhu berdasarkan kerapatan vegetasi
vertical greenery pada masing-masing gedung 46
33. Hasil Uji Chi-Square untuk penurunan suhu berdasarkan kerapatan vegetasi dari pemasangan vertical greenery 47
34. Tabulasi hasil uji statistik dengan menggunakan metode analisis Chi-Square untuk peningkatan kelembaban berdasarkan
persentase kerapatan vegetasi 47
35. Hasil Uji Chi-Square untuk peningkatan kelembaban berdasarkan
persentase kerapatan vegetasi 48
36. Hasil pengkajian manfaat vertical greenery untuk aspek dan
faktor yang mempengaruhi 55
37. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh luas vertical
greenery terhadap warna daun yang dihasilkan 55
38. Hasil uji Chi-Square pengaruh luas vertical greenery terhadap
warna daun 56
39. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh intensitas perawatan vertical greenery terhadap warna daun yang dihasilkan 57
40. Hasil Uji Chi-Square untuk pengaruh intensitas perawatan
vertical greenery terhadap warna daun yang dihasilkan 57
41. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh arah hadap
vertical greenery terhadap warna daun yang dihasilkan 58
42. Hasil Uji Chi-Square untuk pengaruh arah hadap vertical
greenery terhadap warna daun yang dihasilkan 58
43. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh tahun pemasangan vertical greenery terhadap warna daun yang
dihasilkan 59
44. Hasil Uji Chi-Square untuk pengaruh tahun pemasangan vertical
greenery terhadap warna daun yang dihasilkan 59
45. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh luas vertical
46. Hasil uji Chi-Square pengaruh luas vertical greenery terhadap
kerapatan vegetasi yang dihasilkan 61
47. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh intensitas perawatan vertical greenery terhadap kerapatan vegetasi yang
dihasilkan 61
48. Hasil Uji Chi-Square untuk pengaruh intensitas perawatan
vertical greenery terhadap kerapatan vegetasi yang dihasilkan 62
49. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh arah hadap
vertical greenery terhadap kerapatan vegetasi yang dihasilkan 63
50. Hasil Uji Chi-Square untuk pengaruh arah hadap vertical
greenery terhadap kerapatan vegetasi yang dihasilkan 63
51. Tabulasi hasil analisis Chi-Square untuk pengaruh tahun pemasangan vertical greenery terhadap kerapatan vegetasi yang
dihasilkan 64
52. Hasil Uji Chi-Square untuk pengaruh tahun pemasangan vertical
greenery terhadap kerapatan vegetasi yang dihasilkan 65
53. Klasifikasi tanaman Antigonon leptopus 71
54. Klasifikasi tanaman Congea tomentosa 72
55. Klasifikasi tanaman Quisqualis indica 73
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Pemikiran Penelitian 4
2. Dinding kontrol dan 8 jenis sistem vertical greenery berdasarkan
pada system typology di HortPark 5
3. Peta lokasi Gedung Bank BTPN yang digunakan sebagai objek penelitian yang telah dipasang vertical greenery 10
4. Peletakan alat pengukur suhu 13
5. Contoh gambar dan perhitungan kerapatan vegetasi 18
6. Denah lantai 1 dan 2 pada KCP Bank BTPN dengan konsep
11. Detail penanaman vertical greenery 29
12. Detail struktur vertical greenery 30
13. Peletakan alat pengukur suhu dan kelembapan ( Thermo-hygrometer), Bagian I (di depan vertical greenery) dan Bagian II (di tengah, antara bangunan dan vertical greenery) 34
14. Penjabaran hasil keseluruhan dari pengukuran dan perhitungan nilai THI dari bagian I dan bagian II dengan standar THI adalah
27 49
15. Persentase hasil wawancara untuk intensitas responden melewati tapak dan kesan responden terhadap vertical greenery 50
16. Persentase hasil wawancara terhadap kondisi tanaman dan kesesuaian tanaman yang telah digunakan terhadap vertical
greenery 51
17. Persentase hasil wawancara untuk kesesuaian penggunaan dan
nilai visual dari vertical greenery 52
18. Persentase hasil wawancara untuk ada atau tidaknya kenyamanan yang dirasakan responden dan manfaat utama yang dirasakan responden dengan vertical adanya greenery 53
19. Analisis sematic differensial untuk persepsi masyarakat terhadap
vertical greenery 54
20. Skema sistem penyiraman vertical greenery di gedung KCP Bank
BTPN 66
21. Detail sistem penyiraman vertical greenery 67
22. Potongan A-A detail sistem penyiraman vertical greenery 67
23. Pemasangan vertical greenery mengggunakan tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica) dengan kerapatan 100% dan warna daun
hijau tua 70
24. Rekomendasi pemasangan tanaman Antigonon leptopus pada
25. Rekomendasi pemasangan tanaman Congea tomentosa pada
gedung 73
26. Rekomendasi pemasangan tanaman Quisqualis indica pada
gedung 74
27. Rekomendasi pemasangan tanaman Stephanot sp. pada gedung 75
28. Rekomendasi penyiraman vertical greenery menggunakan sistem
irigasi tetes 76
29. Bagian-bagian dari sistem irigasi tetes 76
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
DKI Jakarta merupakan salah satu kota dengan peningkatan jumlah penduduk yang pesat disetiap tahunnya. Sehingga secara tidak langsung mempengaruhi pembangunan dan peralihan fungsi lahan yang cukup tinggi yang berimbas pada berkurangnya ruang terbuka hijau di Jakarta. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan semakin tingginya kebutuhan akan infrastruktur kota, area bisnis, industri, pemukiman, perluasan jalan dan fasilitas lainnya. Area-area terbangun di DKI Jakarta dapat dikatakan sudah sangat mendominasi begitupun dengan aktivitas didalamnya yang berpengaruh terhadap kondisi iklim mikro dan secara komulatif mempengaruhi kondisi cuaca dan lingkungan. Luasan RTH yang ada saat ini adalah ±6 359 Ha atau sekitar 9.80% dari luas wilayah kota Jakarta (±64 895 Ha). Sedangkan target peningkatan RTH berdasarkan rancangan RTRW tahun 2010-2030 adalah 30% dari luas kota atau ±19 900 Ha. Terdiri dari 20% RTH publik dengan luas ± 13 300 Ha dan 10% RTH privat dengan luas ±6 600 Ha (DPP DKI Jakarta 2011). Disamping itu, berkurangnya ruang terbuka hijau juga dapat mengurangi nilai estetika lingkungan dan kenyamanan.
Pada kenyataannya pembangunan gedung-gedung di perkotaan saat ini berkembang sangat pesat dan banyak yang tidak sesuai dengan syarat pembangunan gedung yang seharusnya. Sebagian besar gedung di Jakarta yang seharusnya menyediakan minimal 20% dari kavling/bangunan untuk RTH dijadikan perkerasan dengan salah satu alasannya adalah untuk penghematan biaya dalam perawatannya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan dinding gedung sebagai lahan penghijauan. Dinding tersebut dapat dijadikan sebagai media tanam berbagai vegetasi yang dapat menyerap karbon dan menjadi ruang terbuka hijau. Selain dapat menyerap karbon, vegetasi juga dapat menciptakan nilai estetika untuk lingkungan sekitarnya. Pemanfaatan dinding gedung ini sebagai media tanam sering dikenal dengan istilah vertical greenery. Vertical greenery diharapkan bisa menjawab permasalahan yang tengah dihadapi Jakarta, seperti halnya keterbatasan ruang terbuka hijau. Vertical greenery menghadirkan model yang tak memerlukan lahan karena penghijauan dibuat vertikal, bahkan bisa menempel di dinding gedung sehingga tidak memerlukan lahan yang horizontal yang sudah penuh dengan bangunan. Vertical greenery ini juga mampu menampung banyak tanaman yang menjadikan ruangan maupun halaman menjadi hijau (Sujayanto 2011).
2
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sheweka dan Mohamed (2012), manfaat dari vertical greenery terbagi menjadi dua golongan. Pertama manfaatnya secara umum dan manfaat khusus. Manfaat umum terdiri dari mengurangi dampak pemasangan global, meningkatkan kualitas udara luar, dan meningkatkan nilai estetika. Manfaat khusus terdiri dari, meningkatnakn keefisienan energi yang dihasilkan, melindungi struktur bangunan, meningkatkan kualitas udara dalm ataupun sekitar gedung (iklim mikro), mereduksi bising, pengggunaan elemen bangunan yang berkelanjutan, dan untuk pemasaran. Pada penelitian ini, batasan penelitiannya adalah untuk mengkaji manfaat vertical greenery yang mencakup nilai estetik dan iklim mikro yang dihasilkan. Jadi dari masing-masing manfaat hanya diambil satu contoh manfaat, untuk manfaat umum difokuskan pada nilai etetika yang dihasilakan. Manfaat khusus difokuskan pada iklim mikro yang dihasilkan.
Pada penelitian ini dipilih Bank BTPN sebagai studi kasus karena Bank BTPN merupakan salah satu gedung pelayanan masyarakat yang telah menyediakan vertical greenery untuk setiap cabangnya. Meskipun belum seluruh cabang yang ada di Indonesia ataupun di Jakarta yang telah dipasang vertical greenery telah dapat memiliki persepsi tersendiri dari ma syarakat sekitar ataupun pengguna yang ada didalamnya. Dengan pemasangan vertical greenery yang tersebar dibagian wilayah Jakarta, diharapkan mampu mewakili karakter secara keseluruhan untuk perkotaan. Oleh sebab itulah penelitian mengenai Kajian Manfaat Vertical Greenery pada Gedung Perkantoran di DKI Jakarta dengan studi kasus pada Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank BTPN perlu dilakukan. Agar peneliti dapat mengetahui sejauh mana manfaat yang dihasilkan dari vertical greenery tersebut yang terfokus pada nilai estetika dan iklim mikro yang dihasilkan dari aspek vegetasi yang digunakan.
Perumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Keterbatasan lahan untuk ruang terbuka hijau pada suatu gedung perkantoran, sehingga mempengaruhi kenyamanan dari pengguna diantaranya adalah iklim mikro yang kurang stabil dan minimnya nilai estetika yang diberikan.
2. Memanfaatkan dinding bangunan sebagai media tanam berbagai vegetasi untuk menyerap karbon dan menimbulkan nilai estetika dengan menggunakan konsep vertical greenery.
3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengkaji manfaat yang dihasilkan oleh pemasangan vertical greenery
pada gedung pelayanan masyarakat (Bank BTPN) pada aspek vegetasi yang digunakan terutama untuk iklim mikro dan nilai estetika yang dihasilkan.
2. Memberikan rekomendasi pemasangan vertical greenery dalam mengoptimalkan kualitas iklim mikro dan nilai estetika yang dihasilkan untuk sekitar bangunan ataupun pengguna dari gedung tersebut.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Membantu pemerintah dalam menangani penyelesaian masalah peningkatan RTH dalam skala mikro untuk DKI Jakarta.
2. Menjadi bahan referensi untuk mengetahui manfaat teknologi terbaru dan sifat jenis suatu vegetasi dalam bidang arsitektur lanskap terutama dalam meningkatkan kualitas iklim mikro dan nilai estetika untuk gedung pelayanan masyarakat.
3. Menambah karya terbaru pada bidang arsitektur lanskap di Indonesia terutama yang berbasis green building di perkotaan.
4. Dapat memberikan dan menambahkan nilai estetik untuk gedung yang berfungsi sebagai pelayanan masyarakat dan terletak di tengah kota melalui konsep dari vertical greenery.
Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup dari yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menginventarisasi kondisi umum pemasangan vertical greenery pada gedung-gedung di DKI Jakarta, dan menginventarisasi pemasangan
vertical greenery pada seluruh KCP Bank BTPN di DKI Jakarta
2. Melakukan analisis dan sintesis tujuan utama serta konsep dari pihak Bank BTPN dalam pemasanan vertical greenery dan vertical greenery
yang telah dipasang baik beserta vegetasi yang digunakan Bank BTPN. 3. Pembuatan rekomendasi pemasangan vertical greenery dalam
4
Kerangka Pemikiran
Adapun kerangka pemikiran untuk penelitian ini dijabarkan pada Gambar 1 dibawah ini.
Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian DKI Jakarta
Terbatasnya lahan untuk RTH
1
Vertical Greenery
Public Benefuts:
- Reduce urban heat island effect
- Exterior air quality
- Aesthetic improvement
(Nilai estetika)
Private Benefits:
- Improved energy efficiency
- Building structure protection
- Improved indoor air quality
(ex: Iklim mikro) - Noise reduction
- Sustainable building elements
- Marketing
Berbagai Manfaat yang dihasilkan vertical greenery
Menurut Sheweka dan Mohamed (2012)
Pengkajian Manfaat Vertical Greenery pada Bank BTPN
5
TINJAUAN PUSTAKA
Vertical Greenery
Tipe Sistem Pemasangan Vertical Greenery
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh N.H. Wong et al. (2010) yang berjudul Thermal Evaluation Of Vertical Greenery System For Building Wall , mengenai vertical greenery terbagi menjadi 8 tipe sistem dapat dilihat pada Gambar 2. Tipe sistem 1 adalah vertical greenery yang menggunakan tanaman yang termasuk kedalam semak rendah hingga semak sedang, ataupun kombinasinya. Pada tipe ini, pola dan bentukan visual dari vertical greenery dapat dibentuk sendiri, sesuaikan dengan prinsip desain yang bermain dengan tekstur daun, warna dan lain sebagainya. Tipe sistem 2 adalah vertical greenery yang menggunakan tanaman merambat atau tanaman menggantung (climber plants).
Pada tipe 2 merupakan tipe pemasangan vertical greenery yang hanya menggunakan satu jenis tanaman. Untuk penelitian ini, termasuk kedalam sistem
vertical greenery tipe 2, yang hanya menggunakan satu jenis tanaman merambat yaitu lee kwan yew. Tipe sistem 3, 4, 5 dan sistem 6 adalah vertical greenery
yang menggunakan tanaman semak rendah yang dapat dikombinasikan bentuk dan warna daunnya, disesuaikan dengan pola desain yang diinginkan. Sedangkan untuk tipe sistem 7 dan 8 menggunakan tanaman semak rendah hingga sedang. Seperti terlihat pada Gambar 2 yang memaparkan 8 jenis tipe sistem vertical greenery.
sumber: N.H.Wong et al./Building and Environment 45 (2010) 663-672 (fig. 1)
Gambar 2 Dinding kontrol dan 8 jenis sistem vertical greenery berdasarkan pada
system typology di HortPark
Control wall
System 1
System 2
System 5 System 4
System 3
System 6
System 7
6
Tabel 1 Deskripsi dari sistem vertical greenery
Sumber: N.H.Wong et al. (2010)
Berdasarkan kedelapan klasifikasi sistem vertical greenery tersebut, maka sistem pemasangan vertical greenery pada gedung KCP Bank BTPN merupakan
Sistem vertical greenery
Bentukan sistem Deskripsi Ukuran
tanaman
Kombinasi dari 2 sistem, yaitu untuk penanaman dan drainase. tutupan hijau pada lubang panel
Tanaman menutupi lubang pada stenlis yang berbentuk grid dan telah dibuat bingkai sebelumnya
Tanaman tumbuh dalam media tanam yang telah dibuat sebelumnya dengan bentukan modul, dan ditanam dengan pot, lalu disusun sesuai bingkai
7 sistem yang kedua, yaitu green facade. Yang mana pada sistem ini dalam penanamannya menggunakan tanaman merambat ataupun tanaman yang mneggantung dan hanya satu jenis. Hail penelitian tersebut menjelaskan bahwa, walaupun tidak menggunakan substrat pada rangkanya. Sistem ini mampu menghasilkan dampak pendinginan secara langsung yaitu dari pengaruh bayangan yang dapat meneduhkan, dan evapotranspirasi secara langsung melalui daun pada tanaman merambat tersebut, yang mana pada penelitian ini vegetasi yang digunakan adalah lee kwan yew (Vernonia elliptica).
Manfaat Vertical Greenery
Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakuka oleh Sheweka dan Mohamed (2012) yang berjudul Green Facades As A New Sustainable Approach Twards Climate Change, menjelaskan bahwa manfaat dari vertical greenery
termasuk kedalam dua kelompok. Pertama masuk kedalam kelompok memberikan manfaat secara umum (public benefist). Kedua masuk kedalam kelompok memberikan manfaat secara khusus/pribadi (private benefits).
Pertama manfaat yang diberikan vertical greenery secara umum (public benefits) terbagi menjadi 3 manfaat, yaitu:
a. Mengurangi dampak pemanasan global (reduce urban heat island) → dari vegetasi yang digunakan untuk vertical greenery dapat meningkatkan proses pendinginan secara alami yaitu mereduksi temperatur udara lingkungan sekitar secara global dan pergerakan udara secara vertikal menjadi melambat.
b. Meningkatkan kualitas udara luar (improved exterior air quality) → asap kendaraan yang terdiri dari berbagai macam emisi, salah satunya adalah CO2 yang dapat merusak kualitas udara luar dengan adanya vertical
greenery dari vegetasi yang digunakan (daunnya) akan melakukan proses fotosintesis yang mampu menyerap CO2 dan mengeluarkan O2 yang kita butuhkan, sehingga udara sekitar terasa sejuk.
c. Meningkatkan nilai estetika (aesthetic improvement) → dengan pemasangan vertical greenery pada bangunan dapat menarik perhatian masyarakat secara visual, dapat menyamarkan pemandangan yang tidak enak dilihat, dan menyediakan elemen struktur yang bebas dinilai oleh siapa saja yang melihatnya.
Dalam penelitian ini, dari ketiga manfaat yang dihasilkan vertical greenery secara umum. Analisis akan dilakukan mendalam pada peningkatan nilai estetik yang dihasilkan dari vertical greenery yang telah dipasang.
Kedua adalah manfaat vertical greenery secara khusus/pribadi (private benefits) terbagi menjadi 6 manfaat yang dihasilkan, yaitu terdiri dari :
a. Meningkatkan keefisienan energi yang dihasilkan (improved energy efficiency) → dengan menggunakan vertical greenery pada bangunan gedung salah satunya adalah penghematan energi penggunaan AC dalam gedung diantaranya adalah dapat mengurangi pembayaran listrik.
8
c. Meningkatkan kualitas udara dalam atau sekitar gedung (improved indoor air quality)→ dengan penggunaan vertical greenery pada gedung, maka secara tidak langsung gedung tersebut menggunakan ventilasi alami untuk pertukaran udara di dalam gedung. Karena udara dari luar disaring menggunakan vegetasi yang digunakan, sehingga udara dalam gedung menjadi lebih sejuk (kualitas iklim mikro yang dihasilkan). d. Mereduksi bising (noise reduction) → media-media yang digunakan
dalam vertical greenery mampu mereduksi bising dengan menyaring suara-suara yang berasal dari luar gedung dengan refleksi. Jadi dari media yang digunakan seperti halnya tanah ataupun rockwool, vegetasi dan lain sebagainya mampu memantulkan bunyi-bunyi dari sekitar gedung. Selain itu, material yang digunakan untuk komponen vertical
greenery dan penutupannya secara keseluruhan juga sangat
mempengaruhi reduksi suara yang dihasilkan.
e. LEED (Leadership in Energy and Environment Design) → kontribusi secara langsung yang diberikan oleh vertical greenery adalah penggunaan elemen bangunan yang berkelanjutan (sustainable).
f. Marketing → vertical greenery mampu meningkatkan nilai estetika dari lingkungan, secara tidak langsung vertical greenery ini telah berkontribusi dalam pemasaran suatu perancangan pembangunan dan menyediakan suatu barang yang ramah lingkungan.
Dari keenam manfaat vertical greenery dalam lingkung pribadi/khusus untuk penelitian ini analisis akan memfokuskan kajian manfaatnya terhadap iklim mikro yang dihasilkan dari vertical greenery.
Kualitas Iklim Mikro
Menurut Satwiko (2009) menjelaskan, iklim mikro merupakan iklim yang ada di lapisan udara dekat dengan permukaan bumi yang berada di dalam lingkup terbatas. Seperti ruang-ruang di dalam bangunan dan ruang luar di sekitar bangunan tidak lebih beberapa ratus meter. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi iklim, yaitu radiasi matahari, angin, dan kelembaban dalam bentuk uap air dan hujan. Pengaruh masing-masing unsur terhadap bangunan tergantung pada letak geografis, topografi, ketinggian, keadaan permukaan bumi, dan penghijauan di sekelilingnya.
Iklim mikro yang dihasilkan, sangat erat hubungannya dengan kenyamanan termal yang dihasilkan pada suatu gedung. Savitri (1999) menyatakan, kenyamanan dapat diartikan sebagai bentuk keseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan dari tubuh manusia. Menurut Brown dan Dillespie (1995), menjelaskan bahwa kenyamanan tersebut dapat dipengaruhi oleh komponen yang sifatnya psikis, atau dipengaruhi oleh desain lanskap. Suhu udara adalah variabel yang paling mudah diukur terkait pengaruhnya dalam menciptakan kenyamanan ruang.
9 matahari dan angin. Proses modofikasi dilakukan dengan menggunakan hard material dan soft material dengan pembuatan dinding peneduh dari tanaman penahan radiasi dan pembentuk koridor angin. Seperti halnya dengan memasangkan vertical greenery pada bagian kulit muka bangunan, baik dari sisi depan atau samping.
Nilai Estetika
Menurut Nassar (1998), kualitas estetika adalah sebuah pemahaman psikologis yang melibatkan penilaian subyektif. Kualitas estetik suatu lanskap tidak hanya bergantung pada karakteristik fisik lanskap, tetapi juga pada penilaian subyetif dari individu pengamat yang melihat lanskap tersebut. Nilai estetika suatu tempat atau lanskap merupakan dimensi penting dalam pengamatan ekologi dan kekuatan nilai estetik telah menjadi aspek utama dalam tindakan konservasi. Nilai estetik dapat menjadi salah satu alat ukur lingkungan, karena indera manusia mampu menangkap dan membedakan kondisi lingungan di sekitarnya melalui indera penglihatan, pendengaran, atau penciuman (Foster 1982).
Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Estetika berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan. Pertama adaah the beauty, yaitu suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan. Kedua adalah
10
METODE
Lokasi Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilakukan pada seluruh gedung Bank BTPN yang telah melakukan pemasangan vertical greenery di DKI Jakarta pada dinding kulit luar bangunan. Terdapat 13 KCP Bank BTPN, yaitu: KCP Gajah Mada, KCP Taman Palem, KCP Kebun Jeruk Intercon, KCP Taman Ratu, KCP Tomang, KCP Glodok, KCP Roxy Mas, KCP Tanah Abang, KCP Pecenongan, KCP Pondok Indah, KCP Panglima Polim, KCP Kelapa Gading, dan KCP Sunter. Pada Gambar 3 merupakan peta lokasi, dapat terlihat 13 titik-titik lokasi KCP Bank BTPN yang menjadi objek penelitian di DKI Jakarta.
Gambar 3 Peta lokasi Gedung Bank BTPN yang digunakan sebagai objek penelitian yang telah dipasang vertical greenery
Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan mulai dari bulan Maret 2013 sampai dengan bulan Januari 2014. Adapun kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu mulai dari persiapan, perizinan, inventarisasi, analisis, sintesis, dan rekomendasi berdasarkan pada analisis dan sintesis yang telah dilakukan. Jadwal kegiatan penelitian secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.
Sumber: google earth
Legenda:
11 Tabel 2 Jadwal kegiatan penelitian
Jenis
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk penyelesaian penelitian berupa data sekunder dan primer. Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan untuk penelitian ini terlihat secara rinci pada Tabel 3.
Tabel 3 Bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian
Bahan penelitian Penggunaan Sumber data
Landasan teori mengenai
Kuisioner Mendapatkan data persepsi masyarakat Pribadi
Klasifikasi tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica)
untuk analisis dan sintesis
vegetasi yang digunakan Buku, jurnal, tesis,
Peralatan yang digunakan untuk penunjang penelitian ini terdiri dari alat survey lapang dan pekerjaan studio. Adapun jenis alat, penggunaan dan sumber alat dirinci pada Tabel 4.
Tabel 4 Alat yang digunakan dalam penelitian
Alat penelitian Penggunaan Sumber alat
Komputer Pengolahan data Pribadi
Meteran Inventarisasi untuk mengukur panjang
dan lebar vertical greenery Pribadi Kamera digital Dokumentasi kondisi visual bangunan Pribadi
Kompas Penunjuk arah untuk penentuanarah
hadap vertical greenery yang dipasang Pribadi Penggaris, kertas, rapido,
pensil warna, dsb.
Alat-alat gambar untuk membantu
pembahasan secara spasial Pibadi
Thermohygro meter
12
Metode Penelitian
Metode yang digunakan selama kegiatan penelitian pengkajian manfaat
vertical greenery pada gedung perkantoran di DKI Jakarta adalah dengan observasi dan wawancara. Studi kasus pada penelitian ini adalah seluruh KCP Bank BTPN yang telah dipasang vertical greenery pada bagian kulit luar bangunan gedung. Berikut penjabaran mengenai metode yang dilakukan pada penelitian ini:
1. Observasi atau pengamatan secara langsung terhadap tapak. Pada observasi ini digolongkan menjadi 3 tahap. Terdiri dari tahap pendataan kondisi eksisting, pengukuran suhu dan kelembaban, serta penyebaran kuisioner. Adapun masing-masing klasifikasi tahapan yang dilakukan, bertujuan untuk mempermudah dalam pendataan dan pengolahannya. Baik untuk inventarisasi, analisis, sintesis, dan rekomendasi yang akan dilakuan. Berikut penjabaran dari klasifikasi masing-masing tahap.
a. Tahap I (Pendataan kondisi eksisting)
- Observasi seluruh gedung Bank BTPN yang telah memasang verical greenery pada bagian kulit luar bangunan
- Mendata vegetasi yang digunakan pada vertical greenery dan vegetasi lainnya yang ada disekitar gedung kurang lebih 10 meter dari gedung yang diteliti
- Mengukur dimensi masing-masing gedung, dengan menjumlahkan luas dari masing-masing lantainya dan menghitung jumlah penggunaan AC
- Mengukur luas dari vertical greenery yang telah dipasang pada gedung tersebut
- Mengorientasikan arah hadap dari masing-masing vertical greenery
yang telah dipasang dengan menggunakan kompas
- Mendata dan mengidentifikasi aktivitas yang ada di dalam gedung dan sekitar gedung beserta intensitasnya.
b. Tahap II (Pengukuran suhu dan kelembaban)
- Pengukuran dilakukan menggunakan alat pengukur suhu dan kelembapan yaitu thermo-hygrometer (Corona, model GL-89) - Alat yang digunakan sebanyak 2 buah:
Pertama adalah Bagian I yang diletakan dipermukaan vertical greenery yang telah dipasang dengan jarak kurang lebih 10 cm (terkena paparan cahaya matahari langsung) dengan menggunakan pipa yang berukuran ± 15 cm.
Kedua adalah Bagian II diletakkan di bagian tengah antara kulit luar pada dinding gedung dan stuktur konstruksi
vertical greenery.
- Kedua alat diletakkan sejajar (satu garis lurus) dan berada dititik tengah dari luasan masing-masing vertical greenery disetiap gedungnya dan pengukurannya dilakukan secara bersamaan (dapat dilihat pada Gambar 4). Alat diikatkan dengan tali dengan panjang disesuaikan pada masing-masing titik tengah vertical greenery.
13
Pagi: Pukul 07 00 WIB sampai pukul 08 00 WIB
Siang: Pukul 12 00 WIB sampai pukul 13 00 WIB
Sore: Pukul 17 00 WIB sampai pukul 18 00 WIB
- Dalam masing-masing ulangan, pengukuran dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali dengan selang waktu setiap 15 menit (ex: pagi → 07 00, 07 15, 07 30)
c. Tahap III (Penyebaran kuisioner)
- Kuisioner disebarkan merata di setiap KCP (13 KCP Bank BTPN) yang mana tiap KCP disebarkan 3 kuisioner, jadi jumlah seluruh kuisioner adalah 39 buah.
- Responden yang diwawancarai adalah:
Masyarakat yang berada disekitar gedung, baik yang bekerja ataupun hanya melintas di sekitar gedung.
Responden masuk dalam kategori dewasa (≥ 17 tahun)
Peletakan alat pada metode ini mengacu pada,metodologi yang dilakukan oleh Serlan (2013). Pada Gambar 4 dibawah ini akan menjelaskan posisi peletakan alat dalam proses pengukuran suhu pada masing-masing gedung. Alat diletakan pada dua bagian, bagian I yaitu yang berada di depan vertical greenery yang telah dipasang, dan bagian II yaitu terletak diantara struktur
vertical greenery yang telah dipasang dengan struktur gedung (di tengah).
14
2. Wawancara merupakan metode yang dilakukan dengan tanya jawab secara langsung terhadap pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini. Tujuan dilakukannya metode wawancara ini adalah untuk mendapatkan informasi secara langsung dari pihak terkit. Wawancara mengenai pemasangan vertical greenery pada Bank BTPN disetiap kantor cabangnya. Serta mengenai motivasi khusus dari pihak BTPN dalam menerapkan konsep vertical greenery pada setiap gedung yang akan disewa. Selanjutnya, adalah untuk mengetahui manfaat yang dirasakan oleh masyarakat baik yang berada dalam gedung ataupun sekitar gedung. Adapun narasumber yang diwawancarai diantaranya adalah Pihak Kantor Pusat Bank BTPN, Pihak BTPN bagian properti, Pihak konsultan Bank BTPN, pengguna dalam gedung, dan pengguna sekitar gedung. Pada Tabel 5 memaparkan narasumber dan fungsinya untuk penelitian ini.
Tabel 5 Narasumber dan fungsi dari wawancara yang dilakukan untuk penelitian ini
No Narasumber Fungsi
1
Pihak kantor pusat Bank BTPN
Melakukan perizinan untuk setiap KCP yang akan diteliti, dan konsep untuk denah gedung serta konsep untuk pemasangan vertical greenery disetiap kantor cabangnya
2
Pihak BTPN bagian properti
Mengetahui proses pemasangan vertical greenery
disetiap cabangnya dan menanyakan berbagai manfaat yang mereka rasakan dan mereka harapkan setelah melakukan pemasangan tersebut
pemeliharaan layout keseluruhan penataan ruang Bank BTPN disetiap cabangnya. Serta konsep utama
pemasangan vertical greenery dan latar belakang pihak konsultan dalam melakukan pemasangannya dan alasan mengapa vegetasi tersebut yang dipilih.
4 Pengguna dalam gedung
Mengetahui perbedaan yang mereka rasakan antara setelah pemasangan dan sebelum pemasangan dari
vertical greenery tersebut 5
Pengguna disekitar gedung
Mengetahui persepsi mereka mengenai vertical
greenery yang telah dipasang pada gedung tersebut dan apa komentar mereka.
Tahapan Kegiatan Penelitian
Tahapan kegiatan yang digunakan dalam menyelesaikan penelitian pengkajian manfaat vertical greenery pada gedung pelayanan masyarakat di DKI Jakarta dengan studi kasus Bank BTPN adalah sebagai berikut:
15 a. Penyiapan proposal penelitian
b. Mengidentifikasi gedung-gedung perkantoran di DKI Jakarta yang telah memasang vertical greenery
c. Penyiapan surat-surat untuk perizinan terhadap pihak yang terkait
d. Perizinan terhadap Kantor Pusat Bank BTPN yang berada di Gedung Cyber 2 Jakarta Pusat untuk meneliti di kantor cabangnya yang telah memasang vertical greenery.
2. Inventarisasi merupakan tahap pengumpulan data baik primer ataupun sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung turun ke lapang kantor cabang Bank BTPN yang telah dipasang vertical greenery di Jakarta dari daftar alamat yang telah ada. Sedangkan untuk data sekunder merupakan pengumpulan data-data yang diperlukan melalui studi pustaka ataupun data-data yang telah dibuat oleh pihak terkait. Adapun jenis, bentuk dan sumber data yang diperlukan untuk penelitian ini akan dijabarkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Jenis, bentuk dan sumber data penelitian untuk inventarisasi Jenis Data Data primer Data Sekunder Sumber Data
Kondisi gedung KCP Bank BTPN yang diteliti
Orientasi X X Studi pustaka dan
pengamatan langsung
Denah X Pengamatan langsung
Intensitas pengguna X Pengamatan langsung
Iklim eksisting X Pengamatan langsung
Konstruksi bangunan X Pengamatan langsung
Arah angin X X Studi pustaka dan
Pengamatan langsung
Topografi eksisting X studi pustaka
Dimensi bangunan X X Studi pustaka dan
pengamatan langsung Kondisi vertical greenery
Arah hadap X Pengamatan langsung
Letak X X Studi pustaka dan
Pengamatan langsung
Luas X Pengamatan langsung
Pola desain X Pengamatan langsung
Kekuatan struktur X X Studi pustaka dan
pengamatan langsung
Material struktur X X Studi pustaka dan
pengamatan langsung
Jenis vegetasi X X Studi pustaka dan
16
3. Analisis merupakan tahap menganalisis berbagai macam potensi dan kendala yang ditimbulkan dari pemasangan vertical greenery pada masing-masing gedung. Adapun analisis mendalam pada penelitian ini terfokuskan pada kualitas iklim mikro dan kualitas nilai estetika yang dihasilkan. Penjabaran dari masing-masing aspek yang dianalisis, yaitu:
a. Iklim mikro
Untuk menganalisis kualitas iklim mikro yang dihasilkan dari pemasangan
vertical greenery dilakukan dengan pengukuran suhu dan kelembaban. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan alat thermohygro meter digital. Pengukuran dilakukan dengan disesuaikan pada metode penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya pada metode observasi. Data hasil pengukuran suhu dan kelembaban relatif ditabulasi dan dibuat dalam tabel. Tabulasi analisis pengkajian hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada KCP Bank BTPN yang telah memasang vertical greenery terjabarkan pada Tabel 7.
Tabel 7 Tabulasi hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada KCP Bank BTPN yang telah memasang vertical greenery
No Alat
T: suhu, RH: kelembaban, N: netral, Max: Maksimal, Min:Minimal
Setelah mendapatkan hasil untuk suhu dan kelembaban dilakukan analisis dengan uji statistik. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah dengan menggunakan vertical greenery memiliki pengaruh nyata dalam penurunan suhu dan peningkatan kelembaban dari bagian I ke bagian II. Analisis uji statistik dilakukan dengan menggunakan tabel Anova untuk Percobaan Dua Faktor Rancangan Acak Lengkap. Apabila memiliki pengaruh yang nyata, maka penelitian ini akan dilanjutkan dengan menganalisis beberapa faktor yang mempengaruhi dari kualitas iklim mikro yang dihasilkan.
Faktor yang dapat mempengaruhi kualitas iklim mikro untuk penurunan suhu dan peningkatan kelembaban diantaranya adalah kondisi vertical greenery
pada masing-masing lokasi, kondisi lingkungan sekitar, dan aktivitas serta intensitas sosial sekitar gedung. Adapun yang dapat dianalisis dan diuji untuk hasil yang diperoleh dari pengukuran suhu dan kelembaban adalah kondisi dari
vertical greenery. Baik dari sisi arah hadap, luas, sistem pemasangan satu sisi atau dua sisi, jenis vegetasi yang digunakan, dan kerapatan vegetasi vertical greenery
yang dihasilkan dari masing-masing gedung.
17 pada peningkatan kelembaban terdiri dari dari kategori rendah (≤ 5%), sedang (5% sampai 10%), dan tinggi (≥ 10%).
Kenyamanan yang dihasilkan secara keseluruhan dari pemasangan vertical greenery akan dilakukan pengkajian dengan perhitungan nilai Temperature Humidity Index (THI). Savitri (1999) mencantumkan, untuk standar nyaman daerah tropis THI adalah ≤ 27. Dalam penelitian ini akan mengkaji apakah dengan pemasangan vertical greenery memiliki penurunan nilai THI berada disekitar nilai 27. Adapun rumus yang digunakan untuk mendapatkan nilai THI adalah sebai berikut:
THI = 0,8�+�� � 500
Keterangan:
THI = Temperature Humidity Index
T = Suhu udara rata-rata (°C) RH = Kelembapan udara relatif (%) b. Nilai estetika
Kualitas nilai estetika dilakukan dengan melaukan wawancara langsung menggunakan kuisioner dan observasi langsung ke lapang dengan membuat tabulasi hasil pengkajian. Menurut Daniel dan Boster (1976), jumlah responden yang dibutuhkan untuk kegiatan penelitian yaitu sebanyak ± 30 orang. Untuk dapat menyebar secara merata, maka jumlah responden pada penelitian ini adalah 39 orang. Masing-masing KCP terdapat tiga responden.
Terdapat empat aspek yang ditekankan dari isi kuisioner yang disebar kepada responden. Pertama, untuk menganalisis intensitas responden melewati tapak dan kesannya terhadap vertical greenery tersebut. Kedua, menganalisis mengenai kondisi tanaman dan kesesuaian tanaman yang digunakan pihak BTPN untuk pemasangan vertical greenery, yang pada kondisi ini seluruh cabang menggunakan tanaman yang sama yaitu lee kwan yew. Ketiga, adalah persepsi masyarakat terhadap nilai visual dari vertical greenery tersebut. Selanjutnya, keempat alah pendapat masyarakat untuk manfaat yang paling utama dirasakan dari pemasangan vertical greenery tersebut.
Selanjutnya, hasil wawancara akan dilakukan analisis dengan menggunakan analisis sematic differensial. Hal ini dilakukan untu dapat mengetahui persepsi masyarakat terhadap kualitas lanskap tertentu yang diaplikasikan dalam pemasangan vertical greenery. Setelah mendapatkan hasil persepsi, maka akan dilakukan analisis lanjutan dengan pengamatan secara langsung terhadap masing-masing vertical greenery untuk tampilan visualnya. Adapun faktor yang dapat dinilai dan dianalisis berdasarkan kondisi fisik dari vertical greenery diantaranya adalah warna daun, dan kerapatan vegetasi yang dihasilkan. Kedua faktor akan dianalisis berdasarkan pada aspek luas, arah hadap, intensitas perawatan, tahun pemasangan vertical greenery tersebut.
18
dihasilkan, yaitu: 0 sampai 40%, 41 sampai 70%, dan 70 sampai 100%. Mendapatkan hasil kerapatan vegetasi dilakukan perhitungan dengan metode grid. Adapun pada Gambar 5, terlihat rumus dan gambaran umum untuk perhitungan persentase kerapatan vegetasi.
Untuk luas vertical greenery dibagi menjadi 3 kategori, yaitu: S (small)
dengan luas < 50 m², M (medium) dengan luas 50 m² sampai 100 m², dan L (large) dengan luas > 100 m². Begitu pula dengan intensitas perawatan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu: jarang (J) dengan perawatan 2 bulan satu kali, sering (S) dengan perawatan satu bulan dua kali, dan rutin (R) dengan perawatan satu minggu satu kali. Adapun beberapa hal yang mencakup dalam perawatan ini adalah untuk pemantauan dan pemangkasan vegetasi yang digunakan.
Berikut Tabel 8 dan Tabel 9, tabulasi untuk hasil pengkajian nilai visual yang dihasilkan dari masing-masing vertical greenery berdasarkan aspek-aspek yang mempengaruhinya. Untuk Tabel 8 akan menjabarkan, tabulasi untuk pengkajian manfaat vertical greenery untuk warna daun dan kerapatan vegetasi yang dihasilkan berdasarkan aspek luas dan tahun pemasangan vertical greenery.
Dilanjutkan dengan Tabel 9, merupakan tabulasi untuk pengkajian manfaat
vertical greenery untuk warna daun dan kerapatan vegatasi yang dihasilkan berdasarkan aspek intensitas perawatan dan arah hadap vertical greenery.
Tabel 8 Tabulasi analisis pengkajian warna daun dan kerapatan vegetasi berdasarkan aspek luas vertical greenery dan tahun pemasangan
vertical greenery
Warna daun Kerapatan vegetasi Tahun
pemasangan
Gambar 5 Contoh gambar dan perhitungan kerapatan vegetasi
Contoh gambar : vertical greenery di Bank BTPN KCP Gajam Mada
19 Tabel 9 Tabulasi analisis pengkajian warna daun dan kerapatan vegetasi berdasarkan aspek intensitas perawatan dan arah hadap vertical greenery
KCP Bank BTPN
Intensitas
perawatan Warna daun Kerapatan vegetasi
Arah hadap
J S R Hj-k Hj-m Hj-t
0-40%
41-70%
71-100%
J: Jarang, S: Sering, R: Rutin, Hj-k: Hijau kekuningan, Hj-m: Hijau muda, Hj-t: Hijau tua
4. Sintesis merupakan tahapan pengolahan hasil yang diperoleh dari analisis yang telah dilakukan. Pada tahap ini faktor-faktor yang dapat mengoptimalkan kualitas iklim mikro dan kualitas visual akan dipertahankan dan dimaksimalkan pada pemasangan vertical greenery..
20
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum DKI Jakarta
Berdasarkan data yang diperoleh dari Jakarta dalam angka (2013) menyatakan bahwa letak astronomis dari DKI Jakarta adalah 6°12` LS dan 106°48` BT. Kota Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ± 7 mdpl. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur Nomor 171 tahun 2007 adalah berupa daratan seluas 662.33 km² dan berupa lautan seluas 6 977.5 km². Wilayah administrasi Provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah Kota Administrasi dan satu Kabupaten Administratif. Pertama Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan luas daratan seluas 141.27 km². Kedua Kota Admistrasi Jakarta Timur dengan luas daratan seluas 188.03 km². Ketiga adalah Kota Administrasi Jakarta Pusat dengan luas daratan seluas 48.13 km². Keempat adalah Kota Administrasi Jakarta Barat dengan luas daratan seluas 129.54 km². Kelima adalah Kota Administrasi Jakarta Utara dengan luas daratan seluas 146.66 km². Serta Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu dengan luas 8.70 km². Berdasarkan posisi geografisya, Provinsi DKI Jakarta memiliki batas-batas sebagai berikut:
Utara : Laut Jawa
Timur : Kabupaten Bekasi
Selatan : Kabupaten Tangerang dan Kota Depok Barat : Kota Tangerang
Wilayah DKI Jakarta untuk topografi dikategorikan sebagai daerah datar dan landai. Iklim dari DKI Jakarta, secara umum terdapat dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada bulan Juni sampai dengan September, arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim kemarau. Pada bulan Desember sampai Maret, arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik, sehingga terjadi musim penghujan. Secara umum Jakarta beriklim panas, dengan rata-rata suhu maksimum udara 34°C sampai 60°C pada siang hari dan suhu minimum udara berkisar 22°C sampai 86°C pada malam hari (BPKPM 2011).
Inventarisasi Kondisi Umum Bank BTPN
21 Dari sisi arsitektur Bank BTPN memiliki konsep tersendiri. Konsepnya adalah ingin menghadirkan layanan perbankan kepada customer dengan kesan rileks baik untuk indoor ataupun outdoornya. Bank BTPN memiliki beberapa bagian-bagian dalam sistemnya, salah satunya yang memiliki sistem hirarki tertinggi dan lebih diprioritaskan adalah BTPN Retail Funding yang biasa dikenal dengan BTPN Sinaya. Pada BTPN Sinaya ini dapat dikatakan customer merupakan kalangan menengah keatas, sehingga kenyamanan customer sangat diprioritaskan. Oleh sebab itu, perancangan dan perencanaan ruang pelayanannya yang dikenal dengan community center menggunakan konsep relax dan homey. Arsitekturnya dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah bagian indoor, dengan konsep penataan interiornya relax dan homey. Tata ruangnya dibuat sedemikian rupa tidak seperti pelayanan perbankan lain yang mengharuskan pelangganya mengantri, tetapi pelanggan dianggap sebagai tamu dengan pelayanan yang istimewa. Kedua adalah bagian outdoor, yang merupakan pemuatan vertical greenery pada kulit luar bangunan. Tujuannya untuk memberikan persepsi dan gambaran tersendiri dari tampilannya. Bank BTPN memiliki konsep utama untuk simbolnya yaitu konsep pixel (kotak-kotak). Komposisi konsep simbol, relax dan
nature membuat pihak konsultan Bank BTPN memiliki ide untuk memberikan
vertical greenery disetiap kulit luar dinding bangunan. Pembuatan prototipe dari
vertical greenery pada Bank BTPN dimulai pada tahun 2009 sampai sekarang masih terus berjalan. Lima kantor cabang yang pertama dilakukan pemasangan
vertical greenery adalah KCP Kelapa Gading dan KCP Pondok Indah untuk pemasangan vertical greeery di outdoor (kulit luar dinding bangunan), serta KCP Puri, KCP Puit, KCP Cyber 2 (Ground floor) untuk pemasangan vertical greenery
di indoor (kulit dalam dinding bangunan). Orientasi dan Batas-Batas Tapak
Terdapat 13 KCP Bank BTPN yang menjadi lokasi penelitian tersebar di wilayah DKI Jakarta. Enam KCP berada di wilayah Jakarta Barat, yaitu: KCP Gajah Mada, KCP Taman Palem, KCP Kebun Jeruk Intercon, KCP Taman Ratu, KCP Tomang, dan KCP Glodok. Tiga KCP berada di wilayah Jakarta Pusat, yaitu: KCP Tanah Abang, KCP Roxy Mas, dan KCP Pecenongan. Dua KCP berada di wilayah Jakarta Selatan, yaitu: KCP Pondok Indah dan KCP Pecenongan. Serta, terdapat dua KCP berada di wilayah Jakarta Utara, yaitu: KCP Kelapa Gading dan KCP Sunter.
Orientasi dari masing-masing gedung, disesuaikan dari arah hadap pintu masuk bangunan. KCP Bank BTPN yang menghadap kearah Utara terdiri dari KCP Taman Palem, KCP Kebun Jeruk Intercon, KCP Taman Ratu, KCP Tomang, dan KCP Glodok. KCP Bank BTPN yang menghadap kearah Timur terdiri dari KCP Gajah Mada, KCP Roxy Mas, dan KCP Tanah Abang. Selanjtnya, KCP Bank BTPN yang menghadap kearah Barat terdiri dari KCP Taman Ratu, KCP Pecenongan, KCP Pondok Indah, KCP Panglima Polim, KCP Kelapa Gading, dan KCP Sunter.
22
Tabel 10 Batas tapak masing-masing gedung KCP Ban BTPN KCP Bank
BTPN
Arah bagian
Depan Belakang Samping kiri Samping kanan Gajah Mada Jalan raya Gedung
perkantoran Tanah Abang Jalan raya Gedung
perkantoran Pondok Indah Jalan raya Perumahan Gedung
perkantoran Sunter Jalan raya Gedung
perkantoran BTPN memiliki 2 konsep utama, tergantung pada kondisi eksisting yaitu konsep untuk gedung yang memanjang dan melebar. Dari 13 gedung yang diamati, 12 gedung memiliki konsep denah yang memanjang yang terdiri dari 3 sampai 5 lantai, terdapat satu gedung yang memiliki konsep denah yang melebar yang tidak lebih dari 3 lantai, yaitu terdapat pada Bank BTPN KCP Tomang. Dari kedua jenis kategori denah gedung, hal yang mendasarinya adalah kondisi gedung tersebut saat awal disewa (kondisi eksisting gedung). Gambar 6 dan 7 merupakan denah KCP gedung Bank BTPN yang memiliki konsep memanjang. Gambar 6 merupakan denah untuk lantai 1 dan lantai 2, sedangakan Gambar 7 merupakan lantai 3 dan 4 dengan denah konsep memanjang. Terdapat 3 KCP yang memiliki
23
Sumber: Kantor Pusat Bank BTPN
Gambar 6 Denah lantai 1 dan 2 pada KCP Bank BTPN dengan konsep memanjang
Sumber: Kantor Pusat Bank BTPN
24
Gambar 8 merupakan gambar denah KCP gedung Bank BTPN yang memiliki konsep melebar, yaitu Bank BTPN KCP Tomang dan hanya terdiri dari 2 lantai. KCP ini memasang vertical greenery pada dua sisi gedung yaitu bagian depan dan bagian samping. Adapun penjelasan dapat tergambarkan secara umum pada gambar denah di bawah ini.
Intensitas Pengguna
Intensitas pengguna tebagi menjadi dua bagian. Pertama adalah intensitas pengguna di dalam gedung. Kedua adalah intensitas pengguna yang berada di luar/sekitar gedung. Pengguna dalam gedung, secara keseluruhan memiliki intensitas dan aktivitas yang relatif sama. Serta memiliki konsep interior yang mengutamakan kenyamanan dari nasabah. Sehingga untuk 13 gedung tersebut intensitas di dalam gedung hampir sama yaitu, relatif sepi dan lengang. Adapun aktivitas yang dilakukan di dalam gedung diantaranya adalah duduk, mengobrol, bekerja di depan komputer, dan bersih-bersih oleh cleaning service.
Intensitas pengguna yang berada di luar/sekitar masing-masing gedung berbeda-beda. Hal ini tergantung pada letak dan kondisi lingkungan sosial sekitar gedung eksisting. Pada Tabel 11 menjabarkan untuk intensitas, aktivitas, dan waktu dari 13 gedung KCP Bank BTPN. Untuk intensitas pengguna sekitar
Sumber: Kantor Pusat Bank BTPN
25
Pagi X Berjalan, kendaraan
bermotort, kegiatan
jual-Pagi X Berjalan, kendaraan
bermotort, kegiatan
jual-Dimensi Bangunan dan Jumlah Penggunaan AC
26
dimensi gedung, jumlah lantai sampai dengan jumlah penggunaan AC pada gedung KCP Bank BTPN yang diteliti. Untuk penggunaan AC, jumlah yang dicantumkan adalah jumlah AC yang aktif digunakan setiap harinya saat gedung dipakai untuk beraktifitas.
Tabel 12 Dimensi, jumlah lantai, luas dan jumlah penggunaan AC pada gedung KCP Bank BTPN yang diteliti
No Gedug KCP Dimensi
Pola desain yang diterapkan untuk vertical greenery pada masing-masing gedung memiliki satu konsep, yaitu konsep pixel. Konsep ini teraplikasikan pada bentuk struktur penyangga dari vertical greenery, yaitu berbentuk kotak-kotak kecil. Konsep pixel (kotak-kotak) merupakan konsep dasar dari BankBTPN. Kotak-kotak kecil ini berukuran 50 cm x 50 cm dengan jumlahnya disesuaikan dengan luas vertical greenery pada masing-masing gedung.
Kelompok pemasangan vertical greenery di gedung KCP Bank BTPN dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah pemasangan vertical greenery
pada bagian dinding kulit luar bangunan. Bagian kedua adalah pemasangan
vertical greenery pada bagian dinding kulit dalam bangunan. Untuk jenis vegetasi, dikategorikan berdasarkan kelompok bagian pemasangan vertical greenery.
Pemasangan vertical greenery pada bagian dinding kulit luar bangunan menggunakan tanaman menggantung. Sedangkan, pemasangan vertical greenery
pada bagian dinding kulit dalam bangunan mengunakan tanaman merambat. Pada penelitian ini, hanya mengkaji pemasangan vertical greenery pada bagian dinding kulit luar banguan.
27 menggunakan bentukan horisontal yaitu KCP Tomang. Bentukan pola pemasangan vertical greenery pada KCP Bank BTPN seperti ditunjukan pada Gambar 9.
Jenis dan Detail Penanaman Vegetasi
Dalam pemilihan tanaman, dibedakan menjadi dua bagian. Bagian yang pertama adalah tanaman yang digunakan untuk bagian dinding kulit dalam gedung, yaitu jenis tanaman sirih gading. Bagian kedua adalah tanaman yang digunakan untuk bagian dinding kulit luar bangunan, yaitu menggunakan tanaman
lee kwan yew. Pada penelitian ini, tanaman yang digunakan adalah tanaman gantung hanya satu jenis yaitu lee kwan yew (Vernonia elliptica).
Tanaman lee kwan yew merupakan tanaman yang berasal dari Taiwan. Menurut hasil wawancara yang dilakukan terhadap konsultan landscape serta interior dari gedung KCP Bank BTPN menjelaskan dalam pemilihan tanaman gantung tersebut harus memiliki 5 sifat penting dalam pertumbuhannya. Pertama adalah tanaman gantung yang memiliki sifat mudah dipelihara. Kedua jenis tanaman gantung yang tidak mudah gugur dan tahan terhadap sinar matahari langsung. Ketiga adalah tanaman gantung yang tidak berbunga, walaupun berbunga tidak berbunga besar dan berwarna yang mencolok. Keempat adalah tanaman gantung yang memiliki warna hijau yang lembut dan terkesan rindang. Kelima adalah adalah tanaman gantung yang memiliki ukuran daun kecil sampai dengan sedang (tidak lebar dan tidak besar). Berdasarkan kelima sifat tersebut, tanaman gantung lee kwan yew adalah salah satu tanaman yang mencakup kelima sifat tersebut dalam pertumbuhannya. Adapun bentukan dari vegetasi lee kwan
Sumber: hasil wawancara konsultan bagian properti Bank BTPN
Gambar 9 Bentukan pola pemasangan vertical greenery pada KCP Bank BTPN
Vertical greenery
dengan pola vertikal
Vertical greenery
dengan pola horisontal
Vertical greenery
dengan pola horisontal
Pemasangan vertical greenery pada bagian dinding kulit luar bangunan
28
yew yang digunakan dan gambaran penanaman yang terdapat dilapang seperti ditunjukkan pada Gambar 10.
Berdasarkan data yang didapat dari literatur, artikel yang di tulis oleh Fion Steven pada tanggal 30 Agustus 2012 mengenai perbanyakan tanaman lee kwan yew, adalah dengan benih atau bibit yang disemai dengan sistem tray ditambah sekam bakar dan kompos. Setelah agak besar, bibit tersebut ditanam dimodul dan diletakkan horisontal. Namun tanaman gantung lee kwan yew juga dapat diperbanyak dengan stek dan biji. Penjabaran mengenai klasifikasi tanaman lee kwan yew (Vernonia Elliptica) dapat terlihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Klasifikasi tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica)
KLASIFIKASI
Kingdom Plantae (tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) Super divisi Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub kelas Asteridae
Ordo Asterales
Famili Asteraceae
Genus Vernonia
Spesies Vernonia Elliptica
Sumber: www.google.com
Sumber gambar: dokumentasi pribadi
29 Tanaman lee kwan yew merupakan tanaman semak yang tumbuh menjuntai ke bawah, dengan cabang memanjang, dan berlekuk halus. Sedangkan jabaran untuk deskripsi tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica), dapat terlihat dari Tabel 14. Yang mana menjelaskan deskripsi tanaman secara umum, bentuk dan ukuran daun serta tangkai dari tanaman tersebut.
Tabel 14 Ukuran dan deskripsi tanaman lee kwan yew (Vernonia elliptica)
Bagian Tanaman Ukuran Deskripsi
Daun - Panjang 2-6,5 cm
- lebar 1-4 cm
Daunnya berbentuk lonjong, sedikit berombak ketika kering, retikulat venasi, meningkat pada kedua permukaan, dan pelepah padat Tangkai Panjang 2 mm Tangkai daun melengkung
Sumber: www.google.com
Berdasarkan bentukan daun dari tanaman lee kwan yew yang bergerigi dan agak berbulu, dapat disimpulkan bahwa tanaman ini mampu mengurangi polusi. Karana ciri tersebut merupakan salah satu ciri-ciri tanaman yang efektif mengurangi partikel padat (partikulat, debu) yang diantaranya adalah tanaman yang memiliki daun jarum, daun berbulu (trikoma), daun bersisil, daun kasar, bergerigi dan daun dengan permukaan lengket.
Untuk penanaman, tanaman ditanam dalam sebuah pipa dengan diameter 8 cm dan panjang disesuaikan dengan panjang facad vetical greenery yang ada pada masing-masing gedung. Pipa diletakkan setiap 3 kotak, atau diletakkan setiap 1.5 meter. Tanah yang dipakai sebagai media tanam merupakan jenis tanah latosol dengan campuran sekam. Untuk perbandingan antara tanah dan sekam adalah 2:1, dan diisi setengah dari pipa yang digunakan sebagai media tanam. Secara spasial, untuk detail penanaman dapat terlihat pada Gambar 11.
Sumber gambar: pengamatan langsung ke lapang
Gambar 11 Detail penanaman vertical greenery
6 m
1.5 m
10 m
Media tanam: pipa pvc Ø 8
30
Material dan Detail Struktur Vertical Greenery
Material-material yang digunakan untuk pemasangan vertical greenery ini, pihak konsultan BTPN melakukan pemesanan khusus. Untuk bagian penyangga (antara gedung dan struktur vertical greenery) menggunakan besi siku 5 x 5 dan holow 5 x 5 dengan tebal 1.2 mm, dan untuk warnanya disesuaikan dengan konsep BTPN yaitu coklat dan abu tua. Material struktur vertical greenery
menggunakan kayu merbau atau damar laut, lalu bagian tengahnya dilapisi dengan struktur baja. Untuk warna, digunakan warna asli dari kayu merbau ataupun kayu damar laut yaitu coklat atau merah coklat tua dengan garis-garis agak terang pada bidang agar kesan naturalnya terlihat.
Berdasarkan karakteristiknya, damar laut untuk pulp dan kayu lapisnya termasuk golongan awet I dan awet II. Sedangkan untuk kayu merbau termasuk dalam kelas awet I-II dan kelas kuat I-II dengan berat jenis rata-rata 0.80, dengan struktur agak keras dengan serat lurus berpadu, yang tergolong sangat keras. Berdasarkan sifat dari masing-masing kayu, maka kayu ini cocok digunakan untuk material struktur dari vertical greenery. Pada Gambar 12 menunjukkan detail struktur vertical greenery yang telah dipasang pada 13 gedung KCP Bank BTPN di DKI Jakarta.
Lokasi, Arah Hadap, dan Luas Vertical Greenery
Dari 13 gedung yang diteliti dapat terangkum hasil inventarisasi secara keseluruhan mengenai kondisi eksisting vertical greenery. Adapun dibawah ini akan menjabarkan, luas vertical greenery yang disesuaikan dengan tutupan vegetasinya. Tiap-tiap gedung memiliki tutupan vegetasi yang berbeda-beda. Dari keseluran vertical greenery yang dipasang, tidak terdapat vertical greenery yang
Sumber: pengamatan langsung ke lapang
Gambar 12 Detail struktur vertical greenery