ANALISIS SEMIOTIK TERHADAP FILM
IN THE NAME OF GOD
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)
Oleh
Hani Taqiyya
NIM: 107051002739
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu penyataan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, Mei 2011
ABSTRAK
Hani Taqiyya
Analisis Semiotik Terhadap Film In The Name of God
Pasca kejadian Serangan 11 September 2001 lalu, wajah dunia Islam kian menjadi sorotan. Gencarnya media-media yang mengatakan bahwa otak serangan itu adalah teroris muslim, membawa khalayak kepada konstruksi identitas agama Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan dan radikalisme. Apalagi setelah beberapa serangan lain yang mengatasnamakan perbuatan tersebut sebagai perbuatan jihad, karena dilakukan atas nama Allah SWT dan untuk menegakkan agama Islam. Sehingga, tidak kata yang lebih populer menyimbolkan kekerasan dan teror atas nama Islam di atas selain jihad, padahal konsep jihad yang seperti itu tidak sesuai dengan agama Islam yang rahmatan lil ‟alamin.
Bukan hanya media cetak saja, film sebagai salah satu media massa juga menggambarkan hal tersebut dengan cara yang berbeda. Beberapa produksi film Hollywood membuat film yang didalamnya menggambarkan bagaimana muslim melakukan perbuatan tersebut. Misalnya mereka membunuh dengan menyebut nama Allah, atau tokoh teroris yang merupakan orang Islam. Oleh karena itu, beberapa sineas muslim yang khawatir dengan persepsi ini mencoba membuat film yang menggambarkan Islam yang sebenarnya. Salah satunya adalah film In The Name of God. In The Name of God adalah film Pakistan dengan isu sensitif yang banyak mendapat penghargaan di dunia Internasional. Selain bercerita tentang realitas Islam di Pakistan dan di dunia, film ini juga menyinggung muatan sensitif tentang pernikahan yang dipakasa, konotasi jihad adalah perang, juga sentimen anti-Amerika. Dan untuk mengetahui gambaran atau representasi yang memang sengaja dibuat oleh film ini, maka digunakanlah pendekatan Semiotik, dengan menggunakan model Roland Barthes.
Sehingga, penelitian ini ingin mengetahui bagaimana makna denotasi, konotasi, dan mitos yang merepresentasikan konsep jihad Islam dalam film In The Name of God. Melalui observasi secara teliti dan kolaborasi dengan dokumen-dokumen yang relevan, akhirnya ditemukan adegan-adegan yang dapat merepresentasikan konsep jihad Islam dalam film In The Name of God.
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia dan
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah atas Rasulullah SAW, kaum keluarga, para sahabat, dan para
pengikut yang setia mengikuti sunnahnya sampai akhir zaman.
Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Komunikasi Islam, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,
Program Strata 1, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya sangat
menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan hingga pada
penyelesaian skripsi ini, segala upaya yang saya lakukan tidak akan berhasil dengan
baik. Oleh karena itu, dengan rasa hormat saya mengucapkan terima kasih kepada:
1) Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Dr. Arief Subhan M. Ag
beserta Pembantu Dekan I, Drs. Wahidin Saputra, M.Ag, Pembantu Dekan II,
Drs. H. Mahmud Jalal, MA, dan Pembantu Dekan III, Drs. Study Rizal LK,
MA.
2) Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Drs. Jumroni, MSi.
3) Dosen Pembimbing Penulis. Drs. Suhaimi., MSi.
4) Sekertaris Jurusan KPI. Umi Musyaroffah, MA dan Fathoni S.Kom.I.
5) Bapak/ibu dosen di Jurusan KPI.
6) Ayah dan Ibu, Drs. Abdi Sumaithi, Lc dan Dra. Reti Riseti, M.Si, serta
adik-adik, Khansa, Hanun, Hanana, Yaqzhan, Yuzak, Yumnan, dan Hanina.
7) Keluarga besar Sudrajat dan K.H. Syanwani, sahabat, dan teman-teman di Kelas
KPI B angkatan 2007 serta Kelompok KKN `10 Cigombong.
Jazakumullah khairan jaza, tidak ada sebaik-baik balasan kecuali dari Allah
SWT semata. Kritik, saran, dan masukan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini
dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu.
Jakarta, Maret 2011
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Metodologi Penelitian ... 8
F. Tinjauan Kepustakaan ... 10
G. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II TINJAUAN TEORITIS A.Tinjauan Umum Semiotik ... 13
1. Pengertian Umum Semiotik ... 13
2. Tanda dalam Semiotik ... 15
3. Representasi dalam Semiotik ... 18
4. Model-Model dalam Semiotik ... 20
5. Model Semiotik Roland Barthes ... 22
B.Tinjauan Umum Film ... 27
1. Film Sebagai Representasi Realitas ... 27
2. Jenis-Jenis Film ... 28
3. Unsur-Unsur Pembentuk Film ... 30
4. Struktur Film ... 31
5. Sinematografi ... 32
C.Konsep Jihad dalam Islam ... 36
1. Pengertian dan Terminologi Jihad ... 36
2. Bentuk-Bentuk Jihad dalam Islam ... 38
D.Definisi Istilah Penelitian ... 40
BAB III PROFIL FILM IN THE NAME OF GOD A. Profil Shooaib Mansoor sebagai Sutradara Film In The Name of God ... 42
B.Sinopsis Cerita ... 44
C.Tim Produksi Film In The Name of God ... 47
D.Penghargaan-Penghargaan Film In The Name of God ... 48
BAB IV HASIL ANALISIS SEMIOTIK TERHADAP FILM IN THE NAME OF GOD A. Identifikasi Umum Temuan Data ... 49
1. Scene 1 ... 52
2. Scene 2 ... 56
3. Scene 3 ... 59
4. Scene 4 ... 61
5. Scene 5 ... 64
6. Scene 6 ... 67
7. Scene 7 ... 69
8. Scene 8 ... 72
9. Scene 9 ... 74
10.Scene 10 ... 77
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 80
B. Saran ... 82
DAFTAR PUSTAKA ... 83
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Model Semiotika Pierce ………21
Gambar 2: Model Semiotika Saussure ……… 22
Gambar 3: Signifikansi Dua Tahap Barthes ……… 24
Gambar 4: Ilustrasi Jarak Kamera Terhadap Obyek ……… 32
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pasca penyerangan Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York,
Amerika Serikat pada 11 september 2001 yang lalu, wajah Islam di dunia kian menjadi
sorotan. Peristiwa yang juga dikenal dengan Serangan 9/11 ini memberikan identitas
baru pada agama Islam sebagai agama yang identik dengan kekerasan, radikalisme,
maupun terorisme. Karena, kebanyakan media-media Barat, menyatakan bahwa aktor
dibalik kejadian tersebut adalah sekelompok ekstrimis muslim yang dipimpin oleh
Osama bin Laden dalam organisasi Al-Qaeda.
Selang satu bulan setelah kejadian tersebut, terjadi peristiwa Bom Bali di kota
kecamatan Kuta, Bali, Indonesia. Pada tanggal 12 Oktober 2002, peristiwa ini memakan
korban yang kebanyakan wisatawan asing itu, meninggal sebanyak 202 orang, dan
mencederakan 209 yang lain. Tiga orang yang dianggap tersangka oleh polisi, Imam
Samudera, Ali Ghufron, dan Amrozi sudah divonis mati.
Seakan tak berhenti di situ, peristiwa serupa pun bermunculan. Pada tanggal 7
Juli 2005, terjadi peristiwa pengeboman 7/7 di London, Inggris. Ini adalah serangkaian
pengeboman bunuh diri yang terkoordinasi terhadap sistem transportasi publik di kota
London pada jam-jam sibuk. Pengeboman yang terjadi di atas kereta subway dan bis
kota pada itu menewaskan 52 orang. Situs berita Inggris, BBC menuliskan bahwa
sebuah website Islam telah memberikan statemen yang kurang lebih menyatakan bahwa
Oleh karena itu, persepsi yang berkembang adalah tidak ada kata yang lebih
populer menyimbolkan kekerasan dan teror atas nama Islam di atas selain jihad.
Padahal, berdasarkan sejarah, jihad memiliki makna yang beragam. Ia juga berkonotasi
kehormatan dan pengorbanan bagi orang lain. Jadi, mengidentikkan kata ”jihad” dengan
”terorisme” bukan hanya tidak akurat, melainkan juga tidak produktif. Konsep jihad
memiliki lebih banyak nuansa ketimbang makna tunggal yang selalu diterapkan oleh
media-media barat untuk istilah itu.1
Berita-berita di televisi maupun di surat kabar juga sedikit memberikan andil
dalam memberikan judgement tentang hal tersebut, karena tidak bisa dihindari bahwa
media massa mempunyai fungsinya sendiri untuk mengkonstruksi realitas. Selain dua
media di atas, dan juga media internet yang kian mudah melakukan penetrasi ideologi
kepada masyarakat, film juga menjadi salah satu media yang paling efektif digunakan
karena kepopulerannya.
Film dinyatakan sebagai bentuk dominan dari komunikasi massa visual di
belahan dunia, karena lebih dari ratusan juta orang menonton film di bioskop, film
televisi atau lewat Digital Video Disc (DVD)2. Ini berarti ia dapat menjangkau banyak
segmen sosial sehingga ia memiliki potensi besar untuk mempengaruhi khalayaknya,
karena selain berfungsi sebagai hiburan ia juga perpanjangan dari pemikiran dan
ideologi pembuatnya.
Pada tahun 2007, jumlah produksi film Indonesia adalah 77 judul dan di tahun
2008 meningkat menjadi 87 judul film, sementara Thailand mencapai 353 judul, Korea
1
John L. Esposito & Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara! Opini Umat Muslim tentang
Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008), h. 104
2
Elvinaro Ardianto & Lukiati Komala, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (Bandung:
berhasil membuat 400 judul film, Amerika menghasilkan 630 judul film dan India
mempunyai jumlah produksi film terbesar di dunia, yaitu 877 judul film3.
Hollywood adalah contoh industri film Amerika yang dengan sukses mampu
membuat film yang bukan hanya dapat menghibur penontonnya secara afektif tapi juga
dapat mempengaruhi kognisi penontonnya. Salah satunya dengan mengkonstruksi
konsep jihad dan kegiatan terorisme yang marak belakangan ini.
Sejak kejadian 9/11 tersebut, banyak bermunculan film-film yang mengangkat
tema ini. The Kingdom, United 93, atau World Trade Center (karya Oliver Stone), film
dokumenter karya Michael Moore, Fahrenheit 9/11 dan My Name is Khan. Tetapi,
kebanyakan dari film-film produksi Hollywood tersebut mendeskreditkan agama Islam.
Mengidentikkan Islam dengan terorisme, seperti film The Kingdom yang menceritakan
usaha FBI mengungkap serangan pengeboman yang menewaskan ratusan warga
Amerka di sebuah komplek pemukiman di Arab Saudi oleh teroris muslim. United 93
juga tidak jauh berbeda. Film yang disutradarai Paul Greengas ini sejak awal sudah
secara nyata menyuguhkan penampilan teroris yang berwajah Arab, membaca
al-Qur`an, dan melakukan sholat berjama‟ah. Bahkan disalah satu adegan diperlihatkan
bahwa salah satu teroris itu menusuk leher seorang pramugari sambil membaca
basmalah.
Sineas Indonesia juga tidak ketinggalan, Peristiwa Bom Bali I juga diangkat ke
layar lebar dengan judul Long Road to Heaven, dengan pemain antara lain Surya
Saputra sebagai Hambali dan Alex Komang, serta melibatkan pemeran dari Australia
dan Indonesia. Dian Rousta Febryanti dalam penelitiannya menemukan bahwa
3
kepentingan dan ideologi pembuat film menentukan bagaimana suatu penggambaran
konsep tertentu disajikan dalam film. Dalam hal ini jihad yang ditampilkan dalam film
“Long Road to Heaven” tidak sesuai dengan pengertian jihad yang sebenarnya dalam
Islam berdasarkan Al-Qur`an dan Hadits. Tidak ada upaya konfirmasi dari pembuatnya
tentang konsep jihad dalam film ini. Representasi tersebut ditunjukkan secara eksplisit
maupun implisit dalam dialog pemain, acting pemain, setting, kostum, dan sebagainya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa representasi jihad dalam film ini adalah representasi
yang terkonstruksi.4
Meskipun film bukan faktor utama dari pencitraan buruk tentang Islam itu, tanpa
disadari efeknya kian terasa, islamophobia masih kental terjadi, banyak orang
terang-terangan menunjukkan dirinya memusuhi Islam. Ini adalah realita yang terhampar di
mana masih banyak orang-orang yang menganggap Islam sebagai suatu ancaman,
bukan sebagai agama yang merupakan rahmatan lil ‟alamin, rahmat bagi semesta alam.
Kenyataan ini tentu saja mengusik kita, sebagai umat Islam. Oleh karena itu
beberapa insan perfilman dunia mulai memproduksi film-film yang menghadirkan
perspektif sebenarnya tentang agama Islam. Salah satunya adalah film In The Name of
God atau dalam bahasa urdu disebut, Khuda Kay Liye. Film ini adalah film Pakistan
yang dirilis pada bulan Juli tahun 2007, dan disutradarai oleh Shoaib Mansoor, sutradara
asal Pakistan. Di Indonesia sendiri, film ini baru ditayangkan secara resmi di
bioskop-bioskop lokal, pada bulan November 2010. Meski sebelumnya pernah ditayangkan di
Jiffest (Jakarta International Film Festival) pada tahun 2008.
4
Film In The Name of God adalah salah satu film Pakistan dengan isu sensitif
yang bisa dirilis di bioskop di negerinya. Film ini juga menunjukkan bahwa terorisme,
ekstrimisme, dan radikalisme berbasis pada kesalahan interpretasi terhadap ajaran
Islam, bukan semata-mata kesalahan agama tersebut. Film ini juga mendapat banyak
penghargaan dunia Internasional, diantaranya Silver Pyramid Award for Best Picture
dari Cairo International Film Festival 2007 di Mesir dan Audience Award untuk
kategori film terbaik di Fukuoka Film Festival 2007, Jepang. Film ini mencoba
memberikan sebuah perspektif bahwa tidak ada satu agama pun yang melegalkan
kekerasan dan radikalisme. Begitu juga dengan agama Islam.
In The Name of God juga merupakan film yang sangat padat (compact) dan
lengkap mengungkapkan sisi-sisi kehidupan keislaman masyarakat Pakistan. Ia
bercerita tentang realitas Islam di Pakistan, yang bermacam-macam, baik yang kita
sebut liberalis, moderat, maupun fundamentalis. Sehingga film berdurasi hampir tiga
jam ini dapat memberikan sebuah pencerahan dalam melihat Islam. Setidaknya film ini
bisa menjadi jawaban bagi islamophobia yang yang digencarkan Barat dan menjadi
rujukan bagi mereka untuk memandang Islam secara lebih baik.
Oleh karena itu menjadi menarik untuk menelusuri tanda-tanda apa yang ada
dalam film ini. Terutama bagaimana tanda-tanda dalam film ini merepresentasikan
Islam yang seperti apa. Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu
dikolaborasikan untuk mencapai efek yang diinginkan. Karena film merupakan produk
visual dan audio, maka tanda-tanda ini berupa gambar dan suara. Tanda-tanda tersebut
Untuk mengetahui hal itu semua, kita dapat menelitinya melalui pendekatan
semiotik. Karena tanda tidak pernah benar-benar mengatakan suatu kebenaran secara
keseluruhan5. Ia hanya merupakan representasi, dan bagaimana suatu hal
direpresentasikan, dan medium yang dipilih untuk melakukan itu bisa sangat
berpengaruh pada bagaimana orang menafsirkannya.
Dari sekian banyak model semiotik yang ada, peneliti memilih model semiotik
Roland Barthes (1915-1980), karena menurutnya, semua objek kultural dapat diolah
secara tekstual. Teks yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan linguistik saja,
tetapi semua yang dapat terkodifikasi. Jadi semiotik dapat meneliti berbagai macam teks
seperti berita, film, iklan, fashion, fiksi, puisi, drama6.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
yang akan dituangkan dalam skripsi dengan judul, ” ANALISIS SEMIOTIK TERHADAP FILM IN THE NAME OF GOD . ”
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Batasan dalam penelitian ini adalah rangkaian gambar (scene) dalam film In The
Name of God yang berkaitan dengan konsep jihad dalam Islam. Hal ini Berangkat dari
konteks besar film ini yang banyak menggambarkan perbuatan yang dilakukan manusia
atas nama agama atau atas nama Tuhan (In The Name of God), dalam hal ini agama
Islam yang dimaksud.
5
Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotika Media, (Yogyakarta: Jala Sutra, 2010) h.21. 6
Drs. Alex Sobur, M.Si, Analisis Teks Wacana: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana,
Untuk memfokuskan penelitian, maka masalah dalam penelitian ini mengacu
pada model semiotik yang digunakan, yaitu semiotik Roland Barthes, yang dikenal
dengan makna denotasi, konotasi dan mitos.
Sehingga rumusan masalahnya menjadi, apa makna denotasi, konotasi, dan
mitos yang merepresentasikan konsep jihad Islam dalam film In The Name of God .
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan penelitian di atas, maka tujuan penelitiannya adalah
untuk mengetahui apa makna denotasi, konotasi, dan mitos yang merepresentasikan
konsep jihad Islam dalam film In The Name of God .
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitiannya adalah:
1) Segi Akademis,
Diharapakan hasil penelitian ini dapat memperkaya literatur-literatur tentang
kajian semiotik, khususnya semiotik dalam film yang menggunakan pisau
analisis model Roland Barthes.
2) Segi Praktis,
Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi praktisi perfilman
terutama untuk memberikan rujukan bagaimana membuat film yang sarat
muatan makna dan memberi pencerahan. Sedangkan untuk praktisi komunikasi,
membaca makna yang terkandung dalam suatu produk media massa, melalui
pendekatan semiotik.
E. Metodologi Penelitian 1. Metode
Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, dengan metode deskriptif. Peneliti
berusaha menggambarkan fakta-fakta tentang bagaimana adegan-adegan dalam film In
The Name of God merepresentasikan konsep jihad Islam lewat tanda-tanda yang
disebut oleh Barthes sebagai konotasi, denotasi, dan mitos.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kediaman peneliti, yaitu di Srengseng, Jakarta Barat.
Waktu penelitiannya dimulai dari Januari hingga Maret 2011.
3. Objek Penelitian dan Unit Analisis
Objek penelitian ini adalah film. Sedangkan unit analisisnya adalah potongan
gambar atau visual yang terdapat dalam film In The Name of God yang berkaitan
dengan rumusan masalah penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data-data dikumpulkan melalui observasi, yaitu mengamati
langsung data-data yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Adapun instrumen
[image:17.595.80.527.94.428.2]1) Data Primer, berupa dokumen elektronik, 1 buah VCD film In The Name of God
dengan subtitle bahasa Inggris.
2) Data Sekunder, berupa dokumen tertulis, yaitu literatur-literatur seperti resensi
film In The Name of God baik dari surat kabar, wawancara-wawancara di
majalah, ataupun internet, serta buku-buku yang relevan dengan penelitian.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dimulai dengan mengklasifikasikan
adegan-adegan dalam film In The Name of God yang sesuai dengan rumusan masalah
penelitian. Kemudian, data dianalisis dengan model semiotik Roland Barthes yaitu
dengan cara mencari makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam setiap masing-masing
adegan. Indikator masing-masingnya adalah (seperti yang tertulis dalam Sobur,
hlm.127):
1) Denotasi :
Makna paling nyata dari tanda, apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah
objek.
2) Konotasi:
Bagaimana menggambarkan objek, ia bermakna subjektif juga intersubjektif,
sehingga kehadirannya tidak disadari.
3) Mitos:
Merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. Dalam
dunia modern, mitos dikenal dengan bentuk feminisme, maskulinitas, ilmu
F. Tinjauan Kepustakaan
Setelah peneliti melihat pada Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi serta
Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Peneliti
mendapati ada 3 judul skripsi yang ada kaitannya dengan judul yang dibahas yaitu:
skripsi pertama yang dilihat peneliti adalah karya Istianah, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,
Konsentrasi Jurnalistik, ditulis tahun 2009 yang berjudul Analisis Semiotik Film Turtles
Can Fly. Skripsi ini memiliki kesamaan objek penelitian yaitu film internasional. Ia juga
menggunakan model semiotik yang sama, yaitu model Roland Barthes. Meskipun
begitu, makna yang ingin diungkap dalam skripsi tersebut adalah tentang konsep perang
dalam film Turtles Can Fly.
Skripsi yang kedua adalah hasil karya Rizki Alamsyah, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,
Konsentrasi Jurnalistik, ditulis tahun 2010 dengan judul Analisis Semiotik Film A
Mighty Heart. Ia juga menggunakan objek penelitian dan model yang sama, film dan
semiotik Roland Barthes, tetapi yang lebih diungkapkan adalah konsep jurnalismenya.
Skripsi terakhir yang dilihat peneliti adalah yang ditulis oleh Listya Adi Andarini yang berjudul Representasi Budaya Dominan Amerika Serikat dalam Menguasai Arab Saudi (Studi Analisis Semiotik Terhadap Film The Kingdom), Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2008. Skripsi ini memiliki
digunakan adalah Model Saussere yang mengungkap makna yang diperlihatkan dalam
naskah, pergerakan, music, dan setting dalam film.
Dari ketiga skripsi diatas, ada perbedaan dengan skripsi yang akan ditulis oleh
peneliti. Karena dalam Film In The Name of God ada perbedaan makna yang ingin
diungkap dalam masalah penelitian, karena aspek yang lebih ingin dikaji adalah
masalah konsep jihad dalam Islam yang direpresentasikan dalam film. Berbeda juga
dengan skripsi terakhir yang peneliti lihat, yang menggunakan model Saussure, karena
peneliti menggunakan semiotik Roland Barthes.
G. Sistematika Penulisan
Skripsi dalam penelitian ini ditulis dengan menggunakan panduan buku Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi), karya Hamid Nasuhi, dkk., yang
diterbitkan oleh CeQDA, 2007. Oleh karena itu sistematika penulisannya adalah:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari Latar Belakang Masalah, Batasan dan Rumusan Masalah,
Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan
Pustaka, dan Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Terdiri dari Tinjauan Umum Semiotik: Pengertian Umum Semiotik,
Tanda Dalam Semiotik, Representasi dalam Semiotik, Model-Model
Dalam Semiotik, Model Semiotik Roland Barthes, B.Tinjauan Umum
Film, Sinematografi, dan, C. Konsep Jihad Dalam Islam: Pengertian dan
Terminologi Jihad, Bentuk-Bentuk Jihad dalam Islam.
BAB III PROFIL FILM IN THE NAME OF GOD
Terdiri dari A. Profil Shooaib Mansoor sebagai Sutradara Film In The
Name of God, B. Sinopsis Cerita, C. Tim Produksi Film In The Name of
God, dan D. Penghargaan Film In The Name of God.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan Representasi Konsep Jihad Islam Dalam Film In
The Name of God : A. Identifikasi Umum Temuan Data, B. Makna
Konotasi, Denotasi, dan Mitos yang Merepresentasikan Konsep Jihad
Islam dalam Film In The Name of God.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan hasil penelitian, dan saran dari
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Umum Semiotik 1. Pengertian Umum Semiotik
Istilah semeiotics (dilafalkan demikian) diperkenalkan oleh Hippocrates
(460-337 SM), penemu ilmu medis Barat, seperti ilmu gejala-gejala. Gejala, menurut
Hippocrates, merupakan semeion, bahasa Yunani untuk penunjuk (mark) atau tanda
(sign) fisik.7
Dari dua istilah Yunani tersebut, maka semiotik secara umum didefinisikan
dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang
digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual
dan verbal serta tactile dan olfactory (semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan
bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki) ketika tanda-tanda tersebut
membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan
secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia8.
Sementara Preminger (2001) menyebut semiotik sebagai ilmu yang
mengganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan
tanda-tanda.9
Saussure mendifinisikan semiologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji
kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat, dan, dengan demikian menjadi bagian dari
7
Marcel Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010) h.7. 8
http://id.wikipedia.org/wiki/Semiotik diakses pada 17 Januari 2011 9
disiplin psikologi sosial. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana terbentuknya
tanda-tanda beserta kaidah yang mengaturnya.10
Lechte (2001:191), menyebut semiotik sebagai teori tentang tanda dan
penandaan. Lebih jelasnya lagi, semiotik adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua
bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs ‟tanda-tanda‟ dan berdasarkan pada
sign system (code), sistem kode (Segers, 2004:4).
Charles Sanders Pierce (dalam Littlejohn, 1996:64) mendefinisikan semiotik
sebagai a relationship amog a sign, an object, and a meaning (suatu hubungan di
antara tanda, objek, dan makna).
Sementara Charles Morris (dalam Segers, 2005:5) menyebut semiotik sebagai
suatu proses tanda, yaitu proses ketika sesuatu merupakan tanda bagi beberapa
organisme.11
Definisi yang cerdas tapi juga penuh makna diusulkan oleh penulis dan pakar
semiotik kontemporer, Umberto Eco. Eco (1976:12) mendefinisikannya sebagai
‟disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang bisa dipakai untuk berbohong, karena
jika sesuatu tidak bisa dipakai untuk berbohong, sebaliknya itu tidak bisa dipakai untuk
jujur; dan pada kenyatannya tidak bisa dipakai untuk apapun juga‟. Walau tampaknya
bermain-main, ini adalah definisi yang cukup mendalam, karena menggarisbawahi fakta
bahwa kita memiliki kemampuan untuk merepresentasikan dunia dengan cara apa pun
yang kita inginkan melalui tanda-tanda, pun dengan cara penuh dusta atau yang
menyesatkan. Kemampuan untuk berpura-pura ini memungkinkan kita untuk
10
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h.12. 11
memanggil rujukan yang tidak ada, atau merujuk ke hal-hal apa pun tanpa dukungan
empiris yang mengatakan bahwa yang kita katakan itu adalah benar. 12
Oleh karena itu, semiotik atau semiologi adalah studi tentang tanda dan cara
tanda-tanda itu bekerja. Tanda pada dasarnya akan mengisyaratkan suatu makna yang
dapat dipahami oleh manusia yang menggunakannya. Bagaimana manusia menangkap
sebuah makna tergantung pada bagaimana manusia mengasosiasikan objek atau ide
dengan tanda. Hal ini selaras dengan pendapat Charles Sander Pierce (dalam Sobur,
2003:15) bahwa semiotik sebagai “a relationship a many sign, an object, and a
meaning…” suatu hubungan diantara tanda, objek, dan makna.13
2. Tanda dalam Semiotik
Dari definisi-definisi para ahli sebelumnya, kita dapat melihat bahwa para ahli
menempatkan sistem tanda dan makna sebagai gagasan pokok dalam semiotik.
Semiotik, menurut John Fiske mempunyai tiga bidang studi utama:
1) Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang berbeda,
cara tanda yang berbeda itu dalam menyampaikan makna, dan cara
tanda-tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya.
2) Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara
berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau
budaya atau untuk mengeksploitasi selama komunikasi yang tersedia untuk
mentransmisikannya.
12
Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotika Media, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010) h. 33 13
Tommy Suprapto, M.S., Pengantar Ilmu Komunikasi Dan Peran Manajemen dalam
3) Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya begantung pada
penggunaan kode-kode dan tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri.
Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik dan bisa dipersepsi indra kita.
Tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda tersebut dan bergantung pada pengamatan
oleh penggunanya sehingga bisa disebut tanda.
Pierce (dalam Fiske 1990: 62) melihat tanda, acuan, dan penggunaannya sebagai
tiga titik dalam segitiga. Sedangkan Saussure mengatakan bahwa tanda terdiri atas
bentuk fisik plus konsep mental yang terkait. Konsep ini merupakan pemahaman atas
realitas eksternal. 14
Pierce juga menyebut tanda sebagai representamen; bentuk fisik, konsep benda,
dan gagasan diacunya sebagai objek. Makna yang diperoleh dari sebuah tanda
diistilahkan sebagai interpretan.15
Hal yang dirujuk oleh tanda, secara logis dikenal sebagai referen (objek atau
petanda). Ada dua jenis referen: (1) referen konkrit, adalah referen yang dapat
ditunjukkan hadir di dunia nyata, misalnya cat (kucing) dapat diindikasikan dengan
menunjuk seekor kucing, dan (2) referen abstrak, yaitu referen yang bersifat imajiner
dan tidak dapat diindikasikan hanya dengan menunjuk pada suatu benda, salah satu
caranya adalah dengan membongkar akar-akar budaya dari setiap komponen tandanya.
16
Pierce membuat tiga kategori tanda yang masing-masing menujukkan hubugan
yang berbeda di antara tanda dan objeknya atau apa yang diacunya.
14
Ibid., h. 96 15
Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna, h. 37 16
1) Ikon adalah tanda yang memunculkan kembali benda atau realitas yang
ditandainya, misalnya foto atau peta.
2) Indeks ada hubungan langsung antara tanda dan objeknya. Ia merupakan tanda
yang hubungan eksistensionalnya langsung dengan objeknya. Misalnya, asap
adalah indeks api dan bersin adalah indeks flu.
3) Simbol adalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya berdasarkan
konvensi, kesepakatan atau aturan kata-kata umumnya adalah simbol. Palang
merah adalah simbol dan angka adalah simbol.
Ikonitas melimpah ruah dalam semua wilayah representasi manusia. Foto, potret,
peta, angka Romawi seperti I, II, dan III adalah wujud ikonis yang dirancang atau
diciptakan agar mirip dengan sumber acuannya secara visual. Parfum, adalah ikon
penciuman yang meniru wangi alamiah, zat tambahan makanan kimiawi adalah ikon
pengecap yang mensimulasikan rasa makanan alamiah. Kini, ikon juga memiliki fungsi
sosial dalam cakupan yang sangat luas. Misalnya ditemukan pada poster, pintu kamar
mandi sebagai indikasi “pria” dan “wanita, dan sebagainya. Ikon membuktikan bahwa
persepsi manusia sangatlah tinggi terhadap pola-pola berulang dalam warna, bentuk,
dimensi, gerakan, bunyi, rasa, dan seterusnya.17
Sementara indeks membuktikan bahwa manusia juga memperhatikan pola
berulang dalam hubungan serta sebab-akibat yang tidak pasti dalam waktu dan ruang.
Dalam hal ini, Pierce mengacu pada objek tanda sebagai “agen ulang”, karena objek ini
berupa reaksi terhadap sebuah agen yang memungkinkan kita untuk menyimpulkan
keberadaan-nya, mapun hubungannya dengan objek-objek lain.
17
Ada tiga jenis dasar indeks: (1) Indeks ruang, yang mengacu pada lokasi spasial
sebuah benda, makhluk, dan peristiwa dalam hubungannya dengan pengguna tanda.
Tanda yang dibuat dengan tangan seperti jari yang menunjuk, figure seperti anak panah,
merupakan contohnya. (2) Indeks Temporal, indeks ini menghubungkan benda-benda
dari segi waktu, kata keterangan seperti sebelum, sesudah, sekarang, tanggal di
kalender, merupakan contohnya. (3) Indeks Persona. Indeks ini saling menghubungkan
pihak-pihak yang ambil bagian dalam sebuah situasi, kata ganti seperti aku, kau, ia,
adalah contohnya.
Sementara simbol mewakili sumber acuannya dalam cara yang konvensional
yang dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui saluran berupa tradisi historis.
Bentuk salib dapat mewakili konsep agama Kristen, putih dapat mewakili kebersihan,
kesucian, kepolosan, dan gelap mewakili kotor, ternoda, dan sebagainya. 18
3. Representasi dalam Semiotik
Dalam kajian semiotik modern, istilah representasi menjadi suatu hal yang
sangat penting. Karena semiotik bekerja dengan menggunakan tanda (gambar, bunyi,
dan lain-lain) untuk menggabungkan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi
sesuatu yang dilihat, diindra, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu.19
Dengan kata lain, representasi juga merupakan sebuah proses bagaimana sebuah
referen mendapatkan bentuk tertentu dengan tanda-tanda.20
Hal ini bisa dicirikan dengan sebagai proses membangun suatu bentuk X dalam
rangkan mengarahkan perhatian ke sesuatu, Y, yang ada baik dalam bentuk material
18
Ibid., h. 43-44 19
Ibid.,, h. 24. 20
maupun konseptual, dengan cara tertentu, yaitu X = Y. Meskipun demikian, upaya
menggambarkan arti X = Y bukan suatu hal yang mudah. Maksud dari pembuat bentuk,
konteks historis dan sosial yang terkait dengan terbuatnya bentuk ini, tujuan
pembuatannya dan seterusnya merupakan faktor-faktor kompleks yang memasuki
gambaran tersebut.21
Tanda tidak pernah benar-benar mengatakan kebenaran secara keseluruhan.
Tanda me-mediasi kenyataan kepada kita, karena tanda secara niscaya membentuk
berbagai pilihan yang sesuai dari lingkungan hal-hal yang diketahui yang tak terhingga
kemungkinannya. Oleh karena itu, representasi yang diberikan pada sesuatu merupakan
proses mediasi.22
Representasi merupakan bentuk konkret (penanda) yang berasal dari konsep
abstrak. Beberapa diantaranya dangkal atau tidak kontroversial. Akan tetapi, beberapa
representasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan budaya dan politik.
Karena representasi tidak terhindarkan untuk terlibat dalam proses seleksi sehingga
beberapa tanda tertentu lebih istimewa daripada yang lain, ini terkait dengan bagaimana
konsep tersebut direpresentasikan dalam media berita, film, atau bahkan dalam
percakapan sehari-hari.23
4. Model-Model dalam Semiotik
Analisis dalam semiotik berupaya menemukan makna tanda termasuk hal-hal
yang tersembunyi di balik sebuah tanda (teks, iklan, berita). Model-model dalam
21
Ibid., h. 3-4. 22
Ibid., h. 20-21 23
John Hartley, Communication, Cultural, and Media Studies: Konsep Kunci, (Yogyakarta,
semiotik mengacu pada proses komunikasi yang disebut Fiske (1990) sebagai
pembangkit makna (the generation of meaning), bukan model-model sebelumnya yang
cenderung linear.
Fiske menyebutnya sebagai „model-model struktural‟, di mana setiap anak panah
menunjukkan relasi di antara unsur-unsur penciptaan makna. Model sruktural ini tidak
mengasumsikan adanya serangkaian tahap atau langkah yang dilalui pesan, melainkan
lebih memusatkan perhatian pada analisis serangkaian relasi terstruktur yang
memungkinkan sebuah pesan menandai sesuatu. 24
Dari terminologi di atas, peneliti dapat mengasosiasikan bahwa untuk
menemukan makna tersebut, dibutuhkan sebuah model. Ada dua model makna yang
sangat berpengaruh. Pertama, model dari filsuf dan ahli logika, CS Pierce, Ogden, dan
Richard. Kedua, model dari ahli linguistik Ferdinand de Saussere. Namun, dalam
penelitian ini kedua model tersebut tidak akan dibahas begitu mendalam, karena peneliti
akan menggunakan model semiotik Roland Barthes, yang merupakan penerus pemikiran
Saussure.
Seperti telah disebutkan sebelumnya Pierce telah mengungkapkan tiga elemen
semiotik yang utama, yaitu tanda, acuan tanda, dan pengguna tanda (interpretant). Tiga
elemen ini disebut Pierce sebagai teori segitiga makna, atau triangle of meaning (Fiske,
1990 & Littlejohm, 1998). Maka, persoalannya adalah bagaimana makna muncul dari
sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang pada waktu berkomunikasi.25
Hubungan ketiga elemen ini digambarkan Pierce sebagai berikut:
24
Tommy Suprapto, M.S., Pengantar Ilmu Komunikasi Dan Peran Manajemen dalam
Komunikasi, (Yogyakarta: CAPS, 2011), h.94. 25
Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Teknis Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana
Gambar 1 Model Semiotik Pierce
Gambar di atas menunjukkan panah dua arah yang menekankan bahwa
masing-masing istilah dapat dipahami hanya dalam relasinya dengan yang lain. Sebuah tanda,
yang salah satu bentuknya adalah kata, mengacu kepada sesuatu di luar dirinya sendiri –
objek, dan ini dipahami oleh seseorang serta ini memiliki efek di benak penggunanya.
Apabila ketiga elemen makna itu berinteraksi dalam benak seseorang, maka muncullah
makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut. 26
Sementara itu Saussure meletakkan tanda dalam konteks komunikasi manusia
dengan melakukan pemilihan antara apa yang disebut dengan signifier (penanda) dan
signified (petanda). Jadi, ide sentral dalam semiotik adalah konsepsi khusus (particular)
dari struktur sebuah tanda (sign) yang didefinisikan sebagai ikatan antara yang
menandai (signifier) dan yang ditandai (signified).27
Signifier adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek
material), yakni apa yang dikatakan, ditulis, dan dibaca. Sedangkan signified adalah
gambaran mental dari bahasa. Saussure menggambarkan tanda yang terdiri dari atas
signifier dan signified sebagai berikut:
26
Suprapto, M.S., Pengantar Ilmu Komunikasi Dan Peran Manajemen dalam Komunikasi, h.97. 27
Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, Edisi Kedua (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 958
Sign
Gambar 2
Model Semiotik Saussure, Sumber: McQuail, 2000: 31228
Hubungan antara penanda dan petanda tersebut adalah produk kultural.
Hubungan diantara keduanya bersifat arbiter dan hanya berdasarkan konvensi,
kesepakatan atau peraturan dari kultur pemakai bahasa tersebut.
Berdasarkan model pemaknaan ini, petanda-petanda merupakan konsep mental
yang kita gunakan untuk membagi realitas dan mengkategorikannya sehingga kita dapat
memahami realitas tersebut. Petanda dibuat oleh manusia dan ditentukan oleh kultur
atau subkultur yang dimiliki manusia tersebut. 29
5. Model Semiotik Roland Barthes
Semiotik berusaha menggali hakikat sistem tanda yang beranjak keluar kaidah
tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi dan
bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna
tambahan (connotative) dan arti penunjukkan (denotative).30
28
Kriyantono, Teknis Praktis Riset Komunikasi, h.265. 29
Suprapto, M.S., Pengantar Ilmu Komunikasi Dan Peran Manajemen dalam Komunikasi,
h.101. 30
Alex Sobur, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h.126-127.
Sign
Composed of
Signifier Signification
Signified
Referent
Salah satu pakar semiotik yang memfokuskan permasalahan semiotik pada dua
makna tersebut adalah Roland Barthes. Ia adalah pakar semiotik Prancis yang pada
tahun 1950-an menarik perhatian dengan telaahnya tentang media dan budaya pop
menggunakan semiotik sebagai alat teoritisnya. Tesis tersebut mengatakan bahwa
struktur makna yang terbangun di dalam produk dan genre media diturunkan dari
mitos-mitos kuno, dan berbagai peristiwa media ini mendapatkan jenis signifikansi yang sama
dengan signifikansi yang secara tradisional hanya dipakai dalam ritual-ritual
keagamaan.
Dalam terminologi Barthes, jenis budaya populer apapun dapat diurai kodenya
dengan membaca tanda-tanda di dalam teks. Tanda-tanda tersebut adalah hak otonom
pembacanya atau penonton. Saat sebuah karya selesai dibuat, makna yang dikandung
karya itu bukan lagi miliknya, melainkan milik pembaca atau penontonnya untuk
menginterpretasikannya begitu rupa.31
Representasi menurut Barthes menunjukkan bahwa pembentukan makna
tersebut mencakup sistem tanda menyeluruh yang mendaur ulang berbagai makna yang
tertanam dalam-dalam di budaya Barat misalnya, dan menyelewengkannya ke
tujuan-tujuan komersil. Hal ini kemudian disebut sebagai struktur.32
Sehingga, dalam semiotik Barthes, proses representasi itu berpusat pada makna
denotasi, konotasi, dan mitos. Ia mencontohkan, ketika mempertimbangkan sebuah
berita atau laporan, akan menjadi jelas bahwa tanda linguistik, visual dan jenis tanda
lain mengenai bagaimana berita itu direpresentasikan (seperti tata letak / lay out,
rubrikasi, dsb) tidaklah sesederhana mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga
31
Ade Irwansyah, Seandainya Saya Kritikus Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2009), h.42. 32
menciptakan tingkat konotasi yang dilampirkan pada tanda. 33 Barthes menyebut
fenomena ini – membawa tanda dan konotasinya untuk membagi pesan tertentu–
sebagai penciptaan mitos.
Untuk itulah, Barthes meneruskan pemikiran Saussure dengan menekankan
interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi
antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh
penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “Two Order of Signification”
[image:33.595.83.521.95.626.2](Signifikansi Dua Tahap).
Gambar 3
Signifikansi Dua Tahap Barthes
Melalui gambar di atas, Barthes, seperti dikutip Fiske, menjelaskan signifikansi
tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda
33
Jonathan Bignell, Media Semiotics: An Introduction, (Manchester and New York: Manchester University Press, 1997) h.16.
First Order Second Order
signs culture
reality
Denotation
Conotation
Myth Signifier
--- Signified
Form
terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Konotasi adalah
istilah yang digunakan Barthes untuk signifikansi tahap kedua. Hal ini menggambarkan
interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca
serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Pada signifikansi tahap kedua yang berkaitan
dengan isi, tanda bekerja melalui mitos. 34
Makna Denotasi:
Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan
sebagainya.35 Makna ini tidak dibisa dipastikan dengan tepat, karena makna denotasi
merupakan generalisasi. Dalam terminologi Barthes, denotasi adalah sistem
signifikansi tahap pertama.
Makna Konotasi:
Makna yang memiliki „sejarah budaya di belakangnya‟ yaitu bahwa ia hanya
bisa dipahami dalam kaitannya dengan signifikansi tertentu. Konotasi adalah mode
operatif dalam pembentukan dan penyandian teks kreatif seperti pusis, novel,
komposisi musik, dan karya-karya seni.36
Mitos:
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang
disebut dengan „mitos‟, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan
pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu37,
34
Sobur, Analisis Teks Media, h.127-128 35
Danesi, Semiotika Media., h.274. 36
Ibid., h.43. 37
jadi mitos memiliki tugasnya untuk memberikan sebuah justifikasi ilmiah kepada
kehendak sejarah, dan membuat kemungkinan tampak abadi.38.
Mitos, oleh Barthes disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan bahwa
mitos merupakan sistem komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Hal ini
memungkinkan kita untuk berpandangan bahwa mitos tak bisa menjadi sebuah objek,
konsep, atau ide; mitos adalah cara penandaan (signification), sebuah bentuk. Segala
sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana.39Dalam mitos, sekali
lagi kita mendapati pola tiga dimensi yang disebut Barthes sebagai: penanda, petanda,
dan tanda. Ini bisa dilihat dalam peta tanda Barthes yang dikutip dari buku Semiotika
Komunikasi, karya Alex Sobur:
3) Signifier (penanda)
4) Signified (petanda)
3. Denotative sign (tanda denotative)
4. CONNOTATIVE SIGNIFIER (PENANDA KONOTATIF)
5.CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF)
6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)
Dari peta Barthes di atas, terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda
(1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga
penanda konotatif (4). Dengan kata lain hal tersebut merupakan unsur material: hanya
jika anda mengenal tanda “singa” barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan
keberanian menjadi mungkin. Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar
38
Roland Barthes, Mitologi, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), h.208. 39
memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang
melandasi keberadaannya.40
B. Tinjauan Umum Film
1. Film Sebagai Representasi Realitas
Secara etimologis, film berarti moving image, gambar bergerak. Awalnya, film
lahir sebagai bagian dari perkembangan teknologi. Ia ditemukan dari hasil
pengembangan prinsip-prinsip fotografi dan proyektor. Thomas Edison yang untuk
pertama kalinya mengembangkan kamera citra bergerak pada tahun 1888 ketika ia
membuat film sepanjang 15 detik yang merekam salah seorang asistennya ketika sedang
bersin. Segera sesudah itu, Lumiere bersaudara memberikan pertunjukkan film
sinematik kepada umum di sebuah kafe di Paris. 41
Pada titik ini film telah menjadi media bertutur manusia, sebuah alat
komunikasi, menyampaikan kisah. Jika sebelumnya bercerita dilakukan dengan lisan,
lalu tulisan, kini muncul satu medium lagi: dengan gambar bergerak, yang diceritakan
adalah perihal kehidupan. Di sinilah kita lantas menyebut film sebagai representasi
dunia nyata. Eric Sasono menulis, dibanding media lain, film memiliki kemampuan
untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari.
Film dibuat representasinya oleh pembuat film dengan cara melakukan
pengamatan terhadap masyarakat, melakukan seleksi realitas yang bisa diangkat
menjadi film dan menyingkirkan yang tidak perlu, dan direkonstruksi yang dimulai saat
menulis skenario hingga film selesai di buat.
40
Sobur, Semiotika Komunikasi, h.69. 41
Meski demikian, realitas yang tampil dalam film bukanlah realitas sebenarnya.
Film menjadi imitasi kehidupan nyata42, yang merupakan hasil karya seni, di mana di
dalamnya di warnai dengan nilai estetis dan pesan-pesan tentang nilai yang terkemas
rapi. 43
Dalam kajian semiotik, film adalah salah satu produk media massa yang
menciptakan atau mendaur ulang tanda untuk tujuannya sendiri. Caranya adalah dengan
mengetahui apa yang dimaksudkan atau direpresentasikan oleh sesuatu, bagaimana
makna itu digambarakan, dan mengapa ia memiliki makna sebagaimana ia tampil.
Pada tingkat penanda, film adalah teks yang memuat serangkaian citra fotografi
yang mengakibatkan adanya ilusi gerak dan tindakan dalam kehidupan nyata. Pada
tingkat petanda, film merupakan cermin kehidupan metaforis. Jelas bahwa topik film
menjadi sangat pokok dalam semiotik media karena di dalam genre film terdapat sistem
signifikansi yang ditanggapi orang-orang masa kini dan melalui film mereka mencari
rekreasi, inspirasi, dan wawasan pada tingkat interpretant.44
2. Jenis-Jenis Film
Marcel Danesi dalam buku Semiotik Media, menuliskan tiga jenis atau kategori
utama film, yaitu film fitur, film dokumenter, dan film animasi, penjelasannya adalah
sebagai berikut45:
a. Film Fitur
42
Ade Irwansyah, Seandainya Saya Kritikus Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2009) h.12 43
Ekky Al-Malaky, Remaja Doyan Filsafat, Why Not?, (Bandung, DAR! Mizan, 2004) h.139. 44
Danesi, Semiotika Media., h.134. 45
Film fitur merupaka karya fiksi, yang strukturnya selalu berupa narasi,
yang dibuat dalam tiga tahap. Tahap praproduksi merupakan periode ketika
skenario diperoleh. Skenario ini bisa berupa adaptasi dari novel, atau cerita
pendek, cerita fiktif atau kisah nyata yang dimodifikasi, maupun karya cetakan
lainnya; bisa juga yang ditulis secara khusus untuk dibuat filmnya. Tahap
produksi merupakan masa berlangsungnya pembuatan film berdasarkan skenario
itu. Tahap terakhir, post-produksi (editing) ketika semua bagian film yang
pengambilan gambarnya tidak sesuai dengan urutan cerita, disusun menjadi
suatu kisah yang menyatu.
b. Film Dokumenter
Film dokumenter merupakan film nonfiksi yang menggambarkan situasi
kehidupan nyata dengan setiap individu menggambarkan perasaannya dan
pengalamannya dalam situasi yang apa adanya, tanpa persiapan, langsung pada
kamera atau pewawancara. Robert Claherty mendefinisikannya sebagai “karya
ciptaan mengenai kenyataan”, creative treatment of actuality.46
Dokumenter seringkali diambil tanpa skrip dan jarang sekali ditampilkan
di gedung bioskop yang menampilkan film-film fitur. Akan tetapi, film jenis ini
sering tampil di televisi. Dokumenter dapat diambil pada lokasi pengambilan
apa adanya, atau disusun secara sederhana dari bahan-bahan yang sudah
diarsipkan. Dalam kategori dokumenter, selain mengandung fakta, film
dokumenter mengandung subyektivitas pembuatnya. Dalam hal ini
pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan sudut pandang idealisme mereka. Dokumenter merekam
46
Elvinaro Ardianto & Lukiati Komala, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (Bandung:
adegan nyata dan faktual (tidak boleh merekayasanya sedikitpun) untuk
kemudian diubah menjadi sefiksi mungkin menjadi sebuah cerita yang menarik.
c. Film Animasi
Animasi adalah teknik pemakaian film untuk menciptakan ilusi gerakan
dari serangkaian gambaran benda dua atau tiga dimensi. Penciptaan tradisional
dari animasi gambar-bergerak selalu diawali hampir bersamaan dengan
penyusunan storyboard, yaitu serangkaian sketsa yang menggambarkan bagian
penting dari cerita. Sketsa tambahan dipersiapkan kemudian untuk memberikan
ilustrasi latar belakang, dekorasi serta tampilan dan karakter tokohnya. Pada
masa kini, hampir semua film animasi dibuat secara digital dengan komputer.
Salah satu tokohnya yang legendaris adalah Walt Disney dengan film-film
kartunnya seperti Donald Duck, Snow White, dan Mickey Mouse.
3. Unsur-Unsur Pembentuk Film
Film, secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni unsur naratif
dan unsur sinematik, dua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu
sama lain:
1) Unsur Naratif
Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Dalam hal ini
unsur-unsur seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi, waktu adalah
elemen-elemennya. Mereka saling berinteraksi satu sama lain untuk membuat sebuah
jalinan peristiwa yang memiliki maksud dan tujuan, serta terikat dengan sebuah
2) Unsur Sinematik
Unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi sebuah film.
Terdiri dari : (a) Mise en scene yang memiliki empat elemen pokok: setting atau
latar, tata cahaya, kostum, dan make-up, (b) Sinematografi, (c) editing, yaitu
transisi sebuah gambar (shot) ke gambar lainnya, dan (d) Suara, yaitu segala hal
dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera pendengaran.47
4. Struktur Film 1) Shot
Shot adalah a consecutive series of pictures that constitutes a unit of action in a
film, satu bagian dari rangkaian gambar yang begitu panjang, yang hanya
direkam dalam satu take saja. Secara teknis, shot adalah ketika kamerawan
mulai menekan tombol record hingga menekan tombol record kembali.48
2) Scene
Adegan adalah satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang
memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi
(cerita), tema, karakter, atau motif. Satu adegan umumnya terdiri dari beberapa
shot yang saling berhubungan.
3) Sequence
Sequence adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu peristiwa yang
utuh. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa adegan yang saling
47
Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta, Homerian Pustaka, 2009), h.1-2 48
Wahyu Wary Pintoko dan Diki Umbara, How to Become A Cameraman, (Yogyakarta:
berhubungan. Dalam karya literatur, sekuen bisa diartikan seperti sebuah bab
atau sekumpulan bab.49
5. Sinematografi
Sinematografi adalah perlakuan sineas terhadap kamera serta stok filmnya.
Unsur sinematografi secara umum dibagi menjadi tiga aspek, yakni: kamera dan film,
framing, serta durasi gambar. Untuk kebutuhan penelitian ini, framing yang merupakan
hubungan kamera dengan obyek yang akan dijadikan fokus dalam penelitian ini.
a. Jarak
Jarak yang dimaksud adalah dimensi jarak kamera terhadap obyek dalam frame.
Secara umum, dimensi jarak kamera terhadap obyek ini dikelompokkan menjadi
[image:41.595.95.522.149.639.2]tujuh, seperti ilustrasi berikut50:
Gambar 4
Ilustrasi Jarak Kamera Terhadap Obyek
49
Himawan Pratista, Memahami Film, h.29-30 50
1) Extreme Long Shot
Extreme Long Shot merupakan jarak kamera yang paling jauh dari obyeknya.
Wujud fisik manusia nyaris tidak tampak. Teknik ini umumnya
menggambarkan sebuah obyek yang sangat jauh atau panorama yang luas.
2) Long Shot
Pada long shot tubuh fisik manusia telah tampak jelas namun latar belakang
masih dominan. Long shot seringkali digunakan sebagai establishing shot,
yakni shot pembuka sebelum digunakan shot-shot yang berjarak lebih dekat.
Secara umum penggunaan shot jauh ini akan dilakukan jika: mengikuti area
yang lebar atau ketika adegan berjalan cepat, menunjukkan dimana adegan
berada atau menunjukkan tempat, juga menunjukkan progress51.
3) Medium Long Shot
Pada jarak ini tubuh manusia terlihat dari bawah lutut sampai ke atas. Tubuh
fisik manusia dan lingkungan relatif seimbang. Sehingga semua terlihat
netral.
4) Medium Shot
Pada jarak ini meperlihatkan tubuh manusia dari pinggang ke atas. Gesture
serta ekspresi wajah mulai tampak. Sosok manusia mulai dominan dalam
frame.
5) Medium Close-up
51
Wahyu Wary Pintoko dan Diki Umbara, How to Become A Cameraman, (Yogyakarta:
Pada jarak ini meperlihatkan tubuh manusia dari dada ke atas. Sosok tubuh
manusia mendominasi frame dan latar belakang tidak lagi dominan. Seperti
digunakan dalam adegan percakapan normal.
6) Close-up
Umumnya memperlihatkan wajah, tangan, dan kaki, atau obyek kecil
lainnya. Teknik ini mampu memperlihatkan ekspresi wajah dengan jelas
serta gesture yang mendetail. Efek close up biasanya akan terkesan gambar
lebih cepat, mendominasi menekan. Ada makna estetis, ada juga makna
psikologis.52
7) Extreme Close-up
Pada jarak terdekat ini mampu memperlihatkan lebih mendetail bagian dari
wajah, seperti telinga, mata, hidung, dan lainnya atau bagian dari sebuah
objek.
b. Sudut Kamera (Angle)
Sudut kamera adalah sudut pandang kamera terhadap obyek yang berada dalam
[image:43.595.121.470.584.674.2]frame.
Gambar 5
52
Ilustrasi Sudut Kamera53
Secara umum, sudut kamera dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Low angle
Pengambilan gambar dengan low angle, posisi kamera lebih rendah dari
objek akan mengakibatkan objek lebih superior, dominan, menekan, seperti
pada ilustrasi 7.19 dan 7.21.
2) High angle
Kebalikan dari low angle, high angle akan mengakibatkan dampak
sebaliknya, objek akan terlihat imperior, tertekan.
3) Eye level
Sudut pengambilan gambar, subjek sejajar dengan lensa kamera. Ini
merupakan sudut pengambilan normal, sehingga subjek kelihatan netral,
tidak ada intervensi khusus pada subjek. 54
C. Konsep Jihad dalam Islam
1. Pengertian dan Terminologi Jihad
Kata jihad berasal dari kata jahada, berarti setiap usaha yang diarahkan pada
tujuan tertentu dan berupaya dengan kemampuan yang ada berupa perkataan dan
53
Himawan Pratista, Memahami Film, h.107. 54
perbuatan serta ajakan kepada agama yang haq. Dalam tradisi sufisme, jihad dipahami
sebagai pengekangan jiwa (mujâhadah-an nafs). Inilah jihad yang dipandang paling
agung (al-jihâd al-akbar) sedangkan perang adalah jihad kecil (al-jihâd al-ashgar).
Jihad hukumnya fardu kifayah (kewajiban kolektif) bilamana sebagian muslim
telah melaksanakannnya maka gugurlah kewajiban itu dari kaum muslimin. Kewajiban
kolektif yang bersifat sosial ini mendapat penekanan lebih kuat dan lebih rawan
daripada kewajiban individual (fardu „ain). Seperti firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 122 :
Artinya: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali supaya mereka dapat menjaga diri.” (QS Al-Taubah: 122)
Jadi, jihad seperti halnya dengan menuntut ilmu pengetahuan tertentu dan seperti
halnya juga dengan da‟wah, merupakan kewajiban kolektif sosial. Akan tetapi jihad
dalam kondisi tertentu dapat menjadi kewajiban individual: muslim laki-laki maupun
perempuan, bahkan hingga wanita diperbolehkan keluar untuk berjihad tanpa izin
suaminya. Jihad menjadi wajib „aini (kewajiban individual) ketika musuh telah menginjakkan kakinya di bumi Islam.55
55Dr. Muhammad „Imarah,
Di samping pengertian umum tersebut, para ulama juga mendefinisikan tentang
jihad secara khusus, salah satunya Imam Syafi‟i yang menyatakan bahwa jihad adalah
memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam. Pengertian inilah yang mengandung
makna bahwa jihad dikaitkan dengan pertempuran, peperangan, dan ekspedisi militer.
Melihat dari sejarahnya, ayat-ayat tentang jihad yang turun pada periode
Madinah inilah yang menjadi landasannya, diantaranya seperti yang tertulis dalam
firman Allah berikut:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berjihad dengan harta dan jiwa-nya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah.(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Anfal: 72)
Sekarang ini jihad terus memiliki makna yang bermacam-macam. Ia digunakan
untuk menggambarkan perjuangan hidup seseorang dengan mengerjakan kebajikan,
memenuhi tanggung jawab keluarga, membersihkan lingkungan tempat tinggal,
juga digunakan dalam peperangan untuk pembebasan dan perlawanan, demikian juga
untuk menghadapi aksi teror.56
2. Bentuk-Bentuk Jihad Dalam Islam
Secara umum, seperti yang tertulis dalam literatur, Islam mengenal beberapa bentuk
jihad yaitu57:
1. Jihâd „alan-nafsi, yaitu berjuang melawan hawa nafsu.
2. Jihâd bil-lisan, yaitu berjihad dengan lidah.
3. Jihâd bil-qalam, yaitu berjihad dengan pena.
4. Jihâd bit-tarbiyah, yaitu berjihad dengan pendidikan, dengan cara menyebarkan
nilai-nilai Islam dalam masyarakat.
5. Jihâd fi sabilillah, yaitu berjuang dijalan Allah.
Ulama fikih membagi jihad menjadi tiga bentuk, yaitu berjihad memerangi
musuh secara nyata, berjihad melawan setan, dan berjihad terhadap diri sendiri. Lebih
lanjut, Ibnu Qayyim juga menguraikan bahwa jika dilihat dari pelaksanaannya, jihad
dapat dibagi menjadi tiga, yaitu58:
1) Jihad Mutlaq;
Jihad dalam rangka perang melawan musuh di medan pertempuran. Jihad ini
mempunyai persyaratan tertentu, diantaranya perang tersebut harus bersifat defensif,
untuk menghilangkan fitnah, menciptakan perdamaian, dan mewujudkan kebajikan
56
John L. Esposito & Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara! Opini Umat Muslim tentang
Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008), h. 42.
57
Tim Penyusun Pustaka Azet Jakarta, Leksikon Islam, (Jakarta: PT Penerbit Pustazet Pustaka,
1998), h.286. 58
Ibnu Qayyim, dalam Ensiklopedi Islam Jilid 2, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994) h.
dan keadilan. Perang juga tidak dibenarkan bila digunakan untuk memaksakan
ajaran Islam kepada orang yang bukan Islam, unt