Peran sungai terhadap interaksi sosial di sekitar aliran sungai Cidurian Kampung Kabagusan desa kecamatan Curug Bitung kabupaten Lebak Banten

113 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

PERAN SUNGAI TERHADAP INTERAKSI SOSIAL DI SEKITAR ALIRAN SUNGAI CIDURIAN KAMPUNG KEBAGUSAN DESA MAYAK

KECAMATAN CURUG BITUNG LEBAK BANTEN

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Bintang Tresna Prihartini NIM. 109015000158

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Bintang Tresna Prihartini. Peran Sungai Terhadap Interaksi Sosial Di Sekitar Aliran Sungai Cidurian Kampung Kabagusan Desa Mayak Kecamatan Curug Bitung Kabupaten Lebak Banten. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, 2014.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran sungai terhadap interaksi sosial disekitar aliran sungai cidurian kampung kabagusan desa mayak kecamatan curug bitung lebak banten. berdasarkan masalah yang diamati adalah sejauh mana peran sungai terhadap interaksi sosial pada masyarakatnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah wawancara. Pemeriksaan dan pengecekan data dalam menguji credibility dan transferability penelitian ini menggunakan teknik triangulasi metode, dengan menyesuaikan studi dokumentasi, teknik wawancara dan pendalaman observasi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa sungai mempunyai peran penting terhadap interaksi sosial dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena kurangnya hubungan sosial pada masyarakat kampung kabagusan, sehingga sungai mempunyai peran tersendiri untuk menjadi bagian dari proses interaksi sosial. Karena dengan adanya sungai cidurian penduduk kampung kebagusan dapat melakukan proses interaksi sosial sebagaimana agar terjalinnya hubungan sosial yang baik.

(6)

vi

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Solawat beserta salam senantiasa tercurah pada baginda Rasulallah SAW. Alhamdulillah Hirobbil

„alamin atas limpahan rahmat serta karunia-Nya yang tiada batas penulis akhirnya

dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Sungai Terhadap Interaksi Sosial Di Sekitar Aliran Sungai Cidurian Kampung Kabagusan Desa Mayak Kecamatan Curug Bitung Lebak Banten” ini dengan baik.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan. Walaupun waktu, tenaga dan pikiran telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, demi terselesaikannya skripsi ini agar bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Ucapan terimakasih yang tak terhingga atas bimbingan, penghargaan, dukungan serta bantuan dari berbagai pihak kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis sangat berterimakasih kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya yang menjadikan penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Kedua orang tua ku tercinta, Bapak Ceceng Lomri (alm) yang selalu menjadi motivasi saya walaupun beliau telah tiada. Dan Ibu Sultonah, ibunda tercinta yang senantiasa memberikan do’a, motivasi dan dukungan baik moril dan materil kepada penulis dalam penyelesaian skripsi. terimakasih banyak mamah untuk semua perjuanganmu selama ini. Maaf jika teteh belum bisa menjadi anak kebanggaan. Tapi teteh selalu berusaha untuk menjadi anak yang sholehah buat mamah. Terimakasih untuk kasih sepanjang masanya. Semoga ini bisa menjadikan sedikit kebahagiaan dalam hidup mamah. I love you soo much mom.

(7)

vii

skripsi ini.

5. Bapak Syaripulloh M.Si sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan dan kemudahan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Bapak Asep Supriadi selaku Sekretaris Desa yang sudah banyak

membantu dan mempermudah saya memberikan izin penelitian dalam rangka penyusunan skripsi ini.

7. Terimakasih banyak yang tak hingga pula kepada sahabat-sahabatku

tercinta “Necis”, Eka Putri Awwalun Nisa, yang sangat berjasa dari mulai

awal hingga akhir, menemani berkeliling-keliling PU mencari refrensi, menjadi motivator kegalauan hati. Untuk abangku satu-satunya Arif Rahman Hakim, terimaksih banyak atas semua bimbingannya dan sudah menjaga saya selama diperantauan ini. Herlinda Yuspita, yang selalu mengajarkan tentang kata “Yakin” dan „Percaya diri”. Neneng Suwartini, yang selalu sabar untuk semua pertanyaan-pertanyaan saya ketika bingung. Faizah, yang sudah mengajarkan saya sabar. Terimakasih untuk kalian semua sudah hadir dalam hidup saya, menemani, menjaga, dalam suka dan duka. Sungguh tak ada kata yang lebih indah selain dari kata

„Persahabatan” kita. Terimakasih untuk kasih sayang tulus selama

persahabatan kita. Semoga persahabatan kita dapat terus terjalin sampai kakek nenek dan tak lekang oleh waktu.

8. Untuk Aa Azkia Muharom Albantani terimakasih banyak atas motivasi dan bantuannya selama ini. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita dalam merengkuh keberkahannya yang hakiki dalam ikatan suci. 9. Terimakasih juga unuk teman-teman Himpunan Mahasiswa Banten

(HMB) yang selalu memberikan semangatnya.

(8)

viii

untuk mendapatkan sebuah kebanggaan dengan gelar S.Pd. semoga setelah ini saya dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah didapat dikampus tercinta, dengan pengamalan serta keikhlasan untuk mengamalkannya di bumi pertiwi, Amin.

Jakarta, 14 Januari 2014

(9)

ix

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ………. ... iii

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH……… ... iv

ABSTRAK ……… ... v

KATA PENGANTAR ……… ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ………... xi

DAFTAR LAMPIRAN ……….. . xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA BERPIKIR ... 9

A. Peran ... 9

B. Sungai ... 10

C. Interaksi Sosial ... 20

D. Peran Sungai terhadap Interaksi Sosial ... 37

(10)

x

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 42

C. Metode Penelitian ... 43

D. Penelitian Relevan ... 44

E. Teknik Pengumpulan Data ... 45

F. Instrumen Penelitian ... 51

G. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ... 54

H. Analisis Data ... 55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59

A. Gambaran Umum Desa Mayak dan Kampung Kebagusan... 59

B. Sejarah Singkat Kampung Kebagusan ... 67

C. Cerita Sungai Cidurian ... 69

D. Peran Sungai terhadap Interaksi Sosial di DAS Cidurian ... 71

BAB V PENUTUP ... 73

A. Kesimpulan ... 73

B. Saran-saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 75

(11)
(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-kisi instrumen penelitian ... 51

Tabel 3.2 Nama-nama Informan Penelitian ... 52

Tabel 4.1 Nama-nama Struktur Organisasi Desa Maya ... 59

Tabel 4.2 Jumlah RT dan RW di Desa Mayak ……….. 60

Tabel 4.3 Jarak Tempuh ………. 61

Tabel 4.4 Sumber Penghidupan Di Kampung Kabagusan ………. 63

Tabel 4.5 Luas Panen anen,rata-rata Hasil Perhektar dan Produksi padi Sawah Di Desa Mayak ……… 63

Tabel 4.6 Perkebunan Produksi Buah-Buahan Di Desa Mayak ………. Tabel 4.7 Sarana Transportasi Jalan Di Desa Mayak ………. 64

(13)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Uji Referensi Lampiran 2 Dokumentasi

Lampiran 3 Monografi Desa Lampiran 4 Pedoman Wawancara Lampiran 5 Pedoman Observasi Lampiran 6 Data Responden Lampiran 7 Data Hasil Wawancara

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kabupaten Lebak merupakan salah satu Kabupaten di wilayah Provinsi Banten. Luas wilayah kabupaten Lebak 304.47. dengan jumlah penduduk 1.204.095 jiwa (BPS Kab. Lebak). Secara adminsitratif, kabupaten Lebak terdiri dari 28 kecamatan, 340 desa, dan 5 kelurahan. Nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Masyarakat di Kabupaten Lebak yang diperoleh berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susennas ) dengan 3 indikator, yaitu: Indikator Harapan Hidup, Indikator Pendidikan dan Indikator Daya Beli. Secara umum karakter masyarakat di kabupaten Lebak dapat menerima hal-hal baru yang menunjang pembangunan ekonomi, antara lain adanya penanaman modal dari dalam maupun luar negeri, dengan persyaratan yang dilibatkan dalam menjalankan kegiatan.1

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai Perangkat Daerah dalam wilayah kerja kecamatan. Jumlah desa dan kelurahan di kabupaten Lebak pada tahun 2008 sebanyak 340 desa dan 5 Kelurahan yang tersebar di 28 Kecamatan. Perlu diketahui bahwa pada tahun 2006, jumlah desa/kelurahan di kabupaten Lebak sebanyak 315 desa dan 5 kelurahan. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan volume kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, maka dikeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 mengenai pemekaran 25

1

(15)

desa di kabupaten Lebak yang pada akhirnya jumlah desa/kelurahan berjumlah 340 desa dan 5 kelurahan.2

Desa menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1979, menyatakan desa adalah wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai satu kesatuan masyarakat yang mempunyai organisasipemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Republik Indonesia.3 Sedangkan menurut undang-undang no. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah menyebutkan bahwa “istilah desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti; Nagari, Kampung, Huta, Bori, dan

Marga”.4

Masing-masing desa mempunyai ciri-ciri tersendiri terutama perilaku anggota masyarakatnya. Secara umum desa mempunyai hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri dalam arti desa mampu membiayai kegiatan-kegiatan rutin dan pembangunan serta mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat desanya.

Berdasarkan tingkat perkembangannya desa di Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu desa swadaya, dimana pada kegiatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya mereka masih bersifat tradisional. Desa swakarya adalah desa yang keadaannya sudah mulai meningkat dibandingkan desa swadaya, mulai dari pekerjaannya yang mulai beragam, mulai tidak terisolasi, dan mulai memanfaatkan fungsi lembaga-lembaga yang ada di desa. Sedangkan desa swasembada adalah desa yang sudah mampu mengembangkan semua potensi yang ada di desa secara optimal.5

Kampung Kabagusan desa Mayak kecamatan Curug Bitung kabupaten Lebak-Banten adalah bagian dari Provinsi Lebak-Banten, yang merupakan sebuah kampung dimana

2

BP2KBMPD Kabupaten Lebak Provinsi Banten, http://www.lebakkab.go.id /index.php?pilih=hal&id=27

3Undang-undang Republik Indonesia, Tentang Pemerintahan Desa

, (Nomor 5 Tahun 1979), h.2.

4Undang-undang Refublik Indonesia, Tentang Pemerintah Daerah

, (Nomor 22 tahun 1999).

5

(16)

terdapat aliran sungai yang alirannya menjadi perbatasan antara kabupaten Bogor Jawa Berat dan kabupaten Lebak Banten. Sungai ini dinamakan oleh penduduk

setempat dengan sebutan “Cidurian”. Sungai Cidurian ini merupakan salah satu

sumber pemenuhan kebutuhan hidup yang sangat mempunyai arti dan peran yang besar, salah satunya terhadap interaksi sosial pada masyarakat setempat. Aliran sungai tersebut dijadikan tempat mencuci pakaian, mencuci piring dan sebagai pemunuh kebutuhan pertanian dan yang lainnya. Di sinilah biasanya masyarakat setempat secara tidak langsung melakukan interaksi, baik antara inidividu satu dengan yang lain, maupun individu dengan kelompok.

Desa menurut definisi universal, adalah sebuah aglomerasi permukiman diarea pedesaan (rural). Di Indonesia, desa adalah pembagian wilayah administrative di Indonesia dibawah kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Desa.6

Menurut Bintarto, desa adalah suatu perwujudan geografi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis, politik, dan budaya di suatu wilayah dalam hubungan dengan pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lain. Dalam kehidupan sehari-hari, desa sering disebut dengan istilah “kampung”, yaitu suatu daerah yang letaknya jauh dari keramaian kota dan dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian di bidang agraris. Suatu daerah dikatakan desa, jika masih memiliki ciri khas yang dapat dibedakan dengan daerah lain di sekitarnya. Berdasarkan pengertian Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Dirjen Bangdes), desa memiliki empat ciri yaitu :

1) Perbandingan lahan dengan manusia (man land ratio) cukup besar. 2) Lapangan kerja yang dominan adalah sektor pertanian (agraris). 3) Hubungan antar warga desa masih sangat akrab.

4) Sifat-sifat masyarakatnya masih memegang teguh tradisi yang berlaku.

Pola keruangan desa menurut pengertian lama, kehidupan masyarakat pedesaan dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut :

6

(17)

1) Desa dan masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan alam. 2) Iklim dan cuaca mempunyai pengaruh besar terhadap petani sehingga warga

desa banyak tergantung pada perubahan musim. 3) Keluarga desa merupakan unit sosial dan unit kerja.

4) Jumlah penduduk dan luas wilayah desa tidak begitu besar. 5) Kegiatan ekonomi mayoritas agraris.

6) Masyarakat desa merupakan suatu paguyuban. 7) Proses sosial di desa umumnya berjalan lambat. 8) Warga desa pada umumnya berpendidikan rendah.7

Seperti halnya yang telah dikemukakan diatas, kampung kabagusan desa Mayak kecamatan Curug Bitung kabupaten Lebak adalah masyarakat yang masih menggantungkan kehidupannya pada alam, juga sangat memperhatikan hubungan sosial mereka dimana daerah aliran sungai (DAS) ini sangat berperan penting dalam kehidupan mereka.

Pada umumnya masyarakat mencuci dan mandi di sungai disebabkan karena mereka tidak memiliki kamar mandi atau sumur di rumah mereka. Ada juga kebiasaan dari masyarakat yang sudah memiliki kamar mandi, sumur bahkan pompa air, tetapi masih melakukan kegiatan tersebut di sungai. Kalau kita melihat tindakan dan perilaku masyarakat tersebut, sangatlah tidak bisa dikaji dan ditelusuri dengan akal murni kita. Apabila ditinjau dari segi medis, perilaku mereka sangatlah tidak sehat. Tetapi bila ditinjau dari segi sosiologis, mereka melakukan kegiatan mandi dan mencuci di sungai tersebut disebabkan karena sungai merupakan pusat terjadinya pola-pola hubungan sosial. Fenomena inilah yang terjadi di kampung Kabagusan desa Mayak kecamatan Curug Bitung kabupaten Lebak-Banten dikarenakan sungai yang biasa disebut Cidurian inilah mereka dapat berinteraksi dengan individu lain serta mengekspresikan diri mereka. Daerah tepian sungai merupakan wilayah yang sangat subur dimana alirannya menjadi pembatas antara kabupaten Lebak dan kabupaten

7

(18)

Bogor. Sungai Cidurian mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat serta menjadi agen penting untuk saling berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam bahasa Inggris masyarakat adalah society yang pengertiannya mencakup interaksi sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan.8 Sedangkan menurut Herbert Spencer masyarakat adalah “suatu organisme berevolusi menurut pertumbuhan manusia seoerti tubuh yang hidup, masyarakat bermula seperti kuman yang berasal dari massa yang dalam, segala hal dapat di bandingkan dengan massa itu

dan sebagian di antaranya akhirnya dapat didekati”.9

Manusia mempunyai naluri untuk bergaul dengan sesamanya semenjak dia dilahirkan ke dunia. Hubungan dengan sesamanya merupakan suatu kebutuhan bagi setiap manusia sehingga dia akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya, seperti untuk diterima orang lain, untuk menjadi anggota satu kelompok, diakui, dan seterusnya. Definisi lain menyatakan bahwa masyarakat dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap dirinya sebagai satu kesatuan sosial.10

Manusia berinteraksi dengan sesamanya dalam kehidupan untuk menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila manusia dalam hal ini orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama.11 Pada masyrakat kampung Kabagusan, mereka melakukan pergaulan hidup untuk menghasilkan sebuah interaksi ketika melakukan kegiatan disekitar aliran sungai Cidurian. Dalam hubungan antara seorang manusia dengan manusia lainnya, resonansi mempunyai arti yang penting sekali. Resonansi sebagai jawaban timbal balik dari perasaan-perasaan dan kecenderungan,

8

Wawan Setiadi, Pengertian Masyarakat, http://wawan-junaidi.blogspot.com/2012/03/ pengertian-masyarakat.html, diakses pada Rabu, 23 Januari 2013.

9

Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), cet. Pertama, h. 156.

10

Op. cit, h. 74

11

(19)

mempertalikan sesama manusia dan ikut menyebabkan meluasnya “aku’ menjadi

“kita”.12

Dilihat dari permasalahan diawal latar belakang yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dalam suatu masyarakat tentu tidak akan mampu hidup menjadi seorang yang individu untuk bertahan hidup. Tentunya manusia akan selalu membutuhkan bantuan orang lain sebagai mahluk sosial salah satunya adalah manusia atau individu membutuhkan teman untuk berinteraksi dengan individu lainnya dalam kehidupan. Dengan adanya pemasalahan ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian skripsi berjudul “PERAN SUNGAI TERHADAP INTERAKSI DI SEKITAR ALIRAN SUNGAI CIDURIAN (Studi Kasus Interaksi Sosial Pada Masyarakat Kampung Kabagusan Desa Mayak Kecamatan Curug Bitung Kabupaten Lebak)”.

B. Identifikasi Masalah

Dalam latar belakang di atas, masalah yang dapat teridentifikasi yaitu kurang adanya interaksi antar warga masyarakat jika mereka sedang tidak berada di sungai Cidurian Kampung Kabagusan Desa Mayak Kecamatan Curugbitung Kabupaten Lebak Banten.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang sudah dijelaskan di atas serta untuk memudahkan pembahasan dalam skripsi ini dan juga untuk menjaga agar penelitian lebih fokus dan terarah, serta tidak menimbulkan keraguan dan salah penafsiran maka masalah yang diteliti dibatasi pada :

a) Peran sungai bagi masyarakat kampung Kabagusan desa Mayak kecamatan Curugbitung Kabupaten Lebak.

12

(20)

D. Perumusan Masalah

Berdasaarkan pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah yang akan dikaji pada penelitian ini yaitu:

Bagaimana hubungan antara peran sungai dengan interaksi sosial masyarakat disekitar aliran sungai Kampung Kabagusan Kecamatan Curug Bitung Kabupaten Lebak Banten?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui peran sungai terhadap interaksi di sekitar aliran Sungai Cidurian Kampung Kabagusan Desa Mayak Kecamatan Curugbitung Kabupaten Lebak Banten.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Diharapkan dengan adanya penelitian ini masyarakat setempat lebih mengetahui Peranan sungai terhadap interaksi sosial bagi mereka.

2. Setelah diadakannya peelitian ini diharapkan masyarakatnya bisa menjaga kebersihan daerah aliran sungai

3. Bagi penulis dapat memberikan pengalaman berharga dan menambah ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sosiologi.

4. Bagi mata pelajaran sosiologi tentunya tidak akan lagi dipandang sebagai suatu mata pelajaran yang membosankan, melainkan menjadi mata pelajaran yang menantang karena kita dapat terjun langsung ke lapangan.

(21)

8

BAB II

DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Peran

Ada beberapa makna dari peran, jika kita telisik lebih jauh lagi maka kita akan banyak mendapatkan makna dari kata “peran”. Kata peran dapat kita jelaskan satu persatu, salah satunya dapat dijelaskan dengan melihat beberapa terjemahan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna yang Pertama, suatu penjelasan historis menyebutkan, konsep peran semula dipinjam dari keluarga drama atau teater yang hidup subur pada jaman Yunani Kuno (Romawi). Dalam arti ini, peran menunjuk pada karakteristik yang disandang untuk dibawakan oleh seseorang aktor dalam sebuah pentas drama. Kedua, suatu penjelasan yang menunjuk pada konotasi ilmu sosial, yang mengartikan peran sebagai suatu fungsi yang dibawakan seseorang ketika menduduki suatu karakteristik (posisi) dalam struktur sosial.

Ketiga, suatu penjelasan yang lebih bersifat operasional, menyebutkan

bahwa peran seorang aktor adalah suatu batasan yang dirancang oleh aktor lain, yang kebetulan sama-sama berada dalam satu

“penampilan/unjuk peran (role performance.13

Pengertian Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.

Sedangkan Konsep tentang Peran (role) menurut Komarudin ( 1994;768 ) dalam buk “ensiklopedia manajemen“ mengungkap sebagai berikut :

1. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen 2. Pola prilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status 3. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata 4. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik

yang ada padanya

13

(22)

5. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.14

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil pengertian bahwa peranan merupakan penilaian sejauh mana fungsi seseorang atau bagian dalam menunjang usaha pencapaian tujuan yang ditetapkan atau ukuran mengenai hubungan 2 (dua) variabel yang merupakan hubungan sebab akibat.

Fungsi peran disini digantikan bukan kepada manusia atau posisi manusia. Peran disini diartikan lebih kepada fungsi fisik yaitu peran sungai terhadap interaksi sosial masyarakat kampung Kabagusan desa Mayak kecamatan Curug Bitung kabupaten Lebak-Banten.

B. Sungai

1. Pengertian Sungai

Manusia sebagai mahluk hidup yang tentunya tidak dapat lepas dari peran air sebagai salah satu kebutuhan pokok bagi keberlangsungan hidup, Keberadaan air menjadi salah satu wujud kekuasaanNya. Air dapat berupa laut, danau, dan juga sungai. Berbicara tentang sungai maka tidak dapat dipisahkan dengan daerah aliran sungai dimana daerah aliran sungai merupakan jalan yang membawa sungai tersebut kepada batas muaranya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ sungai aliran yang besar (biasanya buatan alam) itu dapat dilayari kepedalaman. Bawah tanah airan sungai yang mengalir melaui ruang antara yang sangat besar, seperti gua yang

bersambungan”.15

Berbicara tentang sungai maka berkaitan pula dengan daerah aliran sungai menurut UU no. 7 tahun 2004, “Daerah aliran sungai (DAS) merupakan ruang di mana sumber daya alam, terutama, vegetasi, tanah dan air, berada dan tersimpan serta tempat hidup manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai wilayah daerah aliran sungai juga dipandang sebagai ekosistem dari daur air sehingga DAS didefinisikan sebagai suatau wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-

14

Solid Converter Pdf. tt

15

(23)

anak sungainya.. yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau kelaut secara alami. Batas didarat merupakan pemisah topografi dan batasdilaut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas

daratan”.16

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tata ruang sumber daya alam salah satunya adalah daerah aliran sungai yang berfungsi sebagai tempat bertahan hidup bagi mahluk hidup yang ada di dunia, termasuk untuk bertahan hidup manusia.

Selanjutnya dijelaskan oleh Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai,Kementrian Kehutanan Badan Penelitian Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi.

“Daerah aliran sungai yang dipandang sebagai ekosistem tata air dan digunakan sebagai unit pengelolaan sumber daya alam vegetasi, tanah dan air yang rasional, merupakan wilayah daratan dengan batas alam berupa punggung-punggung bukit sehingga tidak selalu bisa berhimpitan dengan batas adminitrasi pemerintahan. Dengan demikian perbedaan batas wilayah tersebut tidak perlu dipertentangkan tetapi perlu ditata keselarasannya, agar keterkaitan antar wilayah adiministrasi dalam satuan DAS bisa terhubung secara serasi melalui jalinan daur hidrologi. Penggunaan Das sebagai satuan wilayah pengelolaan adalah untuk memberikan pemahaman secara rasional dan obyektif bahwa setiap kegiatan yang dilakukan disuatu tempat (on site) dibagian hulu DAS memiliki dampak atau implikasi ditempat lain (off site) dibagian hilir DAS. Atau sebaliknya bahwa pemanfaatan sumber daya alam diwilayah hilir merupakan hasil dari daerah hulu yang secara daerah otonomi atau administrasi berbeda wilayah pengelolaannya”.17

Dapat disimpulkan bahwa selain merupakan ekosisitem yang sangat penting bagi kehidupan mahluk hidup, daerah aliran sungai perlu ditata keselarasannya agar daerah aliran sungai dapat berfungsi dengan baik. Jika sudah berfungsi dengan baik maka daerah aliran sungai hulu tengah dan hilir pun dapat berfungsi dengan baik pula.

16

UU no. 7 tahun 2004, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, tentang Sungai, no. 38 tahun 2011

17

(24)

seperti yang dikemukakan oleh Chay Asdak bahwa “ dalam mempelajari ekosistem DAS, daerah aliran sungai biasanya dibagi menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. Secara biogeofisik daerah hulu das dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar, bukan merupakan deaerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, dan jenis vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan. Sementara daerah hilir DAS, dicirikan sebagai berikut: daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah kemiringan lereng yang kecil, pada beberapa tempat merupakan daerah banjir atau genangan, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi, dan jenis vegetasi didominasi hutan.18

Seperti yang dijelaskan pula dalam jurnal penelitian bahwa “Ekosistem

DAS merupakan satu unit kesatuan ekologis yang paling mantap. dalam ekosistem DAS berbagai tata guna lahan, bentuk geomorfologi, flora dan fauna, bangunan fisik serta manusia dan aktifitasnya bersama-sama menyusun kesatuan ekosistem tersebut.19

Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Sungai merupakan jalan air alami yang mengalir menuju samudera, danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai, air hujan yang turun di daratan dapat mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan penghujung sungai dimana sungai bertemu laut yang dikenal sebagai muara sungai. Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air dan limpasan bawah tanah.

18

Chay Asdak, hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002), cetakan kedua, h.11

19

(25)

Seperti dijelaskan oleh Lisenly bahwa “DAS sebagai suatu hamparan wilayah atau kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada sungai utama kelaut atau ke danau.20

Dari berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa Daerah Aliran Sungai adalah sebuah kawasan yang menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kesungai utama yang bermuarake danau atau ke laut. sungai sangat mempunyai peran penting dalam keidupan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari manusia, terutama pada masyarakat yang sangat bergantung terhadap keberadaan sungai. Sebelum mencapai badan air lainnya, terlebih dahulu air meresap ke dalam tanah. Air hujan yang turun pun jatuh ke tanah, kemudian mengalir melalui sungai lalu terbawa sampai ke muara sungai. Sungai bermula dari mata air yang mengalir ke beberapa anak sungai. Kemudian anak – anak sungai itu bergabung membentuk sungai utama. Ujung dari perjalanan sungai tersebut adalah muara sungai. Daerah aliran sungai akan bisa digunakan dan dimanfaatkan ketika masyarakat mampu menjaga kebersihan sekitar daerah aliran sungai untuk kelangsungannya.

Sungai mempunyai debit aliran air yang dapat dibedakan menjadi tiga: a) Sungai Permanen

Sungai permanen adalah sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap stabil dan tidak dipengaruhi oleh musim.

b) Sungai Periodik

Sungai periodik adalah sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak dan bisa juga meluap, sedangkan pada musim kemarau airnya kecil atau menyusut.

c) Sungai Episodik

20

(26)

Sungai Episodik yang aliran airnya ada hanya di musim hujanadalah sungai yang pada musim kemarau airnya kering dan pada musim hujan airnya banyak.

Daerah aliran sungai terdapat bagian hulu, tengah, dan hilir. Dimana bagian-bagian tersebut mempunyai peranannya masing.

1. Bagian Hulu Daerah Aliran Sungai

Hulu sungai atau kepala sungai adalah bagian sungai yang letaknya paling jauh dari muara, tempat suatu sungai bermula, dan tempat

sumber-sumber airnya berlokasi. Hulu atau hulu-hulu sungai ini bisa jadi memiliki

nama yang lain daripada sungai utamanya. Seperti diketahui, sebuah

sungai biasanya terbentuk dari beberapa anak sungai, yang masing-masing

anak sungai akan terbentuk dari beberapa anak cabang lagi dan seterusnya,

yang secara keseluruhan membentuk suatu daerah aliran sungai. Pada

bagian hulu inipun terdapat aliran air yang deras serta batu-batu yang besar.

Bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.

2. Bagian Tengan Daerah Aliran Sungai

Pada bagian ini aliran air sudah agak tenang, batu-batuan juga sudah tidak besar lagi dan erosi yang terjadi ke samping/horizontal.

DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.

3. Bagian Hilir Daerah Aliran Sungai

(27)

dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air,kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.

Dari berbagai penjelasan diatas peneliti berkesimpulan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu daerah yang dibatasi atau dikelilingi oleh garis ketinggian di mana setiap air yang jatuh di permukaan tanah akan dialirkan melalui satu induk dan dialirkan melalui anak sungai. Anak sungai-sungai inilah yang nantinya membagi aliran sungai kepada anak-anak sungai lainnya atau dengan kata lain sungai dapat bercabang. Setelah dialirkan maka sungai akan menacapai titik alirannya pada suatu desa dan kota. Sungai kemudian terdapat bagiannya antara hulu, tengah dan hilir. Daerah hulu berperan sebagai konservasi dan pelindung. Dimana bagian hulu sangat berpengaruh terhadap bagian tengah dan hilir. Daerah aliran sungai memiliki fungsi yang hampir sama yaitu sebagai kebutuhan kelangsungan hidup manusia. hanya saja bagian hulu sebagai induk dari sungai bagian tengah dan hilir, dimana debit sungainya masih deras dan bersih, karena rata-rata bagian hulu terdapat di hutan dan belum dekat lokasinya dengan rumah penduduk. Sedangkan bagian tengah debit aliran sudah tidak begitu deras. Bagian tengah biasanya sudah terdapat pemukiman berupa pedesaan. Dimana sungai merupakan salah satu kebutuhan pokok untuk melakukan berbagai macam aktifitas karena masyrakat masih sangat mengandalkan atau bergantung pada sungai untuk mencuci,mandi, dan sebagai alat pertanian. Pada bagian hilir biasanya sungai sudah termasuk pada pencemaran. Dimana sungai terdapat dipinggiran kota. Selain itu sungai sudah mulai adanya erosi yang akan berpengaruh besar terhadap sungai dan juga berdampak pada masyrakatnya.

(28)

Menurut Achmad Lutfi, pada dasarnya pencemaran air sungai di indonsia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu:21

1) Berkembangnya Industri-industri di Indonesia

Dewasa ini industri-industri di Indonesia semakin berkembang, baik jumlah, teknologi, tingkat produksi maupun limbah yang di hasilkan. Industri-industri khususnya yang berada didekat aliran sungai cenderung akan membuang limbahnya ke dalam sungai yang dapat mencemari ekosistem air, karena pembuangan limbah industri ke dalam sungai dapat menyebabkan berubahnya susunan kimia, bakteriologi, serta fisik air.

2) Belum tertanganinya pengendalian limbah rumah tangga

Limbah rumah tangga yang belum terkendali merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya air sungai.Karena dari limbah rumah tangga dihasilkan beberapa zat organik dan anorganik yang dibuang dan dialirkan melalui selokan-selokan dan akhirnya bermuara ke sungai.Selain dalam bentuk zat organik dan anorganik, dari limbah rumah tangga bisa juga membawa bibit-bibit penyakit yang dapat menular pada hewan dan manusia sehingga menimbulkan epidemi yang luas di masayarakat.

3) Pembuangan limbah pertanian tanpa melalui proses pengolahan

Limbah pertanian biasanya dibuang ke aliran sungai tanpa melalui proses pengolahan, sehingga dapat mencemari air sungai karena limbah pertanian mengandung berbagai macam zat pencemar seperti pupuk dan pestisida. Penggunaan pupuk di daerah pertanian akan mencemari air yang keluar dari pertanian karena air ini mengandung bahan makanan bagi ganggang dan tumbuhan air seperti enceng gondok sehingga ganggang dan tumbuhan air tersebut mengalami pertumbuhan dengan cepat yang dapat menutupi permukaan air dan berpengaruh buruk pada ikan-ikan dan komponen ekosistem biotik lainnya. Penggunaan pestisida juga dapat menggagu ekosistem air karena pestisida bersifat toksit dan akan mematikan hewan-hewan air, burung dan bahkan manusia.

Dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga kelestarian alam salah satunya adalah air, maka manusia perlu mempunyai kesadaran untuk menjaga demi keberlangsungan kehidupan nanati dimasa yang akan datang. Peran sungai dalam

21

Nabilah Hassa, Sungai dan Manfaatnya,

(29)

kehidupan amatlah penting, menjaga kebersihan lingkungan adalah salah satu upaya yang yang paling sederhana yang dapat dilakukan. Apalagi untuk masyarakat ataupun penduduk yang tempat tinggalnya dekat dengan bantaran sungai dan melakukan kegiatan sehari-hari disekitar aliran sungai sanat penting menjaga kebersihan daerah aliran sungai.

C. Interaksi Sosial

1. Pengertian Interaksi dan Interaksi Sosial

Dalam kehidupan sehari-hari sering sekali kita mendengar kata interaksi maupun interaksi sosial,atau bahkan kita sendiri setiap harinya melakukan interaksi baik secara individu, ataupun kelompok dengan keluarga, teman, dan kelompok sosial. Kata interaksi dan interaksi sosial sendiri tidak jauh berbeda artinya, dua-duanya memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai stimulus sehingga terjadinya komunikasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ interaksi hal saling melakukan

aksi, berhubungan, memengaruhi, antarhubungan” sedangkan interaksi sosial “ hubungan sosial yang dinamis antara perseorangan dan perseorangan, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok”.22

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa interaksi adalah suatu hubungan antara mahluk yang hidup di dunia, baik hewan beserta tumbuhan meraka pada dasarnya saling melakukan interaksi. Sedangkan interaksi sosial terjadi ketika adanaya dorongan atau stimulus dari “seseorang” yang dimaksud adalah manusia sehingga terciptanya respon dari yang lainnya. Interaksi tidak bersifat statis pada saat terjadinya seseorang yang memberikan stimulus kepada seseorang agar terciptanya respon saja, tetapi ada respon yang lain setelahnya. Seperti dijelaskan pula definisi interaksi sosial secara definitive, “interaksi sosial sendiri berarti adanya hubungan atau dua orang atau lebih yang perilaku atau

(30)

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa terjadinya interaksi sosial itu dengan adanya respon yang diberikan. Tetapi dengan semakin majunya teknologi sekarang ini interaksi sosial dapat dilakukan dengan berbagai macam melalui media dan jejaring sosia. pemberian respon dalam interaksi sosial pun tidak hanya terjadi dengan bertatap muka. Respon juga akan terjadi pada saat individu dan individu berinteraksi melalui via telephone, email, dan yang lainnya.

Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.Manusia adalah mahluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hokum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan, dan mati, serta berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik baik positif maupun negatif. Manusia pada dasarnya sebagai mahluk hidup memiliki dua sisi yaitu manusia sebagai mahluk individu, dan mahluk sosial. Sebagai mahluk individu tentunya manusia memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur jiwa dan raga. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sedangkan manusia dikatakan sebagai mahluk sosial dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.

Sedangkan menurut “Cooley berpendapat bahwa looking-glass self

terbentuk melalui tiga tahap. pada tahap pertama, seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap kedua, seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga, seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu”.24

Dengan pendapat tersebut jelas sekali bahwa manusia sebagai mahluk hidup tentunya tidak bisa hanya menjadi mahluk individu saja, namun juga harus

24

(31)

menjadi mahluk sosial yang perlu berinteraksi dengan orang lain untuk kelangsungan hidupnya.

Seperti dijelaskan pula oleh Erving Goffman, menrutnya interaksi yang saling menghadapkan satu sama lain menjadi benang penjalin kehidupan sosial. Dengan demikian proses interaksi antara dua orang bisa jadi bersifat rapuh. Itu sebabnya proses interaksi tersebut diatur oleh “ritual interaksi” (aturan kesopanan, cara berbicara, dan sebagainya).25

Kebutuhan untuk mengadakan hubungan dengan sesamanya, didasarkan pada keinginan manusia untuk mendapatkan :

1. Kepuasan dalam mengadakan hubungan serta mempertahankannya yang lazimnya disebut kebutuhan inklusi.

2. Pengawasan dan kekuasaan, yang disebut sabagai kebutuhan akan kontrol.

3. Cinta dan kasih sayang, yaitu kebutuhan akan afeksi.

Manusia dalam kehidupannya tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.

Manusia adalah makhluk sosial yang sepanjang hidupnya bersosialisasi dengan

orang lain dalam proses interaksi. Interaksi sosial menghasilkan banyak bentuk

sosialisasi. Bisa berupa interaksi antar individu, interaksi individu dengan

kelompok, dan interaksi antara kelompok. Sedangkan syarat terjadinya interaksi

sosial adalah terjadi kontak sosial dan terjadi komunikasi.

Menurut Talcott Parson, tindakan dalam interaksi sosial dipengaruhi oleh

dua macam orientasi sebagai berikut. Yang pertama adalah orientasi motivasional

yaitu orientasi yang bersufat pribadi yang menunjuk pada keinginan individu yang

bertindak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang kedua adalah orientasi

nilai-nilai yang bersifat sosial, yakni orientasi yang menunjuk pada

standar-standar normative, seperti wujud agama dan tradisi setempat.26

Konsep lain yang juga penting diperhatikan dalam bahasan mengenai

interaksi sosial ialah konsep definisi situasi (the definition of the situation) dari W.

25

Philippe Cabin, Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya, (Yogyakarta: Kreasi wacana, 2004), h. 199

26

(32)

I. Thomas (1968). Berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa interaksi

manusia merupakan pemberian tanggapan ( response ) terhadap rangsangan

(stimulus), maka menurut Thomas seseorang tidak segera memberikan reaksi

manakala ia mendapat rangsangan dari luar. Menurutnya tindakan seseorang

selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan. Rangsangan dari luar

diseleksi melalui proses yang dinamakan definisi atau penafsiran situasi. Dalam

proses ini orang yang bersangkutan memberi makna pada rangsangan yang

diterimanya itu. Definisi situasi yang menurut Thomas dibuat oleh masyarakat itu

merupakan aturan yang mengatur interaksi manusia. Aturan apa sajakah yang

menuntut perilaku manusia di kala mereka berinteraksi? dalam bukunya Symbols,

Selves, Society: Understanding interaction David a. Karp dan W.C. Yoels

Menyebutkan tiga jenis aturan, yaitu aturan mengenai ruang, mengenai waktu, dan

mengenai gerak dan sikap tubuh.27

3. Macam – Macam Interaksi Sosial

Menurut Maryati dan Suryawati interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu:28

a. Interaksi antara individu dan individu

Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Dikatakan interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Dan dikatakan interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan). Interaksi tentunya terjadi antara orang perorangan saja dan tidak ada campur tangan suatu kelompok.

b. Interaksi antara individu dan kelompok

Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam-macam sesuai situasi dan kondisinya.

c. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok

interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Interaksi ini lebih mencolok ketika terjadi perbenturan kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok.

27

Kamanto sunarto, Pengantar Sosiologi, Edisi revisi, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2004) hal. 37

28

(33)

4. Faktor-Faktor Terjadinya Interaksi

Dalam proses interaksi terdapat faktor-faktor terjadinya interaksi yaitu : 1. Faktor Imitasi

Faktor imitasi dalam proses interaksi sosial mempunyai peranan sangat penting. Diantaranya mempunyai dampak positif dan negatif. Dimana faktor imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Namun imitasi dapat pula berdampak negatif apabila yang ditiru adalah adalah tindakan-tindakan yang menyimpang.

2. Faktor Sugesti

Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Proses ini sebenarnya hampir sama dengan imitasi tetapi titik tolaknya saja berbeda. Contoh misalkan yang memberikan sugesti adalah orang yang berpengaruh dalam masyarakat.

3. faktor identifikasi

Faktor identifikasi dalam interaksi sosial merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang dengan orang lain. Identifikasi lebih mendalam dengan imitasi, secara tidak disadari ataupun disengaja proses identifikasi akan terbentuk dengan sendirinya ketika seseorang begitu mengenal sosok yang di ideal kan dalam kehidupannya.

4. Faktor Simpati

(34)

5. Syarat – Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Seperti yang dijelaskan oleh Soerjono Soekanto bahwa suatu interaksi terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat sebagai berikut :29

1. Adanya kontak sosial (social-contact)

Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (bersama-sama) dan tango (menyentuh). Jadi secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik kontak terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah, misalnya saja seorang anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi (Socialization), yaitu proses dimana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota. Yang kedua anatara orang-perorangan dengan suatu kelompok terjadi apabila seorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat yang telah ada dan ditentukan. Yang ketiga yaitu, antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya mengadakan kerjasama dengan kepentingan dan tujuan yang sama.30

2. Adanya Komunikasi

Komunikasi adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu atau individu dengan kelompok dalam kehidupan masyarakat.31 Dalam hal ini seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang tersebut kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

6. Bentuk – Bentuk Interaksi Sosial

Menurut pendapat Tim Sosiologi, interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu :

a. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk- bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :

1) Kerja sama

Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

2) Akomodasi

Akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiologi untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi

29

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Revisi-45 (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) hal. 58

30

Op. cit, 59

31

(35)

untuk menunjuk pada suatu proses dimana mahluk-mahluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya.32

3) Asimilasi

Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.

b. Sedangkan bentuk-bentuk yang bersifat disosiatif adalah yakni yang mengarah kepada bentuk-bentuk pertentangan atau konflik, seperti : 4) Persaingan (Competition)

Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan kehidupan. Persaingan mempunyai dua tipe umum yakni yang bersifat pribadi dan tidak pribadi. Persaingan terjadi dalam bentuk persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, persaingan ras. Persaingan dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.

5) Kontravensi

Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.

32

(36)

a) Konflik

Konflik adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut. Di kampung kabagusan yang menjadi tempat penelitian, peneliti tidak menemukan konflik yang besar yang dapat menyebabkan pemisah diantara interaksi masyarakat. Konflik yang terjadi hanya sebatas salah faham yang tidak berkepanjangan dan menyebabkan pengaruh besar terhadap kerukunan masyarakat.

7. Teori Interaksi

Dasar-dasar interaksi sosial dalam sosiologi bermula dari pemikiran Max Weber mengenai tindakan sosial mengenai tindakan sosial (social action). Gagasan social action dari Weber ini merupakan konsep baru yang berbeda dari pemikir sosiologi sebelumnya seperti Durkheim yang mencetuskan bahwa kajian utama sosiologi terletak pada fakta sosial. Bagi Weber, struktur sosial membantu untuk membentuk tindakan manusia yang penuh arti dan makna.

Salah satu persoalan yang seringkali muncul dalam teori-teori sosial ialah tentang hubungan antara individu dan masyarakat. Bagaiamana masyarakat membentuk individu-individu atau sebaliknya bagaimana individu-individu menciptakan, mempertahankan dan mengubah masyarakat.dalam hal apa saja masyarakat dan kepribadian mempunyai hubungan timbal balik tetapi juga terpisah satu sama lain. Dalam hal ini, perhatian baru lebih diarahkan kepada pemahaman tentang proses-proses interaksi sosial dan akibat-akibatnya bagi individu dan masyarakat. Hal seperti inilah menjadi pokok perhatian dari perspektif interaksionisme simbolik.

(37)

ini semakin penting artinya jika kita merenungkan bahwa lingkungan ini merupakan lingkungan alam dan lingkungan manusia”.33

Interaksi simbolis merupakan aliran siosiologi Amerika yang lahir dari tradisi psikologi. Karya-karya para psikolog Amerika seperti William James,James Mark Baldwin dan John Dewey telah mempengaruhi sosiologi Charles H. Colley, yang kemudian membantu pengembangan teori psikologi sosial dalam sosiologi Amerika. Walau walau dalam sejarah interaksi simbolis Colley dan Thomas merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya filosofi George Herbert Mead, seorang warga Amerika awal abad ke Sembilan belas dan

seangkatan dengan mereka, yang sering dianggap sebagai sesepuh paling berpengaruh dari persepektif ini. Mead setuju dengan megembangkan suatu kerangka yang menekankan arti penting perilaku terbuka (overt) atau obyektif, dan tertutup (Covert) atau subyektif. Didalam aliran sosiologi posisi Mead berada diantara subyektivisme ekstrim dari Colley yang melihat masalah pokok sosiologi sebagai hanya imajinasi-imajinasi, dan obyektivisme ekstrim Durkheim, yang menganggap fenomena sosial yang konkrit atau fakta-fakta sosiallah yang tepat bagi analisa sosiologi.

Menurut Margaret M. Poloma “Dalam pandangan interaksionisme simbolis manusia bukan dilihat sebagai produk yang ditentukan oleh struktur atau situasi obyektif, tetapi paling tidak sebagian merupakan aktor-aktor yang bebas.34

Istilah interaksionisme simbolik yang digunakan pertama kalinya oleh Herbert Blumer, pada dasarnya merupakan satu perspektif psikologi sosial. Perspektif ini memusatkan perhatiannya pada analisa hubungan antar pribadi. Kendati istilah ini digunakan pertama kalinya oleh Blumer, dalam kenyataanya, beberapa pemikir sebelum dia telah memberikan sumbangan penting bagi perkembangan perspektif ini.35

33

Peter LBerger dan Thomas Luckman, Tafsir Sosial Atas Kenyataan Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan, (Jakarta: LP3ES IKAPI, 2012), cetakan ke-9, h. 65.

34

Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004), cetakan ke-enam, h. 256

35

(38)

Interaksionisme simbolik merupakan cabang kedua dari behaviorisme sosial. Meskipun berbagai problem dan solusi umumnya telah berjalan parallel terhadap sugesti peniruan atau beberapa teori pluralism behavioral. Aliran interaksi simbolik berasal berasal dari Amerika terutama berada di bawah pengaruh paham pragmatis yang faktanya bisa dimasukkan ke dalam klasifikasi asli sebagai pragmatis bagi mereka filsafat neoHegelian dan Psikologi eksperimen idealistic merupakan hal yang sekunder.

a. William James

James adalah orang pertama yang mengembangkan secara jelas konsep tentang self (diri). Menurut dia, manusia mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai obyek. Dalam kemampuan itu, ia bisa mengembangkan suatu sikap dan perasaan terhadap dirinya. Lebih lanjut ia juga dapat membentuk tanggapan-tanggapan terhadap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu. James menyebutkan kemampuan-kemampuan ini dalam membentuk cara-cara seseorang menanggapi dunia di sekitarnya.36

b. Charles Horton Cooley

Cooley menjelaskan dua hal tentang self. Pertama, dia melihat self sebagai proses dimana individu-individu bisa melihat diri mereka sendiri sebagai obyek bersama dengan obyek-obyek lainnya di dalam lingkungan sosial mereka. Kedua,dia mengakui bahwa self muncul dari komunikasi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan orang lain, seorang individu menafsirkan gerak-gerik orang lain dan dengan demikian dia dapat melihat dirinya berdasarkan sudut pandangan orang lain. Dengan demikian mereka membentuk gambaran-gambaran

tentang diri sendiri. Cooley menamakan proses ini “looking glass self”. Dia juga

mengakui bahwa self muncul dari interaksi berdasarkan konteks kelompok. Dialah yang mengambangkan konsep tentang kelompok primer yang cukup menentukan perkembangan kepribadian seseorang.

c. John Dewey

Sebagai pendukung utama pragmatisme, dewey memusatkan perhatiannya pada proses penyesuaian diri manusia terhadap dunia. Menurut dia, keunikan

36

(39)

manusia muncul dari proses penyesuaian diri dengan kondisi-kondisi hidupnya. Dewey menegaskan bahwa yang unik dalam diri manusia adalah kemampuannya untuk berpikir. Selama hidupnya dia berusaha untuk memahami kesadaran manusia.

Sekalipun para pemikir ini menyajikan sejumlah konsep yang berhubungan dengan interaksionisme simbolik, namun mereka tidak berhasil membuat satu sintese atau sistematisasi mengenai perspektif itu. Interaksionisme simbolik berkembang menjadi satu perspektif dalam sosiologi berkat usaha dua teoritikus terkenal, yakni George Herbert Mead dan Herbert Blumer. G.H.mead adalah pencetus dari teori ini sedangkan blumer, yang tidak lain adalah murid dari Mead, mengembangkan ajaran gurunya itu. Pada bagian berikut ini kita akan menguraikan beberapa pokok pikiran mengenai teori ini.37

d. George Herbert Mead

George Herbert Mead lahir tahun 1863 Massachusetts, tetapi pindah selagi dia masih kecil ke Oberlin, Ohio, tempat Seminari Teologi Oberlin, dimana ayahnya Hiram Mead mengajar. George Herbert Mead menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mengajar di Universitas Chicago di sana dia menulis banyak artikel dan tidak pernah menulis buku. Bukunya yang berjudul Mind, Self and Society baru diterbitkan sesudah ia meninggal. Buku itu merupakan kumpulan yang diterbitkannya di Universitas Chicago. Dalam buku itu, dia mendiskusikan antara lain tentang Mind, Self dan Society.

a) Mind (Akal Budi)

Mead memandang akalbudi (mind) bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai satu proses sosial. Menurut dia, akalbudi manusia secara kualitatif berbeda dengan binatang. Yakni kebanyakan tindakan manusia melibatkan satu proses mental. Artinya antara Aksi dan Reaksi terdapat suatu proses yang melibatkan pikiran atau kegiatan mental. Simbol-simbol arti tersebut bisa berbentuk gerak-gerik fisik tetapi bisa juga dalam bahasa. Kemampuan untuk menciptakan dan menggunakan

37

(40)

bahasa merupakan hal yang membedakan manusia dari binatang. Bahasa memampukan kita untuk menanggapi bukan hanya simbol-simbol yang berbentuk gerak-gerik tubuh melainkan juga symbol-simbol yang berbentuk kata-kata. Guna mempertahankan keberlangsungan suatu kehidupan sosial, maka para aktor harus mengahyati simbol-simbol dengan arti sama.

Mead juga menekankan pentingnya fleksibilitas dari akalbudi (mind) itu. Selain menghayati symbol yang sama dengan arti yang sama. Fleksibilats memungkinkan interaksi biarpun dalam situasi tertentu orang tidak mengerti arti dari stimulus atau symbol yang diberikan. Symbol-simbol Verbal adalah penting bagi Mead karena kita selalu dapat mendengarkan diri sendiri walaupun kita mungkin tidak sellau bisa melihat tanda gerak-gerik fisik kita.

Konsep tentang arti sangat penting bagi mead. Perbuatan bisa mempunyai arti kalau kita bisa menggunakan akal budi untuk menempatkan diri kita di dalam diri orang lain, sehingga kita bisa menafsirkan pikiran-pikirannya dengan tepat. Namun di sini, Mead mengatakan bahwa arti atau meaning itu aslinyatidak berasal dari akal budi melainkan meaning itu aslinya tidak berasal dari akal budi melainkan dari situasi sosial. Dengan kata lain, situasi sosial memberi arti kepada sesuatu.

b) Self (diri)

(41)

kemampuan untuk mengambil bagian dalam percakpannya sendiri dengan orang lain, kemampuan untuk menyadari apa yang dikatakannya dan kemampuan untuk menggunakan kesadaran itu untuk menentukan apa yang dilakukan pada tahap berikutnya.

Menurut Mead, Self itu mengalami perkembangan melalui proses sosialisi. Ada tiga tahap dalam proses sosialisasi itu yakni tahap bermain. Dalam tahap ini, seorang anak bermain dengan peran-peran dari orang-orang yang dianggap penting olehnya.tahap keduadalam proses pembentukan konsep tentang diri adalah tahap pertandingan. Pada tahap ini, seorang anak terlibat dalam suatu tingkat organisasi yang lebih tinggi. Tahap ketiga ialah Generalized Other. Generalized Other adalah harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, standar-standar umum dalam masyarakat. Dalam tahap ini, seorang anak mengarahkan tingkah lakunya berdasarkan standar-standar umum atau harapan-harapan masyarakat atau norma-norma kehidupan masyarakat.

c) Society (Masyarakat)

(42)

Penjelasan Mead tentang pikiran atau kesadaran manusia (mind or human consciousness) sejalan dengan evolusi ini, dia melihat pikiran manusia sebagai sesuatu yang muncul dalam proses evolusi alamiah. Pemunculan itu memungkinkan manusia menyesuaikan dirinya lebih efektif dengan alam. Dengan memungkinkan manusia menyesuaikan dirinya lebih efektif dengan alam. Dengan berpikir, individu sering dapat melewati prosedur trial-and-eror yang biasanya terjadi dalm perjalanan beberapa generasi jenis manusia yang bersifat subhuman.38

Menurut Mead, orang tak hanya menyadari orang lain tetapi juga mampu menyadari dirinya sendiri. Dengan demikian orang tidak hanya berinetraksi dengan orang lain, tetapi secara simbolis dia juga berinteraksi dengan dirinya sendiri. Interaksi simbolis ini dilakukan dengan bahasa sebagai satu-satunya symbol yang terpenting, dan melalui isyarat. Simbol in bukan merupakan fakta-fakta yang sudah jadi. Simbol berada dalam proses yang kontinu. Proses penyampaian makna inilah yang merupakan subject matter dari sejumlah analisa kaum interaksionisme simbolik.39

Dapat disimpulkan dari berbagai penjelasan, bahwa Mead menekankan bahwa konsep diri muncul didalam interaksi karena individu mengambil peran orang lain dan memandang dirinya sendiri sebagai obyek menurut perspektif orang lain. Namun individu bukanlah sekedar pemantul pasif terhadap pandangan-pandangan serta penilaian-penilaian orang lain yang bersifat sementara. Seperti yang dijelaskan oleh Mead dalam konsep mengenai generalized other mengemukakan bahwa konsep diri bisa menggabungkan ideal-ideal abstrak yang mengatasi reaksi-reaksi individu tertentu yang bersifat khusus. Dalam beberapa kasus, reaksi-reaksi khusus dari orang lain itu dapat gagal dalam mendukung konsep diri seseorang yang bersifat abstrak atau ideal. Umumnya seseorang akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan suatu konsep diri yang

38

Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern Jilid II, (Jakarta: PT. Gramedia, 1986), h. 8.

39

(43)

diidealkannya secara khusus, kalau reaksi mendukung atau menyetujui yang datang dari orang lain itu tidak pernah diterima.orang bisa memilih orang-orang untuk bekerja sama dalam menampilkan suatu identitas peran tertentu. Tetapi bisa juga lain, orang bisa memilih orang-orang untuk bekerja sama dalam menampilkan suatu identitas tertentu yang menjamin adanya suatu reaksi yang mendukung. Mereka bisa menginterpretasi atau salah menginterpretasi reaksi-reaksi orang lain supaya sedapat mungkin melihat dirinya dari sudut yang mneguntungkan. Konsep diri yang di idealkan tidak perlu harus selalu harus merupakan sesuatu yang bersifat positif atau memuaskan hati. Konsep diri kitalah yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap tindakan kita, atau pilihan terhadap teman bergaul. Setiap tindakan yang kita tampilkan dalam hal tertentu merupakan ungkapan dari konsep diri kita.

e. Herbert Blumer

Bagi Blumer interaksionisme simbolik bertumpu pada tiga premis yaitu : 1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang

ada pada sesuatu itu bagi mereka.

2) Makna tersebut berasal dan “interaksi sosial seseorang dengan orang

lain”

3) Makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung.40

Menurut Blumer aktor memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan, dan mentransformir makna dalam hubungannya dengan situasi dimana dia ditempatkan dan diarahkan tindakannya. Interpretasi seharusnya tidak dianggap hanya sebagai penerapan makna-makna yang telah ditetapkan, tetapi sebagai suatu proses pembentukan dimana makna yang dipakai dan disempurnakan sebagai instrument bagi pengarahan dan pembentukan tindakan.

Dengan demikian bagi Blumer studi masyarakat harus merupakan studi dari tindakan bersama, ketimbang pransangka terhadap apa yang dirasanya sebagai sistem yang kabur dan berbagai prasyarat fungsional yang sukar

40

(44)

dipahami. Blumer melanjutkan ide dengan menunjukan bahwa kehidupan kelompok yang demikian merupkan respon pada situasi-situasi dimana orang menemukan dirinya. Interaksionisme simbolik yang diketengahkan Blumer

mengandung sejumlah “root image” atau ide-ide dasar, yang dapat diringkas

sebagai berikut :

a. Masyarakat terdiri dari manusia yag berinteraksi. Kegiatan tersebut saling bersesuaian melalui tindakan bersama, membentuk apa yang dikenal sebagai organisasi atau struktur sosial.

b. Interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi-interaksi nonsimbol mencakup stimulus- respon yang sederhana, seperti halnya batuk untuk membersihkan tenggorokan seseorang. Interaksi simbolis mencakup “penafsiran tindakan”. Bila dalam pembicaraan seseorang berpura-pura batuk ketika tidak setuju dengan pokok-poko yang diajukan oleh si pembicara., batuk tersebut menjadi suatu symbol yang berarti yang dipakai untuk menyampaikan penolakan. Bahasa tentu saja merupakan symbol berarti yang paling umum.

c. Obyek-obyek tidak mempunyai makna yang intrinsic, maka lebih merupakan produk interaksi simbolis. Obyek-obyek dapat dklasifikasikan kedalam tiga kategori yang luas yaitu; obyek fisik, sosial, dan obyek abstrakseperti nilai-nilai hak dan peraturan.

d. Manusia tidak hanya mengenal obyek eksternal, mereka dapat melihat dirinya sebagai obyek. Pandangan terhadap dirinya sendiri , sebagaimana dengan semua obyek, lahir disaat interaksi simbolik. e. Tindakan manusia adalah tindakan interpretative yang dibuat oleh

manusia itu sendiri.

D. Peranan Sungai terhadap Interaksi Sosial

(45)

interaksi untuk berbagai kepentingan. Dari dulu sampai saat ini sungai masih mempunyai peranan penting dalam interaksi antar warga masyarakat. Walaupun di tempat pemukiman warga telah adanya fasilitas untuk MCK, warga merasa lebih puas apabila melakukan kegiatan MCK dan mencuci pakaian di sungai dikarenakan warga merasa ada kepuasan tersendiri yang dirasakan ketika melakukan kegiatan tersebut.dan bisa saling berinteraksi dengan tetangganya. Seperti yang telah dijelaskan oleh berbagai tokoh mengenai interaksi sosial, bahwa interaksi sosial merupakan terjadinya kontak sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Masyarakat kampung Kabagusan desa

Mayak kecamatan Curug Bitung kabupaten lebak juga melakukan interaksi disekitar aliran sungai Cidurian seperti saling menyapa, berbincang sambil mencuci dan membicarakan banyak hal bersama para tetangga lainnya ketikan masyarakat kampung sekitar melakukan kegiatan rutinitas Mandi cuci yang sedang mandi juga. Banyak hal yang mereka bicarakan dari mulai hal-hal yang terkecil sampai kepada hal yang besar. Dari pembicaraan yang positif sampai kepada yang negatif. Aktivitas warga aliran sungai telah dimulai dari sejak shubuh. Yang dilakukan pun bermacam-macam, ada yang hanya sengaja untuk mengambil wudhu saja, mencuci piring, pakaian, dan ada yang hanya untuk mandi.

Figur

Tabel 3.1 Kisi-kisi instrumen penelitian ......................................................
Tabel 3 1 Kisi kisi instrumen penelitian . View in document p.12
gambar, kutipan, guntingan koran dan bahasa referensi lain”.54
gambar, kutipan, guntingan koran dan bahasa referensi lain”.54 . View in document p.55
tabel dibawah ini:
tabel dibawah ini: . View in document p.58
Tabel 3.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Tabel 3 1 Kisi kisi Instrumen Penelitian . View in document p.59
Tabel 3.2 Nama-nama Informan Penelitian
Tabel 3 2 Nama nama Informan Penelitian . View in document p.60
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.66
Tabel 4.2 Jumlah RT dan RW di Desa Mayak
Tabel 4 2 Jumlah RT dan RW di Desa Mayak . View in document p.67
Tabel 4.3 Jarak dari Kampung Ke Ibu Kota Desa, Ibu Kota Kecamatan, Ibukota
Tabel 4 3 Jarak dari Kampung Ke Ibu Kota Desa Ibu Kota Kecamatan Ibukota . View in document p.68
Tabel 4.4 Sumber Penghidupan Di Kampung kabagusan
Tabel 4 4 Sumber Penghidupan Di Kampung kabagusan . View in document p.70
Tabel 4.5 Luas Panen,rata-rata Hasil Perhektar dan Produksi padi Sawah
Tabel 4 5 Luas Panen rata rata Hasil Perhektar dan Produksi padi Sawah . View in document p.70
Tabel 4.6 Perkebunan
Tabel 4 6 Perkebunan . View in document p.71
Tabel 4.8 Kondisi Jalan di Desa Mayak
Tabel 4 8 Kondisi Jalan di Desa Mayak . View in document p.72
Tabel 4.9 Sarana Jembatan Di Desa Mayak
Tabel 4 9 Sarana Jembatan Di Desa Mayak . View in document p.73
Gambar Peta Desa Mayak Kecamatan Curug Bitung Kabupaten Lebak-Banten
Gambar Peta Desa Mayak Kecamatan Curug Bitung Kabupaten Lebak Banten . View in document p.91
Gambar Aliran Sungai Kampung Kebagusan
Gambar Aliran Sungai Kampung Kebagusan. View in document p.93

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :