Hubungan Pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH

DAN SEHAT(PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA

DI DESA MARINDAL KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN

DELI SERDANG

DEWI HARAHAP

145102050

KARYA TULIS ILMIAH

PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)
(4)

Abstrak

Latar belakang : Diare menempati peringkat ke – 2 penyebab kematian anak di bawah lima tahun, lebih dari setengah kejadian diare di asia dan afrika. Di Indonesia khusus nya di sumatera utara angka kematian yang diakibatkan oleh diare pada balita dari keseluruhan kabupaten dan kecamatan pada tahun 2012 berjumlah 200 – 300 per 1000 penduduk, yang di sebabkan oleh Pengetahuan Dan Perilaku kesehatan limgkungan yang buruk masyarakat Kabupaten Deli Serdang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2013 hanya 36 %

Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Metodologi : Penelitian ini bersifat deskriftif analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sample menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dengan jumlah sample 100 orang pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan chi Square dengan Continuity correction.

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari uju Statistik Chi squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan Ibu dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal. Hasil uju statistikChi Squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal

(5)

2

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT(PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA MARINDAL KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN DELI SERDANG Abstrak

Latar belakang : Diare menempati peringkat ke – 2 penyebab kematian anak di bawah lima tahun, lebih dari setengah kejadian diare di asia dan afrika. Di Indonesia khusus nya di sumatera utara angka kematian yang diakibatkan oleh diare pada balita dari keseluruhan kabupaten dan kecamatan pada tahun 2012 berjumlah 200 – 300 per 1000 penduduk, yang di sebabkan oleh Pengetahuan Dan Perilaku kesehatan limgkungan yang buruk masyarakat Kabupaten Deli Serdang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2013 hanya 36 %

Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Metodologi : Penelitian ini bersifat deskriftif analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sample menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dengan jumlah sample 100 orang pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan chi Square dengan Continuity correction.

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari uju Statistik Chi squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan Ibu dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal. Hasil uju statistikChi Squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat ALLAH Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan KTI ini dengan judul “Hubungan Pengetahuan dan perilaku hidup

bersih dan sehat(PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang”.

Penyusunan KTI ini telah banyak memperoleh bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns, M.Kep. Selaku Ketua program studi D-IV Bidan Pendidik Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Juliandi Harahap, MA. Selaku pembimbing KTI yang telah banyak memberikan masukan dan nasehat pada penulis.

4. Ibu Farida Linda Sari Siregar S.kep Ns.M.kep selaku dosen penguji I 5. Ibu Evi Karota Bukit, S.Kp. M.Ns selaku dosen penguji II

6. Seluruh dosen dan staf pegawai administrasi program studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara.

7. Orang Tua dan saudara yang penulis cintai yang telah memberikan dukungan serta doa yang tiada henti-hentinya kepada penulis dalam membuat KTI ini.

8. Seluruh teman D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Sumatera Utara, yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam menyelesaikan KTI ini.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga KTI ini bermanfaat bagi kita semua.

(7)

4

DEWI HARAHAP

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR SKEMA ... ... iii

DAFTAR TABEL ... ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Pengertian Diare ... 7

B. Pengertian PHBS ... ... 18

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL ... ... 23

(8)

B. Hipotesis ... ... 24 C. Defenisi Operasional ... ... 24

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... ... 26

(9)

6

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... ... 39

A. Hasil Penelitian ... ... 39 B. Pembahasan ... ... 55

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN...

... 69 A. Kesimpulan ... ... 69 B. Saran ... ... 70

(10)

DAFTAR SKEMA

Skema 1. Kerangka konsep hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada

(11)

8

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 3.1 Defenisi Operasional ... 25

Tabel 4.1 Jumlah sampel yang diambil diDesa ... 29

Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden Ibu di Desa Marindal ... 38

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu ... 40

Tabel 5.3 Distribusi Responden berdasarkan perilaku ... 42

Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Diare ... 42

Tabel 5.5 Distribusi hubungan pengetahuan dengan kejadian Diare pada balita ... 43

(12)

Abstrak

Latar belakang : Diare menempati peringkat ke – 2 penyebab kematian anak di bawah lima tahun, lebih dari setengah kejadian diare di asia dan afrika. Di Indonesia khusus nya di sumatera utara angka kematian yang diakibatkan oleh diare pada balita dari keseluruhan kabupaten dan kecamatan pada tahun 2012 berjumlah 200 – 300 per 1000 penduduk, yang di sebabkan oleh Pengetahuan Dan Perilaku kesehatan limgkungan yang buruk masyarakat Kabupaten Deli Serdang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2013 hanya 36 %

Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Metodologi : Penelitian ini bersifat deskriftif analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sample menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dengan jumlah sample 100 orang pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan chi Square dengan Continuity correction.

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari uju Statistik Chi squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan Ibu dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal. Hasil uju statistikChi Squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal

(13)

2

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT(PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA MARINDAL KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN DELI SERDANG Abstrak

Latar belakang : Diare menempati peringkat ke – 2 penyebab kematian anak di bawah lima tahun, lebih dari setengah kejadian diare di asia dan afrika. Di Indonesia khusus nya di sumatera utara angka kematian yang diakibatkan oleh diare pada balita dari keseluruhan kabupaten dan kecamatan pada tahun 2012 berjumlah 200 – 300 per 1000 penduduk, yang di sebabkan oleh Pengetahuan Dan Perilaku kesehatan limgkungan yang buruk masyarakat Kabupaten Deli Serdang melakukan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2013 hanya 36 %

Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Metodologi : Penelitian ini bersifat deskriftif analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sample menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dengan jumlah sample 100 orang pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan chi Square dengan Continuity correction.

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari uju Statistik Chi squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan Ibu dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal. Hasil uju statistikChi Squaer memperoleh nilai p = 0,001 dapat di simpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian Diare pada balita di Desa Marindal

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Diare merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang utama untuk

anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. World Health Organization (WHO)

menyatakan kematian anak di bawah usia 5 tahun mencapai angka 6,9 juta anak

pada tahu 2011 dari 14 % dari kematian tersebut di sebabkan oleh diaita tiap

tahunya di sdere di perkirakan 2,5 miliar anak di bawah umur lima tahun

menderita diare tiap tahunya di seluruh dunia, lebih dari setegah kasus

Kalimantan barat permaslahanya diare di sebebkan oleh lingkungan dan

buruknya perilaku kesehatan masyarakat. peningkatan kualitas anak berperan

penting sejak masa dini kehidupan, yaitu masa dalam kandungan bayi, dan

sampai anak balita. Kelangsungan hidup anak adalah anak tidak meninggal pada

awal kehidupanya sampai mencapai usia di atas lima tahun ( Depkes RI, 2011)

Mengingat Indonesia memiliki beban yang sangat berat karena wilayah

yang sangt luas serta jumlah penduduk yang banyak dan sangat heterogen. Upaya

untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada balita dengan tujuan

pembagunan millennium atau Millennium development goals (MDGS). nomor 4

yaitu penurunan angka kematian anak sampai dua – pertiganya pada tahun 2015.

Penyebab kematian anak terbanyak saat ini masih di akibatkan oleh diare, dan

pneumonia akibat keterlambatan mengakses pelayanan kesehatan (Widjaja,

(15)

10

Angka kematian anak adalah jumlah jumlah kematian anak berusia 1 -

5 tahun selama 1 tahun tertentu per 1.000 anak pada usia yang sama pada

pertengahan tahun. angka kematian anak mencerminkan kondisi kesehatan

lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka

kematian anak akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk (Anik,

2010)

Menurut data World Health Organization ( WHO ) pada setiap negara

tahun 2009 diare adalah penyebab kematian kedua pada anak di bawah 5 tahun,

data di negara maju seperti Singapore 3 per 1.000, kematian Brunai Darussalam

8 per 1.000 kematian dan di Thailand 1, 3 kali lebih tinggi dari negara

berkembang di Indonesia menduduki rangking ke 6 angka kematian balita jika di

bandingkan dengan negara – negara asean lainya yakni, 3, 4 kali lebih tinggi

permasalahn diare disebabkan oleh lingkungan dan buruknya perilaku kesehatan

masyarakat (Sadikin, 2011)

Angka kejadian diare di Sumatera utara berdasarkan data yang di peroleh

di dinas kesehatan porvinsi Sumatera utara, kasus kejadian diare di kota medan

sepanjang tahun 2011 sebanyak 29, 375 kasus, sedangkan di tahun 2012, kasus

diare di provinsi Sumatera utara sebanyak 215, 651 kasus dengan rincian 212.729

kasus mendapat pelayanan sarana kesehatan sedangkan, tahun 2012 kasus diare

sebanyak 222.682 kasus.dengan rincianya 220,460 kasus di sarana kesehatan dan

2, 222 di temukan di masyarakat. Selain Medan diare tahun 2011 kejadian

terbanyak di Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah 17, 529 kasus, Kabupaten

(16)

korban meninggal dan di Kabupaten Simalungun sebanyak 29, 769 kasus

(Depkes, 2013)

Tingginya angka kejadian diare pada balita banyak disebabkan oleh

beberapa faktor diantaranya adalah perilaku, dan pengetahuan. Perilaku hidup

bersih dan sehat masyarakat di kabupaten deli serdang kurang baik, sebab pada

tahun 2011 angka kejadian diare hasil pemantauan sebanyak dari 129 412 rumah

tangga yang di pantau hanya 3,6 07% rumah yang berperilaku hidup bersih dan

sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat yang baik di puskesmas patumbak hanya

di lakukan sebanyak 37, 07% keluarga. Tingkat pengetahuan mengenai perilaku

yang buruk dapat mempengaruhi kejadian diare. Hubungan antara pengetahuan

dan perilaku hidup bersih dan sehat , oleh karena itu semakin meningkatnya

pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat juga dapat semakin baik

dengan demikian resiko diare menurun ( Ramdiati, 2012)

Survai awal 30 desember 2014 di dinas kesehatan provinsi Sumatera utara

angka kematian yang di akibatkan oleh diare pada balita dari keseluruhan

Kabupaten dan Kecamatan 200 – 320 per 1000 penduduk (Dinkes, 2012) faktor –

faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare adalah pngetahuan dan perilaku,

lingkungan, praktik penyapihan yang buruk, dan malnutrisi. Diare dapat menyebar

melalui praktik – praktik yang tidak higienis seperti penyiapan makanan dengan

tangan yang belum dicuci, setelah buang air besar atau membersihkan tinja

seorang anak serta memberikan seorang anak bermain di daerah mana ada tinja

yang terkontaminasi bakteri penyebab diare (Depkes, 2010)

Berdasarkan uraian di atas maka penulis perlu untuk mengadakan

(17)

12

( PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Marindal Kecamatan

Patumbak Kabupaten Deli Serdang tahun 2015

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, yang menjadi rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan pengetahuan dan

perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada balita usia 1 – 5

tahun di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang tahun

2015?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan

pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan dengan

kejadian diare pada balita di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten

Deli Serdang tahun 2015

2.Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu yang memiliki balita tentang penyakit

diare di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

tahun 2015

b. Mengidentifikasi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) dengan

kejadian diare pada balita di Desa Marindal Kecamatan Patumbak

Kabupaten Deli Serdang tahun 2015

c. Mengidentifikasi kejadian diare pada balita di Desa Marindal Kecamatan

(18)

D.Manfaat Penelitian

1. Manfaat secara teoritis

a. Sebagai salah satu sumber informasi tentang hubungan antara pengetahuan

dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian dan upaya

pencegahan penyakit diare pada balita.

b. Sebagai pengembangan ilmu kesehatan khususnya tenaga kesehatan yang

di bagian kebidanan yang berhubungan dengan pengetahuan dan

perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada balita, upaya

pencegahan dan penaggulangan penyakit diare.

2. Bagi Dinas Kesehatan Dan Puskesmas

a. Memberikan masukan dalam membuat kebijakan untuk meningkatkan

pelayanan kesehatan di masyarakat.

b. Sebagai bahan masukan dalam merencanakan program untuk upaya

pencegahan penyakit diare khususnya pada balita

c. Bagi Masyarakat / Keluarga

Menimbulkan kesadaran bagi keluarga atau masyarakat akan pentingnya

upaya pencegahan penyakit diare, serta kecepatan dan ketepatan dalam

memberikan pertolongan baik secara mandiri maupun dengan

pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.

3. Bagi Peneliti

Untuk meningkatkan wawasan pengetahuan dan sebagai sumber

informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya, yang berhubungan

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diare 1. Pengertian

Diare adalah pengeluaran feses yang tidak nomal dan cair. Atau buang

air besar yang tidak normal dan berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak

dari biasanya. Bisa di artikan diare adalah sebuah penyakit dimana tinja atau

feses berubah menjadi lembek atau cairan yang biasanya terjadi paling sedikit

tiga kali dalam 24 jam. kematian balita, dan juga membunuh lebih dari normal

frekuensi buang air besar pada bayi usia 0- 6 bulan adalah 1- 7 kali atau bahkan

hanya 1 - 2 kali dalam sehari. Bayi usia 0 -6 bulan (Non Asi) adalah sehari 3 - 4

kali atau sampai hanya 1 - 2 kali dalam sehari. Usia di atas 6 bulan Biasanya 3- 4

kali dalam sehari sama seperti orang dewasa. jika frekuensi orang BAB bayi

masih dalam rentang di atas berarti normal dengan catatan tidak di sertai

penurunan berat badan atau gejala lain. Oleh karena itu, Penyakit diare biasanya

berlangsung beberapa hari, dan akan hilang tanpa pengobatan. Akan tetapi

adapula penyakit diare yang berlangsung selama berminggu 2,atau lebih. Atas

dasar itulah penyakit diare digolongkan menjadi diare akut dan diare kronis

(Nanny, 2011)

Diare adalalah penyakit yang muncul secara sporadiasi, musiman, yang

terjadi pada bayi dan balita yang ditandai dengan muntah, demam, dan diare

(20)

Rotavirus adalah penyebab utama diare nosokomial bada bayi yang terdapat

adanya infeksi (Ronal, 2010)

Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Buangan air

besar yang tidak normal dalam bentuk tinja cair dalam frekuensi yang lebih

banyak dari biasanya. Bayi atau balita dikatakan diare apabila sudah lebih dari 3

x buang air besar, sedangkan neonates dikatakan diare lebih dari 4x buang air

besar (Yongky, 2012)

Diare adalah defeksi encer dan berwarna hijau lebih dari 4 x dalam sehari,

konsistensi kadang – kadang disertai dengan darah dan lendir atau lender saja

(Anik, 2010)

Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu,

sedangkan diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari dua minggu.diare

terjadi ketika makanan dan cairan yang dimakan atau diminum berlalu terlalu

cepatatau terlalu besar jumlahnya pada saluran pencernaan( usus). Secara normal

usus besar akan menyerap cairan dari makan yang di konsumsi dan akan

meninggalkan kotoran ( tinja). Yang setengah padat, akan tetapi kmetika cairan

dari makana yhang dikonsumsi tidak di serap, maka hasilnya adalah kotoran (

feses) yang cair atau encer. Penyakit diare mugkin berhubungan dengan infeksi

firus atau bakteri atau terkadang efek dari keracuna makanan. diare pada anak

dapat menyebabkan dehidrasi, dan juga demam di atas 38,5 C diare dengan tinja

berdarah warna merah atau hitam, mulutnya kering atau menagis tanpa air mata,

terlihat sering mengantuk dan mata cekung, pipi, tugor kulit menurun. Inilah yang

(21)

16

Pada dasarnya semua diare adalah gangguan trasportasi larutan usus ,

adanya perpindahan air melalui membran usus berlangsung secara pasif dan hal

ini di tentukan oleh aliran larutan secara aktif maupun pasif, terutama natrium ,

klorida, dan glukosa.

Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau yang

tidak seperti biasanya, di tandai dengan peningkatan volume keenceran, serta

frekwensi lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lender darah (Depkes, 2010)

Diare adalah keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali sehari

pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feces encer, dapat berwarna

hijau atau dapat pula bercampur lendir, dan darah ( Ngastiyah, 2005)

2. P enyebab diare

Banyak faktor penyebab yang berhubungan dengan kejadian diare,

diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Faktor infeksi

Infeksi enternal adalah infeksi saluran pencernaan yang merupakan

penyebab utama yang mengakibatkan diare pada anak. Rotavirus

merupakan penyebab utama infeksi sekitar (70% - 80%), sedangkan

bakteri, virus dan parasit penyebab diare ada beberapa golongan bakteri

yaitu :

1) Aeromonas hidrophilia

2) Bacill cereus

3) Campylobacter jejuni

4) Clostridium perfringens

(22)

6) Salmonella sp

7) Shingella sp

8) Vibrio parahaemoliticus

9) Yersinia enterocolitica

10)Staphylococcus aureus

Sedangkan golongan virus diantaranya adalah :

1)Adenovirus

2)Rotavirus

3)Virus Norwalk

4)Astovirus

5)Calicivirus

6)Coronavirus

7)Minirotavirus

8)Virus bulat kecil

Sedangkan dari golongan parasit diantaranya adalah :

1)Blantidium

2)Capillaria

3)Cryptosporidium

4)Entamoeba histolytica

5)Giardia lambia

b. Infeksi parasit, adalah cacing, sedangkan infeksi jamur adalah radang

tonsil, dan radang teggorokan, dan keracunan makanan

c. Faktor malabsorbsi adalah (gangguan penyerapan zat gizi) artinya,

(23)

18

terjadi kejadian tersebut tanpa ada toleransii laktosa, lemak dan

protein.gejalnya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di

daerah perut. Sedangkan malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan

terdapat lemak yang disebut dengan triglyserdia, dengan bantuan kelenjar

lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap di salurkan ke usus.

Jika tidak ada lipase yang terjadi adalah kerusakan mukosa usus, diare

dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik

d. Faktor makanan

Faktor makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan basi,tercemar,

beracun,terlalu banyak lemak,mentah ( sayuran) yang kurang matang.

Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada

anak, dan balita.

e. Faktor psikologis

Di antaranya adalah, rasa takut, cemas, dan tegang,jika terjadi pada anak

dapat mengakibatkan diare kronis. Tetapi jarang terjadi pada balita,

umumnya terjadi pada anak d i atas 5 tahun.

f. Faktor lingkungan dan perilaku penyakit diare

Merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan.Dua faktor yang

dominan,yaitu sarana air bersih, dan pembuangan tinja akan bereaksi

dengan perilaku manusia, apabila faktor lingkungan tidak sehat akan

tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku tidak sehat pula

yaitu melalui makanan dan minuman, yang dapt menimbulkan kejadian

diare pada balita.

(24)

3. Jenis – jenis diare

a. Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, (umumnya

kurang dari 7 hari) akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi

merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare

b. Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinja, akibatnya anoreksia

penurunan berat badan dengan cepat, kemugkinan terjadinya komplikasi

pada mukosa.

c. Diare persisten adalah, diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus

– menerus. Akibat dari persisten ini bisa di sertai dengan penyakit lain

seperti, demam, gangguan gizi atau penyakit lainya.

4. Patofisiologis diare

Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan terjadinya diare adalah sebagi

berikut :

a. Gangguan Osmotik

Akibat adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap oleh tubuh akan

menyebabkan tekanan ostomik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang

berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkan isinya sehingga

timbul diare.

b. Gangguan sekresi

Akibat rangsangan tertentu, misalnya toksin pada dinding usus yang akan

menyebabkan penigkatan sekresi air dan elektrolit yang berlebihan ke dalam

rongga usus, sehingga akan terjadi peningkatan isi dari rongga usus yang

akan merangsang pengeluaran isi dari rongga usus dan akhirnya timbul

(25)

20

c. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan bagi usus

untuk menyerap makana yang masuk, sehingga akan timbul diare. Akan

tetapi, apabila terjadi keadaan yang sebaliknya yaitu penurunan dari

peristaltic usus maka akan menyebabkan diare juga.

d. Muntah

Muntah pada anak merupakakan keadaan yang amat cukup merisaukan orang

tua dan mendorong mereka segaera mungkin menacari pertolongan untuk

mengatasinya. Muntah dapat menimbulkan beberapa akibat yang serius

seperti pendarahan pada lambung, lambung diartikan dengan pengeluaran isi

lambung melalui mulut secara terpaksa.

5. Patogenesis diare akut

a. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah

berhasil melewati rintangan asam lambung.

b. Jasad rening tersebut akan berkembang biak (Multiplikasi) di dalam usus

halus.

c. Dari jasad renik tersebut akan keluar toksin ( toksin diaregenik)

d. Toksin diaregenik akan menyebabkan hipersekresi yang selanjutnya akan

menimbulkan diare.

6. Tanda dan gejala

a.Cengeng, dan rewel

b. Gelisah

c.Suhu meningkat

(26)

e.Feses cair, dan berlindir, kadang juga di sertai dengan darah, kelamamaan

feses ini akan berwarna hijau dan asam

f.Anus lecet

g. Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat, akan terjadi penurunan volume

dan tekanan darah, nadi cepat dan kecil, peningkatan denyut jantung,

penurunan kesadaran, dan di akhiri dengan syok.

h. Berat badan menurun

i.Turgor kulit menurun.

j.Mata dan ubun – ubun cekung.

k. Selaput lender dan mulut serta kulit menjadi kering (Ngastiyah, 2005)

7. Epidemiologi penyakit diare

Penyebaran kuman yang menyebabkan diare menyebar melalui oral

antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan kontak

langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku dapat mengakibatkan

penyebaran kuman entrik, dan menigkatkan resiko terjadinya diare, antara

lain tidak memberikan ASI secara penuh 4 – 6 bulan pada pertama

kehidupan,menggunakan botol susu yang kotor, menyimpan makanan masak

pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci

tangan setelah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau

sebelum makan menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.

Faktor penjamu meningkatkan kerentanan lamanya terkena diare

diantaranya adalah dengan tidak memeberikan ASI sampai umur 2 tahun,

kurang gizi, campak,lebih banyak terjadi pada golongan balita.faktor

(27)

22

pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku

manusia, apabila faktor lingkungan tidak sehat karena cemaran kuman diare

serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula, yaitu melalui

makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare.

8. Komplikasi

1).Dehidrasi akibat kekurangan cairan dan elektrolit, terdiri dari :

a.Dehidrasi ringan, apabila terjadi kehilangan cairan < 5% BB

b.Dehidrasi sedang,apabila terjadi kehilangan cairan 5-10% BB

c.Dehidrasi berat,apabila terjadi kehilangan cairan >10-15% BB

2).Renjatan hipovolemik akibat menurunnya volume darah dan apabila

penurunan volume darah mencapai 15 – 25 % BB maka akan menyebabkan

penurunan tekanan darah.

3). Hipokalemia dengan gejala yang muncul adalah meteorismus, hipotonik otot,

kelemahan, bradikardia, dan perubahan pada pemeriksaan EKG.

4). Hipoglikemia.

5). Intoleransi laktosa skunder sebagi akibat defisiensi enzim laktosa karena

kerusakanvili mukosa usus halus.

6). Kejang

7). Malnutrisi Energi protein karena selain diare dan muntah , biasanya penderita

mengalami kelaparan

9. Penatalaksanaan

A.Prinsip perawatan diare adalah sebagai berikut :

1.Pemberian cairan ( dehidrasi awal dan rumatan)

(28)

3.Cara pemberian obat-obatan antara lain :

a. Jumlah cairan yang diberikan adalah 100 ml/ kg BB / hari sebanyak 1 kali

setiap 2 jam, jika diare tanpa dehidrasi, Sebanyak 50% cairan ini

diberikan dalam 4 jam pertama dan sisinya adlibitum.

b. Sesuaikan dengan umur anak < 2 tahun di berikan ½ gelas; 2 -6 tahun di

berikan 1 gelas; > 6 tahun diberikan 400 cc ( 2 gelas).

c. Apabila dehidrasi ringan dan diarenya 4 kali sehari, maka di berikan

cairan 25 – 100 ml / kg / BB dalam sehari atau setiap jam 2 kali.

d. Oralit di berikan sebanyak kurang lebih 100 ml / kg / BB setiap 4 - 6 jam

pada kasus dehidrasi ringan sampai berat.

4.Teruskan pemberian ASI karena bisa membantu meningkatkan daya tubuh

anak.

10. Pencegahan diare terhadap balita diantaranya dengan :

a. Memberikan ASI turut memberikan perlindungan terhadap terjadinya diare

pada balita karena antibodi dan zat – zat yang terkandung di dalamnya

memberikan perlindungan pada balita

b. Memperbaiki makanan pendamping ASI perilaku yang salah dalam

pemberian makanan pendamping dapat mengakibatkan resiko terjadinya

diare sehingga dalam pemberianya harus memperhatikan waktu dan jenis

makanan yang diberikan. Pemberian makan pendamping ASI sebaiknya

diberikan setelah berumur 6 bulan, dimulai dengan pemberian makanan

lunak. Dan diteruskan pemberian ASI sampai anak berusia 9 bulan atau

lebih, tambahkan macam – makanan lain dan frekuensi, memberikan

(29)

24

makanan yang dimasak dengan baik dengan frekuwensi pemberianya 4 – 6

sehari.

c. Menggunakan air bersih yang cukup agar resiko untuk diare dapat

dikurangi dengan mengguanakan air yang bersih dan melindungi air

tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpananya di

rumah.

d. Mencuci tangan kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan

perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah dengan

mencuci tangan.

e. Menggunakan jamban upaya penggunaan jamban mencuci tangan dengan

air bersih dan sabun

f. Makan buah dan sayur setiap hari

g. Tidak merokok di dalam rumah

A. Konsep pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tau dan ini terjadi melalui panca

indra terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra

manusia diperoleh melalui mata dan telinga, pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang ( overt behavior) ( Notoatmodjo, 2005)

1. Tahu (know) tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkatan ini adalah

mengingat kembali ( racall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan

(30)

merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tau tentangapa yang di pelajari menyebutkan,

menguraikan,mendefenisikan.

2. Memahami ( comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi

tersebut dengan benar.Menyebutkan,menjelaskan,

menyimpulkan,meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang

dipelajarinya.

3. Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat

diartikan terhadap pengguna hokum – hokum rumus,metode,prinsip dan

sebagainya. Dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis ( Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek kedalam komponen – komponen, tetapi tetapi masih dalam

struktur organisasi tersebut dan masih banyak kaitanya satu sama lain

kemampuan analisis dapat dilihat penggunaan kata kerja dapat

menggambarkan membedakan memisahkan dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

Menujukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan suatu bagian di

dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

(31)

26

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menayakan tentang isi materi yang akan di ukur dari subjek penelitian

atau responden

B. Cara memperoleh pengetahuan

1. Cara tradisional atau non ilmiah

2. Cara coba salah

3. Cara coba – coba ini dilakukan dengan menggunakan

kemugkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemugkinan

tersebut tidak berhasil di coba kemugkinan yang lain. Metode ini

masih digunakan sampai sekarang terutama oleh mereka yang

belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam pemecahan

masalah yang dihadapi

C. Perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS)

1. Pengertian (PHBS)

Merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa

memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.

Semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar ksesadaran hingga

anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di

bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan – kegiatan

kesehatan di masyarakat merupakan pengertian dari (PHBS). Pola

hidup bersih dan sehat harus diterapkan sedini mugkin agar menjadi

(32)

jumlahnya sangat banyak, misalanya (PHBS) tentang diare : makan-

makanan yang beragam jenisnya, member balita kapsul vitamin A,

membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan lingkungan.

Setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanankan semua perilaku

kesehatan.

2. Indikator yang digunakan sebagai dasar dalam

melaksanakan pola hidup bersih dan sehat adalah sebagai berikut :

a. Semua balita harus diimunisasi lengkap sebelum berusia 1

tahun. yang tujannya dari imunisasi itu ada lah dapat memberikan

kekebalan tubuh bagi bayi sehingga tidak mudah terserang penyakit

setelah berusia 1 tahun ke atas.

b. Semua bayi harus di timbang berat badany sejak lahir

sampai usia 5 tahun di posyandu atau sarana kesehatan lainya.

c. Setiap ibu agar memberikan makanan yang mengandung

unsur zat tenaga, zat pembagunan, zat pengatur sesuai dengan

pedoman umum gizi seimbang. Unsur zat gizi sangat di butuhkan

balita. Kebutuhan akan gizi seimbang bagi balita banyak orang tidak

mengerti sehingga sering pula terjadi sakit pada saat yang tidak

terduga dan tidak tau penyebabnya. Karena orang sering berprinsip

makan yang penting perut terisi/ kenyang tetapi daya tahan tubuh

tidak di perhatikan. Pemberiaan makanan seperti sayuran dan buah

sangat baik bagi kesehatan karena vitamin terdapat berbagai macam

(33)

28

d. Semua orang agar membuang air besar atau tinja di jamban

atau WC. Adanya sungai di sekitar rumah biasanya digunakan untuk

membuang limbah sampah oleh masyarakat. Banyak masyarakat

berpikir tidak akan rugi appapun saat membuang limbah di sungai

karena sungai itu mengalir, tetapi tidak berpiakir jika warga yang

ada di hulu juga berfikiran yang sama maka limbah itu juga akan

sampai juga kepadanya. Limbah tubuh manusia banyak sekali

kandungan zat yang berbahaya dari bau ataupun unsure senyawa di

dalamnya. Kebersihan sebagaian dari imam itulah yang mugkin

diterapkan agar kesehatan dan kebersihan lingkungan tetap di jaga.

e. Semua orang agar menggunakan air bersih dan untuk minum

agar di masak terlebih dahulu.

f. Semua orang agar mencuci tangan dengan sabun setelah

buang air besar dan waktu akan makan appun. Mencuci tangan

dengan sabun setelah memengang atau menyentuh kotoran, perlu

dilakukan karena selain dari segi jijik kuman dapat menempel pada

tubuh kita. Bila memegang hidung, mulut, dan lain sebagainya

terlebih sebelum makan harus mencuci tangan dengan sabun agar

terhidar dari kuman penyakit masuk ke tubuh lewat makanan yang

kita makan.

g. Setiap pekarangan rumah bebas dari sampah usahakan selalu

bersih, bebas dari sarang nyamuk atau lain sebagainya.

3. Perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS) di rumah tangga

(34)

( pengasuh anak)

PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memperdayakan anggota

rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku

hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan

masyarakat terutama yang memeiliki balita kerena balita sangat mudah/

rentan terserang penyakit. Ada 10 (PHBS) dalam rumah tangga atau

pengasuh yaitu:

a. Memberikan ASI eksklusif penuh

b. Menimbang balita setiap 6 bulan untuk mengikuti

pertumbuhan dan perkembangan balita dan dapat mengetahui deteksi

dini penyakit balita

c. Menggunakan air bersih setiap kali yang berhubungan

dengan kebutuhan balita dan tidak berbau, tidak keruh,bebas dar

pasir,debu, lumpur,sampah dan busa.

d. Mencuci tangan dengan air bersih dan menggunakan sabun

agar terhindar dari kuman yang dapat membawa penyakit bagi

balitadi cuci pada saat, setiap kali tangan kotor, setelah buang air

besar, setelh menceboki balita, sebelum makan dan menyuapi anak,

sebelum memegang makanan, setelah bersin, batuk.

e. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu seperti,

menguras dan menyikat penampungan air, menutup rapat

penampungan air minum

f. Cukupi makanan buah dan sayur setiap hari seperti, sayuran

(35)

30

kelor.di dalam buah dan sayur terdapat vitamin dan antioksida yang

berfungsi mampu melindungi tubuh agar tetap sehat dan terhindar

dari berbagai macam penyakit.

g. Menggunakan jamban apabila daerah yang sulit air,dan

harus di pelihara supaya tetap sehat. Selalu bersih tidak ada

genangan air seperti, serangga, kecoa, lalat, dan tikus yang

berkeliaran

h. Mencuci botol, dan merebus botol susu sebelum di isi susu

dan di berikan ke balita

i. Tidak memberikan makanan basi atau yang sudah bermalam

ke pada balita

j. Merebus botol susu hingga mendidih

4. Manfaat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bagi rumah

tangga atau yang memiliki balita antara lain:

a. Setiap anggota rumah tangga menjadi tidak mudah sakit

b. Anak tumbuh sehat dan cerdas

c. Anggota keluarga dapat mengenali tanda – tanda penyakit

d. Keluarga dapat memenuhi kecukupan gizi balita dan pemenuhan

vitamin – vitamin dalm pencegahan penyakit

e. Keluraga dapat meninggkatkan nafsu makan balita

f. Biaya dalam rumah tangga bisa lebih irit jika tidak terserang

(36)

A. Kerangka konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini berjudul hubungan pengetahuan dan

perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS) dengan kejadian diare pada balita yang

bertujuan untuk menjelaskan hubungan variabel independen pengetahuan, dan

perilaku penyebab kejadian diare, pada balita yang merupakan variabel dependen

Kerangka konsep

Variable Independen Variable Dependen

Skema 1

Hipotesis

1. Ha : Ada hubungan antara Pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di

Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Pengetahuan

Diare pada balita

(37)

32

2. Ha : Ada hubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan

kejadian diare pada balita di Desa Marindal Kecamatan Patumbak

Kabupaten Deli Serdang

fenisi operasional

Defenisi operasional adalah mendefenisikan variable secara operasional

berdasarakan karakteristik yang diamati. Memugkinkan peneliti untuk

melakukan observasi dalam pengukuran secara cermat terhadap objek atau

fenomena ( aziz, 2007) adapun defenisi operasional variable adalah hubungan

pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian

diare pada balita adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1

ibu untuk menjawab 20

(38)
(39)
(40)

jamban

6. Jarak dengan air

ke jamban 10

meter

7. Apakah air

yang diminum

di masak

terlebih dahulu?

3 Dependen

Kejadian

diare pada

balita

1. Apakah anak ibu

Buang air besar

lebih dari 3 – 4 per

hari, dan

mengalami adanya

keluar cairan encer

dan berlendir?

Kuesione

r

wawanc

ara Dikatakan

tidak diare

=1

dikatakan

diare = 0

(41)

36

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Dalam penyusunan karya tulis ini Peneliti menggunakan desain penelitian kuantitatif

yang berjenis penelitian analitik deskriptif penelitian dengan pendekatan penelitian cross

sectional, yaitu untuk mempelajari dinamika korelasi antara pengetahuan dan perilaku hidup

bersih dan sehat (PHBS) , ibu dengan kejadian diare pada balita di Desa Marindal Kecamatan

Patumbak Kabupaten Deli Serdang.

B. Populasi dan Sample 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang akan di teliti dalam penelitian ini (

Notoatdmojo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu yang memiliki

balita di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah

150 orang.

2. Sample

Sample adalah bagian dari populasi yang akan di teliti atau bagian jumlah karakteristik

yang di miliki oleh populasi ( Hidayat, 2007). Sample dalam sample ini yang digunakan

adalah orang. Sample dalam penelitian ini adalah 100 orang Ibu yang memiliki balita.

Pengambilan sample dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik

(42)

anggota populasinya tidak homogeny yang terdiri dari kelompok atau berstrata secara

propesional.

Penentuan jumlah sample dilakukan dengan menggunakan rumus Solvin menurut

(Nursalam, 2011)

Keterangan :

n : besar sample

N : besar populasi

d : tingkat kepercayaan ketepatan yang diinginkan ( 0, 05)

n = 85

n=100

(43)

38

Jadi sample yang di ambil peneliti adalah sebanyak 100 orang. Kemudian untuk

mengambil sample tiap – tiap lingkungan Desa dengan jumlah sample 100 orang adalah

dilakukan secara proporsional. :

Table 4.1

Jumlah Sample yang di Ambil di Desa Desa /Lingkungan Jumlah Sample

L1 42 orang 23 orang L2 41 orang 25 orang L3 34 orang 28 orang

L 4 33 orang 24 orang

Jumlah 150 orang 100 orang

Kriteria inklusi sample yang digunakan yaitu :

1. Ibu yang memiliki balita di Desa dan lingkungan.

2. Berada pada tempat penelitian

3. Bersedia dijadikan sebagai responden dan menandatangani informet consent.

Kriteria eksklusif sample yang digunakan yaitu :

1. tidak hadir pada saat penelitian

2. tidak bersedia dijadikan responden.

Setelah dibuat proporsi pengambilan sample pada setiap kelas yang sudah diwakili kelas tersebut

di ambil secara acak dengan pakaian undian sampai jumlah sample kelas terpenuhi.

C.Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli

(44)

1.Dilokasi ini belum pernah dilakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan perilaku

hidup bersih dan sehat( PHBS).

2. Terdapatdi Desa ini Ibu yang memiliki balita riwayat Diare

E.Waktu

Waktu penelitian ini dilaksanankan yang dimulai dari perencanaan (penyusunan proposal)

November 2014 sampai dengan penyusunan laporan akhir, 20 Maret yang di laksanakan

sejak bulan oktober sampai dengan bulan juni 2015.

F. Etika Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti menyerahkan surat permohonan izin melakukan

penelitian kepada kepala desa tempat penelitian tersebut. Setelah mendapat data rekam medik

dari dinas kesehatan kaupaten, dan dinas kesehatan provinsi. Peneliti menjumpai kepala

desa dan meminta ijin untuk melakukan penelitian di desa tersebut. Bila sudah di beri izin dari

kepala desa peneliti langsung menemui responden jika mereka bersedia maka penelitian ini

akan memberikan selembar kuesioner untuk para responden. Setelah itu peneliti menjelaskan

pada kuesioner tidak perlu dicantumkan nama terang, cukup dengan inisial atau kode.

Kemudian kerahasian informasi yang telah diberikan melalui kuesioner akan dijamin

kerahasiaanya oleh peneliti. Etika Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menekankan pada

masalah etika yang meliputi: Informed consent Subjek harus mendapatkan informasi secara

lengkap tentang tujuan penelitian, mempunyai hak untuk bersedia atau menolak menjadi

responden. Pada informed concent juga perlu dicantumkan untuk mengembangkan ilmu.

Lembar persetujuan menjadi responden diedarkan sebelum riset dilakukan. Tujuannya agar

subyek mengetahui maksud dan tujuan riset. Serta mengetahui dampak yang akan terjadi

(45)

40

menghormati hak-hak reponden. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan

identitas subyek, peneliti tidak akan mencantumkan identitas subyek pada lembar

pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subyek. Lembar tersebut hanya diberi nomor

kode tertentu. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh

peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil

penelitian. Keterbatasan Aziz Alimul (2002) menyebutkan bahwa keterbatasan, merupakan

bagian riset peneliti yang menjelaskan keterbatasan dalam penulisan riset, dalam setiap

penelitian pasti mempunyai kelemahan-kelemahan yang ada, kelemahan tersebut ditulis dalam

keterbatasan. Adapun keterbatasan yang ada dalam penelitian meliputi, Sampel dan jumlah

sampel Banyaknya jumlah Ibu-ibu yang memiliki anak balita yang tinggal di Desa Marindal

Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang sehingga peneliti hanya mengambil sebagian

responden yang terpilih sebagai sampel penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi

penelitian ini.

D. Alat pengumpulan data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Yaitu data yang di peroleh secara langsung dari objek penelitian yang dilakukan dengan

cara kuesioner yaitu : memberkan konseoner pertanyaan pada variable hubungan

pengetahuan.

2. Data Sekunder

Data skunder dalam penelitian ini meliputi : Data Ibu yang memiliki balita.

(46)

Uji Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar

mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2005). Untuk mengetahui apakah kuesioner yang di

susun tersebut mampu mengukur apa yang hendak di ukur, maka perlu di uji dengan uji korelasi

antara skors (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skors total kuesioner tersebut. Bila semua

pertanyaan mempunyai korelasi yang bermakna (construct validity). Apabila kuesioner tersebut

telah memilki validitas konstruk, berarti semua item (pertanyaan) yang ada di dalam kuesioner

itu mengukur

konsep yang kita ukur (Notoatmodjo, 2010). Apabila r hitung > r tabel atau p value < 0,05 maka

data valid.

Untuk menguji validitas alat ukur terlebih dahulu dicari harga korelasi antara

bagian-bagian dari alat ukur dengan skor total yang merupakan jumlah setiap skor butir, dimana nilai

rtabel = 0,361.

Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan program SPPS versi 17.00 untuk

menguji keshahihan butir. Kriteria yang digunakan untuk menguji keshahihan butir yaitu sebagai

berikut:

1. Jika rhitung > rtabel, dengan taraf signifikan α = 0,05 maka pertanyaan dikatakan valid.

2. Jikarhitung< rtabel, dengan taraf signifikan α = 0,05 maka pertanyaan dikatakan tidak valid.

Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur keandalan instrumen penelitian, artinya

seberapa sering pun instrumen yang sama digunakan pada sampel yang sama maka hasilnya akan

tetap sama. Kuesioner dikatakan reliabel jika mempunyai nilai alpa cronbach > 0,6. Jika nilai

alpha cronbach < 0,6 maka kuesioner dikatakan tidak reliable.

(47)

42

Alat yang digunakan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Hidup

Bersih dan sehat(PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Balita adalah dengan menggunakan

kuisioner yang diberikan peneliti kepada responden yang kemudian diisi oleh responden. Jenis

kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner tertutup atau

berstruktur dengan metode checklist yaitu dimana responden diberikan kebebasan untuk memilih

jawaban yang sesuai dengan apa yang dilakukannya (Notoatmojo, 2010).

Bentuk kuisioner yang diberikan peneliti adalah bentuk skala Guttman. Skala Guttman

merupakan skala yang bersifat tegas dan konsisten berupa jawaban Ya dan Tidak, dengan

interprestasi penilaian apabila jawaban benar nilainya 1 dan jawaban salah nilainya 0.Untuk

memperoleh ukuran nilai di ukur dari jawaban> 50% dari total score dan < 50% dari total score.

H.Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan terlebih dahulu meminta surat

rekomendasi dari bagian pendidikan bidan pendidik DIV Keperawatan USU. Setelah mendapat

surat izin dari kampus surat diantar ke kantor kepala Desa meminta izin persetujuan penelitian.

Di lokasi penelitian, Peneliti melakukan pengumpulan data penelitian dengan terlebih dahulu

meminta kesediaan responden untuk mengikuti penelitian. Peneliti menjelaskan tujuan, manfaat

dan prosedur pengisian kuisioner pada responden. Responden yang bersedia diminta untuk

menandatangani surat persetujuan. Selanjutnya peneliti akan meminta responden untuk mengisi

kuisioner dengan tetap didampingi oleh peneliti. Penelitian dilakukan tidak boleh mengganggu

aktifitas ibu yang memiliki balita jadi penelitian dilakukan ketika ibu tidak ada kegiatan.

(48)

Pengolahan data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan pengolahan data

menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution), data yang didapat lalu diolah

dengan langkah – langkah berikut:

1. Pengeditan data (editing)

Editing adalah memerikasa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan,

apakah data tersebut sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten.

2. Pemberian kode (coding)

Kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa

kategori.

3. Memasukan data (data entry)

Kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam kolom atau kotak lembar

kode atau kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.

4. Tabulasi (Tabulating)

Membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan oleh

peneliti.

J. Analisa Data

Analisa data dengan melakukan pengukuran terhadap masing-masing responden, lalu

ditampilkan dengan tabel distribusi frekuensi. Metode statistik untuk analisa data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah statistik univariat dan bivariat. Pada statistik univariat

analisa data dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan statistik bivariat analisa data

dilakukan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Hidup Bersih dan

sehat(PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Balita dengan menggunakan uji statistik “Chi Square

(49)

44

1. Analisis Univariat

Analisa univariat adalah analisis yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi baik

dari variabel independen maupun variabel dependen. Tujuan analisa ini adalah untuk

mencari distribusi frekuensi dan presentase hasil dari masing–masing varibel. Analisa

dalam perhitungan ini menggunakan komputerisasi.

2. Analisis Bivariat

Data hasil penelitian dianalisis secara bivariat yaitu analisis data digunakan untuk melihat

hubungan antara variabel Pengetahuan secara keseluruhan dengan kejadian diare, dan

melihat hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS), dengan kejadian diare.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan penelitian mengenai “Hubungan

Pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada balita, Penelitian ini

telah dilaksanakan mulai November 2014 sampai dengan 20 Maret 2015 di Desa Marindal

Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah responden sebanyak 100 orang.

Untuk mengetahui hubungan Pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan

(50)

dan pernyataan Diare, Berikut ini akan dijabarkan mengenai hasil penelitian tersebut yaitu

pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat ibu dengan kejadian diare pada balita.

Distribusi Karakteristik Responden

Pada penelitian pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat ibu dengan

kejadian diare pada balita.yang mempunyai karakteristik responden umur dan pendidikan,

pekerjaan dimana dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel .51

Distribusi Karakteristik responden Ibu

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Umur

Berdasarkan Tabel di atas dapat di interprestasikan bahwa dari 100 responden mayoritas

responden memiliki kelompok umur 20 – 35 tahun sebanyak 42 orang (42%) di susul kelompok

umur < 20 tahun sebanyak 41 orang ( 41%) kelompok > sebanyak 17 orang (17%). Berdasarkan

(51)

46

menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan SD sebanyak 34 orang ( 34%) menamatkan

pendidikan pada jenjang tidak sekolah sebanyak 27 orang ( 27%) yang menamatkan jenjang

pendidikan SMP 23 orang (23 %) yang menamatkan pada jenjang SMA sebanyak 10 orang ( 10

%) yang menamatkan pada jenjang PT sebanyak 6 orang ( 6 %). Pada Table di atas

berdasarakan pekerjaan dapat di interprestasikan bahwa dari 100 responden mayoritas

responden bekerja sebagai buruh sebanyak 48 orang (48%) yang tidak bekerja sebanyak 25

orang, yang wiraswasta sebanyak 23 orang ( 23%) yang PNS sebanyak 3 orang ( 3%)

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Di Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang.

Kategori Frekuensi Persentase

Pengetahuan

pengetahuan baik, sebanyak 25 orang, (25%) yang berpengetahuan cukup sebanyak 48 ( 48%)

orang yang berpengetahuan kurang sebanyak 28 orang (28 %) .

Tabel 5.3

Distribusi frekuensi frekuensi responden berdasarkan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS) dengan kejadian diare ibu di Desa

Marindal kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang.

Kategori Frekuensi Persentase

PHBS

Baik 14 14

Kurang Baik 86 86

(52)

Berdasarkan Table 5.3 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki

perilaku baik terhadap kejadian diare yaitu sebanyak 14 orang (14% ) yang berperilaku kurang

baik sebanyak 86 orang (86%)

Tabel. 5.4

Distribusi frekuensi kejadian diare pada balita berdasarkan pengetahuan ibu di Desa Marindal kecamatanPatumbak Kabupaten Deli Serdang.

Kategori Frekuensi Persentase

Kejadian diare

Tidak diare 54 54%

Diare 46 46%

Total 100 100

Berdasarkan Tabel 5.5 di atas menunjukkan bahwa kejadian tidak diare sebanyak 54 orang

(54%) yang mengalami diare sebanyak 46 orang (46%)

2.Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan adanya hubungan antara variabel independen

dengan varibel dependen. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut :

Tabel 5.5

Distribusi frekuensi Hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian Diare di Desa Marindal

Pengetahuan Kejadian diare Total

P

Tidak diare Diare

f % f % f %

Berdasarkan Tabel 5.6 Menunjukkan bahwa dari 100 responden dengan pengetahuan

baik yang mengalami diare sebanyak 5 orang (18,5%) yang tidak diare sebanyak 29 orang (

(53)

48

tidak diare sebanyak 22 orang( 81,3) % yang berpengetahuan kurang yang mengalami diare

sebanyak 22 orang ( 88%) yang tidak diare sebanyak 3 orang ( 12%).

Tabel 5.6

Distribusi frekuensi Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dengan Kejadiaan Diare pada balita

Pengetahuan Kejadian diare Total

P

Tidak diare Diare

f % f % f %

Baik 0 0% 14 0% 14 100

0,001 Kurang baik 54 62,8% 32 37,2% 86 100

Total 54 54 46 46 100 100

*uji fisher’s exact test

Dari Tabel 5.7 Menunjukkan bahwa dari 100 responden dengan berperilaku baik yaitu yang

tidak diare sebanyak 0 ( 0%) dan yang mengalami diare sebanyak 14 orang yang berperilaku

kurang baik yang mengalami diare sebanyak 32, ( 37,2%) yang tidak diare sebanyak 54 orang (

62,8%)

B.Pembahasan

1. Hubungan antara antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa dari 100 responden yang

berpengetahuan baik terdapat 25 orang (25%) responden yang memiliki pengetahuan yang cukup

sebanyak 48 orang ( 48%) dan yang berpengetahuan kurang terdapat 27 orang ( 27%) dan dari

data tersebut yang berpengetahuan baik mengalami diare sebanyak 5 orang (18,5%) dan yang

(54)

yang mengalami diare sebanyak 19, (39,6 %) dan yang tidak diare sebanyak 22 orang (81%) dan

yang berpengetahuan kurang sebanyak 3 orang ( 12%) yang diare 22 (88%)

Hasil menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan diare pada kategori baik

dengan kejadian diare lebih sedikit dari pada ibu yang memiliki pengetahuan cukup dan kurang

member indikasi bahwa ibu yang memiliki pemahaman dan pengetahuan akan menjadi dasar

terhadap terbentuknya perilaku dalam tiap – tiap ibu dalam mencegah dan penaggulangan diare

pada balitanya sehingga tidak mengalami kejadian diare berulang. Sedangkan kurangnya

pemahaman penanggulangan diare pada balitanya sehingga tidak mengalami dehidrasi

sedangkan kurangnya pemahaman yang dimiliki ibu tentu akan memenuhi kesulitan dalam

rangka mencegah dampak lebih lanjut terhadap diare yang tidak mendapatkan penanganan secara

lengkap yaitu dehidrasi dan dampak lanjut lagi adalah kematian balita. Hasil penelitian ini juga

menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang sebanyak 27 (27%)

orang .

2.Hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare

pada Balita

Perilaku ibu dengan kejadian diare Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa

dari 100 orang responden terdapat 14 orang (14%) responden memiliki perilaku yang baik

terhadap kejadian diare dan dari data tersebut terdapat 0% orang (0%) responden yang

mengalami diare dan 14 (14%) respon yang tidak mengalami diare. Sedangkan responden yang

memiliki perilaku kurang baik 86 orang (86%) baik terhadap kejadian diare 54 orang (62,8%)

yang diare sebanyak 32 orang (37,2%) responden. Hasil ini memberi indikasi bahwa adanya

(55)

50

diare pada balita sedangkan ibu yang memiliki kemampuan/perilaku kurang baik untuk bertindak

akan berdampak pada kurangnya penanganan pertolongan pertama terhadap kejadian diare pada

balita sehingga karena tidak adanya penanganan yang cepat dan tepat.Berdasarkan analisis Chi

square koreksi Fisher’s exacttest diproleh p = 0,000 sedangkan nilai α = 0,05. Terlihat

probabilitas dibawah 0,05 (0,000 < 0,05). Maka Ho ditolak dan Ha diterima yang dapat

diinterpretasi bahwa terdapat yang bermakna antara perilaku ibu dengan kejadian diare dimana

ibu dengan perilaku yang kurang baik terhadap diare mempunyai kontribusi terhadap kejadian

(56)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarka hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan pengetahuan dan perilaku

hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Marindal dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Hubungan Pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Marindal yaitu ibu

terhadap kejadian diare yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan

kejadian diare pada balita dengan nilai p< 0,05 nilai p = 0,001

2. Hubungan Perilaku dengan kejadian diare pada balita di Desa Marindal yaitu terdapat hubungan yang signifikan antaraPerilaku dengan kejadian diare pada balita nilai p < 0,05 =

0,001

3. B. Saran

(57)

52

2. Disarankan tenaga kesehatan memberikan penyuluhan teutama materi tertentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat(PHBS) dengan kejadian

diare pada balita. Diharapkan tenaga kesehatan untuk memperhatikan perilaku dalam

perwatan adanya balita

dalam wilayah

3. Bagi Insitusi Pendidikan

Diharapkan bisa menjadi bahan kajian atau yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan

tentang Kejadian Diare pada balita.

4. Bagi Ibu / Masyarakat yang memiliki balita

a. Disarankan kepada Ibu yang memiliki balita untuk memperhatikan pengetahuan,

tentang penyakit diare yang bisa terkena pada balita dalam sehari dalam merawat

balita agar kejadian diare tidak semakin meningkat.

b. Diharapkan kepada Ibu yang memiliki balita untuk memperhatikan Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat seperti bayi di beri ASI sampai 6 bulan, balita di timbang dalam 3

bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, air yang

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, ( 2005). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, ( 2007). Pedoman pelaksanaan p;rogram P2 Diare. Jakarta : Rineka Cipta

Azwar, s.( 2008). Metode dalam Penelitian, Jogyakarta : Pustaka Pelajar

Depkes RI, ( 2013). Rumah tangga sehat dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Jakarta

Hidayat. (2011). Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba

Medika.

Nelson ,( 2010). Ilmu kesehatan anak volume 2. Jakarta : EGC

Nanny, T. ( 2011) Perawatan pada balita. Jakarta : Salemba Medika

Notoatmodjo, soekidjo. (2003). Pendidikan dan perilaku kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta

Notoatmodjo, soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ngatiyah, ( 2005). P[erawatan anak sakit Jakarta : EGC

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan. Jakarta:

Salemba Medika

Ronal, ( 2010). Epidemiologi penyakit diare. Bandung: Cv Nuansa Aulia

Widjaja, ( 2002). Mengatasi diare dan keracunan pada Balita. Jakarta: Salemba Medika

Widoyono, (2008).Penyakit tropis ( epidemiologi, penularan, pencegahan, dan pemberantasan).

Jakarta : Salemba Medika

(59)

54

LEMBAR KONSULTASI KARYA TULIS ILMIAH

PROGRAM, D – IV BIDAN PENDIDIK FK USU

Nama : Dewi Harahap Nama Pembimbing : Dr. dr Juliandi Harahap, MA

NIP : 197007021998021001

NIM : 1415102

Judul KTI : Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terhadap kejadian diare pada balita Desa Marindal Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang Tahun 2015

Tanggal Materi Anjuran / Saran Paraf Pembimbing

(60)

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON RESPONDEN

Asslammualaikum Wr. Wb/ Salam Sejahtera

Nama saya Dewi Harahap, sedang menjalani pendidikan di program D- IV Bidan pendidik Fakultas Keperawatan USU.Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “ Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku Hidup Bersih Dan sehat ( PHBS) Terhadap Kejadian Diare Pada Balita”

Diare adalah penyakit yang muncul secara sporadiasi, musiman, yang kadang – kadang menyebabkan dihidrasi berat dan kematian pada balita. Rotavirus adalah penyebab utama kejadian diare nosokomial pada balita yang terdapat adanya infeksi (Ronal, 2010, hlm 80)

Pada dasarnya pengertian diare adalah ganguan transportasi larutan usus adanya perpindahan air melalui membrane usus berlangsung secara pasif.( Depkes, 2010)

Diare pada balita dapat menyebabkan kehilangan air, dan juga demam diatas 38,5 dengan tinja berdarah, mulutnya kering dan sering menagis tanpa air mata. Terlihat sering mengantuk dan mata cekung. Inilah yang mengakibatkan kematian pada balita (Nanny,2011hlm. 20)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), berhubungan dengan kejadian diare pada balita

Kami akan melakukan wawancara tersruktur kepada Ibu / Sdra / Sdri tentang :

a. Data demogarfi seperti orang tua, nama, usia, pekerjaan, pendidikan

b. Serta memberikan penyuluhan atau informasi tentang cara menghindari diare, pengobatanya diare, dan tanda dan gejala dari diare yang terjadi pada balita, Agar ibu yang memiliki balita paham cara penaganan pertama bila balita terkena diare

Partisipasi Ibu bersifat sukarela dan tanpa paksaan. Setiap data yang ada dalam penelitian ini akan dirahasiakan dan guna untuk kepentingan penelitian. Untuk penelitian ini Ibu tidak akan dikenakan biaya apapun. Bila Ibu /Sdra.Sdri membutuhkan penjelasan, maka dapat menghubungi saya :

Nama : Dewi Harahap

Alamat : Jln Kedongdong

(61)

56

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) (INFORMED CONSET)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Umur :

Alamat :

Telp /HP :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang “ Hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS)”. Maka dengan ini saya sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut.

Demikian surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Medan, 2015

(62)
(63)

Figur

Table 4.1 Jumlah Sample yang di Ambil di Desa

Table 4.1

Jumlah Sample yang di Ambil di Desa p.43
Tabel .51 Distribusi Karakteristik  responden Ibu

Tabel .51

Distribusi Karakteristik responden Ibu p.50
Tabel di atas dapat di interprestasikan bahwa dari 100 responden sebagaian besar responden

Tabel di

atas dapat di interprestasikan bahwa dari 100 responden sebagaian besar responden p.50
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi  Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Di Desa Marindal

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Di Desa Marindal p.51
Tabel  5.3 Distribusi frekuensi frekuensi responden berdasarkan perilaku hidup

Tabel 5.3

Distribusi frekuensi frekuensi responden berdasarkan perilaku hidup p.51
Tabel. 5.4 Distribusi frekuensi kejadian diare pada balita  berdasarkan pengetahuan ibu di Desa
Tabel. 5.4 Distribusi frekuensi kejadian diare pada balita berdasarkan pengetahuan ibu di Desa p.52

Referensi

Memperbarui...