ANALISIS KONFLIK DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI NASIONAL DEMOKRAT TANGGAMUS

74 

Teks penuh

(1)

Abstrak

Analisis Konflik Dewan Pimpinan Daerah Partai NasDem Tanggamus Oleh:

Tetra Jumif Januarius

Konflik antara Hi. Zainuddin Hanafi Ketua DPD Partai NasDem dengan Darwis Khair Ketua Dewan Pakar Daerah Partai NasDem menyebabkan terjadinya perpecahan pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus yang terlibat dalam konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktor yang terlibat konflik, untuk mengetahui bentuk konflik, penyebab terjadinya konflik dan akibat yang ditimbulkan oleh konflik internal Partai NasDem Tanggamus. Penelitian ini menggunakan teori dari Fisher, Maurice Duverger, Ralf Dahrendorf. Penelitian ini didasarkan pada penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan informan yang dipandang memahami masalah. Data skunder dikumpulkan melalui literatur-literatur dan artikel yang relevan dengan penelitian ini.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik di Partai Nasdem Tanggamus telah terjadi perbedaan pendapat antara Hi. Zainuddin Hanafi Ketua DPD Partai NasDem dan Darwis Khair Ketua Dewan Pakar dalam hal menetapkan nomor urut caleg. Konflik ini termasuk ke dalam konflik laten dan konflik permukaan karena konflik ini masih bersifat tersembunyi dan perlu di angkat kepermukaan agar dapat diatasi secara efektif serta diketahui oleh semua pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus. Konflik Partai NasDem ini mempunyai dampak positif yaitu penyusunan kembali struktur kepengurusan dan dampak negatif yaitu perpecahan pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus yang berdampak kepada struktur kepengurusan DPD Partai NasDem Tanggamus.

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gisting Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus tepat pada hari Sabtu tanggal 12 Januari 1991. Putra pertama dari dua bersaudara buah cinta pasangan Ayahanda Mif Sulaiman dan Ibunda Jumiati. Lahir dari keluarga yang penuh kesederhanaan, sosok Ayahanda yang banyak mengajarkan tentang arti kerja

keras dan tanggung jawab serta kehadiran ibunda yang banyak memberikan do’a

dan motivasinya.

(8)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan sebuah karya sederhana ini teruntuk:

Ayahanda dan Ibunda Tercinta

Yang telah membesarkan, mendidik, serta memberikan kasih sayang

yang tak berujung, terima atas semua dukungan, do’a dan

pengorbanannya.

Adikku Mira Yulita Fatimah

Saudara serahim yang selalu penuh kasih dan cerita nyata,

alasan kenapa penulis terus bertahan dan berjuang selama ini.

Semoga kelak kita bisa menjadi putra-putrinya yang mebanggakan.

(9)

MOTO

Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang

sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa

yang belum kita capai.

(Schopenhauer)

"Bekerjalah bagaikan tak butuh uang.

Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti.

Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang

menonton."

(Mark Twain)

Terus berusaha dan jangan pernah putus asa agar

semua cita-cita dapat terwujud yang dapat

(10)

SANWACANA

Bismillahirahmanirrahim.

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT

karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi berjudul “Analisis Konflik Dewan Pimpinan Daerah Partai Nasional Demokrat Tanggamus” ini merupakan syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung.

(11)

1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan FISIP Universitas Lampung;

3. Bapak Drs. Denden Kurnia Drajat, M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan;

4. Bapak Syafarudin, S.Sos, M.A., selaku Dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih atas bimbingan, nasihat, dan motivasinya kepada penulis hingga selesai studi;

5. Ibu Dr. Ari Darmastuti, M.A., selaku dosen Pembimbing Utama. Terima kasih sebesar-sebesarnya karena telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian skripsi ini;

6. Bapak Syafarudin, S.Sos, M.A., selaku dosen Pembimbing Kedua. Terima kasih atas saran, bimbingan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini;

7. Bapak Drs. Hertanto, M.Si, Ph.D., selaku Dosen Penguji Utama. Terima kasih atas saran dan kritik, serta masukan yang membangun terhadap skripsi ini agar menjadi lebih baik;

(12)

satu per satu, terima kasih atas bantuannya;

10. Bapak Ir. Hi. Zainuddin Hanafi, selaku Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus. Terimakasih atas izin dan bantuan yang diberikan selama penulis melakukan penelitian;

11. Pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus. Terimakasih atas bantuan dan kesediaannya memberikan informasi selama penulis melakukan penelitian;

12. Rekan-rekan satu angkatan di Jurusan Ilmu Pemerintahan, teruntuk mereka yang pernah memiliki NPM. 0916021xxx. Tetap jaga silaturahmi dan persaudaraan.

13. Erna Metaria, terimakasih atas perhatiannya serta motivasi yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan kalian. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kelangsungan proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat di Universitas Lampung.

Bandar Lampung, 22 Desember 2014 Penulis,

(13)
(14)

V. PENUTUP

A. Kesimpulan 100

B. Saran 103

(15)

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Partai politik merupakan sebuah organisasi masyarakat yang memiliki tujuan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan terhadap kedudukan di pemerintahan dengan cara melakukan pemilihan umum agar tercapainya sebuah tujuan bersama dan cita-cita bersama yang telah disepakati oleh anggota-anggota partai politik. Perjalanan partai politik di Indonesia sudah bisa dibilang cukup lama karena dari zaman kolonial partai politik di Indonesia sudah ada, namun partai politik pada saat itu belum bisa menjalankan tujuan serta fungsinya dengan baik dan benar.

(16)

kemudian dengan duduknya Surya Paloh Pendiri Ormas Nasional Demokrat Sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Nasdem.

Tanggal 26 Juli 2011 muncul sebuah partai baru yang diisukan akan mampu bersaing dengan partai politik yang sudah lama ada, partai politik ini ialah Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang baru diresmikan pada tanggal 26 Juli 2011 yang diresmikan di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara. Partai NasDem ini di dukung oleh Surya Paloh yang merupakan pendiri organisasi bernama sama yaitu Nasional Demokrat. Kehadiran Partai NasDem ini semakin menambah jumlah partai politik di Indonesia. Pemilihan umum (Pemilu) yang berikutnya diadakan pada tahun 2014 masih cukup lama karena masih dua tahun lagi. Waktu dua tahun sangatlah singkat untuk memperkuat partai politik agar dapat bertarung dalam pemilihan umum (pemilu) 2014. Strategi NasDem dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia guna membangun pencitraan yang baik sesuai dengan pencitraan yang selama ini diterapkan oleh organisasi masyarakat (ormas) Nasional Demokrat. (AD/ART Partai NasDem)

(17)

demokratik seluruh komponen bangsa, kemandirian ekonomi, dan negara yang memiliki martabat dalam pergaulan internasional. (AD/ART Partai NasDem).

(18)

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Tanggamus mempunyai Konflik internal politik antara Hi. Zainuddin Hanafi dan Darwis Khair berawal saat Hi. Zainuddin Hanafi berencana menetapkan nomor urut caleg bukan berdasarkan kader-kader partai yang didahulukan melainkan orang lain. Darwis Khair menginginkan dalam penetapan nomor urut caleg yang harus didahulukan ialah kader-kader partai terlebih dahulu, bukan orang lain yang didahulukan oleh Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus. Data ini didapat berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis pada saat melakukan kunjungan ke kantor DPD Partai NasDem Tanggamus pada hari rabu 12 Juni 2013 pukul 09.00 WIB. Peneliti mengetahui bahwa telah terjadi konflik internal Partai NasDem di Kabupaten Tanggamus yang dinyatakan oleh Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus Bapak Hi. Zainuddin Hanafi.

(19)

Konflik yang terjadi di dalam organisasi Partai NasDem Tanggamus bisa terbilang baru, itu semua karena Partai NasDem Tanggamus merupakan partai baru yang seharusnya memberikan contoh yang baik kepada masyarakatnya yang sesuai dengan mottonya yaitu gerakan perubahan. Konflik ini terjadi dikarenakan Hi. Zainuddin Hanafi selaku ketua DPD Partai NasDem Tanggamus ingin menetapkan nomor urut caleg secara sepihak tanpa adanya musyawarah yang dilakukan dengan seluruh pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus, selain itu Darwis Khair menganggap Hi. Zainuddin Hanafi tidak bersikap demokrasi di karenakan membuat keputusan untuk menetapkan nomor urut caleg partai hanyalah sepihak tidak melalui musyawarah daerah (musda). Hal inilah yang membuat Darwis Khair memilih keputusan untuk mundur dari Partai NasDem Tanggamus karena Darwis Khair mengatakan bahwa hampir 70% anggotanya adalah kaum muda yang seharusnya memberikan contoh yang baik serta harus lebih mementingkan kader-kader partai dahulu dari pada orang lain.

(20)

pernyataan bahwa Darwis Khair mundur dari Partai NasDem Tanggamus itu bagus karena persaingan di dalam partai tersebut sudah tidak baik lagi.

Konflik internal yang terjadi di dalam organisasi Partai NasDem Tanggamus membuat pandangan pengurus dan anggota Partai NasDem Tanggamus menjadi tidak baik karena pengurus dan anggota mempunyai pandangan bahwa persaingan didalam organisasi partai tersebut sudah tidak jujur, karena perseturuan antara Hi. Zainuddin Hanafi selaku Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus dengan. Darwis Khair yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar DPD Partai NasDem Tanggamus membuat para pengurus dan anggota partai harus percaya kepada siapa serta harus mendukung yang mana. Perkembangan yang terjadi di masyarakat banyak menimbulkan pendapat-pendapat masyarakat yang kurang baik karena masyarakat memiliki pandangan bahwa partai ini partai baru yang seharusnya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat tetapi malah meberikan contoh yang tidak baik karena belum mulai pemilihan umum (pemilu) sudah memiliki konflik internal partai yang terjadi antara Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus dengan Ketua Dewan Pakar DPD Partai NasDem Tanggamus.

(21)

hanya karena Darwis Khair mundur akan tetapi mereka merasa bahwa persaingan yang ada di pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus sudah tidak sehat lagi. Penulis tertarik untuk meneliti konflik internal Partai NasDem Tanggamus, karena konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus merupakan konflik yang pertama pasca penetapan partai politik yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), selain itu juga peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh Darwis Khair kepada pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus, sehingga pengurus dan anggota Partai NasDem Tanggamus ada yang mengikuti keputusannya untuk mundur dari Partai NasDem khususnya yang terjadi di daerah kabupaten Tanggamus.

(22)

Partai Demokrat hingga mengarah kepada konflik pro kontra. Kemerosotan partai demokrat makin menjadi-jadi saat hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan perolehan dukungan demokrat sebesar 8,3 persen. Hal tersebut membuat pendiri Partai Demokrat, pembina partai sekaligus presiden republik ini turun tangan menangani kisruh di internal partainya. (http://politik.kompasiana.com)

(23)
(24)

B. Rumusan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah yang akan di teliti mengenai Analisis Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus maka penulis membatasinya pada persoalan sebagai berikut:

1. Siapa saja aktor-aktor yang terlibat dalam konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus?

2. Apa bentuk konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus? 3. Apa yang menyebabkan terjadinya konflik internal di DPD Partai

NasDem Tanggamus?

4. Apa dampak yang ditimbulkan oleh konflik internal DPD Partai NasDem Tanggamus?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka secara umum peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus, secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui aktor-aktor yang terlibat dalam konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus.

2. Untuk mengetahui bentuk konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus.

3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik internal di DPD Partai NasDem Tanggamus.

4. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh konflik internal DPD Partai NasDem Tanggamus.

(25)

D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah : 1. Secara Akademis

Secara akademis, hasil penelitian ini sebagai salah satu referensi bagi mahasiswa yang penelitiannya mengenai konflik internal partai atau sejenisnya, khususnya yang berkaitan dengan Analisis Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus.

2. Secara Praktis

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Konflik

Konflik adalah suatu bentuk interaksi sosial dimana seseorang individu atau kelompok dalam mencapai tujuan maka individu atau kelompok akan mengalami kehancuran, sedang yang lain menilai bahwa konflik merupakan sebuah proses sosial dimana individu-individu atau kelompok individu berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan. (Slamet Santosa, 1999: 32).

(27)

(Coser, 1985: 211) Konflik adalah “perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan mengenai berkenaan dengan status, kuasa, sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, dimana pihak-pihak yang berselisih tidak hanya bermaksud memperoleh barang yang diinginkan melainkan juga memojokkan, merugikan atau bahkan menghancurkan pihak lawan”. Perselisihan atau konflik dapat berlangsung antar individu-individu, kumpulan-kumpulan atau antar individu dengan kumpulan. Bagaimanapun konflik baik yang bersifat antara kelompok maupun intra kelompok, selalu ada ditempat hidup orang bersama. Konflik disebut unsur interaksi yang penting, dan tidak sama sekali tidak boleh dikatakan selalu tidak baik atau memecah belah dan merusak, justru konflik dapat menyumbangkan banyak pada kelestarian kelompok dan memepererat hubungan antar anggotanya.

(28)

Setiap sistem politik terutama sistem politik demokrasi penuh kompetisi dan sangat dimungkinkan adanya perbedaan kepentingan, rivalitas dan konflik-konflik. Realitas sosial yang terjadi ditengah masyarakat modern karena masing-masing mempunyai interest, tujuan yang mungkin saling bertentangan. Konflik dalam ilmu politik sering diterjemahkan sebagai oposisi, interaksi yang antagonistis atau pertentangan, benturan antar macam-macam paham, perselisihan kurang mufakat, pergesekan, perkelahian, perlawanan dengan senjata dan perang. (Rahman Arifin, 2002: 184).

(29)

Konflik sangat sering didengar, mulai dari level yang sangat sempit yaitu konflik keluarga sampai dengan level yang sangat luas seperti konflik antar negara atau konflik internasional, jadi dapat dikatakan bahwa konflik merupakan bagian dari hidup manusia. Sebagai mahluk sosial, manusia setidaknya pernah mengalami konflik dalam hubungan sosial dengan manusia lain.

Konflik berasal dari bahasa Yunani konfigere yang berarti memukul dan dari bahasa Inggris conflict yang berarti pertentangan. Konflik memiliki dimensi pengertian yang sangat luas, baik dari sisi ilmu sosiologi, antropologi, komunikasi maupun manajemen. Para ahli dari berbagai latar belakang keilmuan mendefinisikan konflik sebagai berikut:

1. Konflik adalah pertentangan antara banyak kepentingan, nilai, tindakan atau arah serta merupakan bagian yang menyatu sejak kehidupan ada. Karenanya konflik merupakan sesuatu yang tidak terelakkan yang dapat bersifat positif atau bersifat negatif (Johnson dan Dunker (1993) dalam Mitchell et al, 2000);

2. Konflik merupakan hubungan antara dua pihak atau lebih individu atau kelompok, yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan (Fisher, 2001);

(30)

4. Konflik ialah proses pertentangan yang diekspresikan diantara dua pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai suatu obyek konflik, menggunakan pola perilaku dan interaksi yang menghasilkan keluaran konflik (Wirawan, 2010).

Negara yang demokratis keberadaan konflik merupakan hal yang lazim, hanya saja tergantung pada kadar konflik tersebut. (Alfian, 1986: 59) menjelaskan bahwa konsep konflik mengandung pengertian yang melanggar oleh karena itu perbedaan kepentingan, pendapat atau ide dapat dikategorikan sebagai konflik walaupun dengan kadar yang rendah, bila perbedaan kepentingan dan ide tersebut menjelma menjadi pertentangan kepentingan maka kadar konfliknya lebih tinggi.

(31)

Istilah konflik dalam ilmu politik sering kali diartikan dengan kekerasan, seperti kerusuhan, terorisme dan revolusi. (Ramlan Surbakti, 1992: 149) dikatakan, “konflik mengandung pengertian benturan, seperti perbedaan pendapat persaingan dan pertentangan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok dan antara individu dengan kelompok dengan pemerintah”. Konflik politik yang berkaitan dengan permasalahan mengenai konflik yang terjadi didalam organisasi politik atau partai politik, merupakan suatu pertentangan yang terjadi didalam individu dengan individu, atau individu dengan kelompok yang bertujuan untuk mencapai ambisi dan tujuan bersama melalui berbagai macam cara yang ditempuh. Politik selalu menyangkut tujuan dari seluruh masyarakat dan bukan tujuan dari peribadi seseorang, meskipun politik juga menyangkut kegiatan berbagai kelompok termasuk kegiatan partai politik dan kegiatan individu.

Empat hal yang berkaitan dengan konflik kepentingan yaitu:

(32)

2. Konteks, lebih menekankan pada adanya sebuah peluang dalam kompetisi nyata. Berbagai orang dengan latarbelakang berbeda melamar sebuah pekerjaan yang berkaitan dengan keuntungan. Memperoleh penghasilan, jaminan hidup dan status sosial yang lebih tinggi dari keberadaannya saat sebelum melamar,

3. Tanggungjawab, menekankan hal yang lebih luas dari dua hal sebelumnya.Disini seorang pelamar bukan berdiri sendiri dengan kepentingannya. Diantara berbagai kepentingan, dia dihadapkan pada kenyataan bahwa bukan keuntungan dengan mendapatkan penghasilan, jaminan hidup dan status sosial saja yang melatarbelakangi tetapi keberadaannya dalam komunitas pekerjaan itu sendiri yang harus dikedepankan. Apakah seseorang layak diterima apabila kompetensi yang dimilikinya jauh dari ukuran kompetensi yang diharapkan bagi seseorang yang akan menduduki pisisi tertentu,

4. Usaha, lepas dari konflik kepentingan maka keberadaan seseorang dalam sebuah kompetensi hanyalah bagian dari sekian banyak proses struktural dan persyaratan administrative

(33)

Daerah Partai NasDem Tanggamus yang berpengaruh terhadap seluruh pengurus DPC Partai NasDem Tanggamus.

Peneliti dapat menyimpulkan dari uraian diatas, konflik atau perselisihan merupakan kondisi dimana adanya ketidaksepakatan atau perbedaan antara dua orang atau lebih baik antarindividu, individu dengan kelompok, maupun individu dengan organisasi itu sendiri mengenai kepentingan, aktivitas dan tujuan yang hendak dicapai dalam suatu hubungan kerja sama, ini terjadi di dalam internal Partai NasDem antara masing-masing elit politik yang memiliki kepentingan, aktivitas dan tujuan pribadinya untuk mencapai jabatan Ketua Umum Partai NasDem.

a. Bentuk Konflik

Menurut teori (Fisher, 1964: 55) Pola konflik dibagi ke dalam tiga bentuk : 1. Konflik laten yaitu konflik yang sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat

kepermukaan sehingga dapat ditangani secara efektif.

2. Konflik manifest atau terbuka yaitu konflik yang berakar dalam dan sangat nyata, dan memerlukan bebagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai macam efeknya.

(34)

Menurut (Maurice Duverger, 1988: 47), ada tiga bentuk konflik yang berkaitan dengan kekuasaan atau politik antara lain:

1. Konflik yang sama sekali tidak mempunyai dasar prisipil, bentuk konflik ini berhubungan langsung dengan masalah praktis bukan dengan masalah ideologi yang dilakukan baik oleh individu maupun golongan atau kelompok.

2. Konflik yang lebih menitik beratkan kepada perbedaan pandangan baik individual maupun kelompok yang menyangkut dengan masalah partai politik atau yang berhubungan dengan kepentingan partai politik, masyarakat yang dianggap mewakili rakyat.

3. Konflik yang menitik beratkan kepada permasalahan perbedaan ideologi, masing-masing memperjuangkan ideologi partainya yang semuanya merasa benar.

(35)

Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus yang ditandai dengan terjadinya perbedaan pandangan antara Hi. Zainuddin Hanafi dengan Darwis Khair termasuk kedalam konflik yang dikemukakan oleh Fisher yaitu konflik permukaan karena Hi. Zainuddin Hanafi dengan Darwis Khair secara personal berbeda pemikiran politik. Perbedaan pemikiran, pendapat dan pilihan inilah yang dikategorikan sebagai konflik yang dikenal dengan istilah konflik permukaan, karena konflik ini yang tahu adalah masing-masing pribadi dan tidak terlihat secara kasat mata karena tidak menggunakan benda-benda fisik.

b.Penyebab Konflik

(Maswadi Rauf, 2001: 49), mengemukakan bahwa konflik terjadi karena adannya keinginan manusia untuk menguasasi sumber-sumber posisi yang langkah (resource and position scarity). Konflik terjadi karena adanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat untuk memperebutkan barang-barang pemenuh kebutuhan yang terbatas. Sama halnya dengan sumber-sumber posisi atau kedudukan atau jabatan juga langkah dalam masyarakat. Kedudukan sebagai penguasa negara, merupakan bahan rebutan diantara anggota-anggota masyarakat yang menghasilkan konflik.

(36)
(37)

Menurut (Maurice Duverger, 1988: 49,50), penyebab terjadinya konflik yaitu: 1. Sebab-sebab individual. Sebab-sebab individual seperti kecendrungan berkompetisi atau selalu tidak puas terhadap pekerjaan orang lain dapat menyebabkan orang yang mempunyai ciri-ciri seperti ini selalu terlibat dalam konflik dengan orang lain dimanapun berada.

2. Sebab-sebab kolektif, yaitu penyebab konflik yang terbentuk oleh kelompok sebagai hasil dari interaksi sosial antara anggota-anggota kelompok. Penyebab konflik ini dihasilkan oleh adanya tantangan dan masalah yang berasal dari luar yang dianggap mengancam kelompoknya.

Penyebab terjadinya konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus jika dilihat dari penyebab individual yaitu adanya perbedaan pandangan dalam penentuan nomor urut caleg Partai NasDem Tanggamus dan perbedaan kepentingan antar pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus, sedangkan dilihat dari sebab kolektif yaitu adanya faksi-faksi ditubuh Partai NasDem Tanggamus.

c. Dampak Konflik

Menurut (Fisher, 1964: 60), suatu konflik tidak selalu berdampak negatif, tapi ada kalanya konflik juga memiliki dampak positif. Dampak positif dari suatu konflik yaitu:

1. Konflik dapat memperjelas berbagai aspek kehidupan yang masih belum tuntas.

2. Adanya konflik menimbulkan penyesuaian kembali norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

(38)

3. Konflik dapat meningkatkan solidaritas diantara anggota kelompok. 4. Konflik dapat mengurangi rasa ketergantungan terhadap individu atau

kelompok.

5. Konflik juga dapat memunculkan kompromi baru.

Dampak negatif dari suatu konflik yaitu sebagai berikut:

1. Pertama, keretakan hubungan antar individu dan persatuan kelompok. 2. Kedua, kerusakan harta benda bahkan dalam tingkatan konflik yang lebih

tinggi dapat mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

3. Ketiga, berubahnya kepribadian para individu atau anggota kelompok. Keempat, munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah.

Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus yang terjadi pasca penetapan Partai NasDem Tanggamus sebagai peserta pemilu tahun 2014 jelas menimbulkan dampak bagi Partai NasDem Tanggamus, munculnya dampak positif dan dampak negatif yang berkembang di pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus.

B. Tinjauan Tentang Pengurus Partai Politik a. Pengurus

(39)

yang memiliki kedudukan tertentu baik secara formal maupun informal dan mengatur tentang suatu urusan atau hal yang berkaitan dengan organisasi atau partainya dan bertanggung jawab mengenai hal itu.

Penelitian ini yang dimaksud pengurus partai, yaitu orang-orang yang mempunyai kedudukan baik formal maupun informal dan dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dan dijalankan oleh partai.

b. Partai Politik

Partai politik dapat berarti organisasi yang mempunyai basis ideologi yang jelas. Setiap anggotanya mempunyai pandangan yang sama dan bertujuan untuk merebut kekuasaan atau mempengaruhi kebijaksanaan negara baik secara langsung maupun tidak langsung, karena itu partai politik selalu ikut pada sebuah mekanisme pemilihan umum untuk bersaing secara kompetitif guna mendapatkan dukungan rakyat.

Menurut (P.K Poerwantana, 1994: 6) “Partai politik adalah perkumpulan sekelompok orang yang seasas, sehaluan, setujuan terutama dalam bidang politik, baik yang berdasarkan partai kader atau struktur kepartaian yang dimonopoli oleh sekelompok anggota partai yang terkemuka maupun yang berdasarkan partai massa”.

(40)

kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan programnya”.

Menurut (Carl J. Friedrich, (Miriam Budiardjo, 2008: 404)) “partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil”.

Berbeda halnya dengan pendapat (Sigmund Neumann, (Miriam Budiardjo, 2008: 404)) partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Pendapat Sigmund Neumann tersebut, menekankan bahwa partai politik merupakan tempat berkumpulnya aktivis politik dan terdapat persaingan antar golongan yang memiliki pandangan yang berbeda untuk menguasai pemerintahan.

Menurut (Robert Michael, 1984: 24) ada cara yang perlu dilakukan oleh partai untuk melembagakan dirinya agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan peran dan fungsinya yang sejatinya. Sedikitnya terdapat tiga bidang yang perlu diperhitungkan manakala pelembagaan pengembangan partai politik hendaknya dikedepankan, yaitu:

(41)

sehat, namun tumbuhnya perdebatan bahkan lahirnya faksionalisme dalam partai akan dapat merugikan pengembangan partai politik kedepannya.

2. Ketangguhan organisasi. Partai politik memiliki tujuan dan kepentingan untuk meraih konstituen guna pembangunan legitimasi dirinya, tujuan tersebut dapat tercapai apabila partai politik berhasil menyebarkan sumber daya-sumber daya ke level-level yang lebih rendah dari tingkat pusat atau nasional.

3. Identitas politik partai. Identitas partai menjadi penting ketika ia berupaya mengejar jabatan di pemerintahan, karena itu gagasan yang jelas dan konstruktif, prinsip-prinsip yang berorientasi publik, pelibatan anggota partai, serta program-program yang matang menjadi citra yang perlu dibangun dalam menkonstruksi identitas partai yang kuat.

Partai politik berbeda dengan kelompok penekan atau istilah yang lebih banyak dipakai dewasa ini adalah kelompok kepentingan menurut (Miriam Budiardjo, 2008: 404) kelompok ini bertujuan untuk memperjuangkan suatu kepentingan dan mempengaruhi lembaga-lembaga politik agar mendapatkan keputusan yang menguntungkan atau menghindarkan keputusan yang merugikan.

(42)

partai politik. Menurut (Ichlasul Amal, 1998: 11) “partai politik merupakan suatu keharusan dalam kehidupan politik yang modern dan demokratis. Partai politik secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan secara absah atau legitimate dan damai”.

Berdasarkan definisi tersebut di atas walaupun sepintas tampak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, namun secara umum partai politik dapat diartikan sebagai kelompok orang dalam satu usaha bersama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan biasanya melalui suatu mekanisme politik yang disebut pemilu, hal tersebutlah yang membedakan partai politik dengan kelompok kepentingan lainnya. Partai politik selalu memperjuangkan suatu kepentingan dalam skala yang luas melalui mekanisme pemilu, sedangkan kelompok kepentingan atau kelompok penekan yang lainnya seperti kelompok profesi, kelompok adat, organisasi kemasyarakatan hanya mengejar kepentingan-kepentingan sesaat dalam lingkup yang lebih kecil serta melewati mekanisme politik formal seperti pemilu.

c. Fungsi Partai Politik

(43)

mempertimbangkan fungsi bahwa partai tampil di setiap demokrasi. Fungsi tersebut mengartikan partai-partai politik dalam suatu masyarakat demokratis yang mengesankan dan beragam.

(Miriam Budiarjo, 2008: 163-164) mengemukakan fungsi dari partai politik ialah:

1. Partai sebagai sarana sosialisasi politik

Didalam ilmu politik, sosialisasi politik diartikan sebagai melalui mana seseorang memperoleh pemahaman dan sikap serta orientasi terhadap fenomena politik yang terjadi dimana ia berasal. Proses ini biasanya berjalan secara berangsur-angsur. Pada partai politik, peran sebagai salah satu alat sosialisasi politik dijalankan dengan melalui ceramah-ceramah, kursus-kursus, ataupun penataran-penataran bagi pengikut atau kader dari partai politik tertentu.

2. Partai sebagai sarana rekrutmen politik

(44)

3. Partai sebagai sarana agregasi politik

Pada masyarakat yang modern dan kompleks, pendapat seseorang atau sekelompok orang sangat beranekaragam yang disebabkan banyaknya kepentingan yang ada didalamnya. Oleh karena itu partai politik berfungsi untuk menampung dan menggabungkan berbagai pendapat dan aspirasi tersebut menjadi satu kebijakan umum. Proses penggabungan ini disebut “penggabungan kepentingan”.

4. Partai sebagai sarana pengatur konflik

Partai politik sebagai salah satu lembaga demokratis berfungsi untuk mengendalikan konflik melalui cara dialog dalam pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan dari pihak –pihak yang berkonflik dan membawa persoalan ke badan perwakilan rakyat untuk mendapatkan penyelesaian berupa keputusan politik, diperlukan kesediaan berkompromi antara wakil rakyat yang berasal dari partai-partai politik.

d. Tipologi Partai Politik

(45)

1. Asas dan Orientasi

Berdasarkan asas dan orientasinya, partai politik di klasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu, partai politik pragmatis, partai politik dotriner, dan partai politik kepentingan. Partai politik pragmatis adalah partai politik yang memiliki program dan kegiatan yang tidak terikat pada suatu ideologi tertentu. Partai doktriner adalah suatu partai politik yang memiliki sejumlah program dan kegiatan yang kongkret sebagai wujud dan penjabaran ideologiny, Partai politik kepentingan merupakan partai politik yang dibentuk dan dikelola berdasarkan kepentingan tertentu, seperti petani, buruh, etnis, agama, atau lingkungan hidupyang secara langsung ingin berpartisipasi dalam pemerintahan.

2. Komposisi dan Fungsi Anggota

Komposisi dan fungsi anggotanya, partai politik digolongkan menjadi dua yaitu, partai massa dan partai kader. Partai massa ialah partai politik yang mengandalkan kekuatan pada keunggulan jumlah anggota dan mengandalkan massa sebanyak-banyaknya. Partai kader merupakan partai politik yang mengandalkan kualitas anggota, kekuatan organisasi, dan disiplin anggota sebagai sumber kekuatan utama partai.

3. Basis Sosial dan Tujuan

Basis sosial dan tujuannya, partai politik di bagi menjadi empat tipe partai yaitu:

(46)

b. Partai politik yang keanggotaannya berasal dari pemeluk agama tertentu seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha.

c. Partai politik yang keanggotaannya berasal dari kalangan kelompok kepentingan tertentu seperti pengusaha, buruh dan petani.

d. Partai politik yang keanggotaannya berasal dari kelompok budaya tertentu seperti suku bangsa, bahasa, dan dari daerah tertentu.

Tipe-tipe partai politik dari para ahli cukup banyak dan ini cukup membingungkan. Aneka klasfikasi tipe partai politik tersebut di akibatkan sejumlah sudut pandang. Richard S Katz dalam buku (Seta Basri, 2011: 122) mengemukakan ada empat tipe partai politik yaitu:

1. Partai Elit, partai jenis ini berbasis lokal dengan sejumlah elit inti yang menjadi basis kekuatan partai. Dukungan bagi partai elit ini bersumber pada hubungan anah buah dari elit-elit yang duduk di partai ini. Biasanya, elit yang duduk di kepemimpinan partai memiliki status ekonomi dan jabatan yang terpandang. Partai ini juga didasarkan pada pemimpin-pemimpin faksi dan elit politik yang biasanya terbentuk di dalam parlemen.

(47)

lebih didasarkan pada identitas sosial partai ketimbang ideologi atau kebijakan.

3. Partai Catch All, partai jenis ini di permukaan hampir serupa dengan partai massa. Namun, berbeda dengan partai massa yang mendasarkan diri pada kelas sosial tertentu, Partai Catch All mulai berfikir bahwa dirinya mewakili kepentingan bangsa secara keseluruhan. Partai jenis ini berorientasi pada pemenangan pemilu sehingga fleksibel untuk berganti-ganti isu di setiap kampanye Partai Catch All juga sering disebut sebagai Partai Electoral Professional atau Partai Rational Efficient.

4. Partai Kartel, partai jenis ini muncul akibat berkurangnya jumlah pemilih atau anggota partai. Kekurangan ini berakibat pada suara mereka di tingkat parlemen. Untuk mengatasi hal tersebut, pimpinan-pimpinan partai saling berkoalisi untuk memperoleh kekuatan yang cukup untuk bertahan, partai kartel, ideologi, janji pemilu, basis pemilih hampir sudah tidak memiliki arti lagi.

(48)

propaganda yang dilakukan anggota secara sukarela, berpartisipasi dalam bantuan-bantuan sosial.

Partai NasDem itu sendiri termasuk kedalam tipologi Partai Catch All, hal ini dikarenakan anggota-anggota Partai NasDem Tanggamus tidak berbasis dalam satu lapisan sosial tertentu, tetapi Partai NasDem Tanggamus mencakup seluruh lapisan, hal ini terlihat dari banyaknya pengusaha, akademisi, politisi, bahkan dari lapisan bawah seperti, petani dan buruh. Orientasi Partai NasDem yaitu untuk memperoleh suara maksimal di pemilu atau memenangkan pemilu, ini dapat dilihat dari kampanye-kampanye yang dilakukan oleh Partai NasDem Tanggamus.

C. Konflik Internal Politik Dalam Partai Politik

(49)

Partai politik dalam hubungannya dengan kegiatan bernegara, peranan partai politik sebagai media dan wahana tentulah sangat menonjol. Faktor-faktor yang lain seperti pers yang bebas dan peranan kelas menengah yang tercerahkan, dan sebagainya, peranan partai politik dapat dikatakan sangat menentukan dalam dinamika kegiatan bernegara. Partai politik juga sangat berperan dalam proses dinamis perjuangan nilai dan kepentingan (values and interests) dari konstituen yang diwakilinya untuk menentukan kebijakan dalam konteks kegiatan bernegara. Partai politik yang bertindak sebagai perantara dalam proses-proses pengambilan keputusan bernegara, yang menghubungkan antara warga negara dengan institusi-institusi kenegaraan. Menurut Robert Michels dalam bukunya, “Political Parties, A Sociological

Study of the Oligarchical Tendencies of Modern Democracy”, “... organisasi

... merupakan satu-satunya sarana ekonomi atau politik untuk membentuk

kemauan kolektif

(50)

menghadapi pihak lawan atau saingan, karena kekuatan-kekuatan yang kecil dan terpecah-pecah dapat di konsolidasikan dalam satu front.

Organisasi belum dapat mengatasi krisis dalam pergantian kepemimpinannya, dan belum berhasil meletakkan dasar pengaturan yang dapat diakui dan dipercaya oleh anggotanya, maka selama itu pula pelembagaan organisasi tersebut masih bermasalah dan belum dapat dikatakan kuat. Apalagi jika pergantian itu berkenaan dengan pemimpin yang merupakan pendiri yang berjasa bagi organisasi bersangkutan, seringkali timbul kesulitan untuk melakukan pergantian yang tertib dan damai. Derajat pelembagaan organisasi yang bersangkutan tergantung kepada bagaimana persoalan pergantian itu

dapat dilakukan secara “impersonal” dan “depersoanlized”.

Organisasi menggunakan parameter “personalisasi” ini untuk menilai organisasi kemasyarakatan dan partai-partai politik di tanah air kita dewasa ini, tentu banyak sekali organisasi yang dengan derajat yang berbeda-beda

dapat dikatakan belum semuanya melembaga secara “depersonalized”.

(51)

Derajat pelembagaan organisasi juga dapat dilihat dari segi “organizational differentiation”. Yang perlu dilihat adalah seberapa jauh organisasi

kemasyarakatan ataupun partai politik yang bersangkutan berhasil mengorganisasikan diri sebagai instrumen untuk membolisasi dukungan konstituennya. Sistem demokrasi dengan banyak partai politik, aneka ragam aspirasi dan kepentingan politik yang saling berkompetisi dalam masyarakat memerlukan penyalurannya yang tepat melalui pelembagaan partai politik. Semakin besar dukungan yang dapat dimobilisasikan oleh dan disalurkan aspirasinya melalui suatu partai politik, semakin besar pula potensi partai politik itu untuk disebut telah terlembagakan secara tepat. (Oleh Jimly Asshiddiqie)

D. Kerangka Pikir

Konflik yang penulis maksudkan disini adalah melihat bagaimana konflik kepentingan itu bisa terjadi, karena pada umumnya konflik kepentingan berawal dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang tinggal bersama dan meletakkan dasar-dasar bagi bentuk-bentuk organisasi sosial, dimana terdapat posisi-posisi yang mempunyai kekuasaan memerintah dalam konteks-konteks tertentu dan menguasai posisi-posisi tertentu, serta terdapat posisi lain dimana para penghuni menjadi sasaran.

(52)

sejumlah sumber daya menjadi terbatas, dan ketika persaingan untuk suatu penghargaan serta hak-hak istimewa, adanya ketidakpuasan dan tingginya rasa ingin menguasai adalah alasan lain seseorang untuk memperebutkan apa yang mereka inginkan.

Pengurus DPD Partai Nasdem Tanggamus masing-masing memiliki kepentingan dimana Hi. Zainuddin Hanafi menginginkan keputusannya dalam menetapkan nomor urut caleg dapat diterima pengurus dan anggota-anggota Partai NasDem yang lain. sedangkan dalam hal ini Darwis Khair memiliki pendapat yang berbeda karena Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus hanya menentukan sepihak tidak adanya musyawarah terlebih dahulu kepada pengurus yang lain.

(53)

Faktor penyebab konflik menurut teori (Maurice Duverger, 1988: 49,50) mempunyai dua sebab terjadinya konflik yaitu:

1. Sebab-sebab individual. Sebab-sebab individual seperti selalu berkompetisi atau selalu tidak puas terhadap pekerjaan orang lain dapat menyebabkan orang yang mempunyai ciri-ciri seperti ini selalu terlibat dalam konflik dengan orang lain dimanapun berada.

2. Sebab-sebab kolektif, yaitu penyebab konflik yang terbentuk oleh kelompok sebagai hasil dari interaksi sosial antara anggota-anggota kelompok. Penyebab konflik ini dihasilkan oleh adanya tantangan dan masalah yang berasal dari luar yang dianggap mengancam kelompoknya

Teori yang menjelaskan tentang penyebab terjadinya konflik ini akan digunakan oleh peneliti sebagai teori yang digunakan sebagai acuan penelitian dan untuk menjawab penyebab terjadinya konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus.

Bentuk konflik menurut teori (Fisher, 1964: 55) mempunyai tiga bentuk konflik yaitu:

1. Konflik laten yaitu konflik yang sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat kepermukaan sehingga dapat ditangani secara efektif.

2. Konflik manifest atau terbuka yaitu konflik yang berakar dalam dan sangat nyata, dan memerlukan bebagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai macam efeknya.

(54)

Teori yang menjelaskan tentang bentuk konflik ini akan digunakan oleh peneliti sebagai teori yang digunakan sebagai acuan penelitian dan untuk menjawab bentuk konflik apa yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus. Konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus ini juga mempunyai dampak/akibat konflik bagi pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus. Teori (Fisher, 1964: 60) juga berpendapat tentang dampak konflik yaitu suatu konflik tidak selalu berdampak negatif saja, tetapi ada saatnya konflik juga memiliki dampak positif.

(55)

Adapun yang menjadi kerangka pikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Konflik Internal DPD Partai NasDem Tanggamus

Analisis Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus

2. Bentuk Konflik

3. Faktor Penyebab Konflik

4. Dampak/Akibat Konflik 1. Aktor Yang Terlibat

(56)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus, maka jenis penelitian yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah deskriptif yang didasarkan pada data kualitatif. Menurut (Sugiyono, 2009) menjelaskan ”Penelitian deskriptif adalah

penelitian yang berusaha mendeskripsikan, menggambarkan data yang diperoleh berdasarkan ungkapan bahasa, cara berfikir, pandangan subyek suatu peristiwa (apa yang terjadi) yang sedang berlangsung saat ini, serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya. Penelitian kualitatif menurut (Sugiyono, 2009) adalah penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan yang diamati secara alami atau natural.”

Penelitian ini, peneliti menuturkan dan mendefinisikan data tentang analisis konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus.

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

(57)

Lokasi penelitian di Kantor DPD Partai NasDem Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus. Dikarenakan anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Tanggamus telah terjadi konflik internal di DPD Partai NasDem Tanggamus. Waktu penelitian dari 20 November 2013 sampai 20 Februari 2014

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah untuk membatasi studi dan bidang kajian penelitian, karena tanpa adanya fokus penelitian, maka peneliti akan terjebak pada melimpahnya volume data yang diperoleh dilapangan, oleh karena itu fokus penelitian memiliki peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan jalannya penelitian, melalui fokus penelitian, informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian sesuai dengan konteks permasalahan yang akan diteliti.

Konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus memiliki penyebab terjadinya konflik, pengurus dan anggota memiliki kecenderungan untuk mengetahui penyebab munculnya konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus. (Maurice Duverger, 1988: 49,50), penyebab terjadinya konflik yaitu:

(58)

2. Sebab-sebab kolektif, yaitu penyebab konflik yang terbentuk oleh kelompok sebagai hasil dari interaksi sosial antara anggota-anggota kelompok. Penyebab konflik ini dihasilkan oleh adanya tantangan dan masalah yang berasal dari luar yang dianggap mengancam kelompoknya.

Penyebab terjadinya konflik internal DPD Partai NasDem Tanggamus jika dilihat dari penyebab individual yaitu adanya perbedaan pandangan dalam pengisian jabatan Ketua Umum dan perbedaan kepentingan antar pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus, sedangkan dilihat dari sebab kolektif yaitu adanya faksi-faksi ditubuh Partai NasDem Tanggamus.

Pengurus dan anggota DPD NasDem Tanggamus mempunyai kecenderungan untuk mengetahui bentuk konflik yang terjadi di DPD NasDem Tanggamus. Teori (Fisher, 1964: 55) pola atau bentuk konflik dibagi ke dalam tiga bentuk yaitu:

1. Konflik laten yaitu konflik yang sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat kepermukaan sehingga dapat ditangani secara efektif.

2. Konflik manifest atau terbuka yaitu konflik yang berakar dalam dan sangat nyata, dan memerlukan bebagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai macam efeknya.

(59)

Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah penyebab terjadinya konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus, bentuk konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus, dan dampak/akibat konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus meliputi:

1. Untuk mengetahui aktor-aktor yang terlibat dalam konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis bentuk-bentuk konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis penyebab terjadinya konflik di DPD Partai NasDem.

4. Untuk mengetahui dampak/akibat konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus.

D. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini meliputi: 1. Data Primer

(60)

2. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh atau yang telah dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang lain terlebih dahulu dan data tersebut relevan dengan permasalahan dan fokus penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini dapat berupa arsip dan dokumen atau literatur lain yang dimiliki oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Tanggamus.

E. Penentuan Informan

Penelitian kualitatif pada umumnya mengambil jumlah informan yang lebih kecil dibandingkan dengan bentuk penelitian lainnya. Untuk memperoleh informasi yang diharapkan, peneliti terlebih dahulu menentukan informan yang akan dimintai informasinya (Moleong, 2010).

Dalam penelitian ini untuk menentukan informan penelitian. Penulis menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan informan secara tidak acak, tetapi dengan pertimbangan dan kriteria tertentu. Sebagaimana dikemukakan oleh (Moleong, 2010) untuk kedalaman penelitian kualitatif pemilihan informan penelitian didasarkan pada beberapa kriteria, yaitu: 1. Informan merupakan subyek telah lama dan intensif menyatu dengan

kegiatan atau aktivitas yang menjadi sasaran atau perhatian peneliti dan biasanya ditandai dengan kemampuan memberikan informasi mengenai hal yang ditanya peneliti.

(61)

3. Informan merupakan subyek yang mempunyai cukup waktu atau kesempatan untuk dimintai informasi.

4. Informan merupakan subyek yang dalam memberikan informasi tidak cendrung diolah atau dikemas terlebih dahulu.

Peneliti telah melakukan pengumpulan data dengan wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara sebagaimana diharapkan agar wawancara tetap berada pada fokus penelitian, meski masih terdapat pertanyaan-pertanyaan berlanjut. Informan yang dipilih peneliti adalah informan yang benar-benar paham dan mengetahui permasalahan yang dimaksud oleh peneliti. Informan yang telah peneliti wawancarai untuk pengumpulan data ini yaitu beberapa orang pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus periode 2013-2018, serta beberapa mantan pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus yang telah keluar dari keanggotaan Partai NasDem. Informan tersebut adalah: 1. Ir. Zainuddin Hanafi (Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus Periode

2013-2018).

2. Drs. Darwis Khair (Ketua Dewan Pakar Daerah Partai NasDem Tanggamus Periode 2013-2018).

3. Rusdi (Anggota Dewan Pakar Daerah Partai NasDem Tanggamus Periode 2013-2018).

4. Rosihan (Anggota Dewan Pakar Daerah Partai NasDem Tanggamus Periode 2013-2018).

(62)

F. Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Observasi

Yaitu pengamatan terhadap tempat dan peristiwa yang berkaitan dengan definisi operasional penelitian. Pada penelitian ini, peneliti akan menambah dengan foto-foto pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada hari rabu tanggal 12 Juni 2013 pukul 09.00 WIB, peneliti mengetahui bahwa telah terjadi konflik internal Partai NasDem di kabupaten Tanggamus yang dinyatakan oleh Ketua Partai NasDem Tanggamus Bapak Hi. Zainuddin Hanafi.

2. Wawancara Mendalam (in-depth interview)

Wawancara mendalam dalam penelitian ini dilakukan dengan jalan mewawancarai sumber-sumber data dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada sumber informasi. Dalam hal ini peneliti menggunakan pedoman wawancara yang cendrung bersifat campuran (yaitu gabungan dari wawancara berstruktur dan wawancara tidak berstrukur).

(63)

Tanggamus periode 2013-2018, serta beberapa mantan pengurus DPD Partai NasDem Tanggamus yang telah keluar dari keanggotaan DPD Partai NasDem Tanggamus.

3. Studi Dokumentasi

Dokumen dan record digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari hasil observasi pada penelitian, menurut Guba dan Lincoln dalam (L.J Moelong, 2010), karena alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai berikut:

1. Dokumen dan record dikarenakan merupakan sumber yang kaya, stabil, dan mendorong.

2. Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.

3. Keduanya berguna dan sesuai dengan konteks, lahir, dan berada dalam konteks.

4. Record relatif murah dan tidak sukar diperoleh tetapi dokumen harus dicari dan ditemukan.

5. Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki. Peneliti telah melakukan pengumpulan data dengan studi dokumentasi dan penemuan bukti-bukti yang didapatkan oleh peneliti berupa AD/ART Partai NasDem serta data-data yang berkaitan dengan konflik internal Partai NasDem di Tanggamus yang semuanya bersifat data tertulis.

G. Tehnik Pengolahan Data

(64)

1. Editing Data

Menurut (Moleong, 2010) editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai menghimpun data di lapangan. Tahap editing adalah tahap memeriksa kembali data yang berhasil diperoleh dalam rangka menjamin keabsahannya (validitas) untuk kemudian dipersiapkan ketahap selanjutnya yaitu memeriksa hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden.

Penelitian ini, peneliti telah menghimpun data di lapangan serta memeriksa kembali data-data yang didapatkan dalam rangka menjamin keabsahan data tersebut yang berupa AD/ART Partai NasDem dan data yang menunjang penelitian ini terlaksana.

2. Intepretasi data

Tahap interpretaasi data yaitu tahap untuk memberikan penafsiran atau penjabaran dari data yang ada pada tabel untuk dicari maknanya yang lebih luas dengan menghubungkan jawaban dari responden dengan hasil yang lain, serta dari dokumentasi yang ada.

Penjabaran data yang didapatkan pada waktu dilapangan oleh penulis membuat peneliti menyusun informasi berdasarkan data dari responden dengan data yang lain sehingga informasi yang di tuliskan dalam penelitian ini dapat di pertanggung jawabkan keabsahannya.

H. Tehnik Analisis Data

(65)

serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Fenomena yang diteliti secara deskriptif tersebut dicari informasi mengenai hal-hal yang dianggap mempunyai relevansi dengan tujuan penelitian. Menurut (Moleong, 2010) analisis data merupakan proses memanipulasi data hasil penelitian sehingga data tersebut dapat menjawab pertanyaan penelitian/proses menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah diinterpretasikan. Data yang diperoleh dari wawancara mendalam akan diolah dan dianalisis secara kualitatif dengan proses reduksi dan interpretasi.

Menurut (Sugiyono, 2009), terdapat tiga komponen analisis data dalam penelitian kualitatif meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Yaitu sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan tranformasi data “kasar” yang muncul

(66)

dapat digambarkan secara terperinci, sehingga apa yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini nantinya bisa terjawab dengan maksimal.

2. Penyajian Data (Display Data)

Sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data-data yang ada dikelompokkan pada bagian atau sub bagian masing-masing. Data yang disajikan disesuaikan dengan informasi yang didapat dari catatan tertulis di lapangan. Dengan penyajian data tersebut akan dapat dipahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan, menganalisis ataukah tindakan berdasarkan pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut. Susunan informasi yang dilakukan penulis memungkinkan kesimpulan penelitian dapat dilakukan. Dengan melihat sajian data, penulis dapat lebih memahami berbagai hal yang terjadi dan memungkinkan untuk mengerjakan sesuatu pada analisis ataupun tindakan lain berdasarkan pemahaman tersebut. Sajian data yang baik dan jelas sistematikanya akan banyak membantu. Kesemuanya itu dirancang guna menyusun informasi secara teratur supaya mudah dilihat dan dimengerti dalam bentuk yang lebih baik.

3. Penarikan Kesimpulan (verifikasi)

(67)

longgar, tetap terbuka, dan skeptis, tetapi kesimpulan sudah disediakan, mula-mula belum jelas, kemudian lebih rinci dan mengakar dengan kokoh. Dan kesimpulan akhir mungkin muncul sampai pengumpulan data berakhir, tergantung pada kesimpulan-kesimpulan catatan lapangan, pengodeannya, penyimpanan, metode pencairan ulang yang digunakan dan kecakapan peneliti.

(68)

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Partai politik sebagai wadah atau muara bertemunya banyak kepentingan sudah tentu rawan terjadi konflik. Partai politik sebagai organisasi modern akan selalu dihadapkan pada realitas konflik misalnya saja konflik yang berupa perbedaan pandangan, ide atau paham pertentangan kepentingan dan seterusnya. Partai NasDem sebagai satu-satunya partai baru yang dinyatakan lolos verifikasi KPU. Partai NasDem secara struktur menginginkan adanya perbaikan dari segi struktur kepengurusan guna mempersiapkan diri menghadapi pemilu 2014 dan dalam menetapkan nomor urut caleg harus berdasarkan kader-kader partai bukan berdasarkan penunjukan langsung yang tidak sesuai dengan kader-kader Partai NasDem, karena itu penulis menyimpulkan bahwa:

(69)

2. Bentuk konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus ialah bentuk konflik laten dan bentuk konflik permukaan. Konflik laten merupakan konflik yang sifatnya tersembunyi, dan konflik permukaan ialah konflik yang sifatnya muncul karena adanya salah paham antara yang terlibat konflik. Konflik di DPD Partai NasDem Tanggamus termasuk kedalam bentuk konflik laten dan konflik permukaan karena konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus massih bersifat tersembunyi yang hanya di ketahui oleh pimpinan DPD Partai NasDem Tanggamus saja, konflik laten tersebut diangkat menjadi konflik permukaan agar semua pengurus dan anggota DPD Partai NasDem Tanggamus dapat mengetahui konflik yang terjadi di DPD Partai NasDem Tanggamus.

(70)

membuat Ketua Dewan Pakar Daerah Partai NasDem Tanggamus menolak keputusan tersebut, karena keputusan tersebut tidak benar, seharusnya yang lebih di dahulukan ialah kader-kader Partai NasDem yang ingin menjadi calon legislatif bukan orang lain yang hanya menggunakan Partai NasDem sebagai perahu politik agar bisa menjadi calon legislatif.

(71)

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, menunjukan bahwa terjadinya konflik internal Partai NasDem Tanggamus disebabkan oleh konflik DPP Partai NasDem yang merambat sampai ke DPD Partai NasDem Tanggamus karena tidak adanya komunikasi yang baik dilakukan dari tingkat pusat maupun dari tingkat daerah sehingga menghasilkan perbedaan pandangan diantara petinggi Partai NasDem, anggota maupun kader Partai NasDem. Untuk mengatasi hal tersebut ada beberapa saran yang dianggap penting untuk penulis sampaikan, antara lain:

(72)
(73)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2002. Psikologi Sosial. Rineka Cipta. Jakarta. Alfian. 1982. Politik, Budaya, dan Masyarakat. LP3ES. Jakarta.

Alfian, Nazaruddin Syamsuddin. Masa Depan Kehidupan Politik Indonesia. AIPI. Jakarta.

Arifin,Rahman.2002. Sistem Politik Indonesia dalam Perspektif Struktural Fungsional. SIC. Surabaya.

Bartens K dan Nugroho.1985. Realita Sosial . Gramedia Pustaka. Jakarta.

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Dahl, Robert. 1994. Analisis Politik Modern. Bumi Aksara. Jakarta.

Duverger, Maurice. 1988. Parpol dan Kelompok Kepentingan, Rajawali Press, Jakarta

Engel A, Korf B. 2005. Teknik-Teknik Perundingan dan Mediasi untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. FAO. Roma.

Fisher S et. al. 2001. Mengelola Konflik: Keterampilan dan Strategi untuk Bertindak. SMK Grafika Desa Putra. Jakarta. Terjemahan dari: Working with Conflict: Skills and Strategies for Action . UK: Zed Books Ltd.

Gaffar, Afan. 1984. Partai Politik dan Kelompok-Kelompok Penekan. Bina Aksara. Jakarta.

Lewis Coser. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta

Maris, Masri. 2005. Konflik Kekerasan Internal. Yayasan Obor Indonesia LIPI. Jakarta.

(74)

Moleong, Lexy J. 2010. Metodelogi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Bandung

Poerwantana, P.K. 1994. Partai Politik di Indonesia. PT Rineka Cipta. Jakarta. Rauf, Maswadi. 2001. Konsensus Politik dan Konflik Politik. Dirjen Dikti

Depdiknas. Jakarta

Rush, Michael dan Phillip Althoff. 2005. Pengantar Sosiologi Politik. Rajawali Press. Jakarta.

Santosa, Slamet, 1999, Dinamika Kelompok, Bumi Aksara, Jakarta Sudijono, Sastroatmojo. 1995. Prilaku Politik. IKIP. Semarang. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Administrasi. Alfa Beta. Bandung.

Sujarwo. 1998. Manajemen Konflik dalam: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial. Sosiologi FISIP. Unila.

Suporahardjo (Editor). 2005. Manajemen Kolaborasi: Memahami Plurasisme Membangun Konsensus. Pustaka Latin. Bogor.

Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. PT Gramedia Widia Sarana. Jakarta.

Thaha, Idris. 2004. Pergulatan Partai Politik Di Indonesia. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik Teori, Aplikasi, dan Penelitian. Salemba Humanika. Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...