Ras Doberman dan Labrador Retriever. Dibimbing oleh UMI CAHYANINGSIH dan ARYANI S. SATYANINGTIJAS
.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui infeksi parasit darah yang terdapat pada preparat ulas darah dari anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok. Penelitian ini menggunakan tujuh preparat ulas darah anjing Ras Doberman dan tujuh preparat ulas darah anjing ras Labrador retriever dengan pewarnaan Giemsa 10% dan diamati pada pembesaran 1000 X. Hasil pengamatan menunjukan bahwa jenis parasit yang teridentifikasi yaitu Babesia sp. (0.6857±0.19518)% dan Theileria sp. (0.6486±0.29300)% pada anjing ras Doberman. Rata-rata persentase parasit Babesia sp. dan Theileria sp. pada anjing ras Labrador Retriever yaitu (0.6771±0.10350)% dan (0.6857±0.09619)%. Secara umum tingkat parasitemia pada kedua jenis anjing berada pada tingkat yang rendah atau “mild reaction” (<1%).
Kata kunci : Doberman, Labrador retriever, Babesia sp., Theileria sp.
ABSTRACT
NURFITRAH ANDRIANI ABDULLAH. Parasite in Erythrocyte of Doberman and Labrador Retriever Dog. Under guidance of UMI CAHYANINGSIH and ARYANI SISMIN SATYANINGTIJAS.
This research was conducted to know infection of parasite in erythrocyte of Doberman and Labrador Retriever dogs at Kelapa Dua Depok. Seven Doberman’s blood smear and seven Labrador Retriver’s blood smear were stained by Giemsa 10% and examined under 1000 X magnificence. The result of examination showed that the dog were positively infected by Babesia sp. and Theileria sp. The average percentation of Babesia sp. and Theileria sp. in Doberman dogs were (0.6857±0.19518)% and (0.6486±0.29300)%, respectively. Meanwhile the average percentation of Babesia sp.,and Theileria sp. in Labrador Retriever dogs were (0.6771±0.10350)% and (0.6857±0.09619)%. In general, the parasitemia in those dogs were in mild reaction (<1%).
NURFITRAH ANDRIANI ABDULLAH
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Parasit Dalam Sel Darah Merah Anjing Ras Doberman dan Labrador Retiever adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian belakang skripsi ini.
Bogor, Oktober2012
Ras Doberman dan Labrador Retriever. Dibimbing oleh UMI CAHYANINGSIH dan ARYANI S. SATYANINGTIJAS
.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui infeksi parasit darah yang terdapat pada preparat ulas darah dari anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok. Penelitian ini menggunakan tujuh preparat ulas darah anjing Ras Doberman dan tujuh preparat ulas darah anjing ras Labrador retriever dengan pewarnaan Giemsa 10% dan diamati pada pembesaran 1000 X. Hasil pengamatan menunjukan bahwa jenis parasit yang teridentifikasi yaitu Babesia sp. (0.6857±0.19518)% dan Theileria sp. (0.6486±0.29300)% pada anjing ras Doberman. Rata-rata persentase parasit Babesia sp. dan Theileria sp. pada anjing ras Labrador Retriever yaitu (0.6771±0.10350)% dan (0.6857±0.09619)%. Secara umum tingkat parasitemia pada kedua jenis anjing berada pada tingkat yang rendah atau “mild reaction” (<1%).
Kata kunci : Doberman, Labrador retriever, Babesia sp., Theileria sp.
ABSTRACT
NURFITRAH ANDRIANI ABDULLAH. Parasite in Erythrocyte of Doberman and Labrador Retriever Dog. Under guidance of UMI CAHYANINGSIH and ARYANI SISMIN SATYANINGTIJAS.
This research was conducted to know infection of parasite in erythrocyte of Doberman and Labrador Retriever dogs at Kelapa Dua Depok. Seven Doberman’s blood smear and seven Labrador Retriver’s blood smear were stained by Giemsa 10% and examined under 1000 X magnificence. The result of examination showed that the dog were positively infected by Babesia sp. and Theileria sp. The average percentation of Babesia sp. and Theileria sp. in Doberman dogs were (0.6857±0.19518)% and (0.6486±0.29300)%, respectively. Meanwhile the average percentation of Babesia sp.,and Theileria sp. in Labrador Retriever dogs were (0.6771±0.10350)% and (0.6857±0.09619)%. In general, the parasitemia in those dogs were in mild reaction (<1%).
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyususnan laporan, penulisan kritik, atau tujuan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
NURFITRAH ANDRIANI ABDULLAH
Skripsi
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Parasit Dalam Sel Darah Merah Anjing Ras Doberman dan Labrador Retriever
Nama : Nurfitrah Andriani Abdullah
NIM : B04070001
Disetujui
Dr.drh.Hj.Umi Cahyaningsih, M.S. Pembimbing I
Dr.drh.Aryani S. Satyaningtijas. M.Sc., AIF. Pembimbing II
Diketahui
Drh. Agus Setiyono, M,S, Ph.D.,APVet. WakilDekanFakultasKedokteranHewan
Besar, atas segala karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul Parasit Dalam Sel Darah Merah Anjing Ras Doberman dan Labrador Retriever ini merupakan salah satu syarat kelulusan studi program sarjana pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Atas segala dukungan yang telah diberikan dalam penyelesaian skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Dr.drh.Hj. Umi Cahyaningsih, M.S sebagai dosen pembimbing pertama yang
dengan sabar telah mencurahkan waktu, pikiran, dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis.
Dr. drh. Aryani S. Satyaningtijas, M.Sc., AIF sebagai dosen pembimbing
kedua sekaligus sebagai dosen pembimbing akademik yang selalu membimbing penulis selama perkuliahan di FKH IPB dan selalu menyemangati penulis dalam menjalani hari-hari yang berat selama di FKH IPB.
Kedua orang tua tercinta Ayah tercinta Drs. Abdullah S, M.M dan ibunda
tercinta Hendrawati yang selalu menyemangati dan mendoakan penulis serta adik-adikku tersayang yang selalu menghibur penulis dengan canda tawa. Teknisi Laboratorium yang senantiasa membantu dalam pelaksanaan penelitian
ini dan teman-teman Avenzoar 45, teman-teman Gianuzzi 44, dan kakak kelas yang selalu memberikan semangat.
Semua pihak yang turut memberikan arti penting dalam perjalanan hidup
penulis termasuk penyelesaian skripsi ini.
Semoga karya ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi semua pihak. Kritik dan saran yang membangun agar karya penulis menjadi lebih sempurna sangat penulis harapkan.
Bogor, Oktober 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Belajen, Kabupaten Enrekang pada tanggal 31 Maret 1989 dari ayah Drs. Abdullah, M.M dan ibu Hendrawati.Penulis merupakan putri pertama dari lima bersaudara.
Halaman
Rhipicephalus sanguineus ... 4
Babesia sp. .. ... 6
Pengambilan Sampel Darah ... 13
Pembuatan Preparat Ulas Darah ... 13
Pengamatan Ulas Darah ... 14
Analisis Data ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
Identifikasi Berdasarkan Morfologi ... 15
Babesiasp. ... 16
Theileria sp. ... 17
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anjing merupakan mamalia yang paling banyak dipelihara orang dan yang pertama kali didomestikasi atau disosialisasikan penggunaannya dalam kehidupan manusia. Menurut penelitian ilmiah dan bukti dilapangan, dewasa ini anjing banyak dipelihara karena anjing dianggap hewan pintar, mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi. Tingkat kecerdasan anjing tergantung dari jenis ras dan individu anjing itu sendiri (Untung 1999). Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialisasi dengan manusia dan anjing lain. Anjing memiliki posisi unik dalam hubungan antarspesies. Kesetiaan dan pengabdian yang ditunjukan anjing sangat mirip dengan konsep manusia tentang cinta dan persahabatan (Grossman 1993).
Dewasa ini anjing difungsikan sebagai hewan pelacak untuk membantu aparat keamanan (polisi) dalam memecahkan kasus kriminal, terutama di Indonesia, seperti pelacak bahan peledak, narkotik, kasus pencurian, pembunuhan, dan kasus kriminal lainnya. Jenis anjing yang sering digunakan sebagai anjing pelacak di Indonesia diantaranya yaitu anjing Labrador Retriever, Gembala Jerman, Rotweiller Retriever, Doberman Pincher, Belgian Melanois, dan Beagle (Larkin dan Stockman 2001).
Gambar 2 Anjing ras Labrador Retriever (Horowitz 2009).
Anjing tersebut dipilih sebagai anjing pelacak karena memiliki penampilan yang sangat baik, fisik yang sehat, dan daya intelegensi yang tinggi dibandingkan anjing lain serta memiliki daya penciuman yang sangat tajam. Anjing mempunyai sel-sel penciuman yang lebih banyak dari manusia dan lebih sensitif (Horowitz 2009), oleh karena fungsinya itu anjing sangat perlu untuk diperhatikan kesehatannya.
Darah memiliki peranan yang sangat penting dan kompleks dalam sistem sirkulasi tubuh yaitu sebagai media transpor nutrisi, oksigen, karbondioksida, hormon, dan zat-zat hasil metabolisme. Disamping itu darah juga berperan dalam sistem pertahanan tubuh terhadap agen penyakit (Martini et.al 1992). Darah adalah salah satu parameter yang dapat dipakai untuk menentukan status kesehatan hewan. Sebagian besar penyakit diketahui dapat menyebabkan perubahan gambaran nilai darah (Ganong 2001).
Labrador Retriever di kepolisian Kelapa Dua Depok. Anjing tersebut memperlihatkan gambaran darah yang mengarah pada anemia (Patmawati 2007; Anggayasti 2007). Beberapa dari anjing tersebut diantaranya telah mati. Oleh karena itu pemeriksaan terhadap darah anemia ini dianggap sangat penting.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infeksi parasit dalam sel darah merah yang dapat dilihat dengan preparat ulas darah dari anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok.
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
ParasitParasit dapat dibedakan menjadi dua yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya menumpang di bagian luar dari tempatnya bergantung atau pada permukaan tubuh inangnya (host), contohnya jenis nyamuk (Culicidae), lalat (Muscidae), kecoa (Dictipotera), tungau (Parasitoformes), caplak (Acariformes), kutu (Pthiraptera), kutu busuk (Hemiptera), dan pinjal (Siphonaptera). Endoparasit adalah parasit yang dapat hidup di dalam tubuh inangnya diantaranya cacing dan protozoa (Gandahusada et. al 1998).
Menurut Levine (1995), anjing dapat terinfeksi berbagai jenis protozoa yang beredar di dalam sel darah merah, antara lain Trypanosoma rangeli, Hepatozoon canis, dan Babesia canis dan Theileria sp. Parasit ini ditularkan oleh caplak coklat
anjing, Rhipicephalus sanguineus. Babesia canis terdapat pada anjing di seluruh dunia, tetapi jarang di Amerika Serikat. Parasit ini ditularkan oleh gigitan caplak dan lebih sering ditularkan oleh Rhipicephalus sanguineus, akan tetapi dapat juga ditularkan oleh Dermacentor sp., Haemaphysalis sp., dan Hyalomma sp. (Kumar et. al 2008).
Babesiosis dapat bersifat kronis, namun terkadang dapat juga bersifat akut dan menyebabkan kematian pada hewan yang terinfeksi. Infeksi parasit pada hewan dapat menyebabkan hewan kehilangan darah yang berdampak serius pada hewan tersebut (Soulsby1982) sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan, dan daya kerja. Penularan parasit ini tergantung dari populasi caplak yang menjadi vektor dari penyebaran parasit (Soulsby1982).
Rhipicephalus sanguineus
Gambar 3 Caplak Rhipicephalus sanguineus (Sumber: Ruedisueli dan Manship 2002).
Caplak ini dapat bertahan hidup pada inangnya dengan melengkapi siklus hidupnya pada lingkungan sekitar yang sesuai inang. Caplak masih dapat bertahan hidup pada suhu udara yang kurang mendukung baik suhu tinggi maupun rendah. Populasi caplak akan meningkat drastis bila suhu hangat. Caplak ini memiliki sifat toleransi terhadap perubahan cuaca (Lord 2001, Sugiarto 2005). Siklus hidup R. sanguineus membutuhkan tiga induk semang mulai dari penetasan telur hingga menjadi caplak dewasa. Induk semang yang diperlukan bisa dalam ras anjing yang sama ataupun ras anjing yang berbeda. Seluruh stadium hidup caplak ini dapat menghisap darah atau cairan tubuh kecuali pada stadium telur. Caplak dewasa akan lepas dari tubuh anjing setelah menghisap darah kemudian merayap mencari tempat berlindung di celah-celah hingga telurnya siap untuk dikeluarkan, kemudian caplak dewasa akan siap untuk bertelur di tanah. Apabila caplak tersebut mengandung protozoa (Babesia sp. dan Theileria sp.) dalam tubuhnya, kemudian caplak ini menggigit anjing maka anjing tersebut kemungkinan akan mengalami infeksi protozoa (James dan Leah 2001).
Gambar 4Siklus hidup Rhipicephalus sanguineus(Sumber: James dan Leah 2001).
Betin Dewasa
Nimfa
Nimfa
Larva
Babesia sp.
Menurut Levine (1995) Babesia diklasifikasikan sebagai berikut:
Phylum III : Apicomplexa
Babesia sp. Merupakan parasit obligat intraseluler dengan induk semang adalah anjing, ruminansia, dan satwa liar. Pada induk semang Babesia sp. berhabitat di dalam sel darah merah, biasanya bentuknya berpasangan seperti buah pir yang membentuk sudut pada kedua ujungnya, kadang-kadang dapat juga dijumpai yang tidak berpasangan (Gambar 6). Menurut OIE (2010), ukuran Babesia sp. diperkirakan panjang 1-1.5 µm dan lebar 0.5-1.0 µm. Ada dua bentuk Babesia yaitu bentuk yang besar (sudutnya kecil) misalnya Babesia bigemina dan Babesia motasi serta Babesia bentuk yang kecil (sudutnya lebih besar daripada bentuk yang besar). Babesia divergens dan Babesia ovis (Levine1995). Babesia sp. adalah parasit darah yang dapat menyebabkan babesiosis. Penyakit ini sering ditemukan di daerah yang beriklim tropis, subtropis, dan beriklim sedang (Astyawati et. al 2010). Babesia canis dan Babesia gibsoni paling sering ditemukan pada anjing (Cleveland et. al 2002; OIE 2010).
Siklus Hidup
zigot. Tahap selanjutnya zigot berkembang menjadi ookinet (Uilenberg 2006). Ookinet dapat menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung, ookinet akan membesar di tempat ini dan disebut ookista. Di dalam ookista dibentuk ribuan sporozoit (ini yang disebut dengan periode sporogoni). Beberapa sporozoit menembus kelenjar ludah caplak dan bila caplak menggigit anjing makas porozoit masuk kedalam darah anjing dan mulailah siklus pre eritrositik.
Gambar 5 Siklus Hidup Babesia sp. (Sumber: Gardiner et. al 2002).
Perkembangan secara aseksual pada tubuh induk semang (anjing) dimulai pada saat caplak mengisap darah, dengan menginokulasikan sporozoit Babesia sp. melalui kelenjar ludah ke dalam tubuh anjing sebagai hospes perantaranya. Sporozoit kemudian akan mengikuti sistem limfe dan membentuk trofozoit dan selanjutnya menginfeksi sel parenkim hati, dan dalam beberapa hari membentuk badan yang berinti banyak disebut skizont. Dalam perkembangannya skizont akan membentuk merozoit di dalamnya. Semakin banyak jumlah merozoit dalam skizont akan menyebabkan skizont ini pecah. Skizont yang pecah kemudian melepaskan ribuan merozoit ke dalam aliran darah. Merozoit lalu menginfeksi eritrosit, kemudian berubah menjadi trofozoit muda yang kemudian matang dan
berubah menjadi skizont. Skizont kembali pecah dan kembali melepaskan merozoit yang akan menginfeksi eritrosit lain (Gardiner et. al 2002).
Gejala Klinis
Pada anjing, Babesia memasuki eritrosit dan dapat menyebabkan kenaikan suhu dan frekuensi nafas (Skotarczak 2008; Duh et. al 2004). Gejala yang tampak adalah, hemoglobinuria, ikterus, dan splenomegali (Yatim dan Herman 2006; Skotarczak 2008; Crnogaj et. al 2010). Gejala infeksi kronis yang nampak adalah demam, kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan sehingga anjing menjadi lemah, anoreksia (Skotarczak 2008; Sugiarto 2005; Crnogaj et. al 2010). Gejala infeksi akut yang nampak adalah ikterus dan anemia. Anemia terjadi ketika sel darah merah diinfestasi oleh parasit sehingga menyebabkan kelainan pada sel darah merah berupa permukaan yang tidak teratur. Bentuk sel darah merah yang tidak teratur ini akan mempengaruhi kandungan hemoglobin yang mengikat oksigen. Kemudian sel darah merah yang mengalami kelainan tersebut akan dikeluarkan dari sirkulasi oleh limpa (Price dan Wilson 2003). Adanya infestasi parasit juga dapat menyebabkan terjadinya hemolisis (intravaskuler) yang kemudian menyebabkan terjadinya anemia (Taylor et. al 2007). Berikut adalah gambaran infeksi Babesia sp. dalam darah:
Gambar 6 Babesia canis (A) dan Babesia gibsoni (B) pada sel darah merah anjing (Sumber: Cleveland et. al2002).
Theileriasp.
Menurut Levine (1995) Theileria diklasifikasikan sebagai berikut:
Phylum : Apicomplexa
Class : Sporozoa
Subclass : Piroplasmodia
Ordo : Piroplasma
Family : Theileriidae
Genus : Theileria
Spesies : Theileria sp.
Morfologi
Bentuk Theileria sp. yang paling dominan adalah bentuk batang yang memiliki ukuran diperkirakan 1.5-2.0 x 0.5-1.0 µm. Bentuk lain yang sering dijumpai pada eritrosit yaitu bentuk oval, bundar, dan bentuk menyerupai koma (Gambar 7) (Soulsby 1982).
Gambar 7 Bentuk Theileria parva (bentuk-bentuk piroplasma dalam eritrosit) (Sumber:Soulsby 1982).
Siklus Hidup
Beberapa merozoit masuk ke dalam eritrosit lain membentuk gamon (Siegel et. al 2006).
Selanjutnya gamon memasuki daerah intestinal nimfa caplak membentuk mikrogamon. Mikrogamon ini berinti empat, kemudian membelah membentuk mikrogamet dengan satu inti kemudian bergabung dengan makrogamet membentuk zigot. Zigot akan masuk ke dalam epitel usus dan mengalami transformasi membentuk kinet. Kemudian kinet bergerak mengikuti aliran limfe dan memasuki kelenjar saliva caplak dan mengalami perubahan menjadi sporoblast (Bishop et. al 2004). Sporoblast akan menghasilkan ribuan sporozoit. Sporozoit inilah yang kemudian menginfeksi mamalia melalui gigitan caplak yang terinfeksi (Siegel et. al 2006).
Gambar 8 Siklus hidup Theileria sp. (Sumber : IRLI 2006).
Gejala Klinis
Theileria sp. merupakan parasit pada hewan yang dapat menyebabkan theileriosis. Theileriosis adalah kondisi tubuh yang terinfeksi Theileria dan dapat
menyebabkan terjadinya anemia yang disertai demam, diarre dan pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe. Menurut Morzaria (1990) patogenesitas Theileria untuk setiap spesies berbeda-beda tergantung kepada strain parasit, tingkat kepekaan inang dan jumlah parasit. Theileria mutans adalah salah satu jenis yang dikenal benign. Theileria mutans mengalami limfositik merogoni, pembelahan terjadi di eritrosit dan menyebabkan piroplasma parasitemia dan hemolitik anemia pada inang. Gejala klinis pada hewan yang terinfeksi Theileria yaitu letargi, anoreksia, membran pucat, hipertermia, hiperglobinuria, splenomegali, trombocytopenia, dan anemia (Simoes et. al 2011).
Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah (Evelyn 2006). Darah berfungsi sebagai media transportasi, yaitu membawa nutrisi dari saluran pencernaan menuju jaringan, produk akhir metabolisme dari sel menuju organ eksresi, oksigen dari paru-paru menuju jaringan, karbondioksida dari jaringan menuju paru-paru, berperan dalam mengatur suhu tubuh, menjaga konsentrasi ion hidrogen tubuh dan pertahanan terhadap serangan mikroorganisme (Cunningham 2002).
Anemia adalah suatu kondisi dimana jaringan kekurangan oksigen. Jaringan yang kekurangan oksigen bisa disebabkan oleh karena penurunan jumlah butir darahmerah (BDM), penurunan kadar hemoglobin, dan penurunan nilai hematokrit (PCV). Pada anemia dengan penurunan kadar hemoglobin disebut anemia defisiensi zat besi, dimana eritrosit menjadi berukuran kecil, mungkin dapat diperkirakan bahwa jangka hidupnya diperpanjang karena sel yang lebih muda memiliki ukuran lebih besar dibandingkan sel tua. Sebaliknya anemia tipe mikrositik adalah akibat dari sel-sel darah muda yang tidak dilepaskan ke dalam darah bersirkulasi dalam jumlah yang cukup untuk menggantikan sel-sel yang telah mati (Guyton dan Hall 2007).
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli2011 di Laboratorium Protozoologi, bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB.
Objek Penelitian
Penelitian ini menggunakan anjing ras Doberman dan ras Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok. Jumlah anjing yang digunakan dalam penelitian ini adalah tujuh ekor ras Doberman (empat ekor jantan dan tiga ekor betina yang berumur lebih dari tiga tahun) dan tujuh ekor ras Labrador Retriever (lima ekor jantan-dua ekor betina yang berumur lebih dari tiga tahun) anjing-anjing tersebut merupakan anjing impor yang sudah didomestikasi tanpa diberikan perlakuan apapun dan sebelum melakukan aktivitas rutin pelatihan anjing pelacak (Patmawati 2007; Aggayasti 2007).
Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan darah dengan spuit pada anjing melalui vena cephalica antibrachii lateralis dan vena femoralis sebanyak 2 ml setelah dilakukan pemeriksan klinis terhadap anjing tersebut (Patmawati 2007; Anggayasti 2007).Setelah semua sampel darah diperoleh, sampel darah langsung dibawa dengan menggunakan termos dingin ke laboratorium Fisiologi Departemen Anatomi, Fisiologi & Farmakologi FKH IPB untuk langsung dilakukan pengamatan. Lama perjalanan dari Kennel Subdit Satwa POLRI sampai Laboratorium Fisiologi FKH IPB adalah 2-3 jam (Patmawati 2007; Anggayasti 2007).
Pembuatan Preparat Ulas Darah
kecepatan konstan sehingga didapatkan ulasan yang tidak terlalu tebal. Ulasan yang didapat dikeringkan di udara selama 3-5menit, setelah kering dilakukan fiksasi ulasan dalam metanol selama 5 menit. Ulasan kemudian dicelupkan ke dalam pewarna giemsa selama kurang lebih 30 menit. Ulasan kemudian diangkat dan dicuci menggunakan air yang mengalir sampai air bilasan tidak membawa warna giemsa dan dikeringkan di udara.
Pengamatan Ulas Darah
Hasil preparat ulas darah yang telah diwarnai, dengan Giemsa 10%, diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 1000 X dengan minyak emersi. Selanjutnya dilakukan penghitungan dengan rumus:
Jumlah parasit/500 RBC x 100% (Alamzan et. al 2008).
Penghitungan darah mulai dilakukan jika ditemukan parasit pada satu lapang pandang, jika dalam satu lapang pandang tersebut jumlah eritrosit belum mencapai jumlah lima ratus maka penghitungan dilanjutkan terhadap eritrosit pada lapang pandang yang lain meskipun dalam lapang pandang tersebut tidak ditemukan lagi parasit. Dalam penghitungan eritrosit rata-rata dilakukan pada 3-4 lapang pandang untuk mencapai angka lima ratus eritrosit.
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Berdasarkan Morfologi
Berdasarkan hasil identifikasi preparat ulas darah anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok, ditemukan dua jenis parasit darah yang mempunyai habitat di dalam sel darah merah (intraseluler) yaitu Babesia sp. dan Theileria sp., keduanya merupakan parasit darah yang sering menginfeksi hewan kecil diantaranya anjing. Phenzhorn (2006) melaporkan bahwa jenis parasit dalam sel darah merah hewan liar yang biasa ditemukan adalah jenis Babesia sp. dan Theileria sp. Dari ketujuh preparat ulas darah anjing ras Doberman ditemukan protozoa parasit darah dan dari setiap preparat ulas darah dapat ditemukan lebih dari satu jenis parasit darah yaitu Babesia sp. dan Theileria sp., begitupun dengan anjing ras Labrador Retriever dari ketujuh ekor anjing ditemukan protozoa parasit darah dan dari preparat ulas darah dapat ditemukan lebih dari satu jenis parasit Babesia sp. maupun Theileria sp. dari pemeriksaan tersebut semua anjing terinfeksi parasit Babesia sp. dan Theileria sp.
Protozoa parasit yang terlihat pada pemeriksaan preparat ulas darah merupakan protozoa intraeritrositik berbentuk seperti buah pir berpasangan dengan warna yang lebih gelap dibandingkan sitoplasma dari sel darah merah. Karakteristik ini sesuai dengan morfologi Babesia sp. (Cleveland et. al 2002) dan merupakan parasit eritrositik (Gambar 9). Selain Babesia sp. ditemukan pula protozoa parasit yang mengarah pada morfologi dari Theileria sp. pada preparat ulas darah yang diperiksa terlihat parasit yang berbentuk batang dan dan bentuk yang menyerupai koma dengan warna yang lebih gelap dibandingkan sitoplasma dari sel darah merah (Gambar 10). Karakteristik ini sesuai dengan morfologi Theileria sp. Menurut Soulsby (1982) bentuk Theileria sp. yang paling dominan adalah bentuk batang.
tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain faktor stres pada hewan. Tingkat stres pada hewan akan mempermudah infeksi parasit darah, karena kondisi yang menurun akan menyebabkan daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh akan menurun pula sehingga lebih rentan terhadap infeksi parasit.
Babesia sp.
Babesia sp. merupakan salah satu jenis parasit darah yang berasal dari filum apicomplexa dan famili Babesiidae. Dalam sel darah merah bentuk Babesia sp. berpasangan seperti buah pir berbentuk sudut pada kedua ujungnya, akan tetapi kadang-kadang dijumpai bentuk yang tidak berpasangan. Ukuran Babesia sp. diperkirakan memiliki panjang 1-1.5 µm dan panjang 0.5-1.0 µm (Soulsby 1982). Dua spesies dari genus Babesia yang dominan menginfeksi anjing, yaitu Babesia canis dan Babesia gibsoni. Babesia canis ini terbagi lagi menjadi tiga subspesies, yaitu Babesia canis canis, Babesia canis vogeli dan Babesia canis rossi (Caccio et. al 2002). Babesia canis memiliki bentuk menyerupai buah pir dan memiliki diameter 2.5-5.0 mikron, meruncing pada salah satu ujungnya dan pada ujung lain tumpul, dan berpasangan (Hunfeld et. al 2008). Masing-masing subspesies ini dapat dibedakan berdasarkan analisis rangkaian gen rRNA dan perbedaan sifat alami dan virulensinya pada anjing. Babesia canis canis dilaporkan paling sering menginfeksi anjing ras Doberman (Chauvin et. al 2009).
Gambar 9 Babesia sp.(A) hasil pengamatan dan Babesia sp. dengan pembesaran 1000 X dan Babesia sp.(B) berdasarkan literatur (Cleveland et. al 2002).
Theileria sp.
Theileria merupakan parasit darah yang berasal dari filum apicomplexa dan famili Theileriidae. Menurut Soulsby (1982) bentuk Theileria yang paling dominan adalah bentuk batang yang memiliki ukuran diperkirakan 1.5-2.0 x 0.5-1.0 µm (Kaufmann 2001). Akan tetapi sering juga ditemukan bentuk lain yang sering dijumpai pada eritrosit yaitu bentuk oval, bundar, dan bentuk yang menyerupai koma 0.5 x 2.0 µm (Kaufmann 2001). Jenis Theileria yang sering menginveksi anjing yaitu Theileria annae (Dixit 2010). Simoes et. al (2011) menyatakan bahwa gejala klinis pada hewan yang terinfeksi Theileria sp. dapat berupa letargi, anoreksia, membran pucat, hipetermia, hiperglobinuria, splenomegali, trombositopenia, dan anemia.
Gambar 10 Theileria sp. (A) hasil pengamatan dengan pembesaran 1000 X dan Theileria sp. (B) berdasarkan literatur (Kaufmann 2001).
A B
Presentase Parasitemia
Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan diperoleh hasil nilai parasitemia yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Rataan persentase parasit pada anjing ras Doberman dan Labrador
Labrador Retriever 7 0. 6771 ±0.1035 0.6857±0.0962
Keterangan: Hasil menunjukan hubungan yang tidak berbeda nyata ( p>0.1).
Tingkat parasitemia diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat ringan (mild reaction) yaitu bila ditemukan 1-4 parasit darah per 500 eritrosit (parasitosis <1%), tingkatan kedua adalah tingkat lebih berat (servere reaction) bila ditemukan 5-10 parasit per 500 eritrosit (parasitosis 3%), sedangkan tingkatan yang ketiga adalah tingkat berat sekali (very servere reaction) yaitu bila ditemukan lebih dari sepuluh parasit per 500 eritrosit (parasitosisnya 5-9%) (Birkenheuer et. al 2003; Camacho 2004).
Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa tingkat parasitemia Theileria sp. dan Babesia sp. pada anjing ras Doberman dan ras Labrador Retriever, nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat parasitemia masih dalam stadium ringan (mild reaction) yaitu kurang dari 1 %. Mengacu dari referensi di atas, tingkat parasitemia yang kurang dari 1% hanya menyebabkan terjadinya parasitiasis (Soulsby 1982). Parasitiasis adalah keadaan dimana infeksi parasit belum menimbulkan lesi jelas atau tanda klinis pada induk semangnya. Menurut Simoes et. al (2011), gejala klinis dapat terjadi jika tingkat parasitemia dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi jika infeksi parasit terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi antar parasit dalam darah, tingkat parasitemia yang rendah (<1%) dapat memicu timbulnya gejala klinis (Birkenheuer et. al 2003).
Hall 2007). Tingkat stres pada hewan juga akan mempermudah infeksi parasit darah, karena kondisi yang menurun akan menyebabkan daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh akan menurun pula sehingga lebih rentan terhadap infeksi parasit. Penularan parasit darah dari satu hewan ke hewan lainnya dapat diperantarai oleh vektor seperti caplak. Infestasi caplak dalam jumlah banyak dapat menyebabkan timbulnya gejala klinis berupa anemia, karena caplak ini akan menghisap darah (James dan Leah 2001).
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Alamzan C, Mendrano C, Ortiz M, Fuente JDL. 2008. Genetic Diversity of Anaplasma Marginale Straine From an Outbreak of Bovine Anaplasmosis endemic area. Vet Parasitology. 158:103-109.
Altay K, Fatih A, Nazir D, Munir A. 2008. Molecular detection of Theileria and Babesia infections in cattle. Vet Parasitol. 158:295-301.
Anggayasti GW. 2007. Gambaran Hematologi Anjing Pelacak Operasional Ras Labrador Retriever Di Subdit Satwa Polri-Depok. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor. Hlm 61.
Astyawati T, Wulansarai R, Cahyono, Ardhiansyah F, Rumekso A, Dhetty. 2010. Konsentrasi Serum Anjing yang Optimum untuk Menumbuhkan dan Memelihara Babesia canis dalam Biakan. J Vet (4): 238-243.
Bakken S, Dumler S, Chen SM, Eckman, Marak R, Van etta L, Walker H. 2006. Human granulocytic ehrlichiosis in the upper midwest United States. JAMA. 129:247-269.
Bandini Y. 2001. Sapi Bali. Penebar Swadaya. Jakarta.
Birkenheuer AJ, Levy MG, Breitschwerdt EB. 2003. Development and Evaluation a Seminested PCR for Detection and Differentiation of Babesia gibsoni (Asian Genotype) and Babesia canis DNA in canine Blood Samples. J.Clin Microbiol. 41 (9): 4172-4177.
Bishop R, Musoke A, Morzaria S, Gardner M, Nene V. 2004. Theileria: Intracellular Protozoan Parasites of Wild and Domestic Ruminan Transmitted by Ixodod ticks. Parasitol. 129: 271-283.
Caccio SM, Antunovic B, Moretti A, Moretti A, Mangili V, Marinculic A, Baric RR,Slemenda SB,Pieniazek NJ. 2002. Molecullar characterisation of Babesia canis canis, babesia vogeli, from naturally infected Europen Dog. (Abstrak) Vet parasitology. (106) 285-292.
Camacho T. 2004. Roles of the Maltese Cross Form of Babesia micorti in the Development of Parasitemia in B. micorti Infection. .A.S.M. 72 (8) : 4929-2930.
Chauvin A, Moreau E, Bonnet S, Plantard O, Malandrin M. 2009. Babesia and its hosts: adaptasion to long-lasting interaction as away to achieve efficient transmission. Vet Res. 40 (2): 37.
Cleveland CW, Peterson DS, Latimer KS. 2002. An Overview of Canine Babesiosis. [terhubung berkala] Athens Departement of Medical Microbiology and Parasitology, and Departement of Pathology, Collage of
Veterinary Medicine. University of Georgia.
Cunningham JG. 2002. Veterinary Physiology. Ed ke-3. Philadelphia London: Saunders Company. Hlm 218-224.
Colville T, Joanna MB. 2002. Clinical Anatomy and Physiology For Veterinary Technicians.
Criado A, Martinez J, Buling A, Barba JC, Merino S, Jefferies R, Irwin PJ. (2006) New data on epizootiology and genetics of piroplasms based on sequences of small ribosomal subunit and cytochrome b genes. Vet Parasitol. 142 (7):238–247.
Crnogaj M, Petlevski R, Mrljak V, Kis I, Torti M, Kucer N, Matijatko V, Sacer I, Stokovic I. 2010. Melondialdehyde Levels in Serum of Dogs Infected with Babesia canis. Vet Med 55 (4): 163-171.
Dahlan SM. 2001. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta. Salemba Medika.
Evelyn PC. 2006. Anatomis dan Fisiologis untuk Paramedis, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Hlm 73-78.
Gandahusada S, Ilahude H, Pribadi W. 1998. Parasitologi Kedokteran Ed ke-3. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hlm 109-112.
Ganong WF. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-20.Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm 145-148.
Gardiner CH, Fayer R, Dubey JP. 2002. An Atlas of Protozoa Parasites in Animal
Tissue. [terhubung berkala].
www.vet.uga.edu/vpp/archives/NSEP/babesia/ENG/etiologi.htm. (28 Mei 2012).
Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-11. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm 251-255.
Grossman L. 1993. The Dog’s Tale. BBC Books. London. Hlm 51.
Horowitz A. 2009. Inside of a Dog: What Dogs See Smeel and Know. New York. Scribner a Division of Simon & Sehuster Inc. Hlm 9-11.
[ILRI] International Livestock Research Institut. 2006. Theileriosis. [terhubung berkala]
http://www.ilri.org/InfoServ/Webpub/fulldocs/ilrad81/Theileriosis.htm(27 Januari 2012).
James N,Leah L. 2001. Life Cycle of the Brown Dog Tick, Rhipicephalus sanguineus. [terhubung berkala]. University of Florida.
Kaufmann J. 2001. Parasitic Infections of Domestic Animals- a Diagnostic Manual. Berlin: Birkhauser.
Kumar M, Pallay S, Haque S, Mahto D. 2008. Feline Babesiosis. Veterinary World. 1 (4): 120-121
Larkin P, Stockman M. 2001. The Ultimate Encyclopedia of Dogs Breeds and Dog Care. London: Annes Publishing. Hlm 142.
LevineN D.1995.Parasitologi Veteriner. Terjemahan G. Ashadi. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Lienden RV. 2007. Anemia in Dogs. [terhubung berkala]
Http//www.sniksnak.com/doghealthy/anemia.(29 April 2012).
Lord CC. 2001. National Public Health Pest Control Manual. Departement of Entomology and Nematology. Departement of Agriculture and Consumer Services. Division of Plant Industry. University of Florida. [terhubung berkala]http ://creatures.ifas.ufl.edu/urban/medical/brown_dog_tick.htm. (28 april 2012).
Martini FH, Ober WC, Garrison C, dan Weleh K. 1992. Fundamental of Anatomy and physiology. Ed ke-2. New Jersey : Prentice Hall, Englewood Cliffs. Hlm 243-245.
Morzaria SP. 1990. Identification of Theleria spesies and characterization of Theileria parva stocks. International laboratory for Research on Animal Disease. Kenya.
[OIE] Office International des Epizooties. 2010. Bovine Babesiosis. [terhubung
berkala.]France Word Organisation for Animal
Health.http://www.oie.int/fileadmin/Home/eng/Health_standards/tahc/2010/ en_chapitre_1.11.2.pdf . [28 Jan 2012]. Chapter 2.4.2. Hlm 1-3.
[OIE] Office International des Epizooties. 2012. Bovine Anaplasmosis. [terhubung berkala]. http://www.oie.int. [19 Agustus 2012].
Price SA, Wilson LM. 2003. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed ke-6. Buku 1. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm 258.
Patmawati F. 2007. Gambaran Hematologi Anjing Pelacak Operasional Ras Doberman Di Subdit Satwa Polri Depok. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Hlm 48-61.
Penzhorn BL. 2006. Babesiosis of wild carnivores and angulates. Vet Parasitol. 138:11-12.
Ruedisueli FL, Manship B. Tick Identification Key. 2002. [terhubung berkala]
University of Lincoln
http://webpages.lincoln.ac.uk/fruedisueli/FRwebpages/parasitology/Ticks/TI K/tick-key/backround_rhipicephalus.htm.
Siegel S. Howert E. Leroy BE. 2006. East coast Fever (Theileria Parva). A review. Veterinary Clinical Pathology Clerkship Program. Departemen of Pathology. Collego of Veterinary Medicine. University of Geo Athens.
Simoes PB, cardodo L, Araujo M, Mekuzas YY, Baneth G. 2011. Babesiosis due to the Canine Babesia micorti-like small Piroplasm in Dogs-First Report from Portugal and Possible Vertical Transmision. BioMed Central. (4):50.
Skotarczak B. 2008. Babesiosis as a Disease of people and Dogs Molecullar Diagnostic: a Review. Vet Med 53(5): 229-235.
Sugiarto. 2005. Potensi Caplak Anjing Rhipicephalus sanguineus sebagai Vektor Penyakit. [Skripsi]. Bogor; Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals. New York.
Taylor MA, RL Coop, RL Wall. 2007. Veterinary Parasitology. 3th Edition. Hongkong : Graphicraft Limited.
Uilenberg G. 2006. Babesia- a historical overview. Vet Parasitol. 138: 2-10.
Untung O. 1999.Merawat dan Memelihara Anjing. Jakarta : Penebar Swadaya. Hlm 15-18.
Wijayanti DN. 2007. Studi Investasi Caplak pada Anjing Yang Dipelihara Di Subdit Satwa Dit Samapta Babinkam Polri Kelapa Dua Depok. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Analisis data menggunakan Program SPSS 16 dengan metode Uji T
/COMPARE GROUP
theileria doberman Mean .6486 .11074
95% Confidence Interval for
babesia doberman Mean .6857 .07377
Mean Upper Bound .8662
theileria labrador Mean .6857 .09619
95% Confidence Interval for
theileria babesia Mean .6771 .10350
Range .86
Interquartile Range .20
Skewness -1.326 .794
Kurtosis 2.472 1.587
theileria doberman
theileria doberman Stem-and-Leaf Plot
Frequency Stem & Leaf
2,00 0 . 14 4,00 0 . 6888 1,00 1 . 0
theileria labrador
theileria labrador Stem-and-Leaf Plot
Frequency Stem & Leaf
2,00 0 . 44 3,00 0 . 668 2,00 1 . 00
Stem width: 1,00 Each leaf: 1 case(s)
theileria babesia Stem-and-Leaf Plot
Frequency Stem & Leaf
1,00 Extremes (=<,1) 5,00 0 . 66888 1,00 1 . 0
Stem width: 1,00 Each leaf: 1 case(s)
EXAMINE VARIABLES=td bd tl bl /PLOT NONE
/STATISTICS DESCRIPTIVES /CINTERVAL 95
/MISSING LISTWISE
Explore
theileria doberman Mean .6486 .11074
95% Confidence Interval for
95% Confidence Interval for
theileria labrador Mean .6857 .09619
95% Confidence Interval for
theileria babesia Mean .6771 .10350
Maximum 1.00
The Independent Samples table is not produced.
Group Statistics
a. t cannot be computed because at least one of the groups is empty.
Paired Samples Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 theileria doberman &
babesia doberman 7 .032 .946
T-TEST PAIRS=td tl WITH bd bl (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)
Pair 1 theileria doberman &
babesia doberman 7 .032 .946
Pair 2 theileria labrador & theileria
Paired Samples Test
Pair 1 theileria doberman -
babesia doberman -.03714 .34688 .13111 -.35795 .28367 -.283 6 .786
Pair 2 theileria labrador -
theileria babesia .00857 .45076 .17037 -.40831 .42545 .050 6 .962
Lampiran 2
Tabel Hasil uji t berpasangan ras Doberman dengan melaporkan nilai p
parasit n Rata-rata±standar deviasi
p
theileria 7 0.6486±0. 29300 0.786
babesia 7 0. 6857±19518
Tabel Hasil uji t berpasangan ras Labrador Retriever dengan melaporkan nilai p
parasit n Rata-rata±standar deviasi p
theileria 7 0.6857±0.09619 0.962
Halaman
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anjing merupakan mamalia yang paling banyak dipelihara orang dan yang pertama kali didomestikasi atau disosialisasikan penggunaannya dalam kehidupan manusia. Menurut penelitian ilmiah dan bukti dilapangan, dewasa ini anjing banyak dipelihara karena anjing dianggap hewan pintar, mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi. Tingkat kecerdasan anjing tergantung dari jenis ras dan individu anjing itu sendiri (Untung 1999). Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialisasi dengan manusia dan anjing lain. Anjing memiliki posisi unik dalam hubungan antarspesies. Kesetiaan dan pengabdian yang ditunjukan anjing sangat mirip dengan konsep manusia tentang cinta dan persahabatan (Grossman 1993).
Dewasa ini anjing difungsikan sebagai hewan pelacak untuk membantu aparat keamanan (polisi) dalam memecahkan kasus kriminal, terutama di Indonesia, seperti pelacak bahan peledak, narkotik, kasus pencurian, pembunuhan, dan kasus kriminal lainnya. Jenis anjing yang sering digunakan sebagai anjing pelacak di Indonesia diantaranya yaitu anjing Labrador Retriever, Gembala Jerman, Rotweiller Retriever, Doberman Pincher, Belgian Melanois, dan Beagle (Larkin dan Stockman 2001).
Gambar 2 Anjing ras Labrador Retriever (Horowitz 2009).
Anjing tersebut dipilih sebagai anjing pelacak karena memiliki penampilan yang sangat baik, fisik yang sehat, dan daya intelegensi yang tinggi dibandingkan anjing lain serta memiliki daya penciuman yang sangat tajam. Anjing mempunyai sel-sel penciuman yang lebih banyak dari manusia dan lebih sensitif (Horowitz 2009), oleh karena fungsinya itu anjing sangat perlu untuk diperhatikan kesehatannya.
Darah memiliki peranan yang sangat penting dan kompleks dalam sistem sirkulasi tubuh yaitu sebagai media transpor nutrisi, oksigen, karbondioksida, hormon, dan zat-zat hasil metabolisme. Disamping itu darah juga berperan dalam sistem pertahanan tubuh terhadap agen penyakit (Martini et.al 1992). Darah adalah salah satu parameter yang dapat dipakai untuk menentukan status kesehatan hewan. Sebagian besar penyakit diketahui dapat menyebabkan perubahan gambaran nilai darah (Ganong 2001).
Labrador Retriever di kepolisian Kelapa Dua Depok. Anjing tersebut memperlihatkan gambaran darah yang mengarah pada anemia (Patmawati 2007; Anggayasti 2007). Beberapa dari anjing tersebut diantaranya telah mati. Oleh karena itu pemeriksaan terhadap darah anemia ini dianggap sangat penting.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infeksi parasit dalam sel darah merah yang dapat dilihat dengan preparat ulas darah dari anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok.
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
ParasitParasit dapat dibedakan menjadi dua yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya menumpang di bagian luar dari tempatnya bergantung atau pada permukaan tubuh inangnya (host), contohnya jenis nyamuk (Culicidae), lalat (Muscidae), kecoa (Dictipotera), tungau (Parasitoformes), caplak (Acariformes), kutu (Pthiraptera), kutu busuk (Hemiptera), dan pinjal (Siphonaptera). Endoparasit adalah parasit yang dapat hidup di dalam tubuh inangnya diantaranya cacing dan protozoa (Gandahusada et. al 1998).
Menurut Levine (1995), anjing dapat terinfeksi berbagai jenis protozoa yang beredar di dalam sel darah merah, antara lain Trypanosoma rangeli, Hepatozoon canis, dan Babesia canis dan Theileria sp. Parasit ini ditularkan oleh caplak coklat
anjing, Rhipicephalus sanguineus. Babesia canis terdapat pada anjing di seluruh dunia, tetapi jarang di Amerika Serikat. Parasit ini ditularkan oleh gigitan caplak dan lebih sering ditularkan oleh Rhipicephalus sanguineus, akan tetapi dapat juga ditularkan oleh Dermacentor sp., Haemaphysalis sp., dan Hyalomma sp. (Kumar et. al 2008).
Babesiosis dapat bersifat kronis, namun terkadang dapat juga bersifat akut dan menyebabkan kematian pada hewan yang terinfeksi. Infeksi parasit pada hewan dapat menyebabkan hewan kehilangan darah yang berdampak serius pada hewan tersebut (Soulsby1982) sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan, dan daya kerja. Penularan parasit ini tergantung dari populasi caplak yang menjadi vektor dari penyebaran parasit (Soulsby1982).
Rhipicephalus sanguineus
Gambar 3 Caplak Rhipicephalus sanguineus (Sumber: Ruedisueli dan Manship 2002).
Caplak ini dapat bertahan hidup pada inangnya dengan melengkapi siklus hidupnya pada lingkungan sekitar yang sesuai inang. Caplak masih dapat bertahan hidup pada suhu udara yang kurang mendukung baik suhu tinggi maupun rendah. Populasi caplak akan meningkat drastis bila suhu hangat. Caplak ini memiliki sifat toleransi terhadap perubahan cuaca (Lord 2001, Sugiarto 2005). Siklus hidup R. sanguineus membutuhkan tiga induk semang mulai dari penetasan telur hingga menjadi caplak dewasa. Induk semang yang diperlukan bisa dalam ras anjing yang sama ataupun ras anjing yang berbeda. Seluruh stadium hidup caplak ini dapat menghisap darah atau cairan tubuh kecuali pada stadium telur. Caplak dewasa akan lepas dari tubuh anjing setelah menghisap darah kemudian merayap mencari tempat berlindung di celah-celah hingga telurnya siap untuk dikeluarkan, kemudian caplak dewasa akan siap untuk bertelur di tanah. Apabila caplak tersebut mengandung protozoa (Babesia sp. dan Theileria sp.) dalam tubuhnya, kemudian caplak ini menggigit anjing maka anjing tersebut kemungkinan akan mengalami infeksi protozoa (James dan Leah 2001).
Gambar 4Siklus hidup Rhipicephalus sanguineus(Sumber: James dan Leah 2001).
Betin Dewasa
Nimfa
Nimfa
Larva
Babesia sp.
Menurut Levine (1995) Babesia diklasifikasikan sebagai berikut:
Phylum III : Apicomplexa
Babesia sp. Merupakan parasit obligat intraseluler dengan induk semang adalah anjing, ruminansia, dan satwa liar. Pada induk semang Babesia sp. berhabitat di dalam sel darah merah, biasanya bentuknya berpasangan seperti buah pir yang membentuk sudut pada kedua ujungnya, kadang-kadang dapat juga dijumpai yang tidak berpasangan (Gambar 6). Menurut OIE (2010), ukuran Babesia sp. diperkirakan panjang 1-1.5 µm dan lebar 0.5-1.0 µm. Ada dua bentuk Babesia yaitu bentuk yang besar (sudutnya kecil) misalnya Babesia bigemina dan Babesia motasi serta Babesia bentuk yang kecil (sudutnya lebih besar daripada bentuk yang besar). Babesia divergens dan Babesia ovis (Levine1995). Babesia sp. adalah parasit darah yang dapat menyebabkan babesiosis. Penyakit ini sering ditemukan di daerah yang beriklim tropis, subtropis, dan beriklim sedang (Astyawati et. al 2010). Babesia canis dan Babesia gibsoni paling sering ditemukan pada anjing (Cleveland et. al 2002; OIE 2010).
Siklus Hidup
zigot. Tahap selanjutnya zigot berkembang menjadi ookinet (Uilenberg 2006). Ookinet dapat menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung, ookinet akan membesar di tempat ini dan disebut ookista. Di dalam ookista dibentuk ribuan sporozoit (ini yang disebut dengan periode sporogoni). Beberapa sporozoit menembus kelenjar ludah caplak dan bila caplak menggigit anjing makas porozoit masuk kedalam darah anjing dan mulailah siklus pre eritrositik.
Gambar 5 Siklus Hidup Babesia sp. (Sumber: Gardiner et. al 2002).
Perkembangan secara aseksual pada tubuh induk semang (anjing) dimulai pada saat caplak mengisap darah, dengan menginokulasikan sporozoit Babesia sp. melalui kelenjar ludah ke dalam tubuh anjing sebagai hospes perantaranya. Sporozoit kemudian akan mengikuti sistem limfe dan membentuk trofozoit dan selanjutnya menginfeksi sel parenkim hati, dan dalam beberapa hari membentuk badan yang berinti banyak disebut skizont. Dalam perkembangannya skizont akan membentuk merozoit di dalamnya. Semakin banyak jumlah merozoit dalam skizont akan menyebabkan skizont ini pecah. Skizont yang pecah kemudian melepaskan ribuan merozoit ke dalam aliran darah. Merozoit lalu menginfeksi eritrosit, kemudian berubah menjadi trofozoit muda yang kemudian matang dan
berubah menjadi skizont. Skizont kembali pecah dan kembali melepaskan merozoit yang akan menginfeksi eritrosit lain (Gardiner et. al 2002).
Gejala Klinis
Pada anjing, Babesia memasuki eritrosit dan dapat menyebabkan kenaikan suhu dan frekuensi nafas (Skotarczak 2008; Duh et. al 2004). Gejala yang tampak adalah, hemoglobinuria, ikterus, dan splenomegali (Yatim dan Herman 2006; Skotarczak 2008; Crnogaj et. al 2010). Gejala infeksi kronis yang nampak adalah demam, kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan sehingga anjing menjadi lemah, anoreksia (Skotarczak 2008; Sugiarto 2005; Crnogaj et. al 2010). Gejala infeksi akut yang nampak adalah ikterus dan anemia. Anemia terjadi ketika sel darah merah diinfestasi oleh parasit sehingga menyebabkan kelainan pada sel darah merah berupa permukaan yang tidak teratur. Bentuk sel darah merah yang tidak teratur ini akan mempengaruhi kandungan hemoglobin yang mengikat oksigen. Kemudian sel darah merah yang mengalami kelainan tersebut akan dikeluarkan dari sirkulasi oleh limpa (Price dan Wilson 2003). Adanya infestasi parasit juga dapat menyebabkan terjadinya hemolisis (intravaskuler) yang kemudian menyebabkan terjadinya anemia (Taylor et. al 2007). Berikut adalah gambaran infeksi Babesia sp. dalam darah:
Gambar 6 Babesia canis (A) dan Babesia gibsoni (B) pada sel darah merah anjing (Sumber: Cleveland et. al2002).
Theileriasp.
Menurut Levine (1995) Theileria diklasifikasikan sebagai berikut:
Phylum : Apicomplexa
Class : Sporozoa
Subclass : Piroplasmodia
Ordo : Piroplasma
Family : Theileriidae
Genus : Theileria
Spesies : Theileria sp.
Morfologi
Bentuk Theileria sp. yang paling dominan adalah bentuk batang yang memiliki ukuran diperkirakan 1.5-2.0 x 0.5-1.0 µm. Bentuk lain yang sering dijumpai pada eritrosit yaitu bentuk oval, bundar, dan bentuk menyerupai koma (Gambar 7) (Soulsby 1982).
Gambar 7 Bentuk Theileria parva (bentuk-bentuk piroplasma dalam eritrosit) (Sumber:Soulsby 1982).
Siklus Hidup
Beberapa merozoit masuk ke dalam eritrosit lain membentuk gamon (Siegel et. al 2006).
Selanjutnya gamon memasuki daerah intestinal nimfa caplak membentuk mikrogamon. Mikrogamon ini berinti empat, kemudian membelah membentuk mikrogamet dengan satu inti kemudian bergabung dengan makrogamet membentuk zigot. Zigot akan masuk ke dalam epitel usus dan mengalami transformasi membentuk kinet. Kemudian kinet bergerak mengikuti aliran limfe dan memasuki kelenjar saliva caplak dan mengalami perubahan menjadi sporoblast (Bishop et. al 2004). Sporoblast akan menghasilkan ribuan sporozoit. Sporozoit inilah yang kemudian menginfeksi mamalia melalui gigitan caplak yang terinfeksi (Siegel et. al 2006).
Gambar 8 Siklus hidup Theileria sp. (Sumber : IRLI 2006).
Gejala Klinis
Theileria sp. merupakan parasit pada hewan yang dapat menyebabkan theileriosis. Theileriosis adalah kondisi tubuh yang terinfeksi Theileria dan dapat
menyebabkan terjadinya anemia yang disertai demam, diarre dan pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe. Menurut Morzaria (1990) patogenesitas Theileria untuk setiap spesies berbeda-beda tergantung kepada strain parasit, tingkat kepekaan inang dan jumlah parasit. Theileria mutans adalah salah satu jenis yang dikenal benign. Theileria mutans mengalami limfositik merogoni, pembelahan terjadi di eritrosit dan menyebabkan piroplasma parasitemia dan hemolitik anemia pada inang. Gejala klinis pada hewan yang terinfeksi Theileria yaitu letargi, anoreksia, membran pucat, hipertermia, hiperglobinuria, splenomegali, trombocytopenia, dan anemia (Simoes et. al 2011).
Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah (Evelyn 2006). Darah berfungsi sebagai media transportasi, yaitu membawa nutrisi dari saluran pencernaan menuju jaringan, produk akhir metabolisme dari sel menuju organ eksresi, oksigen dari paru-paru menuju jaringan, karbondioksida dari jaringan menuju paru-paru, berperan dalam mengatur suhu tubuh, menjaga konsentrasi ion hidrogen tubuh dan pertahanan terhadap serangan mikroorganisme (Cunningham 2002).
Anemia adalah suatu kondisi dimana jaringan kekurangan oksigen. Jaringan yang kekurangan oksigen bisa disebabkan oleh karena penurunan jumlah butir darahmerah (BDM), penurunan kadar hemoglobin, dan penurunan nilai hematokrit (PCV). Pada anemia dengan penurunan kadar hemoglobin disebut anemia defisiensi zat besi, dimana eritrosit menjadi berukuran kecil, mungkin dapat diperkirakan bahwa jangka hidupnya diperpanjang karena sel yang lebih muda memiliki ukuran lebih besar dibandingkan sel tua. Sebaliknya anemia tipe mikrositik adalah akibat dari sel-sel darah muda yang tidak dilepaskan ke dalam darah bersirkulasi dalam jumlah yang cukup untuk menggantikan sel-sel yang telah mati (Guyton dan Hall 2007).
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli2011 di Laboratorium Protozoologi, bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB.
Objek Penelitian
Penelitian ini menggunakan anjing ras Doberman dan ras Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok. Jumlah anjing yang digunakan dalam penelitian ini adalah tujuh ekor ras Doberman (empat ekor jantan dan tiga ekor betina yang berumur lebih dari tiga tahun) dan tujuh ekor ras Labrador Retriever (lima ekor jantan-dua ekor betina yang berumur lebih dari tiga tahun) anjing-anjing tersebut merupakan anjing impor yang sudah didomestikasi tanpa diberikan perlakuan apapun dan sebelum melakukan aktivitas rutin pelatihan anjing pelacak (Patmawati 2007; Aggayasti 2007).
Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan darah dengan spuit pada anjing melalui vena cephalica antibrachii lateralis dan vena femoralis sebanyak 2 ml setelah dilakukan pemeriksan klinis terhadap anjing tersebut (Patmawati 2007; Anggayasti 2007).Setelah semua sampel darah diperoleh, sampel darah langsung dibawa dengan menggunakan termos dingin ke laboratorium Fisiologi Departemen Anatomi, Fisiologi & Farmakologi FKH IPB untuk langsung dilakukan pengamatan. Lama perjalanan dari Kennel Subdit Satwa POLRI sampai Laboratorium Fisiologi FKH IPB adalah 2-3 jam (Patmawati 2007; Anggayasti 2007).
Pembuatan Preparat Ulas Darah
kecepatan konstan sehingga didapatkan ulasan yang tidak terlalu tebal. Ulasan yang didapat dikeringkan di udara selama 3-5menit, setelah kering dilakukan fiksasi ulasan dalam metanol selama 5 menit. Ulasan kemudian dicelupkan ke dalam pewarna giemsa selama kurang lebih 30 menit. Ulasan kemudian diangkat dan dicuci menggunakan air yang mengalir sampai air bilasan tidak membawa warna giemsa dan dikeringkan di udara.
Pengamatan Ulas Darah
Hasil preparat ulas darah yang telah diwarnai, dengan Giemsa 10%, diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 1000 X dengan minyak emersi. Selanjutnya dilakukan penghitungan dengan rumus:
Jumlah parasit/500 RBC x 100% (Alamzan et. al 2008).
Penghitungan darah mulai dilakukan jika ditemukan parasit pada satu lapang pandang, jika dalam satu lapang pandang tersebut jumlah eritrosit belum mencapai jumlah lima ratus maka penghitungan dilanjutkan terhadap eritrosit pada lapang pandang yang lain meskipun dalam lapang pandang tersebut tidak ditemukan lagi parasit. Dalam penghitungan eritrosit rata-rata dilakukan pada 3-4 lapang pandang untuk mencapai angka lima ratus eritrosit.
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Berdasarkan Morfologi
Berdasarkan hasil identifikasi preparat ulas darah anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok, ditemukan dua jenis parasit darah yang mempunyai habitat di dalam sel darah merah (intraseluler) yaitu Babesia sp. dan Theileria sp., keduanya merupakan parasit darah yang sering menginfeksi hewan kecil diantaranya anjing. Phenzhorn (2006) melaporkan bahwa jenis parasit dalam sel darah merah hewan liar yang biasa ditemukan adalah jenis Babesia sp. dan Theileria sp. Dari ketujuh preparat ulas darah anjing ras Doberman ditemukan protozoa parasit darah dan dari setiap preparat ulas darah dapat ditemukan lebih dari satu jenis parasit darah yaitu Babesia sp. dan Theileria sp., begitupun dengan anjing ras Labrador Retriever dari ketujuh ekor anjing ditemukan protozoa parasit darah dan dari preparat ulas darah dapat ditemukan lebih dari satu jenis parasit Babesia sp. maupun Theileria sp. dari pemeriksaan tersebut semua anjing terinfeksi parasit Babesia sp. dan Theileria sp.
Protozoa parasit yang terlihat pada pemeriksaan preparat ulas darah merupakan protozoa intraeritrositik berbentuk seperti buah pir berpasangan dengan warna yang lebih gelap dibandingkan sitoplasma dari sel darah merah. Karakteristik ini sesuai dengan morfologi Babesia sp. (Cleveland et. al 2002) dan merupakan parasit eritrositik (Gambar 9). Selain Babesia sp. ditemukan pula protozoa parasit yang mengarah pada morfologi dari Theileria sp. pada preparat ulas darah yang diperiksa terlihat parasit yang berbentuk batang dan dan bentuk yang menyerupai koma dengan warna yang lebih gelap dibandingkan sitoplasma dari sel darah merah (Gambar 10). Karakteristik ini sesuai dengan morfologi Theileria sp. Menurut Soulsby (1982) bentuk Theileria sp. yang paling dominan adalah bentuk batang.
tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain faktor stres pada hewan. Tingkat stres pada hewan akan mempermudah infeksi parasit darah, karena kondisi yang menurun akan menyebabkan daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh akan menurun pula sehingga lebih rentan terhadap infeksi parasit.
Babesia sp.
Babesia sp. merupakan salah satu jenis parasit darah yang berasal dari filum apicomplexa dan famili Babesiidae. Dalam sel darah merah bentuk Babesia sp. berpasangan seperti buah pir berbentuk sudut pada kedua ujungnya, akan tetapi kadang-kadang dijumpai bentuk yang tidak berpasangan. Ukuran Babesia sp. diperkirakan memiliki panjang 1-1.5 µm dan panjang 0.5-1.0 µm (Soulsby 1982). Dua spesies dari genus Babesia yang dominan menginfeksi anjing, yaitu Babesia canis dan Babesia gibsoni. Babesia canis ini terbagi lagi menjadi tiga subspesies, yaitu Babesia canis canis, Babesia canis vogeli dan Babesia canis rossi (Caccio et. al 2002). Babesia canis memiliki bentuk menyerupai buah pir dan memiliki diameter 2.5-5.0 mikron, meruncing pada salah satu ujungnya dan pada ujung lain tumpul, dan berpasangan (Hunfeld et. al 2008). Masing-masing subspesies ini dapat dibedakan berdasarkan analisis rangkaian gen rRNA dan perbedaan sifat alami dan virulensinya pada anjing. Babesia canis canis dilaporkan paling sering menginfeksi anjing ras Doberman (Chauvin et. al 2009).
Gambar 9 Babesia sp.(A) hasil pengamatan dan Babesia sp. dengan pembesaran 1000 X dan Babesia sp.(B) berdasarkan literatur (Cleveland et. al 2002).
Theileria sp.
Theileria merupakan parasit darah yang berasal dari filum apicomplexa dan famili Theileriidae. Menurut Soulsby (1982) bentuk Theileria yang paling dominan adalah bentuk batang yang memiliki ukuran diperkirakan 1.5-2.0 x 0.5-1.0 µm (Kaufmann 2001). Akan tetapi sering juga ditemukan bentuk lain yang sering dijumpai pada eritrosit yaitu bentuk oval, bundar, dan bentuk yang menyerupai koma 0.5 x 2.0 µm (Kaufmann 2001). Jenis Theileria yang sering menginveksi anjing yaitu Theileria annae (Dixit 2010). Simoes et. al (2011) menyatakan bahwa gejala klinis pada hewan yang terinfeksi Theileria sp. dapat berupa letargi, anoreksia, membran pucat, hipetermia, hiperglobinuria, splenomegali, trombositopenia, dan anemia.
Gambar 10 Theileria sp. (A) hasil pengamatan dengan pembesaran 1000 X dan Theileria sp. (B) berdasarkan literatur (Kaufmann 2001).
A B
Presentase Parasitemia
Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan diperoleh hasil nilai parasitemia yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Rataan persentase parasit pada anjing ras Doberman dan Labrador
Labrador Retriever 7 0. 6771 ±0.1035 0.6857±0.0962
Keterangan: Hasil menunjukan hubungan yang tidak berbeda nyata ( p>0.1).
Tingkat parasitemia diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat ringan (mild reaction) yaitu bila ditemukan 1-4 parasit darah per 500 eritrosit (parasitosis <1%), tingkatan kedua adalah tingkat lebih berat (servere reaction) bila ditemukan 5-10 parasit per 500 eritrosit (parasitosis 3%), sedangkan tingkatan yang ketiga adalah tingkat berat sekali (very servere reaction) yaitu bila ditemukan lebih dari sepuluh parasit per 500 eritrosit (parasitosisnya 5-9%) (Birkenheuer et. al 2003; Camacho 2004).
Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa tingkat parasitemia Theileria sp. dan Babesia sp. pada anjing ras Doberman dan ras Labrador Retriever, nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat parasitemia masih dalam stadium ringan (mild reaction) yaitu kurang dari 1 %. Mengacu dari referensi di atas, tingkat parasitemia yang kurang dari 1% hanya menyebabkan terjadinya parasitiasis (Soulsby 1982). Parasitiasis adalah keadaan dimana infeksi parasit belum menimbulkan lesi jelas atau tanda klinis pada induk semangnya. Menurut Simoes et. al (2011), gejala klinis dapat terjadi jika tingkat parasitemia dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi jika infeksi parasit terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi antar parasit dalam darah, tingkat parasitemia yang rendah (<1%) dapat memicu timbulnya gejala klinis (Birkenheuer et. al 2003).
Hall 2007). Tingkat stres pada hewan juga akan mempermudah infeksi parasit darah, karena kondisi yang menurun akan menyebabkan daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh akan menurun pula sehingga lebih rentan terhadap infeksi parasit. Penularan parasit darah dari satu hewan ke hewan lainnya dapat diperantarai oleh vektor seperti caplak. Infestasi caplak dalam jumlah banyak dapat menyebabkan timbulnya gejala klinis berupa anemia, karena caplak ini akan menghisap darah (James dan Leah 2001).