• Tidak ada hasil yang ditemukan

Viabilitas Benih Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.)) Selama Penyimpanan 4 Bulan Dengan Tingkat Kadar Air Berbeda Dalam Beberapa Jenis Kemasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Viabilitas Benih Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.)) Selama Penyimpanan 4 Bulan Dengan Tingkat Kadar Air Berbeda Dalam Beberapa Jenis Kemasan"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

VIABILITAS BENIH BENGKUANG (Pachyrhizus erosus (L.))

SELAMA PENYIMPANAN 4 BULAN DENGAN TINGKAT

KADAR AIR BERBEDA DALAM BEBERAPA

JENIS KEMASAN

TESIS

Oleh

PAHALA L. L. SIANTURI

087001020/AGR

PROGRAM STUDI MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

VIABILITAS BENIH BENGKUANG (Pachyrhizus erosus (L.))

SELAMA PENYIMPANAN 4 BULAN DENGAN TINGKAT

KADAR AIR BERBEDA DALAM BEBERAPA

JENIS KEMASAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pertanian dalam Program Studi Magister Agroekoteknologi pada Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara

Oleh

PAHALA L. L. SIANTURI

087001020/AGR

PROGRAM STUDI MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Tesis : VIABILITAS BENIH BENGKUANG (Pachyrhizus

erosus (L) SELAMA PENYIMPANAN 4 BULAN

DENGAN BEBERAPA TINGKAT KADAR AIR DALAM BEBERAPA JENIS KEMASAN

N a m a Mahasiswa : Pahala L. L. Sianturi Nomor Pokok : 087001020

Program Studi : Agroekoteknologi

Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., MSc) (Dr. Ir. Elisa Julianti, MS)

Ketua A n g g o t a

Ketua Program Studi Dekan

(Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP) (Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 12 Februari 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., MSc Anggota : 1. Dr. Ir. Elisa Julianti, MS

2.Prof. Dr. Ir. Hapsoh, MS 3. Prof. Dr. Ir. Rosmayati, MS

(5)

ABSTRAK

Pahala L. L. Sianturi. Viabilitas Benih Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L) Selama Penyimpanan 4 Bulan dengan Beberapa Tingkat Kadar Air dalam Beberapa Jenis Kemasan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara simpan yang sederhana dan paling efektif untuk mempertahankan mutu benih tetap tinggi selama penyimpanan 4 bulan, serta mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang dialami benih selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih IV Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah kadar air awal benih (A) yaitu 9% (A1), 11% (A2) dan 13% (A3). Faktor kedua adalah kemasan (K) yaitu kaleng (ukuran tinggi 8 cm x diameter 7,5 cm) (K1), kantong plastik polietilen (15 cm x 15 cm) (K2) dan kantong aluminium foil (15cm x15cm) (K3). Peubah yang diamati meliputi kadar air, daya kecambah, kecepatan berkecambah, bobot kering kecambah, respirasi dan daya hantar listrik yang dilakukan setiap 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal benih berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih. Viabilitas benih yang terbaik adalah pada kadar air awal benih 9%. Perlakuan jenis kemasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap viabilitas benih, viabilitas benih yang terbaik adalah pada kemasan aluminium foil. Kombinasi perlakuan kadar air awal benih dan kemasan simpan secara umum tidak berpengaruh nyata terhadap parameter viabilitas benih (kecuali pada laju respirasi dan daya hantar listrik). Secara kuantitatif viabilitas benih yang terbaik diperoleh pada kombinasi pelakuan kadar air awal 9% dengan kemasan aluminium foil.

(6)

ABSTRACT

Pahala L. L. Sianturi. Seed Viability of Yam bean (Pachyrhizus erosus (L) During

Four Months Storage with Different Levels of Moisture Content in Various Packaging. This study aims to find the simplest and most effective way to maintain the best seed quality during 4 months storage, and to know the physiological changes of seeds during storage. The research was conducted at the Laboratory of Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih IV Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara. The experimental designed used in this study was completely randomized design (CRD) using 2 factors and 3 replications. The first factor is the initial moisture content of seeds (A) which is 9% (A1), 11% (A2) and 13% (A3). The second factor is the packaging (K), namely Cans ( 8 cm height x 7.5 cm diameter) (K1), polyethylene plastic pouch (15 cm x 15 cm) (K2) and aluminum foil pouch (15cm x15cm) (K3). Variables measured include moisture content, germination, germination rate, seedling dry weight, respiration and electrical conductivity are performed every 4 weeks. The results showed that initial moisture content of seeds significantly affect seed viability, the best seed viability is at the initial moisture content of seed 9%. Treatments of type of packaging provided significant effect on seed viability, the best seed viability is aluminum foil packaging. Combination treatment of initial moisture content of seeds and type of the packaging in general was not significantly affect seed viability parameters (except at the rate of respiration and electrical conductivity). The best seed viability quantitatively obtained in combination treatment of initial moisture content 9% and aluminum foil packaging.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatNya , sehingga penulis dapat menyusun tesis ini yang berjudul “Viabilitas benih Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L) Selama penyimpanan 4 Bulan dengan Beberapa Tingkat Kadar Air dalam Beberapa Jenis Kemasan “.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., Msc selaku Pembimbing Utama, Dan Ibu Dr. Ir. Elisa Julianti, MS Selaku Anggota Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih banyak kekurangannya, jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan tesis ini. Atas bantuan dari semua pihak penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.

Medan , Februari 2011

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik. Dengan selesainya penulisan tesis ini, maka pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Pemerintah Republik Indonesia c.q Kopertis wilayah I yang telah memberikan bantuan dana selama penulis mengikuti pendidikan di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU.

2. Dekan Fakultas Pertanian Bapak Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS dan Ketua Program Studi Magister Agroekoteknologi serta seluruh staffnya atas bantuan dan perhatiannya selama penulis mengikuti pendidikan di Program Studi Magister Agroekoteknologi USU.

3. Ibu Ketua Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., MSc dan Ibu Dr. Ir. Elisa Julianti, MS., selaku anggota. Ibu Prof. Dr. Ir. Hapsoh, MS., ibu Prof. Dr. Ir. Rosmayati, MS dan ibu Dr. Ir. Lollie Agustina P. Putri, MSi sebagai Dosen Penguji yang telah banyak memberikan saran, masukan dan bimbingan yang sangat berarti bagi penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

4. Drs. Tenang Malem Tarigan, M. Si, Ak.selaku Direktur Politeknik Mandiri Bina Prestasi yang telah memberikan izin belajar kepada penulis.

5. Seluruh teman-teman kuliah angkatan 2008 dan 2009 dan teman lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu atas bantuannya selama mengikuti kuliah maupun dalam pelaksanaan penelitian.

(9)
(10)

RIWAYAT HIDUP

Pahala L. L Sianturi, dilahirkan di Medan pada tanggal 8 Agustus 1973 sebagai anak kesembilan dari sembilan bersaudara. Pada tanggal 24 Juni 2006 menikah dengan Gabriel Hesti Napitu dan saat ini telah dikaruniakan seorang putri.

Pendidikan

Tahun 1986 : Lulus dari Sekolah Dasar Katolik Budiluhur Medan Tahun 1989 : Lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 11

Medan

Tahun 1992 : Lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Medan Tahun 1999 : Lulus dan memperoleh gelar sarjana pertanian dari

Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Riau

Pengalaman Kerja

Tahun 2002 s/d sekarang : Bekerja di Politeknik Mandiri Bina Prestasi Medan

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK…..……… i

ABSTRACT……….…… ii

KATA PENGANTAR ……… iii

UCAPAN TERIMA KASIH ……….. iv

RIWAYAT HIDUP ………. vi

DAFTAR ISI……… vii

DAFTAR TABEL……… ix

DAFTAR GAMBAR……….. x

DAFTAR LAMPIRAN……… xii

PENDAHULUAN………….……….……… . 1

Latar Belakang…….……….………. 1

Perumusan Masalah……….……….. 4

Tujuan Penelitian……….……….. 4

Hipotesis Penelitian……….……….. 5

Manfaat Penelitian……….……….………... . 5

TINJAUAN PUSTAKA………. 6

Tanaman Bengkuang……….……… 6

Penyimpanan Benih………. 7

Faktor yang mempengaruhi viabilitas benih dalam penyimpanan……. 9

Perubahan-perubahan fisiologi selama penyimpanan benih……... 13

(12)

BAHAN DAN METODE………. . 19

Tempat dan Waktu………..……….…….. 19

Bahan dan Alat ………..………... 19

Metode Penelitian………..……….….. 19

Pelaksanaan Penelitian………..………..…. 21

Peubah yang Diamati……… 23

HASIL DAN PEMBAHASAN ………….………... 27

Hasil……….………... 27

Pembahasan…………..……..………..… 46

KESIMPULAN DAN SARAN……….. 57

Kesimpulan………... 57

Saran………... 58

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Kadar air benih bengkuang (%) pada tingkat kadar air awal dan

kemasan berbeda dengan lama penyimpanan 0-16 minggu... 27 2. Daya berkecambah benih bengkuang (%) pada kadar air awal dan

kemasan berbeda pada penyimpanan 0-16 minggu lama

pengamatan sampai 10 hari ………... 29 3. Kecepatan perkecambahan benih bengkuang (% /etmal) pada

kadar air dan kemasan berbeda dengan lama penyimpanan 0-16

minggu ………... 31

4. Pengaruh kombinasi perlakuan kadar air awal dan beberapa

kemasan terhadap kecepatan perkecambahan (%/etmal) ………... 33 5. Bobot kering kecambah benih bengkuang (gr) dengan lama

penyimpanan 0-16 minggu pada kadar air awal dan kemasan

berbeda……… 34 6. Respirasi benih bengkuang (ml/kg-jam CO2 ) dengan lama

penyimpanan 4-16 minggu pada kadar air dan kemasan

berbeda………... 36 7. Respirasi benih bengkuang (ml/kg-jam CO2) selama penyimpanan

8-12 minggu pada kombinasi perlakuaan kadar air awal dan

kemasan berbeda……….………... 38 8. Daya hantar listrik rendaman benih bengkuang (mmho/cm3) pada

penyimpanan 0-16 minggu pada tingkat kadar air awal dan

kemasan berbeda………... 40 9. Daya hantar listrik rendaman benih bengkuang (mmho/cm3) pada

penyimpanan 4-16 minggu pada kombinasi perlakuan kadar air

awal dan kemasan berbeda ………... 42 10. Hasil analisa kandungan protein (%) benih bengkuang pada 0

minggu dan 16 minggu ……….. 44 11. Hasil analisa kandungan lemak (%) benih bengkuang pada 0

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Kadar air benih bengkuang (%) pada berbagai kemasan pada penyimpanan 0-16 minggu ……….. 28 2. Daya berkecambah (%) benih bengkuang pada berbagai kadar air

awal pada penyimpanan 0-16 minggu ……… 30 3. Daya berkecambah (%) benih bengkuang pada berbagai kemasan

pada penyimpanan 0-16 minggu ………. 30 4. Kecepatan perkecambahan (%/etmal) benih bengkuang pada berbagai

kadar air awal pada penyimpanan 0-16 minggu .………….. 32 5. Kecepatan perkecambahan (%/etmal) benih bengkuang pada berbagai

kemasan pada penyimpanan 0-16 minggu ………... 32 6. Kecepatan perkecambahan (%/etmal) benih bengkuang pengaruh

kombinasi perlakuan kadar air dan kemasan simpanan berbeda pada penyimpanan 8-12 minggu ……….………. 33 7. Bobot kering kecambah (gr) benih bengkuang pada berbagai kadar

air awal pada penyimpanan 4-16 minggu ……….. 35 8. Bobot kering kecambah (gr) benih bengkuang pada berbagai kemasan

pada penyimpanan 0-16 minggu ……….. 35 9. Respirasi benih bengkuang (ml/kg-jam CO2) pada berbagai kadar air

awal pada penyimpanan 4-16 minggu …….………... 37 10. Respirasi benih bengkuang (ml/kg-jam CO2) pada berbagai kemasan

pada penyimpanan 4-16 minggu …..………... 37 11. Respirasi benih bengkuang (ml/kg-jam CO2) pengaruh kombinasi

perlakuan kadar air awal dan kemasan simpan berbeda pada penyimpanan 8-12 minggu. ………. 39 12. Daya hantar listrrik (mmho/cm3) rendaman benih bengkuang pada

berbagai kadar air awal pada penyimpanan 0-16 minggu …………... 41 13. Daya hantar listrrik (mmho/cm3) rendaman benih bengkuang pada

(15)
(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Tabel Hasil Penetapan Kadar Air Setimbang dengan Menggunakan Metode Disorpsi dan Adsorpsi dengan Menggunakan Beberapa Jenis Larutan Garam

Jenuh……….. 63 2. Tabel Data Pengamatan Kadar Air (%) pada Penyimpanan 4

Minggu ………..……… 64

3. Tabel Anova Kadar Air Benih Bengkuang Penyimpanan 4

Minggu ……….. 64

4. Tabel Data Pengamatan Kadar Air Benih Benkuang (%)

Penyimpanan 8 Minggu………... 64 5. Tabel Anova Kadar Air Benih Bengkuang Penyimpanan 8

Minggu……… 65 6. Tabel Data Pengamatan Kadar Air Benih Benkuang (%)

Penyimpanan 12 Minggu…..……… 65 7. Tabel Anova Kadar Air Benih Bengkuang Penyimpanan 12

Minggu……….……….. 65 8. Tabel Data Pengamatan Kadar Air Benih Benkuang (%)

Penyimpanan 16 Minggu……… 66

9. Tabel Anova Kadar Air Benih Bengkuang Penyimpanan 16

Minggu ……….. 66

10. Tabel Data Pengamatan Daya Berkecambah Benih Bengkuang(%) Penyimpanan 0 Minggu……… 66 11. Tabel Data Pengamatan Daya Berkecambah Benih Bengkuang

(%) Penyimpanan 4 Minggu (%)………... 67 12. Tabel Anova Daya Berkecambah Benih Bengkuang Penyimpanan

4 Minggu………. 67

13. Tabel Data Pengamatan Daya Berkecamabah Benih Benkuang

(%) Penyimpanan 8 Minggu……….. 68 14. Tabel Anova Daya Berkecambah Benih Bengkuang Penyimpanan

8 Minggu………... 68 15. Tabel Data Pengamatan Daya Berkecambah Benih Benkuang (%)

Penyimpanan 12 Minggu……… 69

16. Tabel Anova Daya Berkecambah Benih Bengkuang Penyimpanan 12 Minggu………... 69 17. Tabel Data Pengamatan Daya Berkecambah Benih Bengkuang %

Penyimpanan 16 Minggu………... 70 18. Tabel Anova Daya Berkecambah Benih Bengkuang Penyimpanan

(17)

19. Tabel Data Pengamatan Kecepatan Perkecambahan Benih

Bengkuang (%/Etmal) Penyimpanan 0 Minggu……… 71 20. Tabel Data Pengamatan Kecepatan Perkecambahan Benih

Bengkuang (%/Etmal) Penyimpanan 4 Minggu ……….. 71 21. Tabel Anova Kecepatan Perkecambahan Benih Bengkuang

Penyimpanan 4 Minggu……… 71

22. Tabel Data Pengamatan Kecepatan Perkecambahan Benih

Bengkuang (%/Etmal) Penyimpanan 8 Minggu……… 72 23. Tabel Anova Kecepatan Perkecambahan Benih Bengkuang

(%/Etmal) Penyimpanan 8 Minggu……… 72 24. Tabel Data Pengamatan Kecepatan Perkecambahan Benih

Bengkuang (%/Etmal) Penyimpanan 12 Minggu………. 73 25. Tabel Anova Daya Berkecambah Benih Bengkuang (%/Etmal)

Penyimpanan 12 Minggu……….. 73

26. Tabel Anova Daya Berkecambah Benih Bengkuang Penyimpanan

16 Minggu………... 73

27. Tabel Data Pengamatan Kecepatan Perkecambahan Benih

Bengkuang (%/Etmal) Penyimpanan 16 Minggu ………. 74 28. Tabel Data Pengamatan Bobot Kering Kecambah Benih

Benkuang Penyimpanan 0 Minggu (gr)………. 74 29. Tabel Data Pengamatan Bobot Kering Kecambah Benih

Benkuang Penyimpanan 4 Minggu (gr)....………. 75 30. Tabel Anova Bobot Kering Kecambah Benih Bengkuang

Penyimpanan 4 Minggu ……….………... `75 31. Data Pengamatan Bobot Kering Kecambah Benih Bengkuang

Penyimpanan 8 Minggu (gr)………... 76 32. Tabel Anova Bobot Kering Kecambah Benih Bengkuang

Penyimpanan 8 Minggu………... 76 33. Data Pengamatan Bobot Kering Kecambah Benih Bengkuang

Penyimpanan 12 Minggu (gr)……… 77 34. Tabel Anova Bobot Kering Kecambah Benih Bengkuang

Penyimpanan 12 Minggu………... 77 35 Tabel Data Pengamatan Bobot Kering Kecambah Benih

Benkuang 16 Penyimpanan Minggu (gr)………... 78 36. Tabel Anova Bobot Kering Benih Bengkuang Penyimpanan 16

Minggu……….. 78 37. Tabel Data Pengamatan Respirasi (Ml/Kg-Jam Co2) Benih

Bengkuang Penyimpanan 4 Minggu……….. 78 38. Tabel Anova Respirasi (Ml/Kg-Jam CO2) Benih Bengkuang

Penyimpanan 4 Minggu………. 79

39. Tabel Data Pengamatan Respirasi (Ml/Kg-Jam CO2) Benih

(18)

40. Tabel Anova Respirasi (Ml/Kg-Jam CO2) Benih Bengkuang

Penyimpanan 4 Minggu………... 79 41. Tabel Data Pengamatan Respirasi (Ml/Kg-Jam CO2) Benih

Bengkuang Penyimpanan 12 Minggu………... 80 42. Tabel Anova Respirasi (Ml/Kg-Jam CO2) Benih Bengkuang

Penyimpanan 12 Minggu……….. 80 43. Tabel Data Pengamatan Respirasi (Ml/Kg-Jam CO2) Benih

Bengkuang Penyimpanan 16 Minggu……… 81 44. Tabel Anova Respirasi (ml/kg-jam CO2) Benih Bengkuang

Penyimpanan 16 Minggu………... 81 45. Tabel Data Pengamatan Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(mmho/cm3) Penyimpanan 0 Minggu……… 81 46. Tabel Data Pengamatan Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 4 Minggu…………... 82 47. Tabel Anova Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 4 Minggu………. 82 48. Tabel Data Pengamatan Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 8 Minggu……….. 83 49. Tabel Anova Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 8 Minggu………... 83 50. Tabel Data Pengamatan Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 12 Minggu... 84 51. Tabel Anova Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 12 Minggu……… 84 52. Data Pengamatan Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 16 Minggu... 85 53. Tabel Anova Daya Hantar Listrik Benih Bengkuang

(Mmho/Cm3) Penyimpanan 16 Minggu………. 85 54. Tabel Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban Ruang

Penyimpanan Benih Bengkuang pada Bulan Maret…………... 85 55. Tabel Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban Ruang

Penyimpanan Benih Bengkuang pada Bulan April……… 86 56. Tabel Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban Ruang

Penyimpanan Benih Bengkuang pada Bulan Mei 2010…………. 87 57. Tabel Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban Ruang

Penyimpanan Benih Bengkuang pada Bulan Juni 2010………… 88 58. Tabel Data Pengamatan Suhu dan Kelembaban Ruang

(19)

ABSTRAK

Pahala L. L. Sianturi. Viabilitas Benih Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L) Selama Penyimpanan 4 Bulan dengan Beberapa Tingkat Kadar Air dalam Beberapa Jenis Kemasan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara simpan yang sederhana dan paling efektif untuk mempertahankan mutu benih tetap tinggi selama penyimpanan 4 bulan, serta mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang dialami benih selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih IV Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah kadar air awal benih (A) yaitu 9% (A1), 11% (A2) dan 13% (A3). Faktor kedua adalah kemasan (K) yaitu kaleng (ukuran tinggi 8 cm x diameter 7,5 cm) (K1), kantong plastik polietilen (15 cm x 15 cm) (K2) dan kantong aluminium foil (15cm x15cm) (K3). Peubah yang diamati meliputi kadar air, daya kecambah, kecepatan berkecambah, bobot kering kecambah, respirasi dan daya hantar listrik yang dilakukan setiap 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal benih berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih. Viabilitas benih yang terbaik adalah pada kadar air awal benih 9%. Perlakuan jenis kemasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap viabilitas benih, viabilitas benih yang terbaik adalah pada kemasan aluminium foil. Kombinasi perlakuan kadar air awal benih dan kemasan simpan secara umum tidak berpengaruh nyata terhadap parameter viabilitas benih (kecuali pada laju respirasi dan daya hantar listrik). Secara kuantitatif viabilitas benih yang terbaik diperoleh pada kombinasi pelakuan kadar air awal 9% dengan kemasan aluminium foil.

(20)

ABSTRACT

Pahala L. L. Sianturi. Seed Viability of Yam bean (Pachyrhizus erosus (L) During

Four Months Storage with Different Levels of Moisture Content in Various Packaging. This study aims to find the simplest and most effective way to maintain the best seed quality during 4 months storage, and to know the physiological changes of seeds during storage. The research was conducted at the Laboratory of Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih IV Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara. The experimental designed used in this study was completely randomized design (CRD) using 2 factors and 3 replications. The first factor is the initial moisture content of seeds (A) which is 9% (A1), 11% (A2) and 13% (A3). The second factor is the packaging (K), namely Cans ( 8 cm height x 7.5 cm diameter) (K1), polyethylene plastic pouch (15 cm x 15 cm) (K2) and aluminum foil pouch (15cm x15cm) (K3). Variables measured include moisture content, germination, germination rate, seedling dry weight, respiration and electrical conductivity are performed every 4 weeks. The results showed that initial moisture content of seeds significantly affect seed viability, the best seed viability is at the initial moisture content of seed 9%. Treatments of type of packaging provided significant effect on seed viability, the best seed viability is aluminum foil packaging. Combination treatment of initial moisture content of seeds and type of the packaging in general was not significantly affect seed viability parameters (except at the rate of respiration and electrical conductivity). The best seed viability quantitatively obtained in combination treatment of initial moisture content 9% and aluminum foil packaging.

(21)

PENDAHULUAN Latar belakang

Bengkuang (Pachyrhizus spp.= yam bean) adalah tanaman polong termasuk hortikultura yang mempunyai potensi yang sangat baik untuk dikembangkan karena manfaat dari tanaman bengkuang ini sangat banyak diantaranya adalah: 1) umbi bengkuang mengandung inulin yang tidak dapat dicerna sehingga dapat digunakan sebagai pengganti gula, 2) dapat diolah sebagai bahan makan, 3) sebagai bahan dasar obat untuk penyakit kanker, diabetes mellitus, nyeri perut, 4) sebagai bahan dasar kosmetik (Astawan, 2010)

Bengkuang merupakan tanaman polong yang memiliki potensi industri yang cukup besar. Hasil analisis 100 g umbi segar memperlihatkan bahwa bengkuang (Pachyrhizus erosus) memiliki kandungan air sebesar 78%–94%, 2.1 g–10.7 g pati, 1 g–2.2 g protein, 0.1 g–0.8 g lemak, 14 g–21 g vitamin C, dan 22 kalori – 58 kalori energi (Sorensen, 1996). Berdasarkan asumsi rata-rata hasil 35 t/ ha, bobot kering berkisar 6%–22% per 100 g ubi segar, kandungan pati 50% bahan kering dan protein 10%, kandungan pati dan protein yang dihasilkan oleh bengkuang per hektarnya mencapai 1.05 t – 3.85 t pati dan 0.21 t – 0.77 t protein. Fakta ini mengindikasikan bahwa bengkuang sebenarnya merupakan sumber pati dan protein yang cukup potensial, oleh karena itu, industri tepung kaya protein berbasis bengkuang sangat memungkinkan untuk dikembangkan (de Melo dkk., 1994).

(22)

Pada tahun 2005 areal tanam mencapai 130 ha dengan rata-rata produksi 192 kuintal per hektar (total produksi 2.765 ton)

Selain Padang, Kebumen juga merupakan sentra produksi bengkuang. Di Kebumen, menurut data BPS Kebumen (2005-2007) ada empat kecamatan sentra produksi bengkuang yang total produksinya berkisar 5,020-7,030 ton per tahun yakni, Prembun, Mirit, Bonorowom dan Padureso (Winarto, 2009)

Di Sumatera Utara, di Kecamatan Binjai Timur merupakan salah satu sentra penanaman bengkuang. Namun penanaman bengkuang pada daerah ini tidak dapat diatur pola penanamannya karena kebutuhan akan benih tanaman belum dapat terpenuhi, hal ini disebabkan benih bengkuang tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama pada tingkat petani. Pada saat penyimpanan benih bengkuang sangat cepat mengalami deteriorasi (kemunduran benih), sehingga benih yang digunakan berasal dari pertanaman sebelumnya. Cepatnya kemunduran benih selama penyimpanan mengurangi penyediaan benih berkualitas tinggi. Pengadaan benih bengkuang dalam jumlah yang memadai dan tepat pada waktunya sering menjadi kendala karena daya simpan yang rendah. Hal ini menyebabkan harga benih bengkuang di tingkat petani cukup tinggi (Rp. 50.000,-)/kg (wawancara langsung dengan petani)

(23)

menyatakan bahwa dalam waktu 3 bulan pada suhu kamar 30OC, benih kacang-kacangan tidak dapat mempertahankan viabilitasnya pada kadar air 14%.

Penyimpanan benih yang kurang baik akan menyebabkan benih mengalami kemunduran fisiologis. Kemunduran benih ini tidak dapat dicegah tetapi dapat ditekan lajunya dengan mengendalikan faktor yang berpengaruh selama penyimpan seperti suhu, kadar air benih dan kelembaban. Salah satu cara untuk mempertahankan daya simpan benih adalah dengan penetapan kadar air yang tepat saat benih disimpan sehingga benih dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama tanpa menurunkan viabilitas benih (Justice dan Bass, 1994). Tatipata dkk (2004), mengatakan benih kedelai yang disimpan dengan kadar air 10% dalam kantong plastik polietilen dan aluminium foil memiliki mutu yang tinggi selama penyimpanan 6 bulan. Hasil pengujian daya tumbuh benih kedelai dangan teknik penyimpanan pada kadar air dan suhu yang berbeda mengindikasikan hasil yang berbeda yaitu benih dengan kadar air 8 % dapat disimpan sampai 3 tahun dalam gudang biasa tanpa menurun daya kecambahnya. Namun, bila kadar airnya 12 % maka dalam waktu 1 tahun daya kecambah turun menjadi 60 % dan menjadi 0 % setelah 3 tahun (Kartono, 2004)

(24)

Bahan kemasan yang baik adalah bahan yang memiliki kekuatan dari tekanan, tahan terhadap kerusakan, dan tidak mudah robek (Redaksi Rineka Cipta, 1992). Sifat lain yang penting adalah mempunyai daya rekat (seability), kuat, elastis, mudah diperoleh, murah, dan tahan lama (Robi’in. 2007).

Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mendapatkan penyimpanan benih bengkuang yang baik dengan menggunakan variasi kadar air awal benih dan kemasan yang berbeda.

Perumusan Masalah

`Kemunduran benih bengkuang selama penyimpanan sangat cepat, dimana dengan penyimpanan yang dilakukan petani, benih bengkuang hanya dapat disimpan selama 2 bulan. Kehilangan viabilitas benih yang cepat menyebabkan penurunan perkecambahan benih di lapangan. Oleh karena itu penyimpanan benih bengkuang yang akan ditanam perlu disimpan pada lingkungan yang menguntungkan, agar kualitas benih tetap tinggi sampai akhir penyimpanan.

Masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih bengkuang adalah belum ditemukannya informasi yang tepat mengenai kadar air benih bengkuang untuk mempertahankan viabilitas selama penyimpanan dan wadah yang tepat untuk mempertahankan tingkat kadar air benih selama penyimpanan.

Tujuan Penelitian

(25)

serta mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang dialami benih selama penyimpanan.

Hipotesis Penelitian

1 Kadar air benih yang semakin rendah akan mempertahankan viabilitas benih lebih baik selama penyimpanan.

2 Kemasan simpan yang berbeda memberikan pengaruh berbeda terhadap viabilitas benih bengkuang.

3 Kombinasi kadar air awal benih dengan kemasan memberikan pengaruh berbeda terhadap viabilitas benih bengkuang selama penyimpanan.

Manfaat Penelitian

(26)

VolumVolume 3, Nomor 9, September 2008e 3, Nomor 9, September TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Bengkuang

Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.)) termasuk ke dalam Kerajaan: Plantae, Divisi : Magnoliophyta, Kelas : Magnoliopsida, Ordo : Fabales, Famili : Fabaceae, Genus : Pachyrhizus, Spesies : Pachyrhizus, Nama umum bengkuang adalah yam bean (Inggris), jicama (Mexico), sengkuang (Malaysia), singkamas (Filipina), dan sangkalu (India). Menurut Sorensen (1988), genus pachyrhizus terdiri atas lima spesies, yaitu Pachyrhizus erosus (L.) Urban, P. ahipa (wedd.) parody, P. tuberosus (lam.) spreng, P. ferrugineus (piper), dan P. panamensis clausen. Ketiga spesies yang pertama sudah dibudidayakan, sedang dua spesies lainnya masih merupakan spesies liar.

Varietas yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah bengkuang gajah dan bengkuang badur. Perbedaan di antara kedua jenis bengkuang ini adalah waktu panennya. Varietas bengkuang gajah dapat dipanen ketika usia tanam memasuki empat sampai lima bulan. Varietas bengkuang badur memiliki waktu panen lebih lama. Jenis ini baru dapat dipanen ketika tanamannya berusia tujuh sampai sebelas bulan.

(27)

1973). Sorensen (1996) menambahkan bila seyawa-seyawa beracun di atas dikeluarkan maka minyak biji bengkuang sebanding dengan kacang tanah yang memiliki komposisi yaitu asam palmitat 26,7%, asam stearat 5,7%, asam oleat 33,4%, dan asam linoleat 34,2%.

Penyimpanan Benih

Penyimpanan perlu dilakukan untuk mempertahankan mutu benih dan menekan laju kemunduran benih. Tujuan utama penyimpanan benih tanaman ialah untuk menunda perkecambahan atau mengawetkan cadangan bahan tanam dari satu musim ke musim berikutnya (Justice dan Bass, 1994). (Hasanah, 2002), menambahkan maksud utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan mutu fisiologis benih guna keperluan tanam pada musim berikutnya. Selama penyimpanan, karena pengaruh beberapa faktor, keadaan atau mutu benih akan mengalami kemunduran atau deteriorasi. Kecepatan kemunduran benih ini dipengaruhi oleh faktor : kadar air benih pada awal periode simpan, kelembaban nisbi dari tempat penyimpanan, suhu tempat penyimpanan, sifat-sifat keturunan, kerusakan mekanisme pada waktu panen dan pengolahan, serangan hama dan jasad renik, kemudian oleh panas dan susunan kimia dari benih (Sadjad, 1980).

(28)

kecambah akan turun menjadi 60% setelah disimpan 1 tahun dan menjadi 0% setelah 3 tahun (Kartono, 2004 ).

Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur-angsur dan kumulatif serta tidak dapat balik (irreversible) akibat perubahan fisiologis dan biokimia yang berakibat menurunnya viabilitas benih (Copeland dan McDonald, 2001). Perubahan fisiologis meliputi perubahan warna, terlambatnya perkecambahan, menurunnya toleransi terhadap keadaan lingkungan sub-optimal, berkurangnya toleransi terhadap kondisi simpan yang beragam, tingkat kepekaan yang tinggi terhadap perlakuan radiasi, berkurangnya laju perkecambahan, menurunnya keserempakan tumbuh, laju pertumbuhan dan perkembangan bibit rendah, hilangnya daya tumbuh, tegakkan tanaman yang tidak seragam dan produksi menurun .

Viabilitas benih dapat diuji dengan dua metode pengujian yaitu: 1. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah (RLPS, 2007), 2. Metode tidak langsung yang didasarkan pada proses metabolisma benih serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. Metode ini meliputi : uji tetrazolium, uji hydrogen peroksida, uji eksisi embrio, uji belah dan uji konduktivitas (Zanzibar, 2008).

Schmidt (2000) menggambarkan beberapa hal yang berhubungan dengan daya simpan benih rekalsitran yaitu :

1. Peka pengeringan. Kadar air terendah yang aman adalah 60-70 % untuk jenis rekalsitran ekstrim dan 12-14 % untuk beberapa jenis intermediate.

(29)

3. Metabolisme aktif, hal ini berhubungan dengan kadar air.

4. Tanpa dormansi, proses perkecambahan segera terjadi setelah benih menyebar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Viabilitas benih dalam penyimpanan

Suhu dan Kelembaban

Suhu dan kelembaban adalah faktor utama pada penyimpinan benih. Suhu ruang simpan berperan dalam mempertahankan viabilitas benih selama penyimpanan, yang dipengaruhi oleh kadar air benih, suhu dan kelembaban nisbi ruangan.

Menurut Sutopo (2004) bahwa suhu yang terlalu tinggi pada saat penyimpanan dapat membahayakan dan mengakibatkan kerusakan benih. Karena akan memperbesar terjadinya penguapan zat cair dalam benih, hingga benih akan kehilangan daya imbibisi dan kemampuan untuk berkecambah. Hasil penelitian (Viera, dkk., 2001) pada benih kedelai, dimana benih kedelai yang disimpan pada suhu 100C daya tumbuh benih dan elektrikal konduktivitas tidak berubah tetapi bila disimpan pada suhu 200C daya tumbuh menurun dan elektrikal konduktivitas meningkat. Purwanti (2004), juga melakukan penelitian tentang benih kedelai yang disimpan pada suhu rendah (21-230C) dan suhu tinggi (27-290C) menunjukkan bahwa benih yang disimpan pada suhu rendah mampu mempertahankan vigor dan daya tumbuh 80-90% dan penyimpanan suhu tinggi daya kecambah turun menjadi 61% pada 2 bulan penyimpanan.

(30)

semakin tinggi suhu ruang penyimpanan semakin cepat laju deteriorasi, sehingga lama penyimpanan benih lebih pendek (Kuswanto, 2003).

Proses biokimia biasanya diperlambat pada suhu rendah, semakin rendah suhu, semakin lambat prosesnya. Hal ini termasuk pula pada proses yang mengarah pada kerusakan (Bewley dan Black, 1985).

Menurut Schmidt (2000), tingkat suhu pada kondisi kamar sangat penting; kadar air yang sama penurunan viabilitas lebih cepat terjadi di dataran rendah tropis dengan suhu antara 30 – 350C, daripada kondisi sub-tropis atau dataran tinggi yakni dengan suhu kamar tidak melebihi 200C. Ada variasi yang besar dalam toleransi suhu, tetapi jenis tropis umumnya lebih peka terhadap suhu rendah, bervariasi dari < 200C untuk beberapa jenis sampai < 50C untuk jenis yang kurang peka. Rusaknya benih akibat suhu rendah berkaitan erat dengan kadar air, dalam arti bahwa benih yang peka terhadap pengeringan juga paling peka terhadap suhu rendah.

Kelembaban lingkungan selama penyimpanan juga sangat mempengaruhi viabilitas benih. Benih bersifat higroskopis (mudah menyerap air) dan selalu berusaha mencapai kondisi keseimbangan dengan lingkungannya. Sehingga apabila ruangan tempat penyimpanan benih mempunyai kadar air yang lebih tinggi dari pada kadar air benih, maka benih akan menyerap air dari udara sehingga kadar air benih juga meningkat (Copeland and McDonald, 2001).

(31)

(2004) menambahkan, kadar air yang tinggi dalam benih dengan kelembaban udara yang rendah dapat menyebabkan penguapan air dari dalam benih dan mempertinggi kelembaban udara di sekitar benih. Sebaliknya bila kandungan air dalam benih rendah sedangkan kelembaban udara di sekitar benih tinggi akan mengakibatkan terjadinya penyerapan air oleh benih dan penurunan kelembaban udara sekitar benih sampai tercapai tekanan yang seimbang.

Wein dan Kuenman (1991) menyatakan bahwa penyimpanan benih kedelai di Asia Tenggara dan Amerika Utara pada suhu 26-300C dengan kelembaban 80 % menyebabkan benih kedelai kehilangan viabilitasnya mencapai 50 % dalam 8 bulan penyimpanan. Selanjutnya Cabrera dan Laksakara (2002) menyatakan daya berkecambah benih kedelai menurun dari 82 % menjadi 39 % pada suhu 26-300C setelah benih disimpan selama 12 bulan.

Kemasan simpan

(32)

Tujuan utama pengemas benih yaitu melindungi benih dari kerusakan fisik maupun fisiologis. Pemilihannya didasari pertimbangan tujuan penyimpanan, jumlah benih yang disimpan dan kondisi ruang simpan maupun lamanya benih berada dalam penyimpanan. Kuswanto (2003) meyatakan bahwa perlu diperhatikan juga faktor kesesuaian kemasan simpan dengan tipe benih, biaya, pengaruh kelembaban terhadap benih serta kadar air pada saat disimpan.

Hasil pengamatan Michael (2000) dalam Chuansin dkk. (2006), bahwa alumunium foil memiliki sifat perlindungan terhadap air (0.0914 cc/m2/jam) lebih baik dibanding polyetilen (0.2472 cc/m2/jam). Mudjisihono dkk. (2001) mengungkapkan bahwa jenis kemasan plastik efektif untuk menghambat perubahan kadar air selama penyimpanan. Hasil penelitian Chuansin dkk. (2006) menunjukkan bahwa jenis kemasan alumunium foil mampu mempertahankan benih kedelai sampai 4 bulan dengan daya berkecambah 70 %, sedangkan polietilen hanya mampu mempertahankan viabilitas sampai 3 bulan penyimpanan. Hasil penelitian pada benih caisin oleh Rahayu dan Widajati (2007), benih yang disimpan dalam kemasan aluminium foil menujukkan kadar air yang cenderung konstan dan mengalami perubahan kandungan air yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan benih yang disimpan dalam kemasan plastik polietilen dan kertas.

(33)

jangka panjang atau jangka pendek. Untuk penyimpanan benih dalam jumlah yang kecil dapat disimpan dengan menggunakan kaleng dari aluminium atau fiberboard dengan aluminium foil, kantong polietilen dan karung goni/kertas.

Perubahan-perubahan fisiologi selama penyimpanan benih

Respirasi benih dalam penyimpanan

Respirasi merupakan reaksi oksidasi-reduksi yang dijumpai pada semua sel hidup, yang pada prosesnya mengeluarkan senyawa-senyawa dan melepaskan energi yang sebagian digunakan untuk berbagai proses hidup. Pada proses penyimpanan benih respirasi yang terjadi dapat diuraikan meliputi; 1. Perombakan cadangan makanan, 2. Terbentuknya hasil antara atau hasil akhir, yang dapat mempengaruhi benih pada saat penyimpanan,3. Pelepasan energi khusunya dalam bentuk panas, yang merupakan fase yang paling mempengaruhi dalam proses penyimpanan benih.

Justice dan Bass (1994) mengatakan bahwa respirasi dapat terjadi pada saat penyimpanan benih bila ada enzim-enzim, baik yang memiliki fungsi sangat khusus maupun memiliki fungsi umum. Semakin lama proses respirasi ini terjadi, semakin banyak pula cadangan makanan benih yang digunakan.

(34)

yang tinggi (0,75mgCO

2/kg benih/jam) bila dibandingkan dengan kadar air 8%

(0.70mgCO

2/kg benih/jam)pada kemasan yang sama. Benih yang mundur, kecepatan

respirasinya meningkat yang menyebabkan pengurangan cadangan makanan, akumulasi metabolit hasil perombakan cadangan makanan, dan dapat menyebabkan `kelaparan' pada jaringan meristem (Ependi, 2009). Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan, bahwa cadangan karbohidrat pada endosperm gandum, digunakan lebih dulu baru kemudian cadangan yang lain, yang mana selanjutnya adalah gula dan pati baru kemudian protein dan lemak.

Salah satu hasil dari proses respirasi adalah karbon dioksida. Akumulasi karbon dioksida pada penyimpanan tertutup dapat menghambat proses respirasi (Crocker dan Barton (1953) dalam Justice dan Bass (1994). Bersamaan dengan CO2 pada proses respirasi juga dihasilkan energy panas, dimana pada penyimpanan yang baik panas yang dihasilkan tidak atau hanya sedikit mempengaruhi benih tetapi pada kondisi yang lembab akan merusak benih simpan.

Protein dan Lemak

(35)

pelipatan menyebabkan timbulnya struktur sekunder. Bentuk tiga dimensi dari polipeptida yang menggulung atau melipat ini dinamakan struktur tersier. Struktur kuartener muncul dari hubungan struktural beberapa polipeptida yang terlibat (Anonimus a. 2009). Hasil penelitian Danuwarsa (2006) pada tanaman polong kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti oleh kacang tunggak (25,53%),

kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan kacang hijau (23,11%). Biji berbagai tumbuhan menyimpan protein yang merupakan nutrien yang digunakan untuk pertumbuhan embrio tanaman, contohnya adalah protein biji gandum, jagung, dan beras.

Hasil penelitian Tatipa (2004) mengemukakan bahwa penyimpanan benih kedelai pada kadar air awal 8% di dalam kantong plastik polietilen menurunkan kadar protein membran mitokondria setelah 2 bulan sedangkan pada kadar air 10% dan 12% penurunan kadar protein terjadi sejak 1 bulan.

(36)

Penelitian yang dilakukan pada tanaman polong oleh Danuwarsa (2006), mengemukakan kandungan lemak tertinggi pada kacang tanah 45,15(%), kacang

kedelai 17,95(%)1, kacang merah 87(%), kacang hijau 1,74(%) dan kacang tunggak

1,67(%).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Syatrianty dkk (2007) pada benih kakao terjadi penurunan kadar lemak dan karbohidrat dengan cepat pada benih

berkadar air tinggi (31-35%) dibandingkan dengan benih berkadar air rendah yakni

(16-25%) yang disebabkan karena terjadinya respirasi dan perkecambahan selama

penyimpanan.

Proses perkecambahan benih merupakan rangkaian komplek dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Protein, pati dan lipid setelah dirombak oleh enzim-enzim digunakan sebagai bahan penyusun pertumbuhan didaerah-daerah titik-titik tumbuh dan sebagai bahan bakar respirasi (Sutopo, 2002). Selama proses perkecambahan menyebabkan terjadinya perubahan nilai nutrisi yang terkandung dalam biji.

Pengujian Vigor dan Viabilitas Benih dengan Uji Konduktivitas (Conductivity Test)

(37)

1988 dalam Zanzibar, 2008). Semakin banyak elektrolit seperti asam amino, asam organik lainnya serta ion-ion anorganik yang dikeluarkan benih keair rendaman akan semakin tinggi pengukuran daya hantar listriknya.

Prinsip uji konduktivitas adalah bahwa benih hidup/mati akan memberikan reaksi yang berbeda jika dialiri arus listrik. Uji konduktivitas merupakan pengujian secara fisik untuk melihat tingkat kebocoran sel. Struktur membran sel yang jelek akan menyebabkan kebocoran sel yang erat kaitannya dengan benih bervigor rendah (Byrd, 1988 dalam Zanzibar, 2008). Copeland dan McDonald (2001), benih bervigor rendah memiliki integritas membran yang rendah sebagai akibat deteriorasi selama penyimpanan dan yang disebabkan oleh adanya luka mekanis. Vigor benih dapat dideteksi secara dini dari integritas membran sel yang dapat diukur melalui konduktivitas bocoran benih. Pada penelitian Viera (2001) mengungkapkan bahwa benih kedelai yang disimpan dalam aluminium foil pada suhu 200C daya kecambah dan vigor menurun dengan cepat dan nilai konduktivitas meningkat dengan cepat tetapi setelah dipindahkan keruangan dengan suhu 100C vigor tetap turun dan konduktivitas tetap selama periode simpan. Hasil ini menunjukkan bahwa suhu tinggi mempengaruhi konduktivitas. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Purwanti (2004) yang mengatakan bahwa proses penuaan pada benih kedelai kuning yang disimpan pada suhu tinggi mengakibatkan kebocoran membran sel-sel benih semakin tinggi dan permabilitas sel juga menurun.

(38)

nilai yang semakin tinggi dengan semakin rendahnya kadar air benih. Woodstock dkk., dalam Arief dkk., (2004) mengemukakan bahwa kebocoran kalium dan kalsium dari benih kapas mampu menunjukkan indikasi potensi fisiologis benih.

(39)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Pengawasan Benih dan Sertifikasi Benih IV Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara dan Laboratorium Analisa Kimia Pangan Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan yang dimulai bulan Maret 2010-Juni 2010.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih bengkuang varietas Gajah, kertas, dan bahan-bahan pendukung lainnya. Dan alat-alat yang digunakan adalah; ruangan penyimpanan benih, germinator, desikator, refrigerator, oven, pinset, kaleng, kantong plastik polietilen, aluminium foil, pasir, boks plastik, respiration chamber yang dimodifikasi, Cosmotector tipe XP-314 untuk mengukur konsentrasi karbon dioksida.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan pada ruang penyimpanan benih dengan suhu kamar (suhu 300C±2 dan kelembaban 60-80%).

(40)

Adapun faktor perlakuan terdiri dari : 1. Faktor A (kadar air benih)

A1 : Kadar air 9% A2 : Kadar air 11% A3 : Kadar air 13 %

2. Faktor B (kemasan simpan)

K1 :Kaleng (ukuran tinggi 8 cm x diameter 7,5 cm) K2 : Kantong plastik polietilen ( ukuran 9cm x 15 cm) K3 : Kantong aluminium foil ( ukuran 9cm x15cm )

Dengan demikian diperoleh 9 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, maka diperoleh keseluruhan 27 kombinasi perlakuan. Jika pengaruh perlakuan berbeda nyata pada sidik ragam (ANOVA) maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (UJGD).

Metode analisis

Rancangan percobaan yang dilakukan menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan model matematis sebagai berikut:

Yij = µ + Ai + Kj + (AK)ij +€ij Dimana :

Yij = nilai pengamatan pada perlakuan kadar air pada taraf ke-i, perlakuan kemasan pada taraf ke-j.

µ = nilai tengah umum

Ai = pengaruh perlakuaan kadar air taraf ke-i Kj = pengaruh perlakuan kemasan pada taraf ke-j

(AK)ij = pengaruh Kombinasi perlakuan kadar air taraf ke-i dan perlakuan kemasan taraf ke-j

(41)

Pelaksanaan Penelitian Benih

Benih yang digunakan adalah benih bengkuang varietas gajah yang diperoleh dari petani di Kecamatan Binjai Timur, Binjai.

Penetuan Kadar Air Awal Benih

(42)

Penyimpanan

Benih yang akan digunakan untuk penelitian dilakukan penyimpanan benih sesuai dengan suhu kamar. Pada penyimpanan, baik suhu maupun kelembapan udara ruangan di sesuaikan dengan suhu kamar, hal ini dilakukan karena setelah penelitian selesai diharapkan hasil penelitian dapat diaplikasikan oleh penangkar benih bengkuang untuk mempertahankan viabilitas benih bengkuang tetap baik selama penyimpanan. Adapun tahapan kegiatan penyimpanan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Benih yang akan digunakan untuk penelitian dibagi untuk masing-masing perlakuan. Pembagian dilakukan secara acak. Untuk masing-masing kombinasi perlakuan digunakan 120 gram benih dan untuk pengujian daya kecambah, vigor atau kekuatan tumbuh digunakan 100 benih, kadar air 10 gram, konduktivitas digunakan 20 benih diambil secara acak dari masing masing kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali, sementara untuk pengukuran laju respirasi digunakan 120 gram benih yang terpisah.

b. Benih diletakkan dalam kemasan-kemasan yaitu K1 : kaleng ukuran tinggi 8cm x diameter 7,5cm ; K2 : kantong plastik polietilen berukuran 9cmx15cm : dan K3 : kantong aluminium foil berukuran 9cmx15cm. Benih disimpan pada tiga kondisi kadar air awal yaitu 9, 11 dan 13 %.

Perkecambahan

(43)

menggunakan seratus (100) butir benih yang diambil secara acak dari masing-masing perlakuan dikecambahkan dengan metode didalam pasir dengan 3 ulangan, dan setiap satu ulangan sebanyak 100 butir.

Peubah yang diamati

Kadar air

Penetapan kadar air dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 4, 8, 12 dan 16 minggu penyimpanan. Penetapan kadar air dilakukan dua kali untuk setiap ulangan perlakuan. Bobot contoh kerja diambil masing-masing 5 gram untuk setiap ulangan dan benih dihancurkan melakukan grinder dengan skala 1. Metode yang digunakan adalah Metode Oven Suhu Rendah Konstan (103± 2) selama 17 jam. Bobot kering benih diperoleh dengan cara menimbang benih setelah dioven dan dibiarkan dalam desikator selama 45 menit.

Kadar air ( KA ) dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA Rules (2005 ) yaitu sebagai berikut :

(M2 – M3 )

KA= --- X 100% (M2 –M1)

Keterangan :

M1 = bobot wadah + tutup dalam gram

(44)

Daya berkecambah

Pengujian daya berkecambah dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 4, 8, 12 dan 16 minggu penyimpanan. Daya berkecambah diukur berdasarkan presentase kecambah normal pada hari ke-7 setelah benih dikecambahkan. Kriteria kecambah normal berdasarkan pada kriteria kecambah normal benih bengkuang yaitu : akar primer tumbuh panjang dan ramping, hipokotil lurus dan langsing, kotiledon berkembang seperti daun berwarna hijau, daun berkembang baik berwarna hijau. Daya Berkecambah (DB) akhir dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam metode Burris (1975) dalam Copeland and McDonald (2001) yaitu sebagai berikut :

∑ benih yang berkecambah normal

DB = --- X 100% ∑ benih yang dikecambahkan

Kecepatan perkecambahan ( KP )

Pengujian kecepatan perkecambahan dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 4, 8, 12, dan 16 minggu. Kecepatan perkecambahan benih diukur berdasarkan jumlah tambahan persentase kecambah normal setiap hari. Pengamatan dilakukan dalam kurun waktu 7 hari setelah benih dikecambahkan. Kecepatan perkecambahan benih dinyatakan dalam satuan unit persentase per etmal (etmal = 24 jam). Kecepatan perkecambahan ( Kp) dihitung dengan menggunakan rumus Maguire (1985) dalam Fauzan (2004).

(45)

Keterangan :

Kp = kecepatan perkecambahan

X n = persentase kecambah normal pengamatan ke –n En = pengamatan hari ke –n

Bobot kering kecambah normal

Pengujian Bobot Kering Kecambah Normal dilakukan pada saat penyimpanan benih 0,4,8,12 dan 16 minggu. Pengukuran dilakukan pada akhir pengamatan (7 hari setelah benih dikecambahkan). Seluruh kecambah normal dicabut kemudian dibungkus dengan aluminium foil dan dioven pada suhu 80 0C sampai mencapai bobot konstan kemudian dimasukkan kedalam desikator selama 45 menit kemudian ditimbang dalam satuan gram (g).

Respirasi

Pengukuran respirasi dengan menggunakan respiration chamber yang dimodifikasi

dimana pada setiap wadah penyimpanan dipasangi selang plastik untuk mengukur

konsentrasi CO2 yang berada dalam setiap wadah, kemudian dilakukan pengukuran

dengan menggunakan alat cosmotector tipe XP-314. Pengamatan dilakukan setiap 4

minggu mulai dari 4, 8, 12, 16 minggu.

Data yang diperoleh dari hasil pengukuran cosmotector (persen O2 atau CO2)

ditransfer kedalam satuan ml/kg-jam . Menurut Sutrisno (1994) perhitungan tersebut

dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(46)

ΔC W

Rr = laju produksi CO2 atau konsumsi O2 (ml/kg-jam)

Mw = berat molekul CO2 = 44 dan O2 = 32

ΔC = perbedaan konsentrasi O2 atau CO2 (%) antara dua pengukuran

V = volume kemasan (l)

Daya hantar listrik benih diukur pada saat penyimpanan 0, 4, 8, 12 dan 16 minggu.

Pengukuran daya hantar listrik dilakukan dengan menggunakan Elektrik Conductivity

Meter dimana sebanyak 20 benih yang telah diketahui beratnya direndam dalam 25 ml air

distilasi selama 24 jam pada suhu kamar. Selanjutnya air rendaman ini diukur daya hantar

listriknya (Byrd, 1988 dalam Zanzibar 2008).

Analisa Protein dan Lemak

Analisa protein dan lemak dilakukan pada awal penelitian dan akhir penelitian (0

minggu dan 16 minggu). Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan metode

ekstrasi soxhlet dan larutan heksan sebagai pelarut. Protein ditetapkan dengan metode

(47)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Kadar Air

Dari data pengamatan kadar air benih bengkuang dan hasil analisa statistik dapat dilihat bahwa perlakuan kadar air awal benih mempengaruhi kadar air benih selama penyimpanan 4-16 minggu penyimpanan (Lampiran 3, 5, 7 dan 9). Hal ini selain disebabkan kadar air awal benih yang telah berbeda juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan penyimpanan.

Tabel 1. Kadar Air Benih Bengkuang (%) pada Tingkat Kadar Air awal dan Kemasan yang Berbeda dengan Lama Penyimpanan 0-16 Minggu

Lama penyimpanan ( minggu) K2(Plastik polietilen) 11.00 11.06b 11.31bB 11.60bAB 11.88bB K3(Aluminium foil) 11.00 11.07b 11.22bB 11.54bB 11.59 cC

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom pada perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan 1% (huruf besar) berdasarkan uji Duncan.

(48)

kadar air pada kemasan aluminium foil dan kemasan plastik polietilen tidak menunjukakan perbedaan berdasarkan hasil uji beda rataan (Tabel 1) Hal ini menunjukkan bahwa kemasan aluminium foil lebih baik digunakan sebagai kemasan benih karena aluminium foil ini dapat menekan kenaikan kadar air benih selama penyimpanan (Tabel 1 dan Gambar 1). Kombinasi perlakuan kadar air dan kemasan simpan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap kadar air benih bengkuang selama penyimpanan 0-16 minggu.

Gambar 1. Kadar air benih bengkuang (%) pada berbagai kemasan pada penyimpanan 0-16 minggu

Daya Berkecambah

(49)

11% dan 13 %, dimana berdasarkan hasil uji beda rataan menunjukkan bahwa daya berkecambah benih dengan kadar air awal 9% berbeda nyata dengan daya berkecambah benih dengan kadar air awal 11% dan 13% pada setiap bulan pengamatan. Perlakuan kemasan memberikan pengaruh terhadap daya kecambah pada penyimpanan 4-16 minggu. Berdasarkan uji beda rataan menunjukkan daya berkecambah tertinggi diperoleh pada K3 (kemasan aluminium foil) berbeda nyata dengan K2 (kemasan plastik polietilen) dan K1 (kemasan kaleng) pada setiap bulan pengamatan. Untuk lebih jelas dapat kita lihat pada Gambar 2 dan 3.

Tabel 2 . Daya Berkecambah Benih Bengkuang (%) pada Kadar Air Awal dan Kemasan Berbeda pada Penyimpanan 0-16 Minggu Lama Pengamatan Sampai 10 Hari K2(Plastik polietilen) 80.89 80.22bAB 70.56bB 62.89ab 59.00ab K3(Aluminium foil) 80.89 81.00 aA 74.33aA 67.33a 61.11a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom pada perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan 1% (huruf besar) berdasarkan uji Duncan.

(50)

Gambar 2. Daya Berkecambah (%) Benih Bengkuang pada Berbagai Kadar Air Awal pada Penyimpanan 0-16 Minggu

Demikian juga dengan perlakuan kemasan dapat kita lihat pada Gambar 3 bahwa daya berkecambah benih bengkuang mengalami penurunan seiring dengan bertambah lama penyimpanan dimana perlakuan kemasan kaleng menunjukkan penurunan daya kecambah lebih cepat diikuti oleh kemasan plastik polietilen dan yang paling lambat mengalami penurunan daya berkecambah adalah kemasan aluminium foil.

Gambar 3. Daya Berkecambah (%) Benih Bengkuang pada Berbagai Kemasan pada Penyimpanan 0-16 Minggu

(51)

minggu. Tetapi dilihat dari rata-rata perlakuan kombinasi kadar air 9% dengan kemasan aluminium foil menunjukkan daya berkecambah yang lebih tinggi dan daya berkecambah yang paling rendah pada kombinasi perlakuan kadar air 13% dengan kemasan kaleng.

Kecepatan Perkecambahan (Kp)

Dari hasil analisa statistik data pengamatan kecepatan perkecambahan benih bengkuang dipengaruhi oleh faktor kadar air awal benih pada penyimpanan 4-16 minggu penyimpanan (Lampiran 21, 23, 25 dan 26). Dimana kecepatan perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan A2 (11%) diikuti oleh A1 (9%) pada pengamatan 0 sampai 4 minggu dan setelah pengamatan 8 sampai 16 minggu kecepatan perkecambahan tertinggi pada perlakuan A1 (9%) berbeda nyata dengan A2 (11%) dan perlakuan A3 (13 %) untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada Gambar 4.

Tabel 3. Kecepatan Perkecambahan Benih Bengkuang (%/etmal) pada Kadar Air dan Kemasan Berbeda dengan Lama Penyimpanan 0-16 Minggu

Lama Penyimpanan ( minggu) K2(Plastik polietilen) 10.27 10.01bB 8.86bB 7.62bAB 7.26ab K3(Aluminium foil) 10.27 10.08aA 9.35aA 8.21aA 7.52a

(52)

Faktor kemasan simpan memberikan pengaruh pada lama penyimpanan 4 dan 16 minggu minggu. Hasil uji beda rataan menunjukkan bahwa kecepatan perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan kemasan simpan K3 (aluminium foil) berbeda nyata dengan K2 (kemasan plastik polietilen) dan terendah pada K1 (kemasan kaleng) pada setiap pengamatan (Tabel3). Kecepatan perkecambahan menurun seiring dengan lamanya waktu penyimpanan baik oleh faktor kemasan maupun faktor kadar air awal benih (Gambar 5 dan 6).

Gambar 4. Kecepatan Perkecambahan (%/etmal) Benih Bengkuang pada Berbagai Kadar Air Awal pada Penyimpanan 0-16 Minggu

(53)

Tabel 4. Pengaruh Kombinasi Perlakuan Kadar Air Awal dan Beberapa Kemasan

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom dan baris berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan 1% (huruf besar) berdasarkan uji Duncan.

Gambar 6. Kecepatan Perkecambahan (%/etmal) Benih Bengkuang Pengaruh Kombinasi Perlakuan Kadar Air dan Kemasan Simpanan Berbeda pada Penyimpanan 8-12 Minggu

(54)

Bobot Kering Kecambah (gr)

Dari analisa statistik, kombinasi perlakuan kadar air awal benih dan kemasan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot kering kecambah benih bengkuang selama penyimpanan 0-16 minggu (Lampiran 30, 32, 34 dan 36).

Tabel 5. Bobot Kering Kecambah Benih Bengkuang (gr) dengan Lama Penyimpanan 0-16 Minggu pada Kadar Air Awal dan Kemasan yang Berbeda

Lama Penyimpanan ( minggu) K2(Plastik polietilen) 1.88 1.10ab 1.16ab 0.71ab 0.57abAB K3(Aluminium foil) 1.88 1.22a 1.19a 0.76a 0.60aA

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom pada perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan 1% (huruf besar) berdasarkan uji Duncan.

(55)

Gambar 7. Bobot Kering Kecambah (gr) Benih Bengkuang pada Berbagai Kadar Air Awal pada Penyimpanan 0-16 Minggu

Pada perlakuan kemasan simpan memberikan pengaruh pada bobot kering benih bengkuang pada penyimpanan 4-16 minggu (Tabel 5). Dimana bobot kering kecambah tertinggi terdapat pada K3 ( kemasan aluminium foil) dan terendah terdapat pada K1 (kemasan kaleng).

Gambar 8. Bobot Kering Kecambah (gr) Benih Bengkuang pada Berbagai Kemasan pada Penyimpanan 0-16 Minggu

(56)

1.05gr (63.63%). Penurunan bobot kering kecambah seiring dengan lamanya penyimpanan (Gambar 8).

Laju respirasi diukur dengan mengukur produksi CO2

Dari hasil analisa statistik perlakuan kadar air memberikan pengaruh terhadap respirasi benih selama penyimpanan 4-16 minggu (Lampiran 38, 40, 42 dan 44). Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan kadar air benih memberikan pengaruh terhadap respirasi benih selama penyimpanan, dimana kadar air benih awal 9% dan 11% menunjuk bahwa penyimpanan 4 sampai 16 minggu masih mengalami kenaikan produksi CO2 sedangkan pada kadar air awal 13% pada minggu 4 sampai minggu 12 menunjukkan kenaikan produksi CO2 yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan dua perlakuan sebelumnya. Namun pada minggu 16 penyimpanan perlakuan kadar air awal 13% telah mengalami penurunan produksi CO2 (Gambar 8).

Tabel 6. Respirasi Benih Bengkuang (ml/kg-jam CO2) dengan Lama Penyimpanan 4-16 Minggu pada Kadar Air Awal dan Kemasan Berbeda

Lama Penyimpanan ( minggu) K2(Plastik polietilen) 59.20bAB 62.71bB 83.53abAB 84.47abAB K3(Aluminium foil) 52.88cB 57.09bB 72.77cC 73.47cC

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom pada perlakuan yang sama berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan 1% (huruf besar) berdasarkan uji Duncan.

(57)

diikuti oleh kemasan plastik polietilen dan respirasi terendah pada kemasan aluminium foil, dimana hasil uji beda rataan menunjukkan perbedaan yang nyata antara respirasi tertinggi pada kemasan kaleng dan respirasi benih pada dua kemasan lainnya (Gambar 9 dan Tabel 6).

Gambar 9. Respirasi Benih Bengkuang (ml/kg-jam CO2) pada Berbagai Kadar Air Awal pada Penyimpanan 4- 16 Minggu

(58)

Dari analisa statistik kombinasi faktor kadar air awal benih dan kemasan simpan pada parameter respirasi berpengaruh pada penyimpanan 8-12 minggu (Lampiran 40, 42 dan Tabel 7).

Respirasi benih tertinggi pada penyimpanan 8 dan 12 minggu berturut-turut untuk kadar air awal 13% dengan kemasan simpan kaleng yaitu 44,19% dan 52.54% dan terendah pada kadar air awal 9% dengan kemasan simpan aluminium foil yaitu 26.79, dan 34.45% dan setelah diuji dengan uji beda rataan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 11).

Tabel 7. Respirasi Benih Bengkuang (ml/kg-jam CO2) selama Penyimpanan 8-12 Minggu pada Kombinasi perlakuaan tingkat kadar air awal dan kemasan berbeda

A2(11%) 88.45bAB 84.23bB 79.32bcB

A3(13%) 105.99aA 93.36abA 69.49cB

(59)

Gambar 11. Respirasi Benih Bengkuang (ml/kg-jam CO2) Pengaruh Kombinasi Perlakuan Kadar Air Awal dan Kemasan Simpan Berbeda pada Penyimpanan 8-12 Minggu

Daya Hantar Listrik (DHL)

(60)

dimana setelah diuji beda rataan menunjukkan perbedaan yang nyata pada setiap pengamtan (Tabel 8). Daya hantar listrik terus meningkat seiring dengan lamanya penyimpanan (Gambar 12).

Faktor kemasan berpengaruh pada daya hantar listrik rendaman benih bengkuang selama penyimpanan 4-16 minggu penyimpanan. Daya hantar listrik tertinggi pada penyimpanan 4-16 minggu berturut-turut terdapat pada kemasan kaleng yaitu 10.91, 19.11, 21.87 dan 39.09 mmhocm-3 dan berbeda nyata dengan daya hantar listrik pada kemasan aluminium foil yaitu 8.86, 15.50, 20.12 dan 35.13 mmhocm-3 setelah diuji dengan uji beda rataan. Daya hantar listrik meningkat seiring dengan lamanya penyimpanan (Gambar 13 dan Tabel 8).

Tabel 8. Daya Hantar Listrik Rendaman Benih Bengkuang (mmho/cm3) pada Penyimpanan 0-16 Minggu pada Tingkat Kadar Air Awal dan Kemasan Berbeda

(61)

Gambar 12. Daya Hantar Listrik (mmho/cm3) Rendaman Benih Bengkuang pada Berbagai Kadar Air Awal pada Penyimpanan 0-16 Minggu

Gambar 13. Daya Hantar Listrik (mmho/cm3) Rendaman Benih Bengkuang pada Berbagai Kemasan pada Penyimpanan 0-16 Minggu

(62)

kaleng yaitu 12.63, 21.80, 23.63 dan 42.80 mmhocm-3 dan berbeda nyata dengan daya hantar listrik terendah pada kadar air 9% dengan kemasan aluminium foil yaitu 8.00, 15.00, 18.87 dan 34.4 mmhocm-3 (Tabel 9 dan Gambar 14).

Tabel 9. Daya Hantar Listrik Rendaman Benih Bengkuang (mmho/cm3) pada Penyimpanan 4-16 Minggu pada Kombinasi Perlakuan Kadar Air Awal dan Kemasan Berbeda

(63)
(64)

Lemak dan Protein

Analisa protein dan lemak dilakukan pada awal dan akhir penelitian yaitu 0 minggu dan 16 minggu. Dari data rata-rata hasil analisa laboratorium dapat dilihat bahwa kandungan protein benih bengkuang mengalami penurunan pada 16 minggu penyimpanan. Penurunan kandungan protein ini tidak terlalu besar dimana penurunan kandungan protein benih bengkuang tertinggi pada kadar air 9% dengan kemasan aluminium foil (Tabel 10).

Tabel 10. Hasil Analisa Kandungan Protein (%) Benih Bengkuang pada 0 Minggu dan 16 Minggu

Perlakuan 0 Minggu 16 Minggu

A1K1 21.65 19.97

A1K2 21.65 20.07

A1 K3 21.65 19.65

A2 K1 21.22 21.14

A2 K2 21.22 20.36

A2 K3 21.22 19.66

A3K1 20.43 20.37

A3K2 20.43 20.09

A3 K3 20.43 19.68

(65)

Tabel 11. Hasil Analisa Kandungan Lemak (%) Benih Bengkuang pada 0 Minggu dan 16 Minggu

Perlakuan 0 Minggu 16 Minggu

A1K1 58.87 23.46

A1K2 58.87 25.50

A1 K3 58.87 25.02

A2 K1 57.64 24.64

A2 K2 57.64 25.03

A2 K3 57.64 27.01

A3K1 63.98 26.58

A3K2 63.98 28.35

(66)

Pembahasan

Data hasil penelitian daya berkecambah, kecepatan perkecambahan dan bobot kering kecambah menunjukkan adanya penurunan viabilitas benih yang nyata selama periode penyimpanan, dimana perlakuan kadar air awal yang terbaik terdapat pada kadar air 9% dan kemasan terbaik terdapat pada perlakuan kemasan aluminium foil.

Benih dalam penyimpanan sangat mudah mengalami deteriorasi (kemunduran benih). Salah satu faktor penyebabnya adalah kadar air lingkungan tempat penyimpanan yang dapat mempengaruhi kadar air benih, disamping komponen mutu benih secara fisik dan fisiologis. Kadar air benih merupakan komponen penting bagi benih dalam mempertahankan viabilitasnya dan sangat berkaitan dengan daya simpan benih. Kadar air benih mempengaruhi viabilitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Barton (1939) dalam Justice dan Bass (1994), kadar air benih merupakan faktor yang paling mempengaruhi kemunduran benih. Benih akan dapat mempertahankan viabilitas maksimumnya apabila kadar airnya diturunkan sampai batas minimum terlebih dahulu sebelum disimpan. Hal ini terbukti dari data pada tabel korelasi (Lampiran 63), dimana hubungan antara kadar air benih dengan daya berkecambah adalah -0,74.

(67)

1.19% (10.19) dan kenaikan kadar air terendah terjadi pada kadar air awal 11% menjadi 12.08%, dimana kenaikan kadar air mencapai 1.08 % dimana berdasarkan uji beda rataan menujukkan perbedaan yang nyata (Tabel 1). Hal ini disamping disebabkan oleh kadar air awal benih, juga dipengaruhi oleh kadar air lingkungan selama penyimpanan yang dapat menyebabkan naik atau turunnya kadar air benih. Kadar air lingkungan dan kadar air benih dapat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban ruang penyimpanan, kemasan simpan benih, sehingga benih menyerap air yang ada disekitarnya dan melakukan keseimbangan karena benih bersifat higroskopis (Kuswanto, 2003), yakni selalu beradaptasi untuk mencapai kondisi keseimbangan dengan lingkungannya. Berarti apabila kadar air ruang penyimpanan benih lebih tinggi dari kadar air benih maka benih akan menyerap air dari lingkungannya, sehingga akan meningkatkan kadar air benih.

(68)

Lebih tingginya kadar air benih yang disimpan pada kemasan kaleng dibandingkan dengan benih yang disimpan pada kemasan plastik polietilen dan aluminium foil, (Tabel 1), adalah karena kemasan plastik polietilen dan aluminium foil lebih mampu menahan masuknya air dan uap air kedalam dibandingkan dengan kemasan kaleng. Karena walaupun kaleng merupakan kemasan yang bersifat kedap uap air, namun memiliki kemampuan lebih rendah dari kemasan plastik dalam menahan perubahan kadar air, hal ini dikarenakan pada aplikasinya hanya ditutup dan diberi isalasi untuk menambah rapat tutup kaleng namun masih memungkinkan adanya rongga-rongga kecil yang menyebabkan terjadinya sirkulasi udara dibandingkan dengan kemasan plastik polietilen dan aluminium foil yang ditutup rapat dengan bantuan alat pemanas (sealer). Meskipun telah dikemas dengan pengemasan yang tertutup rapat (sealed) namun masih terjadi kenaikan kadar air yang diduga terjadi akibat dari aktivitas respirasi. Ini sesuai dengan hasil penelitian Sukarman dan Muhadjir (1993) tentang penyimpanan benih kedelai, yaitu selama penyimpanan menghasilkan panas, air serta karbon dioksida (CO2), sehingga meningkatkan kadar air benih.

(69)

Demikianlah penurunan daya berkecambah berlangsung seiring dengan bertambah lamanya penyimpanan benih dalam penelitian ini dimana daya kecambah tertinggi terdapat pada perlakuan kadar air 9% dan berbeda nyata dengan daya kecambah terendah pada kadar air 13% (Tabel 2) menandakan menurunnya mutu fisiologi benih bengkuang. Ini mungkin disebabkan semakin banyak cadangan makanan dalam benih seperti karbohidrat yang digunakan untuk proses respirasi yang juga semakin meningkat selama penyimpanan seperti terlihat pada Tabel 6. Dengan demikian kondisi fisik dan fisiologis benih semakin menurun yang ditandai dengan penurunan daya berkecambah benih dari sekitar 80% menjadi sekitar 56% pada akhir penyimpanan 16 minggu.

Lebih rendahnya daya berkecambah benih pada penyimpanan 16 minggu pada kemasan kaleng dibandingkan dengan kemasan plastik polietilen dan kemasan aluminium foil, diduga berkaitan dengan kenaikan kadar air tertinggi selama periode penyimpanan untuk kemasan tersebut (Tabel 1). Ini sesuai dengan pernyataan Kartono (2004) bahwa beberapa hal yang mempengaruhi daya kecambah benih selama penyimpanan adalah (1) mutu dan daya kecambah benih sebelum disimpan, (2) kadar air benih, (3) kelembaban ruang penyimpanan, (4) suhu tempat penyimpanan, (5) hama dan penyakit tempat penyimpanan dan (6) lama penyimpanan. Agrawal (1981) juga menyatakan bahwa kualitas benih pada awal penyimpanan mempengaruhi kualitas benih selama penyimpanan.

(70)

penyimpanan yang mencatat penurunan perkecambahan awal dari diatas 90% menjadi 0% pada akhir penyimpanan, laju penurunan ini ditentukan oleh spesies dan kadar air selama penyimpanan.

(71)

Terlihat pengaruh yang nyata dari kadar air awal terhadap kecepatan perkecambahan benih dalam penelitian ini yaitu pada perlakuan kadar air awal benih 13% kecepatan perkecambahan nyata lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kadar air 11% dan 9% (Tabel 3). Kecepatan perkecambahan yang lebih kecil menunjukkan lambatnya pertumbuhan kecambah dan lemahnya vigor benih serta kekuatan tumbuh. Sedangkan pada kecepatan perkecambahan yang tinggi, menunjukkan bahwa benih tersebut memiliki vigor atau kekuatan tumbuh yang tinggi pula. Sadjad (1980) mengatakan bahwa benih yang lebih cepat tumbuh menjadi kecambah normal, akan mampu menghadapi berbagai macam kondisi lingkungan. Sejalan dengan ini maka dalam penelitian, daya kecambah benih bengkuang pada kadar air awal 13% adalah rendah yaitu 56.11% pada akhir penyimpanan dengan kecepatan perkecambahn 6.90 % etmal-1 , sedangkan pada kadar air awal benih 9% daya berkecambah adalah 62.78% dan kecepatan perkecambahan 7.65% etmal-1 pada akhir penyimpanan (Tabel 2 dan 3). Hal ini diduga terjadi akibat deteriorasi yang terjadi pada benih bengkuang selama penyimpanan 16 minggu adalah lebih rendah pada benih dengan kadar air awal yang lebih rendah pula.

Gambar

Tabel Hasil
Tabel Data Pengamatan Bobot Kering Kecambah Benih
Tabel 1. Kadar Air Benih Bengkuang (%) pada Tingkat Kadar Air awal dan Kemasan yang Berbeda dengan Lama Penyimpanan 0-16 Minggu
Gambar 1.  Kadar air benih bengkuang (%) pada berbagai kemasan pada penyimpanan 0-16 minggu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis statistik nilai TPC pada ikan tongkol yang dijual di Kota Kupang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari ketiga lokasi penjualan, dengan

Sedangkan golongan ulama Zaidiah menerima hadis mudallas karena hadis ini eksistensinya sama dengan hadis Mursal (Hadis mursal diterima oleh jumhur). Sedangkan ulama

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah yang memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “

Perpustakaan ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap yang ditunjang dengan program pendidikan pengguna, untuk mendidik civitas akademika Universitas Udayana agar

Seragam untuk karyawan yaitu berupa celemek yang melambangkan bahwa produk merupakan buatan rumah atau home industry, dengan desain kantongnya yaitu pattern dari

Tes ini digunakan untuk melihat tingkat kognitifitas siswa setelah kegiatan pembelajaran dilakukan, disamping itu tes ini penting untuk melihat korelasi antara kinerja

dan nilai-nilai perjuangan tokoh nasional dan daerah dalam mempertahankan keutuhan negara dan bangsaIndonesia pada masa 1945–1965, menyadarkan kepada siswa bahwa suatu peristiwa

Promosi sebagai salah satu komponen dari bauran pemasaran memiliki peranan penting dalam mengkomunikasikan suatu produk dan dapat menciptakan preferensi konsumen atau calon