Representasi Pesan Pluralisme dalam Film CIN(T)A (Analisis Semiotika Roland Barthes Mengenai Representasi Pesan Pluralisme Verbal Dan Nonverbal Dalam Film CIN(T)A)

116  12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

REPRESENTASI PESAN PLURALISME DALAM FILM

CIN(T)A

(ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES MENGENAI REPRESENTASI PESAN PLURALISME VERBAL DAN NONVERBAL DALAM FILM CIN(T)A)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana Pada

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Komputer Indonesia

Oleh:

RATIH GEMA UTAMI NIM. 41807136

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI JURNALISTIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG

(2)

iii ABSTRAK

REPRESENTASI PESAN PLURALISME DALAM FILM CIN(T)A (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES MENGENAI

REPRESENTASI PESAN PLURALISME

Skripsi ini di bawah bimbingan: Adiyana Slamet, S.IP., M.Si.

Kekuatan dan kemampuan film memang menjangkau banyak segmen sosial, film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Artinya, film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan dibaliknya. Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikannya ke dalam layar.

Salah satu film independen yang menarik untuk diteliti adalah film Cin(T)a. Film ini merupakan film independen yang sarat akan pesan pluralisme di dalamnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui representasi pesan pluralisme secara verbal dan nonverbal dalam film Cin(T)a.

Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk mengetahui makna denotatif, makna konotatif dan mitos/ideologi yang tersembunyi dalam film tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, studi kepustakaan dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Cin(T)a merupakan film yang merepresentasikan pesan pluralisme melalui empat adegan verbal dan satu adegan nonverbal dengan berbeda scene yang dianalisis peneliti. Hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut: (a). Tuhan memiliki berbagai nama. (b). Kerukunan antarumat beragama; (c). Pentingnya komunikasi untuk menjaga keharmonisan; (d). Kebebasan beribadah bagi sesama umat beragama; (e). Usaha untuk memahami orang lain dalam perbedaan.

Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa film Cin(T)a mengandung pesan pluralisme verbal dan nonverbal yang dilihat dari makna denotasi, konotasi dan mitos pada setiap adegannya.

Peneliti memberikan saran bagi para sineas agar dapat lebih mengangkat apa yang masyarakat belum ketahui dengan representasi kedalam sebuah film dengan tampilan yang menarik. Film yang dibuat sebaiknya mengandung nilai-nilai yang dapat ditangkap dengan baik oleh masyarakat.

(3)

iv

REPRESENTATION OF PLURALISM MESSAGE IN CIN(T)A THE MOVIE (SEMIOTIC ANALYSIS OF ROLAND BARTHES ABOUT VERBAL AND

NONVERBAL PLURALISM MESSAGE REPRESENTATION been recorded by the movie, and the projected to the screen.

One of interesting independent movie is Cin(T)a. This independent movie is full of messages of pluralism in it. The writer conduct this research in order to

find the verbal and nonverbal pluralism messages’ representation in Cin(T)a the

movie.

In this research, the method that used by the writer is the qualitative approach with semiotic analysis method of Roland Barthes, to find the hidden myth/ideology, denotative meaning, and connotative meaning inside Cin(T)a the movie. The data collection technique was done through the documentation study, bibliography study, and interview.

The result of this research shows that Cin(T)a the movie is a movie that representing the pluralism messages through 5 different verbal messages’ scenes and 1 nonverbal messages scenes which was analyzed by the writer. The result is: (a). God has many names; (b). Harmony among religious believers; (c). The importance of communication to maintain harmony; (d). Freedom of worship for fellow believers; (e). attempts to understand others in the difference.

This research conclusion show that Cin(T)a the movie contains of verbal and nonverbal pluralism message as seen from denotation, connotation and myth in every scene.

Researchers give suggestions for the filmmakers to reveal what people has’nt know with a representation into a unique movie. The movie must have values that can be captured well by the audience.

(4)

v

KATA PENGANTAR

Bissmillaahirrahmaanirrahiim

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Allhamdulillaahirabbil’alamin, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah

SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah selalu kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat, atas selesainya penyusunan penelitian ini.

Terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua, yang tak henti-hentinya memberikan dukungan, kasih sayang dan doa kepada peneliti. Terima kasih untuk adik-adik tercinta, nenek dan seluruh keluarga besar untuk semua kasih sayang, dukungan dan doanya sehingga usulan penelitian ini dapat terselesaikan.

Berkaitan dengan hal di atas maka tidaklah berlebihan bila peneliti dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya atas bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak.

Dengan ini peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan dari dasar hati yang paling dalam kepada yang terhormat:

(5)

vi

Komunikasi dan Public Relations Unikom, sekaligus sebagai dosen wali, yang telah memberikan dukungan, motivasi, serta pengajaran yang baik selama penulis melaksanakan perkuliahan.

3. Ibu Melly Maulin, S.Sos., M.Si., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi dan Public Relations, yang telah memberikan bantuan, motivasi, serta pengajaran yang baik selama penulis melaksanakan perkuliahan.

4. Bapak Adiyana Slamet, S.IP., M.Si, selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas kesabaran, bantuan tenaga, pikiran dan masukan-masukan yang sangat berarti pada saat proses bimbingan. Terima kasih untuk ilmu dan diskusi-diskusi yang diberikan dan untuk pengajaran yang baik selama dalam perkuliahan.

5. Ibu Desayu Eka Surya, S.Sos., M.Si., selaku dosen pembina kemahasiswaan, terima kasih atas motivasi dan pengajaran yang baik selama dalam perkuliahan.

6. Ibu Rismawaty., S.Sos., M.Si., Bapak Arie Prasetyo, M.Si., Bapak Yadi Supriadi., S.Sos., M.Phil., Bapak Inggar Prayoga., S.I.Kom, Bapak Sangra Juliano., S.I.Kom, Ibu Tine Agustin Wulandari., S.I.Kom, selaku Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Komputer Indonesia beserta dosen luar biasa yang telah memberikan ilmu pelajaran dan pengalaman kepada peneliti serta kehangatan dalam setiap perkuliahan. 7. Ibu Astri Ikawati, A.Md kom, Ibu Intan Fajarini, S.I.Kom, selaku Sekretariat

(6)

vii

selaku Sekretaris Dekan FISIP Unikom yang telah memberikan bantuan dan kerjasamanya dalam membuat surat perizinan penelitian.

8. Adik-adikku, Gilang, Tari, Putri, Doli, Topan, terima kasih untuk selalu memberikan semangat dan doanya.

9. Seluruh keluarga besar Alm. Ulul Azmi Barus di Medan, Tante Windy dan Bu Timah, terima kasih untuk semua dukungan dan doanya.

10.Ricky Sulastomo, terlalu banyak kata untuk mengucapkan terima kasih atas perhatian, motivasi, bantuan, doa, semangat dan diskusi-diskusi kita selama ini. Terima kasih untuk menjadi teman, sahabat, teman diskusi, teman seperjuangan, teman berdebat, teman tempat bertanya, teman main game, sekaligus teman berbagi suka duka. Saat tua nanti, kita akan (sama-sama) mengingat ini.

11.Teman-teman IK-Jurnalistik 2007, Iha, Alia, Indah, Lina, Eci, Penty, Ucok, Diar, Nico, Ujie, Edi, Belawing, Ade, Manyu, Cankir, Ismet dan teman-teman yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu, yang telah memberikan motivasi, dukungan, semangat dan persahabatan kita selama ini.

12.Sahabat-sahabat tersayang, Fitri, Getha, Tania, Vally, Herlin, Kak Titis. Terima kasih atas dukungan, motivasi, serta kegembiraan yang diberikan dalam setiap kesempatan yang kita jalani bersama.

(7)

viii

Hendri dan Teh Astri. Terima kasih untuk pengalaman dan ilmu yang diberikan.

15.Semua pihak yang telah mendukung hingga usulan penelitian ini terselesaikan, yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih untuk dukungannya.

Tiada manusia yang sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun dan mendorong penulis agar menjadi lebih baik, sangat penulis harapkan sebagai acuan dalam penyusunan penelitian ini dan penelitian-penelitian lainnya.

Bandung, April 2012

(8)

ix DAFTAR ISI

Hal LEMBAR PERSEMBAHAN

LEMBAR PENGESAHAN ...i

LEMBAR PERNYATAAN ...ii

ABSTRAK...iii

ABSTRACT ...iv

KATA PENGANTAR ...v

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ...xv

DAFTAR GAMBAR...xvii

DAFTAR LAMPIRAN...xiiiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Rumusan Masalah ...9

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian... ..10

1.3.1. Maksud Penelitian ...10

1.3.2. Tujuan Penelitian ...10

1.4. Kegunaan Penelitian...11

1.4.1. Kegunaan Teoritis ...11

(9)

x

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu...13

2.1.1. Tesis Sri Wahyuningsih, Universitas Padjadjaran, Bandung, 2009... ...13

2.1.2. Skripsi Fitri Budi Astuti, Universitas Padjadjaran, Bandung, 2010 ...16

2.1.3. Skripsi Yaser Dwi Yasa, Universitas Komputer Indonesia, Bandung, 2012 ...18

2.2. Tinjauan Pustaka ...20

2.2.1. Tinjauan Tentang Komunikasi ...20

2.2.1.1. Komunikasi Sebagai Ilmu ...20

2.2.1.2. Pengertian Komunikasi ...22

2.2.2. Pesan Verbal dan Nonverbal dalam Komunikasi ...25

2.2.2.1. Pesan Verbal ...25

2.2.2.2. Pesan Nonverbal ...26

2.2.3. Tinjauan Tentang Komunikasi Massa ...25

2.2.3.1. Karakteristik Komunikasi Massa ...28

2.2.3.2. Fungsi Komunikasi Massa ...30

2.2.3.3. Proses Komunikasi Massa ...31

2.2.4. Tinjauan Tentang Film ...32

2.2.4.1. Pengertian Film ...32

(10)

xi

2.2.4.3. Film Independen ...36

2.2.4.4. Tata Bahasa Film ...38

2.2.5. Semiotika ...49

2.3. Kerangka Pemikiran ...56

2.3.1. Simbol-simbol Verbal Dalam Film ...56

2.3.2. Simbol-simbol Nonverbal Dalam Film ...57

2.3.3. Representasi ...63

2.3.4. Kajian Pluralisme ...65

2.3.5. Konsep Pluralisme ...70

2.3.6. Media dan Praktek Representasi ...71

2.3.7. Media dan Konstruksi Realitas ...74

2.3.8. Film Sebagai Media Massa ...79

2.3.9. Semiotika Roland Barthes ... 80

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian ...90

3.1.1. Filmografi Film Cin(T)a ...90

3.1.2. Sinopsis Film Cin(T)a ...91

3.1.3. Tim Produksi dan Kru ...93

3.1.4. Adegan-Adegan Yang Bermuatan Pesan Pluralisme Verbal ...94

(11)

xii

3.2.1. Desain Penelitian ...97

3.2.2. Teknik Pengumpulan Data ...98

3.2.2.1. Studi Pustaka ...99

3.2.2.2. Studi Lapangan ...100

3.2.3. Teknik Penentuan Informan ...101

3.2.4. Teknik Analisa Data ...102

3.2.5. Uji Keabsahan Data ...104

3.2.5.1. Triangulasi Data ...103

3.2.5.2. Menggunakan Bahan Referensi ...105

3.2.5.3. Member Check ...106

3.2.5.4. Uraian Rinci ...107

3.3. Waktu dan Tempat Penelitian ...108

3.3.1. Waktu Penelitian ...108

3.3.2. Tempat Penelitian ...110

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Denotatif dan Konotatif Adegan Pesan Pluralisme Secara Verbal dan Nonverbal dalam Film Cin(T)a ...111

(12)

xiii

pada Film Cin(T)a ...122 4.1.2. Analisis Mitos ...123

4.1.2.1. Identifikasi Mitos Adegan Pesan Pluralisme secara Verbal dan Nonverbal dalam Film Cin(T)a ...123 4.1.2.2. Pemaknaan Mitos Pesan Pluralisme secara Verbal dan

Nonverbal dalam Film Cin(T)a

4.1.2.2.1. Pemaknaan Mitos pada Pesan Pluralisme Secara Verbal ...127 4.1.2.2.2. Pemaknaan Mitos pada Pesan Pluralisme

Secara Nonverbal ...129 4.2. Pembahasan ...130

4.2.1. Pesan Pluralisme secara Verbal dan Nonverbal Dalam

Film Cin(T)a ...132 4.2.1.1. Pesan Pluralisme Secara Verbal ...132 4.2.1.2. Pesan Pluralisme Secara Nonverbal ...138 4.2.2. Representasi Pesan Pluralisme Verbal dan Nonverbal dalam

Film Cin(T)a ...139 4.2.2.1. Tuhan Memiliki Berbagai Nama ...139 4.2.2.2. Kerukunan Antarumat Beragama ...141 4.2.2.3. Pentingnya Komunikasi Untuk Menjaga

Keharmonisan ...142 4.2.2.4. Kebebasan Beribadah Bagi Setiap Umat

(13)

xiv

Perbedaan ...144

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ...147

5.2. Saran ...149

5.2.1. Saran Akademis ...149

5.2.2. Saran Audiens ...150

5.2.3. Saran Creator Film ...150

DAFTAR PUSTAKA ...151

DAFTAR LAMPIRAN ...154

(14)

xv

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 2.1. Jenis Tanda dan Cara Kerjanya ...53

Tabel 2.2. Isyarat Perilaku Hangat dan Dingi... ..58

Tabel 2.3. Zona Jarak Sosial... ...61

Tabel 2.4. Arti Warna dan Suasana Hati ...62

Tabel 2.5. Proses Representasi Fiske ...64

Tabel 2.6. Peta Tanda Roland Barthes ...82

Tabel 2.7. Perbandingan Antara Konotasi dan Denotasi ...88

Tabel 3.1. Adegan-Adegan Yang Bermuatan Pesan Pluralisme Verbal ...94

Tabel 3.2. Adegan-Adegan Yang Bermuatan Pesan Pluralisme Nonverbal ...96

Tabel 3.3. Informan Penelitian ...101

Tabel 3.4. Waktu Penelitian ...108

Tabel 4.1. Deskripsi Scene-1 ...113

Tabel 4.2. Deskripsi Scene-2 ...115

Tabel 4.3. Deskripsi Scene-3 ...117

Tabel 4.4. Deskripsi Scene-4 ...119

Tabel 4.5. Deskripsi Scene-5 ...122

Tabel 4.6. Mitos Scene-1 ...127

Tabel 4.7. Mitos Scene-2 ...127

Tabel 4.8. Mitos Scene-3 ...128

(15)

xvi

(16)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 2.1. Jarak Pengambilan Gambar...41

Gambar 2.2. Sudut Pengambilan Gambar ...43

Gambar 2.3. Teknik Pergerakan Kamera ...45

Gambar 2.4. Signifikasi Dua Tahap Barthes ...85

Gambar 2.5. Model Kerangka Pemikiran ...89

(17)

xviii

Hal

Lampiran 1 Surat Permohonan Penelitian ...154

Lampiran 2 Lembar Revisi Skripsi ...155

Lampiran 3 Pengajuan Pendaftaran Ujian Sidang Sarjana ...156

Lampiran 4 Berita Acara Bimbingan ...157

Lampiran 5 Surat Rekomendasi Pembimbing ...158

Lampiran 6 Pedoman Wawancara ...159

Lampiran 7 Hasil Wawancara ...161

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Film merupakan media pandang dengar (audio visual) yang sangat menarik untuk diperhatikan. di samping mempunyai fungsi menghibur, film juga berfungsi sebagai media yang dapat menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, saat ini sangat banyak production house yang bermunculan dan seolah berlomba-lomba untuk memproduksi film yang menarik untuk ditonton.

Production house tersebut banyak menghasilkan film-film yang merupakan ide-ide para sutradara dan penulis skenario. Film-film yang beredar di Indonesia, memiliki genre yang yang beragam. Mulai dari horror, action, komedi, drama percintaan yang mengharu biru, serta film-film yang menampilkan keragaman budaya Indonesia yang ada di daerah, seperti Senandung Di Atas Awan, Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara.

(19)

Film-film yang ada di Indonesia tidak hanya diwarnai oleh film dari

production house besar. Tetapi juga diisi oleh produksi-produksi film yang penggarapannya dilakukan dengan swadaya, atau disebut juga sebagai film independen atau yang lebih dikenal dengan film indie.

Sesuai dengan namanya, awalnya film indie memang digarap secara swadaya oleh tim produksinya. Namun saat ini, film indie di Indonesia mencoba menawarkan taste baru dalam menghasilkan karya-karya mereka. Eksplorasi dalam film indie mempunyai kadar yang tidak terbatas. Sifatnya yang mandiri dan swadaya, membuat apa yang ingin disampaikan oleh creator bisa bebas ditampilkan.

Karena tidak terbatasnya eksplorasi pada film indie, tentunya film ini mempunyai peluang yang sangat besar bagi terbukanya wacana intelektual. Kebebasan eksplorasinya berimbang dengan kebebasan tafsir. Kebebasan mempertanyakan sekaligus mencari jawab. Dengan begitu memungkinkan lahirnya pemahaman-pemahaman baru atas tawaran konsep.

(20)

3

Film Cin(T)a sebagai sebuah film independen digarap secara swadaya oleh kru-krunya. Saat diwawancarai oleh Project Tapanuli1, sutradara muda yang pernah menamatkan pendidikannya di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung ini mengutarakan perihal dana yang diperoleh untuk pembuatan film tersebut.

“Tentunya seperti sutradara pemula lainnya, untuk film pertama tentunya saya meng-approach orang-orang yang sudah percaya sama saya. Yang sudah tahu kalau saya ga akan bawa duitnya kemana-mana. Dana untuk pembuatan film ini saya dapatkan dari keluarga dan teman-teman.”2

Filmografi film Cin(T)a keluaran Moonbeam Creation dan Sembilan Matahari ini adalah3,

Tanggal rilis : 19 Agustus 2009

Genre : Komedi, Drama

Sutradara : Sammaria Simanjuntak Penulis Naskah : Sally Anom Sari

Sammaria Simanjuntak Produser : Adi Panuntun

Sammaria Simanjuntak M. Budi Sasono

Rumah Produksi : Moonbeam Creation Sembilan Matahari

Durasi : 79 menit

Klasifikasi Penonton : 17 tahun ke-atas (17+)

Portal : http://godisadirector.com/En/home.html Pemain : Saira Jihan sebagai Anissa

Sunny Soon sebagai Cina

Wacana mengenai pluralisme di Indonesia sudah sejak lama terdengar. Dengan keberagaman yang dimiliki Indonesia, menuntut rasa toleransi yang tinggi

1

Project Tapanuli adalah asosiasi atau network dari orang-orang Batak dari seluruh dunia, tapi juga untuk orang non-Batak yang ingin mempelajari Tapanuli dan kebudayaan Batak. http://www.project-tapanuli.org/index.html, akses tanggal 3 Maret 2012

2

Wawancara Project Tapanuli dengan Sammaria Simanjuntak mengenai film Cin(T)a, melalui http://www.dailymotion.com/video/x9j9f0_sammaria-simanjuntak-sutradara-dire_shortfilms akses tanggal 3 Maret 2012

3

(21)

antar individu, maupun kelompok. Pada film Cin(T)a, wacana mengenai pluralisme ini digambarkan melalui dialog-dialog antara Cina dan Anissa sebagai tokoh sentral dalam film ini.

Masalah pluralisme sendiri dianggap sebagai isu yang sensitif di Indonesia. Seringkali konflik tidak terelakkan, karena konteks pluralisme yang sangat lekat dengan isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Isu-isu ini sangat rentan menghancurkan pluralisme yang ada di Indonesia. Pada tahun 2010 terdapat 47 kasus yang menimpa Gereja dan pada 2011 terdapat 30 kasus yang juga menimpa Gereja.4

Contoh nyata lainnya mengenai isu pluralisme juga terjadi pada jemaah ibadah HKBP Filadelfia Tambun, Bekasi pada akhir Februari lalu. Pada video yang diunggah pada situs Youtube5 pada tanggal 26 Februari 2012 tersebut, terlihat para jemaah melakukan ibadah dengan lokasi dan fasilitas yang sangat se-adanya. Namun ada suatu kelompok tertentu yang sengaja mengarahkan pengeras suara ke tempat berjalannya ibadah, sehingga apa yang disampaikan tidak dapat didengar oleh jemaah. Video tersebut telah dilihat oleh lebih dari 29.000 viewers

semenjak diunggah dan mengundang berbagai reaksi dari masyarakat. Kasus ini menunjukkan bahwa rasa toleransi yang ada di Indonesia sebagai masyarakat yang sangat plural sudah terlalu menipis.

Hal ini sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan adegan-adegan serta dialog dalam film Cin(T)a. Semua perbedaan antara Cina yang notabene adalah seorang mahasiswa etnis Tionghoa dan Anissa yang merupakan seorang

4

http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/29/14924/membangun_pluralisme_tanpa_isu_sa ra/#.T1QhQ_Xf_n4 akses tanggal 3 Maret 2012

5

(22)

5

gadis Jawa, dibahas secara gamblang. Dialog-dialog mengenai konsep Tuhan menurut sudut pandang Cina dan Anissa yang dalam film ini dinyatakan sebagai

the unpredictable character dikemas dengan dialog yang santai tanpa konflik, namun sarat makna.

Pengertian pluralisme sendiri dijabarkan secara detail menurut Diana L. Eck, Ketua Komite Studi Agama dalam Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan di Universitas Harvard mengungkapkan ada 4 poin pemikiran mengenai pluralisme, yaitu:

1. Pluralisme bukan hanya beragam atau majemuk, keragaman adalah fakta yang dapat dilihat tentang dunia dengan budaya yang beraneka ragam, namun pluralisme membutuhkan keikutsertaan atau dengan kata lain ikut berusaha dalam menciptakan yang harmonis, tanpa hal tersebut akan menimbulkan masalah yang terus bertambah karena perbedaan.

2. Pluralisme lebih dari sekedar toleransi dengan usaha yang aktif untuk memahami orang lain. Toleransi saja tidak cukup untuk menjembatani jurang stereotip, ketakutan yang mendasari suatu perpecahan dan kekerasan.

3. Pluralisme bukan relativisme, pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Paradigma baru pluralisme adalah sebuah ikatan, bukan pelepasan perbedaan atau yang bersifat kekhususan. Namun berarti memegang perbedaan kita dengan baik, bahkan perbedaan agama kita, tidak dipisahkan, namun terikat dalam hubungan yang baik dan saling mendukung satu sama lainnya.

4. Pluralisme didasarkan pada dialog. Bahasa pluralisme adalah dialog dan pertemuan, baik berbicara dan mendengar, dan proses yang mengungkapkan pemahaman baik umum dan perbedaan nyata, dan kritik yang bersifat demokratis6.

Masyarakat Indonesia sendiri hidup dalam keberagaman ini sudah sejak lama. Oleh sebab itu, masyarakat membutuhkan tayangan yang memiliki muatan pesan mengenai nilai-nilai toleransi baik itu antar agama, suku, ras dan golongan-golongan tertentu.

6

(23)

Film, merupakan media yang paling cepat ditangkap oleh khalayak karena sifatnya yang audio visual. Oleh karena itu, pesan-pesan yang terdapat pada film akan dengan mudah ditangkap oleh khalayak dan diinterpretasikan. Pada film Cin(T)a, muatan pesan mengenai pluralisme sangat kental. Creator mencoba menggambarkan kondisi real yang ada di Indonesia.

Film Cin(T)a diputar perdana di National Film Theater, South Bank, Belverde Rd, Greater, London pada tanggal 29 April 2009 dan dihadiri sekitar 200 penonton7. Film ini juga telah diputar di Jogja Asian Film Festival (JAFF, 4-8 Agustus 2009) pada tanggal 5 Agustus 2009 dengan dihadiri sekitar 250 penonton.

Film hadir sebagai sebuah representasi realitas yang terjadi dalam masyarakat yang diciptakan oleh pembuat film. Selain sebagai representasi sebuah realita sosial, karena media massa adalah milik orang-orang yang berkompetensi dalam industri media, maka akan memungkinkan komunikasi yang dibangun melalui media massa akan memungkinkan komunikasi yang dibangun melalui media massa tersebut sarat akan kepentingan si pemiliknya. Oleh karena itu, pada saat ini, peran film sendiri tidak hanya sebagai media hiburan tetapi digunakan juga sebagai alat propaganda terutama dalam menyangkut kepentingan nasional maupun sosial. Berdasarkan pada pencapaiannya yang menggambarkan realitas, memberikan imbas secara emosional dan popularitas. Selain itu pengaruh film juga sangat kuat dan besar terhadapa jiwa manusia karena penonton tidak hanya terpengaruh ketika ia menonton film tetapi terus sampai waktu yang cukup lama.

7

(24)

7

Sobur dalam bukunya Semiotika Komunikasi, menyatakan bahwa kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen, lantas membuat para ahli menyimpulkan bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Sejak itu, maka merebaklah berbagai penelitian yang hendak melihat dampak film terhadap masyarakat. Ini, misalnya, dapat dilihat dari sejumlah penelitian film yang mengambil berbagai topik seperti: pengaruh film terhadap anak, film dan agresivitas, film dan politik dan seterusnya (Sobur, 2006:127).

Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis semiotika. Ini disebabkan, pada film terdapat banyak tanda baik verbal maupun nonverbal. Van Zoest menyatakan, film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan fotografi statis, rangkaian gambar dalam film menciptakan imaji dengan tanda-tanda ikonis, yakni tanda yang menggambarkan sesuatu (Sobur, 2006:128).

Bahasa merupakan sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda-tanda nonverbal seperti gerak-gerik, bentuk-bentuk pakaian, serta beraneka praktik sosial konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan relasi-relasi (Sobur, 2006:13).

(25)

“Proses merekam ide, pengetahuan, atau pesan dalam beberapa cara fisik disebut representasi. Ini dapat didefinisikan lebih tepat sebagai kegunaan dari tanda yaitu untuk menyambungkan, melukiskan, meniru sesuatu yang dirasa, dimengerti, diimajinasikan atau dirasakan dalam beberapa bentuk fisik.” (Wibowo, 2011:122).

Salah satu dari hasil representasi adalah film, karena film dibangun dari berbagai macam makna dan tanda, dan ditambahkan dengan pernyataan Widya Yutanti di dalam jurnalnya, bahwa visualisasi yang disajikan dalam film dipenuhi oleh tanda-tanda yang bisa mengalami keretakan (retak teks), sehingga perlu untuk dikaji dan dianalisa dengan pendekatan semiotika.8

Film sebagai media audio visual, memungkinkan banyaknya tanda yang merepresentasikan suatu makna. Sekecil apapun tanda yang terdapat di dalam film dapat kita maknai sebagai sesuatu yang mewakili maksud sang creator film. Pemaknaan terhadap sebuah karya film penting untuk mendapatkan esensi pesan yang dimaksud. Seperti yang diutarakan oleh Nukila amal dalam novelnya Cala Ibi “Maknailah, meski hanya sebuah kata sederhana. Kelak kau akan tahu betapa

makna bisa bermula dari hanya sebuah kata, sebuah huruf” (Al-Fayyadl,

2011:VII).

Terkait dengan tanda tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti film Cin(T)a dari segi semiotika. Untuk mengetahui makna dari tanda-tanda yang terdapat dalam film ini, diperlukan penilaian dari Roland Barthes. Menurutnya, peran pembaca (the reader) sangatlah penting dalam memaknai suatu tanda. Barthes memberikan konsep mengenai tanda dengan sistem pemaknaan tataran pertama yang disebut makna denotasi dan pemaknaan tataran kedua atau yang disebut

8

(26)

9

konotasi. Pada tataran kedua tersebut, konotasi identik dengan apa yang disebut Barthes sebagai mitos. Sehingga film Cin(T)a menjadi wilayah yang sangat menarik untuk diteliti melalui pendekatan semiotika karena di dalamnya kaya akan tanda, – tentu saja – membahas pesan-pesan pluralisme dipenuhi dengan mitos.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya (Suriasumantri, 2010:312). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti mengambil rumusan masalah melalui pertanyaan makro dan pertanyaan mikro.

1. Pertanyaan Makro

Bagaimana representasi pesan-pesan verbal dan nonverbal mengenai pluralisme dalam film Cin(T)a?

2. Pertanyaan Mikro

Untuk menjelaskan pertanyaan makro di atas, maka peneliti menjabarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik, yaitu:

1. Bagaimana makna-makna denotasi yang terkandung dalam pesan-pesan verbal dan nonverbal dalam film Cin(T)a?

(27)

3. Mitos bagaimana yang terbentuk dari makna konotasi pada pesan-pesan verbal dan nonverbal mengenai pluralisme dalam film Cin(T)a? 4. Bagaimana representasi pesan-pesan verbal dan nonverbal mengenai

pluralisme dalam film Cin(T)a?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana representasi pesan-pesan verbal dan nonverbal mengenai pluralisme yang disampaikan dalam film Cin(T)a.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah pernyataan masalah yang telah dirumuskan (Suriasumantri, 2010:313). Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apa makna-makna denotasi yang terkandung dalam pesan-pesan verbal dan nonverbal dalam film Cin(T)a.

2. Untuk mengetahui apa makna-makna konotasi yang terkandung dalam pesan-pesan verbal dan nonverbal dalam film Cin(T)a.

3. Untuk mengetahui mitos apakah yang terbentuk dari makna konotasi pada pesan-pesan verbal dan nonverbal mengenai pluralisme dalam film Cin(T)a.

(28)

11

1.4. Kegunaan Penelitian 1.4.1. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah referensi bagi para peneliti, khususnya dalam bidang ilmu komunikasi yang memfokuskan kajiannya pada studi media massa, yaitu media film. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat merangsang lahirnya penelitian-penelitian lanjutan dan pengembangan teori-teori yang berkaitan dengan fenomena komunikasi dari sebuah media, terutama media film, sebagai salah satu bentuk komunikasi massa.

1.4.2. Kegunaan Praktis 1. Bagi Peneliti

Dapat dijadikan sebagai bahan pengalaman dan pengetahuan, khususnya mengenai analisis semiotika Roland Barthes mengenai pesan-pesan verbal dan nonverbal mengenai pluralisme dalam film Cin(T)a. Serta untuk mengaplikasikan ilmu yang selama studi diterima oleh peneliti secara teori.

2. Bagi Universitas

(29)

3. Bagi Creator Film

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para

creator film maupun pihak-pihak yang berkonsentrasi dalam bidang perfilman untuk mengembangkan karya film bermutu yang memberikan pemahaman kepada khalayak sebagai penikmat film. Khususnya yang berkaitan dengan wacana pluralisme di media. Serta penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi insan perfilman di Indonesia yang akan mengangkat tema yang sama dengan film Cin(T)a.

4. Bagi Masyarakat

(30)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1.Tinjauan Penelitian Terdahulu

Dalam kajian pustaka, peneliti mengawali dengan menelaah penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan serta relevansi dengan penelitian yang dilakukan. Dengan demikian, peneliti mendapatkan rujukan pendukung, pelengkap serta pembanding yang memadai sehingga penulisan skripsi ini lebih memadai.

Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat kajian pustaka berupa penelitian yang ada. Selain itu, karena pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang menghargai berbagai perbedaan yang ada serta cara pandang mengenai objek-objek tertentu, sehingga meskipun terdapat kesamaan maupun perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan dapat disinergikan untuk saling melengkapi.

(31)

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, studi kepustakaan, dan wawancara mendalam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Film Ayat-Ayat Cinta

merupakan film dakwah Islami yang merepresentasikan pesan-pesan dakwah melalui sembilan adegan pesan verbal dan empat adegan pesan nonverbal dengan berbeda scene yang dianalisis peneliti. Hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pesan-Pesan dakwah verbal yang bersifat: a. Mengajak adalah:

Scene-1: Anjuran Menikah

Scene-2: Hubungan Muslim dengan Non Muslim

Scene-4: Menjunjung Tinggi Perempuan

Scene-5: Ta’aruf Pacaran yang diridhai Allah

Scene-6: Adil dalam Poligami

Scene-7: Hubungan Sesama Muslim

Scene-8: Sabar dan Ikhlas dalam Ujian-Nya

Scene-9: Ikhlas dalam Poligami b. Melarang adalah:

Scene-3: Haram bersentuhan bukan muhrimnya.

(32)

15

Scene-11: Menjaga pandangan menghindari zina mata,

Scene-12: Shalat media komunikasi spiritual, Scene-13: Meninggal dengan husnul khatimah

b. Melarang adalah:

Scene-10: Aurat laki- laki.

3. Representasi Pesan-Pesan Dakwah Verbal dan Nonverbal dalam Film Ayat-Ayat Cinta:

a. Hukum Dalam Islam adalah: 1. Hukum Menikah

2. Hukum Ta’aruf Pacaran yang diridhai Allah

3. Hukum Poligami (Berusaha berbuat adil dalam hidup poligami)

4. Hukum Menjunjung Tinggi Perempuan (surga ditelapak kaki ibu, memperlakukan istri yang nusyuz) 5. Hukum Pergaulan Laki-Laki dan Perempuan

(bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya dan Menjaga pandangan menghindari zina mata)

6. Hukum Aurat Laki-Laki; b. Akhlak Dalam Islam:

(33)

2. Akhlak Habluminallah (shalat media komunikasi spiritual, ikhlas dan sabar terhadap ujian-Nya, ikhlas hidup poligami, meninggal dengan husnul khatimah).

Persamaannya terletak pada objek penelitian, yaitu sama-sama menganalisis film. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian ini juga sama-sama meneliti tentang representasi pesan-pesan verbal dan nonverbal.

Perbedaannya terletak pada film yang diteliti. Pada penelitian Wahyuningsih, meneliti film Ayat-Ayat Cinta. Sedangkan pada penelitian ini meneliti film Cin(T)a. Pesan verbal dan nonverbal yang ingin diteliti pada penelitian Wahyuningsih mengenai pesan dakwah. Sedangkan pada penelitian ini meneliti mengenai pesan-pesan pluralisme.

2.1.2. Skripsi Fitri Budi Astuti, Universitas Padjadjaran, Bandung, 2010 Penelitian Fitri Budi Astuti yang berjudul “Pluralisme dalam

Film My Name is Khan” bertujuan untuk mengetahui bagaimana

kode-kode sosial dalam konteks hubungan dunia kerja, hubungan dengan pasangan dan keluarga, serta hubungan dengan situasi sosial yang merepresentasikan pluralisme dalam film “My Name is Khan”.

Objek penelitian ini yaitu pluralisme dalam film “My Name is

(34)

17

manusia, yakni hubungan dalam dunia kerja, hubungan dengan pasangan dan keluarga, serta hubungan dengan situasi sosial. Metode yang digunakan adalah metode interpretasi dengan analisis semiotika

The Codes of Televisión dari John Fiske.

Hasil penelitian melalui kode-kode sosial memperlihatkan bahwa pluralisme di Amerika dalam film ini ditekankan pada pluralisme dalam hal perbedaan agama, yang bukan merupakan suatu perbedaan yang tidak harus dipermasalahkan, namun harus memegang perbedaan tersebut dengan baik secara bersama-sama terikat dalam hubungan baik di antara satu dengan yang lainnya. Pluralisme bertujuan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan kerukunan antar manusia dengan cara ikut serta secara aktif dengan usaha yang nyata untuk mewujudkan hal tersebut diberbagai konteks, baik dalam hubungan dunia kerja, hubungan dengan pasangan dan keluarga, serta dalam hubungan dengan situasi sosial dengan saling menghormati hak masing-masing individu, memegang perbedaan dalam ikatan hubungan yang baik antar sesama, dan memanfaatkan dialog yang bersifat demokratis guna memahami satu sama lain.

(35)

Perbedaannya terletak pada film yang dianalisis. Astuti menganalisis film Bollywood, My Name Is Khan. Sedangkan peneliti menganalisis film Indonesia, Cin(T)a. Metode analisis yang digunakan juga berbeda. Astuti menggunakan analisis semiotika dari John Fiske, sedangkan peneliti menggunakan analisis semiotika Roland Barthes.

2.1.3. Skripsi Yaser Dwi Yasa, Universitas Komputer Indonesia, Bandung, 2012

Penelitian yang berjudul “Representasi Kebebasan Pers

Mahasiswa Dalam Film Lentera Merah” ini dilakukan dengan

maksud untuk mengetahui makna semiotik tentang kebebasan pers yang terdapat dalam film Lentera Merah, menganalisis apa saja makna yang terdapat dalam film Lentera Merah yang berkaitan dengan kebebasan pers mahasiswa. yaitu makna denotasi, makna konotasi, mitos/ideologi menurut Roland Barthes.

Penelitian ini merupakan Penelitian Kualitatif dengan menggunakan analisis semiotik Roland Barthes. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, studi pustaka, dan penelusuran data online. Objek yang dianalisis merupakan sequence

yang terdapat dalam film Lentera Merah dengan mengambil tujuh

(36)

19

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga makna sesuai dengan semiotik Barthes. Makna Denotasi yang terdapat dalam

sequence Lentera Merah menggambarkan penyeleksian terhadap jurnalis serta tindakan pengurungan hingga pengorbanan nyawa dalam kehidupannya. Sedangkan makna Konotasi didapat yaitu masih adanya pengekangan kepada pers, apalagi terhadap presma, di mana posisi mereka berada dalam satu lingkung akademis. Sedangkan makna Mitos/Ideologi yang dapat diambil pers akan tetap hidup, namun dalam kehidupanya pers harus bersifat Independen, serta tidak berpihak, dan tetap menjungjung kejujuran dengan kekebasan pers yang mereka miliki disertai dengan tanggung jawab moral.

Kesimpulan penelitian memperlihatkan kehidupan pers harus tetap idealis, kritis, serta harus tetap tidak terikat pada suatu sistem yang dapat mempengaruhi hasil kerja kaum pers juga menjunjung tinggi pada kebenaran.

Peneliti memberikan saran bagi para sineas dapat lebih mengangkat apa yang masyarakat belum ketahui dengan representasi ke dalam sebuah film dengan tampilan yang menarik. Terdapat beberapa genre film, jenis film horor merupakan salah satu magnet bagi khalayak untuk menontonnya, walau demikian baiknya para sineas dapat lebih pandai menyusupi makna kehidupan nyata.

(37)

semiotika Roland Barthes. Objek penelitian ini juga sama-sama mengenai film.

Perbedaannya terletak pada objek film yang diteliti. Yasa meneliti film Lentera Merah, sedangkan pada penelitian ini adalah film Cin(T)a. Pesan yang diteliti oleh Yasa adalah mengenai kebebasan pers mahasiswa. Sedangkan pada penelitian ini, pesan yang diteliti adalah pesan pluralisme.

2.2.Tinjauan Pustaka

2.2.1. Tinjauan Tentang Komunikasi 2.2.1.1. Komunikasi Sebagai Ilmu

“We cannot not communicate,” “kita tidak dapat tidak

berkomunikasi”. Begitulah yang dikatakan oleh Waltzlawick, Beavin

dan Jackson (Mulyana, 2007:60). Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan komunikasi. Bahkan pada saat berdoa sekalipun.

(38)

21

antarmanusia dan menggunakan lambang-lambang, misalnya bahasa verbal (lisan atau tertulis) dan bahasa nonverbal yang meliputi bentuk-bentuk ekspresi simbolik lainnya, seperti lukisan, pahatan, gerak tubuh dalam beraneka jenis tari dan musik (Pawito, 2008:1).

Ashley Montagu (1967:450) dengan tegas menulis: “The

most important agency through which the child learns to be human is

communication, verbal also nonverbal.” (Lembaga yang paling penting di mana anak belajar untuk menjadi manusia adalah komunikasi, verbal juga nonverbal) (Rakhmat, 2004:2). Hal ini menyiratkan akan pentingnya komunikasi, bukan hanya sekedar untuk “berkomunikasi”, namun juga bagaimana perilaku seorang individu

amat dipengaruhi oleh komunikasi itu sendiri.

Poedjawijatna (1983) menyatakan, komunikasi sudah memiliki syarat-syarat sebagai ilmu pengetahuan. Hal itu dapat dibuktikan dengan syarat bahwa sebagai suatu ilmu pengetahuan, harus memiliki objek kajian. Ilmu komunikasi memiliki objek materia yaitu tindakan manusia dalam konteks sosial, sedangkan objek formanya adalah komunikasi itu sendiri, yakni usaha penyampaian pesan antar manusia.9

Sebagai ilmu, komunikasi menembus banyak disiplin ilmu. Sebagai jala perilaku, komunikasi dipelajari bermacam-macam disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi (Rakhmat, 2004:3).

9

http://chanprima666.student.umm.ac.id/2010/08/24/ilmu-komunikasi-sebagai-ilmu-pengetahuan/

(39)

Ilmu komunikasi merupakan hasil dari suatu proses perkembangan yang panjang. Dapat dikatakan bahwa lahirnya ilmu komunikasi dapat diterima baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, bahkan di seluruh dunia. Hal tersebut merupakan hasil perkembangan dari publisistik dan ilmu komunikasi massa yang dimulai dengan adanya pertemuan antara tradisi Eropa yang mengembangkan ilmu publisistik dengan tradisi Amerika yang mengembangkan ilmu komunikasi massa.

2.2.1.2. Pengertian Komunikasi

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama,” communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2007:46).

(40)

23

membuat komunikasi diklasifikasikan kepada tiga konseptualisasi, yaitu komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi dan komunikasi sebagai transaksi (Mulyana, 2007:67). Adapun pendapat para ahli mengenai definisi komunikasi, yaitu:

a. Bernard Berelson dan Gary A. Steiner

Komunikasi merupakan transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol–kata-kata, gambar, figur, grafik dan sebagainya (Mulyana, 2007:67).

b. Carl I. Hovland

Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate) (Mulyana, 2007:67).

c. Gerald R. Miller

Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima (Mulyana, 2007:67).

d. Everett M. Rogers

(41)

e. Harold Lasswell

Menjelaskan bahwa “(Cara yang baik untuk menggambarkan

komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?” Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa

Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana? (Mulyana, 2007:67).

Pendapat para ahli tersebut menggambarkan bahwa komponen-komponen pendukung komunikasi termasuk efek yang ditimbulkan, antara lain adalah:

1. Komunikator (communicator, source, sender)

2. Pesan (message)

3. Media (channel)

4. Komunikan (communican, receiver)

5. Efek (effect)

(42)

25

2.2.2. Pesan Verbal dan Nonverbal dalam Komunikasi 2.2.2.1. Pesan Verbal

Menurut Mulyana, Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Suatu sistem kode verbal disebut bahasa. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu perangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatukan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita (Mulyana, 2007:260-261).

Rakhmat (2004:269) mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai “alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan” (socially shared means for

expressing ideas). Bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Definisi formal menyatakan bahwa bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa

(all the conceivable sentences that could be generated according to

(43)

Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki orang, objek, dan peristiwa. Setiap orang punya nama untuk identifikasi sosial. Orang juga dapat menamai apa saja, objek-objek yang berlainan, termasuk perasaan tertentu yang mereka alami (Fisher dan Adams, 1994:131 dalam Mulyana, 2007:266).

Pada dua definisi di atas, dapat ditarik benang merah bahwa bahasa hanya akan bermakna, apabila ada kesepakatan di antara pelaku komunikasi untuk memahami suatu bahasa dengan makna yang sama. Tanpa adanya kesepakatan tersebut, maka pemahaman terhadap suatu bahasa tidak akan terjadi.

2.2.2.2. Pesan Nonverbal

(44)

27

Mark L. Knapp (1972:9-12) dalam buku Jalaluddin Rakhmat menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, yaitu:

1. Fungsi repetisi. Fungsi ini untuk mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal.

2. Fungsi substitusi. Fungsi ini untuk menggantikan lambang-lambang verbal.

3. Fungsi kontradiksi. Fungsi ini untuk menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal.

4. Fungsi komplemen. Fungsi ini untuk melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal.

5. Fungsi aksentuasi. Fungsi ini untuk menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya (Rakhmat, 2004:287).

Penulis Nonverbal Communication Systems, Dale G. Leathers (1976:4-7) dalam Rakhmat (2004:287-289) menyebutkan enam alasan pentingnya pesan nonverbal:

1. Faktor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal.

2. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan nonverbal ketimbang pesan verbal

3. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi dan kerancuan.

4. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. 5. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien

dibandingkan dengan pesan verbal.

6. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Larry A. Samovar dan Richard E. Porter membagi pesan-pesan nonverbal menjadi dua kategori, yakni: pertama, perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan, dan parabahasa;

(45)

2.2.3. Tinjauan Tentang Komunikasi Massa 2.2.3.1. Karakteristik Komunikasi Massa

Karakteristik komunikasi massa menurut Ardianto Elvinaro, dkk; dalam Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Sebagai berikut:

1. Komunikator terlambangkan 2. Pesan bersifat umum

3. Komunikannya anonim dan heterogen 4. Media massa menimbulkan keserempakan

5. Komunikasi mengutamakan isi ketimbang hubungan 6. Komunikasi massa bersifat satu arah

7. Stimulasi Alat Indera Terbatas 8. Stimulasi Alat Indera Terbatas

9. Umpan Balik Tertunda (Delayed) dan tidak langsung (Indirect). (Ardianto Elvinaro, dkk. 2007: 7).

Komunikator terlembagakan. Ciri komunikasi masa yang pertama adalah komunikatornya. Komunikasi massa itu melibatkan lembaga dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks.

Pesan bersifat umum. Komuniksai massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan ditujukan untuk sekelompok orang tertentu.

(46)

29

Media massa menimbulkan keserempakan Effendy mengartikan keserempakan media massa itu sebagai keserempakan konteks dengan sejumlah besar penduduk dalam jumlah yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.

Komunikasi mengutamakan isi ketimbang hubungan. Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi menunjukan muatan atau isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan, sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakanya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu.

Komunikasi massa bersifat satu arah. Karena komunikasinya melalui media massa, maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog.

Stimulasi Alat Indera Terbatas. Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada radio siaran dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar.

(47)

massa. Efektivitas komunikasi sering dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan.

2.2.3.2. Fungsi Komunikasi Massa

Burhan Bungin menyatakan fungsi-fungsi komunikasi massa sebagai berikut (Bungin, 2007:79-81).

1. Fungsi Pengawasan

Media massa merupakan sebuah medium di mana dapat di gunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif.

2. Fungsi Social Learning

Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada sluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat di mana komunikasi massa itu berlangsung.

3. Fungsi Penyampaian Informasi

(48)

31

secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu cepat dan singkat.

4. Fungsi Transformasi Budaya

Komunikasi massa sebagaimana sifat-sifat budaya massa, maka yang terpenting adalah komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa.

5. Fungsi Hiburan

Komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

2.2.3.3. Proses Komunikasi Massa

Komunikasi massa memiliki proses yang berbeda dengan komunikasi tatap muka. Karena sifat komunikasi massa yang melibatkan banyak orang, maka proses komunikasinya sangat kompleks dan rumit. Menurut McQuaill (1992:33) dalam Bungin (2007: 74-75), proses komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk:

(49)

yang disebarkan dalam jumlah yang luas, dan diterima oleh massa yang besar pula.

2. Proses komunikasi massa juga dilakukan melalui satu arah, yaitu dari komunikator ke komunikan. Apabila terjadi interaksi diantara komunikator dan komunikan, maka umpan baliknya bersifat sangat terbatas, sehingga tetap saja didominasi oleh komunikator. 3. Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris di antara

komunikator dan komunikan yang menyebabkan komunikasi yang terjadi berlangsung datar dan bersifat sementara.

4. Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal (non-pribadi) dan tanpa nama (anonim). Proses ini menjamin, bahwa komunikasi massa akan sulit diidentifikasikan siapa penggerak dari pesan-pesan yang disampaikan.

5. Proses komunikasi massa berlangsung berdasarkan pada hubungan-hubungan kebutuhan (market) di masyarakat. Seperti radio dan televisi yang melakukan penyiaran karena adanya kebutuhan masyarakat akan informasi.

2.2.4. Tinjauan Tentang Film 2.2.4.1. Pengertian Film

(50)

33

melalui media massa, karena komunikan yang dituju tidak satu atau dua orang, tetapi massal.

Film dalam pengertian sempit adalah penyajian gambar lewat layar lebar, tetapi dalam pengertian yang lebih luas bisa juga termasuk yang disiarkan di televisi (Cangara, 2002:135 dalam Wahyuningsih, 2009:63). Gamble (1986:235 dalam Wahyuningsih, 2009:63-64) berpendapat, film adalah sebuah rangkaian gambar statis yang direpresentsi kan di hadapan mata secara berturut-turut dalam kecepatan yang tinggi.

Film sebagai salah satu media komunikasi massa, memiliki pengertian yaitu merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu (Tan dan Wright, dalam Ardianto & Erdinaya, 2005:3 dalam Wahyuningsih, 2009:64).

(51)

orang-orang film. Mereka bekerja keras untuk meneliti tentang kelemahan televisi untuk menarik kembali masyarakat ke gedung bioskop. Setelah diketahui bahwa kelemahan televisi terletak pada layarnya yang terlalu kecil, para pembuat film membuat film-film kolosal dan spektakuler meskipun harus mengeluarkan biaya yang besar (Effendy, 2003:203-204). Peralatan-peralatan dalam produksi film terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sehingga sampai sekarang tetap mampu menjadikan film sebagai tontonan yang menarik khalayak luas (Sumarno, 1996:9 dalam Wahyuningsih, 2009:64).

2.2.4.2. Jenis-jenis Film

Film yang kita tonton memiliki jenisnya sendiri menurut sifatnya yang membedakan cara bertutur maupun pengolahannya. Pada umumnya, film terdiri jadi jenis-jenis sebagai berikut:

1. Film Cerita (Story Film)

(52)

35

2. Film berita (Newsreel)

Film berita atau newsreel adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya berita, maka film yang disajikan kepada publik harus mengandung nilai berita (news value) (Effendy, 2003:212).

3. Film Dokumenter (Documentary Film)

John Grierson mendefinisikan film dokumenter sebagai “karya

ciptaan mengenai kenyataan (creative treatment of actuality)”.

Titik berat dari film dokumenter adalah fakta atau peristiwa yang terjadi (Effendy, 2003:213).

4. Film Kartun (Cartoon Film)

(53)

5. Film-film Jenis Lain

a. Profil Perusahaan (Corporate Profile)

Film ini diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan. film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi.

b. Iklan Televisi (TV Commercial)

Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA).

c. Program Televisi (TV Program)

Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umu, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita.

d. Video Klip (Music Video)

Dipopulerkan pertama kali melalui saluran televisi MTV pada tahun 1981, sejatinya video klip adalah sarana bagi para produser musik untuk memasarkan produknya lewat medium televisi (Wahyuningsih, 2009:66-67).

2.2.4.3. Film Independen

(54)

37

enam studio raksasa Hollywood yang menguasai industri sinema dunia saat ini, yakni 20th Century Fox, Walt Disney, Columbia, Universal, Paramount, dan Warner Bros. Film independen dapat didefinisikan sebagai semua film yang dibiayai kurang dari 50 persen oleh salah satu dari enam studio raksasa tersebut.

Sementara definisi non teknis film independen lebih luas dan semakin kabur batasannya. Boleh dibilang semua aspek di luar sistem (produksi) Hollywood bisa berkaitan dengan hal ini. Film-film

mainstream Hollywood umumnya menggunakan formula (produksi) yang sama dengan tujuan meraih profit finansial sebesar-besarnya. Mereka tidak berani berjudi dengan segala sesuatu yang bisa menimbulkan resiko kerugian. Sementara sineas independen menggunakan cara bertutur yang unik, kreatif, orisinil, tema yang kontroversial, ekstrem, serta vulgar dalam karya-karya mereka. Mereka juga berani bereksperimen dengan teknik-teknik baru dan radikal dengan biaya produksi yang umumnya jauh di bawah standar film-film mainstream. Film-film independen lebih menekankan pada visi artistik sang sineas tanpa intervensi dari pihak lain, seperti studio atau produser. Tidak seperti sineas mainstream yang cenderung bermain “aman”, sineas independen secara sadar berani mengambil

(55)

dikatakan adalah semua film di luar film-film mainstream di wilayah bersangkutan. Definisi independen bisa berbeda-beda di tiap wilayah atau negara. Di Indonesia, film independen didefinisikan sebagai film-film produksi domestik yang tidak beredar di jaringan bioskop utama.10

2.2.4.4. Tata Bahasa Film

Dalam proses pembuatannya, film dan juga televisi menggunakan beberapa teknik yang diterapkan berdasarkan suatu konvensi tertentu. Terdapat beberapa konvensi umum yang digunakan dalam film dan seringkali dirujuk sebagai grammar atau tata bahasa media audio visual. Daniel Chandler dalam makalahnya The Grammar of Television and Film11, menyebutkan beberapa elemen

penting yang membangun tata bahasa tersebut yang pada gilirannya menjadi bahan pertimbangan bagi seseorang yang ingin menemukan makna dalam suatu film.

Menurut Chandler dalam jurnal yang diunduh secara online, walaupun konvensi ini bukanlah suatu aturan baku, telaah terhadapnya tetap harus dilakukan karena hanya dengan begitulah seseorang akan mampu mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh para pembuat film. Konvensi tersebut meliputi teknik kamera dan teknik editing.

10

Kilas-Balik Perkembangan Film Independen melalui http://montase.blogspot.com/2008/12/kilas-balik-perkembangan-film.html akses tanggal 22 Maret 2012

11

(56)

39

Beberapa teknik kamera dapat dilihat dari jarak pengambilan gambar

(shot sizes), sudut pengambilan gambar (shot angles) dan gerakan kamera (camera movement). Konvensi-konvensi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jarak dan Sudut Pengambilan Gambar (Shot and Shot Angles)

a. Long Shot (LS). Shot yang menunjukkan semua atau sebagian besar subjek (misalnya saja, seorang tokoh) dan keadaan di sekitar objek tersebut. Long Shot masih dapat dibagi menjadi

Extreem Long Shot (ELS) yang menempatkan kamera pada titik terjauh di belakang subjek, dengan penekanan pada latar belakang subjek, serta Medium Long Shot (MLS) yang biasanya hanya menampilkan pada situasi di mana subjek berdiri, garis bawah dari frame memotong lutut dan kaki dari subjek. Beberapa film dengan tema-tema sosial biasanya menempatkan subjek dengan Long Shot, dengan pertimbangan bahwa situasi sosial (dan bukan subjek individual) yang menjadi fokus perhatian utama.

(57)

c. Medium Shot (MS). Pada shot semacam ini, subjek atau aktor dan setting yang mengitarinya menempati area yang sama pada frame. Pada kasus seorang aktor yang sedang berdiri,

frame bawah akan dimulai dari pinggang sang aktor, dan masih ada ruang untuk menunjukkan gerakan tangan.

Medium Close Shot (MCS) merupakan variasi dari Medium Shot, di mana setting masih dapat dilihat, dan frame bagian bawah dimulai dari dada sang aktor. Medium Shot biasa digunakan untuk merepresentasikan secara padat kehadiran dua orang aktor (the two shot) atau tiga orang sekaligus (the three shot) dalam sebuah frame.

d. Close Up (CU). Sebuah frame yang menunjukkan sebuah bagian kecil dari adegan, misalnya wajah seorang karakter, dengan sangat mendetail sehingga memenuhi layar. Sebuah

Close Up Shot akan menarik subjek dari konteks. Close Up

masih dapat dibagi menjadi dua variasi, yaitu Medium Close Up (MCU) yang menampilkan kepala dan bahu, serta Big Close Up (BCU), yang menampilkan dahi hingga dagu. Shot-shot Close Up akan memfokuskan perhatian pada perasaan atau reaksi seseorang dan biasanya digunakan dalam

(58)

41

Gambar 2.1. Jarak Pengambilan Gambar12

e. Angle of shot. Arah dan ketinggian dari sebelah mana sebuah kamera akan mengambil gambar sebuah adegan. Konvensi menyebutkan bahwa dalam pengambilan gambar biasa, subjek harus diambil dari sudut pandang eye-level. Angle

yang tinggi akan membuat kamera melihat seorang karakter dari atas, dan dengan sendirinya membuat penonton merasa lebih kuat ketimbang sang karakter—atau justru menimbulkan efek ketergantungan pada sang karakter. Angle

yang rendah akan menempatkan kamera di bawah sang karakter, dengan sendirinya melebih-lebihkan keberadaan atau kepentingan sang karakter.

f. View Point. Jarak pengamatan dan sudut dari apa yang dilihat kamera dan rekaman gambar. Tidak untuk membingungkan pengambilan point of view atau pengambilan kamera secara subjektif.

12

Jurnal Daniel Chandler. The Grammar of Television and Film melalui

(59)

g. Point of View Shot (POV). Yakni memperlihatkan shot dalam posisi objek diagonal dengan kamera. ada dua jenis POV, yakni kamera sebagai subjek yang menjadi lawan objek. sebagai subjek maka kamera membidik langsung ke objek seolah objek dan subjek bertemu secara langsung, padahal tidak. dalam teknik ini komposisi dan ukuran gambar harus diperhatikan.

h. Two Shot. Pengambilan gambar dua orang secara bersamaan. i. Selective Focus. Pemilihan bagian dari kejadian untuk

diambil dengan fokus yang tajam, menggunakan depth of field yang rendah pada kamera.

j. Soft Focus. Sebuah efek dimana ketajaman sebuah gambar atau bagian darinya, dikurangi dengan menggunakan sebuah alat optik.

k. Wide-angle shot. Pengambilan gambar secara luas yang diambil dengan menggunakan lensa dengan sudut yang lebar. l. Tilted Shot. Sebuah slot dimana kamera diletakkan pada

(60)

43

Gambar 2.2. Sudut Pengambilan Gambar13

2. Pergerakan Kamera

a. Zoom. Dalam proses zooming, kamera sama sekali tidak bergerak. Proses mengharuskan lensa difokuskan dari sebuah

Long Shot menjadi Close Up sementara gambar masih dipertunjukkan. Subjek diperbesar, dan perhatian dikonsentrasikan pada detail yang sebelumnya tidak nampak. Hal tersebutbiasa digunakan untuk memberikan kejutan pada penonton. Zoom menunjukkan beberapa aspek tambahan dalam suatu adegan (misalnya saja dimana sang karakter sedang berada, atau dengan siapa ia sedang berbicara) sementara shot itu melebar.

b. Following Pan. Kamera bergerak mengikuti subjek, yang akan menimbulkan efek kedekatan antara penonton dengan subjek tersebut.

13

Jurnal Daniel Chandler. The Grammar of Television and Film melalui

(61)

c. Tilt. Pergerakan kamera secara vertikal –ke atas atau ke bawah –sementara kamera tetap pada posisinya.

d. Crab. Kamera bergerak ke kiri atau ke kanan seperti gerakan kepiting yang berjalan. Gerakan ini menempatkan subjek pada sebelah pojok kiri atau kanan frame. Gerakan ini ingin menggambarkan situasi di sekitar subjek. Apabila sebelah kanan subjek hendak ditonjolkan, maka crabbing ke arah kiri subjek dilakukan untuk memberikan space yang cukup luas di sebelah kanan subjek.

e. Tracking (dollying). Tracking mengharuskan kamera untuk bergerak secara mulus, menjauhi atau mendekati subjek, dan biasa dibagi menjadi; tracking in yang akan membawa penonton semakin dekat dengan sang subjek, dan tracking back yang akan membawa perhatian penonton pada sisi kiri dan kanan frame. Kecepatan tracking juga dapat menentukan efek perasaan dalam diri penonton. Rapid Tracking akan menimbulkan efek ketegangan, sedangkan tracking back

(62)

45

Gambar 2.3. Teknik Pergerakan Kamera14

3. Teknik-teknik Penyuntingan

a. Cut. Perubahan tiba-tiba dalam shot, dari satu sudut pandang ke lokasi yang lain. Di televisi, cut terjadi di setiap 7 atau 8 detik. Cutting berfungsi untuk:

Mengubah adegan

Meminimalisir waktu

Memberi variasi pada sudut pandang

Membangun imej atau ide.

Perpindahan yang lebih halus juga dapat dilakukan, di antaranya dengan menggunakan teknik cutting seperti fade,

dissolve, dan wipe.

14

(63)

b. Jump cut. Perpindahan mendadak dari satu adegan ke adegan lain, yang biasanya digunakan secara sengaja untuk mempertegas sebuah poin dramatis.

c. Motivated cut. Cut yang dibuat tepat pada suatu titik di mana apa yang baru saja terjadi membuat penonton ingin melihat sesuatu yang pada saat itu tidak Nampak (menimbulkan efek seperti, misalnya saja, penerimaan konsep pemadatan waktu). d. Cutting rate. Pemotongan yang dilakukan dalam frekuensi tinggi, untuk menimbulkan efek terkejut atau penekanan pada suatu hal.

e. Cutting rhythm. Ritme pemotongan bisa secara kontinu dikurangi untuk meningkatkan ketegangan.

f. Cross-cut. Sebuah pemotongan dari satu kejadian menuju kejadian yang lain.

g. Cutaway Shot (CA). Sebuah shot yang menjembatani dua

shot terhadap subjek yang sama. Cutaway shot

merepresentasikan aktivitas sekunder yang terjadi pada saat yang bersamaan dengan kejadian utama.

Figur

Gambar 2.1. Jarak Pengambilan Gambar12
Gambar 2 1 Jarak Pengambilan Gambar12 . View in document p.58
Gambar 2.2. Sudut Pengambilan Gambar13
Gambar 2 2 Sudut Pengambilan Gambar13 . View in document p.60
Gambar 2.3. Teknik Pergerakan Kamera14
Gambar 2 3 Teknik Pergerakan Kamera14 . View in document p.62
Gambar, foto dan
Gambar foto dan . View in document p.70
Tabel 2.2. Isyarat Perilaku Hangat dan Dingin
Tabel 2 2 Isyarat Perilaku Hangat dan Dingin . View in document p.75
Tabel 2.3. Zona Jarak Sosial
Tabel 2 3 Zona Jarak Sosial . View in document p.78
Tabel 2.4. Arti Warna dan Suasana Hati
Tabel 2 4 Arti Warna dan Suasana Hati . View in document p.79
Tabel 2.5. Proses Representasi Fiske
Tabel 2 5 Proses Representasi Fiske . View in document p.81
Tabel 2.6. Peta Tanda Roland Barthes
Tabel 2 6 Peta Tanda Roland Barthes . View in document p.99
Gambar 2.4. Signifikasi Dua Tahap Barthes
Gambar 2 4 Signifikasi Dua Tahap Barthes . View in document p.102
Tabel 2.7. Perbandingan antara Konotasi dan Denotasi
Tabel 2 7 Perbandingan antara Konotasi dan Denotasi . View in document p.105
Gambar 2.5. Model Kerangka Pemikiran
Gambar 2 5 Model Kerangka Pemikiran . View in document p.106

Referensi

Memperbarui...