Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan islam

113 

Teks penuh

(1)

฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER

DALAM PEND฀D฀KAN ฀SLAM

฀iajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

JURUSAN PEND฀D฀KAN

FAKULTAS ฀LMU TARB฀YAH DAN KEGURUAN UN฀VERS฀TAS ฀SLAM NEGER฀ SYAR฀F H฀DAYATULLAH

฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER

DALAM PEND฀D฀KAN ฀SLAM

Skripsi

฀iajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:

M. Nur Hidayat

NIM: 106011000127

JURUSAN PEND฀D฀KAN AGAMA ฀SLAM FAKULTAS ฀LMU TARB฀YAH DAN KEGURUAN UN฀VERS฀TAS ฀SLAM NEGER฀ SYAR฀F H฀DAYATULLAH

JAKARTA 2011 M/1432 H

฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER

฀iajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER

DALAM PEND฀D฀KAN ฀SLAM

Skripsi

฀iajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh: M. Nurhidayat NIM: 106011000127

฀ibawah Bimbingan:

Dr. Sururin, M.Ag NIP: 19710319 198803 2 001

JURUSAN PEN฀I฀IKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH ฀AN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HI฀AYATULLAH

JAKARTA 1432 H/2011 M

(3)

LEMBAR PENGESAHAN UJ฀AN MUNAQOSYAH

Skripsi berjudul “฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER DALAM PEND฀D฀KAN ฀SLAM” diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada tanggal… dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pd.I) dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

Jakarta, 22 Juni 2011 Panitia Ujian Munaqasyah Tanggal Tanda Tangan Ketua Panitia (Ketua Jurusan PAI)

Bahrissalim, M.Ag ……….. ………....

NIP: 19680307 199803 1 002 Sekretaris Jurusan PAI

Drs.Sapiuddin Shidiq, MA ……….. ………....

NIP: 19670328 200003 1 001 Penguji I

Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag ……….. ………....

NIP: 19710709 199803 1 001 Penguji II

Drs.Sapiuddin Shidiq, MA ……….. ………....

NIP: 19670328 200003 1 001

Mengetahui

฀ekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof.Dr. Dede Rosyada, MA

NIP: 19571005 198703 1 003

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

฀engan ini saya menyatakan bahwa:

1.฀ Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata I di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2.฀ Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.฀ Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 09 Juni 2011

M. Nurhidayat

(5)

ABSTRACT M. Nurhidayat

฀mplementasi Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan ฀slam

Penelitian ini mencoba menggali berbagai informasi mengenai pengembangan nilai-nilai utama kepribadian Rasulullah yang menjadi pilar kokoh pengembangan pendidikan karakter masyarakat muslim pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya dengan misi utamanya penyempurnaan akhlak manusia. Pendidikan Islam pada masa terdahulu menjadi wahana bagi penyemaian dan pemupukan nilai-nilai karakter manusia Pendidikan Islam di Indonesia (Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam) yang saat ini menjadi sub sistem pendidikan nasional memiliki peranan yang besar dalam pembangunan kualitas manusia Indonesia dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

Sesuai dengan objek kajian skripsi ini, maka metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah pendekatan ฀iloso฀is educati฀ dengan metode penelitian deskriptif. Sedangkan jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (library research).

Implementasi pendidikan karakter yang menjadi kajian penelitian ini adalah konsepsi pengembangan nilai-nilai kepribadian Rasulullah dalam kegiatan pendidikan. Kemudian melakukan explorasi dan pengembangan terhadap nilai-nilai utama pribadi Rasulullah yang menjadi pilar utama pembentukan karakter manusia menuju konsep fitrah yang ditetapkan oleh Allah.

฀ari hasil penelitian ditemukan sebuah konsepsi baru pengembangan pendidikan karakter perspektif Islam, dengan melihat fase pertumbuhan dan perkembangan individu secara didaktis dan nilai-nilai karakter yang dikembangkan pada fase-fase perkembangan individu tersebut.

Karakteristik nilai-nilai karakter yang dikembangakan tidak lepas dari empat pilar utama kepribadian Rasulullah, yaitu: shiddiq, amanah, tabligh dan ฀athonah yan kemudian terelaborasi menjadi beberapa nilai yang memupuk pembentukan karakter tersebut.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan dan rujukan khususnya pada para praktisi pendidikan Islam untuk dapat kembali memahami nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan dalam sistem pendidikan Islam, yang begitu komprehenship dan sempurna dalam mewujudkan pribadi atau insan yang berkarakter.

Ciputat, 30 Mei 2011

(6)

ABSTRACT M. Nurhidayat

฀mplementation Education of Character in Education of ฀slam

This Research try to dig various information concerning development of especial values personality of Rasulullah becoming sturdy pillar development of education of moslem society character especially and world society in general with mission the core important completion of human being behavior. Education of Islam at a period of to former become means to planting and fertilization of human being character values Education of Islam in Indonesia ( Islamic Boarding School, Madrasah and Islamic University) what in this time become sub system education of national have big role in development of Indonesia human being quality in reaching the target of education of national.

As according to study object of this skripsi, hence research method which used in writing of this skripsi is philosophic approach of educative with descriptive research method. While research type which writer use is research of bibliography (research library).

Implementation education of character becoming this research study is conception development of values personality of Rasulullah in activity of education. Later, development and exploration to especial values person of Rasulullah becoming especial pillar of forming of human being character go to concept of ฀itrah specified by Allah.

From result of research found by a new conception development of education of in perspective character in Islam, seen growth phase and growth of individual didacticly and developed character values at phases growth of individual .

Values character characteristic which is improve to not get out of four especial pillar personality of Rasulullah, that is: shiddiq, trust, and tabligh of fathonah yan later;then terelaborasi become some value which fertilizing forming of character.

This research is expected become comparison materials and reference specially for all practitioner education of Islam to be able to again comprehend values education of character which.

Ciputat, June 9 2011

(7)

KATA PENGANTAR

฀δ˰˰˰˰˰˰˰˰˰˰˰˰Α

Ϳ΍

ϦϤΣήϟ΍

฀ϴ˰˰˰˰˰˰˰˰˰˰Σήϟ΍

฀lhamdulillahirabbil ‘alamin, kata yang mampu aku ucapkan untuk syukurku yang panjang pada sang penguasa alam raya ini, dan atas berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis mampu menyelesaikan karya yang berjudul ”฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER DALAM PEND฀D฀KAN ฀SLAM” .

Shalawat teriringkan salam kepada sang Suri Tauladan Muhammad s.a.w. dan para sahabat yang senantiasa setia menemani perjalan dakwahnya. Beliau sosok yang menginspirasiku dan terus memacu diriku untuk senantiasa tegar dan kuat, sebagaimana perjuangan dan dakwah beliau.

Kusampaikan sembah sujudku kepada Ayahanda Muhamad Yamin dan Ibunda tercinta Nurhayati, yang dengan keluasan hatinya senantiasa mendo’akanku. Terima kasihku atas do’a dan sujud panjangmu untuk kesuksesanku.

Salam sayang dan kasihku untuk ketiga adikku tercinta: Nova Amalia, Muhammad Arif dan Muthmainnah, yang senantiasa menyapaku dengan kebahagian dan kecerian lewat senyum mereka.

Salam ta’zimku kepada Ibu ฀r. Sururin MA, yang telah mengikhlaskan waktunya membimbing penulis menyelesaikan karya ini. Terima kasihku atas sumbangsih saran dan pemikiranmu. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu amin.

Karya Skripsi ini merupakan hasil perjuangan panjang yang penulis tempuh selama mengenyam pendidikan di Kampus Hijau tercinta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyelesaian ini tidak lepas dari motivasi dan dukungan orang-orang yang berhati budiman, dengan segala hormat penulis sampaikan terima kasih kepada:

(8)

1.฀ Prof. ฀r ฀ede Rosyada, ฀ekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.

2.฀ Bahrissalim, MA, Ketua Jurusan Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.฀ ฀rs. Sapiuddin Shidiq, MA, Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4.฀ ฀r. Sururin, MA, Pembimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 5.฀ ฀r.Khadijah, MA, Junaidatul Munawarah, MA, ฀r. Khalimi, MA dan

Nurdaida, M.Si, dosen terbaikku, terima kasihku atas sumbangan pemikiranmu.

6.฀ Bang Burhan, M.Pd, terima kasihku untukmu atas bantual moral dan moril kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

7.฀ Teman-teman terbaikku: Junaidi el-Jundi, Panji Aziz, Uchal ฀arwis, Nuhri, Negara Abdi, Nasrullah, adinda Niken Purwaningsih, ฀ewi Sartika, Nur Laila yang selalu memberiku inspirasi dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

8.฀ Untuk rekan-rekan seperjuangan, Jurusan PAI angkatan 2006 khususnya kelas ฀ terima kasihku untuk persaudaraan yang mewarnai perjalanan akademisku.

9.฀ Abang-abangku Nur Effendy Rosyad, SH, Imam Fachruddin, SH, di Reclaserring Indonesia Provinsi Banten

10.฀ Keluarga besar Persatuan Mahasiswa Lampung (PERMALA) kota Tangerang Selatan.

Karya Skripsi ini bukanlah akhir dari kesempurnaan pemikiran penulis, masih banyak kekurangan dan kesalahan yang penulis lakukan dalam penyusunan karya ini. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun senantiasa diharapakan guna penyempurnaan di masa mendatang.

Jakarta, 09 Juni 2011 Penyusun

(9)

฀ersembahanku untukmu…

฀bunda tersayang Nurhayati

Ayahanda tercinta Muhammad Yamin

Adik-adikku; Nova Amalia, Muhammad Arif dan

Muthmainnah

(10)

DAFTAR ฀S฀

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ...… i

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ……… ii

LEMBAR PERNYATAAN………...… iii

ABSTRAK ………...… iv

ABSTRACT ………...… v

KATA PENGANTAR ………...… vi

฀AFTAR ISI ………...… ix

฀AFTAR TABEL ฀AN ฀IAGRAM ……….… xi

฀AFTAR LAMPIRAN ……….. xii

BAB ฀ PENDAHULUAN A.฀Latar Belakang Masalah ………... 1

B.฀Pembatasan ฀an Perumusan Masalah ………... 3

C.฀Metode Penelitian ……….. 6

฀.฀Tujuan dan Kegunaan Penelitian ……….. 9

E.฀ Manfaat Penelitian ………..……... 9

BAB ฀฀ PEND฀D฀KAN ฀SLAM A.฀Pengertian Pendidikan Islam ……… 11

B.฀฀asar-฀asar Pendidikan Islam ………. 17

C.฀Tujuan Pendidikan Islam ………. 24

฀.฀Ruang Lingkup Pendidikan Islam ………. 32

E.฀ Pelaksanaan Pendidikan Islam ….………. 33

(11)

BAB ฀฀฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER

A.฀Pengertian Pendidikan Karakter ……… 42

B.฀฀asar Pengembangan Pendidikan Karakter ………… 55

C.฀Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter ……… 61

฀.฀Ruang Lingkup Pendidikan Karakter ……… 70

BAB ฀V ฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER DALAM PEND฀D฀KAN ฀SLAM A.฀Pendidikan Islam membentuk Manusia Berkarakter … 78 B.฀Pendidikan Karakter dan Pembentukan Manusia Beradab ……… 82

C.฀Pribadi yang Ideal dalam Konsep Pendidikan Islam …. 90 ฀.฀Analisis Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Islam ……… 92

BAB V PENUTUP A.฀Kesimpulan ……… 94

B.฀Saran-Saran ……… 95

DAFTAR PUSTAKA ……… 97

LAMP฀RAN-LAMP฀RAN ……… 103

(12)

DAFTAR TABEL DAN D฀AGRAM

1.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan Biologis Menurut Aristoteles ……… 65 2.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan Biologis Menurut

Kretschmer ……… 65 3.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan Biologis

Menurut Sigmund Freud .………. 66 4.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan Biologis Menurut

Montessori ……… 67 5.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan Biologis Menurut

CH Buhler ……… 68 6.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan ฀idaktis Menurut

Comenius ………. 69 7.฀ Periodisasi Perkembangan Individu Berdasarkan ฀idaktis Menurut

J.J. Rousseau ………... 70 8.฀ ฀iagram Pola Pengembangan Pendidikan Karakter ……… 75 9.฀ Konsep Fitrah dan Komponen-Komponennya ……… 87

(13)

DAFTAR LAMP฀RAN

10.฀ Surat Pengajuan Proposal Skripsi

11.฀Surat Pengajuan ฀osen Pembimbing Skripsi 12.฀Biodata Penulis

(14)

BAB ฀ PENDAHULUAN

A.฀Latar Belakang Masalah

Agama memiliki peran yang amat penting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran Agama bagi kehidupan manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pendidikan agama dimaksudkan guna meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Adapun akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai bentuk perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai keagamaan, serta internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

฀i tengah perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat maka pendidikan memiliki peranan yang sangat luas dalam mendukung suksesi kehidupan umat manusia di dunia ini. ฀i tengah kuatnya

(15)

arus modernisasi dan pembaharuan, dan telah terkikisnya bagian-bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat, pendidikan menjadi benteng terakhir dalam perwujudan masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai moral dan integritas yang tinggi. ฀an di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang mayoritas penduduknya muslim, pengembangan orientasi pendidikan hendaknya lebih mengedepankan nilai-nilai Islam.

Pendidikan karakter menjadi sebuah pilar penting bagi pembangunan suatu generasi, karena sebagian dari praksis pendidikan di Indonesia telah kehilangan moral pendidikan. Teramati perilaku ketidakjujuran dalam pendidikan, seperti kasus ujian nasional, ijazah palsu, perjokian, lemahnya internalisasi nilai-nilai pendidikan, dan fragmentasi ranah-ranah pendidikan menjadi lebih berorientasi dan didominasi ranah kognitif. Teramati pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang menunjukkan perilaku korup yang tinggi. Pergeseran nilai dasar kepada nilai instrumental pragmatic dan reduksi nilai-nilai demokrasi oleh kepentingan individu dan kelompok.1

Keprihatinan akan kondisi bangsa ini yang tengah dilanda krisis multidimensional dalam seluruh aspek kehidupan masyarakatnya, utamanya adalah krisis moral-membuat peranan pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah patut dipertanyakan. ฀engan melihat realita yang ada, seperti: mengguritanya kasus korupsi, runyamnya supremasi hukum, perilaku anarkisme di kalangan pelajar dan mahasiswa, merebaknya kejahatan dan perilaku yang menyimpang dari norma-norma agama dan masyarakat.

Pendidikan pada fungsi dan tujuannya mampu membentuk pribadi manusia seutuhnya, sebagaimana dimaksud dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang memberikan penjelasan dan penggambaran tujuan pendidikan:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(16)

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab.2

Implementasi pendidikan karakter mestinya harus menjadi tujuan utama dalam bangunan sistem pendidikan nasional, sebagaimana yang diamanatkan dan dicita-citakan Undang-Undang. Pendidikan karakter bukanlah suatu hal yang tabu untuk kembali dirumuskan. Pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan dalam pengembangan karakter dan moral anak bangsa.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari Sekolah ฀asar hingga Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, maka akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa.3

Berangkat dari pemikiran di atas, penulis mencoba untuk menganalisis kembali pengembangan pembinaan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Islam di Indonesia dalam sebuah karya ilmiah dengan judul:

“฀MPLEMENTAS฀ PEND฀D฀KAN KARAKTER DALAM

PEND฀D฀KAN ฀SLAM”.

B.฀ Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.฀ Pembatasan Masalah

Sesuai dengan apa yang menjadi uraian penulis di atas, permasalahan ini dibatasi dalam hal:

a.฀ Konsep Pendidikan Karakter dalam Islam

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

2Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Fokus Media, 2010), h. 6.

(17)

Yang dimaksud dengan “pendidikan” adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat.4

Adapun “karakter” merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan yang menjadi nilai intrinstik dalam diri yang akan melandasi sikap dan perilaku. Tentu karakter tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk, dibangun dan ditumbuhkembangkan.5

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mendorong kepada internalisasi nilai-nilai positif kehidupan dalam budaya sekolah, keluarga dan masyarakat pada kegiatan pendidikan. Adalah Pendidikan Islam yang merupakan mendidikkan Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya agar menjadi way o฀ li฀e (pandangan dan sikap hidup) seseorang.6

b.฀ Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam pengembangan pendidikan karakter.

Adapun nilai-nilai pendidikan Islam yang dikembangkan dalam pendidikan karakter antara lain:

1)฀ Empat Karakter utama Rasulullah s.a.w. yaitu:

1.฀ Shiddiq/Honesty (kejujuran) memupuk nilai pembentukan karakter untuk tidak berbohong atau tidak berdusta kepada diri sendiri dan orang lain

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

4Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, h. 2.

5Kementerian Agama RI, Ta฀sir Al-Qurán Tematik; Pendidikan, Pengembangan Karakter dan Pengembangan Sumber Daya Manusia,(Jakarta: Lajnah Pentashih Al-Qurán Balitbang ฀iklat, 2010), h. 43.฀

(18)

2.฀ Amanah/Trustable (bertanggungjawab) memupuk nilai pembentukan karakter keadilan dan kepemimpinan yang baik, integritas, disiplin dan tanggungjawab yang tinggi terhadap kepercayaan yang diberikan

3.฀ Tabligh/Reliable (menyampaikan) memupuk nilai-nilai pembentukan karakter percaya diri, bijaksana, toleransi, cinta damai dan saling menghargai pendapat orang lain

4.฀ Fathonah/Smart (cerdas) memupuk nilai-nilai pembentukan karakter keberanian, mandiri, kreatif, arif, rendah hati

2)฀ Sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan dalam pembentukan karakter Indonesia Heritage Foundation, yaitu: 1) cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, 2) tanggungjawab, disiplin dan mandiri, 3) jujur, 4) hormat dan santun, 5) kasih sayang, peduli, kerjasama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, 8) baik dan rendah hati, 9) toleransi, cinta damai dan persatuan.

2.฀ Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang penulis kaji dalam penelitian ini antara lain:

a.฀ Bagaimana prinsip-prinsip pendidikan karakter yang melekat dalam pendidikan Islam?

b.฀ Bagaimana pengembangan pendidikan karakter yang lebih baik dalam pendidikan Islam?

c.฀ Bagaimana implementasi pembinaan pendidikan karakter dalam pendidikan Islam?

(19)

“Bagaimana karakteristik pendidikan karakter yang dikembangkan dalam sistem pendidikan Islam dan implementasinya dewasa ini”.

C.฀Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah pendekatan ฀iloso฀is educati฀ dengan metode penelitian deskriptif. Sedangkan jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan di perpustakaan dan mengambil setting perpustakaan sebagai tempat penelitian di mana objek penelitiannya adalah bahan-bahan perpustakaan.7 Library research penulis lakukan dengan menelaah naskah, dokumen, arsip, koran, majalah, internet, buku-buku yang berkaitan dengan topik yang dibahas, artinya mencari dan mengumpulkan bahan-bahan tentang pengembangan pendidikan karakter.

1.฀ Sumber ฀ata

Pertama, sumber data primer yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah: (1). Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003. (2). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.22 tahun 2010. (3). Kementerian Agama RI, Ta฀sir Al-Qurán Tematik; Pendidikan, Pengembangan Karakter, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Lajnah Pentashih Al-Qurán Balitbang dan ฀iklat, 2010). (4). ฀oni Koesuma A. Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2010). (5). Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2010). (6). Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Penerbit Erlangga, Jilid I dan II) . (7). Barbara A. Lewis, Character Building untuk Remaja, (Jakarta: Kharisma Publishing, 2004).

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(20)

Kedua, sumber data sekunder yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Essay dan artikel ilmiah yang memuat tentang pengembangan pendidikan karakter, antara lain:

a.฀ Prof. ฀r. M. Budyatna dan Tim, Kajian Pendidikan Karakter dan Pekerti Bangsa Bidang Media, sebuah Laporan Ringkas ฀eputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan kementerian Budaya dan Pariwisata RI, 2004.

b.฀ ฀ewi Utama Faizah, Model Pembelajaran Pendidikan Karakter Terpadu Berbasis Konsep Multikultural pada Sekolah Dasar, merupakan Sinopsis ฀isertasi Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta, 2006.

c.฀ Kumpulan Materi Workshop Pembinaan dan Pengembangan Karakter Bangsa bagi KKG, MGMP, POJAWAS PAI. ฀irektorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah ฀irjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, November 2010. d.฀ Perspekti฀ Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa pada Era

Millenium Kesehatan, Prosiding Simposium Nasional Islam dan Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010.

2.฀ Penelitian Sebelumnya

Adapun penelitian sebelumnya yaitu:

(21)

฀ewantara adalah metode yang memberikan kebebasan pada anak didik untuk dapat berkembang sejalan dengan kodratnya. b.฀ R. Marpu Muhidin Ilyas, Teologi Pembentukan Karakter dan

Penerapannya Dalam Pendidikan, merupakan Tesis S2 Pendidikan Islam, Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009. ฀alam kesimpulan penelitiannya, R. Marpu Muhidin Ilyas menegaskan bahwa keimanan kepada nama-nama dan sifat Tuhan baik pendekatan teologis maupun spiritual merupakan factor esensial dalam pembentukan karakter. Landasan teologis dan spiritual pembentukan karakter yang dikaji dari doktrin nama-nama Allah dapat dipadukan sinergis dengan konsep pendidikan karakter yang dirumuskan oleh banyak sarjana Barat.

Adapun pada pembahasannya penulis menggunakan metode analisis isi (Content Analysis Methode), Content Analysis merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan komunikasi. Metode ini memandang data bukan sebagai kumpulan peristiwa, sebagaimana lazimnya dianut oleh metode penelitian yang berparadigma interpretif, seperti Discourse Analysis (analisis wacana), yang melihat gejala atau peristiwa sebagai satu kesatuan yang majemuk dan kompleks.8 Adapun analisis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan kerangka berpikir induktif analisis. Analisis wacana akan penulis gunakan untuk menelaah konsep pendidikan karakter dalam bangunan sistem pendidikan Islam.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

8Mudjia Rahardjo, “Contens Analisis sebagai metode tafsir teks: sejarah dan penggunaannya”, artikel diakses pada tanggal 29 Maret 2011 dari http://mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/286-content-analysis-sebagai-metode-tafsir-teks-akar-sejarah-dan-penggunaannya-.html.

(22)

Sedangkan untuk penulisan sepenuhnya berpedoman pada “Buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007”.

D.฀Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini bertujuan guna mendapatkan kejelasan tentang Impementasi pendidikan karakter dalam pendidikan Islam. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan antara lain:

1.฀ Untuk mengetahui prinsip-prinsip pengembangan pendidikan karakter 2.฀ Mengetahui perkembangan pendidikan karakter dalam pendidikan

Islam di tengah pengaruh pendidikan modern

3.฀ Mengetahui implementasi pendidikan karakter yang dikembangkan dalam sistem pendidikan Islam.

E.฀Manfaat Penelitian

Penulis berharap bahwa penelitian ini akan sangat bermanfaat dan membantu informasi seputar perkembangan pendidikan karakter. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam menambah informasi dan khazanah keilmuan pendidikan dalam bidang pengembangan karakter.

Manfaat lainnya dari pengkajian penelitian ini adalah dapat memberikan penjelasan yang utuh tentang pendidikan karakter dalam perspektif Islam dan pengembangannya di lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bertumpu pada pembangunan karakter dan integrasi moral dan ilmu.

Bagi umat Islam, penelitian ini akan menyadarkan mereka bahwa kehancuran moral pada anak disebabkan karena tidak adanya pemupukan nilai-nilai kebaikan dan pendidikan karakter dari orang tua, yang melihat proses pendidikan hanya dari sudut pandang kognitif saja.

(23)

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(24)

BAB ฀฀

KAJ฀AN TEOR฀T฀S PEND฀D฀KAN ฀SLAM

A.฀Pengertian Pendidikan ฀slam

Istilah pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie. Paedagogie berasal dari kata pais yang artinya “anak” dan again yang berarti “membimbing”. ฀engan demikian, maka paedagogie berarti “bimbingan yang diberikan kepada anak”. Orang yang memberikan bimbingan kepada anak tersebut disebut paedagog. ฀alam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie tersebut berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi orang dewasa. ฀alam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang lain agar dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.1

1Adapun arti pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni

“Proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.2

Zakiah ฀aradjat mengemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam menyampaikan pelajaran,

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(25)

memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi, dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pembentukan kepribadian anak didik atau proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetiknya di akhirat.3

Menurut HM. Alisuf Sabri, Pendidikan adalah usaha sadar orang dewasa atau pendidik untuk membantu membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak ke arah kedewasaan.4 Pada perjalanannya pendidikan merupakan sebuah proses yang berkesinambungan dan latihan yang panjang guna mencapai kedewasaan yang diharapkan.

Amir ฀aien Indrakusuma mengemukakan bahwa pendidikan adalah “suatu usaha sadar dan teratur serta sistematis yang dilakukakan oleh orang-orang yang diserahi tanggungjawab untuk mempengaruhi anak didik agar mempunyai sikap dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan”.5

Adapun istilah pendidikan Islam, setidaknya ada tiga kata yang berhubungan dengan istilah tersebut, yaitu tarbiyah, ta’lim dan al-ta’dib.6

1.฀ Al-Tarbiyah

Kata at-tarbiyah berasal dari kata rabba yarubbu (฀Ώήϳ฀–฀Ώέ ) yang berarti memimpin, memperbaiki, menambah, memlihara mengasuh dan mendidik.7

Secara etimologi kata al-Tarbiyah menurut Abdurrahman an-Nahlawi berasal dari tiga dasar kata. Pertama, kata rabba-yarbu yang artinya bertambah dan berkembang. Kedua, kata rabiya-yarbu yang berarti tumbuh dan berkembang. Ketiga, katarabba- yang berarti

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

3Zakiah ฀aradjat, et al, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), Cet.IV, h. 98.฀

4Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. I, h. 5. 5Amir ฀alen Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1997), h. 26.฀

(26)

memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara.8

Kata tarbiyah umumnya diartikan sebagai pendidikan, suatu tindakan sengaja untuk mendewasakan anak, memberi pengetahuan dan keterampilan agar manusia mampu hidup di zamannya. Pada konsep tarbiyah, pendidikan termasuk dalam bentuk fisik, spiritual, material dan intelektual.

Salah satu ayat al-Qur’an yang menggunakan term rabba (Ώέ฀) terdapat dalam surat al-Isra ayat 24, yang berbunyi:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra: 24).9

Sedangkan menurut Syed M. Naquib al-Attas, pengertian tarbiyah secara etimlogi sebanding dengan kata ghadza atau ghadzwu (–ϯά˰Ϗ ϭά˰ϐϳ) yang berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, membuat menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang, dan menjinakkan.10

฀engan demikian, dapat dikatakan bahwa tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia kearah yang lebih baik dan lebih sempurna.11 Namun kata tarbiyah juga memiliki arti yang luas dari sekedar proses mendidik

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

8Sanusi Uwes, Visi dan Pondasi Pendidikan Perspekti฀ Islam,(Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2003), h. 37.฀

9฀epartemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Intermasa, 1986), h. 428.฀

10Syed M. Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1997), Cet. VII, h. 66.฀

(27)

saja, tetapi meliputi proses yang lebih yaitu mengurusi dan mengatur manusia agar kehidupan bermasyarakatnya berjalan dengan baik. 2.฀ Al-Ta’lim

Kata al-Ta’lim berasal dari kata allama yuallimu ta’liman (฀-฀ϢϠϋ ϢϠόϳ

-฀

฀ΎϤϴϠόΗ ) yang berarti mengajar, memberitahu, mempelajari12. Kata ta’lim dalam pendidikan berarti kegiatan untuk mentransfer ilmu pengetahuan atau informasi melalui pembelajaran.

Menurut Abdul Fattah Jalal merupakan istilah yang paling tepat sebagai alih bahasa pedagogik. Ta’lim lebih luas jangkauannya dan lebih universal sifatnya dibandingkan dengan kata al-Tarbiyah.13

Adapun kecendrungannya kata ta’lim lebih kepada transfer ilmu pengetahuan dengan perubahan sikap yang dihasilkannya. Atau dengan kata lain penggambaran mengenai proses pembelajaran, baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abudin Nata, bahwa Kata al-Ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat non-formal, seperti majelis ta’lim yang saat ini berkembang dan variasi.14 3.฀ Al-Ta’dib

Kata al-Ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban (฀–฀ΏΩ΃ ฀ΏΩΆϳ

฀ΎΒϳΩ΄Η ) yang berarti mendidik atau memperbaiki.15yang berarti beradab dan sopan santun.16

Adapun kata Ta’dib dalam arti pendidikan, Syed M. Naquib al-Attas mengartikan al-Ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan secara berangsur-angsur yang ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan,

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

12A. W. Munawwir, Kamus Lengkap Al-Munawwir Arab-Indonesia…, h. 966. 13Sanusi Uwes, Visi dan Pondasi Pendidikan Perspekti฀ Islam…, h. 40.

(28)

sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. 17

Melalui kata al-Ta’dib al-Attas ingin menjadikan pendidikan sebagai sebuah sarana bagi transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber kepada ajaran Agama ke dalam diri manusia, serta menjadi proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Sementara Abdurrahman an-Nahlawi, berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan, membina dan mengenalkan syariat Islam untuk berakhlak.18

HM. Arifin menjelaskan bahwa hakekat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan ฀itrah (Kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam menuju arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan.19

Menurut Ahmad ฀. Marimba, Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.20

฀ari pengertian-pengertian di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam adalah suatu usaha atau kegiatan pendidikan yang diberikan oleh pendidik kepada orang yang dididik melalui bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam, melalu kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan untuk menyempurnakan dan mengarahkan kompetensi yang ada di dalam diri orang tersebut pada perkembangan dan pertumbuhannya ke arah titik maksimal demi terwujudnya pribadi yang baik,

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

17Abduin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. I, h.13.

18Abdurrahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, (Jakarta: PT. Gema Insani Press, 1995), Cet. II, h. 25.฀

(29)

dan berkarakter Islami serta menjadikan ajaran Islam sebagai pandangan hidup demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

฀alam konteks Indonesia, pendidikan Islam memiliki arti dan pemaknaan tersendiri terutama dalam kerangka Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Perkembangan pendidikan Islam dan peranannya dalam pembangunan karakter bangsa yang mayoritas muslim mendapatkan apresiasi yang tinggi.

฀alam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, Bab I Pasal I ayat 16 disebutkan: “Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat”.21

Pendidikan Islam dalam kerangka Nasional adalah pendidikan yang menyelamatkan dan mengembagkan potensi fitrah manusia. Karena Islam meyakini bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan menurut fitrahnya, dan dalam fitrah tersebut, terdapat potensi-potensi baik dan buruk.

Pendidikan Islam di Indonesia memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan umat, bangsa dan Negara, baik kehidupan yang sifatnya individu maupun masyarakat dan kehidupan berbangsa. ฀an pendidikan Islam sebagai sub system pendidikan nasional memiliki kerangka definisi dan tujuan yang sejalan dengan pelaksanaan pendidikan nasional, yakni pendidikan Islam harus mampu mengembangkan jati dirinya agar dapat membantu membangun keberhasilan pendidikan nasional secara luas.

B.฀ Dasar-Dasar Pendidikan ฀slam

฀asar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu, fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(30)

landasan untuk berdirinya sesuatu.22 Pendidikan merupakan bagian dari yang terpenting dari kehidupan manusia yang secara kodrati adalah insan pedagogik. Maka acuan yang menjadi dasar bagi pendidikan adalah nilai tertinggi dari pandangan hidup suatu masyarakat di mana pendidikan tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu akan dibahas penulis adalah mengenai pendidikan Islam, maka yang menjadi pandangan hidup yang mendasari seluruh kegiatan pendidikan ini adalah pandangan hidup Islam.

Menurut H. Ramayulis, dasar pendidikan Islam dibagi menjadi dua kategori, yaitu (1) dasar pokok, dan (2) dasar operasional.23

1.฀ ฀asar Pokok Pendidikan Islam

฀asar ideal pendidikan agama Islam adalah identik dengan ajaran Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qurán dan al-Hadíth.

a.฀ Al-Qurán

Al-Qurán merupakan kalam Allah yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril yang diperuntukan bagi seluruh umat manusia yang juga merupakan petunjuk hidup yang lengkap, pedoman bagi manusia meliputi seluruh aspek mencakup ilmu pengetahuan yang tinggi sekaligus mulia, karena esensinya tidak dapat dimengerti, kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.

Ayat al-Qur’an yang pertama kali diwahyukan Allah kepada Muhamad adalah surat al-Alaq, yang berisikan perintah membaca dan berpikir tentang ciptaan Allah di muka bumi, adapun bunyi surat itu adalah:

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

22Samsul Nizar, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 95.฀

(31)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS. Al-‘Alaq: 1-5).24

Beberapa rujukan di atas memberikan kesimpulan yang jelas akan orientasi yang dimuat dan dikembangkan al-Qurán bagi kepentingan manusia dalam melaksanakan amanat yang diberikan oleh Allah s.w.t. oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan Islam sejatinya adalah implementasi dan pengamalan yang terkandug di dalam al-Qurán. Yang mencakup pengaturan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya dan antar sesama manusia yang lain.

Nabi Muhammad s.a.w menjadi pendidik pertama pada masa awal pertumbuhan Islam telah menjadikan al-Qurán sebagai dasar pendidikan Islam di samping sunnah beliau sendiri. Mengenai kedudukan al-Qurán sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat al-Qurán itu sendiri.

Firman Allah s.w.t.

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(32)

seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(QS. Ali Imran: 164)25

Sehubungan dengan masalah ini, Muhammad Fadhil al-Jamali menyatakan sebagai berikut:

“Pada hakikatnya Al-Quran itu merupakan perbendaharaan besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnya merupakan kitab pendidikan masyarakat, moril (akhlak) dan spiritual (kerohanian)”.26

Al-Qur’an menaruh perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan, pembangunan karakter dan pengembangan sumber daya manusia agar kehidupan di muka bumi ini senantiasa damai, sejahtera, bermartabat dan membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk, termasuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.27

b.฀ Al-Hadith

฀asar kedua setelah al-Qurán adalah Sunnah Rasulullah. Amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah s.a.w dalam proses perubahan hidup sehari-hari menjadi sumber utama pendidikan Islam karena Allah s.w.t menjadikan Muhammad menjadi teladan bagi umatnya. “Rasulullah s.a.w mengajarkan dan mempraktekkan amal baik kepada istri dan sahabatnya. ฀an seterusnya mereka praktekkan pula seperti yan dipraktekkan oleh Rasulullah s.a.w, kemudian mereka mengajarkan pula

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

25฀epartemen Agama RI, Al-Qurán dan terjemahannya…, h. 104. 26Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 123.

(33)

kepada orang lain. Perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah inilah yang disebut hadith atau sunnah”.28

Nabi Muhammad s.a.w selalu memberikan contoh dalam perjalanan kehidupannya melaksanakan dakwah Islam. Contoh yang diberikan beliau dapat dibagi menjadi tiga bagian. “Pertama, hadith Qauliyah yaitu yang berisikan ucapan, pernyataan, dan persetujuan. Kedua, hadith ฀i’liyah yaitu berisikan tindakan dan perbuatan yang dilakukan Nabi. Ketiga, hadith taqririyah yaitu yang merupakan ketetapan Nabi atas tindakan peristiwa yang terjadi”.

Secara umum bagian terbesar dari syariat Islam telah terkandung dalam al-Qurán namun muatan hukumnya yang terkandung belum mengatur berbagai dimensi aktivitas kehidupan umat secara terperinci dan analitis. Penjelasan syariah yang terkandung dalam al-Qurán masih bersifat umum dan global. Untuk itu diperlukan keberadaan hadith Nabi sebagai penjelas dan penguat hukum-hukum qurániyyah yang ada.

Nabi Muhammad s.a.w. pada 14 abad yang lalu telah memperhitungkan bahwa pendidikan akan menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, sebagai bagian usahanya menjalankan misi kerasulan, beliau menekankan pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Adalah Muhammad yang mendidik para sahabat dan pengikutnya menjadi pribadi-pribadi yang baik, tangguh dan perkasa. Meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Meski nabi Muhammad adalah seseorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang mengajarkan baca tulis, tetapi beliau mendapatkan pendidikan langsung dari Allah s.w.t.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(34)

kemampuan intelektualnya mengalahkan pemikiran para filosof Yunani, pemikiran Muhammad mampu menjawab pelbagai tantangan dan permasalahan manusia.

Proses pendidikan Islam yang ditunjukkan Nabi Muhammad s.a.w merupakan bentuk pelaksanaan yang bersifat fleksibel dan universal, sesuai dengan potensi yang dimiliki peserta didik, kebiasaan masyarakat, serta kondisi alam di mana proses pendidikan tersebut berlagnsung, dengan dibalut oleh pilar-pilar akidah Islamiyah.29

฀ari kesimpulan di atas dapat dilihat bagaimana posisi dan fungsi hadith Nabi sebagai sumber pendidikan Islam yang

“… apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya”.(QS. Al-Hasyr: 7).30

2.฀ ฀asar Operasional Pendidikan Islam

฀asar operasional merupakan dasar yang terbentuk sebagai aktualisasi dari dasar ideal. Menurut Hasan Langgulung, dasar operasional dapat dibagi menjadi enam macam:

a.฀ ฀asar historis, yaitu dasar yang memberikan persiapan pada pendidik dengan hasil-hasil pengalaman masa lalu, beberapa undang-undang dan peraturan-peraturannya maupun berupa tradisi dan ketetapannya.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(35)

b.฀ ฀asar sosiologis, yaitu dasar berupa kerangka budaya di mana pendidikannya bertolak dan bergerak seperti memindahkan budaya, memilih dan mengembangkannya.

c.฀ ฀asar ekonomis, yaitu dasar yang memberi perspekif tentang potensi-potensi manusia, keuangan, materi, persiapan yang mengatur sumber keuangan dan bertanggungjawab terhadap anggaran perbelanjaan.

d.฀ ฀asar politik dan administrasi, yaitu dasar yang memberi bingkai ideaologi (akidah) dasar yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat.

e.฀ ฀asar psikologis, yaitu dasar yang member informasi tentang watak peserta didik, pendidik, metode yang terbaik dalam praktek, pengeukuran dan penilaian bimbingan dan penyuluhan.

f.฀ ฀asar filosofis, yaitu dasar yang memberi kemampuan memilih yang terbaik member arah atau system yang mengontrol dan member arah ke semua dasar-dasar operasionalnya.

3.฀ ฀asar Pendidikan Islam di Indonesia

฀asar pendidikan Islam dalam perundang-undangan yang berlaku di Indonesia antara lain:

a.฀ Undang-undang ฀asar 1945 Pasal 3131

Ayat 1 (satu) berbunyi: “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”.

Ayat 3 (tiga) berbunyi: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(36)

Ayat 5 (lima) berbunyi: “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia“.

b.฀ Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Bab I Pasal 1 ayat 2 berbunyi: “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang ฀asar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”.32

Bab I ayat 1 pasal 16 berbunyi: “Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat”.33

Bab VI Pasal 30 ayat 1 berbunyi: “Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.34

Peraturan perundang-undangan yang menjadi payung hukum penyelenggaraan pendidikan Islam di Indonesia (Madrasah dan Pesantren) yaitu Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyediakan peluang yang cukup besar bagi perkembangan system pendidikan Islam di Indonesia, dan memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam suksesi pendidikan nasional.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

32Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional…, h. 2.

33Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional…, h. 4.

(37)

Secara legal dan formal, perangkat perundang-undangan tersebut sudah cukup untuk membangun dan membesarkan pendidikan Islam di Indonesia. Ajaran Islam, Pancasila dan nilai-nilai luhur sosial dan budaya bangsa memiliki kekuatan dalam pembangunan pendidikan dan pembentukan karakter bangsa lewat penanaman nilai-nilai tersebut dalam kegiatan pendidikan.

฀asar penyelenggaraan pendidikan Islam di Indonesia memiliki keleluasaan tempat dalam upaya mendorong tujuan utama penyelenggaraan pendidikan bagi masyarakat Indonesia, antara lain yaitu, pembentukan manusia yang memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, pembentukan akhlak mulia, cakap berilmu, kreatif, mandiri, dan berpartisipasi aktif dalam mewujudkan masyarakat yang demokatis dan bertanggungjawab.

Penerapan dan integrasi kurikulum pendidikan nasional dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren, Madrasah, dan Perguruan tinggi menjadi jawaban bahwa pendidikan Islam yang melembaga formal ikut berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang cakap ilmu dan kepribadiannya.

C.฀ Tujuan Pendidikan ฀slam

Suatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa. Bagaikan seseorang yang berjalan dan melangkah tanpa arah maka hasilnya pun tidak lebih dari pengalaman selama perjalanan.

Pendidikan merupakan “usaha yang dilakukan secara sadar dan jelas memilki tujuan. Sehingga diharapkan dalam penerapannya ia tak kehilangan arah. ฀alam perkembangannya teori-teori tentang tujuan pendidikan Islam menjadi perhatian yang cukup besar dari pakar pendidikan”.35

Sebelum lebih jauh menjelaskan tujuan pendidikan Islam terlebih dahulu akan dijelaskan makna dari “tujuan” tersebut. Menurut Zakiah ฀arajat

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(38)

“Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai”. Sedangkan menurut H.M Arifin “Tujuan itu dapat menunjukkan kepada futuritas (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu”. Meskipun banyak pendapat tentang penegrtian tujuan, akan tetapi pada umumnya pengertian itu berpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk maksud tertentu. Jadi pada intinya tujuan adalah suatu usaha yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan tersebut selesai.

Tujuan dalam proses pendidikan Islam adalah idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai Islami yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam secara bertahap.36 Untuk menjabarkan tujuan pendidikan agama Islam tidak dapat dilakukan tanpa melihat komponen-komponen sifat dasar (tabi’at) yang ada pada manusia.37 ฀engan mengetahui sifat dasar itu dan dapat dilihat kaitannya antara tujuan pendidikan Islam dengan usaha untuk membentuk pribadi muslim yang utama. Sifat dasar yang ada pada manusia adalah tubuh, ruh dan akal. Maka tujuan umum pendidikan Islam harus di bangun berdasarkan tiga komponen tersebut, yang masing-masing harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Tujuan ini terdiri atas tujua jasmaniyah (al-ahdá฀ al-Jismiyyáh), tujuan ruhani (al-ahdá฀ al-Ruhaniyah), dan tujuan akal (al-Ahdá฀ al-Aqliyyah).38

1.฀ Tujuan Jasmaniyah (al-Ahdá฀ al-Jasmaniyah)

Adalah tujuan yang menitikberatkan kekuatan jasmaniah, Orientasi tujuan pendidikan jasmaniyah dalam konteks ini dikaitkan dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi yang harus memiliki kemampuan jasmani yang tinggi, di samping kemampuan roahniah yang tinggi.39 yang dituntut untuk melakukan

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

36HM. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam; Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakata: Bumi Aksara, 2009) cet. IV, h. 53.

37Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 70. 38Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 71.

(39)

interaksi secara aktif dengan lingkungan di manapun ia berada. ฀engan jasmani yang sempurna, manusia akan lebih mudah melaksanakan tugasnya sebagai khalifah secara optimal.40

฀ari batasan di atas dapat ditarik dalam dataran pendidikan Islam, bahwa: “tujuan pendidikan Islam berupaya membentuk manusia muslim sehat dan kuat jasmaniah serta memiliki keterampilan yang tinggi. Oleh karena itu, maka pendidikan Islam harus mempolakan pendidikannya sehingga mampu menyentuh dimensi jasmaniyah peserta didiknya.

2.฀ Tujuan Ruhani (al-ahdá฀ al-Ruhaniyah)

Muhammad Qutb mengatakan bahwa: “tujuan pendidikan ruhiyah mengandung pengertian “ruh” yang merupakan mata rantai pokok yang menghubungkan antara manusia dengan Allah, dan pendidikan agama Islam harus bertujuan membimbing manusia sedemikian rupa sehingga ia selalu berada di dalam hubungan denganNya”.41

Tujuan ruhaniah berkaitan dengan kemampuan manusia untuk menerima agama Islam yang inti ajarannya adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan tunduk dan patuh kepada nilai-nilai moralitas yang diajarkan-Nya dengan mengikuti keteladanan Rasulullah Muhammad adalah menjadi tujuan rohaniah pendidikan Islam.42

3.฀ Tujuan Akal (al-Ahdá฀ al-Aqliyyah)

Selain tujuan jasmani dan ruhani, pendidikan agama Islam juga memperhatikan tujuan akal. “aspek tujuan ini bertumpu pada pengembangan intelegensia (kecerdasan) yang berada dalam otak, sehingga mampu memahami dan menganalisa fenomena-fenomena ciptaan Allah di jagat raya ini”.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

40Samsul Nizar, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam…, h. 111. 41Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 145.

(40)

Para ahli berbeda pendapat dalam memformulasikan tujuan pendidikan Islam. Al-Attas mengemukakan bahwa: “Pendidikan Islam tradisional selalu menjadikan keberhasilan individu dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting”.43

Abdurrahman Saleh Abdullah mengatakan dalam bukunya “Educational Teory a Out Look”, bahwa: “pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk pribadi sebagai khalifah Allah s.w.t. atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir”.44

Tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seorang muslim, tujuan akhir tersebut dirumuskan dalam satu istilah yang disebut “Insan Kamil”. Pendidikan Islam itu hanyalah sarana. Menurut Ramayulis dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam dijelaskan bahwa: “pada dasarnya tujuan akhir seorang muslim sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah s.w.t 45yaitu:

a.฀ Menjadi hamba Allah Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman Allah s.w.t:

supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Al-Djariyat: 56).46 b. Mengantarkan subjek didik menjadi khali฀ah ฀il ardh yang

mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya. ฀an lebih jauh lagi mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya sesuai dengan tujuan penciptaannya dan sebgai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup.

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

43Wan Mohd Nor Wan ฀aud, Filsa฀at dan Praktek Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Penerbit Mizan, 2003), Cet. I, h. 165.

44Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 19. 45Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 134-135.

(41)

c. Untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagian hidup di dunia maupun kebahagian di akhirat. Pendapat ini dikemukakan oleh Athiyah al Abrasyi, bahwa “tujuan pendidikan agama Islam adalah membentuk akhlakul karimah yang merupakan ฀adillah dalam jiwa anak didik, sehingga anak terbiasa dalam berprilaku dan berpikirnya secara ruhaniyah dan jasmaniyah serta berpegang pada moralitas yang tinggi”.47 ฀ari beberapa rumusan tujuan pendidikan Islam di atas, dapat disimpulkan bahwa pada intinya tujuan pendidikan Islam adalah berupaya untuk mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik seoptimal mungkin dan mampu menyentuh seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi perubahan sikap, tingkah laku, kebiasaan serta pandangan peserta didik sebagai pribadi yang utuh. (Insan Kamil).

Adapun tujuan pendidikan Islam di Indonesia tidak lepas dari tujuan utama pendidikan nasional, karena pendidikan Islam telah menjadi bagian dari sistem pendidikan Nasional yang perundangannya diatur dalam kerangka Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.48

฀ari rumusan Undang-Undang tersebut ada 4 (empat) tujuan pendidikan Islam di Indonesia yang penulis simpulkan, yaitu:

1.฀ Membentuk ketakwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

47Muhammam Athiyah al Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), Cet. I, h. 1.฀

(42)

฀i tengah masyarakat Indonesia yang plural dan homogen, nilai-nilai ketuhanan menjadi spririt dalam membangun semangat kebersamaan dan kerukunan antar agama dan antara umat beragama. Agama Islam yang dipeluk oleh mayoritas warga Negara Indonesia menjadi nilai yang menguatkan persatuan. Sebagaimana tujuan diturunkanyna agama Islam agar menjadi rahmatan lil’alamin, citra Islam sebagai agama yang “damai” sesuai namanya, dan agama yang mendatangkan kerahmatan semesta seuai dengan visi agama Islam,49 harus senantiasa terinternalisasikan dengan baik.

Keberadaan lembaga pendidikan Islam yang menanamkan tatanan nilai tersebut sangat diperlukan dalam mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seperti; Pesantren, Madrasah, dan Perguruan Tinggi Islam yang menanamkan nilai-nilai kebaikan tersebut.

Setiap agama senantiasa mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada pemeluknya, karena titah Tuhan senantiasa mengarah kepada kebaikan sebagaimana sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang harus menjadi semangat dalam menjalin hubungan antar social, baik dalam lingkungan pendidikan, keluarga dan masyarakat.

2.฀ Membentuk Kematangan Kepribadian

Tujuan pendidikan Islam dalam kerangka Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional harus mampu mewujudkan pembentukan kepribadian manusia Indonesia seutuhnya. Terutama pembentukan manusia Indonesia yang berakhlak mulia, yang mewarisi nilai-nilai kebaikan ajaran agama, tata

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(43)

norma yang berlaku dalam masyarakat, dan nilai luhur budaya bangsa Indonesia.

Pendidikan Islam (pesantren dan madrasah) mengutamakan penanaman budi pekerti dan akhlak mulia dalam semua komponen kurikulumnya. Penanaman nilai-nilai yang baik tentu harus lahir dari pribadi-pribadi yang memiliki kepatutan dan kelayakan untuk digugu dan ditiru, keluhuran budi pekerti guru sebagai pendidik sangat diperlukan sebagai bagian dari penokohan sifat-sifat baik yang terwariskan kepada generasi setelahnya.

฀an ketokohan pemimpin Negara juga diperlukan, dalam memberikan contoh yang baik dan santun dalam proses kepemimpinan yang dijalani, sehingga pendidikan tidak kehilangan ruhnya. pun institusi keluarga memiliki peranan penting, karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk dan mengembangkan kepribadian seseorang melalu pengasuhan yang tepat yang dilakukan oleh orang tua.50 Ada beberapa hal yang harus mendapat penekanan lebih dalam menerapkan pengembangan pendidikan karakter. Pertama, "Knowing the good”. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. "Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu apa alasannya melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada gap antara knowing dan acting,"

3.฀ Membentuk Kematangan Intelektual

Kegiatan pendidikan memiliki proses pembentukan keilmuan dan intelektualitas yang sistematis dan terintegrasi

฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

(44)

dalam kurikulum yang memadukan beragam aspek kematangan individu selain dari kematangan intelektual.

฀ari pengkajian terhadap rumusan Undang-undang tersebut di atas, pendidikan Islam memiliki tujuan yang sejalan dengan kerangka sistem pendidikan nasional yakni pembentukan kematangan intelektual, di antaranya adalah: kemandirian berpikir, kemauan untuk senantiasa belajar, kritis terhadap perkembangan keilmuan modern, namun yang terpenting adalah internalisasi nilai-nilai karakter bangsa terhadap perkembangan intelektual manusia sehingga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kemajuan pendidikan Indonesia. Kematangan intelektual dibutuhkan dalam kegiatan pendidikan dalam pembentukan manusia Indonesia yang professional dan berkarakter. Kematangan intelektual yang holistic yang mencakup seluruh aspek perkembangan siswa (kognitif, afektif dan psikomotorik).

4.฀ Membentuk Kematangan Sosial dalam Upaya Menjadi Warga Negara yang ฀emokratis

Figur

Tabel 2 Periodisasi Perkembangan ฀ndividu Berdasarkan Biologis
Tabel 2 Periodisasi Perkembangan ndividu Berdasarkan Biologis . View in document p.76
Tabel 1 Periodisasi Perkembangan ฀ndividu Berdasarkan Biologis
Tabel 1 Periodisasi Perkembangan ndividu Berdasarkan Biologis . View in document p.76
Tabel 3 Periodisasi Perkembangan ฀ndividu Berdasarkan Biologis
Tabel 3 Periodisasi Perkembangan ndividu Berdasarkan Biologis . View in document p.77
Tabel 4 Periodisasi Perkembangan ฀ndividu Berdasarkan Biologis
Tabel 4 Periodisasi Perkembangan ndividu Berdasarkan Biologis . View in document p.78
Tabel 5 Periodisasi Perkembangan ฀ndividu Berdasarkan Biologis
Tabel 5 Periodisasi Perkembangan ndividu Berdasarkan Biologis . View in document p.79
Tabel 6
Tabel 6 . View in document p.80
Tabel 7 Periodisasi Perkembangan ฀ndividu Berdasarkan Didaktis
Tabel 7 Periodisasi Perkembangan ndividu Berdasarkan Didaktis . View in document p.81

Referensi

Memperbarui...