PRAKTIK BAGI HASIL PETANI PADI DITINJAU DARI KONSEP EKONOMI ISLAM (Studi Kasus di Pedukuhan Kadibeso, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul)

123 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Kabupaten Bantul)

SKRIPSI Oleh:

Julio Basuki Herlangga NPM: 20120730189

PRODI MUAMALAT FAKULTAS AGAMA ISLAM

(2)
(3)

i

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam (SE.I) Strata Satu pada Prodi Muamalat Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh:

Julio Basuki Herlangga NPM: 20120730189

PRODI MUAMALAT FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016

(4)

ii

“Semua ilmu atau

pencapaian yang dimiliki akan

(5)

iii

tersayang dan paling disayang kedua orang tua dan

(6)

iv Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penelitian skripsi yang berjudul “Praktik Bagi Hasil Petani Padi Ditinjau Dari Konsep Ekonomi Islam (Studi Kasus Dipedukuhan Kadibeso, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Kabuaten Bantul) ini dapat terselesaikan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu pada program studi Ekonomi Perbankan Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW sosok teladan dalam segala perilaku keseharian yang berorientasi kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.

Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dukungan, doa dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan kali ini dengan segala kerendahan hati peneliti hendak menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A. selaku rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

(7)

v

telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan saran, arahan dan bimbingan kepada peneliti selama penyusunan skripsi ini sehingga dapat terselesaikan.

5. Seluruh Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membagikan ilmunya kepada peneliti selama duduk dibangku perkuliahan.

6. Bapak Sabdo Nugroho, SP selaku Direktur Utama PT. BPRS Madina Mandiri Sejahtera, bapak Sigit Junaedi, SE selaku Genertal Manajer Marketing dan seluruh karyawan PT. Bank Madina Mandiri Sejahtera khususnya bagian marketing (bapak Ari, Saudara Ridho, saudara Wawan, dan Ibu Maria) atas doa dan motivasi kepada peneliti.

7. Keluarga yang telah banyak membantu, baik secara materil maupun do’a sehingga skripsi ini terselesaikan.

8. Teman dekat Very Antika, Dio, Ari, Angga, Anggit, dan Yusi yang telah memberikan semangat kepada peneliti selama penyusunan skripsi. 9. Teman-teman EPI 2012 khususnya EPI D 2012 yang telah memberikan

semangat kepada peneliti selama penyusunan skripsi.

10.Teman-teman Sansekerta, Widya Wahana Bhakti, dan Bhakti Muda 11.Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak

(8)

vi

perbaikan.

Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk semua pihak. Amin...

Wassalamu’alaikum wr.wb

Yogyakarta, 26 Juli 2016

(9)

vii

HALAMAN JUDUL ... ii

NOTA DINAS ... iii

PENGESAHAN ... iv

PERNYATAAN ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

ABSTRAK ... xv

ABSTRACT ... xvi

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – LATIN... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Kegunaan Penelitian... 8

E. Tinjauan Pustaka ... 13

BAB II METODE PENELITIAN ... 16

A. Metode Penelitian... 16

(10)

viii

6. Teknik Analisis Data ... 24

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25

A. Gambaran Umum ... 25

1. Gambaran Umum Pedukuhan Kadibeso ... 25

2. Bagi Hasil Pertanian di Pedukuhan Kadibeso Sabdodadi Bantul ... 33

a. Perjanjian Bagi Hasil Dengan Menggunakan Sistem Paron ... 35

b. Alasan Terjadinya Sistem Paron ... 37

c. Pembagian Hasil Penen dan Kerugian dengan Menggunakan Sistem Paron di Pedukuhan Kadibeso ... 40

d. Kendala Petani Dalam Pengelolaan Lahan Pertaniannya ... 42

e. Pengetahuan Masyarakat Mengenai Konsep Bagi Hasil Sesuai Dengan Konsep Ekonomi Islam ... 43

B. Pembahasan Praktik Bagi Hasil Petani Pedukuhan Kadibeso Dalam Perspektif Islam ... 44

BAB IV PENUTUP ... 58

A. Kesimpulan ... 58

B. Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 62

(11)

ix

DAFTAR GAMBAR

(12)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Tinjauan Pustaka ... 13

Tabel 3.1 Data Demografi ... 26

Tabel 3.2 Penduduk Berdasarkan Pekerjaan ... 29

Tabel 3.3 Tingkat Pendidikan Desa Sabdodadi ... 32

(13)

xi

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Transliterasi kata Arab-Latin yang dipakai dalam penyusunan Skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.

1. Konsonan Tunggal

Huruf Arab

Nama Huruf Latin Nama

Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

Bā’ B -

T -

s (dengan titik diatas)

ج J m J -

ح Hā h (dengan titik dibawah)

(14)

xii

Zā’ Z -

S n S -

Sy n Sy -

Sād .s s (dengan titik dibawah)

ض Dād .d d (dengan titik dibawah)

ط Tā’ .t t (dengantitikdibawah)

Zā’ .z z (dengan titik dibawah)

ع „A n Koma terbalik keatas

Ga n G -

ف Fā’ F -

Qāf Q -

Kāf K -

Lām L -

M m M -

N n N -

و Wāwu W -

Hā’ H -

ء Hamzah „ Apostrof

(15)

xiii

ة ع

„iddah

3. Ta’ Marbūṭah di akhir kata

a. Bila dimatikan tulis h

ح

Ditulis ḥikmah

ي ج

Ditulis Jizyah

(Ketentuan ini tidak diperlukan, bila kata-kata arab yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti zakat, salatdansebagainya, kecuali bila dikehendaki lafal aslinya)

b. Bilata’ marbuṭah diikuti dengan kata sandang“al” serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan h

ء ي وأ

ك

Ditulis Kar mah al-auliy ’

c. Bilata’ marbuṭah hidup atau dengan harakat, fathah, kasrah dan dammah ditulis t

(16)

xiv

ــــــــــــــــ .dammah Ditulis U

5. vocal Panjang

1. Faṭhạh +alif

ج

ي ه

Ditulis

Ditulis J hiliyah

2. Faṭhạh + ya’ mati

ت

Ditulis

Ditulis Tans

3. Kasrah + ya’ mati

ي ك

Ditulis

Ditulis Karīm

4. ḍammah + wawumati

ضو ف

Ditulis

Ditulis Fur d

6. Vokal Rangkap 1. Faṭhạh + ya’ mati

يب

Ditulis ditulis

Ai

(17)

xv

7. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata Dipisahkan dengan Apostrof

أأ

Ditulis a’antum

عأ

Ditulis u’iddat

ت ش

Ditulis la’insyakartum

8. Kata SandangAlif + Lam

a. Bila diikuti huruf Qamariyyah

آ

Ditulis al –Qur’ n

ي

Ditulis al-Qiy s

b. Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf

Syamsiyyah yang mengikutinya, serta menghilangkan huruf l (el)-nya

ء

Ditulis as –Sam ’

Ditulis asy- Syams

(18)
(19)
(20)
(21)

sebagai sarana pembagian hasil kerjasama antara petani dengan pemilik sawah. Sistem paron telah lama dan telah membudidaya di kalangan petani khususnya di pedukuhan Kadibeso.Sistem paron yang mendekati konsep bagi hasil dalam ekonomi Islam ini menjadi sistem perhitungan antara pemilik modal (sawah pertanian) dengan penggarap. Dalam ekonomi Islam sistem kerja sama antara pemilik modal (sawah pertanian) dengan penggarap di sebut Muzara’ah dan Mukhabarah

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalkan perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua jenisdata yaitu data primer dan data sekunder.

Sistem paron telah sesuai dengan konsep Ekonomi Islam karena sistem paron

bukan menyewakan sawah melainkan memberikan hak garap kepada petani penggarap untuk dikelola. Hal ini telah sesuai dengan Al-Quran dan Hadis.

(22)

For The Practice Rice Farmers In Terms Of Isamic Consept Of Economy

(Study In Kadibeso Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul) By : Julio Basuki Herlangga

NIM : 20120730189

In Kaibeso, there is a profit sharing system in agriculture done among paddy

farmers, and it is called paron system. Paronsystem is used by Kadibeso people as a

way to share the work profit between farmers and rice field owners. This system has

been preserved among farmers, especially those in Kadibeso village. This

system,which is similar to profit sharing system in Islamic economy,becomes the

accounting system for capital owners (rice field) and the cultivators. In Islamic

economy system, this cooperation between capital owners (rice field) and the cultivators is called Muzara’ah and Mukhabarah. The metod used in this research is qualitative method- a research done to understand the phenomena experienced by the

subject of the research such as behavior, perception, mitivation, and action. The data

used in this reseacrh consist of primary and secondary data. Paron system is line

with Islamic economic system because it does not lease ice field but give the right to

farmers to cutivate. It is already in line with Al-Quran and Haditd.

(23)

1

Sebagai negara agraris Indonesia pada sektor pertanian di pedesaan memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Melihat pentingnya sektor pertanian di pedesaan, diantaranya sebagai andalan mata pencaharian sebagian besar penduduk, sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kontribusi terhadap ekspor (devisa), bahan baku industri, penyediaan bahan pangan dan gizi sehingga sektor pertanian terbukti mampu menjadi penyangga perekonomian nasional saat terjadi krisis ekonomi.1

Banyak provinsi di Indonesia yang menjadi penyumbang PDB salah satunya adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 luas panen tanaman padi di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah 154.807 Hektar menurun dari tahun 2014 sebesar 158.903 Hektar. Produktivitas padi di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah 59,64 Ton naik sebesar 1,77% dari tahun 2014. Hasil tersebut menunjukan bahwa usaha pertanian di daerah Istimewa Yogyakarta didominasi oleh rumah tangga.2

Hal ini juga terlihat pada pedukuhan Kadibeso yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani padi. Kadibeso berada di desa Sabdodadi Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kadibeso mempunyai luas lahan pertanian seluas 33 Hektar dengan sekitar 200

1

Ashari dan Sapto, Prospek Pembiayaan Syariah Untuk Sekor Pertanian, Bogor: Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Pertanian, 2005, hlm 132

2

(24)

masyaratnya bekerja sebagai buruh tani. Jumlah kepala keluarga di pedukuhan Kadibeso sejumlah 325 KK.3

Di dalam kehidupan masyarakat Kadibeso terdapat sistem bagi hasil dalam pertanian yang sering dilakukan oleh petani padi, masyarakat Kadibeso biasa menyebutnya dengan sistem paron. Sistem paron digunakan masyarakat Kadibeso sebagai sarana pembagian hasil kerjasama antara petani dengan pemilik sawah. Sistem paron telah lama dan telah membudidaya di kalangan petani khususnya di pedukuhan Kadibeso.

Sistem paron yang mendekati konsep bagi hasil dalam ekonomi Islam ini menjadi sistem perhitungan antara pemilik modal (sawah pertanian) dengan penggarap. Pemilik sawah biasanya meminta kepada penggarap untuk mengelola sawahnya hingga musim panen tiba. Setelah musim panen tiba kemudian padi yang sudah menjadi gabah dijual yang kemudian hasil dari penjualan tersebut di bagi hasilkan 50:50 antara pemilik sawah dengan penggarap.

Dalam pelaksanaan bagi hasil dengan sistem paron jika mengalami keuntungan akan dibagi dengan jumlah yang sama antara pemilik dengan penggarap jika terjadi kerugian kadang-kadang sering terjadi perdebatan antara pemilik sawah dengan penggarap, karena penggarap tidak hanya mengelola sawah tersebut dengan tenaganya saja akan tetapi penggarap juga membelikan pupuk dan obat pengusir hama secara rutin. Setiap usaha pasti memiliki risiko tertentu begitu juga dengan bertani padi yang memiliki risiko gagal panen akibat kondisi cuaca, bencana alam, serta serangan dari hama.

3

(25)

Dalam ekonomi Islam bagi hasil (profit and loss sharing) sering disebut dengan istilah al-mudharabah yang menjadi landasan dasar bagi operasional bank Syariah. Menurut M. Yazid Afandi mudhrabah (mudlarabah) adalah salah satu bentuk kerja sama antara pemilik modal (shahib al-mal) dan pedagang atau orang yang mempunyai keahlian untuk melakukan usaha bersama. Pemilik modal menyerahkan modalnya kepada pengusaha/pedagang untuk usaha tertentu. Jika dari usaha tersebut mendapatkan keuntungan maka dibagi bersama sesuai kesepakatan. Apabila terjadi kerugian maka kerugian ditanggung oleh pemilik modal, dan pengusaha tidak berhak atas upah dari usahanya.4

Mudharabah mempunyai arti berjalan di atas bumi yang bisa dinamakan berpergian. Secara terminologi Mudharabah adalah kontrak perjanjian antara pemilik modal dan pengelola untuk digunakan untuk aktivitas yang produktif dimana keuntungan dibagi dua antara pemodal dan pengelola modal. Kerugian jika ada ditanggung oleh pemilik modal, jika kerugian itu terjadi dalam keadaan normal.5

Secara teknis, mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak, di mana pihak pertama bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal) yang menyediakan seluruh modal 100%, sedangkan pihak lainya sebagai pengelola dana (mudharib). Keuntungan yang didapat dari usaha yang dijalankan dibagi menurut kesepakatan ada awal perjanjian.6

4

M. YazidAfandi, Fiqh Muamalah dan Implementasinya dalam Lembaga Keuangan syariah,

Yogyakarta: Legung pustaka.2009, hlm 101.

5

Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah Fiqh Muamalah, Jakarta: Kencana.2012, hlm 194.

6

(26)

Landasan hukum akad mudharabah terdapat dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, pada ketentuan Pasal 1 ayat 13 yang mendefinisikan mengenai prinsip syariah di mana mudharabah secara eksplisit merupakan salah satu akad yang dipakai dalam produk pembiayaan. Pembiayaan berdasarkan akad

mudharabah sebagai salah satu produk penyaluran dana juga mendapatkan dasar dalam PBI No. 9/19/ PBI/2007 tentang Pelaksanaan Prinsip syariah dalam Kegiatan Penghimunan Dana dan Penyaluran Dana.7

Menurut Syafi’i Antonio bagi hasil (profit and loss sharing) terdapat juga pada pertanian yang biasa disebut dengan istilah al-Muzara’ah. Al-Muzara’ah

adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan pertanian memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu (persentase) dari hasil panen.8

Bagi hasil pada pertanian tidak hanya muzara’ah akan tetapi ada istilah

mukhabarah. Mukhabarah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan pertanian memberikan lahan pertanian kepada si penggarap dan modal berasal dari pengelola.9 Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat al-Zukruf ayat 32 :

7

Khotibul Umam, Perbankan SyariahDasar-dasar dan dinamika perkembangan di Indonesia,

Jakarta: PT RajaGrafindo persada.2016, hlm 133.

8

M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, Jakarta:Gema Insani.2001, hlm 99.

9

(27)

لْممَ شْيِعملْممهْيبلانْ سقل م ْح ۚ ِ ب لت ْْ لنوم ِسْقيلْ مََأ

Artinya: “apakah mereka yang membagi-bagi rahmat tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian lagi mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan

Rasulullah SAW bersabda: (barangsiapa yang memiliki tanah maka hendaklah ditanami atau diberikan faedahnya kepada saudaranya jika ia tidak mau maka boleh ditahan saja tanah itu.”(Hadits Riwayat Muslim)

لاهْع َْْلفلاهْع ْزيلْملل ْنِافلاهمع َْْلفلضَْألمِل ْتنالْ م

ل اخبلال او م اخَأ

“Barang siapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya atau hendaklah ia menyuruh saudaranya untuk menanaminya.”(Hadits Riwayat Bukhari)

ل ِ ع

ل ماعلّسولِهيلعل مهلَصلِهلملو مس لنَألمهنعلمهل ِِ م مُل ِبا

(28)

Artinya :” Diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.A. sesungguhnya Rasulullah Saw. Melakukan bisnis atau perdagangan dengan penduduk Khaibar untuk digarap dengan imbalan pembagian hasil berupa buah-buahan atau tanaman” (HR. Bukhari).

Menurut Mardani Muzara’ah adalah kerja sama pengelola pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, di mana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Selain muzara’ah terdapat sistem bagi hasil dalam pengelolaan lahan pertanian yaitu musaqah dan mugharasah. Musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara’ah dimana penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan, sebagai imbalan penggarap mendapatkan nisbah tertentu dari hasil panen. Mugharasah secara etimologis berarti transaksi terhadap pohon. Menurut terminologis fiqh, al-mugharasah didefinisikan dengan penyerahan tanah pertanian kepada petani yang ditanami atau penyerahan tanah pertanian kepada petani yang pakar di bidang pertanianya, sedangkan pohon yang ditanam menjadi milik berdua.10 Syarat muzara’ah dan mukhabarah dibagi menjadi ijab qobul, dewasa, berakal, bebas memilih, bukan harta yang dibekukan, kesepakatan pengembangan lahan, publikasi kesepakatan pengembangan, menentukan bagian pendapatan, menetapkan jangka waktu, kelayakan tanah, penentuan jenis tanaman, pembatasan tanah, dan penentuan biaya. Dimata Islam petani itu terhormat bukan budak orang yang mengendalikan produksinya dan menguasai hasil jerih payahnya. Hukum-hukum muzara’ah dalam Islam bertujuan

10

(29)

membangun kemuliaan petani, memberinya kemerdekaan yang luas, dan merealisasikan kemuliaan yang di dambakan.11

Dimata Islam petani itu terhormat bukan budak orang yang mengendalikan produksinya dan menguasai hasil jerih payahnya. Hukum-hukum muzara’ah dalam Islam bertujuan membangun kemuliaan petani, memberinya kemerdekaan yang luas, dan merealisasikan kemuliaan yang di dambakan.12

Musaqah adalah baik pemilik kebun (lahan) maupun tukang kebun (yang mngerjakan) keduanya hendaklah orang yang sama-sama berhak ber-tasarruf

(membelanjakan) harta keduanya, semua pohon yang berbuah boleh diparonkan demikian juga hasil pertahun (tanaman yang hanya berbuah satu kali sesudah berbuah pohon tersebut mati) boleh pula diparonkan, pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh penggarap ialah semua pekerjaan yang bersangkutan dengan perawatan dan ditentukan masa bekerjanya, kesepakatan nisbah hendaknya ditentukan bagian masing-masing sesuai dengan kesepakatan. 13

Sistem paron telah lama berkembang di masyarakat, hal ini memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat itu sendiri. Pengolahan lahan pertanian dengan sistem paron menjadi tambahan pemasukan sebagian masyarakat Dusun Kadibeso dan lahan pertanian di Dusun Kadibeso menjadi lahan pertanian yang produktif.

11

Ibid., hlm 243-244.

12

QorashiSharief,.Keringat Buruh (hak dan peran pekerja dalam islam).Jakarta :Al-Huda.2007, hlm 147-150.

13

(30)

Dari permasalahan diatas, penulis tertarik untuk menulis judul “PRAKTIK

BAGI HASIL PETANI PADI DITINJAU DARI KONSEP EKONOMI ISLAM”.

Studi kasus di Pedukuhan Kadibeso, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Meneliti apakah bagi hasil pada kalangan masyarakat khususnya petani padi dengan sistem paron sesuai dengan konsep ekonomi Islam. Kemudian diteliti juga dampak sistem paron terhadap ekonomi masyarakat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan oleh penulis di atas, terkait praktik bagi hasil petani padi ditinjau dari konsep ekonomi Islam, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini :

1. Apakah praktik bagi hasil pada kalangan masyarakat khususnya petani padi dengan sistem paron sesuai dengan konsep ekonomi Islam ?

2. Bagaimana dampak sistem paron terhadap ekonomi masyarakat ? C. Tujuan Penelitian

Merujuk pada rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis profit and loss sharing pada kalangan masyarakat khususnya petani padi dengan sistem paron sesuai dengan konsep ekonomi Islam .

2. Menganalisis Dampak sistem paron terhadap ekonomi masyarakat. D. Kegunaan Penelitian

(31)

2. Bagi pembaca, memberikan tambahan informasi dan pengetahuan ilmu yang bermanfaat.

3. Bagi masyarakat, memberikan pengetahuan mengenai bagi hasil dalam konsep ekonomi Islam.

E. Tinjauan Pustaka

Setelah penulis mencari hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan judul

“Praktik bagi hasil petani padi ditinjau dari konsep ekonomi Islam”, ditemukan

beberapa jurnal dan skripsi yang hampir mirip dengan skripsi ini, di antaranya adalah:

Menurut pengamatan penulis, penelitian tentang praktik bagi hasil petani padi ditinjau dari konsep ekonomi Islam. Pada jurnal berjudul “Implementasi Profit and Loss Sharing Petani Bawang Merah Ditinjau dari Konsep Ekonomi Islam” yang ditulis oleh Umrotul Khasanah (2009) yang bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk - bentuk profit and loss sharing yang dilakukan oleh petani bawang merah dan mengidentifikasi profit and loss sharing yang selama ini dilakukan oleh petani bawang merah yang sesuai dengan konsep ekonomi Islam.

(32)

Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pelaksanaan bagi hasil petani bawang merah adalah menggunakan skim musyarakah yaitu penggabungan dari sisi modal dan jasa. Pelaksanaan bagi hasil yang dilakukan oleh para petani bawang merah sudah sesuai dengan syarat dan rukun dalam bersyarikat.

Skripsi Adhe Negara (2011) Universitas Negeri Semarang meneliti tentang

“Pelaksanaan Bagi Hasil Pertanian Sawah di Desa Bumen Kecamatan Sumowo

Kabupaten Semarang“. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui lebih jelas tentang pelaksanaan bagi hasil pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang, apa kendala yang dihadapi oleh pihak pemilik sawah dan pihak penggarap dalam bagi hasil pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang, dan cara menyelesaikan kendala pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis tematis. Data yang dianalisis berasal observasi, wawancara, dan dokumentasi.

(33)

2/3 dan penggarap mendapatkan 1/3 apabila benih dan pupuk ditanggung oleh pemilik sawah.

Skripsi Mulyo Winarsih (2007) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta meneliti tentang “Pengaruh Muzaraah Terhadap Tingkat Pendapatan Masyarakat Desa Kalipasu Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal Jawa

Tengah”. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana tingkat

pendapatan masyarakat khususnya desa Kalipasu seiring dengan pelaksanaan sistem muzara’ahdan mengetahui sistem bagi hasil pertanian masyarakat desa Kalipasu. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif sehingga pengumpulan datanya menggunakan angket atau kuesioner dan wawancara.

Hasil dari penelitian tersebut adalah petani penggarap melakukan kerjasama dengan pemilik sawah dengan bagi hasil 1/2:1/2 , 2/3:2/3, 3/4:1/4. Menurut Mulyo Winarsih sistem muzara’ah merupakan peluang bisnis atau alternatif yang dapat diusahakan petani untuk keluarganya dalam memenuhi kebutuhan. Selain itu hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa sistem muzara’ah berpengaruh signifikan pada tingkat pendapatan masyarakat desa Kalipasu.

Skripsi Erick Prasetyo Agus (2008) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta meneliti tentang “Produktivitas Kerja Petani Ditinjau dari

Sistem Muzara’ah Studi Kasus pada Desa Pakan Rabaa, Kabupaten Solok Selatan,

Sumatera Barat”. Penelitian tersebut lebih fokus terhadap bagaimana

(34)

pemecahan masalah yang ada berdasarkan data yang ada. Peneliti menggunakan metode yuridis sosiologis, yaitu penelitian yang dilakukan terhadap hukum perilaku yang berkembang dalam masyarakat.

Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini terletak pada rumusan masalah dan tujuan pesnelitian dimana penelitian Umrotul Khasanah meneliti bentuk-bentuk profit and loss sharing yang dilakukan oleh petani bawang merah dan mengidentifikasi profit and loss sharing yang selama ini dilakukan oleh petani bawang merah yang sesuai dengan konsep ekonomi Islam. Penelitian Adhe Negara mengetahui lebih jelas tentang pelaksanaan bagi hasil pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang, apa kendala yang dihadapi oleh pihak pemilik sawah dan pihak penggarap dalam bagi hasil pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang, dan cara menyelesaikan kendala pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang. Penelitian Mulyo Winarsih mengetahui sejauh mana tingkat pendapatan masyarakat khususnya desa Kalipasu seiring dengan pelaksanaan sistem

muzara’ah dan mengetahui sistem bagi hasil pertanian masyarakat desa Kalipasu.

Penelitian Erick Prasetyo Agus lebih fokus terhadap bagaimana produktivitas kerja petani dan bagaimana pelaksanaan muzara’ah dalam peningkatan produktivitas kerja petani di Desa Pakan Rabaa.

(35)

ekonomi masyarakat. Selain itu dari segi lokasi penelitian ini juga berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu.

Tabel 1.1 Tinjauan ustaka

No Nama Penelitian Terdahulu Penelitian Sekarang

1 Umrotul Khasanah Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk profit and loss sharing

yang dilakukan oleh petani bawang merah dan mengidentifikasi profit and loss sharing yang selama ini dilakukan oleh petani bawang merah yang sesuai dengan konsep ekonomi Islam. Hasil dari penelitian ini adalah model pelaksanaan bagi hasil petani bawang merah adalah menggunakan skim

musyarakah yaitu

penggabungan dari sisi modal dan jasa. Pelaksanaan bagi hasil yang dilakukan oleh para petani bawang merah sudah sesuai dengan syarat dan rukun dalam bersyarikat.

penelitian ini lebih fokus terhadap menganalisis praktik bagi hasil pada kalangan masyarakat terkhusus petani padi dengan sistem paron

sesaui dengan konsep ekonomi Islam dan menganalisis dampak sistem paron terhadap ekonomi masyarakat

2 Adhe Negara Penelitian ini bertujuan mengetahuai lebih jelas tentang pelaksanaan bagi

(36)

hasil pertanian di desa Bumen

Kecamatan Sumowo

Kabupaten Semarang, apa kendala yang dihadapi oleh pihak pemilik sawah dan pihak penggarap dalam bagi hasil pertanian di Desa Bumen Kecamatan Sumowo Kabupaten Semarang, dan cara menyelesaikan kendala pertanian di Desa Bumen

Kecamatan Sumowo

Kabupaten Semarang. Kesimpulan daripenelitian ini pelaksanaan bagi hasil pertanian di Desa Bumen

Kecamatan Sumowo

Kabupaten Semarang dilakukan dengan cara lisan atau musyawarah mufakat antar pihak.

waktu dan lokasi penelitian

3 Mulyo Winarsih Penelitian ini fokus untuk mengetahui sejauh mana tingkat pendapatan masyarakat khususnya desa Kalipasu seiring dengan pelaksanaan sistem

(37)

adalah petani penggarap melakukan kerjasama dengan pemilik sawah dengan bagi hasil 1/2:1/2, 2/3:2/3, 3/4:1/4. 4 Erick Prasetyo Agus Penelitian tersebut lebih

fokus terhadap bagaimana produktivitas kerja petani dan bagaimana pelaksanaan

muzara’ah dalam

(38)

16 1. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misakan perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan.1Menurut Sugiono metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.2

Sutopo dan Adrianus mendefinisikan penelitian kualitatif (qualitative research) sebagai penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Ciri penelitian kualitatif adalah melakukan penelitian pada latar alamiah, mengandalakan manusia sebagai alat penelitian (instrumen), menggunakan analisis data secara induktif, mengarahkan sasaran penelitian

1

Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.2012. hlm 6.

2

(39)

pada usaha menemukan teori dari dasar (grounded theory), bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, membatasi fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, desain penelitian bersifat sementara dan hasil penelitian di diskusikan bersama antara peneliti dan subyek penelitian.3

Penelitian ini diawali dengan observasi langsung dengan dasar tersebut maka peneliti diharapkan memperoleh gambaran secara langsung mengenai praktik bagi hasil dengan sistem paron di Pedukuhan Kadibeso, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul dengan di dukung oleh wawancara, data, dan dokumentasi.

2. Obyek Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di Pedukuhan Kadibeso, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena di Pedukuhan tersebut sebagian besar bekerja sebagai petani dan di pedukuhan tersebut bagi hasil pertanianya menggunkan sistem paron.

3. Sumber dan Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua jenisdata yaitu:

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat secara langsung.Dalam penelitian ini data primer didapatkan dengan

interview atau wawancara terstruktur.Wawancara kepada pihak

3

(40)

petani padi yang mengunakan sistem paron bagi hasil sawah pertanianya. Penulis melakukan tanya jawab langsung kepada 20 petani padi yang menggunakan

b. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang didapat tidak secara langsung.Data sekunder pada penelitian ini berupa dokumen data penilaian petani padi yang mengunakan sistem paron bagi hasil sawah pertanianya.

Macam-macam data kualitatif yang diperoleh dari wawancara, catatan pengamatan, pengambilan foto, perekaman audio, dan video sebagai berikut:

1) Dokumen wawancara. Dalam penelitian dilakukan wawancara dengan pertanyaan open-ended sehingga responden dapat memberikan informasi yang tidak terbatas dan mendalam dari berbagai perspektif. Semua wawancara dibuat transkip dan disimpan dalam file teks.

2) Catatan pengamatan. Pengamatan untuk memperoleh data dalam penelitian memerlukan ketelitian untuk mendengar dan perhatian yang hati-hati dan terperinci pada apa yang dilihat. Catatan pengamatan pada umumnya berupa tulisan tangan. 3) Rekaman audio. Dalam melakukan wawancara tidak jarang

(41)

melakukan wawancara. Dengan merekam audio maka akan muda menggali isi wawancara dan akan melengkapi isi wawancara pada saat pengolahan data dilakukan.

4) Rekaman video. Dalam penelitian sering dibuat rekaman audio untuk melengkapi data. Namun dengan rekaman video akan membantu menggali lebih dalam pada saat pengolahan data dilakukan.

5) Data dari pedukuhan Kadibeso. Data penelitian akan lebih akurat dengan ditambah data dari pedukuhan Kadibeso. Data bisa berupa usia responden, penghasilan responden, luas tanah pertanian yang digarap dan data lain yang dibutuhkan dalam penelitian.

6) Data dari buku. Dalam penelitian kualitatif data dari buku dapat digunakan. Data dari halaman buku tersebut dapat digunakan dalam pengolahan data bersama data yang lain. 7) Data dari halaman web. Dalam penelitian dapat digunakan data

(42)

4. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata pengumpulan data kualitatif bersifat interaktif langkah-langkahnya biasa disebut dengan strategi pengumpulan data. Langkah-langkah pengumpulan data antara lain: a. Perencanaan

Perencanaan meliputi perumusan dan pembatasan masalah- masalah serta merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diarahkan pada pengumpulan data.

b. Memulai pengumpulan data

Sebelum pengumpulan data dimulai, peneliti berusaha menciptakan hubungan baik , menumbuhkan kepercayaan serta hubungan yang akrab dengan individu-individu atau kelompok-kelompok yang menjadi sumber data.

c. Pengumpulan data dasar

(43)

d. Pengumpulan data penutup

Peneliti mengakhiri pengumpulan data setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan atau tidak ditemukan lagi data yang baru.

e. Melengkapi

Langkah melengkapi merupakan kegiatan penyempurnaan hasil analisis datadan mempunyai cara penyajianya. Analisis data dimulai dengan menyusun fakta-fakta hasil temuan dilapangan.4

Gambar 1 Langkah-langkah teknik pengumpulan data

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi,dan dokumentasi penjelasannya sebagai berikut.

4

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian pendidikan, Bandung: PT Remaja Risdakarya.2012, hlm 114-115

Perencanaan memulai pengumpulan data Langkah-langkah Teknik

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dasar Pengumpulan data penutup

(44)

a. Wawancara

Wawancara adalah suatu bentuk percakapan secara langsung dengan maksud tetentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang di wawancarai (interviewer) yang memberi jawaban atas pertanyaan itu. Metode wawancara dibagi menjadi dua yaitu wawancara terstruktur dan wawancara semi terstruktur.5 sDalam penelitian ini objek wawancara adalah petani padi dan pemilik sawah yang meggunakan sistem paron. Penulis melakukan tanya jawab langsung kepada 20 petani padi yang menggunakan sistem paron.

b. Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang komleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Observasi merupakan kegiatan mengamati perilaku dengan sengaja, faktor kesenjangan dalam proses obsevasi dimaksudkan agar kegiatan ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.6Dari uraian di atas dapat disimpulkan melalui observasi, peneliti dapat belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut. Dari observasi tersebut peneliti dapat

5

Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.2012. hlm 186

6

(45)

mengamati perilaku kerja petani padi dan memahami makna dari perilaku kerja mereka.

c. Dokumentasi

Pengumpulan data sekunder yang berupa data-data dari masyarakat pedukuhan Kadibeso, dan mencari sumber lain berupa buku, majalah, jurnal dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini..

5. Keabsahan

Menurut Moleong untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan yang didasarkan pada tingkat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Adapun teknik yang digunakan dalam menetapkan keabsahan data dalam penelitian ini sebagai berikut :

a. Keikutsertaan peneliti

Keikutsertaan peneliti untuk terjun langsung ke lapangan dengan demikian maka peneliti dapat mempelajari bagi hasil dengan sistem paron di Pedukuhan Kadibeso, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul.

b. Triangulasi

(46)

menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk menetapkan data dari sumber yang sama.7

6. Tehnik Analisis Data

Menurut Boedi Abdullah dan Beni Ahmad Saebani pengolahan data adalah melakukan analisis terhadap data dengan metode dan cara tertentu yang berlaku dalam penelitian.8

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan bersamaan waktunya dengan proses pengumpulan data. Pada saat wawancara peneliti sudah menganalisis data yang diperoleh, apabila data yang diperoleh kurang memuaskan maka peneliti melanjutkan wawancara kepada responden sampai diperoleh data yang sesuai. Setelah data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian data diklasifikasikan dengan metode tematis, yaitu dianalisis sesuai dengan tema:

a. Praktik bagi hasil pada kalangan masyarakat khususnya petani padi dengan sistem paron ditinjau dari konsep ekonomi islam. b. Dampak sistem paron terhadap ekonomi masyarakat.

Setelah mendapatkan data-data yang sesuai dengan keinginan peneliti kemudian data-data tersebut di deskripsikan secara tertulis untuk dapat dibuat suatu kesimpulan sebagai hasil penelitian.

7

Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.2012, hlm 324

8

(47)

25

1. Gambaran umun Pedukuhan Kadibeso

Untuk mengetahui hasil penelitian dan pembahasan lebih lanjut,terlebih dahulu penulis memberikan gambaran mengenai lokasi penelitian yaitu di pedukuhan Kadibeso Sabdodadi Bantul.

a. Letak Desa

Berdasarkan data monografi, Pedukuhan Kadibeso terletak di Desa Sabdodadi Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Sabdodadi memiliki lima pedukuhan yaitu Dukuh, Kadibeso, Keyongan, Manding, dan Neco. Jarak pedukuhan Kadibeso dari kota sebagai pusat wilayah ekonomi adalah:

1) Jarak ke kecamatan kurang lebih 1 km 2) Jarak ke kabupaten kurang lebih 3 km 3) Jarak ke ibukota kurang lebih 15 km

(48)

Tabel Tiga.1 Data Demografi dilihat bahwa pedukuhan kadibeso sebagai lokasi penelitian memiliki 375 kepala keluarga dengan sebesar 1146 jiwa. Jumlah laki

–laki di pedukuhan Kadibeso adalah 555 dan jumlah perempuan

sebesar 591.

b. Batas Wilayah Pedukuhan Kadibeso

1) Sebelah Utara : Pedukuhan Neco 2) Sebelah Selatan : Desa Patalan

3) Sebelah Barat : Pedukuhan Manding 4) Sebelah Timur : Desa Sumberagung c. Kondisi geografi

(49)

Kabupaten Bantul adalah 0,4 Km. Kecamatan Sabdodadi beriklim seperti layaknya daerah dataran rendah di daerah tropis dengan dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Bantul adalah 34 ºC dengan suhu terendah 22 ºC.Bentangan wilayah di Kecamatan Sabdodadi 98 % berupa daerah yang datar sampai berombak dan 2% berupa daerah yang berombak sampai berbukit.Desa sabdodadi terletak di Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul, tepatnya di jalan Parang Tritis km 11,5 dengan koordinat 7°53'29"S 110°21'19".

U

B T S

Sumber: Google Map

(50)

d. Keadaan Demografis

1) Mata Pencaharia Penduduk

Mata pencaharian setiap pedukuhan yang ada di Desa Sabdodadi tidak sama. Perbedaan itu disbabkan oleh letak geografis yang tidak sama contohnya Pedukuhan Manding yang memiliki letak geografis dekat dengan jalan utama yaitu jalan Parangtritis sehingga pedukuhan tersebut menjadi pedukuhan industri kerajinan kulit. Sedangkan pedukuhan Kadibeso yang menjadi lokasi penelitian yang masih terdapat banyak lahan pertanian sehingga peduduk di Pedukuhan Kadibeso mayoritas sebagai petani padi Data demografi berdasarkan pekerjaan yang ada di Desa Sabdodadi adalah:

Tabel 3.2 Penduduk Berdasarkan Pekerjaan

No Kelompok Jumlah Laki-laki Perempuan

(51)
(52)
(53)

70 PARANORMA

2) Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan

Pendidikan mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan karena pendidikan dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan kemajuan dalam berfikir dan berkembang.

(54)

Tabel 3.3 Tingkat Pendidikan Desa Sabdodadi

No Kelompok Jumlah Laki-laki Perempuan

N % N % N % 3) Jumlah Penduduk Menurut Agama

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Menurut Agama

No Kelompok Jumlah Laki-laki Perempuan

(55)

2. Bagi Hasil Pertanian di Pedukuhan Kadibeso Sabdodadi Bantul Pedukuhan Kadibeso mempunyai luas lahan pertanian seluas 3,3 Ha yang menyebabkan mayoritas masyarakat di pedukuhan kadibeso bekerja sebagai petani padi. Petani padi pada hal ini adalah pemilik sawah maupun buruh tani atau penggarap sawah. Pertanian di Pedukuhan tersebut memegang peranan yang sangat penting mengingat masih rendahnya taraf pendidikan pada pedukuhan tersebut. Selain itu kurangnya skill dan bantuan dari pemerintah desa juga menyebabkan masyarakat yang berada di Pedukuhan Kadibeso tidak mempunyai pilihan lain kecuali sebagai petani padi.

Pedukuhan Kadibeso belum terdapat lapangan pekerjaan yang cukup untuk menyerap tenaga kerja dengan tingkat pendidikan lulusan SMP dan SMA. Hal ini berbeda dengan Pedukuhan Manding yang terdapat sentra industri kerajinan kulit yang mampu menyerap banyak tenaga kerja yang tidak mempunyai ketrampilan khusus.

(56)

Sedangkan yang dimaksud penggarap adalah seseorang yang tidak mempunyai sawah tetapi bersedia untuk mengelola lahan pertanian (sawah) milik orang lain. Penggarap sawah biasanya membagi menjadi tiga tahapan dalam pengerjaanya. Tahapan pertama biasanya di sebut dengan istilah tandur. Tandur adalah penanaman bibit padi dengan menggunakan bilah bambu sebagai pengukur jarak. Tandur biasanya di kerjakan oleh empat orang. Tahapan kedua adalah ngerabok. Ngerabok

adalah penyemprotan atau pemberian pupuk yang dilakukan setelah padi berusia satu minggu dan dilakukan berulang-ulang minimal 2 kali dalam satu bulan. Tahapan terakhir adalah gepyok. Gepyok adalah pemisahan antara batang padi dengan benih padi atau biasa disebut dengan gabah.

Bagi hasil dalam lahan pertanian yang di lakukan oleh masyarakat Pedukuhan Kadibeso adalah mengguankan sistem paron.

Menurut Mardiwiyono (80 Tahun) penggarap sawah mengatakan bahwa :

“Paron niku maro sek kagungan sawah separih sik nanem separih. Nggih biasane kulo angsal 3 juta niku kulo 1,5 juta pak Gito ingkang gadah sawah 1,5 juta. Misale enten gagal panen sek gadah sawah mboten angsal nopo-nopo. Sek buruh nggih mboten angsal nopo-nopo neng pun rugi soale pun medalke biaya kathah kagem tumbas rabok. Biasanipun kulo tumbas rabok telas Rp 700.000”.1 ( Paron itu maro yang mempunyai sawah sebagian yang mengelola sebagian. Biasanya saya mendapat 3 juta dari 3 juta itu saya mendapatkan 1,5 juta dan pak Gito sebagai yang mempunyai sawah mendapatkan 1,5 juta. Misalnya ada gagal panen yang punya sawah tidak dapat apa-apa, yang mengelola

1

(57)

juga tidak dapat apa-apa tetapi rugi soalnya sudah mengeluarkan biaya untuk keperluan membeli pupuk.

Menurut Hari Martuti (40 Tahun) mengatakan bahwa :

Paron itu ya pokoknya padi panen dapet 12 karung masing-masing 6 karung. Kalau kemaren dari 500 m2 separonya saya dapet 3,5 karung. Biasanya yang dibagikan itu berasnya bukan uang hasil panenanya setelah diual,untuk biaya-biaya semua ditanggung oleh penggarapnya pokoknya yang punya sawah tinggal terima bersih. jika terjadi kerugian maka yang paling rugi adalah penggarap soalnya sudah mengeluarkan biaya”.2

Pelaksanaan bagi hasil di Pedukuhan Kadibeso dengan sistem

paron adalah pembagian hasil pertanian yang dibagikan dengan jumlah yang sama. Misalkan dari hasil panen mendapatkan 12 karung maka di bagi secara rata 6 karung untuk penggarap dan 6 karung utuk pemilik sawah. Biaya yang muncul dalam proses pengelolaan lahan pertanian meliputi benih padi, pupuk, dan alat pertanian di tanggung oleh penggarap. Jika terjadi kerugian (gagal panen) maka pemilik sawah tidak mendapatkan apapun, sedangkan penggarap juga tidak mendapatkan hasil walaupun sudah mengeluarkan biaya.

a. Perjanjian Bagi Hasil Dengan Menggunakan Sistem Paron

Dalam perjanjian bagi hasil dengan menggunakan sistem paron di Pedukuhan Kadibeso biasanya masyarakat hanyamenggunakan perjanjian secara lisan hal ini dilakukan secara turun temurun. Dalam sistem paron pemilik sawah lah yang biasanya mencari penggarap untuk meminta menggarap sawahnya.

Seperti halnya yang diungkapkan oleh Madyo Pawiro (75 Tahun) menyatakan sebagai berikut :

2

(58)

“Sistem paron kuwi ono wes ket jaman kakek ninek,wes ora kelingan nek kiro-kiro yo tahun 1951.Biasane yo sek golek yo sek duwe sawah, hake sek duwe sawah akon sek garap, sek garap yo saguh.paron kuwi ora eneng berjanjen nek wes eleh yo pasrah, nek wes ora cocok jaluk di tanduri wong liyo”.3(Sistem paron itu sudah ada dari aman nenek moyang, sudah lupa kira-kira dari tahun 1951Biasanya yang mencari yang mempunyai sawah, haknya yang punya sawah mencari penggarap, penggarap juga bersedia.paron itu tidak ada perjanjianya kalau penggarap sudah bosan ya pasrah, tetapi kalau pemilik sawah sudah tidak cocok minta untuk di kelola oleh orang lain).

Setelah wawancara lebih mendalam mengenai alasan mengapa tidak menggunakan perjanjian secara tertulis madyo pawiro mengungkapkan :

“nak go tulis menulis ki mengko kewuhan luweh repot,okeh sek di urus. Lagian sek garap sawah kan uwes kulino wes koyo sedulur dadi yo percoyo-percoyo wae.”(jika menggunakan perjanjian secara tertulis banyak yang di urus dan repot. Penggarap sawah juga sudah di anggap seperti keluarga sendiri jadi percaya saja)

Dalam Undang-undang No 2 tahun 1960 Tentang Bagi Hasil

Pertanian, pada pasal 3 berbunyi “Semua perjanjian bagi hasil harus di

buat oleh pemilik dan penggarap sendiri secara tertulis di hadapan Kepala Desa atau daerah yang setingkat dengan itu tempat letaknya tanah yang bersangkutan, selanutnya dalam undang-undang ini disebut Kepala Desa dengan dipersaksikan oleh dua orang, masing-masing dari fihak pemilik

dan penggarap”.

Dapat dianalisis dalam pembagian bagi hasil dengan sistem paron di Pedukuhan Kadibeso bertolak belakang antara kenyataan dengan Undang-undang No 2 tahun 1960 Tentang bagi Hasil Pertanian. Masyarakat

3

(59)

Pedukuhan Kadibeso banyak yang belum mengetahui tentang adanya peraturan mengenai Bagi Hasil Pertanian yang di atur dalam Undang-undang No 2 1960. Bentuk perjanjian lisan ini berlaku hingga saat ini, walaupun secara lisan tetapi sampai saat ini belum pernah teradi perselisihan hingga sampai alur hukum.

b. Alasan Terjadinya Sistem Paron 1) Alasan pemilik sawah

Perjanjian bagi hasil dengan sistem paron pada dasarnya terjadi dikarenakan pemilik sawah mempunyai pekeraan lain sehingga tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan sawahnya, oleh karena itu pemilik sawah mencari orang yang bersedia menggarap sawahnya dengan sistem paron. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan pemilik sawah Heri Martuti (40 Tahun) menyatakan sebagai berikut :

“Karena saya mempunyai pekerjaan lain mas jadi saya tidak punya waktu untuk bertani. Selain itu menggarap sawah itu uga tidak sembarangan orang bisa mengerjakan harus dapat memilih benih yang bagus dan pupuk yang cocok.maka saya menawarkan sistem paron kepada orang yang mau.4

Berdasarkan wawancara dengan Joni (36 Tahun) dan Madyo Pawiro (75 Tahun)

“Karena saya selonya cuma hari minggu saja jadi saya minta tolong sama orang lain. Garap sawah itu ya gak bisa

4

(60)

kalau Cuma satu orang tapi saya kalau selo ya ikut ke sawah”.5

“Aku wes wong tuwo le wes ra kuat meneh nak kon neng sawah,dinggo mlaku we angel”.6(saya sudah tua mas sudah tidak kuat lagi, untuk berjalan saja susah)

Dapat disimpulkan dari wawancara diatas alasan pemilik sawah melakukan perjanjian dengan sistem paron:

a) Mempunyai pekerjaan lain.

b) Tidak ada waktu untuk menggarap sawahnya. c) Tidak mempunyai skill yang cukup untuk

menggarap sawah. 2) Alasan penggarap sawah

Pada dasarnya penggarap melakukan bagi hasil pertanian dengan sistem paron dikarenakan tidak adanya pekerjaan lain dan tidak mempunyai lahan garapan sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga penggarap tidak mempunyai pilihan lain kecuali menggarap sawah milik orang lain. Hal ini seperti yang di ungkapkan poniran (62 tahun) sebagai berikut:

“Keuntungane enten sistem paron niku kulo dados gadah pengahasilan ge nyambung urip lan gadah kesibukan.kulo purun maro soale geh pripun maleh kulo isane geh namung buruh tandur”.7(Keuntungan dari sistem paron saya jadi mempunyai penghasilan untuk menyambung hidup dan mempunyai kesibukan.saya mau maro dikarenakan yang bisa saya kerjakan adalah sebagai penggarap sawah

5

Wawancara dengan Joni, pemilik sawah tanggal 20 maret 2016.

6

Wawancara dengan Madyo Pawiro, pemilik sawah tanggal 21 maret 2016.

7

(61)

Peneliti menanyakan lebih dalam mengenai selain bertani

skill dan pendidikan yang dimiliki oleh bapak Poniran :

“sek kulo sageti gih namung tandur niku paling gih kaleh buruh kongkonan. Nek enten sek nyuwun tulung ngresiki plataran nopo kon ngurus tanduran. Kulo namung lulusan SMP”(yang saya bisa hanya menggarap sawah sam menjadi orang suruan semisal ada yang minta tolong untuk membersihkan halaman taua menyirami/merawat tanaman).

Sedangkan Poniyem (75 Tahun) mengatakan :

“yo piye yo le nak ditakoni alasane yo tekmene ket biyen yo wes gaweane ngono kuwi. Lagian yo wes kebacut berjanji karo sek duwe sawah”.8(ya kalau di tanya alasannya dikarenakan dari dulu memenag sudah bertani. Selain itu juga sudah terlanjur ada perjanjian dengan pemilik sawah)

Jadi (35 Tahun) mengatakan:

“Ya karena tidak punya sawah, jadi saya garap sawah milik orang lain. Walaupun saya juga mempunyai ekerjaan lain tetapi hasil dari garap sawah milik orang lumyan bisa buat tambah-tambah”.9

Dapat disimpulkan dari wawancara diatas alasan penggarap sawah melakukan perjanjian dengan menggunakan sistem paron:

a) Tidak mempunyai pekeraan lain b) Tidak mempunyai sawah

c) Karena untuk mencukupi ekonomi keluarga d) Tidak memiliki skill yang cukup

8

Wawancara dengan poniyem, penggarap sawah pada tanggal 20 Maret 2016.

9

(62)

c. Pembagian Hasil Penen dan Kerugian dengan Menggunakan Sistem Paron di Pedukuhan Kadibeso

Pembagian hasil pertanian dengan sistem paron menurut masyarakat Pedukuhan Kadibeso sudah adil dikarenakan dengan adanya sistem paron masyarakat kurang mampu menjadi terbantu dalam segi ekonominya. Selain itu dikatakan adil dikarenakan jika menyewa tanah kas desa mengeluarkan biaya yang cukup besar tidak sebanding jika menggunakan sistem paron.

Berdasarkan wawancara dengan Surami (52 Tahun) mengatakan bahwa:

“Gih nak rumangsa kulo gih adil wong nak nyewo tanah kas niku gih larang,gek niku gih karepe sing garap”.10(kalau menurut saya sudah adil dikarenakan jika menyewa tanah kas desa itu mahal. Lagian yang minta untuk paron itu dari ihak penggarap.

(wawancara dengan Surami, pemilik sawah, tanggal 21 Maret 2016)

Dalam sistem paron jika terjadi kerugian yang sangat dirugikan adalah penggarap. Penggarap dalam satu kali musim panen mengeluarkan setidaknya Rp.700.000 – Rp.1.000.000 untuk mengelola sawah tersebut. Penggarap mengeluarkan biaya tersebut untuk pembelian benih padi, pupuk,dan alat pertanian yang di gunakan untuk mengelola sawah tersebut. Biaya yang sudah dikeluarkan jika terjadi gagal panen maka pemilik sawah tidak menanggung biaya yang sudah dikeluarkan oleh penggarap walaupun pemilik sawah tidak mendapatkan hasil pertanianya

10

(63)

dikarenakan gagal panen. Meskipun penggarap sudah menanggung biaya tetapi penggarap juga tidak mendapatkan hasil dari sawah yang dia kelola. Sistem paron memang terlihat tidak adil, namun sampai dengan saat ini belum pernah terjadi perselisishan atau kesalah pahaman antara pemilik sawah dengan penggarap jika terjadi gagal panen penggarap tetap bersedia untuk menggarap sawah di musim berikutnya.

Seperti hasil wawancara dengan salah satu penggarap, Yatin (78 tahun) menyatakan:

“Nek misal e gagal panen yo sek paling rugi yo aku le,aku garap sawah 300 m2 kuwi ngenteke biaya Rp.750.000 an dinggo werno-werno yen gagal panen sek duwe sawah ora oleh opo-opo sek garap yo ora oleh opo-opo neng aku rugi duwit Rp.750.000 an mau seng wes tak toke dinggo werno-werno mau.intine sek duwe sawah ora ngetoke duit”.11(Jika terjadi gagal panen maka yang paling di rugikan saya mas,saya mengelola sawah 300 m2 itu menghabiskan biaya Rp.750.000 an untuk keperluan sawah jika gagal panen pemilik sawah tidak mendapatkan hasil panen dan penggarap juga tidak mendapatkan apa-apa tetapi saya sudah rugi uang sebesar Rp.750.000 an tadi yang sudah saya keluarkan untuk keperluan sawah tadi.intinya pemilik sawah tidak mengeluarkan uang).

Dari pernyataan diatas, dapt disimpulkan bahwa praktik bagi hasil dengan menggunakan sistem paron jika teradi kerugian maka yang menanggung biaya yang sudah dikeluarkan adalah penggarap sawah meskipun antara pemilik dan penggarap sawah sama-sama tidak mendapatkan hasil dari pertanianya.

11

(64)

Sistem paron yang sudah berkembang di Pedukuhan Kadibeso adalah sistem satu-satunya yang digunakan masyarakat dalam bagi hasil pertanianya. Hal ini sesuai dengan yang di ungakapkan Jadi (35 Tahun) mengatakan bahwa:

“Selain sistem paron tidak ada sistem yang digunakan masyarakat Pedukuhan Kadibeso dalam pembagian pertanianya”.12

Berdasarkan wawancara dengan Poniyem (75 tahun) mengatakan:

“Mboten enten mas, entene gih namung paron niku”.13(Tidak ada

mas, yang ada hanya sistem paron itu”.

Sama halnya dengan yang di ungkapkan oleh Joni (36 Tahun) yang menyatakan:

“Setau saya ya cuma paron atau maro itu.14

Dari pernyataan beberapa responden dapat disimpulkan bahwa sistem paron adalah sistem bagi hasil satu-satunya yang digunakan masyarakat Pedukuhan Kadibeso dalam bagi hasil pertanianya.

d. Kendala Petani Padi Dalam Pengelolaan Lahan Pertanianya

Padi adalah tanaman yang rentan dengan pengaruh cuaca dan ketersediaan air. Faktor angin juga berpengaruh dalam proses pengelolaan tanaman padi. Hal ini sama dengan yang diungkapkan Heri Martuti (40 Tahun) bahwa:

“Kesulitan dalam menggarap sawah itu ya faktor angin mas,seperti -akhir ini anginya kencang itu petani ya agak

12

Wawancara dengan Jadi, penggarap sawah pada tanggal 20 Maret 2016.

13

Wawancara dengan Poniyem, penggarap sawah pada tanggal 21 Maret 2016.

14

(65)

sulit.padi yang belum ada isinya kena angin jadi pada kopong atau gabuk”.15

Sama halnya dengan yang di ungkapkan oleh Jadi (35 Tahun) yang menyatakan:

“Yang paling susah itu untuk pengairanya mas,sebagai petani suka mencari air hingga malam hari”.16

e. Pengetahuan Masyarakat Mengenai Konsep Bagi Hasil Sesuai Dengan Konsep Ekonomi Islam

Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap bagi hasil menurut Islam. Masyarakat pada umumnya hanya mengetahui bahwa dalam Islam di ajarkan , bekerja sama dalam bentuk apapun harus didasari dengan kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab atas amanah yang diberikan.

Berdasarkan wawancara dengan Mardiwiyono (80 Tahun) mengatakan bahwa:

“Miturut kulo dadi nak Islam niku mboten keno goroh, kudu jujur, kudu netepi janji.terus nak nanem misale hasile kathah di paro tenan.mboten terus kulo ngendiko yen hasil e sekedik ben kulo angsal kathah”.17(Menurut saya jika Islam itu tidak boleh berbohong, harus jujur, harus menepati janji.jika hasilnya banyak maka di bagi sesuai dengan apa hasil yang ada.tidak terus mengatakan bahwa hasil panen tersebut sedikit supaya saya mendapatkan hasil yang banyak).

Sama halnya dengan yang di ungkapkan oleh Surami (52 Tahun) yang menyatakan:

15

Wawancara dengan Heri Martuti, pemilik sawah pada tanggal 20 Maret 2016.

16

Wawancara dengan Jadi, penggarap sawah pada tanggal 20 Maret 2016.

17

(66)

“Menurut Islam kiyo bagi-bagi, kan mestine perjanjian sing duwe karep.kan sing garap ora dipekso karo sek duwe sawah”.18(Menurut Islam itu bagi-bagi, perjanjian antara pemilik sawah dengan penggarap. Tidak ada paksaan dalam perjanjian tersebut antara pemilik sawah dengan penggarap).

Dari wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa masyrakat Pedukuhan Kadibeso belum mengetahui tentang bagi hasil secara spesifik yang sesuai dengan konsep Ekonomi Islam. Kurangnya sosisalisasi tentang Ekonomi Islam menjadi salah satu penyebab kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Ekonomi Islam. Dalam sistem paron

masyarakat lebih mementingkan rasa kepercayaan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab antara pemilik sawah dengan penggarap.

B. Pembahasan Praktik Bagi Hasil Petani Pedukuhan Kadibeso Dalam Persektif Islam

Dari hasil penelitian yang didapatkan dari wawancara terhadap pemilik sawah dan penggarap sawah mengenai praktik bagi hasil petani padi yang ditinjau dari konsep Ekonomi Islam di Pedukuhan Kadibeso Desa Sabdodadi Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pembahasan ini penulis akan membahas hasil dari penelitian yang berkenaan tentang praktik bagi hasil petani padi yang ditinau dari konsep Ekonomi Islam di Pedukuhan Kadibeso Desa Sabdodadi Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan dampak terhadap ekonomi masyarakat di Pedukuhan Kadibeso.

18

(67)

Praktik bagi hasil masyarakat dalam pertanian di Pedukuhan kadibeso menggunkan sistem paron. Sistem paron adalah sistem perhitungan antara pemilik modal (sawah pertanian) dengan penggarap. Pemilik sawah biasanya meminta kepada penggarap untuk mengelola sawahnya hingga musim panen tiba. Setelah musim panen tiba kemudian padi yang sudah menjadi gabah di bagi hasilkan 50:50 antara pemilik sawah dengan penggarap. Sistem paron telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Pedukuhan Kadibeso.

Berkaitan dengan sistem bagi hasil tanah pertanian dengan menggunakan sistem paron telah berlangsung sejak lama dan masih berlaku hingga sekarang. Penggarap mengupayakan agar sawah garapannya memberikan hasil yang sebaik-baiknya, namun dalam realitanya terdapat banyak kendala seperti faktor alam. Penggarap harus bersungguh-sungguh dalam pengerjaanya agar memperoleh hasil yang baik.

Dalam Islam sudah diatur mengenai bagi hasil sesuai dengan konsep Islam, yang boleh dilakukan dan yang dilarang dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari Al-Quran dan beberapa hadis berikut:

(68)

dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian lagi mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang kepada penduduk khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilan, baik dari buah – buahan maupun dari hasil pertahun (palawija)” (H.R Muslim)

(69)

tertentu (mukhâbarah), kemudian datanglah kepadanya sebagian dari keluarga pamannya dan mengatakan : Sesungguhnya Rasulullah Saw. melarang akan sesuatu perkara yang sebenarnya bermanfaat bagi kami, dan sungguh ketaatan atas Allah Swt. Dan Rasul-Nya adalah lebih bermanfaat bagi kami. Lalu kami mengatakan: dan apakah perkara itu? Ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda : Barang siapa yang memiliki lahan hendaklah ia menanaminya atau memberikannya kepada saudaranya untuk ditanami. Dan janganlah ia menyewakan sepertiganya, atau seperempatnya, dan tidak juga dengan makanan.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)

لنالَعلضْ اْاِ ْ منلا م فلاْقحِ ا ْناْاثْكاانمكللاقلِ ْيِ خل ِ ْبلِ ِفا ل ْ ع

لِ ِ هلانل

ل ِل ل ْ عَاهفلِ ِ هل ْجِ ْ مُلْملولِ ِ هل ْتج ْخَألا بم ف

ل اخبلال او

Dari jalan Rafi’ bin Khadij, ia berkata: “Kami kebanyakan pemilik tanah di Madinah melakukan muzâra’ah , kami menyewakan tanah, satu bagian daripadanya ditentukan untuk pemilik tanah maka kadang-kadang si pemilik tanah itu ditimpa suatu musibah sedang tanah yang lain selamat, dan kadang-kadang tanah yang lain itu ditimpa suatu musibah, sedang dia selamat, oleh karenanya kami dilarang. (H.R. Bukhari).

لْحل ْ ع

(70)

للاقم ْْبمزلاِنْبمةو ْ معْنع

Dari Urwah ibnu Zubair berkata, berkata Zaid bin Tsabit:“Semoga Allah mengampuni Rafi’ ibnu Khadij. Demi Allah, Aku lebih mengetahui hadits daripada ia. Rasulullah saw melarang menyewakan tanah, dikarenakan pada suatu hari ada dua orang yang bunuh membunuh sebab masalah penyewaan tanah, maka dari itu beliau bersabda: “Jika kamu bertengkar seperti ini, janganlah kamu menyewakan tanah”Rupanya ia hanya mendengar sabda beliau:“Janganlah kamu menyewakan tanah”.(H.R.An Nasa’i)

Dari beberapa hadis di atas dapat disimpulkan bahwasanya Islam membolehkan kerjasama dalam bidang pertanian dengan sistem bagi hasil. Sedangkan hadis yang melarang akad Muzaraah (kerjasama dalam pertanian) adalah ketika pemilk sawah menyewakan sebagian tanahnya kepada penggarap atau membagi atas tanah garap terlebih dahulu Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Ahmad Sarwat yang menyatakan bahwa muzara’ah yang diharamkan semisal, dari luas 1.000 m persegi yang disepakati, pemilik lahan menetapkan bahwa dia berhak atas tanaman yang tumbuh di area 400 m tertentu. Sedangkan tenaga buruh tani berhak atas hasil yang akan didapat pada 600 m tertentu. Hal ini dianggap gharar

Figur

Tabel  1.1  Tinjauan ustaka
Tabel 1 1 Tinjauan ustaka . View in document p.35
Gambar 1 Langkah-langkah teknik pengumpulan data
Gambar 1 Langkah langkah teknik pengumpulan data . View in document p.43
Tabel Tiga.1  Data Demografi
Tabel Tiga 1 Data Demografi . View in document p.48
Gambar  3.1  peta Desa Sabdodadi
Gambar 3 1 peta Desa Sabdodadi . View in document p.49
Tabel  3.2 Penduduk  Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 3 2 Penduduk Berdasarkan Pekerjaan . View in document p.50
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Menurut Agama
Tabel 3 4 Jumlah Penduduk Menurut Agama . View in document p.54
Tabel 3.3  Tingkat Pendidikan Desa Sabdodadi
Tabel 3 3 Tingkat Pendidikan Desa Sabdodadi . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...