• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir pada mahasiswa fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir pada mahasiswa fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SELF ESTEEM DENGAN OPTIMISME

MERAIH KESUKSESAN KARIR PADA MAHASISWA

FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

SKRIPSI

OLEH

MUHARNIA DEWI ADILIA

106070002268

FAKULTAS PSIKOLOGI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahiim

Syukur Alhamdullilah penulis panjatkan untuk kehadirat Allah SWT, karena berkat segala kekuasaan dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Terselesaikannya skripsi ini sebenarnya juga tidak luput dari bantuan pihak luar, oleh karena itu, izinkanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Jahja Umar, Ph. D, Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta jajarannya.

2. Bapak Drs.Rachmat Mulyono M.Si. Psi dan Ibu Liany Luzvinda M.Psi. yang telah membimbing, mengarahkan dan memberikan saran dalam penyusunan skripsi ini. Penulis mendapatkan banyak masukan dari beliau-beliau tersebut, serta terimakasih banyak atas wawasan yang telah diberikan.

3. Bapak Choliluddin A.S., MA sebagai dosen pembimbing akademik

4. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya dengan kesabaran dan keikhlasan.

5. Mama yang disiplin dan dengan segala nasihatnya serta papa yang humoris dengan setiap semangatnya, yang sangat membantu dalam pembuatan skripsi ini, baik itu membantu dalam hal fisik maupun psikis serta doa.

6. Kakak (Puspa ayu) yang banyak membantu dengan pengalamannya, adik (Alin) yang bersedia membantu penulis dalam mengolah data, dan Sami yang banyak membantu dengan tulus

(3)

karya ini secepatnya, namun sekarang telah berada di rengkuhan Allah Swt sebelum penulis menyelesaikan karya ini. Semoga beliau selalu berada dalam naunganNya, amin.

9. Teman-teman “smart, rich and beautiful girl” (semoga kita benar-benar bisa menjadi seperti itu) Malini, Isni, Sila, Mita, Mb mut, Reta, Nining, Ega Nadiah, yang merupakan teman seperjuangan penulis dalam mendapatkan ilmu dan memperoleh cita-cita yang kita harapkan.

10.Semua teman-teman seperjuangan yang telah membantu penulis dalam mendapatkan sampel

11.Qori yang telah banyak membantu dengan membagi ilmunya kepada penulis, Ika membantu dengan semangatnya, dan teman-teman uin yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan makna pertemanan dan persahabatan kepada penulis, mudah-mudahan kita akan tetap dan selalu bersahabat selamanya. 12.Teman-teman kelompok KKL, dimana kita telah melewati waktu yang tidak singkat

dan tidak panjang untuk memahami tentang adanya keterbatasan di sekitar kita. 13.Bapak Syaiful Anam, S. Psi serta seluruh keluarga besar Rumah Sakit Khusus Jiwa

Dharma Graha.

14.Teman-teman angkatan 2006 khususnya kelas C serta angkatan dibawah penulis, terimakasih atas kebersamaan dan pembelajaran selama ini.

15.Staff bagian Akademik, Umum, dan Keuangan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

16.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, karena dukungan moral serta pengertian mereka penulis bisa menyelesaikan laporan ini.

Hanya asa dan doa yang penulis panjatkan semoga pihak yang membantu penyelesaian skripsi ini mendapatkan balasan yag berlipat ganda dari Allah SWT, amiin.

(4)

Akhir kata, besar harapan penulis semoga skripsi ini memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi siapa saja yang membaca.

Jakarta, Agustus 2010

(5)

ABSTRAK A. Fakultas Psikologi

B. Agustus 2010

C. Muharnia Dewi Adilia

D. Hubungan Self esteem dengan Optimisme Meraih Kesuksesan Karir Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

E. Di zaman sekarang mendapatkan pekerjaaan yang sesuai dengan harapan atau sesuai dengan apa yang telah dipelajari di universitas tidaklah mudah. Persaingan yang banyak namun kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang diambil sewaktu kuliah sangat kurang. Adalah hal yang wajar bagi seorang mahasiswa mengalami kecemasan untuk menghadapi kesuksesan karirnya kelak, terutama bagi mahasiswa semester atas yang dianggap tidak lama lagi akan memasuki dunia kerja. Kemampuan dalam menilai dirinya secara unik dan memiliki potensi tersendiri sangatlah dibutuhkan untuk meningkatkan optimisme dan kepercayaan diri dalam menghadapi dunia karir. Karena itu, penelitian ini menguji korelasi antara variable self esteem dengan optimisme karir pada mahasiswa psikologi. Self esteem sendiri merupakan penghargaan diri seseorang dalam menilai diri mereka sendiri. Sedangkan, optimisme merupakan keyakinan diri akan suatu peristiwa atau masa depan akan berjalan dengan baik. Kedua hal tersebut merupakan inti pribadi diri yang penting dalam menjalani suatu kehidupan.

Penelitian ini selain bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara self esteem dan optimisme, juga ingin mengetahui seberapa besar self esteem mahasiswa memberikan sumbangan terhadap keoptimisannya dalam menghadapi kesuksesan karir pada mahasiswa tersebut. Dalam hal ini mahasiswa semester atas atau yang telah mendapatkan mata kuliah peminatan dalam ilmu psikologi yang dinilai telah memiliki gambaran akan karir masa depannya, karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimana self esteem memiliki kaitan terhadap optimisme kesuksesan karir mahasiswa tersebut.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa psikologi UIN Syarif Hidyatullah yang telah mendapatkan mata kuliah peminatan dalam bidang psikologi. Sampel yang dipakai dalam penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa dari angkatan 2006 dan seterusnya. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara

(6)

ini.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode korelatif. Responden diberikan instrumen yang berupa skala yang terdiri dari skala self esteem dan skala optimisme. Dilakukan uji instrumen pada 65 sampel dengan memberikan 80 item pada skala optimis dan 92 item pada skala self esteem kemudian dilaksanakan penelitian terhadap 100 sampel dengan menggunakan skala yang telah valid yang terdiri dari 44 item skala self esteem dan 37 item skala optimisme. Untuk menguji validitas skala, penulis menggunakan rumus product moment Pearson, dengan menggunakan r table sebesar 0,3 pada taraf signifikasi. Beberapa item skala diambil dari skala yang telah baku. Kedua skala tersebut diuji reliabelitasnya dengan menggunakan Alpha Cronbach dimana semakin tinggi koefisien reliabelitas mendekati 1.00 berarti semakin tinggi tingkat reliabelitasnya.. Pada skala self esteem diperoleh hasil koefisien reliabelitasnya sebesar 0,917 yang berarti menempati kriteria yang sangat reliabel. Sedangkan pada skala optimisme terhadap kesuksesan karir masa depan diperoleh hasil koefisien reliabelitas sebesar 0,837 yang berarti menempati kriteria reliabel. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat korelasi antara self esteem

dengan optimisme mahasiswa dalam menghadapi kesuksesaan karirnya. Mahasiswa yang mampu menghargai dirinya secara positif maka ia pun dapat berpikir positif tentang masa depannya karena ia yakin dengan kualitas kemampuannya sendiri. Hubungan antara self esteem dengan optimisme tersebut dapat dibuktikan dengan hasil penelitian ini yaitu dengan r hitung (0,753) > r tabel (0,195), pada taraf signifikansi 5 % maka Ho ditolak dan Ha diterima. Kemudian, hasil uji regresi dengan menggunakan perhitungan komputer dengan program SPSS versi 13.00, bahwa terdapat pengaruh atau sumbangan yag diberikan Self esteem terhadap optimisme karir masa depan sebanyak 56,6%. Self esteem

memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap keoptimisan seorang mahasiswa, dalam hal ini meraih kesuksesan karirnya.

(7)

Kata Pengantar ... i

Abstrak... ii

Daftar Isi... iii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Identifikasi Masalah...9

1.3. Pembatasan Masalah ...9

1.4. Perumusan Masalah ...10

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...10

1.5.1. Tujuan Penelitian ...10

1.5.2. Manfaat Penelitian ...10

1.6. Sistematika Penelitian...11

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Optimisme...13

2.1.1 Pengertian Optimisme...13

2.1.2 Tipe Optimis ...15

2.1.3 Optimisme dalam Meraih Kesuksesan Masa Depan ...17

2.1.4. Aspek-aspek Optimisme ...18

2.1.5. Ciri-ciri Optimisme...21

2.1.6. Manfaat Optimisme ...26

2.1.7. Meningkatkan Optimisme dan Harapan ...30

2.2. Self Esteem ...31

2.2.1. Pengertian Self Esteem...31

2.2.2. Pembentukan Self Esteem...36

2.2.3. Aspek-aspek Self Esteem...38

(8)

2.4. Hipotesis ...48

BAB III METODE PENELITIAN...49

3.1. Metode Penelitian ...49

3.1.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ...49

3.2. Variabel-variabel Penelitian ...49

3.2.1. Definisi Variabel...49

3.3. Pengambilan Sampel ...53

3.3.1. Populasi dan Sampel ...53

3.3.2. Teknik Pengambilan Sampel ...54

3.4. Pengumpulan Data ...55

3.4.1. Teknik Pengumpulan Data...55

3.4.2. Instrumen Pengumpulan Data...56

3.5. Uji Instrumen Penelitian...57

3.6. Prosedur Penelitian...65

3.7. Teknik Analisis Data ...67

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN...68

4.1. Analisis Deskriptif ...68

4.2. Uji Persyaratan...69

4.2.1. Kategorisasi Skor ...69

4.2.1.1. Katagori Skor skala Optimisme ...69

4.2.1.2. Katagori Skor skala Self Esteem...73

4.3. Hasil Penelitian ...76

4.3.1. Uji Korelasi...76

4.3.2. Uji Regresi Linear...77

BAB V KESIMPULAN DISKUSI DAN SARAN...80

5.1. Kesimpulan ...80

(9)

5.3.1. Saran Praktis ...85

Daftar Pustaka ...86

Lampiran I... i

Lampiran II... ii

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kaidah reliabilitas ... 58

Tabel 3.2 Blue print skala optimisme try out... 59

Tabel 3.3 Blue print skala optimisme penelitian ... 61

Tabel 3.4 Blue print skala self esteem try out ... 62

Tabel 3.5 Blue print skala self esteem penelitian... 64

Tabel 4.1 Tabel gambaran responden berdasarkan jenis kelamin ... 68

Tabel 4.2 Gambaran subjek berdasarkan usia... 69

Tabel 4.3 Nilai maksimum, minimum, rata-rata, jumlah total (sum), dan standar deviasi optimisme ... 70

Tabel 4.4 Kategorisasi optimisme... 71

Tabel 4.5 Tabel Optimis berdasarkan jenis kelamin... 71

Tabel 4.6 Kategori Optimis pada perempuan ... 72

Tabel 4.7 Kategori Optimis pada laki-laki... 72

Tabel 4.8 Nilai maksimum, minimum, rata-rata, jumlah total (sum), dan standar deviasi Self esteem... 73

Tabel 4.9 Kategorisasi skor Self esteem... 74

Tabel 4.10 Tabel Self esteem berdasarkan jenis kelamin... 75

Tabel 4.11 Kategori Self esteem pada perempuan ... 75

Tabel 4.12 Kategori Self esteem pada laki-laki... 76

Tabel 4.13 Tabel hasil uji korelasi Self esteem dengan optimisme... 77

Tabel 4.14 Tabel Linearitas ... 78

(11)

MOTTO

“GO CONFIDENTLY IN THE DIRECTION OF

YOUR DREAMS”

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sulitnya mendapatkan pekerjaan di masa globalisasi ini menjadi topik hangat yang sangat meresahkan masyarakat. Dahulu jumlah tenaga ahli sangatlah sedikit dan pada saat itu pula nilai atau value dari seorang mahasiswa pun sangat tinggi, hingga mampu mendapatkan penghargaan melalui pekerjaan yang tepat dan sesuai dengan ilmu yang ia miliki serta peroleh ketika kuliah.

Namun seiring bertambahnya jumlah populasi di Indonesia, Jumlah individu yang lulus dari perguruan tinggi pun makin meningkat dan membuat nilai dari tiap-tiap individu tersebut menurun atau bahkan hilang. Hal ini menyebabkan banyak lulusan dari perguruan tinggi tidak lagi mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang mereka miliki, atau mendapakan pekerjaan yang kurang layak, dan tidak sedikit yang tidak memperoleh pekerjaan sama sekali. Berdasarkan informasi dari surat kabar bahwa, jumlah pengangguran tingkat sarjana dewasa ini melonjak drastis, yakni dari 183.629 lulusan pada tahun 2006 menjadi 409.890 lulusan pada tahun 2007. ditambah dengan pemegang gelar diploma I, II, dan III yang menganggur, sehingga berdasarkan pendataan tahun 2007 lebih dari 740.000 orang ( Kompas, 06/02/2008).

(13)

jumlah pekerjaan yang tersedia dengan nilai dari lulusan perguruan tinggi menjadi alasan utama sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak di masa ini. Karena itu tingkat persaingan di pasar buruh pun menjadi sangat tinggi dan hanya mereka yang memiliki spesialisasi atau keahlian tertentu yang dapat bertahan di persaingan dalam mendapatkan pekerjaan.

Kesadaran akan fenomena tersebut tidak jarang dapat menimbulkan kecemasan pada masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya dalam memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Saat kuliah tentunya seorang mahasiswa memiliki harapan tinggi untuk memperoleh pekerjaan yang layak nantinya, serta dapat mensejahterakan kehidupannya. Namun, sulitnya keadaan sekarang ini justru mempengaruhi keoptimisan mahasiswa dalam memperoleh kesuksesannnya kelak ditengah persaingan pasar yang ketat. Padahal keoptimisan adalah inti dari motivasi seseorang untuk berjuang dalam dunia persaingan ekonomi yang kuat. Tanpa kemampuan untuk berpikir optimis seseorang dapat mengalami tekanan-tekanan dalam dirinya ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya, buruknya hal tersebut dapat mengakibatkan kegoncangan mental seseorang.

(14)

maupun fisik seseorang. Berbagai penelitian banyak yang membuktikan manfaat dari berpikir optimis dan pengaruhnya pada kesuksesan atau keberhasilan masa depannya. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Seligman (Seligman, 2008), diperoleh hasil optimisme sangat berpengaruh pada kesejahteraan psikis dan kesehatan mental seseorang, dapat meningkatkan system imun dan menurukan tingkat stress.

Patton et.al (2004), menyatakan optimisme dianggap sebagai suatu pertimbangan yang memiliki kecenderungan dapat mempengaruhi perasaan, sikap cara berpikir, dan prilaku seseorang dalam situasi tertentu. Creed, Patton, dan Bartrum (2002) melakukan tes peninjauan kembali (dari penelitian Scheier, Carver & Bridges, 1994) mengenai dimensi orientasi kehidupan antara optimisme dan pesimisme dan hubungannya dengan variable karir seperti pengambilan keputusan, kematangan karir, serta tujuan karir masa depan pada siswa SMA. Ditemukan bahwa siswa dengan optimisme yang tinggi menunjukan hasil yang lebih tinggi terhadap rencana dan penjelajahan karir masa depan, mereka telah melakukan pengambilan keputusan tentang karir masa depan, dan lebih memiliki tujuan karir terhadap masa depan mereka. Sebaliknya, pada mereka yang pesimis menunjukan hasil yang rendah terhadap pengetahuan tentang karir masa depan dan lebih ragu-ragu dalam pengambilan keputusan untuk karir masa depan, dan dilaporkan memiliki prestasi sekolah yang lebih rendah. Lazarus (1991) mengidentifikasikan bahwa optimisme dan self esteem merupakan suatu keyakinan diri bahwa hubungan seseorang dan lingkungannya dipengaruhi oleh penilaian dan penyesuaian diri dan secara potensial yang dapat mengurangi pengaruh stress dan adaptasi seseorang terhadap lingkungan.

(15)

menyesuaikan diri pada kondisi depresi, kehilangan harapan, dan keputus asaan yang mengarah pada rasa menyerah, rasa sakit, dan bahkan kematian).

Yates (2002), mengungkapkan terdapat suatu penelitian menetapkan bahwa perbedaan antara orang yang optimis dan pesimis dalam penjelasan atribusi meliputi pada aspek-aspek penting pada penyesuaian pribadi, serta memberikan pengaruh pada kesehatan, motivasi, dan pembelajaran (Peterson & Bossio, 1991; Schulman, 1995). Kecendrungan optimis dan pesimisnya seseorang dibentuk sejak masa kanak-kanak (Nolen-Hoeksema & Girgus, 1995; Yates, 1998a) dari banyaknya pengalaman keseharian (Peterson & Bossio, 1991) yang dapat mempengaruhi kesehatan anak, motivasi dan prestasinya (Seligman, 1990, 1995). Pada suatu tes yang dilakukan di California menggunakan California Achievement Test, anak yang pesimis lebih sedikit mengalami sukses dibanding anak yang optimis (Nolen-Hoeksema & Girgus, 1995). Menurut, Seligman (1995), siswa yang mengembangkan kerangka berpikir yang pesimis memiliki resiko untuk tidak berhasil dalam bidang akademisnya.

Selain itu, menurut Seligman dalam bukunya the optimistic child menyatakan bahwa mereka yang pesimis melakukan suatu pekerjaan lebih buruk dari mereka yang optimis dalam tiga aspek : pertama, mereka lebih sering merasakan depresi. Kedua, prestasi mereka rendah di sekolah, dalam pekerjaan, dan di lapangan bermain dibandingkan bakat yang mereka sebenarnya. Ketiga, kesehatan fisik mereka lebih buruk dibandingkan orang yang optimis.

(16)

seperti dalam surat Al-Hijr ayat 56 dan surat Yusuf ayat 87 dimana Allah SWT membenci orang-orang yang berputus asa.

Di luar medan perjuangan dalam meniti karir, dilihat secara individu bahwa tiap manusia itu unik, dan memiliki karakter yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, termasuk potensi dan kemampuannya sejak dilahirkan. Penilaian orang lain atas dirinya mengenai perasaan, sikap, dan tingkah lakunya merupakan wujud dari self esteem. Self esteem mengacu pada bagaimana seseorang secara subjektif menilai dirinya sendiri, kemampuan serta potensi yang dimilikinya. Seseorang yang positif terhadap potensi-potensi dirinya dan pengembangan dirinya sendiri, diyakini memiliki self esteem yang positif. Dengan kemampuan melihat dirinya secara positif maka kedepannya akan sangat membantu dalam berjuang meniti kesuksesan karirnya sendiri. Seperti pada berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli dimana self esteem berdampak pada kemampuan diri seseorang dalam memperoleh prestasi dan menentukan konsep karir masa depannya. Tidak hanya itu self esteem juga sangat menentukan kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan yang ia miliki.

Gardner, 1981; Holland, 1085; Super 1980 ( dalam Patton et al, 2004) dalam suatu kepustakaan riwayat kerja, mengindikasikan remaja dengan self esteem yang tinggi memiliki konsep yang lebih jelas mengenai ketertarikan terhadap karir dan kemampuan membuat keputusan mengenai karir masa depan dibandingkan siswa yang memiliki self esteem yang rendah.

(17)

berbeda pula seperti dalam hal sosial, pelajaran, olahraga, penampilan dan tingkah laku secara umum. Pada penelitian Harter (1990, 1999) di temukan bahwa, kepuasan dalam hal penampilan fisik memberikan komponen self esteem yang besar, dan pada remaja wanita lebih memiliki ketidak puasan yang besar terhadap penampilan fisiknya dibanding remaja laki-laki.

Suatu penelitian dalam Research Finding and Facts (2003) ditemukan bahwa sepertiga sampai setengah dari remaja berjuang menghadapi self esteem yang rendah, terutama pada remaja awal (Harter, 1990; Hirsch & Dubois, 1991). Self esteem yang rendah berdampak sementara, tetapi dalam kasus yang serius dapat mengarah pada berbagai macam permasalahan, seperti depresi, anorexia nervosa, delinquency, sikap melukai diri sendiri dan bahkan bunuh diri. Remaja dengan self esteem yang rendah lebih banyak berprilaku tidak baik di sekolahnya, hamil, atau menghamili pasangannya. Tetapi juga perlu diketahui bahwa penyebab pasti dari hal tersebut juga tidak jelas, penelitian pun tidak begitu yakin bahwa self esteem yang rendah dapat menjadi penyebab anak muda memiliki masalah prilaku tsb. Sebagai contoh, dilaporkan bahwa anggota geng memiliki self esteem di atas rata-rata. Seorang anak yang memiliki self esteem yang tinggi ketika masa kanak-kanaknya akan memiliki self esteem yang tinggi pula ketika remajanya. Dalam Savin Williams – Demo, 1983; Harter, 1990, banyak penelitian menunjukan bahwa sepanjang masa remaja pertengahan dan remaja akhir hingga masa dewasa awal memiliki self esteem yang stabil dan bahkan terus meningkat.

(18)

utama yang mempengaruhi tingkat keahlian seseorang dalam semua usaha keras. Self esteem berhubungan dengan kesuksesan kerja, prestasi sekolah, keserasian pribadi dan kebahagiaan (Redenbach, 1991). Di kutip dari Malbi & Reasoner (2000), self esteem di indikasikan secara luas sebagai keyakinan individu terhadap dirinya sendiri untuk berkompeten dan berguna dalam kehidupan. Suatu penelitian menunjukan terdapat korelasi yang kuat antara bagaimana seseorang menilai diri mereka dengan pencapaian akademiknya. Mereka yang merasa percaya diri, secara umum lebih berprestasi dibanding mereka yang tidak percaya diri.

Dalam Nave (1990) Self esteem siswa lebih memiliki hubungan yang erat dengan kesuksesan siswa dibanding IQ (Canfield, 1976). Dalam hal itu beberapa Negara bagian di Amerika telah memasukan program peningkatan self esteem dalam kurikulum sekolah. Seperti yang di beritakan bahwa daerah bagian California mempromosikan Self Esteem dengan menggunakan kekuatan tugas lokal. Beberapa sekolah mengadopsi program terbaru untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Berdasarkan survey Departemen Pendidikan US program Self Esteem 86 % dilaksanakan di sekolah SD California dan 83 % pada distrik SMA California (The Patriot News, 1990). Kekuatan tugas yang sama di bentuk di Virginia dan Maryland. Penelitian pun segera dilakukan di Negara bagian ini untuk menemukan bagaimana cara Self Esteem dapat digunakan untuk meningkatkan kesuksesan siswa.

(19)

kemampuan siswa sebelumnya). Beberapa tujuan seharusnya dengan seketika dapat dicapai agar dapat menetapkan kesuksesan secepatnya dan umpan balik yang positif, serta dalam beberapa hal harus melibatkan mimpi panjang mereka yakni cita-cita siswa.

Dalam Nave (1990) mengatakan bahwa ratusan artikel ilmiah mengenai self esteem menyatakan terdapat korelasi yang kuat antara self esteem dengan aktivitas yang dilakukan siswa : anak rumahan memiliki self esteem yang rendah, yang berprestasi tinggi memiliki self esteem yang tinggi, orang yang depresi memiliki self esteem yang rendah, atlit hebat memiliki self esteem yang tinggi, anak yang mendapatkan nilai F memiliki self esteem yang rendah dan seterusnya.

Namun, optimisme saja tidaklah cukup untuk meraih apa yang kita inginkan, karena dalam menggapai kesuksesan haruslah disertai dengan usaha yang nyata. Memiliki optimisme yang tinggi namun usaha yang tidak sepadan dalam menggapai apa yang diinginkan, di ibaratkan seperti doa tanpa usaha, atau berusaha tetapi tanpa pemikiran yang optimis bahwa ia akan sukses, diibaratkan seperti usaha tanpa doa. Antara optimis dan berusaha tidak dapat dipisahkan jika seseorang ingin menggapai kesuksesan karirnya kelak.

(20)

Idealnya seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi, memiliki optimisme yang tinggi pula dalam hal ini optimisme meraih kesuksesan karir masa depan. Sehingga walaupun di masa sekarang sulit mendapat pekerjaan dan banyaknya sarjana yang menganggur, mereka yang memiliki self esteem yang positif dan sangat menyadari potensi dirinya akan memiliki optimisme yang tinggi pula dalam menghadapi karir masa depan mereka.

Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan optimisme, yakni faktor dari dalam diri seperti kreativitas, motivasi, percaya diri, dan faktor internal lainnya. Serta faktor dari luar diri lingkungan sosial, keluarga, budaya, status sosial, agama dll. Penulis tertarik meneliti hubungan antara self esteem dengan optimisme karena penulis ingin mengetahui keterkaitannya lebih jauh dan dapat menginformasikan berbagai manfaat dari optimisme.

1.2 Identifikasi Masalah

• Apakah ada hubungan self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa?

• Seberapa besar pengaruh atau sumbangan yang diberikan self esteem terhadap optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa?

1.3.Pembatasan Masalah

(21)

y Optimisme : Harapan kuat terhadap segala sesuatu yang terdapat dalam kehidupan akan mampu teratasi dengan baik, walaupun ditimpa banyak masalah dan frustasi. Optimisme sebagai kecenderungan untuk memandang segala sesuatu dari segi dan kondisi baiknya dan mengharapkan hasil yang paling memuaskan.

y Mahasiswa yang diteliti adalah mahasiswa fakultas psikologi yang telah mendapatkan mata kuliah peminatan.

1.4. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan di atas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah ada hubungan antara self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa? “

2. Seberapa besar pengaruh atau sumbangan yang diberikan self esteem terhadap optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa?

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.5.1. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah :

1. mengetahui hubungan self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa.

2. Mengetahui seberapa besar pengaruh atau sumbangan yang diberikan Self esteem terhadap optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa.

1.5.2. Manfat Penelitian

(22)

Manfaat praktis: secara praktis, penelitian ini dapat memberikan motivasi kita untuk meraih kesuksesan karir dengan berpikir optimis terutama bagi mahasiswa.

1.6 Sistematika Penelitian

Untuk memudahkan pemahaman pada tulisan ini, maka penulis menyusunnya dalam sistematika penulisan sebagai berikut :

Bab 1 Pendahuluan

Yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab 2 Kajian Pustaka

Bagian ini membahas mengenai teori self esteem (pengertian self esteem, pembentukan harag diri, aspek-aspek self esteem, karakteristik individu berdasarkan self esteem yang dimiliki). Teori optimisme (pengertian optimisme, tipe-tipe optimis, optimis meraih kesuksesan masa depan, aspek-aspek optimis, ciri-ciri optimis, manfaat optimis, meningkatkan optimis dan harapan), kerangka berpikir dan hipotesis.

Bab 3 Metodologi Penelitian

(23)

Bab 4 Presentasi dan Analisis data

Terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, uji instrument penelitian, hasil skala uji validitas skala self esteem dan skala optimisme kesuksesan karir serta hasil uji reliabelitas self esteem dan optimisme kesuksesan karir masa depan. Uji persyaratan yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis serta hasil utama penelitian.

Bab 5 Penutup

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Optimisme

2.1.1. Pengertian Optimisme

Dalam Seligman (1995) optimisme berasal dari kata bahasa inggris yaitu Optimism yang berarti keadaan selalu berpengharapan baik. Selama ini pandangan umum masyarakat mengenai optimisme adalah cara memandang suatu hal seperti melihat gelas yang tidak penuh sebagai gelas yang setengah berisi, dan bukan setengah kosong atau bersikap menguatkan diri dengan kalimat-kalimat positif kepada dirinya sendiri. Tetapi makna optimisme sebetulnya lebih dalam dari itu. Dasar dari optimisme adalah bagaimana cara berpikir seseorang ketika menghadapi suatu masalah.

Menurut Segerestrom, 1998 (dalam Ghufron, 2010) optimisme adalah cara berpikir yang positif dan relistis dalam memandang suatu masalah. Berpikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk. Belsky (1999) berpendapat bahwa optimisme adalah menemukan isnspirasi baru. Kekuatan yang dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan sehingga mencapai keberhasilan.

(25)

keberuntungan sendiri-sendiri. Belsky (1999) berpendapat bahwa optimisme adalah menemukan inspirasi baru. Kekuatan yang dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan sehingga mencapai keberhasilan.

Scheier dan Carver (dalam Snyder dkk, 2005) mengatakan bahwa orang yang optimis adalah orang yang selalu mengharapkan atau menduga bahwa hal baik yang akan terjadi padanya. Lebih lanjut Scheier, Weintraub, dan Carver (1986) meneliti perbedaan cara coping antara orang yang optimis dan pesimis ketika mereka menghadapi situasi stress. Orang yang optimis cenderung akan melakukan coping melalui usaha yang aktif untuk mengatasi masalahnya. Menurut Scehier dan Carver, kamus mendefinisikan optimisme dan pesimisme merupakan keyakinan seseorang terhadap harapan masa depannya.

Menurut Kerley (2006), optimis adalah gaya penjelasan (bagaimana kita menjelaskan sesuatu pada diri kita), dan juga suatu sikap (bagaimana cara kita merasakan sesuatu). Merupakan suatu komponen perilaku yang menghasilkan suatu hasil yang kompleks dari pikiran dan emosi kita. Secara simpelnya optimis berarti meyakini suatu peristiwa akan berjalan baik.

(26)

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa optimis merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menggambarkan perbedaan watak yang didasarkan pada perbedaan pengalaman, latar belakang, dan kehidupan sosial seseorang.

Dalam SIRC (2009) Berdasarkan hasil penelitian (berupa polling, di Inggris) dalam suatu jurnal psikologi menghasilkan bahwa tinggi rendahnya optimisme seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni:

1. faktor dari lingkungan keluarga sebanyak 72%

2. faktor kesehatan diri sebanyak 65%, nampaknya faktor ini merupakan faktor kunci yang mempengaruhi optimisme seseorang dan

3. faktor politik dan ekonomi global sebanyak 12%

Dengan cara yang sama, dari hasil polling (di Inggris) bahwa mayoritas orang sangat merasa optimis dalam hal kehidupan keluarga 61%, hubungan pribadi 53%, dan kehidupan sosial 31%, serta hanya ada 4% yang optimis terhadap masa depan negaranya.

2.1.2 Tipe Optimis

Dari analisis SIRC (Social Issues Research Center, 2009), ditemukan berbagai macam tipe sifat optimisme (menggunakan banyaknya partisipan yang ada dalam polling nasional, dan mereka mendeskripsikan diri mereka sendiri):

(27)

2. Concrete optimist (optimis konkrit) (19%) : saya optimis, tapi saya juga realistik mengenai kemungkinan hasil dari suatu kejadian.

3. Cautious optimist (optimis yang berhati-hati) (18%) : saya optimis, tetapi saya berhati-hati untuk tidak puas dengan keberuntungan baik saya.

4. Situational optimist (optimis terkondisikan) (15%) : tingkat optimis saya berubah-ubah pada setiap situasi.

5. Fatalist (6%) : terutama sekali saya menerima bahwa saya tidak dapat merubah apa yang telah terjadi pada saya, baik itu bagus ataupun buruk.

6. Individualist (3%) : terutama sekali saya yakin bahwa saya dapat mengontrol apa yang akan terjadi pada saya, baik itu bagus atau buruk.

7. Pessimist (3%) : secara umum saya pesisimis apapun situasinya.

8. Contagious optimist (optimis yang menular) (2%) : saya selalu optimis dan keoptimisan saya menular pada mereka yang ada di sekitar saya.

9. Unbashed optimist (sangat optimis) (2%) : saya selalu optimis apapun situasinya.

(28)

2.1.3. Optimisme meraih kesuksesan masa depan

Goleman (2002) mengatakan bahwa optimisme masa depan adalah harapan kuat terhadap segala sesuatu yang terdapat dalam kehidupan akan mampu teratasi dengan baik, walaupun ditimpa banyak masalah dan frustasi. Melihat optimis melalui titik pandang kecerdasan emosional, yakni suatu pertahanan diri pada seseorang agar jangan sampai terjatuh kedalam masa kebodohan, putus asa, dan depresi bila mendapat kesulitan. Dalam menerima kekecewaan, individu yang optimis cenderung menerima dengan respon aktif, tidak putus asa merencanakan tindakan kedepan, mencari pertolongan, dan melihat kegagalan sebagai sesuatu yang dapat diperbaiki. Harapan, menurut peneliti-peneliti modern, lebih bermanfaat daripada memberikan sedikit hiburan ditengah kesengsaraan; harapan memainkan peran yang menakjubkan manfaatnya dalam kehidupan, memberikan suatu keunggulan dalam bidang-bidang yang begitu beragam seperti prestasi belajar dan keberhasilan memikul tugas-tugas yang berat. Harapan, dalam artian teknis adalah lebih daripada pandangan yang optimis bahwa segala sesuatunya akan menjadi beres. Menurut Weinstein (1980) Beberapa data menyatakan bahwa seseorang cenderung bersikap optimisme tidak realistik dalam menghadapi masa depan mereka.

(29)

meraihnya. Bila ingin membandingkan mahasiswa-mahasiswa yang bakat intelektualnya setara dalam segi prestasi akademik, apa yang membedakan mereka adalah harapan.

Menurut Heine dan Lehman (1995), kebanyakan orang nampaknya termotivasi untuk memperhitungkan rasa ancaman yang mereka rasakan ketika menghadapi peristiwa buruk dengan menggunakan keoptimisannya yang tidak realistik untuk memprediksi masa depan mereka.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa optimisme masa depan adalah kecenderungan untuk memandang segala sesuatu dari segi dan kondisi baiknya dan mengharapkan hasil yang paling memuaskan serta cara pandang dan rasa keyakinan seorang tentang masa depannya.

2.1.4 Aspek-Aspek Optimisme

(30)

a. Permanence (hal yang menetap)

gaya ini menggambarkan bagaimana individu melihat peristiwa yang bersifat sementaran (temporary) atau menetap (permanence). Orang-orang yang pesimis melihat peristiwa yang buruk sebagai sesuatu yang menetap dan mereka cenderung menggunakan kata-kata ”selalu” dan ”tidak pernah”, misalnya: ”saya tidak pernah mendapat nilai yang bagus pada mata pelajaran matematika karena kemampuan saya dalam berhitung kurang”. Orang pessimis melihat hal yang baik hanyalah sebagau hal yang bersifat sementara, misalnya: ”saya berhasil dalam ujian itu kerena saya belajar tadi malam”.

Sebaliknya orang yang optimis melihat peristiwa buruk sebagai suatu hal yang hanya bersifat sementara, misalnya: ”akhir-akhir ini kerja tim kita berantakan”. Sementara orang yang optimis melihat hal yang baik sebagai suatu hal yang bersifat permanen, misalnya: ”Saya berhasil mendapat nilai baik karena saya pintar”.

b. Pervasiveness (hal yang mudah menyebar)

(31)

Sementara orang yang pesimis akan melihat kejadian yang baik sebagai suatu hal yang spesifik dan berlaku untuk hal-hal tertentu saja. Misalnya: ”saya mendapat nilai bagus karena saya pintar dalam pelajaran matematika”. Sedangkan, jika menemui kejadian buruk pada satu sisi hidupnya ia akan menjelaskannya sebagai suatu hal yang universal, dan akan meluas keseluruh sisi lain dalam hidupnya, dan biasanya akibat hal ini ia menjadi mudah menyerah terhadap segala hal meski ia hanya gagal dalam satu hal. Misalnya: ”saya tidak akan menjadi juara kelas karena ulangan matematika saya kemarin jelek”.

c. Personalization (hal yang yang berhubungan dengan pribadi)

Personalisasi merupakan gaya penjelasan masalah yang berkaitan dengan sumber dari penyebab kejadian tersebut, meliputi internal dan eksternal.

Ketika mengalami hal yang buruk, orang yang pesimis akan menganggap bahwa hal itu terjadi karena faktor dari dalam dirinya. Misalnya: ”saya mendapat nilai jelek pada ulangan matematika kemarin karena saya tidak pintar berhitung”. Bila dihadapkan pada peristiwa baik ia akan menganggap bahwa hal itu disebabkan oleh faktor luar dirinya. Misalnya: tim saya berhasil menang pada pertandingan tadi malam karena lawan tidak dalam kondisi yang baik”.

(32)

2.1.5 Ciri- ciri Optimisme

Ada beberapa ciri dari optimisme yang diungkapkan oleh para ahli. Martin E.P. Seligman (1995) mengatakan bahwa orang yang optimis percaya bahwa kegagalan hanyalah suatu kemunduran yang bersifat sementara dan penyebabnya pun terbatas, mereka juga percaya bahwa hal tersebut muncul bukan diakibatkan oleh faktor dari dalam dirinya, melainkan diakibatkan oleh faktor luar.

Sementara itu Kerley (2006), mengatakan bahwa ada 12 ciri-ciri orang yang optimis menurut Alan McGinnis, yaitu :

a. Jarang terkejut oleh kesulitan. Hal ini dikarenakan orang yang optimis berani menerima kenyataan dan mempunyai penghargaan yang besar pada hari esok. b. Mencari pemecahan sebagian permasalahan. Orang optimis berpandangan

bahwa tugas apa saja, tidak peduli sebesar apapun masalahnya bisa ditangani kalau kita memecahkan bagian-bagian dari yang cukup kecil. Mereka membagi pekerjaan menjadi kepingan-kepingan yang bisa ditangani.

c. Merasa yakin bahwa mampu mengendalikan atas masa depan mereka. Individu merasa yakin bahwa dirinya mempunyai kekuasaan yang besar sekali terhadap keadaan yang mengelilinginya. Keyakinan bahwa individu menguasai keadaan ini membantu mereka bertahan lebih lama setelah lain-lainnya menyerah.

(33)

e. Menghentikan pemikiran yang negatif. Optimis bukan hanya menyela arus pemikirannya yang negatif dan menggantikannya dengan pemikiran yang lebih logis, mereka juga berusaha melihat banyak hal sedapat mungkin dari segi pandangan yang menguntungkan.

f. Meningkatkan kekuatan apresiasi. Yang kita ketahui bahwa dunia ini, dengan semua kesalahannya adalah dunia besar yang penuh dengan hal-hal baik untuk dirasakan dan dinikmati.

g. Menggunakan imajinasi untuk melatih sukses. Optimis akan mengubah pandangannya hanya dengan mengubah penggunaan imajinasinya. Mereka belajar mengubah kekhawatiran menjadi bayangan yang positif.

h. Selalu gembira bahkan ketika tidak bisa merasa bahagia. Optimis berpandangan bahwa dengan perilaku ceria akan lebih merasa optimis.

i. Merasa yakin bahwa memiliki kemampuan yang hampir tidak terbatas untuk diukur. Optimis tidak peduli berapapun umurnya, individu mempunyai keyakinan yang sangat kokoh karena apa yang terbaik dari dirinya belum tercapai.

j. Suka bertukar berita baik. Optimis berpandangan, apa yang kita bicarakan dengan orang lain mempunyai pengaruh yang penting terhadap suasana hati kita.

(34)

l. Menerima apa yang tidak bisa diubah. Optimis berpandangan orang yang paling bahagia dan paling sukses adalah yang ringan kaki, yang berhasrat mempelajari cara baru, yang menyesuaikan diri dengan sistem baru setelah sistem lama tidak berjalan. Ketika orang lain membuat frustrasi dan mereka melihat orang-orang ini tidak akan berubah, mereka menerima orang-orang itu apa adanya dan bersikap santai. Mereka berprinsip “Ubahlah apa yang bisa anda ubah dan terimalah apa yang tidak bisa anda ubah”.

Robinson dkk (1997), menyatakan individu yang memiliki sikap optimis jarang menderita depresi dan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam hidup, memiliki kepercayaan, dapat berubah kearah yang lebih baik, adanya pemikiran dan kepercayaan mencapai sesuatu yang lebih, dan selalu berjuang dengan kesadaran penuh.

Scheier dan Carver (dalam Snyder, 2002) menegaskan bahwa individu yang optimis akan berusaha menggapai pengharapan dengan pemikiran yang positif, yakin akan kelebihan yang dimiliki. Individu yang optimis biasa berkerja keras menghadapi stress dan tantangan sehari-hari secara efektif, berdoa, dan mengakui adanya faktor keberuntungan dan faktor lain yang turut mendukung keberhasilannya.

(35)

kekalahan hanyalah kegagalan yang sementara, dan itu karena terbatas pada satu hal saja. Orang yang optimis yakin kekalahan bukanlah karena kesalahan mereka : keadaan, keberuntungan atau orang lain yang menyebabkannya. Orang yang seperti itu tidak akan merasa terganggu dengan kekalahannya. Mereka menganggap situasi yang buruk adalah sebagai suatu tantangan dan mereka akan berusaha keras menghadapinya.

(36)

Suatu eksperimen (dalam Seligman 1995) juga menunjukan bahwa orang yang optimis dapat melakukan lebih baik dalam hal sekolah dan kuliah, ditempat kerja dan di lingkungan pergaulannya. Mereka juga secara teratur dapat melebihi prediksi aptitude test. Gaya penjelasan orang yang optimis dapat mengehentikan keputusaan, dimana gaya penjelasan orang pesimis justru menyebarkan rasa keputusasaan. Orang yang depresi secara kontras melihat kesuksesannya disebabkan oleh faktor yang sama dengan kegagalannya.

Teori gaya penjelasan untuk sukses mengatakan bahwa untuk memilih orang-orang yang akan berhasil dalam suatu pekerjaan yang menantang, berdasarkan tiga faktor berikut ; bakat, motivasi, dan optimisme. Ketiga faktor ini yang menentukan kesuksesan seseorang.

(37)

percaya bahwa kejadian-kejadian buruk memiliki penyebab-penyebab yang universal dan kejadian-kejadian baik disebabkan oleh faktor-faktor yang spesifik.

Dalam buku Seligman ”The Optimistic Child” (1995) anak yang optimis dan pesimis memiliki respon yang berbeda dalam menyikapi kejadiaan baik di hidupnya. Anak yang yakin bahwa pristiwa yang baik bersifat permanen lebih optimis dibandingkan anak yang yakin bahwa hal tersebut hanya bersifat sementara.

2.1.6 Manfaat optimisme

Dalam banyak penelitian sebelumnya juga mengatakan banyak manfaat optimis bagi kesehatan fisik dan kesejahteraan psikis. Dalam Jalaludin (1997) tipe orang yang sehat jiwa (healty-minded-ness) menurut W.Starbuck yang dikemukakan oleh W.Hosuton Carlk adalah :

b. Optimis dan Gembira

Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis penuh, perasaan optimis, pahala menurut pandanganya adalah sebagai hasil jerih payahnya yang dberikan tuhan. Sebaliknya, segalabentuk musibah dan penderitaan dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beraggapan sebagai peringatan tuhan terhadap dosa mereka. Meraka yakin bahwa tuhan bersfat pengasih dan penyayang dan bukan pemberi azab.

c. Ekstrovert dan tidak mendalam

(38)

memulai suasana hatinya lepas dari kungkungan ajaran agama yang terlampau menggelimat. Mereka senang pada pemudahan dalam melaksanakan ajaran agama. Sebagai akibatnya mereka kurang senang mendalami ajaran agama. Dosa mereka anggap sebagai perbuatan mereka yang keliru.

d. Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal

Sebagai pengaruh kepribadian yang ekstrovert mereka cenderung: 1. Menyenangi teologi yang lues dan tidak kaku.

2. Menunjukan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas.

3. Menekankan ajaran cinta kasih dari pada kemurkaan dan dosa.

4. Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.

5. Tidak menyenangi implikasi penebusan dosa dan kehidupan kebiaraan.

6. bersifat liberal dalam menafsirkan pengertian ajaran agama

7. Selalu berpandangan positif.

(39)

Sementara, Duffy, dkk (dalam Ghufron, 2010) berpendapat bahwa optimisme membuat individu mengetahui apa yang diinginkan. Individu tersebut dapat dengan cepat mengubah diri agar mudah menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi, sehingga diri tidak menjadi kosong. Individu yang optimis di ibaratkan seperti gelas yang penuh, sedangkan individu yang pesimis seperti gelas yang kosong yang tidak memiliki apa-apa didalamnya. Orang pesimis kurang memiliki kepastian untuk memandang masa depaan dan selalu hidup didalam ketidakpastian dan merasa hidup tidak berguna. Menurut Belsky (1999) optimisme membuat individu memiliki energi tinggi, bekerja keraas untuk melakukan hal yang penting. Pemikiran optimisme memberi dukungan pada individu menuju hidup yang lebih berhasil dalam setiap aktivitas. Dikarenakan, orang yang optimis akan menggunakan semua potensi yang dimiliki.

Menurut Robinson (1980), optimisme telah memberikan kesuksesan pada berbagai aspek seperti kesuksesan pada program perawatan pemberhentian penyalahgunaan alkohol (Strack, Carver, & Blaney, 1987), penyesuaian diri di perguruan tinggi (Aspinwall & Taylor, 1992), resisten dari depresi postpartum (Carver & Gaines, 1987).

(40)

Dalam Seligman (1995) Creedoon menegaskan proses menyerah, berkata tidak, berkecil hati akan mudah kecewa. Semisal pada seorang selesman yang teridentifikasi pesimisme yang dalam quisioner menyerah dengan mudah dan mengalami depresi berbeda dengan orang yang optimis, ia akan kebal terhadap permasalahan tersebut di atas dan mereka cenderung akan berhasil dengan suatu pekerjaan yang lebih menantang.

Selanjutnya Seligman menyatakan pesimisme versus optimisme, individu yang merespon kesulitan sebagai sesuatu yang sifatnya permanen, meluas dan pribadi memiliki gaya penjelasan yang pesimistis, sedangkan individu yang merespon kesulitan sebagai sesuatu yang sifatnya sementara, eksternal dan terbatas memiliki gaya-gaya penjelasan yang optimistik. Dalam Stoltz (2000) dari penelitian Seligman et al, ditemukan bahwa orang-orang optimis lebih unggul dibandingkan orang-orang yang pesimis dalam hidup maupun bidang-bidang pekerjaan.

(41)

dukungan sosial. Hubungan antara kurangnya dukungan sosial dan penyakit menjadi alasan keempat untuk percaya bahwa gaya memberikan penjelasan yang optimis dapat menjadi seseorang menjadi sehat.

Seligman (2002) berpendapat bahwa menemukan penyebab permanen dan universal dari peristiwa baik serta menemukan penyebab temporer dan spesifik untuk musibah, adalah seni dari harapan. Sedangkan, menemukan penyebab permanen dan universal dari peristiwa buruk serta penyebab temporer dan spesifik untuk peristiwa baik adalah perilaku putus asa.

2.1.7 Meningkatkan Optimisme dan Harapan

(42)

2.2. Self Esteem

2.2.1 Pengertian Self Esteem

Menurut Minchinton (1995) self esteem adalah penilaian terhadap diri sendiri. Merupakan tolak ukur harga diri kita sebagai seorang manusia, berdasarkan pada kemampuan penerimaan diri dan prilaku sendiri atau tidak. Dapat juga dideskripsikan sebagai penghormatan terhadap diri sendiri atau perasaan mengenai diri yang berdasarkan pada keyakinan mengenai apa dan siapa diri kita sebenarnya. Self esteem bukan hanya sekedar aspek atau kualitas diri tetapi dengan pengertian yang lebih luas yang merupakan kombinasi yang berhubungan dengan karakter dan perilaku.

Dalam hal ini pentingnya self esteem merupakan inti diri kita-dasar dalam diri yang kita bangun dalam hidup kita. Selama kita tidak hidup sendirian dibumi ini, perasaan mengenai diri sendiri dapat mempengaruhi bagaimana cara berhubungan dengan orang lain disekitar kita dan pada setiap aspek dalam hidup kita.

Menurut James, 1980 Self esteem adalah evaluasi terhadap diri sendiri (dalam Baron, 2003). Menurut Frey dan Carlock (1984), jika penilaian terhadap diri positif, dimana ia menerima diri atau memiliki penghargaan yang baik terhadap diri, maka individu tersebut dikatakan memiliki self esteem yang tinggi. Self esteem menunjukan keputusan yang diambil seseorang apakah ia menilai dirinya secara negatif, positif, atau netral yang ditempatkan dalam suatu wadah konsep diri.

(43)

yaitu pengertian yang berhubungan dengan harga diri akademik dan harga diri non akademik. Contoh harga diri akademik adalah jika seseorang memiliki harga diri tinggi karena kesuksesannya dibangku sekolah, tetapi pada saat yang sama ia tidak merasa berharga karena penampilan fisiknya kurang meyakinkan, misalnya postur tubuhnya terlalu pendek. Sementara itu, contoh harga diri non-akademik adalah jika seseorang mungkin memiliki harga diri yang tinggi karena cakap dan sempurna dalam salah satu cabang olahraga tetapi, pada saat yang sama merasa kurang berharga karena kegagalannya di bidang pendidikan khususnya berkkaitan dengan kecakapan verbal.

Menurut Branden (1992) self esteem merupakan kepercayaan diri pada kemampuan kita dalam menghadapi tantangan hidup, keyakinan akan diri kita memiliki hak untuk bahagia, perasaan berharga, berjasa, berhak untuk menyatakan kebutuhan dan keinginan kita, dan menikmati buah dari usaha kita.

Menurut Gecas 1982; Rosenberg 1990; Rosenberg et.al 1995, (dalam Cast & Burke, 2002) self esteem secara keseluruhan menunjuk kepada evaluasi diri yang positif. Terdiri atas dua dimensi yaitu kemampuan dan keberhargaan (Gecas 1982; Gecas & Schwalbe 1983). Dimensi kemampuan ( bermakna berdasar pada self esteem) menunjuk pada tingkat dimana seseorang melihat dirinya sendiri sebagai sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dan bermakna. Dimensi keberhargaan diri (berharga berdasar pada self esteem) menunjuk pada tingkat dimana individu merasa diri mereka sebagai seseorang yang bernilai.

(44)

Dalam menggambarkan self esteem Frey dan Carlock (1984), secara garis besar mengatakan bahwa self esteem terdapat dua pengertian yang saling berkesinambungan tentang self atau diri. Kedua orang ini mengatakan bahwa komponen self atau diri itu terdiri dari komponen kognisi dari diri mencakup hal-hal mengenai apa dan siapa dirinya, tentang tujuan dan cita-cita, kepercayaan, moral, dan nilai yang dianutnya. Sedangkan komponen afeksi dari diri adalah semua yang termasuk dalam perasaan-perasaan tentang diri sendiri, baik yang positif ataupun yang negatif. Kesadaran tentang diri dan perasaan terhadap diri sendiri itu akan menimbulkan penilaian terhadap diri sendiri, baik positif maupun negatif. Sikap apakah mereka menerima atau menolak diri inilah yang menunjukan harga diri seseorang. Jika penilaian terhadap dirinya positif, dimana ia menerima diri atau memiliki penghargaan yang baik terhadap diri, maka individu tersebut memiliki self esteem yang tinggi.

Self esteem adalah suatu konsep penting dan popular, baik dalam ilmu sosial maupun kehidupan sehari-hari. Branden (2007), menjelaskan bahwa tanpa dibekali self esteem yang sehat, individu akan mengalami kesulitan untuk mengatasi tentangan hidup maupun untuk merasakan berbagai kebahagiaan dalam hidupnya. Branden juga mengatakan bahwa self esteem mengandung nilai keberlangsungan hidup (survival value) yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Hal ini memungkinkan self esteem mampu memberikan sumbangan bermakna bagi proses kehidupan individu selanjutnya, maupun bagi perkembangan pribadi yang normal dan sehat.

(45)

mendapatkan informasi positif tentang diri mereka sendiri) atau self-verification (untuk mengkonfirmasi sesuatu yang sudah mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Motif mana yang paling aktif akan tergantung dari budaya dan kepribadian seseorang, serta situasi yang dihadapinya (Booson & Swann, 1999; Rudich & Valacher, 1999; Taylor, Neter, & Wayment, 1995). Memiliki self esteem yang tinggi berarti seorang individu menyukai dirinya sendiri. Evaluasi positif ini sebagian berdasarkan opini orang lain dan sebagian lagi berdasarkan dari pengalaman spesifik. Perbedaan budaya juga mempengaruhi apa yang penting bagi self esteem seseorang. Sebagai contoh, harmoni dalam hubungan interpersonal merupakan elemen yang penting dalam budaya kolektivis, sementara harga diri adalah hal yang penting bagi budaya individualis (Kwan, Bond, & Singelis, 1997).

Menurut Longmore & DeMaris, 1997; Pearlin & Scholer, 1978; Spencer, Josephs, & Steele, 1993; Thoits, 1994 (Dalam Cast dan Burke, 2002) bahwa penelitian terhadap self esteem secara umum meneruskan asumsi awal salah satu dari tiga konsep, dan tiap konsep hampir diperlakukan sebagai konsep yang dapat berdiri sendiri dari yang lainnya. Konsep-konsep tersebut yakni :

(46)

antara penyempurnaan diri dengan tujuan seseorang. Hal ini berkaitan dengan persepsi diri mengenai kesuksesan, dan standar tujuan seseorang.

• Kedua, self esteem diselidiki sebagai suatu motif diri, tidak ada kecendrungan seseorang untuk bertindak dalam memelihara atau meningkatkan penilaian positif diri (Kaplan, 1975; Tesser, 1988). Self esteem sebagai perlindungan diri, ketika seseorang ingin membuktikan diri mereka, perasaan akan kompetensi dan keberhargaaan akan meningkat, dengan begitu akan ada gangguan-gangguan emosi negatif selama proses pembuktian diri ini terjadi. Emosi negatif terebut dapat berbentuk depresi dan kecemasan (Burke 1991;, 1996 Higgins 1989). Seseorang harus memiliki sesuatu yang dapat mendukung mereka ketika periode ini terjadi agar tidak terjadi penumpukan yang berlebihan. Self esteem dapat menjadi sumber tersebut yang berfungsi mengatur hubungan sosial individu.

(47)

2.2.2Pembentukan Self esteem

Menurut Bradshaw (dalam Ghufron 2010) proses pembentukan Self esteem telah dimulai sejak bayi merasakan tepukan pertama kali yang diterima orang mengenai kelahirannya. Darajat (1980) menyebutkan bahwa Self esteem sudah terbentuk pada masa kanak-kanak sehingga seorang anak sangat perlu mendapatkan rasa penghargaan dari orang tuanya. Proses selanjutnya, Self esteem dibentuk melalui perlakuan yang diterima individu dari orang lingkungannya. Seperti dimanja dan diperhatikan orang tua dan orang lain. Dengan demikian harga diri bukan merupakan faktor yang bersifat bawaan, melainkan faktor yang dapat dipelajari dan terbentuknya sepanjang pengalaman individu.

(48)

masing-masing individu bervariasi, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Hal ini berkaitan erat dengan mekanisme pembentukan Self esteem.

Menurut Coopersmith seperti yang dikutip dalam Ghufron (2010) bahwa pembentukan Self esteem dipengaruhi beberapa faktor yaitu :

1. Keberartian individu

Keberartian diri menyangkut seberapa besar individu percaya bahwa dirinya mampu, berarti, dan berharga menurut standard an nilai pribadi. Penghargaan inilah yang dimaksud dengan keberartian diri.

2. Keberhasilan seseorang

Keberhasilan yang berpengaruh terhadap pembentukan harga diri adalah keberhasilan yang berhubungan dengan kekuatan atau kemampuan individu dalam mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri maupun orang lain. 3. Kekuatan individu

Kekuatan individu terhadap aturan-aturan, norma, dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam masyarakat. Maka, semakin besar kemampuan individu untuk dapat dianggap sebaagai panutan masyarakat. Oleh sebab itu, semakin tinggi pula penerimaan masyarakat terhadap individu bersangkutan. Hal ini mendorong harga diri tinggi.

(49)

2.2.3 Aspek-Aspek Self Esteem

Menurut Minchinton (1993) Self esteem bukanlah sifat atau aspek tunggal saja, melainkan sebuah kombinasi dari beragam sifat dan prilaku. Minchiton menjabarkan tiga aspek self esteem, yaitu perasaan mengenai diri sendiri, perasaan terhadap hidup, serta hubungan dengan orang lain.

1.Perasaan mengenai diri sendiri

Seseorang haruslah menerima dirinya secara penuh, apa adanya. Mampu menilai diri kita sendiri sebagai seorang manusia. Dengan begitu, perasaannya tentang dirinya sendiri tidak bergantung pada kondisi eksternal. Apapun yang terjadi kita dapat merasa nyaman dengan diri kita sendiri dan dapat menilai keunikan yang ada didalam diri kita tanpa menghiraukan karakter atau kemampuan yang kita punya atau tidak punya.

Seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi dapat menghormati dirinya dan memiliki keyakinan penuh bahwa diri kita adalah sesosok yang penting, dan apapun itu jika tidak berlaku bagi orang lain, setidaknya berlaku bagi diri kita sendiri. Selain itu juga dapat memaklumi dan memaafkan diri sendiri, atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ia miliki.

Mereka yang memiliki harga diri yang tinggi juga mampu menghargai nilai personal mereka sebagai seorang individu, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain. Mereka tidak akan merasa lebih baik ketika mereka dipuji atau merasa buruk ketika mereka di kritisi. Perasaan baik kita mengenai diri kita sendiri tidak bergantung pada kondisi luar.

(50)

self esteem rendah, akibatnya suasana hatinya (mood) pun menurun. Setiap kali seseorang mengatakan sesuatu tentang dirinya, apakah dari pasangan, guru, pimpinan, orang tua, atau saudara kandung, ia akan menerima komentar tersebut begitu saja dan membiarkan pikiran orang ‘melumpuhkan’ kehidupannya. Kemudian, ia pun mulai mempercayai ucapan orang tersebut meskipun jauh di lubuk hati dan jiwanya, ia tahu itu tidak benar, pada akhirnya ia akan merasa cemburu, tidak bahagia, dan depresi.

2.Perasaan terhadap Hidup

Perasaan terhadap hidup berarti menerima tanggung jawab atas sebagian hidup yang dijalaninya. Maksudnya, seseorang dengan self esteem tinggi akan menerima realita dengan lapang dada dan tidak menyalahkan keadaan hidup ini (atau orang lain) atas segala masalah yang dihadapinya. Ia sadar bahwa semuanya itu terjadi dengan pilihan dan keputusannya sendiri, bukan karena faktor eksternal. Karena itu, ia pun akan membangun harapan atau cita-cita secara realistis: sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Perasaan seseorang terhadap hidup juga menentukan apakah ia akan menganggap sebuah masalah adalah rintangan hebat atau kesempatan bagus untuk mengembangkan diri. Selain itu, seseorang dengan self esteem tinggi juga tidak berusaha mengendalikan orang lain atau situasi yang ada. Sebaliknya, ia akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.

3.Hubungan dengan Orang Lain

(51)

dengan self esteem tinggi mampu memandang hubungannya dengan orang lain secara lebih bijaksana.

Saat seseorang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, ia pun akan menghormati orang lain sebagaimana adanya mereka. Ia tidak akan memaksakan kehendak atau nilai-nilai kepada orang lain karena ia tidak membutuhkan penerimaan dari orang tersebut agar ia merasa berharga.

Mereka memiliki pemikiran yang masuk akal, dapat menerima kekurangan orang lain, berwatak tenang, fleksibel, dan bertanggung jawab dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Memandang tiap orang secara sama dan dapat menghormati orang lain tanpa pandang bulu.

2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Esteem

Ghufron (2010) menyatakan harga diri (Self esteem) dalam perkembangannya terbentuk dari hasil interaksi individu dengan lingkungan dan atas sejumlah penghargaan, penerimaan, dan pengertian orang lain terhadap dirinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor internal seperti jenis kelamin, intelegensi, kondisi fisik individu dan faktor eksternal seperti lingkungan sosial, sekolah, dan keluarga. Beberapa faktor yang mempengaruhi harga diri antara lain :

1. Faktor jenis kelamin

(52)

dengan penelitian dari Coopersmith (1967) yang membuktikan bahwa harga diri wanita lebih rendah daripada harga diri pria.

2. Inteligensi

Intelegensi sebagai gambaran lengkap kapasitas fungsional individu sangat erat berkaitan dengan prestasi karena pengukuran intelegensi selalu berdasarkaan kemampuan akademis. Menurut, Coopersmith (1967) individu dengan harga diri yang tinggi akan mencapai prestasi akademik yang tinggi daripada individu dengan harga diri yang rendah. Selanjutnya, dikatakan individu dengan harga diri yang tinggi memiliki skor intelegensi yang lebih baik, taraf aspirasi yang lebih baik, dan selalu berusaha keras. 3. Kondisi Fisik

Coopersmith (1967) menemukan adanya hubungan yang konsisten antara daya tarik fisik dan tinggi badan dengan harga diri. individu dengan kondisi fisik yang menarik cenderung memiliki harga diri yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi fisik yang kurang menarik.

4. Lingkungan Keluarga

(53)

menentukan perkembangan harga diri anak. Orang tua yang sering memberikan hukuman dan larangan tanpa alasan dapat menyebabkan anak merasa tidak berharga.

5. Lingkungan Sosial

Klass dan Hodge (1978) berpendapat bahwa pembentukan harga diri dimulai d ari seseorang yang menyadari dirinya berharga atau tidak. Hal ini merupakan hasil dari proses lingkungan, penghargaan, penerimaan, dan perlakuan orang lain kepadanya. Sementara menurut Coopersmith (1967) ada beberapa ubahan dalam harga diri yang dapat dijelaskan melalui konsep-konsep kesuksesan, nilai, aspirasi, dan mekanisme pertahanan diri. kesuksesan tersebut dapat timbul melalui pengalaman dalam lingkungan, kesuksesan dalam bidang tertentu, kompetisi dan nilai kebaikan. Selanjutnya, Branden (1981) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri dalam lingkungan pekerjaan adalah sejumlah dimensi pekerjaan seperti kepuasan kerja, penghasilan, penghargaan orang lain, dan kenaikan jabatan atau pangkat.

2.2.4 Karakteristik Individu Berdasarkan Harga Diri (Self Esteem) yang dimiliki Minchinton (1993) menjelaskan sekurang-kurangnya terdapat beberapa karakteristik individu ditinjau dari tinggi rendahnya atau positif negatifnya self esteem, yaitu:

a. Karakteristik individu dengan self esteem tinggi

(54)

dirinya, berprasangka baik terhadap dirinya sendiri, jika tidak bagi orang lain, setidaknya bagi dirinya sendiri serta memiliki kontrol emosi yang baik dan terbebas dari perasaan yang tidak menyenangkan, kemarahan, ketakutan, kesedihan dan rasa bersalah. 2) Seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi memiliki suatu

keyakinan bahwa ia memiliki rasa bertanggung jawab dan merasa mampu mengontrol setiap bagian kehidupannya.

3) Tingginya self esteem dapat terlihat dari bagaimana cara seseorang dalam bentuk rasa penghormatan, toleransi, kerja sama dan saling memiliki antara satu dengan yang lain.

4) Seseorang dengan self esteem yang tinggi dapat merancang, merencanakan, dan merealisasikan segala sesuatu yang diharapkan atau menjadi tujuan hidupnya secara optimal.

b. Karakteristik individu dengan self esteem yang rendah

1) Seseorang dengan self esteem yang rendah meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan instrinsik yang kecil, meragukan kemampuan dirinya, merasa bahwa keberhasilan yang diperolehnya merupakan sebuah prestasinya, selalu takut untuk mencoba segala sesuatu dan memiliki kontrol emosi yang buruk, merasa tidak bahagia, tertekan serta merasa bahwa dirinya tidak berarti atau sia-sia.

(55)

3) Seseorang yang memiliki self esteem yang rendah tidak dapat merasakan arti pentingnya hubungan interpersonal, bersikap tidak toleran, kurang dapat bekerja sama, dan kurang rasa memiliki antara satu sama lainnya.

4) Seseorang dengan self esteem yang rendah juga kurang dapat merancang, merencanakan, dan merealisasikan segala sesuatu yang diharapkan atau menjadi tujuan hidupnya secara optimal.

Menurut Minchinton (1995) Individu dengan self esteem yang tinggi akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan mereka, karena mereka dapat mengekspresikan diri dengan baik dalam lingkungan dimana mereka berada. Lain halnya dengan individu yang memiliki self esteem rendah, mereka dikatakan kurang dapat mengekspresikan diri dengan baik dan sangat tergantung dengan lingkungan mereka. Kebanyakan dari mereka merasa takut akan mengalami kegagalan dalam mengadakan hubungan sosial dengan orang lain dalam lingkungan mereka karenanya secara pasif selalu mengikuti apa yang ada dalam lingkungan.

(56)

Menurut Dodgson & Wood, 1998 (dalam Baron, 2003) mereka dengan self esteem yang tinggi dapat mengingat kejadian yang menyenangkan lebih akurat yang nantinya dapat membantu mereka dalam menghasilkan evaluasi diri positif. Sebaliknya mereka dengan self esteem yang rendah mengingat kejadian yang tidak menyenangkan lebih akurat, dengan begitu akan menghasilkan evaluasi diri negatif pula (Story, 1998). Dalam hal yang sama, mereka dengan self esteem yang rendah akan fokus pada kelemahan mereka ketika merekan mengalami kegagalan, sedangkan mereka dengan self esteem yang tinggi akan fokus pada kekuatan mereka ketika mengalami kegagalan.

Branden, (1987) mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki harga diri tinggi yaitu : 1. Mampu menanggulangi kesengsaraan dan kemalangan hidup, lebih tabah

dan ulet, lebih mampu melawan suatu kekalahan, kegagalan, dan keputuasaan.

2. Cenderung lebih berambisi

3. Memiliki kemungkinan untuk lebih kreatif dalam pekerjaan dan sebagai sarana untuk menjadi lebih berhasil

4. Memiliki kemungkinan lebih dalam dan besar dalam membina hubungan interpersonal (tampak) dan tampak gembira dalam menghadapi realitas.

(57)

yang memiliki bakat-bakat pribadi yang khas serta kepribadian yang berharga dalam hubungannya dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang merasa rendah diri, memiliki gambaran negatif pada diri, sedikit mengenal dirinya sehingga menghalangi kemampuan untuk menjalin hubungan, merasa tidak terancam, dan berhasil. Rasa rendah diri dan gambaran diri yang negative tercermin pada orang-orang yang rendah kemampuan sendiri.

Frey dan Carlock (1984) mengemukakan bahwa individu dengan harga diri yang tinggi mempunyai ciri-ciri diantaranya mampu menghargai dan menghormati dirinya sendiri, cenderung tidak menjadi perfect, mengenali keterbatasannya, dan berharap untuk tumbuh. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah mempunyai ciri-ciri cenderung menolak dirinya dan cenderung tidak puas.

Menurut Ghufron (2010) bahwa harga diri dapat menimbulkan dampak pada diri seseorang dan lingkungannya. Individu dengaan harga diri yang tinggi cenderung membawa dampak yang positif. Tidak saja untuk dirinya, tetapi juga orang lain yang ada di lingkungannya. Sementara, individu dengan harga diri yang rendah cenderung menimbulkan dampak kurang menguntungkan bagi perkembangan potensinya.

2.4. Kerangka Berpikir

(58)

dianggap sebagai kunci utama dalam memotivasi untuk mengembangkan tujuan dan harapan karir masa depan.

Dari beberapa penelitian yang telah ada orang yang self esteem-nya rendah adalah orang yang pesimis dan cenderung ragu-ragu terhadap karir masa depannya. Sebaliknya pada mereka yang memiliki self esteem yang tinggi adalah mereka yang optimis terhadap kesuksesan karir masa depannya. Dalam Seligman (2008), Pada tahun 1990, badan pembuat undang-undang di California mensponsori agar penghargaan diri (self esteem) diajarkan disekolah-sekolah dengan tujuan menjadi “vaksin” untuk melawan penyakit-penyakit sosial seperti kecanduan obat terlarang, keinginan bunuh diri, menggunakan kekayaan, kehamilan pada remaja, serta depresi (menurut kajian Menuju Negara yang Bermartabat, 1990), dan melihat beberapa bukti bahwa anak-anak muda yang penghargaan dirinya tinggi menyebabkan tingkat keberhasilan akademisnya lebih baik, semakin populer, rendahnya kehamilan pada remaja, rendahnya ketergantungan pada kesejahteraan, seperti yang dilaporkan oleh berita di California.

(59)

Dikatakan juga oleh Seligman (2008) bahwa optimisme menyebabkan seseorang menilai lebih baik dan pesimisme membuat seseorang menilai lebih buruk. Menilai dengan baik membuat seseorang menjadi optimis dan menilai dengan buruk membuat orang menjadi pesimis. Berdasarkan teori dari Seligman tersebut disini penulis berasumsi bahwa hal tersebut menjelaskan bagaimana seseorang yang menilai dirinya dengan baik atau positif akan membuatnya menjadi optimis. Kemampuan dalam menilai diri ini adalah bagaimana seseorang memberi penghargaan atas dirinya sendiri, apakah evaluasi terhadap diri dinilai sebagai sesuatu yang positif atau negatif yang nantinya dapat membuatnya menjadi optimis atau malah sebaliknya pesimis. Sedangkan seseorang yang dapat menilai dirinya secara positif diasumsikan memiliki pemikiran yang lebih optimis dibandingkan seseorang yang menilai dirinya secara negatif. Asumsi penulis tersebut dapat digambarkan melalui bagan di bawah ini :

Optimisme meraih kesuksesan karir

mahasiswa yang rendah Optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa yang tinggi Self

Esteem

Rendah Tinggi

2.4. Hipotesis

Ho: Tidak ada hubungan yang signifikan antara self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir masa depan.

(60)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

3.1.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Karena dalam pengolahan data peneliti menggunakan perhitungan statistik yang telah baku dan menampilkan hasil berupa angka-angka. Sedangkan metode penelitian ini adalah penelitian korelatif. Karena bertujuan untuk mencari apakah ada hubungan antara self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir mahasiswa.

Menurut Sevilla (1993) penelitian korelasi dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Melalui penelitian tersebut dapat memastikan berapa besar yang disebabkan oleh satu variabel dalam hubungan dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain. Pengukuran korelasi ini digunakan untuk menentukan besarnya arah hubungan. Penelitian korelasi tidak memerlukan sampel yang besar. Diasumsikan jika ada pertalian maka akan merupakan bukti bahwa sampel yang digunakan adalah mewakili populasi yang kita selidiki dan instrumen yang digunakan dapat dipercaya dan shahih.

3.2. Variabel-variabel Penelitian 3.2.1 Definisi Variable

(61)

Variabel dibagi atas dua macam, yaitu variable bebas (independent variable) dan variable terikat (dependent variable). Dalam penelitian ini yang menjadi kedua variabel tersebut adalah:

1. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Dependent variable dalam penelitian ini adalah Optimisme. • Definisi Konseptual dari optimisme

adalah menurut Seligman (1995), keadaan selalu berpengharapan baik. Bersikap menguatkan diri dengan kalimat-kalimat positif kepada dirinya sendiri. Tetapi makna optimisme sebetulnya lebih dalam dari itu. Dasar dari optimisme adalah bagaimana cara berpikir seseorang ketika menghadapi suatu masalah.

Optimis adalah adalah keyakinan dan kepercayaan individu terhadap terwujudnya harapan akan sesuatu yang baik terjadi di masa depan. Optimisme adalah cara seseorang memandang positif akan segala hal yang terjadi pada dirinya.

y Definisi operasional dari optimisme

Optimis adalah sikap menguatkan diri dengan kalimat-kalimat positif kepada dirinya sendiri yang diukur menggunakan skor yang diperoleh dari pengukuran terhadap aspek-aspek yang terdapat dalam optimis, dengan menggunakan skala optimisme. Adapun aspek-aspek dalam optimis adalah ; permanence, pervasiveness, dan personalization.

Gambar

Tabel 3.1 Kaidah Reliabilitas Guilford
Tabel 3.2 Blue Print Skala Optimisme dalam Meraih Kesuksesan Karir Masa Depan
Tabel 3.3 Blue Print Skala Optimisme dalam Meraih Kesuksesan Karir Masa Depan
Tabel 3.4
+7

Referensi

Dokumen terkait