Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dalam Mengawasi Tayangan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Di Rcti

135  80 

Teks penuh

(1)

TUKANG BUBUR NAIK HAJI DI RCTI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh

RANNI JUWITA

NIM: 109051000165

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu (S1) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini merupakan hasil plagiat atau hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, November 2013 Penulis

(5)

i

“Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam Mengawasi Tayangan

Sinetron Tukang Bubur Naik Haji di RCTI”.

Ditengah perkembangan zaman era globalisasi sekarang ini, televisi merupakan salah satu media yang paling berpengaruh bagi khalayak, berbagai macam informasi baik yang bersifat edukatif, hiburan maupun keagamaan dapat tersampaikan kepada khalayak melalui televisi. Sinetron religi merupakan salah satu program yang menjadi prioritas di berbagai stasiun televisi. Salah satunya sinetron religi Tukang Bubur Naik Haji yang saat ini sedang marak sekali di stasiun televisi RCTI dan menjadi sinetron terfavorit. Namun yang kita ketahui ada pelanggaran yang terjadi pada peran antagonis di dalam sinetron ini, maka disinilah peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga independen Negara memiliki tugas dan wewenang yang diatur dalam Undang-undang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang penyiaran.

Berdaskarkan konteks diatas, maka pertanyaan mayor dalam penelitian ini adalah bagaimana peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mengawasi tayangan sinetron religi di televisi? Pertanyaan minornya bagaimana regulasi penyiaran dapat di aplikasikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam Undang-Undang penyiaran No. 32/2002? Bagaimana regulasi penyiaran dapat diaplikasikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam Pedoman Perilaku penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS)?

Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang lebih terlihat adalah fungsi lembaga regulator yang berjalan di KPI sebagai regulatory body media penyiaran di Indonesia. Dua fungsi yang terlihat dominan dilaksanakan oleh KPI adalah peran sebagai complain commission (komisi komplain) atau wadah aduan masyarakat serta fungsi kontrol dan pemberi sanksi mulai dari denda hingga pencabutan izin.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain deskriptif. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui bagaiamana KPI sebagai lembaga regulasi melaksanakan pengawasanya dengan menggunakan Undang-undang Penyiaran No.32 Tahun 2002 dan menggunakan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS).

Model yang dipakai dalam penelitian ini adalah Demokratis-Partisipan Model. Model Demokratis-Partisipan ini digunakan di banyak negara demokratis. Sifat komunikasi dalam model ini adalah komunikasi dua arah (two-way-communication). Regulasi hukum penyiaran di Indonesia berpangkal pada Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002, sedangkan Komisi Penyiaran Indonesia telah menyusun P3 dan SPS disusun dengan dasar pertimbangan bahwa dalam rangka pengaturan perilaku lembaga penyiaran dan lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam dunia penyiaran di Indonesia dibutuhkan suatu pedoman yang wajib dipatuhi.

Proses Pengawasan yang dilakukan KPI pada akhirnya menegaskan pentingnya regulasi di bidang penyiaran, dan pentingnya lembaga regulasi penyiaran sepperti KPI dengan menggunakan UU Penyiaran No.32/2002 dan P3 dan SPS.

(6)

ii

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan mengucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga Allah SWT limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya.

Sekalipun skripsi yang berjudul “Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

dalam Mengawasi Tayangan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji di RCTI” ini masih jauh dari sempurna, namun ini merupakan suatu usaha yang maksimal, karena dalam proses penyelesaiannya tidak sedikit kesulitan dan hambatan dalam penyusunan skripsi ini. Namun berkat pertolongan Allah SWT yang memberikan nikmat-Nya dan kesungguhan kepada penulis serta bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(7)

iii

memberikan informasi akademik dan penyusunan transkrip nilai penulis. Ibu Siti Napsiyah, M.SW, sebagai Dosen Penasehat Akademik KPI E angkatan 2009, yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan proposal skripsi. 3. Dr. Rulli Nasrullah M.si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

meluangkan waktunya serta memberi arahan dan masukan dalam membantu penulisan skripsi ini.

4. Iddy Muzayad selaku Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat yang bersedia saya wawancara, Bpk Irvan Senjaya selaku Koordinator Pemantauan Langsung, Mas Huda, dan Mas Andi Arianto yang bersedia membantu saya dalam proses wawancara di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

5. Seluruh dosen yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis dari semester I hingga semester VIII. Semoga ilmu yang diberikan menjadi amal baik di akhirat kelak, Amin.

6. Para staf Tata Usaha (TU) yang telah membantu surat menyurat untuk penelitian skripsi ini, dan para staf perpustakaan yang telah memberikan pelayanan dan fasilitas buku-buku referensi.

(8)

iv

Anggi Rachman, terima kasih semua atas dukungannya.

9. Rahman Maulana, Kekasih merangkap sebagai sahabat, teman cerita, yang selalu mau mendoakan dan mengantarkan penulis dalam penyelesaian skripsi ini, terima kasih.

10. Teman-teman seperjuangan KPI E 2009 yang memberikan banyak motivasi untuk penulis. Sahabat tercinta Sita dan Vira yang selalu menjadi teman

sharing untuk penulis, berbagi canda dan tawa, Fawah, Enis, Inyo, Meta, Ifah, Anisa, Ela, Yusli, Fadli, Dava, Eci, Yunia kalian semua adalah sahabat sampai kapan pun.

11. Sahabatku tersayang yang selalu memotivasi dan mendukung penulis agar penulis cepat selesai dalam penyusunan skripsi ini Dera, Indah, Aris, Tyas, Indri kalian baik. Thank you very much.

12. Kawan-kawan KKN Kelompok Empat Belas Devi, Lala, Nia, Riska, Asma, Ikim, Gita dan kawan-kawan lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu per satu.

(9)

v

rangka perbaikan perbaikan penulisan skripsi ini. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, November2013

(10)

vi

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Metodologi Penelitian ……… 8

E. Tinjauan Pustaka ……… ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Regulasi Penyiaran di Indonesia ... 13

B. Sinetron Sebagai Produk Acara di Televisi ... 27

C. Sinetron Sebagai Media Dakwah ... 35

BAB III GAMBARAN UMUM KOMISI PENYIARAN INDONESIA(KPI) DAN SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI A. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ... 43

B. Gambaran Program Sinetron Religi Tukang Bubur Naik Haji ... 51

C. Proses Pengawasan Isi Siaran oleh KPI ... 54

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA A. Pengawasan Isi Siaran Terhadap Sinetron Religi Tukang Bubur Naik Haji ... 58

(11)

vii

E. Proses Pengawasan Isi Siaran Sebagai Wujud Fungsi KPI.. 92

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 100 B. Saran ... 102

(12)

1

A.Latar Belakang Permasalahan

Pascapergantian pemerintah tahun 1998 terjadi perkembangan cukup pesat dalam perindustrian pertelevisian di Indonesia. Jika pada masa Orde Baru hanya ada 6 stasiun TV yang bersiaran keseluruh wilayah Indonesia seperti TVRI, RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, dan ANTV, pada tahun 2000-an berdiri 5 stasiun televisi swasta baru yaitu Trans TV, Trans 7 (TV-7), Global TV, Metro TV, dan TV One (Lativi).1

Perkembangan juga terjadi pada TV lokal. Di tahun 2007 jumlah TV lokal lebih dari 30 stasiun. Pada tahun 2009, menurut Jimmy Silalahi, Direktur Eksekutif Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), diperkirakan ada 224 televisi lokal yang tersebar pada 33 provinsi di Indonesia (Surya, 2009, par. 8). Dalam satu wilayah bisa berdiri beberapa TV lokal. Misalnya, di Jakarta ada beberapa stasiun TV lokal, yakni O Channel, Jak TV, Elshinta TV, Daai TV, dan B-Channel.

Kemajuan teknologi satu sisi telah berhasil mengatasi keterbatasan jarak dan waktu yang cepat, tetapi di sisi lain mempertajam ketidakseimbangan arus informasi.2 Kemajuan teknologi ini juga telah dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Khususnya di bidang komunikasi. Hal ini dinikmati melalui radio, televisi, film, dan surat kabar. Bahkan seluruh pelosok Indonesia dapat menikmati kemajuan teknologi tersebut.

1 Suratnoaji, Catur, artikel “Strategi Bisnis TV Dalam Situasi Krisis”, Penyiaran Indonesia,

Newsletter KPI. (Jakarta: KPI Pusat 2008). Edisi September-Desember 2008, hal 21

2

(13)

Tayangan menurut bahasa adalah sesuatu yang ditayangkan (dipertunjukkan), pertunjukan (film, dan sebagainya) persembahan. Televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel dan ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkorvesinya kembali ke dalam cahaya dan suara yang dapat di dengar. 3

Televisi adalah sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar.4

Televisi memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, sudah banyak orang yang mengetahui dan merasakannya. Akan tetapi sejauh mana pengaruh positif dan negatif belum diketahui banyak.Menurut Prof. Dr. R. Mar‟at dari

Unpad, acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan para penonton.5

Sebuah data menunjukkan, tingkat penetrasi televisi di banding media lain jauh lebih besar, yakni melampau angka 90%. Artinya, televisi merupakan media yang diakses dan dinikmati lebih banyak sedemikian banyak orang. Apalagi, keberadaan televisi tidak hanya di ruang keluarga rumah, tetapi di banyak tempat-tempat strategis

3

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Edisi 3, 2003). (al-Mihrab, Rubrik : Telaah Utama, Edisi 16 Tahun ke-2, Semarang, 2005).

4

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, Edisi 3, 2003). (al-Mihrab, Rubrik : Telaah Utama, Edisi 16 Tahun ke-2, Semarang, 2005).

5

(14)

lain, mislnya ruang tunggu dokter, loket karcis kereta api, ruang guru, sampai warung makan.6

Tayangan sinetron bertema religius sangat marak di stasiun-stasiun televisi swasta nasional. Terlebih lagi ketika memasuki Bulan Ramadhan. Tujuan akhir dari sinetron yang menggambarkan “pertarungan” antara kejahatan yang disimbolkan

dalam wujud setan melawan kebenaran lewat jargon agama tertentu adalah untuk meningkatkan moral masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya akhir cerita dimenangkan oleh kebenaran.7

Agar pembodohan kepada para pemirsa tidak berkelanjutan perlu adanya sensor ketat dalam penayangan sinetron-sinetron bernuansa religius. Sehingga tujuan mendidik dan mencerdaskan masyarakat Indonesia melalui pemutaran sinetron religius dapat tercapai dengan baik, bukan hanya sekedar kejar tayang mumpung sedang diminati. Jika mempelajari sinetron religi ala Indonesia dari waktu ke waktu dengan bangga dan beraninya para produser membuat sinetron religi tanpa merasa takut salah dan menodai nilai-nilai Islam, padahal banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan acara sinetron tersebut.

Sinetron religi menyeruak pertelevisian Indonesia sehingga hampir semua stasiun televisi swasta menayangkan sinetron bernuansa religi. Mereka terpicu membuat sinetron religi karena pada umumnya masyarakat Indonesia beragama Islam, lain halnya dengan sinetron yang satu ini seperti sinetron religi yang saat ini sedang naik daun dan mendapatkan penghargaan Panasonic Award sebagai sinetron

6

Komisi Penyiaran Indonesia(KPI), KEMKOMINFO. Buku Saku Literasi Media Televisi (Jakarta. 2012). Hal. 2.

7

(15)

terfavorit yaitu Sinetron Tukang Bubur Naik Haji, sinetron yang sangat diminati masyarakat ini berhasil menjadikannya sebagai sinetron terfavorit.

Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suuara dan gambar secara umum,baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.8Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa, jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa.9

Televisi kini merupakan media dominan komunikasi massa di seluruh dunia, dan sampai sekarang masih terus berkembang. Dengan sekitar 900 stasiun televisi, belanja iklan ditelivisi terus melonjak dari US$ 561 juta di tahun 1949 menjadi US$ 3,6 miliar ditahun 1969.10 Banyaknya audien televisi menjadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang dan kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah medium massa dominan untuk hiburan dan berita.11

Tayangan sinetron religi yang diputar di berbagai stasiun televisi Indonesia sudah banyak melakukan pelanggaran. Pelanggaran yang dilakukan yakni berupa penyampaian pesan yang disampaikan oleh pemeran antagonis dengan kata-kata kasar dan makian. Snapshot pemetaan persoalan didasarkan pada beberapa fenomena terakhir yang menonjol, khususnya terkait aspek rendahnya kreativitas dan mutu

8

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) UU Tentang PenyiaranNo. 32 tahun 2002.(Jakarta: 2007.) h.5.

(16)

sinteron sebagai sebuah karya seni yang seharusnya tidak hanya menjadi tontonan (hiburan), tetapi juga sekaligus menjadi tuntunan (sarana edukasi).

Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial. Dalam menjalankan fungsi penyiaran juga mempunyai ekonomi dan kebudayaan, untuk itu KPI sebagai lembaga penyiaran ingin agar semua fungsi komunikasi massa dapat tercapai secara utuh.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah lembaga Negara yang bersifat independen yang ada di pusat dan di daerah yang tugas dan wewenangnya diatur dalam Undang-undang ini sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang penyiaran.

KPI melakukan peran-perannya sebagai wujud peran serta masyarakat yang berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran. Dalam menjalankan fungsinya, KPI juga mempunyai beberapa wewenang yaitu:

1. Menetapkan standar program siaran.

2. Menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran.

3. Mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran.

4. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran terhadap pelanggaran peraturan dan pedoaman perilaku penyiaran serta standar program siaran.

5. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah, lembaga penyiaran dan masyarakat.

(17)

B.Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dalam kajian ini, peneliti membatasi kajian tentang peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mengawasi tayangan sinetron religi di televisi. Agar pembahasan dalam peneltian ini lebih terarah maka rumusan masalah dalam penelitian ini dirangkum melalui pernyataan di bawah ini.

KPI sebagai lembaga independen yang bertugas menyaring tayangan yang baik dan buruk. Maka penelitian ini akan dibatasi pada tayangan sinetron religi yang ditayangkan di stasiun RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) yaitu Tukang Bubur Naik Haji yang ditayangkan setiap hari pada pukul 20.00-22.00 malam. Peneliti akan menganalisis adegan dari tanggal 1-5 Mei 2013.

Oleh karena itu pada penelitian kali ini akan mencoba mengkaji permasalahan tayangan sinetron religi yang menabrak norma-norma yang telah ditentukan oleh KPI yakni sejauh mana stasiun televisi Indonesia melewati batas-batas yang telah ditentukan dengan perincian masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mengawasi tayangan sinetron Tukang Bubur Naik Haji di RCTI?

2. Bagaimana regulasi penyiaran dapat di aplikasikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002?

3. Bagaimana regulasi penyiaran dapat diaplikasikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS)?

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian

(18)

1. Untuk mengetahui bagaimana peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mengawasi tayangan sinetron religi di televisi.

2. Untuk mengetahui bagaimana regulasi penyiaran Undang Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002.

3. Untuk mengetahui bagaimana regulasi penyiaran Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS).

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian secara akademis yaitu untuk mengembangakan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang jurnalistik televisi. Serta memmberikan gambaran tentang tayangan-tayangan yang layak dan kurang layak ditayangkan di televisi.

Manfaat penelitian secara praktis adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peminat studi penyiaran sebagai bahan bacaan ketika menjawab permasalahan kontemporer dalam kehidupan. Khususnya permasalahan penyiaran televisi.

D. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

(19)

pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis, Adapun data yang dikumpulkan dari metode deskriptif ini adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan model kualitatif.12

2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian adalah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sedangkan objek penelitiannya adalah Sinetron Tukang Bubur Naik Haji.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data. Data adalah bahan keterangan tentang sesuatu objek penelitian yang diperoleh di lokasi penelitian.

1) Wawancara (interview) adalah sebuah proses memperoleh sebuah keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.13 Wawancara ini dilakukan untuk memeperoleh data dari sumber tentang masalah yang akan diteliti. Wawancara ini dilakukan secara bebas, tetapi tetap menggunakan pedoman wawancara agar pertanyaan terarah.

2) Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indera mata sebagai alat bantu utamanya selain panca

12

J Moleong, Lexy. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2007), cet. Ke-23, h.9-10.

13

(20)

indera lainnya seperti telinga, mulut, dan kulit. Yang dimaksud metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, data-data penelitian ini dapat diamati oleh peneliti. Dalam arti bahwa data tersebut dapat dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui penggunaan panca indra.14Pengamatan yang dilakukan peneliti adalah dengan mendatangi langsung lokasi penelitian, kemudian mengamati tayangan religi Tukang Bubur Naik Haji.

3) Dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah, dan bukan berdasarkan perkiraan. Metode ini hanya mengambil data-data yang sudah ada dan tersedia dalam catatan dokumen.15 Dalam penelitian ini, fungsi data yang berasal dari dokumen lebih banyak digunakan sebagai data pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam.

Peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari buku, makalah, artikel, catatan, dan sebagainya yang berhubungan dengan komunikasi massa.

4. Teknik Analisis Data

Unit Analisis: Teks dan Organisasi

14

Burhan Bungin, Metode Penelitian Kuantitatif, (Jakarta; Prenada Media Group, 2005), h.134.

15

(21)

melihat teks sebagai unit analisis terlebih dahulu peneliti bagaimana KPI sebagai lembaga regulasi melaksanakan pengawasannya, dengan menganalisis dokumen-dokumen tertulis, rekaman program, seperti buku, artikel, jurnal, dokumen resmi, press release, Undang-Undang Penyiaran, P3 dan SPS, karya akademis lainnya yang relevan dengan kasus yang dipilih, yaitu pengawasan terhadap program sinetron religi. Lalu pada tingkatan organisasi peneliti melihat bagaimana proses pengawasan isi siaran yang dilakukan oleh KPI pada program sinetron religi hal ini dapat melalui interaksi lembaga KPI dengan pihak stasiun televisi yaitu RCTI. Penelitian studi kasus ini menggunakan multilevel analisis yakni penelitian menganalisis data-data dari beberapa sumber yang berbeda.

E. Tinjauan Pustaka

Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut dan menyusunnya menjadi sebuah karya ilmiah, peneliti telah melakukan tinjauan pustaka dan menelaah terlebih dahulu beberapa skripsi dan karya ilmiah yang berkaitan atau hampir sama dengan penelitian yang peneliti lakukan.

Sebagaimana yang telah ditulis Minfitratillah 104051101947 tahun 2008 mahasiswi komunikasi penyiaran Islam dengan judul “Peran Komisi Penyiaran Islam dalam Mengawasi Tayangan Mistik di Televisi” Dalam skripsinya Minfitratillah

(22)

Pada skripsi yang berjudul “Mekanisme Pengawasan Lembaga Regulasi Penyiaran Terhadap Program Televisi Yang telah Mendapatkan Sanksi (Studi Kasus Pengawasan KPI Terhadap Program “Empat Mata” dan “Bukan Empat Mata” di

Trans 7) yang ditulis oleh Mahasiswi dari Universitas Indonesia Dwithia Wara Utari tahun 2009 menjelaskan tentang dalam mekanisme pengawasan isi siaran terhadap program “Empat Mata” dan “Bukan Empat Mata”, terlihat bahwa KPI belum

menjalankan fungsi sebagai lembaga pengawas regulasi penyiaran secara optimal. Pada skripsi yang berjudul “Analisis Produksi terhadap program sinetron

Tukang Bubur Naik Haji The Series(episode 402-403)” yang ditulis oleh Suci Nurul Khairiyah 109051000215 tahun 2013 menjelaskan tentang produksi sinetron tersebut.

Perbedaan skripsi peneliti dengan penelitian yang lain di atas adalah adalah penelitian ini lebih mengarah kepada sejauh mana lembaga Komisi Penyiaran Indonesia mengawasi tayangan sinetron religi di televisi dan bagaimana regulasi penyiaran dapat di aplikasikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 dan P3SPS.

F. Sistematika Penulisan

BAB I PendahuluanBab ini berisi mengenai Latar Belakang Masalah, Batasan

dan Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka, Sistematika Penelitian.

BAB II Landasan TeoriBab ini berisi mengenai konsep dan teori-teori yang

(23)

dalam penelitian yang mencakup: Regulasi Penyiaran di Indonesia, Sinetron Sebagai Produksi Acara di Televisi, Sinetron Sebagai Media Dakwah.

BAB III Gambaran Umum Obyek PenelitianBab ini mengenai gambaran

umum yang meliputi: Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan tayangan sinetron religi

Tukang Bubur Naik Haji.

BAB IVPembahasan Hasil PenelitianBab ini menjelaskan bagaimana

pengujian hasil analisis penelitian.

BAB V KesimpulanKesimpulan dan saran dari penelitian yang dilakukan oleh

(24)

13 BAB II

LANDASAN TEORI

A.Regulasi Penyiaran di Indonesia

1. Definisi Penyiaran dan Regulasi

Kehidupan media massa juga diatur dalam peraturan-peraturan perundang-undangan tentang penyiaran, yaitu Undang-undang No. 24 Tahun 1997 tentang penyiaran kemudian di ganti dengan Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran dan Peraturan-peraturan Pemerintah (PP) tentang pelaksnaannya.1

Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancarluasan atau sarana transmisi di darat, di laut, atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.2

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penyiaran adalah proses pemancarluasan siaran dengan menggunakan gelombang elektromagnetik melalui jalur darat, laut, udara secara serentak dengan media penyiaran. Penyiaran pada hakikatnya adalah salah satu keterampilan dasar manusia ketika berada pada posisi tidak mampu untuk menciptakan dan menggunakan pesan secara efektif untuk berkomunikasi. Penyiaran dalam konteks ini adalah alat untuk mendongkrak kapasitas dan efektivitas komunikasi massa.

1

Sudirman Tebba, Hukum Media Massa Nasional, (Ciputat: Penerbit Pustaka irVan, 2007) hal 71

2

(25)

Dalam sebuah karya, Ogus dan Selznick membahas definisi tentang regulasi, yakni menunjukkan peraturan yang berkelanjutan, terfokus dan terkontrol yang dilakukan oleh sebuah lembaga publik melalui kegiatan yang sedang dilakukan oleh sebuah komunitas.3

Regulasi adalah semua proses yang mempunyai fungsi mengubah proses lain, pengalaman aksi, yang ditimbulkan oleh situasi stimulus. Dengan demikian ada dualisme regulasi, yakni sebagai kegiatan yang mengatur dan sebagai kegiatan yang diatur.4

2. Bentuk dan Model Regulasi Penyiaran

Etika dimana media dikontrol dalam suatu masyarakat yang demokratis mereflesikan ketidakmampuan media menyalurkan diri pada bisnis, politik, nilai sosial sehari-hari dan kehidupan berbudaya, serta imunitas relatif mereka terhadap regulasi pemerintah. Sebagian kontrol pemerintah, pembatasan, dan aturan perlu dilakukan, namun prinsip freedom of speech memerlukan pendekatan kontrol regulasi yang hati-hati. Term „governance‟ atau kontrol dalam hal ini digunakan untuk menggambarkan rangkaian hukum, regulasi, aturan, dan adat yang melayani tujuan untuk mengontrol kepentingan umum, termasuk industri media.5 Kontrol media dalam berbagai negara berbeda tergantung dari aturan standar dan tujuan, juga prosedur yang bervariasi atas ketegasan kebijakan dan pelaksanaan kontrol media. Variasi bentuk

3

Mike Feintuck, Media Regulation, Public Interest and Law, (Edinburg University Press) hal 202.

4

Muhammad Mufid, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, hal 67

5

(26)

dari kontrol pemerintah pada media merefleksikan luasnya cakupan tujuan yang ingin dicapai, seperti 6:

1. Perlindungan kepentingan Negara yang diperlukan dan keteraturan publik; 2. Perlindungan keamanan terhadap hak individu dan kepentingan;

3. Mempertemukan kebutuhan industri media demi terwujudnya lingkungan yang stabil dan suportif;

4. Mempromosikan kebebasan dan nilai komunikasi serta budaya lain; 5. Mendukung inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi;

6. Menetapkan standar teknis dan infrastruktural;

7. Mempertemukan kebijakan internesional, termasuk ketaatan terhadap hak asasi manusia;

8. Mendukung media yang bertanggungjawab.

Regulasi kontrol media dapat diaplikasikan pada sistem media, organisasi atau firma media tertentu, atau pada aspek konten atau isi media. Sebagai aturan dasar, kontrol dapat jauh diaplikasikan pada masalah aplikasi isi media. Hal ini tentunya berhubungan dengan structure, conduct, dan performance dari media. Structure

berkaitan dengan kondisi kepemilikan, kompetisi pasar, infrastruktur, pelayanan umum, atau kewajiban lainnya. Conduct terkait dengan independensi editorial, hubungan dengan narasumber dan pemerintah, masalah yang berhubungan dengan sistem keadilan, formal self-regulation, dan akuntabilitas media. Sedangkan, pada

6

(27)

level performance menyangkut semua hal yang berhubungan dengan referensi tertentu atas dugaan kejahatan atau merugikan atau menyinggung masyarakat.7

Prinsip utama dari media governance adalah8:

1. Bentuk kontrol yang berbeda dapat diaplikasikan pada media yang berbeda pula;

2. Kontrol lebih diperlukan dan dapat diterima untuk media massa daripada untuk media skala kecil;

3. Kontrol dapat lebih diaplikasikan dengan legitimasi pada structure dari pada

content;

4. Baik sensor pra-publikasi maupun hukuman untuk publikasi tidak diperbolehkan.

5. Secara umum self-regulation lebih disukai daripada kontrol dari luar media (eksternal).

Dalam hubungannya dengan kepemerintahan suatu negara, Leen d‟Haenens

membagi model regulasi penyiaran menjadi lima, yakni: 1. Model Otoriter

Tujuan dalam model ini lebih sebagai upaya menjadikan penyiaran sebagai alat negara. Radio dan televisi sedemikian rupa diarahkan untuk mendukung kebijakan pemerintah dan melestarikan kekuasaan. Ciri khas dalam model ini adalah kuatnya lembaga sensor terutama yang menyangkut keberbedaan. Hal ini sebagai konsekuensi keberbedaan yang dipandang sebagai

7

Denis McQuail, Mass Communication Theory (Sage Publications: 2005) 5th edition hal. 235-236

8

(28)

sesuatu yang tak berguna dan cenderung tidak bertanggung jawab karena kadang kala bersifat subversif. Sebaliknya, konsesus dan standarisasi dilihat sebagai tujuan dari komunikasi massa. Dunia penyiaran selama Orde Baru praktis berada pada kondisi seperti ini.

2. Model Komunis

Walau merupakan subkategori dari model otoriter, namun dalam model komunis, penyiaran memiliki semacam tritunggal fungsi, yaitu propaganda, agitasi, dan organisasi. Aspek lain yang membedakan model ini dari model otoriter adalah dilarangnya kepemilikan swasta, karena media dalam model ini dilihat sebagai milik kelas pekerja biasanya terlembagakan dalam partai komunis, dan media merupakan sarana sosialisasi, edukasi, informasi, motivasi dan mobilisasi.

3. Model Barat-Paternalistik

Sistem penyiaran ini banyak diterapkan oleh negara-negara Eropa Barat semisal Inggris. Disebut “Paternalistik”, karena sifatnya yang top-down, di

mana kebijakan media bukan apa yang audiens inginkan tapi sebagai keyakinan penguasa bahwa kebijakan yang dibuat memang dibutuhkan dan diinginkan oleh rakyat. Dalam model ini, penyiaran juga memiliki “tugas” untuk

melekatkan fungsi-fungsi sosial individu atas lingkungan sosialnya.

(29)

Secara umum sama dengan model Barat – Paternalistik, hanya berbeda dalam fungsi media komersialnya. Di samping sebagai penyedia informasi dan hiburan, media juga memiliki fungsi “ mengembangkan hubungan yang penting

dengan aspek-aspek lain yang mendukung independensi ekonomi dan keuangan”.

5. Demokratis-Partisipan Model

Model ini yang dikembangkan oleh mereka yang mempercayai sebagai

powerful medium, dan dari banyak hal terinspirasi oleh mahzab kritis. Termasuk dalam model ini adalah berbagai media penyiaran alternatif. Sifat komunikasi dalam model ini adalah dua arah (two-way-communication).

Di banyak negara demokratis, proses legislasi tetap dilakukan oleh parlemen, sedangkan institusi regulatory body berfungsi untuk:

1. Mengalokasikan lisensi penyiaran

2. Mengontrol dan memberi sanksi bagi pengelola penyiaran yang melanggar mulai dari bentuk denda sampai pencabutan izin

3. Memberi masukan kepada institusi legislatif

4. Sebagai watchdog bagi indepedensi penyiaran dari pengaruh pemerintah dan kekuatan modal

5. Memberi masukan terhadap penunjukkan jajaran kepemimpinan lembaga penyiaran publik. Hal ini banyak terjadi di Perancis.

6. Berperan sebagai minor judicial power dan complain commission.

(30)

pola-pola kepemilikan media oleh pasar, regulasi tingkah laku (behavioural regulation) dimaksudkan untuk mengatur tata laksana penggunaan properti dalam kaitannya dengan kompetitor, dan regulasi isi (content regulation) berisi batasan material siaran yang boleh dan tidak boleh untuk disiarkan.

Mengutip McQuail, Sendjaja selanjutnya menguraikan urgensi media penyiaran publik adalah untuk menjunjung nilai-nilai yang banyak ditinggalkan oleh media komersil, seperti independensi, solidaritas, keanekaragaman, opini dan akses, objektivitas, dan kualitas informasi.9

3. Regulasi Penyiaran di Indonesia

Perubahan teknologi memungkinkan media penyiaran menjangkau jutaan orang melalui networked system yang menyelimuti seluruh negara. Hal ini mengubah media secara dramatis dalam memperluas jangkauan dan efek atau pengaruh media. Produser produk media yang mengandung kekerasan sering berargumentasi bahwa mereka hanya mereflesikan kekerasan yang sudah ada dalam masyarakat. Merespon hal itu, beberapa pemerintah memperkenalkan batas-batas terbaru dalam program, bahkan sampai kepada pengaturan dan pengawasan jumlah dan frekuensi iklan.10

Pemerintah berperan dalam membuat hukum dan peraturan bagi media massa. Kelonggaran regulasi yang dibuat pemerintah dapat mengakibatkan kekacauan dalam proses media massa baik elektronik maupun cetak. Regulasi yang memaksa satu pihak dapat menguntungkan pihak yang lain. Beberapa regulasi pemerintah, seperti izin

9

S Djuarsa Sendjaja dan Ashadi Siregar, Kumpulan Makalah Seminar Televisi Publik(Yogyakarta:UGM 2001), hal 3.

10

(31)

penyiaran ditujukan untuk melindungi kepentingan finansial dari bisnis media. Industri media tidak akan bertahan tanpa kontrol dan regulasi dari pemerintah. Bisa dikatakan, industri media tidak bisa ada seperti sekarang tanpa regulasi dan kontrol pemerintah yang aktif. Karena itu industri media akan aktif mendukung beberapa regulasi, yaitu tentu saja, menguntungkan industri media.11

Regulasi juga dibuat untuk melindungi kepentingan publik dari pengaruh industri media yang kuat. Industri media biasanya akan mendukung regulasi ketika mereka menghadapi pembatasan gerak mereka ke publik, di lain pihak akan mendukung ketika terlindungi dari regulasi pemerintah yang lain. Peraturan dan regulasi media saat ini telah berubah seiring dengan perkembangan teknologi dan iklim politik. Perubahan teknologi dan evolusi legislatif membuat regulasi media menjadi ruang yang cepat berubah.12Pada hakikatnya, regulasi di bidang penyiaran adalah suatu keharusan. Alasannya, produk media akan selalu diarahkan dan berada di wilayah publik, karenanya publik adalah pihak yang harus dilindungi.13

Proses keabsahan Undang-Undang Penyiaran awalnya sangat kontroversial, karena tidak ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada akhirnya berlaku, karena ditetapkan berdasarkan Hak Inisiatif DPR RI, dan kemudian disahkan menjadi produk hukum yang mengikat bagi penyelenggaraan kegiatan radio dan televisi. Undang-Undang Penyiaran dibentuk dengan semangat bahwa dunia penyiaran akan memasuki era baru yang lebih demokratis sekaligus memecah

11

David William Hoynes, Croteau, Media/Society, Industries, Images, & Audiences, hal 64-66

12

David William Hoynes, Croteau, Media/Society, Industries, Images, & Audiences hal. 64-66

13 Darmawan Josep J, “Wacana”TV Lokal” Dalam Pertelevisian

(32)

cengkeraman sekelompok pemodal yang selama ini mengangkangi keberadaan lembaga penyiaran di republik tercinta. Undang-Undang Penyiaran adalah regulasi dengan visi menyerahkan regulasi penyiaran kepada publik direpresentasikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mendorong adanya keragaman kepemilikan untuk menciptakan keragaman muatan. Demokratisasi penyiaran memberikan kewenangan lebih besar bagi publik untuk turut serta mengawal keberadaan lembaga penyiaran, radio dan televisi.14

Oleh karena itulah penyiaran di Indonesia diarahkan, selain untuk menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menjaga dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesadaran ketaatan hukum dan disiplin nasional, menyalurkan pendapat umum serta mendorong peran aktif masyarakat dalam pembangunan nasional dan daerah serta melestarikan lingkungan hidup. Di sisi lain didorong untuk mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran serta serta mendorong peningkatan kemampuan perekonomian rakyat, mewujudkan pemerataan dan memperkuat daya saing bangsa dalam era globalisasi. Selain itu, penyiaran juga diarahkan untuk memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggung jawab, serta memajukan kebudayaan nasional. 15

Di manapun sebuah program siaran membutuhkan lembaga yang mengatur lalu lintas pesan yang disiarkan. Bahkan bagi kelompok ini, regulasi yang ketat pun tidak

14

Judhariksawan, Hukum Penyiaran (Jakarta: Rajawali Pers 2010), Cetakan Ke-1 hal 91-92

15

(33)

menjadi masalah. Negara yang mengklaim demokratis pun perlu regulasi, termasuk keberadaan komisi penyiaran seperti KPI di Indonesia dan memberikan sanksi.16

Regulasi hukum penyiaran di Indonesia berpangkal pada Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran (UU Penyiaran). Pasal 33 ayat (1) mengatur secara tegas bahwa17: Sebelum menyelenggarakan kegiatannya lembaga penyiaran wajib memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran.

Setiap orang atau pihak yang hendak menyelenggarakan penyiaran, wajib terlebih dahulu memiliki Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP). Bilamana terdapat lembaga penyiaran yang mengudara tanpa mengantongi IPP, maka yang bersangkutan telah melanggar Undang-Undang Penyiaran dan karenanya aparat penegak hukum berkewajiban melakukan tindakan hukum dan bagi pelaku tindakan pidana penyiaran tersebut dapat dikenakan hukuman pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) untuk penyiaran radio dan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000 (lima milyar rupiah) untuk penyiaran televisi.

Berdasarkan Undang-Undang Penyiaran, diketahui bahwa jasa penyiaran yang diregulasi hanya penyiaran radio dan penyiaran televisi. Untuk menyelenggarakan jasa penyiaran tersebut, Undang-Undang Penyiaran juga telah membagi lembaga penyiaran dalam 4 (empat) jenis. Yaitu: Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga

16

Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo 2004) hal 96.

17

(34)

Penyiaran Swasta, Lembaga Penyiaran Komunitas, dan Lembaga Penyiaran Berlangganan.18

Beberapa aturan yang terkait dengan program siaran yang tercantum dalam Undang-Undang Penyiaran dapat dikategorisasi dalam bentuk “kewajiban” dan “larangan” terhadap isi siaran. Terdapat empat kewajiban isi siaran bagi lembaga

penyiaran dalam menyampaikan program siarannya, yaitu:

1. Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

2. Isi siaran dari jasa penyiaran televisi, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Publik, wajib memuat sekurang-kurangnya 60% mata acara yang berasal dari dalam negeri.

3. Isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.

4. Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu.

Sementara itu, terdapat beberapa larangan kandungan isi siaran yang tidak boleh disiarkan oleh lembaga penyiaran, yaitu dilarang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan, dan atau bohong, menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian,

18

(35)

penyalahgunaan narkotika, memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.

Komisi Penyiaran Indonesia telah menyusun suatu Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) disusun dengan dasar pertimbangan bahwa dalam rangka pengaturan perilaku lembaga penyiaran dan lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam dunia penyiaran di Indonesia dibutuhkan suatu pedoman yang wajib dipatuhi agar pemanfaatan frekuensi radio yang merupakan sumber daya alam terbatas dapat senantiasa ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat sebesar-besarnya. Alasan lain adalah dengan munculnya stasiun-stasiun televisi dan radio baru di seluruh pelosok Indonesia, harus disusun standar yang mampu mendorong lembaga penyiaran untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera.

(36)

Menurut KPI, Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) bertujuan agar lembaga penyiaran19:

1. menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

2. meningkatkan kesadaran dan ketaatan terhadap hukum dan segenap peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia;

3. menghormati dan menjunjung tinggi norma dan nilai agama dan budaya bangsa yang multikultural;

4. menghormati dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi; 5. menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia; 6. menghormati dan menjunjung hak-hak dan kepentingan publik;

7. menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak anak, remaja dan perempuan; 8. menghormati dan menjunjung tinggi hak-hak kelompok masyarakat minoritas

dan marginal; dan

9. menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik.

KPI juga menekankan kewajiban bagi lembaga penyiaran untuk melakukan penghormatan terhadap norma kesopanan dan kesusilaan. Dengan penekanan bahwa lembaga penyiaran harus berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan efek negatif terhadap keberagaman khalayak baik dalam agama, suku, budaya, usia, gender dan latar belakang ekonomi. Serta lembaga penyiaran wajib menghormati norma kesopanan dan kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat. dalam hal ini, kritikan

19

(37)

masyarakat terhadap tayangan-tayangan tidak mendidik yang disajikan oleh penyiaran televisi telah banyak dilontarkan. Dalam tataran inilah efektivitas Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) ini diuji termasuk mengkaji bagaimana eksistensi KPI sebagai regulator yang eksekutor dalam hal isi siaran. Fakta menunjukkan, walaupun telah banyak tayangan acara televisi yang telah ditegur dan dijatuhkan sanksi oleh KPI, akan tetapi seolah tidak memberikan efek jera bagi lembaga penyiaran. Ironisnya, lembaga penyiaran justru berlindung dibalik “rating” acara dan acara yang ditegur justru merupakan acara yang tinggi peminatnya. Sehingga terjadi paradoksal antara peran KPI sebagai representasi publik dengan “keinginan” (versi rating) publik itu sendiri.20

B.Sinetron Sebagai Produk Acara di Televisi

Sinetron sebagai sebuah hasil karya seni adalah produk dari sebuah kebudayaan masyarakat pada periode tertentu. Sebagai sebuah produk yang dihasilkan oleh media dan dikonsumsi oleh massa maka sinetron bisa disebut sebagai budaya massa. Sinetron merupakan wacana atau teks audiovisual yang bermuatan gambaran realitas sosial virtual atau tiruan dari realitas sosial nyata. Sinetron menyajikan versi persepsi hubungan-hubungan sosial terkini, mengandung pesan-pesan respon terhadap perubahan persepsi dan hubungan sehingga audience menjadi sadar atas adanya

20

(38)

pilihan-pilihan ganda yang kontradiktif. Sinetron disajikan secara sekilas, bertutur dalam bingkai episode, konkret dan dengan cara yang dramatis.21

1. Definisi Sinetron

Sinetron adalah sebuah sinema elektronik tentang sebuah cerita yang di dalamnya membawa misi tertentu kepada pemirsa. Misi ini dapat berbentuk pesan moral untuk pemirsa yang ada di kehidupan masyarakat sehari-hari.22

Sinetron atau sinema elektronika sama dengan TV-play, sama dengan teledrama, sama dengan sandiwara televisi, sama dengan film-televisi, sama dengan lakon-televisi. Persamaannya: sama-sama ditayangkan medium audio-visual bernama televisi.23Berbeda bila dibandingkan dengan film layar lebar yang ditayangkan di televisi. Sinetron juga berbeda dengan pementasan teater yang direkam lantas disiarkan televisi.

Sebagai sinema yang dikhususkan untuk tayangan televisi, perhitungan dan kemungkinan eksplorasi estetiknya pun menjadikan sinetron berlainan dengan sinema bioskop. Perbedaan yang paling terasa pertama kali adalah bahwa layar kaca televisi tidak selebar layar bioskop. Perbedaan kedua, jenis penontonnya pun relatif berbeda. Penonton bioskop sejak awal masuk gedung sudah menyiapkan diri untuk menyaksikan tayangan yang akan ditonton, sementara penonton sinema televisi

21

Siti Nurbaya,” Budaya dalam Sinetron Indonesia: Kajian Kritis Terhadap Produksi Sinetron Betawi “Kecil-Kecil Jadi Manten” (Tesis S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2006), hal 56

22

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya Massa(Jakarta: PT. Rineka Cipta 2008) hal.120.

23

(39)

menontonnya bisa dikatakan sambil lalu, bersama sanak keluarga, sambil melayani tamu kalau ada tamu, atau sambil-sambilan lainnya.24

Perbedaan karakter pemirsa dan perbedaan masing-masing layar ini tentu membutuhkan perlakuan yang berbeda-beda atau masing-masing tayangan.

Dramaturgi sinema televisi jadinya berbeda dibandingkan dramaturgi sinema bioskop. Contoh yang paling simpel, akan sangat riskan menganggap sinetron kolosal, yang penuh tokoh itu, sementara yang tersedia hanyalah layar yang tidak semuanya besar-besar ukuran incinya. Demikian halnya dengan kemungkinan adanya penonton yang serba sambilan dan sambil lalu itu, juga akan sangat riskan bagi sinetron yang sejak awal hingga akhir tayangan tidak memberi kesempatan pada penonton di rumah-rumah untuk menyempatkan diri ke kamar kecil, ke meja makan, atau mengantar tamu yang pamit pulang.

Begitu banyak sinetron yang menempatkan sisi logika ini diurutan ke terakhir. Yang penting, penonton ketawa, yang penting pemirsa suka, yang penting penonton tidak mau ambil pusing , Survey Research Indonesia(RSI) melegitimasikan peringkat itu.25

Setidaknya alasan-alasan terakhir inilah yang dijadikan senjata pamungkas para pengelola siaran televisi swasta dan para kreator sinetron.

Senjata pamungkas pengelola siaran televisi menjadikan kreator sinetron tidak lagi perlu mendalami produksi sinetronnya. Nyaris tidak bisa ditemukan paket-paket sinetron televisi swasta yang kualitasnya sekelas atau tidak mendekati mini seri Siti

24

Ashadi Siregar, Sinetron Indonesia Untuk Pasar dan Budaya hal 12

25

(40)

Nurbaya, seri-seri awal Jendela Rumah Kita, atau Aksara Tanpa Kata, Di Timur Matahari, Sayekti dan Hanafi, Tambusa, Di Balik Tobong, Tayub, Dua Orang Perempuan, Bertahan dalam Badai, Ketika Tebu Berbunga, dan sejumlah judul lainnya, yang ternyata lebih banyak di produksi oleh TVRI. 26

Film cerita yang dibuat untuk media televisi, yang dalam wacana televisi Indonesia disebut sinema elektronik (sinetron), sudah menjadi bagian dari wacana publik dalam ruang sosial masyarakat. Cerita sinetron tidak hanya sekedar menjadi sajian menarik di layar kaca, tetapi juga telah menjadi bahan diskusi atau bahan “ngerumpi baru” di antara para ibu di sekelompok arisan, antara anggota keluarga,

bahkan tidak jarang, nilai-nilai sosial di dalamnya hadir sebagai rujukan perilaku para penggemarnya.27

Salah satu tayangan televisi yang marak ditayangkan dan terus menerus mengejar rating adalah sinetron. Sinetron tidak hanya menjadi salah satu komoditi bagi stasiun televisi, tetapi juga pengiklan. Dari sinetron, stasiun televisi mendapatkan keuntungan dari pengiklan. Sedangkan pengiklan mendapatkan khalayak untuk mempromosikan produknya.28

2. Karekteristik Sinetron

Perkembangan sinetron televisi di Indonesia saat ini sangat pesat, banyaknya paket sinetron sireal maupun lepas di TV swasta, secara langsung mencerminkan prospek cerah bagi Production House (Rumah Produksi) maupun biro periklanan

26

Ashadi Siregar, Sinetron Indonesia Untuk Pasar dan Budaya hal 13

27

Muh. Ladib, Potret Sinetron Indonesia; Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial (Jakarta: PT Mandar Utama Tiga Books Division 2002) hal. 1

28

(41)

yang berperan sebagai salah satu pemasok dana untuk mensponsori pembuatan dan penayangan sinetron televisi.29

Menjamurnya paket sinetron di televisi, bukan hal yang luar biasa. Kehadiran sinetron merupakan salah satu bentuk aktualisasi komunikasi dan interaksi manusia yang diolah berdasarkan alur cerita, untuk mengangkat permasalahan hidup manusia sehari-hari. Dalam membuat paket sinetron, baik sutradara, pengarah acara dan produser, pihak televisi harus memasuki isi pesan yang positif bagi pemirsa.

Sinetron, seperti yang banyak diberitakan media massa adalah paket acara lokal yang diasumsikan sangat digemari pemirsa. Setiap rating yang dikeluarkan Survey Research Indonesia(SRI) selalu menunjukkan bahwa sinetron adalah mata acara yang paling banyak penontonnya. Memang cukup layak, kalau sinetron mendapatkan julukan sebagai primadona acara televisi. Namun, tampaknya julukan primadona itu kini berangsur-angsur mulai pudar karena pembuatan sinetron bukan lagi menekankan aspek kualitas melainkan hanya dikerjakan untuk memenuhi tuntutan kuota paket lokal televisi dan kejar tayang sekaligus membendung film-film asing maupun telenovela. Akibatnya, tema cerita, tidak adanya pengenalan antropologis dan skenario yang lemah, floating yang overlaping, penjiwaan karakter pemain yang dangkal, bahkan kurangnya kewajaran adegan (logika) terkesan dipaksakan sehingga dramaturginya kacau. 30

DR. Eduard Depari, dalam sebuah workshop “Pasca Primadona Sinetron” di

Yogyakarta beberapa waktu silam, melihat sinetron Indonesia sudah mengalami pasca

29

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya Massa hal. 74

30

(42)

primadona. Hal ini terjadi karena pemerintah mempersyaratkan pihak TV untuk memenuhi 80% produksi lokal (sinetron) di TV.31

Persoalannya, kini kembali pada pihak griya produksi dalam memproduksi sinetron. Mana yang cenderung mereka pilih dari dua misi (pesan moral atau realitas moral) di atas atau barangkali mereka memadukannya. Karakteristik apa saja yang dibutuhkan agar sebuah sinetron menjadi berkualitas dalam dua misi itu. Ini merupakan sebuah tantangan konkret bagi griya produksi nasional.

DR. Sasa Djuasa Sendajaya, menyebutkan, sebuah sinetron seyogianya memiliki karakteristik, yaitu32:

1. Mempunyai gaya atau style terdiri dari aspek artistiknya, orisinalitas, penggunaan bahasa film dan simbol-simbol yang tepat, penataan artistik seperti cahaya, screen-directing dan art-directing, fotografi yang bagus, penyampaian sajian dramatik yang harmonis, adanya unsur suspense dan teaser.

2. Memiliki isi cerita termasuk di dalamnya hubungan logis dalam alur cerita, irama dramatik, visi dan orientasi, karakteristik tokoh, permasalahan/tema yang aktual dan konstektual.

3. Memiliki karakter dan format medium, penguasaan teknik peralatan dengan kemungkinan-kemungkinannya, manajemen produksi. Untuk mencapai itu, sebuah sinetron diusahakan agar memenuhi kualitas standar lebih dahulu, yaitu menyentuh basic instinct human-being.

31

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya Massa hal. 120

32

(43)

Dari beberapa karakteristik sinetron yang disebutkan oleh DR Sasa Djuarsa, ternyata sinetron TV kita banyak yang tidak memiliki format gaya atau style dan aspek teknis. Mungkin ini disebabkan sumber daya manusianya yang terbatas dan tidak mampu. Pihak griya produksi juga tidak mengikuti perkembangan mutakhir teknologi sinematografi.

Terlepas dari apa yang dikemukakan dua pakar di atas, griya produksi sudah terlanjur menjamur di Indonesia. Selain itu, beberapa TV swasta yang telah hadir di layar kaca harus diisi berbagai acara untuk menarik pemirsa dan pemasang iklan sebagai nyawa TV swasta. Perlu diketahui pula bahwa isi pesan sinetron adalah cermin nilai dan norma moral masyarakat.33

Mengapa sinetron begitu banyak ditonton pemirsa? Ada beberapa faktor yang membuat paket acara ini disukai, yaitu34:

1. Isi pesannya sesuai dengan realitas sosial pemirsa

2. Isi pesannya mengandung cerminan tradisi nilai luhur dan budaya masyarakat (pemirsa)

3. Isi pesannya lebih banyak mengangkat permasalahan atau persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat

Karena ketiga faktor di atas itulah, maka acara sinetron selalu mendapat sambutan hangat dari pemirsa.

3. Faktor yang Mempengaruhi Isi Sinetron

33

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa; Analisis Interaktif Budaya Massa hal. 121-122

34

(44)

Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi isi sinetron penulis mengadopsi dari faktor yang mempengaruhi isi berita media menurut Pamela J. Shoemeker dan Stephen Reese menyebutkan berbagai hirarkis yang dapat mempengaruhi isi media, yaitu:35

1. Faktor Individu

Faktor individu ini merupakan garda paling depan dalam penetuan isi berita wartawan atau jurnalis merupakan orang yang terkait langsung (menyaksikan) langsung sebuah realitas yang akan dilaporkannya. Mereka bisa merekrronstruksi event atau peristiwa yang akan ditayangkan di media masing-masing.

2. Faktor Rutinitas Media

Para jurnalis dan editor dalam merekrontstruksi berita tunduk pada media rutin. Yang dimaksud media rutin adalah praktik-praktik media di mana keputusan dan persepsi mengenai event yang dibawa oleh jurnalis ke ruang pemberitaan dipengaruhi oleh cara para profesional media di perusahaan di mana mereka bekerja mengorganisasikan sistem kerja mereka.

3. Faktor organisasi Media

Di samping rutinitas media, organisasi media juga ikut terlibat dalam proses rekontruksi berita atau peristiwa. Pada level ini, organisasi sebagai perangkat struktur industri media, ikut menentukan proses rekonstruksi event

atau peristiwa yang terjadi.

35

(45)

4. Faktor Ekstra Media

Terdapat lima faktor di luar organisasi media yang bisa mempengaruhi isi media yaitu: sumber berita, iklan, dan pelanggan, kontrol pemerintah, pasar dan teknologi. Sumber berita bisa mempengaruhi isi berita karena kedekatan wartawan dengan sumber berita atau sebaliknya.

5. Faktor Ideologi

Level ideologi umumya berkaitan dengan struktur kekuasaan dalam arti sejauhmana kekuasaan, melalui berbagai peraturan yang diterapkan, mampu memberi pengaruh atas proses pengambilan keputusan rekonstruksi berita atau peristiwa dalam ruang pemberitaan media.

C.Sinetron Sebagai Media Dakwah

1. Media Dakwah

Dilihat dari asal katanya, media berasal dari bahasa latin yaitu median yang berarti alat atau perantara, sedangkan menurut istilah, media ialah segala sesuatu yang dijadikan sebagai alat perantara untuk mencapai suatu tujuan tertentu.36 Dalam kamus istilah komunikasi, “media” berarti sarana yang digunakan sebagai alat bantu dalam

berkomunikasi disebut media komunikasi adapun bentuk-bentuk dan jenisnya beraneka ragam.37Education Association mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, didengar, dilihat, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik.38

36

Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983) hal 163

37

Ghazali BC.TT, Kamus Istilah komunikasi, (Bandung Djambatan, 1922), hal 227.

38

(46)

Sedangkan Antonio Gramsci melihat media sebagai ruang dimana berbagai ideologi di representasikan. Ini berarti, disatu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik. Namun disisi lain, media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan.39

Berdasarkan pengertian diatas, maka media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah yang dimaksud dapat berupa barang (material), orang, tempat kondisi tertentu dan sebagainya.40

Media dakwah sendiri adalah peralatan yang digunakan untuk menyampaikan materi-materi dakwah, pada zaman modern misalnya televisi, radio, kaset rekaman, majalah, surat kabar, dan yang sekarang ini marak adalah internet.

Dakwah selama ini diidentikkan dengan ceramah melalui media lisan. Namun, seiring era globalisasi, dimanatren informasi dan komunikasi semakin berkembang, media sinetron seharusnya dapat mengambil peranan yang cukup signifikan dalam menyebarkan pesan-pesan keagamaan.

Sejalan dengan mass media yang menjadi unsur dalam komunikasi, di mana memegang peranan penting, maka dalam rangka modernisasi dakwah pada saat ini, film tidak dapat dilewatkan begitu saja.41

Disini tidak membicarakan hukum film menurut ajaran Islam, karena kedudukannya sama saja dengan hukum radio, televisi,sound equipment dan beberapa

39

Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001) hal 30.

40

Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-ikhlas, 1983) hal 176.

41

(47)

alat tehnik modern, seperti tape recorder. Seluruh alat itu sifatnya polos, tidak berwarna. Yang memberikan ketentuan dalam penilaian hukumnya adalah isinya.

Jika disadari bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah pemeluk agama Islam, dan dengan sendirinya pula mayoritas penonton film di Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka tidak akan sulit para produser memasukkan unsur dakwah di dalam film. Bagi para produser yang mempunyai tujuan primer membuat film adalah segi komersil, sekiranya mayoritas penontonnya yang terdiri dari pemeluk agama Islam tidak mau melihatnya, maka tujuan komersil itu tidak tercapai. Sebaliknya, dengan memasukkan unsur dakwah di dalam film berarti sekaligus dua tujuan dapat tercapai. Pertama para produser akan memperoleh keuntungan komersil dengan banyaknya penonton, Kedua para penonton yang mayoritasnya terdiri dari pemeluk agama Islam akan memperoleh keuntungan pula disamping hiburan dapat memperoleh bimbingan keagamaan.42

Sinetron drama yang mengandung nilai-nilai agama dapat bersaing dengan sinetron remaja, drama keluarga, dan sinetron misteri. Sinetron bernuansa religius akan segera menggantikan booming reality showmisteri yang sebelumnya melanda layar kaca. Sinetron-sinetron jenis ini patut dipuji karena isinya penuh dengan makna. Sinetron tersebut tidak hanya menghibur, tetapi tayangan semacam ini membawa nilai-nilai tertentu untuk disampaikan kepada pemirsa. Itulah sebabnya ada yang menyebut sinetron tersebut sebagai “tontonan sekaligus tuntunan”.43

42

Amura, Perfilman di Indonesia: Dalam Era Orde Baru hal.115

43

(48)

Sinetron sebagai salah satu produk kemajuan teknologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap arus komunikasi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bila dilihat lebih jauh, sinetron bukan hanya sekedar tontonan atau hiburan belaka, melainkan sebagai suatu media komunikasi yang efektif.

Karena sinetron mempunyai kelebihan bermain pada sisi emosional, ia mempunyai pengaruh yang lebih tajam untuk memainkan emosi pemirsa. Berbeda dengan buku yang memerlukan daya fikir aktif, penonton cukup bersifat positif. Hal ini dikarenakan sajian sinetron adalah sajian siap untuk dinikmati.

Sinetron sebagai media komunikasi dapat berfungsi sebagai media dakwah yang bertujuan mengajak kepada kebenaran. Dengan kelebihannya, sinetron menjadikan pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat menyentuh penonton tanpa harus menggurui. Maka penonton tanpa disadari akan berprilaku serupa dengan peran dalam suatu film yang pernah ditontonnya. Halini senada dengan ajaran Allah SWT bahwa untuk mengomunikasikan dengan pesan, hendaknya dilakukan secara qawlan sayyidan, yaitu pesan yang dikomunikasikan dengan benar, menyentuh, dan membekas dalam hati.44

Dengan karakter yang dapat berfungsi sebagai qawlan sayyidan inilah diharapkan dapat menggiring pemirsanya kepada ajaran Islam yang akan menyelamatkan.

Mungkin ada benarnya media televisi dianggap sebagai bagian dari “syiar” kebenaran, kebaikan, dan ketuhanan melalui wujud sinetron bertema religius.

44

(49)

Trendprogram acara sinetron televisi bertema religius sangat menarik untuk dikaji lebih jauh dalam hubungannya dengan fakta kehidupan masyarakat sehari-hari.

Persoalan menjadi semakin menarik lagi, ketika semua tayangan sinetron itu lebih banyak memunculkan ajaran agama tertentu sebagai fokus cerita. Ini terlihat dari banyaknya kalimat atau ungkapan dialog bersifat religi yang meluncur dari seorang tokoh agama tertentu ketika menghadapi kejahatan dalam simbol setan yang merasuki tokoh yang terlibat dalam cerita.

Ada beberapa faktor yang membahas mengenai efektivitas tayangan yang bertema religius di dalam suatu program.Pertama, agama atau ayat suci agama tertentu dalam kehidupan manusia sehari-hari memang sudah menjadi pegangan hidup masyarakat sejak masih hidup sampai meninggal dunia. Agama merupakan medium komunikasi antara manusia dengan Tuhan yang bersifat sakral dan individual.

Kedua, seluruh tayangan televisi merupakan hasil final dari proses kreativitas yang dikerjakan oleh sekumpulan orang kreatif di media televisi dan telah melalui proses imajinasi, kreasi dan daya cipta sehingga hasilnya menjadi menarik untuk ditonton. Artinya, tayangan televisi tidak seluruhnya bersifat objektif tetapi juga sangat kental mengandung unsur subjektif.45

Jadi, jika diamati memang benar tayangan religi dapat memberi kesadaran religius. Sepintas terlihat sinergi yang sangat ideal antara pilihan stasiun televisi mengedepankan program religius dengan kebutuhan pemirsa akan siraman rohani, yang tujuannya adalah meneguhkan keimanan hingga membuat pelaksanaan ibadah

45

(50)

berlangsung optimal. Namun yang juga dikhawatirkan, unsur horor dan mistis mulai banyak mengisi bagian sinetron-sinetron tersebut.

Agama, bagaimanapun memiliki wilayah-wilayah tersendiri yang tidak bisa disamaratakan dengan wilayah lain dalam kehidupan manusia. Pembagian wilayah sekuler dan nonsekuler memperlihatkan bahwa kehidupan agama walau dalam realitasnya sulit dan tak perlu dipisahkan dari kehidupan sehari-hari sesungguhnya memilki memiliki dimensi ruang yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. sebagai panduan normatif ideal, nilai-nilai agama bagaimanapun tidak bisa disamaratakan dengan nilai-nilai pragmatis dalam praktik kehidupan sehari-hari. seperti yang diungkapkan oleh Peck,

Religion is explicitly concerned with both ontological and experiental

dimensions of existence with being and meaning. Religion provides meaning for

individual existance by grounding it in a larger. Cocmic framework of significance.46

Seperti dinyatakan Peck, agama menyediakan makna bagi eksistensi individu berlandaskan pada kerangka signifikasi kosmis yang luas. Karena menyampaikan nilai agama melalui sinetron dengan berdasarkan hadis Nabi, khawatir hanya akan mereduksi nilai-nilai agama saja. Kajian agama mengenai Al-Qur‟an dan hadis Nabi, selama ini berlangsung dalam mimbar agama berupa dakwah di dalam masjid. Dengan adanya sinetron religi, mempresentasikan secara simbolik di ruang publik mimbar agama ke dalam televisi melalui sinetron yang di produksi dalam kerangka mekanisme standar produksi program televisi.

46

(51)

2. Isi Pesan Sintron Televisi

Sinetron religi yang ada pada saat ini sudah menjadi tayangan wajib setiap stasiun televisi di Indonesia. Karena tayangan-tayangan tersebut saat ini banyak diminati oleh pemirsa. Industri televisi di Indonesia sudah memasuki era di mana produk-produk (program acara) media televisi lebih ditentukan oleh the invisible hand

mekanisme pasar yang bertumpu pada kaidah permintaan-penawaran, logika sirkuit modal, dan rasionalitas maksimalisasi produksi dan konsumsi (media televisi).47

Berbicara mengenai isi pesan sinetron televisi, bukan hanya melihat dari segi budaya, tetapi juga berhubungan erat dengan masalah ideologi, ekonomi maupun politik. Dengan kata lain, tayangan sinetron merupakan cerminan kehidupan nyata dari masyarakat sehari-hari.

Paket sinetron yang tampil ditelevisi adalah salah satu bentuk untuk mendidik masyarakat dalam bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan tatanan norma dan nilai budaya masyarakat. Isi pesan yang terungkap secara simbolis, dalam paket sinetron berbentuk kritik sosial dan kontrol sosial terhadap penyimpangan-penyimpangan terjadi dalam masyarakat.48

Masalah yang sangat krusial dalam isi pesan sinetron ialah soal kualitas dan objektivitas. Tidak semua sinetron berkualitas. Banyak sinetron yang tidak dapat menunjukkan atau mengungkapkan objektivitas sosial.

47

Agus Sudibiyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran (Yogyakarta: LKIS bekerjasama dengan ISAI Jakarta, 2004) hal 64

48

(52)

Dalam penyampaian pesan melalui film, terjadi proses yang berdampak signifikan bagi para penonton. Penonton memahami dan merasakan seperti apa yang dialami salah satu pemeran. Pesan-pesan yang terdapat dalam sejumlah adegan film akan membekas dalam jiwa penonton. Sehingga pada akhirnya pesan-pesan itu membentuk karakter penonton.49

49

Figur

gambaran tentang tayangan-tayangan yang layak dan kurang layak ditayangkan di
gambaran tentang tayangan-tayangan yang layak dan kurang layak ditayangkan di . View in document p.18
gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan
Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan . View in document p.19
GAMBARAN UMUM KOMISI PENYIARAN INDONESIA (KPI) DAN SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI
GAMBARAN UMUM KOMISI PENYIARAN INDONESIA KPI DAN SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI . View in document p.53
gambaran tentang fungsi dan wewenang lembaga regulasi penyiaran independen
gambaran tentang fungsi dan wewenang lembaga regulasi penyiaran independen . View in document p.108
Gambar Ruang Editing
Gambar Ruang Editing . View in document p.116

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dalam Mengawasi Tayangan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Di Rcti PENUTUP Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dalam Mengawasi Tayangan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Di Rcti Latar Belakang Permasalahan PENDAHULUAN Pembatasan dan Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Pendekatan Penelitian Metodologi Penelitian Subjek dan Objek Penelitian Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Metodologi Penelitian Tinjauan Pustaka Sistematika Penulisan Pendahuluan Landasan Teori Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dalam Mengawasi Tayangan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Di Rcti Kesimpulan Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Dalam Mengawasi Tayangan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Di Rcti Definisi Penyiaran dan Regulasi Bentuk dan Model Regulasi Penyiaran Regulasi Penyiaran di Indonesia Definisi Sinetron Sinetron Sebagai Produk Acara di Televisi Karekteristik Sinetron Sinetron Sebagai Produk Acara di Televisi Faktor yang Mempengaruhi Isi Sinetron Media Dakwah Sinetron Sebagai Media Dakwah Isi Pesan Sintron Televisi Sejarah Berdirinya Komisi Penyiaran Indonesia KPI Wewenang, Tugas, dan Kewajiban KPI Struktur Kepengurusan KPI Komisi Penyiaran Indonesia KPI Pengawasan Isi Siaran oleh KPI Sinopsis Program Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Proses Pengawasan Isi Siaran oleh KPI Pengawasan Isi Siaran Terhadap Sinetron Religi Tukang Bubur Naik Haji Tukang Bubur Naik Haji Episode 561-562 Tanggal 1 Mei 2013 Tukang Bubur Naik Haji The Series Episode 563 Tanggal 2 Mei 2013 Tukang Bubur Naik Haji Episode 564 Tanggal 3 Mei 2013 Tukang Bubur Naik HajiEpisode 565-567 Tanggal 4 Mei 2013 Tukang Bubur Naik Haji Episode 568-571 Tanggal 5 Mei 2013