Pengaruh Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa

218  Download (0)

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan

untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

DisusunOleh : WulanWidiastuti

107017001086

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Pengaruh Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Skripsi jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Tujuan Penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui dan mendeskripsikan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang sisi datar dengan menggunakan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI), (2) untuk mengetahui dan mendeskripsikan hasil belajar matematika pada materi bangun ruang sisi datar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional, (3) untuk membandingkan hasil belajar matematika yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) dengan siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 Tangerang Selatan tahun ajaran 2013/2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Subjek penelitian ini adalah 82 siswa yang terdiri dari 41 siswa untuk kelas eksperimen dan 41 siswa untuk kelas kontrol pada siswa kelas VIII. Instrumen untuk mengumpulkan data pada penelitian ini berupa tes essay yang terdiri dari 18 soal.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. Rata – rata hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) lebih tinggi daripada rata – rata hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI), Hasil Belajar Matematika Siswa.

(6)

ii

ABSTRACT

The Effect Aptitude Treatment Interaction (ATI) Model to Mathematics Learning Outcomes. Skripsi Department of Mathematics Education, Faculty of Tarbiyah and Teachers Training of State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta.

The purpose of this research were (1) Determine and describe mathematics learning outcomes on material set by using Aptitude Treatment Interaction (ATI) model, (2) Determine and describe mathematics learning outcomes on material set by using conventional learning model, (3) Comparing mathematics learning outcomes is taught using Aptitude Treatment Interaction (ATI) with mathematics learning outcomes is taught using conventional learning model. The research was implement on Junior High School 10 Tangerang Selatan acdemic year 2013/2014. The method of this research is quasi-experiment. Subject of this research were 82 student consist of 41 students on experiment class and 41 students on control class in grade VIII. Instrument to collect data on this study is essay test consist of 18 items.

The result showed that the Aptitude Treatment Interaction (ATI) model has effect on student's mathematics learning outcomes. Average student's mathematics learning outcomes who were taught using Aptitude Treatment Interaction (ATI) model is higher than average student's mathematics learning outcomes were taught using conventional teaching model.

Keywords : Aptitude Treatment Interaction (ATI), Mathematics Learning Outcomes

(7)

iii

Puji syukur penulis panjatakan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat serta karunia nikmat – Nya yang tiada batas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Pengaruh ModelPembelajaran Aptitude

Treatment Interaction ( ATI ) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa“ ini

dengan baik. Sholawat dan salam semoga selelu tercurahkan atas baginda Nabi Muhammad SAW , yang memberikan cahaya dalam hidup penulis berupa cahaya islam.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana diharapkan. Walaupun waktu, tenaga dan pikiran telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, demi terselesaikannya skripsi ini agar bermanfaat bagi penulis khususnya da bagi pembaca pada umumnya.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan, pengarahan, dukungan serta bantuan dari berbagai pihak kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis sangat berterima kasih kepada yang terhormat:

1. Nurlena Rifai MA, Ph. D Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hida yatullah Jakarta

2. Dr. Kadir, M.Pd dan Abdul Muin, S. Si, M.Pd selaku ketua dan sekretaris jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(8)

4. Dr. Gelar Dwirahayu, M.Pd selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan dan masukan serta motivasi kepada penulis mulai dari awal masuk perkuliahan sampai terselesaikannya skripsi ini. 5. Pimpinan dan seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 6. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan pada

umumnya dan Jurusan Pendidikan Matematika khususnya yang telah memberikan kontribusi pemikiran melalui pengajaran dan diskusi yang berkaitan dengan skripsi ini.

7. Paling istimewa untuk orang tua ku tercinta Ibunda Yanih yang telah merawat , membesarkan, mendidik dan mencurahkan kasih sayang serta tak bosan – bosan nya memberikan dukungan moril, materil, dukungan dan doa untuk penulis.

8. Suami ku tercinta Dedi Rosadi yang selalu memberikan motivasi dan dukungan secara moril dan materil serta kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dan calon bayi kita

Penulis berharap dan berdo’a kepada Allah SWT, agar seluruh pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis, akan mendapatkan balasan yang lebih disisiNya, jazakumullah akhsanaljaza.

Jakarta, Agustus 2014

Penulis

(9)

v

hal

LEMBAR PENGESAHAN

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Pembatasan Masalah ... 9

D. Perumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 11

A. Deskripsi Teoretik ... 11

I. Hasil Belajar Matematika ... 11

1. Belajar dan Pembelajaran ... 11

2. Matematika dan Belajar Matematika ... 15

3. Hasil Belajar Matematika ... 18

II. Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) .... 23

1. Hakikat dan Pengertian Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) ... 23

2. Pengelompokkan Siswa Berdasarkan Kemampuan ... 26

3. Macam – macam Perlakuan (treatment) terhadap Perbedaan Tingkat Kemampuan Siswa ... 28

III.Model Pembelajaran Konvensional (Klasikal) ... 32

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 35

C. Kerangka Berpikir ... 38

(10)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 40

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40

B. Metode dan Desain Penelitian ... 40

C. Variabel Penelitian ... 41

D. Populasi dan Sampel ... 41

E. Teknik Pengumpulan Data ... 42

F. Instrumen Penelitian... 43

1. Uji Validitas ... 44

2. Uji Reliabilitas ... 46

3. Uji Taraf Kesukaran ... 46

4. Uji Daya Pembeda... 48

G. Teknik Analisis Data ... 49

1. Pengujian Prasyarat Analisis ... 49

a. Uji Normalitas ... 50

b. Uji Homogenitas ... 51

2. Pengujian Hipotesis ... 52

H. Hipotesis Statistik ... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 54

A. Deskripsi Data ... 54

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 58

1. Uji Normalitas ... 58

2. Uji Homogenitas ... 59

C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan ... 60

1. Pengujian Hipotesis ... 60

2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 61

D. Keterbatasan Penelitian ... 68

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

A. Kesimpulan... 69

B. Saran ... 70

(11)

vii

Tabel 2.2 Perbandingan Kualitatif antara Model Pembelajaran Aptitude

Treatment Interacction (ATI) dengan Pembelajaran Konvensional ... 33

Tabel 3.1 Indikator Kompetensi Tes Akhir ... 43

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Butir Soal ... 45

Tabel 3.3 Klasifikasi Interpretasi Taraf Kesukaran ... 47

Tabel 3.4 Hasil Uji Taraf Kesukaran ... 47

Tabel 3.5 Hasil Uji Daya Pembeda Soal ... 49

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Kemampuan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Eksperimen ... 55

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kemampuan Hasil belajar Matematika Siswa Kelas Kontrol ... 56

Tabel 4.3 Perbandingan Hasil Belajar Matematika Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol... 57

Tabel 4.4 Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 59

Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas ... 59

Tabel 4.6 Hasil Uji Perbedaan dengan Statistik Uji t... 61

Tabel 5 Kisi – kisi Uji Coba Tes Hasil Belajar Bangun Ruang Sisi Datar ... 176

Tabel 6 Kriteria Skor Hasil Belajar Matematika... 177

Tabel 7 Nilai Post Test Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 185

Tabel 8 Penghitungan Validitas Tes Akhir ... 188

Tabel 9 Penghitungan Daya Pembeda Tes Akhir ... 190

Tabel 10 Penghitungan Taraf Kesukaran Tes Akhir ... 192

Tabel 11 Penghitungan Uji Reliabilitas Tes Akhir ... 194

(12)

viii

Tabel 13 Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen ... 196

Tabel 14 Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol ... 200

Tabel 15 Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 203

Tabel 16 Perhitungan Uji Normalitas Kelas Kontrol ... 204

Tabel 17 Perhitungan Uji Homogenitas ... 205

(13)

ix

Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ... 102

Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa (LKS) ... 129

Lampiran 4 Modul Pembelajaran Siswa ... 151

Lampiran 5 Kisi – kisi Instrumen ... 176

Lampiran 6 Soal Test Akhir ... 178

Lampiran 7 Kunci Jawaban Soal Tes Akhir ... 181

Lampiran 8 Nilai Post Test Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 185

Lampiran 9 Langkah – langkah Perhitungan Validitas ... 187

Lampiran 10 Langkah – langkah Perhitungan Daya Pembeda Tes ... 189

Lampiran 11 Langkah – langkah Perhitungan Uji Taraf Kesukaran Tes ... 191

Lampiran 12 Langkah – langkah Perhitungan Uji Reliabilitas ... 193

Lampiran 13 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas, Tingkat Kesukaran, dan Daya Pembeda ... 194

Lampiran 14 Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen ... 195

Lampiran 15 Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Eksperimen ... 196

Lampiran 16 Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol ... 199

Lampiran 17 Tabel Distribusi Frekuensi Kelas Kontrol ... 200

Lampiran 18 Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 203

Lampiran 19 Perhitungan Uji Normalitas Kelas Kontrol ... 204

Lampiran 20 Perhitungan Uji Homogenitas ... 205

Lampiran 21 Perhitungan Uji Hipotesis Statistik ... 206

Lampiran 22 Tabel Nilai “r” Product Moment ... 207

Lampiran 23 Luas Kurva Di Bawah Normal ... 209

Lampiran 24 Nilai Kritis Distribusi F ... 210

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia dan Negara. Setiap Negara. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sejalan dengan itu, Undang – Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 mengamanatkan kepada Pemerintah, untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu pendidikan nasional yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini senada dengan apa yang tertuang dalam Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi :

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan dalam kehidupan bangsa yang bertujuan untukmengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Penyelenggara pendidikan atau dalam hal ini adalah sebuah lembaga atau institusi pendidikan di Indonesia dari mulai tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi sangat banyak dan memiliki tujuan institusional yang beragam pula.2 Namun tujuan – tujuan institusional tersebut harus saling menunjang menuju satu tujuan utama yaitu tujuan Pendidikan Nasional. Dimana secara sederhana tujuan pendidikan adalah membina anak didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap baik sehingga dengan

1

Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung:Pt. Rosdakarya, 2011), cet.1, h. 149

2

(15)

kecerdasannya itu mereka mampu menghadapi tantangan – tantangan hidup di masa yang akan datang.3

Belakangan ini arus globalisasi di seluruh dunia sangat pesat di segala bidang kehidupan termasuk di bidang pendidikan. Maka, pendidikan Nasional Indonesia harus mampu mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas di tengah arus globalisasi tersebut. Karena “tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia berkualitas, lulusan suatu sekolah, maka terjangan arus globalisasi itu akan amat sulit dihadapi.”4 Sumber Daya Manusia yang siap menghadapi globalisasi dunia adalah manusia – manusia yang mampu bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik dan bidang – bidang kehidupan lainnya.

Pembelajaran Matematika yang ada di tingkat satuan pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi mampu mengembangkan kemampuan manusia dalam berpikir secara logis, sistematis, analisis, kritis dan kreatif.5 Semua kemampuan berpikir tersebut merupakan modal bagi manusia dalam bertindak dan mengambil keputusan secara tepat dan cepat sesuai situasi yang ada.

Kemampuan berpikir logis membantu setiap orang untuk berpikir secara rasional dalam mengambil suatu keputusan, cara berpikir sistematis dan analitis dengan belajar matematika membantu manusia terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis sehingga seseorang menjadi terhindar dengan cara berpikir menarik kesimpulan secara “kebetulan”, dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif akan menunjang kesiapan manusia untuk bersaing dan berkompetisi di bidang ekonomi dan teknologi di era ini. “Maka kita harus menyadari bahwa matematika itu penting baik sebagai alat bantu, sebagai ilmu

3

Iif Khoiru Ahmadi dkk, Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP, (Jakarta:Prestasi Pustaka, 2011), h.84

4 ibid., 5

Yelli Oktavien dkk, Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Sekolah Menengah Atas melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe JigSaw, vol.17 no.2 2012, h.22, 2013

(16)

(bagi ilmiyawan), sebagai pembimbing pola berfikir, maupun sebagai pembentuk sikap.”6

National Councill of Teacher of Mathematics (NCTM) menetapkan pemahaman, pengetahuan, dan kemampuan yang harus diperoleh siswa, mulai dari taman kanak – kanak hingga kelas XII. Standar isi pada NCTM memuat bilangan dan operasi aljabar, geometri, pengukuran, analisis data, dan peluang yang secara eksplisit dijelaskan sebagai kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam pembelajaran. Standar prosesnya memuat kemampuan pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian, komunikasi, koneksi, dan representasi, yang merupakan cara penting untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan 7

Hal ini menunjukkan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang memiliki kedudukan penting dalam pendidikan. Mengingat pentingnya mata pelajaran matematika, maka pembelajaran matematika harus didesain agar menarik minat siswa dan menumbuhkan dorongan untuk belajar matematika sesuai dengan kemampuan mereka dan sesuai dengan yang mereka harapkan sehingga kemampuan mereka khususnya mata pelajaran matematika dapat berkembang optimal. Berdasarkan kenyataan yang ada, dalam kehidupan sehari – hari di Sekolah Dasar maupun sekolah lanjutan pertama dan sekolah menengah, masih banyak siswa yang menganggap mata pelajaran matematika sebagai pelajaran yang tidak penting untuk dipelajari karena hanya membuat kepala mereka pusing dengan rumus – rumus yang harus mereka hafalkan apalagi jika ditambah dengan suasana kelas menegangkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam bidang studi matematika yang masih memprihatinkan. Selain itu, hal ini dapat dilihat dari data yang mendukung opini tersebut, yaitu :

Berdasarkan artikel Jakarta kompas.com. “Pencapaian prestasi belajar

siswa Indonesia di bidang sains dan matematika, menurun”. Menurut The

Trends in International Mathematics and Science Study, secara internasional,

mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. “Dalam bidang MIPA, di antara

45 negara peserta TIMSS, siswa SMP kelas 2 Indonesia berada pada urutan

6

E.T.Ruseffendi M, op. cit., h.39 7

(17)

ke – 34 untuk Matematika.”8Demikian hasil Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti siswa kelas VIII Indonesia tahun 2011.

Penilaian yang dilakukan International Association for the Evaluation of

Educational Achievement Study Center Boston College tersebut, diikuti

600.000 siswa dari 63 negara. Untuk bidang Matematika, Indonesia berada di

urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya dites.Skor

Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007.Dibandingkan dengan

hasil TIMSS yang muncul empat tahunan, justru terlihat penurunan yakni 403

poin pada tahun 1999, 411 poin pada 2003 dan anjlok menjadi 397 poin pada

tahun 2007”.9

Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia dan Singapura. Siswa Malaysia memperoleh nilai rata – rata 593.10Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 136 jam untuk kelas VIII, lebih banyak dibanding Malaysia yang hanya 123 jam dan Singapura 124 jam.Namun hasil penelitian yang dipublikasikan di Jakarta pada 21 Desember 2006 itu

menyebutkan, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut.

Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata

411.Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah,

475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut).11 Maka dapat

disimpulkan bahwa waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak sebanding dengan prestasi yang diraih, itu artinya ada sesuatu dengan pembelajaran atau teknik pengajaran matematika di Negara Indonesia yang harus diperbaiki.

Rendahnya hasil belajar juga terjadi di SMPN 10 Tangerang Selatan .Hal ini terlihat dari data nilai ulangan harian kelas VIII yang rata – rata siswanya masih mendapatkan nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Selain itu, hasil wawancara dengan guru bidang studi matematika

8

Rusman, Model – model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Bandung:Rajawali Pers, ), h.382

9

http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/14/09005434

10

Ina v.s Mullis dkk, TIMSS 2007 international mathematics report, dari http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html 6 september 2013, h.38

11

(18)

juga menunjukkan masih banyak masalah – masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran matematika. Diantaranya adalah motivasi belajar siswa yang rendah, kemampuan dasar Matematika mereka juga rendah, dan tidak adanya dukungan dari orangtua untuk belajar.(terlampir)

Guru merupakan kunci dalam pembelajaran, karena guru menyusun desain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar. Namun kenyataannya saat ini adalah guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai objek dan bukan subjek didik. Ada persepsi umum yang sudah berakar dalam dunia pendidikan. Persepsi umum ini menganggap bahwa sudah merupakan tugas guru untuk mengajar dan menyodori siswa dengan muatan – muatan informasi dan pengetahuan. Sehingga tidak ada aktifitas aktif dan kreatif dari siswa dalam pembelajaran di dalam kelas. Semua ini dapat berakibat terhadap rendahnya pencapaian hasil belajar siswa.

Mencermati pentingnya pelajaran matematika maka optimalisasi pembelajaran matematika di dalam kelas menjadi sangatlah penting juga. Sehingga seluruh siswa mampu memberdayakan semua potensi yang dimilikinya, mengembangkan inovasi dan kreativitasnya. “Karena Siswa sebagai individu yang potensial tidak dapat berkembang banyak tanpa bantuan guru dan masyarakat sekitar.” 12 Potensi ini hanya dapat digali dan dikembangkan serta di pupuk secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang dikelola secara serasi dan seimbang dengan memperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal.

Tanpa guru dan orang tua sadari semua orang pada umumnya dan siswa pada khususnya bisa mengembangkan masing – masing kecerdasan hingga ke tingkat kompetensi yang memadai.13 Hampir semua orang memiliki kapasitas untuk mengembangkan semua jenis delapan kecerdasan ke tingkat kinerja yang cukup tinggi jika diberi dorongan, pengayaan, dan pengajaran yang sesuai.

12

E.T.Ruseffendi M, op. cit., h.7 13

(19)

Sejalan dengan itu seorang guru harus menyadari bahwa kecerdasan manusia itu beraneka ragam. “Guru harus menghayati bahwa pada umumnya dari sekelompok anak didiknya itu ada yang pandai, ada yang bodoh, dan ada yang biasa – biasa saja.”14 Karena pada dasarnya manusia pun berbeda – beda, apalagi dalam ruang lingkup kecil yaitu sebuah kelas, pastilah setiap siswanya memiliki minat, selera, bakat, fisik, cara belajar, kecepatan belajar dan sebagainya yang berbeda – beda pula.15 Mengingat kecepatan tiap –tiap peserta didik dalam mencapai kompetensi pembelajaran tidak sama, maka dalam pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar antara peserta didik yang sangat pandai dan pandai dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi. Maka sebagai konsekuensinya ialah pengajaran pun harus individual, yaitu pengajaran yang memperhatikan perbedaan – perbedaan individu, agar siswa belajarnya lebih berhasil (efektif dan efisien) dan optimal dan penuh tanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap manusia pada umumnya.16

“Semua anak memiliki kecenderungan yang berbeda dalam kedelapan jenis kecerdasan (kecerdasan linguistik, logis matematis, spasial, kinestetik tubuh, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis) sehingga setiap strategi tertentu mungkin akan sangat sukses pada satu kelompok siswa, dan kurang berhasil pada kelompok lainnya.”17Meskipun proses pembelajaran ditujukan untuk semua kelompok peserta didik tapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan – perbedaan individual peserta didik sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing – masing peserta didik secara optimal. Karena perbedaan – perbedaan individu ini ada di antara para siswa, guru disarankan paling baik untuk menggunakan berbagai strategi pengajaran dengan siswa mereka. Sehingga siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan kemampuannya dan memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan

14

E.T.Ruseffendi M.op. cit., h.50 15

ibid., h.249 16

ibid., h.299 17

(20)

kualitas pengajaran yang berdiferensiasi pula. Demikian pula dalam mengajarkan suatu topik, dan dalam pengajaran matematika pada umumnya, kita harus mengatur strategi. “Berdasarkan kepada kondisi dan situasi yang ada kita harus mengambil keputusan bagaimana strateginya.”18Maka idealnya strategi pembelajaran harus bertolak pada analisis kebutuhan dan karakteristik masing – masing individu atau siswa sebagai peserta didik.

Namun realitasnya di lapangan, model pembelajaran yang

diimplementasikan di sekolah – sekolah saat ini pada umumnya masih bersifat tradisional (konvensional) dan massal. “Pada pengajaran klasikal itu guru mengajar sejumlah murid yang di asumsikan minatnya, kepentingannya, kecakapannya, dan kecepatan belajarnya relatif sama”. 19Dan memberikan perlakuan yang sama kepada semua siswa dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Sementara keadaan kelas pada umum nya, bakat (aptitude) siswa sangat heterogen .Dalam pembelajaran konvensional, bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Jika diberikan kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Pengajaran tradisional (klasikal) itu tidak mampu memenuhi kepentingan siswa secara individual sehingga siswa tidak dapat mengoptimalkan bakat yang dimilikinya di dalam kelas.20 Pemenuhan kebutuhan individual ini akan lebih tidak dapat terlayani bila kelas tradisional itu terdiri dari murid – murid yang kemampuan individual antara yang seorang dengan yang lainnya sangat mencolok.

Pada pengajaran model itu guru tidak mungkin dapat memperhatikan kepentingan murid orang demi orang, baik kecepatan belajarnya, kesenangannya (seleranya), kebiasaan belajarnya, dan lain – lain. Biasanya ada sebagian kecil individu yang terlayani yaitu yang sangat pandai (dengan diberi tugas tambahan) dan anak yang belajar lambat (dengan diberikan bimbingan khusus).Tetapi murid –murid pada umumnya secara individual kepentingannya tidak dapat diperhatikan.

18

E.T.Ruseffendi M.op. cit., h.95 19

ibid.,h.231 20

(21)

“Hasil beberapa penelitian Depdikbud (1994), menunjukkan sekitar sepertiga peserta didik yang dapat digolongkan sebagai peserta didik berbakat (gifted and talented) mengalami gejala “prestasi kurang” (underachiever).”21 Model strategi pelayanan pendidikan alternatif perlu dikembangkan untuk menghasilkan peserta didik yang unggul melalui pemberian perhatian, perlakuan dan layanan pendidikan berdasarkan bakat, minat dan kemampuannya.

Model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang sedang kita hadapi dalam dunia pendidikan matematika di Indonesia. Karena secara substansif dan teoretik Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat diartikan sebagai suatu konsep atau pedekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran (treatment) yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing – masing.

Sebagai sebuah kerangka teoritik model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) berasumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik atau hasil belajar akan tercipta bilamana perlakuan – perlakuan dalam pembelajaran disesuaikan sedemikian rupa dengan perbedaan kemampuan siswa.

Fenomena yang digambarkan sebelumnya, baik yang menyangkut rendahnya kualitas prestasi belajar matematika atau hasil belajar matematika siswa maupun layanan pembelajaran yang belum dapat mengapresiasi dan mengakomodasi perbedaan individu (aptitude) siswa merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi oleh guru. Maka dari permasalahan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Terhadap Hasil belajar Matematika Siswa.

21

(22)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan sebelumnya, maka permasalahan dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Masih rendahnya hasil belajar matematika pada siswa

2. Pembelajaran Matematika masih bersifat konvensional sehingga proses belajar mengajar tidak memperhatikan keberagaman kemampuan siswa 3. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran

C. Pembatasan Masalah

Penelitian berharap agar tujuan penelitian ini menjadi jelas dan terarah, masalah yang timbul dalam identifikasi masalah demikian banyaknya, sehingga pada kesempatan ini sulit untuk diteliti semuanya. Maka dalam penelitian ini akan difokuskan dan diukur pada ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) pada kelas eksperimen dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada kelas control di SMPN 10 Tangerang Selatan kelas VIII Semester II, pada materi Bangun Ruang Sisi Datar.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi serta pembatasan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :

1. Bagaimana hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model Aptitude Treatment Intercation (ATI) dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional pada pelajaran matematika ? 2. Apakah terdapat pengaruh model Aptitude Treatment Interaction (ATI)

(23)

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan model Aptitude Treatment Interaction (ATI) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional dan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model Aptitude Treatment Interaction (ATI) terhadap hasil belajar matematika siswa

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti untuk kepentingan teoritis-praktis akselerasi dalam peningkatan mutu pendidikan.

1. Bagi siswa, dapat membantu dalam memahami pelajaran matematika, mengoptimalkan kemampuan berpikir, tanggung jawab, dan kemampuan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

2. Bagi guru, dapat menjadi masukan dalam hal melaksanakan pembelajaran dan menambah wacana tentang model pembelajaran yang efektif sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika

3. Bagi peneliti, dapat memperluas wawasan tentang proses pembelajaran dengan model Aptitude Treatment Interaction (ATI) dibidang matematika dan dapat menjadi acuan bagi peneliti lain yang kelak ingin menggunakan model pembelajaran ini.

(24)

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKADAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretik

I. Hasil Belajar Matematika 1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah suatu proses kegiatan yang bisa dilakukan secara formal maupun informal dan merupakan komponen paling vital dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, sehingga tanpa proses belajar sesungguhnya tidak pernah ada jenjang pendidikan. Belajar bukan hanya bisa dilakukan disekoah, tetapi bisa juga dilakukan diluar sekolah, seperti rumah, dijalan, ataupun disekeliling kita. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dan satu kegiatan yang dilakukan oleh setiap manusia sejak membuka mata sampai menutup mata.” lifelong education” pada tahun 1970

diungkapkan Paul Engrand dalam mendeskripsikan konsep

pendidikan sepanjang hayat. “Jauh sekitar 15 abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW, pernah menyampaikan bahwa belajar memang seharusnya sejak dalam buaian sampai ke liang lahat, minaal Mahdi ilaal lahdi, from cradle to the grave”.1

Sepanjang kehidupan manusia disadari atau tidak sesungguhnya selalu melakukan proses belajar. Berbagai cara belajar dilakukan oleh manusia seperti dengan cara mendengar, membaca, melihat, konsultasi dengan lingkungan luar, mengamati lingkungan dan lain sebagainya. Bahkan kemampuan orang untuk belajar ini merupakan salah satu ciri penting yang membedakan manusia dengan makhluk lain. “Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses

1

(25)

belajar terjadi dalam diri peserta didik sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.”2

Belajar pada dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam beriteraksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor. Dikatakan positif oleh karena perubahan perilaku itu bersifat adanya penambahan dari perilaku sebelumnya yang cenderung menetap (tahan lama dan tidak mudah dilupakan).3Senada dengan Gredler, Gage (1984) dalam Sagala (2009) mendefinisikan belajara adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.Gagne (1977), seperti yang dikutip oleh Dahar (1993:76), menyatakan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya, yaitu peningkatkan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis kinerja. 4 Belajar juga merupakan proses aktivitas mental seseorang dari tidak tahu menjadi tahu sehingga lebih mendalami suatu kondisi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah rangkaian aktivitas yang menghasilkan perubahan positif menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. “Proses belajar menghasilkan perubahan tingkah laku, namun tidak setiap perubahan perilaku merupakan hasil belajar.”5 Hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan – kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hampir sebagian

2

Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, (Jakarta:Rineka Cipta, 2008), cet.1, h. 62.

3

Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Prenada Media Grup, 2010), h.229 4

Suyono, op.cit., h.12 5

(26)

besar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar.6

Dari pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, definisi belajar hampir selalu diidentikkan dengan adanya pengalaman dan perubahan.Pengalaman merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya.Sedangkan perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh individu.

Pengalaman atau perubahan yang terjadi pada siswa merupakan hasil dari kegiatan siswa dalam mengkonstruksi pemahamannya terhadap suatu informasi yang diterima. Dalam membangun pemahaman tersebut, siswa membutuhkan bimbingan individu lain di luar dirinya agar tercipta pemahaman yang benar dan tidak salah terhadap suatu informasi.

Berdasarkan deskripsi di atas, belajar dapat dirumuskan sebagai proses siswa atau individu dalam membangun gagasan atau pemahamannya terhadap suatu materi atau informasi, baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial. Diakhir proses belajar dihasilkan suatu perubahan yang dapat dilihat dalam perilaku.

Jadi, belajar disini diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri.

Peristiwa belajar disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematis dibandingkan dengan belajar yang hanya semata – mata berasal dari pengalaman dalam kehidupan sosial di

6

(27)

masyarakat. Belajar dengan proses pembelajran yang didalamnya terdapat peran guru, bahan ajar dan lingkungan yang kondusif yang sengaja diciptakan akan membuat belajar itu menjadi bermakna.

Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup.

“Pembelajaran (instruction) adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik.”7Bisa dikatakan bahwa pembelajaran berarti adalah upaya menciptakan suatu kondisi agar terjadi kegiatan belajar.

“Sadiman dkk memberikan pengertian tentang pembelajaran, yaitu usaha – usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber – sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik.”8Dalam Undang – Undang tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20 juga dijelaskan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.9

Jelas terlihat bahwa terdapat interaksi dua arah dari seorang guru sebagai komunikator dan peserta didik sebagai komunikan dan materi yang dikomunikasikan berisikan pesan berupa ilmu pengetahuan, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran lebih ditekankan pada kegiatan belajar siswa yang telah dirancang oleh guru dengan usaha yang terencana melalui prosedur atau metode tertentu agar terjadi proses perubahan perilaku secara komprehensif, hal yang paling penting dalam proses pembelajaran ini adalah perlunya komunikasi timbal

7

Warsita, op.cit., h.85 8

ibid., 9

(28)

balik (transaksional) antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

2. Matematika dan Belajar Matematika

“Istilah “Matematika” berasal dari kata Yunani “mathein” atau “manthenein” yang artinya “mempelajari”. Mungkin juga kata itu erat

hubungannya dengan kata Sansekerta “medha” atau “widya” yang

artinya ialah “kepandaian”, “ketahuan”, atau

“inteligensi”.”10

Berdasarkan asal katanya maka matematika dapat diartikan sebagai ilmu yang didapat dengan cara belajar dan berpikir. Menurut Russel bahwa matematika sebagai suatu studi yang dimulai dari pengkajian bagian – bagian yang sangat dikenal menuju arah yang tidak dikenal.11

Soedjadi memandang bahwa “matematika merupakan ilmu yang

bersifat abstrak, aksiomatik, dan deduktif.12Matematika timbul karena fikiran – fikiran manusia, yang berhubungan dengan idea, proses, dan penalaran.Bila diumpamakan, memahami matematika itu seperti membangun sebuah rumah. Bila fondasinya tidak kuat maka rumah itu akan ambruk. Agar rumah itu kuat dan tahan lama, selain fondasinya, juga tiang – tiangnya harus kuat dan harus dipelihara pula.

Dari berbagai pandangan dan pengertian di atas, dapat disarikan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan lambang – lambang atau simbol dan memiliki arti serta dapat digunakan dalam pemecahana masalah yang berkaitan dengan bilangan.

Belajar Matematika menurut Zoltan P. Dienes sistem

pengajarannya dibuat dalam usaha peningkatan pengajaran

10

Andi Hakim Nasoetion, Landasan Matematika, (Jakarta:Bharatara Karya Aksara, 1980), cet.3, h.12.

11

Hamzah B Uno dan Masri Kudrat Umar, Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan, (Jakarta:PT.Bumi Aksara, 2009), cet.1, h.108.

(29)

Matematika agar lebih mudah dapat dipelajari dan lebih menarik.13Dienes berpendapat bahwa ada 6 tahap dalam belajar dan mengajarkan konsep matematika. Tahap - tahap itu ialah : (1) Bermain bebas, (2) Permainan, (3) Penelaahan sifat bersama (searching for

communalities), (4) Representasi, (5) Penyimbulan, (6)

Pemformalan.14

Belajar matematika menurut Robert M. Gagne dalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain ialah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri (belajar, bekerja, dan lain – lain), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar. Objek langsung ialah fakta, keterampilan, konsep dan aturan (principle). Belajar oleh Gagne dikelompokkan ke dalam 8 tipe belajar, yaitu : isyarat (signal) stimulus respon rangkaian gerak (motor chaining), rangkaian verbal (verbal chaining), memperbedakan (discrimination learning), pembentukan konsep (concept formation), pembentukan aturan (principle formation), dan pemecahan masalah (problem solving).15

Sementara pada pembahasan teori belajar – mengajar dari Bruner hanya teori – teori atau dalil Bruner dalam belajar Matematika. Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep – konsep dan struktur

– struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep – konsep dan struktur

– struktur. Dalil – dalil itu ialah : Dalil penyusunan (construction theorem), dalil notasi (notation theorem), dalil kekontrasan dan

13

E.T.Ruseffendi M, Pengajaran Matematika Modern untk Orang Tua Murid, Guru dan SPG, (Bandung:Tarsito,1979), h.134.

14

ibid., h. 136. 15

(30)

keanekaragaman (contras and variation theorem) dan dalil pengaitan (connectivity theorem).16

Hakikat belajar matematika adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dan hubungan – hubungan serta simbol – simbol, kemudian diterapkan pada situasi nyata. Matematika melibatkan pengamatan, penyelidikan, dan keterkaitannya dengan fenomena fisik dan sosial. Berkaitan dengan hal itu, maka belajar matematika merupakan suatu kegiatan yang berkenaan dengan penyeleksian himpunan – himpunan dari unsur matematika yang sederhana dan merupakan himpunan – himpunan baru selanjutnya membentuk himpunan baru yang lebih rumit. 17 Oleh karena itu, belajar matematika merupakan suatu bentuk belajar yang dilakukan secara sadar, terencana, dan berkesinambungan.

Dari uraian di atas mengenai matematika dan belajar matematika, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika bagi para siswa merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun penalaran dalam suatu hubungan diantara pengertian – pengertian itu. Dalam pembelajaran matematika para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat – sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstrak). Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan informasi misalnya melalui persamaan – persamaan, atau tabel – tabel dalam model – model matematika yang merupakan penyederhanaan dari soal – soal cerita atau soal – soal uraian matematika lainnya.

Pembelajaran matematika adalah suatu proses yang dirancang oleh guru agar mampu mengelola semua komponen dalam belajar matematika dan hendaknya antara komponen yang satu dengan yang

16

ibid., h. 91

17Hamzah B Uno, Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran, (Jakarta : PT. Bumi

(31)

lainnya dapat berinteraksi secara harmonis dengan tujuan untuk menciptakan belajar matematika yang efektif.

3. Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar merupakan tolok ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu mata pelajaran, biasanya dinyatakan dengan nilai yang berupa huruf atau angka-angka. Hasil belajar dapat berupa keterampilan, nilai dan sikap setelah siswa mengalami proses belajar. Melalui proses belajar mengajar diharapkan siswa memperoleh kepandaian dan kecakapan tertentu serta perubahan-perubahan pada dirinya.

Hasil belajar (achievement) merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan – kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpiki rmaupun keterampilan motorik. ”Hampir sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar disekolah, hasil belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata – mata pelajaran yang ditempuhnya yang dilambangkan dengan angka – angka atau huruf – huruf seperti 0 – 10 atau A , B.”18

Dari proses belajar diharapkan siswa memperoleh prestasi belajar yang baik sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang ditetapkan sebelum proses belajar berlangsung. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar adalah menggunakan tes. Tes ini digunakan untuk menilai hasil belajar yang dicapai dalam materi pelajaran yang diberikan guru di sekolah.

Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan tolok ukur atau patokan yang menentukan tingkat

18

(32)

keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu materi pelajaran dari proses pengalaman belajarnya yang diukur dengan tes.

Belajar yang berkenaan dengan hasil, (dalam pengertian banyak hubungannya dengan tujuan pengajaran), Bloom dan kawan – kawan mengembangkan ranah kognitif menjadi enam kelompok yang tersusun secara hierarkis mulai dari kemampuan yang paling rendah sampai kemampuan berpikir tingkat tinggi, yakni19 :

Tabel 2.1

Deskripsi Ranah Kognitif menurut Benyamin S. Bloom

No Sub Ranah Deskripsi

1 Pengetahuan

(knowledge)

1.1 Mengetahui hasil – hasil spesifik (knowledge of specifics)

1.1.1 Mengetahui istilah (knowledge of terminology)

1.1.2 Mengetahui fakta spesifik (knowledge of specific facts)

1.2 Mengetahui jalan dan cara terdekat terkait objek spesifik (knowledge of ways and means of dealing with specifics)

1.2.1 Mengetahui aturan umum (knowledge of conventions) 1.2.2 Mengetahui kecenderungan dan sistematika urutan (knowledge of trends and sequences)

1.2.3 Mengetahui klasifikasi dan kategori (knowledge of

classifications and categories) 1.2.4 Mengetahui kriteria (knowledge of criteria)

1.2.5 Mengetahui metodologi (knowledge of methodology)

1.3 Mengetahui sifat umum dan

asbtraksi suatu subjek

pengetahuan (knowledge of the

19Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar,

(33)

universals and abstractions in field)

1.3.1 Mengetahui prinsip dan

generalisasi (knowledge of

principles and generalizations) 1.3.2 Mengetahui teori dan struktur

pengetahuan (knowledge of

theories and structures)

2 Pemahaman

(comprehension)

2.1 Menerjemahkan makna pengetahuan (translation)

2.2 Menafsirkan (interpretation) 2.3 Ekstrapolasi (extrapolation)

3 Penerapan

(application)

4 Analisis

(analysis)

4.1. Analisis unsur – unsur pengetahuan (analysis of elements)

4.2. Analisis hubungan (analysis of relationship)

4.3. Analisis prinsip – prinsip

pengorganisasian pengetahuan

(analysis of organizational principles)

5 Sintesis

(synthesis)

5.1. Produksi komunikasi bagian – bagian pengetahuan yang khas

(productions of unique

communications)

5.2. Produksi rancangan atau tujuan dan makna dari suatu operasi ilmiah tertentu (production of plan, proposed set of operations)

5.3. Menurunkan suatu himpunan

hubungan yang abstrak (derivation of a set abstract relations)

6 Evaluasi

(Evaluation)

6.1. Perkembangan terkait bukti internal (judgments in terms of internal evidence)

(34)

Kawasan kognitif yang berkenaan dengan tujuan pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut :20

A. Tingkat Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan di sini di artikan kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterimanya.

Contoh :

1) Siswa dapat menyebutkan kembali bangun – bangun geometri yang berdimensi tiga

2) Siswa dapat menggambarkan satu buah segitiga sembarang

B. Tingkat Pemahaman (Comprehension)

Pemahaman di sini diartikan kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.

Contoh :

Siswa dapat menjelaskan dengan kata – katanya sendiri tentang perbedaan bangun geometri yang berdimensi dua dan berdimensi tiga.

C. Tingkat Penerapan (Application)

Penerapan di sini diartikan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari – hari

Contoh :

1) Siswa dapat menentukan salah satu sudut dari suatu segitiga jika diketahui sudut – sudut lainnya

20

(35)

2) Siswa dapat menghitung panjang sisi miring dari suatu segitiga siku – siku jika diketahui sisi lainnya.

D. Tingkat Analisis (Analysis) Contoh :

Siswa dapat mengolah data mentah melalui statistika, sehingga dapat diperoleh harga – harga range, interval kelas,panjang kelas, rata – rata dan standar deviasinya

E. Tingkat Sintesis (Synthesis)

Sintesis di sini diartikan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh

Contoh :

Siswa dapat mengemukakan formula baru dalam menyelesaikan suatu masalah

F. Tingkat Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi di sini diartikan kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan criteria atau pengetahuan yang dimilikinya.

Contoh :

1) Siswa dapat menilai unsur kepadatan isi, cakupan materi, kualitas analisis dan gaya bahasa yang dipakai oleh seorang penulis makalah tertentu

2) Siswa dapat menilai kualitas kemampuan pemikiran temannya berdasarkan kemampuannya dirinya.

(36)

sebuah kesimpulan bahwa hasil belajar matematika adalah merupakan tolok ukur atau patokan yang menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu materi pelajaran matematika setelah mengalami pengalaman belajar yang dapat diukur melalui tes. Dengan demikian, hasil belajar matematika pada penelitian ini adalah tingkat penguasaan seseorang yang mencakup ranah kognitif yang terbatas pada pemahaman (C2) dan penerapan (C3) sebagai akibat dari proses belajar matematika.

II. Model Pembelajaran AptitudeTreatment Interaction (ATI) 1. Hakikat dan Pengertian Model Pembelajaran ATI

Secara substantif dan teoritik “Aptitude Treatment Interaction

(ATI)” dapat diartikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran (treatment) yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing – masing . Teknik model pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) merupakan salah satu penerapan belajar tuntas (mastery learning) dalam Kurikulum KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan pada setiap kompetensi dasar

(37)

betul – betul peduli dan memperhatikan keterkaitan antara kemampuan (aptitude) seseorang dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan metode pembelajaran (treatment).

Cronbach berpendapat sebagaimana yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin bahwa ATI merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mencari dan menemukan perlakuan – perlakuan yang cocok dengan perbedaan kemampuan (Aptitude)siswa.

Berdasarkan pengertian – pengertian yang dikemukakan diatas, dapat diperoleh makna esensial dari model pembelajaran ATI, sebagai berikut:

1) Pembelajaran ATI merupakan suatu konsep atau model yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk siswa tertentu sesuai dengan perbedaan kemampuannya. 2) Sebagai sebuah kerangka teoritik model pembelajaran ATI

berasumsi bahwa optimalisasi prestasi akademik atau hasil belajar akan tercipta bilamana perlakuan – perlakuan dalam pembelajaran disesuaikan sedemikian rupa dengan perbedaan kemampuan siswa.

3) Terdapat hubungan timbal balik antara prestasi belajar yang dicapai siswa dengan pengaturan kondisi pembelajaran dikelas atau dengan kata lain, prestasi belajar yang diperoleh siswa (achievement) tergantung kepada bagaimana kondisi pembelajaran yang dikembangkan guru dikelas.

(38)

peduli dan memperhatikan antara kemampuan seseorang dengan pengalaman belajar atau khas dengan metode pembelajaran.21

Model pendekatan aptitude treatment interaction (ATI) yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari empat tahapan

1. Treatment Awal

Treatment awal pada siswa ini dengan menentukan dan menetapkan klasifikasi kelompok siswa berdasarkan tingkat kemampuan (aptitude/ability)

2. Pengelompokkan siswa

Pengelompokkan siswa yang didasarkan pada treatment awal. Siswa di dalam kelas diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

3. Memberikan perlakuan (Treatment)

Kepada masing – masing kelompok diberikan perlakuan (treatment) yang dipandang cocok / sesuai dengan karakteristiknya. Dalam pendekatan ini kepada siswa yang

berkemampuan “tinggi” diberikan perlakuan (treatment) berupa self-learning melalui modul. Siswa yang memiliki kemampuan

“sedang” diberikan pembelajaran secara konvensional regular teaching. Sedangkan kelompok siswa yang berkemampuan

“rendah” diberikan perlakuan (treatment) dalam bentuk regular teaching + tutorial. Tutorial dapat diberikan oleh guru matematika sendiri atau oleh tutor dan mentor yang sudah menerima petunjuk dan bimbingan dari guru.

4. AchievementTest.

Di akhir setiap pelaksanaan, uji coba dilakukan dalam penilaian prestasi akademik / hasil belajar setelah diberikan perlakuan –

21

(39)

perlakuan (treatment) pembelajaran kepada masing – masing kelompok kemampuan siswa (tinggi, sedang, dan rendah).22 2. Pengelompokan Siswa Berdasarkan Kemampuan

Potensi peserta didik dapat dideteksi dari keberbakatan intelektual pada peserta didik. Adapun cara pengumpulan informasi untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu dengan menggunakan data subjektif.23 Untuk mengumpulkan data subjektif, sekolah dapat mengembangkan sendiri dengan megacu pada konsepsi dan ciri keberbakatan yang terkait. Penjaringan terhadap keberbakatan intelektual dalam kelompok tertentu pada umumnya bertolak dari perkiraan lebih kurang 15% sampai 25% populasi sampel yang secara kasar merupakan identifikasi permulaan. Penjaringan itu bisa menggunakan nominasi guru tentang kemajuan sehari – hari siswa, namun bisa juga melalui penilaian beberapa mata pelajaran tertentu tergantung dari tujuan penjaringan.24

Siswa di dalam kelas diklasifikasi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

Diantara kelas – kelas yang berdasarkan kemampuan yaitu :25 1) Kelompok yang berkemampuan tinggi (pandai)

Siswa yang berkemampuan tinggi mempunyai ciri – ciri sebagai berikut : a) Belajar berjalan dan bicara lebih awal dan cepat menguasai kosakata dalam jumlah yang banyak. b)Pertumbuhan jasmani lebih baik, otot – otot kuat, motoriknya gesit (lincah), dan energik. c) Haus akan ilmu pengetahuan, dan menyukai serta sering mengikuti berbagai perubahan Dan perkembangan ilmu pengetahuan. d)Mampu secara tepat menarik suatu generalisasi, dapat mengenal hubungan antara

22

ibid., h. 42.

23Hamzah B Uno dan Masri Kudrat Umar, Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan, (Jakarta:Bumi Aksara 2009), cet.1 h. 23.

24Ibid., h. 69.

(40)

fakta yang satu dengan yang lain, cakrawala berfikirnya logis, kritis dan suka berdebat. e) Memiliki rasa ingin tahu (naturalcuriosity) yang tinggi sehingga nampak suka membongkar – bongkar mainan dan membangunnya kembali.f) Cepat dalam menerima, mengolah, memahami, dan menguasai pembelajaran, prestasinya baik sekali dalam seluruh bidang studi. g)Tepat mengerjakan tugas dengan hasil baik. h)Kurang sabar mengikuti hal-hal yang rutin dan monoton. i) Cenderung tidak memiliki gangguan nervous (mudah bingung). j) Daya imajinasinya tinggi, dan mampu berfiki rabstrak. k) Cepat dalam bekerja, dan melakukan tugas sehingga banyak memiliki waktu luang.

2) Kelompok yang berkemampuan sedang

Siswa yang mempunyai kemampuan sedang memiliki ciri

– ciri sebagai berikut : a) Mempunyai energi yang cukup besar, b) Dorongan ingin tahunnya cukup besar, c) Sikap sosialnya lebih baik, d) Aktif, e) Lebih mampu melakukan abstraksi, f) Cukup cepat dan lebih jelas menghayati hubungan – hubungan , g) Bekerja atas dasar rencana dan inisiatif sendiri, h) Suka menyelidiki yang baru dan lebih luas, i) Lebih mantap dengan tugas – tugas rutin yang sederhana, j) Lebih cepat mempelajari proses – proses mekanik, k) Tidak menyukai tugas – tugas yang tidak dimengerti, l) Tidak suka menggunakan cara hafalan dengan ingatan, m) Percaya kepada kemampuan sendiri, dan) Cepat malas kalau diberi hal – hal yang tidak menarik minatnya.

3) Kelompok yang berkemampuan rendah (lambat)

(41)

berkomunikasi dengan orang lain, mengemukakan pendapat, kurang kreatif, dan mudah lupa (susah ingat, udahlupa). c) Tidak berprestasi dalam akademiknya rendah dan hasil kerjanya tidak memuaskan. d) Motoriknya lamban dalam belajar berjalan, berbicara, gerakan otot – ototnya kendor dan tidak lincah. e)Sering berperilaku yang kurang baik, kebiasaan jelek dan tidak produktif.

3 Macam-macam Perlakuan (Treatment) Terhadap Perbedaan Tingkat Kemampuan Siswa

Masing – masing kelompok diberikan perlakuan yang dipandang cocok atau sesuai dengan karakteristiknya. Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan (treatment) yang diberikan yaitu belajar mandiri (selflearning) dengan menggunakan modul plus yaitu belajar secara mandiri melalui modul dan buku-buku teks matematika yang relevan.

Proses belajar mandiri melalui modul didasari anggapan bahwa siswa akan lebih baik belajar dengan cara mereka sendiri yang terfokus langsung pada penguasaan tujuan khusus atau seluruh tujuan. Dalam belajar mandiri, menurut Wedemeyer (1983) yang dikutip dari Rusman , peserta didik yang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pembelajaran yang diberikan guru/pendidik di kelas. Peserta didik dapat mempelajari pokok materi tertentu dengan membaca modul.26

Modul bisa berisi berbagai macam kegiatan belajar, dan dapat menggunakan berbagai media untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Modul merupakans uatu program belajar mengajar terkecil, yang dipelajari oleh siswa sendiri secara perseorangan atau diajarkan oleh siswa kepada dirinya sendiri (selfinstructional), setelah

26

(42)

siswa menyelesaikan satuan yang satu, dia melangkah maju dan mempelajari satuan berikutnya.

Dalam sistem pengajaran dengan modul, murid – murid yang cepat belajarnya tidak boleh ditahan untuk menunggu murid – murid yang lambat.Hal ini berarti murid – murid dapat belajar menurut lajur pemahamannya sendiri – sendiri.27

Modul sebagaimana pengertian sebelumnya merupakan salah satu media cetak yang berbeda dari media cetak lainnya. Bedanya dapat dilihat dari ciri – ciri yang dimiliki oleh modul itu sendiri. Sebagaimana penjelasan James D. Russel yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin bahwa ciri – ciri modul adalah sebagai berikut (1) Berbentuk pengajaran individual (invidualized), (2) Dalam pelaksanaan pembelajaran ada kebebasan (freedom), (3) Terdapat keluwesan (flexible), dan (4) Partisipasi aktif (active participation)28. Individualized atau pengajaran individual yang menjadi salah satu ciri pengajaran modul, member peluang kepada siswa untuk mengikuti dan menempuh pelajarannya sesuai dengan tingkat kemampuan. Pendapat tersebut mengakui adanya perbedaan individual dikalangan siswa dalam kelas. Sebagai konsekuensinya, maka kepada siswa yang berbeda kemampuan perlu diberikan perlakuan pembelajaran yan grelevan. Ada kemungkinan masing – masing siswa akan tidak sama waktunya untuk suatu materi pelajaran.

Freedom, merupakan ciri modul yang memberikan kebebasan dan kelonggaran yang cukup luas bagi siswa untuk belajar mandiri. Aktivitas siswa dalam pembelajaran modul lebih tinggi bila dibandigkan dengan aktivitas guru. Karena guru sifatnya lebih banyak memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa dalam belajar. Flexible, memberikan bagi siswa dan guru dalam proses belaja

27

B. Suryo Subroto, Sistem Pengajaran dengan Modul, (Yogyakarta:Pt Bina Aksara), cet.I, h. 16.

(43)

rmengajar. Siswa bisa belajar sesuai dengan kesanggupan atas kemampuan dan seirama dengan gaya belajar mereka masing - masing. Sementara itu, guru juga diberikan keluwesan dalam memilih dan menentukan metode yang tepat. Active participation, dalam modu lini member peluang kepada siswa untuk berpartisipasi aktif melalui learning by doing, sehingga dengan demikian siswa betul – betul terlibat dalam proses pembelajaran melalui dorongan yang diberikan oleh guru. Cuxtis R. Finch dan John R. Crunkilton berpendapat sebagaimana yang dikuti poleh Syafruddin Nurdin bahwa komponen – komponen yang ada dalam modul meliputi : (1) Pendahuluan, (2) Tujuan, (3) Pre-assesment, (4) Pengalaman belajar, (5) Sumber materi , dan (6) Pos-assessment. Secara rinci, modul pembelajaran terdiri dari petunjuk belajar siswa, tujuan instruksional umum dan khusus, isi dan materi pelajaran, latihan, rangkuman ,tes formatif, dan umpan balik atau tindak lanjut.29

Proses pembelajarannya bagi kelompok siswa yang

berkemampuan tinggi ini : Pertama, memberikan tugas membahas satu pokok bahasan yang diikuti sejumlah prosedur dan langkah – langkah tertentu. Hal ini dianalogkan degan memberikan problem solving kepada siswa. Kedua & Ketiga, melalui self learning dengan modul dan sumber – sumber lainnya siswa ditugaskan melakukan pengumpulan informasi dan eksplorasi hal – hal yang berkaitan dengan pokok bahasan yang dipelajari. Kempat, setelah melalui fase satu, dua dan tiga diatas diharapkan siswa dapat memformulasikan penjelasan – penjelasan formulating and explanation. Artinya, siswa dapat menjelaskan apa – apa yang sudah dibaca, dipelajari dan dibahasnya melalui self learning. Kelima, mengadakan analisis terhadap langkah – langkah yang diterapkan diatas, lalu mencoba

29

(44)

berusaha meningkatkan kepada pelaksanaan yang lebih baik untuk waktu – waktu mengajar berikutnya.30

Sedangkan bagi kelompok siswa berkemampuan sedang diberikan pembelajaran regular atau konvensional sebagaimana biasanya. Artinya, sedemikian rupa guru harus mengikuti langkah – langkah yang digariskan dalam Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar.

Terakhir, bagi kelompok siswa yang mempunyai kemampuan yang rendah diberikan special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk re-teachin dan tutorial. Perlakuan diberikan setelah mereka bersama – sama kelompok sedang mengikuti pembelajaran secara reguler (regularteaching). Re-teaching dan tutorial dipillih sebagai perlakuan khusus untuk kelompok ini, didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka lamba dan sulit memahami serta menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu, kelompok ini harus mendapat apresiasi khusus dari guru berupa bimbingan dan bantuan belajar dalam bentuk pengulangan pelajaran kembali melalui tambahan jam belajar dan tutorial, sehingga dengan cara demikian mereka dapat menguasai pelajaran yang diajarkan. Karena seperti diketahui bahwa salah satu tujuan pengajaran atau program tutorial adalah untuk memberikan bantuan dalam pembelajaran kepada siswa yang lambat, sulit dan gagal dalam belajar, agar dapat mencapai prestasi belajar secara optimal. Perlakuan khusus ini diselenggarakan dalam bentuk pertemuan antaraguru dan siswa pada kelompok kecil, yang diliputi oleh suasana Tanya – jawab , diskusi dan pengulangan pelajaran kepada siswa satu – persatu (individual).

Proses pembelajaran bagi kelompok sedang dan rendah meliputi :

1. Pendahuluan, yang mencakup aktivitas melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, mengemukakan gambaran

30

(45)

umum kegiatan dan inti bahan pelajaran yang disampaikan, serta mengadakan kegiatan – kegiatan yang menarik.

2. Kegiatan inti, yang memuat aktivitas menggunakan metode pembelajaran, alat/media pembelajaran, sumber – sumber belajar yang cocok dan tepat, memberi reinforcement, feedback serta melakukan penilaian selama proses pembelajaran berlangsung melalui Tanya jawab.

3. Penutup, yang terdiri dari kegiatan menyimpulkan atau merumuskan ikhtisar pelajaran dan melakukan tindak lanjut berupa pemberian tugas/pekerjaan rumah kepada siswa. Kemudian bagi kelompok siswa berkemampuan rendah diadakan re-teaching + tutorial.

III. Model Pembelajaran Konvensional (Klasikal)

Dalam pembelajaran konvensional, bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Jika kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi. Sebaliknya, apabila bakat peserta didik tersebar secara normal dan kepada mereka diberi kesempatan belajar yang berbeda dalam kualitas pembelajarannya, maka besar kemungkinan bahwa peserta didik yang dapat mencapai penguasaan akan bertambah banyak. Dalam hal ini hubungan antara bakat (aptitude) dengan keberhasilan akan menjadi semakin kecil.31

Dalam pembelajaran konvensional guru mengajar sejumlah murid dalam ruangan, dimana murid – murid itu diasumsikan minatnya, kepentingannya, kecakapannya, dan kecepatan belajar nya relatif sama. Guru pada umumnya mendominasi kelas, murid pada umumnya pasif

Figur

Tabel 18   Perhitungan Uji Hipotesis Statistik ...........................................................

Tabel 18

Perhitungan Uji Hipotesis Statistik ........................................................... p.12
Tabel 2.1 Deskripsi Ranah Kognitif menurut Benyamin S. Bloom

Tabel 2.1

Deskripsi Ranah Kognitif menurut Benyamin S. Bloom p.32
Perbandingan Kualitatif antara Model Pembelajaran Tabel 2.2 Aptitude

Perbandingan Kualitatif

antara Model Pembelajaran Tabel 2.2 Aptitude p.46
Gambar III.I Desain Penelitian

Gambar III.I

Desain Penelitian p.54
Tabel 3.1

Tabel 3.1

p.56
Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Butir Soal

Tabel 3.2

Hasil Uji Validitas Butir Soal p.58
Hasil Uji Taraf KesukaranTabel 3.4

Hasil Uji

Taraf KesukaranTabel 3.4 p.60
Hasil Uji Daya Pembeda SoalTabel 3.5

Hasil Uji

Daya Pembeda SoalTabel 3.5 p.62
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Kemampuan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Kemampuan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas p.68
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kemampuan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Kemampuan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas p.69
Tabel 4.3 Perbandingan Hasil Belajar Matematika

Tabel 4.3

Perbandingan Hasil Belajar Matematika p.70
Tabel 4.4

Tabel 4.4

p.72
Tabel 4.6 Hasil Uji Perbedaan dengan Statistik Uji t

Tabel 4.6

Hasil Uji Perbedaan dengan Statistik Uji t p.74
gambarkanlah dengan ukuran a cm

gambarkanlah dengan

ukuran a cm p.149
gambar6.12
gambar6.12 p.160
Gambar 1  menunjukkan sebuah kubus ABCD.EFGH yang memiliki unsur-unsur sebagai

Gambar 1

menunjukkan sebuah kubus ABCD.EFGH yang memiliki unsur-unsur sebagai p.169
Gambar : Diagonal Ruang

Gambar :

Diagonal Ruang p.172
Gambar secara isometrik

Gambar secara

isometrik p.174
gambarkanlah dengan ukuran a cm

gambarkanlah dengan

ukuran a cm p.175
gambar 6 (a). Kumpulan batu bata itu membentuk balok dan kubus yang padat. Dapatkah kamu

gambar 6

(a). Kumpulan batu bata itu membentuk balok dan kubus yang padat. Dapatkah kamu p.180
gambar kubus PQRS.TUVW yang berbeda.

gambar kubus

PQRS.TUVW yang berbeda. p.190
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN

TABEL DISTRIBUSI

FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN p.204
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN

TABEL DISTRIBUSI

FREKUENSI KELAS EKSPERIMEN p.208

Referensi

Memperbarui...