ASPEK YURIDIS PENGEMBANGAN SUMBER DAYA POLRI UNTUK MEWUJUDKAN PROFESIONALISME KEPOLISIAN INDONESIA
Doyok
Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya
Abstrak
Kepolisian merupakan institusi Negara yang memiliki peran terkait memberi perlindungan serta menjaga keamanan dalam lingkup masyarakat maupun Negara. Namun seringnya terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh anggota polri sehingga perlu dilakukan sebuah penelitian mengenai pengembangan SDM Kepolisian dalam mewujudkan profesionalisme serta upaya penegakan hukum terhadap anggota Kepolisian untuk mewujudkan profesionalisme Kepolisian Republik Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Statute Approach yakni pendekatan yuridis atau dengan mengkaji Undang-Undang. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan empirical study yaitu menyimpulkan hasil akhir berdasarkan observasi dan penelitian yang ada. Sumber bahan hukum yang digunajan adalah sumber hukum primer dan sekunder.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme polisi masih dipertanyakan, masyarakat banyak yang tidak percaya terhadap polisi. Sudah ada kegiatan untuk pengembangan SDM Kepolisian namun masih belum terwujud dengan maksimal. Kemudian Polisi dalam melaksanakan tugas di tengah-tengah masyarakat kerap kali masih menggunakan kekerasan dan memberikan pelayanan yang buruk bagi masyarakat. Fakta yang ada bahwa polisi melanggar hukum justru tidak mendapat hukuman yang sepantasnya sehingga menyebabkan ketidakprofesionalan polisi dalam penegakan hukum adalah faktor hukum atau aturan yang memberikan sanksi terlalu ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera.
Kata Kunci: Kepolisian Republik Indonesia, Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Profesionalisme.
Abstract
Police is a state institution that has a related role to provide protection and security within the community and the State. However frequent violations committed by members of the police so that needs to be done a research on the development of human resources in achieving professionalism Police and law enforcement efforts against members of the police to bring the professionalism of the Indonesian National Police.
final results based on observation and existing research. Sources of legal materials used are of primary and secondary sources of law.
The results of this study indicate that the professionalism of the police is questionable, many people who do not trust the police. Already there are activities for human resource development but the police still have not materialized to the maximum. Then the police in carrying out tasks in the midst of society often still use violence and provide poor service to the community. The fact that there is that the police violated the law just does not get proper punishment causing unprofessional police in enforcing the law is the law or the rules of the factors that impose sanctions too light so that no deterrent effect.
Keywords: Indonesian National Police, Human Resource Development (HRD), Professionalism.
PENDAHULUAN
Kepolisian merupakan institusi Negara yang memiliki peran terkait memberi perlindungan serta menjaga keamanan dalam lingkup masyarakat maupun Negara1. Fungsi Kepolisian di dalam institusi adalah sebagai penyidik.
Pasal 4 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) ini secara umum telah menentukan, bahwa setiap pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (Polri) itu adalah penyelidik. Ini berarti semua pegawai Kepolisian Negara tanpa kecuali telah dilibatkan di dalam tugas-tugas penyelidikan, yang pada hakekatnya merupakan salah bidang tugas dari sekian banyak tugas-tugas yang ditentukan di dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yang ada hubungannya yang erat dengan tugas-tugas yang lain, yakni sebagai satu keseluruhan upaya para penegak hukum untuk membuat sesorang pelaku dari suatu tindak pidana itu harus mempertanggungjawabkan perilakunya menurut hukum pidana di depan hakim. Semua hal ini mempunyai hubungan yang erat dengan putusan kehendak dari pembentuk undang-undang untuk memberikan pengayoman terhadap keluhuran harkat serta martabat manusia dan untuk adanya
ketertiban dan kepastian hukum demi tegaknya Republik Indonesia sebagai Negara hukum sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.2
Sebagai Lembaga Profesi yang melayani kepentingan Publik dituntut mampu melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan perundang-undangan maupun standar professional prosedur (SOP) serta memiliki Etika Profesi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu sikap mental dan disiplin dari setiap Anggota Polri, terus dibina agar produk-produk pelayanan Polri senantiasa sesuai dengan standard profesi Polri. Pada saat ini masyarakat menghendaki agar Aparatur Pemerintah termasuk Polri, lebih profesional dan meningkatkan kinerja pelayanannya yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat serta menghindari praktek Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Kapolri telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan publik. Kebijakan ini ternyata tidak serta merta menyelesaikan permasalahan pelayanan publik oleh Polri yang selama ini masih belum maksimal. Sebagai ujung tombak dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, Polri harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang begitu pesat, sehingg menjadi tantangan yang semakin berat dan kompleks.
Tantangan eksternal yang dihadapi oleh Polri saat ini ditandai dengan terjadinya gangguan kriminalitas yang semakin canggih seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perilaku kehidupan masyarakat sebagai dampak pola kejahatan yang terjadi. Sedangkan tantangan internal yang dihadapi oleh Polri adalah tingkat profesionalisme dan kinerja anggota Polri yang masih perlu ditingkatkan. Apabila peningkatan profesionalisme dan kinerja ini tidak dilakukan maka akan menjadi bumerang bagi Polri sendiri atau dapat menimbulkan masalah baru, antara lain misalnya kekerasan yang dilakukan oleh petugas Kepolisian di lapangan, salah prosedur, salah tembak, penanganan konflik antar suku bangsa maupun perkelahian antar warga masyarakat yang tidak tuntas dan lain sebagainya.
Penegakan hukum di Indonesia saat ini sangatlah jauh dari konsep Negara hukum (rechtsstaat) dimana idealnya hukum merupakan yang utama, diatas politik dan ekonomi. Hal ini disebabkan masih kurangnya profesionalisme penegak hukum terutama Kepolisian yang memang paling sering berinteraksi dengan masyarakat.3 Profesionalisme Polri semakin dipertanyakan, fenomena
dewasa ini menunujukkan bahwa hampir 90 (sembilan puluh) persen masyarakat mengeluhkan kinerja Polri di lapangan. Belum lagi citra Polri yang semakin menurun akibat kasus korupsi yang diketahui oleh publik melalui media.4
Polri telah kehilangan kepercayaan masyarakat atas perannya sebagai lembaga pelindung. Meski demikian, masyarakat tidak lupa jika secara fakta masih membutuhkan kehadiran Polri disekitarnya. Namun, nampaknya budaya dan pandangan polri terhadap pembelaan hak asasi manusia masih sama sebelum orde reformasi. Indikator lain yang menjadi persoalan utama dalam menjalankan tugasnya sebagai pengayom masyarakat adalah masih seringnya terjadi tindak kekerasan secara fisik di masyarakat. Berdasarkan kasus sepanjang 2010 sampai Juni 2011, telah terjadi 85 (delapan puluh lima) kali peristiwa kekerasan dengan jumlah korban sebanyak 373 (tiga ratus tujuh puluh tiga) orang.5
Profesionalisme kinerja anggota Kepolisian juga menjadi masalah lain yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data Divpropam Polri menunjukkan ada beberapa pelanggaran yang dilakukan anggota Polri dengan beragam kasus pada bulan Maret dan April 2010 dalam bentuk tabel berikut :
No .
Jenis Tindak Pidana Maret April Ket
01. Pidana 18 kejadian 28 kejadian Naik 36%
02. Narkoba 6 kejadian 6 kejadian
03. Laka lantas 20 kejadian 18 kejadian Turun 38%
3Frans Hendra Winarta. 2012. Membangun Profesionalisme Aparat Penegak Hukum. Dialektika Pembaruan Sistem Hukum Indonesia, Komisi Yudisial Republik Indonesia, Juli 2012, hal. 74.
4Agib Tanjung. 21 Oktober 2013. 90 Persen Publik Kecewa atas Kinerja Reserse Polri. diakses pada 12 Februari 2014 dari http://www.merdeka.com/peristiwa/90-persen-publik-kecewa-atas-kinerja-reserse-polri- html.
04. Perkelahian Polri & TNI
2 kejadian 7 kejadian Naik 71%
05. Perkelahian Polri & Polri
0 kejadian 1 kejadian Naik 100%
06. Penyerangan terhadap Polri
18 kejadian 18 kejadian
07. Masalah Senpi 8 kejadian 8 kejadian
08. Masalah Tahanan 5 kejadian 7 kejadian Naik 29% 09. Kasus Unras terhadap
Polri 14 kejadian 11 kejadian Turun 21%
10. Pelanggaran Disiplin 628 Orang 519 Orang Turun 17% 11. Pelanggaran Tatib 2. 175 Orang 1. 275 Orang Turun 41% 12. Pelanggaran Kode Etik 16 Orang 8 Orang Turun 50% 13. Pelayanan Pengaduan
Masyarakat
73 aduan 107 aduan Naik 32%
Sumber: Divpropam Polri, 2010
Kepolisian yang seharusnya menjadi elemen yang berada di garda terdepan untuk mencegah terjadinya pelanggaran tindak pidana dan/atau kejahatan, justru malah menjadi bagian pelaku dari terjadinya tindak pidana. Realita ini begitu miris untuk disaksikan. Betapa tidak dalam rentan tahun 2010 beberapa oknum Kepolisian banyak yang melakukan tindak pidana.
Data di atas menunjukkan jika dalam kurun waktu dua bulan tersebut terdapat dinamika kasus pelanggaran yang terjadi di lembaga Kepolisian, dengan indeks angka pelanggaran yang masih sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat profesionalisme Kepolisian masih rendah, bahkan mentalitas yang dibangun menimbulkan dampak ketidakpuasan masyarakat.
Kurangnya profesionalitas Polri, akhirnya berdampak pada rasa kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Masyarakat Indonesia sudah tidak percaya aparat Kepolisian dalam penyelesaian konflik di Indonesia.6
Ketidakpercayaan masyarakat hanya salah satu contoh dari akibat lemahnya kinerja dan profesionalisme Polri. Dampak lain yang muncul yaitu konflik kepentingan dari internal Kepolisian, dan dewasa ini disintegrasi antara Polri dan lembaga lain juga semakin memprihatinkan.
Dalam upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri perlu disusun rencana strategis, yaitu penguatan dalam bidang pembinaan anggota, dalam bidang operasional, sinergitas dengan masyarakat, sinergitas antara internal lembaga dan lembaga lain, kemudian penguatan dalam bidang pengawasan kinerja polri.7 Pembangunan dan perubahan kinerja Polri juga harus
terus dibenahi.
Secara yuridis, pemerintah mengatur hal-hal terkait tentang Kepolisian dalam UU No. 2/2002, yang didalamnya telah banyak merubah paradigma fungsi Kepolisian pada masa orde baru. Undang-Undang ini, secara isinya membawa jiwa Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 (UUD 1945) yang sepenuhnya penyelenggaraan Negara hanya demi mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Kemudian didukung adanya Peratuan Kepala Kepolisian No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi yang mengatur etika Kepolisian dalam bertugas yang bertujuan untuk meminimalisir perilaku menyimpang dan mengutamakan pelayanan masyarakat yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Pada turunannya, telah diatur tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah yang tertera dalam Peraturan Kapolri Nomor 22 Tahun 2010, sehingga struktur kepemimpinan atau hierarki pada lembaga Kepolisian secara menyeluruh menjadi sistematis atau terstruktur.
Satu hal yang menjadi perhatian pada pedoman dasar Polri, yaitu regulasi legal formal yang berwujud UU No. 2/2002 yang mengatur segala ikhwal tentang Kepolisian, dipandang masih belum diimplementasikan oleh Polri sendiri, hal ini menggambarkan bahwa seolah-olah pengembangan Sumber daya Polri tidak maksimal. Padahal regulasi legal yang diputuskan oleh Presiden tersebut, pada dasarnya bertujuan untuk menghilangkan budaya kekerasan yang menjadi acuan profesionalisme institusi Kepolisian Indonesia, namun faktanya tindak pelanggaran Polri masih ditemui di lapangan. Data laporan masyarakat terhadap kinerja Polri yang diterima oleh Kompolnas selama tahun 2012 mencapai 403
kasus, sebanyak 72% dari kasus tersebut telah ditindaklanjuti, sedangkan sisanya sebanyak 28 kasus belum dapat ditindaklanjuti.8
Oleh karena itu, penelitian ini memandang perlu adanya kajian yuridis terkait pengembangan Sumber daya Polri, agar penelitian sebelumnya mengenai kinerja Polri yang diukur pada profesionalisme dalam bertugas, dapat menjadi lebih infornatif bagi berbagai displin ilmu. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengembangan sumber daya yang diatur secara yuridis dengan tujuan umumnya adalah meningkatkan profesionalisme ditubuh institusi Kepolisian Indonesia (Polri). Adapun judul penelitian ini adalah “Aspek Yuridis Pengembangan Sumber Daya Polri untuk Mewujudkan Profesionalisme Kepolisian Indonesia”.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang uraian di atas, maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini, adalah:
1. Bagaimanakah pengembangan sumber daya manusia (SDM) Kepolisian Republik Indonesia dalam mewujudkan profesionalisme Kepolisian Republik Indonesia?
2. Bagaimana upaya penegakan hukum terhadap anggota Kepolisian untuk mewujudkan profesionalisme Kepolisian Republik Indonesia?
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian dalam karya tulis ilmiah ini dikategorikan sebagai penelitian yang bersifat preskriptif. Pendekatan masalah dalam penelitian ini adalah Pendekatan Peraturan Perundang-Undangan (Statute Approach). Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumberbahan hukum primer dan sumber bahan sekunder. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara dokumentasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kepolisian Republik Indonesia Dalam Mewujudkan Profesionalisme Kepolisian Republik Indonesia
Pengembangan SDM, termasuk pengembangan SDM polisi merupakan kegiatan yang harus dilakukan. Hal ini bertujuan agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability) dan keterampilan (skill)
sesuai dengan yang dibutuhkan agar bisa memenuhi standart profesionalisme dalam pekerjaannya. Menurut Srikula (dalam Hartoyo, 1994:60) tujuan dari pengembangan SDM adalah sebagai berikut9:
1. Productivity (menungkatkan produktifitas personil di organisasi); 2. Quality (meningkatkan kualitas produk orghanisasi);
3. Human Resources Planning (perencanaan sumberdaya manusia); 4. Morale (meningkatkan semangat personil dan semangat organisasi); 5. Indirect Compensation (meningkatkan kompensasi secara tidak
langsung);
6. Healthand Safety (meningkatkan kesehatan mental dan fisik);
7. Obsoles cence Preventation (pencegahan merosotnya kemampuan personil);
8. Personal Growth (pertumbuhan kemampuan personil secara individu). Secara manajemen pengembangan SDM harus terus menerus dikembangkan agar bisa memberi kontribusi pada pencapaian tujuan birokrasi. Melalui pengembangan SDM yang tepat, maka jabatan dalam birokrasi akan ditempati oleh orang-orang yang profesional yang sudah mendapatkan pelatihan, peralatan, struktur, intensif, dan akuntabilitas untuk bekerja secara efektif. Dengan demikian maka tujuan dari birokrasi tersebut akan berhasil.10
9Kustiana dkk, Upaya Pengembangan Kapasitas Personel Kepolisian Untuk Meningkatkan Pelayanan Publik, eJournal Administrative Reform, Volume 2, Nomor 4, 2014 : 2156-2166
10Herry Suderajat, Pengembangan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Aparatur Pemerintah Daerah, diakses dari http%3A%2F%2Fjournal.unas.ac.id%2Findex.php%2Filmu-budaya%2Farticle%2Fdownload
Banyak faktor yang mempengaruhi pengembangan SDM, diantaranya: keusangan pegawai (employee obsolence), perubahan-perubahan dalam sosio dan teknik (sociotechnical changes), tindakan afirmatif dan turnover
pegawai11:
a. Keusangan pegawai (employee obsolence)
Pegawai yang usang adalah pegawai yang pengetahuan atau kemampuannya sudah tidak menghasilkan unjuk kerja yang baik. Usang karena usia ada penanggulangannya, yaitu pensiun. Tetapi belum tentu pegawai usang karena usianya.
b. Perubahan-perubahan dalam sosio dan teknik (sociotechnical changes) Perubahan sosial dan teknologi juga merupakan tantangan bagi bagian kepegawaian. Misalnya kebudayaan menyebabkan banyak organisasi/instansi merancang kembali program pengembangan bagi tenaga perempuan agar ada equal employment. Demikian pula, perubahan teknologi yang cepat mengharuskan organisasi/instansi melakukan program pengembangan secara kontinu.
c. Affirmative action
d. Turnover pegawai
Tingginya turnover merupakan masalah bagi pekerjaan yang memang memerlukan keahlian, karena dengan demikian organisasi/instansi harus melatih pegawai baru dan latihan yang mana hal tersebut akan memakan waktu yang tidak sedikit. Adanya turnover menciptakan tantangan khusus untuk mengembangkan SDM. Akan tetapi, dengan program pengembangan yang baik pun, malah program tersebut memberi kontribusi bagi terciptanya turnover.
Tugas untuk menjadi alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri diamanatkan kepada
polisi. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam Pasal pasal 30 ayat 4 UUD 1945 dan 5 ayat 1 UU No. 2/2002. Polisi merupakan jabatan dengan amanat yang tidak main-main. Hal ini bisa dilihat dari tanggung jawabnya yang besar karena menyangkut keamanan dalam masyarakat, hal ini tentu menyangkut dengan urusan nyawa semua masyarakat. Kemanan semua masyarakat berada di pundak polisi, sekali polisi lengah atau kehilangan konsentrasi, maka keamanan menjadi menjadi taruhannya. Bahkan dalam sekejap ketertiban akan berubah menjadi kekacauan karena kelalaian polisi. Fungsi polisi dibidang penegakan hukum diantaranya melakukan penyelidikan dan penyedikan, dua tugas ini adalah langkah awal dalam pengungkapan dan penyelesaian sebuah tindak pidana. Dua tugas tersebut merupakan amanat dari KUHAP.
Polisi harus menjalankan dua tugas yang bersebarangan satu sama lain, yaitu menegakkan hukum dan mengayomi/melindungi. Bersebarangan yang dimaksud karena menegakkan hukum butuh ketegasan bahkan kekerasan untuk menegakkan hukum, sedangkan mengayomi butuh pendekatan yang halus, sebuah langkah stimulus agar masyarakat mau mentaati hukum dan memberikan perlindungan (menjaga keamanan) di masyarakat.
Melihat tugas polisi yang berat tersebut, maka dibutuhkan polisi yang benar-benar profesional untuk bisa menjalankan tugasnya tersebut dengan baik. Maka dari itu Sumber daya manusia (SDM) polisi menjadi hal yang sangat dibutuhkan agar polisi bisa melakukan dengan profesional. Profesionalisme yang dimaksudkan disini adalah memiliki keahlian dan keterampilan serta sikap mental yang terpuji, yang juga dapat menjamin bahwa segala sesuatunya dari perbuatan dan pekerjaannya berada dalam kondisi yang terbaik dari penilaian semua pihak.12
Saat ini eksistensi polisi yang benar-benar bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan sesuai prosedur masih belum belum terwujud. Tugas polisi
langsung bersentuhan dengan masyarakat dibanding aparat penegak hukum lain, maka potensi untuk melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia sangat besar. Hal ini yang menyebabkan kelemahan polisi begitu mudah diketahui oleh masyarakat. Sehingga menyebabkan reputasi polisi turun ketika diketahui bekerja dengan tidak profesional. Profesionalisme polisi masih dipertanyakan, 90 persen masyarakat masih mengeluhkan kinerja polisi di lapangan. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya oknum polisi yang melakukan tindak pidana seperti korupsi yang diberitakan secara luas melalui media.13 Tidak hanya sampai disitu, polisi yang bertugas sebagai
aparat penegak hukum, sering kali masih terlibat dalam berbagai tindak pidana. Misalnya fenomena yang paling sering terjadi dan membuat heran adalah perkelahian antara polisi dengan TNI. Data yang dihimpun KontraS, sejak tahun 2005 hingga 2012 telah terjadi 26 kali konflik fisik TNI dan Polri yang menewaskan 11 orang, yaitu 7 orang dari Polri dan 4 orang dari TNI serta 47 aparat TNI-Polri luka-luka.14
Melihat fenomena tersebut, maka pengembangan SDM polisi menjadi fokus utama. Polisi yang profesional harus mampu diciptakan. Indonesia sebagai negara hukum, maka hukum harus diletakkan di atas semua kepentingan. Apapun keadaannya hukum harus ditegakkan. Salah satu komponen tegaknya hukum adalah aparat penegak hukum (dalam hal ini polisi). Profesionalisme polisi menjadi hal yang tidak bisa ditawar, agar hukum bisa ditegakkan (sebagai implementasi dari konsep negara hukum). Apalagi sekarang memasuki dunia teknologi-informasi, dimana semua kegiatan manusia bisa dilakukan lewat canggihnya teknologi termasuk tnidak pidana (cyber crime), maka polisi dituntut untuk menguasai teknologi.
13Agib Tanjung. 21 Oktober 2013. 90 Persen Publik Kecewa atas Kinerja Reserse Polri. diakses pada 12 Februari 2014 dari http://www.merdeka.com/peristiwa/90-persen-publik-kecewa-atas-kinerja-reserse-polri- html.
Proses pengembangan SDM yang profsional dalam tubuh Kepolisian adalah dilakukan oleh masing-masing Kepala Kepolisian Kesatuan Kewilayahan dan Kepala Satuan Induk Organisasi di Lingkungan Mabes Polri berdasarkan tugas langsung dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Kep/74/XI/2003 Tentang Pokok-Pokok Penyusunan Lapis-Lapis Pembinaan Sumber Daya Manusia Polri).
Kemudian pengembangan SDM polisi ini dilaksanakan dengan pendidikan, pelatihan dan penugasan. Masalah lain dalam pengembangan SDM yang diatur dalam UU No. 2/2002 adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan serta penugasan dalam kegiatan tersebut adalah ketidakjelasan bentuk dan perincian dari kegiatan yang dilaksanakan. UU No. 2/2002 hanya mengatur bahwa kegiatan pengembangan SDM polisi diselenggarakan melalui pembinaan etika profesi dan pengembangan pengetahuan serta pengalamannya di bidang teknis Kepolisian melalui pendidikan, pelatihan, dan penugasan secara berjenjang dan berlanjut (pasal 32 UU No. 2/2002). Kegiatan pengembangan pengetahuan bisa dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan yang dilakukan di dalam atau di luar negeri, atau bentuk kegiatan lain yang mengarah kepada peningkatan profesional. Sedangkan penugasan adalah adalah meliputi jenjang penugasan yang diarahkan untuk memantapkan kemampuan dan prestasi (penjelasan pasal 32 UU No. 2/2002). Pasal 33 menambahkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, “Guna menunjang pembinaan profesi sebagaiman dimaksud dalam Pasal 32 dilakukan pengkajian, penelitian, serta pengembangan ilmu dan teknologi Kepolisian”.
satunya karena pendidikan (pengembangan SDM) bagi polisi yang terlalu singkat. Masa pendidikan yang seharusnya dilakukan selama 11 (sebelas) bulan dipersingkat menjadi hanya 8 (delapan) bulan karena anggaran yang tidak cukup. Setelah mengikuti pelatihan yangsingkat tersebut polisi bisa langsung bertugas. Kemudian pelatihan untuk pengembangan kapasitas juga tidak dilakukan.
Tidak maksimalnya kegiatan pengembangan SDM membuat polisi tidak bisa bersikap profesionalisme. Pengetahuan yang terbatas tentang hal-hal yang berkaitan dengan tugas, fungsi, dan wewenang polisi membuat polisi tidak bersikap profesional. Bukan karena kehendak polisi untuk tidak bersikap profesionalisme, akan tetapi karena memang itu karena keadaan, yaitu pelatihan dan pendidikan yang tidak memadai.
Profesionalisme aparat penegak hukum yang dipertanyakan sekarang ini disebabkan karena lunturnya makna sebuah kode etik profesi hukum yang seharusnya menjadi pedoman dalam berprofesi. Kode etik profesi memunculkan kesetiaan dan pengabdian pada pekerjaan dari profesi yang dijalani, berkaitan dengan profesionalitas dan kehormatan dirinya. Kode Etik profesi adalah: ”Norma yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan berperilaku sekaligus menjamin mutu moral profesi itu di mata masyarakat.”15
Jika profesionalisme ingin dicapai dan memang merupakan amanat dari amanat pasal 31 UU No. 2/2002, maka hal-hal yang bisa menciptakan profesional harus dilewati dengan baik. Jika tidak maka profesional hanya tetap akan menjadi mimpi. Pertama, Anggaran untuk kegiatan pengembangan SDM harus ditingkatkan agar semua polisi bisa mengikuti dengan maksimal. Mengingat betapa pentingnya peran polisi untuk menjaga ketertiban di masyarakat. Anggaran adalah hal mendasar yang dibutuhkan untuk menciptakan kegiatan yang benar-benar bisa mengembangkan SDM polisi. Mulai dari Pengisi acara, fasilitas, tempat pelatihan, waktu
pelaksanaan harus terjadwal dengan baik sesuai dengan standart pelatihan yang seharusnya. Tidak dipersingkat karena mengalami kekurangan dana, yang pada akhirnya menyebabkan profesionalisme polisi justru tergasaikan.
Kedua, aspek kesejahteraan polisi diperhatikan. Profesionalisme adalah cerminan kesungguhan seseorang untuk bekerja dengan baik. Kendati sudah diberi pelatihan atau pendidikan pengembangan SDM akan tetapi kesejahteraan polisi tidak diperhatikan, maka profesionalisme juga akan sulit untuk dicapai. Kegiatan pengembangan SDM yang maksimal dan peningkatan kesejahteraan adalah dua syarat mutlak yang harus dipenuhi jika profesionalisme ingin digapai. Guna mencapai titik profesionalisme, maka kegiatan-kegiatan pengembangan SDM harus diimbangi dengan hal-hal lain yang turut menjadi penyebab terciptanya profesionalisme polisi.
Untuk itu, dalam mewujudkan peran Polri sebagaimana dimaksud dalam UU No. 2 tahun 2002, maka semua anggota Polri harus mampu melaksanakan standarisasi profesionalisme Polri, yakni: 1) well motivated, yaitu anggota polisi harus memiliki motivasi yang baik ketika memilih profesi sebagai polisi dan motivasi yang baik ini akan memberi jalan dalam pengembangan karirnya; 2) well educated, yakni untuk menyiapkan polisi yang baik harus dilaksanakan sistem, kurikulum, dan proses pembelajaran yang baik; 3) well trained, yakni untuk memperoleh polisi yang baik perlu adanya pelatihan yang baik melalui proses manajerial yang ketat agar hasil dari pendidikandan pelatihan menghasilkan polisi yang mampu menjawab berbagai tantangan kepolisian aktualdan tantangan masa depan; 4) well equipment, aspek ini meliputi sarana dan prasarana serta fasilitas atau menyangkut peralatan kepolisian, serta teknologi; 5) welfare, yakni kebutuhan kesejahteraan anggota polri yang memadai; 6) fungsi pengawasan; dan 7) komitmen moral.16
Dengan demikian, model pengembangan SDM Kepolisian Indonesia dalam mewujurkan profesionalisme kepolisian RI sebagai berikut,
2. Upaya Penegakan Hukum Terhadap Anggota Kepolisian Untuk Mewujudkan Profesionalisme Kepolisian Republik Indonesia
Penegakan hukum adalah sebuah langkah kongkrit untuk menanggulangi kejahatan secara rasional sebagai usaha untuk mewujudkan keadilan.17 Faktor-faktor yang mempengaruhi atau yang menunjang
penegakan hukum adalah (a). Faktor hukum, yaitu peraturan perundang-undangan yang mengatur tingkah laku manusia (b). Faktor penegak hukum, yaitu aparat yang diberi amanah untuk melaksanakan dan menegakkan hukum. (c). Faktor sarana dan prasarana, yaitu hal-hal yang berupa barang yang bisa mendukung tegaknya hukum. (d). Faktor masyarakat, yaitu kondisi
17Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 109
PROFESIONALISME KEPOLISIAN RI
Mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat
dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
masyarakat yang akan menjadi objek poenegakan hukum. (e). Faktor budaya, yaitu cipta dan rasa karya manusia yang diaplikasikan dalam kehidupan.18
Peran penegak hukum sangat dominan dalam proses penegakan hukum. Penegak hukum merupakan ujung tombak dalam penegakan hukum itu sendiri. Hal ini karena penegakan hukum harus disokong oleh para penegak hukum yang dalam bertugas berdasarkan kepada keadilan sosial yang berprikemanusiaan. Dengan demikian maka aparat penegak hukum harus mempunyai SDM yang berkwalitas disamping itu juga harus memiliki kepribadian yang berkwalitas. Hal ini agar penegak hukum bisa menjadi seperti yang diharapkan.19
Polisi merupakan jabatan yang diamanatkan secara langsung oleh UUD 1945, yaitu sebagai elemen yang berada bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban dalam masyarakat dengan memberikan perlindungan, pengayoman, menegakkan hukum dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat (pasal 30 ayat 4 UUD 1945). Polisi dituntut bisa menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan bisa menjadi pelayan bagi masyarakat. Tugas ini harus dijalankan dengan profesional karena meyangkut keamanan dan kestabilan negara.
Polisi sebagai penegak hukum seharusnya menunjukkan ketaatan hukum agar dapat menjadi contoh bagi masyarakat. Masyarakat dan polisi sebenarnya sama-sama sebagai subjek hukum yang harus tunduk dan patuh pada peraturan perundang-undangan yang sama (kecuali ada kode etik kepolisian yang hanya berlaku terhadap polisi). Oleh karena itu, disamping polisi sebagai aparat penegak hukum, polisi juga harus taat pada hukum agar bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Keteladanan polisi dalam mentaati hukum akan menggugah dan mempengaruhi masyarakat untuk taat pada hukum karena polisi dipandang sebagai representasi dari pada hukum itu sendiri.
18Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, RajaGrafindo, Jakarta, 2007, hal. 5
Polisi dalam menegakkan hukum di tengah-tengah masyarakat kerap kali masih menggunakan kekerasan yang bisa membuat masyarakat justru mempersepsikan bahwa hukum itu menyeramkan, bukan menciptakan harmoni dalam keindahan ketertiban dan kedamaian. Polisi belum bisa menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat awam sehingga kinerjanya sering kali dipandang negatif oleh masyarakat. Berdasarkan kasus sepanjang 2010 sampai Juni 2011, telah terjadi 85 (delapan puluh lima) kali peristiwa kekerasan dengan jumlah korban sebanyak 373 (tiga ratus tujuh puluh tiga) orang.20 Data laporan masyarakat terhadap kinerja Polri yang diterima oleh
Kompolnas selama tahun 2012 mencapai 403 kasus, sebanyak 72% dari kasus tersebut telah ditindaklanjuti, sedangkan sisanya sebanyak 28 kasus belum dapat ditindaklanjuti.21
Sejalan dengan teori tersebut, peraturan yang dibuat khusus untuk polisi sudah dibuat agar polisi bisa menjadi pelayanan yang baik bagi masyarakat. Sekaligus sebagai sarana untuk menindak polisi yang melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut. Profesionalitas Polri diatur dalam kode etik profesi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala Kepolisian No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kode etik tersebut menjadi pedoman dalam menjalankan tugas.22
Kode etik ini pada dasarnya memang dibuat untuk mengatur polisi agar bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Oleh karena itu, dapat dikatakan jika profesionalisme Kepolisian pada dasarnya dapat diukur dari aspek pelaksanaan Kode Etik Kepolisian yang menjadi pedoman
20KontraS. 2011. Mempertanyakan Bukti Nyata Komitmen Polri. Op.cit
21Gema Trisna Yudha, Kompolnas: Keluhan Masyarakat Pada Kepolisian Meningkat, diakses melalui http://www.jurnas.com/news/77094/ Kompolnas:_Keluhan _Masyakarat _Pada _Kepolisian_Meningkat/1/Nasional/Politik-Keamanan.
22 Pasal 34 UU No. 2/2002
a. Sikap dan perilaku pejabat pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia terikat pada kode etik Profesi Kepolisian Negara Repblik Indonesia.
b. Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat menjadi pedoman bagi pengembangan fungsi Kepolisian lainnya dalam melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di lingkungannya.
dalam melaksanakan tugasnya. Namun implementasi terhadap Peraturan tersebut nampaknya masih jauh dari harapan.
Kendati sudah ada aturan yang mengikat, sebagai penegak hukum polisi kerap kali masih melakukan pelanggaran terhadap hukum. Sebagai subjek hukum (meskipun polisi adalah penegak hukum) maka polisi yang melakukan pelanggaran juga harus ditindak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akan tetapi hal itu menemui kendala. Polisi yang melakukan pelanggaran tidak mendapat hukuman atau sanksi yang sepantasnya. Indonesia sebagai negara hukum harus meletakkan hukum di atas segalanya dan menganggap semua elemen masyarakat apapun pangkat dan kelasnya sebagai manusia yang mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum (equality before the law). Berdaarkan ini kemudian maka polisi yang melakukan pelanggaran hukum juga harus ditindak layaknya masyarakat biasa sesuai dengan ketentuan yang ada. Akan tetapi ketentuan hukum tersebut belum dijalankan sesuai dengan ketentuan yang ada. Banyak polisi yang melakukan pelanggaran tidak ditindak sesuai dengan ketentuan hukum ada.
Faktor yang pertama yang menyebabkan ketidakprofesionalan polisi dalam penegakan hukum adalah faktor hukum atau aturan yang menjadi poin paling berpengaruh untuk tegaknya profesionalisme polisi. Keprofesionalan polisi dipertaruhkan kepada aturan, termasuk yang diberlakukan terhadap polisi yaitu etika profesi kepolisian. Jika aturan yang dibuat bagus dan sesuai dengan keadaan serta rasional untuk diimplemetasikan maka profesionalisme bisa diharapkan. Jika sanksi yang diberikan terhadap polisi yang melanggar ringan, maka profesionalisme akan sulit tercapai karena peluang polisi untuk melakukan pelanggaran begitu besar.
anggota polri yang melakukan tindak pidana karena alasan rasa solidaritas atau senioritas. (3) Adanya kekeliruan penempatan polisi sehingga ketika melakukan tindak pidana dapat mengancam kerahasiaan suatu tugas yang diembannya.23
Faktor ketiga yang menyebabkan ketidakprofesionalan polisi dalam penegakan hukum adalah budaya atau legal culture. Ada budaya yang berkembang dalam kepolisian yang tidak mendukung penegakan hukum bagi polisi yang melakukan pelanggaran. Budaya tersebut adalah adanya rasa enggan dari penyidik untuk melakukan penyidikan terdahap sebuah pelanggaran yang disinyalir pelaku pelanggaran tersebut adalah polisi. Hal ini juga diakui oleh Divpropam bahwa salah satu hal yang menyebabkan banyaknya pelanggaran yang dilakukan polisi dan buruknya pelayanan polisi terhadap masyarakat disebabkan karena budaya enggan menyidik sesama polisi tersebut.
Tingginya angka pelanggaran yang dilakukan oleh polisi atau melanggar kode etik tidak diperiksa oleh penyidik (dari pihak kepolisian juga) dengan alasan rasa enggan. Hal ini terjadi karena yang melakukan pelanggaran adalah sesama anggota polisi. Keadaan ini mencerminkan bahwa polisi yang bertugas melakukan penindakan terhadap polisi lain yang melakukan pelanggaran tidak bisa disiplin dalam melakukan tugasnya. Kejadian seperti ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor solidaritas sesama polisi, senioritas (takut terhadap senior yang melakukan pelanggaran), dan tidak berani menindak karena ada kontrak-kontrak tertentu antara kedua belah pihak.
KESIMPULAN
Profesionalisme polisi masih dipertanyakan, masyarakat banyak yang tidak percaya terhadap polisi. Hal ini terjadi karena masih banyaknya polisi yang terlibat dalam tindak pidana. Kendati dalam Kepolisian sudah ada kegiatan
pengembangan SDM, akan tetapi profesionalisme polisi sejauh ini masih belum terwujud dengan maksimal. Kurangnya profesionalitas polri tersebut terjadi karena, (1). Pendidikan (pengembangan SDM) bagi polisi yang terlalu singkat dan bisa langsung bertugas, serta tidak ada pelatihan untuk pengembangan kapasitas. Kondisi ini tercipta karena anggaran untuk kegiatan pengembangan SDM yang minim. (2) Aspek kesejahteraan polisi yang tidak diperhatikan (upah kurang layak). Profesionalisme adalah cerminan kesungguhan seseorang untuk bekerja dengan baik. Kendati sudah diberi pelatihan atau pendidikan pengembangan SDM akan tetapi kesejahteraan polisi tidak diperhatikan, maka profesionalisme juga akan sulit untuk dicapai.
Polisi dalam melaksanakan tugas di tengah-tengah masyarakat kerap kali masih menggunakan kekerasan dan memberikan pelayanan yang buruk bagi masyarakat. Kendati demikian, akan tetapi faktanya polisi yang melanggar hukum justru tidak mendapat hukuman yang sepantasnya. Faktor yang pertama yang menyebabkan ketidakprofesionalan polisi dalam penegakan hukum adalah faktor hukum atau aturan yang memberikan sanksi terlalu ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera. Faktor yang kedua yang menyebabkan ketidakprofesionalan polisi dalam penegakan hukum adalah petugas yang menegakkan. Pelayanan buruk dan tidak profesionalnya polisi karena kepala unit organisasi polisi yang tidak menegakkan hukum sesuai dengan ketentuan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Afiatin, Tina. 2009. Pendidikan Karakter untuk Meningkatkan Profesionalisme Polri, Seminar nasional “The Policing with Love Polisi dengan MataHati”, Semarang, 3 Maret 2009.
Ali, Fahmi. 6 Juni 2012. Penelitian: Masyarakat Tak Percaya Polisi (Online). (http://www. tempo. co/read/news/2012/06/06/063408767/Penelitian-Masyarakat-Tak-Percaya-Polisi, diakses pada tanggal 12 Februari 2014). Arief, Barda Nawawi. 2002. Kebijakan Hukum Pidana. Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti.
Darmodiharjo, Darji dan Shidarta. 1995. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat hukum Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Divpropam. 2013a. Rencana Strategis (Online). (http://www. propam. polri. go.
id/?mnu=5. Diakses 20 Februari 2014).
Hadadi, Ahmad. 2013. Analisis Pengaruh Profesionalisme Birokrasi dan Pemberian Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Peikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat.
Hatta, Moh. 2008. Sistem Peradilan Pidana Terpadu. Yogyakarta: Galangpress. KontraS. 2011. Mempertanyakan Bukti Nyata Komitmen Polri. Jakarta: Catatan
Evaluasi Kinerja Polri 2010-2011, Hari Bhayangkara ke-65.
Kuncahyo,Wahyu Sabda. Sutarman Janji Bangun Kepercayaan Publik (Online). (http://keamanan. rmol. co/read/2013/10/17/ 129623 / Sutarman- Janji-Bangun-Kepercayaan-PublikDiakses pada 11 Februari 2014).
Kustiana dkk. 2014. Upaya Pengembangan Kapasitas Personel Kepolisian Untuk Meningkatkan Pelayanan Publik, eJournal Administrative Reform, Volume 2, Nomor 4, 2014 : 2156-2166.
Ramelan, Prayitno. 11 Maret 2013. Mengapa Anggota TNI dan Polri Konflik Fisik?. (Online). (http://hankam. kompasiana. com/2013/03/11/mengapa-anggota-tni-dan-polri-konflik-fisik-541685. html, diakses pada 11 Februari 2014).
Sirait, Justine T. 2006. Memahami Aspek-aspek Pengelolaan Sumber Daya:
Manusia dalam Organisasi, Jakarta: PT Gramedia Widyasarana Indonesia. Soekanto, Soerjono. 2010. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press. Suderajat, Hery. Pengembangan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia
Aparatur Pemerintah Daerah, diakses dari http%3A%2F %2Fjournal.unas.ac.id%2Findex.php%2Filmu-budaya%2Farticle
%2Fdownload
%2F42%2F31&ei=G1aKVMaNNY6suQTj8oC4CQ&usg=AFQjCNHB-zL6jbT142vMv-RcutORhQk9Ww&bvm=bv.81456516,d.c2E, 12/12/2014 Tanjung, Agib. 21 Oktober 2013. 90 Persen Publik Kecewa atas Kinerja Reserse
Polri (online). (http://www. merdeka. com/peristiwa/90-persen-publik-kecewa-atas-kinerja-reserse-polri. html, diakses 11 Februari 2014).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168