Kajian peranan ikan nilem dalam mengendalikan perifiton dan pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan mas pada keramba jaring apung di waduk Cirata

106  25  Download (1)

Teks penuh

(1)

WADUK CIRATA

KUSDIARTI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kajian Tentang Peranan Ikan Nilem (Osteochillus haselti) Dalam Mengendalikan Perifiton Pada Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir.

Bogor, Januari 2011

(3)

Supervised by D. DJOKOSETIYANTO and RIDWAN AFFANDI.

This research has been carried out in Cirata man made lake, West Java intended to determine the appropriate density of silver minnow fish to control the periphyton population in the floating net cage (KJA) in order to maintain good water quality. It is expected that growth and survival rate of the common carp was normal.

The research used Completely Randomized Design with the treatment were density of silver minnow fish (0, 100, 200, 300 and 400 fish/floating net cage). Silver minnow fishes + 5 g of weight were cultivated in the outer net with size 2 x 2 x 2 m, while inner net common carp fishes were cultivated with density of 200 fishes/cage and feed with artificial food of 3 times a day of 5% of body weight. This research is conducted during 3 month.result of the research showed that 100 fishes/cage density of silver minnow fish was able to maintain the periphyton population and resulting the best number of survival rate and growth rate common carp. .

(4)

Di Waduk Cirata. Dibimbing Oleh D. DJOKOSETIYANTO and RIDWAN AFFANDI.

Keberhasilan budidaya ikan di KJA tergantung pada pengaturan dan menjaga penyediaan pakan secara minimal dan standard lingkungan yang dibutuhkan ikan untuk tujuan produksi. Tingginya kandungan bahan – bahan organik di perairan baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi perairan seperti terjadinya blooming phytoplankton yang

akan berakibat pada produksi perikanan.Perifiton adalah salah satu jenis plankton yang menempel pada jaring sehingga apabila jumlahnya berlebihan maka akan

mengganggu sirkulasi kualitas air antara didalam karamba dan diluar . Dengan demikian maka akan mengganggu pertumbuhan ikan yang di budidayakan. Oleh sebab itu perlu mencari suatu teknik budidaya ikan di KJA di waduk yaitu dengan memelihara jenis ikan pemakan perifiton yang dapat digunakan sebagai salah satu alternatif memanfaatkan perifiton dari pemupukan limbah organik secara berlebihan .

Salah satu jenis ikan yang dapat memanfaatkan plankton adalah ikan nilem.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keragaman jenis dan komposisi peryphiton yang tumbuh di KJA pada berbagai kedalaman dan waktu yang berbeda,mengetahui kemampuan ikan nilem dalam memanfaatkan periphyton di KJA waduk Cirata serta mengetahui jumlah ikan nilem yang tepat untuk memanfaatkan periphyton di KJA sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan mas. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar bahwa penggunaan ikan nilem sebagai pemakan peryphyton dengan jumlah yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan ikan mas yang optimal di KJA waduk Cirata.

(5)

1. Percobaan 1 adalah Pengaruh Perbedaan Kedalaman Posisi Jaring Yang Diletakkkan di Perairan Terhadap Keanekaragaman dan Kelimpahan Perifiton.

2. Percobaan 2 adalah Pengaruh Lama Perendaman Terhadap Keaneka ragaman dan Kelimpahan Perifiton.

Penelitian tahap II, yaitu Kemampuan Ikan Nilem Dalam Memanfaatkan Perifiton..

Penelitian Tahap III, yaitu Pengaruh Padat Penebaran Ikan Nilem Terhadap Produksi Ikan Mas.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan perifiton yang tumbuh di jaring pada berbagai strata kedalaman, untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan perifiton pada waktu yang berbeda, untuk mengetahui jumlah (bobot) perifiton yang dimanfaatkan oleh ikan nilem dan untuk mengatahui jumlah ikan nilem yang tepat untuk mengendalikan perifiton sehingga kualitas air di KJA dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan mas.

Pengamatan meliputi komposisi perifiton, indeks keanekaragaman dan dominansi perifiton, kelimpahan perifiton, tingkat konsumsi ikan nilem, kelangsungan hidup ikan nilem dan ikan mas, pertumbuhan iken nilem dan ikan mas serta pengamatan kualitas air media.

(6)

tertinggi yaitu pada perlakuan A (kedalaman 1 m) yaitu sebesar 0,26 + 0,058 dan yang terendah pada perlakuan D (kedalaman 4 m ) yaitu dengan nilai 0,11 + 0,023 . Hasil analisa statistik hubungan antara kelimpahan total perifiton terhadap kedalaman jaring tidak berbeda nyata dari setiap perlakuan,walaupun kalau dilihat dari jumlah kelimpahannya bahawa semakin dalam jaring angka kelimpahan meningkat.

Hasil penelitian tahap 1 percobaan 2 yaitu pada semua perlakuan lama perendaman (perlakuan A (3 hari ), B ( 6 hari ), C ( 9 hari ), D ( 12 hari ), dan E ( 15 hari ), ditemukan 36 genus perifiton yang terbagi atas tiga kelas, yaitu kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, dan Cyanophyceae. Kelas Chlorophyceae mempunyai komposisi genus terbanyak, yaitu sebanyak 20 genus atau 56 % dari seluruh genus yang ada, sedangkan kelas Bacillariophyceae mempunyai komposisi sebanyak 9 genus atau 25 % dan kelas Cyanophyceae sebanyak 7 genus atau 19 % . Kisaran nilai indeks keanekaragaman selama penelitian berkisar antara 0,67 – 0,83, nilai indeks keanekaragaman terendah pada perlakuan C (9 hari) dan tertinggi pada perlakuan E ( 15 hari). Nilai indeks dominansi

terendah pada perlakuan E ( 15 hari) dengan nilai 0,17 + 0,03 dan nilai indeks dominansi tertinggi pada perlakuan C ( 9 hari ) yaitu 0,32 + 0,10. Hasil analisa statistik diperoleh bahwa kelimpahan total pada perlakuan C (perendaman 9 hari) yaitu 269.666 ind/cm2

Hasil penelitian tahap 2 yaitu tingkat konsumsi ikan nilem diperoleh ada perbedaan antar perlakuan, perlakuan A (bobot ikan nilem 5 – 7 g) tingkat konsumsi perifitonnya paling rendah yaitu 1,46 + 0,13 sedangkan tertinggi pada perlakuan C ( bobot 16 -20 g) yaitu 2,74 + 0,31.Antara perlakuan A (bobot ikan nilem 5 – 7 g) tidak berbeda nyata dengan perlakuan B (8 – 15 g).

berbeda nyata terhadap perlakuan yang lain.

(7)

mg/l, kemudian nilai kisaran rata – rata nitrit, nitrat dan fosfat berturut – turut adalah 0,001 – 0,003 mg/l, 0,333 – 0,433 mg/l dan 0,048 – 0,080mg/l. Hasil pengukuran nilai indeks keaneka ragaman perifiton berkisar dari 1,41 + 0,088 sampai 1,63 + 0,077, terendah pada perlakuan B ( 300 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ) sedangkan terrtinggi pada perlakuan A ( 400 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ).Nilai indeks dominansi perifiton yang diperoleh selama penelitian berkisar antara 0,27 sampai dengan 0,36. Nilai terendah diperoleh pada perlakuan A ( 400 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ) sedangkan nilai tertinggi diperoleh pada perlakuan B ( 300 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ). Hasil analisa statistik untuk kelangsungan hidup ikan mas selama penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan antar perlakuan. Rata – rata kisaran kelangsungan hidup ikan mas adalah 80,3 % - 90,2 %. Nilai terendah diperoleh pada perlakuan E ( tanpa ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ), sedangkan tertinggi pada perlakuan D ( 100 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ). Untuk penghitungan laju pertumbuhan spesifik diperoleh perbedaan diantara perlakuan , nilai SGR yang terbaik adalah pada perlakuan D ( 100 ekor ikan nilem dan 200

(8)

tanpa ikan mas ) yaitu 60,7 % , sedangkan tertinggi pada perlakuan D ( 100 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ) yaitu 87,3 %.Untuk penghitungan laju pertumbuhan spesifik ikan nilem diperoleh perbedaan diantara perlakuan , perlakuan A ( 400 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ), B ( 300 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ), C ( 200 ekor ikan nilem dan ikan mas 200 ekor ) dan F ( 400 ekor ikan nilem dan tanpa ikan mas ) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi perlakuan D (100 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas) berbeda nyata dengan perlakuan A (400 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ), B ( 300 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ) dan C ( 200 ekor ikan nilem dan ikan mas 200 ekor ) , tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan F (400 ekor ikan nilem dan tanpa ikan mas ). Nilai SGR yang terbaik adalah pada perlakuan D ( 100 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas) yaitu2.00 + 0.10 % dan terendah pada perlakuan F (400 ekor ikan nilem dan tanpa ikan mas ) yaitu 0.80 + 0.60 %. Hasil analisa statistik untuk nilai pertumbuhan mutlak ikan nilem ternyata mempunyai perbedaan yang nyata antar perlakuan, perlakuan yang terbaik adalah perlauan D ( 100 ekor ikan nilem dan 200 ekor ikan mas ) mempunyai nilai rata –

rata pertumbuhan 22,7 gram, sedangkan terendah pada perlakuan F ( 400 ekor ikan nilem tanpa ikan mas ) yaitu 10,7 gram. Rata – rata kisaran pertumbuhan mutlak ikan nilem selama penelitian adalah 10,7 - 22,7 gram.

(9)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wqjar IPB.

(10)

WADUK CIRATA

KUSDIARTI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perairan

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(11)

Cirata.

Nama : Kusdiarti

NIM : C151060261

Disetujui Komisi Pembimbing:

Prof. Dr. Ir. D. Djokosetiyanto,DEA Dr. Ir. Ridwan Affandi,DEA Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Ilmu Perairan

Prof. Dr.Ir. Enang Harris,M.S

Prof.Dr.Ir.Khairil A. Notodipuro, M.S.

(12)

SWT atas segala karunia-NYA dan shalawat serta salam kepada Sayyidina Muhammad SAW sehingga karya ilmiah mengenai ” Kajian Peranan Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Dalam Mengendalikan Perifiton dan Pengaruhnya Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Mas pada Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata ” ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para pembimbing yaitu Prof. Dr. Ir. D. Dokosetiyanto, DEA. dan Dr. Ir. Ridwan Affandi, DEA. Komisi Pembimbing telah sangat membantu dengan memberikan arahan dan masukan kepada penulis selama penelitian dan penulisan karya ilmiah ini. Terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan untuk Dr. Ir. Kukuh Nirmala atas masukan dan kritik yang sangat membangun sebagai penguji luar komisi. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Estu Nugroho, Dr. Tri Heru Prihadi dan Dr. Rudi Gustiano beserta rekan-rekan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) yang telah banyak mendukung penelitian ini, dan tidak lupa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kepada teman-teman BDP Air 2006 atas masukan-masukan dan dukungannya, sehingga tesis ini dapat penulis selesaikan. Secara khusus, penghargaan dan terima kasih yang tidak terhingga diberikan kepada Suamiku tercinta Budi Iskandar dan buah hatiku Pristi dan Lia atas segala do’a, keikhlasan dan kasih sayangnya selama penulis menempuh masa pendidikan. Kiranya Allah SWT akan membalas kebaikan kalian semua.

Penulis menyadari dengan sesungguhnya bahwa ada banyak kekurangan yang terdapat dalam karya ilmiah mengenai ” Kajian Peranan Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Dalam Mengendalikan Perifiton dan Pengaruhnya Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Mas pada Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata ” ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan dan perbaikan karya ilmiah ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2011

(13)
(14)

vii

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Waduk ... 7

2.2 Karamba Jaring Apung ... 10

2.3 Ikan Nilem (Osteochillus hasselti)) ... 11

2.3.1. Klasifikasi Ikan Nilem ... 11

2.3.2. Struktur Morfologis Ikan Nilem ... 12

2.3.3 Budidaya Ikan Nilem ... 12

2.4. Ikan Mas (Cyprinus carpio) ... 13

2.4.1. Klasifikasi Ikan Mas ... 13

2.4.2. Struktur Morfologis Ikan Mas ... 13

2.4.3. Budidaya Ikan Mas ... 14

2.5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bahan Organik ... 15

2.6. Perifiton ... 17

(15)

viii

3.3. .Penelitian Tahap III ……… 30

3.3.1. Tempat dan Waktu Penelitian. ... 30

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 35

4.1.1.Penelitian Tahap I ... 35

4.1.1.1. Percobaan 1 4.1.1.1.a. Komposisi Perifiton ... 35

4.1.1.1.b. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton ... 37

4.1.1.1.c. Kelimpahan Perifiton ... 37

4.1.1.2. Percobaan 2 4.1.1.2.a. Komposisi Perifiton ... 39

4.1.1.2.b. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton ... 40

4.1.1.2.c. Kelimpahan Perifiton ... 40

4.1.2.Penelitian Tahap II ... 41

4.1.2.1.Tingkat Konsumsi Ikan Nilem ... 41

4.1.3. Penelitian Tahap III ... 41

4.1.3.1. Fisika dan Kimia Air ... 41

4.1.3.2. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton ... 43

4.1.3.3. Kelimpahan Perifiton ... 43

4.1.3.4. Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan ... 44

4.2. Pembahasan ... 47

(16)

ix

4.2.1.2.b. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton ... 52

4.2.1.2.c. Kelimpahan Perifiton ... 53

4.2.2.Penelitian Tahap II ... 54

4.2.2.1.Tingkat Konsumsi Ikan Nilem ... 54

4.2.3. Penelitian Tahap III ... 55

4.2.3.1. Fisika dan Kimia Air ... 55

4.2.3.2. Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton ... 57

4.2.3.3. Kelimpahan Perifiton ... 57

4.2.3.4. Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan ... 58

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 60

5.2 Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

(17)

x

1 Rata-rata Indeks Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton ... 37

2 Rata-rata Kelimpahan Perifiton selama penelitian ... 38

3 Intensitas Cahaya dan Kecerahan Perairan pada Berbagai Kedalaman

Selama Penelitian ... 38

4 Rata-rata Nilai Parameter Kualitas Air Selama Penelitian ... 39

5 Rata-rata Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton pada Berbagai

Waktu Pengamatan... 40

6 Rata-rata Kelimpahan Perifiton Berdasarkan Perlakuan ... 40

7 Konsumsi Perifiton pada Berbagai Ukuran Ikan Nilem ... 41

8 Nilai Parameter Fisika Kimia Air di KJA Waduk Cirata Selama

Penelitian ... 42

9 Rata-rata Keanekaragaman dan Indeks Dominansi Perifiton ... 43

10 Rata-rata Kelimpahan Perifiton pada Berbagai Perlakuan ... 44

11 Rata-rata Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Mas Selama

Penelitian ... 44

12 Nilai Rata-rata Kelangsungan Hidup dan Laju pertumbuhan Ikan Nilem

(18)

xi

1 Lokasi Penelitian di Waduk Cirata ... 8

2 Keramba Jaring Apung (KJA) yang Digunakan Dalam penelitian ... 11

3 Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) ... 12

4 Posisi Perifiton Dalam Suatu Ekosistem Perairan ... 18

5 Proses Pertumbuhan Perifiton ... 19

6 (A). Spyrogyra (B). Merismopedia (C). Zygnema ... 19

7 Komposisi Perifiton Berdasarkan Kelas ... 35

8 Perifiton yang Ditemukan di Tiap Kedalaman Substrat ... 36

9 Komposisi Perifiton Berdasarkan Kelas ... 39

(19)

xii

2 Komposisi Genus Perifiton Selama Pengamatan ... 68

3 Komposisi Genus Perifiton Pada Perlakuan A ... 69

4 Komposisi Genus Perifiton Pada Perlakuan B ... 70

5 Komposisi Genus Perifiton Pada Perlakuan C ... 71

6 Komposisi Genus Perifiton Pada Perlakuan D ... 72

7 Komposisi Genus Perifiton Pada Perlakuan E ... 73

8 Komposisi Fitoplankton pada Usus Ikan Herbivora di Waduk Cirata .... 74

9 Kualitas Air Selama Penelitian ... 75

10 Biomassa Perifiton Selama Penelitian ... 76

11 Indeks Keanekaragaman ... 77

12 Indeks Dominansi ... 77

13 Analisis Statistik Kelimpahan Perifiton ... 78

14 PerhitunPerifiton yang ditemukan Selama Pengamatan ... 86

(20)

I.

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Budidaya perikanan di Indonesia pada awalnya menggunakan teknik

tradisional, yaitu teknik budidaya ikan dengan hanya mengandalkan kesuburan

perairan saja. Kegiatan budidaya dengan pola ini berlangsung secara turun

temurun. Jenis ikan yang di budidayakan adalah ikan–ikan yang dapat

memanfaatkan pakan alami seperti ikan nila, tambakan, grass carp, tawes dan

nilem. Pakan ikan budidaya berupa organisme yang tumbuh di perairan (plankton,

detritus, bakteri dll). Dengan bertambahnya penduduk, maka kebutuhan akan

protein hewani dari ikan tidak dapat terpenuhi hanya dari budidaya perikanan

berbasis kesuburan alami saja.

Pembudidaya ikan meningkatkan daya dukung perairan dengan cara

pemupukan dan pemberian pakan tambahan . Sebagai contoh pada kegiatan

budidaya ikan di karamba jaring apung di waduk, ikan budidaya harus

mengandalkan pakan buatan. Pakan buatan yang diberikan sebagian besar akan

dimanfaatkan oleh ikan, melalui proses pencernaan akan diperoleh energi dan

nutrisi yang selanjutnya tersimpan dalam bentuk jaringan ikan sebagai biomassa.

Sisanya akan terbuang ke perairan baik yang di ekskresikan dalam bentuk terlarut

(NH3) maupun partikel organik berupa feses dan sisa pakan.Bahan – bahan

tersebut akan mengalami proses pelarutan, sedimentasi, mineralisasi dan dispersi.

Selanjutnya timbunan bahan organik limbah budidaya ikan tersebut akan memicu

perubahan sifat fisika kimia air dan biologi dasar perairan sehingga akan

berdampak pada degradasi lingkungan perairan tersebut.

Menurut Haris (2006) secara nasional produksi budidaya air tawar

Indonesia naik dari 304. 579 ton pada tahun 1999 menjadi 488.080 ton pada

tahun 2004. Dalam kurun waktu 6 tahun, produksi kolam naik 60 %, KJA naik

260 % tetapi mina padi turun 10 %. Selanjutnya dikatakan bahwa hal tersebut

mengindikasikan bahwa kenaikan produksi berbasis budidaya dengan pellet/pakan

buatan seperti pada budidaya ikan mas, nila, patin, lele dan gurame yang berasal

(21)

Sedangkan budidaya berbasis pakan alami/ tanpa pelet seperti pada budidaya

tawes, nilem, tambakan, sepat dll menurun, yaitu hanya 34 % . Fenomena ini

memperlihatkan bahwa budidaya ikan di Indonesia sudah tidak bertumpu pada

kesuburan perairan, pemanfaatan relung perairan dan tropik level, padahal

teknologi tersebut adalah teknologi akuakultur yang terbaik sepanjang waktu

(Harris, 2006).

Jumlah KJA di Waduk Cirata saat ini mencapai 40.000 unit dan setiap

harinya membuang kelebihan pakan ikan (pellet) sekitar 50 ton ke dasar waduk

(BPWC, 2004). Limbah organik hasil buangan dari kegiatan budidaya ikan di

KJA pada kondisi berlebih dapat mencemari lingkungan perairan dan

mengakibatkan sedimentasi di waduk. Menurut Garno (2002), penyumbang

limbah organik terbesar (80%) ke dalam Waduk Cirata adalah dari limbah

budidaya ikan di KJA yang mengakibatkan waduk bersifat mendekati hipertrofik.

Hasil penelitian Nastiti et al. (2001) di perairan Cirata mengungkapkan bahwa,

penyumbang N total dan P total terbesar ( 83,6 – 99,9 % ) adalah limbah budidaya

ikan di KJA. Menurut Kartamiharja dan Krismono (1996), fenomena tersebut di

duga karena pemanfaatan perairan waduk yang tidak sesuai dengan daya

dukungnya, sehingga jika permasalahan tersebut tidak segera diatasi maka umur

waduk menjadi lebih pendek dari perkiraan umur waduk pada saat dibangun.

Keberhasilan budidaya ikan di KJA tergantung pada pengaturan dan

menjaga penyediaan pakan secara minimal dan standar lingkungan yang

dibutuhkan ikan untuk tujuan produksi. Menurut Schmittou (1991) ada dua

prinsip di dalam budidaya ikan di KJA yaitu 1) Ikan yang dibudidayakan harus

dapat memanfaatkan makanan untuk pertumbuhan dan kesehatan baik pakan yang

berasal dari alam (plankton) maupun pakan buatan yang diberikan oleh

pembudidaya; 2) Pertukaran air antara didalam dan luar karamba harus diatas

batas kebutuhan minimum, agar limbah dari budidaya dapat terbuang dan

kesehatan ikan dapat dipertahankan.Tingginya kandungan bahan – bahan organik

di perairan baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi

kondisi perairan seperti terjadinya blooming plankton termasuk perifiton yang

(22)

Perifiton adalah salah satu jenis plankton yang menempel pada substrat

termasuk jaring sehingga apabila jumlahnya berlebihan maka akan mengganggu

sirkulasi air antara didalam dan diluar karamba. Dengan demikian maka akan

mengganggu pertumbuhan ikan yang dibududayakan. Perifiton adalah suatu

komunitas kompleks dari mikrobiota yang menempel pada substrat, baik substrat

organik maupun anorganik, hidup atau pun mati (Wetzel, 1983 dalamHany 2009).

Perifiton memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan

pada ekosistem danau maupun waduk. Perifiton selain dapat berfungsi sebagai

biofilter dan indikator kualitas air, juga dapat berfungsi sebagai alternatif pakan

alami bagi ikan herbivora.

Oleh sebab itu perlu mencari suatu teknik budidaya ikan di KJA di waduk

yaitu dengan memelihara jenis ikan pemakan perifiton yang dapat digunakan

sebagai pengendali perifiton yang tumbuh di KJA akibat dari adanya limbah

organik yang berlebihan sebagai ekses kegiatan budidaya.

1.2. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan:

1. Menganalisis keanekaragaman dan kelimpahan perifiton yang tumbuh di

Karamba Jaring Apung waduk Cirata.

2. Menganalisis kemampuan ikan nilem dalam memanfaatkan perifiton di KJA

waduk Cirata

3. Menentukan jumlah ikan nilem yang tepat untuk mengendalikan perifiton

sehingga kualitas air di KJA dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan mas.

1.3. Permasalahan

Keberadaan KJA yang sudah melebihi daya dukung perairan di waduk

akan sulit dikurangi/ dihilangkan karena dapat menyebabkan konflik dengan

pembudidaya ikan dan masyarakat di sekitar perairan waduk.Budidaya ikan dalam

KJA di waduk Cirata telah memberikan keuntungan yang cukup besar, terbukti

dari jumlah KJA di waduk Cirata yang terus meningkat dari waktu ke waktu,

terutama setelah krisis moneter. Dilihat dari pakan yang diberikan pada ikan

(23)

dalam sistem budidaya intensif. Hal ini terlihat dari pemberian pakan dengan

frekuensi pemberian rata- rata tiga kali sehari bahkan lebih dan penggunaan pakan

komersial (pellet) yang mengandung protein tinggi (lebih dari 20 %) serta

mengandung nutrisi lainnya yang cukup lengkap. Melimpahnya limbah organik

yang berasal dari sisa pakan dan feses ikan ini mengakibatkan waduk Cirata

menghadapi masalah yang cukup serius antara lain proses sedimentasi yang tinggi

dan kesuburan perairan yang sangat tinggi sehingga menyebabkan penurunan

kualitas air.

Pada kegiatan budidaya ikan secara intensif seperti di KJA waduk Cirata,

maka pakan merupakan komponen biaya terbesar (dapat mencapai 40 – 70 % dari

biaya produksi), sehingga biaya produksi yang dibutuhkan menjadi sangat besar.

Petani sering tidk mendapatkan keuntungan karena pakan sangat tinggi bahkan

dapat merugi. Sehubungan dengan hal tersebut Tacon (1998) menyatakan bahwa

budidaya ikan dengan pakan buatan bermakna bukan meningkatkan produksi

ikan. Hal tersebut karena secara mikro kegiatan tersebut efisien, tetapi secara

makro (lingkungan) menjadi tidak efisien.

Limbah organik sebagai hasil buangan sisa pakan yang tidak dikonsumsi

dan kotoran ikan dari kegiatan budidaya ikan di waduk pada kondisi berlebih

dapat mencemari lingkungan perairan bahwa dari pakan yang diberikan maka

hanya 25 % P dan 25 % N yang masuk ke ikan, sisanya terbuang ke lingkungan.

Sisa pakan yang masuk ke lingkungan 10 % P dan 65 % N dalam bentuk terlarut,

sedangkan 65 % P dan 10 % N berada dalam bentuk partikel. Pakan dalam bentuk

partikel akan menjadi sedimen tergantung kondisi perairan dan dinamika di dasar

perairan. Di perairan tawar pada keadaan di dasar perairan tidak ada oksigen,

sejumlah P dilepaskan ke perairan sehingga mempercepat terjadinya eutrofikasi.

Plankton termasuk didalamnya perifiton berperan sangat sentral dalam

memanfaatkan limbah oleh sebab itu adanya limbah organik yang berlebih akan

digunakan sebagai nutrien, sehingga akan menpercepat terjadinya eutrofikasi

perairan waduk. Menurut Dahuri (2003), eutrofikasi dapat mengakibatkan

perairan pada kondisi annoxia (kekurangan oksigen) di dalam kolom air yang

(24)

dengan stratifikasi oksigen. Sebagian komunitas fitoplankton akan digantikan oleh

jenis yang tidak diinginkan serta memiliki jumlah individu yang sangat banyak

jumlahnya sehingga dapat menyebabkan kematian pada ikan.

1.4. Pemecahan Masalah

Perairan waduk merupakan kolam raksasa yang setiap harinya harus

menampung aktivitas budidaya ikan intensif dengan pemberian pakan buatan

dalam jumlah besar. Dampak dari aktivitas tersebut adalah daya dukung perairan

waduk semakin menurun, terlihat dari terjadinya kematian massal ikan akibat up

welling, dan serangan virus / bakteri. Oleh sebab itu perlu dicari teknik budidaya

ikan yang tidak banyak menghasilkan limbah dan limbah yang ada diperairan

tersebut dapat dimanfaatkan.

Penggunaan teknik budidaya yang dapat memanfaatkan seluruh relung

perairan sudah lama ditinggalkan oleh petani ikan di Indonesia. Perairan waduk

merupakan perairan yang mempunyai kedalaman, sehingga ikan yang

dibudidayakan adalah ikan yang dapat memanfaatkan relung perairan tersebut,

selain itu dapat juga digunakan jenis ikan yang dapat memanfaatkan plankton

termasuk perifiton yang sering berlebihan, sehingga dapat mengurangi blooming

plankton. Salah satu jenis ikan yang dapat memanfaatkan perifiton adalah ikan

nilem.

Salah satu pemecahan masalah untuk mengurangi dampak keberadaan

budidaya ikan di KJA secara teknis dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah

perifiton di perairan yaitu dengan menggunakan ikan pemakan perifiton baik

untuk ikan budidaya maupun ikan yang di tebar diluar KJA. Dengan

menggunakan ikan pemakan perifiton sebagai ikan budidaya di KJA, selain dapat

mengurangi jumlah perifiton juga di harapkan dapat meningkatkan pendapatan

petani karena biaya produksi lebih rendah, serta lingkungan terjaga kualitasnya,

(25)

1.5. Hipotesis

Penebaran ikan nilem sebagai pemakan perifiton pada lapis luar KJA

dengan jumlah yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan ikan mas pada lapis

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Waduk

Waduk adalah danau buatan manusia sebagai tempat menampung dan

tangkapan air yang umumnya dibentuk dari sungai atau rawa dengan tujuan

tertentu. Waduk dibangun dengan tujuan multi fungsi yaitu sebagai daerah

tangkapan air yang akan dipergunakan untuk pembangkit listrik tenaga air ,

kegiatan pertanian, pengendali banjir, sarana olahraga air, budidaya perikanan dan

untuk pariwisata. Indonesia mempunyai sekitar 800 danau dan 162 waduk buatan

besar dan kecil untuk kepentingan irigasi pertanian, bahan baku air bersih, dan

PLTA. Sekitar 500 danau dan waduk di Indonesia mulai terancam punah akibat

pengelolaan yang tidak optimal, mulai dari hulu hingga hilir.

Waduk Cirata merupakan salah satu waduk besar di Jawa Barat, waduk ini

selesai di bangun pada tahun 1988. Waduk tersebut dibangun dengan fungsi

utama sebagai PLTA untuk menghasilkan daya listrik terpasang sebesar 1008

MW atau energi per tahun 1.426 GW jam sebagai pemasok tenaga listrik Jawa

dan Bali (BPWC,2004). Volume air pada waktu normal adalah sekitar

2.160.000.000 m3, dengan luas permukaan sekitar 6.200 ha, kedalaman rata-rata

sekitar 34,9 m, dan kedalaman maksimum mencapai 106 m. Status kesuburan

waduk Cirata adalah mesotropic hingga eutropic (BPWC, 2004). Waduk Cirata

merupakan waduk yang mendapat sumber air utama dari daerah aliran sungai

Citarum. Pada awal dibangun, luas Waduk Cirata mencapai 6.200 hektar, adapun

daerah yang tergenang dan menjadi Waduk Cirata ini, berasal dari 28 desa yang

berada dalam delapan kecamatan yang termasuk ke dalam daerah administrasi

Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Bandung.

(27)

Gambar 1. Lokasi Penelitian di Waduk Cirata

Waduk Cirata adalah salah satu waduk yang dibangun di Daerah Aliran

Sungai (DAS) Citarum. Citarum sendiri merupakan sungai terpanjang dan

terbesar di Jawa Barat, dengan luas 6.080 km2

Beberapa anak sungai yang masuk ke Waduk Cirata diantaranya Sungai

Cikundul, Cibalagung, Cisokan, Cihea, Cimeta dan Cilangkap (Pusat Penelitian

dan Pengembangan Perairan, 1999). Waduk Cirata termasuk dalam badan air yang

memiliki fungsi utama sebagai pembangkit tenaga listrik dengan kekuatan 1008

MW (Tjokrokusumo 2000). Namun dengan berjalannya waktu Waduk Cirata

memiliki manfaat lain yaitu sebagai media transportasi, rekreasi, dan perikanan.

Dalam bidang perikanan terutama perikanan budidaya, Waduk Cirata sangat dan panjang 269 km. Karena

banyaknya debit air yang dialirkan oleh sungai yang bermuara di ujung Karawang,

pemerintah membangun tiga bendungan untuk pembangkit listrik, yakni PLTA

(28)

dioptimalkan pemanfaatannya untuk kegiatan perikanan budidaya dengan

menggunakan sistem Karamba Jaring Apung (KJA).

Salah satu permasalahan yang dihadapi waduk di Indonesia saat ini adalah

tingginya sedimentasi sehingga sedimentasi telah menjadi faktor utama penyebab

penurunan daya dukung ekosistem waduk. Waduk Cirata telah mengalami

permasalahan seperti halnya waduk lainnya di Indonesia yaitu pendangkalan dan

penurunan luasan perairan akibat tingginya sedimentasi. Peningkatan beban

sedimentasi ini diduga disebabkan oleh peningkatan laju erosi akibat

aktivitas-aktivitas di daratan , buangan limbah industri dan rumahtangga di DAS , serta

aktivitas manusia di perairan seperti budidaya ikan dengan menggunakan keramba

jaring apung (KJA) di waduk dengan pemberian pakan buatan yang berlebihan.

Jumlah sedimen yang masuk ke waduk yang melebihi daya dukung akan

mengurangi daya tampung air waduk sehingga dapat memperpendek usia

fungsional waduk tersebut. Turunnya daya tampung air menyebabkan waduk

tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, baik untuk keperluan irigasi maupun

pembangkit tenaga listrik. Sebagai contoh Waduk Djuanda, Saguling, dan Cirata

di DAS Citarum volumenya tinggal 57,6 persen dari volume pada saat baru

dibangun.

Salah satu penyebab dari sedimentasi di Waduk Cirata adalah akibat

aktivitas budidaya perikanan yang meningkat dari tahun ke tahun. Dengan teknik

budidaya intensif di keramba jaring apung, petani memberikan pakan buatan

secara berlebihan (sistem pompa), sehingga sisa pakan dan feses ikan banyak

yang masuk ke perairan. Menurut BPWC (2004), pada awal pembangunan waduk

jumlah petakan KJA yang dianjurkan 12.000 petak dengan jumlah pemilik 2472 ,

pada kenyataannya sampai tahun 2003 tercatat 39.690 petak dari jumlah pemilik

3899. Perkembangan KJA di perairan waduk Cirata sudah tidak terkendali, mulai

tahun 1988--1994 meningkat 140% per tahun. Akibat dari pertambahan KJA

yang tidak terkendali tersebut menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan

perairan serta sedimentasi yang meningkat dari tahun ke tahun. Dampak negatif

dari aktivitas budidaya ikan di karamba jaring apung di waduk adalah adanya

(29)

yang tidak termakan oleh ikan serta feses yang larut ke dalam perairan. Dalam

budidaya perikanan secara komersial 30% dari total pakan yang diberikan tidak

dikonsumsi oleh ikan dan sekitar 25-30% dari pakan yang dikonsumsi akan

dibuang dalam bentuk feses. Kartamiharja dan Krismono (1996) mengemukakan

bahwa pada budidaya KJA yang dilakukan petani ikan di Jawa Barat

menunjukkan jumlah pakan yang terbuang ke perairan berkisar antara 30-40%.

Bahan organik yang dihasilkan dari aktivitas budidaya ikan akan terakumulasi di

bawah KJA yang berasal dari pakan yang tidak dikonsumsi dan kotoran ikan.

2.2. Karamba Jaring Apung (KJA)

Karamba jaring apung merupakan salah satu bentuk usaha bidang

perikanan yang banyak diusahakan di Waduk Cirata (Gambar 2). KJA merupakan

tempat upaya pembesaran ikan dengan menggunakan wadah budidaya berupa

jaring yang diapungkan di permukaan air. Semua bagian sisinya diselubungi

material jaring sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi air dan

mempermudah pembuangan sisa pakan (Budiman et al 1991 dalam Prawita 2004).

Sistem KJA di Waduk Cirata merupakan sistem usaha budidaya yang menerapkan

pola intensif, yaitu menggunakan pakan buatan berupa pellet dengan kandungan

protein tinggi (Krismono dan Poernomo, 1992).

Dalam pemanfaatannya, KJA memiliki fungsi sebagai sumber pendapatan,

pemasok ikan, dan sarana yang menunjang perkembangan lokasi di sekitar waduk

(Prawita 2004). Pemanfaatan tersebut sesuai dengan tujuan awal pengembangan

jaring apung di Waduk Cirata yaitu memberikan lapangan kerja baru bagi

penduduk di sekitar Waduk Cirata yang terkena proyek pembangunan PLTA.

Berdasarkan data yang tercatat, jumlah KJA di Waduk Cirata pada tahun

2006 telah mencapai 50.000 kolam atau 12.500 unit dan dari seluruh jumlah KJA

tersebut, 60% KJA-nya atau 30 ribu kolam berada di wilayah Cianjur (Dadang

dan Selamet 2008). Padahal berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat No. 41 tahun

2002, jumlah KJA yang diperbolehkan di perairan Waduk Cirata sebanyak 12.000

(30)

Gambar 2. Karamba Jaring Apung (KJA) yang digunakan dalam penelitian

2.3. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti)

2.3.1.Klasifikasi Ikan Nilem

Menurut Saanin (1968), ikan nilem di klasifikasikan sebagai berikut:

• Kingdom : Animalia

• Phylum : Chordata

• Subphylum : Craniata

• Class : Pisces

• Subclass : Actinopterygi

• Ordo : Ostariophysi

• Subordo : Cyprinoidae

• Famili : Cyprinidae

• Genus : Osteochillus

• Species : Osteochillus hasselti

(31)

Gambar 3. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti)

2.3.2. Struktur Morfologis Ikan Nilem

Ikan nilem (Osteochillus hasselti) merupakan ikan endemik (asli)

Indonesia yang hidup di sungai – sungai dan rawa – rawa. Ciri ikan nilem hampir

serupa dengan ikan mas. Ciri – cirinya yaitu pada sudut mulutnya terdapat dua

pasang sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh 3 jari – jari lemah mengeras

dan 12 – 18 jari – jari lemah. Sirip ekor bercagak dua bentuknya simetris, sirip

dubur disokong oleh 3 jari – jari lemah mengeras dan 5 jari – jari lunak. Sirip

perut disokong oleh 1 jari – jari lemah mengeras dan 13 – 15 jari – jari lemah.

Jumlah sisik gurat sisi ada 33 – 36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak

memanjang dan pipih, ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat,

serta bintik hitam pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini

termasuk kelompok omnivora, makanannya berupa ganggang penempel yang

disebut epifiton dan perifiton (Djuhanda dan Tatang, 1985).

2.3.3.Budidaya Ikan Nilem

Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V), adalah salah satu komoditas

budidaya ikan air tawar yang terkonsentrasi di Pulau Jawa khususnya di Wilayah

Priangan, sementara sekarang pembudidayaan ikan tersebut hampir

dilupakan/ditinggalkan. Data Statistik Perikanan Budidaya 2002 menunjukkan

bahwa produksi ikan nilem terhadap produksi ikan budidaya lainnya dari tahun

(32)

7,28; 6,78 dan 6,96%. Padahal ikan tersebut mempunyai potensi cukup besar

dalam pengembangannya dimasa yang akan datang karena memiliki keunggulan

komparatif.

Budidaya ikan nilem pada umumnya saat ini masih bersifat tradisional,

bahkan hanya berupa produk sampingan dari hasil budidaya ikan secara polikultur

dengan ikan mas, mujaer atau nila dan gurame. Dari kelompok Ciprinidae ikan

nilem termasuk ikan yang tahan terhadap serangan penyakit, diduga karena ikan

nilem termasuk dalam kelompok omnivora yang mengkonsumsi pakan alami dari

kelompok ganggang yang disinyalir banyak mengandung anti bodi. Dengan

mayoritas makanannya berupa perifiton dan tumbuhan penempel dengan

demikian ikan nilem dapat berfungsi sebagai pembersih jarring (Jangkaru, 1980).

2.4. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

2.4.1.Klasifikasi Ikan Mas

Menurut Saanin (1968) ikan mas diklasifikasikan sebagai berikut :

Phylum : Chordata

Class : Pisces

Sub Class : Teleostei

Ordo : Ostariophysi

Sub Ordo : Cyprynoidea

Family : Cyprinidae

Sub Family : Cyprininae

Genus : Cyprinus

Species : Cyprinus carpio Linn

2.4.2. Struktur Morfologis Ikan Mas

Berdasarkan Djuhanda (1981), ikan mas memiliki ciri-ciri antara lain

ukuran panjang tubuh lebih panjang dari tinggi tubuhnya (perbandingan panjang

total dan tinggi badan 3,5 : 1), mulut di ujung kepala dan pada sudut mulutnya

terdapat dua pasang sungut peraba, badan ditutupi oleh sisik sikloid, ekor

(33)

berbagai jenis pakan termasuk plankton (Lagler, 1972). Sumantadinata (1983)

menyatakan bahwa ikan mas termasuk kelompok ikan omnivora yang lebih

mudah memakan makanan yang berasal dari hewani.

2.4.3. Budidaya Ikan Mas

Ikan mas (Cyprinus carpio, Linn) merupakan ikan air tawar yang sudah

dikenal di dunia, dibudidayakan mulai dari negara-negara tropis sampai dengan

negara sub tropis. Ikan mas memiliki beberapa sifat yang menguntungkan

sehingga merupakan salah satu ikan yang relatif banyak dibudidayakan oleh

pembudidaya. Sifat-sifat itu antara lain dapat mentolerir kisaran temperatur yang

luas (20-30 oC) dan mudah memijah serta memiliki adaptasi yang tinggi terhadap

lingkungan (Webb, 1981). Budidaya ikan mas di Indonesia sudah tersebar

diseluruh propinsi yang ada. Tingkat kesuksesan budidaya ikan mas berkaitan

dengan teknologi budidaya ikan mas yang sudah lama dikenal oleh masyarakat

serta ikan mas dikenal sebagai ikan yang mudah untuk memijah (Bardach et al.,

1972). Data Statistik Perikanan Budidaya 2002 menunjukkan bahwa produksi

ikan mas menunjukkan tren yang semakin meningkat. Di Wilayah Jawa Barat

ikan mas banyak dibudidayakan di keramba jaring apung, kolam air deras, dan

kolam tanah.

Sebagian besar usaha budidaya ikan mas menggunakan sistem budidaya

semiintensif dan intensif. Budidaya ikan mas secara intensif dilakukan di kolam

air deras dan keramba jaring apung (KJA). Usaha budidaya intensif ikan mas

umumnya berupa monokultur atau terkadang polikultur dengan beberapa jenis

ikan seperti ikan nila, tembakang, dan nilem (Sumantadinata, 1983). Usaha

pembesaran ikan mas di KJA yang menggunakan jaring ganda biasanya

menggunakan sistem polikultur dimana ikan mas berada di jaring dalam

sedangkan ikan nila berada di jaring luar.

(34)

2.5. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Kandungan Bahan Organik di

Perairan

Limbah yang berasal dari budidaya intensif mengandung bahan organik

yang tinggi. Limbah organik ini berasal dari sisa pakan yang terlarut dan

tersuspensi dalam air , sisa metabolit, eksresi hewan budidaya berupa feses dan

urin, pupuk, obat-obatan dan bahan perlakuan lainnya. Penguraian bahan organik

melalui proses oksidasi aerobik, berlangsung sebagai bagian rantai makanan di

alam, sebagai bahan makanan yang berasal dari bahan organik akan digunakan

untuk membangun substansi vital dari jenis-jenis mikroba (Mara, 1976 dalam

Bachrianto, 1994)

Bahan organik total atau total organik matter (TOM) menggambarkan

kandungan bahan organik total di suatu perairan yang terdiri atas bahan organik

terlarut, tersuspensi (particulate) dan koloid (Hariyadi et al, 1992). Bahan

organik dalam suatu perairan budidaya dapat berasal dari sisa pakan, sisa

metabolisme, pupuk, plankton yang mati dan beberapa sumber lainnya. Dalam

perairan bahan organik secara tidak langsung berpengaruh pada organisme

budidaya karena keberadaannya dapat mempengaruhi parameter kimia air lainnya

sebagai bahan yang akan terdekomposisi baik secara aerob dan anaerob. Selain

itu bahan organik juga merupakan faktor pendukung akan timbulnya jamur dan

bakteri yang bersifat patogen.

Berdasarkan fungsinya, bahan organik menurut Goldman dan Horne

(1983) dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu : 1) bahan organik yang dapat

mengalami proses dekomposisi, contohnya N-organik, P-organik dan humus; 2)

bahan organik yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme, contohnya

asetat, glukosa dan glikolat; 3) bahan organik yang dihasilkan oleh alga dan

beberapa hewan yang berperan penting dalam pigmentasi darah dan klorofil,

antara lain asam humik dan sitrat; 4) bahan organik yang dihasilkan oleh hewan

dan tumbuhan yang dapat mempercepat atau menghambat pertumbuhan dirinya

atau pesaingnya; 5) bahan organik yang dihasilkan oleh hewan atau tumbuhan

(35)

bagi organisme lain, contohnya lendir yang dihasilkan oleh alga biru-hijau (blue

green algae).

Berdasarkan sumbernya, Metcalf dan Eddy (1991) membedakan bahan

organik menjadi tiga macam, yaitu 1) bahan organik yang berasal dari limbah

domestik, yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, minyak dan surfaktan; 2)

bahan organik yang berasal dari limbah industri yang terdiri dari protein,

karbohidrat, lemak, minyak, fenol dan surfaktan lainnya; 3) bahan organik yang

berasal dari limbah pertanian, selain nutrien juga ada yang toksik seperti pestisida.

Lebih lanjut dikatakan bahwa , nilai kandungan bahan organik diperairan dapat

diukur sebagai karbon organik total (TOC, Total Organic Carbon), kebutuhan

oksigen untuk proses kimia (COD, Chemichal Oxygen Demand), kebutuhan

oksigen untuk proses biokimia (BOD, Biologychal Oxygen Demand).

Bahan organik dalam perairan berbentuk senyawa organik terlarut sampai

bahan organik partikulat dalam agregar besar atau organisme mati yang

bersumber baik dari dalam (autochtonous) maupun dari luar (allocthonous)

perairan. Secara umum bahan organik mengandung 40 – 60 % protein, 25 – 50 %

karbohidrat dan 10 % lemak dan minyak, serta urea (APHA, 1985). Menurut

Sladeck, 1979 dalam Taurusman, (1999), bahan organik dalam ekosistem perairan

akan terbentuk karena adanya proses anabolisme unsur hara oleh organisme

primer dengan bantuan sinar matahari, lalu diikuti proses kehidupan organisme

sekunder dan adanya masukan bahan organik dari ekosistem lainnya. Kandungan

bahan organik dalam perairan dapat diukur secara langsung dengan cara

mengukur kandungan bahan organik total (Total Organic Matter, TOM), (Wetzel

dan Likens, 1991).

Seiring dengan penambahan jumlah pakan dalam kegiatan budidaya,

beban bahan organik buangan yang harus dipikul oleh kolam budidaya semakin

meningkat sehingga berimplikasi pada semakin tingginya tingkat penurunan

kualitas media budidaya (Rosenbery, 2006). ).Peningkatan bahan organik dan

unsur hara pada batas-batas tertentu akan meningkatkan produktivitas organisme

akuatik, namun apabila masukan tersebut melebihi kemampuan organisme akuatik

(36)

timbul antara lain : tingkat kekeruhan menjadi tinggi sehingga menurunkan

tingkat penetrasi sinar matahari dan proses fotosintesis di kolom air akan

terhambat; makin meningkatnya jumlah tanaman berakar pada bagian litoral dan

menghilangkan jenis plankton dan benthos tertentu serta jenis organisme akuatik

lainnya; serta munculnya jenis organisme baru yang biasanya merugikan

kepentingan perikanan (Jorgensen, 1980). Soeriatmaja (1981) menambahkan

bahwa peningkatan bahan organik berlebihan akan membawa akibat-akibat seperti

meningkatnya unsur kimia yang berlebihan, menurunkan pH dan oksigen terlarut,

serta peningkatan aktivitas biologi yaitu proses dekomposisi.

Menurut Huisman (1987) dalam Harris (1996) menyatakan bahwa bila

konversi pakan 1 : 1,5 ; maka setiap 1 kg pakan akan menghasilkan 514 gram

padatan tersuspensi. Jika produksi udang tambak intensif sebesar 5 ton, maka

pakan yang digunakan sebesar 7.500 kg, sehingga akan menghasilkan limbah

organik dalam bentuk padatan tersuspensi sebesar 3.855 kg, yang selanjutnya

akan terbuang ke perairan sekitarnya.

2.6. Perifiton

Perifiton adalah suatu komunitas kompleks dari mikrobiota yang menempel

pada substrat, baik substrat organik, an-organik, hidup atau pun mati (Wetzel,

1983 dalam Hany 2009). Menurut Welch (1980) perifiton merupakan asosiasi

organisme akuatik yang menempel pada batang dan daun tanaman berakar atau

permukaan substrat lainnya yang berada di bawah permukaan air. Sedangkan

menurut Odum (1971) perifiton adalah komunitas organisme yang hidup di atas

(37)

Gambar 4. Posisi perifiton dalam suatu ekosistem perairan

Sumber : http://jmarcano.com/graficos/images/65.gif.

Perifiton selain berperan sebagai produsen primer di perairan eufotik, juga

dapat berperan sebagai biofilter dan akumulator senyawa-senyawa konsentrat

tinggi di perairan. Peran-peran ini menjadikan perifiton sebagai bioconditioner

atau penyeimbang sistem ekologis .

Proses pertumbuhan komunitas perifiton melalui empat tahap, yaitu

kolonisasi awal perifiton pada permukaan substrat, pertumbuhan diatom,

kolonisasi algae berfilamen hingga membentuk komunitas perifiton yang dapat

tumbuh hingga maksimal, dan pelepasan fragemen perifiton sehingga

menyebabkan adanya kolonisasi perifiton yang baru atau suksesi. Perkembanagan

perifiton dapat dipandang sebagai proses akumulasi hasil kolonisasi dengan

proses biologi yang menyertainya dan berinteraksi dengan faktor fisika dan kimia

perairan (Nuraiani 2005dalam Hany 2009).

Pelepasan perifiton terjadi setelah perifiton mengalami kematian akibat

telah mencapai titik puncak pertumbuhan. Terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, kemampuan untuk memproses

nutrien, dan komposisi perifiton yaitu, ketersediaan cahaya, kualitas air, dan tipe

substrat. Pertumbuhan perifiton dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya untuk

(38)

Gambar 5. Proses Pertumbuhan Perifiton

Jenis-jenis perifiton didominasi oleh golongan plankton, baik fitoplankton

maupun zooplankton. Beberapa jenis yang sering ditemui di perairan tawar adalah

Spirogyra, Cymbella, Zygnema, Navicula, Pinularia, Synedra, Oscillatoria,

Cosmarium, Merismopedia, Nitzschia, Spirulina, Diatom, dan sebagainya , contoh

gambar perifiton dapat dilihat pada gambar 6.

(A) (B) ©

Gambar 6. (A). Spyrogyra (B). Merismopedia (C). Zygnema (Sumber :

Struktur komunitas merupakan pola kelimpahan suatu jenis dan pola

keterikatan antar jenis dalam sebuah komunitas (Barnes dan Mann 1993). Pada

Dominansi perifiton pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh kondisi

perairan, kandungan nutrien perairan, dan musim. Tidak semua jenis perifiton

menempel secara permanen pada suatu substrat. Ada beberapa jenis perifiton yang

hanya menempel sementara, misalnya hanya pada saat bereproduksi atau terbawa

(39)

perairan danau dan waduk, fitoplankton yang kodominan (dominan lebih dari

satu) biasanya meliputi kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, dan

Cyanophyceae (Boney 1975 dalam Prasetiya 2007).

Pertumbuhan dan perkembangan perifiton biasanya didukung oleh

faktor-faktor lingkungan. Faktor-faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan perifiton

diantaranya tipe perairan (sungai, waduk, atau laut), intensitas cahaya (lama

penyinaran) kecerahan, kekeruhan, tipe substrat (kondisi, lokasi, kedalaman,

ketersediaan dan lama perendaman), pergerakan air (arus dan kecepatan), pH,

alkalinitas, unsur hara, bahan terlarut, suhu, oksigen dan CO2

• Epipelik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan sedimen.

.

Selain faktor-faktor diatas, perkembangan perifiton menuju kemantapan

komunitasnya tergantung pada kemantapan substratnya. Berdasarkan penelitian

Suparlina (2003) dengan menggunakan kolam berkonstruksi beton jumlah biota

perairan menjadi lebih banyak. Hal ini karena kolam berkonstruksi beton dapat

menahan air lebih baik, sehingga membuat kondisi perairan kolam lebih stabil dan

terkontrol.

Berdasarkan substrat tempat menempelnya Weitzel (1979) membedakan

perifiton menjadi beberapa jenis, yaitu:

• Epilitik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan batuan.

• Epifitik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan tumbuhan.

• Epizoik, mikroorganisme yang menempel pada permukaan hewan.

Epipsamik, mikroorganisme yang hidup dan bergerak diantara

butiran-butiran pasir.

(40)

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksaakan di Karamba Jaring Apung (KJA) dengan

mengambil lokasi di Waduk Cirata, Jawa Barat melalui 3 tahap sebagai berikut:

3.1. Penelitian Tahap I

Tahap penelitian ini terdiri atas 2 seri percobaan:

3.1.1.Percobaan 1:

3.1.1.a. Judul

Pengaruh perbedaan kedalaman posisi jaring yang diletakkan di perairan

terhadap keanekaragaman dan kelimpahan perifiton.

3.1.1.b. Tujuan

Untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan perifiton yang

tumbuh di jaring pada berbagai strata kedalaman.

3.1.1.c. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 15 hari di KJA Waduk Cirata Jawa

Barat dan di Laboratorium Balai Riset Budidaya Air Tawar Bogor.

3.1.1.d. Bahan dan Alat Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

1.Bahan jaring sebagai substrat dengan lebar mata jaring ¾ inci, masing-

masing lembaran jaring memiliki luasan 0,25 m2

2.Tali pengait, untuk mengikat substrat pada bambu.

(0,5 m x 0,5 m)

sebanyak 30 buah.

3.Akuades, untuk mengencerkan sampel yang diambil.

4.Alkohol 70%, digunakan dalam mengawetkan perifiton.

5.Bingkai bambu digunakan untuk membuat bentuk jaring tetap selama

(41)

6.Pemberat, untuk menahan substrat jaring agar tidak mengapung dan

terbawa arus.

Alat-alat yang digunakan antara lain :

1.Botol sampel, digunakanuntuk menyimpan sampel perifiton.

2.Mikroskop binokuler, digunakan untuk mengidentifikasi perifiton yang

diambil.

3.Object glass, digunakan untuk membuat preparat.

4.Cover glass ukuran 22 x 22 mm2

5.Pipet tetes, digunakan untuk mengambil sampel perifiton dari botol

sampel.

digunakan untuk menutup preparat.

6.Secchi disk, untuk mengukur transparansi cahaya

7.pH meter merek HACH untuk mengukur derajat keasamaan

8.DO meter merek YSI Incorporated untuk analisis kandungan oksigen

terlarut (DO) dan suhu

9.Spektrofotometer dan alat titrasi Biuret untuk mengukur parameter

kualitas air.

3.1.1.e. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode

eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak

Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan tiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan.

Perlakuan yang diakukan adalah :

• Perlakuan A : Perendaman jaring pada kedalaman 1 m

• Perlakuan B : Perendaman jaring pada kedalaman 2 m

• Perlakuan C : Perendaman jaring pada kedalaman 3 m

• Perlakuan D : Perendaman jaring pada kedalaman 4 m

3.1.1.f . Prosedur penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah bahan jaring dengan luasan 0,25

m2 (50 cm x 50 cm) sebanyak 20 buah. Jaring diberi pemberat agar kedudukan

(42)

untuk mengaitkan jaring pada batang bambu.Bahan yang dipersiapkan direndam

di KJA perairan waduk cirata dengan berbagai kedalaman sesuai dengan

perlakuan dan dibuat dalam lima lokasi sebagai ulangan.Sebelum direndam

masing – masing jaring diberi penanda (tag) dan ditimbang bobotnya. Selanjutnya

pada hari yang telah ditentukan setiap jaring ditimbang untuk keperluan

penghitungan biomassa basah perifiton, selain itu digunakan sebagai bahan

pengamatan yang lain.

3.1.1.g. Parameter Yang Diamati

3.1.1.g.1. Komposisi Perifiton

Komposisi perifiton dilihat dari seluruh perifiton yang teridentifikasi dari

awal sampai akhir penelitian. Identifikasi perifiton menggunakan buku identitikasi

karangan Sachlan (1972) dan Needham and Needham (1962)

3.1.1.g.2. Keanekaragaman dan Dominansi Perifiton

Indeks ini digunakan untuk mengetahui keragaman jenis perifiton pada

perairan. Keragaman dihitung dengan rumus Indeks Keragaman Simpson

(Krebs 1975), yaitu:

D = 1-

∑ (pi)

2

pi = ni/N

Keterangan :

D = Indeks Keragaman.

pi = ni/N = Proporsi jumlah individu dalam satu genus dibagi dengan jumlah total individu.

Untuk memperoleh informasi mengenai jenis perifiton yang

mendoninansi pada suatu komunitas pada tiap habitat digunakan rumus Indeks

Dominansi Simpson (Krebs, 1975), yaitu:

C =

Σ

(pi)

2 Keterangan :

(43)

pi = ni/N

ni = Jumlah individu jenis ke-i

N = jumlah total individu

Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan dominansi species

perifiton, yaitu:

• Mendekati 0 = indeks semakin rendah atau dominansi oleh satu spesies

• Mendekati 1 = indeks besar atau cenderung dominansi oleh beberapa

spesies perifiton.

3.1.1.g.3. Kelimpahan Perifiton

Kelimpahan Perifiton dihitung atas dasar perhitungan plankton,yaitu

berdasarkan Inverted Microscope Method Counts (APHA 1985). Rumus yang

Vt = Volume konsentrat pada botol contoh (30ml)

Ac = Luasan amatan (3,14x16x3mm2)

Vs = Volume pada cover glass (0,05ml)

As = Luas substrat yang dikerik (5x5cm2)

3.1.1.h. Analisa Data

Analisis untuk data kelimpahan perifiton dilakukan dengan menggunakan

ANOVA dengan uji F, apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan

dengan Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 % (Gasperz, 1991). Sedangkan

Analisis untuk data Indeks Keanekaragaman, Indeks Dominansi dilakukan secara

(44)

3.1.2.Percobaan 2:

3.1.2.a. Judul

Pengaruh lama perendaman terhadap keragaman dan kelimpahan

perifiton

3.1.2.b.Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan

kelimpahan perifiton pada media tumbuh dengan lama waktu pemeliharaan yang

berbeda.

3.1.2.c. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 15 hari di KJA Waduk Cirata

Jawa Barat dan di Laboratorium Balai Riset Budidaya Air Tawar Bogor.

3.1.2.d. Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Bahan jaring dengan lebar mata jaring ¾ inci, sebanyak 25 buah

dengan masing-masing lembaran jaring memiliki luasan 0,25 m2

2. Bingkai bambu, sebanyak 25 buah yang digunakan untuk membuat

bentuk jaring tetap selama penelitian.

(0,5m

x 0,5m), digunakan sebagai media penempelan perifiton.

3. Tali pengait, untuk mengikat substrat pada bambu.

4. Akuades, untuk mengencerkan sampel yang diambil.

5. Alkohol 70 %, untuk mengawetkan sampel yang diambil.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Botol sampel, untuk menyimpan sampel yang didapat.

2. Scalpel (pisau pengerik), untuk mengerik perifiton yang menempel

pada substrat untuk kemudian ditempatkan dalam botol sampel.

3. Mikroskop binokuler, untuk mengidentifikasi perifiton yang diambil.

(45)

5. Cover glass, untuk menutup preparat pada object glass.

6. Pipet tetes, untuk mengambil sampel perifiton dari botol sampel

7. Planktonnet (20 mikron) diameter 10 inchi, untuk menyaring perifiton

yang telah dikerok.

3.1.2.e. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode experimental dengan

rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan 5

perlakuan, adapun perlakuannya sebagai berikut:

A: 3 hari,

B: 6 hari,

C: 9 hari,

D: 12 hari,

E: 15 hari,

Setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan. Penempatan perlakuan dan ulangan

dilakukan secara acak dengan menggunakan acuan buku Gasperz (1991).

.

3.1.2.f. Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan bahan jaring dengan ukuran 25 x 25 cm

dengan mata jaring ¾ inchi diletakkan dengan menggunakan tali pengikat dan

diberi pemberat agar jaring tidak berubah kedudukan, jaring ditempatkan pada

berbagai kedalaman sesuai dengan perlakuan.Sebelum jaring ditempatkan pada

masing-masing perlakuan , jaring direndam dulu beberapa saat dan ditimbang

untuk menghitung berat jaring awal (sebelum ditempeli perifiton) dan setiap

jaring diberi tanda untuk memudahkan pada waktu sampling.

3.1.2.g. Parameter Yang Diamati

3.1.2.g.1. Komposisi perifiton

Komposisi perifiton dilihat dari seluruh perifiton yang teridentifikasi dari

awal sampai akhir penelitian. Identifikasi perifiton menggunakan buku identitikasi

(46)

3.1.2.g.2. Keragaman dan Dominansi Perifiton

Indeks ini digunakan untuk mengetahui keragaman jenis perifiton pada

perairan. Keragaman dihitung dengan rumus Indeks Keragaman Simpson

(Krebs 1975), yaitu:

D = Indeks Keragaman.

pi = ni/N = Proporsi jumlah individu dalam satu genus dibagi dengan jumlah total individu.

Nilai indeks keanekaragaman Simpson berkisar antara 0 = 1. Menurut Odum

(1971), ekosistem perairan dikatakan baik apabila nilai indeks keragaman

Simpson berkisar antara 0.6 – 0,8

Untuk mengetahui dominansi perifiton digunakan Indeks Dominansi

Simpson (Krebs 1975), yaitu:

C =

Σ

(Pi)²

Keterangan:

C = Indeks dominansi

Pi = ni/N

ni = Jumlah individu jenis ke-i

N = jumlah total individu

3.1.2.g.3. Kelimpahan Perifiton

Kelimpahan perifiton dihitung atas dasar perhitungan plankton, yaitu

berdasarkan Inverted Microscope Method Counts (APHA 1985). Metode

pengamatan dilakukan dengan metode strip sebanyak dua kali ulangan.

N =

(47)

n = Jumlah perifiton yang tercacah (ind)

At = Luasan cover glass (22x22mm²)

Vt = Volume konsentrat pada botol contoh (30ml)

Ac = Luasan amatan (3,14x16x2mm²)

Vs = Volume pada cover glass (0,1ml)

As = Luas substrat yang dikerik (5x5cm²)

3.1.2.h. Analisis Data

Data yang diperoleh selama penelitian, dianalisis secara kualitatif dan

kuantitatif. Analisis untuk data kelimpahan perifiton dilakukan dengan

menggunakan Analisis Varian (ANAVA) dengan uji F, apabila terdapat

perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan

dengan taraf 5% (Gasperz 1991). Sedangkan analisis untuk data Indeks

Keragaman dan Indeks Dominansi dilakukan secara deskriptif komparatif.

3.2. Penelitian tahap II

3.2.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Waduk Cirata dan di Laboratorium Balai Riset

Perikanan Budidaya Air Tawar

3.2.2. Judul

Kemampuan ikan nilem dalam memanfaatkan perifiton.

3.2.3. Tujuan

Untuk mengetahui jumlah (bobot) perifiton yang dimanfaatkan oleh ikan

nilem.

3.2.3. Bahan Penelitian

Ikan yang digunakan adalah ikan nilem sebanyak 5 ekor dengan berbagai

ukuran yaitu 5 – 7 gram; 8 – 10 gram , sebelum ikan ditebar dipuasakan dulu

selama 2 hari untuk memastikan bahwa lambung dalam keadaan kosong. Wadah

yang digunakan adalah akuarium ukuran 60 x 40 x 40 cm dengan volume air 5

(48)

digunakan adalah perifiton sebagai hasil penanaman di waduk cirata . Perifiton

sebelum diberikan ke ikan ditimbang dulu. Ikan ditimbang bobotnya di awal dan

diakhir penelitian.

3.2.4. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode

eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak

Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan tiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan.

Perlakuan yang diakukan adalah :

• Perlakuan A : Bobot ikan 5 – 7 gram

• Perlakuan B : Bobot ikan 8 – 15 gram

• Perlakuan C : Bobot ikan 16 – 20 gram

3.2.5. Prosedur Penelitian

Ikan yang digunakan adalah ikan nilem sebanyak 5 ekor dengan berbagai

ukuran yaitu 5 – 7 gram; 8 – 10 gram , sebelum ikan ditebar dipuasakan dulu

selama 2 hari untuk memastikan bahwa lambung dalam keadaan kosong. Wadah

yang digunakan adalah akuarium ukuran 60 x 40 x 40 cm dengan volume air 5

liter, air media yang digunakan adalah air bebas dari plankton. Pakan yang

digunakan adalah perifiton sebagai hasil penanaman di waduk cirata . Perifiton

sebelum diberikan ke ikan ditimbang dulu. Ikan ditimbang bobotnya di awal dan

diakhir penelitian.

3.2.6. Parameter Yang Diamati .

Parameterr yang diamati meliputi

3.2.6.a. Tingkat Konsumsi Pakan Ikan Nilem

Untuk menghitung tingkat konsumsi ikan nilem digunakan rumus:

W = Wpo –Wpt/ Wit – Wio

Keterangan:

(49)

Wpt = bobot perifiton pada waktu t

Wit = bobot ikan pada waktu t

Wio = bobot ikan awal

3.2.6.b. Keragaman Perifiton

Untuk menghitung keaneka ragaman perifiton di dalam isi perut ikan

nilem (individu/cc) dilakukan dengan cara membedah isi lambung ikan nilem

pada akhir penelitian.

Untuk identifikasi perifiton digunakan buku identifikasi Needham (1963),

sedangkan untuk menghitung keragaman jenis perifiton digunakan rumus indeks

keragaman Shannon – Wiener yaitu:

H’ =

∑ [

n1 ] Ln [

n1 ]

N N

H’ = Indeks keragaman Shanon – Wiener]

n1 = Jumlah individu suatu jenis

N = jumlah total individu

3.2.6.d. Analisis Data

Data dianalisa dengan ANOVA dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur.

3.3. Penelitian Tahap III

3.3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Waduk Cirata, Jawa Barat dan di Laboratorium

Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor, penelitian dilaksanakan selama

3 bulan dari Juli sampai dengan September 2009.

3.3.2. Judul

(50)

3.3.3.Tujuan

Untuk mengetahui jumlah ikan nilem yang tepat untuk mengendalikan

perifiton sehingga kualitas air di KJA dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan

mas.

3.3.4. Bahan Penelitian

Ikan yang digunakan adalah ikan nilem dengan bobot awal 5 g/ ekor dan

ikan mas dengan bobot awal 10 g/ ekor. Pakan yang digunakan berupa pakan

komersial tipe tenggelam dengan kandungan protein pakan sebesar 27%. Wadah

percobaan adalah karamba jaring dengan bahan polyetilen. Jaring terbagi menjadi

dua lapis, jaring apung luar untuk pemeliharaan ikan nilem berukuran 2 X 2 X 3

m dan jaring dalam untuk pemeliharaan ikan mas berukuran 1 x 1 x 1,5 m dengan

lebar mata jaring ½ inchi. Timbangan yang digunakan untuk mengukur biomassa

ikan total menggunakan timbangan duduk dengan kapasitas 20 kg, sedangkan

untuk menimbang biomassa individu ikan digunakan timbangan digital dengan

ketelitian 0,1 gram.

3.3.5. Metodelogi Penelitian

Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah padat penebaran ikan

nilem yaitu :

A. Pemeliharaan 400 ekor ikan nilem dengan ikan mas 200 ekor.

B. Pemeliharaan 300 ekor ikan nilem dan ikan mas 200 ekor.

C. Pemeliharaan 200 ekor ikan nilem dan ikan mas 200 ekor.

D. Pemeliharaan 100 ekor ikan nilem dan ikan mas 200 ekor.

E. Pemeliharaan 0 ekor ikan nilem dan ikan mas 200 ekor.

F. Pemeliharaan 400 ekor ikan nilem dan ikan mas 0 ekor.

Sampling dilakukan setiap 2 minggu sekali. Penimbangan bobot individu ikan

(51)

3.3.6. Prosedur Penelitian

Ikan yang digunakan pada penelitian ini adalah ikan nilem dengan berat

rata-rata 5 g/ekor dan ikan mas dengan berat rata-rata ukuran 10 g/ekor. Padat

tebar ikan mas per jaring 200 ekor. Wadah percobaan adalah karamba jaring

dibuat dua lapis, jaring apung luar berukuran 2 X 2 X 3 m dan jaring dalam

berukuran 1 x 1 x 1,5 m dengan lebar mata jaring ½ inchi. Ikan nilem ditebar

diantara lapis luar dan lapis dalam, sedangkan ikan mas ditebar di dalam jaring

lapis dalam .Pakan yang diberikan berupa pakan komersial yang hanya diberikan

pada ikan mas dengan komposisi proksimat pakan sebagai berikut : kadar air :

8,7 %; Protein :26,89 %; Lemak : 6,87 %; Abu : 10,85 % dan Serat Kasar :

2,48 % ). , diberikan sebanyak 5% dari bobot total per hari, dengan frekuensi

pemberian 3 kali per hari.

3.3.7. Parameter Yang Diamati

Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi :

3.3.7.a. Parameter Fisika dan Kimia Air

Parameter fisika dan kimia air yang diamati antara lain : Suhu air ,

O2,CO2 ; pH; NH3 –N dan PO4.

3.3.7.b. Parameter Biologi Perairan

Parameter biologi yang diamati meliputi keanekaragaman dan kelimpahan

perifiton.

1. Keanekaragaman Perifiton

Keanekaragaman perifiton dihitung dengan menggunakan rumus beri kut

H’ =

∑ [

n1 ] Ln [

2,3026 < H’ < 6,9078 = keaneka ragaman sedang

n1 ]

N N

H’ = indeks keanekaragaman Shannon – Winner

ni = jumlah individu jenis ke i

N = jumlah total individu

Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

(52)

H’ > 6,9078 = keaneka ragaman tinggi

2. Kelimpahan Perifiton.

Kelimpahan perifiton dihitung berdasarkan rumus berikut (APHA,

1989) :

Vt = Volume konsentrat pada botol contoh (30ml)

Ac = Luasan amatan (3,14x16x3mm2)

Vs = Volume pada cover glass (0,05ml)

As = Luas substrat yang dikerik (5x5cm

2

Untuk menghitung komposisi jenisnya digunakan rumus :

C = Indeks dominasnsi Simpson

ni = jumlah individu jenis ke i

N = jumlah total individu

Nilai C berkisar antara 0 – 1 apabila nilai C mendekati 0 berarti hampir

tidak ada idividu yang mendominasi, sedangkan apabila nilai C mendekati 1

berarti terjadi dominasi jenis tertentu (Odum,1971).

3.3.7.c. Parameter Pertumbuhan

Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak, laju

pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup.

1. Pertumbuhan Mutlak (G)

(53)

G

=

W

t

W

0

Wt = bobot ikan pada akhir penelitian

W0 = bobot ikan pada awal penelitian

2. Laju Pertumbuhan Bobot Rata-Rata Harian (SGR)

0 x100

T W Ln W Ln SGR = t

Wt = bobot ikan pada akhir penelitian

W0 = bobot ikan pada awal penelitian

T = waktu penelitian

c.3. Kelangsungan Hidup (SR) (%)

100

0

x

N

N

SR

=

t

Nt = Jumlah ikan pada akhir penelitian

N0 = Jumlah ikan pada awal penelitian

3.3.8.Analisis Data

Analisis data yang digunakan untuk menggambarkan data fisika kimia air

dan populasi perifiton dianalisis secara deskriptif, sedangkan data pertumbuhan

dianalisis secara statistik dengan Anova dan uji Duncan dengan selang

Figur

Gambar 1. Lokasi Penelitian di Waduk Cirata

Gambar 1.

Lokasi Penelitian di Waduk Cirata p.27
Gambar 2. Karamba Jaring Apung (KJA) yang digunakan dalam penelitian

Gambar 2.

Karamba Jaring Apung (KJA) yang digunakan dalam penelitian p.30
Gambar 3. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti)

Gambar 3.

Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) p.31
Gambar 4. Posisi perifiton dalam suatu ekosistem perairan Sumber : http://jmarcano.com/graficos/images/65.gif

Gambar 4.

Posisi perifiton dalam suatu ekosistem perairan Sumber : http://jmarcano.com/graficos/images/65.gif p.37
Gambar 5. Proses Pertumbuhan Perifiton

Gambar 5.

Proses Pertumbuhan Perifiton p.38
gambar perifiton dapat dilihat pada gambar 6.

gambar perifiton

dapat dilihat pada gambar 6. p.38
Gambar 8. Perifiton yang Ditemukan di Tiap Kedalaman Substrat

Gambar 8.

Perifiton yang Ditemukan di Tiap Kedalaman Substrat p.55
Tabel 1. Rata–rata Indeks Keanekaragaman dan Dominansi perifiton

Tabel 1.

Rata–rata Indeks Keanekaragaman dan Dominansi perifiton p.56
Tabel 2. Rata – rata kelimpahan perifiton selama penelitian (ind/cm2)

Tabel 2.

Rata – rata kelimpahan perifiton selama penelitian (ind/cm2) p.57
Tabel 3. Intensitas Cahaya dan Kecerahan Perairan pada Berbagai Kedalaman

Tabel 3.

Intensitas Cahaya dan Kecerahan Perairan pada Berbagai Kedalaman p.57
Tabel 4 Rata-Rata Nilai Parameter Kualitas Air Selama Penelitian.

Tabel 4

Rata-Rata Nilai Parameter Kualitas Air Selama Penelitian. p.58
Gambar 9.  Komposisi Perifiton Berdasarkan Kelas

Gambar 9.

Komposisi Perifiton Berdasarkan Kelas p.58
Tabel 5. Rata-rata Indeks Keanekaragaman dan Dominansi perifiton (ind/cm2)

Tabel 5.

Rata-rata Indeks Keanekaragaman dan Dominansi perifiton (ind/cm2) p.59
Tabel 6. Rata-rata Kelimpahan Perifiton (individu/ cm2) Berdasarkan Perlakuan

Tabel 6.

Rata-rata Kelimpahan Perifiton (individu/ cm2) Berdasarkan Perlakuan p.59
Tabel 7 . Konsumsi perifiton (g/ g ikan) pada berbagai ukuran ikan nilem

Tabel 7 .

Konsumsi perifiton (g/ g ikan) pada berbagai ukuran ikan nilem p.60
Tabel 8. Nilai parameter fisika kimia air di KJA Waduk Cirata selama penelitian

Tabel 8.

Nilai parameter fisika kimia air di KJA Waduk Cirata selama penelitian p.61
Tabel 9 . Rata-rata keanekaragaman dan indeks dominasi perifiton

Tabel 9 .

Rata-rata keanekaragaman dan indeks dominasi perifiton p.62
Tabel 10. Rata-rata kelimpahan perifiton  (ind/cm²) pada berbagai perlakuan

Tabel 10.

Rata-rata kelimpahan perifiton (ind/cm²) pada berbagai perlakuan p.63
Tabel 11. Rata – rata kelangsungan hidup dan pertumbuhan  ikan mas selama penelitian

Tabel 11.

Rata – rata kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan mas selama penelitian p.63
Tabel 12. Nilai Rata – rata kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan nilem selama penelitian

Tabel 12.

Nilai Rata – rata kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan nilem selama penelitian p.64
Gambar 10. Grafik pertumbuhan ikan mas (A) dan Ikan Nilem (B) selama 3 bulan

Gambar 10.

Grafik pertumbuhan ikan mas (A) dan Ikan Nilem (B) selama 3 bulan p.65
Tabel Analisis Ragam

Tabel Analisis

Ragam p.98
Tabel Analisis Ragam

Tabel Analisis

Ragam p.100
Tabel Analisis Ragam

Tabel Analisis

Ragam p.102
Tabel Analisis Ragam

Tabel Analisis

Ragam p.104

Referensi

Memperbarui...