Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga

101 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM

RUMAH TANGGA

(Studi Kasus di Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan )

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi syarat mendapat gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam bidang Antropologi

Disusun Oleh:

Adhrani Jamin 030905052

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang ... 1

2. Perumusan Masalah ... 4

3. Tujuan Penelitian ... 5

4. Kajian Pustaka ... 6

5. Metodologi Penelitian ... 11

6. Analisa Data ... 13

BAB II. GAMBARAN KONDISI KESEHATAN MASYARAKAT KOTA MEDAN 2.1. Dinas Kesehatan Kota Madya Medan ... 14

2.2. Sarana Kesehatan Kota Medan ... 23

2.3. Tenaga Kesehatan Kota Medan ... 25

2.4. Gambaran Penyakit di Kota Medan ... 30

BAB III. PROFIL PENGOBATAN ALTERNATIF 3.1. Pengobatan Tradisional Indonesia ... 35

3.2. Pengobatan Alternatif Indonesia ... 41

3.2.1. Pengobatan Tradisional Murni... 41

3.2.2. Alternatif Berasal dari Budaya/Agama Luar Indonesia ... 42

(3)

3.2.5. Penyembuhan Natural Biologi ... 45 3.3. Pengobatan Alternatif di Kota Medan ... 46 3.4. Pengobatan Alternatif Sempurna ... 49

BAB IV. PEMANFAATAN PENGOBATAN ALTERNATIF ”SEMPURNA”

4.1. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Keberadaan Pengobatan Alternatif ... 52 4.2. Hal-hal yang Mendasari Penggunaan Pengobatan Alternatif

Sempurna ... 55 4.2.1. Pengalaman Negatif Terhadap Pengobatan Modern ... 56 4.2.2. Alternatif Sempurna Sebagai Pelengkap Pengobatan ... 62 4.2.3. Pengaruh Keluarga dan Lay Reffeal Group ... 71 4.2.4. Alternatif Sempurna Sebagai Pengobatan yang Unik,

Holistik dan Kesejajaran Kedudukan ... 78 4.3. Proses Pengobatan Alternatif Sempurna ... 89 4.4. Pengobatan Alternatif Sempurna Sebagai Pengobatan yang

Memberikan Kepuasan Bagi Pasien ... 90

BAB V. KESIMPULAN ... 92

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah Swt, karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna melengkapi dan memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah “Pilihan Masyarakat Atas Pengobatan Alternatiif Terhadap Pengobatan Alternatif di Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal”. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini di masa yang akan datang sangat penulis harapkan.

Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Zulkifli, M.A., selaku ketua Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Ermansyah M.Hum., selaku Dosen wali dan Dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak meluangkan waktu, membimbing, serta memberikan banyak pengetahuan baru yang sangat berguna bagi penulis.

4. Kepada seluruh pegawai Antropologi dan pegawai yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan urusan administrasi selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi.

(5)

kerjasamanya dalam memberikan informasi selama ini hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada orangtua tercinta Ayahanda Soekono dan Ibunda Rahmawati Nasution yang telah mengasuh, mendidik dan mendo’akan ananda dengan penuh kasih sayang. Inilah persembahan yang dapat ananda berikan sebagai tanda bakti ananda.

7. Seseorang yang tersayang Mursam Efendi, SH, terima kasih atas sgala bantuan tenaga, materi, pikiran serta dorongannya kepada penulis.

8. Adik-adikku tersayang, Ratno Irfandy SyahPutra, Reza Pratama, Mhd.Yusuf Fadli dan Audry Annisa Syah Fitri. Terima kasih do’a kalian selama ini. Mbak sayang kalian.

9. Keluarga besar ayah dan ibu, Nenekku,Wak Ida, Bang Wito, Bang Gesti, Panji sekeluarga dan Mur sekeluarga terima kasih atas dukungan dan do’anya.

10.Sahabat-sahabat yang penulis sayangi Rani, Luna sekeluarga, Momot, Sirly, Eci, Lya, Demank, Abeb, Blender, Annis, Maria, Dina sekeluarga, Vivi, Ayu, dan serta Tim Shasha Indosat. Terima kasih atas kebersamaan yang telah kalian berikan selama ini. Tetap semangat ya!!!!!!!

11.Terima kasih kepada seluruh seluruh kerabat Antropologi dari stambuk 2002 sampai 2008 serta seluruh jurusan yang tidak saya sebutkan, dorongan dan kebersamaan yang tidak akan terlupakan.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi banyak pihak terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Medan, 2009

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang berbudaya (Syahruddin, 1995). Dengan kebudayaan yang dimilikinya, mereka tidak hanya mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan, namun manusia juga dapat merubah alam lingkungannya menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan kebudayaan berisi seperangkat pengetahuan yang pada gilirannya dapat dijadikan pedoman untuk menanggapi dan menjawab seluruh tantangan alam dan lingkungan baik fisik maupun sosial. Dari sekian banyak pengetahuan yang dimiliki manusia salah satunya adalah pengetahuan yang menyangkut dengan usaha menghindari dan cara menyembuhkan suatu jenis penyakit.

(7)

Didalam Undang – Undang RI No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada Bab1 Pasal 1 dikatakan bahwa “ kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang. Hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Konsep tersebut memperlihatkan bahwasannya kesehatan merupakan keinginan semua pihak. Untuk mencapai keadaan sehat tersebut manusia dengan berbagai cara, melalui kebudayaan yang dimiliki, sistem nilai dan pengetahuan yang ada akan berupaya untuk mendapatkannya.

Dijelaskan bahwa upaya seseorang untuk mendapatkan kesehatan merupakan suatu pranata khusus yang terus dipelihara dan dikembangkan. Pada masa primitif, pemahaman dan kepercayaan tentang kesehatan dipengaruhi budaya dan peradaban primitif pula (Foster dan Anderson, 1986:15). Ketika peradaban berkembang, maka budaya manusia tentang kesehatan juga berkembang. Sekarang, saat teknologi semakin tak terkendalikan, budaya kesehatan manusia mengarah pada budaya rasional tentang kesehatan.

(8)

Pengobatan dan penyembuhan dengan sistem altenatif merupakan suatu upaya kesehatan yang berakar pada tradisi yang berasal dari dalam Indonesia yang sistem pengobatannya berbeda jauh dengan sistem pengobatan dan penyembuhan ilmu kedokteran yang berasal dari luar Indonesia. Pengobatan alternatif adalah pengobatan non Barat, yang terdiri atas pengobatan tradisional ditambah pengobatan lain yang bukan pengobatan Barat modern. Di kalangan ilmuan sendiri, konsep pengobatan alternatif disamakan penggunaannya dengan pengobatan tradisional maupun pengobatan rakyat (Agoes, 1992:60). Pengobatan alternatif adalah pengobatan tradisional yang telah diakui dan terdaftar oleh Pemerintah.

Di Indonesia, seperti halnya di Kota Medan, banyak terdapat pengobatan – pengobatan alternatif seperti akupuntur, pijat refleksi, ceragem, herbal terapi, yoga yang menjadi tujuan masyarakat untuk menjadikannya sebagai salah satu pilihan pengobatan yang diminati. Fenomena penggunaan pengobatan alternatif di masyarakat Indonesia merupakan kecenderungan yang berkembang di seluruh kalangan masyarakat. Masyarakat berbagai status menunjukkan kecenderungan menggunakan pengobatan alternatif dalam pengobatannya. Hal ini dikuatkan oleh Nico. S. Kalangie (1994:129) dengan mengatakan bahwa “…At the same time it would be foolish to assume that eventually traditional medicine and popular care will die or wither on vine. First of all,

jamu tonics and the like are believe in implicity by even educated Indonesian, physician

(9)

Terutama semua jamu dan sejenisnya secara implisit bahkan dipercayai oleh orang Indonesia yang berpendidikan termasuk dokter…”

Fenomena tersebut menarik untuk dipahami dan dicermati lebih lanjut. Hal ini dapat memperlihatkan berbagai model pengobatan di luar pengobatan medis yang sudah lazim yang menjadi pilihan – pilihan tertentu masyarakat dalam menjaga kesehatannya. Kenyataan tersebut juga memperlihatkan status pengobatan altenatif yang masih diakui keberadaannya dan dapat menjawab berbagai masalah kesehatan. Akhirnya dapat dipahami bahwa pengobatan alternatif juga merupakan sistem pengobatan yang masih sangat dikenal bagi peminatnya. Seperti halnya pengobatan altenatif Sempurna yang dipimpin bapak Suryadi. Seperti yang menangani segala penyakit dan keluhan pasien dengan system pengobatan semi modern seperti bekham, akupuntur listrik, pijat refleksi dan ramuan-ramuan yang terdapat di Jalan Setia Budi no. 245 Medan, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana keberadaan sistem pengobatan alternatif, seperti halnya pengobatan alternatif Sempurna menjadi pilihan masyarakat dan berbagai sistem pengobatan alternatif lainnya. Permasalahan tersebut dapat diuraikan ke dalam 4 (empat) pertanyaan penelitian yaitu:

(10)

2. Apa yang mendasari masyarakat untuk memilih sistem pengobatan alternatif Sempurna?

3. Bagaimana teknik pengobatan penyakit yang meliputi prinsip, cara kerja serta tahap – tahap pengobatan ?

4. Bagaimana hasil yang diperoleh masayarakat terhadap sistem pengobatan alternatif yang menjadi pilihannya?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berpijak dari permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pilihan masyarakat terhadap pengobatan alternatif dalam penangulangan penyakit khususnya pengobatan alternatif Sempurna oleh Bapak Tabib Suryadi.

(11)

4. Kajian Pustaka

Laudel F Snow (dalam Henderson, 1981:83 – 85) mengatakan bahwa fenomena penyakit di masyarakat dibagi atas 2 (dua) hal, yaitu:

1. Natural Illnesses (penyakit – penyakit alamiah). Penyakit alamiah ini dibagi atas 2 yaitu:

a. Penyakit yang disebabkan serangan unsur (agents) alami seperti hujan

b. Penyakit yang disebabkan kiriman Tuhan atau hukuman Tuhan atas dosa manusia. Penyakit ini tidak dapat disembukan oleh obat – obatan modern

2. Unnatural Illnesses

Penyakit ini disebabkan campur tangan kekuatan setan (demons) dan iblis (evil) yang masuk kedalam tubuh manusia. Penyakit yang disbabkan iblis dan setan ini juga dapat berbentuk penyakit alamiah.

Dalam pembagian ini antara Natural dan Unnatural Illnesses terdapat kesamaan. Penyakit – penyakit yang disebabkan faktor alamiah dan penyakit yang disebabkan setan (demon) dan iblis (evil) sama – sama tidak dapat disembuhkan dngan obat – obatan modern. Akan tetapi jika iblis atau setan yang berperan, maka penyakit dianggap tidak ilmiah. Sedangkan menurut Foster dan Anderson (1986:63) membagi sistem kesehatan berdasarkan kepercayaan dan penjelasan tetang sebab – sebab penyakit atas 2 (dua) cara yaitu:

(12)

yang bukan manusia (seperti hantu, roh leluhur atau roh jahat) maupun makhluk manusia (tukang sihir atau tenung)

2. Naturalistik yang terjadi akibat adanya gangguan ketidak seimbangan didalam tubuh manusia atau antara tubuh manusia dan lingkungannya. Seperti panas, dingin, cairan tubuh (humor atau dosha), yin dan yang, berada dalam keadaan seimbang menurut usia dan kondisi individu.

Dalam hal ini pengobatan alternatif termasuk dalam naturalistik karena penyakitnya disebabkan leh gangauan ketidak seimbangnya didalam tubuh manusia tetapi dalam pengobatannya terdiri atas pengobatan tradisional ditambah pengobatan lain yang bukan pengobatan barat modern yang tidak menggunakan peralatan medis (Agoes, 1992:60). Menurut Ortiz dalam pengambilan keputusan (Decision Making Process) bahwa keputusan itu bersifat rasional ketika keputusan tersebut diambil. Pengambilan keputusan tesebut berbasic individu maksudnya pengambilan keputusan seseorang mengenai sesuatu hal berasal dari orang tersebut sendiri yang diambil berdasarkan pengalaman-pengalaman seseorang.

(13)

memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapinya dan untuk menolong serta menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Sistem pengetahuan dapat dibagi 2 (dua), yaitu :

1. Sistem pengetahuan realita, yaitu pandangan atau penafsiran terhadap suatu objek yang didasarkan kepada realitas suatu fenomena yang dapat dikaji secara ilmiah dan secara material dapat terasa.

2. Sistem pengetahuan non realitas yaitu pandangan atau penafsiran terhadap sesuatu objek yang didasarkan pada sifat tahayul atau mitos yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat setempat (Noerhadi dalam Alfian, 1985: 209) Pengetahuan masyarakat dalam memilih penyembuhan penyakitnya diperoleh dari pengalaman serta dorongan lingkungannya yang menghasilkan tingkah laku yang disebut juga dengan budaya (Spradley, 1980). Kebudayaan menentukan sesuatu dapat dikatakan sebagai penyakit atau sesuatu itu tidak dianggap sebagai suatu penyakit. Pendefinisian penyakit dalam suatu masyarakat dan kebudayaan berbeda – beda, adanya pendefinisian yang berbeda–beda ini terjadi karena dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi alam dan lingkungan, makanan, pola makan serta kebiasaan makan.

(14)

Melalui pengamatan dan penelitian yang terus berkembang yang didapat dari berbagai informasi maka, ditentukanlah struktur kebutuhan atau motif yang terdapat pada orang yang mengamati. Jadi, sebenarnya motif kita melalui minat dan perhatian terhadap segala sesuatu yang bersifat tradisional mempunyai peranan besar dalam menentukan apa yang kita lihat, dengar, amati dilingkungan kita (Berungen, 1986:146).

Kalangie (1994:25) mengatakan bahwa sistem perawatan kesehatan adalah usaha memelihara kesehatan mencakup berbagai kegiatan yang satu dengan lainnya berkaitan dan merupakan respons – respons terhadap penyakit dan yang terorganisasi secara sosial budaya dalam setiap masyarakat. Sedangkan menurut Foster dan Anderson (1986:46), sistem perawatan kesehatan adalah suatu pranata sosial yang melibatkan interaksi antara sejumlah orang, sedikitnya pasien dan penyembuh. Fungsi yang terwujudkan dari suatu sistem perawatan kesehatan adalah untuk memobilitasi sumber – sumber daya pasien, yakni keluarganya dan masyarakatnya, untuk menyetarakan mereka dalam mengatasi masalah tersebut.

(15)

penyakit. Keempat lingkungan penyebab penyakit tersebut saling berhubungan satu dengan lainnya.

The Supernatural world

The social world

The natural world

The patient world

Etiologi Penyakit Sumber: Helman 1990 : 103

Etiologi penyakit ini dipengaruhi oleh nilai yang dianut oleh seseorang atau masyarakat. Jika suatu masyarakat cendrung menganggap penyakit yang disebabkan oleh etiologi sosal dan supernatural, maka masyarakat ini adalah masyarakat yang masih tradisional. Masyarakat dalam tipe ini adalahmasyarakat non barat yang akan mengambil tindakan pengobatan dan kekuatan magis.

Resenstock (dalam Sarwono, 1997:33) menjelaskan teori model kepercayaan kesehatan (Health beliefe model theory) bahwa perilaku individu ditentukan oleh motif dan kepercayaan kesehatan (health beliefe). Dalam teori ini dikatakan bahwa motif dan kepercayaan seorang dalam mengambil tindakan dalam pengobatan tidak memperdulikan apakah yang dilakukan sesuai atau tudak dengan realitas atau pandangan orang lain. Dalam model kepercayaan kesehatan ini disebutkan terdapatnya 3 unsur yang mempengaruhi tindakan pengobatan:

(16)

2. Pandangan individu tentang beratnya penyakit (perseive seriousness)

3. Makin beratnya resiko penyakit, maka makin besar ancaman yang diterima, sehingga mendorong melakukan tindakan pencegahan maupun pengobatan penyakit.

Ketiga unsur diatas sangat mempengaruhi tindakan yang di ambil oleh individu dalam menanggulangi penyakit. Aspek-aspek teoritik yang berkaitan dengan pengetahuan ini akan digunakan sebagai orientasi teoritik dalam memahami dan menjelaskan pengetahuan tentang pemilian masyarakat terhadap pengobatan alternatif.

E. Metodologi Penelitian

1. Lokasi penelitian

(17)

2. Metode Penelitian

Tipe penelitian ini bersifat deskriptif yang berusaha mengumpulkan data kualitatif sebayak mungkin yang merupakan data utama untuk menjelaskan permasalahan yang akan dibahas nantinya. Data dalam penelitian ini dapat dikelompokkan oleh data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari observasi dan wawancara. Metode observasi yang digunakan adalah observasi non partisipasi dalam penelitian ini dipergunakan untuk mengamati suatu gejala atau situasi sosial tertentu di lokasi penelitian. Hal ini meliputi kegiatan pengobatan, penggunaan alat pengobatan, peristiwa perilaku yang melibatkan masyarakat yang berhubungan dengan pandangan dan pilihan meraka terhadap pengobatan alternatif serta fakta - fakta lain yang dirasa mendukung. Dalam hal in didukung oleh kamera foto untuk dokumentasi.

Sedangkan wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara mendalam serta wawancara tidak berstruktur yaitu wawancara yang dilakukan tanpa ada persiapan terlebih dahulu dan biasanya apabila sipeneliti secara kebetulan berjumpa dengan si informan, Dalam melakukan wawancara peneliti menggunakan interview guide (pedoman wawancara) serta tape recorder.

(18)

sebagai informan pangkal menjadi informan kunci. Informan biasa yaitu individu yang pernah atau sedang mendapatkan jasa pengobatan alternatif dalam mengatasi penyakit yang di deritanya, wawancara ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai apa yang mendasari masyarakat memilih pengobatan alternatif ini serta hasil yang diperoleh. Kedudukan kunci dan biasa dapat berubah terkait informasi yang diberikan informan serta situasi dilapangan.

Data skunder diperoleh dari buku – buku, majalah, surat kabar, internet dan tulisan – tulisan lainnya. Data skunder tersebut akan dipilah – pilah untuk kemudian diambil sesuai dengan kepentingan kajian atau masalah yang akan dibahas. Akhirnya data skunder dapat diharapkan menambah pemahaman penulis terhadap permasalahan yang akan diteliti.

F. Analisa Data

Pada tahap analisis ini, peneliti akan memeriksa ulang seluruh data yang diperoleh untuk melihat kelengkapannya. Data yang diperoleh dari lapangan akan dianalisis secara kualitatif. Data yang dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara akan disusun sesuai dengan kategori – kategori tertentu. Kemudian dilakukan penganalisaan hubungan dari setiap bagian yang telah disusun untuk memudahkan saat mendeskripsikannya.

(19)

BAB II

PENGELOLAHAN DAN KONDISI KESEHATAN

MASYARAKAT KOTA MEDAN

2.1. Dinas Kesehatan Kotamadya Medan

Upaya pembangunan kesehatan merupakan upaya semua pihak tanpa terkecuali pemerintah. Untuk meningkatkan kondisi kesehatan dimasyarakat, peran serta semua elemen di masyarakat baik itu formal maupun informal sekarang ini merupakan satu syarat penting yang harus dijalankan. Antara pemerintah dan masyarakat harus ada satu kerjasama yang saling mendukung dalam upaya mewujudkan upaya yang sehat.

Dalam membangun satu jaringan kerja pelayanan kesehatan yang baik, satu negara harus memiliki sarana-sarana yang mendukung. Sarana–sarana fisik maupun sumber daya manusia dalam hal ini merupakan satu keharusan. Pemerintah sebagai lembaga legislasi merupakan elemen yang penting dalam pembangunan kesehatan. Peran serta pemerintah dalam bidang kesehatan sekarang sangat dibutuhkan. Seperti yang ditegaskan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. Peran pemerintah dalam upaya kesehatan seperti pemeliharaan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuh penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan sangat jelas tertulis.

(20)

kesehatan; f) penelitian dan pengembangan kesehatan memuat campur tangan pemerintah. Misalnya saja pada pasal 51 ayat 1 dan 2. Pada ayat 1 dikatakan “pengadaan tenaga kesehatan untuk memenuhi kebutuhan diselenggarakan antara lain melalui pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan atau masyarakat”. Pada ayat yang ke 2 dinyatakan “ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Melalui pasal ini jelas tampak bahwasannya peran pemerintah dalam mendidik dan melatih tenaga kesehatan merupakan kewajiban, selain juga adanya peran dalam hal membuat peraturan perundang-undangan yang mengatur secara lebih terinci tentang penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan tersebut.

(21)

Gambar I

Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Medan

STRUKTUR PADA DINAS KESEHATAN KOTA MEDAN

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Medan

Secara umum Pemda Tingkat II Medan memiliki kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam pembangunan kesehatan. Kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut merupakan turunan dari kebijaksanaan pembangunan kesehatan secara Nasional yaitu:

- Meningkatkan mutu pemerataan jangkauan kesehatan - Meningkatkan kualitas sumber daya manusia

- Meningkatkan kemampuan kemandirian keluarga dan masyarakat untuk melaksanakan NKKBS

WALIKOTAMADYA

D.K.K

U.P.T KA.SUB.BAG.TATA USAHA

BPU B.K.I.A PUSTU PUSKESMAS KAUR.UMUM KAUR.KEPEG

WALIKOTAMADYA WALIKOTAMADYA

KAUR.KEUANGAN

KA.SIE.P2M KA.SIE.P.K.L KA.SIE.P.K.I.A

KA.SIE.PKM KA.SIE.P.KES

KA.SIE.P2M KA.SUB.T.T.U KA.SIE.P2M

(22)

- Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan gizi, umur harapan hidup, kualitas lingkungan dan pemukiman.

Kebijaksanaan Nasional tersebut kemudian diterapkan oleh kebijaksanaan Kodya Medan dalam bentuk:

- Meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan - Melengkapi sarana lingkungan dan pemukiman.

- Meningkatkan kualitas lingkungan dan pemukiman - Pelatihan, penyuluhan dan penelitian.

- Pendanaan - Rakesda

Dari kebijakan-kebijakan yang ditetapkan tersebut tampak bahwa Dinas Kesehatan Kotamadya Medan yang merupakan instuisi formal pengelolahan kesehatan memiliki beberapa program bagi pembangunan kesehatan di Kota Medan. Sebagai lembaga resmi pemerintah yang khusus menangani pembangunan kesehatan, Dinas Kesehatan Kotamadya Medan (DKK) memiliki tugas dan fungsi yang beragam sesuai dengan bidang-bidang yang ada dalam struktur organisasi DKK. Secara tidak langsung DKK merupakan lembaga legislasi dari keseluruhan pembangunan kesehatan Kota Medan yang sekaligus berfungsi sebagai lembaga kontrol dan monitor terhadap setiap penyelenggaraan kesehatan yang dilakukan masyarakat di samping melaksanakan pengelolan kesehatan yang dimiliki pemerintah.

(23)

benar-benar dibutuhkan bagi pembangunan kesehatan di Kota Medan. Salah satunya adalah Seksi Pemulihan Kesehatan. Dalam seksi ini terdiri atas 2 sub seksi yaitu sub seksi Puskesmas dan sub seksi Rumah Sakit. Setiap sub seksi dari Seksi Pemulihan Kesehatan memiliki tugas masing-masing. Misalnya saja Sub Seksi Puskesmas. Sub Seksi Puskesmas adalah bertugas memberikan pembinaan/peningkatan pelaksanaan kegiatan kesehatan di Puskesmas. Sub Seksi Puskesmas memiliki 2 tujuan yakni:

1. Meningkatkan pelayanan dalam rangka derajat kesehatan masyarakat.

2. Meningkatkan keterampilan petugas kesehatan dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Sub Seksi Puskesmas bukan hanya mengkoordinir sarana kesehatan milik pemerintah. Bidang ini juga mengkoordinir pelayanan kesehatan masyarakat yaitu:

- Puskesmas

- Puskesmas pembantu - Rumah bersalin - Balai Pengobatan

- Balai Kesehatan Ibu dan Anak. (Dinas Kesehatan Kota Medan, 2007)

(24)

Bagian lain yang ada di Seksi Pemulihan Kesehatan adalah Sub Seksi Rumah Sakit. Sub seksi ini memiliki kaitan dengan sarana-sarana kesehatan yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat. Sub seksi ini bertugas dalam hal memberikan izin, membina dan meningkatkan kegiatan pelayanan kesehatan oleh Rumah Sakit swasta dan kegiatan pelayanan swasta lainnya termasuk pelayanan kesehatan oleh pihak-pihak pengobatan tradisional seperti Sin she.

(25)

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2007, satu bidang yang menangani penyakit di Dinas Kesehatan Kotamadya Medan adalah Seksi P2M (Pemberantasan penyakit menular). Tujuan dari seksi ini adalah:

- Mencegah terjadinya penularan penyakit - Mengurangi terjadinya kesakitan

- Mengurang terjadinya kematian

Dalam bidang ini cara pemberantasan yang digunakan adalah tahapan-tahapan yang sitematis, tahapan-tahapan tersebut dilaksanakan bukan hanya untuk penyembuhan dan menghilangkan keadaan sakit, tetapi disertai dengan langkah penganalisaan, penyelidikan maupun pendidikan. Strategi yang digunakan merupakan strategi yang bersifat holistik (menyeluruh). Artinya bukan hanya menghilangkan kondisi sakit dengan seketika, tetapi proses pemberantasan disertai dengan tindakan penyelidikan yang dilakukan secara seksama. Berikut ini langkah-langkah pemberantasan penyakit menular:

- Mengumpulkan dan menganalisa data penyakit - Melaporkan penyakit menular

- Menyelidiki di lapangan untuk melihat benar tidanya laporan yang masuk untuk menemukan lagi untuk mengetahui sumber penularan

- Tindakan penularan untuk menahan perjalanan (containment)

- Menyembuhkan penderita, sehingga tidak lagi menjadi sumber infektie. - Pengebalan (immunisasi)

(26)

Salah satu sarana kesehatan yang membantu pelayanan kesehatan masyarakat adalah Puskesmas. Dalam Dinas Kesehatan Kotamadya Medan Puskesmas merupakan satu sarana yang dijadikan prioritas pelayanan kesehatan Kota Medan. Fungsi Puskesmas bagi peningkatan kesehatan masyarakat sangat besar. Kegiatan-kegiatan Puskesmas sendiri terdiri atas 18 kegiatan pokok, yaitu:

1. Usaha kesejahteraan ibu dan anak 2. Keluarga berencana

3. Usaha kesehatan gizi

4. Usaha higiene dan sanitasi lingkungan

5. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular 6. Penyuluhan kesehatan masyarakat

7. Usaha pemulihan kesehatan dan pengobatan 8. Usaha perawatan kesehatan masyarakat 9. Usaha kesehatan sekolah

10.Usaha kesehatan gigi 11.Usaha kesehatan jiwa 12. Laboratorium

13.Usaha pencatatan dan pelaporan 14.Usaha kesehatan mata

15.Peningkatan kesehatan olahraga

(27)

18.Pembinaan upaya dana sehat masyarakat . (Dinas Kesehatan Kota Medan, 2007).

Kegiatan-kegiatan Puskesmas tersebut merupakan implementasi dari upaya kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat. Dalam kegiatan –kegiatan tersebut selain mengandung unsur penyembuh juga terdapat adanya usaha-usaha pencegahan peningkatan maupun pemulihan Misalnya saja dalam usaha penyembuhan Puskesmas memiliki kegiatan yang sifatnya menyembuhkan yaitu kegiatan usaha pendidikan kesehatan dan pengobatan. Kegiatan ini salah satunya berisi tentang penyuluhan dan memberikan bimbingan mengenai cara pencegahan penyakit kepada pasien yang merupakan unsur edukatif bagi pencegahan munculnya penyakit.

Akhirnya tampak kegiatan pengelolahan kesehatan di Kota Medan tidak luput dari peran pemerintah, dalam hal ini Pemda Tingkat II Kotamadya Medan melalui Dinas Kesehatan Kotamadya Medan. Melalui intuisi pengelola kesehatan pemerintah ini segala sarana kesehatan baik itu yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta tidak lepas dari campur tangan pemerintah. Ada berbagai derajat keikutsertaan pemerintah daerah melalui DKK ini terhadap pengelolahan sarana-sarana Kesehatan Kotamadya Medan. Mulai dari yang secara umum yakni dengan mengadakan kontrol terhadap lembaga-lembaga kesehatan swasta sampai dengan yang bersifat administratif yaitu memberiakan izin penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat.

2.2 Sarana Kesehatan Kota Medan

(28)

berbagai sarana pendukung kehidupan yang mampu menyokong kehidupan yang baik. Salah satu sarana berkembang di Kota Medan adalah sarana kesehatan. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan semakin kompleksnya sistem sosial oleh terjadinya modernisasi, Kota Medan membutuhkan sarana fisik kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Selain sarana kesehatan yang disediakan oleh pemerintah sarana pelayanan kesehatan menjadi tugas masyarakat dalam hal ini sarana kesehatan yang diusahakan oleh kalangan swasta. Sarana kesehatan yang ada di kota Medan pada umumnya harus berada di bawah kontrol pemerintah daerah tingkat II Kotamadya Medan melalui Dinas Kesehatan Kotamadya Medan. Sarana-sarana tersebut bukan hanya diharuskan mendapat izin operasional dari intitusi kesehatan pemerintah akan tetapi standar dan aturan-aturan yang dipakai juga haruslah didasarkan pada standar dan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat Kota Medan pada saat sekarang ini merupkan satu prioritas yang harus dibangun. Dengan adanya lembaga kontrol pelayanan kesehatan oleh pemerintah maka pengembangan kualitas maupun kuantitas sarana pelayanan dapat dikoordinir dengan baik. Masyarakat Kota Medan harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup di lingkungannya. Hal itu penting, sebab dengan tersedianya sarana yang cukup maka kondisi kesehatan masyarakat akan lebih baik lagi sehingga dapat mendukung aktivitas masyarakat.

(29)

dampaknya. Semakin tinggi mobilitas manusia maka semakin dibutuhkannya kondisi sehat. Untuk mendukung aktivitas masyarakat tersebut maka konsekuensinya adalah tersedianya sarana kesehatan yang mencukupi. Lembaga-lembaga pelayanan kesehatan baik itu yang disediakan oleh pemerintah dan swasta sangat dibutuhkan di Kota Medan. Sarana pelayanan yang besar dan yang kecil merupakan keharusan di kota Medan. Seperti yang tercatat, ada berbagai jenis sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di kota Medan.

(30)

TABEL I

SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN KOTA MEDAN

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1 Puskesmas 37 unit

2 Puskesmas Pembantu 26 unit

3 RSUP/RS-ABRI/RS-BUMN 9 unit

4 RS Swasta 49 unit

5 Klinik spesialis Pemda 1 unit

6 Rumah bersalin swasta 155 unit

7 Balai pengobatan swasta 123 unit

8 Laboratorium klinik Pemerintah 1 unit 9 Laboratorium klinik swasta 21 unit

10 Posyandu 1900 unit

11 DUKM 44 buah

12 Praktek dokter umum/spesialis 780 unit

13 Praktek bidan swasta 407 unit

14 Tenaga dokter umum di Diskes Tk.II 111 orang 15 Tenaga dokter gigi di Diskes Tk.II 79 orang 16 Tenaga dokter ahli anak di Diskes Tk.II 2 orang 17 Tenaga apoteker di Diskes Tk.II 1 orang

18 Kader 2.267 orang

19 Dokter kecil 6.073 orang

20 Dokter remaja 3.025 orang

21 Saka Bakti Husada 238 orang

22 Dana sehat sekolah 108 unit

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Medan

2.3. Tenaga Kesehatan Kota Medan

(31)

baik. Menurut data yang dimiliki DKK Medan, data keadaan tenaga kesehatan yang dirinci berdasarkan jenisnya hanya tenaga kesehatan yang tercatat di Rumah Sakit.

Berdasarkan data tersebut, jenis tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit terdiri atas 68 jenis. Tenaga kesehatan tersebut tersebar di sejumlah Rumah Sakit dalam jumlah yang bervariasi. Jika dilihat keberagaman tenaga kesehatan tersebut tampak bahwa tenaga kesehatan yang terdapat di kota Medan sudah cukup lengkap. Tenaga kesehatan tersebut sangat bervariasi ada yang membedakan atas dasar jenjang pendidikan, jenis maupun spesialisasinya yang dimulai dari dokter umum sampai kepada pekerja rumah sakit yang hanya berpendidikan SD ke bawah. Variasi yang dimiliki tenaga kesehatan di kota Medan ini sangat mendukung bagi pelayanan kesehatan secara maksimal.

(32)

Selain itu juga tenaga kesehatan di luar dokter tetapi berasal dari latar belakang pendidikan seperti perawat dan bidan, keberadaannya sangat dibutuhkan tidak terkecuali di Medan. Peran mereka dalam pelayanan kesehatan baik itu dalam sebuah Rumah Sakit maupun lembaga kesehatan lain sangat penting. Di Kota Medan sendiri tenaga kesehatan seperti bidan sudah tergolong cukup yakni 407 orang hanya dari praktek bidan swasta. Angka itu bukan lagi termasuk bidan yang bekerja di Rumah-rumah sakit maupun balai pengobatan yang dimilki oleh pemerintah.

Tenaga kesehatan yang tidak berlatarbelakang pendidikan kesehatan juga cukup banyak. Tenaga-tenaga kesehatan yang berasal dari latarbelakang pendidikan diluar pendidikan kesehatan sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Rumah sakit merupakan lembaga pelayanan kesehatan yang memiliki lembaga kesehatan yang paling bervariasi. Dalam sebuah instuisi rumah sakit dengan bentuk struktur organisasi yang lebih kompleks dibandingkan dengan instuisi pelayanan kesehatan lain yang lebih sederhana, diferensiasi maupun spesialisasi keahliann yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan sangat penting sebab dengan kondisi tersebut maka yang dibutuhkan bukan hanya tenaga yang langsung menangani praktek-praktek perawatan maupun penyembuhan, namun dibutuhkan pula tenaga-tenaga yang mampu mengorganisir organisasi rumah sakit.

(33)

sebanyak 68 jenis telah dimiliki oleh rumah sakit yang ada di Medan. Artinya dari begitu banyak jenis ketenagaan yang dibutuhkan dalam pengelolahan pelayanan kesehatan di rumah sakit, sebanyak 68 jenis telah ada orang yang bekerja dalam bidang itu, walaupun dalam jumlah yang kurang memadai.

Untuk lebih jelasnya berikut dijelaskan jenis-jenis ketenagaan di rumah sakit yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan di Kota Medan.

TABEL II

JENIS-JENIS KETENAGAAN

No Jenis Ketenagaan No Jenis Ketenagaan

1. Dokter umum 20. Akademi keperawatan DIII 2. Dokter spesialis bedah 21. SPK

3. Dokter spesialis penyakit dalam 22. Perawat bidan 4. Dokter spesialis patologi klinik 23. Apoteker 5. Dokter spesialis kesehatan anak 24. Analisis farmasi 6. Dokter spesialis radiologi 25. Asisten apoteker

7. Dokter spesialis anestesi 26. SarjanaKesehatan Masyarakat 8. Dokter spesialis jiwa 27. Dokter spesialis THT

9. Dokter spesialis mata 28. Sarjana gizi 10. Dokter spesialis kulit dan kelamin 29. Akademi gizi 11. Dokter spesialis kardiologi 30. Tenaga gizi lain

12. Bidan 31. Radhiographer

13. Dokter spesialis saraf 32. Radio therapis 14. Dokter spesialis paru 33. Teknisi gigi

15. Dokter spesialis bedah orthopedi 34. Teknisi elektromedis 16. Dokter spesialis urologi 35. Analis kesehatan 17. Dokter spesialis patologi forensik 36. Sarjana Hukum 18. Dokter spesialis rehabilitasi medik 37. Sarjana Ekonomi

19. Dokter gigi 38. Dll

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Medan

(34)

tinggi pula. Rumah sakit yang paling besar di Kota Medan adalah Rumah sakit Dr. Pirngadi. Rumah sakit ini memiliki kapasitas paling besardari segi jumlah, tempat tidur, fasilitas kesehatan maupun tenaga kesehatan. Misalnya saja rumah sakit ini memiliki 15 orang dokter spesialis anak, sedangkan rumah sakit lain seperti Rumah sakit Malahayati yang tergolong besar di kota Medan hanya memiliki 6 orang dokter dan spesialisasi yang sama.

Secara umum tenaga kesehatan maupun ketenagaan dalam instuisi pelayanan yang ada di kota Medan tergolong lengkap. Selain tenaga kesehatan tersebut tersebar dalam rumah sakit juga tersebar di berbagai unit-unit pelayanan kesehatan yang lebih kecil misalnya di balai pengobatan swasta maupun puskesmas-puskesmas. Tenaga kesehatan tersebut melaksanakan tugas dan fungsinya dalam lembaga pelayanan kesehatan yang lebih sederhana struktur organisasinya. Untuk sebuah balai pengobatan swasta yang telah tersebar di berbagai lokasi di kota Medan tenaga kesehatan sangat diperlukan.

(35)

2.4. Gambaran Penyakit di Kota Medan

Menurut data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Medan pada tahun 2007 penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Kota Medan adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernapasan atas. Penyakit yang berkaitan dengan pernapasan bagian atas ini dari bulan ke bulan tetap menempati urutan atas sebagai penyakit yang paling banyak diderita. Pada tahun 2007 dari bulan Januari sampai bulan Desember penyakit ini tetap menjadi kasus yang paling banyak dijumpai. Menurut data tentang 10 besar penyakit yang mendapat rawat jalan di rumah sakit. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Akut mendominasi sebagai penyakit yang paling besar penderitanya. Pada bulan Januari 2007 penyakit ini tercatat 288 kasus. Pada bulan Februari sampai April kasus yang tercatat tentang penyakit ini mengalami peningkatan yang cukup besar yakni 566 kasus dan 828 kasus dan 890 kasus. Prevalensi masyarakat kota Medan dengan penyakit ini tergolong tinggi dibandingkan dengan penyakit lain, bahkan sampai 3 kali lipat. Misalnya saja pada bulan Oktober, penyakit ini mencatat rekor hingga sampai 1630 kasus.

(36)

mendapatkan rawat jalan di rumah sakit angka terbesar adalah penyakit infeksi saluran pernapasan atas akut. Namun penyakit yanng mendapat perawatan inap di rumah sakit bukanlah penyakit tersebut.

Data penyakit yang paling banyak perawatan inap di rumah sakit tahum 2007 adalah penyakit diare (Gastro Entritis). Pada tahun 2007 penyakit ini menduduki urutan paling atas dari 10 penyakit yang mendapat perawatan inap di rumah sakit yakni sebanyak 2.081. Melalui pencatatan per bulannya penyakit diare atau Gastro Entritis ini selalu paling banyak mendapatkan prawatan inap di rumah sakit. Misalnya saja pada bulan Januari dan Februari jumlah yang mendapatkan perawatan inap di rumah sakit adalah 217 dan 293 kasus. Penyakit ini tampak lebih mendominasi jumlah penyakit yang mendapatkan perawatan inap dibandingkan penyakit ISPA yang lebih rendah jumlahnya yang mendapatkan perawatan inap.

(37)

Pembedaan antara penyakit yang mendapatkan perawatan inap dan perawatan jalan di rumah sakit merupakan pembedaan yang penting. Setidaknya pembedaan pendataan tersebut dapat membantu dalam penganalisaan tingkat keseriusan penyakit di masyarakat. Antar penyakit yang mendapatkan perawatan inap dan jalan di rumah sakit memiliki perbedaan. Berikut ini akan digambarkan 10 penyakit terbesar yang mendapatkan perawatan inap dan perawatan jalan di rumah sakit di kota Medan tahun 2007.

Tabel III

10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Inap di Rumah Sakit Tahun 2007

No PENYAKIT JUMLAH KASUS

1 Diare (Gastro Entritis) 2081

2 Demam Tifoid dan Paratifoid 1114

3 Infeksi saluran nafas bagian atas akut 496

4 TBC Paru 434

10 Adiegesis lainnya 187

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Medan

(38)

Entritis) 3179, Tuberclosis Paru 1650 kasus, Demam Tifoid dan Paratifoid 1103 kasus, Pneumonia 774 kasus serta penyakit-penyakit lainnya.

Tabel IV

10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Jalan di Rumah Sakit Tahun 2007

No PENYAKIT JUMLAH KASUS

1 Infeksi Saluran Napas bagian Atas Akut 10331

2 TBC Paru BTA (+) 3627

3 Diare (Gastro Entritis) 3179

4 Tuberclosis Paru Lainnya 1650

5 Demam Tifoid dan Paratifoid 1103

6 Pneumonia 774

7 Pertusis (Batuk rejan) 570

8 Tonsilis Akut 552

9 Bronchitis Akut 484

10 Malaria 174

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Medan

(39)

Tabel V

10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Inap di Rumah Sakit Tahun 2008

No PENYAKIT JUMLAH

KASUS 1 Infeksi Akut lain pada Saluran Pernapasan Bagian

Atas

303.729 2 Penyakit lain pada Saluran Pernapasan bagian Atas 94.540

3 Diare 77.126

4 Tonsilis Akut 39.134

5 Penyakit Kulit Infeksi 38.861

6 Penyakit pada Sistem Otot dan Jaringan 3.151

7 Penyakit Kulit Alergi 3.147

8 Hypertensi 30.818

9 Gingistis 30.471

10 Penyakit Pulpa 24.666

(40)

BAB III

PROFIL PENGOBATAN ALTERNATIF

3.1. Pengobatan Tradisional Indonesia

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah dirulis tentang pengobatan alternatif. Walaupun tidak secara eksplisit menggunakan konsep pengobatan alternatif, dalam undang-undang tersebut digunakan konsep pengobatan tradisional. Pada Bab I Pasal 7 dinyatakan ”Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman dan keterampilan turun temurun dan diterapkan sessuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat”.

Seperti yang tercatat dalam Undang-undang tersebut, pengobatan tradisional berkaitan dengan cara, pengobatan maupun obat yang didasrkan pada pengetahuan maupun pengalaman yang diperoleh secara turun temurun. Hal itu juga tampak dari defenisi tentang obat tradisional. Dalam Undang-undang tersebut ”Obat tradisional” adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

(41)

kalangan ilmiah yang menyebutnya dengan ”traditional healing” atau penyembuhan tradisional. Ada juga yang menyebutkannya dengan folk medicine, ethno medicine, indigenous medicine dan alternative medicine (Agoes, 1992:59). Untuk memudahkan penyebutan maka dalam hal ini lebih baik digunakan istilah pengobatan alternatif, sebab dengan istilah ini dapat ditarik garis tegas perbedaan antara pengobatan modern dengan pengobatan di luarnya dan juga dapat merangkum sistem-sistem pengobatan oriental (timur) seperti pengobatan tradisional atau sistem penyembuhan yang berakar dari budaya turun temurun yang khas satu etnis (etno medicine), Pengobatan alternatif sendiri mencakup seluruh pengobatan tradional, dan pengobatan alternatif adalah pengobatan tradisional yang telah diakui oleh pemerintah.

World Health Organisation (WHO) menyatakan, pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek, baik yang dapat diterangkan secara ilmiah maupun tidak, dalam melakukan diagnosis, prevensi dan pengobatan terhadap ketidakseimbangan fisik, mental ataupun sosial. Selain dari definisi tersebut, pemerintah Republik Indonesia dalam ”Seminar Pelayanan pengobatan Tradisional Departemen Kesehatan RI (1978), mengemukakan 2 defenisi untuk pengobatan tradional Indonesia yaitu:

(42)

B. Usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan cara berfikir, kaidah-kaidah atau ilmu di luar pengobatan ilmu kedokteran modern, diwariskan secara turun temurun atau diperoleh secara pribadi dan dilakukan dengan cara-cara yang tidak lazim dipergunakan dalam ilmu kedokteran, yang antara lain meliputi akupuntur, dukun/ahli kebatinan, sinse, tabib, jamu, pijat dan sebagainya banyak dijumpai dalam masyarakat.

Secara umum jenis pengobatan alternatif yang diakui di Indonesia secara kategori terbagi atas 3 (tiga). Ada yang menggunakan zat-zat yang berasal dari tanaman-tanaman yang kemudian lebih dikenal sebagai jamu (herbalis), yang menggunakan ilmu kebatinan (spiritual) maupun yang menggunakan alat sebagai instrumen penyembuh. Akan tetapi pembagian itu tidak begitu lengkap, sebab yang dijadikan indikator sebagai pembagi adalah terapy yang digunakan. Namun metode pemeriksaan (diagnosa) yang dilakukan kurang mendapat perhatian.

(43)

Pengobatan alternatif di Indonesia sangatlah banyak jenisnya. Setiap suku bangsa dan agama yang ada dii Indonesia memiliki jenis pengobatan tersendiri yang didasari oleh kebudayaannya masing-masing. Namun jika diteliti secara mendalam penyembuhan alternatif yang ada di Indonesia memiliki akar pada 3 (tiga) jenis pengobatan yaitu: (1) pengobatan tradisional Cina, (2) pengobatan tradisional India dan (3) kedokteran Arab atau Unani Medicine.

Pengobatan ataupun penyembuhan yang paling banyak dijumpai di Indonesia baik itu di kota maupun di desa adalah jenis pengobatan alternatif yang berlatarbelakang akar budaya tradisi suku bangsa maupun agama di Indonesia. Pengobat (curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun penyembuhan tersebut sering disebut sebagai tabib atau dukun. Pengobatan maupun diagnosa yang dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin.

Salah satu ciri khas pengobatan alternatif di Indonesia adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan atau amalan. Dalam praktek diagnosa sangat penting dalam praktek penyembuhan alternatif. Fungsi amalan atau doa dalam sebuah penyembuh sangat bervariasi dalam sebuah penyembuhan. Pada umumnya setiap penyembuh (tabib/dukun) mempergunakan doa atau bacaan. Akan tetapi kadar keagamaannya yang berbeda. Ada yang sekedar seb agai unsur penyembuh utama maupun hanya sebagai komplementer (pelengkap).

(44)

dapat membawa kesembuhan. Namun doa dan amalan sering tidak menjadi faktor penting dalam sebuah penyembuhan, tetapi hanya sebagai pelengkap. Misalnya seperti yang dilakukan oleh informan kunci Bapak tabib Suryadi, ia yang telah 17 tahun membuka prakteknya, doa menurutnya hanya merupakan tata cara yang menunjukkan ia seorang yang beragama. Doa yang diucapkan tidak memiliki kaitan dengan aturan ritual pertabiban yang dilakukannya. Dalam pengobatannya Bapak Suryadi menggunakan tiga unsur terapi yang terpadu seperti:

a. Refleksi yaitu pijat membuka 6666 urat syaraf dan penyempitan aliran darah b. Bekam yaitu pengeluaran racun (toksin) yang bersemayam dalam darah c. Akupuntur modern tanpa menggunakan polisi.

d. Racikan ramuan pilihan yang mengkombinasikan ramuan-ramuanTiongkok, India, Arab serta ramuan kuno Indonesia

Selain itu Bapak Suryadi menggunakan unsur kebatinan dalam pengobatannya, unsur kebatinan tersebut digunakan untuk penyakit-penyakit tertentu seperti penangkal badan, kerasukan, guna-guna, cepat jodoh dan lain-lain.

(45)

proses penyembuhan maupun paska penyembuhan. Sebab dalam penyembuhan alternatif, pantangan ada yang bersifat rasional maupun diluar akal.

Di dalam praktek pengobatan Bapak Tabib Suryadi juga mengenal pantangan-pantangan dalam pengobatannya, pantangan-pantangan-pantangan-pantangan tersebut sesuai penyakit yang di derita pasien. Seperti penyakit patah tulang maupun terkilir, biasanya pasien dalam masa pengobatan dilarang minum es dan makan kacang-kacangan, hal tersebut dapat mengganggu syaraf-syaraf yang akan di alirkan menurutnya.

Perkembangan praktek pengobatan alternatoif sekarang ini sangat pesat. Lokasi praktek pengobatan alternatif yang dahulu hanya dijumpai di desa-desa terpencil, sekarang ini sudah merambah ke kota-kota besar. Pesatnya perkembangan praktek-praktek pengobatan alternatif kini sudah semakin modern. Untuk mendukung agar praktek pengobatan tersebut laku ada banyak cara yang dilakukan. Metode yang paling baru yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan media publikasi modern seperti surat kabar, brosur-brosur maupun televisi.

(46)

3.2. Pengobatan Alternatif Indonesia

Pada alenia-alenia sebelumnya digambarkan tentang pembagian pengobatan tradisional ke dalam beberapa jenis menurut Departemen Kesehatan RI tahun 1978.Namun dalampembagian tersebut tidak memsukkan jenis-jenis pengobatan alternatif lain yang berkembang sekarang ini. Untuk itu akan di gambarkan di sini pembagian pengobatan alternatif secara lebih luas. Namun pembagian ini bukanlah pembagian yang sangat tegas sebab antara jenis-jenis pengobatan ini juga memiliki hubungan.

3.2.1. Pengobatan Tradisional Murni

Pengobatan tradisional dalam hal ini merupakan jenis pengobatan alternatif yang memiliki akar sejarah perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia. Jenis pengobatan ini berdasarkan tradisi-tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku bangsa (etnis) yang ada di Indonesia.

Contoh dari jenis penyembuhan ini adalah erpangir. Erpangir merupakan salah satu penyembuhan yang berasal dari Suku bangsa Batak Karo. Penyembuhan ini merupakkan upacara penyembuhan yang diwariskan suku bangsa Batak Karo secara turun temurun. Erpangir ini berb entuk upacara penyembuhan tolak bala yang diiringi pembancaan mantra dan iringan musik tradisional Karo yang diperankan dan dijalankan oleh Guru Sibaso sebagai penyembuh (Bangun, 1996:166).

(47)

perjuangan fisik dan mental yang sangat berat seperti dalam mendapatkan ilmu penyembuhan Ajian Antabuga, Ajian Aji Anjan Kemayun yang dimiliki eorang paranormal Masrury, 1997:33-40). Menurut Bapak Suryadi sendiri yang telah membuka balai prakteknya selama 17 tahun, ia mendapatkan keahliannya dalam mengobati berbagai macam penyakit dari kakeknya yang dahulu juga membuka praktek yang sama.

3.2.3. Alternatif Berasal dari Budaya atau Agama Luar Indonesia

Jenis penyembuhan sekarang ini mengalami perkembangan yang cukup pesat dan peminatnya sangat banyak tersebar di Indonesia. Pengobatan jenis ini dibedakan dengan pengobatan alternatif lainnya, sebab memiliki akar sejarah perkembangan dari luar Indonesia. Pengobatan tersebut pada umumnya berakar dari agama dan budaya Hindu, Islam, Budha dan Tao (Regional Health Forum, 1996:52).

Sistem pengobatan alternatif ini adalah sistem pengobatan alternatif yang berasal dari Asia Tenggara dan negara-negara timur jauh (ibid,51). Secara filosofis sistem pengobatan alternatif ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari alam manusia (microcosmos) dan alam (macrocosmos) yang saling berhubungan secara harmonis. Sistem organisme manusia sangat dipengaruhi oleh sistem dari alam sendiri.

(48)

tahun 1800-an oleh Dr. Mikao Usui. Istilah Reiki berasal dari bahasa Jepang, ”Rei” berarti universal, ”Ki” berarti tenaga kehidupan. Jadi terapi Reiki merupakan teknik penyembuhan yang menggunakan tenaga kehidupan berupa energi universal yang dapat menyembuhkan organ-organ tubuh manusia yangsedang mengalami sakit (Kompas, 1 Februari 2007). Selain itu terdapat juga jenis pengobatan lain seperti Akupuntur, Refleksologi, Bekam, Seni pernapasan Yoga yang berasal dari Hindu, TaiChi dari China, Ayurveda, penyembuhan dengan kristal dan banyak lagi teknik-teknik penyembuhan yang memiliki akar perkembangan dari agama-agama yang tersebut di atas.

Namun yang menjadi ciri utama teknik-teknik ini adalah mengutamakan keseimbangan di dalam tubuh. Penyakit merupakan akibat dari gangguan yang timbul dari terganggunya keseimbangan tubuh. Keseimbangan tubuh dapat terganggu diakibatkan oleh berbagai hal seperti perilaku, pekerjaan, makanan, pergantian hari dan sebagainya yang terjadi di alam. Jadi secara umum jenis pengobatan ini merupakan kumpulan terapi yang berakar dari budaya dan agama yang ada di Asia Tenggara dan Timur Jauh.

3.2.4. Penyembuhan atau Pengobatan oleh Agama

(49)

membuat berbeda dengan jenis penyembuhan lain adalah karena proses penyembuhannya tidak mempercammpuradukan antara kepercayaan, keyakinan kepada Tuhan dengan kekuatan-kekuatan lain ataupun alat-alat bantu penyembuhan lain yang berasal dari satu tradisi penyembuhan kebudayaan tertentu. Jadi penggunaan doa sebagai peranttara penyembuhan dalam penyembuhan ini merupakan instrumen penting dalam proses penyembuhan.

Karakteristik terpenting dari jenis penyembuhan keagamaan adalah tidak mengkomersilkan penyembuhannya kepada masyarakat. Penyembuhan keagamaan tidak dipublikasikan secara khusus. Penyembuhan biasanya dilakukan bersamaan dengan peningkatan keimanan orang yang beragama, sebab dalam agama yang diutamakan bukan hanya kesehatan rohani dan jasmani pengikutnya, tetapi kepercayaan, kepatuhan kepada yang mutlaklah (Tuhan) yang menjadi inti kepercayaan terhadap agama.

(50)

kalau tidak ada keyakinan dan keseriusan sambil memohon pada yang di atas itu semua tidak ada artinya karena Tuhan yang menentukan.

3.2.4. Penyembuhan Natural Biologi

Penggunaan konsep Natural Biologi merupakan salah satu cara untuk memasukkan semua jenis penyembuhan yang memiliki kedekatan dengan sistem pengobatan medis. Metode penyembuhan maupun etiologi tentang penyakit dalam jenis penyembuhan ini ada didasarkan pada penelitian-penelitian yang empirik, dan juga jenis penyembuhan ini mengenal jenis-jenis penyakit dengan menggunakan istilah-istilah yang juga digunakan pengobatan medis seperti diabetes, contoh dalam penyembuhan ini adalah:

Refleksiologi

Dikenal juga dengan ”Zone Therapy” yaitu penyembuhan dengan menekan bagian-bagian tertentu dari tangan dan kaki, bagi penyembuhan penyakit.

Chiropractic

Ilmu kesehatan tentang sistem saraf, energi yang mengalir melalui jaringan saraf menentukan sehat dan sakitnya seseorang. Untuk itu energi yang mengalir melalui sistem saraf harus dilancarkan guna baiknya struktur tubuh dan sel dalam organ tubuh. Naturopathy

(51)

Bekam

dalam tubuh melalui permukaan kulit. Dengan melakukan penghisapan/vakum maka terbentuklah tekanan negatif di dalam cawan/kop sehingga terjadi drainase cairan tubuh berlebih (darah kotor) dan toksin, menghilangkan perlengketan/adhesi jaringan ikat dan akan mengalirkan darah “bersih” ke permukaan kulit dan jaringan otot yang mengalami stagnasi serta merangsang sistem syaraf perifer. Dalam sistem pengobatan alternatif Bapak tabib Suryadi ini teknik penyembuhan natural biologi digunakan dalam mengobati pasiennya pengobatan tersebut seperti bekam, akupuntur modern tanpa menggunakan jarum, chiropractic dan refleksi. Pengobatan tersebut di perolehnya secara turun temurun dan di pelajarinya selama 17 tahun.

3.3. Pengobatan Alternatif di Kota Medan

Pengobatan alternatif pada saat sekarang ini merupakan sistem pengobatan atau penyembuhan yang banyak digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali penduduk yang ada di kota Medan. Pemanfaatan jasa pengobatan alternatif pada masyarakat kota Medan bukan sekedar fenomena temporal dan kondisional, akan tetapi sudah menjadi satu fakta sosial yang tersebar luas dab diterapkan secara universal di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

(52)

tradisi pengobatan yang di dasari oleh akar budaya maupun nilai agama masyarakat. Revitalisasi berarti mementingkan kembali atau suatu proses pengutamaan, pemunculan satu hal yang pernah ada pada saat masa yang lalu. Dengan kata lain sistem pengobatan tradisional yang kemudian disebut sebagai pengobatan alternatif kembali penting, diutamakan atau dimunculkan dalam sistem kesehatan nasional.

Salah satu indikator yang mendukung tentang meluasnya pemanfaatan jasa pengobatan alternatif adalah banyaknya sarana jasa pengobatan tersebut di kota Medan. Menurut pengamatan, tempat praktek pengobatan alternatif di kota Medan sudah banyak dan beragam. Hampir disetiap pelosok kota Medan kini banyak dijumpai lokasi-lokasi praktek pengobatan alternatif, tetapi untuk menunjukkan data manivest tentang jumlahnya adalah sangat sukar. Data tertulis mengenai jumlah, jenis maupun metode pengobatan yang dilakukan oleh sistem pengobatan alternatif di kota Medan tidak dijumpai baik dari Dinas Kesehatan Kotamadya Medan maupun dari instuisi pengelola kesehatan di kota Medan.

(53)

dilakukan di lima Kabupaten yakni, Deli Serdang, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Nias dan Kabupaten Karo. Penyembuh (healer) yang dijadikan responden merupakan representasi dari lima etnis yang berada di lima Kabupaten tersebut, yakni etnis Melayu, Batak Toba, Batak Mandailing, Karo dan Nias.

Melalui penelitian tersebut didapati bahwa praktek penyembuhan alternatif/tradisional merupakan praktek penyembuhan yang umum dilakukan dan masih bertahan sebagai sistem kesehatan masyarakat. Untuk menggambarkan pengobatan alternatif di kota Medan adalah mengalami kesulitan, sebab tidak ditemukan data skunder yang dapat menunjukkan sarana-sarana pengobatan alternatif yang masih aktif beroperasi di kota Medan. Hal itu disebabkan banyaknya tempat praktek pengobatan alternatif yang tidak mendapatkan izin praktek ke instuisi pemerintah yang menangani kesehatan, sebagai perbandingan penelitian tentang penyembuh tradisional yang dilakukan tahun 1978 di lima kabupaten, propinsi Sumatera Utara dapat dijabarkan dalam penelitian ini. Penulis melihat bahwa masyarakat kota Medan merupakan resprentasi dari seluruh Kabupaten yang ada di Sumatera utara.

(54)

namun ada juga penyembuh yang tidak memakai media publikasi formal seperti papan pengumuman atau selebaran. Penyembuh jenis ini biasanya hanya mengandalkan informasi yang bersifat primitif, yaitu dari mulut ke mulut. Mereka biasanya beroperasi dalam skala geografis yang kecil, seperti di satu perumahan, kelurahan maupun lingkungan tertentu. Keahlian yang mereka milikipun biasanya tidak banyak, artinya spesifikasi penyakit maupun terapi yang dimiliki sudah sangat khas. Misalnya dukun kusuk (messages), dukun terkilir dan penyembuh lain yang menanganinya penyakit-penyakit ringan seperti batuk, penyakit-penyakit kulit dan sebagainya.

Penyembuh ini biasanya juga tidak benar-benar berpropesi sebagai penyembuh mereka mempunyai profesi lain, artinya keahlian yang mereka miliki tidaklah menjadi profesi utama. Keahlian penyembuh hana sebagai pekerjaan sampingan yang dilakukan atas dasar kemanusiaan dan tuntutan kepercayaan yang mereka miliki. Namun, berbeda dengan pengobatan alternatif Bapak Tabib Suryadi dalam penyembuhannya, ia menjadikan kegiatan penyembuhan sebagai pekerjaan yang utama, ia melakukan praktek secara terbuka di masyarakat. Publikasi merupakan faktor penting bagi kelancaran prakteknya, di depan tempat praktek terdapat papan yang bertuliskan penyembuh, keahliannya, jenis penyakit yang dapat ditangani sampai kepada waktu buka praktek pengobatannya.

3.4. Pengobatan Alternatif Sempurna

(55)

telah membuka prakteknya di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya juga Yogyakarta dan akhirnya ia memutuskan hanya membuka prakteknya di Kota Medan saja tanpa ada cabang di tempat-tempat yang lain, ia beralasan bahwa ia belum menurunkan ilmu pengetahuannya kepada orang lain karena ia takut di salahgunakan oleh orang lain.

Tabib yang bernama asli Sayyeb Ayub Alaydrus ini telah membuka prakteknya kurang lebih 17 tahun, ia mendapatkan ilmu pengobatan yang sekarang digunakannya dari kakeknya yang telah meninggal 2 tahun lalu, yang bernama Suryadi, hal tersebutlah yang membuat Tabib tersebut menggunakan nama kakeknya sebagai nama kecilnya, karena nama Suryadi lebih di kenal pasien-pasiennya. Bapak Tabib Suryadi belajar bagaiman cara pengobatan, peracikan ramuan dan banyak hal tentang pengobatan dengan kakeknya. Tabib yang sekarang berumur 43 tahun ini telah banyak mengobati pasiennya, kebanyakan pasien yang diobatinya mengalami penyakit lambung, tumor dan infeksi saluran pernapasan akut dan insyaAllah semua pasien yang telah di obatinya sembuh dan puas dalam pengobatannya.

(56)
(57)

BAB IV

PEMANFAATAN PENGOBATAN ALTERNATIF ”SEMPURNA”

4.1. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Keberadaan Pengobatan Alternatif

Sempurna.

Di Indonesia, seperti halnya di Kota Medan, banyak terdapat pengobatan-pengobatan alternatif seperti akupuntur, pijat refleksi, ceragem, herbal terapi, yoga yang menjadi tujuan masyarakat untuk menjadikannya sebagai salah satu pilihan yang banyak diminati. Fenomena penggunaan pengobatan alternatif di masyarakat Indonesia merupakan kecendrungan yang berkembang di seluruh kalangan masyarakat. Masyarakat berbagai status menunjukkan kecendrungan menggunakan pengobatan alternatif dalam pengobatannya.

Hal ini dikuatkan oleh Nico. S. Kalangie (1994:129) dengan mengatakan bahwa ”...At the same time it would be foolish to assume yhay aventually traditional nmedicine

and popular care will die or wither on vine. First of all, jamu tonics and the like are

believe in implicity by even educated Indonesian, physician included...”. Terjemahan bebasnya adalah ...” pada saat bersamaan adalah suatu kebodohan jika menganggap pengobatan tradisional dan popular telah ditinggalkan. Terutama semua jamu dan sejenisnya secara implisit bahkan dipercayai oleh orang Indonesia yang berpendidikan termasuk dokter.

(58)

mengantikan budaya sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari. Keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai mahkluk sosial yang isinya adalah seperangkat model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapinya dan untuk menolong serta menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan. Sistem pengetahuan dapat dibagi 2 (dua), yaitu :

1. Sistem pengetahuan realita, yaitu pandangan atau penafsiran terhadap suatu objek yang didasarkan kepada realitas suatu fenomena yang dapat dikaji secara ilmiah dan secara material dapat terasa.

(59)

apalagi dalam pengetahuan mereka mengenai pengobatan alternatif. Seperti ungkapan informan ini, ia mengungkapkan :

“Dalam penyembuhan penyakit, saya lebih mempercayai dan menyukai pengobatan yang realita, yang telah teruji kebenarannya dan masuk akal. Kalau dukun-dukun gitu saya sama sekali tidak mempercayainya, saya lebih menyerahkan kepada yang di atas saja”.

Pengetahuan masyarakat dalam memilih penyembuhan penyakitnya diperoleh dari pengalaman serta dorongan lingkungannya yang menghasilkan tingkah laku yang disebut juga dengan budaya (Spradley, 1980). Kebudayaan menentukan sesuatu dapat dikatakan sebagai penyakit atau sesuatu itu tidak dianggap sebagai suatu penyakit. Pendefinisian penyakit dalam suatu masyarakat dan kebudayaan berbeda–beda, adanya pendefinisian yang berbeda–beda ini terjadi karena dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi alam dan lingkungan, makanan, pola makan serta kebiasaan makan. Menurut beberapa informan, mereka mengenal dan mengetahui tentang perkembangan pengobatan alternatif sejak lama. Seperti halnya yang di ungkapkan oleh Bapak Amir Siregar :

”Saya sudah mengetahui sejak lama tentang pengobatan-pengobatan alternatif. Dan sekarang makin lama makin banyak pengobatan-pengobatan alternatif yang bermunculan. Tetapi saya tidak begitu saja percaya terhadap penyembuhan tersebut, sebelum saya melihat sendiri hasil orang telah memperoleh kesembuhan”.

Lain halnya dengan Bapak Amir Siregar, Ibu Muliana 32 tahun mengetahui kegunaan pengobatan alternatif baru setahun belakangan ini, seperti yang diungkapkannya berikut ini :

(60)

baru saya mengetahui bahwa pengobatan alternatif itu dapat menyembuhkan penyakit kronis juga”.

Bapak Rizal yang juga menggunakan jasa pengobatan alternatif mengatakan pengetahuannya tentang pengobatan alternatif sebagai berikut :

”Sekarang ini banyak sekali bermunculan pengobatan-pengobatan alternatif yang menawarkan kesembuhan, seperti akupuntur, pijat refleksi dan ceragem yang lagi banyak digemari masyarakat sekarang ini. Serta, pengobatan-pengobatan alternatif lain, sekarang ini tergantung kita untuk memilih pengobatan yang mana yang baik buat kita dan kita juga harus lebih teliti, mana penyembuhan yang masuk akal kita dan terjamin kesembuhannya”.

4.2. Hal-Hal yang Mendasari Penggunaan Pengobatan Alternatif Sempurna

Ada dua faktor yang menjadi pendorong masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif. Faktor yang pertama adalah faktor pendorong. Faktor pendorong ini menjelaskan latar belakang masyarakat menggunakan dalam sistem pengobatan di luar pengobatan medis kedokteran. Sedangkan faktor kedua adalah faktor penarik. Faktor penarik merupakan faktor yang berada di luar si penderita penyakit yang membawa penggunaan pengobatan alternatif.

(61)

pengobatan yang unik, holistik dan mempunyai kesejajaran kedudukan antara penyebuh dan pasien.

4.2.1. Pengalaman Negatif Terhadap Pengobatan Modern

Pada umumnya, seseorang yang merasa menderita suatu penyakit (illnes) sudah pasti akan mencari sumber-sumber pengobatan. Sumber-sumber pengobatan yang dipilihnya merupakan sistem pengobatan yang memiliki kesesuaian dan tidak bertentangan dengan kepercayaannya. Pemilihan suatu sistem pengobatan dipengaruhi oleh pemahaman maupun pengetahuan tentang penyakit untuk selanjutnya menentukan sistem pengobatan apa yang akan dipilihnya. Jadi, seseorang yang memiliki pemahaman yang rasional tentang penyakit akan memilih sistem diagnosa dan terapi yang dapat diterima akal dan tidak bertentangan dengan pandangan rasionalnya tentang dunia.

Dalam hal ini seseorang yang masuk ke dalam masyarakat golongan menengah hingga atas akan memilih pengobatan yang dapat diterima akal, yakni pengobatan formal biomedikal modern yang berasal dari Barat. Hal tersebut sudah merupakan pemandangan biasa. Namun sekarang ini masyarakat yang tergolong memiliki intelektualitas tinggi dan modern telah memanfaatkan obat-obatan di luar medis kedokteran. Mereka mendatangi tempat-tempat praktek tabib, dukun maupun praktisi-praktisi pengobatan alternatif lainnya

(62)

menjelaskan bahwa setelah dinyatakan menderita penyakit dari pemeriksaan laboratorium maupun dokter (disease) maka langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengunjungi dokter ataupun paramedis yang ada di rumah sakit.

Namun dari kunjungan pengobatan yang dilakukan ternyata banyak yang tidak memuskan mereka. Banyak penyakit yang mereka derita tidak menunjukkan kesembuhan maupun perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diinginkan. Pengalaman negatif dengan sistem pengobatan medis kedokteran ini sangat berpengaruh terhadap tindakan selanjutnya yang akan diambil oleh seorang pasien. Bagaimanapun juga seorang yang menderita penyakit berusaha memperoleh kesembuhan melalui kunjungannya ke dokter. Jika dokter tidak dapat memberikan kesembuhan maka hal itu akan membuka kemungkinan seorang pasien untuk menghentikan pencaharian pengobatan (discontunity).

Hal tersebut dialami oleh seorang informan saya yang bernama Bapak Rizal berumur 46 tahun, ia mengalami sakit yang luar biasa di bagian leher belakang. Akibat yang ditimbulkan sangat mengganggu aktivitasnya sebagai seorang pegawai negri, dengan segera ia memeriksakan penyakit tersebut. Tindakan pertama yang dilakukannya adalah mengkonsultasikan keluhan tersebut kepada seorang dokter yang juga temannya. Setelah dilakukan diagnosa awal dokter tidak menemukan penyakit yang diderita.

(63)

penyakit yang diderita yang terdeteksi, namun malah ditemukan adanya gangguan masalah kesehatan lain yakni, jantung yang selama ini tidak pernah mengalami gangguan.

Melihat tersebut informan mencari seorang dokter ahli syaraf. Setelah diadakan diagnosa, dokter tersebut kemudian mempromosikannya kepada seorang dokter tulang. Melalui diagnosa yang panjang dan rumit oleh kedua dokter inilah baru kemudian ditemukan bahwasannya penyakit yang diderita adalah penyempitan syaraf yang diakibatkan terjadinya pengapuran (spondilosis) di bagian belakang leher.

Setelah diketahui jenis penyakitnya maka informan mengunjungi praktisi physiotherapy. Kunjungan ini sendiri merupakan promosi yang diberikan oleh dokter ahli tulang yang merawatnya. Menurut dokter tersebut, penyakit sejenis pengapuran dapat ditangani oleh seorang physiotherapy. Namun, penyakit yang dideritanya tidak kunjung menunjukkan kesembuhan. Malah terlihat semakin menyiksa akibat banyaknya aturan yang harus dijalankan informan. Hal itu tampak dari ungkapan informan berikut ini.

”...sewaktu saya mendapatkan terapi dari physiotherapy, yang saya rasakan bukannya semakin baik, tetapi malah saya semakin tersiksa, karena cara kerjanya yang manual sangat sakit sehingga dampaknya bagi saya sangat besar”.

(64)

”...selain kendala ekonomi, hal utama yang menyebabkan masyarakat pergi ke pengobatan alternatif seperti pengobatan saya ini adalah keputusasaan sudah mendapatkan pengobatan dokter. Banyak dokter yang tidak bisa mendeteksi dan menyembuhkan penyakit, sehingga orang akan lari ke ukun, tabib dan yang sejenisnya”.

Tidak dapat disangkal bahwa dokter Indonesia merupakan penyumbang utama yang menyebabkan masyarakat banyak mendatangi pengobatan alternatif. Masih menurut Bapak Tabib Suryadi, ia menganggap banyak dokter yang masih berpandangan profesinya sebagai lahan cari makan dan kekayaan. Pasien masih belum diperlakukan sebagai organisme yang memiliki jiwa, yang punya perasaan dan emosi. Akan tetapi dianggap objek pemasukan uang yang tidak memiliki perasaan sehingga diagnosa dan terapi yang dilakukan bukanlah terapi dan diagnosa yang manusiawi.

Kunjungan-kunjungan ke dokter bagi masyarakat merupakan langkah pertama yang dilakukan. Begitu percayanya masyarakat dengan peran seorang dokter dalam menangani penyakit. Besar harapan seorang pasien untuk sembuh. Dengan partisipasi yang minimal seorang pasien rela menyerahkan hidupnya kepada seorang dokter, yang kemungkinan belum pernah dikenalnya. Tetapi banyak kunjungan-kunjungan tersebut yang mengecewakan pasien.

Figur

Gambar I
Gambar I . View in document p.21
TABEL I SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN KOTA MEDAN
TABEL I SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN KOTA MEDAN . View in document p.30
TABEL II JENIS-JENIS KETENAGAAN
TABEL II JENIS JENIS KETENAGAAN . View in document p.33
Tabel III
Tabel III . View in document p.37
Tabel IV 10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Jalan
Tabel IV 10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Jalan . View in document p.38
Tabel V 10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Inap
Tabel V 10 Penyakit Terbesar Mendapat Perawatan Inap . View in document p.39

Referensi

Memperbarui...