DAFTAR ISI KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI HAL
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan masalah ... 5
C. Tujuan Penulisan ... 5
D. Manfaat Penulisan ... 6
BAB II : PROFIL PERUSAHAAN ... 7
A. Sejarah Ringkas Perusahaan ... 7
B. Jenis usaha/ Kegiatan ... 9
C. Stuktur Organisasi ... 13
D. Uraian Tugas/ Job Description ... 14
E. Kinerja Usaha Terkini ... 16
F. Rencana Kegiatan ... 19
BAB III : PEMBAHASAN ... 20
A. Pengertian Kliring ... 20
B. Jenis Proses Kliring ... 23
C. Hal Yang Berkaitan Dengan SKNBI ... 24
D. Peserta SKNBI ... 25
E. Penyelenggaraan SKNBI ... 26
F. Batasan Nominal ... 27
G. Penyediaan Dana Awal (Prefund) ... 27
H. Diagram Proses SKNBI ... 28
I. Use Case Diagram Proses Kliring ... 30
J. Alur proses Kliring Debet ... 30
K. Alur Proses Kliring Kredit ... 33
L. Manfaat SKNBI ... 35
M. Kelemahan dan Keunggulan SKNBI ... 36
N. Peranan SKNBI ... 37
BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpilan ... 39
B. Saran ... 40
DAFTAR TABEL
LAMPIRAN GAMBAR
[image:5.595.158.443.285.548.2]KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan lindungan yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan Penulisan Ilmiah ini tepat pada waktunya.
Tugas Akhir ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat pemenuhan
kurikulum dalam menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Diploma
Keuangan Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Drs John Tafbu Ritonga, Mec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Sumatera Utara.
2. BapakDR Paham Ginting SE, MS, selaku Ketua Jurusan Program Studi
Diploma Keuangan Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Syahfrizak Helmi, SE, M. Selaku Sekretaris Jurusan Program Studi
Diploma Keuangan Universitas Sumatera Utara sekaligus Sebagai Dosen
Pembimbing tugas akhir.
4. Semua staf dan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara yang
telah mendidik dan membimbing penulis.
5. Kepada Bapak Didi Duharsa Selaku Kepala Divisi Bank Sumut Syariah
Cabang Medan.
7. Khususnya kepada kedua Orang Tua tercinta. Muhamad Amin dan Zulfarida
yang senantiasa mendukung dan memberikan dorongan penuh baik secara
moril maupu n materi.
8. Buat kakak, abang, adikKu, kak Idit, bang Dani, kak Rifa, Siti, dan Asan.
Makasih buat semuanya. Serta buat ante, amak, om, apak, uphi dan kayla.
9. Buat teman- teman ku Tina, Nina, Lina, Amy, Liza, Fitri, dan semua nak
keuangan stambuk 2006. serta buat Radya, Reni, ma Dean. You are my best
friend .
Dalam Tugas Akhir ini, penulis menyadari banyak kekurangannya, baik
dalam materi maupun teknik penulisannya. Mengingat pengetahuan dan
pengalaman penulis yang masih sangat terbatas, oleh karena itu penulis yang
masih sangat terbatas, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun dari semua pihak.
Akhirnya puji dan syukur saya ucapakan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Semoga Tugas Akhir ini dapat
memberikan manfaat kepada semua pihak yang membutuhkannya.
Medan, Mei 2009
Penulis,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Sesuai UU No 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) sebagaimana
telah ditambah dengan UU No. 3 tahun 2004 tentang perubahan atas UU No 23
Tahun 199 tentang Bank Indonesia (BI), bank Indonesia mempunyai tugas untuk
mengatur dan menjaga stabilitas kelancaran sistem pembayaran dalam rangka
terwujudnya sistem pembayaran yang efesien, cepat, aman, dan handal
dimaksudkan untuk mendukung stabilitas sistem keuangan.
Sehubungan dengan tugas Bank Indonesia dalam sistem pembayaran
tersebut Bank Indoinesia telah menyediakan fasilitas kliring yang merupakan
pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar bank peserta kliring atas
nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya
diselesaikan pada waktu terentu. Transaksi yang diproses melalui fasilitas transfer
debet ataupun trasfer kredit yang disertai dengan pertukaran warkat debet ( cek,
bilyet giro, nota debet, dll) dan warkat kredit (nota kredit).
Penyelenggaraan kliring itu sendiri merupakan fasilitas yang diberikan
Bank Indonesia kepada bank-bank umum sebagai bagian dari pelaksanaan salah
satu tugas Bank Indonesia (pasal 8 UU No. 23 Tahun 1999) yaitu mengatur dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran.
Kliring berasal dari kata to clear artinya pelunasan utang piuatang sesama
bank anggota kliring yang dikordinasikan oleh Bank Indonesia didalam lembaga
yang merupakan suatu lembaga dari Bank Indonesia yang melakukan perhitungan
utang piutang antar bank peserta kliring (Hasibuan, Hal 120. 2000).
Kliring merupakan pertukaran warkat antara peserta kliring, baik atas
nama peserta nama nasabah yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu
(PBI No. 1/3 1999 pasal 1 ayat 3). Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan,
Kliring adalah proses perhitungan, pelunasan, dan pertukaran warkat- warkat
kliring antar bank anggota yang dikoordinasi Bank Indonesia
Menurut The New Grolier Webster International Dictionary of the English
Language, Kliring adalah the axchanging draft an each other and setting the
differences (kliring adalah kegiatan tukar- menukar warkat dari bank satu dengan
bank lainnya dan menetapkan perbedaan- perbedaannya (Hasibuan,Hal 120. 2000)
Kliring adalah perhitungan utang piutang antara para peserta secara
terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat- surat berharga dan
surat- surat dagang, yang telah ditetapkan untuk dapat memperhitungkan dengan
mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas
pembayaran giral( Santoso, Hal 100, 1996).
Oleh karena itu kliring merupakan salah satu kegiatan yang cukup
kompleks, karena dalam pelaksanaan kegiatan ini bank tidak hanya berhubungan
dengan nasabahnya saja, tetapi juga dengan bank lain melalui perantara bank
sentral yang ada di Indonesia, yakni Bank Indonesia (BI). Oleh karena itu, perlu
dikembangkan sistem kliring yang mengakomodir transfer dana antar bank
melalui kliring tanpa kewajiban melakukan pertukaran fisik warkat (paperless).
perbankan di Indonesia guna memperluas, memperlancar, serta mengatur lalu
lintas pembayaran dengan warkat bank yang diperhitungkan atas beban dan untuk
kepentingan nasabah bank, yang lebih dikenal dengan Sistem Kliring Nasional
Bank Indonesia (SKNBI).
Sehubungan dengan hal tersebut, PT. Bank Sumut Syariah Cabang Medan
dalam pelaksanaan sistem kliring telah terhubung dengan Bank Indonesia dalam
melakukan pertukaran fisik warkat (paperless) sebagai perantara pertukaran
warkat antar bank. Transaksi yang dapat diproses melalui sistem kliring meliput i
transfer debet dan transfer kredit yang disertai dengan pertukaran fisik warkat,
baik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet, dan lain-lain) maupun warkat
kredit. Khusus untuk transfer kredit, nilai transaksi yang dapat diproses melalui
kliring dibatasi di bawah Rp.100.000.000,00, sedangkan untuk nilai transaksi
Rp.100.000.000,00 ke atas harus dilakukan melalui Sistem Bank Indonesia Real
Time Gross Settlement (Sistem BIRTGS).
Proses Kliring yang berlangsung pada Bank Sumut Syariah Cabang
Medan sama dengan proses kliring pada bank Konvensional malahan tidak ada
bedanya. Warkat yang digunakan juga sama. Proses kliring yang dilakukan pada
Bank Sumut Syariah Cabang Medan ada dua yaitu proses kliring debet dan
proses kliring kredit.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk mengambil judul
Tugas akhir “Peranan dan Proses Kliring Nasional Dalam Dunia Perbankan
Pada Bank Sumut Syariah Cabang Medan”. Penulis dituntut untuk terus
perkembangan dunia perbankan yang semakin maju dan efisien, khususnya
peranan sistem kliring nasional dalam dunia perbankan di Indonesia.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi
permasalahan dalam tugas akhir ini adalah “ Bagaimana Poses Klirng Nasional
dan Peranannya Dalam dunia Perbankan Pada Bank Sumut Syariah Cabang Medan”
C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan uraian pada latar belakang penulisan ilmiah di atas, maka
tujuan dari pelaksanaan penulisan ini adalah untuk mempelajari sistem perbankan
dalam melakukan proses kliring dan peranan sistem kliring bagi PT. Bank Sumut
Syariah Cabang Medan, sehingga diharapkan penulis dapat lebih memahami lalu
lintas pembayaran giral antar bank dan untuk kepentingan nasabah bank.
D. Manfaat Penulisan D.1 Bagi Penulis
Manfaat dari penulisan ini adalah untuk mengetahui proses transaksi
kliring yang meliputi transfer debet dan transfer kredit yang disertai dengan
pertukaran fisik warkat, baik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet, dan
lain-lain) maupun warkat kredit dan peranannya pada PT. Bank Sumut Syariah Cabang
D.2 Bagi Perusahaan
Dapat dipergunakan sebagai bahan masukan atau evaluasi atas
keputusan-keputusan yang telah dibuat dimasa lalu dan sebagai bahan pertimbangan untuk
memutuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan diambil di masa yang akan
datang.
D.3 Bagi Pembaca
Menambah pengetahuan dan menambah bahan masukan bagi pembaca
yang tertarik pada Tugas Akhir ini.
D.4 Bagi Lembaga Pendidikan
Sebagai bahan masukan atau acuan bagi peneliti-peneliti yang
membutuhkan selanjutnya untuk meneliti masalah yang sama dengan penelitian
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Ringkas Perusahaan
Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU) didirikan tanggal 04
November 1961 dalam bentuk Perseroan Terbatas dan diubah menjadi Bank
Umum Milik Pemerintah Daerah (BUMD) berdasarkan UU No.13 Tahun 1962
tentang Ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah. Namun tanggal 16 April
1999 dengan Perda No.2/1999 bentuk badan hukum diubah kembali menjadi
Perseroan Terbatas, sehingga nama BPDSU menjadi PT. Bank Pembangunan
Daerah Sumatera Utara yang disingkat dengan PT. Bank Sumut.
PT. Bank Sumut yang merupakan salah satu alat/ kelengkapan otonomi
daerah di bidang perbankan, PT. Bank Sumut mempunyai fungsi sebagai
penggerak dan pendorong laju pembangunan di daerah, bertindak sebagai
pemegang kas daerah dan atau melaksanakan penyimpanan uang daerah serta
sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dengan melakukan kegiatan usaha
sebagai Bank Umum sesuai dengan maksud UU No.7 Tahun 1992 yang telah
diubah menjadi UU No. 10 tahun 1998.
Dampak krisis yang melanda Indonesia disegala bidang pada tahun 1997
termasuk dibidang ekonomi yang mengakibatkan banyak perusahaan yang gulung
tikar akhirnya berimbas pada banyaknya bank swasta dan bank pemerintah yang
tutup dan melakukan merger untuk menyelamatkan aset karena kerugian akibat
kredit macet. Oleh karena pemerintah masih menganggap PT. Bank Sumut
Sumut dalam menunjang pembangunan di daerah Sumatera Utara, maka
pemerintah hanya memasukkan PT. Bank Sumut ke dalam bank yang
direkapitalisasi.
Gagasan dan wacana untuk mendirikan Unit/ Divisi Usaha Syariah
sebenarnya telah berkembang cukup lama dikalangan stakeholder PT. Bank
Sumut, khususnya Direksi dan Komisaris, yaitu sejak dikeluarkannya UU No.10
Tahun 1998 yang memberikan kesempatan bagi bank konvensional untuk
mendirikan Unit Usaha Syariah. Pendirian Unit Usaha Syariah juga didasarkan
pada kultur masyarakat Sumatera Utara yang religius, khususnya umat Islam yang
semakin sadar akan pentingnya menjalankan ajarannya dalam semua aspek
kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi.
Komitmen untuk mendirikan Unit Usaha Syariah semakin menguat seiring
dikeluarkannya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa
bunga haram. Tentunya, fatwa ini mendorong keinginan masyarakat muslim
untuk mendapatkan layanan jasa-jasa perbankan berdasarkan prinsip-prinsip
syariah. Dari hasil survei yang dilakukan di 8 (delapan) kota di Sumatera Utara,
menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap pelayanan Bank Syariah cukup
tinggi yaitu mencapai 70% untuk tingkat ketertarikan dan di atas 50% untuk
keinginan mendapatkan pelayanan perbankan syariah.
Atas dasar hal ini, dan komitmen PT. Bank Sumut terhadap pengembangan
layanan Perbankan Syariah maka pada tanggal 04 November 2004 PT. Bank
Sumut membuka Unit Usaha Syariah dengan 2 (dua) Kantor Cabang Syariah yaitu
Visi dan misi Unit Usaha Syariah haruslah mendukung visi dan misi PT.
Bank Sumut secara umum, atas dasar itu ditetapkan visi Unit Usaha Syariah yaitu
“meningkatkan keunggulan PT. Bank Sumut dengan memberikan layanan lebih
luas berdasarkan prinsip-prinsip syariah sehingga mendorong partisipasi
masyarakat secara luas dalam pembangunan daerah guna mewujudkan masyarakat
sejahtera”. Sedangkan misinya adalah “meningkatkan posisi PT.. Bank Sumut
melalui prinsip layanan perbankan syariah yang aman, adil dan saling
menguntungkan serta dikelola secara professional”. Melalui pengembangan
layanan perbankan syariah diharapkan PT. Bank Sumut dapat berperan lebih besar
sesuai dengan visi dan misinya. Lebih lanjut, pengembangan usaha ini juga
ditargetkan dapat meningkatkan profitabilitas PT. Bank Sumut sekaligus
memperkuat tingkat kesehatannya.
B. Jenis Usaha/Kegiatan
Kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank syariah diatur dalam pasal
36 Peraturan Bank Indonesia No.6/24/PBI/2004. Kegiatan usaha yang dilakukan
pada Bank Sumut Syariah Cab. Medan yaitu:
A. Menghimpun Dana a. Tabungan Wadiah
1) Tabungan Marwah (Martabe Wadiah)
Tabungan Marwah merupakan tabungan yang dikelola berdasarkan prinsip
wadiah Yad-dhamanah yang merupakan titipan murni dengan seizin pemilik dana
mendukung sektor riil, dengan menjamin bahwa dana tersebut dapat ditarik setiap
saat oleh pemilik dana. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin
pengembalian dana titipan nasabah s/d Rp 100.000.000.
2) Tabungan Makbul
Tabungan makbul adalah produk tabungan khusus PT. Bank Sumut sebagai
sarana penitipan BPIH (Biaya Penyelenggara Ibadah Haji) penabung perorangan
secara bertahap ataupun sekaligus dan tidak dapat melakukan transaksi penarikan.
b. Produk Mudharabah
1) Tabungan Marhamah (Martabe Bagi Hasil Mudharabah)
Merupakan produk penghimpunan dana yang dalam pengelolaannya
menggunakan prinsip Mudharabah Muthalaqah, yaitu investasi yang dilakukan
oleh nasabah sebagai pemilik dana (sahibul mal) dan bank sebagai pihak yang
bebas tanpa pembatasan dari pemilik dana menyalurkan dana nasabah tersebut
dalam bentuk pembiayaan kepada usaha-usaha yang menguntungkan dan tidak
bertentangan dengan prinsip syariah. Atas keuntungan yang didapat dari
penyaluran dana, bank memberikan bagi hasil sesuai dengan nisbah yang telah
disepakati.
c. Deposito Ibadah
Prinsipnya sama dengan tabungan marhamah, akan tetapi dana yang disimpan
oleh nasabah hanya dapat ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan
dengan bagi hasil keuntungan yang telah disepakati bersama. Investasi akan
d. Simpanan Giro Wadiah
Simpanan giro wadiah merupakan produk penyimpanan dana yang
menggunakan prinsip wadiah yad ad dhamanah (titipan murni). Pada produk ini
nasabah menitipkan dana dan bank akan mempergunakan dana tersebut sesuai
dengan prinsip syariah dan menjamin akan mengembalikan titipan tersebut secara
utuh bila sewaktu-waktu nasabah membutuhkannya.
B. Penyaluran Dana
a. Pembiayaan Murabahah
Murabahah merupakan akad jual beli atas barang dengan harga yang
disepakati diawal dimana bank menyebutkan harga pembelian dan margin yang
diperoleh bank . Bank dapat mensyaratkan pembeli untuk membayar uang muka
(urbun). Nasabah membayar kepada bank menurut harga yang diperjanjikan dan
harga/ pembayaran tidak berubah selama jangka waktu yang telah disepakati.
Produk pembiayaan ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan usaha seperti
modal kerja dan investasi. Namun dapat juga digunakan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi (murabahah untuk konsumtif).
b. Pembiayaaan Mudharabah
Mudharabah adalah akad kerjasama antara bank sebagai pemilik dana
(shahibul maal) dengan nasabah sebagai pengelola dana (mudharib). Jangka
waktu pembiayaan, pengembalian dana dan pembagian keuntungan ditentukan
dalam akad. Pembiayaan mudharabah dapat dimanfaatkan untuk nasabah yang
Bank tidak ikut serta dalam pengelolaan usaha nasabah, tetapi memiliki hak dalam
pengawasan dan pembinaan usaha nasabah.
c. Pembiayaan Musyarakah
Pembiayaan musyarakah adalah penanaman dana dari pemilik dana/modal
untuk mencampurkan dana/modal terhadap suatu usaha tertentu dengan
pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati antara nasabah
dan bank. Kerugian ditanggung oleh pemilik dana/modal berdasarkan bagian
dana/modal masing-masing. Jangka waktu pembiayaan, pengembalian dana dan
pembagian keuntungan ditentukan dalam akad.
d. Pinjaman (Qardh) dengan Gadai Emas
Pinjaman (qardh) dengan gadai emas adalah fasilitas pinjaman dana tanpa
imbalan jasa yang diberikan oleh bank kepada nasabah dengan jaminan berupa
emas yang berprinsip gadai syariah. Atas emas yang digadaikan, bank
mengenakan biaya sewa.
C. Jasa Pelayanan
a. Kirim Uang (Transfer)
Kiriman Uang (Transfer) yaitu suatu jasa bank dalam pengiriman dana dari
suatu cabang ke cabang lain atas permintaan pihak ketiga (ijab dan qobul) untuk
dibayarkan kepada penerima di tempat lain. Kiriman uang menggunakan prinsip
wakalah.
b. Kliring
Kliring ialah tata cara perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat
agar perhitungan utang piutang itu terselenggara dengan mudah, cepat dan aman,
landasan syariahnya menggunakan prinsip wakalah.
c. Inkaso (Jasa Tagih)
Inkaso adalah pengiriman surat atau dokumen berharga untuk ditagihkan
pembayarannya kepada pihak yang menerbitkan atau yang ditentukan (tertarik)
dalam surat atau dokumen berharga tersebut, dengan landasan syariahnya
menggunakan prinsip wakalah.
d. Bank Garansi
Bank garansi yaitu pemberian janji bank (penjamin) kepada pihak lain
(terjamin) untuk jangka waktu tertentu, jumlah tertentu dan keperluan tertentu,
bahwa bank akan membayar kewajiban nasabah yang diberi garansi bank kepada
pihak lain tersebut, apabila nasabah tersebut cidera janji. Bank garansi
menggunakan prinsip kafalah al nualaqah.Dalam aplikasinya pada PT. Bank
Sumut Unit Usaha Syariah, bank memberikan garansi bank untuk kontraktor yaitu
: Jaminan Penawaran (Tender Bond), Penerimaan Uang Muka (Advance Payement
Bond), Melaksanakan Pekerjaan (Performance Bond), Pemeliharaan
(Maintenace/Retention Bond).
C. Struktur Organisasi Perusahaan
Dalam struktur organisasi akan tergambar bagian-bagian organisasi serta
batas-batas wewenang dan tanggung jawab masing-masing bagian. Kompleks
tidaknya suatu struktur organisasi tergantung dari besar kecilnya organisasi
Dilihat dari tujuan dan ruang lingkup operasional perusahaan, PT. Bank
Sumut Syariah Cabang Medan memiliki struktur organisasi garis dan staf yang
merupakan perpaduan antara kedua sistem organisasi, yakni organisasi garis dan
organisasi fungsional.
Garis wewenang dari puncak pimpinan diselesaikan kepada bawahan dan
dalam pengambilan keputusan tertentu oleh para manajer dapat dikonsultasikan
kepada bagian-bagian penelitian dan perencanaan yang memiliki kemampuan dan
spesialisasi sesuai dengan fungsi dan perencanaan. Untuk lebih jelasnya struktur
organisasi Bank Sumut Syariah Cabang Medan dapat dilihat pada gambar 1.
D. Uraian Tugas (Job Description) 1. Pemimpin Cabang
Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Memimpin, mengkoordinir, membimbing dan mengawasi serta melakukan
penilaian terhadap kinerja pejabat dan karyawan dilingkungan Kantor
Cabang..
2. Menerbitkan surat- surat berharga sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Wakil Pemimpin Cabang
Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Memberikan saran-saran dan atau pertimbangan-pertimbangan kepada
pemimpin cabang.
2. Membantu Pemimpin Cabang dalam membimbing dan mengawasi seluruh
3. Pemimpin Seksi Pemasaran
Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Mengawasi dan mengatur seluruh kegiatan operasional pada Seksinya.
2. Memberikan saran-saran atau pertimbangan-pertimbangan kepada Pemimpin
Cabang tentang langkah-langkah atau tindakan-tindakan yang perlu di bidang
tugasnya.
4. Pemimpin Seksi Penyelamatan Pembiayaan Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Mengawasi dan mengkoordinir seluruh kegiatan operasional pada Seksi
Penyelamatan Pembiayaan.
2. Memberikan saran-saran dan atau pertimbangan-pertimbangan kepada
Pemimpin Cabang tentang langkah-langkah atau tindakan-tindakan yang perlu
diambil dibidang tugasnya.
5. Kontrol Intern
Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Memberikan saran-saran dan atau pertimbangan-pertimbangan kepada
Pemimpin Cabang tentang langkah-langkah atau tindakan-tindakan yang perlu
diambil dibidang tugasnya dengan tembusan kepada Direksi cq. Divisi
Pengawasan.
2. Membantu Pemimpin Cabang dalam kegiatan yang berhubungan dengan
6. Pemimpin Seksi Operasional
Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Mengatur, membimbing, dan mengarahkan dan mengawasi pegawai-pegawai
pada Seksinya dalam melaksanakan tugasnya.
2. Melakukan pembinaan, pengawasan dan pengaturan seluruh kegiatan
operasional pelaksanaan transfer/inkaso/pajak, pelaksanaan kliring,
pelaksanaan verifikasi, pelaksanaan akuntansi IT & laporan, pelaksanaan
umum & kepegawaian serta pelaksanaan administrasi pembiayaan.
7. Pemimpin Seksi Pelayanan Nasabah Tugas, wewenang, dan Tanggung Jawab
1. Mengawasi dan mengatur seluruh kegiatan operasioanal pada Seksi Pelayanan
Nasabah.
Memeriksa rencana kerja, anggaran tahunan dan menyusun action program dari
Seksi Pelayanan Nasabah.
E. Kinerja Usaha Terkini
Kinerja suatu perusahaan merupakan tolak ukur suatu perusahaan dalam
meningkatkan efisiensi dan efektivitas serta produktivitas kerja. Pengukuran
kinerja berguna untuk mengetahui sejauh mana efektivitas sistem atau cara
kerja yang sudah ada. Untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan, maka
Bank Sumut Syariah Cabang Medan menerapkan beberapa kebijaksanaan
1. Kebijaksanaan Produk
Kebijaksanaan produk mencakup desain produk yang ditawarkan kepada
nasabah sangat menarik dan memiliki keunggulan serta kelebihan jika
dibandingkan dengan produk pesaing. Produk yang ditawarkan antara lain
tabungan marwaah, marhamah, dan lain-lain.
2. Kebijaksanaan Harga
Kebijaksanaan harga dapat dilihat dari tingkat bagi hasil tabungan antara
nasabah dengan bank. Kebijaksanaan ini berhubungan langsung terhadap
tingkat pendapatan yang diterima melalui pemasaran produk dan
dihubungkan dengan tujuan perusahaan.
3. Kebijaksanaan Promosi
Tujuan dari kebijaksanaan promosi adalah untuk mendorong agar
konsumen lebih banyak membeli produk yang dipromosikan. Peranan
promosi sangat penting, apabila promosi telah berhasil menarik minat dan
perhatian konsumen maka dapat meningkatkan pemasaran dan konsumen
akan memberikan dananya untuk disimpan di bank tersebut. Dan
sebaliknya jika promosi gagal, maka tingkat pemasaran produk tersebut
akan semakin menurun dan berdampak pada pengumpulan dana yang juga
menurun.
Selain menetapkan kebijaksanaan diatas, Bank Sumut Syariah juga telah
melakukan berbagai kinerja yaitu :
1. Menjadi sponsor utama PRSU (Pekan Raya Sumatera Utara) dan juga
Rekor MURI yang berhasil mengumpulkan tanda tangan sebanyak 1430
debitur dalam 1 hari dalam rangka tahun baru hijriah.
2. Melakukan perjanjian kerja sama antara Bank Sumut Syariah – Perumnas
RS (Rumah Sederhana) dan RSS (Rumah Sehat Sederhana) – Dekopin
(Dewan Koperasi Indonesia) mengenai pemberian fasilitas pembiayaan
perumahan, kerja sama Bank Sumut Syariah – Telkom dan kerja sama
[image:24.595.133.491.334.601.2]Bank Sumut Syariah – XL untuk memasarkan Blackberry.
TABEL 1
Data Kinerja 3 tahun terakhir Bank Sumut Syariah
Cabang Medan(Dalam Jutaan Rupiah)
No Uraian 2006 2007 2008
1 Simpanan 17,173 43,798 67,804
1. Giro 2. Tabungan 3. Deposito
2,255 5,867 9,051
6,290 17,295 20,213
8,256 24,140 35,408
2 Pembiayaan 17,127 37,959 87,579
3 Laba 1,006 (5,679) 2,451
4 Asset 32,280 124,984 157,453
F. Rencana Kegiatan Perusahaan
Adapun rencana kegiatan yang dilakukan oleh Bank Sumut Cabang Medan
dalam satu tahun kegiatan adalah:
1. Membuka unit kantor baru. Direncanakan 3 unit kantor baru akan dibuka
pada tahun 2009 yaitu di Medan, Kisaran dan Sibolga.
2. Memanfaatkan kegiatan – kegiatan yang diadakan oleh instansi
pemerintah maupun swasta dengna melaksanakan sosialisasi dan
presentasi produk penghimpunan dana.
3. Secara aktif ikut serta dalam acara – acara yang dihadiri oleh masyarakat
luas dengan membuka stan di lokasi pameran.
4. Menjalin kerja sama dengan lembaga atau instansi pemerintah dan swasta
dalam hal menghimpun dana dengan pola yang menguntungkan.
5. Berupaya meningkatkan pembagian bagi hasil kepada pemilik dana setiap
bulannya dengan cara memaksimalkan perolehan pendapatan dari ekspansi
pembiayaan yang diberikan.
6. Membentuk tim penghimpunan dana dan melakukan mapping wilayah
untuk mencari potensi yang ada.
7. Mengevaluasi secara rutin upaya yang telah dilakukan dan kendalal yang
dihadapi secara terprogram dan kontiniu.
8. Memberikan masukan dan saran kepada Divisi Usaha Syariah untuk
BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian Kliring
Kliring merupakan pertukaran warkat antara peserta kliring, baik atas
nama peserta nama nasabah yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu
(PBI No. 1/3 1999 pasal 1 ayat 3). Adapun yang menyangkut tentang kliring itu
yaitu:
1. Setoran kliring
Pada proses setoran kliring yang dilakukan pada processor Centralization
Back Office (CBO) yaitu:
a. Menerima transit data pada komputer conventer STPK Sistem Kliring
Nasional (SKN) dari terminal STPK masing-masing cabang.
b. Menerima konfirmasi atas hasil transit dari cabang.
c. Meminta kepada supervisor/Kepala Bagian CBO untuk melakukan
pengiriman data ke program Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia
(SKNBI).
d. Memeriksa kembali status hasil pengiriman data ke terminal SKNBI.
2. Warkat kliring
a. Cheque (Cek)
Cek adalah surat perintah pembayaran tanpa syarat kepada bank yang
memelihara rekening nasabah untuk membayarkan suatu jumlah uang
Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) yang ditarik baik atas beban
nasabah Bank atau atas beban Bank.
b. Bilyet Giro
Bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank penyimpan
dana untuk memindahkan dana dari rekening yang bersangkutan pada
rekening pemegang yang disebutkan namanya dalam bilyet giro tersebut.
c. Nota Debet
Nota debet merupakan warkat yang digunakan untuk menagih dana pada
bank lain untuk untung bank atau nasabah bank yang menyampaikan
warkat tersebut serta untuk menyelesaikan apabila terjadi selisih kliring.
d. Nota Kredit
Nota kredit adalah warkat yang dipergunakan untuk menyampaikan dana
pada bank lain untuk keuntungan bank atau nasabah bank yang akan
menerima warkat tersebut. Dokumen kliring
3. Dokumen kliring berfungsi sebagai alat bantu bank dalam kegiatan
penyerahan dan pengembalian kliring di Bank Indonesia, harus memenuhi
spesifikasi teknis sesuai dengan ketetapan dalam surat edaran Bank Indonesia.
Dokumen kliring yang dipergunakan bank adalah sebagai berikut:
a. Bukti Penyerahan Warkat Debet (BPWD)
Bukti Penyerahan Warkat Debet (BPWD) digunakan sebagai tanda bukti
penyerahan warkat debet untuk setiap bundel warkat dari petugas kliring
b. Bukti Penyerahan Warkat Kredit (BPWK) digunakan sebagai tanda bukti
penyerahan warkat kredit untuk setiap bundel warkat dari petugas kliring
kepada penyelenggara kegiatan kliring penyerahan.
c. Lembar Substitusi
Lembar substitusi digunakan dalam kliring penyerahan sebagai tempat
menempelkan bukti penjumlahan nominal dari warkat yang diserahkan
kepada penyelenggara.
d. Kartu Batch
Kartu batch merupakan sarana untuk mengetahui jumlah nominal bundel
warkat dari masing-masing peserta dan sebagai sarana kontrol dalam
proses kliring.
Kartu batch terbagi menjadi dua sebagai berikut:
1. Kartu batch warkat debet
2. Kartu batch warkat kredit
e. Bukti Penyerahan Rekaman Warkat Kliring Pengembalian (BPRWKP)
BPRWKP digunakan sebagai tanda bukti penyerahan rekaman warkat
kliring pengembalian setiap bundel warkat dari petugas kliring kepada
penyelenggara.
4. Stempel kliring
Stempel kliring berfungsi untuk menunjukkan identitas bank pada warkat
kliring. Bentuk dan ukurannya harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
Bank Indonesia yang penggunaannya harus dilaporkan dan disetujui Bank
Stempel kliring dibubuhkan pada halaman depan warkat dengan syarat tidak
menutupi angka nominal, tanda tangan, dan clear band pada warkat stempel
kliring yang merupakan salah satu faktor keabsahan suatu giro pada saat
dikliringkan.
B. Jenis Proses Kliring
Jenis proses kliring yang digunakan bank dalam penyelenggaraan kliring
adalah sebagai berikut:
1. Sistem Semi Otomasi Kliring (SOKL)
Yang dimaksud dengan SOKL yaitu sistem penyelesaian akhir transaksi
pembayaran antar bank yang dilakukan secara resmi otomasi, dimana dalam
pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara
otomasi sedangkan pemilihan warkat dilakukan secara manual yaitu merekam
data setiap warkat dalam suatu media berupa disket yang akan disampaikan
bersamaan dengan bundel warkat kliring pada saat pertemuan kliring.
2. Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ)
Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ) atau disebut juga dengan kliring
elektronik adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan
perhitungan dan pembuatan bilyet giro saldo kliring didasarkan pada Data
Keuangan Elektronik (DKE) yang dikirimkan atau ditransmit dari Terminal
Peserta Kiring (TPK) melalui Jaringan Kkomunikasi Data (JKD) untuk
Indonesia (BI), yang diikuti dengan penyampaian warkat kliring kepada
penyelenggara Bank Indonesia (BI).
3. Sistem Realtime Gros Settlement (RTGS)
Sistem Realtime Gros Settlement (RTGS) adalah sistem penyelenggaraan
kliring antar bank secara elektronik yang waktu penyelesaiannya terjadi secara
seketika (realtime) dan online sistem antara kantor bank.
4. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia adalah penyelenggaraan kliring yang
terdiri dari kliring debet yang bersifat paperbased dan kliring kredit yang
bersifat paperless yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.
C. Hal yang Berkaitan dengan SKNBI
Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia yang selanjutnya disebut SKNBI
adalah suatu sistem kliring yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia yang
meliputi Kliring Debet dan Kliring Kredit serta penyelesaiannya dilakukan secara
nasional.
1. Penyelenggara SKNBI terdiri dari:
a. Penyelenggara Kliring Nasional (PKN), yaitu unit kerja yang berada di
Kantor Pusat Bank Indonesia yang bertugas mengelola dan
menyelenggarakan SKNBI secara nasional.
b.Penyelenggara Kliring Lokal (PKL), yaitu unit kerja di Bank Indonesia
bertugas mengelola dan menyelenggarakan SKNBI di suatu wilayah
kliring.
2. Secara teknis, SKNBI terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu :
a. Sentral Sistem Kliring (SSK) merupakan komponen Hardware/Software
(Hw/Sw) SKNBI yang berlokasi di Kantor Pusat Bank Indonesia yang
digunakan untuk menampung dan memproses seluruh transaksi kliring
debet dan kliring kredit secara nasional serta melakukan simulasi FtS.
b.Komputer Penyelenggara Kliring (KPK) merupakan komponen Hw/Sw
SKNBI yang digunakan oleh PKL.
c. Terminal Peserta Kliring (TPK) merupakan komponen Hw/Sw SKNBI
yang digunakan oleh kantor bank peserta kliring.
D. Peserta SKNBI
Setiap bank dapat menjadi peserta dalam penyelenggaraan SKNBI di suatu
wilayah kliring, dengan persyaratan sebagai berikut:
1. Telah memperoleh izin usaha atau pembukaan kantor dari Bank Indonesia.
2. Lokasi kantor bank memungkinkan kantor bank tersebut untuk mengikuti
penyelenggaraan SKNBI di lokasi penyelenggara kliring lokal (PKL)
secara tertib sesuai jadwal yang ditetapkan.
3. Bank telah menandatangani perjanjian penggunaan SKNBI antara Bank
4. Kantor bank yang akan menjadi peserta menyedikan perangkat kliring,
antara lain meliputi perangkat terminal peserta kliring (TPK) dan jaringan
komunikasi data baik main maupun backup.
E. Penyelenggaraan SKNBI
Penyelenggaraan SKNBI terdiri dari dua Sub sistem yaitu:
1. Kliring Debet
a. Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian, digunakan
untuk trasfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisiki
warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet, dll).
b. Penyelenggaraan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap wilayah
kliring oleh penyelenggaraan kliring lokal (PKL).
c. Penyelenggaraan Kliring Lokal (PKL) akan melakukan perhitungan
kliring debet berdasarkan Data Keuangan Elektronik (DKE) debet yang
dikirim peserta.
d. Hasil perhitungan kliring debet secara lokal tersebut selanjutnya dikirim ke
Sistem Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan secara nasional oleh
Penyelenggara Kliring Nasional (PKN).
2. Kliring Kredit
a. Digunakan untuk trasfer kredit antar bank tanpa disertai penyampaian fifik
warkat (paperless)
b. Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh
c. Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh Penyelenggara Kliring Nasional
(PKN) atas dasar Data Keuangan Elektronik (DKE) kredit yang dikirim
perserta.
F. Batasan Nominal
Batasan nominal dalam SKNBI adalah sebagai berikut:
1. Trasfer kredit antar bank yang dapat dikliringkan dalam kredit adalah dibawah
Rp. 100.000.000
2. Nilai nominal warkat debet tidak dibatasi kecuali untuk warkat kredit yang
berupa nota debet yaitu setinggi- tingginya Rp. 10.000.000 per nota debet.
Pembatasan nilai nominal pada nota debet tidak berlaku apabila nota debrt
diterbitkan oleh Bank Indonesia dan ditujukan kepada bank atau nasabah
bank.
G. Penyediaan Pendanaan Awal (Prefund)
Pendanaan awal (prefund) dimaksudkan untuk mengantisipasi pemenuhan
potensi kewajiban dari seluruh kantor bank yang menjadi pesarta penyelenggaraan
kliring debet dan kliring kredit.
A. Minimum nominal pendanaan awal (prefund)
1. Kliring Debet
a) Minimum nominal pendanaaan awal (prefund) untuk kliring debet
yang harus disedikan oleh bank ditetapkan oleh Bank Indonesia setiap
b) Minimum nominal pendanaan awal untuk kliring debet adalah sebesar
total tagihan harian terbesar bank dalam kliring debet dari seluruh
wilayah kliring selama penyelenggaraan kliring debet dalam 12 bulan
sebelumnya dengan mengeluarkan data transaksi yang nilai
nominalnya diluar kebiasaan.
2. Kliring Kredit
a) Pendanaan awal untuk kliring kredit hanya dilakukan pada
penyelenggaraan kliring kredit pada siklus I.
b) Minimum nominal pendanaan awal untuk kliring siklus I yang harus
disediakan oleh bank setiap harinya adalah sebesar Rp. 1,00( satu
rupiah)
B. Jenis pendanaan awal (prefund)
1. Pendanaan awal dalam bentuk tunai (cash prefund)
2. Pendanaan awal dalam bentuk agunan (colateral prefund)
H. Diagram Proses SKNBI Proses SKNBI
Adapun alur dari proses kerja SKNBI dapat dilihat pada lampiran
penjelasan diagramnya sebagai berikut:
1. Nasabah 1 (pemberi cek) menuliskan jumlah nominal uang yang akan
dibayarkannya pada cek. Nasabah 1 juga menuliskan nomor rekening dari
menandatangani cek bilyet (berupa cek giro) tersebut. Cek bilyet itu tentu
didapatkan oleh nasabah 1 dari bank nasabah 1.
2. Nasabah 1 menyerahkan cek bilyet itu kepada nasabah 2.
3. Nasabah 2 menyerahkan cek bilyet tadi kepada bank di tempat nasabah 2
memiliki rekening. Nasabah 2 menginstruksikan kepada banknya agar
memproses cek bilyet (berupa cek giro) melalui Sistem Kliring Nasional oleh
bank peserta ke Bank Indonesia (BI).
4. Bank nasabah 2 membawa cek itu ke Bank Indonesia (BI) melalui SKNBI
sebagai data elektronik yang akan dikirimkan secara elektronik terlebih dahulu
ke bank sentral, sebelum pengiriman cek fisik. Oleh bank nasabah 2, pada cek
tersebut juga ditambahkan informasi di rekening bank mana cek itu ditujukan.
Mesin yang dipergunakan untuk membaca dan mengirim data cek dari bank ke
rumah kliring disebut Magnetic Ink Cheque Reader & Encoder (MICRE).
5. Bank Indonesia (BI) melakukan proses kliring. Proses tersebut dapat
memakan waktu minimal satu hari.
6. Jika proses kliring berhasil, maka bank nasabah 1 akan mendebit rekening
milik nasabah 1 dan bank nasabah 2 akan mengkredit rekening milik nasabah 2
sesuai nilai yang tercantum pada cek.
7. Setelah semua proses telah berhasil dilakukan, maka nasabah 2 akan
menerima pesan-pesan konfirmasi dan dapat mengambil cek bilyet (berupa cek
giro) yang dikirimkan nasabah 1 yang telah divalidasi oleh pihak Bank
bilyet (berupa cek giro) tersebut yang dijalankan oleh Sistem Kliring Nasional
Bank Indonesia (SKNBI).
I. Use Case Diagram Proses Kliring
Proses kliring biasanya dilakukan oleh bagian CBO, khususnya bagian
kliring, dimana teller hanya menerima setoran kliring dari nasabah saja. Setelah
giro kliring diterima, maka di-input pada SKN dan kemudian diserahkan kepada
Bank Indonesia (BI). Selanjutnya BI yang membagi-bagikan giro tersebut kepada
bank yang didebet sesuai giro yang dikliringkan. Bank yang akan didebet
kemudian memeriksa segala kelengkapan dari giro dan yang dianggap tidak sah
akan dikembalikan kepada pihak bank yang mengkliringkannya tetapi melalui
perantara BI, sedangkan giro yang dianggap sah akan dikredit sejumlah dana yang
tercantum pada giro tersebut. Setelah itu, pihak bank yang menjalankan kliring
tersebut akan meng-edit sejumlah dana pada nasabah yang menyetorkan setoran
kliring dan mengembalikan giro kliring secara teratur kepada nasabah. Semua
proses kliring ini akan tampak pada Lampiran Gambar 3.9
J. Alur Proses Kliring Debet
Alur Proses Kliring Debet
Apabila bank telah memenuhi persyaratan penyediaan awal, maka seluruh
kantor bank tersebut yang menjadi peserta dapat mengikuti kliring debet.
Kegiatan-kegiatan dalam penyelenggaraan kliring debet, meliputi kliring
kliring debet yang dilakukan oleh Penyelenggara Kliring Lokal (PKL) secara
lokal di masing-masing wilayah kliring. Sementara untuk proses perhitungan
akhir kliring debet secara nasional dan proses penyelesaian akhir dilakukan oleh
penyelenggara Kliring Nasional (PKN). Adapun alur proses kliring debet dapat
dilihat pada lampiran dari gambar Alur Proses Kliring Debet ). (Biro Humas BI
Hal 7-9, 2000).
Secara umum mekanisme kliring debet adalah sebagai berikut:
1. Sebelum kegiatan kliring debet dimulai, Bank wajib menyediakan prefund.
2. Peserta membuat DKE debet berdasarkan warkat debet yang akan dikliringkan.
3. Mengirimkan DKE debet dan warkat debet ke PKL. Pengiriman DKE debet
dapat dilakukan secara online maupun offline tergantung dengan jenis TPK
yang digunakan oleh peserta.
4. Selanjutnya PKL akan melakukan penggabungan dan perekaman atas DKE
debet yang telah lolos validasi. Sementara untuk warkat debet akan dipilah
berdasarkan bank tertuju:
a. secara otomasi dengan menggunakan mesin reader sorter berteknologi
image, bagi PKL yang telah menerapkan sistem pilah warkat otomasi;
atauKLIRING
b. secara manual oleh masing-masing peserta di lokasi PKL, bagi PKL yang
belum menerapkan sistem pilah warkat otomasi.
5. Atas dasar DKE debet yang diterima, PKL akan melakukan perhitungan kliring
debet.
7. Mencetak laporan hasil kliring debet untuk selajutnya didistribusikan kepada
seluruh peserta bersamaan dengan warkat debet.
8. Setelah hasil perhitungan kliring debet lokal dari seluruh penyelenggara kliring
di terima oleh SSK, akan dilakukan perhitungkan kliring debet secara nasional.
9. Selanjutnya SSK melakukan simulasi FtS.
10. Apabila hasil perhitungan kliring debet nasional,
a. Bank ”menang kliring (posisi kredit)”, seluruh cash prefund yang telah
disediakan dikredit kembali ke rekening giro Bank bersamaan dengan
pengkreditan hasil kliring yang bersangkutan.
b. Bank ”kalah kliring (posisi debet)”, sistem secara otomatis akan melakukan
penyelesaian atas kewajiban Bank tersebut dengan urutan sebagai berikut:
- Pertama-tama sistem akan menggunakan cash prefund yang telah
disediakan Bank.`
- Apabila kewajiban Bank masih lebih besar dari cash prefund, maka
kekurangannya akan dipenuhi dari dana yang tersedia pada rekening giro
Bank.
- Apabila kewajiban Bank masih lebih besar dari cash prefund’ dan saldo
pada rekening giro, maka atas kekurangan saldo rekening giro Bank
tersebut sistem akan menggunakan Fasilitas Likuiditas Intrahari Kliring
(FLI-Kliring) atau Fasilitas Likuiditas Intrahari Syariah Kliring
(FLIS-Kliring) berdasarkan collateral prefund yang disediakan oleh Bank.
- Apabila kekurangan saldo rekening giro Bank masih belum dapat ditutup
dengan surat berharga Bank yang ada pada rekening
FLI-RTGS/FLIS-RTGS.
- Pelunasan FLI-Kliring/FLIS-Kliring dan FLI-RTGS/FLIS-RTGS harus
dilakukan sebelum tutup Sistem BI-RTGS.
- Apabila sampai dengan akhir hari FLI-Kliring/FLIS-Kliring belum dapat
dilunasi maka akan menjadi Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP)
atau Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah (FPJPS).
11. Setelah proses kliring debet selesai, peserta dapat memperoleh DKE inward
dengan cara men-download dari SSK atau dari KPK melalui media rekam
data elektronis (disket, flashdisk, atau CD).
K. Alur Proses Kliring Kredit
Apabila bank peserta telah memenuhi persyaratan penyediaan setoran
awal, maka seluruh kantor bank tersebut yang menjadi peserta dapat mengikuti
kliring debet dan kliring kredit. Berbeda dengan penyelenggaraan kliring debet
yang perhitungannya dilakukan secara lokal di masing-masing wilayah kliring
oleh Penyelenggara Kliring Lokal (PKL), dalam penyelenggaraan kliring kredit
dilakukan secara nasional oleh Penyelenggara Kliring Nasional (PKN) di SSK.
Namun untuk pengiriman Data Keuangan Elektronik (DKE) kredit ke SSK,
peserta yang berada di suatu wilayah kliring dapat mengirimnya melalui
PKL.Adapun alur proses kliring debet dapat dilihat pada lampiran dari gambar
Alur Proses Kliring Kredit (Biro Humas BI Hal 9-10, 2000).
1. Sebelum kegiatan kliring kredit dimulai, Bank wajib menyediakan prefund.
2. Peserta membuat DKE kredit berdasarkan aplikasi transfer.
3. Mengirimkan DKE kredit ke SSK.
Pengiriman DKE kredit dapat dilakukan secara online maupun offline
tergantung dengan jenis TPK yang digunakan oleh peserta.
4. Untuk peserta yang menggunakan TPK offline, penyampaian DKE kredit
dilakukan dengan menggunakan media rekam data elektronis (disket, flashdisk
atau CD) yang diserahkan ke PKL dan selanjutnya DKE tersebut oleh PKL
dikirim ke SSK.
5. SSK akan melakukan penggabungan dan perekaman seluruh DKE kredit yang
diterima.
6. Atas dasar DKE kredit yang diterima, SSK melakukan perhitungan kliring
kredit secara nasional.
7. Selanjutnya SSK melakukan simulasi FtS. Apabila hasil simulasi FtS
tersebutmenunjukkan nilai negatif, maka Bank dapat menambahkan
kekurangan atas prefund sampai dengan batas waktu yang ditetapkan.
8. Setelah batas akhir penambahan prefund, SSK melakukan perhitungan hasil
kliring kredit nasional. Hasil perhitungan tersebut akan dibukukan ke rekening
giro Bank di Sistem BI-RTGS.
9. Setelah SSK selesai melakukan proses perhitungan kliring kredit secara
nasional, KPK dapat men-donwload DKE inward dan laporan hasil kliring
10. PKL akan mendistribusikan DKE inward dalam bentuk media rekam data
elektronis (disket, flashdisk atau CD) dan laporan hasil kliring kredit kepada
peserta yang menggunakan jenis TPK offline.
11. Setelah SSK selesai melakukan proses perhitungan kliring kredit secara
nasional, peserta dengan menggunakan TPK online dapat men-donwload
DKE inward dan laporan hasil kliring kredit dari SSK.
L. Manfaat SKNBI
Adapun manfaat pelaksanaan SKNBI adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan efisiensi sistem pembayaran dengan adanya pembagian yang
jelas antara penerapan sistem kliring debet dan kliring kredit.
b. Efisiensi biaya operasional bank dalam hal pencetakan dan proses administrasi
nota kredit karena penyelenggaraan kliring kredit pada SKNBI dilakukan
secara paperless.
c. Meningkatkan dan memperluas jangkauan layanan bank kepada nasabah
dengan diakomodirnya kliring antar wilayah untuk transfer kredit.
d. Mempercepat penyelesaian transaksi melalui kliring.
e. Mengurangi resiko settlement bagi bank karena adanya kewajiban penyediaan
M. Kelemahan dan Keunggulan SKNBI
Adapun kelemahan dari SKNBI ini umumnya disebabkan adanya
gangguan dalam sistem komputer antara lain:
1. Kemungkinan adanya gangguan/kerusakan terhadap perangkat lunak/software
seperti virus komputer.
2. Adanya gangguan kerusakan line (jaringan) komunikasi yang dapat
menghambat kinerja dari sistem SKN itu sendiri.
3. Adanya kemungkinan pemalsuan dalam dokumen atau warkat kliring pada
transaksi kliring debet.
4. Gangguan terhadap TPK utama dan TPK backup. Yaitu adanya gangguan sistem
dalam penyelenggraan SKNBI secara online yang dilakukan dengan cara mentransit
batch DKE kredit dari TPK online ke SKK melalui Jaringan Komunikasi Data (JKD).
Adapun keunggulan/kelebihan dari SKNBI ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mempermudah alur transaksi pertukaran warkat kliring yang dilakukan
oleh peserta kliring itu sendiri.
2. Dengan adanya SKNBI ini dapat mengantisipasi segala kemungkinan resiko
yang mungkin terjadi dengan menerapkan kebijakan-kebijakan serta
melegalisasikan kebijakan tersebut dalam peraturan Bank Indonesia.
3. Menyediakan informasi real time bagi moneter dan early warning system
N. Peranan SKNBI
Adapun untuk dapat melihat seberapa besar peranan transaksi kliring
dalam perekonomian nasional, hal tersebut dapat dilihat dari seberapa besar
peranan uang giral dalam transaksi pembayaran yang terlihat pada grafik dibawah
ini:
Dari grafik diatas, diketahui bahwa peran uang giral terhadap uang yang
beredar dalam arti sempit (M1) dari tahun 2000 s/d 2004 rata- rata 57.09% per
tahun, dan khusus pada bulai mei 2005, peran uang giral telah mencapai 58,78%.
Hal ini menunjukkan bahwa uang giral lebih banyak digunakan dalam transaksi
pembayaran dibandingkan uang tunai (Wilayah Kerja BI Medan, 2005).
Kondisi tersebut diatas menggambarkan bahwa transaksi kliring memiliki
peranan yang cukup besar terhadap perekonomian nasional, hal ini mencerminkan
bahwa animo masyarakat terhadap transaksi pembayaran uang giral lebih diminati
tersebut tidak terlepas dari peranan petugas kliring atau penerima warkat yang
secara langsung ikut berperan serta dalam memajukan perekonomian nasional.
Dengan adanya kepercayaan masayarakat pengguna jasa perbankan dalam
transaksi pembayaran giral, tentunya pelaku- pelaku perbankan pada umumnya,
khususnya kliring selalu dituntut untuk bekerja sama dalam mensukseskan
pembayaran lalu lintas giral dengan lebih mematuhi segala ketentuan yang
berlaku dalam menunjang kelancaran operasional kliring serta mensosialisakan
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan selama melakukan penulisan ilmiah pada Bank
Sumut Syariah Cabang Medan, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
1. SKNBI merupakan suatu sistem kliring yang dapat mangakomodir transfer
kredit antar bank ke seluruh wilayah Indonesia tanpa kewajiban melakukan
pertukaran fisik warkat (paperless).
2. Bank Sumut Syariah Cabang Medan Mengunakan Sistem Realtime Gros
Settlement (RTGS) untuk nominal diatas Rp. 100.000.000,00
3. Bank Sumut Syariah Cabang Medan melakukan pembayaran kliring debet
dan kliring kredit.
4. Proses pelaksanaan kliring nasional Bank Indonesia pada Bank Sumut
Syariah Cabang Medan hanya dilakukan secara online.
5. Disadari atau tidak, peranan petugas kliring atau penerima warkat yang secara
langsung ikut berperan serta dalam memajukan perekonomian nasioanal.
6. Kliring memiliki peranan yang penting dalam perekonomian, hal ini dalam
B. Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan untuk Bank Sumut Syariah
Cabang Medan atas SKNBI yang telah dilaksanakan antara lain:
1. Back up komputer SKNBI harus dalam kondisi yang memadai dan
ditempatkan pada gedung/kantor yang tidak berada di lokasi utama. Hal ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gangguan yang
disengaja (sabotase) maupun yang tidak disengaja serta untuk mengantisipasi
apabila terjadi bencana alam.
2. Pencegahan terhadap gangguan-gangguan pada SKNBI yang dikarenakan
oleh virus dapat diantisipasi dengan melakukan instalasi antivirus yang baik
dan paling up to date pada setiap komputer SKNBI. Pencegahan terhadap
Jaringan Komunikasi Data (JKD) dapat diantisipasi dengan menyediakan line
komunikasi yang baik berupa Dial Up Modem.
3. Bank Sumut Syariah Cabang Medan harus melakukan kegiatan promosi agar
DAFTAR PUSTAKA
Biro Humas Bank Indonesia, (2002), Sistem Kliring Naional Bank Indonesia,
Hasibuan Malayu S.P . (2000) Dasar- Dasar Perbankan. Jakarta Bumi Aksara
Santoso Bambang Tri. (2002) Mengenal Dumia Perbankan. Jakarta. Andi Offset
Tim Evaluasi Kliring Bank Indonesian Medan (2005) Evaluasi Kliring 2005. Medan
SE No. 7/26/DASP tanggal 22 Juli 2005 Tentang SKNBI
Gambar : Struktur Organisasi Bank Sumut Syariah Cabang Medan
Sumber : Bank Sumut Syariah Cabang Medan Pemimpin Cabang Wakil Pemimpin Cabang Kontrol Intern Seksi Pelayanan Nasabah Seksi Operasional Kantor Kas,Kas Mobil / Payment Point Head Teller ATM P e lak san a P e m as ar an P el ak san a O ve r B ook in g P elaks ana T elle r P el . P el ayan an an & I n fo N a sab ah ( C s) P e lak san a A n al is P emb iayaan P el ak san a P en ye lam at an P em b iayaan P e l. Tr an sfe r/ I n k as o / P aj ak P e l. Um um dan K e pe gaw ai an P e l. Akunt an si IT & L ap or an P elaks ana V er tif ik as i / C h ec k er P e lak san a K li r ing P e lak san a A d mi n is tr as i P emb iayaan
Seksi Adm. Dan Penyelamatan
Pembiayaan Seksi
Pemasaran
Kelas III l
LAMPIRAN GAMBAR Melakukan Inisiasi Nasabah 1 Meminta Nomor Rekening Membuat Cek Digital Menerima Bukti terima cek Nasabah 2 Mengirim Sertifikat Mengirim Nomor Rekening Memeriksa dan Meneruskan cek Digital Menerima Pesan-pesan konfirmasi Inisiasi pembayaran sertifikat Permintaan Nomor rekening Nomor rekening Cek
Bukti terima cek
Meneruskan utk kliring & transfer (jika mungkin) Cek
Bukti terima cek, pesan kliring & hasil
otorisasi
Pesan kliring & hasil otorisasi Menerima
Pesan-pesan konfirmasi
[image:49.595.126.508.164.553.2]Gerbang Pembayaran (SKNBI)
Menyetor Kliring giro
Login <<include>>
Menyetor Kliring Giro pada SKN Nasabah1
Pihak Bank Nasabah 1
Pihak Bank Nasabah 2
BI
Mengirim Kliring Giro
Menerima Konfirmasi Kliring
Giro
Mendebet Kliring Giro
Mengkredit Kliring Giro
Menyetor Setoran Kliring Giro
Sistem Kliring Giro
Nasabah2
Merima Kliring giro
[image:50.595.131.518.110.553.2]<<include >>
1. Prefund 2. Create DKE 3. KirimkePKL : • DKE online/ offline) • Warkatdebet
RekeningNasabah
11. DKE Inward : • viaPKL; atau • download via SSK
4. • GabungDKE • Pilahwarkatdebet (otomasi/manual) 5. Hitungkliring lokal 6. KirimHasil Perhitungan kliringkeSSK 7. Distribusiinward kliring& laporan: •Softcopy (DKE); •Hardcopy (lap) 8. Gabunghasilseluruh perhitungankliring
[image:51.595.122.557.121.582.2]lokalNational Collation 9. SimulasiFtS 10. Settlement Bank Peserta (TPK) PenyelenggaraKliringLokal (PKL) PenyelenggaraKliringNasional (PKN) Sistem BI-RTGS
1. Prefund 2. Create DKE 3. Kirim DKE (online/offline) RekeningNasab ah 11. DKE Inward : • viaPKL; atau • download viaSSK
4. • GabungDKE • KirimDKEkeSSK 9. Kirimhasil perhitungan kliringkeSSK 10. Distribusi Inward kliring dalambentuk: • Softcopy (DKE); atau • Hardcopy 5. GabungDKE dari seluruhwilayahkliring 6. Hitung KliringKredit Nasional 7. SimulasiFtS DKE 8. Settlement Bank Peserta (TPK) PenyelenggaraKliringLokal (PKL) PenyelenggaraKliringNasional
[image:52.595.120.553.117.565.2](PKN) Sistem BI-RTGS