Analisis Struktural Kisah Nabi Yusuf Dalam Al-Qur’an

57  67 

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Latar Kisah Nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an

Kisah nabi Yusuf as merupakan salah satu kisah yang sangat dikenal dan banyak digemari. Keistimewaan kisah nabi Yusuf memaparkan cerita cinta yang dikemukakan dalam bahasa yang sangat halus dan tidak mengundang rangsangan birahi serta berbeda dengan banyak cerita dewasa ini. Dan kini kisah nabi Yusuf as banyak ditemukan dalam bentuk novel yang menceritakan kisah cinta antara Zulaikha dan Yusuf. Namun, yang menjadi pembahasan penulis adalah kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an. Dimana terdapat banyak unsur-unsur sastra yang dapat di kaji dalam al-Qur’an, bukan saja pada kisah nabi Yusuf. Akan tetapi, dapat ditemukan pada kisah-kisah yang lain dalam al-Qur’an seperti kisah Ashabul Kahfi, Kisah para Nabi dan lain-lain.

Adapun latar yang terdapat pada kisah nabi Yusuf dibagi atas unsur latar (terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar sosial) dan fungsi latar (terdiri dari latar sebagai atmosfir dan latar sebagai metaforik).

1. Unsur Latar

Unsur latar ditekankan perannya (langsung ataupun tidak langsung) akan berpengaruh terhadap elemen cerita yang lain, khususnya alur dan tokoh. Unsur latar terbukti mampu mempengaruhi keseluruhan unsur yang lain sehingga tampak bahwa berbagai unsur dan cerita bergantung pada latar. Adapun unsur latar dibedakan dalam tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu, dan lingkungan sosial.

a. Latar Tempat

Latar tempat merupakan lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang digunakan berupa tempat – tempat dengan nama tertentu, atau lokasi tertentu tanpa nama yang jelas. Latar tempat dalam sebuah cerita biasanya meliputi berbagai lokasi. Ia akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh. (Nurgiyantoro, 1998: 199) Berikut ayat-ayat yang menerangkan latar tempat pada kisah nabi Yusuf as :

(2)

Ayat 15:

نﻮﺮ هﻮاذهمهﺮ ﺄ ﻬ إﺎ ﻮأﻮ اﺔ ﺎ ﻮ نأاﻮ أﻮ او هﺬﺎ

/Falammấ zahabū bihi wa `ajma’ū `an yaj’alūhu fī gayấbati al-jubbi wa`awhainấ

`ilaihi latunabbi`annahum bi`amrihim hấzấ wa hum la yasy’urūna./

Lalu tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur dan Kami wahyukan kepadanya, “Pasti engkau akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak sadar.” (Qs. Yusuf,12 : 15)

Dan saat nabi Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya kecuali Benyamin, ke dalam sebuah sumur di tengah padang pasir (perjanjian lama, kejadian, 37: 17) (dalam Tafsir al-Misbah, 2002: 410)) disebutkan bahwa mereka bermain di satu tempat yang bernama Dotan.

b. Yusuf di Mesir

Mesir ketika itu merupakan kerajaan besar yang tersohor ke penjuru dunia. Pada masa kekuasaan Yusuf as, Mesir bawah sangat menonjol dan menguasai banyak daerah. Mesir ketika itu terbagi dua, yakni Mesir Bawah yang dikuasai oleh orang-orang Kan’an yang dikenal dengan nama Heksos, dan Mesir Atas yang kini dikenal dengan daerah Sha’id dan ibu kotanya Luxor. Mesir yang dimaksud adalah Memphis, satu wilayah di sekitar Cairo pada masa sekarang. Selanjutnya, nabi Yusuf tinggal dan menetap di Mesir hingga akhir hayatnya.

Ayat 21:

ﺪ و

ﺬ ّ

وأ

نا

ﻰ ﺮآأ

,

أﺮ

ﺮ ا

ىّﺬ ا

لﺎ و

ﺮ ا

ﷲاو

دﺎ ا

وﺄ

ّ و

ضر ا

ﺎ ّﻜ

ﻚ اﺬآو

نﻮ

سﺎّ ا

ﺮ آا

ّ ﻜ و

.

/wa qâla al-lazî isytarâhu min misra limra`atihi, akrimî ma wâhu ‘asâ an yanfa’anâ aw nattakhiżahu waladân wa kazâlika makkannâ li yûsufa fî al-ardi wa linu’allimahû min ta`wîli al-ahâdî i wa Allâhu gâlibun ‘alâ amrihi wa lakinna ak ara al-nâsi lâ ya’lamûna./

(3)

Latar tempat pada ayat ini adalah Mesir, karena Yusuf dibawa oleh orang Mesir (Pejabat Mesir) dan tinggal dirumahnya hingga dewasa dan akhir hayatnya.

- Latar tempat yang menyatakan Mesir dengan kata

ضر ا

/ fîl ardi / ‘di

bumi’ terdapat juga pada ayat lain sebagaimana ayat berikut ini:

و

ءﺎ ّ

ءﺂ

ﺎﻬ أّﻮ

ضر ا

ﺎ ّﻜ

ﻚ اﺬآو

ا

ﺮ أ

.

/wa każâlika makkannâ li yûsufa fî al-ardi yatabawwa`u minhâ hai u yasyâ`u nuşîbu bi rahmatinâ man nasyâ`u wa lâ nudî’u ajra al-muhsinîna./

Dan demikianlah kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir, (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja dia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Qs. 12: 56)

ﺎّآ

ﺎ و

ضر ا

ﺎّ

ﷲﺎ

اﻮ ﺎ

/Qâlu tallâhi laqad `alimtum mâ ji'nâ linafsihi fî al-ardi wa mâ kunnâ sariqîna./

"Saudara-saudara Yusuf menjawab "Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri." (Qs. Yusuf,12 : 73)

- Latar tempat lainnya yang menunjukkan Mesir dengan kata

ﻮ د

/dakhalu ‘alâ Yusufa/ ‘masuk ke tempat Yusuf’ terdapat pada ayat berikut :

نوﺮﻜ

هو

ﻬ ﺮ

اﻮ ﺪ

ةﻮ إ

ﺄ و

/wa ja`a ikhwatu yûsufa fadakhalû ‘alaihi fa’arafahum wa hum lahu munkirûna./

(4)

نﻮ

اﻮ ﺎآ

كﻮ أ

ﺎ أ

ﻰ إ

لﺎ

ﺎ أ

إ

ىﻮأ

ﻮ د

ﺎّ و

.

/wa lammâ dakhalû ‘alâ yûsufa âwâ ilaihi akhâhu qâla innî anâ akhûka falâ tabta`si bimâ kânû ya’malûna./

Dan berkatalah mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf berkata kepada saudaranya (Benyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: "Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (Qs. 12: 69)

فوﺄ

ﺔ ﺰ

ﺔ ﺎ

و

ّﺮّ ا

ﺎ هأ

و

ﺎ ّ

ﺰ ﺰ ا

ﺎﻬّﺄ

اﻮ ﺎ

اﻮ د

ﺎّ

ﷲا

ّنإ

قّﺪ

و

ﻜ ا

ّﺪ

ا

ىز

.

/Falammâ dakhalû `alaihi qâlû ya`ayyuhâl `azizu massanâ wa ahlanâd-durru wa

ji'nâ bi bidâ`atin mużjatin fâ`awfi lanâ al-kayla wa taşaddaq `alainâ innallâha yajzî al-mutaşşaddiqîna./

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata "Hai Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang berharga, maka sempurnakanlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah." (Qs. 12: 88)

ا

ﷲا

ئﺎ

نا

ﻮ دا

لﺎ و

ﻮ ا

إ

ىوا

اﻮ د

ﺎّ

/Falammâ dakhalû yûsufa `âwâ ilayhi abawayhi wa qâla udkhulû mişra insyâ Allâhu âminîna/

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata masuklah kamu ke negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman." (Qs. 12: 99)

(5)

c. Di dalam Lingkungan Istana

Orang Mesir yang membeli Yusuf dipanggil dengan al-Aziz yang menunjukkan kalau ia adalah pejabat tinggi di negeri Mesir pada masa itu. Dan al-Aziz beserta keluarganya, Zulaikha (istri al-Aziz) dan Yusuf tinggal di dalam lingkungan istana Raja.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan ia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah kesini”, Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Qs. 12: 23)

Berikut ini adalah beberapa ayat lainnya yang menjelaskan latar tempat di Mesir dalam kisah nabi Yusuf :

ﻚ هﺄ

دارأ

ءاﺰ ﺎ

بﺎ ا

ﺎهﺪّ

ﺎ او

ﺮ د

تّﺪ و

بﺎ ا

ﺎ او

ا

باﺬ

وا

نا

ّ إ

ءﻮ

/Was tabaqấ al-bấba wa qaddat qamīşahū min duburin wal fayấ sayyidahấ ladấ al-bấbi qấlat mấ jazấu man `arấda bi ahlika sūan illấ an yusjana aw ‘ażấbun alīmun./ "Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (di hukum) dengan azab yang pedih." (Qs. 12: 25)

(6)

bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a'tadat lahunna muttaka`ấn wa `atat kulla wâhidatin minhunna sikkînân wa qâlati ukhruj 'alaihinna falammâ ra`ainahu `akbarnahu wa qaţţa'na aidiyahunna wa qulna hasya lillâhi mâ hấzâ basarân in hazâ illâ malakun karīmun./

Dan wanita-wanita di kota berkata: "Istri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam, sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundanglah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan). Kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkan dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokkan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya) dan berkata: "Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (Qs. Yusuf, 12: 30-31)

Ayat ini menggambarkan keadaan rumah pejabat Mesir dengan mewah yaitu ketika diundangnya wanita-wanita pejabat istana Raja kerumahnya, dengan dipaparkannya tempat duduk bersandar, dan disediakan pisau untuk memotong makanan seperti buah-buahan, pada masa itu memakan buah-buahan dengan menggunakan pisau hanya digunakan oleh para Pejabat atau Dermawan Mesir. Latar tempat dijelaskan pada ayat–ayat berikutnya yang menyatakan Yusuf tinggal di Mesir saat ia bertemu dengan saudara-saudaranya, ayah dan ibunya hingga akhir hayatnya.

d. Di Penjara

/Wa dakhala ma’ahu as-sijna fatayâni qâla ahadu humâ innî arânî a’şiru khumrân wa qâla al-akharu innî ahmilu fauqa ra`sî khubzân ta`kulu aţ-ţayru minhu nabbi`nâ bita`wîlihi, innâ narâka min al-muhsinîna./

(7)

Adapun ayat berikut ini menjelaskan bahwa Yusuf berada di penjara yang merupakan tempat dakwah nabi Yusuf dalam mengenalkan agama pendahulu beliau yakni Ibrahim. Di penjara ini juga masuk bersamanya dua orang pelayan istana raja yang meminta Yusuf untuk menakwilkan mimpi mereka, karena mereka telah lama berada di penjara, dan Yusuf mereka kenal sebagai orang yang baik, jujur, benar, dipercaya dan dapat menakwilkan mimpi.

e. Di Luar Mesir (Kan’an – Palestina) Ayat 94:

.

نوﺪّ

نأ

ر

ﻰّإ

هﻮ أ

لﺎ

ﺮ ا

ﺎّ و

/wa lammâ faşalatil ‘îru qâla abûhum innî lâjidu rîhu yûsufa laulân an tufanidûni./

Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkanmu)". (Qs. 12: 94)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kafilah yang keluar dari negeri Mesir menyatakan bahwa kafilah yang dimaksud adalah saudara-saudara Yusuf yang membawa baju Yusuf dan kembali pulang untuk memberitahukan kabar gembira ke ayah mereka bahwa Yusuf yang selama ini dikira telah tiada telah selamat dan menjadi raja di negeri Mesir. Adapun tempat yang dinyatakan pada ayat ini yaitu kampung halaman Yusuf Kan’an – Palestina. Ayat yang menyatakan latar tempat di kan’an juga terdapat pada ayat berikut ini:

Ayat 4 :

ﻬ أر

ﺮ ا

و

او

ﺎ آﻮآ

ﺪ أ

أر

إ

أﺎ

لﺎ

ذإ

ﺪ ﺎ

/`Iż qâla yûsufu li`abîhi yâ abati `innî ra`aytu a`hada 'asyara kaukabân wa al-syamsa wa al-qamara ra`aituhum lî sâjidîna./

(8)

b. Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah "kapan" terjadinya peristiwa yang diceritakan. Masalah "kapan" biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Segala sesuatu yang menyangkut hubungan waktu, langsung atau tidak langsung harus memiliki kesesuaian dengan waktu sejarah yang menjadi acuannya. Latar waktu harus dikaitkan dengan latar tempat (juga sosial) sebab pada kenyataannya saling berkaitan.

a. Malam hari Ayat 16:

اوءﺎ و

أ

نﻮﻜ

ءﺎ

هﺎ

Wa jâ`û abâhum 'isyâ`an yabkûna

"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di malam hari sambil menangis.” (Qs. Yusuf, 12 : 16)

Latar waktu pada ayat ini yaitu di waktu malam hari (waktu Mesir).

b. Yusuf dewasa Ayat 22 :

.

ا

ىﺰ

ﻚ اﺬآو

ﺎ و

ﺎ ﻜ

اء

,

ّﺪ أ

ﺎّ و

/wa lammâ balaga asyuddahu âtainahu hukmân wa ‘ilmân wa kazâlika najzî al-muhsinîna./

Dan tatkala dia cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Yusuf, 12: 22)

Ayat di atas merupakan latar waktu, yang menyatakan bahwa kini Yusuf telah dewasa. Adapun perkiraan kedewasaan Yusuf terdapat banyak pendapat. Ada yang menyatakan usia dewasa adalah umur 25 tahun, ada juga yang berpendapat 30 tahun, bahkan ada yang menyatakan umur 17 tahun.

(9)

Ayat 35:

.

ا

اوأر

ّ

ﻬ اﺪ

/ umma badâ lahum min ba'di mâ ra`awu al-ayati layasjununnahu hattâ hînin./

"Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda–tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu." (Qs. Yusuf, 12: 35)

Begitu juga dinyataka dalam ayat-ayat lainnya berikut ini:

ّر

ﺮآ

ذ

ا

ﻚّر

ﻰ ﺮآذا

ﺎ ﻬ

جﺎ

ّا

ّ

ىﺬ

لﺎ و

ا

/Wa qâla li al-lażî zanna annahu nâjin minhuma âz-kurnî `inda rabbika fa ansahu asy-syayţânu żikra rabbihi falabi a fî as-sijni bid`a sinîna/

"Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu", mereka syathan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya." (Qs.Yusuf,12: 42)

.

نﻮ رﺄ

وﺄ

ﻜ ّ أ

ﺎ أ

ﺔ أ

ﺪ ﺮآ

ّداو

ﺎ ﻬ

ىﺬ ا

لﺎ و

/Wa qâla al-lazî najâ minhumâ waddakara ba’da ummatin anâ unabbi`ukum bita`wîlihi fa`arsilûna./

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku kepadanya." (Qs. 12: 45)

(10)

d. Pada masa Raja Heksos

Hal ini diketahui karena gelar penguasa Mesir pada masa itu adalah Raja dan Perdana Menteri, bukan Fir’aun. Karena pada masa ini adalah satu masa di mana kekuasaan Fir’aun sempat terhenti. Mesir dijajah atau didatangi oleh gerombolan tentara Heksos dan berhasil menguasai Mesir. Jadi, masa terjadinya peristiwa yang di alami oleh Yusuf dan saudara-saudaranya tepat pada waktu Heksos berkuasa di Mesir antara 1900 SM sampai 1522 SM, atau antara Dinasti XIII sampai ke Dinasti XVIII. yakni pada zaman Raja Mesir Rayyan ibnu al-Walid (Muslim, 2006: 28). Ayat 43:

ر أ

و

ر

و

فﺎ

ﻬ آﺄ

اﺮ

ىﺮأ

إ

ك ا

و

ﻮﺮ

ﺎ ؤﺮ

م آ

إ

يﺎ ؤﺮ

و أ

أ

ﺎﻬ أﺎ

/Wa qâla al-maliku innî arâ sab’a baqarâtin simânin ya`kuluhunna sab’un ‘ijâfun

wa sab’a sunbulâtin khudrin wa ukhara yâbisâtin yâ ayyuhâl-mala`u aftunî fî

ru`yâya in kuntum li al-ru`yâ ta’burûna/

Raja berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh yang kurus-kurus, dan tujuh bulir-bulir hijau dan yang lain kering-kering. Hai orang-orang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi. (Qs. 12: 43)

e. Pertemuan kembali dengan saudara-saudara Yusuf .

(11)

kepada siapa saja yang membutuhkan dengan menukarnya dengan barang-barang kepemilikan mereka.

Ayat 58 :

نﻮﺮﻜ

هﻮ

ﻬ ﺮ

اﻮ د

ةﻮ إ

ﺀﺎ ﻮ

/Wa jâ`a `ikhwatu yûsufa fadakhalû ‘alaihi fa’arafahum wa hum lahu munkirûna./

Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat) nya, maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. (Qs. 12: 58)

c. Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, bersikap dan lain-lain.

a. Kebiasaan masyarakat Arab antara lain :

- Kebiasaan masyarakat Arab khususnya Mesir kuno sangat mengandalkan mimpi dalam kegiatan mereka. Konon, mereka menilai penakwilan mimpi sebagai satu-satunya ilmu yang mempunyai kaidah-kaidah tertentu. Mimpi merupakan penjelasan tentang apa yang akan terjadi. Dan ta’wil mimpi adalah penjelasan tentang apa yang akan terjadi di dunia nyata menyangkut apa yang diimpikan itu. Sebagaimana Rasulullah saw menginformasikan bahwa, “Mimpi ada tiga macam: berita gembira dari Allah swt, bisikan hati dan sesuatu yang menakutkan dari setan.” (Tafsir al-Misbah, 2002: 399). Nabi Ya’qub dan nabi Yusuf merupakan nabi yang diutus oleh Allah dengan mukjizat yang diberikan oleh Allah yaitu penakwilan mimpi sebagai bukti kenabian. Penakwilan mimpi yang mendukung ayat di atas terdapat pada ayat berikut :

Ayat 4 :

ﺪ أ

أر

إ

أﺎ

لﺎ

ذإ

ﻬ أر

ﺮ ا

و

او

ﺎ آﻮآ

(12)

Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah melihat sebelas bintang, serta matahari dan bulan; telah kulihat semuanya- kepadaku- dalam keadaan sujud. (Qs. 12: 4)

Begitu juga dalam ayat-ayat berikut ini:

ﻰ إ

ﺮ ا

لﺎ و

اﺮ

أ

ﻰ رأ

ﻰ إ

ﺂ ه

ﺪ ا

لﺎ

نﺎ

ا

دو

ﺮ ا

آﺄ

اﺮ ى أر

قﻮ

أ

ؤﺄ

,

ا

ﻚ ﺮ

ﺎ إ

/Wa dakhala ma’ahu as-sijna fatayâni qâla ahadu humâ innî arânî a’şiru khumrân wa qâla al-akharu innî ahmilu fauqa ra`sî khubzân ta`kulu aţ-ţayru minhu nabbi`nâ bita`wîlihi, innâ narâka min al-muhsinîna./

Dan bersama dengan dia masuk pula kedalam penjara dua orang pemuda, berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti diatas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami ta'birnya, sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai. (Qs. 12: 36)

ر أ

و

ر

و

فﺎ

ﻬ آﺄ

اﺮ

ىﺮأ

إ

ك ا

و

ﻮﺮ

ﺎ ؤﺮ

م آ

إ

يﺎ ؤﺮ

و أ

أ

ﺎﻬ أﺎ

/Wa qâla al-maliku innî arâ sab’a baqarâtin simânin ya`kuluhunna sab’un ‘ijâfun

wa sab’a sunbulâtin khudrin wa ukhara yâbisâtin yâ ayyuhâl-mala`u aftunî fî

ru`yâya in kuntum li al-ru`yâ ta’burûna/

Raja berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh yang kurus-kurus, dan tujuh bulir-bulir hijau dan yang lain kering-kering. Hai orang-orang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi. (Qs. 12: 43)

(13)

Ayat 4 :

ﻬ أر

ﺮ ا

و

او

ﺎ آﻮآ

ﺪ أ

أر

إ

أﺎ

لﺎ

ذإ

ﺪ ﺎ

/`Iż qâla yûsufu li`abîhi yâ abati `innî ra`aytu a`hada 'asyara kaukabân wa al-syamsa wa al-qamara ra`aituhum lî sâjidîna./

Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah melihat sebelas bintang, serta matahari dan bulan; telah kulihat semuanya- kepadaku- dalam keadaan sujud. (Qs. 12: 4)

Ayat 100 :

يﺎ ءر

وﺄ ا

ﺬه

لﺎ و

ﺪّ

اوّﺮ و

شﺮ ا

ﻮ ا

رو

نا

وﺪ ا

ّ

ءﺎ و

ا

ﺮ ا

ذا

أ

ﺪ و

ﺎّ

ﻰّر

ﺎﻬ

ﻜ ا

ا

ﻮه

ّا

ءﺎ

ّر

ّنا

ﻰ ﻮ ا

و

ّ ا

غﺰّ

.

/Wa rafa’a abawayhi ‘alâ al-‘arsyi wa kharrû lahu sujjadan wa qâla yâ`abati hâzâ ta`wilu ru`yâya min qablu qad ja’alahâ rabbî haqqân wa qad ahsanabî iz akhrajanî min assijni wa jâ`a bikum min al-badwi min ba’di annajaga asy-syaytânu bainî wa baina ikhwatî inna rabbî latîfun limâ yasâ`u innahu huwa al-‘alîmu al-hakîmun./

Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf) dan dia (Yusuf) berkata "Wahai ayahku inilah takwil mimpiku yang dulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika ia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki sungguh, Dia yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Qs. Yusuf, 12 : 100)

b. Budaya Musafir

(14)

/Wa jâ`at sayyâratun fa`arsalû wâridahum fa`adlâ dalwahu qâla yâ busyrâ hâzâ gulâmun wa `asarrûhu bida’atan wallâhu ‘alîmun bimâ ya’malûna. Wasyarauhu bi samanin bakhsin darâhim ma’dûdatin wa kânû fîhi mina az-zâhidîna./

Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang penambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata:" oh, kabar gembira, ini seorang anak muda!" kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga murah, yaitu beberapa dirhamsaja dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (Qs. Yusuf, 12 : 19-20)

Dan pada ayat di atas Yusuf dijual sebagai budak/hamba sahaya dengan harga yang murah. Disini kita juga dapat melihat bahwa penjualan hamba sahaya pada masa ini masih berlaku. Adapun para musafir yang menjual Yusuf dengan murah karena khawatir sang anak adalah hamba sahaya yang dicari tuannya, selain itu agar tidak diketahui tentang penemuan anak itu sehingga mereka tidak dituntut sesuatu bila anak itu mereka jual.

c. Budaya menjamu dan alat-alat jamuan

Budaya menjamu dan alat-alat jamuan menggambarkan kekayaan dan kedudukan social keluarga wanita itu. Hal ini terbukti dengan adanya pembantu-pembantu yang melayani para tamu, tempat makan yang mereka gunakan dengan duduk di kursi – kursi bersandar dengan santai, ada juga meja tempat menghidangkan makanan, serta cara makan buah dengan menggunakan pisau untuk memotong makanan yang dihidangkan. Hal ini menggambarkan tentang suatu negeri yang sangat tinggi peradabannya pada masa itu dibandingkan dengan negeri lainnya, karena mereka telah terbudaya memakan buah dengan menggunakan pisau.

Ayat 31:

ّ ﻬ

ةﺪ او

ّ آ

اءو

ًﺎ ﻜّ

ّ ﻬ

تﺪ أو

ﱠ ﻬ إ

رَأ

ﱠ هﺮﻜ

ﺎّ

ّ

و

ّ ﻬ ﺪ أ

و

ﺮ آا

أر

ﺎّ

ّ ﻬ

جﺮ ا

ﺎ و

ﺎ ّﻜ

ّ إ

اﺬهﺎ

ﺮآ

/Falammâ sami'at bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a'tadat lahunna muttaka`ấn wa `atat kulla wâhidatin minhunna sikkînân wa qâlati ukhruj 'alaihinna falammâ ra`ainahu `akbarnahu wa qaţţa'na aidiyahunna wa qulna hasya lillâhi mâ hấzâ basarân in hazâ illâ malakun karīmun./

(15)

kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan). Kemudian dia berkata (kepada Yusuf):" keluarlah (nampakkan dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokkan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata:" maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (Qs. Yusuf, 12 : 31)

d. Budaya diperbolehkannya meminta jabatan sesuai dengan kemampuan dan permintaan tersebut lahir atas dasar pengetahuannya. Penjelasan ayat berikut dapat menjadi dasar untuk membolehkan seseorang mencalonkan diri guna menempati suatu jabatan tertentu atau berkampanye untuk dirinya, selama motivasinya untuk kepentingan umum dan selama dia merasa dirinya memiliki kemampuan untuk jabatan tersebut. Permintaan jabatan ini menunjukkan kepercayaan diri serta keberanian moril yang disandangnya. Ayat di bawah ini menjelaskan bahwa permintaan jabatan yang diajukan oleh Yusuf kepada Raja diperbolehkan,

Ayat 54-56:

/Wa qâla al-maliku u`tûnî bihi astakhlishu li nafsî falammâ kallamahu qâla innaka al-yauma ladaynâ makînun amînun. Qala ij’alnî ‘ala khazâini al-`ardi innî hafîzun alîmun. Wa każâlika makkannâ li yûsufa fî al-`ardi yatabawwa`u minhâ hai u yasyâu nuşîbu birahmatinâ man nasyâ`u wa lâ nudî’u ajra al-muhsinîna./

“Dan Raja berkata "Bawalah Yusuf bepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan Yusuf, dia berkata "Sesungguhnya kamu (Mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi di percaya pada sisi kami”. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara, sesunggguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. Dan demikianlah kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir, (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja dia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. 12: 54-56)

(16)

2. Fungsi Latar

Latar sebagai fakta cerita yang bersama unsur-unsur lain membentuk cerita. Latar berhubungan langsung dan mempengaruhi pengaluran dan penokohan. Di samping itu, latar juga dapat dilihat dari sisi fungsi yang lain, yang lebih menyaran pada fungsi latar sebagai pembangkit tanggapan atau suasana tertentu cerita. Fungsi latar yang dimaksud adalah :

a. Fungsi latar sebagai metaforik

Latar sebagai metafora merupakan suatu perbandingan yang berupa sifat keadaan, suasana ataupun sesuatu yang lain. Fungsi pertama metafora adalah menyampaikan pengertian, dan pemahaman (Lakoff dan Johnson, dalam Nurgiyantoro, 1998: 241). Dalam kehidupan sehari-hari, manusia banyak menggunakan ungkapan metafora. Metafora erat berkaitan dengan pengalaman kehidupan manusia baik bersifat fisik maupun budaya. Deskripsi latar tersebut menyangkut hubungan alam, tak hanya mencerminkan suasana internal tokoh, namun juga menunjukkan suasana kehidupan masyarakat dan kondisi spiritual masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini sering terdapat hubungan timbal balik, saling mencerminkan antara latar fisik, alam dengan latar spiritual, sistem nilai (yang berlaku) di masyarakat.

Ayat 31:

ّ ﻬ

ةﺪ او

ّ آ

اءو

ًﺎ ﻜّ

ّ ﻬ

تﺪ أو

ﱠ ﻬ إ

رَأ

ﱠ هﺮﻜ

ﺎّ

ّ إ

اﺬهﺎ

ّ

و

ّ ﻬ ﺪ أ

و

ﺮ آا

أر

ﺎّ

ّ ﻬ

جﺮ ا

ﺎ و

ﺎ ّﻜ

ﺮآ

/Falammâ sami'at bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a'tadat lahunna muttaka`ấn wa `atat kulla wâhidatin minhunna sikkînân wa qâlati ukhruj 'alaihinna falammâ ra`ainahu `akbarnahu wa qaţţa'na aidiyahunna wa qulna hasya lillâhi mâ hấzâ basarân in hazâ illâ malakun karīmun./

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cerceaan mereka, di undanglah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikan nya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan). Kemudian dia berkata (kepada Yusuf):" keluarlah (nampakkan dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokkan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata:" maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (Qs. Yusuf, 12 : 31)

(17)

diundang Zulaikha) sebuah pisau menggambarkan kekayaan dan kedudukan sosial keluarga Zulaikha, terbukti dengan adanya pembantu-pembantu yang melayani para tamu, tempat duduk yang bersandar dan cara makan menggunakan pisau untuk memotong makanan yang dihidangkan. Ini adalah satu cara yang sangat maju dan beradab pada masa itu.

Ayat 83 – 84 :

لﺎ

م آ ا

م ا

وه

إ

مﻬ

أ

ﷲا

اﺮ أ

مﻜ أ

مﻜ

ﱠﻮ

.

آ

ﻮﻬ

نﺰ ا

ّ او

ﻰ ﺄ

لﺎ و

ﻰّﻮ و

.

/Qâla bal sawwalat lakum anfusukum amrân fasabrun jamīlun ‘asa allâhu an ya`tiyanī bihim jamī’ân innahu huwa al-‘alīmu al hakīmu. Wa tawallâ anhum wa qâla ya `asafâ ‘alâ yûsufa wa abyaddat ‘ainâhu min al-huzni fahuwa kazīmun/ “Yaqub berkata “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (uyang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf. Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (Qs. Yusuf, 12: 83-84)

Deskripsi latar pada ayat di atas menggambarkan bahwa rasa kecewa Ya’qub terhadap anak-anaknya terlihat pada kata berikut

اﺮ أ

مﻜ أ

مﻜ

ﱠﻮ

/ bal sawwalat lakum anfusukum amrân,…… / ‘Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (uyang buruk) itu……’ dan kesabaran yang baik terhadap segala persoalan. Dan karena kesedihan yang berkepanjangan atas kehilangan Yusuf dan Benyamin sehingga membutakan matanya. Hal ini sebagaimana ditegaskan pada kalimat

نﺰ ا

ّ او

ﻰ ﺄ

/…

ya `asafâ ‘alâ yûsufa wa abyaddat ‘ainâhu min al-huzni…/ ‘… Aduhai duka citaku terhadap Yusuf. Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan…’

b. Fungsi Latar Sebagai Atmosfir

(18)

yang memberikan atmosfer cerita biasanya berupa latar penyituasian. Atmosfir cerita adalah emosi yang dominan yang merasuki cerita yang berfungsi mendukung elemen-elemen cerita yang lain untuk memperoleh efek yang mempersatukan. Adanya situasi tertentu yang mampu meyeret pembaca ke dalam cerita akan menyebabkan pembaca terlibat secara emosional. Hal ini penting sebab dari sinilah pembaca akan tertarik, bersimpati dan berempati, meresapi serta menghayati cerita secara intensif. Atmosfir itu sendiri dapat ditimbulkan dengan deskripsi detil-detil, irama tindakan, tingkat kejelasan dan kemasukakalan berbagai peristiwa, kualitas dialog dan bahasa yang dipergunakan.

Ayat 9-10 :

/Aktulû yûsufa awitrahûhu ardân yakhlu lakum wajhu abīkum watakûnu min ba’dihi qawmân salihīna. Qâla fâ`ilun minhum lâ taqtulû yûsufa wa al-qûhu fī gayabati al-jubbi yaltaqithu ba’du as-sayyârati in kuntum fâ’ilīna/

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang diantara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.” (Qs.Yusuf,12: 9-10)

Deskripsi latar pada cerita di atas membawa kita akan perasaan iri dan cemburu saudara-saudara Yusuf yang berujung dengan perencanakan pembunuhan dan menjauhkan Yusuf dari ayah mereka, agar kasih sayang ayah mereka tercurah kepada mereka.

Ayat 31:

ّ ﻬ

ةﺪ او

ّ آ

اءو

ًﺎ ﻜّ

ّ ﻬ

تﺪ أو

ﱠ ﻬ إ

رَأ

ﱠ هﺮﻜ

ﺎّ

ّ إ

اﺬهﺎ

ّ

و

ّ ﻬ ﺪ أ

و

ﺮ آا

أر

ﺎّ

ّ ﻬ

جﺮ ا

ﺎ و

ﺎ ّﻜ

ﺮآ

/Falammâ sami'at bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a'tadat lahunna muttaka`ấn wa `atat kulla wâhidatin minhunna sikkînân wa qâlati ukhruj 'alaihinna falammâ ra`ainahu `akbarnahu wa qaţţa'na aidiyahunna wa qulna hasya lillâhi mâ hấzâ basarân in hazâ illâ malakun karīmun./

(19)

dia berkata (kepada Yusuf):" keluarlah (nampakkan dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokkan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata:" maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (Qs. Yusuf, 12 : 31)

Deskripsi latar pada ayat di atas membawa suasana pada lingkungan kehidupan sosial yang tinggi. Selain itu, mendeskripsi latar atas ketakjuban para wanita-wanita pejabat yang diundang Zulaikha atas ketampanan Yusuf.

Ayat 62-65 : fallấhu khairun hafīzan wahuwa arhamu ar-rahimin. Wa lammấ fatahû mata’ấhum wajadû bida’atahum ruddat ilaihim qấlu ya abấnấ ma nabgī hấzihi bidấ’atuna ruddat ilainấ wa namīru ahlấnấ wa nahfazu akhấna wa nazdadu kayla ba’īrin zấlika kaylun yasyīrun./

(20)

Deskripsi latar pada cerita di atas memberikan atmosfer kekecewaan Ya’qub kepada anak-anaknya saat meminta izin untuk membawa Benyamin bersama mereka. Dan saudara-saudara Yusuf berusaha untuk meyakinkan ayah mereka agar diizinkan membawa adik mereka (Benyamin) untuk mendapatkan sukatan lagi dari Mesir. Saudara-saudara Yusuf selain khawatir jika tidak diizinkan untuk membawa Benyamin, sedangkan barang-barang yang mereka tukarkan untuk mendapat sukatan dari Raja dikembalikan kepada mereka.

Ayat 70-77:

/Falamma zahhazahum bi jahazihim ja’ala as-siqayata fi rahli akhihi summa azzana mu`azzinun ayyatuha al-‘iru innakum lasariquna. Qalu wa aqbalu ‘alaihim maza tafqiduna. Qalu nafqidu suwa’a al-maliki wa liman ja`a bihi himlu ba’irin wa ana bihi za’imun. Qalu tallahi laqad ‘alimtum ma ji`na linufsida fi al-ardi wa ma kunna sariqina. Qalu fama jaza`uhu in kuntum kazibina. Qalu jaza`uhu man wujida fi rahlihi fahuwa jaza`uhu kazalika najzi az-zalimina. Fabada’a bi`au‘iyatihim qabla wi ‘a`i akhihi summa astakhrajaha min wi ‘a`i akhihi kazalika kidna li yusufa ma kana liya`khuza akhahu fi dini al-maliki illa an yasya`a allahu narfa’u darajatin man nasya`u wa fauqa kulli zi ‘ilmin ‘alimun. Qalu in yasriqu fa qad saraqa akhun lahu min qablu fa asarrahu yusufu fi nafsihi wa lam yubdiha lahum qala antum syarru makanan wallahu a’lamu bima tasifuna./

(21)

maka dia sendirilah balasannya (tebusannya). Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim." Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah mengkehendaki. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki, dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu”. Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu”. (Qs. Yusuf, 12 : 70-77)

Ayat di atas mendeskripsikan kejengkelan dan kemarahan Yusuf pada saudara-saudaranya yang lain ibu dengan menuduh Benyamin saudara kandung Yusuf sebagai pencuri sebagaimana saudaranya (Yusuf). Tentu saja Yusuf sangat marah dan jengkel karena ia bukanlah seorang pencuri seperti yang dituduhkan saudara-saudaranya itu. Tidak seperti mereka yang pernah membuat makar terhadapnya. Sebenarnya maksud Yusuf memasukkan piala Raja tersebut dikarung Benyamin agar ia bisa melepaskan rasa rindunya kepada saudaranya yang telah lama berpisah. Disini saudara-saudaranya awalnya tidak peduli jika Benyamin dijadikan tahanan oleh Yusuf, namun mereka teringat pesan ayah mereka dan janji mereka untuk menjaga Benyamin dan membawa kembali pada ayah mereka. Dan mereka meminta dan membujuk Yusuf supaya Benyamin diizinkan pulang bersama saudara-saudaranya dan diganti dengan saudaranya yang lain sebagai gantinya. Tetapi, Yusuf menolak permintaan saudaranya untuk melepaskan atau menggantikan Benyamin dengan yang lain. Sehingga saudara-saudara Yusuf berputus asa dan salah seorang diantara mereka (yang tertua) menyuruh saudaranya yang lain pulang dan memberitahukan kepada ayah mereka dengan lemah lembut dan sangat hati-hati. Dan dia tetap di Mesir sebagai bukti bahwa mereka berkata dengan jujur.

(22)

ﻮﺪ

أ

ف ﻮ

إ

مهﻮ أ

ﺮ ا

/Wa lamma fasalati al-‘iru qala abuhum inni la `ajidu riha yusufa laula an tufanniduna. Qalu tallahi innaka lafi dalalika qadimi. Falamma an ja`a al-basyiru alqahu ‘ala wajhihi fartadda basiran qala alam aqul lakum inni a’lamu minallahi ma la ta’lamuna. Qalu ya abana istagfirlana zunubana inna kunna khati`ina. Qala sawfa astagfiru lakum rabbi innahu huwa al-gafuru ar-rahimu./ “Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)”. Keluarganya berkata “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliaruanmu yang dahulu.” Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub “tifakkah aku katakan ke[adamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” Mereka berkata “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bahi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Ya’qub berkata “Aku akan memihonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yusuf, 12: 94-98)

Ayat di atas mendeskripsikan kepada pembaca kegembiraan Ya’qub karena Yusuf yang telah lama menghilang kini telah kembali dan Benyamin telah bersama dengan Yusuf. Sedangkan saudara-saudara Yusuf menyesali perbuatan yang pernah mereka lakukan terhadap Yusuf dengan memohon pada ayah mereka untuk memintakan maaf mereka kepada Yusuf.

3.3. Amanah Kisah Nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an

Sebuah karya sastra ditulis oleh pengarang salah satunya untuk menawarkan kehidupan yang diidealkannya. Fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral. Melalui cerita, sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan dan yang diamanatkan (Nurgiyantoro, 1998 : 322).

Jenis dan atau wujud pesan moral yang terdapat dalam karya sastra akan tergantung pada keyakinan, keinginan dan interes pengarang yang bersangkutan. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia (Nurgiyantoro, 1998: 324).

(23)

1. Pesan Religius / Keagamaan

Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra setua keberadaan sastra itu sendiri. Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Pada awal mulanya segala sastra adalah religius (Mangunwijaya, 1982:11). Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya mengarah pada makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi, sedangkan religius bersifat lebih mendalam dan lebih luas dari agama yang tampak formal dan resmi (Mangunwijaya, 1982: 11-12).

Adapun pesan religi/ keagamaan yang dapat kita ambil dari kisah nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an surah Yusuf ini adalah sebagai berikut :

a. Allah telah memilih nabi Yusuf sebagai nabinya dengan memberi keistemewaan melalui isyarat mimpi. Sebagaimana Allah telah memilih Ayahnya (Ya’qub) dan kedua bapaknya yaitu Ibrahim dan Ishak. Adapun ta’wil mimpi adalah penjelasan tentang apa yang akan terjadi di dunia nyata menyangkut apa yang diimpikan itu. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan melalui sahabat nabi saw Qatadah bahwa nabi bersabda “Mimpi yang baik dari Allah, mimpi yang buruk dari setan. Siapa yang bermimpi sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah ia meludah (meniup sambil mengeluarkan satu dua tetes ludah) ke arah kirinya tiga kali dan hendaklah ia memohon perlindungan Allah dari setab.” Al-qur’an menamai mimpi yang benar dan bersumber dari Allah dengan Ru’ya sadiqah. Penjelasan yang menyatakan bahwa Yusuf telah dipilih oleh Allah sebagai nabi-Nya dengan diberikan keistemewaan melalui mimpi yang kemudian Yusuf dewasa dapat mena’wilkan mimpi yang dijelaskan dalam ayat berikut :

Ayat 6:

و

لﺎ

و

م

و

ﺪﺎ ا

وﺄ

و

ﻚ ر

ﻚ اﺬآ

م ﻜ

م

ﻚ ر

إ

ﺎ إ

و

م هر إ

ﻚ و أ

ﺎﻬ أ

ﺎ آ

و

/Wa kazalika yajtabika rabbuka wa yu’allimuka min ta’wil al-ahadisu wa yutimmu ni’matahu ‘alaika wa ‘ala `ali ya’quba kama atammaha ‘ala abawayka min qablu ibrahima wa ishaqa inna rabbaka ‘alimun hakimun./

(24)

kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakannya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.” (Qs.Yusuf,12 : 6)

Berikut mimpi Yusuf dan mimpi-mimpi yang dita’wilkan Yusuf : Ayat 4 :

ﻬ أر

ﺮ ا

و

او

ﺎ آﻮآ

ﺪ أ

أر

إ

أﺎ

لﺎ

ذإ

ﺪ ﺎ

/`Iż qâla yûsufu li`abîhi yâ abati `innî ra`aytu a`hada 'asyara kaukabân wa asy-syamsa wa al-qamara ra`aituhum lî sâjidîna./

Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah melihat sebelas bintang, serta matahari dan bulan; telah kulihat semuanya- kepadaku- dalam keadaan sujud. (Qs. 12: 4)

Ayat 36 :

/Wa dakhala ma’ahu as-sijna fatayâni qâla ahadu humâ innî arânî a’şiru khumrân wa qâla al-akharu innî ahmilu fauqa ra`sî khubzân ta`kulu aţ-ţayru minhu nabbi`nâ bita`wîlihi, innâ narâka min al-muhsinîna./

Dan bersama dengan dia masuk pula kedalam penjara dua orang pemuda, berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti diatas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami ta'birnya, sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai. (Qs. 12: 36)

Ayat 43:

و

ر

و

فﺎ

ﻬ آﺄ

اﺮ

ىﺮأ

إ

ك ا

و

ﻮﺮ

ﺎ ؤﺮ

م آ

إ

يﺎ ؤﺮ

و أ

أ

ﺎﻬ أﺎ

ر أ

/Wa qâla al-maliku innî arâ sab’a baqarâtin simânin ya`kuluhunna sab’un ‘ijâfun

wa sab’a sunbulâtin khudrin wa ukhara yâbisâtin yâ ayyuhâl-mala`u aftunî fî

ru`yâya in kuntum li al-ru`yâ ta’burûna/

(25)

dan yang lain kering-kering. Hai orang-orang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi. (Qs. 12: 43)

b. Setelah melakukan segala upaya kemudian bersabarlah. Karena sabar bukan berart menerima nasib tanpa usaha, akan tetapi kesabaran adalah menjaga keimbangan emosi agar hidup tetap stabil, dan ini pada gilirannya menghasilkan dorongan untuk menanggulangi problema yang dihadapi atau melihat dari celahnya peluang untuk meraih yang baik atau lebih baik. Sabar dapat diibaratkan dengan benteng pada saat menghadapi musuh yang kuat. Menghalau musuh sekuat kemampuan, sambil berserah diri kepada Allah. Sebagai makhluk Tuhan kita harus sabar dan tabah dalam menghadapi segala cobaan yang datang pada kita, karena cobaan yang diberikan oleh Allah SWT merupakan ujian kehidupan kita atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Dan sebagai rasa syukur kita atas nikmat dan hidayah yang diberikan oleh Allah SWT. Jika kita selalu bersyukur dan menjalankan perintah Allah maka akan membawa manfaat pada hidup kita dan Allah akan memberikan balasan kepada orang berbuat baik. Dan dalam menghadapi segala cobaan kehidupan di dunia kita haruslah istiqamah dan berpegangan teguh pada agama yang kita yakini serta tidak berputus asa dari cobaan yang Allah SWT berikan, sebagaimana yang tercantum pada ayat-ayat berikut ini :

Ayat 18:

ﷲاو

اﺮ ا

ﻜ أ

ّﻮ

لﺎ

بﺬآ

مﺪ

و

ءﺎ و

نﻮ

نﺎ

ا

/Wa jâ`u `ala qamîsihi bidamin kadzibin qâla bal sawwalat lakum anfusukum amran fasabrun jamîlun wallâhu al-musta`ânu `alâ mâ tasifûna/

"Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu, Ya'qub berkata "sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, maka kebesaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

(26)

ﺎﻬ

ﷲا

لﺰ أ

ﺎّ

آؤﺎ او

ّﺪ ا

ﻚ ذ

ﺎّإ

ّ إ

اوﺪ

ّ ا

ﺮ ا

ّ إ

ﻜ ا

نإ

نﻮ

سﺎّ ا

ﺮ آأ

ّ ﻜ و

ّ ا

.

/Wa it-taba’tu millata aba`i ibrahîma wa ishâqa wa ya’quba mâ kâna lanâ an nusyrika billâhi min syai`in zâlika min fadlillâhi ‘alainâ wa ‘ala an-nâsi wa lâkinna aksara an-nâsi la yasykurûna. Ya sâhibai as-sijni a`arbabun mtafarriqûna khairun ami allâhul wâhidu al-qahhâru. Mâ ta’budûna min dûnihi illâ asmâ`an sammaytumûhâ antum wa âbâ`ukum mâ anjalallâhu bihâ min sultânin ini hukmu illa lillâhi amara allâ ta’budû illâ iyyâhu zâlika ad-dînu al-qayyimu wa lâkinna aksara an-nâsi lâ ya’lamûna./

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak, dan Ya’qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah, itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya): tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa, Maha Perkasa. Apa yang kamu sembah selain Allah, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.(Qs. Yusuf, 12:38-40)

Ayat 90 :

ر

و

إ

ﷲا

ﻰ أ

اﺬهو

و

ﻚ أ

او ﺎ

ا

ﺮ أ

ﷲا

/Qâlû a`innaka la`anta yûsufu qâla anâ yusufu wa hâzâ ahkhî qad mannallâhu ‘alainâ innahû man yattaqi wa yasbir fainnallâha la yudî’u ajra al-muhsinîna./

“Mereka berkata, “Apakah kamu ini benar-benar yusuf?” Yusuf menjawab “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Yusuf, 12 : 90)

c. Nafsu manusia dapat menjerumuskan kepada kezaliman, dan orang yang zalim tiada akan beruntung baik di dunia maupun di akhirat, kecuali nafsu yang diizinkan oleh Allah SWT. Kisah ini mengajak kita untuk menghilangkan rasa iri, dengki dan cemburu karena penyakit hati membawa kita kepada kesesatan. Sebagaimana tercantum pada ayat berikut :

(27)

إ

ﷲأ

ذﺎ

ه

ت ﺎ و

باو ا

ن

ﺎﻬ

وه

ا

ﺪﻮارﻮ

و ﺎ ا

إ

ياﻮ

ن أ

ر

/Wa rấwadathu al-latī huwa fī baitihấ ‘an nafsihi wa gallaqati al-abwấba wa qấlat haita laka qấla ma’ấzấllấhi innahu rabbī ahsana maswấya innahu lấ yuflihu az-zấlimūna./

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal dirumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan ia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah kesini”, Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Qs. 12: 23)

Ayat 53:

ﺮو

إ

ﺮﺎ إ

ﺀو ﺎ

ةﺮﺎ

أ

ﱠ إ

ئﺮ أﺎ

/Wa mấ ubarri`u nafsī inna an-nafsa la`amaratu bi as-sū`i illấ mấ rahima rabbī inna rabbī gafūrun rahīmun./

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yusuf, 12: 53)

d. Ayat 33-34:

أ

هﺪ آ

ر

إﻮ

إ

ﻮ ﺪ

إ

أ

ا

ر

هﺎ ا

آأ

و

ﻬ إ

.

ا

ﻮه

إ

هﺪ ﻜ

فر

ر

ﺎ ﺎ

م

/Qấla rabbi as-sijnu ahabbu ilayya mimmấ yad’ūnanī ilayhi wa illấ tasrif ‘annī kaudahunna asbu ilaihinna wa akun mina al-jahilīna. Fastajấba lahū rabbuhu fasarafa ‘anhu kaidahunna innahu huwa as-samī’u al-‘alīmu./

(28)

Berdasarkan Ucapan nabi Yusuf kepada Allah swt di atas merupakan bisikan hati dan pengaduan Yusuf kepada Allah karena dia rasakan selalu dekat kapada-Nya, jadi ucapan Yusuf di atas bukanlah doa atau permohonan. Karena hendaknya seseorang tidak bermohon kecuali yang baik. Dari sini kita dapat mengambil hikmah bahwasannya selain kita berdoa dan memohon kepada Allah swt, kita juga dapat mengadukan segala persoalan hanyalah kepada Allah Swt. Karena Allah selalu mengetahui isi hati seseorang. Masalah ini juga dikuatkan pada ayat 86 berikut ini:

نﻮ

ﷲا

ا

ﷲا

ﻰ إ

ﺰ و

ّ اﻮﻜ ا

ﺎ ّإ

لﺎ

/Qấla innamấ asyku bassī wa huzni ila allấhi wa a’lamu min allấhi mấ lấ ta’lamūna./

“Dia(Ya'qub) menjawab "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Yusuf, 12 : 86)

(29)

Ayat 37-40 :

“Yusuf berkata:" Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikut agama bapak-bapakku seperti Ibrahim, Ishak dan Ya'kub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersatukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri-Nya.” Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang maha esa, maha perkasa. Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang hal (nama-nama)itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Qs.Yusuf,12 : 37-40)

(30)

Ayat 87 :

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf, 12: 87)

/Wa rafa’a abawayhi ‘alâ al-‘arsyi wa kharrû lahu sujjadan wa qâla yâ`abati hâzâ ta`wilu ru`yâya min qablu qad ja’alahâ rabbî haqqân wa qad ahsanabî iz akhrajanî min as-sijni wa jâ`a bikum min al-badwi min ba’di an nazaga asy-syaytânu bainî wa baina ikhwatî inna rabbî latifun limâ yasyâ`u innahu huwa al-alîmu al-hakîmun./

Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf) dan dia (Yusuf) berkata "Wahai ayahku inilah takwil mimpiku yang dulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika ia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki sungguh, Dia yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Qs.Yusuf,12: 100)

2. Pesan Kritik Sosial

(31)

hal-hal yang diyakini kebenarannya. Hal-hal-hal yang memang salah dan bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan tak akan ditutupinya, sebab terhadap nilai seni ia hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri (Nurgiyantoro, 1998: 332).

Adapun pesan kritik sosial yang dapat kita ambil dari kisah nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an surah Yusuf ini adalah sebagai berikut :

a. Poligami menyebabkan adanya kesenjangan kasih sayang yang berbeda dan menyebabkan kecemburuan dan rasa iri serta dengki terhadap satu dengan yang lainnya, hal ini dapat menyebabkan tindak kejahatan.

Ayat 8:

ﺎ ﺎ أ

ّنإ

و

ﺎّ

ﺎ أ

ﻰ إ

ّ أ

ﻮ أ

اﻮ ﺎ

ذإ

.

/Iz qalu laYusufu wa akhuhu ahabbu ila abina minna wa nahnu 'usbatun inna

abana lafi dalalim mubin./

"(Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Benyamin) lebih dicintai oleh ayah dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat), sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata".(Qs. Yusuf, 12 : 8)

b. Masih terjadinya perbudakan dan penjualan hamba sahaya.

ﷲاؤ

وّﺮ أو

اﺬه

ىﺮ

لﺎ

ﻮ د

ﻰ دﺄ

هدراو

اﻮ رﺄ

ةرﺎّ

تءﺎ و

/Wa jâ`at sayyâratun fa`arsalu waridahum fa`adlâ dalwahu qâla yâ busyrâ hazâ gulamun wa `asarrûhu bida’atan wallâhu ‘alîmun bi mâ ya’malûna. Wasyarauhu bi samanin bakhsin darâhima ma’dûdatin wa kânû fîhi min az-zâhidîna./

Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang penambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga murah, yaitu beberapa dirham saja dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (Qs. Yusuf, 12 : 19-20)

(32)

tentang Zulaikha yang menggoda bujangnya walau mereka telah berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapa pun.

Ayat 29 - 30:

/Yusufu a’rid ‘an haza wastagfiri lizanbiki innaki kunti min al-khati`ina.Wa qala niswatun fi al-madinati imra`atul ‘azizi turawidu fataha ‘an nafsihi qad syagafaha hubban inna lanaraha fi dalalin mubinin./

“(Hai) Yusuf “Berpalinglah dari ini, dan kamu (hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah. Dan wanita-wanita di kota berkata: "Istri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam, sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Yusuf, 12: 29-30)

d. membolehkan seseorang mencalonkan diri guna menempati suatu jabatan tertentu atau berkampanye untuk dirinya, selama motivasinya untuk kepentingan umum dan selama dia merasa dirinya memiliki kemampuan untuk jabatan tersebut. Permintaan jabatan ini menunjukkan kepercayaan diri serta keberanian moril yang disandangnya.

/Wa qala al-maliku `utuni bihi astakhlishu li nafsi falamma kallamahu qala innaka al-yauma ladayna makinun aminun. Qala ij’alni ‘ala khaza`ini al-ardi inni hafizun alimun. /

“Dan Raja berkata "Bawalah Yusuf bepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan Yusuf, dia berkata "Sesungguhnya kamu (Mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi di percaya pada sisi kami”. Berkata Yusuf “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjada lagi berpengetahuan.” (Qs. Yusuf, 12 : 54-55)

(33)

Ayat 32:

ىّﺬ ا

ّ ﻜ

اﺬ

و

ّدور

ﺪ و

ﺮ اءﺎ

,

ﺮ ا

ّ

ﺎ ﻮﻜ و

ّ

/Qalat fazalikunna al-lazi lumtunnani fihi wa laqad rawadtuhu an nafsihi fasta’sama wa lainlam yaf’al ma amuruhu layusjananna wa la yakunan min as-sagirina./

“Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina."(Qs.Yusuf,12:30-32)

Ayat 75:

ا

يﺰ

ﻚ اﺬﻜ

ﺆاﺰ

ﻮﻬ

ﺪ ﻮ

ﺆاﺰ

اﻮ

.

/Qalu jaza`uhu man wujida fi rahlihi fahuwa jaza`uhu kazalika najzi az-zalimina./

(34)

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

1. Analisis latar dan amanah merupakan bagian dari kajian struktural sastra dengan unsur pembangun dari dalam karya sastra itu sendiri, seperti novel, cerpen, drama dan kisah-kisah. Sebagaimana kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an juga merupakan dari karya sastra.

2. Menurut Nurgiyantoro unsur intrinsik terbagi atas Tema Latar/setting, Penokohan, Alur/ plot, Sudut Pandang, Gaya Bahasa, dan Amanah. Dari ke semua unsur instrinsik yang di bahas dalam penelitian ini latar dan amanah.

3. Latar terdiri dari unsur latar terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Dan fungsi latar yang terdiri dari latar sebagai metaforik dan latar sebagai atmosfir.

a. Latar tempat adalah latar cerita yang menyatakan lokasi terjadinya suatu peristiwa. Adapun latar tempat pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terjadi di Kan’an – Palestina, Dotan (jalan yang menghubungkan daerah Palestina dengan Mesir) dan Mesir. Latar tempat ini terdapat pada ayat 4, ayat 15, ayat 21, ayat 23, ayat 25, ayat 30 – 31, ayat 36, ayat 56, ayat 58, ayat 69, ayat 73, ayat 88, ayat 94, dan ayat 99.

b. Latar waktu adalah latar cerita yang berhubungan dengan masalah “kapan” peristiwa yang diceritakan itu terjadi. Adapun latar waktu pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terjadi dari Yusuf as masih masa anak-anak hingga dewasa dan menjadi Raja di Mesir. Latar waktu terdapat pada ayat 16, ayat 22, ayat 35, ayat 42, ayat 43, ayat 45, ayat 47-49, dan ayat 58.

(35)

dengan nama yang berbeda-beda. Adapun latar sosial pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terdapat pada ayat 4, ayat 19-20, ayat 31, ayat 36, ayat 43, ayat 54-56 dan ayat 100.

d. Latar sebagai metaforik erat berkaitan dengan pengalaman kehidupan manusia baik bersifat fisik maupun budaya. Deskripsi latar tersebut menyangkut hubungan alam, tak hanya mencerminkan suasana internal tokoh, namun juga menunjukkan suasana kehidupan masyarakat dan kondisi spiritual masyarakat yang bersangkutan. Latar sebagai metaforik pada kisah nabi Yusuf seperti pengalaman kehidupan Yusuf dari di buang saudara-saudaranya ke sumur di tengah padang pasir yang sepi, di pisahkan dengan ayah dan adik kandungnya Benyamin, di jual sebagai budak, di fitnah dan di penjara, hingga dipertemukan kembali dengan keluarganya. Adapun latar sebagai metaforik pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terdapat pada ayat 31 dan ayat 83-84. e. Latar sebagai atmosfir berupa deskripsi kondisi latar yang mampu

menciptakan suasana tertentu, misalnya suasana ceria, romantis, sedih, muram, dan sebagainya. Latar sebagai atmosfir pada kisah nabi Yusuf seperti kesedihan Ya’qub saat kehilangan Yusuf dan Benyamin, ketidakpercayaan Ya’qub kepada anak-anaknya (kecuali Benyamin dan Yusuf) karena tidak dapat menjaga amanah, kecemburuan saudara-saudara Yusuf, perasaan cinta Zulaikha pada Yusuf, rasa percaya Raja pada Yusuf, dan lain sebagainya. Adapun latar sebagai atmosfir pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terdapat pada ayat 19-20, ayat 31, ayat 62-65, ayat 70-77, dan ayat 94-98.

4. Amanah mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Amanah mencakup pesan religi dan pesan kritik sosial.

(36)

dengan berpegang teguh pada agama yang di yakini, dan nafsu manusia dapat menjerumuskan manusia kepada kezaliman kecuali nafsu yang diizinkan oleh Allah SWT. Adapun pesan religi/keagamaan pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terdapat pada ayat 4, ayat 6, ayat 18, ayat 23, ayat 33-34, ayat 36, ayat 37-40, ayat 43, ayat 53, ayat 86, ayat 90 dan ayat 100.

b. Pesan Kritik Sosial umumnya tampil sebagai pembela kebenaran dan keadilan, atau pun sifat-sifat luhur kemanusiaan yang lain seperti hal-hal yang memang salah dan bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan. Adapun pesan religi yang dapat dipetik dari kisah nabi Yusuf yaitu masih terjadinya perbudakan dan penjualan hamba sahaya, poligami menyebabkan adanya kesenjangan kasih sayang, dan ketidakadilan hukum yang diberlakukan pada orang kecil dan rakyat biasa sedangkan para pejabat yang bersalah dapat terbebas dari hukum. Adapun pesan kritik sosial pada kisah nabi Yusuf dalam al-Qur’an terdapat pada ayat 8, ayat 19-20, ayat 29-30, ayat 30-32, ayat 54-55, dan ayat 75.

4.2. Saran

(37)

ANALISIS STRUKTURAL

KISAH NABI YUSUF DALAM AL-QUR’AN

Skripsi

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelas Sarjana Sastra (S.S)

dalam bidang Studi Bahasa Arab

OLEH:

ASRI RABIAH LUBIS

010704019

PROGRAM STUDI BAHASA ARAB

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(38)

ANALISIS STRUKTURAL KISAH NABI YUSUF DALAM AL-QUR’AN

SKRIPSI SARJANA

Dikerjakan oleh : ASRI RABIAH LUBIS

NIM. 010704019

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dra. Nursukma Suri,M.Ag Nuraisah Simamora, Lc

NIP. 131 676 484

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Untuk melengkapi salah satu syarat ujian SARJANA SASTRA Dalam bidang ilmu Bahasa Arab

PROGRAM STUDI SASTRA ARAB

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(39)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah wa kafallahu syahida, rasa syukur yang tiada tiara penulis tahmidkan kepada Allah azza wa jalla atas segala karunia dan rahmatnya serta limpahan kasih sayang-Nya kepada penulis laksana ombak dahsyat yang memecahkan rasa lelah dan bosan dalam merampungkan penulisan skripsi ini sebagaimana yang ada di hadapan pembaca. Salawat dan salam kepada junjungan kita yang dimuliakan Allah akhlaknya, Muhammad al-mustafa serta keluarga dan sahabat beliau, semoga kita kelak berada pada

maqam yang sama dengan beliau di hari akhir yauma la tanfa’u mahun wala banun.

Penulisan skripsi yang berjudul “ANALISIS STRUKTURAL KISAH NABI YUSUF DALAM AL-QUR’AN” sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Sastra (S.S) pada program studi Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi perbaikan dan kesempurnaan tulisan ini. “Orang yang berjiwa besar adalah orang yang mau mendengarkan pendapat dan saran orang lain”.

Medan, Juni 2008

(40)

UCAPAN TERIMA KASIH

Berkat ridha dan rahmat Allah SWT, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. Syaifuddin, M.A. Ph.D selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (yang telah memberikan saya kesempatan dalam menyelesaikan skripsi), beserta Pembantu Dekan I, II dan III.

2. Ibu Khairawaty M.A. Ph.D dan Bapak Mahmud Khudri selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Nursukma Suri, M.Ag selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan dan membimbing penulis serta memberikan inspirasi dalam penulisan skripsi.

4. Ibu Nur Aisyah Simamora, Lc selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan kesempatannya untuk membimbing penulis dan memberikan inspirasi dalam penulisan skripsi.

5. Kedua orang tua yang tercinta Ibunda Nurul Jamali binti Sirajuddin Tahir dan Ayahanda Bahrumsyah Lubis bin Malin Sutan Lubis yang telah membesarkan, mendidik dan selalu memberikan motivasi kepada penulis hingga saat ini serta atas doa dan kasih sayangnya kepada penulis dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. “Allahumma firlana zunubana wa liwalidaina warhamhuma kama rabbayana sagira”. Serta untuk adindaku Fajri Zumadiyah Lubis, SSos terima kasih atas doa dan dukungannya

6. Keluarga besar Sirajuddin Tahir terutama om Rusdi dan nenek Mumung (Maemunah) dan Keluarga besar Malin Sutan Lubis yang sudah membantu penulis selama menjalani pendidikan di Universitas Sumatera Utara.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...