UPAYA KEPOLISIAN DALAM MENANGGULANGI KEJAHATAN YANG DILAKUKAN OLEH KELOMPOK PREMAN (Studi Kasus di Polda Lampung)

55  30  Download (2)

Teks penuh

(1)

Bambang Sepriyanto

ABSTRACT

THE POLICE EFFORTS TO PREVENT CRIMES COMMITTED BY GANG gangsterism problems. This operation focused on hold up, extortion, persecution. This operation is done by terminal, market, harbor with target the unemployed are disturbing residents. The problem of the research is how the police efforts overcome crimes committed by gang in Lampung and what the factors become obstacle in prevention crimes which is done by gang in Lampung.

The method of this research used normative juridical and empric juridical approach, while the data source and Type of data is taken from the primary data, secondary data and from primary matter of law, secondary matter of Law, and tertiary matter of Law, this population is Lampung police and Lecture of Law Faculty Lampung University. The collecting the data consists of document and field study, while the data used editing method, systematization, classification and tabulation.

(2)

Bambang Sepriyanto

done by gang applicable both nationally and local regulations, law personnel who do not act decisively in preventing crimes which is done by gang, facilities do not support apathetic community, and culture which provokes gang to crimes act continuously.

(3)

ABSTRAK

Premanisme telah menyebar di Indonesia, mulai dari kota besar hingga ke desa-desa telah begitu rata dikuasai oleh preman yang tidak lain adalah geng yang rawan melakukan tindak kejahatan. Jajaran Polda Lampung telah menggelar operasi Sikat Krakatau yang dilaksanakan pada pertengahan tahun 2012. Operasi Sikat Krakatau 2012 memfokuskan permasalahan premanisme yang sangat meresahkan masyarkat. Operasi tersebut dititikberatkan pada aksi premanisme di antaranya, penodongan, pemerasan dan penganiayaan. Operasi itu dilakukan di terminal, pasar, pelabuhan dengan sasaran kelompok pengangguran yang kerap kali meresahkan masyrakat. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah upaya Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung dan faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung.

Metode penelitian yang digunakan melalui pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris, sedangkan sumber data dan jenis data diambil dari data primer, data sekunder dan juga dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, adapun yang dijadikan populasi disini adalah anggota Kepolisian daerah Lampung dan dosen fakultas hukum Unila. Pengumpulan data berdasarkan studi kepustakaan dan studi lapangan, sedangkan pengelolaan data dilakukan dengan metode editing, sistematisasi, klasifikasi dan tabulasi.

(4)

Bambang Sepriyanto

dengan pendidikan agama; pemanfaatan media pers/media massa, pemanfaatan kemajuan teknologi dan pemanfaatan potensi efek preventif dari aparat penegak hukum; kegiatan patroli dari Polisi yang dilakukan secara kontinyu serta kegiatan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat atau kegiatan komunikatif-edukatif dengan masyarakat. Sedangkan, upaya penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah kejahatan terjadi, antara lain mencakup tindakan menyelidiki, menyidiki, menuntut serta memeriksa dan mengadili. Faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung, antara lain aparat penegak hukum yang tidak bertindak tegas dalam menanggulangi kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman, sarana atau fasilitas yang tidak mendukung, masyarakat yang bersikap apatis, dan budaya yang cenderung membiarkan munculnya kelompok preman yang tentu saja diikuti dengan tindak kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman tersebut.

(5)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka.

Penegakan hukum harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku juga berdasarkan Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hukum tersebut harus

ditegakkan demi terciptanya tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana yang dirumuskan

pada Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea

ke-empat yaitu membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Indonesia sebagai negara yang sedang

berkembang tentunya tidak terlepas dari pengaruh perkembangan zaman yang sudah mendunia.

Dimana perkembangan yang terjadi sudah mulai merambah banyak aspek kehidupan.

Perkembangan zaman sekarang ini tidak hanya membawa pengaruh besar pada Negara Indonesia

melainkan juga berdampak pada perkembangan masyarakat, perilaku, maupun pergeseran

budaya dalam masyarakat. Terlebih lagi setelah masa reformasi kondisi ekonomi bangsa ini yang

semakin terpuruk. Tidak hanya mengalami krisis ekonomi saja namun juga berdampak pada

krisis moral. Terjadinya peningkatan kepadatan penduduk, jumlah pengangguran yang semakin

bertambah, didukung dengan angka kemiskinan yang tinggi mengakibatkan seseorang tega untuk

(6)

menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Masalah ini menyebabkan semakin

tingginya angka kriminalitas terutama di daerah yang padat penduduk.1

Salah satu fenomena kejahatan yang terjadi dalam masyarakat saat ini adalah begitu banyaknya

praktik atau aksi premanisme dikalangan masyarakat. Praktek premanisme memang bisa tumbuh

diberbagai lini kehidupan manusia. Secara sosiologis, munculnya premanisme dapat dilacak pada

kesenjangan yang terjadi dalam struktur masyarakat. Kesenjangan disini bisa berbentukmaterial

dan juga ketidaksesuaian wacana dalam sebuah kelompok dalam struktur sosial masyarakat.

Disini yang disebut masyarakat (society) dapat dimaknai sebagai arena perebutan kepentingan

antar kelompok (class), dimana masing-masing ingin agar kepentingannya menjadi referensi bagi

masyarakat. Dalam perebutan kepentingan ini telah menyebabkan tidak terakomodirnya

kepentingan individu atau kelompok dalam struktur masyarakat tertentu. Kesenjangan dan

ketidaksesuaian ini memunculkan protes dan ketidakpuasan dan kemudian berlanjut pada

dislokasi sosial individu atau kelompok tertentu di dalam sebuah struktur masyarakat. Dislokasi

ini bisa diartikan sebagai tersingkirnya kepentingan sebuah kelompok yang kemudian memicu

timbulnya praktik-praktik premanisme dimasyarakat. Praktik premanisme tersebut tidak hanya

terjadi di kalangan masyarakat bawah, namun juga merambah kalangan masyarakat atas yang

notabene didominasi oleh para kaum intelektual.

Premanisme telah menyebar di Indonesia, mulai dari kota besar hingga ke desa-desa telah begitu

rata dikuasai oleh preman yang tidak lain adalah geng yang rawan melakukan tindak kejahatan.

Merebaknya premanisme itu sejalan dengan praktik politik para politisi, serta langkah para

1

Andreas Kusumo, Referensi Untuk Pembuatan Skripsi Hukum Terbaik dan Terlengkap,

(7)

pebisnis dalam menjalankan perdagangan mereka. Premanisme tidak berjalan sendiri, tetapi

ditopang oleh sistem politik dan sistem bisnis yang berkembang.2

Preman adalah mereka yang dianggap sebagai figur bergajul dan berandalan. Di antara mereka

pun ada bandit yang suka mengancam atau meneror, memaksa orang lain memberi uang dengan

modal gertak dan tampilan wajah sangar. Namun tidak bisa disangkal lagi mengenai preman

yang berkepala dingin dan lemah lembut. Maka, premanisme adalah tindak kriminal yang

dilakukan baik dengan kekerasan maupun bujuk rayu yang sopan. Yang terpokok adalah

tindakan itu mencapai tujuan. Pelaku menghalalkan segala cara, mengecoh korban, bahkan

membunuh bila perlu.3

Premanisme di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan, kolonial Belanda, selain bertindak

sendiri, para pelaku premanisme juga telah memanfaatkan beberapa jawara lokal untuk

melakukan tindakan premanisme tingkat bawah yang pada umumnya melakukan kejahatan

jalanan (street crime) seperti pencurian dengan ancaman kekerasan (Pasal 365 KUHP),

pemerasan (Pasal 368 KUHP), pemerkosaan atau rape (Pasal 285 KUHP), penganiayaan (Pasal

351 KUHP), merusakkan barang (Pasal 406 KUHP) yang tentunya dapat mengganggu ketertiban

umum serta menimbulkan keresahan di masyarakat.4

Perilaku preman memang sangat meresahkan masyarakat terutama masyarakat kecil, contohnya

dengan cara memeras para pedagang kecil, para sopir, dan tukang ojek di perkotaan. Di pedesaan

mereka memeras para petani, nelayan dan peternak, tidak jarang merampas hasil usaha mereka.

2

Buras, Premanisme, Isme tanpa Ideologi!, http://www.lampungpost.com, Diakses Tanggal 8 November 2012, Pukul 23:03 WIB.

3

Sinar Harapan, 10 November 2008. 4

Andreas Kusumo, Referensi Untuk Pembuatan Skripsi Hukum Terbaik dan Terlengkap,

(8)

Munculnya premanisme itu membuat ekonomi menjadi tidak efisien karena itu biaya menjadi

tinggi, ketika biaya preman dimasukkan dalam modal produksi sementara modal produksi selalu

dijadikan patokan dalam menentukan harga, maka harga semakin tinggi, akhirnya rakyat lagi

yang terkena beban.

Menyebarnya premanisme di negeri ini membuat banyak orang putus asa. Premanisme seolah

tidak lagi bisa diberantas. Hal ini menyebabkan semakin merebaknya praktik premanisme di

samping itu praktik premanisme seperti mendapat dukungan oleh aparat keamanan yang

semestinya menjaga keamanan masyarakat. Premanisme merupakan fenomena yang sangat besar

dan kasat mata, tidak mungkin aparat keamanan tidak mengetahui keberadaan dan ulah mereka.

Tetapi mereka bisa beroperasi dengar leluasa itu tidak lain karena dibiarkan bahkan dipelihara

sebagai pencari uang ilegal.

Praktik premanisme sering muncul tanpa disadari oleh korban, baik di tempat sepi maupun

tempat keramaian. Munculnya praktik premanisme tersebut tidak terlepas dari berbagai faktor

penyebab. Faktor penyebab tersebut dapat berasal dari pengaruh lingkungan dalam kehidupan

sosial ekonomi masyarakat terlebih dengan masa krisis dewasa ini tidak tersedianya lapangan

pekerjaan yang secara otomatis mengurangi pendapatan seseorang. Sedangkan di lain pihak

banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi, terutama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Pengaruh lingkungan bukan hanya terhadap mereka yang membutuhkan kebutuhan ekonomi

keluarga, tetapi bagi mereka yang belum berkeluarga dan selalu hidup dengan berfoya-foya.

Masalah premanisme sebagai kenyataan sosial sudah tidak dapat dihindari dan memang selalu

(9)

premanisme berkembang seiring meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk, tidak

tersedianya lapangan kerja, pembangunan modernisasi dan urbanisasi. Sehingga dapat dikatakan

bahwa perkembangan kota selalu disertai dengan kuantitas praktik kejahatan yang

bermacam-macam. Tingginya kejahatan menimbulkan ketidakamanan dan ketidaktertiban di dalam

masyarakat, serta menghambat usaha-usaha untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.5

Praktik premanisme yang melanda masyarakat bisa dilakukan dengan sadar, salah satunya adalah

kejahatan pemerasan dan pencopetan yang sering dilakukan di tempat-tempat keramaian,

misalnya jalanan umum, terminal, stasiun, pasar dan lain-lain. Praktik premanisme tersebut dapat

terjadi dimana saja dan kapan saja yang berakibat buruk bagi korban dan juga masyarakat.

Sedemikian buruk akibat yang ditimbulkannya sehingga membuat para preman seharusnya

diberikan hukuman yang berat. Melalui upaya pencegahan yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu

aparat penegak hukum maka para preman akan berpikir kembali untuk mengulangi

perbuatannya.

Realita masalah praktik premanisme di tempat-tempat keramaian sekarang ini masih sering

terjadi walaupun pihak Polda Lampung telah menempatkan petugas di tempat-tempat keramaian

tersebut. Maraknya tindak kejahatan di tempat-tempat tersebut menimbulkan rasa ketakutan dan

keresahan bagi masyarakat.

Jajaran Polda Lampung telah menggelar operasi Sikat Krakatau yang dilaksanakan pada

pertengahan tahun 2012. Operasi Sikat Krakatau 2012 memfokuskan permasalahan premanisme

yang sangat meresahkan masyarkat. Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih

mengungkapkan, operasi tersebut dititikberatkan pada aksi premanisme di antaranya,

5

(10)

penodongan, pemerasan, penganiayaan. Operasi itu dilakukan di terminal, pasar, pelabuhan

dengan sasaran kelompok pengangguran yang kerap kali meresahkan masyrakat. Polda Lampung

membentuk satuan tugas (satgas) dari tingkat Polres di Polda Lampung terdiri dari intelejen dan

personel Gakum (Penegakkan Hukum), serta subsatgas cegah tangkal dan pembinaan. Sebanyak

600 personel dikerahkan dalam operasi Sikat Krakatau ini.6

Tim gabungan Polsekta Kedaton dan Poltabes Bandar Lampung pada Agustus 2012 juga

menggelar razia preman di kawasan terminal Rajabasa Bandar Lampung yang terkenal rawan.

Razia diawali di loket-loket pemesanan karcis yang biasa menjadi tempat manggkal para preman.

Puluhan pemuda yang tidak memiliki data identitas diri yang kerap mangkal dikawasan terminal

Rajabasa, Bandar Lampung, dijaring petugas. Dalam razia ini petugas mengamankan seorang

pria yang diduga preman berikut sebuah sepeda motor yang tidak memliki surat keterangan.

Selain itu petugas mengamankan dua pemuda yang kedapatan membawa senjata tajam. Salah

seorang yang membawa senjata tajam bahkan dalam keadaan mabuk akibat menenggak

minuman keras. Kapolsekta Kedaton, AKP Luther Bane menjelaskan, razia preman di

lingkungan terminal Rajabasa digelar karena maraknya aksi kejatahan didalam lingkungan

terminal. Hingga razia berakhir petugas berhasil mengamankan 26 pria tanpa identitas yang

diduga preman.7

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang

dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul “Upaya Kepolisian Dalam Menanggulangi Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Kelompok Preman (Studi Kasus di Polda Lampung)”.

6

Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih, Polda Lampung Akan Berantas Premanisme,

http://www.poskotanews.com, Diakses Tanggal 8 November 2012, Pukul 20:49 WIB. 7

(11)

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini

adalah:

a. Bagaimanakah upaya Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan yang dilakukan oleh

kelompok preman (studi kasus di Polda Lampung) ?

b. Apakah faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan yang

dilakukan oleh kelompok preman (studi kasus di Polda Lampung) ?

2. Ruang Lingkup

Penelitian ini adalah bagian dari kajian hukum Pidana yang ruang lingkupnya membahas tentang

upaya Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman oleh

Polda Lampung dan faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan

yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung. Penelitian ini dilaksanakan di Polda

Lampung.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

(12)

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas tentang:

a. Upaya Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di

Lampung.

b. Faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan yang dilakukan

oleh kelompok preman di Lampung.

2. Kegunaan Penelitian

a. Secara Teoritis, kegunaan penulisan ini adalah dalam rangka pengembangan kemampuan

berkarya ilmiah, daya nalar dan acuan yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki, juga

untuk memperluas cakrawala pandang bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

b. Secara Praktis, kegunaan penulisan ini adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan

memperluas wawasan serta bentuk sumbangan pemikiran bagi aparat penegak hukum pada

umumnya, dan khususnya Polda Lampung.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi dari hasil

pemikiran atau kerangka acuan pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan kesempatan terhadap

dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan untuk peneliti.8

8

(13)

Konsep dari upaya penanggulangan kejahatan menurut Sudarto9, terdiri dari tindakan preventif,

tindakan represif dan tindakan kuratif, yaitu:

a. Tindakan preventif, yaitu usaha mencegah kejahatan yang merupakan bagian dari politik

kriminil. Politik kriminil dapat diberi arti sempit, lebih luas dan paling luas. Dalam anti

sempit politik kriminil itu digambarkan sebagai keseluruhan asas dan metode yang menjadi

dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana. Dalam arti lebih luas,

politik kriminil merupakan keseluruhan fungsi dari para penegak hukum termasuk di

dalamnya cara kerja dari pengadilan dan Polisi. Sedangkan dalam arti yang paling luas,

politik kriminil merupakan keseluruhan kegiatan yang dilakukan melalui

perundang-undangan dan badan-badan resmi yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral

dari masyarakat. Penegakan norma-norma sentral ini dapat diartikan sebagai penanggulangan

kejahatan. Usaha-usaha penanggulangan secara preventif sebenarnya bukan hanya bidang

dari Kepolisian saja. Penanggulangan kejahatan dalam arti yang umum secara tidak langsung

juga dilakukan tanpa menggunakan sarana pidana (hukum pidana). Misalnya, kegiatan bakti

sosial dapat menghindarkan para pemuda dari tarikan perbuatan jahat. Penggarapan

kesehatan jiwa masyarakat dengan pendidikan agama, pemberian tempat

penampungan/rumah singgah bagi anak jalanan dan gelandangan akan mempunyai pengaruh

baik untuk pengendalian kejahatan. Kegiatan dari Kepolisian yang bersifat preventif

misalnya mengadakan patroli secara kontinu.

9

(14)

b. Tindakan represif, yaitu segala tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum sesudah

terjadinya kejahatan (tindak pidana). Yang termasuk tindakan represif adalah penyelidikan,

penyidikan, penuntutan, sampai dilaksanakannya pidana. Ini semua merupakan

bagian-bagian dari politik kriminil sehingga harus dipandang sebagai suatu rangkaian kegiatan yang

dilakukan oleh badanbadan yang bersangkutan dalam menanggulangi kejahatan.

c. Tindakan kuratif, yaitu pada hakikatnya merupakan usaha preventif dalam arti yang

seluas-luasnya ialah dalam usaha penanggulangan kejahatan, maka untuk mengadakan pembedaan

sebenarnya tindakan kuratif itu merupakan segi lain dari tindakan represif dan lebih

dititikberatkan kepada tindakan terhadap orang yang melakukan kejahatan. Tindakan kuratif

dalam arti nyata hanya dilakukan oleh aparatur eksekusi pidana, misalnya para pejabat

Lembaga Pemasyarakatan atau pejabat dari Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan

Anak (BISPA). Mereka ini secara nyata terlepas dari berhasil atau tidaknya melakukan

pembinaan terhadap para terhukum pidana pencabutan kemerdekaan.

Upaya penanggulangan kejahatan yang digunakan penulis adalah dengan menggunakan teori

kebijakan kriminal atau politik kriminal yang perannya sangat penting. Kebijakan kriminal

adalah kebijakan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan. Kebijakan

kriminal tidak terlepas dari kebijakan sosial (social policy) yang terdiri dari kebijakan untuk

kesejahteraan sosial(social welfare policy) dan kebijakan untuk perlindungan masyarakat(social

lefence policy).

Politik kriminal merupakan suatu usaha dari masyarakat untuk menanggulangi kejahatan dengan

tindakan yang logis dan rasional yaitu dengan sarana non-penal dan penal. Sarana non-penal

(15)

pada faktor penyebab terjadinya kejahatan/kondisi sosial yang secara langsung dapat

meningkatkan jumlah kejahatan.10Sedangkan penal adalah upaya represif yaitu kebijakan dalam

menanggulangi kejahatan dengan menggunakan hukum pidana dengan sanksinya berupa pidana

yang menitikberatkan pada penindasan, pemberantasan setelah terjadi kejahatan seperti

penyelidikan, penyelidikan lanjutan, penuntutan dan lainlain.

Soerjono Soekanto berpendapat bahwa dalam upaya penanggulangan kejahatan, ada beberapa

faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu:11

a. Faktor hukumnya sendiri atau peraturan itu sendiri.

b. Faktor penegak hukum, yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

d. Faktor masyarakat, yakni faktor lingkungan dimana hukum tersebut diterapkan.

e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, rasa yang didasarkan pada karya

manusia di dalam pergaulan hidup.

2. Konseptual

Menurut Soerjono Soekanto,12kerangka konseptual adalah:

Suatu kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang

merupakan kumpulan arti-arti yang berkaitan dengan istilah yang ingin diteliti, baik

dalam penelitian normatif maupun empiris.

10Ibid .,h. 118. 11

Soerjono Soekanto,Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, h. 11-59, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011.

12

(16)

Hal ini dilakukan dan dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam melakukan

penelitian. Maka di sini akan dijelaskan tentang pengertian pokok yang dijadikan konsep dalam

penelitian, sehingga akan memberikan batasan yang tetap dalam penafsiran terhadap beberapa

istilah.

Istilah-istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Kebijakan kriminal adalah kebijakan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan

kejahatan yaitu terdiri dari kebijakan kesejahteraan sosial dan kebijakan perlindungan

masyarakat.13

b. Polisi atau Kepolisian Republik Indonesia adalah segala hal ihwal yang berkaitan dengan

fungsi dan lembaga Polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan Republik

Indonesia.14

c. Penanggulangan yaitu usaha mencegah kejahatan yang dilakukan melalui

perundang-undangan dan badan-badan resmi yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral

dari masyarakat.15

d. Tindakan represif, yaitu segala tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum sesudah

terjadinya kejahatan (tindak pidana).16

e. Tindakan preventif, yaitu segala tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum

sebelum terjadinya kejahatan (tindak pidana).17

f. Preman secara etimologis, kata preman berasal darifree manyang berarti orang bebas, orang

13

Sudarto,op. cit., h. 118.

14

(17)

yang merdeka atau tidak terikat oleh aturan. Premanisme merupakan praktek atau kegiatan

yang dilakukan oleh orang yang jahat (rampok dan sebagainya).18

g. Kejahatan adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang

berlaku.19

E. Sistematika Penulisan

Guna mempermudah dalam memahami isi tulisan secara keseluruhan, maka penulisan ini dibagi

menjadi 5 (lima) bab dengan sistematika yang tersusun sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

Pada bab ini menguraikan tentang latar belakang pemilihan judul yang akan diangkat dalam

penulisan skripsi. Kemudian permasalahan-permasalahan yang dianggap penting disertai

pembatasan ruang lingkup penelitian. Selanjutnya juga membuat tujuan dan kegunaan

penelitian yang dilengkapi dengan kerangka teori dan konseptual serta sistematika

penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisikan tinjauan pustaka yang merupakan pengaturan dalam suatu pembahasan

tentang pokok permasalahan mengenai pengertian kejahatan, pengertian penanggulangan

kejahatan. Tugas pokok kepolisian, pengertian premanisme, serta faktor-faktor penyebab

terjadinya kejahatan.

III. METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang metode yang akan digunakan dalam penelitian berupa

langkah-18

Surayin,Kamus Umum Bahasa Indonesia,h. 455, Yrama Widya, Bandung, 2007. 19Ibid.

(18)

langkah yang akan digunakan dalam melakukan pendekatan masalah, penggunaan tentang

sumber data dan jenis data, serta prosedur analisis data yang telah didapat.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas pokok-pokok permasalahan yang ada dalam skripsi serta

menguraikan pembahasan dan memberikan analisis serta penjelasan tentang upaya

Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di

Lampung dan faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan

yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung.

V. PENUTUP

Merupakan Bab Penutup dari penulisan skripsi yang secara singkat berisikan hasil

pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan serta saran-saran yang

(19)

I. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kejahatan dan Kejahatan dengan Kekerasan

1. Pengertian Kejahatan

Kejahatan adalah suatu nama atau cap yang diberikan orang untuk menilai perbuatan-perbuatan

tertentu, sebagai perbuatan jahat. Dengan demikian maka si pelaku disebut sebagai penjahat.

Pengertian tersebut bersumber dari alam nilai, maka ia memiliki pengertian yang sangat relatif,

yaitu tergantung pada manusia yang memberikan penilaian itu. Jadi apa yang disebut kejahatan

oleh seseorang belum tentu diakui oleh pihak lain sebagai suatu kejahatan pula. Kalaupun

misalnya semua anggota dapat menerima sesuatu itu merupakan kejahatan tapi berat ringannya

perbuatan itu masih menimbulkan perbedaan pendapat.1

Pengertian dari kejahatan itu sendiri tidak terdapat kesatuan pendapat diantara para sarjana. R.

Soesilo membedakan pengertian kejahatan secara yuridis dan pengertian kejahatan secara

sosiologis. Ditinjau dari segi yuridis. pengertian kejahatan adalah suatu perbuatan tingkah laku

yang bertentangan dengan undangundang. Ditinjau dari segi sosiologis, maka yang dimaksud

dengan kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga:

a. Kerugian tersebut harus dilarang oleh undang-undang, harus dikemukakan dengan jelas

dalam hukum pidana.

b. Harus terdapat akibat-akibat tertentu yang nyata atau kerugian.

1

(20)

c. Harus ada perbuatan atau sikap membiarkan sesuatu perbuatan yang disengaja atau sembrono

yang menimbulkan akibat-akibat yang merugikan.

d. Harus ada maksud jahat(mens rea).

e. Harus ada hubungan kesatuan atau kesesuaian persamaan suatu hubungan kejadian diantara

maksud jahat dengan perbuatan.

f. Harus ada hubungan sebab akibat diantara kerugian yang dilarang undang-undang dengan

perbuatan yang disengaja atas keinginan sendiri.

g. Harus ada hukuman yang ditetapkan oleh undang-undang.

Berdasarkan pendapat-pendapat sarjana tersebut diatas dapat diuraikan tentang pengertian

kejahatan menurut penggunaannya masing-masing:

a. Pengertian secara praktis: kita mengenal adanya beberapa jenis norma dalam masyarakat

antara lain norma agama, kebiasaan, kesusilaan dan norma yang berasal dari adat istiadat.

Pelanggaran atas norma tersebut dapat menyebabkan timbulnya suatu reaksi, baik berupa

hukuman, cemoohan atau pengucilan. Norma itu merupakan suatu garis untuk membedakan

perbuatan terpuji atau perbuatan, yang wajar pada suatu pihak, sedang pada pihak lain adalah

suatu perbuatan tercela. Perbuatan yang wajar pada sisi garis disebut dengan kebaikan dan

kebalikannya yang diseberang garis disebut dengan kejahatan.

b. Pengertian secara religius: mengidentikkan arti kejahatan dengan dosa. Setiap dosa diancam

dengan hukuman api neraka terhadap jiwa yang berdosa.

c. Pengertian dalam arti yuridis: misalnya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana

(KUHP). Walaupun KUHP sendiri tidak membedakan dengan tegas antara kejahatan dan

(21)

berbeda. Menurut Memorie van Toelichting, sebagai dasar dari pembedaan antara kejahatan

dan pelanggaran adalah perbedaan antara rechtsdelicten (delik hukum) dan wetsdelicten

(delik undang-undang). Pelanggaran termasuk dalam wetsdelicten, yaitu peristiwa-peristiwa

yang untuk kepentingan umum dinyatakan oleh undang-undang sebagai suatu hal yang

terlarang. Misalnya mengendarai sepeda pada malam hari tanpa lampu merupakan suatu

delik undang-undang karena undang-undang menyatakannya sebagai perkaitan yang

terlarang. Sedangkan kejahatan termasuk dalamrehtsdelicten(delik hukum), yaitu

peristiwa-peristiwa yang berlawanan atau bertentangan dengan asas-asas hukum yang, hidup dalam

keyakinan manusia. dan terlepas dari undang-undang. Contohnya adalah pembunuhan dan

pencurian. Walaupun perbuatan itu (misalnya) belum diatur dalam suatu undang-undang, tapi

perbuatan itu sangat bertentangan dengan hati nurani manusia, sehingga dianggap sebagai

suatu kejahatan.

Upaya untuk melakukan pendekatan terhadap latar belakang terjadinya kejahatan ditempuh

dengan 4 (empat) pendekatan. Empat pendekatan yang pada dewasa ini masih ditempuh dalam

menjelaskan latar belakang terjadinya kejahatan adalah:

a. Perdekatan biogenik, yaitu suatu pendekatan yang mencoba menjelaskan sebab atau sumber

kejahatan berdasarkan faktor-faktor dan proses biologis.

b. Pendekatan psikogenik, yang menekankan bahwa para pelanggar hukum memberi respons

terhadap berbagai macam tekanan psikologis serta masalah-masalah kepribadian yang

mendorong mereka untuk melakukan kejahatan.

(22)

proses-proses dan struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat atau yang secara khusus

dikaitkan dengan unsur-unsur didalam sistem budaya.

d. Pendekatan tipologis, yang didasarkan pada penyusunan tipologi penjahat dalam

hubungannya dengan peranan sosial pelanggar hukum, tingkat identifikasi dengan kejahatan,

konsepsi diri pola persekutuan dengan orang lain yang penjahat atau yang bukan penjahat,

kesinambungan dan peningkatan kualitas kejahatan, cara melakukan dan hubungan pelaku

dengan unsur-unsur kepribadian serta sejauh mana kejahatan merupakan bagian dan

kehidupan seseorang.2

Pengetahuan tentang tipologi penjahat, kejahatan dan kriminalitas sangat diperlukan bagi usaha

untuk merancang pola pencegahan dan pembinaan pelanggar hukum. Dengan mengembangkan

suatu tipologi mengenai kejahatan dan penjahat, maka akan diperoleh gambaran yang lengkap

dan cermat mengenai pelaku dan kejadiannya serta sejumlah ciri umum dari kejahatan dan

penjahat yang lebih jauh dapat dipakai untuk menentukan teknik-teknik yang lebih membawa

hasil dalam rangka pencegahan kejahatan dan pembinaan pelanggar hukum.

2. Kejahatan dengan Kekerasan

Kejahatan dengan kekerasan adalah perbuatan yang memenuhi rumusan-rumusan ketentuan

dalam buku ke-II KUHP yang dilakukan dengan cara-cara yang berakibat luka atau matinya

seseorang.

Beberapa Pasal dalam buku ke-II KUHP yang mengatur tentang kejahatan dengan kekerasan,

yaitu:

(23)

a. Pencurian (Pasal 365 KUHP)

b. Pemerasan (Pasal 368 KUHP)

c. Pemerkosaan ataurape(Pasal 285 KUHP)

d. Penganiayaan (Pasal 351 KUHP)

Terdapat empat macam kekerasan yang harus diperhatikan dalam kriminologi, yaitu:

a. Kekerasan individual (kekerasan yang dilakukan oleh perorangan seperti pembunuhan,

penganiayaan).

b. Kekerasan institusional (kekerasan yang didukung oleh hukum, seperti kekerasan yang

dilakukan oleh polisi yang berupa penekanan dalam kegiatan tertentu).

c. Kekerasan struktural (misalnya kemiskinan, kelaparan dan pengangguran).

d. Kekerasan revolusioner (misalnya gerilya).

Martin L. Haskel dan Lewis Yablonsky3 mengemukakan ada empat kategori yang mencakup

hampir semua pola-pola kekerasan, yaitu sebagai berikut:

a. Kekerasan Legal

Kekerasan ini dapat berupa kekerasan yang didukung oleh hukum, misalnya tentara yang

melakukan tugas dalam peperangan, maupun kekerasan yang dibenarkan secara legal,

misalnya olahraga tinju serta tindakan-tindakan tertentu untuk membela diri.

b. Kekerasan Secara Sosial Mempunyai Sanksi

Suatu faktor penting dalam menganalisis Kekerasan adalah tindakan dukungan atau sanksi

3Ibid.

(24)

sosial terhadapnya, misalnya tindakan seorang suami atas penzina akan memperoleh

dukungan sosial.

c. Kekerasan Rasional

Beberapa tindakan kekerasan yang tidak legal akan tetapi tidak ada sanksi sosialnya, adalah

kejahatan yang dipandang rasional dalam konteks kejahatan. Misalnya: pembunuhan dalam

kerangka suatu kejahatan terorganisasi.

d. Kekerasan Yang Tidak Berperasaan(Irrational Violence)

Kejahatan yang menjadi dampak adanya provokasi terlebih dahulu, tanpa memperlihatkan

motivasi tertentu pada umumnya korban tidak dikenal oleh pelakunya. Dapat digolongkan ke

dalamnya adalah apa yang dinamakan raw violence merupakan ekspresi langsung dari

gangguan psikis seseorang dalam saat tertentu di dalam kehidupannya.

B. Pengertian Penanggulangan Kejahatan

1. Upaya Penanggulangan Kejahatan dengan Sarana Non-Penal

Menurut G.P. Hoefnagels yang dikutip oleh Barda Nawawi Arief,4 upaya penanggulangan

kejahatan dapat ditempuh dengan:

a. Penerapan hukum pidana (criminal law application);

b. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment);

c. Mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat

media massa(influencing views of society on crime and punishment/mass media).

Berdasarkan pendapat tersebut, maka upaya penganggulangan kejahatan secara garis besar dapat

4

(25)

dibagi dua yaitu lewat jalur non-penal (bukan/di luar hukum pidana) dan jalur penal (hukum

pidana). Dalam pembagian G.P. Hoefnagels diatas, upaya-upaya yang diatur dalam butir (b) dan

(c) dapat dimasukkan dalam kelompok upaya non-penal. Upaya penanggulangan kejahatan lewat

jalur penal lebih menitikberatkan pada sifatrepressive(penindasan/pemberantasan/ penumpasan)

sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur non-penal lebih menitikberatkan pada sifatpreventive

(pencegahan/penangkalan/pengendalian) sebelum kejahatan terjadi.

Upaya penanggulangan. kejahatan lewat jalur non-penal lebih bersifat pencegahan untuk

terjadinya kejahatan, maka sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab

terjadinya kejahatan. Faktor-faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalah-masalah atau

kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan kejahatan.

Dengan demikian dilihat dari sudut politik kriminal secara makro dan global, maka upaya-upaya

non-penal menduduki posisi kunci dan strategis dari keseluruhan politik kriminal.

Usaha-usaha non-penal misalnya penyantunan dan pendidikan sosial dalam rangka

mengembangkan tanggung jawab sosial warga masyarakat; penggarapan kesehatan masyarakat

melalui pendidikan moral, agama, peningkatan usaha-usaha kesejahteraan anak dan remaja,

kegiatan patroli dan pengawasan lainnya secara kontinu oleh Polisi dan aparat keamanan lainnya.

Usaha non-penal dapat meliputi bidang yang sangat luas di seluruh sektor kebijakan sosial.

Tujuan utama dari usaha-usaha non-penal itu adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu,

namun secara tidak langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan.

Dengan demikian, dilihat dari sudut politik kriminal keseluruhan kegiatan preventif yang

non-penal itu sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis, memegang posisi kunci yang

(26)

berakibat sangat fatal bagi usaha penanggulangan kejahatan. Oleh karena itu suatu kebijakan

kriminal harus dapat mengintegrasikan dan mengharmonisasikan seluruh kegiatan preventif yang

non-penal itu ke dalam suatu sistem kegiatan negara yang teratur dan terpadu.

2. Upaya Penanggulangan Kejahatan dengan Menggunakan Hukum Pidana (Penal)

Menurut Gene Kassebaurn dikutip oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief:5 penanggulangan

kejahatan dengan menggunakan hukum pidana merupakan cara yang paling tua, setua

peradaban manusia itu sendiri disebut sebagaiolder philosophy of crime control.

Menurut Roeslan Saleh, dikutip oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief,6 tiga alasan mengenai

perlunya pidana dan hukum pidana, adapun intinya sebagai berikut:

a. Perlu tidaknya hukum pidana tidak terletak pada persoalan tujuan-tujuan yang hendak dicapai, tetapi terletak pada persoalan seberapa jauh untuk mencapai tujuan itu boleh menggunakan paksaan; persoalannya bukan terletak pada hasil yang akan dicapai tetapi dalam pertimbangan antara dari hasil itu dan nilai dari batas-batas kebebasan pribadi masing-masing.

b. Ada usaha-usaha perbaikan atau perawatan yang tidak mempunyai arti sama sekali bagi terhukum; dan di samping itu harus tetap ada suatu reaksi atas pelanggaran-pelanggaran norma yang telah dilakukannya itu dan tidaklah dapat dibiarkan begitu saja.

c. Pengaruh pidana atau hukum pidana bukan semata-mata ditujukan kepada si penjahat, tetapi juga untuk mempengaruhi orang yang tidak jahat, yaitu warga masyarakat yang menaati norma-norma masyarakat.

Menurut Soedarto,7 apabila hukum pidana hendak digunakan dapat dilihat dalam hubungan

keseluruhan politik kriminil atau social defence planning yang ini pun harus merupakan bagian

5

Muladi dan Barda Nawawi Arief,Teori dan Kebijakan Pidana,h. 149,Alumni, Bandung, 1992. 6

Ibid., h. 152. 7

(27)

integral dari rencana pembangunan nasional.

Politik kriminil menurut Marc Ancel yang dikutip oleh Muladi dan Barda Nawawi Arif8adalah:

Pengaturan atau penyusunan secara rasional usaha-usaha pengendalian kejahatan oleh

masyarakat.

Tujuan akhir dari kebijakan kriminil adalah perlindungan masyarakat untuk mencapai tujuan

utama yang sering disebut dengan berbagai istilah misalnya, kebahagiaan warga masyarakat;

kehidupan kultural yang sehat dan menyegarkan; kesejahteraan masyarakat; mencapai

keseimbangan.

C. Tugas Pokok Kepolisian

Situasi dan kondisi kamtibmas dewasa ini dirasakan semakin meningkat, baik dari segi modus

operandinya yang kian canggih maupun anatomi kejahatannya yang kian beragam. Untuk itu

diharapkan aparat pemerintah dan masyarakat dapat meningkatkan kepeduliannya terhadap

berbagai hal yang berkaitan dengan kamtibmas, serta mengantisipasi gangguan-gangguannya.

Apabila hal ini dapat dihayati dengan sungguh-sungguh, maka akan terwujudlah pola

pembangunan berwawasan kamtibmas yang memasyarakat sampai ke kalangan infra maupun

suprastrukturnya.

Undang-undang telah menyatakan bahwa Polri adalah kekuatan inti di dalam membina

keamanan dan ketertiban masyarakat, dituntut untuk meningkatkan mental kejuangan maupun

8

(28)

mutu profesionalismenya sehingga dapat menangkal dan menangani masalah kamtibmas secara

tepat dan profesional dalam skala pendek, jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian

Polri yang mahir, terampil, bersih dan berwibawa akan benar-benar menjadi kenyataan. Hal ini

ditandai, apabila dapat menangkal segala gangguan kamtibmas yang timbul, dapat menaikkan

kadar pelayanannya terhadap masyarakat dan dapat tampil sebagai pengayom masyarakat yang

mengesankan hati.

Membahas tugas pokok dan peranan Polri tidak terlepas dari membicarakan tentang peran

penegakan hukum, penegakan hukum merupakan suatu istilah khas yang lazim diterima sebagai

penerapan undang-undang. Di dalam penegakan hukum, khususnya hukuman pidana yang

dilaksanakan oleh Polri selalu berhubungan dengan persoalan Keamanan dan Ketertiban

Masyarakat (Kamtibmas). Hal ini sejalan dengan tugas pokok Polri selaku aparat hukum dan inti

pembina kamtibmas, sebagaimana tercantum dalam Pasal 13 dan 14 UU No. 2 Tahun 2002

tentang Ketentuan-ketentuan Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai

berikut:

Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2002, disebutkan bahwa tugas pokok Kepolisian Negara Republik

Indonesia adalah:

a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;

b. Penegakan hukum; dan

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Pasal 14 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002, menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas

pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia, bertugas:

(29)

masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan;

b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban kelancaran lalu lintas di jalan;

c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat, serta ketaatan warga negara masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;

d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;

e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum;

f. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap Kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil dan bentuk-bentuk keamanan swakarsa;

g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;

h. Menyelenggarakan identifikasi Kepolisian, kedokteran Kepolisian, laboratorium forensik dan psikologis, laboratorium forensik dan psikologi Kepolisian untuk kepentingan tugas Kepolisian;

i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang;

k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkungan dalam lingkup tugas Kepolisian; serta

l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-perundangan.

Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 menjelaskan bahwa dalam melaksanakan tugas

pokok tersebut di atas, Polri diberi wewenang sebagai berikut:

(1) Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dan 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang:

a. Menerima laporan dan/atau pengaduan;

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;

d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpercahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;

e. Mengeluarkan peraturan Kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif Kepolisian;

f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan Kepolisian dalam rangka pencegahan;

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret orang: i. Mencari keterangan dan barang bukti;

j. Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional;

(30)

pelayanan masyarakat;

l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;

m. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.

(2) Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya berwenang:

a. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya;

b. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor; c. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;

d. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;

e. Memberikan izin dan melakukan pengamanan senjata api, bahan peledak dan senjata tajam;

f. Memberikan izin dan operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha dibidang jasa pengamanan;

g. Memberikan petunjuk, mendidik dan melatih aparat Kepolisian khusus dan petugas keamanan swakarsa dalam bidang teknis Kepolisian;

h. Melakukan kerja sama dengan Kepolisian negara lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan internasional;

i. Melakukan pengawanan fungsional Kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait;

j. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi Kepolisian internasional;

k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas Kepolisian.

(3) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) huruf a dan d diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Menurut Pasal 16 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002, menjelaskan bahwa dalam rangka

menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasa1 13 dan 14 di bidang proses pidana,

Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk:

a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;

b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan;

c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;

d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

(31)

g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

h. Mengadakan penghentian penyidikan;

i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;

j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigran dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana;

k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; dan

l. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Berdasarkan uraian pasal-pasal tersebut di atas, dapat diketahui bahwa untuk melaksanakan

tugasnya membina keamanan dan ketertiban masyarakat maka Polri berkewajiban dengan segala

usaha, pekerjaan dan kegiatan untuk pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat, dan usaha

ini harus berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini

biasanya petugas Polri melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya preventif yang ditujukan

untuk meniadakan gejala-gejala yang mengarah terjadinya tindak pidana yang dapat

menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan umum.

D. Pengertian Premanisme

Secara etimologis, kata preman berasal dari free man yang berarti orang bebas, orang yang

merdeka atau tidak terikat oleh aturan. Namun entah kenapa makna tersebut kiri bergeser

menjadi sebuah makna negatif.9

9

(32)

Bukan hal yang baru ketika terjadi pembersihan atau operasi terhadap para pelaku tindak

kejahatan yang marak akhir-akhir ini. Dalam dunia kejahatan ada bermacam-macam istilah

seperti maling, garong, begal, rampok, jambret, gendam. Semua istilah tersebut masing-masing

mempunyai arti dan modus yang berbeda-beda. Maling itu orang yang mencuri tanpa ketahuan

atau garong itu orang yang mencuri tetapi bila ketahuan ia akan melakukan kekerasan terhadap

penghuni rumah atau jambret adalah orang yang merampas barang orang lain secara paksa di

tempat umum. Kalangan umum (termasuk pemerintah) dewasa ini memaknai preman pada

kisaran beberapa istilah tersebut di atas.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane,10 setidaknya ada empat model

preman yang ada di Indonesia, yaitu:

a. Preman yang tidak terorganisasi. Mereka bekerja secara sendiri-sendiri, atau berkelompok,

namun hanya bersifat sementara tanpa memiliki ikatan tegas dan jelas;

b. Preman yang memiliki pimpinan dan mempunyai daerah kekuasaan;

c. Preman terorganisasi, namun anggotanya yang menyetorkan uang kepada pimpinan;

d. Preman berkelompok, dengan menggunakan bendera organisasi.

Biasanya preman seperti ini, dibayar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu. Berbeda dengan

preman jenis ketiga, karena preman jenis ini biasanya pimpinanlah yang membayar atau

menggaji anak buahnya. Preman jenis keempat ini, masuk kategori preman berdasi yang

wilayah kerjanya menengah ke atas, meliputi area politik, birokrasi, dan bisnis gelap dalam

skala kelas atas. Dalam operasinya, tidak sedikit di antara mereka di-backup aparat.

10

(33)

Kerjanya rapih, dan sulit tersentuh hukum, karena hukum dapat mereka beli, dengan

memperalat para aparatnya.

Kategori preman yang berjenjang tersebut seraya memberikan pemahaman baru atas kesan kita

atas sesosok preman yang berkonotasi tatoan, pemabuk, gelandangan yang nongkrong di

terminal, stasiun, pasar (premanisme level terkecil). Premanisme model ini skalanya kecil,

namun tercecer banyak dalam ruang publik kehidupan. Sangat meresahkan masyarakat secara

umum, karena setiap individu dari kita tidak menutup kemungkinan menjadi target kejahatan.

Dalam operasi premanisne akhir-akhir ini memang memberikan prioritas utama pada tindak

kejahatan level bawah, mungkin masyarakat kecil yang mudah atau lebih memungkinkan untuk

ditangkapi. Namun, perlu diingat, masih ada kategori preman di atasnya yang masih banyak

berlenggang ria melakukan aksi-aksinya.

Premanisme level menengah dan atas secara tidak langsung juga merugikan kita, (bahkan lebih

besar), bagaimana uang Negara dari pembayaran pajak ditilap oleh mereka. Kalkulasi angka

kerugian Negara akibat premanisme level menengah dan atas sudah cukup membuat kita

tercengang. Sebuah dana besar yang sebenarnya bisa digunakan untuk pendidikan dan kesehatan

gratis bagi kita dan adik-adik kita.

Jika oleh Polisi, preman didefinisikan sebagai orang-orang yang berulah merugikan,

mengganggu dan meresahkan ketertiban umum (kisaran definisi preman level bawah), maka

operasi premanisme yang dilakukan akhir-akhir perlu ditinjau ulang atas terminologi definisi atas

(34)

Tidak ada seorang pun yang menghendaki adanya tindak kejahatan yang merajalela dan

membuat lingkungan masyarakat tidak nyaman. Namun, pemerintah juga harus instrospeksi dan

mengevaluasi diri tentang kenapa premanisme bisa merajalela. Fenomena premanisme tidak

muncul begitu saja, begitu banyak faktor mempengaruhi proses pembentukannya, yang salah

satunya adalah perjalanan panjang sejarah penciptaan ruang yang memungkinkan kemunculan

segolongan warga Negara yang ramai-ramai disebut sebagai preman.

Istilah-istilah tindak kejahatan layaknya maling, garong, begal, rampok, jambret apabila

disepakati dapat dirangkum ke dalam istilah perbanditan, maka secara historis, perbanditan

sudah jauh-jauh masa telah muncul di Negeri ini. Suhartono cukup gamblang menjelaskan

fenomena perbanditan sosial 1850-1942 di Jawa. Menurut Suhartono,11 perbanditan pada abad

XIX dan XX di Jawa dapat digolongkan, menjadi dua; perbanditan murni tindakan kriminal dan

perbanditan sosial. Kategori pertama muncul karena motivasi pribadi yang murni untuk

mendapatkan harta dengan jalan pemaksaan terhadap orang lain. Kategori yang kedua adalah

sebuah gerakan resistensif dari masyarakat pedesaan agraris yang merasa terdesak oleh kekuatan

ekonomi dan politik perkebunan era kolonial (Robin Hood Indonesia), bahwa bandit merampok

untuk membantu masyarakat miskin. Dalam kacamata hukum positif, semuanya tetaplah

kriminal dan termasuk tindakan melanggar hukum. Namun dalih sempitnya lapangan pekerjaan

dan usaha memenuhi kebutuhan keluarga dapat menjadi pertimbangan atas stereotip terhadap

sang preman.

E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum

Penegakan hukum adalah bagian dari seluruh aktifitas kehidupan yang pada hakikatnya

11

(35)

merupakan interaksi antara berbagai perilaku manusia yang mewakili kepentingan-kepentingan

yang berbeda dalam bingkai aturan yang telah disepakati bersama dalam suatu peraturan yang

berlaku, baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Pengaturan bersama secara tertulis yang

tertuang dalam suatu produk perundang-undangan dimaksudkan dalam rangka mengatur tata

kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara agar lebih tertib dan berkepastian hukum.

Soerjono Soekanto, berpendapat bahwa dalam pelaksanaan penegakan hukum dipengaruhi

beberapa faktor:12

a. Faktor hukumnya sendiri atau peraturan itu sendiri. Contohnya, tidak diikutinya asas-asas

berlakunya undang-undang, belum adanya peraturan pelaksana yang sangat dibutuhkan

untuk menerapkan undang, serta ketidakjelasan arti kata-kata di dalam

undang-undang yang mengakibatkan kesimpangsiuran di dalam penafsiran serta penerapannya.

b. Faktor penegak hukum, yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

Contohnya, keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain

dengan siapa dia berinteraksi, tingkat aspirasi yang relatif belum tinggi, kegairahan yang

sangat teratas untuk memikirkan masa depan, sehingga sulit sekali untuk membuat suatu

proyeksi.

c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. Contohnya, dapat dianut

jalan pikiran sebagai berikut: yang tidak ada, diadakan yang baru betul; yang rusak atau

salah, diperbaiki atau dibetulkan; yang kurang, ditambah; serta yang macet, dilancarkan.

d. Faktor masyarakat, yakni faktor lingkungan dimana hukum tersebut diterapkan. Contohnya,

12

(36)

masyarakat tidak mengetahui akan adanya upaya-upaya hukum untuk melindungi

kepentingan-kepentingannya; tidak berdaya untuk memanfaatkan upaya-upaya hukum

karena faktor-faktor keuangan, psikis, sosial atau politik, dan lain sebagainya.

e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, rasa yang didasarkan pada karya

manusia di dalam pergaulan hidup. Contohnya, nilai ketertiban dan nilai ketentraman, nilai

jasmaniah/kebendaan dan nilai rohaniah/keakhlakan, nilai kelanggengan/konservatisme dan

nilai kebaruan/inovatisme.

Berdasarkan uraian tersebut, maka kelima faktor yang telah disebutkan mempunyai pengaruh

terhadap penegakan hukum. Mungkin pengaruhnya adalah positif dan mungkin juga negatif.

Akan tetapi, di antara semua faktor tersebut, maka faktor penegak hukum menempati titik

sentral. Hal itu disebabkan oleh karena undang-undang disusun oleh penegak hukum,

penerapannya dilaksanakan oleh penegak hukum dan penegak hukum dianggap sebagai

(37)

I. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Pendekatan yuridis

normatif dilakukan dengan mempelajari dan menelaah teoriteori dan konsep-konsep serta

peraturan yang berkaitan dengan pokok penulisan, yaitu Upaya Kepolisian Dalam

Menanggulangi Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Kelompok Preman. Sedangkan pendekatan

yuridis empiris dilakukan untuk mempelajari hukum dalam kenyataan atau berdasarkan fakta

yang didapat secara objektif di lapangan, baik berupa pendapat, sikap dan perilaku hukum

didasarkan pada identifikasi hukum dan efektifitas hukum.

B. Sumber dan Jenis Data

Sumber dan jenis data pada penulisan ini menggunakan dua sumber data, yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang didapat secara langsung dari sumber pertama.1 Dengan demikian

data primer merupakan data yang diperoleh dari studi lapangan yang tentunya berkaitan dengan

pokok penulisan. Penulis akan mengkaji dan meneliti sumber data yang diperoleh dari hasil

penelitian di Polda Lampung.

2. Data Sekunder

1

(38)

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian kepustakaan dengan melakukan

studi dokumen, arsip dan literatur-literatur dengan mempelajari hal-hal yang bersifat teoritis,

konsep-konsep dan pandanganpandangan, doktrin dan asas-asas hukum yang berkaitan dengan

pokok penulisan, yaitu Upaya Kepolisian Dalam Menanggulangi Kejahatan Yang Dilakukan

Oleh Kelompok Preman.

Jenis data sekunder dalam penulisan skripsi ini terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum

sekunder dan bahan hukum tersier:

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat terdiri dari:

1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1946 tentang KUHP.

2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP.

3) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan bahan hukum

primer, dalam hal ini yaitu Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

c. Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk ataupun penjelasan

terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, terdiri dari literatur-literatur,

mass media dan lain-lain.

C. Penentuan Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga.2 Dalam penelitian

2

(39)

ini yang menjadi populasi yaitu aparat Polda Lampung. Untuk mendapatkan data yang

diperlukan dari populasi, penulis melakukan metode wawancara kepada responden yang telah

dipilih sebagai sampel yang dianggap dapat mewakili seluruh responden.

Metode penentuan sampel dari populasi yang akan diteliti yaitu menggunakan Metode

Proporsional Purposive Sampling, yaitu penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan

penunjukan yang sesuai dengan wewenang, atau kedudukan sampel.3 Adapun sampel yang

dijadikan responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung = 1 orang

2. Kepala Subdirektorat III Reserse Kriminal Umum

Polda Lampung = 1 orang

3. Dosen Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum

Universitas Lampung = 1 orang

Jumlah = 3 orang

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

3

(40)

a. Studi Kepustakaan

Yaitu data yang diperoleh berdasarkan studi kepustakaan baik dari bahan hukum primer

berupa undang-undang dan peraturan pemerintah maupun dari bahan hukum sekunder berupa

penjelasan bahan hukum primer, dilakukan dengan cara mencatat dan mengutip buku dan

literatur maupun pendapat para sarjana atau ahli hukum lainnya yang berhubungan dengan

penulisan ini.

b. Studi Lapangan

Yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden untuk memperoleh data tersebut

dilakukan studi lapangan dengan cara menggunakan metode wawancara.

2. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari data sekunder maupun data primer kemudian dilakukan metode sebagai

berikut:

a. Editing, yaitu data yang diperoleh kemudian diperiksa untuk diketahui apakah masih

terdapat kekurangan ataupun apakah data tersebut sesuai dengan penulisan yang akan

dibahas.

(41)

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai upaya Kepolisian dalam

penanggulangan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung,

maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:

1. Upaya penanggulangan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok preman di

Lampung, antara lain sebagai berikut:

a. Upaya non-penal dapat ditempuh dengan cara penggarapan masalah

kesehatan jiwa (social hygiene); penggarapan kesehatan jiwa masyarakat

dengan pendidikan agama; pemanfaatan media pers/media massa,

pemanfaatan kemajuan teknologi dan pemanfaatan potensi efek preventif

dari aparat penegak hukum; kegiatan patroli dari Polisi yang dilakukan

secara kontinyu serta kegiatan yang berorientasi pada pelayanan

masyarakat atau kegiatan komunikatif-edukatif dengan masyarakat.

b. Upaya Penal, yaitu upaya penanggulangan kejahatan yang lebih

menitikberatkan pada sifat represif sesudah kejahatan terjadi, antara lain

mencakup tindakan menyelidiki, menyidiki, menuntut serta memeriksa

dan mengadili dengan berpedoman pada KUHAP, KUHP serta peraturan

perundang-undangan lainnya.

2. Faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan kejahatan

yang dilakukan oleh kelompok preman di Lampung, antara lain kurangnya

(42)

2

sarana atau fasilitas yang tidak mendukung, masyarakat yang bersikap apatis,

dan budaya yang cenderung membiarkan munculnya kelompok preman.

B. Saran

Berdasarkan penelitian dan pembahasan, penulis rnenyampaikan saran sebagai

berikut:

1. Kepolisian harus dapat memperbaiki kualitas dengan cara lebih cepat dalam

menanggapi laporan masyarakat, kegiatan patroli yang dilakukan secara

kontinyu, dan menambah jumlah personil terutama saat melaksanakan razia.

2. Aparat Kepolisian harus dilengkapi dengan sarana dan fasilitas yang

mendukung, contohnya alat blok sinyal HP untuk memperkecil kemungkinan

bocornya razia, sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya kejahatan

oleh kelompok preman, serta menumbuhkan budaya percaya kepada pihak

(43)

UPAYA KEPOLISIAN DALAM MENANGGULANGI KEJAHATAN YANG DILAKUKAN OLEH KELOMPOK PREMAN

(Studi Kasus di Polda Lampung)

Oleh

BAMBANG SEPRIYANTO

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(44)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ...8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...8

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ...9

E. Sistematika Penulisan ...14

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kejahatan dan Kejahatan dengan Kekerasan ...16

1. Pengertian Kejahatan ...16

2. Kejahatan dengan Kekerasan ...20

B. Pengertian Penanggulangan Kejahatan ...22

1. Upaya Penanggulangan Kejahatan dengan Sarana Non-Penal ...22

2. Upaya Penanggulangan Kejahatan dengan Menggunakan Hukum Pidana (Penal) ...24

C. Tugas Pokok Kepolisian ...25

D. Pengertian Premanisme ...30

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum ...33

III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ...36

B. Sumber dan Jenis Data ...36

(45)

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ...39

E. Analisis Data ...40

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden ...41

B. Upaya Kepolisian Dalam Menanggulangi Kejahatan yang

Dilakukan oleh Kelompok Preman di Lampung ...42 1. Upaya Non-Penal ...43 2. Upaya Penal ...50 C. Faktor-Faktor yang Menjadi Penghambat Dalam

Penanggulangan Kejahatan yang Dilakukan oleh Kelompok

Preman di Lampung ...54

V. PENUTUP

A. Kesimpulan ...62

B. Saran ...63

(46)

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Barda Nawawi. 1996. Upaya Non Penal Dalam Kebijakan Penanggulangan Kejahatan.Semarang.

Kusumah, Mulyana W. 1984. Kriminologi dan Masalah Kejahatan (Suatu Pengantar Ringkas).Armco. Bandung.

Muladi dan Barda Nawawi Arief. 1992. Teori dan Kebijakan Pidana. Alumni. Bandung.

Rahardjo, Satjipto. 1982. Hukum. Kekerasan dan Penganiayaan. Masalah-Masalah Hukum Nomor 1-6 tahun ke-XII.PT Ghalia Indonesia. Jakarta.

Simanjuntak, B. 1979. Pengantar Kriminilogi dan Patologi Sosial. Tarsito. Bandung.

Soehartono, lrawan. 1999. Metode Penelitian Sosial. Alumni. Bandung.

Soekanto, Soerjono. 1984. Penelitian Hukum Normatif. Rajawali Press. Jakarta.

________________. 1984. Pengantar Penelitian Hukum. UI Press. Jakarta

________________. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sudarto. 1986. Hukum dan Hukum Pidana. Alumni. Bandung.

Suhartono. 1995. Bandit-Bandit Pedesaan di Jawa studi Historis 1850-1912. Aditya Media. Yogyakarta.

Surayin. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Yrama Widya. Bandung.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

(47)

Sinar Harapan. Edisi 11 Oktober 2008.

Sinar Harapan. Edisi 10 November 2008.

Buras. Premanisme, Isme tanpa Ideologi!. http://www.lampungpost.com.

Everd Nandya Prasetya, RR. Sukma Dian dan Yulfi Zahara. Premanisme di Indonesia. http://belanegarari.wordpress.com.

Indosiar. Puluhan Preman Dijaring Petugas. http://www.indosiar.com.

Irjen Pol (P) Drs. Budi Utomo. Penanggulangan Kejahatan Jalanan dan Premanisme. http://jurnalsrigunting.wordpress.com.

Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih. Polda Lampung Akan Berantas Premanisme. http://www.poskotanews.com.

Kusumo, Andreas. Referensi Untuk Pembuatan Skripsi Hukum Terbaik dan Terlengkap. http://petirskripsihukum.blogspot.com.

Taufan Symposion, Upaya Non-penal Dalam Menanggulangi Kejahatan, http://kilometer25.blogspot.com.

(48)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel Laporan Harian Hasil Kegiatan Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) II Krakatau 2012 di Kota Bandarlampung

(49)

UPAYA KEPOLISIAN DALAM MENANGGULANGI KEJAHATAN YANG DILAKUKAN OLEH KELOMPOK PREMAN

(Studi Kasus di Polda Lampung)

Oleh

BAMBANG SEPRIYANTO

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(50)

Judul Skripsi :Upaya Kepolisian Dalam Menanggulangi Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Kelompok Preman (Studi Kasus di Polda Lampung)

Nama Mahasiswa :Bambang Sepriyanto

Nomor Pokok Mahasiswa :0912011304

Bagian :Hukum Pidana

Fakultas :Hukum

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Tri Andrisman, S.H.,M.Hum. Maya Shafira, S.H.,M.H.

NIP. 19611231 198903 1 023 NIP. 19770601 200501 2 002

2. Ketua Bagian Hukum Pidana

Diah Gustiniati, S.H.,M.Hum.

(51)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua :Tri Andrisman, S.H.,M.Hum. ...

Sekertaris :Maya Shafira, S.H.,M.H. ...

Penguji Utama :Diah Gustiniati, S.H.,M.Hum. ...

2. Dekan Fakultas Hukum

Dr. Heryandi, S.H.,M.S.

NIP. 19621109 198703 1 003

(52)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sungai Liat Bangka pada tanggal 8

September 1990, yang merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara,

buah hati pasangan M. Marzuki, S.H. dan Marliyana, S.Pd. yang

diberi nama Bambang Sepriyanto.

Penulis menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 30 Tanjungpandan

Belitung yang selesai pada Tahun 2002. Setelah menyelesaikan pendidikan

sekolah dasar, penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah Pertama

Negeri 2 Tanjungpandan Belitung yang penulis selesaikan pada Tahun 2005.

Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah Atas Negeri

1 Tanjungpandan Belitung yang selesai pada Tahun 2008.

Pada tahun 2009 penulis tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...