BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1 Definisi Rumah Sakit(2)
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
2.2 Visi dan Misi Rumah Sakit(3)
Agar suatu rumah sakit yang berhasil dalam pelayanannya secara menyeluruh maka diperlukan suatu perencanaan strategis, yaitu suatu proses yang dilakukan rumah sakit dalam mengembangkan visi, misi, menetapkan tujuan jangka panjang, pengembangan program strategis, penetapan prioritas, analisis SWOT, analisis celah, masalah strategis, rencana tindakan terpadu, dan penerapan.
Visi merupakan pernyataan tetap (permanen) untuk mengkomunikasikan sifat dari keberadaan rumah sakit, berkenaan dengan maksud, lingkup usaha atau kegiatan dan kepemimpinan kompetitif, memberikan kerangka kerja yang mengatur hubungan antara rumah sakit dengan “stakeholders” utamanya, dan untuk menyatakan tujuan luas dari unjuk kerja rumah sakit.
Misi merupakan suatu pernyataan singkat dan jelas tentang alasan keberadaan rumah sakit, maksud, atau fungsi yang diinginkan untuk memenuhi pengaharapan dan kepuasan konsumen dan metode utama untuk memenuhi maksud tersebut.
2.3 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit 2.3.1 Tugas Rumah Sakit(2)
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dinyatakan dalam pasal 4 bahwa rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.
2.3.2 Fungsi Rumah Sakit(2)
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun2009 tentang Rumah Sakit, dinyatakan dalam pasal 5 bahwa fungsi rumah sakit adalah :
1.Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
2.Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
3.Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dan pemberi pelayanan kesehatan 4.Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
2.4 Klasifikasi Rumah Sakit( 2, 3, 7 )
i) Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan
a. Rumah sakit umum, yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, Rumah sakit umum diklasifikasikanmenjadi :
1. Rumah sakit umum kelas A, harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 pelayanan medik spesialis dasar, 5 pelayanan spesialis penunjang medik, 12 pelayanan medik spesialis lain dan 13 pelayanan medik sub spesialis.
2. Rumah sakit umum kelas B, harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 pelayanan medik spesialis dasar, 4 pelayanan spesialis penunjang medik, 8 pelayanan medik spesialis lainnya dan 2 pelayanan medik subspesialis dasar. 3. Rumah sakit umum kelas C, harus mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 pelayanan medik spesialis dasar dan 4 pelayanan spesialis penunjang medik.
4. Rumah sakit umum kelas D, harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayananmedik paling sedikit 2 pelayanan medik spesialis dasar.
b. Rumah sakit khusus, yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainnya.Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, rumah sakit khusus diklasifikasikanmenjadi :
1. Rumah Sakit Khusus Kelas A 2. Rumah Sakit Khusus Kelas B 3. Rumah Sakit Khusus Kelas C
ii) Berdasarkan pengelolaannya.
b. Rumah sakit privat, yang dikelola oleh badan hukum yang bertujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero.
iii) Berdasarkan afiliasi pendidikan
a. Rumah sakit pendidikan, yang menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikanprofesi kedokteran, pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya
b. Rumah sakit non pendidikan, yang tidak memiliki program pelatihan residensi dan tidak ada afiliasi dengan Universitas.
iv) Berdasarkan Kapasitas Tempat Tidur 1. Di bawah 50 tempat tidur,
2. 50-99 tempat tidur, 3. 100-199 tempat tidur, 4. 200-299 tempat tidur, 5. 300-399 tempat tidur, 6. 400-499 tempat tidur, 7. 500 tempat tidur dan lebih.
v) Berdasarkan kepemilikan
umumnya beroperasi bukan untuk maksud membuat laba, tetapi adalah nirlaba. Rumah sakit nirlaba mencari laba sewajarnya saja, dan laba yang diperoleh rumah sakit ini digunakan sebagai modal peningkatan sarana fisik, perluasan dan penyempurnaan mutu pelayanan untuk kepentingan penderita.
2.5 Struktur Organisasi Rumah Sakit(2,8)
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009, tentang rumah sakit. Setiap rumah sakit memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel. Organisasi rumah sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan, susunan organisasi rumah sakit berdasarkan kelas nya adalah sebagai berikut :
i) Rumah Sakit Umum Kelas A
1. RSU Kelas A dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama.
2. Direktur Utama membawahi paling banyak 4 (empat) Direktorat. 3. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Bidang
atau 3 (tiga) Bagian.
4. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi. 5. Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga)
Subbagian.
ii) Rumah Sakit Umum Kelas B Pendidikan
1. RSU Kelas B Pendidikan dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama.
2. Direktur Utama membawahi paling banyak 3 (tiga) Direktorat. 3. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Bidang
4. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi. 5. Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga)
Subbagian.
iii) Rumah Sakit Umum Kelas B Non Pendidikan
1. RSU Kelas B Non Pendidikan dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama.
2. Direktur Utama membawahi paling banyak 2 (dua) Direktorat.
3. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Bidang atau 3 (tiga) Bagian.
4. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi. 5. Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Subbagian iv) Rumah Sakit Umum Kelas C
1. RSU Kelas C dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur. 2. Direktur membawahi paling banyak 2 (dua) Bidang dan 1 (satu)
Bagian.
3. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi 4. Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Subbagian.
v) Rumah Sakit Umum Kelas D
1. RSU Kelas D dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur. 2. Direktur membawahi 2 (dua) Seksi dan 3 (tiga) Subbagian. 3. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi 4. Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Subbagian.
vi) Rumah Sakit Khusus Kelas A
1. RSK Kelas A dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama.
2. Direktur Utama membawahi paling banyak 4 (empat) Direktorat 3. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak 3 (tiga)
Bidang atau 3 (tiga) Bagian
4. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi 5. Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga)
Subbagian.
vii) Rumah Sakit Khusus Kelas B
1. RSK Kelas B dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur Utama.
2. Direktur Utama membawahi paling banyak 2 (dua) Direktorat 3. Masing-masing Direktorat terdiri dari 2 (dua) Bidang atau 2 (dua)
Bagian
4. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 (tiga) Seksi 5. Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 (tiga)
viii) Rumah Sakit Khusus Kelas C
1. RSK Kelas C dipimpin oleh seorang Kepala disebut Direktur. 2. Direktur membawahi 2 (dua) Seksi dan 3 (tiga) Subbagian.
2.6 Akreditasi Rumah Sakit(9,10)
Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan, rumah sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 tahun sekali. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 012 Tahun 2012 tentang Akreditasi Rumah Sakit, akreditasi rumah sakit adalah pengakuan terhadap rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang berlaku untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit secara berkesinambungan. Standar pelayanan rumah sakit yang dimaksud adalah semua standar pelayanan yang berlaku di rumah sakit antara lain standar prosedur operasional, standar pelayanan medis, dan standar asuhan keperawatan. Akreditasi bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, meningkatkan keselamatan pasien rumah sakit, meningkatkan perlindungan bagi pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan rumah sakit sebagai institusi, serta mendukung program pemerintah di bidang kesehatan.
Akreditasi dapat berupa Akreditasi Nasional dan Akreditasi Internasional, dimana rumah sakit wajib mengikuti Akreditasi Nasional.
i) Akreditasi Standar Nasional
Standar nasional dilakukan oleh suatu lembaga independen yaitu KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) secara berkala minimal tiga tahun sekali.Penetapan status Akreditasi Nasional dilakukan oleh lembaga independen pelaksana akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri.
Tingkat kelulusan standar nasional :
3. Tingkat lengkap : 16 jenis pelayanan memenuhi standar
Pelayanan yang dimaksud adalah perawatan, unit gawat darurat, administrasi manajemen, pelayanan medik, rekam medik, laboratorium klinik/anatomi, radiologi/kedokteran nuklir, gizi, farmasi, perinatologi, dan resiko infeksi tinggi, kamar operasi, rehabilitasi medik, pengendalian infeksi, rawat intensif, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), pelayanan darah.
ii) Akreditasi Standar Internasional
Rumah sakit yang akan mengikuti Akreditasi Internasional harus sudah mendapatkan status Akreditasi Nasional. Akreditasi Internasional hanya dapat dilakukan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang sudah terakreditasi oleh International Society for Quality in Health Care. Salah satu dari lembaga independen yang terpercaya dalam melakukan akreditasi adalah Joint Commission International atau disingkat (JCI).
Komponen utama akreditasi :
1. Standar kepedulian terhadap pasien
2. Standar manajemen rumah sakit yang baik 3. Berfokus pada keselamatan pasien
4. Upaya pencapaian tujuan pembangunan melienium (MDG’s)
Tingkat kelulusan akreditasi internasional dibagi menjadi empat kategori : 1. Rumah sakit tingkat pertama
2. Rumah sakit tingkat madya 3. Rumah sakit tingkat utama 4. Rumah sakit tingkat paripurna
Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) adalah organisasi yangmewakili hubungan komunikasi antara para staf medisdengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri daridokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada dirumah sakit dan apoteker wakil dari farmasi rumah sakit,serta tenaga kesehatan lainnya.Tujuan PFT, yaitu:
1. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya.
2. Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan.
Susunan kepanitian PFT serta kegiatan yang dilakukan bagi tiap rumah sakitdapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakitsetempat. PFT harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) dokter, apoteker dan perawat. Untuk rumah sakit yang besar tenaga dokter bisa lebih dari 3 (tiga) orang yangmewakili semua staf medis fungsional yang ada.Ketua PFT dipilih dari dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika rumah sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka diangkat sebagai ketua.Sekretarisnya adalah apoteker dari instalasi farmasi atau apoteker yang ditunjuk.
Dalam merumuskan kebijaksanaan penggunaan obat, PFT harus memperhatikan isi dan perubahan-perubahan mengenai pedoman kebijaksanaan organisasi profesional. Fungsi dan ruang lingkup kerja PFT antara lain sebagai berikut:
1. Mengembangkan formularium di rumah sakit dan merevisinya. Pemilihan obat untuk dimasukan dalam formularium harus didasarkanpada evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama.
2. Panitia Farmasi Terapi (PFT) harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.
3. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang termasuk dalam kategori khusus.
4. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku secara lokal maupun nasional. 5. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan
mengkaji medical record dibandingkan dengan standar diagnosa dan terapi. Tinjauan ini dimaksudkan untuk meningkatkan secara terus menerus penggunaan obat secara rasional.
6. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.
7. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis dan perawat.
2.8 Sistem Formularium dan Formularium Rumah Sakit 2.8.1 Sistem Formularium(3)
penderita. Hanya obat yang terpilih yang disediakan secara rutin di IFRS. Jadi, dengan adanya sistem formularium, mutu dan harga obat yang digunakan di rumah sakit dapat dikendalikan. Sistem formularium menetapkan pengadaan, penulisan, “dispensing”, dan pemberian suatu obat dengan nama dagang atau obat dengan nama generik apabila obat itu tersedia dalam dua nama tersebut. Salah satu karakteristik penting dari suatu sistem formularium ialah bahwa sistem itu mencerminkan pertimbangan klinik mutakhir dari staf medik rumah sakit tempat sistem itu diterapkan. Sistem tersebut harus lentur dan dinamis. Hasil utama dari pelaksanaan sistem formularium adalah formularium rumah sakit.
2.8.2 Formularium(3,4)
Formularium adalah dokumen berisi kumpulan produk obat yang dipilih PFT disertai informasi tambahan penting tentang penggunaan obat tersebut, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang relevan untuk rumah sakit tersebut, yang terus menerus direvisi agar selalu akomodatif bagi kepentingan penderita dan staf profesional pelayanan kesehatan, berdasarkan data konsumtif dan data morbiditas serta pertimbangan klinik staf medik rumah sakit itu. Formularium harus lengkap, ringkas dan mudah digunakan karena formularium merupakan sarana bagi staf medik, IFRS dan perawat dalam menggunakan sistem formularium. Manfaat dibuatnya suatu formularium antara lain:
1. Meningkatkan mutu dan ketepatan penggunaan obat di RS.
2. Merupakan bahan edukasi bagi professional kesehatan tentang terapi obat yang rasional.
3. Memberikan rasio manfaat-biaya yang tertinggi, bukan hanya sekedar mencari harga obat termurah
5. Memuat sejumlah pilihan terapi obat yang jenisnya dibatasi sehingga professional kesehatan dapat mengetahui dan mengingat obat yang digunakan secara rutin.
6. IFRS dapat melakukan pengelolaan obat secara efektif dan efisien Pedoman Penggunaan Formularium :
1. Membuat kesepakatan antara staf dan berbagai disiplin ilmu dengan PFT dalam menentukan kerangka mengenai tujuan, organisasi, fungsi dan ruang lingkup. Staf medik harus mendukung sistem formularium yang disusun oleh PFT
2. Staf medik harus dapat menyesuaikan sistem yang berlaku dengan kebutuhan tiap-tiap institusi.
3. Staf medik harus menerima kebijakan dan prosedur yang ditulis oleh PFT untuk menguasai sistem Formularium yang dikembangkan oleh PFT.
4. Nama obat yang tercantum dalam formularium adalah nama generik. 5. Membatasi jumlah produk obat yang secara rutin tersedia di Instalasi
Farmasi.
6. Membuat prosedur yang mengatur pendistribusian obat generik yang efek terapinyasama, seperti:
a. Apoteker bertanggung jawab untuk menentukan jenis obat generik yang sama untuk disalurkan kepada dokter sesuai produk asli yang diminta.
b. Dokter yang mempunyai obat pilihan terhadap obat paten tertentu harus didasarkan pada pertimbangan Farmakologi dan Terapi. c. Apoteker bertanggung jawab terhadap kualitas, kuantitas, dan
sumber obat dari sediaan kimia, biologi, dan sediaan farmasi yang digunakan oleh dokter untuk mendiagnosa dan mengobati pasien .
2.9 Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang dimaksud dengan instalasi farmasi adalah bagian dari rumah sakit yang bertugas menyelenggarakan, mengatur, dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di rumah sakit.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dapat didefinisikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional, tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggungjawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri atas pelayanan paripurna, mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/sediaan farmasi, dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan, pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit, pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis, mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan.
2.9.2 Tugas dan Tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit(4)
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, pelayanan farmasi memiliki tugas pokok yaitu :
1. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal.
2. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi.
3. Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
5. Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku. 6. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi. 7. Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi.
8. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit.
Adapun tujuan dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit yaitu :
1. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia.
2. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi.
3. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat. 4. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku. 5. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa,telaah dan
evaluasi pelayanan.
6. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan.
7. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatanmetoda.
2.9.3 Fungsi IFRS(4)
i) Pengelolaan Perbekalan Farmasi
1. Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit
2. Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal 3. Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada
perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku 4. Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di rumah sakit
6. Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian
7. Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit
ii) Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan
1. Mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien
2. Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan
3. Mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat dan alat kesehatan
4. Memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan
5. Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga
6. Memberi konseling kepada pasien/keluarga 7. Melakukan pencampuran obat suntik 8. Melakukan penyiapan nutrisi parenteral 9. Melakukan penanganan obat kanker
10.Melakukan penentuan kadar obat dalam darah 11.Melakukan pencatatan setiap kegiatan
12.Melaporkan setiap kegiatan
2.9.4 Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit(3, 4)
masyarakat. Farmasi rumah sakit bertanggungjawab terhadap semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit tersebut.
i) Pengelolaan perbekalan farmasi a. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalahkesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihanterapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihandengan memprioritaskan obat esensial, standarisasisampai menjaga dan memperbaharui standar obat.Penentuan seleksi obat merupakan peran aktif apotekerdalam Panitia Farmasi dan Terapi untuk menetapkankualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksipembelian.
b. Perencanaan
c. Pengadaan
Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yangtelah direncanakan dan disetujui, melalui :
1. Pembelian, dapat secara tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi) atau secara langsung dari pabrik/distributor/PBF/rekanan.
2. Produksi/pembuatan sediaan farmasi (produksi steril dannon steril)
3. Sumbangan/droping/hibah
d. Produksi
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, danpengemasan kembali sediaan farmasi steril atau nonsteriluntuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumahsakit.Kriteria obat yang diproduksi :
1. Sediaan farmasi dengan formula khusus 2. Sediaan farmasi dengan harga murah
3. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil 4. Sediaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran 5. Sediaan farmasi untuk penelitian
6. Sediaan nutrisi parenteral dan rekonstruksi sediaan obat kanker
e. Penerimaan
Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasiyang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian,melalui
pembelian langsung, tender, konsinyasi
bersumber dari distributor utama, harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS), khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of origin dan Expire date minimal 2 tahun.
f. Penyimpanan
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasimenurut persyaratan yang ditetapkan dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya, menurut suhunya, kestabilannya, mudah tidaknya meledak/terbakar, tahan/tidaknya terhadap cahayadisertai dengan sistem informasi yang selalu menjaminketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.
g. Pendistribusian
Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi dirumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapibagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untukmenunjang pelayanan medis.Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untukdijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan : efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada, metode sentralisasi atau desentralisasi, sistem floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi.
Sistem Distribusi Obat (SDO) di rumah sakit adalah tatanan jaringan sarana, personel, prosedur, dan jaminan mutu yang serasi, terpadu dan berorientasi pasien dalam kegiatan penyampaian sediaan obat beserta informasinya kepada pasien. Jenis sistem distribusi obat untuk pasien rawat inap pada dasarnya ada beberapa jenis yaitu:
Resep individual adalah order atau resep yang ditulis dokter untuk tiap pasien. Dalam sistem ini perbekalan farmasi disiapkan dan didistribusikan oleh IFRS sesuai yang tertulis pada resep.
2) SDO Persediaaan Lengkap di Ruang (Floor Stock/FS)
Pada sistem distribusi obat persediaan lengkap diruang, semua obat yang dibutuhkan pasien tersedia dalam ruang penyimpanan obat diruang tersebut, kecuali obat yang jarang digunakan atau obat yang sangat mahal. Definisi dari sistem distribusi persediaan lengkap di ruang adalah tatanan kegiatan penghantaran sediaan obat sesuai dengan yang ditulis dokter pada order obat, yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dan dengan mengambil dosis atau unit obat dari wadah persediaan yang langsung diberikan kepada pasien di ruang itu.
3) SDO Dosis Unit
Obat unit dosis adalah obat yang diorder oleh dokter untuk penderita, terdiri atas satu atau beberapa jenis obat yang masing-masing dalam kemasan dosis unit tunggal dalam jumlah persediaan yang cukup untuk waktu tertentu. Sistem distribusi obat dosis unit adalah metode dispensing dan pengendalian yang dikoordinasikan IFRS dalam rumah sakit. Sistem dosis unit dapat berbeda dalam bentuk tergantung pada kebutuhan khusus rumah sakit.
Didefinisikan sebagai sistem distribusi yang menerapkan sistem distribusi resep/order individual sentralisasi, juga menerapkan distribusi persediaan di ruangan yang terbatas.
ii) Pelayanan Kefarmasian Dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan
Adalah pendekatan profesional yang bertanggung jawab dalammenjamin penggunaan obat dan alat kesehatan sesuai indikasi, efektif,aman dan terjangkau oleh pasien melalui penerapan pengetahuan,keahlian, ketrampilan dan perilaku apoteker serta bekerja sama denganpasien dan profesi kesehatan lainnya.Tujuan :
1. Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan pelayanan farmasi di rumah sakit
2. Memberikan pelayanan farmasi yang dapat menjamin efektifitas,
3. Keamanan dan efisiensi penggunaan obat
4. Meningkatkan kerjasama dengan pasien dan profesi kesehatan lainyang terkait dalam pelayanan farmasi
5. Melaksanakan kebijakan obat di rumah sakit dalam rangkameningkatkan penggunaan obat secara rasional
a. Pengkajian Resep
Kegiatan dalam pelayanan kefarmasian yang dimulai dari seleksi persyaratan administarasi, persyaratan farmasi dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
b. Dispensing
label/etiket, penyerahan obat dengan pemberian informasi obat yang memadaidisertai sistem dokumentasi.Dispensing dibedakan berdasarkan atas sifat sediaannya :
1. Dispensing sediaan farmasi khusus
1) Dispensing sediaan farmasi parenteral nutrisi
Merupakan kegiatan pencampuran nutrisi parenteral yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih secara aseptissesuai kebutuhan pasien dengan menjaga stabilitassediaan, formula standar dan kepatuhan terhadapprosedur yang menyertai.
2) Dispensing sediaan farmasi pencampuran obat steril Melakukan pencampuran obat steril sesuai kebutuhan pasien yang menjamin kompatibilitas, dan stabilitas obatmaupun wadah sesuai dengan dosis yang ditetapkan.
2. Dispensing Sediaan Farmasi Berbahaya
Merupakan penanganan obat kanker secara aseptis dalamkemasan siap pakai sesuai kebutuhan pasien oleh tenagafarmasi yang terlatih dengan pengendalian pada keamananterhadap lingkungan, petugas maupun sediaan obatnya dariefek toksik dan kontaminasi, dengan menggunakan alatpelindung diri, mengamankan pada saat pencampuran,distribusi, maupun proses pemberian kepada pasien sampaipembuangan limbahnya.Secara operasional dalam mempersiapkan dan melakukan harus sesuai prosedur yang ditetapkan dengan alat pelindung diri yang memadai, sehingga kecelakaan terkendali.
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obatyang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosisnormal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis diagnosis dan terapi.
d. Pelayanan informasi obat
Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Apotekeruntuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias dan terkinikepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya danpasien.
e. Konseling
Merupakan suatu proses yang sistematik untuk mengidentifikasidan penyelesaian masalah pasien yang berkaitan denganpengambilan dan penggunaan obat pasien rawat jalan dan pasienrawat inap.
f. Pemantauan kadar obat dalam darah
Melakukan pemeriksaan kadar beberapa obat tertentu ataspermintaan dari dokter yang merawat karena indeks terapi yangsempit.
g. Ronde/Visite pasien
Merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama timdokter dan tenaga kesehatan lainnya.
h. Pengkajian penggunaan obat