• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Sumber Daya Guru Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan Sumber Daya Guru Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

JURUS

FAKULT

UNIVERSITAS

Mochamad Guntur

NIM 107018203381

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN

ULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

TAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULL

JAKARTA

2014

RUAN

(2)
(3)
(4)

ii

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa salalu penulis

uncapkan sebagai ungkapan rasa syukur atas segala limpahan nikmat, rahmat dan

anugrah-Nya kepada penulis, sehingga dapat terselesaikan sebuah karya kecil

berupa skripsi ini sebagai persyaratan dalam mendapatkan gelar Sarjana

Pendidikan (S.Pd) yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi diri penulis

khususnya dan umumnya bagi seluruh pembaca karya ini.

Penulis sadar bahwa dalam proses penyelesaian skripsi ini banyak pihak

yang telah memberikan bimbingan serta bantuan baik moril maupun materil

kepada penulis. Sudah menjadi kepatutan sebagai rasa terimakasih yang

sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada semua pihak yang berjasa yaitu:

1. Nurlena Rifa’i, MA., Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Hasyim Asy’ari, M.Pd., Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Zahruddin, Lc., M.Pd. selaku pembimbing yang telah memberikan

pengarahan, motivasi, dan juga waktu yang telah diberikan sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Drs. Muarif Syam, M.Pd. yang selalu memberikan semangat serta

memotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. R.R. Qodir Rais Bidadara, S.Pd. selaku Kepala Sekolah MA. Miftaahul

Hudaa Depok, serta seluruh dewan guru dan stafnya yang telah

memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut,

sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini.

6. Terlebih orang tuaku yang sangat penulis sayangi (Almarhum babe

(5)

iii

penulis pribadi dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kakak tecinta dan seluruh keluarga yang selalu menasehati dan

memberikan cinta kasihnya dalam keluarga.dan adik ku Vittha Hanafiyah

9. Pimpinan PT. Idea Crative Convek Bapak Amirullah (bang Aming) dan

mpok Devi yang telah memberikan kesempatan bekerja sama dan

memberikan kepercayaannya.

10. Sahabat Muhammad Anwar (Bebekz) yang selalu memotivasi.

11. Kepada seluruh teman-teman Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi

(FKMB) dan untuk ketua umum PP. FKMB Nasrullah S.E. dan Ridwan

Darmansyah S.H. dan ketua PW. Tangsel Asnawi yang selalu

memanjatkan do’a dan banyak memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

12. Teman-teman Pencak silat Perisai Putih, Amalos Pribadi, Nurfa Iwan,

Agenk Sulistiono, Bambang, Ady Prasetyo, Tias, Indri, Heri, dan Hilda

yang selalu menjaga persaudaraannya.

13. Teman-teman MP baik kelas A maupun B senang dapat berjuang bersama

kalian yang selalu indah untuk dikenang dan tidak bisa penulis lupakan

dalam menggapai semua cita-cita kita ini. Thank’s for All.

14. Kepada kawan-kawan Komfakmad (Komisariat fakultas Madura). Gus

Yudhi, Retno, Soleh, Kolee, Haji Sobrek, Jhopay yang telah banyak

memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

Jakarta, 18 April 2014

(6)
(7)

Jakarta.

Dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional yang telah dijabarkan dalam visi, misi, dan tujuan sekolah, perlu dilakukan suatu pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru, selain agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, pengembangan kompetensi juga dilakukan untuk membentuk guru profesional.

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini, penulis menggambarkan fenomena-fenomena yang terkait dengan pengembangan sumber daya manusia yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, diperoleh data upaya pengembangan yang dilaksanakan oleh Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok. Upaya-upaya tersebut diantaranya, workshop metodologi pengajaran, diskusi dan stadium general, dan pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dari hasil penelitian ysng telah dikemukakan di atas, Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok memiliki kesadaran untuk terus mengembangkan kompetensi para guru demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dengan cara melakukan upaya pengembangan yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, ada beberapa hambatan yang ditemui, salah satunya adalah masalah finansial. Hal membuat para guru kerap kali merasa bosan karena lokasi kegiatan pengembangan yang selalu bertempat di gedung Madrasah tersebut.

(8)

iv

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB 1 : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Rumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 7

BAB 2 : LANDASAN TEORI A. Manajemen Sumber Daya Manusia ... 8

1. Pengertian Manajemen SDM ... 8

2. Fungsi Manajemen SDM ... 10

3. Ruang Lingkup MSDM ... 11

4. Tujuan MSDM ... 12

B. Pengembangan ... 12

1. Pengertian Pengembangan ... 12

2. Prinsip dalam Pelatihan dan Pengembangan ... 15

3. Tujuan Pengembangan SDM ... 19

4. Jenis-Jenis Pengembangan ... 21

5. Prosedur Pelaksanaan Pengembangan SDM ... 23

6. Kendala-Kendala Pengembangan ... 31

C. Guru ... 32

1. Pengertian Guru ... 32

2. Peran Guru ... 33

(9)

v

B. Tujuan Penelitian ... 39

C. Metode Penelitian ... 39

D. Sumber Data ... 40

E. Teknik Pengumpulan Data ... 40

F. Teknik Analisis Data ... 42

BAB 4 : HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa 45 1. Profil Madrasah ... 45

2. Visi dan Misi Madrasah ... 46

3. Keadaan Tenaga Kerja ... 46

4. Struktur Organisasi ... 47

5. Fasilitas ... 48

6. Keadaan Siswa ... 49

7. Prestasi ... 49

B. Deskripsi dan Analisa Data ... 50

1. Jenis-Jenis Pengembangan Sumber Daya Guru ... 50

2. Tahap-Tahap Pengembangan Sumber Daya Guru 55 3. Manfaat Pengembangan Sumber Daya Guru ... 71

4. Hambatan Pengembangan Sumber Daya Guru ... 72

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 73

B. Saran ... 74

(10)
(11)

1

Pengembangan merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan sumber daya manusia baik baru maupun lama yang dibutuhkan

untuk suatu pekerjaan baik untuk saat ini atau untuk masa yang akan datang.

Usaha tersebut dilakukan melalui peningkatan dan kemampuan kerja yang

dimiliki sumber daya manusia dengan cara menambahkan pengetahuan dan

keterampilan serta merubah karakter dan sikap sumber daya manusia yang

dibutuhkan di bidang pekerjaan tersebut.

“Setiap organisasi tentunya memiliki keinginan untuk memiliki sumber

daya manusia (SDM) yang cakap, terampil, serta dapat bekerja dengan baik demi

mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. Demikian halnya dengan sekolah,

sekolah merupakan sebuah organisasi, yakni unit sosial yang sengaja dibentuk

oleh beberapa orang yang satu sama lain berkoordinasi dalam melaksanaan

pekerjaannya untuk mencapai tujuan bersama”.1 Sekolah merupakan lembaga

yang bertugas memberikan pelayanan jasa pendidikan kepada masyarakat.

Sekolah bertugas membantu orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan

pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap anak sebagai bekal hidup di

masyarakat atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebagai lembaga pendidikan formal, penyelenggaraan dan pengelolaan

sekolah harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan nasional. Adapun,

fungsi dan tujuan pendidikan Nasional menurut Undang-Undang Republik

Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah sebagai

berikut:

1

(12)

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”2

Dalam hal ini, untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional yang telah

dijabarkan dalam visi, misi, dan tujuan sekolah, perlu dilakukan suatu

pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru, selain agar dapat

mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat,

pengembangan kompetensi juga dilakukan untuk membentuk guru professional.

Guru profesional tidak dilahirkan, tetapi dibentuk oleh suatu pengalaman

belajar yang bermutu. Pendidikan guru harus mampu menyediakan pengalaman

yang bermutu. Demikian juga, sekolah tempat guru bekerja memiliki budaya

mutu, sehingga guru dan calon guru menyadari pentingnya pembelajaran seumur

hidup (lifelong learning). Akan tetapi untuk menjadikan guru yang profesional

dan berkualitas tidaklah mudah, reformasi pendidikan di Indonesia berjalan

lambat salah satunya disebabkan karena guru. Banyak guru tidak suka

perubahan. Inginnya kurikulum dan cara mengajarnya tetap seperti yang

sudah-sudah. Banyak pelatihan guru dilakukan, tetapi banyak yang setelah kembali

tetap menjalankan tugas seperti sebelum berangkat pelatihan. Itu sebabnya

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dicanangkan pemerintah

tidak berjalan mulus. Di banyak daerah, guru-guru masih bingung dan tidak

menjalankan KTSP, meski sudah banyak mendapatkan pelatihan.

Dengan kemajuan zaman dan tantangan zaman yang makin pesat sekarang

ini, guru idealnya tetap terus belajar, kreatif mengembangkan diri, terus

menyesuaikan pengetahuan dan cara mengajar mereka dengan penemuan baru

dalam dunia pendidikan, psikologi, dan ilmu pengetahuan. Namun, harapan ini

2

(13)

kerap kandas, karena guru kurang semangat untuk memajukan diri dan tidak

banyak yang terus belajar lagi, akibatnya pendidikan di Indonesia terbelakang.

Diperlukan adanya pengembangan sumber daya guru dengan menempuh

pendidikan dan latihan keterampilan yang memenuhi syarat dengan tujuan

pembinaan guru yang dilaksanakan secara terarah, terencana, dan

berkesinambungan agar dapat meningkatkan kualitas guru sebagai pengabdian

kepada sekolah dan masyarakat. Diharapkan dengan pelatihan ini dapat

memberikan bekal bagi sumber daya guru untuk menguasai bidang ilmu yang

dipelajari di dalam upaya pengembangan.

Dengan adanya upaya pengembangan dalam bentuk pendidikan dan

pelatihan ini, guru diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan yang

selama ini dipandang masyarakat cukup rendah dan mencerdaskan kehidupan

bangsa. Hal ini dikarenakan bermutu atau tidaknya suatu sekolah atau lembaga

pendidikan bergantung pada kadar kualitas tenaga pendidik, yaitu guru. Kadar

kualitas tenaga pendidik merupakan faktor utama dalam usaha meningkatkan

mutu pendidikan sekolah yang pada gilirannya akan mempengaruhi kemajuan

masyarakat.

Masalah mutu pendidikan hingga saat ini masih menjadi suatu

problematika yang bersifat umum, karena pada saat orang membicarakan mutu

pendidikan, tidak kelihatan jelas ukuran mutu yang sebenarnya. Namun

sebenarnya ada beberapa indikator kelemahan guru dalam menjalankan tugasnya

sebagai pendidik, sebagai berikut:

“Terdapat tujuh indikator yang menunjukkan rendahnya kinerja guru dalam

melaksanakan tugas utamany mengajar, yaitu: (a) rendahnya pemahaman tentang

strategi pembelajaran, (b) kurangnya kemahiran dalam mengelola kelas, (c)

(14)

(Classroom Action Research), (d) rendahnya motivasi berprestasi, (e) kurang

disiplin, (f) rendahnya komitmen profesi, (g) rendahnya kemampuan manajemen

waktu.”3

Dalam menjalankan tugas sebagai pendidik, guru wajib memiliki keahlian

yang memadai. Sebagaimana yang tertera dalam Undang-undang Republik

Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di dalam pasal 8 “guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan, sehat

jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan

nasional.”4 Dalam hal ini, kompetensi yang dimaksud meliputi kompetensi

kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi

profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Selain kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi, ada beberapa karakteristik

yang harus dimiliki oleh seorang guru, diantaranya:

1. Kematangan diri yang stabil; memahami diri sendiri, mencintai diri secara

wajar, dan memiliki nila-nilai kemanusiaan serta bertindak sesuai dengan

nilai-nilai itu sehingga dia bertanggung jawab sendiri atas hidupnya, tidak

menggantungkan diri atau menjadi beban orang lain.

2. Kematangan sosial yang stabil; dalam hal ini, seorang pendidik dituntut

mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masyarakatnya, dan memiliki

kecakapan membina kerja sama dengan orang lain.

3. Kematangan profesional (kemampuan mendidik); yakni menaruh perhatian

dan sikap cinta terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang

3

E. Mulyasa,Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2008), Cet. 3, h. 9.

4

(15)

cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya, memiliki

kecakapan dalam menggunakan cara-cara mendidik.5

Dari uraian di atas telah jelas bahwa pengembangan kompetensi guru

merupakan hal penting yang harus dilakukan agar guru selalu memiliki sikap

terbuka dan dapat mengikuti perkembangan dalam dunia pendidikan. Dimana

pada dasarnya kegiatan tersebut dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan

pengetahuan, keterampilan, sikap, dan sifat-sifat kepribadian yang data

membangkitkan semangat untuk bekerja secara profesional.

Kebutuhan pengembangan kompetensi guru sangat dirasakan oleh

guru-guru di Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok. Hal tersebut dapat diamati

dari segi; (a) kurikulum, kurangnya pemahaman guru terhadap kurikulum KTSP

dan penyusunan program kerja guru, silabus, dan RPP; (b) kegiatan belajar

mengajar, masih terdapat beberapa guru yang belum dapat melaksanakan

kegiatan belajar mengajar secara maksimal; (c) kesiswaan, minimnya prestasi

yang diperoleh siswa, (d) kualifikasi akademik guru, dari tenaga pendidik masih

terdapat guru yang belum lulus S1, terdapat guru yang berlatar belakang bukan

dari bidang pendidikan, dan terdapat guru yang mengajar tidak sesuai dengan

bidang keahliannya.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penulis

tertarik untuk meneliti lebih lanjut dan menuangkannya dalam dalam sebuah

karya ilmiah yang berjudul “Pengembangan Sumber Daya Guru Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok”.

Penulis menganggap bahwa guru perlu dikembangkan dan dilatih

sedemikan rupa agar sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Dan sistem

5

(16)

pengembangan sumber daya guru di Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok

dapat menjadi acuan dalam pelaksanaannya.

B. Identifikasi Masalah

Berdasakan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka dapat

diidentifikasi masalah yang dianggap penting sebagai berikut:

1. Belum terlaksananya pengembangan yang baik dilakukan sekolah maupun

di luar sekolah.

2. Prosedur pelaksanaan pengembangan sumber daya guru yang dilakukan

MA. Miftaahul Hudaa

3. Penerapan metode dalam pelaksanaan pengembangan sumber daya guru.

4. Kendala kendala yang dihadapi dalam pengembangan sumber daya guru.

C. Pembatasan Masalah

Agar masalah penelitian ini terfokuskan lebih spesifik, serta untuk

menghindari terjadinya tumpang tindih dengan masalah lain di luar wilayah

penelitian, maka penelitian ini dibatasi pada prosedur pelaksanaan pengembangan

sumber daya guru di lingkungan Madrasah Aliyah Miftaahul Hudaa Depok.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka penulis merumuskan masalah dalam

penelitian dalam penyusunan skripsi sebagai berikut “Bagaimana proses

pelaksanaan pengembangan sumber daya guru?”.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang ingin dicapai oleh peneliti diantaranya:

1. Teoritis

(17)

ruang lingkup SDM khususnya dalam pengembangan sumber daya guru.

2. Praktis

Hasil Penelitian ini diharpkan dapat sebagai bahan masukan untuk lembaga

(18)

8

1. Pengertian Manajemen SDM

Setelah melalui proses perekrutan, penyeleksian, dan diangkat, maka

selanjutnya tugas manajemen SDM adalah mengembangkan pengetahuan dan

keterampilan sumber daya manusia agar sesuai dengan bidang pekerjaan dan

sasaran organisasi. Pengembangan meliputi pelatihan untuk peningkatan

keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan tertentu maupun pendidikan

untuk meningkatkan pengetahuan umum dan pemahaman atas keseluruhan

ruang lingkup bidang pekerjaan.1 Hal ini dilakukan selain untuk memperbaiki

kinerja SDM, namun juga untuk kepentingan kemajuan oraganisasi.

Dalam perkembangannya, manajemen SDM mengalami perubahan yang

sangat radikal yang menjebol sistem lama kemudian membangun sistem baru

dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Revolusi manajemen sumber daya

manusia ialah menjebol sistem MSDM lama (SDM tradisional) kemudian

membangun sistem MSDM baru (SDM profesional) dalam waktu yang

sesingkat-singkatnya. SDM tradisional berpandangan bahwa SDM adalah alat

produksi untuk menciptakan laba, sedangkan SDM profesional berpandangan

bahwa SDM adalah subyek yang menciptakan laba dan nilai tambah

ekonomi.2 Dalam hal ini, perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap

kualitas SDM yang ada, SDM bukan hanya di tuntut untuk bekerja namun,

mereka juga diberi kesempatan untuk mngembangkan diri mereka.

1

Suhendra dan Murdiyah Hayati, Manajemen Sumber Daya Manusia,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006),Cet 1, h. 65.

2

(19)

Menurut Malayu Hasibuan, “manajemen sumber daya manusia adalah

ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan

efisien membantu terwujudnya tujuan organisasi, sumber daya guru, dan

masyarakat”.3 Adapun menurut Suhendra “manajemen sumber daya manusia

adalah suatu proses memperoleh, melatih, menilai, dan memberikan

kompensasi kepada sumber daya guru, memperhatikan hubungan kerja

mereka, kesehatan dan keamanan, serta masalah keadilan.”4 Sedangkan

menurut Anwar Prabu Mangkunegara “manajemen sumber daya manusia

merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian,

pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian

balas jasa, pengitergrasian, pemeliharaan, dan pemisah tenaga kerja dalam

rangka mencapai tujuan organisasi.”5

Jadi, dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah

suatu proses yang perlu dilalui oleh suatu organisasi yang meliputi

pengembangan, penilaian, pemberian kompensasi, kepada sumber daya

manusia, perhatian terhadap hubungan kerja, kesehatan dan keamanan serta

masalah keamanan demi mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Kegiatan pengembangan SDM, dalam hal ini sumber daya guru,

meliputi 3 aspek yaitu: perencanaan, pengembangan, serta evaluasi. Ketiga

aspek ini sangat penting untuk dilakukan untuk meningkatkan kualitas

sumber daya manusia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber

daya guru dalam mengembangkan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman

dan kemajuan karirnya.

3

Malayu S. P. Hasibuan,Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2000), h. 10.

4

Suhendra dan Murdiyah Hayati,Op. Cit., h. 25.

5

Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, (Bandung:

(20)

2. Fungsi Manajemen SDM

“Secara garis besar, fungsi manajemen SDM terbagi menjadi fungsi

utama yaitu, fungsi manajerial dan fungsi operasional”.6

Dalam memperbaiki kualitas SDM, organisasi perlu meningkatkan mutu

dan produktifitas SDM itu sendiri. Mutu ialah kepuasan pelanggan,

produktivitas ialah output dibagi input atau efektifitas di bagi efisiensi. Semua

sumber daya manusia harus mengenal teori mutu dan produktifitas karena

merekalah pihak yang menciptakan barang dagangan untuk pasar (pelanggan)

melalui kerja yang efektif dan efesien.

Untuk meningkatkan mutu dan produktifitas, tim kerja harus berdiskusi

minimum satu jam setiap minggu untuk memecahkan masalah yang dihadapi

dan untuk merencanakan kerja waktu mendatang. Diskusi ini bisa dipandu

oleh konsultan, auditor, dan pengendali mutu. Di dalam diskusi, setiap

masalah yang dihadapi harus dianalisis dan dicari jalan pemecahannya.

“Manajer harus bertindak sebagai penanggung jawab mutu, mulai dari

mutu SDM, mutu material, mutu alat produksi, mutu proses bisnis internal,

dan mutu bisnis eksternal. Ia harus bertanggung jawab atas mutu mulai dari

pra-proses, proses, sampai kepuasan pelanggan.”7 Apabila ada salah satu

tahapan yang di abaikan oleh seorang, maka perusahaan tersebut akan

mengalami kebangkrutan ataupun kehancuran karena hasil output tidak

meksimal.

6

Veithzal Rivai, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 14.

7

(21)

3. Ruang Lingkup MSDM

“Pengembangan mempunyai ruang lingkup lebih luas dalam upaya

pengadaan sumber daya manusia, pengembangan, kompensasi, hubungan

perburuhan, dan keselamatan kerja.”8 Sejak tahun 1970, istilah manajemen

SDM muncul menggantikan istilah manajemen personalia. istilah baru ini

mencerminkan sudut baru yang lebih luas yang memasukkan isu seperti

kesehatan dan keselamatan lebih jauh lagi, manajemen SDM telah diakui

sebagai sumber keunggulan kompetitif.

Hakikat MSDM ialah tindakan mengelola SDM dalam mengunakan alat

kerja untuk mencapai sasaran kerja dalam suatu organisasi. Tiga unsur utama

dalam suatu organisasi adalah:

(1) Sasaran kerja, suatu organisasi mempunyai sasaran yang ingin di capai;

dalam organisasi bisnis sasaran yang ingin di capai adalah LABA, nilai

ekonomi dan memaksimumkan nilai.

(2) Alat kerja, untuk mencapai sasaran kerja dibutuhkan alat kerja yang

terdiri dari; model, ilmu, teknologi, dan informasi, alat kerja lazim di

sebut input yang di proses tenaga kerja menjadi output.

(3) Tenaga kerja, untuk mencapai sasaran kerja dibutuhkan SDM yang

mampu mengoperasikan alat kerja secara efektif, efesien, dan

produktif.9

Ketiga unsur diatas merupakan unsur yang sangat vital dan tidak dapat

dipisahkan satu sama lain untuk mencapai tujuan organisasi yang telah

ditetapkan.

8

Wilson Bangun,Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2012), h. 21.

9

(22)

4. Tujuan MSDM

Departemen SDM pada intinya berada dalam suatu organisasi untuk

mendukung para manajer dan sumber daya manusia dalam melaksanakan

strategi-strategi organisasi. Departemen SDM menyediakan 3 bentuk bantuan

kepada manajer pelaksana (operating manager) yaitu berupa perlayanan

khusus (specific services), saran/nasihat (advice) dan koordinasi

(coordination). Tujuan manajemen SDM, diantaranya:

a. Tujuan organisasional, ditujukan untuk dapat mengenali keberadaan

manajemen SDM dalam memberikan kontribusi pada pencapaian

efektivitas organisasi.

b. Tujuan fungsional, untuk mempertahankan kontribusi departemen pada

tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

c. Tujuan sosial, untuk secara etis dan sosial merespon terhadap kebutuhan

dan tantangan masyarakat melalui tindakan meminimalisi dampak negatif

terhadap organisasi.

d. Tujuan personal, untuk membantu sumber daya guru dalam pencapaian

tujuannya, minimal tujuan-tujuan dapat mempertinggi kontribusi

individual terhadap organisasi.10

Dengan adanya peran MSDM sebagai pendukung para manajer dalam

melaksanakan strategi organisasi, maka organisasi dapat dengan mudah

mengidentifikasi masalah yang muncul dalam sebuah organisasi

B. Pengembangan

1. Pengertian Pengembangan

Malayu Hasibuan berpendapat bahwa “pengembangan adalah suatu

usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual, dan moral

10

Anwar Prabu Mangkunegara,Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,(Bandung:

(23)

sumber daya guru sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/jabatan melalui

pendidikan dan pelatihan.”11

Sedangkan menurut Anwar Prabu Mangkunegara “pengembangan

merupakan suatu proses pendidikan jangka panjang yang mempergunakan

prosedur sistematis dan terorganisir dimana pegawai manajerial memepelajari

pengetahuan konseptual dan teoritis guna mencapai tujuan yang umum.”12

Dengan pengertian tentang pengembangan diatas, maka penulis dapat

menyimpulkan bahwa pengembangan adalah suatu usaha untuk

meningkatkan kualitas melalui proses pendidikan maupun pelatihan.

Membangun pengetahuan para sumber daya manusia merupakan tugas

pokok manajer. Manajer harus mengadakan pendidikan secara terstruktur

untuk meningkatkan pengetahuan para sumber daya manusia. Setiap ada

perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para sumber

daya manusia harus dididik agar mereka mampu mengoperasiakan metode

kerja dan alat kerja yang baru. Demikian juga setiap ada perkembangan

informasi baru, para sumber daya manusia juga harus dididik agar mampu

menggunakan informasi untuk mengambil keputusan. Sumber daya manusia

sebagai subjek dalam proses kerja merupakan unsur pokok yang harus

dikembangkan pengetahuannya, makin tinggi pengetahuan mereka maka

makin efektif dan efesien mereka bekerja, dan selanjutnuya dapat

meningkatkan produktifitas kerja mereka.13 Sebaliknya, jika manajer

mengabaikan pentingnya upaya pengembangan sumber daya manusia

oganisasi dapat terhambat dalam peningkatan produktifitas kerja.

11

Malayu S. P. Hasibuan,Op. Cit.,h. 69.

12

Anwar Prabu Mangkunegara,Op. Cit., h. 44.

13

(24)

Pelatihan (coaching) adalah hubungan kemitraan antara pelatih dan

klien atau pekerja. Proses pelatihan ini memusatkan pada pembelajaran

berkesinambungan, pertumbuhan dan perubahan, yang membawa hasil dalam

pembangunan keterpenuhan sumber daya internal sesorang. Pelatihan

mengarahkan secara langsung atau tidak langsung sekolah dan keinginan

klien untuk meningkatkan motivasi, mencapai tujuan, dan memaksimalkan

potensi.14Hal ini sangat penting dilakukan selain untuk mengevaluasi kinerja

sumber daya manusia, pelatihan atau coaching juga dilakukan untuk

mengembangkan potensi yang dimiliki oleh sumber daya manusia.

R. Wayne Mondy mengatakan bahwa “pelatihan dan pengembangan

adalah jantung dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi

sumber daya manusia dan kinerja organisasi.”15 Hal ini menunjukan begitu

pentingnya upaya pengembangan yan dilakukan oleh suatu organisasi.

Cara meningkatkan SDM tradisional menjadi SDM profesional

tergantung kemampuan tim manajemen organisasi, antara lain:

a. Memberi imbalan yang layak untuk hidup, artinya SDM di beri imbalan

layak terlebih dahulu kemudian di tuntut untuk bekerja sesuai dengan

rencana organisasi.

b. Memberi penghargaan material dan non material (jasa produksi dan surat

penghargaan).

c. Mendidik dan melatih SDM setiap ada rencana perubahan metode kerja,

alat kerja, dan sasaran kerja baru.

d. Mengubah pola pikir lama (kerja untuk upah) menjadi pola pikir baru

(kerja untuk hari depan), artinya bekerja harus berorientasi pada

14

Fransesco Sofo, Perspektif, Peran dan Pilihan Praktis Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Surabaya: Airlangga University Press, 2003), cet I, h. 170.

15

(25)

mewujudkan bakat dan pengetahuannya, bukan sekedar mencari upah,

oleh sebab itu organisasi menyelenggarakan DIKLAT.16

Cara-cara diatas tidak dapat dilakukan oleh semua organisasi karena

setiap organisasi memiliki masalah dan tujuan yang berbeda sehingga perlu

dilakukan cara peningkatan yang berbeda pula.

2. Prinsip dalam Pelatihan dan Pengembangan

Andrew E. Sikula mengemukakan ada 24 prinsip belajar dalam

pelatihan dan pengembangan, yaitu:

a. All human being can learn. Individual of all ages and of various

intellectual capacities have the ability to learn new behaviors. (Semua

manusia dapat belajar. Individu dari semua umur dengan kapasitas

intelektual yang bermacam-macam mempunyai kemampuan untuk

mempelajari perilaku-perilaku baru).

b. An individual must be motivated to learn. This motivation may exists in

a variety of forms, such as self-actualization, promotional possibilities,

or financial incentives. However, most learning motivation is

self-motivation. (Seorang individu harus bermotivasi untuk aktualisasi diri,

promosi, insentif berupa uang. Bahkan motivasi belajar kebanyakan

merupakan motivasi diri).

c. Learning is active, not passive. Effective education requires action and

involvement from all participants. (Belajar adalah suatu kegiatan aktif,

bukan pasif. Pendidikan yang efektif menuntut aksi dan melibatkan

semua peserta pelatihan/pengembangan).

d. Learners may acquire knowledge more rapidly with guidance.

Feedback is necessary because trial and error are too time consuming

16

(26)

and inefficient. (Peserta dapat memperoleh pengetahuan lebih cepat

dengan bimbingan. Umpan balik sangat diperlukan karena belajar

dengan trial and error terlalu banyak memerlukan waktu dan tidak

efisien).

e. Appropriate materials should be provided. Educators should possess a

reasonable repertoire of training tools and materials, such as cases,

problems, discussion questions, and readings. (Materi yang sesuai

harus diberikan. Pengajar harus memiliki alat-alat pelatihan dan

materi-materi yang cukup lengkap, seperti kasus-kasus, masalah-masalah,

pertanyaan-pertanyaan untuk diskusi, dan bahan bacaan).

f. Time must be provided to practice the learning. Part of the learning

process requires a great deal of time for students’ internalization,

assimilation, testing, acceptance, and confidence. (Waktu harus

diberikan untuk dapat menerapkan pelajaran. Sebagian dari proses

belajar menuntut waktu banyak peserta untuk mencerna, menilai,

menerima, dan meyakini materi pelajaran).

g. Learning methods should be varied. Variety should be introduced to

affect fatigue and boredom. (Metode-metode belajar harus bervariasi.

Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya kelelahan dan

kebosanan).

h. The learner must secure satisfaction from the learning. Education must

fulfill human needs, desires, and expectations. (Peserta harus

memperoleh kepuasan belajar. Pendidikan harus memenuhi

kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, dan harapan-harapan peserta).

i. Learners need reinforcement of correct behavior. Positive and

immediate rewards reinforce and cement desired behaviors. (Peserta

memerlukan penguat dari perilaku yang tepat. Hadiah-hadiah positif

(27)

j. Standards of performance should be set for the learner. Goals or bench

mark should be established so that individuals can judge their

educational achievements and progress. (Standar prestasi harus

ditentukan untuk peserta. Tujuan-tujuan harus ditetapkan, sehingga

peserta dapat menilai prestasi pendidikan dan kemajuan mereka).

k. Different levels of learning exist. Learning may involve wareness,

changed attitudes, or changed behavior. Some learning involves mental

processes, while other instructional activities concentrate on physical

maneuvers. Different time and method requirements are needed to

bring about different levels of learning. (Taraf nyata belajar

berbeda-beda. Belajar dapat melibatkan kesadaran, perubahan sikap atau

perubahan perilaku. Beberapa orang belajar dengan melibatkan proses

mental, aktivitas belajar lainnya berhubungan dengan fisik. Waktu dan

metode yang berbeda-beda diperlukan untuk mengatasi taraf belajar

yang berbeda-beda).

l. Learning is an adjustment on the part of an individual. Actual learning

represents a change in the student, and all changes require adjustment.

(Belajar merupakan suatu penyesuaian diri dari individu. Belajar

menimbulkan perubahan pada yang bersangkutan dan semua perubahan

itu memerlukan penyesuaian diri).

m. Individual differences play a large part in the effectiveness of the

learning process. What can be learned easily by some individuals may

be very difficult for other because of differences in basic abilities or

cultural backgrounds. (Perbedaan individu berperan besar dalam

efektifitas belajar. Apa yang dapat dipelajari dengan mudah oleh

beberapa individu mungkin sangat sukar bagi orang lain karena

perbedaan dasar kemampuan dan latar belakang budaya).

n. Learning is a cumulative process. An individual reaction in any lesson

(28)

and experience.(Belajar adalah suatu proses kumulatif. Reaksi individu

terhadap suatu pelajaran dikondisikan dan dimodifikasi oleh apa yang

telah dipelajari pada pelajaran-pelajaran sebelumnya dan pengalaman.

o. Ego involvement is widely regarded as a major factor in learning. Each

participant learns most when he sees the training opportunity as

related to the attainment of his personal goals.(Keterlibatan ego adalah

faktor utama dalam belajar. Setiap peserta akan belajar lebih banyak

bilamana ia melihat adanya hubungan antara kesempatan pelatihan

dengan tercapainya tujuan-tujuan pribadinya).

p. The rate of learning decreases when complex activities. (Kecepatan

belajar akan menurun bilamana menyangkut skill yang kompleks. Skill

yang sederhana dapat dipelajari lebih mudah dan cepat daripada

aktivitas yang kompleks).

q. Learning is closely related to attention and concentration. The learning

process is more effective if distractions are avoided. (Belajar

berhubungan erat dengan perhatian dan konsentrasi. Proses belajar akan

lebih efektif jika tidak ada gangguan).

r. Learning involves long-term retention and immediate acquisition of

knowledge. Such retention is encouraged by understanding,

emphasizing, and repeating. (Belajar meliputi ingatan jangka panjang

dan penguasaan segera dari pengetahuan. Ingatan dapat diperkuat

dengan pemahaman dan pengulangan).

s. There upward spurts of understanding followed by plateaus in the

curve of learning. New knowledge is always gathered in a sporadic

fashion.(Ada arah ke atas grafik proses belajar dan diikuti dengan garis

mendatar dalam kurva belajar. Pengetahuan baru selalu terkumpulkan

walaupun biasanya jarang terjadi).

t. Accuracy generally deserves more emphases than speed during the

(29)

to control. (Ketelitian patut mendapatkan penekanan lebih banyak

daripada kecepatan selama proses belajar. Kecepatan dapat

ditingkatkan, tetapi ketelitian lebih sukar dikontrol).

u. The law of effect states that a particular response becomes more

certain the more often it occurs. In other words, repetition tends to fix

the response or adjustment. (Hukum pengaruh menyatakan bahwa

jawaban yang tepat terhadap sesuatu masalah menjadi lebih pasti

semakin ia timbul. Dengan kata lain, pengulangan cenderung

memantapkan suatu jawaban atau suatu penyesuaian).

v. Sleep affects learning. Sleeping immediately following (but not during)

a learning experience often improves retention. (Tidur mempengaruhi

belajar. Tidur segera setelah satu pengalaman belajar sering

meningkatkan ingatan).

w. Learning should be reality based. Education should be highly related to

the learner’s life experiences. (Belajar harus didasarkan dengan

kenyataan. Pendidikan harus berhubungan erat dengan pengalaman

hidup pelajar).

x. Learning should be goal oriented. Specific purposes and rewards

affiliated with the learning effort generally enhance educational

attainment endeavors. (Belajar harus berorientasi pada tujuan.

Tujuan-tujuan khusus dan hadiah yang berhubungan dengan usaha belajar pada

umumnya memperlancar mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan).17

Prinsip-prinsip diatas perlu dilakukan oleh semua organisasi agar

kegiatan pelatihan atau pengembangan dapat berjalan dengan optimal.

3. Tujuan Pengembangan SDM

17

Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,(Bandung:

(30)

Pengembangan sumber daya manusia bertujuan dan bermanfaat bagi

organisasi, sumber daya manusia itu sendiri, konsumen, atau masyarakat

yang mengkonsumsi barang/jasa yang dihasilkan organisasi.

Menurut Hasibuan, tujuan pengembangan hakikatnya menyangkut

hal-hal berikut:

a. Produktifitas kerja.

Dengan pengembangan, produktifitas kerja sumber daya manusia akan

meningkat kualitas dan kuantitas produksi semakin baik, karena

technical skill, human skill, dan managerial skill sumber daya manusia

semakin membaik.

b. Efisiensi

Pengembangan sumber daya manusia bertujuan untuk meningkatkan

efisiensi tenaga, waktu, bahan baku, dan mengurangi ausnya

mesin-mesin. Pemborosan berkurang, biaya produksi relatif kecil sehingga

daya saing organisasi semakin besar.

c. Kerusakan

Pengembangan sumber daya manusia bertujuan untuk mengurangi

kerusakan barang, produksi, dan mesin-mesin karena sumber daya

manusia semakin ahli dan terampil dalam melaksanakan pekerjaannya.

d. Kecelakaan

Pengembangan bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan sumber

daya manusia, sehingga jumlah biaya pengobatan yang dikeluarkan

organisasi berkurang.

e. Pelayanan

Pengembangan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih

baik dari sumber daya manusia kepada nasabah organisasi, karena

pemberian pelayannan yang baik merupakan daya penarik yang sangat

penting bagi rekanan organisasi bersangkutan.

(31)

Dengan pengembangan, moral sumber daya manusia akan lebih baik

karena keahlian dan keterampilannya sesuai dengan pekerjaannya

sehingga mereka antusias untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan

baik.

g. Karier

Dengan pengembangan, kesempatan untuk meningkatkan karier

sumber daya manusia semakin besar, karena keahlian, keterampilan,

dan prestasi kerjaanya lebih baik.promosi ilmiah biasanya di dasarkan

kepada keahlian dan prestasi kerja seseorang.

h. Konseptual

Dengan pengembangan, manajer semakin cakap dan cepat sambil

mengambil keputusan yang lebih baik karena technical skill, human

skill, danmanagerial skill-nya lebih baik.

i. Kepemimpinan

Dengan pengembangan, kepemimpinan seorang manajer akan lebih

baik, human relations-nya lebih luwes, motivasinya lebih terarah

sehingga pembinaan kerjasama vertikal dan horizontal semakin

harmonis.

j. Balas jasa

Dengan pengembangan, balas jasa (gaji, upah insentif, dan benifits)

sumber daya manusia akan meningkat karena prestasi kerja mereka

semakin besar.

k. Konsumen

Pengembangan sumber daya manusia akan memberikan manfaat yang

baik bagi masyarakat konsumen karena mereka akan memperoleh

barang atau pelayanan yang lebih bermutu.18

18

(32)

Kegiatan pelatihan/pengembangan tidak dilakukan setelah timbul

masalah dalam organisasi. Justru kegiatan pelatihan/pengembangan ini

dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan masalah yang akan timmbul

dalam suatu organisasi.

4. Jenis-Jenis Pengembangan

Menurut Malayu Hasibuan, jenis pengembangan di kelompokkan atas

pengembangan secara informal dan pengembangan secara formal.

a. Pengembangan secara informal, yaitu sumber daya manusia atas

keinginan dan usaha sendiri melatih dan mengembangkan dirinya dengan

mempelajari buku-buku literatur yang ada hubungannya dengan

pekerjaan atau jabatannya. Pengembangan secara informal menunjukan

bahwa sumber daya manusia tersebut berkeinginan keras untuk maju

dengan cara meningkatkan kemampuan kerjanya. Hal ini bermanfaat

bagi organisasi karena prestasi kerja sumber daya manusia semakin

besar, di samping efisiensi dan produktivitasnya juga semakin baik.

b. Pengembangan secara formal, yaitu sumber daya manusia ditugaskan

organisasi untuk mengikuti pendidikan atau latihan, baik dilakukan

organisasi maupun yang dilaksanaakan oleh lembaga-lembaga

pendidikan atau pelatihan. Pengembangan secara formal dilakukan

organisasi karena tuntutan pekerjaan saat ini ataupun masa datang, yang

bersifat nonkarier atau peningkatan karier seorang sumber daya

manusia.19

Semua jenis pengembangan yang telah dikemukakan di atas sama

pentingnya untuk dilakukan oleh tiap sumber daya manusia.

Perbedaannya, pengembangan informal dapat dilakukan di mana saja dan

kapan saja oleh sumber daya manusia. Sedangkan, pengembangan

19

(33)

formal waktu, tempat,dan materi pelatihan sudah ditentukan oleh

organisasi.

5. Prosedur Pelaksanaan Pengembangan SDM

Dalam pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia, ada beberapa

tahapan yang perlu ditempuh oleh organisasi, diantaranya perencanaan,

pelaksanaan, hingga yang terakhir evaluasi.20

a. Perencanaan

“Perencanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta dan

membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang

akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan

kegiatan-kegiatan yang yang diperlukan untuk mencapai hasil yang

diinginkan.”21 Tahap ini merupakan tahap awal dari kegiatan

pengembangan. Jika tahap ini diabaikan atau tidak dirumuskan secara

matang, maka besar kemungkinan pelaksanaan kegiatan

pengembangan tidak dapat terlaksana dengan optimal. Tahap dalam

perencanaan pelatihan dan pengembangan, diantaranya:

(1) Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan/pengembangan

(2) Menetapkan sasaran dan tujuan pelatihan/pengembangan

(3) Menetapkan metode pelatihan

(4) Mengadakaan percobaantry outdan revisi

(5) Mengimplementasikan dan mengevaluasi.

Tahap-tahap ini perlu dilakukan untuk menciptakan perencanaan

pengembangan yang baik dan matang. Apabila ada salah satu tahapan

yang diabaikan dalam proses perencanaan ini, maka pelaksanaan

kegiatan pengembangan akan terkendala.

20

Anwar Prabu Mangkunegara,Op.Cith. 30.

21

(34)

McGehee merumuskan prinsip-prinsip perencanaan pelatihan dan

pengembangan sebagai berikut:

a) Materi yang di berikan harus secara sistematis dan berdasarkan tahapan-tahapan.

b) Tahapan-tahapan tersebut harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak di capai.

c) Penatar harus mampu memotivasi dan menybarkan respon yang berhubungan dengan serangkaian materi pelajaran.

d) Adanya penguat (reinforcement) guna membangkitkan respon positif peserta.

e) Menggunakan konsep pembentukan (shaping) perilaku.22

Dalam proses perencanaan perlu diperhatikan pula prinsip-prinsip

perencanaan, agar proses perencanaan dapat terlaksana dengan baik

dan terarah.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan pengembangan harus di dasarkan pada metode-metode

yang telah ditetapkan dalam progam pengembangan organisasi. Program

pengembangan ditetapkan oleh penanggung jawab pengembangan, yaitu

manajer personalia atau suatu tim. Dalam program pengembangan telah

di tetapkan, sasaran, proses, waktu, dan metode pelaksanaannya. Supaya

lebih baik, program ini hendaknya disusun oleh manajer personalia dan

atau suatu tim serta mendapat saran, ide, maupun kritik bersifat

konstruktif.

Malayu Hasibuan mengklasifikasi metode-metode pengembangan

harus didasarkan kepada sasaran yang ingin dicapai. Metode

pengembangan tersebut terdiri atas metode latihan atau training dan

metode pendidikan ataueducation.

22

(35)

Latihan/training diberikan kepada sumber daya manusia

operasional, sedangkan pendidikan/education di berikan kepada sumber

daya manusia manajerial.23 Metode-metode latihan menurut Andrew F.

Sikula, diantaranya:

(1) On the job

Hampir 90 persen dari pengetahuan pekerjaan diperoleh melalui metode on the job training. Prosedur metode ini adalah informal, observasi sederhana serta praktis. Pegawai mempelajari jobnya dengan mengamati peilaku pekerja lain yang sedang bekerja. Aspek-aspek lain darion the job trainingadalah lebih formal dalam format. Pegawai senior memberikan contoh cara mengerjakan pekerjaan dan training baru memperhatikannya. Metode on the job training dapat pula menggunakan peta-peta, gambar-gambar, sampel masalah, dan mendemontrasikan pekerjaan agar pegawai barudapat memahaminya dengan jelas. Fungsi dari metode on the job training antara lain supervisor mampu menarik simpati pegawai peserta pelatihan, maka dari itu supervisorharus terlatih secara memadai. Metode on the job training sangat tepat, cocok untuk mengajarkan pengetahuan, skill yang dapat dipelajari dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Hanya saja peserta peserta pelatihan dalam metode on the job trainingharus dilakukan pada waktu yang yang sama dan untuk job yang sama pula. On the job training sangat tepat pula di gunakan untuk pelatihan yang semi skill, seperti pekerja klerk, sales atau pramuniaga. Manfaat dari metode on the job trainingadalah peserta belajar dengan perlengkapan yang nyata dan dalam lingkungan pekerjaan yang jelas.

(2) Vestibule

Suatu vestibule adalah suatu ruangan isolasi atau terpisah yang digunakan untuk tempat pelatihan bagi pegawai baru yang akan menduduki suatu job. Metode vestibule merupakan metode pelatihan yang sangat cocok untuk banyak peserta (pegawai baru) yang dilatih dengan macam pekerjaan yang sama dan dalam waktu yang sama. Pelaksanaan metodevestibulebiasanya dilakukan dalam beberapa hari sampai beberapa bulan dengan pengawasan instruktur. Misalnya, pelatihan pekerjaan pengetikan, klerk, operator mesin.

(3) Demonstration and Example

Suatu demonstrasi menunjukan dan merencanakan bagaimana suatu pekerjaan atau bagaimana sesuatu itu dikerjakan. Metode

23

(36)

demonstrasi melibatkan penguraian dan memperagakan sesuatu melalui contoh-contoh. Metode ini sangat mudah untuk manajer mengajarkan pegawai baru mengenai aktifitas nyata melalui suatu tahap perencanaan dari “bagaimana dan apa sebab” pegawai mengerjakan apa yang ia kerjakan. Metode demonstrasi merupakan metode training yang sangat efektif karena lebih mudah menunjukkan kepada peserta bagaimana mengerjakan suatu tugas yang akan dikerjakan. Metode demonstrasi biasanya dikombinasikan dengan alat bantu belajar seperti gambar-gambar, teks materi, ceramah, diskusi. Metode demonstrasi dapat juga digunakan untuk tujuan pengembangan manajerial. Sedangkan metode pelatihan contoh dapat digunakan untuk pengajaran operasi mekanik dan hubungan interpersonal. Metode contoh juga sangat cocok untuk mengajarkan hubungan interpersonal, tugas-tugas pekerjaan, tanggung jawab, standar kelompok informal, dan harapan pengawasan. Pelatihan dengan contoh dan manajemen dengan contoh merupakan dua konsep pengajaran yang relevan dan sangat berharga saat sekarang ini.

(4) Simulation

Simulasi adalah suatu situasi atau peristiwa menciptakan bentuk realitas atau imitasi dari realitas. Simulasi ini merupakan penlengkap, sebagai teknik duplikat yang mendekati kondisi nyata pada pekerjaan. Metode simulasi yang popular adalah permainan bisnis (business games). Adapun bentuk-bentuk simulasi lainnya wor and lutt, membuat cangkir kertas, odobocko woraburra, bujur sangkar terpotong, rumor clinic, truk mini, permainan angka, berksire dominoes, bujur sangkar berlubang, legoman, kartu bernomor. Metode simulasi ini merupakan metode pelatihan yang sangat mahal, tetapi sangat bermamfaat dan diperlukan dalam pelatihan.

(5) Apprenticeship

Metode training apprenticeship adalah suatu cara mengembangkan keterampilan (skill) perajin atau pertukangan. Metode ini didasarkan pula padaon the job trainingdengan memberikan petunjuk-petunjuk cara mengerjakaanya. Metode apprenticeship tidak mempunyai standar formal. Pegawai peserta mendapatkan bimbingan umum dan mereka langsung mengerjakan pekerjaannya.

(6) Classroom methods

(37)

tersebut merupakan falsafah, konsep-konsep, sikap, teori-teori, dan kemampuan memecahkan masalah, harus dipelajari. Metode ruang kelas adalah kuliah, konferensi, studi kasus, bermain peran, dan pengajaran berprogram (programmed instruction).

Sedangkan metode pendidikan/development menurut Andrew F. sikula

adalah sebagai berikut:

(a) Training methods atau classroom methods

Beberapa metode pelatihan dapat digunakan pula untuk metode pengembangan. Hal ini karena beberapa pegawai adalah manajer, dan semua manajer adalah pegawai. Metode pelatihan yang sering digunakan dalam pengajaran pengembangan antara lain simulasi, metode konferensi, studi kasus, dan bermain peran.

(b) Understudies

Understudies adalah mempersiapkan peserta untuk melaksanakan pekerjaan atau mengisi suatu posisi jabatan tertentu. Peserta pengembangan tersebut, pada masa yang akan datang akan menerima tugas dan bertanggung jawab pada posisi jabatannya. Konsep understudiesmerupakan suatu teknik perencanaan

(c) Job rotation and planne progession (d) Coaching-counseling

(e) Junior board of executive or multiple management (f) Committee assignment

(g) Business games (h) Sensitifity training

(i) Other development methods

Kesalahan dalam menentukan metode pengembangan tidak akan

berpengaruh pada kinerja SDM yang bersangkutan.

Proses atau langkah-langkah pengembangan hendaknya dilakukan

sebagai berikut:

1) Sasaran

(38)

2) Kurikulum

Kurikulum atau mata pelajaran yang akan di berikan harus mendukung tercapainya sasaran dari pengembangan itu. Kurikulum harus ditetapkan secara sistematis, jumlah pertemuan, metode pengajaran, dan sistem evaulasinya harus jelas agar sasaran dari pengembangan itu optimal.

3) Sarana

Mempersiapkan tempat dan alat-alat yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengembangan. Penyediaan tempat dan alat-alat harus didasarkan pada prinsip ekonomi serta berpedoman pada sasaran pengembangan yang ingin di capai. Misalnya, tempat pengembangan hendaknya strategis, tenang, nyaman dan tidak menggangu lingkungan. Dan mesin-mesin yang di gunakan dalam pengembangan sama jenisnya dengan mesin yang akan digunakan dalam bekerja pada organisasi.

4) Peserta

Menetapkan syarat-syarat dan jumlah peserta yang dapat mengikuti pengembangan. Misalnya: usia, jenis kelamin, pengalaman kerja, dan latar belakang pendidikannya. Peserta pengembangan sebaiknya mempunyai latar belakang yang relatif homogen dan jumlahnya ideal, supaya kelancaran pengembangan terjamin.

5) Pelatih/trainer

Menunjuk pelatih atau instruktur yang memenuhi persyaratan untuk mengajarkan setiap mata pelajaran sehingga sasaran pengembangan tercapai. Pengangkatan pelatih atau instruktur harus berdasarkan kemampuan objektif (teoritis dan praktis) bukan berdasarkan kepada kawan atau saudara. Dengan pelatih yang berkualitas akan menghasilkan anak didik yang baik.

6) Pelaksanaan

Melaksanakan proses belajar mengajar artinya setiap pelatih mengajarkan materi pelajaran kepada peserta pengembangan. Proses belajar mengajar harus diakhiri dengan ujian atau evaluasi untuk mengetahui sasaran pengembangan tercapai atau tidak.24

Dalam pelaksanaan pengembangan, langkah-langkah di atas harus

diperhatikan dan sesuai teori yang ada, agar seseuai dengan tujuan dari

pengembangan sumber daya manusia.

24

(39)

c. Evaluasi

Dalam evaluasi pengembangan biasanya dilakukan pengukuran

kinerja yang baik dilakukan dalam internal sekolah maupun dilakukan di

luar sekolah. Dalam upaya mengetahui tingkat pencapaian kinerja guru

yang di gunakan sebagai dasar untuk menilai suatu keberhasilan dan

kegagalan pelaksanaan kegiatan.

“Pengukuran kinerja guru meliputi dua hal yaitu: (1) pengukuran

kinerja kegiatan dalam pencapaian target dari masing-masing kelompok

indikator kegiatan, (2) pengukuran pencapaian sasaran yakni

mengetahui tingkat pencapaian target dari masing-masing indikator

kinerja sasaran.”25 Hal ini dapat mempengaruhi hasil dari

pengembangan karena dalam evaluasi dapat diketahui

kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh sumber daya

manusia.

Goldstein dan Buxton berpendapat bahwa evaluasi pelatihan dapat

dibenarkan pada kriteria (pedoman dari ukuran kesuksesan), dan

rancangan percobaan.

Ada empat kriteria yang dapat digunakan sebagai pedoman dari

ukuran kesuksesan pelatihan, yaitu kriteria pendapat, kriteria belajar,

kriteria perilaku, dan kriteria hasil.

Kriteria pendapat. Kriteria ini didasarkan pada bagaimana pendapat

peserta pelatihan mengenai progam pelatihan yang telah dilakukan. Hal

ini dapat diungkap dengan menggunakan kuesioner mengenai

25

(40)

pelaksanaan pelatihan. Bagaimana pendapat peserta mengenai materi

yang diberikan, pelatih, metode yang digunakan, situasi pelatihan.

Kriteria belajar. Kriteria belajar dapat diperoleh dengan

menggunakan tes pengetahuan, tes keterampilan yang mengukur skill,

dan kemampuan peserta.

Kriteria perilaku. Kriteria perilaku dapat diperoleh dengan

mengunakan tes keterampilan kerja. Sejauh mana ada perubahan peserta

sebelum pelatihan dan setelah pelatihan.

Kriteria hasil. Kriteria hasil dapat dihubungkan dengan hasil yang

diperoleh seperti menekan turnover, berkurangnya tingkat absen,

meningkatnya produktivitas, meningkatnya penjualan, meningkatnya

kualitas kerja dan produksi.26

Hal diatas menjelaskan bahwa suatu kesuksesan dari pengembangan

dapat diketahui melalui empat kriteria tersebut. Sebuah organisasi

dapat menggunakan semua kriteria diatas dan dapat pula menggunakan

sebagian dari kriteria diatas.

6. Kendala-Kendala Pengembangan

Dalam melaksanakan suatu kegiatan, biasanya ada saja hal-hal yang

tidak diinginkan terjadi. Sama halnya dengan kegiatan pelatihan dan

pengembangan, ketidaksesuaian rencana dengan kenyataan bisa saja terjadi

yang dapat menghambat lancarnya kegiatan pelatihan dan pengembangan.

Berikut adalah hal-hal yang menjadi hambatan atau kendala dalam

pelaksanaan pelatihan dan pengembangan, diantaranya:

a. Peserta; dikarenakan latar belakang peserta yang berbeda-beda.

26

(41)

b. Pelatih; berhubungan dengan kecakapan dalam transfer pengetahuan

kepada para peserta.

c. Fasilitas pengembangan; berhubungan dengan sarana dan prasarana yang

digunakan dalam latihan.

d. Kurikulum; kurikulum yang ditetapkan dan diajarkan kurang serasi atau

menyimpang serta tidak sistematik untuk mendukung sasaran yang

diinginkan.

e. Dana pengembangan; dana yang tersedia sangat terbatas sehingga

dilakukan dengan terpaksa bahkan pelatih dan prasarananya kurang.27

Dari kendala-kendala yang telah disebutkan diatas, hal tersebut akan

menghambat kelancaran pelaksanaan pelatihan dan pengembangan sehingga

sasaran atau target yang telah ditetapkan sebelumnya dalam perencanaan

tidak tercapai dengan maksimal.

C. Guru

1. Pengertian Guru

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan “guru

adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya)

mengajar.”28 Pengertian guru menurut Kamus Besar Bahassa Indonesia di

atas, masih sangat umum dan belum bisa menggambarkan sosok guru yang

sebenarnya, sehingga untuk memperjelas gambaran tentang seorang guru

diperlukan definisi-definisi lain.

Sedangkan menurut Undang-Undang Dasar No. 14 Tahun 2005,

pendidik, dalam hal ini guru, adalah pendidik profesional dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

27

Malayu Hasibuan,Op. Cit., h. 85-86.

28

(42)

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini di jalur pendidikan

formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru merupakan orang pertama yang mencerdaskan manusia, orang

yang memberi bekal pengetahuan, pengalaman, dan menanamkan nilai-nilai ,

budaya, dan agama terhadap anak didik. Di lembaga pendidikan, guru menjadi

orang pertama, bertugas membimbing, mengajar, dan melatih anak didik

mencapai kedewasaan.29

Dari definisi-definisi guru yang telah dikemukakan di atas, dapat

disimpulkan bahwa guru adalah seseorang yang memiliki sejumlah tugas

seperti membimbing, mengarahkan, mendidik, melatih, dan mengevaluasi

peserta didik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan

tujuan pendidikan yang telah direncanakan.

2. Peran Guru

Guru memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas

pembelajaran, baik kualitas proses maupun kualitas lulusan. Peran guru tidak

serta merta memiliki ilmu pengetahuan yang cukup akan tetapi memiliki

kepedulian terhadap siswanya.

Gary dan Margaret mengemukakan bahwa guru yang efektif dan

kompeten secara profesional (a)Memiliki kemampuan menciptakan iklim

belajar yang kondusif, (b)Kemampuan mengembangkan strategi dan

manajemen pembelajaran, (c)Memiliki kemampuan memberikan umpan balik

(feedback)dan penguatan (reinforcement), dan (d)Memiliki kemampuan untuk

peningkatan diri.30 Untuk menjadi guru yang efektif dan kompeten secara

29

Martinis Yamin,Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia, (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2007), h. 64

30

(43)

profesional tidak dapat didapatkan secara instan, perlu adanya pengembangan

baik secara informal maupun formal yang dilakukan oleh guru tersebut.

“Menurut Dedy Mulyasana terdapat tiga peran utama guru diantaranya

adalah sebagai pelayan belajar, sebagai model, dan sebagai penunjuk arah.”31

Sedangkan “menurut E. Mulyasa, ada 5 peran dan fungsi guru, diantaranya

sebagai pendidik dan pengajar, sebagai anggota masyarakat, sebagai

pemimpin, sebagai administrator, dan sebagai pengelola pembelajaran.”32

(1) Sebagai pelayan belajar, tugas utama guru bukanlah mengajar dalam arti mengajarkan konsep, teori, dan fakta akademik semata kepada pendidik.

Tugas utama guru adalah membantu kesulitan belajar peserta didik. Tugas

utama guru adalah membantu kesulitan belajar peserta didik dalam

melakukan proses pematangan kualitas dirinya. Upaya itu dilakukan

melalui proses pengajaran, bimbingan, penyuluhan, penerangan, latihan,

dan atau pendekatan lainnya yang memungkinkan peserta didik

melakukan proses pematangan kualitas diri dan kepribadian unggul.

Selaku pelayan belajar guru tidak menempatkan diri sebagai ‘penguasa

kelas’ yang dalam kesehariannya hanya menertibkan dan mencari-cari

kesalahan dan menjatuhkan sanksi kepada peserta didik.

(2) Sebagai model, guru harus tampil menarik di hadapan para peserta didiknya. Guru harus mampu memerankan model belajar yan baik, model

manusia yang berkualitas dan berkepribadian unggul. Seperti yang kita

dengar guru adalah sosok yang di gugu dan ditiru, maka dari itu guru

sebagai model untuk muridnya.

(3) Sebagai penunjuk arah, guru harus lebih tahu dan lebih menguasai konsep, fakta ilmiah, dan teori-teori ilmu pengetahuan yang digelutinya.

Sebagai penunjuk arah, guru harus mampu mengantarkan peserta didik

31

Dedy Mulyasana, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 44.

32

(44)

pada titik yang tepat. Dalam sekolah guru menjadi sosok yang paling

bepengaruh dalam perkembangan anak selain menjadikan sosok yang

teladan seorang guru juga harus mampu memberikan solusi yang terbaik

manakala siswa membutuhkan pemecahan masalah, selain itu seorang

guru harus mampu mengetahui dan mengarah bakat potensi siswannya.

(4) Sebagai pendidik dan pengajar, guru yang berperan sebagai pendidik dan pengajar seyogyanya mampu menjadi contoh bagi siswanya, baik

dalam hal akademik maupun karakter. Guru tidak hanya dituntut untuk

memiliki kemampuan akademik yang baik, namun juga memiliki motivasi

untuk terus mengembangkan diri, melakukan inovasi-inovasi dalam

metode pengajaran, dan kreatif dalam menciptakan media pembelajaran.

(5) Sebagai anggota masyarakat, dalam hal ini, guru harus mampu memahami psikologi sosial, maksudnya, guru mampu membangun

komunikasi yang baik dengan siswa, peka terhadap kesulitan-kesulitan

yang dialami siswa, mampu membangun kerjasama antar guru dalam

menangani masalah yang dihadapi siswa maupun

masalah-masalah dalam bidang pendidikan lainnya.

(6) Sebagai pemimpin, guru sebaiknya mampu menguasai ilmu kepemimpinan, hal ini dimaksudkan karena seorang guru harus memiliki

sikap tegas terhadap para siswa tanpa mengabaikan rasa kasih sayang

kepada siswa.

(7) Sebagai administrator, di dalam sebuah organisasi sekolah, seorang guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar, seorang guru juga harus

mengetahui sistem administrasi sekolah. Dalam hal ini, guru dituntut

untuk memiliki sikap teliti, disiplin, jujur, dan rajin.

(8) Sebagai pengelola pembelajaran, bahwa setiap guru harus mengetahui, mampu menentukan, da mengaplikasikan metode pembelajaran yang

(45)

3. Tanggung Jawab Guru

Di samping guru yang dituntut untuk memiliki peran dalam pelaksanaan

pendidikan di sekolah, guru juga bertanggung jawab dalam membentuk

karakter dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada para siswa. Tanggung jawab

guru dapat dijabarkan kedalam sejumlah kompetensi yang lebih khusus,

diantaranya tanggung jawab moral, tanggung jawab dalam bidang sekolah,

tanggung jawab dalm bidang kemasyarakatan, dan tanggung jawab dalam

bidang pendidikan.33

a. Tanggung jawab moral; dalam hal ini, guru bertanggung jawab untuk

menanamkan norma-norma yang dianut di dalam masyarakat kepada

siswa untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang

dapat kita lihat saat ini, banyak pemberitaan yang menyatakan bahwa

masih banyak siswa yang terlibat tawuran, membunuh temannya karena

alasan sepele, mencuri, bunuh diri dan lain sebagainya. Dari

kejadian-kejadian tersebut, disinilah tanggung jawab para guru untuk menanamkan

sikap kasih sayang antar sesama, menghormati orang yang lebih tua, dan

memiliki budi pekerti yang luhur.

b. Tanggung jawab dalam bidang sekolah; bahwa seorang guru memiliki

kewajiban untuk menguasai administrasi sekolah yang terdiri dari,

kurikulum dan program pembelajaran yang terdiri dari, silabus, RPP,

pemetaan SK dan KD, KKM, dan lain sebagainya.

c. Tanggung jawab dalam bidang kemasyarakatan; setiap guru harus turut

serta dalam pem

d. Bangunan masyarakat. Seorang guru tidak hanya memiliki kemampuan

untuk membimbing siswa, namun juga harus memiliki pengabdian,

mampu melayani masyarakat, dan memiliki dedikasi tinggi dalam

mensukseskan pembangunan kota dimana ia tinggal.

33

(46)

e. Tanggung jawab dalam bidang pendidikan; guru dituntut untuk terus

mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, baik dengan

mengikuti pelatihan, seminar, membaca buku, maupun berdiskusi dengan

sesama guru lainnya.

4. Pengembangan Guru

Guru memang dituntut untuk selalu mengembangkan dirinya, baik

yang mengenai materi pelajaran dari bidang studi yang menjadi wewenangnya

maupun keterampilan guru. Tanpa belajar lagi kemungkinan resiko yang

terjadi ialah tidak tepatnya materi pelajaran yang diajarkan dan metodologi

mengajar yang digunakan.

Guru membutuhkan pengembangan untuk menambah wawasan dan

meningkatkan keterampilan mereka. Pengembangan itu lebih bermanfaat bagi

guru jika memiliki semangat belajar seumur hidup. Semangat belajar harus

melekat dalam diri setiap guru sehingga ia kaya ilmu dan terampil. Belajar

seumur hidup amat penting bagi guru karena pendidikan guru belum bisa

menjamin kompetensi mereka menjadi guru yang profesional.

Guru dapat mengembangkan potensinya melalui belajar dari berbagai

program pengembangan, baik dari sekolah maupun dari luar sekolah. Dengan

demikian, diharapkan guru akan mampu bersikap profesional dalam proses

pendidikan dan pengajaran di kelas. Karena itu, sekolah wajib menyediakan

upaya pengembangan dan sumber belajar demi terbentuknya guru yang

kompeten. Sekolah wajib memiliki manajemen pengembangan kompetensi

guru. Artinya, pengembangan dan sumber belajar itu direncanakan, disusun,

dilaksanakan, dan dievaluasi dengan baik secara berkala.34

34

Gambar

Tabel 3.1 : Kisi-kisi Wawancara .............................................................
Tabel 3.1.Kisi-kisi Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

1) Menterjemahkan visi, misi dan strategi perusahaan. Untuk menentukan ukuran kinerja, visi organisasi perlu dijabarkan dalam tujuan dan sasaran. Visi adalah gambaran

Dalam pengembangan budaya sekolah perlu mengacu pada 10 prnsip dari berpedoman pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah hingga Evaluasi Diri, selain menggunakan 10 prinsip

Tujuan sekolah menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahunan). Mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan

3.4 Kerangka Kelembagaan Balai Pengembangan Kompetensi PUPR Wilayah VIII Makassar dalam kerangka kelembagaan dalam tercapainya visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program,

Yang di perhatikan saat pengimplementasian strategi di SMP PGRI 1 Kota Mojokerto meentukan visi misi karena dapat dikatakan bahwa visi misi dan tujuan lembaga itu

Strategi pembiasaan perilaku religius dalam mengembangkan karakter siswa di sekolah, sebagai dasar strategi oleh pihak sekolah.. awalnya dimulai dari perumusan visi

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia terhadap kinerja guru SMK Negeri 1 Muntok, yang dijabarkan ke dalam tujuan khusus yaitu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1 manajemen sumberdaya manusia telah diterapkan terlihat telah ada program perencanaan untuk pengembangan kompetensi guru, telah dilakukan