FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FENOMENA
UNDERPRICING
PADA PENAWARAN SAHAM PERDANA
DI BURSA EFEK INDONESIA
DENGAN REPUTASI
PENJAMIN EMISI SEBAGAI VARIABEL
MODERATING
TESIS
Oleh
SERNIATI ZEBUA
107017074/Akt
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FENOMENA
UNDERPRICING
PADA PENAWARAN SAHAM PERDANA
DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN REPUTASI
PENJAMIN EMISI SEBAGAI VARIABEL
MODERATING
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Akuntansi pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
SERNIATI ZEBUA
107017074/Akt
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
FENOMENA UNDERPRICING PADA
PENAWARAN SAHAM PERDANA DI BURSA
EFEK INDONESIA DENGAN REPUTASI
PENJAMIN EMISI SEBAGAI VARIABEL
MODERATING Nama Mahasiswa : SERNIATI ZEBUA
Nomor Pokok : 107017074
Program Studi : Ilmu Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA) (Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak Ketua Anggota
)
Ketua Program Studi Direktur
(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA,CPA) (Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang, MSIE)
Telah diuji pada
Tanggal : 07 Nopember 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA
Anggota : 1. Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak
2. Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak
3. Drs. Zainul Bahri Torong, M.Si, Ak
PERNYATAAN
Judul Tesis
âFAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FENOMENA
UNDERPRICING
PADA PENAWARAN SAHAM PERDANA
DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN REPUTASI
PENJAMIN EMISI SEBAGAI VARIABEL
MODERATINGâ
Dengan ini penulis menyatkan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk
memperoleh gelar Magister Akuntansi pada Program Studi Ilmu Akuntansi
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil
karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian
tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis
cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika
penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis
ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian
tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang
penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku.
Medan, 07 Nopember 2012 Penulis,
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FENOMENA
UNDERPRICING
PADA PENAWARAN SAHAM PERDANA
DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN REPUTASI
PENJAMIN EMISI SEBAGAI VARIABEL
MODERATING
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena underpricing yang diwakili oleh informasi akuntansi (Return on Assets, Earning Per Share, Debt Equity Ratio, Size ) dan informasi non akuntansi (Nilai Penawaran Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, serta menguji dan menganalisis apakah reputasi penjamin emisi sebagai variabel moderating mempengaruhi hubungan antara informasi akuntansi dan non akuntansi terhadap fenomena underpricing. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2007-2011, yaitu 102 perusahaan. Sampel penelitian ini adalah perusahaan yang mengalami underpricing pada penawaran saham perdana dan memiliki data laporan keuangan lengkap, yaitu 80 perusahaan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil dokumentasi laporan keuangan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan diolah menggunakan metode uji statistik regresi linier berganda dan uji residual. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa informasi akuntansi (Return on Assets, Earning Per Share, Debt Equity Ratio, Size) dan informasi non akuntansi (Nilai Penawaran Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor) berpengaruh secara simultan terhadap
underpricing sedangkan secara parsial variabel Return on Assets dan Persentase Penawaran Saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap underpricing. Ketika Reputasi penjamin emisi digunakan sebagai variabel moderating, variabel reputasi penjamin emisi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat underpricing. Hal ini berarti tidak memperkuat hubungan antara variabel informasi akuntansi dan non akuntansi terhadap underpricing atau variabel reputasi penjamin emisi bukan merupakan variabel moderating.
SOME FACTORS WHICH INFLUENCE UNDERPRICING
PHENOMENA IN INITIAL PUBLIC OFFERING IN
INDONESIA STOCK EXCHANGE WITH THE
REPUTATION OF EQUITIES UNDERWRITER
AS A MODERATING VARIABLE
ABSTRACT
The aim of the research was to test and to analyze some factors which influence underpricing phenomena represented by accountancy information (Return on Assets, Earning per Share, Debt Equity Ratio, and Size) and by non-accountancy information (Value of Public Offering, Percentage of Public Offering, Types of Industry, and Auditor Reputation), all of which were registered in BEI (Indonesia Stock Exchange). It was also aimed to test and to analyze whether the reputation of equities underwriter as the moderating variable influenced the correlation between accountancy and non-accountancy information and underpricing phenomena. The population of the research was 102 companies which performed initial public offering in BEI from 2007 until 2011. The samples comprised 80 companies which underwent underpricing in the initial public offering and had complete financial report. The data were gathered by taking from financial report documents in BEI and processed by using multiple linear regression statistical tests and residual test. The results of the research showed that accountancy information (Return on Assets, Earning per Share, Debt Equity Ratio, and Size) and non-accountancy information (Value of Public Offering, Percentage of Public Offering, Types of Industry, and Auditor Reputation) simultaneously influenced underpricing, while partially the variables of Return on Assets and Percentage of Public Offering did not significantly influence underpricing. When the reputation of equities underwriter was used as moderating variable, the variable of the reputation of equities underwriter did not significantly influence underpricing. It means that it did not strengthen the correlation between the variable of accountancy and non-accountancy information and underpricing, or the variable of the reputation of equities underwriter was not a moderating variable.
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, Penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada: 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM), Sp.A(K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, selaku Ketua Program Studi Magister Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai dosen pembimbing utama yang telah banyak memberikan motivasi dan pemikiran-pemikiran yang sangat kreaktif sejak awal penulisan proposal hingga penyelesaian tesis ini.
4. Ibu Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan arahan kepada peneliti dalam menyusun tesis ini.
5. Bapak Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak, selaku komisi pembanding yang telah memberikan masukan dan saran-saran kepada peneliti untuk kesempurnaan tesis.
6. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, selaku komisi pembanding yang telah memberikan masukan dan saran-saran kepada peneliti untuk kesempurnaan tesis.
7. Bapak Drs. Zainul Bahri Torong, M.Si, Ak, selaku komisi pembanding yang telah memberikan masukan dan saran-saran kepada peneliti untuk kesempurnaan tesis.
9. Seluruh staf dan pegawai Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah membantu proses penyelesaian administrasi.
10. Secara khusus dan teristimewa kepada orangtua yaitu, ayahanda Faiginaso Zebua yang senantiasa memberikan doa dan dukungan.
11. Abang dan Adik tercinta, yaitu Yulianus Zebua, Serlina Zebua, Asnidar Zebua, dan Emilia Zebua dan seluruh anggota keluarga yang telah banyak membantu , memberi semangat dan dukungan selama pendidikan.
12. Sahabatku Jefri Tampubolon yang telah memberikan bantuan, dukungan dan semangat dalam penulisan tesis ini.
13. Rekan-rekan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yaitu, Victor, Retno, Duma, Enda, Lias, Renika dan rekan lainnya yang tidak dapat disebut namanya satu persatu yang memberikan dukungan hingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua. Amin.
Medan, 07 Nopember 2012 Penulis,
RIWAYAT HIDUP
1. Nama : Serniati Zebua
2. Tempat/Tanggal Lahir : Gunungsitoli, 3 September 1987
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Kristen Protestan
5. Orangtua
a. Bapak : Faiginaso Zebua
b. Ibu : Alm. Merina Harefa
6. Anak ke : 2 dari 5 bersaudara
7. Alamat : Jl. Bunga Cempaka No.18D Medan
8. Pendidikan
a. Pada tahun 2012, lulus dari Sekolah Pascasarjana Akuntansi Universitas
Sumatera Utara, Medan.
b. Pada tahun 2010, lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara, Medan.
c. Pada tahun 2006, lulus dari Sekolah Menengah Umum Swasta Pembda 1,
Gunungsitoli, Nias.
d. Pada tahun 2003, lulus dari Sekolah Menengah Pertama Swasta Bunga
Mawar, Gunungsitoli, Nias.
e. Pada tahun 1997, lulus dari Sekolah Dasar Negeri 2 No. 070975,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I : PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
1.5. Originalitas Penelitian ... 8
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu... 10
2.2. Teori Underpricing... 16
2.2.1. Penawaran Umum di Perdana dan Pasar Sekunder ... 18
2.2.2. Fenomena Underpricing ... 12
2.1.3. Pengertian Underpricing ... 20
2.3. Informasi Akuntansi yang mempengaruhi Underpricing ... 24
2.4. Informasi Non Akuntansi yang Mempengaruhi Underpricing ... 30
2.5. Reputasi Penjamin Emisi ... 36
2.6. Kerangka Berpikir... 39
2.7. Hipotesis Penelitian... 46
BAB III : METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 47
3.2. Jenis Penelitian... 47
3.3. Populasi dan Sampel ... 47
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 48
3.5. Jenis dan Sumber Data... 48
3.6. Identifikasi dan Defenisi Operasional Variabel Penelitian... 49
3.6.1. Underpricing... 49
3.6.2. Variabel Independen... 49
3.6.3 Variabel Moderating... 54
3.7.1. Uji Signifikansi Parameter Individual
(uji statistik t)... 57
3.7.2. Uji Signifikansi Simultan (uji statistik F)... 58
3.7.3. Uji Koefisien Determinasi (R2 3.7.4. Uji Residual... 59
)... 58
3.8. Pengujian Asumsi Klasik... 59
3.8.1 Uji Normalitas... 59
3.8.2. Uji Multikolinearitas... 60
3.8.3. Uji Heterokedastisitas... 61
3.8.4. Uji Autokorelasi ... 62
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian... 64
4.2. Uji Asumsi Klasik Faktor-faktor Informasi Akuntansi dan Informasi Non Akuntansi Sebelum Transformasi... 70
5.3.1. Uji Normalitas Sebelum Transformasi ... 70
5.3.2. Uji Multikolonieritas Sebelum Transformasi... 73
5.3.3. Uji Autokorelasi Sebelum Transformasi ... 73
5.3.4. Uji Heteroskedastisitas Sebelum Transformasi.... 74
4.4. Uji Asumsi Klasik Variabel Reputasi Penjamin Emisi sebagai Variabel Moderating Sebelum Transformasi... 76
5.4.1. Uji Normalitas Sebelum Transformasi ... 76
5.4.2. Uji Multikolonieritas Sebelum Transformasi... 80
5.4.3. Uji Autokorelasi Sebelum Transformasi ... 80
5.4.4. Uji Heteroskedastisitas Sebelum Transformasi.... 81
5.5. Uji Asumsi Klasik Klasik Faktor-faktor Informasi Akuntansi dan Informasi Non Akuntansi Setelah Transformasi... 82
5.5.1. Uji Normalitas Setelah Transformasi ... 82
5.5.2. Uji Multikolonieritas Setelah Transformasi... 85
5.5.3. Uji Autokorelasi Setelah Transformasi ... 85
5.5.4. Uji Heteroskedastisitas Setelah Transformasi.... 86
5.6. Uji Asumsi Klasik Variabel Reputasi Penjamin Emisi sebagai Variabel Moderating Setelah Transformasi... 88
5.5.1. Uji Normalitas Setelah Transformasi ... 88
5.5.2. Uji Multikolonieritas Setelah Transformasi... 97
5.5.3. Uji Autokorelasi Setelah Transformasi ... 90
5.5.4. Uji Heteroskedastisitas Setelah Transformasi.... 91
5.7. Pengujian Hipotesis... 93
5.7.1. Pengujian Koefisien Regresi Parsial (Uji t)... 93
5.7.2. Pengujian Koefisien Regresi Simultan (Uji F)... 98
5.7.3. Pengujian Koefisien Determinasi (R2 5.7.4. Pengujian Residual Variabel Moderating ... 101
)... 100
5.8. Pembahasan Hasil Penelitian... 103
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 114
6.3. Saran ... 118
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
2.1. Perbedaan pasar perdana dan pasar sekunder ... 12
2.2. Fenomena underpricing di berbagai negara... 13
2.3. Fenomena underpricing di Indonesia... 14
2.4. Review penelitian terdahulu... 38
4.1. Pemilihan sampel penelitian ... 49
4.2. Defenisi operasional dan metode pengukuran variabel ... 56
5.1. Tingkat underpricing... 67
5.2. Data informasi akuntansi yang mempengaruhi Underpricing ... 69
5.3. Data informasi non akuntansi yang Mempengaruhi Underpricing 71 5.4. Hasil Uji Normalitas Per Variabel Sebelum Transformasi... 75
5.5. Hasil Uji Normalitas Seluruh Variabel Sebelum Transformasi... 76
5.6. Hasil uji multikolinearitas sebelum transformasi ... 77
5.7. Hasil uji autokorelasi sebelum transformasi ... 77
5.8. Uji koefisien Korelasi Spearman sebelum transformasi... 79
5.9. Hasil Uji Normalitas Per Variabel Sebelum Transformasi... 82
5.10. Hasil Uji Normalitas Seluruh Variabel Sebelum Transformasi... 82
5.11. Hasil uji multikolonieritas sebelum transformasi... 83
5.12. Hasil uji autokorelasi sebelum transformasi... 84
5.13. Uji koefisien Korelasi Spearman sebelum transformasi... 86
5.14. Hasil uji normalitas Per Variabel Setelah Transformasi... 85
5.16. Hasil uji multikolonieritas setelah transformasi... 90
5.17. Hasil uji autokorelasi setelah transformasi... 90
5.18. Uji koefisien Korelasi Spearman setelah transformasi... 92
5.19. Hasil uji normalitas Per Variabel setelah transformasi... 94
5.20. Hasil Uji Normalitas Seluruh Variabel Setelah Transformasi... 95
5.18. Hasil uji multikolonieritas setelah transformasi... 96
5.19. Hasil uji autokorelasi setelah transformasi... 96
5.20. Uji koefisien Korelasi Spearman setelah transformasi... 98
.21. Hasil Analisis Regresi Variabel Informasi Akuntansi Secara Parsial.. 99
5.22. Hasil Analisis Regresi Variabel Informasi Non Akuntansi Secara Parsial... 102
5.23. Hasil Analisis Regresi Variabel Informasi Akuntansi Secara Simultan... 105
5.24. Hasil Analisis Regresi Variabel Informasi Non Akuntansi Secara Simultan ... 106
5.25. Hasil Analisis Koefisien Determinasi... 107
5.26. Hasil Analisis Koefisien Determinasi... 107
5.27. Hasil Analisis Regresi Variabel Moderating... 108
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
3.1. Diagram konseptual ... 40
5.1. Grafik histogram P-Plot sebelum transformasi ... 73
5.2. Grafik normal P-Plot sebelum transformasi ... 74
5.3. Scatterplot heterokedastisitas sebelum transformasi ... 78
5.4. Grafik histogram P-Plot sebelum transformasi ... 80
5.5. Normal P-Plot sebelum transformasi... 81
5.6. Scatterplot heterokedastisitas sebelum transformasi... 85
5.7. Normal P-Plot setelah transformasi ... 87
5.8. Grafik histogram setelah transformasi ... 88
5.9. Scatterplot heterokedastisitas setelah transformasi... 91
5.10. Normal P-Plot setelah transformasi... 93
5.11. Grafik histogram setelah transformasi... 94
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Jadwal Waktu Penelitian ... 129
2. Sub Sektor JASICA... 130
3. 50 Most Active IDX Members in Total Trading Volume... 132
4. Daftar Populasi... 134
5. Daftar Sampel Perusahaan... 137
6. Underpricing dan data pembentuk tingkat underpricing ... 139
3. ROA dan data pembentuk Return on Assets... 141
4. EPS dan data pembentuk Earning per Share... 143
5. DER dan data pembentuk Debt Equity Ratio... 145
6. Data Total Aktiva dan Logaritma Natural Total Aktiva... 147
7. Data pembentuk nilai penawaran saham ... 149
8. Data pembentuk persentase penawaran saham ... 151
9. Jenis industri dan peringkat perusahaan manufaktur dan non manufaktur ... 153
10. Nama perusahaan penjamin emisi dan peringkat reputasi penjamin emisi ... 155
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FENOMENA
UNDERPRICING
PADA PENAWARAN SAHAM PERDANA
DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN REPUTASI
PENJAMIN EMISI SEBAGAI VARIABEL
MODERATING
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena underpricing yang diwakili oleh informasi akuntansi (Return on Assets, Earning Per Share, Debt Equity Ratio, Size ) dan informasi non akuntansi (Nilai Penawaran Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, serta menguji dan menganalisis apakah reputasi penjamin emisi sebagai variabel moderating mempengaruhi hubungan antara informasi akuntansi dan non akuntansi terhadap fenomena underpricing. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2007-2011, yaitu 102 perusahaan. Sampel penelitian ini adalah perusahaan yang mengalami underpricing pada penawaran saham perdana dan memiliki data laporan keuangan lengkap, yaitu 80 perusahaan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil dokumentasi laporan keuangan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan diolah menggunakan metode uji statistik regresi linier berganda dan uji residual. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa informasi akuntansi (Return on Assets, Earning Per Share, Debt Equity Ratio, Size) dan informasi non akuntansi (Nilai Penawaran Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor) berpengaruh secara simultan terhadap
underpricing sedangkan secara parsial variabel Return on Assets dan Persentase Penawaran Saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap underpricing. Ketika Reputasi penjamin emisi digunakan sebagai variabel moderating, variabel reputasi penjamin emisi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat underpricing. Hal ini berarti tidak memperkuat hubungan antara variabel informasi akuntansi dan non akuntansi terhadap underpricing atau variabel reputasi penjamin emisi bukan merupakan variabel moderating.
SOME FACTORS WHICH INFLUENCE UNDERPRICING
PHENOMENA IN INITIAL PUBLIC OFFERING IN
INDONESIA STOCK EXCHANGE WITH THE
REPUTATION OF EQUITIES UNDERWRITER
AS A MODERATING VARIABLE
ABSTRACT
The aim of the research was to test and to analyze some factors which influence underpricing phenomena represented by accountancy information (Return on Assets, Earning per Share, Debt Equity Ratio, and Size) and by non-accountancy information (Value of Public Offering, Percentage of Public Offering, Types of Industry, and Auditor Reputation), all of which were registered in BEI (Indonesia Stock Exchange). It was also aimed to test and to analyze whether the reputation of equities underwriter as the moderating variable influenced the correlation between accountancy and non-accountancy information and underpricing phenomena. The population of the research was 102 companies which performed initial public offering in BEI from 2007 until 2011. The samples comprised 80 companies which underwent underpricing in the initial public offering and had complete financial report. The data were gathered by taking from financial report documents in BEI and processed by using multiple linear regression statistical tests and residual test. The results of the research showed that accountancy information (Return on Assets, Earning per Share, Debt Equity Ratio, and Size) and non-accountancy information (Value of Public Offering, Percentage of Public Offering, Types of Industry, and Auditor Reputation) simultaneously influenced underpricing, while partially the variables of Return on Assets and Percentage of Public Offering did not significantly influence underpricing. When the reputation of equities underwriter was used as moderating variable, the variable of the reputation of equities underwriter did not significantly influence underpricing. It means that it did not strengthen the correlation between the variable of accountancy and non-accountancy information and underpricing, or the variable of the reputation of equities underwriter was not a moderating variable.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemenuhan kebutuhan dana untuk membiayai aktivitas operasional
perusahaan dapat ditempuh dengan berbagai upaya. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan menjual saham ke masyarakat umum melalui pasar
modal. Harga saham pada penawaran perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan
antara perusahaan emiten dengan penjamin emisi, sedangkan harga di pasar
sekunder ditentukan oleh mekanisme pasar atau permintaan dan penawaran.
Permasalahan penting yang dihadapi emiten pada saat melakukan
penawaran saham perdana adalah penutupan besarnya harga saham perdana.
Emiten sebagai pihak yang membutuhkan dana menginginkan harga yang tinggi,
sebaliknya penjamin emisi berusaha untuk meminimalkan resiko yang
ditanggungnya. Tipe penjaminan yang berlaku di Indonesia adalah full
commitment, dimana pihak penjamin emisi akan membeli saham yang tidak habis
terjual saat penawaran perdana. Keadaan ini membuat penjamin emisi berupaya
untuk meminimalkan resiko dengan melakukan negosiasi dengan emiten agar
harga saham-saham tersebut tidak terlalu tinggi, bahkan cenderung underpricing.
Penjamin emisi memiliki informasi lebih banyak mengenai permintaan
terhadap saham-saham emiten, dibanding emiten itu sendiri. Oleh karena itu
penjamin emisi akan memanfaatkan informasi yang dimilikinya untuk
risiko keharusan membeli saham yang tidak laku terjual dengan harga murah,
sehingga emiten harus menerima harga yang murah bagi penawaran saham
perdananya dan hal ini akan menyebabkan terjadinya underpricing, yang berarti
bahwa penentuan harga saham di pasar perdana lebih rendah dibanding harga
saham di pasar sekunder dan selisih positif antara harga saham dipasar sekunder
dengan harga saham di pasar perdana pada saat IPO dikenal dengan istilah initial
return atau return positif bagi investor.
Laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan
oleh investor/calon inverstor dan penjamin emisi untuk menilai perusahaan yang
akan go public. Laporan keuangan yang diaudit akan mengurangi ketidakpastian
di masa mendatang. Salah satu persyaratan dalam proses go public adalah laporan
keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (Keputusan Menteri
Keuangan RI No.859/KMK.01/1997).
Perusahaan emiten yang akan melakukan Initial Public Offering (IPO)
harus membuat prospektus yang merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh
BAPEPAM. Informasi prospektus dapat dibagi menjadi dua yaitu informasi
akuntansi dan non akuntansi. Informasi akuntansi adalah laporan keuangan yang
terdiri dari neraca, laporan rugi/laba, laporan arus kas dan penjelasan laporan
keuangan. Informasi non akuntansi adalah informasi selain laporan keuangan
seperti underwriter (penjamin emisi), auditor independen, konsultan hukum, nilai
penawaran saham, persentase saham yang ditawarkan,umur perusahaan dan
informasi lainnya. Penelitian tentang tingkat underpricing dan harga saham
peneliti keuangan untuk mengevaluasi secara empiris perilaku investor dalam
pembuatan keputusan investasi di pasar modal. Riset-riset sebelumnya mengenai
pengaruh informasi akuntansi dan informai non akuntansi terhadap initial return
atau underpricing telah banyak dilakukan baik di bursa saham luar negeri maupun
Indonesia. Dari kedua informasi akuntansi dan non akuntansi tersebut masih
menjadi perdebatan manakah yang lebih membantu investor dalam menentukan
keputusan investasi mereka karena sampai saat ini penelitian-penelitian
sebelumnya menemukan hasil yang berbeda-beda.
Menciptakan harga saham yang ideal, terlebih dahulu perlu dipelajari
faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena (gejala) underpricing. Underpricing
adalah fenomena yang umum dan sering terjadi di pasar modal manapun saat
emiten melakukan IPO. Mengetahui faktor yang mempengaruhi underpricing
akan dapat menghindarkan perusahaan yang akan go public terhadap kerugian
karena underestimate atas nilai pasar sahamnya. Mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi underpricing telah dilakukan banyak penelitian, dan penelitian
tersebut telah menemukan bahwa underpricing lebih tinggi jika umur perusahaan
lebih muda, kualitas penjamin emisi rendah, kualitas auditor rendah, klasifikasi
industri adalah industri non keuangan (Agrawal, 2011), persentase penawaran
saham kecil (Triani & Hikmah 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh (Sulistio, 2005) yang menguji pengaruh
akuntansi dan non akuntansi terhadap initial return sebagai proksi dari keputusan
investasi pada perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) di Bursa
ukuran perusahaan, EPS, PER dan tingkat leverage. Informasi non akuntansi yang
digunakan meliputi prosentase pemegang saham lama, reputasi auditor dan
reputasi underwriter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi akuntansi
yang berpengaruh terhadap initial return adalah tingkat leverage, sedangkan
informasi non akuntansi yang berpengaruh terhadap initial return adalah
persentase pemegang saham lama.
Penelitian yang dilakukan oleh (Dimovski et all. 2010) yang melakukan
penelitian di Australia dengan mengambil sampel perusahaan yang melakukan
penawaran saham perdana pada sektor pertanian dari tahun 1994-1999. Ia
memfokuskan penelitian pada faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing dan
reputasi penjamin emisi. Variabel yang digunakan adalah harga penawaran saham,
reputasi penjamin emisi, reputasi auditor independen dan ukuran perusahaan.
Penelitiannya berhasil membuktikan bahwa reputasi penjamin emisi dan harga
saham perdana berpengaruh secara signifikan sedangkan reputasi auditor, dan
ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap underpricing.
Penelitian yang dilakukan mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh
(Yolana & Martani 2005) yang melakukan penelitian di BEJ dengan mengambil
data tahun 1994-2001. Ia memfokuskan penelitiannya pada variabel-variabel yang
mempengaruhi fenomena underpricing melalui informasi yang terdapat pada
prospektus baik informasi keuangan maupun infomasi non keuangan. Variabel
yang digunakan dalam penelitian adalah variabel reputasi penjamin emisi, kurs,
skala perusahaan, return on equity dan jenis industri. Penelitiannya berhasil
equity dan jenis industri) secara parsial dan simultan dengan variabel bebas
lainnya dianggap konstan mempengaruhi underpricing. Sedangkan reputasi
penjamin emisi, tidak terbukti secara signifikan mempengaruhi terjadinya
underpricing.
Penelitian yang dilakukan (Triani & Hikmah 2006) berdasarkan data
perusahaan yang IPO di BEJ, mencoba menguji pengaruh variabel reputasi
penjamin emisi, reputasi auditor, persentase penjamin emisi, ukuran perusahaan
(total aktiva), umur perusahaan, leverage, dan return on assets terhadap tingkat
underpricing. Mereka berhasil membuktikan bahwa reputasi penjamin emisi,
leverage signifikan pada level 10% dengan arah negatif mempengaruhi
underpricing. Return on assets mempengaruhi underpricing dengan level
signifikansi 5% dengan arah negatif. Sedangkan umur perusahaan, skala
perusahaan, dan persentase saham yang ditahan, tidak terbukti signifikan
mempengaruhi underpricing.
Perbedaan hasil penelitian tersebut, mendorong peneliti untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena underpricing dengan reputasi
penjamin emisi sebagai variabel moderating. Variabel reputasi penjamin emisi
digunakan sebagai variabel moderating untuk mengetahui apakah variabel ini
memperkuat atau memperlemah fenomena underpricing sehingga mampu
membuktikan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa reputasi
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena sebagaimana diuraikan di latar belakang, maka
rumusan permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah:
1. Apakah faktor-faktor informasi akuntansi (Return On Assets, Earning Per
Share, Debt to Equity Ratio, Size) berpengaruh secara simultan dan parsial
terhadap Underpricing?
2. Apakah faktor-faktor informasi non akuntansi (Nilai Penawaran Saham,
Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor) berpengaruh
secara simultan dan parsial terhadap Underpricing?
3. Apakah reputasi penjamin emisi sebagai variabel moderating mempengaruhi
hubungan antara informasi akuntansi (Return On Assets, Earning Per Share,
Debt to Equity Ratio, Size) dan informasi non akuntansi (Nilai Penawaran
Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor)
terhadap Underpricing?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk:
1. Membuktikan dan menganalisis pengaruh faktor-faktor informasi akuntansi
(Return On Assets, Earning Per Share, Debt to Equity Ratio, Size) secara
simultan dan parsial terhadap Underpricing.
2. Membuktikan dan menganalisis pengaruh faktor-faktor informasi non
akuntansi (Nilai Penawaran Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis
Industri, Reputasi Auditor) secara simultan dan parsial terhadap
4. Mengetahui dan menganalisis apakah reputasi penjamin emisi sebagai
variabel moderating mempengaruhi hubungan antara faktor-faktor informasi
akuntansi (Return On Assets, Earning Per Share, Debt to Equity Ratio, Size)
dan faktor-faktor informasi non akuntansi (Nilai Penawaran Saham,
Persentase Penawaran Saham, Jenis Industri, Reputasi Auditor) terhadap
Underpricing.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini:
1. Bagi emiten atau calon emiten, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam
menentukan harga yang tepat dalam penawaran saham perdana, sehingga
perusahaan akan memperoleh sejumlah modal dengan biaya yang relatif
murah.
2. Bagi penjamin emisi, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membantu
perusahaan untuk menyusun prospektus dan memberikan penilaian yang
sesuai untuk penetapan harga saham di pasar perdana dan memberikan
pelayanan yang lebih baik kepada investor.
3. Bagi investor, sebagai informasi mengenai hal-hal yang berpengaruh
signifikan terhadap initial return yang diterima saat IPO, sehingga dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk
berinvestasi di saham perdana.
4. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan masukan bagi peneliti agar dapat
1.5. Originalitas Penelitian
Originalitas penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini berbentuk
replikasi dan pengembangan dari penelitian (Yolana & Martani (2005) dengan
judul âVariabel-Variabel yang Mempengaruhi Fenomena Underpricing pada
Penawaran Saham Perdana di BEJâ. Terdapat beberapa perbedaan penelitian yang
dilakukan dalam penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Yolana dan
Martani (2005) :
1. Penelitian (Yolana & Martani 2005) dilakukan pada perusahaan yang
melakukan penawaran saham perdana pada tahun 1994-2001 di Bursa Efek
Jakarta sedangkan penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang melakukan
penawaran saham perdana pada tahun 2007-2010 di Bursa Efek Indonesia
karena pada tahun 2007 Bursa Efek Jakarta (BEJ) merger dengan Bursa Efek
Surabaya (BES) menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Penelitian ini menambah variabel earning per share dan tingkat leverage
(DER) pada informasi akuntansi sebagai variabel independen dan menambah
variabel Nilai Penawaran Saham, Persentase Penawaran Saham, Jenis
Industri, Reputasi Auditor pada informasi non akuntansi sebagai variabel
independen. Alasan penambahan variabel independen ini adalah karena
penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa secara simultan hanya 28,15%
variabel bebas mempengaruhi underpricing sedangkan sisanya dijelaskan
oleh variabel lain. Penambahan variabel independen untuk mengetahui
3. Pada penelitian ini variabel reputasi penjamin emisi digunakan sebagai
variabel moderating untuk mengetahui dan menganalisis apakah reputasi
penjamin emisi dapat menjadi variabel moderating yang mempengaruhi
hubungan antara informasi akuntansi dan non akuntansi terhadap sebagai
salah satu sinyal positif yang sengaja diberikan oleh perusahaan kepada pasar,
yang demikian diharapkan pasar dapat membedakan perusahaan yang
berkualitas baik dan buruk sedangkan pada penelitian sebelumnya variabel
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Penawaran umum di pasar perdana dan pasar sekunder
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang
berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam
perusahaan umumnya menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan
alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditor berupa utang,
pembiayaan bentuk lain, penerbitan surat-surat utang, atau pendanaan yang
bersifat penyertaan dalam bentuk saham (equity). Pendanaan melalui mekanisme
penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham perusahaan kepada
masyarakat atau sering dikenal dengan istilah go public.
Pasar perdana terjadi pada saat perusahaan menjual sekuritasnya kepada
investor umum untuk pertama kalinya. Dalam menjual sekuritasnya, perusahaan
umumnya menggunakan jasa profesional dan lembaga pendukung pasar modal,
untuk membantu menyiapkan berbagai dokumen serta persyaratan yang
diperlukan untuk go public. Penjamin (underwriter) yang ditunjuk oleh
perusahaan akan membantu dalam penentuan harga perdana saham serta
membantu memasarkan sekuritas tersebut kepada calon investor.
Secara teoritis, penawaran saham-saham di pasar perdana dapat terjadi
kemungkinan penawaran harga yaitu : apakah emisi-emisi tersebut overpricing
overpricing atau underpricing di bawah ini diuraikan dua alternatif pendekatan
yang digunakan, yaitu :
1. Menaksir harga teoritis saham tersebut dibandingkan dengan harga yang ada
di pasar perdana. Jika harga di pasar perdana lebih tinggi dari harga teoritis,
saham tersebut dinilai overvalue. Sebaliknya, jika lebih rendah
diklasifikasikan undervalue.
2. Membandingkan tingkat keuntungan yang diperoleh dari saham-saham yang
baru dijual tersebut dengan memperhatikan faktor risiko. Jika tingkat
keuntungan yang diperoleh lebih besar dari tingkat keuntungan yang
diharapkan, hal ini berarti nilai saham tersebut overvalue. Sebaliknya jika
tingkat keuntungan yang diperoleh lebih kecil dari tingkat keuntungan yang
diharapkan maka saham tersebut undervalue.â (Hanafi & Husnan 1991).
Pada dasarnya, hampir semua investor berminat untuk membeli saham di
pasar perdana dengan harapan memperoleh keuntungan pada saat harga tersebut
akan naik di pasar sekunder. Namun, dalam prakteknya harga saham pada pasar
perdana adalah harga yang terjadi karena hasil negoisasi antara penjamin emisi
(underwriter) dengan calon emiten. Oleh karena itu, harga perdana ini disebut
juga dengan harga negoisasi (negotiation price). Berbeda dengan pasar perdana,
pasar sekunder adalah pasar yang terjadi ketika suatu efek dicatatkan dan
diperdagangkan di bursa. Ini disebut pasar sekunder karena pihak yang
melakukan perdagangan adalah para pemegang saham dan calon pemegang
saham. Uang yang mengalir dalam pasar sekunder, tidak lagi mengalir ke dalam
perusahaan yang menerbitkan efek akan tetapi berpindah atau bergerak dari
Emiten tidak berhubungan langsung dengan pasar sekunder, akan tetapi
memiliki kepentingan atas naik turunnya harga saham di pasar sekunder. Sebagai
tambahan, apabila dilihat dari segi kepentingan pemodal dalam membeli dan
menjual saham, maka terdapat beberapa perbedaan antara pasar perdana dan pasar
sekunder seperti yang dijelaskan (Lubis, 2008) yang dapat dilihat pada tabel 2.1
berikut ini :
Tabel 2.1. Perbedaan pasar perdana dan pasar sekunder
No Pasar perdana Pasar sekunder
1.
2. 3.
4.
5.
Harga saham tetap
Tidak dikenai komisi Hanya untuk pembelian saham
Pemesanan dilakukan melalui agen penjualan Jangka waktu terbatas
Harga saham berfluktuasi sesuai kekuatan supply dan demand
Dibebankan komisi
Berlaku untuk pembelian maupun penjualan saham
Pemesanan dilakukan melalui anggota bursa (pialang / broker) Jangka waktu tidak terbatas
2.1.2. Pengertian dan fenomena underpricing
Saham suatu perusahaan yang akan diperdagangkan di pasar sekunder atau
berada di penjualan di lantai bursa, sebelumnya akan ditawarkan terlebih dahulu
di pasar perdana. Harga pasar yang dijual di pasar perdana telah ditentukan
terlebih dahulu atas kesepakatan antar emiten dengan pihak penjamin emisi
(underwriter), sedangkan harga saham yang dijual di pasar sekunder ditentukan
oleh penawaran dan permintaan. Dalam dua mekanisme penentuan harga tersebut
sering terjadi perbedaan harga atau yang disebut dengan underpriced.
Beberapa peneliti menjelaskan mengapa harga pada penawaran perdana
lebih rendah daripada harga pada hari pertama perdagangan di pasar sekunder.
Menurut Carter and Manaster dalam Nur Indrianto (1999) menjelaskan bahwa
sekunder yang terjadi karena perusahaan dinilai lebih rendah dari kondisi yang
sesungguhnya oleh penjamin emisi untuk mengurangi tingkat risiko yang harus ia
hadapi karena fungsi penjaminannya. Menurut (Jogiyanto, 2008) menjelaskan
bahwa underpricing perusahaan IPO merupakan perbedaan antara harga
penawaran perdana dengan harga penutupan saham perusahaan IPO di pasar
sekunder pada hari pertama.â Kecenderungan underpricing terjadi hampir di
setiap negara, yang membedakannya hanyalah berapa besar tingkat underpricing
yang terjadi. Berikut ini adalah beberapa peneliti dari luar negeri yang pernah
[image:32.595.117.516.349.643.2]menguji fenomena underpricing (Yolana & Martani 2005).
Tabel 2.2. Fenomena undepricing di berbagai negara
Negara Peneliti Sampel Waktu Underpricing
(%) Australia Brazil China Finlandia Hongkong India Jerman Korea Malaysia Mexico Singapura Taiwan Thailang Turkey UK USA
Lee, Taylor & Walter Aggarwal, Leal & Hernandez
Datar & Mao Keloharju
McGuinness, Zhao & Wu Krishnamurti & Kumar Ljungqvist
Dhatt, Kim & Lim Isa
Aggrawal, Leal & Hernandez
Lee, Taylor & Walter Chen
Wethyavivorn Koosmith Kiymaz
Dimson, Levis Ibbotson, Sindelar & Ritter 266 62 226 85 334 98 170 347 132 37 128 168 32 138 2133 13308 1976-1989 1979-1990 1990-1996 1984-1992 1980-1996 1992-1993 1978-1992 1980-1990 1980-1991 1987-1990 1973-1992 1971-1990 1988-1989 1990-1995 1959-1990 1960-1996 11,0 78,0 388,0 9,6 15,9 35,3 10,9 78,1 80,3 33,0 31,4 45,0 58,1 13,6 12,0 15,8
Di indonesia fenomena underpricing juga telah banyak dilakukan seperti
Tabel 2.3. Fenomena underpricing di Indonesia
Peneliti Sampel Waktu Underpricing
(%) Yolana dan Martani
Triani dan Nikmah Emilia, Sulaiman, Sembel Isnurhadi, Sjaruddin Yasa, Gerianta W Handayani
Sulistio, Helen Wijayanto, Andy
131 90 92 96 300 28 44 67
1994-2001 1994-2000 1999-2005 1993-1997 1990-2001 2000-2006 1998-2003 2000-2006
38,0 5,0 59,4 12,1 21,3 34,9 82,0 28,3
Berdasarkan uraian beberapa hasil penelitian baik di dalam maupun di luar
negeri menunjukkan bahwa fenomena underpricing memang terjadi pada kurun
waktu yang diteliti oleh masing peneliti dengan tingkat underpricing yang
berbeda-beda. Oleh karena itu fenomena underpricing merupakan hal yang
menarik untuk diteliti karena berusaha menjelaaskan terjadinya anomali IPO
dengan mengaitkannya dengan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi
fenomena underpricing.
2.1.3. Teori underpricing
Teori underpricing dikemukakan dalam literatur-literatur keuangan (Ritter,
1998), ada beberapa teori mengenai underpricing yang telah dikemukan oleh para
ahli diantaranya :
Informasi assimetris (Assimetri Information Theory), kebanyakan teori
yang menjelaskan harga penawaran perdana (IPO) yang underpriced didasarkan
pada asumsi bahwa terjadi perbedaan informasi antara berbagai pihak terhadap
nilai saham yang baru tersebut. Salah satu dari teori tersebut menganggap bahwa
penjamin emisi secara signifikan mempunyai informasi yang lebih baik dari pada
lengkap, penjamin emisi akan mampu meyakinkan emiten bahwa harga yang
rendah lebih baik jika emiten tidak pasti terhadap nilai sahamnya sendiri.
Penjelasan lain dari underpricing adalah yang dikenal sebagai istilah
âwinnerâs curseâ. Winnerâs curse ini menekankan adanya informasi asimetris
diantara investor potensial. Menurut pandangan ini, beberapa investor (informed
investor) mempunyai akses informasi mengetahui berapa sesungguhnya nilai
saham yang akan dikeluarkan. Investor lainnya (uninformed investor) tidak
mengetahui karena sangat sulit atau mahal untuk mendapat informasi tersebut.
Penjamin emisi dan emiten melakukan kesalahan acak (random error) dalam
penetapan harga, beberapa saham ditetapkan overvalued dan lainnya undervalued.
Investor yang mempunyai informasi akan membeli saham yang undervalued dan
menghindari saham yang overvalued. Akibatnya, investor yang tidak mempunyai
informasi sulit mendapatkan saham undervalued, karenanya akan mendapatkan
return yang lebih kecil. Karena emiten harus terus menerus menarik investor yang
tidak mendapatkan informasi seperti investor yang mempunyai informasi, maka
rata-rata harga saham baru tersebut harus underpriced agar investor yang tidak
mempunyai informasi tersebut mendapatkan return yang memadai.
Selain teori underpricing IPO yang berdasarkan informasi asimetris ada
juga penjelasan tradisional, antara lain:
a. Undang-Undang membuat penjamin emisi menetapkan harga perdana di
bawah harga yang diharapkan.
b. Terjadi kolusi diantara para penjamin emisi dengan menetapkan kondisi
c. Saham yang underpriced meninggalkan kesan yang baik terhadap investor
sehingga pada waktu berikutnya, saham baru yang dikeluarkan dapat dijual
pada harga yang lebih menarik.
d. âFirm commitmentâ membuat penjamin emisi mencoba mengurangi risiko
dengan cara underpriced saham perdana untuk mengkompensasikannya.
e. Proses underwriting biasanya memasukkan unsur underpricing dalam IPO,
kondisi ini terjadi karena kebiasaan / tradisi atau berdasarkan perjanjian
yang disepakati antara emiten dan penjamin emisi.
f. Perusahaan yang mengeluarkan saham (emiten) dan penjamin emisi
menganggap bahwa underpricing merupakan bentuk jaminan terhadap
tuntutan hukum.
Teori sinyaling (Signaling Theory) menyatakan bahwa perusahaan yang
berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan
demikian pasar diharapkan dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik
dan buruk (separating equilibrium). Pada saat melakukan penawaran umum, calon
investor tidak sepenuhnya dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik
dan buruk. Oleh Karena itu, emiten dan penjamin emisi dengan sengaja akan
memberikan sinyal kepada pasar yang merupakan sinyal positif yang berusaha
diberikan oleh emiten guna menunjukkan kualitas perusahaan pada saat IPO
(Sumarso, 2003). (Allen dan Faulhaber, dalam Wijayanto 2009) melihat
underpricing dari IPO sebagai alat bantu yang digunakan oleh perusahaan untuk
memberi sinyal tentang kualitas baik mempunyai insentif untuk melakukan
underpricing pada IPO. Perusahaan dapat menawarkan harga sahamnya lebih baik
perusahaan dari pasar IPO ditambah dari pasar saham berikutnya lebih besar
dibandingkan dengan penerbitan saham IPO yang tidak dilakukan underprice.
Teori reaksi yng berlebihan (Over-Reaction Theory) adalah bahwa harga
penawaran yang ditetapkan oleh penjamin emisi telah sesuai dan initial return
yang positif merupakan akibat dari reaksi berlebihan dari investor yang tidak
rasional. Pandangan ini dikemukakan oleh (Ritter et all.,dalam Wijayanto 2009).
Argumentasi yang diajukan terutama didasarkan pada psikologi dan tingkah laku
(behaviour) atau ketidak-rasionalan dari investor. Tantangan yang harus
diselesaikan oleh model ini adalah implikasi bahwa: (1) investor secara konsisten
bertindak tidak rasional atau bereaksi secara berlebihan, dan (2) reaksi tersebut
biasanya hanya kepada sisi positif saja.
Teori prospek (Prospect Theory) oleh (Loughran dan Ritter dalam,
Wijayanto 2009) mengajukan teori prospek yang berdasarkan pada covariance
antara kerugian yang dialami oleh emiten akibat underpricing dengan perubahan
nilai kekayaan emiten setelah go public. Berita buruk yaitu adanya kerugian yang
dialami oleh emiten karena underpricing dibarengi dengan berita baik bahwa
pemilik perusahaan ternyata sekarang menjadi lebih kaya dari perkiraannya
semula. Penggabungkan berita buruk dan berita baik tersebut emiten tetap merasa
gembira walaupun terjadi kerugian.
Argumen yang diajukan oleh teori ini adalah underpricing merupakan
bentuk tidak langsung antara biaya langsung (spread) dan biaya opportunity
(selisih harga pasar hari pertama dengan harga penawaran). Apabila penjamin
emisi menaikkan persentase biaya langsung, emiten akan melakukan tawar
bentuk biaya opportunity. Dengan demikian, melakukan underpricing lebih
menguntungkan bagi penjamin emisi.
2.1.4. Informasi akuntansi yang mempengaruhi underpricing
(Warren et all. 2006) menjelaskan bahwa secara umum akuntansi dapat
didefinisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-
pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan.
Akuntansi adalah âbahasa perusahaanâ karena melalui akuntansilah informasi
dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Hal ini menunjukkan
bahwa informasi menjadi suatu bagian dari proses akuntansi. Berdasarkan definisi
akuntansi tersebut dapat diketahui bahwa informasi akuntansi yang dimaksud
adalah informasi yang diperoleh dari aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan itu
sendiri. Informasi tersebut disusun dalam bentuk laporan akuntansi yang disebut
laporan keuangan.
2.1.4.1 Rate of return on total asset (ROA)
Rentabilitas ekonomi adalah rasio perbandingan antara keuntungan
sebelum bunga dan pajak dengan seluruh aktiva atau kekayaan perusahaan
(Rahardjo, 2009). Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dengan seluruh
modal yang ada di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Perhitungan ROA
dirumuskan sebagai berikut:
ROA = Laba Bersih Total Aktiva
Dimana: ROA : Rentabilitas ekonomi (Rate of Return on Total Asset)
Laba bersih : Laba sebelum bunga dan pajak
Kaitannya dengan IPO, rentabilitas perusahaan yang tinggi akan
mengurangi ketidakpastian IPO sehingga mengurangi tingkat underpricing
(Wijayanto, 2009). Return on Assets merupakan proxy dari rentabilitas perusahaan
rmengenai efektifitas operasional perusahaan. Rentabilitas perusahaan yang tinggi
akan meyakinkan investor akan prospek perusahaan di masa mendatang, hal ini
akan mengurangi tingkat ketidakpastian, namun sebaliknya jika rentabilitas
perusahaan sangat rendah maka investor akan cenderung meminta kompensasi
dari harga saham yang ditawarkan perusahaan sebagai kompensasi atas
ketidakpastian yang ditanggung investor, sehingga pengaruh rentabilitas terhadap
tingkat underpricing adalah negatif. Prestasi keuangan, khususnya tingkat
keuntungan, memegang peranan penting dalam penilaian prestasi usaha
perusahaan dan sering digunakan sebagai dasar dalam keputusan investasi,
khususnya dalam pembelian saham, sehingga semakin besar ROA semakin
berkurang tingkat underpricing.
2.1.4.2. Penghasilan per lembar saham/Earning per share (EPS)
Penghasilan per lembar saham menunjukkan kemampuan perusahaan
untuk memberikan imbalan pada setiap lembar saham biasa (Rahardjo, 2009).
Informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan
dapat membantu investor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan arus kas yang baik di masa mendatang. Pada umumnya pemegang
saham dan calon investor akan tertarik pada EPS, karena EPS menggambarkan
jumlah uang yang diperoleh untuk setiap lembar saham dan EPS yang besar
EPS mencerminkan jumlah uang yang diperoleh untuk setiap lembar
saham perusahaan. Hasil empiris menunjukkan bahwa semakin tinggi EPS,
semakin tinggi pula harga saham. Perhitungan EPS dirumuskan sebagai berikut
(Rahardjo, 2009):
EPS = Laba Bersih
Jumlah Lembar Saham
Earnings per Share atau laba per saham adalah rasio yang mengukur
pendapatan bersih perusahaan pada suatu periode dibagi dengan jumlah saham
yang beredar. Rasio ini digunakan untuk menganalisis risiko dan membandingkan
pendapatan per lembar saham perusahaan dengan perusahaan lain. Ketika investor
mengevaluasi kinerja dari perusahaan, investor tidak cukup hanya mengetahui
apakah pendapatan suatu perusahaan mengalami kenaikan atau penurunan,
investor juga perlu mencermati bagaimana perubahan pendapatan berakibat
terhadap investasinya.
Rasio EPS yang semakin meningkat memberikan indikasi bahwa semakin
besar keuntungan yang diperoleh perlembar saham, dengan asumsi outstanding
shares tetap atau semakin besar kemungkinan perusahaan dalam memperoleh laba
sehingga kemungkinan mambayarkan deviden juga semakin besar ataupun
diinvestasikan lagi (retained earning), maka diharapkan akan memperoleh hasil
yang semakin besar dimasa mendatang. Harapan tersebut mengakibatkan
meningkatnya EPS akan meningkatkan pendapatan saham. Profitabilitas yang
tinggi suatu perusahaan mengurangi ketidakpastian bagi investor sehingga
menurunkan tingkat underpricing (Kim et all., dalam Wijayanto 2009).Variabel
yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu, dengan demikian diduga
bahwa semakin besar EPS semakin berkurang tingkat underpricing.
2.1.4.3. Debt Equity Ratio (DER)
Debt Equity Ratio menggambarkan tingkat risiko dari perusahaan yang
diukur dengan membandingkan total kewajiban perusahaan dengan total aktiva
yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi tingkat leverage suatu perusahaan,
semakin tinggi pula tingkat risiko yang dihadapi perusahaan yang berarti semakin
tinggi tingkat leverage perusahaan semakin tinggi pula faktor ketidakpastian akan
perusahaan sehingga berpengaruh negatif terhadap initial return. Tingkat leverage
menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutangnya dengan modal
yang dimilikinya (Rahardjo, 2009).
DER sangat berkaitan erat dengan penciptaan suatu struktur kebijakan di
mana selanjutnya dapat mempengaruhi struktur kebijakan dan mempengaruhi
kemampuan suatu perusahaan untuk membuat berbagai pilihan strategi (Jensen,
1986 dalam, Wijayanto 2009). Struktur modal yang tepat adalah sebagai suatu
keputusan kritis untukberbagai organisasi bisnis. Selain keputusan tersebutadalah
penting karena adanya kebutuhan untuk memaksimumkan keuntungan pada suatu
kemampuan perusahaan untuk dapat berjalan dengan lingkungan bersaingnya.
Keputusan pendanaan berkaitan dengan sumber dana, baik yang berasal dari
dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) perusahaan. Sumber dana internal
berasal dari dana yang terkumpul dari laba yang ditahan yang berasal dari hasil
kegiatan perusahaan. Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik atau
IPO dan dana yang berasal dari para kreditur yang merupakan modal pinjaman
atau hutang.
Perusahaan yang memiliki tingkat leverage tinggi akan lebih cenderung
menggunakan dana hasil IPO-nya untuk membayar hutangnya daripada untuk
kegiatan investasi guna melakukan ekspansi baru. (Daljono dalam, Wijayanto
2009) menyatakan bahwa apabila rasio leverage tinggi, menunjukkan risiko suatu
perusahaan tinggi pula. Para investor dalam melakukan keputusan investasi tentu
akan mempertimbangkan informasi tingkat leverage. Tingkat ketidakpastiannya
akan semakin tinggi dan menyebabkan semakin tingginya tingkat underpricing,
sehingga pengaruh tingkat leverage terhadap tingkat underpricing adalah positif.
Variabel tingkat leverage apat diukur dengan rumus:
DER = TD
TSE
Dimana : DER : Rasio Hutang atas Aktiva / Debt to Equity Ratio
TD : Jumlah Hutang / Total Debt
TSE : Jumlah aktiva / Total Shareholderâs Equity
Tingkat Leverage yang tinggi menunjukkan risiko keuangan atau risiko kegagalan
perusahaan untuk mengembalikan pinjaman akan semakin tinggi, dan sebaliknya.
Oleh karena semakin tinggi financial leverage suatu perusahaan, maka initial
return semakin besar (Kim et all., dalam Wijayanto (2009), dimana variabel
leverage diukur dengan Debt Equity Ratio.
2.1.4.4. Ukuran Perusahaan (SIZE)
Ukuran perusahaan dapat dijadikan sebagai proxy tingkat ketidakpastian
saham. Perusahaan yang berskala besar cenderung lebih dikenal masyarakat
diperoleh investor daripada perusahaan berskala kecil. Tingkat ketidakpastian
yang akan dihadapi oleh calon investor mengenai masa depan perusahaan emiten
dapat diperkecil apabila informasi yang diperolehnya banyak. Tingkat
ketidakpastian perusahaan berskala besar pada umumnya rendah karena dengan
skala yang tinggi perusahaan cenderung tidak dipengaruhi pasar, sebaliknya dapat
mewarnai dan mempengaruhi keadaan pasar secara keseluruhan.
Keadaan ini dapat dinyatakan sebagai kecilnya tingkat resiko investai
perusahaan berskala besar dalam jangka panjang. Sedangkan pada perusahaan
berskala kecil tingkat ketidakpastian di masa yang akan datang besar, sehingga
tingkat resiko investasinya lebih besar dalam jangka panjang (Nurhidayati &
Indriantoro 1998). Dengan rendahnya tingkat ketidakpastian perusahaan berskala
besar maka akan menurunkan tingkat underpricing dan kemungkinan initial
return yang akan diterima investor akan semakin rendah oleh karena itu, diduga
semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin kecil underpricing.
Menurut (Yolana & Martani 2005) menyatakan ukuran perusahaan berpengaruh
signifikan negatif terhadap underpricing yang dihasilkan dimana ukuran
perusahaan diukur dengan total aktiva perusahaan sebelum melakukan IPO.
2.1.5. Informasi non akuntansi yang mempengaruhi underpricing
Menurut peraturan Bapepam, prospektus adalah setiap informasi tertulis
sehubungan dengan penawaran umum dengan tujuan agar pihak lain membeli
efek. Prospektus berisi tentang semua detail dasar dan fakta material tentang
ringkasan penawaran umum, ringkasan pelaksanaan dari aspek-aspek penting
perusahaan, kegiatan usaha, jumlah saham yang ditawarkan, nominal dan harga
dividen, lembaga yang terlibat dalam IPO seperti penjamin emisi, dan semua
informasi terkait yang dibutuhkan untuk diketahui oleh pihak yang membutuhkan
informasi. Salah satunya adalahinformasi non akuntansi yang meliputi informasi
yang diperoleh dari luar aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan selain laporan
keuangan.
2.1.5.1. Nilai Penawaran Saham (NPS).
Pada saat perusahaan menawarkan saham baru maka terdapat aliran kas
masuk dari procced (penerimaan dari pengeluaran saham). Proceeds
menunjukkan besarnya ukuran penawaran saham pada saat IPO. Melalui IPO
diharapkan akan menyebabkan membaiknya prospek perusahaan yang terjadi
karena ekspansi atau investasi yang akan dilakukan atas hasil IPO. Nilai
penawaran saham yang ditawarkan ke publik memberikan informasi sejauh mana
kebutuhan keuangan perusahaan. Semakin tinggi perusahaan dikembangkan akan
semakin tinggi jumlah dana yang dibutuhkan. Nilai penawaran saham juga akan
menjadikan pertimbangan investor seberapa besar dana yang dibutuhkan untuk
menguasai saham dalam persentase tertentu.
Perusahaan dengan skala usaha yang besar dan tingkat pertumbuhan yang
tinggi akan cenderung menawarkan saham dengan nilai besar demikian pula
sebaliknya perusahaan yang baru berdiri dengan tingkat pertumbuhan usaha yang
relative kecil. Perhitungan nilai penawaran saham dirumuskan sebagai berikut
(Triani & Nikmah 2006) dimana nilai penawaran saham (OFFERSIZE) diukur
dengan nilai penawaran saham perusahaan pada saat melakukan IPO yang telah
Nilai penawaran saham dapat dipergunakan sebagai proksi untuk
mengukur volatilitas. Sebelum saham memasuki pasar sekunder semakin besar
nilai penawaran maka tingkat ketidakpastiannya akan semakin kecil. Proceeds
merupakan proxy dari ketidakpastian yang dihubungkan dengan penawaran
saham, oleh karena itu diduga bahwa proceeds berhubungan positif dengan harga
pasar saham karena semakin tinggi ukuran penawaran, semakin rendah
ketidakpastian yang berarti semakin tinggi harga saham sehingga semakin tinggi
ukuran penawaran, underpricing semakin kecil.
2.1.5.2. Persentase penawaran saham (PPS)
Salah satu bentuk peningkatan modal disetor suatu perseroan dalam
penawaran umum terbatas (right issues), perseroan menawarkan hak kepada
pemegang saham yang ada untuk mendapatkan saham baru yang tentu saja berarti
menyetor modal dengan rasio tertentu. Jika pemegang saham tersebut tidak
mengambil haknya, maka ia dapat menjual haknya tersebut kepada investor lain,
dengan demikian di pasar modal juga dikenal perdagangan right. Jadi rights
adalah hak yang diberikan kepada pemegang saham lama untuk terlebih dahulu
membeli saham baru dikeluarkan dengan tujuan agar para pemegang saham lama
diberi kesempatan untuk mempertahankan persentase kepemilikannya dalam suatu
perusahaan.
Penurunan persentase kepemilikan oleh pemegang saham lama adalah
suatu konsekuensi yang harus dipertimbangkan ketika perusahaan memutuskan
untuk melakukan IPO. Pemilik saham lama akan mendukung keputusan IPO bila
mereka yakin bahwa saham perusahaan akan terjual pada harga yang cukup
pembiayaan perusahaan. Proporsi kepemilikan saham yang ditahan oleh pemilik
saham lama menggambarkan tingkat kepercayaan manajemen dan pemegang
saham lama akan keberhasilan IPO. Pemegang saham lama dan manajemen tidak
akan melepaskan proporsi kepemilikan dalam perusahaan bila mereka tidak yakin
akan keberhasilan IPO sehingga proporsi kepemilikan yang ditahan oleh
pemegang saham lama dapat dipertimbangkan sebagai faktor yang turut
membangun keyakinan investor akan keberhasilan IPO perusahaan. (Aggarwal et
all., dalam Sulistio 2005) dimana nilai penawaran saham yaitu hasil perkalian
antara jumlah lembar saham yang ditawarkan pada saat IPO dengan harga
penawaran, kemudian di log agar nilainya tidak terlalu besar untuk dimasukkan
dalam model persamaan. Hasilnya membuktikan bahwa underpricing berasosiasi
positif dengan semakin rendahnya jumlah saham yang diterbitkan dan semakin
tinggi tingkat kepemilikan pemegang saham lama.
2.1.5.3. Jenis Industri (JI)
Analisis jenis industri merupakan tahap penting yang perlu dilakukan
investor, karena analisis tersebut dapat membantu investor untuk mengidentifikasi
peluang-peluang investasi dalam industri yang mempunyai karakteristik risiko dan
return yang menguntungkan bagi investor. Jenis industri digunakan dalam
penelitian ini untuk melihat apakah underpricing terjadi pada semua jenis industri
yang melakukan IPO atau hanya pada jenis industri tertentu saja. Hasil penelitian
(Yolana & Martani 2005), dimana jenis industri merupakan variabel dummy yang
diukur dengan memberi nilai 1 pada perusahaan industri barang konsumen dan
pengaruh yang signifikan antara jenis industri dengan underpricing dengan arah
koefisien negatif.
Penelitian yang dilakukan oleh (Triani & Nikmah 2006), dimana jenis
industri merupakan variabel dummy yang diukur dengan memberi nilai 1 pada
perusahaan manufaktur dan nilai 0 pada perusahaan non amnufaktur. Secara rinci
mereka tidak menjelaskan apakah jenis industri berpengaruh positif atau negatif
terhadap underpricing. Hasilnya menunjukkan pengaruh yang signifikan antara
jenis industri dengan underpricing. Berdasarkan penelitian terdahulu maka jenis
industri pada penelitian ini dikelompokkan atas perusahaan manufaktur diberi
skala 1 dan kelompok perusahaan non manufaktur diberi skala 0.
Pengelompokkan jenis industri ada 2 yaitu pengelompokkan berdasarkan ICMD
dan pengelompokkan berdasarkan JASICA. Pengelompokkan JASICA dalam
Fact Book 2011, perusahaan dikelompokkan dalam 3 sektor yaitu:
A. Primary Sectors:
1. Agriculture
2. Mining
B. Secondary Sectors (Industry and Manufacturing)
1. Basic Industry and Chemical
2. Miscellaneous Industri
3. Consumer Goods
C. Tertiary Sectors (Service)
1. Property, Real Estate and Building Construction
2. Infrastructure, Utilities and Transportation
4. Trade, Services and Investment
Pengelompokkan sub sektor maunufaktur dan non manufaktur dapat
dilihat pada lampiran 2.
2.1.5.4. Reputasi Auditor (RAUD).
Perusahaan menyewa auditor independen untuk memeriksa kesesuaian
laporan keuangan yang disusun oleh manajemen dan memberikan pendapat atas
keabsahannya. Pendapat wajar tanpa syarat dari auditor bereputasi baik berperan
dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat akan keakuratan informasi yang
disajikan dalam prospektus sebagai dasar analisis untuk pengambilan keputusan
investasi. Auditor yang bereputasi tinggi mempunyai komitmen yang lebih besar dalam mempertahankan kualitas auditnya sehingga laporan perusahaan yang
diperiksa memberikan keyakinan yang lebih besar kepada investor akan kualitas
informasi yang disajikan dalam prospektus dan laporan keuangan perusahaan.
(Dimovski et all. 2011) menyatakan bahwa reputasi auditor berpengaruh secara signifikan dan negatif terhadap underpricing, dimana reputasi auditor
merupakan variabel dummy yang diukur dengan memberi angka 1 pada
perusahaan yang berafiliasi dengan top 5 accountant dan angka 0 untuk yang
tidak berafiliasi dengan top 5 accountant pada perusahaan yang melakukan IPO di
pasar modal Australia. Sementara di Indonesia diteliti oleh (Triani & Nikmah
2005) yang menemukan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap underpricing, dimana reputasi auditor (RAUD) merupakan
variabel dummy yang diukur dengan memberi angka 1 pada auditor yang
Pelaksana auditing disebut sebagai auditor atau akuntan publik yang
memiliki tugas-tugas sebagai berikut (Siamat, 2004) :
a. Melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan perusahaan dan memberikan
pendapatnya,
b. Memeriksa pembukuan apakah sudah sesuai dengan prinsip akuntansi
Indonesia dan ketentutan Bapepam,
c. Memberi petunjuk pelaksanaan cara-cara pembukuan yang baik (apabila
diperlukan).
Penjamin emisi yang berpengalaman dan bereputasi baik akan dapat
mengorganisir IPO secara profesional dan memberikan pelayanan yang lebih baik
kepada investor. Pelayanan yang lebih baik adalah salah satu indikator kemapanan
dan keseriusan perusahaan kepada investornya. Penjamin emisi yang bereputasi baik umumnya akan memilih KAP yang bereputasi baik pula untuk mengurangi
risiko underpricing.
Hasil penelitian (Sulistio, 2005) menyatakan penggunaan jasa auditor dan
penjamin emisi yang berkualitas akan memberikan sinyal mengenai nilai
perusahaan dan kualitas IPO kepada investor yang potensial dan memberikan
jaminan bahwa ramalan laba yang dibuat sesuai dengan aturan-aturan yang
semestinya dan bahwa asumsi yang digunakan mempunyai dasar yang rasional
terhadap ramalan yang dibuat manajemen.
2.1.5.5. Reputasi Penjamin Emisi (RPE)
Teori Sinyaling menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik
dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian pasar
(separating equilibrium). Pada saat melakukan penawaran umum, calon investor
tidak sepenuhnya dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk.
Oleh Karena itu, emiten dan penjamin emisi dengan sengaja akan membe