Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat

102  14 

Teks penuh

(1)

DAYA TAHAN HIDUP

Toxoplasma gondii

DALAM SUSU

KAMBING PADA PASTEURISASI SUHU RENDAH WAKTU

LAMA DAN SUHU TINGGI WAKTU SINGKAT

RISMAYANI SARIDEWI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

RISMAYANI SARIDEWI. Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat. Dibimbing oleh DENNY WIDAYA LUKMAN, MIRNAWATI SUDARWANTO dan UMI CAHYANINGSIH.

Protozoa Toxoplasma gondii merupakan parasit obligat intraseluler yang bersifat zoonotik, menyebar secara luas di alam dan dapat menginfeksi banyak spesies hewan berdarah panas. Toksoplasmosis pada kambing dapat menurunkan produksi, keguguran, kematian janin, mumifikasi janin, kerugian ekonomi dan berbahaya bagi kesehatan manusia melalui konsumsi daging dan susu yang terkontaminasi. Penyakit ini dianggap sangat penting dalam dunia kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat.

Susu kambing akhir-akhir ini menjadi trend untuk dikonsumsi dibandingkan susu sapi, sebab kandungan gizi dalam susu kambing lebih baik dibandingkan susu sapi. Susu kambing mengandung protein sebanyak 3.3-4.9% dan lemak 4-7.3% sedangkan susu sapi mengandung protein sebanyak 3.3% dan lemak 3.7%. Susu kambing lebih mudah dicerna dibandingkan dengan susu sapi, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan homogen. Susu kambing juga diketahui memiliki khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan sebagai pengganti air susu ibu bagi bayi yang alergi terhadap protein susu sapi. Susu kambing segar diyakini mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan susu kambing yang telah dipanaskan sehingga masyarakat lebih memilih mengonsumsi susu kambing segar tanpa dipasteurisasi. Gejala klinis toksoplasmosis pada manusia senantiasa dihubungkan dengan konsumsi susu kambing tanpa pasteurisasi. Pasteurisasi merupakan metode pengolahan dengan pemanasan di bawah titik didih untuk memperpanjang masa simpan susu segar. Dikenal dua metode pasteurisasi susu, yaitu: suhu rendah waktu lama (low temperature long time/LTLT), pemanasan pada suhu rendah 63 ºC selama 30 menit dan suhu tinggi waktu singkat (high temperature short time/HTST), pemanasan pada suhu 72 ºC selama 15 detik dan 85 °C selama 1-2 detik. Takizoit T. gondii juga dapat ditemukan di dalam susu kambing segar dan diduga penularan melalui laktasi dapat juga terjadi pada manusia.

Sejauh ini belum ada laporan penelitian tentang kemampuan hidup takizoit dalam susu pasteurisasi. Peneliti sebelumnya hanya mendeteksi keberadaan T. gondii melalui uji polymerase chain reaction (PCR) yang tidak diketahui masih hidup atau sudah mati. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah takizoit masih dapat hidup dalam susu pasteurisasi. Takizoit yang hidup kemungkinan masih dapat menyebabkan infeksi dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini melalui 5 tahapan. Tahap pertama: yaitu mencit dan aklimatisasi. Tahap kedua yaitu peremajaan isolat T. gondii, tahap ketiga yaitu pasteurisasi pra-perlakuan, tahap keempat yaitu pasteurisasi susu berisi takizoit dan tahap kelima adalah infeksi mencit dan pemeriksan cairan peritoneum.

(5)

yang telah diremajakan setelah melakukan pasase beberapa kali. Tahap ketiga yaitu pasteurisasi pra-perlakuan memberikan hasil status mikrobiologi di bawah batas maksimal cemaran mikroba (BMCM) dan uji Storch menunjukkan enzim peroksidase belum terhidrolisis sempurna pada pemanasan suhu 63 ºC selama 30 menit dan telah terhidrolisis sempurna pada suhu 72 °C selama 15 detik. Tahap

keempat diperoleh 4 kelompok susu yang dicampur dengan takizoit dan 1 kelompok susu yang tidak dicampur dengan takizoit sebagai kontrol negatif.

Kelima kelompok pada tahap ini terdiri dari (1) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit (K1); (2) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 72 ºC selama 15 detik (K2); (3) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 85 ºC selama 1-2 detik (K3); (4) susu pasteurisasi dan takizoit tanpa dipanaskan sebagai kontrol positif (K4); dan (5) susu yang tidak dicampur takizoit dan berperan sebagai kelompok kontrol negatif (K5). Hasil dari tahap terakhir (tahap kelima) yaitu takizoit T. gondii galur RH yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit menunjukkan pada kelompok kontrol positif ditemukan takizoit pada cairan peritoneum pada hari ke-4, sedangkan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif tidak ditemukan takizoit sampai hari ke-16. Hasil pengamatan selanjutnya yaitu kelompok mencit yang diinfeksikan dengan susu dan takizoit T. gondii RH yang dipanaskan pada suhu 72 ºC selama 15 detik dan 85 ºC selama 1-2 detik menunjukkan pada kelompok kontrol positif ditemukan takizoit pada cairan peritoneum pada hari ke-4, sedangkan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif tidak ditemukan takizoit sampai hari ke-16.

(6)

SUMMARY

RISMAYANI SARIDEWI. Survival of Toxoplasma gondii in Goat Milk with Pasteurization in Low Temperature Long Time and High Temperature Short Time. Under the supervision of DENNY WIDAYA LUKMAN, MIRNAWATI SUDARWANTO and UMI CAHYANINGSIH.

Protozoan Toxoplasma gondii is an obligate intracellular parasite that is zoonotic, spread widely in nature and can infect many species of warm-blooded animals. Toksoplasmosis in goats may decrease production, miscarriage, fetal death, fetal mummification, economic losses and harmful to human health through the consumption of contaminated meat and milk, so the disease is considered very important in the world of veterinary medicine and public health. Goat milk into today's trend to be consumed than cow milk, because nutrient content in goat milk is more than cow milk. Goat milk contains protein as much as 3.3-4.9% and 4-7.3% fat, whereas cow's milk contains proteins and fats as much as 3.3-3.7%. Goat's milk is easier to digest than cow's milk, because of the size of goat milk fat molecules are smaller and naturally had to be in a homogeneous state. Goat milk is also known to have the efficacy to cure various diseases and as a substitute for breast milk for infants who are allergic to cow milk protein. Fresh goat milk is believed have a higher nutritional value rather the goat milk after heating so the people prefers to consump fresh non pasteurized goat milk. Clinical symptom of Toxoplasmosis in humans is always associated with the consumption of unpasteurized goat milk, but this is not true for all types, for raw milk only. Pasteurization is a method of treatment by heating below the boiling point for extending the shelf life of fresh milk. There are two methods of milk pasteurization, namely: low temperature long time (LTLT) at 63 ºC for 30 minutes and high temperature short time (HTST) at 72 ºC for 15 seconds and 85 °C for 1-2 seconds. Tachyzoite T. gondii can also be found in fresh goat milk and lactation through the suspected transmission can also occur in humans.

There have been no research reports on the living ability of tachyzoite inpasteurized milk. Dubey (1998) found T. gondii DNA in the milk using a polymerase chain reaction test (PCR), and the tachyzoite contained in milk was unknown whether it was alive or dead. Based on the description above, this study was conducted to determine whether tachyzoite still alive in pasteurized milk because the living tachyzoite may still be able to cause infection and harmfulness to public health.

The method of this study was conducted in five steps. The first step is mice and acclimatization. The second step is the rejuvenation of T. gondii isolates, the third step is pasteurization pre-treatment, the fourth step is pasteurization of milk contains tachyizoite, and the fifth steps are mice infection and examination of peritoneal fluid.

(7)

tachyzoites mixed with milk and 1 group is without mixed with tachyzoite as a negative control. The fifth group consists of (1) pasteurized milk and tachyzoite heated at a temperature of 63 ºC for 30 minutes (K1); (2) pasteurized milk and tachyzoite heated at a temperature of 72 ºC for 15 seconds (K2); (3) pasteurized milk and tachyzoite heated at a temperature of 85 ºC for 1-2 seconds (K3); (4) pasteurized milk and tachyzoite without being heated as a positive control (K4); and (5) pasteurized milk without tachyzoite as a negative control (K5). Observations of infected mice group with T. gondii was heated at low temperature long time (63 ºC for 30 minutes) and high temperature short time (72 ºC for 15 seconds and 85 ºC for 1-2 seconds) showed that the positive control group was found tachyzoite in peritoneal fluid on day 4, whereas in treatment group and negative control group were not found tachyzoite until day 16.

(8)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor

pada

Program Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner

RISMAYANI SARIDEWI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

DAYA TAHAN HIDUP

Toxoplasma gondii

DALAM SUSU

(10)

Penguji pada Ujian Tertutup: Dr drh Elok Budi Retnani, MS drh Suhardono, MVSc, PhD

Penguji pada Ujian Terbuka: Dr drh Hardiman, MM

Dr med vet drh Hadri Latif, MSi

(11)

Judul Disertasi : Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat

Nama : Rismayani Saridewi

NIM : B261100021

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr med vet drh Denny Widaya Lukman, MSi Ketua

Prof Dr drh Mirnawati B. Sudarwanto Anggota

Prof drh Umi Cahyaningsih, MS, PhD Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi

Kesehatan Masyarakat Veteriner

Dr med vet drh Denny Widaya Lukman, MSi

Dekan Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian Tanggal Lulus

(12)
(13)

PRAKATA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat-Nya sehingga disertasi berjudul “Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat” dapat disusun dan diselesaikan. Disertasi ini memuat topik untuk mengetahui apakah T. gondii dalam susu kambing yang telah dipanaskan dengan suhu rendah waktu lama dan suhu tinggi waktu singkat masih dapat bertahan hidup atau tidak. Disertasi ini menghasilkan dua artikel yang diterbitkan pada dua jurnal. Naskah pertama yang berjudul “Survival of Toxoplasma gondii in Goat Milk after Pasteurization with Low Temperature and Long Time” telah dipublikasikan pada jurnal Global Veterinaria 11(6):789-793 tahun 2013 (ISSN:1992-6197). Naskah kedua yang berjudul “Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing dengan Pasteurisasi Suhu Tinggi Waktu Singkat” telah diterima di Jurnal Kedokteran Hewan dan akan dipublikasikan pada Vol 9 No 2 September 2015 (ISSN 1978-225X).

Pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat Ketua Komisi Pembimbing Dr med vet drh Denny Widaya Lukman, MSi, atas bimbingan, arahan, motivasi, dan semangat yang diberikan kepada penulis selama pendidikan hingga penyelesaian studi. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis sampaikan kepada Prof Dr drh Mirnawati B. Sudarwanto dan Prof drh Umi Cahyaningsih, MS, PhD atas segala bimbingan, arahan dan masukan perencanaan dan berlangsungnya penelitian hingga penyelesaian disertasi ini. Jasa dan kebaikan dari komisi pembimbing kepada penulis sungguh sangat berharga dan tidak akan dilupakan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup, yang terhormat Dr drh Elok Budi Retnani, MS dan drh Suhardono, MVSc, PhD; dan kepada Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka, yang terhormat Dr drh Hardiman, MM dan Dr med vet drh Hadri Latif, MSi. Pertanyaan, saran, kritik dan koreksinya sangat berharga dalam penyempurnaan disertasi ini.

(14)

Ekowati Handharyani, MSi, PhD dan Prof drh Dondin Sajuti, PhD atas saran dan bantuan untuk memperoleh ACUC sebelum penelitian dimulai. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada drh Didik Tulus Subekti, M.Kes yang telah banyak menolong penulis selama penelitian, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Bapak. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Pak Edi dan rekan-rekan di BBALITVET Bogor dan Mas Yuri yang banyak membantu di Rumah Sakit Hewan IPB.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada rekan seangkatan (Annytha Ina Rohi Detha, Mazdani Ulfah Daulay, Ferry Davidson Maitindom, Rahmat Setya Adji, Heri Yulianto), rekan-rekan di Balai Veteriner Lampung, rekan-rekan di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan dan berbagai pihak yang membantu penyelesaian studi penulis. Akhirnya, penulis ucapkan terima kasih disampaikan kepada kedua orang tua, almarhum ayahanda, ibunda tersayang, keluarga di Depok, kakanda Nurhalina Afriana dan Ferdinand P Siagian, anak-anakku Rafa Zavier Asadel, Bryan Daniswara Siagian, dan Talitha Dearhoney Siagian, keluarga kakanda Rita Wizni di Medan atas doa, kasih sayang dan dukungan kepada penulis selama ini, suamiku Jalaluddin penulis ucapkan terima kasih banyak atas kasih sayang, pengorbanan dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama menyelesaikan studi.

Disertasi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dan menyempurnakan disertasi ini sangat penulis harapkan. Semoga disertasi ini bermanfaat. Terima kasih.

(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Penelitian 3

2 TINJAUAN PUSTAKA 4 Klasifikasi dan Morfologi Toxoplasma gondii 4

Siklus Hidup Toxoplasma gondii 5

Deteksi Toksoplasmosis 7

Penyebaran Toksoplasmosis 8

Pencegahan dan Pengobatan Toksoplasmosis 9

Susu Kambing 10

3 METODE 12 Waktu dan Tempat 12

Metode Penelitian 12 4 PASTEURISASI SUSU KAMBING SEBELUM PENAMBAHAN

ISOLAT TAKIZOIT TOXOPLASMA GONDII GALUR RH 15

Abstract 15

Abstrak 15

Pendahuluan 15

Bahan dan Metode 16

Hasil dan Pembahasan 17

Simpulan 18

5 DAYA TAHAN HIDUP TOXOPLASMA GONDII DALAM SUSU KAMBING DENGAN PASTEURISASI SUHU RENDAH WAKTU

LAMA 19

Abstract 19

Abstrak 19

Pendahuluan 19

Bahan dan Metode 20

Hasil dan Pembahasan 23

(16)

DAFTAR ISI (lanjutan)

6 DAYA TAHAN HIDUP TOXOPLASMA GONDII DALAM SUSU KAMBING DENGAN PASTEURISASI SUHU TINGGI WAKTU

SINGKAT 26

Abstract 26

Abstrak 26

Pendahuluan 27

Bahan dan Metode 28

Hasil dan Pembahasan 30

Simpulan 32

7 PEMBAHASAN UMUM 33

8 SIMPULAN DAN SARAN 36

Simpulan 36

Saran 36

DAFTAR PUSTAKA 37

LAMPIRAN 44

(17)

DAFTAR TABEL

1. Hasil pasteurisasi susu terhadap uji angka lempeng total, agar darah

dan Storch 17

2. Hasil pengamatan kelompok mencit yang diinfeksikan susu pasteurisasi 23 3. Jumlah takizoit yang diperoleh dari kelompok kontrol positif 24 4. Hasil pengamatan dari setiap kelompok perlakuan campuran susu

(18)

DAFTAR GAMBAR

1. Bagan alur metode penelitian secara umum 14

2. Bagan alur metode penelitian LTLT 22

3. Bagan alur metode penelitian HTSError! Bookmark not defined. 29 4. Jumlah takizoit dari cairan peritoneum kelompok kontrol positifError!

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Publikasi jurnal internasional 44

2. Surat keterangan telah diterima oleh jurnal nasional 49

3. Draft jurnal nasional 50

4. Formulir ACUC 62

5. Sertifikat ACUC 78

(20)
(21)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki udara hangat dengan kelembaban tinggi, memiliki kerugian terutama menyangkut aspek kesehatan. Kerugian tersebut antara lain disebabkan oleh mikroorganisme yang dapat berkembang biak dengan baik berupa virus, bakteri, cendawan dan protozoa. Salah satu mikroorganisme tersebut bersifat zoonotik, dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya.

Penyakit zoonotik yang cukup meresahkan masyarakat adalah toksoplasmosis. Penyakit ini menjadi perhatian karena dapat ditularkan secara kongenital serta menyebabkan abortus. Toksoplasmosis disebabkan oleh Toxoplasma gondii yang dapat menyerang semua hewan berdarah panas. Induk semang definitif penyakit ini yaitu kucing dan beberapa spesies dari bangsa kucing liar (Dharmojono 2001).

Infeksi T. gondii pada anak kucing ditularkan secara transplasenta pada masa kebuntingan induknya (Dubey dan Hoover 1977; Dubey et al. 1995, 1996; Omata et al. 1994; Powell dan Lappin 2001). Takizoit T. gondii ditemukan dalam susu domba, kambing, sapi, dan tikus (Dubey 1998; Pettersen 1984; Tenter et al. 2000). Infeksi pada manusia ditularkan melalui konsumsi susu kambing mentah (Sacks et al. 1982; Skinner et al. 1990) dan diduga penularan melalui laktasi dapat juga terjadi pada manusia (Bonametti et al. 1997).

Gejala klinis toksoplasmosis pada manusia telah dihubungkan dengan konsumsi susu kambing tanpa pasteurisasi (Riemann et al. 1975; Sacks et al. 1982; Chiari dan Neves 1984; Skinner et al. 1990). Tenter (2009) menyatakan

bahwa hanya susu mentah yang dapat menularkan toksoplasmosis. Takizoit dari T. gondii telah ditemukan pada beberapa jenis susu (Dubey dan Beattie 1988).

Transmisi toksoplasmosis melalui susu yang tidak dipasteurisasi, atau keju yang berasal dari susu tanpa pasteurisasi, merupakan salah satu sumber penularan toksoplasmosis (Hiramoto et al. 2001).

Susu pasteurisasi adalah hasil olahan susu segar dan merupakan cara untuk memperpanjang daya tahan susu segar. Pasteurisasi dimaksudkan untuk membunuh kuman patogen yang ada dalam susu dan mempertahankan semaksimal mungkin nutrisi serta cita rasa susu segar (Purnomo dan Adiono 1987).

(22)

2

diperbolehkan dalam susu pasteurisasi adalah 3 x 104 cfu/ml (BSN 2009). Mikroorganisme yang dapat hidup dalam susu pasteurisasi bergantung pada suhu penyimpanan, jumlah dan tipe mikroorganime (Frazier dan Westhoff 1979).

Menurut Lake et al. (2002), bradizoit (kista) T. gondii dalam daging babi akan mati pada suhu 49 ºC selama 336 detik, suhu 55 ºC selama 44 detik dan suhu 61 ºC selama 6 detik. Pemanasan pada suhu 65 ºC menggunakan gelombang mikro memberikan hasil yang bervariasi untuk mematikan bradizoit yang ada dalam daging kambing. Bradizoit dalam jaringan juga dilaporkan dapat mati pada suhu 49 ºC selama 53.5 menit, 55 ºC selama 5.8 menit, 61 ºC selama 3.8 menit dan 67 ºC selama 3.6 menit. Takizoit akan mati pada suhu 55 ºC selama 30 menit, kista akan mati pada suhu 55 ºC selama 30 menit, dan ookisa akan mati pada suhu 58 ºC selama 15 menit dan -20 ºC selama 3 minggu.

Toksoplasmosis dapat terjadi melalui minum susu kambing yang tidak dipasteurisasi (Sacks et al. 1982; Chiari dan Neves 1984; Skinner et al. 1990). Chiari dan Neves (1984) melaporkan bahwa ekskresi takizoit di dalam susu berasal dari kambing yang terinfeksi T. gondii secara alami. Walaupun infeksi terjadi akibat mengonsumsi susu kambing, tetapi peneliti lain melaporkan bahwa mengonsumsi produk susu mentah pada hewan lain juga dapat menyebabkan penularan T. gondii secara horizontal (Spalding et al. 2005; Kijlstra dan Jongert 2008).

Konsumsi susu kambing, domba, dan sapi serta produknya yang tidak dipasteurisasi dapat berisiko terhadap penularan takizoit T. gondii (Dubey 1998). Kejadian ini mengindikasikan bahwa infeksi takizoit dapat terjadi secara oral (Cook et al. 2000). Kasus toksoplasmosis juga dilaporkan pada anak-anak yang mengonsumsi susu ibu yang terinfeksi toksoplasmosis akibat memakan daging domba setengah masak. Takizoit yang berada dalam susu tidak dapat dihancurkan oleh asam lambung (Bonametti et al. 1997).

Selama ini belum ada penelitian tentang kemampuan hidup takizoit dalam susu pasteurisasi, karena Dubey (1998) hanya menemukan DNA T. gondii pada susu melalui uji PCR yang sumber infeksinya belum diketahui berasal dari induk atau kontaminasi. Takizoit yang terkandung di dalam susu tidak diketahui masih hidup atau sudah mati. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian ini untuk mengetahui apakah takizoit masih dapat hidup dalam susu pasteurisasi, sebab takizoit yang hidup kemungkinan masih menyebabkan infeksi dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

(23)

3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan hidup takizoit T. gondii galur RH dalam susu yang dipasteurisasi dengan suhu 63 ºC selama 30 menit, 72 ºC selama 15 detik dan 85 ºC selama 1-2 detik (dengan melihat keberadaan takizoit di dalam cairan peritoneum mencit).

Manfaat Penelitian

(24)

4

2

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi dan Morfologi Toxoplasma gondii

Nama Toxoplasma diambil dari bahasa Yunani “toxon”, berarti busur panah atau lengkung. Ini sesuai dengan bentuk Toxoplasma yang seperti bulan sabit. Adapun bentuk seperti ini didapatkan pada Toxoplasma dalam bentuk tropozoit fase proliferasi, merozoit dari kista, merozoit dari skizogoni pada epitel usus kucing dan pada sporozoit dari ookista.

Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit obligat intraselular yaitu T. gondii. Parasit ini merupakan golongan protozoa yang hidup bebas di alam. T. gondii pertama kali ditemukan tahun 1908 oleh Nicolle dan Manceaux dari limpa dan hati hewan pengerat (rodensia) Ctenodactyles gondii (gundi) di Sahara Afrika Utara (Sciammarella 2001). Toxoplasma termasuk dalam filum Apicomplexa, kelas Sporozoa (Sarcocytidae), subkelas Coccidia (Coccidiasina), ordo Eucoccidiorida, famili Sarcocystidae, genus Toxoplasma dan spesies Toxoplasma gondii (Levine 1990). Parasit ini mempunyai sifat yang tidak umum dibandingkan dengan genus lain, diantaranya dapat menginfeksi inang antara dalam kisaran yang sangat luas (tidak bersifat inang spesifik).

Filum Apicomplexa terdiri dari 3 stadium yaitu stadium takizoit merupakan stadium multiplikasi aktif dari tropozoit dan biasanya teramati pada infeksi akut. Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 µm, lebar 2-4 µm dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi (Levine 1990). Stadium ini paling sering dijumpai pada organ tubuh khususnya otak, otot daging, otot jantung dan mata, ditularkan secara transplasental kepada fetus maupun neonatal. Stadium kedua adalah stadium bradizoit merupakan stadium kista tidak aktif dan berada dalam jaringan, berukuran 7-10 µm, lebih sering dijumpai pada daging babi dan kambing. Stadium kista jarang ditemukan pada daging sapi. Menurut Levine (1990), pada infeksi kronis kista dapat ditemukan dalam jaringan organ tubuh dan terutama di otak. Stadium ketiga adalah stadium ookista yang berada dalam kotoran/feses kucing, sangat tahan terhadap lingkungan dan menulari manusia serta bangsa burung. Ookista berbentuk lonjong, berukuran 11-14 µm x 9-11 µm. Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas. Pada perkembangan selanjutnya ke dua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang berukuran 8 x 2 µm (Frenkel 1989; Levine 1990).

(25)

5 yaitu tipe IV dan V. T. gondii IV merupakan hasil rekombinasi akibat perkawinan silang dari parental tipe I dan III. Sementara itu, T. gondii V merupakan hasil rekombinasi dari parental tipe II dan III (Subekti dan Arrasyid 2006). Rekombinasi antar tipe tersebut dapat terjadi karena adanya perkembangan seksual pada siklus hidup T. gondii.

Teknik untuk menentukan patogenitas T. gondii dapat dilakukan secara langsung pada hewan hidup yang peka ataupun dengan analisis genetik menggunakan marka genetik tertentu. Kedua teknik tersebut tidak dilakukan secara terpisah tetapi saling melengkapi. Hewan peka yang selalu dapat menunjukkan gejala klinis pada infeksi T. gondii adalah mencit. Oleh sebab itu, berbagai studi dan penentuan patogenitas dan imunopatogenesis dari infeksi T. gondii umumnya menggunakan mencit (Darde 1996; Sibley dan Howe 1996). T. gondii yang patogen umumnya mengakibatkan kematian pada mencit (LDI00) dalam kurun waktu 6-9 hari pascainfeksi dan tergantung dari dosis infeksinya (Sibley dan Howe 1996). Namun berbagai hasil percobaan dan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa infeksi secara intraperitoneum takizoit T. gondii I (T. gondii RH) dengan dosis lebih besar dari 103 hampir selalu mengakibatkan kematian (LD100) pada 3-5 hari pascainfeksi, sedangkan infeksi dengan dosis lebih kecil dari 103 akan membunuh semua mencit pada hari ke-8 sampai 9 pascainfeksi. Selanjutnya T. gondii II dan III merupakan kelompok yang mudah membentuk kista dan hanya menyebabkan kematian (LD50) pada mencit jika diinfeksikan dengan dosis di atas 103 (Sibley et al. 2002; Su et al. 2002; Robben et al. 2004). Sebaliknya, apabila diinfeksikan pada dosis kurang dari 103 umumnya akan membentuk kista dan mencit dapat terus bertahan hidup tanpa menunjukkan gejala klinis (Sibley et al. 2002; Su et al. 2002).

Siklus Hidup Toxoplasma gondii

Siklus hidup T. gondii diperantarai oleh sel inang ke intraselular inang dan kemudian melakukan multiplikasi. Parasit ini mempunyai siklus hidup yang bersifat obligat dengan fase seksual dan aseksual. Siklus seksual terjadi pada tubuh kucing dan siklus aseksual terjadi pada berbagai inang antara yang sangat bervariasi (Sciammarella 2001). Inang definitif adalah kucing dan hospes perantaranya adalah manusia dan mamalia lainnya, serta beberapa jenis burung. Siklus seksual T. gondii hanya terdapat pada kucing melalui gametogoni (reproduksi seksual). Kucing dapat terinfeksi saat memakan tikus yang mengandung kista, pseudokista atau ookista dari lingkungan. Kemudian tropozoit masuk ke dalam epitel usus kucing dan membentuk skizon yang kemudian membentuk makrogamet dan mikrogamet. Hasil perkawinan makrogamet dan mikrogamet membentuk ookista, lalu dikeluarkan bersama feses kucing 3-5 hari setelah terinfeksi dan menetap di dalam feses selama 1-2 minggu. Ookista kemudian menjadi infeksius saat terjadi sporulasi setelah 1-3 hari pada suhu 22-32 ºC. Ookista dapat bertahan pada berbagai macam kondisi lingkungan dan pada udara bebas selama 1 tahun atau lebih.

(26)

6

dapat melalui transplasenta wanita hamil ke anaknya. Tingginya prevalensi kasus toksoplasmosis membawa resiko tingginya kejadian cacat lahir maupun keguguran. Pada anak yang lahir prematur, gejala klinis lebih berat dari pada yang lahir cukup bulan, dapat disertai anemia, trombositopenia, hepatomegali, splenomegali, ikterus, limfadenopati, kelainan susunan saraf pusat dan lesi mata. Infeksi pada kehamilan muda dapat menyebabkan abortus atau lahir mati (Jones et al. 2003). Apabila toksoplasmosis menyerang wanita hamil pada trimester ketiga dapat mengakibatkan hidrosefalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsy (Soeharsono 2002; Dharmojono 2001). Bila infeksi ini mengenai ibu hamil trimester pertama akan menyebabkan 20% janin terinfeksi T. gondii atau kematian janin, sedangkan bila ibu terinfeksi pada trimester ketiga 65% janin akan terinfeksi. Infeksi ini dapat berlangsung selama kehamilan (Indrawati 2002). Penularan juga dapat terjadi lewat transfusi darah atau transplantasi organ (jantung, ginjal dan hati) yang mengandung kista T. gondii. Infeksi pada orang dewasa biasanya tidak diketahui karena jarang menimbulkan gejala (asimptomatik), tetapi bila seorang ibu yang sedang hamil mendapatkan infeksi primer, maka ia dapat melahirkan anak dengan toksoplasmosis kongenital. Gejala klinis yang paling sering dijumpai pada toksoplasmosis akuisita adalah limfadenopati dan rasa lelah, disertai demam dan sakit kepala (Gandahusada et al. 2002).

Menurut Wu (2001) dan Shakespeare (1998), transmisi T. gondii dapat terjadi melalui: a) transmisi transplasental dari wanita hamil yang terinfeksi kepada janin yang dikandungnya (toksoplasmosis kongenital); b) konsumsi daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista jaringan atau takizoit; c) konsumsi air, susu, sayuran atau buah-buahan yang terkontaminasi ookista, atau tertelan ookista yang berasal dari tanah; d) infeksi di laboratorium akibat bekerja dengan hewan percobaan yang diinfeksi dengan T. gondii, melalui jarum suntik, alat laboratorium lain yang terkontaminasi dengan T. gondii, serta dapat terinfeksi pada saat melakukan autopsi hewan terinfeksi; e) transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang menderita toksoplasmosis laten.

Daging merupakan rute penularan yang banyak dilaporkan. Babi, kambing dan domba merupakan ternak yang sangat penting sebagai sumber penularan T. gondii. Selain ternak tersebut sapi, unggas dan hewan buruan juga berperan sebagai sumber penularan (Dubey 1999). Di Amerika Serikat diperkirakan 50% orang terinfeksi toksoplasmosis karena mengonsumsi daging (Roghmann et al. 1999). Kambing yang terinfeksi oleh T. gondii akan mengekskresikan takizoit pada mukosa vaginal, air liur, sekresi nasal, urin dan susu. Tingkat mortalitas dan morbiditas dari parasit ini cukup tinggi pada pasien yang immunocompromise (AIDS, kanker, transplantasi) dan pada anak-anak yang tertular melalui ibunya (Dubey 1999).

(27)

7 luas pada peternakan domba menunjukkan bahwa 3.4% susu mengandung DNA T. gondii, kenyataan bahwa kasus ini berhubungan penting terhadap kesehatan manusia (Fusco et al. 2007).

Menurut Chiari dan Neves (1984) bahwa ekskresi takizoit pada susu di Brazil berasal dari kambing yang terinfeksi T. gondii secara alami dan menyebabkan penularan toksoplasmosis pada manusia akibat mengonsumsi susu tersebut. Survei epidemiologi di Belo Horizonte, Minas Gerais State, Brazil, mengindikasikan bahwa terdapat hubungan antara manusia yang terinfeksi T. gondii secara serologis dengan konsumsi susu kambing yang terinfeksi (Chiari et al. 1987).

Deteksi Toksoplasmosis

Perkembangan teknik diagnosis toksoplasmosis beragam seiring dengan majunya ilmu dan teknologi. Menurut Remington et al. (2004), bahwa secara prinsip teknik diagnosis toksoplasmosis terbagi empat macam yaitu secara morfologis, serologis, molekuler dan serologis molekuler. Teknologi yang pertama kali berkembang adalah pemeriksaan morfologis dengan menggunakan mikroskop. Teknik ini bertujuan untuk identifikasi, diferensiasi dan klasifikasi T. gondii. Diagnosis morfologis dilakukan untuk mengidentifikasi ookista, takizoit atau bahkan kista yang berisi bradizoit. Ookista dan takizoit dapat diperiksa secara natif ataupun dengan pewarnaan, sedangkan bradizoit umumnya dalam bentuk preparat histopat. Teknik diagnosis morfologis menggunakan alat dan bahan yang sangat sederhana serta relatif mudah diaplikasikan di laboratorium.

Teknik diagnosis kedua adalah secara serologis pada hewan dan manusia. Beberapa teknik serologis yang telah digunakan untuk diagnosis toksoplasmosis yaitu Dye test (Sabin-Feldman dye test), CFT (complement fixation test), MAT (modified agglutination test), CAT (card agglutination test), DAT (direct agglutination test), IHA (indirect hemagglutination test), LAT (latex agglutination test), IFA (indirect fluorescen assay), FA (fluorescen assay), ELISA (enzyme linked immunosorben assay), immunoblotting (Jenum dan Straypedersen 1998; Figueiredo et al. 2001; Pietkiewietz et al. 2004) dan PCR (polymerase chain reaction) (Jones et al. 2000; Lin et al. 2000; Menotti et al. 2003; Chabbert et al. 2004; Remington et al. 2004; Vidal et al. 2004). Penggunaan teknik diagnosis serologis pada hewan di Indonesia sampai saat ini terbatas pada CAT dan LAT, sedangkan pada manusia menggunakan DAT, IHA dan ELISA. Diagnosis serologis sangat terkait dengan evaluasi profil respon imun dan penetapan status infeksi.

(28)

8

teknologi PCR serta mulai banyak digunakan adalah RFLP (random fragment length polymorphism), sedangkan yang dapat dipakai untuk penentuan klonet T. gondii adalah RT PCR (real time polymerase chain reaction) yang memiliki sensitivitas dan spesivisitas tinggi dibanding PCR konvensional (Lin et al. 2000; Grigg et al. 2001; Simmon et al. 2004).

Teknik diagnosis keempat secara serologis molekuler. Teknik yang telah dikembangkan yaitu PCR ELISA dan Multiplex PCR (Menotti et al. 2003; Schwab dan Mcdevitt 2003; Simmon et al. 2004; Ajzenberg et al. 2005). Teknik PCR ELISA memungkinkan dilakukan kuantifikasi seperti halnya RT PCR dengan sensitivitas yang setara (Menotti et al. 2003), namun pada PCR ELISA, waktu yang dibutuhkan sedikit lebih lama karena menggabungkan teknik PCR dengan ELISA produk PCR. Apabila ditinjau dari segi biaya operasional, PCR ELISA jauh lebih terjangkau.

Penyebaran Toksoplasmosis

Toksoplasmosis di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan oleh Catar pada tahun 1962, ketika melakukan survei di Jawa dan Bali dengan hasil 27.4% sampel positif terhadap toksoplasmosis. Kemudian pada tahun 1964 diperoleh 24% penduduk asli di Lembah Baliem dan daerah Merauke yang berumur 10-50 tahun mengidap atau pernah mengidap toksoplasmosis. Kasus toksoplasmosis juga ditemukan di Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Surabaya, Sulawesi Utara, Boyolali dan Sumatera Utara. Pemeriksaan serologis terhadap 1693 penduduk Jakarta yang berumur 20-85 tahun, Terazawa et al. (2003) melaporkan bahwa tingkat seroprevalensi toksoplasmosis pada penduduk Jakarta adalah 70%, tanpa ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki (71%) dan perempuan (69%). Chandra (2001) melaporkan bahwa 52.25% kejadian abortus spontan di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta dan rumah sakit Hasan Sadikin Bandung akibat infeksi T. gondii. Gandahusada et al. (2002) melaporkan bahwa prevalensi toksoplasmosis pada manusia berkisar antara 2-63%, kucing 35-73%, anjing 75%, babi 11-36%, kambing 11-61%, sedangkan sapi dan kerbau kurang dari 10%. Chandra (2001) menyebutkan adanya takizoit T. gondii yang ditemukan pada daging kambing di pasar tradisional di kotamadya Surabaya dengan prevalensi mencapai 66.7%. Hal ini mengindikasikan daging sebagai bahan pangan berpotensi sebagai sumber penularan toksoplasmosis.

Seroprevalensi kejadian toksoplasmosis di dunia sangat bervariasi yaitu di Jepang 12%, Inggris dan Amerika 21-36%, Perancis dan El Salvador 84-90% dan Jerman 80% (Sciammarella 2001). Menurut Jones et al. (2003), di Amerika Serikat diperkirakan terjadi 400-4000 kasus toksoplasmosis kongenital setiap tahunnya. Pada orang dewasa dilaporkan 40% mengalami toksoplasmosis yang asimptomatik. Survei serologis dari berbagai jenis hewan di Amerika prevalensi antibodi terhadap toksoplasmosis didapatkan pada kucing (34%), sapi (47%), kambing (48%), babi (30%), anjing (34-59%) (Sciammarella 2001).

(29)

9 keguguran. Soeharsono (2002) dan Dharmojono (2001) menyatakan bahwa apabila toksoplasmosis mengenai wanita hamil trimester ketiga dapat mengakibatkan hidrosefalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi. Kejadian toksoplasmosis di beberapa kota besar di Indonesia juga pernah diteliti tahun 2003. Adapun prevalensi kasus toksoplasmosis pada manusia di Indonesia adalah Aceh (59.09%), Sumatera Utara (68.98%), Sumatera Barat (54%), Riau (55%), Jambi (51.20%), Lampung (88.23%), Jakarta (76.92%), Jawa Barat (68.66%), Jawa Tengah (58.62%), Jawa Timur (48.78%), Bali (53.57%), Nusa Tenggara Barat (28.95%), Nusa Tenggara Timur (80%), Kalimantan Barat (55.88%), Kalimantan Tengah (68.42%), Kalimantan Selatan (55.26%), Kalimantan Timur (81.25%), Sulawasi Tengah (76.47%) dan Irian Jaya (68%) (Subekti 2008).

Suhardjo et al. (2003) melakukan penelitian pada 173 pasien penderita toksoplasmosis okular (98 orang laki-laki dan 75 orang wanita) yang berumur 3 bulan sampai 68 tahun di rumah sakit Dr Sardjito dan Klinik mata Dr Yap di Yogyakarta. Suhardjo et al. (2003) menyatakan bahwa manifestasi klinis toksoplasmosis okular yang paling sering adalah khorioretinitis (71.2%), luka pada retina mata (22.4%), mata juling (6.4%), katarak kongenital (2.8%), nistagmus (6.4%) dan pengecilan pupil mata (2.8%). Penderita imunosupresan, yaitu penderita AIDS, kanker ataupun pasien transplantasi organ gejala klinis akan cepat terlihat. Pada tahun 1980-an ensefalitis toksoplasmik muncul sebagai penyakit parasitik yang paling sering dijumpai pada penderita AIDS. Gejala klinis lainnya yaitu adanya gangguan sistem syaraf, ensefalitis, pembesaran limfoglandula, gangguan mata, gangguan pendengaran, gangguan pernafasan dan gangguan jantung. Angka kematian pada penderita imunosupresan cukup tinggi (Wu 2013).

Kucing piara (Felis catus) dan hewan-hewan tergolong famili Felidae, antara lain jaguarundi (F. yagouroundi), ocelot (F. paradalis), singa gunung (F. concolor), leopard (F. bengalensis) dan bobcat (Lynx rufus) merupakan hospes definitif. Hospes perantaranya adalah manusia, mamalia lainnya dan burung (Soeharsono 2002). Lima belas sampai 85% populasi anak-anak di dunia secara kronis terinfeksi oleh toksoplasmosis dipengaruhi oleh kondisi geografi, suhu, ataupun kelembaban (Indrawati 2002). Faktor kelembaban dan suhu yang sesuai ookista akan mampu bertahan beberapa bulan sampai lebih dari satu tahun. Lalat, cacing, kecoak dan serangga lain mungkin dianggap sebagai agen mekanis dalam penyebaran parasit ini. Faktor lain yang berpengaruh adalah umur. Umur berpengaruh secara serologi pada orang yang mengonsumsi daging babi yang proses pemasakannya tidak sempurna dan pada orang yang selalu menangani daging mentah.

Pencegahan dan Pengobatan Toksoplasmosis

(30)

10

sumber infeksi dapat dimusnahkan dengan memasaknya pada suhu 66 ºC sampai matang sebelum dimakan (Chahaya 2003). Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan ookista yang berada di dalam tanah, dapat diusahakan mematikan ookista dengan bahan kimia seperti formalin, amonia dan iodin dalam bentuk larutan serta air panas 70 ºC yang disiramkan pada feses kucing (Remington dan Desmont 1983; Siegmund 1979). Lundén dan Uggla (1992) menyatakan bahwa pemanasan pada suhu 50 ºC atau lebih, kemungkinan dapat membunuh kista dalam daging kambing. Peneliti lain menunjukkan bahwa kista dalam jaringan dapat mati pada suhu -12 ºC selama beberapa hari (Kotula et al. 1991).

Pencegahan toksoplasmosis dapat dilakukan melalui: a) tidak memakan daging mentah atau kurang matang; b) mencuci tangan setelah memegang daging mentah; c) mencuci alat dapur bekas daging mentah; d) mencuci sayuran mentah/lalapan sebelum dikonsumsi; e) mencuci tangan setelah berkebun atau memegang kucing dan f) mencegah lalat dan kecoa menghinggapi makanan (Chahaya 2003).

Tingginya kadar antibodi dari pemeriksaan toksoplasmosis secara serologis untuk menyatakan seseorang sudah terinfeksi adalah beragam, tergantung pada cara peneraan yang dipakai dan kendali mutu serta batasan baku masing-masing laboratorium. Tidak semua ibu hamil yang terinfeksi toksoplasmosis akan menularkan toksoplasmosis bawaan pada bayinya. Bilamana dalam pemeriksaan sebelum hamil menunjukkan IgG positif terhadap Toxoplasma, berarti ibu tersebut terinfeksi sudah lama, tetapi bukan berarti bahwa 100% bayinya akan bebas dari toksoplasmosis bawaan. Gandahusada (1992) menyatakan bahwa obat-obat yang cukup efektif terhadap toksoplasmosis antara lain pirimetamin (daraprim, fansidar) dengan dosis 1 mg/kg berat badan/hari secara oral. Obat ini dapat menyebabkan depresi sumsum tulang, maka harus diberikan bersamaan dengan asam folinat 3-10 mg IM/hari dan diberikan setiap hari selama dua minggu dan tidak boleh diberikan kepada wanita hamil karena efek samping teratogenesis. Sulfadiazin juga dapat diberikan secara oral yaitu dosis dewasa 3-6 g/hari, anak 150 mg/kg berat badan/hari dan efek sampingnya adalah gangguan ginjal. Spiramisin diberikan secara oral dengan dosis dewasa 2-3 g/hari, anak 50 mg/kg berat badan/hari dan efek samping ringan serta dapat diberikan kepada wanita hamil. Kortikosteroid perlu diberikan juga, seperti prednison dengan dosis 1-2 mg/kg berat badan/hari secara oral, diberikan dua kali sehari selama masa peradangan, kemudian dosis diturunkan.

Pencegahan toksoplasmosis pada ternak dapat dilakukan dengan memutus rantai siklus hidupnya, yaitu mencegah kontaminasi T. gondii pada pakan. Pengobatan pada ternak hanya efektif terhadap bentuk takizoit, tetapi tidak dapat menghilangkan bentuk kista. Klindamisin dengan dosis 25-50 mg/kg berat badan per hari dibagi menjadi dua dosis, yaitu pagi dan sore diberikan secara oral dan diberikan sampai dua minggu setelah gejala klinis hilang. Sulfadiazin dengan dosis 30 mg/kg berat badan diberikan secara oral setiap 12 jam. Pirimetamin 0.5 mg/kg berat badan dan diberikan juga asam folinic 5 mg/hari (Iskandar 1999).

Susu Kambing

(31)

11 kambing dianggap sebagian masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit pernafasan seperti asma dan tuberkulosis, walaupun belum terbukti secara ilmiah. Oleh karena itu, permintaan akan susu kambing cenderung semakin meningkat. Susu kambing belum dikenal secara luas seperti susu sapi padahal memiliki komposisi kimia yang cukup baik (Fauzan 2011). Menurut hasil penelitian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor (1996), susu kambing mengandung protein sebanyak 3.3-4.9% dan lemak 4.0-7.3%, sedangkan susu sapi mengandung protein sebanyak 3.3% dan lemak 3.7%. Susu kambing lebih mudah dicerna dibandingkan dengan susu sapi, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan secara alamiah sudah berada dalam keadaan homogen. Globula-globula lemak yang berdiameter kecil yaitu 4.5 µm pada susu kambing lebih banyak yaitu 82.7%, sedangkan pada susu sapi hanya 65.4%.

(32)

12

3

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan di Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet) Bogor, Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB), Laboratorium Terpadu FKH IPB, dan Rumah Sakit Hewan IPB dari April 2012 sampai Desember 2012.

Metode Penelitian

Mencit dan Aklimatisasi

Penelitian ini menggunakan mencit sebagai hewan coba dan dilakukan aklimatisasi mencit sebelum perlakuan. Mencit yang digunakan adalah mencit jantan strain DDY berumur 4-5 minggu dengan berat 20-25 g, diperoleh dari biakan inbreed dari laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan Jakarta. Selanjutnya hasil biakan mencit dibawa ke Balai Besar Penelitan Veteriner Bogor, dipelihara dengan diberikan makan dan minum ad libitum untuk adaptasi, setelah satu minggu kemudian mencit siap diinfeksikan dengan takizoit T. gondii RH Bbalitvet Bogor secara intraperitoneum.

Peremajaan Isolat Toxoplasma gondii

Peremajaan isolat takizoit T. gondii RH dari Bbalitvet Bogor mulai dilakukan setelah mencit siap untuk diinfeksikan. Peremajaan ini dilakukan dengan pasase berulang. Tujuannya adalah membuat isolat menjadi stabil. Isolat takizoit T. gondii RH dari cryo tube dikeluarkan dari nitrogen cair. Isolat mengandung1.19 x 105takizoit/ml, kemudian disuntikkan secara intraperitoneum ke kelompok mencit pertama yang terdiri dari 5 ekor setiap kelompoknya yaitu mencit yang sudah disiapkan tersendiri untuk pasase. Pertumbuhan takizoit yang disuntikkan ke dalam tubuh mencit diamati setiap hari selama 4-6 hari atau sampai mencit kelihatan sakit. Satu ekor mencit yang sudah tampak sakit diambil, sebelum mati, selanjutnya mencit dieutanasi dengan pemberian Ketamin HCl.

(33)

13

Pateurisasi Pra-Perlakuan

Tahap selanjutnya adalah pasteurisasi susu kambing segar yang dilakukan sebelum penambahan isolat. Tujuan pasteurisasi untuk membunuh mikroba patogen lain sehingga kematian yang terjadi pada mencit hanya terkait dengan infeksi T. gondii saja. Hal demikian untuk menghilangkan faktor perancu dalam penelitian ini.

Susu kambing segar sebanyak 250 ml masing-masing dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan di dalam penangas air dengan suhu 63 ºC selama 30 menit dan 72 °C selama 15 detik. Parameter yang diamati setelah pasteurisasi adalah uji mikrobiologi dengan metode angka lempeng total, agar darah dan uji Storch untuk mendeteksi keberadaan enzim peroksidase di dalam susu.

Pasteurisasi Susu Berisi Takizoit

Tahap keempat adalah pecampuran susu dan takizoit. Susu dan takizoit yang telah dicampur dibagi atas 4 kelompok perlakuan yaitu (1) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit (K1); (2) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 72 ºC selama 15 detik (K2); (3) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 85 ºC selama 1-2 detik (K3); (4) susu pasteurisasi dan takizoit tanpa dipanaskan sebagai kontrol positif (K4); sedangkan kelompok ke-5 yaitu susu yang tidak dicampur takizoit dan berperan sebagai kelompok kontrol negatif (K5). Kelima kelompok susu di atas yang selanjutnya akan diinfeksikan ke mencit.

Infeksi Mencit dan Pemeriksaan Cairan Peritoneum

(34)

14 Ditambahkan takizoit T. gondii RH

Dibagi menjadi 4 bagian

(35)

15 T. gondii add into the pasteurized milk, it will get pure T. gondii without mix with other microbes, further then it will be existence observed in mice body easily. This study used low temperature long time (LTLT) at 63 ºC for 30 minutes and high temperature short time (HTST) at 72 ºC for 15 seconds and continued microbial test (total plate count and blood agar) and Storch test. The results showed that value of total plate count was below the microbial contamination maximum limit, and no colonies growing on blood agar media. Storch test results showed that milk have bluish color for LTLT and did not change colour for HTST.

Key words: microbes, milk, pasteurized, Storch

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah membunuh mikroba patogen yang ada di dalam susu agar diperoleh susu dan T. gondii tanpa campuran mikroba lain sehingga keberadaan T. gondii dalam tubuh mencit lebih mudah teramati. Penelitian ini menggunakan metode pasteurisasi suhu rendah waktu lama (LTLT) yaitu 63 ºC selama 30 menit dan suhu tinggi waktu singkat (HTST) yaitu 72 ºC selama 15 detik dan dilanjutkan uji mikroba (angka lempeng total dan agar darah) serta uji Storch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai angka lempeng total berada di bawah batas maksimum cemaran mikroba, dan tidak ditemukan koloni yang tumbuh pada media agar darah. Hasil uji Storch menunjukkan susu berwarna kebiruan dari LTLT dan tidak berubah warna dari HTST.

Kata kunci: mikroba, pasteurisasi, susu, Storch

Pendahuluan

(36)

16

umumnya bersifat patogen yakni menyebabkan penyakit bagi inangnya seperti Escherichia coli, Salmonella sp. dan Staphylococcus aureus. Kerusakan pada susu dapat dikurangi dengan penanganan yang tepat seperti pemanasan ataupun penyimpanan pada suhu rendah. Pengolahan susu seperti pasteurisasi susu merupakan suatu teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan umur simpan susu. Pasteurisasi merupakan salah satu cara untuk membunuh kuman patogen di dalam susu.

Susu pasteurisasi mempunyai sifat tidak tahan lama dan mudah rusak. Susu pasteurisasi hanya mampu bertahan pada suhu 4 ºC selama 5 hari. Pasteurisasi susu adalah sebuah proses pemanasan susu bertujuan membunuh mikroba merugikan seperti bakteri, virus, protozoa, kapang dan khamir. Metode pengolahan ini merupakan cara paling efektif dalam menjaga kemurnian nutrisi susu segar tanpa tambahan zat apapun sehingga umur simpan produk menjadi lebih lama dibanding susu segar mentah (susu murni). Manfaat susu pasteurisasi sama dengan manfaat susu murni, yaitu kandungan asam amino, vitamin, kalsium, mineral, protein, lemak dan laktosa merupakan sumber energi yang baik dalam mendukung aktivitas fisik, membantu pertumbuhan tulang dan gigi pada anak.

Susu kambing saat ini sudah mulai populer jika dibandingkan susu sapi, sebab kandungan gizi dalam susu kambing lebih banyak dibandingkan susu sapi. Susu kambing mempunyai globula-globula lemak yang berdiameter kecil sehingga lebih mudah dicerna. Susu merupakan makanan yang mengandung nutrisi lengkap dan banyak digemari baik manusia, hewan maupun mikroorganisme sehingga mengakibatkan kerusakan bahkan pembusukan bila tidak ditangani dengan tepat dan cepat. Beberapa cara untuk menekan pertumbuhan mikroba khususnya bakteri yaitu proses pendinginan dan pemanasan. Metode pemanasan bertujuan membunuh bakteri patogen yang terkandung di dalam susu, tetapi tidak membunuh spora yang ada, sehingga daya simpannya relatif lebih singkat.

Faktor cara penyimpanan susu berperan terhadap masa simpan susu terutama pada susu segar tanpa pemanasan dan susu pasteurisasi. Susu dan produk susu yang dipasteurisasi sebaiknya disimpan dalam kulkas, agar pertumbuhan mikroba dapat dihambat.

Pasteurisasi susu kambing yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk membunuh bakteri patogen sehingga akan diperoleh susu dan Toxoplasma gondii¸ tanpa campuran mikroba lainnya, dengan demikian keberadaan Toxoplasma gondii dalam tubuh mencit lebih mudah teramati.

Bahan dan Metode

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu susu kambing segar yang langsung diperoleh dari peternakan kambing, buffered peptone water (BPW), plate count agar (PCA), agar darah (blood agar), darah domba, HCl paraphenylene diamine 2% dan H2O2 0.5%.

(37)

17

Metode

Susu kambing segar sebanyak 250 ml dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan di dalam penangas air dengan suhu 63 ºC selama 30 menit dan 72 °C selama 15 detik serta diamati. Parameter yang diamati setelah pasteurisasi adalah uji mikrobiologi dengan metode angka lempeng total, agar darah dan uji Storch. Cara uji angka lempeng total yaitu dipindahkan 1 ml suspensi dari susu pasteurisasi yang ada dalam erlenmeyer dengan pipet steril ke dalam larutan 9 ml BPW 0.1% untuk dibuat pengenceran 10-1, 10-2 dan 10-3. Masing-masing 1 ml diambil dari larutan tersebut ke cawan petri secara duplo, ditambahkan 15-20 ml Plate Count Agar dan setelah beku inkubasikan pada suhu 37 ºC selama 24-48 jam. Cawan petri dipilih yang jumlah angka koloninya antara 25-250 cfu/gram, lalu ditentukan rata-rata yang merupakan jumlah kuman per 1 gram. Pengujian dengan menggunakan agar darah yaitu diambil susu yang telah dipasteurisasi dengan menggunakan jarum inokulasi lalu digoreskan pada agar darah, selanjutnya diinkubasi dalam suhu 37 °C selama 18-24 jam. Keesokan harinya dilakukan pengamatan. Prosedur uji Storch yaitu diisi 5 ml susu ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 0.5 ml HCl paraphenylene diamine 2% dan juga ditambahkan 4 tetes H2O2 0.5%, Campuran tersebut dikocok dan diamati warnanya. Hasil uji ditandai dengan susu mentah berubah menjadi biru (-) dan susu yang sudah dimasak tetap berwarna susu/krem (+).

Hasil dan Pembahasan

Hasil yang diperoleh dari kedua suhu pasteurisasi pada uji mikrobiologi angka lempeng total adalah kurang dari 25 koloni yaitu di bawah batas maksimum cemaran mikroba (BMCM) dan tidak ditemukan pertumbuhan koloni pada agar darah untuk kedua suhu pasteurisasi 63 ºC selama 30 menit dan 72 °C selama 15 detik. Hal ini sesuai dengan SNI nomor 7388 tahun 2009 tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan. Uji Storch diperoleh warna agak kebiruan dari susu pasteurisasi suhu 63 ºC selama 30 menit yang berarti bahwa hanya sebagian enzim peroksidase yang terhidrolisis dengan pemanasan ini, sedangkan pasteurisasi suhu 75 ºC selama 15 detik diperoleh hasil susu tidak berubah warna, berarti semua enzim peroksidase yang ada di dalam susu telah terhidrolisis semua dengan pemanasan ini, dapat dilihat pada Tabel 1.

(38)

18

Uji angka lempeng total dimaksudkan untuk menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan pada media agar. Jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.

Kualitas susu ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor kebersihan. Faktor ini baik secara langsung maupun secara tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Menurut SNI nomor 7388 tahun 2009 tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan ditetapkan BMCM dalam susu segar dan susu pasteurisasi, untuk total bakteri pada susu segar 1 x 106 koloni/ml dan untuk susu pasteurisasi 5 x 104 koloni/ml. Menurut Forsythe dan Hayes (1998) bahwa proses pasteurisasi susu ditujukan untuk membunuh bakteri patogen dalam susu, dengan cara merusak dinding sel bakteri, merusak membran sitoplasma bakteri dan menghambat kerja enzim yang dapat mengganggu metabolisme sel bakteri. Pertumbuhan mikroorganisme dalam susu pasteurisasi dapat disebabkan oleh metode pasteurisasi dan kontaminasi peralatan yang digunakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fardias (1992), bahwa pencemaran bakteri setelah pasteurisasi dapat terjadi karena adanya bakteri yang tahan panas atau terjadi kontaminasi bakteri setelah proses pasteurisasi, misalnya dari peralatan yang digunakan.

Susu segar dengan mikroba awal yang rendah yaitu kurang dari 106, maka untuk memperolehnya harus diperhatikan dalam penanganannya, yaitu penanganan sebelum pemerahan dan setelah pemerahan. Penanganan sebelum pemerahan meliputi: pembersihan kandang dan lingkungan; sterilisasi peralatan pemerahan dan wadah; ternak dan ambing serta pekerja. Penanganan setelah pemerahan meliputi: pasteurisasi susu (HTST dan LTLT); sterilisasi susu (suhu 105-121 ºC selama 30 detik) dan pendinginan susu (suhu 4-10 ºC). Keamanan konsumen susu segar dari kontaminasi mikroba harus dijaga, sehingga sebelum konsumsi susu, harus dilakukan pasteurisasi susu, karena dengan pasteurisasi susu dapat mematikan mikroba patogen dan perusak. Menurut Codex susu diperbolehkan mengandung mikroba 10 000 sampai 1 000 000/ml susu. Dengan mengetahui tahapan-tahapan di atas maka kontaminasi mikroba pada susu segar dapat diminimalisasilkan.

Kegunaan uji Storch adalah mengetahui apakah susu sudah mengalami pemanasan sempurna. Prinsip dalam susu segar terdapat adanya enzim peroksidase yang dapat menguraikan H2O2 → H2O + O2. Oksigen yang bebas ini akan mengoksidasi HCl paraphenylene diamine sehingga berwarna biru. Enzim peroksidase musnah oleh pemanasan 70-80 ºC.

Simpulan

(39)

19

5

DAYA TAHAN HIDUP

Toxoplasma gondii

DALAM SUSU

KAMBING DENGAN PASTEURISASI SUHU RENDAH

WAKTU LAMA

Abstract

The purpose of this study was to determine survival of T. gondii tachyzoite RH strain in goat milk after being pasteurized in low temperature for along time. In this study we used in vivo, i.e., using mice that were infected with a T. gondii tachyzoite intraperitoneumly in a dose of 2.76 x 106. The infected mice were divided into 3 groups; (1) pasteurized milk and tachyzoite heated at a temperature of 63ºC for 30 minutes (K1), (2) pasteurized milk and tachyzoite without being heated as a positive control (K4), and (3) pasteurized milk without tachyzoite as a negative control (K5). The results showed that tachyzoites did not detect in the peritoneum fluid in group K1 and K5. However, T. gondii tachyzoites were detected in group PC whose amount was nearly equal to the amount before and after the mice infection.

Keywords: goat milk, long time, low temperature, pasteurization, T. gondii

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan apakah takizoit T. gondii RH masih dapat hidup dalam susu kambing dengan pasteurisasi suhu rendah waktu lama. Penelitian ini menggunakan metode in vivo yaitu menggunakan mencit yang diinfeksi dengan takizoit T. gondii RH secara intraperitoneum dengan konsentrasi 2.76 x 106. Mencit yang diinfeksi dibagi atas 3 Kelompok perlakuan, yaitu (1) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit (K1); (2) susu pasteurisasi dan takizoit tanpa dipanaskan sebagai kontrol positif (K4); dan (3) susu pasteurisasi tanpa takizoit sebagai kontrol negatif (K5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan takizoit di dalam cairan peritoneum pada K1 dan K5. Takizoit T. gondii RH ditemukan pada K4 yang jumlahnya hampir sama dengan jumlah sebelum dan setelah infeksi.

Kata kunci: pasteurisasi, suhu rendah, susu kambing, T. gondii, waktu lama

Pendahuluan

(40)

20

2005). Penyakit ini penting karena menyebabkan menyebabkan keguguran, kematian dan mumifikasi janin pada domba (Buxton et al. 2007; Dubey 2009).

Gejala klinis toksoplasmosis pada manusia senantiasa dihubungkan dengan konsumsi susu kambing tanpa pemanasan (Riemann et al. 1975; Sacks et al. 1982; Chiari dan Neves 1984; Skinner et al. 1990). Takizoit dari T. gondii telah ditemukan pada beberapa jenis susu (Dubey dan Beattie 1988). Transmisi toksoplasmosis melalui susu yang tidak dipasteurisasi atau keju yang berasal dari susu tanpa pasteurisasi merupakan salah satu sumber penularan potensial toksoplasmosis (Hiramoto et al. 2001).

Pasteurisasi merupakan metode pengolahan dengan pemanasan di bawah titik didih untuk memperpanjang masa simpan susu segar. Metode pasteurisasi susu ada 2 cara, yaitu pasteurisasi yang dilakukan pada suhu 63 ºC selama 30 menit dan 72 ºC selama 15 detik (Hadiwiyoto 1983).

Sejauh ini belum ada laporan penelitian tentang kemampuan hidup takizoit dalam susu pasteurisasi, karena Dubey (1998) hanya menemukan DNA T. gondii pada susu melalui uji polymerase chain reaction (PCR) yang sumber infeksinya belum diketahui berasal dari induk atau kontaminasi. Takizoit yang terkandung di dalam susu tidak diketahui masih hidup atau sudah mati. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah takizoit masih dapat hidup dalam susu pasteurisasi dengan suhu rendah waktu lama (63 °C selama 30 menit), sebab takizoit yang hidup kemungkinan masih dapat menyebabkan infeksi dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Bahan dan Metode

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu susu kambing segar, isolat takizoit T. gondii RH, 15 ekor mencit jantan galur DDY umur 4-5 minggu, phosphat buffer saline (PBS), kapas, alkohol, klorin, nitrogen cair, ketamin HCl, xylol, Larutan HCl-parafenildiamin 2% dalam air dan larutan H2O2 (0.2-1%) dalam air dan pepton count agar.

Alat yang digunakan terdiri dari dispossible syringe 1 ml dan 5 ml, tabung reaksi 50 ml, sentrifus, pipet pasteur, penangas air, timer, termometer, kaca preparat, kaca penutup, mikroskop, pinset, gunting, komputer, kamera, sarung tangan, hemositometer, tabung mikro, freezer, kulkas, masker, homogenizer, tip dan mikropipet.

Metode

(41)

21 yang dipanaskan pada suhu 63 ºC selama 30 menit (K1); (2) susu pasteurisasi dan takizoit tanpa dipanaskan sebagai kontrol positif (K4); dan (3) susu pasteurisasi tanpa takizoit sebagai kontrol negatif (K5). Proses pasteurisasi diverifikasi melalui uji Storch dan uji angka lempeng total (ALT).

(42)

22

Gambar 1 Bagan alur metode penelitian pasteurisasi LTLT

(43)

23 Hasil dan Pembahasan

Hasil pengamatan dari kelompok mencit yang diinfeksi dengan susu dan takizoit T. gondii RH menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol positif (K4) ditemukan takizoit pada cairan peritoneum pada hari ke-4, sedangkan pada kelompok perlakuan (K1) dan kelompok kontrol negative (K5) tidak ditemukan takizoit sampai hari ke-16. Hasil pengamatan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil pengamatan kelompok mencit yang telah diinfeksi Hari

Tidak ditemukan takizoit Cairan peritoneum tidak diambil

4 Cairan

peritoneum tidak diambil

Ditemukan takizoit Cairan peritoneum tidak diambil

K1: pasteurisasi suhu 63 ºC selama 30 menit, K4: kontrol positif, K5: kontrol negatif

(44)

24

ini sesuai dengan penelitian Subekti et al. (2005) yaitu pada infeksi takizoit konsentrasi 106 sampel diambil pada hari ke-4. Laporan serupa juga dikemukakan Sibley dan Howe (1996) yang menyatakan bahwa T. gondii RH menyebabkan kematian mencit dalam jangka waktu 6-9 hari tergantung pada dosis pascainfeksi.

Kelompok mencit yang diinfeksi dengan susu kambing yang dipasteurisasi tidak menunjukkan keberadaan takizoit dalam cairan peritoneum. Hal ini disebabkan pemanasan pasteurisasi dapat membunuh takizoit. World Health Organization (1979) menyatakan bahwa daging yang dipanaskan pada suhu 65 ºC selama 4-5 menit dapat mematikan kista aktif T. gondii. Hal yang sama dinyatakan pula oleh Chahaya (2003) bahwa kista T. gondii dalam jaringan dapat dimusnahkan dengan pemasakan 66 ºC.

Jumlah takizoit pascainfeksi yang diperoleh dari cairan peritoneum mencit dari kelompok kontrol positif (K4) tidak berbeda jauh dengan jumlah takizoit yang diinfeksi (Tabel 2).

Tabel 2 Jumlah takizoit yang diperoleh dari kelompok kontrol positif

Mencit Jumlah takizoit (per ml)

1 2.6 x 106 mempunyai kemampuan induksi sitokin tipe I dan destruktifitasnya sangat tinggi dibandingkan tipe lainnya sehingga memiliki LD 100 dalam jangka waktu singkat. Apabila masih ditemukan takizoit yang hidup di dalam susu dan dikonsumsi manusia, hal ini dapat menyebabkan infeksi pada manusia yang mengonsumsi susu tersebut. Pasteurisasi dalam penelitian ini menggunakan suhu 63 ºC selama 30 menit sebab pemanasan dengan suhu ini mampu membunuh bakteri patogen dan nutrisi yang ada di dalam susu tidak banyak hilang.

Ookista bertahan dan tetap infektif dalam air dan feses selama berbulan-bulan pada suhu 20-37 ºC (Dumètre dan Dardé 2003). Bradizoit dalam daging dinonaktifkan dengan memasak, pembekuan, pengawetan, iradiasi, dan tekanan. Suhu 66 ºC dapat menonaktifkan kista dalam daging (Goldsmid et al. 2003). Sedangkan suhu untuk membunuh takizoit di dalam susu belum pernah ada data yang diperoleh.

Ternak kecil seperti kambing merupakan sumber penting dari daging (sangat populer di beberapa kelompok etnis, terutama dari Asia) dan susu di banyak negara berkembang dan dapat berperan sebagai sumber infeksi bagi manusia yang tinggal di daerah tersebut (Shrestha dan Fahmy 2005). Selain itu, konsumsi susu kambing mentah dan produk olahan susu yang berasal dari susu mentah, telah dikaitkan dengan kasus toksoplasmosis pada manusia (Riemann et al. 1975; Sacks et al.1982; Skinner et al. 1990; Meerburg et al.2006).

(45)

25 tubuh akan menuju ke dalam pembuluh darah dan menempati sel berinti yang selanjutnya dialirkan ke seluruh tubuh. Susu dihasilkan dari darah, sehingga takizoit yang ada di dalam darah kemungkinan akan dapat dieksresikan juga melalui susu.

Simpulan

(46)

26

6

DAYA TAHAN HIDUP

Toxoplasma gondii

DALAM SUSU

KAMBING DENGAN PASTEURISASI SUHU TINGGI

WAKTU SINGKAT

Abstract

The purpose of this study was to determine the survival of T. gondii tachyzoite of RH strain in goat milk after being pasteurized in high temperature for a short time. This study used in vivo method i.e. using mice that were infected with a T. gondii tachyzoite with a RH strain intraperitoneumly at a concentration of 2.76 x 106 tachyzoite/each. The infected mice were divided into 3 treatment groups i.e. they were given (1) pasteurized milk and tachyzoite heated at a temperature of 72 ºC for 15 seconds and 85 °C for 1-2 seconds (K2 and K3), (2) pasteurized milk and tachyzoite without being heated as a positive control (K4), and (3) pasteurized milk without tachyzoite as a negative control (K5). The results showed that tachyzoite did not detect in the peritoneum fluid on K2, K3, and K5. However, T. gondii tachyzoites were detected in PC whose amount was nearly equal to the amount before and after the mice infection.

Keyword : goat milk, high temperature, pasteurization, short time, T. gondii

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui daya hidup takizoit T. gondii RH pada suhu tinggi waktu singkat. Metode in vivo digunakan dalam penelitian ini dan mencit diinfeksi dengan takizoit T. gondii RH secara intraperitoneum dengan konsentrasi 2.76 x 106 takizoit/ekor. Mencit yang diinfeksi dibagi atas 3 kelompok perlakuan, yaitu (1) susu pasteurisasi dan takizoit yang dipanaskan pada suhu 72 ºC selama 15 detik dan 85 °C selama 1-2 detik (K2 dan K3); (2) susu pasteurisasi dan takizoit tanpa dipanaskan, sebagai kontrol positif (K4); dan (3) susu pasteurisasi tanpa takizoit, sebagai kontrol negatif (K5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan takizoit di dalam cairan peritoneum pada K2, K3 dan K5. Takizoit T. gondii RH ditemukan pada K4 yang mempunyai jumlah konsentrasi hampir sama sebelum dan setelah infeksi.

Figur

Gambar 1  Bagan alur metode penelitian secara umum
Gambar 1 Bagan alur metode penelitian secara umum . View in document p.34
Tabel 1  Hasil Pasteurisasi susu terhadap uji angka lempeng total, agar darah dan
Tabel 1 Hasil Pasteurisasi susu terhadap uji angka lempeng total agar darah dan . View in document p.37
Gambar 1  Bagan alur metode penelitian pasteurisasi LTLT
Gambar 1 Bagan alur metode penelitian pasteurisasi LTLT . View in document p.42
Tabel 1 Hasil pengamatan kelompok mencit yang telah diinfeksi
Tabel 1 Hasil pengamatan kelompok mencit yang telah diinfeksi . View in document p.43
Gambar 1  Bagan alur metode penelitian pasteurisasi HTST
Gambar 1 Bagan alur metode penelitian pasteurisasi HTST . View in document p.49
Gambar 2 menunjukkan bahwa konsentrasi takizoit yang diperoleh masih
Gambar 2 menunjukkan bahwa konsentrasi takizoit yang diperoleh masih . View in document p.51
Gambar 1  Bagan alur susu dan Toxoplasma gondii konsentrasi 105-6
Gambar 1 Bagan alur susu dan Toxoplasma gondii konsentrasi 105 6 . View in document p.86
Gambar 2  Bagan alur susu dan Toxoplasma gondii konsentrasi 103-4
Gambar 2 Bagan alur susu dan Toxoplasma gondii konsentrasi 103 4 . View in document p.87
Gambar 4  Bagan alur kontrol positif dengan Toxoplasma gondii konsentrasi 103-4
Gambar 4 Bagan alur kontrol positif dengan Toxoplasma gondii konsentrasi 103 4 . View in document p.89
Gambar 5  Bagan alur susu dan Toxoplasma gondii konsentrasi 103-4
Gambar 5 Bagan alur susu dan Toxoplasma gondii konsentrasi 103 4. View in document p.90
Tabel II. 4. Identifikasi hewan
Tabel II 4 Identifikasi hewan . View in document p.91
Gambar 1  Isolat takizoit Toxoplasma gondii
Gambar 1 Isolat takizoit Toxoplasma gondii . View in document p.100
Gambar 3  Gejala klinis pascainfeksi  Toxoplasma gondii
Gambar 3 Gejala klinis pascainfeksi Toxoplasma gondii . View in document p.100
Gambar 4  Takizoit  Toxoplasma gondii dengan pembesaran 400x
Gambar 4 Takizoit Toxoplasma gondii dengan pembesaran 400x . View in document p.101

Referensi

Memperbarui...