• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PENDUGAAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN

Shorea balangeran (Korth.)Burck dan Hopea bancana (Boerl.)

Van Slooten DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA, BOGOR,

JAWA BARAT

FARA LEO DITA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PENDUGAAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN

Shorea balangeran (Korth.)Burck dan Hopea bancana (Boerl.)

Van Slooten DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA, BOGOR,

JAWA BARAT

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

FARA LEO DITA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

Judul Skripsi : Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat

Nama Mahasiswa : Fara Leo Dita

NRP : E14202047

Menyetujui

Ketua Anggota

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Ir. Iwan Hilwan, MS.

Nip 131 430 799 Nip 131 578 802

Mengetahui

Dekan Fakultas Kehutanan

Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr. Nip 131 578 788

(4)

Judul Skripsi : Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat

Nama Mahasiswa : Fara Leo Dita

NRP : E14202047

Menyetujui

Ketua Anggota

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Ir. Iwan Hilwan, MS.

Nip 131 430 799 Nip 131 578 802

Mengetahui

a.n. Dekan Fakultas Kehutanan Ketua Departemen Silvikultur

Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc. Nip 131 878 499

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala curahan

rahmat dan kasih sayangNya, shalawat dan salam bagi junjungan dan tauladan

utama Nabi Besar Muhammmad SAW, sehingga karya ilmiah ini dapat

diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan

Febuari sampai dengan bulan April 2007 adalah dekomposisi serasah daun,

dengan judul Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor.

Terimakasih penulis ucapkan kepada: (a) Bapak Prof. Dr. Ir. Cecep

Kusmana, MS. dan Bapak Ir. Iwan Hilwan, MS. selaku Dosen pembimbing yang

telah banyak mengarahkan dalam penyelesaian karya ilmiah ini, (b) Bapak Prof.

Dr. Ir. Iding M Padlinurjaji MS. dan Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat MScf. selaku

dosen penguji, (c) Bapak Ir. Fahmi Idris beserta Paleik dan Buleik Suroso yang

telah memberikan bantuan dana pendidikan bagi penulis, dan (d) keluarga penulis

(ibu, dan kakak-kakak) yang telah banyak memberikan dorongan dan bantuannya

sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak terdapat

kesalahan dan kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh karena itu dibutuhkan

banyak kritik dan saran demi perbaikannya. Penulis berharap karya ilmiah ini

dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.

Bogor, Desember 2007

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis, dilahirkan di Jakarta pada tanggal 02 Agustus

1985, yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara

pasangan Bapak Djoko Imam Santoso alm. dan Ibu

Tusiarti. Penulis bertempat tinggal di Jalan Kesadaran

No. 100 RT 05 RW 03 Pondok Benda Pamulang,

Tangerang.

Pada tahun 2002 penulis diterima di IPB melalui jalur USMI (Ujian

Saringan Masuk IPB) pada Departemen Silvikultur program studi Budi Daya

Hutan. Selama di IPB penulis mengikuti kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di

Desa Ciherang dan mengikuti kegiatan P3H (Praktek Pengenalan dan Pengelolaan

Hutan) di Cilacap dan Baturaden Jawa Tengah dan Desa Getas Jawa Timur.

Pengalaman organisasi selama di IPB adalah menjadi sekertaris dalam acara

pemilihan ketua FMSC (Forest Management Students Club) tahun 2004, menjadi

sie kesehatan dalam acara Temu Manajer tahun 2004, menjadi sie dana usaha

dalam acara BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) ”Diskusi Dunia Kehutanan

Pertambangan Hutan Lindung” tahun 2004, menjadi sie dekorasi dalam acara

Ekspresi Muslimah tahun 2004, sebagai anggota DKM (Dewan Keluarga

Mushola) Ibadurrahman, sebagai anggota IFSA (International Forestry Students

Association) tahun 2004, sebagai peserta Temu Manager Fakultas Kehutanan IPB

tahun 2003, peserta Pelatihan dan Pertolongan Pertama serta Imunisasi terhadap

(7)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya berjudul Pendugaan

Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing

dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau

lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang

diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks

dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2007

(8)

RINGKASAN

FARA LEO DITA. Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat. Di bawah bimbingan CECEP KUSMANA dan IWAN HILWAN.

Ketersediaan unsur hara penting bagi pertumbuhan tanaman secara normal. Hilangnya secara berlebihan satu atau beberapa unsur hara dari daerah perakaran menyebabkan merosotnya kesuburan tanah sehingga tanah tidak mampu untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara normal.

Informasi mengenai kecepatan laju dekomposisi merupakan hal yang penting untuk mengetahui besarnya pengurangan jumlah bahan organik yang terkandung dalam serasah serta kecepatan pengembalian hara mineral ke dalam tanah. Ketersediaan unsur hara di dalam tanah hutan sangat dipengaruhi oleh jumlah bahan organik, seperti akar, ranting, daun, batang dan alat reproduksi yang terdapat di permukaan tanah. Pengembalian unsur hara ke dalam tanah melalui proses dekomposisi menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas siklus hara sehingga keseimbangan ekosistem hutan dapat terjaga.

Penelitian ini bertujuan untuk menduga besarnya laju dekomposisi serasah daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Jawa Barat.

Penelitian lapangan dilakukan selama tiga bulan antara bulan Febuari sampai dengan April 2007. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Penelitian Dramaga yang berada di Desa Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, dengan objek penelitian tegakan S. balangeran dan H. bancana yang masing-masing berumur 48 tahun dengan jarak tanam 6 m x 6 m.

Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah serasah daun dari tegakan S. balangeran dan H. bancana yang berumur 48 tahun. Peralatan penunjang yang digunakan meliputi pita ukur 100 m dan 10 m, litter bag (kantung serasah) yang terbuat dari kain kasa atau nylon memiliki mata jala 1 mm berukuran 15 cm x 30 cm, tali plastik, patok bambu, oven, timbangan dan kantung plastik.

Penelitian dilakukan di dua tegakan yaitu tegakan S. balangeran dan H. bancana dengan masing-masing luas 0,20 ha dan 0,23 ha. Pada setiap tegakan diletakkan sebanyak 108 buah kantung serasah secara sistematik (12 baris dan 9 kolom).

Dalam Penelitian ini variabel yang diamati dan diukur antara lain: bobot kering awal serasah (50 gram), berat kering akhir serasah (gram), penurunan bobot (%), laju dekomposisi (%) per minggu, dan curah hujan selama waktu penelitian (mm) per minggu.

(9)

Hasil analisis keragaman dekomposisi serasah menunjukkan bahwa faktor jenis tegakan atau pohon tidak berpengaruh signifikan terhadap laju dekomposisi serasah. Hal ini disebabkan karena kedua jenis tegakan berasal dari famili yang sama yaitu Dipterocarpaceae, tegakan ditanam pada tahun dan jarak tanam yang sama yaitu tahun 1959 dengan jarak tanam 6 m x 6 m, dan ditanam pada kondisi tanah serta iklim yang relatif sama.

Penguraian serasah daun di setiap minggunya berbeda di mana pada awalnya nilai laju dekomposisi akan tinggi dan kemudian terus menurun, yang berarti pada awalnya serasah terurai dengan cepat dan kemudian semakin lambat dengan semakin lamanya peroide waktu serasah terdekomposisi. Hal ini dikarenakan pada serasah yang masih baru masih banyak persediaan unsur-unsur yang merupakan makanan bagi mikroba tanah atau bagi organisme pengurai, sehingga serasah cepat hancur. Unsur tersebut semakin berkurang yang berarti penghancurannya juga lambat sampai hanya tinggal unsur yang tidak diperlukan oleh dekomposer. Selain itu kadar air yang terdapat pada serasah yang masih baru akan mudah menguap sehingga bobot serasah pada awal minggu mengalami penurunan yang tinggi yang juga membuat laju dekomposisinya cepat.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa faktor waktu (minggu) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laju dekomposisi. Hubungan antara laju dekomposisi serasah daun S. balangeran dan H. Bancana dengan periode waktu dekomposisi mengikuti persamaan Y=15,81-1,11X dan Y=15,87-1,13X dimana Y adalah laju dekomposisi dan X adalah periode waktu (minggu). Hal ini dapat diartikan bahwa semakin lama periode waktu dekomposisi, maka semakin rendah laju dekomposisi serasah perperiodenya.

Antara curah hujan dengan laju dekomposisi untuk serasah daun S. balangeran dan H. bancana masing-masing memperlihatkan hubungan mengikuti persamaan Y=0,25+0,06X dan Y=0,03+0,06X, dimana Y adalah laju dekomposisi dan X adalah curah hujan. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi curah hujan, maka laju dekomposisi akan semakin cepat.

(10)

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih yang teramat sangat penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana MS. dan Bapak Ir. Iwan Hilwan MS.

selaku Dosen Pembimbing satu dan dua, serta Bapak Prof. Dr. Ir. Iding M

Padlinurjaji MS dan Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat MScf. selaku Dosen

Penguji.

2. Keluarga penulis (ibu, Kak Fani, Bang Zul, Bang Akbar, Mba Tuti dan

ponakanku Maulana) yang telah banyak memfasilitasi penulis,

memberikan dorongan, bantuan moril dan materil.

3. Para donatur dana pendidikan penulis: Bapak ir. Fahmi Idris berserta ibu,

Bapak Suroso beserta ibu (Paleik dan Buleik), Om Ade beserta istri,

Bapak Wardono Saleh (Pakde Wang), serta pihak-pihak lain yang telah

memberikan bantuan finansialnya.

4. Ari Yusnida Pradani, teman seperjuangan antara UNY dan IPB sama-sama

berjuang menuju jejang pendidikan S1.

5. Acep K, atas bantuan selama di lapangan serta pinjaman labtobnya selama

skripsi.

6. Bagus H, atas pinjaman CD minitab, buku perancob, kesediaan

mengajarinya serta kesedian untuk ditumapangi mobilnya.

7. Anna, Arul, Hani atas sms tausiah dan semangatnya serta bantuan-bantuan

lainnya.

8. Nur, Veni, Dedek, atas bantuan menjadi seksi konsumsinya serta

semangat-semangatnya.

9. Yosi, atas bantuannya selama di lapangan dan Yofi, atas bantuan

tambahan materi untuk ujian Komprehensif serta sms semangatnya.

10.All Nida’s Crew dan Teman-teman BDHers khususnya serta 39 umumnya

(11)

PENDUGAAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN

Shorea balangeran (Korth.)Burck dan Hopea bancana (Boerl.)

Van Slooten DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA, BOGOR,

JAWA BARAT

FARA LEO DITA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

PENDUGAAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH DAUN

Shorea balangeran (Korth.)Burck dan Hopea bancana (Boerl.)

Van Slooten DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA, BOGOR,

JAWA BARAT

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

FARA LEO DITA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(13)

Judul Skripsi : Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat

Nama Mahasiswa : Fara Leo Dita

NRP : E14202047

Menyetujui

Ketua Anggota

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Ir. Iwan Hilwan, MS.

Nip 131 430 799 Nip 131 578 802

Mengetahui

Dekan Fakultas Kehutanan

Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr. Nip 131 578 788

(14)

Judul Skripsi : Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat

Nama Mahasiswa : Fara Leo Dita

NRP : E14202047

Menyetujui

Ketua Anggota

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Ir. Iwan Hilwan, MS.

Nip 131 430 799 Nip 131 578 802

Mengetahui

a.n. Dekan Fakultas Kehutanan Ketua Departemen Silvikultur

Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc. Nip 131 878 499

(15)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala curahan

rahmat dan kasih sayangNya, shalawat dan salam bagi junjungan dan tauladan

utama Nabi Besar Muhammmad SAW, sehingga karya ilmiah ini dapat

diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan

Febuari sampai dengan bulan April 2007 adalah dekomposisi serasah daun,

dengan judul Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor.

Terimakasih penulis ucapkan kepada: (a) Bapak Prof. Dr. Ir. Cecep

Kusmana, MS. dan Bapak Ir. Iwan Hilwan, MS. selaku Dosen pembimbing yang

telah banyak mengarahkan dalam penyelesaian karya ilmiah ini, (b) Bapak Prof.

Dr. Ir. Iding M Padlinurjaji MS. dan Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat MScf. selaku

dosen penguji, (c) Bapak Ir. Fahmi Idris beserta Paleik dan Buleik Suroso yang

telah memberikan bantuan dana pendidikan bagi penulis, dan (d) keluarga penulis

(ibu, dan kakak-kakak) yang telah banyak memberikan dorongan dan bantuannya

sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak terdapat

kesalahan dan kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh karena itu dibutuhkan

banyak kritik dan saran demi perbaikannya. Penulis berharap karya ilmiah ini

dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.

Bogor, Desember 2007

(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis, dilahirkan di Jakarta pada tanggal 02 Agustus

1985, yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara

pasangan Bapak Djoko Imam Santoso alm. dan Ibu

Tusiarti. Penulis bertempat tinggal di Jalan Kesadaran

No. 100 RT 05 RW 03 Pondok Benda Pamulang,

Tangerang.

Pada tahun 2002 penulis diterima di IPB melalui jalur USMI (Ujian

Saringan Masuk IPB) pada Departemen Silvikultur program studi Budi Daya

Hutan. Selama di IPB penulis mengikuti kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di

Desa Ciherang dan mengikuti kegiatan P3H (Praktek Pengenalan dan Pengelolaan

Hutan) di Cilacap dan Baturaden Jawa Tengah dan Desa Getas Jawa Timur.

Pengalaman organisasi selama di IPB adalah menjadi sekertaris dalam acara

pemilihan ketua FMSC (Forest Management Students Club) tahun 2004, menjadi

sie kesehatan dalam acara Temu Manajer tahun 2004, menjadi sie dana usaha

dalam acara BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) ”Diskusi Dunia Kehutanan

Pertambangan Hutan Lindung” tahun 2004, menjadi sie dekorasi dalam acara

Ekspresi Muslimah tahun 2004, sebagai anggota DKM (Dewan Keluarga

Mushola) Ibadurrahman, sebagai anggota IFSA (International Forestry Students

Association) tahun 2004, sebagai peserta Temu Manager Fakultas Kehutanan IPB

tahun 2003, peserta Pelatihan dan Pertolongan Pertama serta Imunisasi terhadap

(17)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya berjudul Pendugaan

Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing

dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau

lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang

diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks

dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2007

(18)

RINGKASAN

FARA LEO DITA. Pendugaan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga Bogor Jawa Barat. Di bawah bimbingan CECEP KUSMANA dan IWAN HILWAN.

Ketersediaan unsur hara penting bagi pertumbuhan tanaman secara normal. Hilangnya secara berlebihan satu atau beberapa unsur hara dari daerah perakaran menyebabkan merosotnya kesuburan tanah sehingga tanah tidak mampu untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara normal.

Informasi mengenai kecepatan laju dekomposisi merupakan hal yang penting untuk mengetahui besarnya pengurangan jumlah bahan organik yang terkandung dalam serasah serta kecepatan pengembalian hara mineral ke dalam tanah. Ketersediaan unsur hara di dalam tanah hutan sangat dipengaruhi oleh jumlah bahan organik, seperti akar, ranting, daun, batang dan alat reproduksi yang terdapat di permukaan tanah. Pengembalian unsur hara ke dalam tanah melalui proses dekomposisi menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas siklus hara sehingga keseimbangan ekosistem hutan dapat terjaga.

Penelitian ini bertujuan untuk menduga besarnya laju dekomposisi serasah daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Jawa Barat.

Penelitian lapangan dilakukan selama tiga bulan antara bulan Febuari sampai dengan April 2007. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Penelitian Dramaga yang berada di Desa Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, dengan objek penelitian tegakan S. balangeran dan H. bancana yang masing-masing berumur 48 tahun dengan jarak tanam 6 m x 6 m.

Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah serasah daun dari tegakan S. balangeran dan H. bancana yang berumur 48 tahun. Peralatan penunjang yang digunakan meliputi pita ukur 100 m dan 10 m, litter bag (kantung serasah) yang terbuat dari kain kasa atau nylon memiliki mata jala 1 mm berukuran 15 cm x 30 cm, tali plastik, patok bambu, oven, timbangan dan kantung plastik.

Penelitian dilakukan di dua tegakan yaitu tegakan S. balangeran dan H. bancana dengan masing-masing luas 0,20 ha dan 0,23 ha. Pada setiap tegakan diletakkan sebanyak 108 buah kantung serasah secara sistematik (12 baris dan 9 kolom).

Dalam Penelitian ini variabel yang diamati dan diukur antara lain: bobot kering awal serasah (50 gram), berat kering akhir serasah (gram), penurunan bobot (%), laju dekomposisi (%) per minggu, dan curah hujan selama waktu penelitian (mm) per minggu.

(19)

Hasil analisis keragaman dekomposisi serasah menunjukkan bahwa faktor jenis tegakan atau pohon tidak berpengaruh signifikan terhadap laju dekomposisi serasah. Hal ini disebabkan karena kedua jenis tegakan berasal dari famili yang sama yaitu Dipterocarpaceae, tegakan ditanam pada tahun dan jarak tanam yang sama yaitu tahun 1959 dengan jarak tanam 6 m x 6 m, dan ditanam pada kondisi tanah serta iklim yang relatif sama.

Penguraian serasah daun di setiap minggunya berbeda di mana pada awalnya nilai laju dekomposisi akan tinggi dan kemudian terus menurun, yang berarti pada awalnya serasah terurai dengan cepat dan kemudian semakin lambat dengan semakin lamanya peroide waktu serasah terdekomposisi. Hal ini dikarenakan pada serasah yang masih baru masih banyak persediaan unsur-unsur yang merupakan makanan bagi mikroba tanah atau bagi organisme pengurai, sehingga serasah cepat hancur. Unsur tersebut semakin berkurang yang berarti penghancurannya juga lambat sampai hanya tinggal unsur yang tidak diperlukan oleh dekomposer. Selain itu kadar air yang terdapat pada serasah yang masih baru akan mudah menguap sehingga bobot serasah pada awal minggu mengalami penurunan yang tinggi yang juga membuat laju dekomposisinya cepat.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa faktor waktu (minggu) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laju dekomposisi. Hubungan antara laju dekomposisi serasah daun S. balangeran dan H. Bancana dengan periode waktu dekomposisi mengikuti persamaan Y=15,81-1,11X dan Y=15,87-1,13X dimana Y adalah laju dekomposisi dan X adalah periode waktu (minggu). Hal ini dapat diartikan bahwa semakin lama periode waktu dekomposisi, maka semakin rendah laju dekomposisi serasah perperiodenya.

Antara curah hujan dengan laju dekomposisi untuk serasah daun S. balangeran dan H. bancana masing-masing memperlihatkan hubungan mengikuti persamaan Y=0,25+0,06X dan Y=0,03+0,06X, dimana Y adalah laju dekomposisi dan X adalah curah hujan. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi curah hujan, maka laju dekomposisi akan semakin cepat.

(20)

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih yang teramat sangat penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana MS. dan Bapak Ir. Iwan Hilwan MS.

selaku Dosen Pembimbing satu dan dua, serta Bapak Prof. Dr. Ir. Iding M

Padlinurjaji MS dan Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat MScf. selaku Dosen

Penguji.

2. Keluarga penulis (ibu, Kak Fani, Bang Zul, Bang Akbar, Mba Tuti dan

ponakanku Maulana) yang telah banyak memfasilitasi penulis,

memberikan dorongan, bantuan moril dan materil.

3. Para donatur dana pendidikan penulis: Bapak ir. Fahmi Idris berserta ibu,

Bapak Suroso beserta ibu (Paleik dan Buleik), Om Ade beserta istri,

Bapak Wardono Saleh (Pakde Wang), serta pihak-pihak lain yang telah

memberikan bantuan finansialnya.

4. Ari Yusnida Pradani, teman seperjuangan antara UNY dan IPB sama-sama

berjuang menuju jejang pendidikan S1.

5. Acep K, atas bantuan selama di lapangan serta pinjaman labtobnya selama

skripsi.

6. Bagus H, atas pinjaman CD minitab, buku perancob, kesediaan

mengajarinya serta kesedian untuk ditumapangi mobilnya.

7. Anna, Arul, Hani atas sms tausiah dan semangatnya serta bantuan-bantuan

lainnya.

8. Nur, Veni, Dedek, atas bantuan menjadi seksi konsumsinya serta

semangat-semangatnya.

9. Yosi, atas bantuannya selama di lapangan dan Yofi, atas bantuan

tambahan materi untuk ujian Komprehensif serta sms semangatnya.

10.All Nida’s Crew dan Teman-teman BDHers khususnya serta 39 umumnya

(21)

i

DAFTAR ISI

halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 2

Manfaat Penelitian ... .2

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Pengertian Serasah ... 3

Pengertian Dekomposisi ... 3

Faktor yang Mempengaruhi Dekomposisi ... 5

Proses Dekomposisi Serasah ... 6

Keterangan Jenis Tegakan ... 9

Shorea balangeran (Korth.) Burck. ... 9

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten ... 10

KEADAAN UMUM ...11

Letak, Luas dan Status Hukum ...11

Iklim...11

Tanah ...11

Topografi dan Ketinggian ...12

Flora ...12

Fauna ...13

BAHAN DAN METODE ... 14

Lokasi dan Waktu Penelitian ... 14

Bahan dan Alat Penelitian ... 14

Metode Penelitian ...14

Peletakan Kantung Serasah ...14

(22)

ii

Prosedur Kerja ... 15

Pengolahan Data ... 15

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16 Hasil ... 16

Pembahasan ... 20

KESIMPULAN DAN SARAN ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... 24

(23)

iii

DAFTAR TABEL

Nomor Teks halaman

1. Bobot Kering dan Laju Dekomposisi Serasah Daun

Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten

yang Terdekomposisi Selama 12 Minggu... 16

2. Analisis Keragaman Faktor Jenis Pohon

terhadap Laju Dekomposisi Serasah ... 18

3. Analisis Keragaman Faktor Periode Waktu

(24)

iv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks halaman 1. Perubahan Bobot Serasah Daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl) Van Slooten (a), dan Laju Dekomposisi Serasahnya (b)

yang Terdekomposisi Selama 12 Minggu... 17

2. Hubungan Laju Dekomposisi Serasah Daun

Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten

dengan Waktu (minggu)... 19

3. Hubungan Laju Dekomposisi Serasah Daun

Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten

(25)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Teks halaman 1. Hasil Pengukuran Bobot Serasah

Shorea balangeran (Korth.) Burck...27 2. Hasil Pengukuran Bobot Serasah

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten...28 3. Analisis Keragaman Serasah Daun

Shorea balangeran (Korth.) Burck dan

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten...29 4. Analisis Regresi Serasah Daun

Shorea balangeran (Korth.) Burck dan

Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten...30 5. Data Curah Hujan Mingguan di Hutan Penelitian Dramaga ... 31

(26)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekosistem mempunyai tiga komponen biologi yaitu: produsen (jasad

autrotrof) atau tumbuhan hijau yang mampu menambat energi cahaya, hewan

(jasad heterotrof) atau konsumen makro yang menggunakan bahan organik, dan

pengurai, yang terdiri dari jasad renik yang menguraikan bahan organik yang

mati, dan membebaskan zat hara terlarut.

Hutan memiliki kemampuan untuk mengakumulasi unsur hara dalam

biomassanya yang kelak akan merupakan serasah apabila vegetasi yang menyusun

hutan tersebut suatu saat mati. Lapisan serasah mempunyai peranan penting dalam

pemeliharaan produktifitas ekosistem hutan. Serasah terurai menjadi unsur hara

yang tersedia di dalam tanah untuk menjamin kelangsungan pertumbuhan pohon.

Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah. Kesuburan tanah

sendiri banyak dipengaruhi oleh flora dan fauna sebagai komponen biotik, iklim

mikro, bahan induk dan sebagainya.

Ketersediaan unsur hara penting bagi pertumbuhan tanaman secara

normal. Hilangnya secara berlebihan satu atau beberapa unsur hara dari daerah

perakaran menyebabkan merosotnya kesuburan tanah sehingga tanah tidak

mampu untuk mendukung pertumbuhan tanaman normal. Ketersediaan unsur hara

yang cukup dan seimbang diindikasikan oleh perbedaan produksi serasah,

dekomposisi serasah dan kehilangan air tanah melalui perkolasi. Pengembalian

unsur hara oleh tanaman ke tanah pada dasarnya berhubungan dengan

produktifitas serasah dan proses dekomposisi sehingga tercipta siklus unsur hara

yang stabil.

Proses dekomposisi serasah merupakan proses perubahan bahan organik

yang berasal dari hewan atau tumbuhan, baik secara fisik maupun kimia menjadi

senyawa anorganik (mineral) sederhana oleh mikroorganisme tanah. Kecepatan

proses dekomposisi tergantung pada kondisi lingkungan, jenis tanaman,

komposisi bahan kimia tanaman dan umur tegakan. Manfaat yang dapat

dihasilkan berupa nutrisi untuk pertumbuhan tanaman secara normal.

Informasi mengenai kecepatan laju dekomposisi serasah merupakan hal

(27)

2

terkandung dalam serasah serta kecepatan pengembalian hara mineral ke dalam

tanah. Ketersediaan unsur hara di dalam tanah hutan sangat dipengaruhi oleh

jumlah bahan organik, seperti akar, ranting, daun, batang dan alat reproduksi yang

terdapat di permukaan tanah. Pengembalian unsur hara ke dalam tanah melalui

proses dekomposisi menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas siklus hara

sehingga keseimbangan ekosistem hutan dapat terjaga.

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menduga besarnya laju dekomposisi serasah

daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Jawa Barat.

1.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam

mempelajari siklus hara dan perpindahan energi antara tumbuhan dan tanah di

dalam tegakan hutan dan dapat menjadi masukan atau arahan dalam rangka

(28)

3

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Serasah

Serasah adalah lapisan yang terdiri dari bagian-bagian tumbuh-tumbuhan

yang telah mati seperti daun, ranting, cabang dan buah bahkan kulit kayu serta

bagian lainnya, yang tersebar di permukaan tanah di bawah hutan sebelum

bagian-bagian tersebut mengalami dekomposisi (Departemen Kehutanan, 1997).

Serasah merupakan bahan organik yang berasal dari tumbuhan atau

hewan yang terdapat di atas permukaan tanah dan tersusun oleh bahan-bahan yang

sudah mati. Bahan-bahan yang masih berdiri seperti pohon, cabang tidak

dimasukkan ke dalam istilah ini (Madweka dan Kornas, 1970 dalam Agusril, 1985).

Komponen-komponen yang penting dari serasah adalah daun, ranting

dengan ukuran diameter < 1 cm dan cabang kecil dengan ukuran diameter ≤ 2 cm,

alat-alat reproduksi (bunga dan buah) dan kulit pohon (Proctor, 1983 dalam

Hilwan, 1993). Menurut Desmukh (1993), komponen yang membentuk lapisan

serasah tumbuhan tidak homogen, tetapi tersusun atas campuran organ-organ

tumbuhan seperti daun 72 %, kayu 16 %, serta bunga dan buah 2 %. Kehilangan

tahunan dari daun, ranting, bunga, buah dan serpihan kulit kayu merupakan

bagian utama dari jatuhan serasah pada ekosistem hutan. Sekitar 70 % dari total

serasah di permukaan tanah berupa serasah daun.

Serasah yang jatuh ke permukaan tanah merupakan bagian dari tumbuhan

yang telah mati, yang tidak mengalami proses pertumbuhan lagi dan akhirnya

mengalami proses dekomposisi dan mineralisasi (Soerianegara, 1964 dalam

Hilwan, 1993).

2.2 Pengertian Dekomposisi

Dekomposisi adalah proses penguraian bahan organik yang berasal dari

binatang dan tumbuhan secara fisik dan kimia, menjadi senyawa-senyawa

anorganik sederhana yang dilakukan oleh berbagai mikroorganisme tanah

(29)

4

yang dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan sebagai sumber nutrisi.

(Sutedjo, Kartasapoetra dan Sastroajmodjo, 1991; Departemen Kehutanan, 1989)

Istilah dekomposisi sering digunakan untuk menerangkan sejumlah besar

proses yang dialami oleh bahan-bahan organik, yaitu proses sejak dari

perombakan dan penghancuran bahan organik menjadi partikel-partikel kecil

sehingga menjadi unsur-unsur hara, yang tersedia dan dapat diserap oleh tanaman

kembali. Istilah dekomposisi adalah istilah yang telah digunakan secara luas untuk

menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam biokimia, wujud fisik dan

bobot bahan organik (Waring and Schlesingan, 1985).

Menurut Indriani (2000), dekomposisi bahan organik atau pengomposan

merupakan penguraian dan pemanfaatan bahan-bahan organik secara biologi

dalam temperatur termofilik (450 C-600 C) dengan hasil akhir bahan yang cukup

bagus untuk digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan.

Ada beberapa definisi yang dikemukakan tentang dekomposisi, antara lain

dekomposisi didefinisikan sebagai penghancuran bahan organik mati secara

gradual yang dilakukan oleh agen biologi maupun fisika. Definisi yang lain

mengatakan bahwa dekomposisi adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan

dipengaruhi oleh keberadaan dekomposer, baik dalam jumlah maupun

diversitasnya. Sedangkan keberadaan dekomposer sendiri sangat ditentukan oleh

faktor-faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap dekomposisi antara

lain oksigen, bahan organik dan bakteri sebagai agen utama dekomposisi

(Sunarto, 2004).

2.3 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Dekomposisi

Dekomposisi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor suhu tanah dan

faktor kadar air tanah (Notohadiprawiro, 1999).

Suhu tanah merupakan sifat fisik tanah yang penting karena

mempengaruhi langsung pertumbuhan tumbuhan bersama dengan air, udara dan

hara. Suhu tanah mempengaruhi lengas tanah, aerasi, struktur, kegiatan mikroba

dan enzim, perombakan sisa jaringan tumbuhan dan hewan serta ketersediaan hara

(30)

5

Setiadi (1987) menyatakan bahwa peningkatan suhu tanah dapat

merangsang kegiatan metabolisme dari flora mikro untuk mempercepat lajunya

proses mineralisasi (perombakan menjadi CO2 dari bahan organiknya), dengan

demikian akan terdapat suatu peningkatan di dalam laju arus energi dalam

sistemnya. Hakim, Yusuf, dan Sutopo, (1986) menyatakan bahwa jika temperatur

tanah turun secara drastis, maka kehidupan jasad di dalam tanah turun aktifitasnya

sehingga akhirnya proses kehidupan jasad-jasad renik yang dapat merombak

hara-hara tanaman menjadi bentuk yang tersedia juga sangat ditentukan oleh tanah.

Suhu tanah di wilayah tropika sebagaimana ditetapkan dalam Sistem

Taksonomi Tanah Amerika Serikat, termasuk dalam kategori pola suhu sama,

yaitu perbedaan kurang dari 50C antara rataan suhu musim dingin, pada ke

dalaman 50 cm atau jika lebih dangkal pada sentuhan batu, rataan suhu udara

tahunan hampir sama dengan rataan suhu tanah tahunan (Sanchez, 1992).

Air merupakan unsur tanah yang dinamis. Dikenal tiga macam pergerakan

air dalam tanah, yaitu pergerakan tidak jenuh (gerakan-gerakan kapiler),

pergerakan jenuh dan pergerakan uap (Hakim et al., 1986). Hardjowigeno, (1995) menyatakan bahwa air terdapat di dalam tanah, tertahan oleh lapisan kedap air,

atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan

oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan gravitasi. Kemampuan

tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah

bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil dibandingkan tanah

bertekstur halus. Persediaan air dalam tanah tergantung dari: banyaknya curah

hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi

(penguapan langsung melalui tanah dan vegetasi), dan tingginya muka air tanah.

Keadaan iklim yang basah karena curah hujan yang tinggi, diikuti suhu

panas, sepanjang tahun menyebabkan kegiatan jasad renik seperti fungi (jamur)

dan bakteria sangat aktif. Akibatnya proses pembusukan serasah hutan

berlangsung sangat cepat, proses humifikasi segera dilanjutkan dengan proses

mineralisasi (Manan, 1978 dalam Hilwan, 1993).

Faktor iklim menentukan laju dekomposisi bahan organik sehingga

mempengaruhi kelimpahan bahan organik di permukaan tanah. Kelembaban dan

(31)

6

perkembangan tumbuhan dan mikroorganisme tanah (Thaiutsa et al., 1979 dalam

Hilwan, 1993).

Pada tingkat suhu tanah sedang (300 C) dan kelembaban tanah antara

60-80 %, laju dekomposisi bahan organik mencapai tingkat tertinggi. Peningkatan

suhu dan kelembaban secara serentak, akan memperlambat laju dekomposisi

bahan organik (Thaiutsa et al., 1979 dalam Hilwan, 1993).

2.4 Proses Dekomposisi Serasah

Dekomposisi terbentuk melalui suatu proses fisika dan kimia yang

mereduksi secara kimia bahan organik yang telah mati pada vegetasi dan

binatang. Dekomposisi bahan organik hutan mempunyai dua tahap proses. Yang

pertama, ukuran partikel dari bagian bunga ke batang dari pohon yang besar,

dipecah ke dalam spesies yang lebih kecil yang dapat direduksi secara kimia.

Yang kedua, biasanya sampai aktifitas organisme spesies kecil ini dari bahan

organik direduksi dan dimineralisasi untuk melepaskan unsur dasar dari protein,

karbohidrad, lipid dan mineral yang dapat dikonsumsi, diserap oleh organisme

atau dihanyutkan dari sistem (Anderson and Swift, 1983 dalam Hilwan, 1993). Proses dekomposisi (D) sangat ditentukan oleh tiga variabel yaitu (1)

organisme pengurai (O, terdiri dari hewan dan mikroorganisme), (2) kualitas

serasah (Q, karakter bahan organik yang menentukan kemampuan untuk

dilapukkan), dan (3) lingkungan fisik-kimia (P, terdiri dari iklim makro dan

tanah). Jadi laju atau proses dekomposisi merupakan fungsi dari organisme

pengurai, kualitas serasah, lingkungan fisik-kimia. Fungsi tersebut dapat

dituliskan, D = f (O, Q, P). Di sebagian besar tanah peranan makrofauna

sebagai organisme pengurai atau perombak sangat penting. Hewan-hewan ini

memecah serasah menjadi partikel-partikel yang sangat kecil, sehingga

memperbesar luas permukaan dan mempermudah bakteri dan jamur untuk

menguraikannya (Waring and Schlesingan, 1985).

Faktor dominan yang mempengaruhi aktifitas mikroorganisme dalam

perombakan dan penguraian serasah adalah jenis tanaman dan iklim efek terhadap

jenis tanaman terhadap mikroflora ditentukan oleh sifat fisik dan kimia daun yang

(32)

7

Sifat fisik dan kimia daun serta kualitas serasah yang beragam,

mengakibatkan adanya variasi kemampuan serasah untuk didekomposisi

(Decomposibility), yang sangat dipengaruhi oleh faktor interinsik atau sifat-sifat fisik dan kimia daun, seperti tingkat kerusakan daun, kandungan lignin, unsur

hara, senyawa-senyawa sekunder serta ukuran masa dan partikel (Anderson and

Swift, 1983 dalam Hilwan, 1993).

Dekomposisi terjadi akibat dari kegiatan jasad renik memperoleh energi

untuk keperluan hidupnya. Proses ini disebut oksidasi enzimatik karena jasad

renik menghasilkan berbagai enzim yang diperlukan untuk kelangsungan proses

kimia yang spesifik (Soepardi, 1983 dalam Hilwan, 1993).

Dari keterangan ini jelaslah bahwa yang berperanan sangat besar dalam

dekomposisi serasah adalah mikroorganisme tanah atau jasad renik, seperti

bakteri, aktinomisetes, cendawan tanah, ganggang dan protozoa. Dengan

demikian curah hujan sebenarnya berperan dalam penciptaan lingkungan yang

mendukung kehidupan mikroorganisme tanah.

Proses dekomposisi bahan organik merupakan reaksi enzimatik yang

menghasilkan tiga macam keluaran, yaitu: (1) energi yang dibebaskan oleh jasad

mikro, (2) hasil akhir sederhana (unsur-unsur organik) dan (3) humus (Soepardi,

1983 dalam Hilwan, 1993).

Manusia dapat mempercepat dekomposisi dengan jalan: perubahan bahan

organik dengan penambahan CO2 udara. CO2 dapat ditembus oleh cahaya

matahari akan tetapi menghisap energi infra merah sehingga dapat menyebabkan

efek rumah kaca dan menyebabkan naiknya temperatur dan jika ini terjadi akan

mencairkan es di kutub dan menaikan permukaan air laut. Usaha pertanian yang

akan mempercepat dekomposisi (Heddy, 1994).

Proses dekomposisi dimulai dari proses penghancuran atau fragmentasi

atau pemecahan struktur fisik yang mungkin dilakukan oleh hewan pemakan

bangkai (scavenger) terhadap hewan-hewan mati atau oleh hewan-hewan herbivora terhadap tumbuhan dan menyisakannya sebagai bahan organik mati

yang selanjutnya menjadi serasah, debris atau detritus dengan ukuran yang lebih

kecil. Proses fisika dilanjutkan dengan proses biologi dengan bekerjanya bakteri

(33)

8

hasil proses fragmentasi. Proses dekomposisi oleh bakteri dimulai dengan

kolonisasi bahan organik mati oleh bakteri yang mampu mengautolisis jaringan

mati melalui mekanisme enzimatik. Dekomposer mengeluarkan enzim yang

menghancurkan molekul-molekul organik kompleks seperti protein dan

karbohidrat dari tumbuhan dan hewan yang telah mati. Beberapa dari senyawa

sederhana yang dihasilkan digunakan oleh dekomposer (Sunarto, 2004).

Keefektifan bakteri fungi dan hewan tanah lainnya dalam

pendekomposisian serasah ditunjukkan oleh cepat atau lambatnya serasah hilang

dari permukaan tanah hutan secepat jatuhnya serasah dari tanaman dekomposisi

yang lengkap membutuhkan waktu yang bertahun-tahun. Serasah yang kaya

nutrisi cenderung lebih cepat terdekomposisi dari pada serasah yang miskin nutrisi

pada lantai hutan yang sama. Nisbah C/N sering digunakan sebagai petunjuk laju

dekomposisi yang baik. Percobaan perombakan N dan P dapat meningkatkan laju

dekomposisi serasah. Residu tanaman yang mempunyai kandungan bahan organik

maupun nutrisi tanaman yang mempunyai kandungan dinding sel yang tinggi

umumnya memiliki konsentrasi nutrisi yang rendah. Pengetahuan mengenai

kandungan bahan organik maupun nutrisi tanaman baik untuk menduga laju

dekomposisi (Waring and Schlesingan, 1985).

Proses dekomposisi bahan organik secara alami akan berhenti bila

faktor-faktor pembatasnya tidak tersedia atau telah dihabiskan dalam proses dekomposisi

itu sendiri. Perlu diingat pula bahwa faktor lingkungan yang mendukung proses

dekomposisi dalam kondisi yang terbatas dan bukan hanya dimanfaatkan oleh

bakteri tetapi juga organisme lainnya. Persaingan atas carrying capacity baik berupa oksigen maupun bahan organik, menjadi faktor kendali dalam proses

dekomposisi. Ketersediaan bahan organik yang berlimpah mungkin tidak berarti

banyak dalam mendukung dekomposisi bila faktor lain seperti oksigen tersedia

dalam kondisi terbatas. Kedua faktor ini terutama oksigen merupakan faktor kritis

bagi dekomposisi aerobik (Sunarto, 2004).

Penumpukan bahan organik dapat terjadi bila tidak ada kesetimbangan

antara suplai bahan organik dengan kecepatan dekomposisi. Beban bahan organik

semakin berat seiring dengan terhambatnya kecepatan dekomposisi (Irawan,

(34)

9

2.5 Keterangan Jenis Tegakan

2.5.1 Shorea balangeran (Korth.) Burck.

Nama daerah: balangeran, kahoi, tomi (Kalimantan). Merupakan salah

satu jenis anggota famili Dipterocarpaceae yang sering hidup berkelompok di hutan rawa gambut di Brunei Darussalam, Serawak, dan Kalimantan (Borneo).

Tinggi pohon dapat mencapai 30 m dan batang tinggi, bila tidak terjadi eksploitasi

berlebihan. Memiliki banir yang mencapai tinggi 1,2 m dengan bentuk tipis

hingga tebal dan lurus hingga cekung. Tajuk tipis dan terbuka hijau atau hijau

pupus. Permukaan pepagan putih merahan hingga hitam

kemerah-merahan, memiliki lekah penampang V yang dalam dan teratur. Takikkan batang

pepagan luar terang atau merah karat, pepagan dalam coklat merah dengan

pasak-pasak jaringan penembang yang lebih terang di bawah lekah-lekah. Kayu

gubalnya berwarna kuning jerami hingga coklat, kayu terasnya berwarna merah

tua. Tipe pepagannya berlekah dangkal.

Ranting bundar, penumpu 7 mm x 4 mm, lekas gugur, bundar telur, dan

lancip. Tangkai daun 1,3-2,3 cm dengan indumetum pendek, rapat dan berwarna

coklat kuning. Daun berbentuk jorong atau bulat telur, berukuran 7-12,8 cm x

3,1-6,8 cm, dengan ujung yang lancip dan pendek, pangkal membundar, ramping agak

berbentuk jantung. Permukaan bawah bila mengering berwarna coklat

kekuning-kuningan pudar dengan indumetum pendek berupa sisik yang rapat, coklat kuning

pada permukaan dan pertulangan daun. Pertulangan daun sekunder 8-10,

mula-mula lurus, melengkung hanya dekat tepi daun atau melengkung di seluruh

panjangnya, hampir tidak terangkat, bila mengering warnanya sama seperti

permukaan daun, pertulangan tersier hampir tidak kelihatan, tegak lurus atau

diagonal, domatia tidak ada.

Bunga benang sari berjumlah 15, kelopak bunga dengan tiga sayap

panjang dan dua sayap pendek. Sayap panjang panjangnya 2,6-3,6 cm x 0,7-0,8

cm, sayap pendek berukuran 1,2-1,5 cm x 0,2-0,3 cm, buah geluknya berukuran

5,6 cm x 3,5 cm.

Kayu dari jenis ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti

untuk bahan bangunan (konstruksi) karena kayunya keras, berukuran besar dan

(35)

10

lantai karena karena kayunya keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku

dan cukup kuat, serta dapat digunakan sebagai bantalan rel kereta api karena kayu

ini keras, kuat, kaku, dan awet (Newman, 1999).

2.5.2 Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten.

Pohon ini berukuran sedang dengan kulit kayu berlapis-lapis. Memiliki

kayu keras dan ranting kelopak bunga yang keluar berwarna kekuning-kuningan,

menempel di daun muda dan di dalam bagian daun bunga, yang keluar dalam

pucuk daun. Pucuknya kecil, daun penunjangnya tidak kelihatan. Panjang

daunnya 3,5-7,5 cm, bentuknya bulat telur dan berkulit semu, ujungnya runcing

sampai 1,5 cm panjangnya. Tulang daunnya enam sampai delapan pasang dan

tipis. Tangkai daun panjangnya 11-14 mm dan tipis. Sedangkan panjang malainya

sampai 8 cm. berdahan tunggal panjangnya sampai 2 cm dan berbentuk bulat

panjang (oval), dua kelopak bunganya yang keluar berbentuk oval, runcing, pucuk

bunganya tiga dengan panjang 2 mm, serta benangsari 15. Buah panjangnya 2 mm

dan keras, berbentuk bulat telur dan bergetah. Bijinya sampai sembilan yang

masing-masing 6 mm. pohon ini biasanya tumbuh di dataran rendah, dengan

(36)

11

III KEADAAN UMUM

3.1 Letak, Luas dan Status Hukum

Hutan Penelitian Dramaga menurut administrasi pemerintahan termasuk

ke dalam wilayah Desa Situ Gede dan Desa Bubulak, Kecamatan Bogor Barat,

Kotamadya Bogor. Lokasi penelitian ini terletak pada ketinggian 244 meter dari

permukaan laut dan secara geografis terletak pada 6033’8” sampai dengan

6033’38” LS dan 106044’50” sampai dengan 1060105’19” BT. Jarak lokasi ini dari

Bogor sekitar 9 km ke arah Barat.

Luas Hutan Penelitian Dramaga secara keseluruhan adalah 57,75 ha,

dimana seluas 10 ha digunakan oleh CIFOR (Center for International Forestry Research). Status hutan penelitian ini merupakan milik Departemen Kehutanan RI c.q. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Departemen Kehutanan,

1994).

3.2 Iklim

Berdasarkan data iklim selama 10 tahun (1989-1998) yang direkam oleh

Stasiun Klimatologi Dramaga, suhu rata-rata tertinggi dari kawasan ini terjadi

pada bulan Mei, sekitar 26,10 0C dan terendah terjadi pada bulan Januari, sebesar

25 0C. Kelembaban relatif rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Agustus, sebesar

79,80 %. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, sebesar 444 mm dan

terendah terjadi pada bulan Juli, sebesar 163 mm. Menurut klasifikasi Smith dan

Ferguson, kawasan ini beriklim basah (tipe hujan A), dengan curah hujan rata-rata

tahunan sebesar 3.940 mm (Departemen Kehutanan, 1994).

3.3 Tanah

Tanah di areal Hutan Penelitian Dramaga adalah jenis latosol coklat

kemerahan. Bahan induknya berupa tuf volkan intermedier yang dicirikan dengan

lapisan setebal ± 17 cm, berwarna kuning kemerahan (7,5 YR 6/8, lembab) pada

kedalaman 150-167 cm, di bawah lapisan ini terdapat lapisan lain yang warna dan

(37)

12

Tanah latosol pada lapisan atas berwarna coklat tua kemerahan (5 YR 3/3,

lembab) dan berangsur-angsur lebih cerah pada lapisan dalam (5 YR, ¾ lembab).

Tekstur tanahnya berupa liat sampai liat berdebu (halus), struktur gumpal sampai

remah, konsistensi gembur, liat plastis, solum sangat dalam, batas lapisan baur,

drainase sedang sampai baik dan air tanahnya dalam (8-12 meter).

Reaksi tanah masam sampai sedang (pH 5,0-6,0), kadar C organik dan N

sedang pada lapisan atas, rendah sampai sedang pada lapisan bawah, kadar P2O5

sangat tinggi, sedangkan K2O sangat rendah di semua lapisan. Kejenuhan basa

rendah dan permeabilitas sedang, yaitu 4,31 cm/jam pada lapisan atas dan 0,22

cm/jam pada lapisan bawah (Departemen Kehutanan, 1994).

3.4 Topografi dan Ketinggian

Bentuk wilayah Hutan Penelitian Dramaga adalah datar sampai agak

berombak dengan kelerengan 0-6 % dan berada pada ketinggian 244 meter dari

permukaan laut (Departemen Kehutanan, 1994).

3.5 Flora

Sejak tahun 1956 sampai dengan 1998 di Hutan Penelitian Dramaga telah

diintroduksi sebanyak 130 jenis tumbuhan, terdiri dari 127 jenis pohon, satu jenis

bambu, satu jenis rotan dan satu jenis palme. Jenis tumbuhan tersebut meliputi 88

marga dan 43 famili. Berdasarkan daerah penyebaran alaminya, jenis tumbuhan

tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu jenis asing (penyebaran

alaminya di luar Indonesia) sebanyak 42 jenis meliputi 35 marga dan 19 famili

dan jenis asli (penyebaran alaminya di Indonesia) sebanyak 88 jenis, terdiri dari

85 jenis pohon, satu jenis bambu, satu jenis rotan dan satu jenis palme.

Jenis tanaman asing terdiri dari jenis-jenis pohon yang termasuk:

1. Kelompok daun jarum (Gymnospermae) sebanyak tiga jenis, semuanya dari marga Pinus, famili Pinaceae.

2. Kelompok daun lebar (Angiospermae) sebanyak 39 jenis yang mencakup 34 marga dan 18 famili dimana jenis yang paling banyak adalah jenis dari

(38)

13

Berdasarkan asal benihnya, jenis pohon asing tersebut berasal dari negara

yang beriklim tropis dan sub-tropis.

Jenis pohon asli Indonesia terdiri dari jenis-jenis pohon yang termasuk:

1. Kelompok daun jarum (Gymnospermae) sebanyak tiga jenis yaitu dari marga Agathis (famili Araucariaceae), Pinus (famili Pinaceae) dan

Podocarpus (famili Podocarpaceae).

2. Kelompok daun lebar (Angiospermae) sebanyak 82 jenis, mencakup 56 marga dan 34 famili dimana jenis yang paling banyak adalah jenis dari

marga Shorea (10 jenis), Eugenia (lima jenis), Dipterocaroaceae (94 jenis) dan Hopea (empat jenis).

Berdasarkan asal benihnya, jenis pohon asli Indonesia berasal dari hampir

seluruh pulau besar yang ada di Indonesia, mencakup Indonesia bagian barat,

tengah dan timur (Departemen Kehutanan, 1994).

3.6 Fauna

Jenis-jenis fauna yang hidup di kawasan Hutan Penelitian Dramaga tidak

begitu banyak. Hal ini disebabkan oleh luasannya yang tidak begitu besar dan

dekat dengan perkampungan penduduk. Fauna tersebut antara lain berbagai jenis

burung (Aves), ular tanah (Agkistrodon rhodostoma), tupai atau bajing (Lariscus

sp.), Musang (Paradoxurus hermaproditus), dan berbagai jenis serangga (Departemen Kehutanan, 1994).

(39)

14

IV BAHAN DAN METODE

4.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan antara bulan Febuari sampai

dengan April 2007. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Penelitian Dramaga yang

berada di Desa Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, dengan objek penelitian

tegakan Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten yang masing-masing berumur 48 tahun dengan jarak tanam 6 m x 6 m.

4.2 Bahan dan Alat

Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah serasah daun dari

tegakan Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten yang berumur 48 tahun. Peralatan penunjang yang digunakan meliputi

pita ukur 100 m dan 10 m, litter bag (kantung serasah) yang terbuat dari kain kasa atau nylon memiliki mata jala 1 mm berukuran 15 cm x 30 cm, tali plastik,

patok bambu,oven, timbangan dan kantung plastik.

4.3 Metode Penelitian

4.3.1 Peletakan Kantung Serasah

Penelitian dilakukan di dua tegakan yaitu tegakan S. balangeran dan H. bancana dengan luas masing-masing 0,20 ha dan 0,23 ha. Pada setiap tegakan diletakan sebanyak 108 buah kantung serasah secara sistematik (12 baris dan 9

kolom).

4.3.2 Variabel yang Diamati

Dalam Penelitian ini variabel yang diamati dan diukur antara lain: bobot

kering awal serasah (50 gram), berat kering akhir serasah (gram), penurunan

bobot (%), laju dekomposisi (%) per minggu, dan curah hujan selama waktu

(40)

15

4.3.3 Perancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak lengkap. Jumlah

unit percobaan pada penelitian ini adalah 108 unit (kantung serasah) untuk

masing-masing tegakan.

4.3.4 Prosedur Kerja

Langkah-langkah pengukuran pendugaan laju dekomposisi serasah adalah

sebagai berikut:

1. Kantung serasah diisi dengan serasah sebanyak 50 gram berat kering.

2. Kantung serasah yang telah diisi serasah lalu diletakkan di lantai

hutan, sehingga kantung serasah dapat langsung menyentuh tanah.

Untuk menjaga agar kantung serasah tidak berpindah maka diikatkan

pada patok bambu.

3. Setiap satu minggu sekali diambil sembilan kantung serasah dalam

satu baris dari tiap tegakan.

4. Serasah yang telah diambil lalu dioven selama 24 jam pada suhu

1050C.

5. Serasah yang telah dioven kemudian ditimbang untuk diukur berat

keringnya.

4.3.5 Pengolahan Data

Penurunan bobot didapat dengan rumus:

W = W0 – Wt x 100%

W0

Dimana : W0 = berat kering awal serasah (50 gram)

Wt = berat kering akhir serasah (gram) per periode waktu t

W = Penurunan bobot

Laju dekomposisi diduga dengan rumus:

D = Penurunan bobot minggu

(41)

16

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

Serasah daun S. balangeran setelah terdekomposisi selama 12 minggu mengalami kehilangan bobot sebesar 47,64 % dari bobot kering awal sebesar 50

gram dengan rata-rata laju dekomposisi 7,18 % perminggunya dan laju

dekomposisi tertinggi terjadi pada minggu ke satu yaitu 21,44 %. Untuk serasah

daun H. bancana setelah terdekomposisi selama 12 minggu mengalami kehilangan bobot sebesar 46,86 % dari bobot kering awal sebesar 50 gram dengan

rata-rata laju dekomposisi 7,14 % perminggunya dan laju dekomposisi tertinggi

terjadi pada minggu ke satu yaitu 21,72 %, seperti tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1 Bobot Kering dan Laju Dekomposisi Serasah daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten yang Terdekomposisi Selama 12 Minggu

Serasah daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck.

Serasah daun Hopea bancana

(Boerl.) Van Slooten Waktu (minggu) Bobot (gram) Penurunan bobot (%) Laju dekomposisi (%perminggu) Bobot (gram) Penurunan bobot (%) Laju dekomposisi (%perminggu)

1 39,28 21,44 21,44 39,14 21,72 21,72

2 38,41 23,18 11,59 38,25 23,50 11,75

3 37,29 25,42 8,47 37,61 24,78 8,26

4 36,39 27,22 6,81 36,75 26,50 6,63

5 35,57 28,86 5,77 35,88 28,24 5,65

6 34,62 30,76 5,13 34,93 30,14 5,02

7 31,19 37,62 5,37 31,46 37,08 5,29

8 30,58 38,84 4,85 30,79 38,42 4,80

9 29,66 40,68 4,52 29,90 40,20 4,46

10 28,73 42,54 4,25 29,14 41,72 4,17

11 27,78 44,44 4,04 28,15 43,70 3,97

12 26,18 47,64 3,97 26,57 46,86 3,91

Rata-rata 7,18 Rata-rata 7,14

Data pada Tabel 1 digambarkan dalam bentuk grafik seperti tersaji pada

(42)

17 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Shorea Hopea (a) 0 5 10 15 20 25

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Shorea

Hopea

[image:42.612.128.498.77.580.2]

(b)

Gambar 1 Perubahan Bobot Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl) Van Slooten (a), dan Laju Dekomposisi Serasahnya (b) yang Terdekomposisi Selama 12 Minggu.

Bobot Seras

ah

(gram / m

in ggu) Waktu (minggu) Laju D ek om p osisi Serasah

(% / minggu

)

(43)

18

Berdasarkan hasil analisis keragaman pada jenis pohon (Tabel 2) dan

faktor periode waktu (Tabel 3) terlihat bahwa faktor jenis pohon tidak

berpengaruh signifikan, sebaliknya faktor periode waktu berpengaruh signifikan

terhadap laju dekomposisi serasah.

[image:43.612.125.513.210.277.2]

Tabel 2 Analisis Keragaman Faktor Jenis Pohon terhadap Laju Dekomposisi Serasah

Sumber keragaman

DB JK KT F hit P value

Jenis Galat Total

1 22 23

0,0 659,90 659,90

0,00 30

0,00 0,97

Tabel 3 Analisis Keragaman Faktor Periode Waktu terhadap Laju Dekomposisi Serasah

Sumber keragaman

DB JK KT F hit P value

Minggu 11 659,71 59,97 3671,01 0,00

Galat 11 0,18 0,016

Total 23 659,93

Hubungan antara laju dekomposisi serasah daun S. balangeran dan H. bancana dengan periode waktu dekomposisi masing-masing mengikuti persamaan Y=15,81-1,11X dan Y=15,87-1,13X, sedangkan dengan curah hujan mengikuti

persamaan Y=0,25+0,06X dan Y=0,03+0,06X, seperti tersaji pada Gambar 2 dan

3. Hal ini berarti semakin lama periode waktu dekomposisi, maka semakin rendah

laju dekomposisi serasah perperiodenya, sedangkan semakin tinggi curah hujan,

[image:43.612.125.513.341.442.2]
(44)

19

0 2 4 6 8 10 12

0 10 20 minggu la ju d e ko m p o s is i

Y = 15,8131 - 1,11322 x

Y = 15,8712 - 1,13461 x

[image:44.612.128.500.104.680.2]

keterangan Shorea Hopea

Gambar 2 Hubungan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten terhadap Waktu (minggu).

[image:44.612.137.498.105.364.2]

keterangan Shorea Hopea

Gambar 3 Hubungan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran

(Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl.) Van Slooten terhadap Curah Hujan.

100 200 300

5 15 25 Curah Hujan la ju deom pos is i

Y = 0,248450 + 0,0579064 x

(45)

20

5.2 Pembahasan

Dari hasil pengukuran bobot seperti disajikan dalam Tabel 1, terlihat

bahwa laju dekomposisi serasah daun S. balangeran dan H. bancana tidaklah berbeda jauh. Seperti halnya tersaji pada Gambar 1.

Dekomposisi berlangsung melalui transformasi energi di dalam dan di

antara organisme-organisme. Proses dekomposisi merupakan fungsi yang sangat

penting, sebab jika proses dekomposisi tidak terjadi, maka semua makanan akan

terikat pada tumbuhan yang mati, dan dunia ini akan penuh dengan sisa-sisa dan

bangkai. Penghancuran untuk setiap tumbuhan dan binatang yang mati tidak

sama. Lemak, gula dan protein dapat segera dibusukkan akan tetapi selulosa dan

lignin kayu lama sekali dihancurkannya. Demikian juga chitin, rambut dan

tulang-tulang binatang sangat sukar dihancurkan (Irawan, 2003).

Menurut Subkhan (1991), serasah yang terdapat di permukaan tanah

merupakan bagian bahan-bahan yang telah jatuh. Serasah tersebut tidak

mengalami pertumbuhan lagi dan akhirnya mengalami dekomposisi dan

mineralisasi dimana laju dari proses dekomposisi tersebut dapat ditentukan dari

penyusutan bobot serasah yang terdekomposisi.

Proses humifikasi di alam tergantung pada kondisi tanah, tumbuhan

penutup, aktifitas mikroorganisme dan fauna tanah, pengaruh iklim, sifat fisika

kimia tanah, serta aktifitas manusia. Kecepatan dekomposisi sisa tanaman juga

tergantung pada susunan kimianya. Sebagai hasil dari serangan berbagai

mikroorganisme, jaringan-jaringan sisa tanaman terlepas satu sama lain, dan sisa

tanaman akan menjadi tidak stabil sehingga terjadi penurunan bobot dan volume

(Kononova, 1961 dalam Hilwan, 1993).

Apabila proses dekomposisi berjalan lambat seperti dalam hutan, maka

bahan organik akan menumpuk di lantai hutan dan produktifitas hutan mungkin

akan rendah. Adapun penumpukan bahan organik dapat terjadi bila tidak ada

kesetimbangan antara suplai bahan organik dengan kecepatan dekomposisi.

Keefektifan bakteri fungi dan hewan tanah lainnya dalam pendekomposisian

serasah ditunjukkan oleh cepat atau lambatnya serasah hilang dari permukaan

tanah hutan secepat jatuhnya serasah dari tanaman dekomposisi yang lengkap

(46)

21

lebih cepat terdekomposisi dibanding serasah yang miskin nutrisi pada lantai

hutan yang sama (Waring and Schlesingan, 1985).

Proses dekomposisi bahan organik secara alami akan berhenti bila

faktor-faktor pembatasnya tidak tersedia atau telah dihabiskan dalam proses dekomposisi

itu sendiri. Degradasi zat organik mengendalikan sejumlah fungsi dalam

ekosistem misalnya peredaran kembali nutrien melalui mineralisasi, dan

pembentukan makanan dari rantai makanan detritus (Heddy, 1994). Proses

dekomposisi berlangsung secara berkelanjutan sampai bahan organik yang

komplek secara berangsur-angsur diubah menjadi elemen yang sederhana.

Hasil analisis keragaman dekomposisi serasah seperti tertera dalam Tabel

2 menunjukkan bahwa faktor jenis pohon tidak berpengaruh signifikan terhadap

laju dekomposisi serasah. Hal ini dapat dikarenakan kedua jenis pohon berasal

dari famili yang sama yaitu Dipterocarpaceae, tegakan ditanam pada tahun dan jarak tanam yang sama yaitu tahun 1959 dengan jarak tanam 6 x 6 m, dan ditanam

pada kondisi tanah serta iklim yang relatif sama.

Hasil analisis keragaman pada Tabel 3 menunjukkan bahwa faktor periode

waktu (minggu) memberikan pengaruh yang singnifikan terhadap laju

dekomposisi serasah. Tersaji pada Gambar 2, hubungan antara laju dekomposisi

serasah daun S. balangeran dan H. Bancana dengan faktor periode waktu dekomposisimasing-masing mengikuti persamaan Y=15,81-1,11X dan

Y=15,87-1,13X, dimana Y adalah laju dekomposisi dan X adalah periode waktu (minggu).

Hal ini dapat diartikan bahwa semakin lama periode waktu dekomposisi, maka

akan semakin rendah laju dekomposisi serasah perperiodenya.

Kondisi vegetasi yang seragam mendukung lambatnya laju dekomposisi

karena mengakibatkan rendahnya keragaman mikroorganisme yang berperan

dalam proses dekomposisi. Jika serasah cocok tehadap mikroorganisme tanah

apalagi jika kaya akan nutrisi dan mengandung sedikit kayu atau kulit, dan

kondisi kelembaban, drainase serta aerasi tanah cukup baik, maka bahan organik

akan terdekomposisi secara cepat dan tidak akan terakumulasi dalam tanah.

Penguraian serasah daun di setiap minggunya berbeda dimana pada

awalnya nilai laju dekomposisi akan tinggi dan kemudian terus menurun, yang

(47)

22

dengan semakin lamanya periode waktu serasah terdekomposisi. Hal ini

dikarenakan pada serasah yang masih baru masih banyak persediaan unsur-unsur

yang merupakan makanan bagi mikroba tanah atau bagi organisme pengurai,

sehingga serasah cepat hancur. Unsur tersebut semakin berkurang yang berarti

penghancurannya juga lambat sampai hanya tinggal unsur yang tidak diperlukan

oleh dekomposer. Selain itu kadar air yang terdapat pada serasah yang masih baru

akan mudah menguap sehingga bobot serasah pada awal minggu mengalami

penurunan yang tinggi yang juga membuat laju dekomposisinya menjadi cepat.

Sebagai suatu proses yang dinamis, dekomposisi memiliki dimensi

kecepatan yang mungkin berbeda dari waktu ke waktu tergantung faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan dekomposer disamping faktor bahan yang akan

didekomposisi (Saunder, 1980 dalam Sunarto, 2004). Sebagai salah satu komponen lingkungan di atas permukaan tanah yang tersedia datanya, curah hujan

memiliki peranan dalam proses dekomposisi serasah. Hubungan antara curah

hujan dengan laju dekomposisi untuk serasah daun S. balangeran dan H. bancana

(Gambar 3) masing-masing mengikuti persamaan Y=0,25+0,06X dan

Y=0,03+0,06X, dimana Y adalah laju dekomposisi dan X adalah curah hujan,

yang dapat diartikan bahwa semakin tinggi curah hujan, maka laju dekomposisi

akan semakin cepat.

Curah hujan berperan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung

kehidupan ataupun aktivitas mikroorganisme tanah. Dimana mikroorganisme

tanah ataupun jasad renik memperoleh energi untuk keperluan hidupnya dengan

cara mengambil dari unsur-unsur yang terdapat dalam daun sehingga dengan

(48)

23

VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Serasah daun S. balangeran dan H. bancana selama 12 minggu mengalami penyusutan bobot kering masing-masing sebesar 47,64 % dan 46,86 % dari berat

awal, dengan rata-rata laju dekomposisi masing-masing sebesar 7,18 % dan 7,14

% perminggunya. Laju dekomposisi serasah, baik pada jenis S. balangeran

maupun jenis H. bancana tertinggi terjadi pada minggu kesatu yaitu masing-masing sebesar 21,44 % dan 21,72 %.

6.2 Saran

Dalam rangka kepentingan praktek pengelolaan Hutan Penelitian Dramaga

sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan mengenai pola siklus hara pada ekosistem

hutan tersebut agar diketahui dengan tepat perlakuan pemeliharaan produktifitas

(49)

24

DAFTAR PUSTAKA

Agusril. 1985. Pengukuran Produktivitas Serasah Zona Montana di Hutan Pegunungan, Gunung Gede, Jawa Barat. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Departemen Kehutanan. 1989. Kamus Kehutanan Indonesia. Edisi Pertama. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Jakarta.

---. 1994. Kebun Percobaan Dramaga . Edisi Pertama. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Jakarta.

---. 1997. Ensiklopedia Kehutanan Indonesia. Edisi Pertama. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Jakarta.

Desmukh, I. 1993. Ekologi dan Biologi Tropika. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Hakim, N.M., N.A. Yusuf, dan G.N. Sutopo. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah.

Universitas Lampung, Lampung.

Hardjowigeno. 1995. Ilmu Tanah. Akademika Presindo, Jakarta. Heddy, S. 1994. Prinsip-prinsip dalam Ekologi. Persada, Jakarta.

Hilwan, I. 1993. Produksi, Laju Dekomposisi dan Pengaruh Alelopati Serasah

Pinus merkusii Jungh, et de Vriese dan Acacia mangium wild di Hutan Gunung Walat, Sukabumi, Jawa barat. [Tesis]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Indriani, H. Y. 2000. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya Jakarta, Jakarta.

Irawan, Z.D. 2003. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Bumi Aksara, Jakarta.

Newman, M.F. 1999. Pedoman Identifikasi Pohon-pohon Dipterocarpceae Pulau Kalimantan. Porsea Indonesia, Bogor.

Notohadiprawiro, T. 1999. Tanah dan Lingkungan. Dirjen Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Pustaka, Jakarta.

Sanchez. 1992. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

(50)

25

Subkhan. 1991. Produksi dan Penguraian Serasah Hutan Mangrove di Sungai Talidenan Besar. HPH PT. Bina lestari, Riau. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sunarto. 2004. Peranan Dekomposisi Produksi pada Ekosistem Laut. http: // rudyct top cities. Com/ pps 702-71034/ sunarto. html. [20 Maret 2007].

Sutedjo, MM., A.G. Kartasapoetra dan Sastroajmodjo. 1991. Mikrobiologi Tanah.

Rineksa Cipta, Jakarta.

Waring and Schlesingan. 1985. Forest Ecology Concept and Management.

(51)

26

(52)

27

Mgg ulangan bobot rata2 bobot/

mgg

Mgg ulangan bobot rata2 bobot/

mgg

Mgg ulangan bobot rata2 bobot/

mgg

1 W 38,96 39,28 6 C 34,65 11 E 27,76

1 W 39,48 6 C 34,54 12 W 26,86 26,18

1 W 39,36 6 E 34,55 12 W 27,13

1 C 39,77 6 E 34,56 12 W 26,87

1 C 39,61 6 E 34,45 12 C 26,16

1 C 39,49 7 W 32,65 31,19 12 C 25,84

1 E 38,94 7 W 31,33 12 C 25,68

1 E 38,77 7 W 31,59 12 E 25,43

1 E 39,13 7 C 30,95 12 E 26,24

2 W 38,57 38,41 7 C 30,82 12 E 25,41

2 W 38,16 7 C 30,9

2 W 38,37 7 E 30,95

2 C 38,63 7 E 30,72

2 C 38,35 7 E 30,85

2 C 38,54 8 W 31,76 30,58

2 E 38,36 8 W 30,74

2 E 38,21 8 W 30,66

2 E 38,54 8 C 30,44

3 W 37,17 37,29 8 C 30,46

3 W 37,31 8 C 30,36

3 W 37,11 8 E 30,27

3 C 37,48 8 E 30,16

3 C 37,21 8 E 30,34

3 C 37,52 9 W 29,43 29,66

3 E 37,48 9 W 29,59

3 E 37,12 9 W 29,89

3 E 37,25 9 C 29,91

4 W 36,32 36,39 9 C 29,75

4 W 36,95 9 C 29,7

4 W 36,35 9 E 29,82

4 C 36,25 9 E 29,44

4 C 36,27 9 E 29,43

4 C 36,59 10 W 28,88 28,73

4 E 36,35 10 W 28,73

4 E 36,27 10 W 28,76

4 E 36,22 10 C 28,79

5 W 35,6 35,57 10 C 28,52

5 W 35,55 10 C 28,58

5 W 35,52 10 E 28,91

5 C 35,55 10 E 28,75

5 C 35,51 10 E 28,62

5 C 35,62 11 W 27,28 27,78

5 E 35,65 11 W 28,37

5 E 35,52 11 W 28,01

5 E 35,6 11 C 27,91

6 W 34,25 34,62 11 C 27,75

6 W 34,7 11 C 27,61

6 W 35,23 11 E 27,8

6 C 34,63 11 E 27,57

(53)

28

mgg ua

Gambar

Gambar 1  Perubahan Bobot Serasah Daun Shorea balangeran (Korth.) Burck. dan Hopea bancana (Boerl) Van Slooten (a),  dan Laju Dekomposisi Serasahnya (b) yang Terdekomposisi  Selama 12 Minggu
Tabel 2    Analisis Keragaman Faktor Jenis Pohon terhadap Laju Dekomposisi Serasah
Gambar 2  Hubungan Laju Dekomposisi Serasah Daun Shorea balangeran
Gambar Daun Shorea balangeran

Referensi

Dokumen terkait