TINGKAT DAN KERAGAMAN KOMPETENSI SUMBER DAYA
MANUSIA (SDM) DALAM PENGELOLAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN
PERKOTAAN (PBB P2)
(STUDI KASUS DI KABUPATEN SEMARANG)
Disusun Sebagai Prasyaratan Untuk Menduduki
Jabatan Fungsional Widyaiswara Utama
pada Badan Pendidikan dan Pelatihan
Provinsi Jawa Tengah
OLEH:
Nama : Drs. Joko Triwiyatno, M.Si NIP : 19580702 198403 1 002 Pangkat : Pembina Utama Muda/ IV c Jabatan : Widyaiswara Madya
PROVINSI JAWA TENGAH 2014
SAMBUTAN
KEPALA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PROVINSI JAWA TENGAH
Orasi ilmiah merupakan wujud akuntabilitas akademis atas profesi yang disandang seorang Widyaiswara dan merupakan salah satu prasyarat untuk menduduki jenjang jabatan Widyaiswara utama.
Kami menyambut dengan baik atas tersusunya naskah orasi ilmiah ini, yang telah diseminarkan pada tanggal 29 April 2014 serta telah disempurnakan kembali berdasarkan saran dan perbaikan yang disampaikan dalam seminar pra-orasi ilmiah tersebut.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasi dan dedikasi yang baik kepada profesinya yang telah diwujudkan dengan orasi ilmiah pada tanggal 05 Juni 2014.
Semoga orasi ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan kediklatan dan lokus obyek penelitian khususnya pemerintah kabupaten Semarang dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam pengelolaan PBB-P2 sehingga cita-cita otonomi daerah dibidang pendapatan daerah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua tanpa kecuali terlebih kepada penulis, dengan ridho dan rahmat-Nya telah berhasil menyelesaikan karya tulis ilmiah guna disajikan dalam orasi ilmiah Widyaiswara. sebuah pertanggungjawaban profesi kepada civitas akademika badan diklat, pemerintah dan seluruh masyarakat.
Naskah Orasi Ilmiah ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 14 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya, dan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara nomor 3 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Orasi Ilmiah Widyaiswara.
Sebagai Widyaiswara pengampu Kajian Paradigma pada Diklat Kepemimpinan Tingkat II antara lain Paradigma Pembangunan Sumber Daya Aparatur dan Diklat Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, penulis terinspirasi untuk melakukan penelitian di bidang Sumber Daya Aparatur dan Disentralisasi Fiskal. Orasi ilmiah ini dengan judul “Tingkat Dan Keragaman Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) Dalam Pengelolaan Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) (Studi Kasus Di Kabupaten Semarang)” selanjutnya penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada:
1. Kepala Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah yang telah memfasilitasi mulai dari penelitian sampai dengan pelaksanaan orasi ilmiah;
melaksanakan penelitian, data-data, informasi, yang dibutuhkan dalam penelitian ilmiah ini;
3.
Bapak Drs. Sigit Sumarhaen Yanto, SH, MM, dan DR. Ir. Sutarwi, M.Sc, yang telah memberikan bimbingan dan saran-saran kreatif, konstruktif dengan keikhlasan, ketelatenan, kesungguhan, dan kepedulian yang sangat tinggi sehingga naskah Orasi ilmiah ini dapat memenuhi kaidah-kaidah yang ditentukan;4. Bapak DR. Bambang Ismanto, M.Si Ketua Program Pasca Sarjana Magister Pendidikan UKSW Salatiga, yang telah berkenan memberikan saran dan pembahasan KTI ini;
5. Drs. H. Edi Wahyono, M.Si dan teman-teman dibidang Bangdalmudik Bandiklat Jateng yang secara ikhlas memfasilitasi dan mengingatkan penulis untuk selalu tepat waktu dalam penulisan Karya Tulis Imiah dan Orasi Ilmiah ini;
6. Sahabat-sahabat Widyaiswara Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah yang telah memberikan support untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini;
7. Istri saya Dra. H. Prastiwi, dan putri-putriku Ana, Febri dan Ayu serta menantuku Adi dan Candra yang terus mengelorakan Iner Spirit, motivasi dan aktualisasi diri yang tak kunjung henti untuk selalu memberi manfaat yang terbaik bagi sesama.
Semarang, 05 Juni 2014
Drs. Joko Triwiyatno, M.Si NIP. 19580702 198403 1 002
ORASI ILMIAH WIDYAISWARA
TINGKAT DAN KERAGAMAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)
DALAM PENGELOLAAN
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB P2)
(STUDI KASUS DI KABUPATEN SEMARANG)
Semarang, 5 Juni 2014
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi/siang, dan
Salam sejahtera untuk kita semua
Yang terhormat Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia,
Yang saya hormati Kepala Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, Yang saya hormati Moderator, Tim Pembimbing, dan Pembahas, Yang saya hormati Kepala SKPD Provinsi Jawa Tengah,
Yang saya hormati Sahabat-sahabat Widyaiswara,
Yang saya hormati Para Pejabat Struktural Badan Diklat, dan seluruh tamu undangan.
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan taufik, hidayah dan inayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul di gedung ini untuk menghadiri Orasi ilmiah yang diselenggarakan oleh Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah. Orasi ilmiah ini dimaksudkan untuk pengukuhan menduduki jabatan Widyaiswara Utama, juga mengandung pesan moral yang mendasar yaitu untuk mengembangkan tradisi ilmiah bagi Widyaiswara agar berwawasan luas dan terbuka, berfikir kritis dan kreatif, konstruktif serta logis dan sistematis. Orasi ilmiah ini merupakan wujud akuntabilitas akademik dan profesionalitas Widyaiswara sesuai dengan spesialisasi yang selama ini saya tekuni yakni kajian paradigma dan pengelolaan keuangan daerah.
Orasi ilmiah ini dengan judul “TINGKAT DAN KERAGAMAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) DALAM PENGELOLAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB P2) (STUDI KASUS DI KABUPATEN SEMARANG)”, yang merupakan hasil penelitian terhadap implikasi pemberlakukan UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Untuk itu, paparan ini akan saya sampaikan dalam tiga bagian yaitu pertama latar belakang kenapa penelitian ini dilakukan, kedua temuan hasil penelitian berikut analisisnya, dan ketiga simpulan dan rekomendasi.
Bapak/Ibu hadirin undangan yang saya hormati,
Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menempatkan pemerintah kabupaten dan kota sebagai titik berat penyelenggaraan pemerintahan daerah, yakni dengan diserahkannya kewenangan yang besar di bidang politik, administrasi pemerintahan, maupun fiskal. Hal tersebut sejalan dengan pandangan (Rondinelli, 2008), bahwa desentralisasi dibedakan menjadi empat yakni desentralisasi politik, administratif, dan fiskal. Desentralisasi politik merupakan pelimpahan kewenangan pengambilan keputusan kepada tingkat pemerintahan yang lebih rendah, mendorong masyarakat dan perwakilan mereka untuk berpartisipasi di dalam proses pengambilan keputusan. Political decentralization bertujuan untuk memberikan kekuasaan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan kepada masyarakat melalui perwakilan yang dipilih oleh masyarakat sehingga dengan demikian masyarakat dapat terlibat dalam penyusunan dan implementasi kebijakan.
Sementara itu, desentralisasi administratif menggambarkan hierarki dan distribusi kewenangan serta fungsi-fungsi di antara unit pemerintah pusat dengan unit pemerintah non pusat (sub-national government). Administratif decentralization sendiri memiliki tiga bentuk yaitu dekonsentrasi, delegasi dan devolusi. Sedangkan desentralisasi pasar disebut juga desentralisasi ekonomi yaitu digunakan untuk memberikan tanggung jawab dari sektor publik ke sektor swasta, baik dalam hal pelayanan maupun promosi barang dan jasa.
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah (UU 25/1999 jo UU 33/2004).
Terkait desentralisasi fiskal, pemerintah pusat dinilai belum sepenuhnya memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola keuangan daerah secara lebih otonom/mandiri. Hal ini terbukti makin besarnya celah fiskal di daerah sehingga makin besar dana transfer yang “digelontorkan” pemerintah pusat guna menutup celah fiskal tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pemerintah daerah belumlah otonom dalam mengelola keuangan daerahnya. Akibatnya, ketergantungan pemerintah daerah kepada pusat masih tinggi.
Jika dirunut lebih mendalam, kondisi ini disebabkan lemahnya sistem pengelolaan keuangan yang memberikan kesempatan kepada pemerintah pusat untuk mengelola sumber-sumber pendapatan yang strategis. Sebagai contoh, pajak-pajak yang berpotensi besar dalam menyumbang PAD justru dikelola oleh pemerintah pusat, bagian pajak daerah cenderung berupa pajak-pajak yang berpotensi kecil atau sedang.
Oleh karena itu, dengan terbitnya Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang PDRD, Pemerintah Daerah kini mempunyai tambahan sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari pajak daerah, sehingga saat ini jenis pajak kabupaten/kota terdiri dari sebelas jenis pajak, yaitu Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, dan Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Tabel 1. Perbedaan Jenis Pajak Kabupaten/Kota pada UU No.34/2000 dengan UU No. 28/2009
UU 34/2000 UU 28/2009 Sumber: Materi Presentasi “Pengalihan PBB-P2 dan BPHTB
sebagai Pajak Daerah,” Direktorat Jenderal Pajak, Agustus 2011
perkotaan/PBB-P2, dan bea perolehan hak atas tanah & bangunan). Pengalihan pengelolaan PBB-P2 dilaksanakan mulai per 1 Januari 2011 dan paling lambat 1 Januari 2014.
Bapak/Ibu hadirin undangan yang berbahagia,
Berkaca dari beberapa kabupaten/kota yang sudah melaksanakan pengelolaan PBB-P2 pada tahun 2011 dan 2012 ternyata banyak permasalahan yang timbul di dalamnya. Hal ini disebabkan karena ketidaksiapan Pemda akan beberapa hal di antaranya belum siapnya kebijakan/peraturan, sarana dan prasarana, serta SDM yang ada. Sebagai contoh, Pemerintah Kota Surabaya yang telah mengelola PBB-P2 sejak tahun 2011 yang lalu ternyata banyak menghadapi masalah yang berkenaan dengan pelayanan terhadap Wajib Pajak (WP). Banyak keluhan dari masyarakat WP yang mengajukan pelayanan PBB baik berupa keberatan, pembetulan, balik nama, dan pelayanan yang lain yang tidak bisa terlayani dengan baik. Hal ini dikarenakan tidak siapnya Pemkot Surabaya akan basis data dan aplikasi untuk mengadministrasikan PBB-P2, dan tentunya menyangkut kondisi kesiapan SDM-nya.
Implementasi pengelolaan PBB-P2 di Kabupaten Semarang yang telah dimulai sejak 1 Januari 2013 sangat menarik minat penulis untuk meneliti kesiapan pemda, khususnya kompetensi SDM dalam mengelola pajak daerah dan retribusi daerah. Terjadinya penolakan terhadap tarif pajak yang diterapkan, sebagaimana contoh tersebut di atas, dapat mengindikasikan lemahnya kompetensi SDM dalam menyusun rancangan peraturan daerah (ranperda) maupun regulasi lainnya.
perbaikan, terutama dari aspek kesiapan SDM. Selanjutnya, apabila pengalihan pengelolaan PBB-P2 tadi dikatakan sebagai bentuk kepercayaan dan tantangan dari Pemerintah, maka kepercayaan dan tantangan tersebut hanya dapat “dijawab” dengan peningkatan kompetensi SDM pengelolanya.
Fokus penelitian ini pada kompetensi SDM pengelola PBB-P2 di Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD)-Kabupaten Semarang. Kompetensi SDM yang akan diteliti meliputi tingkat kompetensi dan keragaman (jenis-jenis) kompetensinya – terutama kompetensi teknis (technical competence) – untuk dapat melakukan pengelolaan PBB-P2 secara lebih optimal di masa mendatang, yang meliputi pendataan & penilaian, penetapan & pelayanan, penerimaan & manajemen IT, penagihan, dan keberatan & pengurangan.
Bapak/Ibu hadirin undangan yang sangat saya hormati,
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dikelola oleh pemerintah pusat terbagi atas lima sektor yaitu Sektor Perdesaan, Perkotaan, Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan. Namun dari kelima sektor tersebut, hanya sektor perdesaan dan perkotaan yang pengelolaannya dilimpahkan kepada pemerintah kabupaten/kota berdasarkan undang-undang tentang PDRD. Ada beberapa alasan yang mendasari pelimpahan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan kepada pemerintah kabupaten/kota, yaitu:
kemungkinan besar berada di dalam lebih dari satu kabupaten sehingga perlu koordinasi yang lebih intensif dalam menentukan nilai jual objek pajak (NJOP)1 perbatasan antar kabupaten yang bersangkutan. Koordinasi bisa tidak berjalan efektif apabila timbul sentimen kedaerahan, sehingga dapat menimbulkan ketidakharmonisan penentuan NJOP daerah yang berbatasan.
Ketiga, objek PBB-P2 terdiri dari berjuta-juta objek yang tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia dengan berbagai permasalahan yang cukup menyita perhatian pengelola PBB-P2 tersebut. Dengan kata lain pemerintah pusat ingin lebih berkonsentrasi dalam pemenuhan target penerimaan pajak pusat tanpa dibebani hal-hal yang mungkin ditimbulkan oleh PBB-P2.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka pertanyaan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat dan keragaman kompetensi SDM pengelola PBB-P2 di DPPKAD Kabupaten Semarang?
2. Kompetensi SDM apa saja yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan pengelolaan PBB-P2 di Kabupaten Semarang?
3. Apa saja kendala yang dihadapi dalam pengembangan SDM pengelola PBB-P2 dan apa saja langkah-langkah yang telah ditempuh DPPKAD Kabupaten Semarang?
kendala-kendala yang dihadapi dan apa saja langkah-langkah yang telah ditempuh dalam Pengelolaan PBB-P2. Sedangkan tujuan praktis agar hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan SDM ke depan sesuai kebutuhan organisasi.
Bapak/Ibu hadirin undangan yang saya hormati,
Untuk memperkuat penelitian ini, dikemukakan dasar teoritis/konseptual yang dilakukan dengan mengutip sejumlah teori/konsep dari para ahli maupun hasil penelitian terdahulu serta pengertian yang terkandung dalam kebijakan PDRD. Teori/konsep yang terkait dengan penelitian ini meliputi konsep desentralisasi fiskal dan kompetensi.
Desentralisasi fiskal dapat didefinisikan sebagai devolusi (penyerahan) tanggung jawab fiskal dari pemerintah pusat kepada tingkatan pemerintah yang ada di bawahnya (Rahayu, 2010, dalam Rusdianto, 2011). Desentralisasi fiskal juga dapat didefinisikan sebagai penyerahan urusan fiskal ke bawah, dimana jenjang pemerintahan yang lebih tinggi menyerahkan sebagian kewenangannya mengenai anggaran dan keputusan-keputusan finansial kepada jenjang yang lebih rendah (Yustika, 2008, dalam Rusdianto, 2011).
Menurut Ebel (2000) dalam Kumorotomo (2008), desentralisasi fiskal terkait dengan masalah: 1) pembagian peran dan tanggung jawab antarjenjang pemerintahan, 2) transfer antar jenjang pemerintahan, 3) penguatan sistem pendapatan daerah atau perumusan sistem pelayanan publik di daerah, 4) swastanisasi perusahaan milik pemerintah (terkadang menyangkut tanggung jawab pemerintah daerah), dan 5) penyediaan jaring pengaman sosial.
Pemda guna menggantikan peran Pemerintah Pusat; c) Keseimbangan dan kejelasan dalam pembagian tanggung jawab dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah (Elfianti, 2011). Jelas bahwa kemampuan SDM merupakan salah satu faktor penting yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal, dalam hal ini pengelolaan PBB-P2.
Pengertian kompetensi yang dimaksud di sini adalah perilaku dan ketrampilan yang dituntut agar seseorang dapat memenuhi tuntutan pekerjaan atau secara umum dapat dianggap sebagai persyaratan agar seseorang dapat melaksanakan pekerjaannya dalam organisasi tertentu. Berdasar pada definisi tersebut, SDM yang kompeten adalah SDM yang bisa melaksanakan tugasnya sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Dalam hal ini, SDM Aparatur Daerah dituntut untuk mengerti dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya (Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah-LAN, 2008).
Sementara itu, menurut Amstrong dan Baron competency is sometimes defined as referring to the dimensions of behavior that lie behind competent performance. Jadi competency lebih mengarah pada dimensi-dimensi perilaku sehingga sering disebut juga kompetensi perilaku (behavioral competencies) karena dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana orang-orang berperilaku ketika mereka melakukan perannya dengan baik.
membedakan secara jelas pelaku yang berprestasi rata-rata (seorang pelaku yang efektif) dan seorang pelaku yang tidak efektif.
Kompetensi dapat juga didefinisikan sebagai aspek-aspek pribadi dari seorang pekerja yang memungkinkan dia untuk mencapai kinerja yang superior (LOMA’s Competency Dictionary, 1998, Sistem Manajemen SDM Berbasiskan Kompetensi, Arbono Lasmahadi, 2002). Aspek-aspek pribadi ini termasuk sifat, motif-motif, sistem nilai, sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Kompetensi-kompetensi akan mengarahkan tingkah laku dan tingkah laku akan menghasilkan kinerja. Selanjutnya Rothwell mengidentifikasikan kompetensi ke dalam empat kelompok atau kriteria, yaitu :
1.
Technical competence, yaitu kemampuan teknis mengenai bidang yang menjadi tugas pokok organisasi;2.
Business competence atau sering juga disebut managerial competence, yaitu kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam organisasi;3.
Interpersonal competence atau disebut juga social competence, yaitu kemampuan untuk bersosialisasi atau berkomunikasi dengan orang lain;4.
Intelectual competence atau sering juga disebut strategic competence, yaitu kemampuan berpikir secara strategis untuk pencapaian tujuan organisasi.Dalam pembahasan sumber daya manusia aparatur atau Pegawai Negeri Sipil, Dr. Djamaluddin Antjok menambahkan satu kriteria lagi, yaitu kompetensi etika atau ethical competence.
Bapak/Ibu hadirin undangan yang saya hormati,
power, (3) perubahan sistem pengawasan, dan (4) perbaikan pengelolaan penerimaan pajak daerah.
Pertama, Closed-List System, Kebijakan perpajakan daerah yang baru menganut prinsip ‘closed-list’ system, yakni daerah hanya boleh menganut jenis pajak daerah yang ditetapkan dalam undang-undang. Hal ini berbeda dengan kebijakan perpajakan daerah yang lama yang menganut sistem ‘open-list’ dimana daerah dapat memungut berbagai jenis pajak daerah (meskipun jenis pajak tersebut tidak tercantum dalam undang-undang) sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Tujuan dari perubahan kebijakan tersebut adalah untuk menigkatkan efisiensi pemungutan pajak daerah dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat mengenai jenis-jenis pajak daerah yang menjadi kewajibannya. Hal ini juga dimaksudkan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di daerah sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
(pajak air tanah), dan mengalihkan beberapa pajak pusat menjadi pajak kabupaten/kota (PBB-P2 dan BPHTB).
Pajak Bumi dan Banguan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) merupakan pengalihan dari pajak pusat menjadi pajak kabupaten/kota. Beberapa pertimbangan yang mendasari penalihan jenis pajak ini adalah:
Asas lokalitas, dimana objek pajak, yaitu tanah dan bangunan, berada pada satu kabupaten/kota dan tidak berpindah-pindah (im-mobile);
Asas tax-benefit link, dimana pembayar pajak dan pihak yang memperoleh manfaat pajak berada pada satu kabupaten/kota; Prinsip akuntabilitas, dimana daerah mempertanggungjawabkan
pengelolaan hasil pajak daerah kepada masyarakat di daerahnya; Best-practice secara internasional, dimana hampir semua negara di
dunia menempatkan property tax sebagai pajak daerah.
Kenaikan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah akan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi daerah untuk meningkatkan pendapatan. Namun demikian, dalam memanfaatkan ruang gerak tersebut, daerah harus memperhitungkan dampak dari setiap kenaikan tarif pajak daerah, baik dari sisi pendapatan daerah, daya pikul masyarakat, kondisi perekonomian daerah, dan lain-lain. Beberapa jenis pajak daerah yang mengalami kenaikan tarif maksimum adalah:
a. Pajak Kendaraan Bermotor, tarif maksimum naik dari 5% menjadi 10%.
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, tarif maksimum naik dari 10% menjadi 20%.
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, tarif maksimum naik dari 5% menjadi 10%.
d. Pajak Parkir, tarif maksimum naik dari 20% menjadi 30%.
f. Pajak Hiburan, tarif maksimum naik dari 35% menjadi 75%.
Tarif efektif pajak daerah ditetapkan dalam peraturan daerah dan tidak boleh melampaui tarif maksimum.
Penguatan local taxing power ini ditujukan untuk memberikan kompensasi kepada daerah atas dibatasinya ruang gerak dalam menciptakan jenis pajak daerah baru di luar yang ditetapkan undang-undang. Dengan kompensasi ini diharapkan daerah dapat berkonsentrasi untuk mengupayakan optimalisasi pemungutan pajak daerah yang ada dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah tanpa perlu memikirkan kemungkinan pemungutan jenis pajak daerah baru. Melalui kebijakan ini, timbulnya perda-perda pungutan bermasalah (tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan) dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
Ketiga, Sistem Pengawasan, pajak daerah hanya dapat dipungut oleh daerah dengan menetapkan peraturan daerah. Oleh karena itu, pengawasan pajak daerah dapat dilakukan melalui mekanisme evaluasi atas rancangan peraturan daerah (raperda) dan peraturan daerah (perda) yang mengatur pajak daerah. Untuk meningkatkan efektivitas pengawasan, masyarakat (individu dan lembaga) dan dunia usaha dapat menyampaikan informasi kepada pemerintah mengenai praktik pemungutan pajak daerah yang dipandang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dengan melampirkan perda yang digunakan sebagai dasar pemungutan.
dilakukan oleh Gubernur yang berkoordinasi dengan Menteri Keuangan.
Keempat, Pengelolaan Penerimaan Pajak Daerah, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat membayar pajak daerah dan dalam rangka optimalisasi pemungutan pajak daerah, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 mengatur beberapa hal terkait dengan pengelolaan pendapatan pajak daerah, yaitu bagi hasil pajak provinsi, earmarking, dan insentif pemungutan.
1) Bagi hasil pajak provinsi
Seluruh pendapatan pajak provinsi dibagihasilkan kepada kabupaten/kota yang berada di wilayah provinsi tersebut. Pembagian hasil pajak provinsi adalah sebagai berikut:
No. Jenis Pajak Provinsi Provinsi Kabupaten/Kota
1. Pajak Kendaraan Bermotor 70% 30%
2. Bea Balik Nama Kend Bermotor 70% 30%
3. Pajak Bahan Bakar Kend Bermotor 30% 70%
4. Pajak Air Permukaan 50% 50%
5. Pajak Rokok 30%
70% 2) Earmarking
Pendapatan dari jenis pajak tertentu dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang secara langsung dirasakan manfaatnya oleh pembayar pajak tersebut (earmarking). Terdapat 3 (tiga) jenis pajak yang secara eksplisit di-earmark, yaitu:
b) sebagian pendapatan pajak penerangan jalan harus digunakan untuk menyediakan penerangan jalan umum, dan
c) 50% dari pendapatan pajak rokok harus dialokasikan untuk peningkatan pelayanan kesehatan.
Dengan kebijakan ‘earmarking’ ini, para pembayar pajak akan dapat merasakan manfaat dari pajak yang dibayar.
3) Insentif Pemungutan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak daerah, diatur pemberian biaya pemungutan paling tinggi 5% dari pendapatan pajak daerah. Dalam implementasinya, alokasi biaya pemungutan tersebut dipandang kurang mencapai sasaran, sehingga dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dilakukan perbaikan. Di dalam kebijakan pajak daerah yang baru, pemberian insentif pemungutan didasarkan atas pencapaian kinerja tertentu dan diberikan sebagai tambahan penghasilan bagi aparatur pemungutan pajak daerah. Hal ini ditujukan untuk memotivasi petugas guna mengoptimalkan pemungutan pajak daerah. Untuk provinsi, besarnya insentif pemungutan ditetapkan paling tinggi 3% dan untuk kabupaten/kota paling tinggi 5%. Untuk menghindari pemberian insentif pemungutan yang berlebihan, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang tatacara pemberian dan pemanfaatan insentif pemungutan pajak daerah diatur batasan besarnya insentif pemungutan berdasarkan kluster tertentu dengan batas paling tinggi 10 kali gaji pokok ditambah tunjangan yang mengikat untuk setiap bulannya.
Bapak/Ibu hadirin undangan yang berbahagia,
analisis data interaktif dari Miles and Huberman (1984) yang terdiri dari tiga alur kegiatan : reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Validasi data digunakan uji kredibilitas dengan triangulasi (Wiliam Wiersma, 1986), dimana pengujian dilakukan dengan pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.
Reduksi data berupa langkah memilah-milah hal-hal yang pokok, memfokuskan dan memilih hal yang penting dan mencari tema atau pola data melalui proses melalui proses penyuntingan, pemberian kode dan pentabelan. Penyajian data atau data display merupakan pengorganisasian data kedalam suatu bentuk tertentu sehingga kelihatan jelas sosoknya lebih utuh agar selaras dengan permasalahan yang dihadapi, termasuk di dalamnya menampilkan kesimpulan-kesimpulan sementara dari setiap pembahasan. Terakhir, penarikan kesimpuilan yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses penelitian untuk menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti atau evidences yang diperoleh.
Bapak dan Ibu hadirin yang berbahagia,
Pertama, pengelolaan PBB-P2 oleh Pemkab Semarang dilakukan oleh Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Kekayaan dan Aset Daerah (DPPKAD), dengan 1 (satu) bidang pajak daerah dan 4 (empat) Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). Pencapaian PBB-P2 sejak tahun 2011 menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Dari tabel 4.1 (halaman 32) dapat dijelaskan bahwa pendapatan sektor PBB khususnya PBB-P2 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pendapatan PBB-P2 pada tahun 2011 tercatat sebanyak 17 miliar, kemudian meningkat menjadi 17,9 miliar pada 2012, lalu meningkat menjadi 18 miliar pada 2012, dan sebesar 21,5 miliar pada tahun 2014. Peningkatan pencapaian tersebut merupakan prestasi DPPKAD – bidang pajak daerah dalam mengelola pajak daerah sesuai amanat UU No. 28 Tahun 2009. Mulai tahun 2013 PBB-P2 dikelola 100% oleh pemerintah kabupaten. Dibandingkan tahun 2012, secara persentase menurun 0.14%, namun jumlah nominal pencapaian target mengalami peningkatan sebanyak Rp 42.907.583.
memperhatikan kualifikasi dan tingkat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.
Oleh karena kualifikasi dan tingkat pendidikan yang ada saat ini (existing condition), baik pendidikan formal maupun Diklat – yang belum memeluhi kebutuhan, maka peta kompetensi yang ada pun belum sesuai dengan harapan. Sebagai contoh, salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam pengelolaan pajak dan retribusi adalah kemampuan melakukan penilaian (appraisal) terhadap sesuatu hal misalnya terkait nilai jual obyek pajak (NJOP). Kemampuan untuk melakukan penilaian atau sebagai penilai (appraiser) tentulah bukan pekerjaan yang mudah, oleh karenanya memerlukan latar belakang pendidikan formal maupun latar belakang kediklatan yang sesuai dan mumpuni.
Bapak dan Ibu hadirin yang saya hormati,
Dengan demikian, kompetensi pegawai yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kompetensi teknis yakni kemampuan kerja setiap PNS yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang mutlak diperlukan dalam melaksanakan tugas-tugas jabatannya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 8 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi Teknis Pegawai Negeri Sipil disingkat Pedoman Penyusunan SKTPNS.
penyusunan kompetensi teknis dapat dilakukan dengan melihat fungsi organisasinya.
Ketiga, berdasarkan hasil penelitian lapangan diperoleh data adanya beberapa kendala umum yang dihadapi dalam pengelolaan pajak, di antaranya meliputi: 1) Berbagai peraturan pelaksana yang sering tidak konsisten dengan undang-undang yang mengaturnya, 2) Kurangnya pembinaan antara pengelolaan pajak daerah dengan pajak nasional/pajak pusat, 3) Database yang masih jauh dari standar nasional dan internasional, 4) Lemahnya penegakan hukum (law enforcement) terhadap kepatuhan membayar pajak bagi penyelenggara negara; Kasus korupsi ‘Gayus Tambunan’ merupakan salah satu contoh lemahnya penegakan hukum di Indonesia, dengan adanya kasus korupsi tersebut berdampak negatif bagi pemungutan pajak di Indonesia, timbul anggapan bahwa membayar pajak nantinya tidak sampai ke negara tetapi hanya akan dikorupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Gayus Tambunan, dan 5) Kurangnya atau tidak adanya kesadaran masyarakat sebagai wajib pajak (WP) untuk memenuhi kuajiban kenegaraan dalam membayar pajak.
Senada dengan kendala umum tersebut, berdasarkan FGD dan wawancara mendalam yang telah dilakukan, terdapat beberapa permasalahan dalam pengelolaan PBB-P2 meliputi:2 belum tersosialisasikannya perubahan pengelolaan PBB-P2 dari pusat kepada daerah secara maksimal, minimnya jumlah dan kualitas SDM, khususnya terkait dengan minimnya kompetensi teknis dalam pengelolaan pajak daerah, belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai termasuk teknologi informasi yang akan digunakan dalam melakukan pengelolaan PBB-P2, dan masih terbatasnya diklat teknis yang diberikan kepada pegawai,.
Sementara kendala lain yang dihadapi adalah operasional penanganan PBB-P2 masih mengandalkan peran Camat, Kades/ Lurah dan perangkat desa sebagai tugas tambahan, data Wajib Pajak (WP) secara umum masih menggunakan basis data dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP-PBB), sehingga mutasi tanah dan bangunan belum dapat diikuti perkembangannya, penilaian individual terhadap WP belum dilakukan, koordinasi dengan Notaris/PPAT belum maksimal utamanya terkait dengan adanya mutasi tanah/bangunan sebagai obyek jual beli baik penambahan bidang tanah maupun penambahan bangunan diatas tanah, belum mempunyai data peta secara dinamis, belum dilakukan penyiapan kader pengganti PNS, jika ada yang pensiun, dan tempat pembayaran PBB-P2 belum ada di masing-masing kecamatan, payment point, serta kehadiran Bank Jateng belum dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh wajib pajak. Berbagai kendala tersebut bukan berarti dibiarkan oleh Pemerintah Kabupaten Semarang. Beberapa upaya sebenarnya telah ditempuh, di antaranya: Menyusun analisis jabatan (anjab) yang memuat tugas pokok, fungsi, dan rincian tugas; Meminta tambahan pegawai/staf (kepada BKD) untuk mengisi posisi yang dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan tugas pengelolaan pajak daerah – meski hal ini belum terpenuhi; Mengirimkan pegawai/staf untuk mengikuti pelatihan-pelatihan perpajakan, walau pun masih dalam jumlah terbatas; Melakukan perkonsultasian dengan pemerintah pusat, instansi vertikal di daerah, maupun pemerintah daerah lain yang juga telah menerapkan UU No. 28/2009; dan Melibatkan tenaga ahli sebagai narasumber dalam memperkuat pengelolaan PBB-P2 yang semakin baik.
Bapak dan Ibu hadirin yang berbahagia,
Keempat, terkait kompetensi yang dibutuhkan untuk optimalisasi pengelolaan PBB-P2 sesungguhnya telah ada upaya dan langkah yang dilakukan walaupun masih dalam taraf yang minimal. Untuk itu, pada bagian pembahasan hasil penelitian, penulis mencoba merumuskan tingkat dan keragaman kompetensi teknis yang diperlukan. Kompetensi teknis yang dibutuhkan pegawai disesuaikan dengan tahapan pengelolaan PBB-P2 yaitu pendataan dan penilaian, penetapan dan pelayanan, penerimaan dan manajemen IT, penagihan, dan keberatan dan pengurangan.
Upaya penyusunan tingkat dan ragam kompetensi teknis dilakukan dengan mendasarkan pada ketentuan PP No. 101 tahun 2000 tentang Diklat Jabatan PNS, Perka BKN No. 8 Tahun 2013 tentang Pedoman Perumusan Standar Kompetensi Teknis PNS, serta Permendagri No. 2 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengembangan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah.
Meskipun diklat bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan kompetensi PNS, namun keikutsertaan dalam suatu diklat diyakini dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap PNS yang diikutsertakan dalam diklat dimaksud. Diklat itu sendiri terdiri atas diklat struktural, teknis dan fungsional. Dalam konteks pengelolaan PBB-P2 maka yang dibutuhkan saat ini lebih mengarah kepada diklat teknis. Di dalam Pasal 12 ayat (1) PP No. 101 Tahun 2000 disebutkan bahwa “Diklat Teknis dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk melaksanakan tugas PNS”. Selanjutnya dalam penjelasan disebutkan, kompetensi teknis adalah kemampuan PNS dalam bidang-bidang teknis tertentu untuk pelaksanaan tugas masing-masing.
Untuk menyusun tingkat dan ragam kompetensi pertama-tama diawali dengan melakukan identifikasi unit organisasi dan fungsi unit organisasi yang bersangkutan, dalam hal ini DPPKAD Kabupaten Semarang. Fungsi DPPKAD meliputi 1) Perumusan kebijakan teknis dibidang pendapatan, pengelolaan, keuangan, dan aset daerah, 2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang pendapatan, pengelolaan keuangan, dan aset daerah, dan 3) Pembinaan dan pelaksanaan tugas bidang pendapatan, pengelolaan keuangan, dan aset daerah.
Langkah kedua adalah mengidentifikasi peta jabatan di lingkup DPPKAD, terutama yang kerkait dengan pengelolaan pajak daerah. Peta jabatan pengelola PBB-P2 meliputi Kepala Dinas, Kepala Bidang Pajak Daerah, Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendataan, Kepala Seksi Perhitungan dan Penetapan, Kepala Seksi Pembayaran, penagihan, dan penyelesaian pelanggaran, dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD). Para pejabat tersebut memiliki staf/pelaksana yang akan melaksanakan tugas dalam mewujudkan tugas dan fungsi DPPKAD, terutama dalam pengelolaan PBB-P2.
Langkah ketiga mengidentifikasi fungsi-fungsi jabatan yang ada di Bagian Pajak Daerah DPPKAD, fungsi jabatan diperoleh dari dokumen analisis jabatan (anjab) yang tersedia. Fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi ini selanjutnya dapat ditelusuri menjadi unit-unit kompetensi yang diperlukan baik kompetensi manajerial (bagi pejabat struktural) maupun kompetensi teknis (pelaksana/pejabat fungsional umum). Dalam konteks organisasi, pejabat struktural maupun pejabat fungsional dituntut memiliki kompetensi manajerial maupun kompetensi teknis, namun tentu terdapat batas-batas yang membedakan di antara keduanya.
(halaman 67), tabel 4.10. inventarisasi fungsi bidang pajak daerah DPPKAD (halaman 76), tabel 4.11. identifikasi unit kompetensi bidang pajak daerah DPPKAD (halaman 77), maka diperoleh ikhtisar unit kompetensi bagian pajak daerah-DPPKAD (halaman 87). Unit kompetensi disini terdiri atas kompetensi manajerial dan kompetensi teknis, dimana kompetensi manajerial diperuntukkan bagi pejabat struktural dan kompetensi teknis bagi staf/pelaksana, namun demikian dimungkinkan pejabat struktural pun memiliki kompetensi teknis meskipun dalam tingkat yang rendah/sedikit.
Bapak dan Ibu yang berbahagia,
Penyusunan standar kompetensi teknis PNS dengan menggunakan instrumen Perka BKN No. 8 Tahun 2013 belum banyak dilakukan oleh instansi pemerintah, terutama pemerintah daerah. Untuk itu, simulasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini yang dimulai dengan identifikasi fungsi jabatan, dilanjutkan dengan identifikasi unit kompetensi, dan terakhir akan diperoleh ikhtisar unit kompetensi. Pemetaan kompetensi ini memang terkesan ‘bertele-tele’ namun akan diperoleh hasil yang memuaskan.
mencatat data objek dan subjek pajak daerah, mengelola data objek dan subjek pajak daerah, mengoreksi data, menganalisa data, monitoring dan evaluasi, menyusun laporan pertanggungjawaban, dan menyampaikan saran dan pertimbangan.
Pada tahapan penetapan dan penilaian, ragam kompetensi yang harus dimiliki antara lain: merumuskan bahan kebijakan teknis, menghitung pajak daerah, membuat surat ketetapan pajak daerah, menyampaikan surat ketetapan pajak daerah, melakukan perhitungan dan verifikasi, menyampaikan laporan perkembangan data, penambahan dan pengurangan, menyusun konsep penetapan NPWP, merumuskan kebijakan teknis operasional, mengintervensi jenis dan sumber penerimaan pajak, monev, menyusun laporan pertanggungjawaban, dan menyampaikan saran dan pertimbangan.
Sementara pada tahap penerimaan dan manajemen IT, kompetensi teknis meliputi menciptakan program yang berkenaan dengan pengelolaan pajak, dan mengoperasikan perangkan komputer. Sedangkan pada tahap penagihan, kompetensi yang perlu dikembangkan adalah melakukan penyitaan kekayaan dan aset WP (Jurusita pajak). Selanjutnya, pada tahap keberatan dan pengurangan, kompetensi teknisnya adalah menganalisis argumen yang diajukan dalam rangka pengurangan pajak yang harus dibayar oleh WP
Bapak dan Ibu hadirin yang saya hormati,
pelayanan publik, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), bagi hasil pajak dan bukan pajak secara lebih tepat, transfer dana ke daerah, utamanya melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) secara lebih adil, kewenangan daerah untuk melakukan pinjaman berdasar kebutuhan daerah. Secara khusus, desentralisasi fiskal diatur dalam undang-undang tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.
Manifestasi dari desentralisasi fiskal tersebut adalah terbitnya UU No. 28 Tahun 2009. Menurut Undang-Undang No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah, Pajak Daerah yang selanjutnya disebut PDRD adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Implementasi Undang-undang tentang otonomi daerah dan desentralisasi fiskal membawa konsekuensi pada kemandirian daerah dalam mengoptimalkan penerimaan daerahnya. Optimalisasi penerimaan daerah ini sangat penting bagi daerah dalam rangka menunjang pembiayaan pembangunan secara mandiri dan berkelanjutan. Sumber penerimaan daerah yang dapat menjamin keberlangsungan pembangunan di daerah dapat diwujudkan dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pengelolaan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) – satu dari lima sektor PBB – yang diserahkan kepada pemerintah kabupaten dan kota memerlukan persiapan yang matang dari pemda agar dapat memberikan efek yang maksimal dalam peningkatan PAD. Di antara kesiapan pemda adalah tekait dengan SDM pengelola yang bertugas pada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pendapatan dan pengelolaan keuangan dan aset daerah.
Semarang belum sepenuhnya didukung dengan kompetensi SDM pengelola yang memadai baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Hal ini berdampak pada menurunnya prosentase capaian target pemungutan PBB-P2 pada tahun 2012 yang lalu. Usulan penambahan sumber daya manusia pengelolaan PBB-P2 yang telah direkomendasikan Badan Anggaran DPRD, selama hampir 1 tahun belum ada direalisasikan oleh pemerintah daerah. Hal ini menyebabkan peta kompetensi sumber daya manusia pengelola PBB-P2 di DPPKAD belum sesuai dengan standar kompetensi yang diatur dalam Peraturan Kepala BKN No. 8 tahun 2013.
Langkah dan upaya yang ditempuh untuk mengatasi kendala pengelolaan PBB-P2 di dibidang SDM pengelola telah dilakukan, namun belum sebanding dengan banyaknya kewenangan yang diserahkan kepada DPPKAD untuk mengelola PBB-P2. Hal ini menyebabkan pelaksanaan tugas belum dapat berjalan maksimal di berbagai tahapan kegiatan, yakni pendataan, penilaian, penetapan, penagihan, pengawasan, dan lain-lain, karena tidak sebanding dengan jumlah dan kualitas sumber daya manusia, sarana kerja yang dimiliki dengan beban kerja yang harus dilaksanakan.
Kepada Lembaga Diklat agar dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai bahan pengembangan kurikulum diklat teknis keuangan dan sebagai bahan masukan untuk aplikasi pengembangan SDM perpajakan di daerah.
Bapak Kepala LAN RI dan Hadirin yang mulia,
Sebelum mengakhiri Orasi ini ijinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang mendalam kepada:
1. Kepala LAN RI yang berkenan hadir dalam Orasi ini dan menandatangani berita acara pelaksanaan Orasi ilmiah Widyaiswara;
2. Kepala Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah yang telah memberikan ijin dan memfasilitasi penyusunan Karya Tulis Ilmiah sampai dengan Orasi Ilmiah;
3. Bapak Abdullah Maskur, SE, M.Si Kepala DPPKAD Kabupaten Semarang dan Sahabatku Rudibdo, SE Sekretaris DPPKAD Kabupaten Semarang beserta jajarannya yang selalu memberikan bantuan, informasi, data-data dan fasilitasi selama melakukan penelitian;
4. Senior Widyaiswara tercinta Drs. Sigit Sumarhaen Yanto, SH, MM, dan DR. Ir. Sutarwi, M.Sc, yang telah memberikan bimbingan dan saran-saran kreatif, konstruktif dengan keikhlasan, ketelatenan, kesungguhan, dan kepedulian yang sangat tinggi sehingga naskah Orasi ilmiah ini dapat memenuhi kaidah-kaidah yang ditentukan; 5. Dan tak lupa kepada DR. Bambang Ismanto, M.Si Ketua Program
Pasca Sarjana Magister Pendidikan UKSW Salatiga, yang telah berkenan memberikan saran dan pembahasan KTI ini;
6. Drs. H. Edi Wahyono, M.Si dan teman-teman dibidang Bangdalmudik Bandiklat Jateng yang secara ikhlas memfasilitasi dan mengingatkan penulis untuk selalu tepat waktu dalam penulisan Karya Tulis Imiah dan Orasi Ilmiah ini;
Ilmiah ini dan tak lupa Kak Yusuf SBY, Kak Adi dan Dik Iqbal teman Doktor (mondok di kantor) Mess Badan Diklat;
8. Istri saya Dra. H. Prastiwi, dan putri-putriku Ana, Febri dan Ayu serta menantuku Adi dan Candra yang terus mengelorakan Iner Spirit, motivasi dan aktualisasi diri yang tak kunjung henti untuk selalu memberi manfaat yang terbaik bagi sesama.
Hadirin yang saya banggakan,
Demikian orasi ini saya sampaikan dengan segala keterbatasan yang ada, semoga memberikan manfaat kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Atas kesabaran dan perhatian Ibu, Bapak dan Sahabat sekalian saya sampaikan sekali lagi terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Terima Kasih
Daftar Pustaka
Creswell, J.W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. London: Sage Publications.
Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. California: Sage Publications, Inc.
Denzin & Lincoln. 1998. Handbook of Qualitative Research. London: Sage Publications.
Huberman, A. Michael dan Mathew B.Miles, 1984, Analisis Data Kualitatif Model Miles dan Huberman, terj. Tjetjep Rohindi Rohidi, Jakarta: UI Press.
Kuhn, Thomas. 2005. The Structure of Scientific Revolutions. (terjemahan). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kumorotomo, Wahyudi. 2008, Desentralisasi Fiskal: Politik dan Perubahan Kebijakan1974-2004, Jakarta: Kencana.
Lembaga Administrasi Negara, 2008, Manajemen Pemerintahan Daerah, Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah LAN, Jakarta.
Lincoln, Y. S. & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills, CA: Sage.
Moleong, Lexy J. 1993. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Paradigma Baru Ilmu.
Rahayu, Ani Sri, 2010, Pengantar Kebijakan Fiskal, PT. Bumi Aksara, dalam Rusdianto, TT, makalah Desentralisais Fiskal dalam Negara Kesatuan (Unitary State).
Smith, B.C, 1985, Decentralisation, The territorial Dimension of The State, London, Allen and Unwin.
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT Tiara Wacana
Yustika, Ahmad Erani ed., 2008, Desentralisasi Ekonomi di Indonesia, Kajian Teoritis dan Realitas Empiris, PT. Bayumedia dalam Rusdianto, TT, makalah Desentralisais Fiskal dalam Negara Kesatuan (Unitary State).
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian di Daerah.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Keputusan Kabadandiklat Prov. Jateng No. 893/4473/2011 tentang Petunjuk Teknis Mekanisme Penelitian bagi Widyaiswara Bandiklat Prov. Jateng
Peraturan Kepala BKN No. 8 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi Teknis Pegawai Negeri Sipil Peraturan Kepala LAN RI Nomor 3 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Orasi Ilmiah Widyaiswara;
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengembangan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah
http://imammukhlis.files.wordpress.com/2012/01/peran-pajak-daerah-dalam-meningkatkan-pendapatan-asli-daerah.pdf, diakses pada tanggal 17 Maret 2013.
http://www.semarangkab.go.id/skpd/bappeda/images/stories/dok_peren canaan/RKPD2012/06.%20rkpd%202012%20bab%20iii.pdf, diakses pada tanggal 17 Maret 2013.
http://www.pajak.go.id/content/pengalihan-pbb-perdesaan-dan-perkotaan, diakses pada 19 November 2013.
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/12/25/bisakah- berharap-pengelolaan-pbb-p2-akan-lebih-baik-ditangan-pemda-513779.html, diakses pada 20 Desember 2013.
http://tolengadekdewe.wordpress.com/about/metode-penelitian-kualitatif-grounded-theory-approach/ diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
http://jofipasi.wordpress.com/2013/01/23/research-design-qualitative-quantitative-approaches- by-john-w-creswell/ diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
http://www.menulisproposalpenelitian.com/2011/12/pendekatan-fenomenologi-dalam.html, diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
http://rorophei.blogspot.com/2013/07/metodologi-case-study-review-singkat.html, diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54788/BAB%20II %20Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=5, diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1732/BAB %20III%20%282%29.pdf?sequence=3, diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
http://pusdiklatwas.bpkp.go.id/files/post/20131202_165852/KTI
dalam mengelola PBB P2”, diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
Biodata Penulis
Drs. Joko Triwiyatno, M.Si lahir di Boyolali pada tanggal 02 Juli 1958, dari pasangan Bapak H. Dwijosumanto dengan Ibu Sriyatmini merupakan anak ke 3 dari 10 bersaudara. Menyelesaikan pendidikan SD 1970, SMP 1973, SMA 1976, Sarjana Muda Administrasi Negara UNS Solo 1980, Sarjana Administrasi Negara UNS Solo 1982, Magister Studi Pembangunan UKSW Salatiga 2001 dan sekarang masih belajar di Program Pasca Sarjana (Doktor) Ilmu Administrasi Publik UNTAG Surabaya. Menikah dengan Dra. H. Prastiwi dikaruniai 3 putri masing-masing Ardhana Riswati (PNS), Febriani Triwiyatno (PNS) dan Tika Ayu Novita Dewy (Mahasiswa).
Mengawali karier sebagai pegawai di jajaran Pemkab Boyolali sebagai pegawai honorer dengan jabatan Pengawas Badan Kredit Kecamatan (BKK) Kabupaten Boyolali tahun 1983, diangkat CPNS pada 1 Maret 1984. Selama menjadi PNS pernah menduduki jabatan struktural Eselon V, IV, III dan II selama kurang lebih 28 Tahun. Jabatan-jabatan itu diantaranya; Kepala Sub Bagian Setda, Camat, PLT Pembantu Bupati, Kepala Bagian Setda, Kepala Kantor, Assisten Sekda dan Kepala Badan di jajaran Pemkab Boyolali. Mulai tanggal 10 Mei 2011 diangkat sebagai pejabat fungsional Widyaiswara oleh Gubernur Jawa Tengah sampai sekarang.
Pengalaman mengikuti diklat: SEPADA, SEPALA, SEPADYA, SPAMEN (Diklat Pim. II), Suspimpemdagri dan TOT maupun diklat-diklat lainnya.
Drs. Joko Triwiyat no, M.Si
dan Keluarg