Perbedaan hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R berdasarkan gaya belajar siswa

74 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA

MENGGUNAKAN METODE PQ4R BERDASARKAN

GAYA BELAJAR SISWA

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

UFI AZMIYAH

106016100593

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)

ABSTRAK

UFI AZMIYAH, Perbedaan Hasil Belajar IPA Menggunakan Metode PQ4R Berdasarkan Gaya Belajar Siswa. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Februari 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R berdasarkan gaya belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Al-Islamiyah kelas VIII. Subjek penelitian ini sebanyak 64 siswa, yang terdiri dari siswa dengan gaya belajar dominan visual sebanyak 22 siswa, dominan auditori 13 siswa, dominan kinestetik 17 siswa, dan multi sebanyak 12 siswa. Berdasarkan analisa data dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R berdasarkan gaya belajar siswa. Hal ini dapat dilihat pada data pre-test diperoleh nilai Hhitung = 3,70; pada data posttest diperoleh nilai

Hhitung = 2,22; dan pada n-gain diperoleh nilai Hhitung = 2,49. Titik kritis x 2 pada

α= 0,05 dengan derajat kebebasan 3 adalah 7,815. Karena Hhitung lebih kecil

daripada x 2kritis, maka Ho diterima yang berarti bahwa hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R untuk siswa dominan visual, siswa dominan auditori, siswa dominan kinestetik, dan siswa multi tidak berbeda secara signifikan.

(5)

ABSTRACT

UFI AZMIYAH, The Difference of Learning Results based on Student’s

Learning Style, Using the PQ4R Method for the Major of Science. The Thesis. The Study Program of Biology Education, Department of Science Education, Faculty of Tarbiyah Knowledge and Education, Syarif Hidayatullah's Islamic State University Jakarta. In February 2011.

This research aimed to knowing how far the difference of learning results of using the PQ4R method, based on the learning style of the student. This research was carried out in MTs Al-Islamiyah the class of VIII. Subject of this research totalling 64 students, consisted of the student with the learning style of visual dominant 22 students, auditory dominant 13 students, kinesthetic dominant 17 students, and multi learning 12 students. Based on the analysis by using the test of Kruskal-Wallis, the results show that there is no difference of learning results of using the PQ4R method based on the learning style of the student. This could be seen in the pretest, it received the Htest value =3,70; in the posttest, it received

by the Htest value=2,22; and in n-gain, it received the Htest value=2,49. The

critical value of x2for α = 0.05 with the degree of freedom 3 was 7,815. Because of Htest value was smaller than critical value of x2, then Ho was accepted, which

means that learning results used the PQ4R method for the visual dominant student, the auditory dominant student, the kinesthetic dominant student, and the multi-learning student were not different significantly.

(6)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim....

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan

Karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk

melengkapi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana pendidikan

pada Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Pendidikan

Biologi. Skripsi yang berjudul “Perbedaan Hasil Belajar IPA Menggunakan

Metode PQ4R Berdasarkan Gaya Belajar Siswa” merupakan realisasi dari

penelitian yang telah dilaksanakan di MTs Al-Islamiyah Ciledug, sejak tanggal

2-23 November 2010.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan

Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Nengsih Juanengsih, M.Pd, Sekretaris Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sekaligus Dosen Pembimbing I,

yang telah memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis sehingga karya

tulis ini dapat terselesaikan.

5. Ibu Yanti Herlanti, M.Pd, Dosen Pembimbing II, yang dengan penuh

kesabaran telah memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis sehingga

karya tulis ini dapat terselesaikan.

6. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah

memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama

mengikuti perkuliahan, semoga ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan

(7)

7. Bapak H. Syafe’i Ibrahim, Kepala MTs Al-Islamiyah, yang telah memberikan

izin kepada penulis untuk melakukan penelitian skripsi ini.

8. Bapak Drs. Jamal Lutfi, Guru IPA, beserta seluruh Dewan Guru dan Staf TU

MTs Al-Islamiyah yang telah membantu penulis dalam penelitian skripsi ini.

9. Siswa dan siswi MTs Al-Islamiyah Ciledug, khususnya kelas VIII yang telah

kooperatif dalam penelitian ini.

10. Teristimewa untuk kedua orangtua tercinta, ayahanda M.Nalih dan Ibunda

Nuriyati yang tiada hentinya mencurahkan kasih sayang dan do’a, serta

dukungan moril dan materil kepada penulis. Serta adik-adik tersayang Ayi

Raffiah dan Adli Ashari yang telah memberi dukungan moril serta do’anya

kepada penulis.

11. Kakak serta sahabat Wilda Rizkiyah, Milah Mailani dan Azhar Gunawan

untuk do’a, bantuan dan motivasi yang tiada henti kepada penulis sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

12. Sahabat-sahabat terbaik di bangku kuliah Ayu Arsyi Rahayu, Himmatul Ulya,

Lily Mufaizah, dan Nurlaila, serta seluruh teman-teman Program Studi

Pendidikan Biologi angkatan 2006, terima kasih atas kebersamaan kalian

selama ini, dengan kehadiran dan canda tawa yang selalu menghiasi hari-hari

penulis. Serta semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan

satu persatu, terima kasih untuk semuanya.

Penulis mengharapkan koreksi yang konstruktif untuk perbaikan tulisan

ini. Akhir kata penulis juga berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang

memerlukan.

Jakarta, Februari 2011

Penulis

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan investasi masa depan bagi sumber daya

manusia yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban

manusia di dunia. Oleh sebab itu, Indonesia menempatkan pendidikan

sebagai sesuatu yang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi

pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 alinea ke-IV yang

mengamanatkan bahwa salah satu tujuan nasional negara Indonesia adalah

mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hal tersebut diperkuat lagi dalam UU Republik Indonesia No.20 tahun

2003 tentang pendidikan nasional pada bab I pasal 1 ayat 1 yang menyatakan

bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.1 Pendidikan merupakan suatu hal penting yang menjadi penopang

dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk kemajuan bangsa. Melalui

pendidikan, manusia sebagai subjek pembangunan dapat dididik untuk

mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Sehingga dapat dikatakan

bahwa kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan mutu

pendidikannya. Permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia

sampai saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap satuan

pendidikan dalam membekali siswa untuk menempuh pendidikan ke jenjang

yang lebih tinggi. Mutu pendidikan Indonesia berdasarkan survei TIMSS

(Trends in International Mathematics and Science Study) tahun 2007 yang

diikuti 48 negara menempati urutan ke-41 dalam bidang sains.2

1

Undang-undang RI No. 20 Th. 2003, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, cet.ke-2. (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 3.

2

(9)

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia salah satunya

adalah masalah efektifitas pengajaran. Keefektifan pengajaran didukung oleh

peran guru dalam proses pembelajaran.3 Pengajaran yang efektif adalah suatu pengajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan mudah,

menyenangkan serta dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan.

Akan tetapi, sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada siswa baru

sampai pada taraf memberi bekal pengetahuan dan keterampilan sebatas

sekedar tahu saja, sehingga sistem komunikasi dalam kelas cenderung satu

arah (teacher centered) dan bersifat otoriter. Hal tersebut menunjukkan

bahwa guru masih menerapkan pengajaran yang bersifat kuno atau

konvensional.

Dalam proses pengajaran konvensional, guru memiliki tiga peran

utama, yaitu sebagai perencana, penyampai informasi dan evaluator. Dalam

melaksanakan perannya sebagai penyampai informasi, seringkali guru

menggunakan metode ceramah sebagai metode utama yang dianggap ampuh

dalam proses pengajaran, biasanya guru sudah merasa mengajar apabila

sudah melakukan ceramah dan tidak mengajar jika tidak melakukan

ceramah.4

Metode ceramah adalah metode pengajaran konvensional atau metode

pengajaran tradisional. Metode ceramah merupakan metode penyampaian

bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah

dilaksanakan. Akan tetapi, metode ini kurang melibatkan keaktifan siswa

sehingga pembelajaran hanya berpusat pada guru (teacher centered).

Kenyataan di lapangan banyak ditemukan bahwa pengajaran IPA

(Ilmu Pengetahuan Alam) masih didominasi oleh guru melalui metode

pengajaran konvensional.5 Padahal menurut KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), pengajaran harus beralih dari berpusat pada guru

3

Marjohan, “Tinggalkanlah Metode Konvensional.” Tersedia:

http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2007/11/09/opini-tinggalkanlah-metode-konvensional/

4

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, cet.ke-5. (Jakarta: Kencana, 2008), h. 97.

5

Maskur, “Peningkatan hasil belajar IPApadapembelajaran sifat-sifat cahaya melalui eksperimen di kelas V MI Bahrul Ulum Sebani Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan,” (Skripsi S1 PGSD Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra-Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, 2009). Tersedia:

(10)

(teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered) dan

metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke

parsipatori.6 Salah satu metode pembelajaran yang berpusat pada siswa dan bersifat parsipatori adalah metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect,

Recite, dan Review).

Metode PQ4R dikembangkan oleh Thomas dan Robinson yang

merupakan penyempurnaan dari metode SQ3R yang dicetuskan Francis

Robinson. Metode ini dapat membantu siswa mengingat apa yang mereka

baca, dan membantu proses belajar mengajar di kelas yang dilaksanakan

dengan kegiatan membaca buku.7

Berdasarkan hasil penelitian yang sebelumnya telah dilakukan,

menunjukkan bahwa metode PQ4R dapat dijadikan rujukan untuk

meningkatkan hasil belajar siswa, diantaranya oleh Mahmudah dalam

skripsinya yang berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran PQ4R (Preview,

Question, Read, Reflect, Recite, and Review) dalam Meningkatkan Hasil

Belajar Siswa”, memberikan kesimpulan bahwa hasil belajar siswa dapat

meningkat melalui penerapan metode pembelajaran PQ4R. Dari hasil

penelitian, pada siklus pertama ketuntasan belajar yang dicapai yaitu sebesar

82,6% dan siklus kedua sebesar 100%. Rata-rata tes hasil belajar akhir siklus

I sebesar 68,9 menjadi 71 pada siklus II.8 Selanjutnya, penelitian yang dilakukan Y.Ulung Anggraito, dkk. yang berjudul “Peningkatan Kuantitas

Siswa Tuntas Belajar melalui Penggunaan Strategi Belajar Metode PQ4R

dalam Pembelajaran Biologi di SLTP Negeri 1 Semarang”, memberikan

kesimpulan bahwa metode PQ4R dapat digunakan sebagai salah satu

alternatif untuk meningkatkan kuantitas siswa tuntas belajar, hal ini dapat

dilihat berdasarkan peningkatan jumlah siswa tuntas belajar dari siklus I

sampai III, namun batas tuntas kelas belum tercapai. Nilai rata-rata kelas

6

Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, cet.ke-1. (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h. 2.

7

Ibid., h. 145-147.

8

(11)

juga menunjukkan peningkatan dari siklus I sampai III.9 Akan tetapi, belum ada tindak lanjut dari penelitian-penelitian yang menggunakan metode PQ4R

yang telah dilakukan sebelumnya, karena penelitian tersebut hanya melihat

sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa. Padahal ada faktor-faktor lain

yang pelu diteliti dari penggunaan metode PQ4R. Salah satunya adalah gaya

belajar siswa. Karena setiap siswa menempuh cara atau gaya belajar yang

berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai. Setiap

orang memiliki kekuatan belajar atau gaya belajar. Yang pasti semua orang

belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan peraba.

Salah satu faktor yang mempengaruhi cara belajar siswa adalah persepsi,

yaitu bagaimana dia memperoleh makna dari lingkungan. Persepsi diawali

lima indera: mendengar, melihat, mengecap, mencium, dan merasa. Di dunia

pendidikan, istilah gaya belajar mengacu khusus untuk penglihatan,

pendengaran, dan peraba. Gaya belajar visual menyangkut penglihatan.

Gaya belajar auditori merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Gaya

belajar kinestetik merujuk gerakan besar dan kecil.10

Gaya belajar (learning styles) dianggap memiliki peranan penting

dalam proses kegiatan belajar mengajar. Siswa yang dipaksa belajar dengan

cara-cara yang kurang cocok dan berkenan bagi mereka tidak menutup

kemungkinan akan menghambat proses belajarnya terutama dalam hal

berkonsentrasi saat menyerap informasi yang diberikan. Dan pada akhirnya

hal tersebut juga akan berpengaruh pada hasil belajar yang belum maksimal

sebagaimana yang diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas, perlu kiranya untuk dilakukan penelitian

yang berkaitan dengan perbedaan hasil belajar berdasarkan gaya belajar siswa

pada pembelajaran yang menggunakan metode PQ4R. Metode ini dipilih

9

Y. Ulung Anggraito, dkk., “Peningkatan Kuantitas Siswa Tuntas Belajar melalui Penggunaan Strategi Belajar Metode PQ4R dalam Pembelajaran Biologi di SLTP Negeri 1 Semarang,” (Laporan Penelitian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang, Oktober 2003), h. iii.

10

(12)

karena pada setiap langkahnya siswa dengan gaya belajar yang beragam dapat

ikut berkontribusi dan aktif dalam pembelajaran di kelas.

Dengan menerapkan metode PQ4R ini, siswa mempunyai kesempatan

belajar dengan gayanya sendiri. Peran guru berubah menjadi peran sebagai

fasilitator, artinya guru lebih banyak sebagai orang yang membantu siswa

untuk belajar, sehingga pembelajaran menjadi berpusat pada siswa (student

centered). Selain itu, melalui metode ini diharapkan dapat meningkatkan

minat siswa untuk membaca materi pelajaran yang selama ini masih rendah.

Jadi, atas dasar permasalahan yang telah disebutkan di atas, penulis

tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Hasil Belajar IPA Menggunakan Metode PQ4R Berdasarkan Gaya Belajar Siswa”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat di

identifikasikan beberapa masalah yaitu:

1. Metode pengajaran yang masih konvensional dan hanya satu arah

(teacher centered) sehingga kurang melibatkan partisipasi aktif siswa.

2. Metode pengajaran yang digunakan tidak mempertimbangkan gaya

belajar siswa yang beragam.

C. Pembatasan Masalah

Setelah penulis mengemukakan latar belakang masalah di atas,

terdapat banyak permasalahan yang didapat. Karena adanya keterbatasan

waktu dan pengetahuan yang penulis miliki serta untuk memperjelas dan

memberikan arah yang tepat dalam pembahasan skripsi, maka penulis

berusaha memberikan batasan sesuai dengan judul, antara lain sebagai

berikut:

1. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas VIII (Delapan) semester ganjil

Madrasah Tsanawiyah Al-Islamiyah Ciledug, tahun ajaran 2010/2011.

2. Pembelajaran menggunakan metode PQ4R pada konsep struktur dan

(13)

3. Aspek yang diukur adalah aspek kognitif, yaitu hasil belajar siswa.

Sedangkan gaya belajar siswa diobservasi melalui kuesioner gaya belajar

visual-auditori-kinestetik (VAK) yang diambil dari Bobbi DePorter,

Mark Reardon, & Sarah Singer-Nourie dalam bukunya yang berjudul

Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang

Kelas.”

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka

rumusan masalah yang akan diteliti adalah: “Apakah terdapat perbedaan

hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R berdasarkan gaya belajar

siswa?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui

sejauh mana perbedaan hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R

berdasarkan gaya belajar siswa, yang pada penelitian ini dibatasi pada konsep

struktur dan fungsi jaringan tumbuhan.

Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Guru; menjadi bahan masukan dalam memilih metode yang paling tepat

yang sesuai dengan gaya belajar siswa agar proses belajar mengajar

menjadi efektif dan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang

diharapkan.

(14)

BAB II

KAJIAN TEORETIK, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teoretik

1. Metode PQ4R

a. Pengertian Metode

Metode adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan rencana

yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan dapat tercapai secara

optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah

ditetapkan, karena suatu strategi pembelajaran hanya dapat

diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran. Maka

dapat dikatakan bahwa, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran

memegang peranan yang sangat penting.11

Metode berkaitan erat dengan strategi pembelajaran yang dirancang

agar proses belajar dapat berjalan dengan baik. Metode adalah teknik yang

dianggap paling baik untuk menyampaikan materi pelajaran. Dalam

desain pembelajaran metode merupakan hal yang sangat penting, karena

metode yang digunakan akan menentukan situasi belajar yang

sesungguhnya.12

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, metode adalah suatu cara yang

digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode

diperlukan oleh guru dalam kegiatan mengajar dan penggunaannya

bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Seorang guru tidak

akan dapat melaksanakan tugasnya bila tidak menguasai satupun metode

mengajar.13

Berdasarkan pendapat yang telah diuraikan di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa metode adalah cara yang digunakan dalam

menyampaikan tujuan atau materi pelajaran kepada siswa. Metode

11

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, cet.ke-5. (Jakarta: Kencana, 2008), h. 147.

12

Dewi Salma Prawiradelaga, Prinsip Disain Pembelajaran, cet.ke-2. (Jakarta: Kencana, 2008), h. 18.

13

(15)

mengajar yang digunakan harus tepat guna, yang berarti harus sesuai

dengan tujuan yang hendak dicapai, dan metode tersebut juga harus

dikuasai oleh guru. Semakin baik pemilihan metode mengajar yang sesuai

dengan tujuan yang akan dicapai, maka semakin baik pula hasil belajar

yang akan diperoleh.

b. Pengertian Metode PQ4R

Metode PQ4R dikembangkan oleh Thomas & Robinson yang

merupakan penyempurnaan dari metode SQ3R yang dicetuskan oleh

Robinson.14 Metode PQ4R merupakan metode untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca, dan membantu proses belajar mengajar

di kelas yang dilakukan dengan kegiatan membaca buku. Kegiatan

tersebut bertujuan untuk mempelajari sampai tuntas bab demi bab suatu

buku pelajaran.15

“What is the PQ4R method?

It’s a method that was used to help the student to remember what was read by text material. It derives its name from the six phases: preview that is survey the chapter to determine the general topics being discussed, make up questions about the section, Read the section carefully, Reflect on the text as you are reading, recall the information contained in the section, and review the chapter.”

Metode PQ4R adalah metode yang digunakan untuk membantu

siswa mengingat apa yang mereka baca melalui bahan bacaan. Terdiri dari

enam langkah sesuai dengan singkatannya, yaitu: membaca selintas

dengan cepat, membuat pertanyaan, membaca secara keseluruhan dengan

hati-hati, refleksi, tanya-jawab untuk mengingat kembali, dan mengulang

secara menyeluruh.16

14

I Gusti Ngurah Pujawan, “Implementasi pendekatan Matematika Realistik dengan Metode PQ4R Berbantuan LKS dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 4 Singaraja,” Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus Th. XXXVIII (Desember 2005): h. 779.

15

Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, cet.ke-1. (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h. 146.

16

Anderson J.R, “Review: Memory Elaboration and Reconstruction.” Chapter 7

Cognitive Psychology And Its Implications 4th Edition Freeman, ISBN 0716723859, Pages pp 166 – 197. Tersedia:

(16)

“The PQ4R method is a mnemonic technique used for remembering text material. the PQ4R method of reading text material have shown its advantages over the way people normally read. So students may not use the technique, even though it is more effective”

Metode PQ4R adalah teknik yang digunakan untuk membantu daya

ingat agar dapat mengingat bahan bacaan. Metode ini mempunyai

kelebihan meskipun seperti metode membaca yang biasa digunakan orang,

dan metode ini jauh lebih efektif.17

Metode PQ4R merupakan salah satu bagian dari strategi elaborasi

(Elaboration strategies). Elaborasi adalah proses penambahan rincian

informasi sehingga menjadi lebih bermakna, karena dilakukan melalui

pengkodean sehingga lebih mudah dan lebih memberikan kepastian.

Strategi elaborasi membantu pemindahan informasi baru dari memori

jangka pendek ke memori jangka panjang dengan menciptakan gabungan

dan hubungan antara informasi baru dan apa yang telah diketahui

sebelumnya. Strategi ini terdiri dari pembuatan catatan, analogi, dan

metode PQ4R.18

Metode PQ4R menurut Anderson, merupakan penimbul pertanyaan

yang dapat mendorong pembaca teks melakukan pengolahan materi secara

lebih mendalam dan luas.19 Selanjutnya, metode PQ4R sesuai dengan kepanjangannya terdiri atas enam langkah, yaitu: P singkatan dari preview

(membaca selintas dengan cepat), Q adalah question (membuat

pertanyaan), dan 4R adalah singkatan dari read (membaca), reflect

(refleksi), recite (tanya-jawab sendiri), dan review (mengulang secara

menyeluruh).20

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa metode

PQ4R adalah prosedur analisis membaca untuk membimbing siswa dalam

mempelajari bacaan secara sistematis. Metode PQ4R menunjukkan pada

siswa bagaimana menangani bacaan melalui prosedur Preview, Question,

17

Vernelia Randall, “Learning Theory - How are Things Remembered.” Tersedia: http://academic.udayton.edu/legaled/online/exams/memory06.html

18

Trianto, Op.Cit., h. 92.

19

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, cet.ke-1. (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 128-129.

20

(17)

Read, Reflect, Recite, Review. Siswa secara aktif memproses isi bacaan

dengan metode yang mirip dengan metode tradisional. Dengan

menerapkan metode ini, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang

dapat mereka terapkan saat belajar sendiri.

c. Langkah-langkah Metode PQ4R

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam metode PQ4R

mengikuti urutan-urutan nama tersebut, adalah sebagai berikut:

(1) Preview

Pada langkah pertama ini, siswa membaca selintas dengan cepat

sebelum membaca bahan bacaan. Siswa dapat memulai dengan

membaca topik-topik, sub topik utama, judul dan sub judul,

kalimat-kalimat permulaan atau akhir suatu paragraf, atau ringkasan pada akhir

suatu bab. Apabila hal itu tidak ada, siswa dapat memeriksa setiap

halaman dengan cepat, membaca satu atau dua kalimat di sana-sini

sehingga diperoleh sedikit gambaran mengenai apa yang akan

dipelajari.21

Pada langkah preview ini, siswa dianjurkan untuk menyiapkan

pensil atau stabilo untuk menandai bagian-bagian tertentu pada bahan

bacaan yang dianggap penting. Bagian-bagian tertentu ini akan

mempermudah siswa untuk menyusun pertanyaan pada langkah

selanjutnya.

(2) Question

Pada langkah kedua ini, siswa membuat pertanyaan yang relevan

dengan bahan bacaan. Pada langkah ini, guru perlu memberi petunjuk

dan contoh kepada siswa untuk menyusun pertanyaan yang jelas,

singkat dan relevan dengan bagian-bagian tertentu dari bahan bacaan

yang telah ditandai pada langkah sebelumnya. Pengalaman telah

menunjukkan bahwa apabila seseorang membaca untuk menjawab

sejumlah pertanyaan, maka akan membuatnya membaca lebih

21

(18)

hati serta seksama serta akan dapat membantu mengingat apa yang

dibaca dengan baik.22

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana

keingintahuan siswa, mengecek pemahaman siswa, mengetahui hal-hal

apa saja yang sudah diketahui siswa, serta membangkitkan respon siswa

terhadap bahan bacaan yang dibahas.

(3) Read

Pada langkah ini, siswa membaca bahan bacaan dengan cermat,

dan menjawab pertanyaan yang dibuatnya pada langkah sebelumnya,

serta menandai jawabannya dengan garis bawah atau stabilo.23 (4) Reflect

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari.

Siswa mengendapkan apa yang yang baru dipelajarinya sebagai struktur

pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari

pengetahuan sebelumnya. Refleksi juga dapat diartikan sebagai respon

terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.24 Pada tahap ini siswa mencoba memahami materi yang dibaca

dengan cara : (a) menghubungkan materi yang dibaca dengan materi

yang diketahui sebelumnya, (b) mengaitkan sub-sub topik dengan

konsep-konsep utama, (c) memecahkan kontradiksi dalam materi yang

disajikan, dan (d) menggunakan materi itu untuk memecahkan masalah

yang disimulasikan.25

Kegiatan refleksi ini dilakukan dengan meninjau ulang jawaban

atas pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun pada langkah

sebelumnya, kemudian siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok

dalam menjawab pertanyaan yang telah disusun pada langkah

sebelumnya, kemudian kelompok lainnya menanggapi.

22

Ibid., h. 148.

23

Ibid.

24

Ibid., h. 113.

25

(19)

(5) Recite

Pada langkah ini, siswa diminta untuk mengingat kembali

pertanyaan dan jawaban yang telah dibuatnya dengan melakukan tanya

jawab dengan teman sekelompoknya, kemudian membuat rangkuman

dari seluruh pembahasan pelajaran yang terdapat pada bahan bacaan.26 (6) Review

Pada langkah terakhir ini siswa diminta untuk membaca

pertanyaan-pertanyaan dan jawaban yang diperoleh pada langkah

sebelumnya, serta membaca rangkuman yang telah dibuatnya, bila perlu

mengulang kembali seluruh isi bahan bacaan jika merasa kurang yakin

dengan jawabannya.27

Langkah-langkah pada metode PQ4R apabila dikaitkan dengan

pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa melalui langkah preview

dan question siswa akan menghubungkan antara pengalaman dan

pengetahuan yang telah dimiliki dengan topik yang sedang dipelajari.

Pada langkah read dan reflect siswa akan mempelajari dan memahami

lebih dalam mengenai topik yang dibahas sehingga mereka memperoleh

pengetahuan baru dan memformulasikan pengetahuan itu untuk dirinya

sendiri. Selanjutnya pada langkah recite, pengetahuan yang telah

terbentuk perlu dimantapkan melalui suatu latihan sehingga pengetahuan

tersebut menjadi permanen dalam ingatan siswa. Setiap siswa memiliki

perbedaan dan keterbatasan, baik pengalaman, pengetahuan awal, dan

kecepatan belajar, sehingga dapat berdampak pada kecepatan pemahaman

dan penguasaan materi ajar. Oleh karena itu, setiap siswa diberi

kesempatan untuk meriview topik yang telah mereka pelajari (tahap

review). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan metode

PQ4R sangat mendukung dalam proses pembelajaran.28

Dari langkah-langkah metode PQ4R yang telah diuraikan di atas,

dapat dilihat bahwa metode PQ4R membantu siswa memahami materi

pelajaran, terutama terhadap materi-materi yang lebih sukar dan menolong

26

Trianto, Op.Cit., h. 149.

27

Ibid.

28

(20)

siswa untuk berkonsentrasi lebih lama. Langkah-langkah permodelan

pembelajaran dengan penerapan metode PQ4R terdapat pada tabel 2.1

berikut:29

Tabel 2.1 Langkah-langkah Permodelan Pembelajaran dengan Penerapan Metode PQ4R

Langkah-langkah

Tingkah Laku Guru Aktivitas Siswa

Langkah 1

a. Menginformasikan kepada siswa agar memperhatikan makna dari bacaan

b. Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat pertanyaan dari ide pokok yang ditemukan

Memberikan tugas kepada siswa untuk membaca dan menanggapi/ menjawab pertanyaan yang telah disusun sebelumnya materi yang ada pada bahan bacaan

Bukan hanya sekedar

(21)

seluruh pembahasan Langkah 6

Review

a. Menugaskan siswa membaca intisari yang dibuatnya dari rincian ide pokok yang ada dalam benaknya

(Sumber: Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik)

d. Keunggulan dan Kelemahan Metode PQ4R

Metode PQ4R memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan,

antara lain sebagai berikut:30 (1) Keunggulan

a. Sangat tepat digunakan untuk materi pelajaran yang bersifat

pengetahuan deklaratif

b. Membantu siswa yang daya ingatnya lemah untuk menghapal

materi pelajaran, serta meningkatkan keterampilan proses

bertanya dan mengkomunikasikan pengetahuannya

c. Mudah diterapkan pada semua jenjang pendidikan

(2) Kelemahan

(22)

2. Gaya Belajar

a. Pengertian Gaya Belajar

Gaya belajar terbagi dalam dua kata, yaitu gaya dan belajar.

Menurut etimologi gaya atau cara diartikan jalan melakukan sesuatu,

sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.31 Sehingga gaya belajar dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan untuk

memperoleh kepandaian atau ilmu.

Menurut DePorter dan Hernacki dalam Quantum Learning, gaya

belajar secara umum dapat dilihat dari modalitas dan dominasi otak.

Modalitas adalah cara yang ditempuh seseorang agar dapat menyerap

informasi dengan mudah. Sedangkan dominasi otak adalah cara seseorang

dalam mengatur dan mengolah informasi. Jadi, gaya belajar adalah

kombinasi dari cara yang ditempuh seseorang dalam menyerap, mengatur

serta mengolah informasi dengan mudah.32

Hal serupa juga diungkapkan Gunawan dalam Genius Learning

Strategy, gaya belajar adalah cara yang lebih seseorang sukai dalam

melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan

menggunakan gaya belajar dominan yang mereka miliki, akan mencapai

nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan jika belajar dengan cara yang

tidak sejalan dengan gaya belajar mereka.33

Lebih lanjut menurut Bandler dan Grinder dalam DePorter yang

dikutip oleh Susanto, gaya belajar merupakan suatu saringan yang

digunakan seseorang dalam proses belajar, pemrosesan informasi yang

diterimanya, dan juga komunikasi.34

Berdasarkan pada Neuro-Linguistic Programming yang

dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder dalam model

31

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. “ KBBI.” Tersedia: http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/kbbi/index.php

32

Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, cet.ke-4. (Bandung : Kaifa, 1999), h. 110-112.

33

Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy, cet.ke-4. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 139.

34

(23)

strategi komunikasi, diketahui bahwa selain memasukkan informasi dari

kelima indera, juga terdapat preferensi bagaimana kita menciptakan dan

memberikan arti pada suatu informasi. Secara umum preferensi sensori

yang digunakan yaitu berdasarkan pada visual (penglihatan), auditori

(pendengaran), dan kinestetik (sentuhan dan gerakan), yang dikenal

dengan nama modalitas V-A-K.35

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar

adalah cara belajar yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu atau

pengetahuan. Cara belajar yang digunakan tersebut berbeda-beda setiap

individu, karena tergantung dari kebiasaan belajar dimana seseorang

merasa paling efektif dan efisien dalam menerima, memproses,

menyimpan dan mengeluarkan sesuatu yang dipelajari.

b. Macam-macam Gaya Belajar

Menurut DePorter dan Hernacki, modalitas belajar terbagi menjadi

3, yaitu modalitas visual, auditori dan kinestetik (V-A-K). Pelajar visual

belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditori melakukannya

melalui apa yang didengar, dan pelajar kinestetik belajar lewat gerakan

dan sentuhan.36

Menurut Bandler dan Grinder yang dikutip oleh DePorter,

walaupun kebanyakan orang memiliki akses ke ketiga modalitas yaitu,

visual, auditori, dan kinestetik, hampir semua orang cenderung pada salah

satu modalitas belajar. Namun, berbeda dengan pendapat Markova, orang

tidak hanya cenderung pada salah satu modalitas, mereka juga

memanfaatkan kombinasi modalitas tertentu yang memberi mereka bakat

dan kekurangan alami tertentu.37

35

Gunawan, Op.Cit., h. 143.

36

DePorter dan Hernacki, Op.Cit., h. 112.

37

(24)

(1) Visual

Gaya belajar ini mengakses citra visual, warna dan gambar

menonjol dalam gaya belajar ini.38 Siswa dengan gaya belajar visual (visual learner) memiliki kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan

menangkap informasi secara visual sebelum memahaminya.

Menurut Työssäoppii yang dikutip Kanninen:

“Learners with visual learning style learn best using their eye sight. Seeing and reading are described to be important for visual learners. For example pictures, Tables, demonstrations, handouts, and mind maps are very useful for them.”

Pelajar dengan gaya belajar visual, belajar yang terbaik adalah dengan

menggunakan penglihatan. Melihat dan membaca memberikan

gambaran penting bagi pelajar visual. Sebagai contoh,

gambar-gambar, tabel-tabel, demonstrasi-demonstrasi, selebaran-selebaran, dan

peta pikiran sangat berguna bagi pelajar visual.39 Ciri-ciri gaya belajar visual adalah :40

a. Teratur, memperhatikan segala sesuatu, dan menjaga

penampilan

b. Mengingat apa yang dilihat, lebih suka membaca daripada

dibacakan

c. Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh

(2) Auditori

Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami

sekaligus mengingatnya. Karakteristik gaya belajar ini benar-benar

menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap

informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan

memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah

mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini

umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk

38

Ibid., h. 85.

39

Essi Kanninen, “Learning Styles In Virtual Learning Environments,” (Master of Science Thesis, January 2009), h.15. Tersedia:

http://hlab.ee.tut.fi/video/bme/evicab/astore/delivera/wp4style.pdf

40

(25)

tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.41 Siswa seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks

dengan keras dan mendengarkan kaset.42

Menurut Työssäoppii yang dikutip Kanninen:

“The learners with auditory learning style like to hear detailed directions. They learn things one at a time. Auditory learners benefit from listening to lectures and participating in discussions.”

Pelajar dengan gaya belajar auditori senang mendengarkan petunjuk

yang detail. Mereka mempelajari sesuatu pada satu waktu. Pelajar

auditori belajar dari mendengarkan ceramah dan berpartisipasi aktif

dalam diskusi.43

Ciri-ciri gaya belajar auditori adalah:44 a. Perhatiannya mudah terpecah

b. Belajar dengan cara mendengarkan

c. Menggerakkan bibir/ bersuara ketika membaca

(3) Kinestetik

Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik, belajar melalui

bergerak, menyentuh, dan melakukan. Siswa seperti ini sulit untuk

duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan

eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya

melalui gerakan dan sentuhan.45

Menurut Työssäoppii yang dikutip Kanninen:

“Kinesthetic learners learn best through feeling and

experimenting. They prefer laboratory sessions or field trips over classroom lectures. These learners like to be involved with physical experiences; touching, feeling, holding, doing, and practical hands-on experiences. Therefore the virtual learning environment brings a lot of challenge to their learning.”

Pelajar kinestetik belajar melalui perasaan dan melakukan percobaan.

Mereka lebih menyukai sesi praktik atau terjun ke lapangan selama

pembelajaran kelas. Pelajar kinestetik juga menyukai aktivitas fisik;

41

Emirina, “Gaya Belajar pada Anak.” Tersedia : http://emirina.wordpress.com/2009/03/17/gaya-belajar-pada-anak/

DePorter, Reardon, & Singer-Nourie, Op.Cit., h. 85.

45

(26)

menyentuh, merasakan, mengerjakan, dan praktikum. Karena

lingkungan belajar sesungguhnya memberikan tantangan untuk mereka

belajar.46

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :47

a. Menyentuh segala sesuatu yang ditemuinya

b. Sangat sulit untuk berdiam diri/duduk manis

c. Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan

tangannya selalu aktif

d. Memiliki koordinasi tubuh yang baik

e. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar

Dengan mengenali gaya belajar siswa, seorang guru akan dapat

menentukan cara mengajar yang lebih efektif. Guru menjadi tahu

bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar secara maksimal, sehingga

hasil belajar siswa dapat optimal. Dengan perkataan lain, guru dapat

memanfaatkan potensi yang telah dimiliki siswa dengan melatih,

kemudian mengembangkannya.

3. Hasil Belajar

a. Belajar

Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang

membedakannya dengan binatang. Manusia adalah makhluk yang paling

istimewa dibanding makhluk-makhluk lainnya, hal ini dijelaskan Tuhan

dalam surat At-Tiin; “Sesungguhnya kami jadikan manusia sebaik-baik

kejadian”. Kemampuan belajar dan mengolah informasi pada manusia

merupakan ciri penting yang membedakan manusia dari makhluk lain,

kemampuan belajar itu memberi manfaat bagi individu dan juga bagi

masyarakat, dengan belajar seseorang mampu mengubah perilaku, dan

membawa pada perubahan individu-individu yang belajar, yang memiliki

pengetahuan, sikap dan keterampilan.48

46

Kanninen, Op.Cit., h.15.

47

Emirina, Op.Cit.

48

(27)

Belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi dalam diri

seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun

pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk dalam kategori

belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila, dan sebagainya.49

Belajar yang dilakukan oleh manusia berlangsung seumur hidup,

kapan saja, di mana saja, dan dalam waktu yang tidak dapat ditentukan

sebelumnya. Proses belajar tidak dapat diamati secara langsung dan sulit

untuk menentukan terjadinya perubahan tingkah laku belajarnya.

Perubahan tingkah laku tersebut hanya dapat diamati setelah dilakukan

penilaian.50

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang

fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.

Menurut Chaplin dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar

dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi:....acquisition of

any relatively permanent change in behavior as a result of practice and

experience. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif

menetap sebagai akibat praktik dan pengalaman. Rumusan keduanya

Process of acquiring responses as a result of special practice, belajar ialah

proses memperoleh repon-respon sebagai akibat adanya pelatihan

khusus.51

Belajar merupakan proses perubahan perilaku sebagai akibat dari

pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan:

Learning is the process by wich an activity originates or changed through training procedurs (wether in laboratory or in the natural environment) as distinguished from changesby factors not atributable to training

Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau latihan, baik latihan

di dalam laboratorium maupun di lingkungan alam.52

49

Djamarah dan Zain, Op.Cit., h. 38.

50

Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, cet.ke-4. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), h. 154-155.

51

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, cet.ke-15. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), h. 87-88.

52

(28)

Menurut Muhammad, belajar adalah suatu proses yang kompleks

yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu

terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.

Salah satu tanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan

pada tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikapnya.53

Menurut CT Morgan dalam Introduction to Psychology yang

dikutip oleh Faturrohman dan Sutikno merumuskan belajar sebagai suatu

perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau

hasil dari pengalaman yang lalu.54 Sedangkan, menurut Gagne dalam Dahar, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu

organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.55

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa

belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan, belajar adalah

proses mental yang berlangsung seumur hidup yang tidak dapat dilihat

yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan perubahan

tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi

individu dengan lingkungannya.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Usaha dan keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor

yang mempengaruhinya. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi

belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:56 1) Faktor Internal Siswa

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua

aspek, yaitu:

a) Aspek Fisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang

menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan

53

Muhammad, “Perbedaan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Metode Ceramah dan Metode Eksperimen dalam Sub Pokok Bahasan Elektrokimia di SMA Negeri 1 Delima Sigli,”

Jurnal Pendidikan Serambi, Volume 5 Nomor 1 (September 2007): h. 46.

54

Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, cet.ke-1. (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), h. 6.

55

Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1996), h. 11.

56

(29)

sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa

dalam mengikuti pelajaran. Kondisi tubuh yang lemah dapat

menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang

dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. Untuk

mempertahakan tonus jasmani agar tetap bugar, dianjurkan

mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, serta memilih

pola istirahat dan olahraga ringan yang sedapat mungkin terjadwal

secara tetap dan berkesinambungan.

Kondisi organ-organ khusus, seperti kesehatan indera

pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi

kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan.

b) Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat

mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan belajar siswa.

Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang lebih esensial

adalah sebagai berikut: (1) tingkat kecerdasan/ inteligensi siswa;

(2) sikap siswa; (3) bakat siswa; (4) minat siswa; dan (5) motivasi

siswa.

Inteligensi Siswa

Menurut Reber, inteligensi merupakan kemampuan psikofisik

untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan

lingkungan dengan cara yang tepat. Tingkat kecerdasan atau

inteligensi (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan

belajar siswa. Hal tersebut berarti bahwa semakin tinggi

kemampuan inteligensi siswa maka semakin besar peluangnya

untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan

inteligensi siswa, maka semakin kecil peluangnya untuk

memeroleh sukses.

Sikap Siswa

Sikap siswa adalah gejala internal yang berdimensi afektif

berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response

(30)

barang, dan sebagainya, baik secara positif atau negatif. Sikap

(attitude) siswa yang positif, terhadap guru dan mata pelajaran

yang guru sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses

belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap

guru dan mata pelajaran yang guru sajikan, apalagi jika diiringi

kebencian kepada guru atau mata pelajaran yang gurru sajikan,

dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.

Bakat Siswa

Menurut Chaplin dalam Reber, bakat (aptitude) adalah

kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai

keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat juga diartikan

sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa

banyak bergantung pada upaya pendidikan dan pelatihan. Setiap

orang memilki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi

sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar

bidang-bidang studi tertentu.

Minat Siswa

Minat (interest) berarti keinginan yang besar terhadap sesuatu.

Minat dapat memengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa

dalam bidang-bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa

yang menaruh minat besar terhadap biologi akan memusatkan

perhatiaannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Pemusatan

perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang yang

memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat, dan

akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

Motivasi Siswa

Menurut Gleitman dalam Reber, motivasi berarti pemasok

daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Motivasi

dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi intrinsik dan

motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan

(31)

mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam

motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan

kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan

masa depan siswa yang bersangkutan. Adapun motivasi ekstrinsik

adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang

mendorongnya melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah,

peraturan/ tata tertib sekolah, suri teladan orangtua, guru dan

seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik

yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau

ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun eksternal,

akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam proses

belajar.

2) Faktor Eksternal Siswa

Faktor dari luar siswa terdiri dari dua macam, yakni faktor

lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.

a) Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para tenaga

kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) serta

teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat belajar seorang siswa.

Selanjutnya, masyarakat dan tetangga juga teman-teman

sepermainan di sekitar perkampungan siswa juga termasuk

lingkungan sosial siswa yang memengaruhi aktivitas belajar siswa,

misalnya kondisi masyarakat di lingkungan kumuh yang serba

kekurangan.

Lingkungan sosial yang lebih banyak memengaruhi kegiatan

belajar siswa adalah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri.

Sifat-sifat orangtua, praktik pengelolaan keluarga, keteganga keluarga,

dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi

dampak baik atau buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang

(32)

b) Lingkungan Nonsosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah

gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa

dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar

yang digunakan siswa. Faktor-faktor tesebut turut menentukan

tingkat keberhasilan belajar siswa.

Sebagai contoh, kondisi rumah yang sempit dan berantakan

serta perkampungan yang terlalu padat dan tak memiliki sarana

umum untuk kegiatan remaja (seperti lapangan voli) akan

mendorong siswa untuk berkeliaran ke tempat-tempat yang

sebenarnya tidak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan

perkampungan yang seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap

kegiatan belajar siswa.

3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning)

Disamping faktor-faktor internal dan eksternal siswa, faktor

pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan

proses belajar siswa. Pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar

siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa

untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran,

diantaranya, pendekatan tinggi (speculative dan achieving),

pendekatan sedang (analitical dan deep), dan pendekatan rendah

(reproductive dan surface).

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, menurut Gagne,

Briggs, dan Wager dalam Prawiradelaga, proses belajar dapat terjadi

karena adanya sinergi memori jangka pendek dan jangka panjang yang

diaktifkan melalui penciptaan faktor eksternal, yaitu pembelajaran atau

lingkungan belajar. Melalui inderanya, siswa dapat menyerap materi

secara berbeda. Pemberdayaan yang optimal dari seluruh indera seseorang

dalam proses belajar dapat menghasilkan kesuksesan bagi seseorang.

Menurut Magnesen yang dikutip oleh Prawiradelaga, belajar terjadi

dengan: 57

57

(33)

1) Membaca, dapat menyerap pengetahuan sebanyak 10%

2) Mendengar, dapat menyerap pengetahuan sebanyak 20%

3) Melihat, dapat menyerap pengetahuan sebanyak 30%

4) Melihat dan mendengar, dapat menyerap pengetahuan sebanyak

50%

5) Mengatakan, dapat menyerap pengetahuan sebanyak 70%

6) Mengatakan sambil mengerjakan, dapat menyerap pengetahuan

sebanyak 90%

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang

yang belajar dengan mengoptimalkan indera yang dimilikinya melalui

keterlibatan secara langsung dalam suatu kegiatan atau mengerjakan

sesuatu merupakan cara belajar yang terbaik dan dapat bertahan lama.

c. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah tingkat pencapaian siswa atas tujuan

instruksional yang diterapkan dan tercermin dari kepribadian siswa berupa

perubahan tingkah laku setelah mengalami proses belajar.58

Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran

dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki

seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari

perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,

keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Sebagian besar

kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil

belajar. Di sekolah hasil belajar dapat dilihat dari penguasaan siswa akan

pelajaran-pelajaran yang ditempuhnya.59

Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku

pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan

pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan

terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan

58

Muhammad, Op.Cit., h. 46.

59

(34)

dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang

sopan jadi sopan, dan sebagainya.60

Penilaian untuk mengukur hasil belajar siswa adalah dengan

menggunakan tes hasil belajar. Tes adalah cara atau prosedur dalam

rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk

pemberian tugas atau serangkaian tugas berupa pertanyaan-pertanyaan,

atau perintah-perintah sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan

tingkah laku atau prestasi.61 Dengan tes hasil belajar diharapkan dapat dilihat tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran dan

dapat memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk

memperbaiki proses belajar mengajar bagi siswa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa hasil belajar

adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah menerima pelajaran

melalui proses belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah yang

mengakibatkan perubahan pengetahuan, tingkah laku, maupun sikap yang

dapat dinilai dengan tes hasil belajar.

B. Bahasan Hasil-hasil Penelitian yang Relevan

Sebelum memulai penelitian ini, peneliti melihat beberapa kajian yang

dianggap relevan dengan penelitian yang akan diteliti.

Mahmudah (2010) dalam skripsinya yang berjudul “Penerapan

Metode Pembelajaran PQ4R dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”,

memberikan kesimpulan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa

setelah dilaksanakannya pembelajaran dengan penerapan metode PQ4R. Hal

tersebut dapat ditunjukkan dengan rata-rata tes hasil belajar akhir pada siklus

I sebesar 68,9 menjadi 71 pada siklus II.62

60

Hamalik, Op.Cit., h. 155.

61

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), h. 67.

62

(35)

Gst Ayu Mahayukti (2003) dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

IKIP Negeri Singaraja yang berjudul ”Pengembangan Model Pembelajaran

Generatif dengan Metode PQ4R dalam Upaya Meningkatkan kualitas

Pembelajaran Matematika Siswa Kelas IIB SLTP Laboratorium IKIP Negeri

Singaraja”, memberikan kesimpulan dalam penelitiannya bahwa

pembelajaran generatif dengan metode PQ4R pada siswa kelas II B SLTP

Laboratorium IKIP Negeri Singaraja dapat 1) mereduksi miskonsepsi dan

meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas II B SLTP Laboratorium

IKIP Negeri Singaraja, 2) kemampuan guru dalam melaksanakan

pengembangan pembelajaran ini adalah baik, 3) tingkat aktivitas siswa dalam

mengikuti pembelajaran di kelas adalah aktif, dan 4) tanggapan guru dan

siswa terhadap model pembelajaran yang dilaksanakan adalah positif.63 I Gusti Ngurah Pujawan (2005) dalam Jurnal Pendidikan dan

Pengajaran IKIP Negeri Singaraja yang berjudul “Implementasi Pendekatan

Matematika Realistik dengan Metode PQ4R Berbantuan LKS dalam

Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri

4 Singaraja”, memberikan kesimpulan dalam penelitiannya bahwa

implementasi pendekatan matematika realistik dengan metode PQ4R

berbantuan LKS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, prestasi belajar

siswa, dan tanggapan siswa terhadap implementasi model pembelajaran

tergolong positif.64

Y. Ulung Anggraito, dkk. (2003) dalam laporan penelitiannya yang

berjudul “Peningkatan Kuantitas Siswa Tuntas Belajar melalui Penggunaan

Strategi Belajar Metode PQ4R dalam Pembelajaran Biologi di SLTP Negeri 1

Semarang”, memberikan kesimpulan dalam penelitiannya bahwa terdapat

peningkatan jumlah siswa tuntas belajar dari siklus I sampai III, namun batas

tuntas kelas belum tercapai. Nilai rata-rata kelas juga menunjukkan

peningkatan dari siklus I sampai III. Rentangan nilai tampak semakin

menyempit. Sehingga metode PQ4R dapat digunakan sebagai salah satu

63

Gst Ayu Mahayukti, “Pengembangan Model Pembelajaran Generatif,”dengan Metode PQ4R dalam Upaya Meningkatkan kualitas Pembelajaran Matematika Siswa Kelas IIB SLTP Laboratorium IKIP Negeri Singaraja,” Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 2 TH. XXXVI (April 2003): h. 10.

64

(36)

alternatif untuk meningkatkan kuantitas siswa tuntas belajar pada siswa kelas

1G SLTP Negeri 1 Semarang.65

Kasman Arifin dan Muhammad Ali (2007) dalam Jurnal MIPMIPA

yang berjudul “Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasan Kelangsungan Hidup

Organisme Melalui Penerapan Strategi-strategi Belajar PQ4R pada Siswa

Kelas IIIC SMPN Kendari”, memberikan kesimpulan dalam penelitiannya

bahwa penerapan model pembelajaran strategi-strategi elaborasi metode

elaborasi PQ4R dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang dapat terlihat

dari jumlah siswa yang tuntas belajarnya sebanyak 37 siswa atau 92,5% dari

40 siswa.66

Handy Susanto (2006) dalam Jurnal Pendidikan Penabur yang

berjudul “Meningkatkan Konsentrasi Siswa Melalui Optimalisasi Modalitas

Belajar Siswa”, memberikan kesimpulan dalam penelitiannya bahwa dengan

mengoptimalkan penggunaan modalitas belajar siswa melalui metode belajar

dan pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan konsentrasi siswa.

Dilain pihak, siswa juga dapat memperoleh pengalaman belajar yang menarik

sehingga dapat meningkatkan peranan, motivasi, dan hasil belajarnya.67

C. Kerangka Pikir

Metode pengajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan

guru, terutama guru IPA adalah metode pengajaran konvensional atau disebut

juga dengan metode ceramah. Metode ini perlu diubah karena kurang

melibatkan keaktifan siswa sehingga pembelajaran hanya terpusat pada guru

(teacher centered).

Selain itu, kemampuan siswa untuk memahami dan menyerap

pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada

pula yang sangat lambat. Karenanya, setiap siswa menempuh cara atau gaya

65

Y. Ulung Anggraito, dkk., “Peningkatan Kuantitas Siswa Tuntas Belajar melalui Penggunaan Strategi Belajar Metode PQ4R dalam Pembelajaran Biologi di SLTP Negeri 1 Semarang,” (Laporan Penelitian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang, Oktober 2003), h. iii.

66

Kasman Arifin dan Muhammad Ali, “Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasan Kelangsungan Hidup Organisme Melalui Penerapan Strategi-strategi Belajar PQ4R pada Siswa Kelas IIIC SMPN Kendari,” Jurnal MIPMIPA, Vol. 6, No. 2 (Agustus 2007): h. 185.

67

(37)

belajar yang berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran

yang sama. Oleh sebab itu, metode konvensional tersebut juga tidak

sepenuhnya mendukung gaya belajar siswa.

Sejalan dengan situasi masyarakat yang selalu berubah, terjadi

perkembangan dalam dunia pendidikan dengan adanya berbagai metode

pembelajaran yang ditemukan dan diterapkan untuk memperbaiki mutu

pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan ke arah yang lebih

baik. Salah satu metode pembelajaran tersebut adalah metode PQ4R

(Preview, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review).

Metode PQ4R terdiri dari enam langkah, yaitu Preview, Question,

Read, Reflect, Recite, dan Review. Dengan menerapkan metode PQ4R ini,

siswa mempunyai kesempatan belajar dengan gayanya sendiri, karena pada

setiap tahapannya dapat diwakili oleh gaya belajar siswa yang berbeda-beda.

Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai. Setiap

orang memiliki kekuatan belajar atau gaya belajar. Di dunia pendidikan,

istilah gaya belajar mengacu khusus untuk penglihatan, pendengaran, dan

peraba. Gaya belajar visual menyangkut penglihatan. Gaya belajar auditori

merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Gaya belajar kinestetik

merujuk gerakan besar dan kecil. Gaya belajar diduga memiliki peranan

penting dalam proses kegiatan belajar mengajar yang pada akhirnya akan

mempengaruhi hasil belajar siswa.

D. Hipotesis

Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka pikir yang telah diuraikan,

maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

“Terdapat perbedaan hasil belajar IPA menggunakan metode PQ4R

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Islamiyah

Ciledug. Waktu pelaksanaan penelitian ini pada semester ganjil tahun

pelajaran 2010/2011 pada tanggal 2-23 November 2010.

B. Metode dan Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan peneliti merupakan penelitian

komparasional. Penelitian ini digunakan untuk membandingkan dua buah

variabel atau lebih.68 Menurut Sudjud yang dikutip oleh Arikunto, penelitian komparasi bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan

antarvariabel yang diteliti.69 Mengenai faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi, diasumsikan tidak mempunyai pengaruh pada penelitian.

Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas yang diberikan perlakuan

menggunakan metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite, review),

dengan gaya belajar yang telah dianalisis melalui kuesioner gaya belajar

visual-auditori-kinestetik (VAK) yang diambil dari Bobbi DePorter, Mark

Reardon, & Sarah Singer-Nourie dalam bukunya yang berjudul “Quantum

Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas.”

C. Subjek Penelitian

Keseluruhan subjek penelitian adalah populasi.70 Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MTs Al-Islamiyah Ciledug,

sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Al-

68

Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, cet.ke-22. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 275.

69

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan PraktikEdisi Revisi VI, cet.ke-13. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), h. 267-268.

70

Figur

Tabel 2.1 Langkah-langkah Permodelan Pembelajaran dengan Penerapan
Tabel 2 1 Langkah langkah Permodelan Pembelajaran dengan Penerapan . View in document p.20
gambaran penting bagi pelajar visual.   Sebagai contoh, gambar-
Sebagai contoh gambar . View in document p.24
Tabel 3.1 Tenik Pengumpulan Data
Tabel 3 1 Tenik Pengumpulan Data . View in document p.41
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes Kognitif
Tabel 3 2 Kisi kisi Instrumen Tes Kognitif . View in document p.42
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Kuesioner Gaya Belajar Visual-Auditori-
Tabel 3 3 Kisi kisi Instrumen Kuesioner Gaya Belajar Visual Auditori . View in document p.43
Tabel 4.1. Persentase Kontribusi Gaya Belajar Berdasarkan Penerapan
Tabel 4 1 Persentase Kontribusi Gaya Belajar Berdasarkan Penerapan . View in document p.50
Gambar 4.1. Chart Persentase Gaya Belajar Siswa
Gambar 4 1 Chart Persentase Gaya Belajar Siswa . View in document p.51
Tabel 4.2:
Tabel 4 2 . View in document p.53
Tabel 4.3. Hasil Post-test Siswa Dominan Visual
Tabel 4 3 Hasil Post test Siswa Dominan Visual . View in document p.54
Tabel 4.4:
Tabel 4 4 . View in document p.55
Tabel 4.5. Hasil Post-test Siswa Dominan Auditori
Tabel 4 5 Hasil Post test Siswa Dominan Auditori . View in document p.56
Tabel 4.6:
Tabel 4 6 . View in document p.57
Tabel 4.7. Hasil Post-test Siswa Dominan Kinestetik
Tabel 4 7 Hasil Post test Siswa Dominan Kinestetik . View in document p.58
Tabel 4.8. Hasil Pre-test Siswa Multi
Tabel 4 8 Hasil Pre test Siswa Multi . View in document p.59
Tabel 4.9. Hasil Post-test Siswa Multi
Tabel 4 9 Hasil Post test Siswa Multi . View in document p.60
Tabel 4.10. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar
Tabel 4 10 Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar . View in document p.62
Gambar 4.3. Diagram Batang Ketuntasan Belajar
Gambar 4 3 Diagram Batang Ketuntasan Belajar . View in document p.63
Gambar 4.2. Diagram Batang Peningkatan Rata-rata
Gambar 4 2 Diagram Batang Peningkatan Rata rata . View in document p.63
Tabel 4.11. Hasil Uji Normalitas
Tabel 4 11 Hasil Uji Normalitas . View in document p.64

Referensi

Memperbarui...