ARAH PENGEMBANGAN DESA PESISIR
DI KABUPATEN BATU BARA
TESIS
Oleh
DADAN SUPRIADI
117003016/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DI KABUPATEN BATU BARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister
Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan
Perdesaan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
DADAN SUPRIADI
117003016/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DI KABUPATEN BATU BARA
Nama Mahasiswa
: Dadan Supriadi
Nomor Pokok
: 117003016
Program Studi
: Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan
(PWD)
Menyetujui,
Komisi Pembimbing
(Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si)
Ketua
(Kasyful Mahalli, SE, M.Si)
Anggota
Ketua Program Studi,
(Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE)
Direktur,
(Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc)
Tanggal : 19 Desember 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua
: Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.
Anggota
: 1. Kasyful Mahalli, SE, M.Si.
2. Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE.
Judul Tesis
“ANALISIS POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN DESA PESISIR
DI KABUPATEN BATU BARA”
Dengan ini penulis menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat
untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Perencanaan
Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian
tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah penulis
cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika
penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini
bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian
tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang
penulis sandang dan sanksi-sanksi laninnya sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku.
Medan, Desember 2013
Penulis,
ABSTRAK
Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu daerah pesisir di Sumatera
Utara yang memiliki potensi ekonomi yang besar. Pada tahun 2012 PDRB per
kapita Kabupaten Batu Bara sebesar 55,13 juta rupiah dan tertinggi di Sumatera
Utara. Namun Kabupaten Batu Bara memiliki permasalahan kompleks yaitu
tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang
utamanya terjadi di daerah pesisir. Dalam menyusun strategi pengembangan desa
pesisir di Kabupaten Bara diperlukan suatu penelitian untuk mengidentifikasi
potensi dan arah pengembangannya. Berdasarkan analisis hierarki desa dengan
skalogram (untuk mengetahui keragaan relatif tingkat perkembangan desa-desa
pesisir dibanding desa lainnya), menunjukkan bahwa dari 19 desa pesisir di
Kabupaten Batu Bara hanya satu desa tergolong hierarki I (perkembangan maju)
yaitu desa Tanjung Tiram, selanjutnya hierarki II (perkembangan sedang)
berjumlah 7 desa dan hierarki III (perkembangan rendah) berjumlah 11 desa.
Berdasarkan analisis
multivariate
, ada tiga
cluster
perkembangan desa dengan
karakteristik yang berbeda yaitu:
Cluster
I (akses terhadap pusat pemerintahan
baik, tingkat kesejahteraan sedang, sarana pendidikan dan kesehatan kurang
memadai, sarana ekonomi cukup memadai, kualitas lingkungan baik, tingkat
partisipasi warga sedang);
Cluster
II (tingkat kesejahteraan tinggi, akses terhadap
pusat pemerintahan cukup baik, jumlah dan akses sarana pendidikan dan
kesehatan yang memadai, sarana ekonomi memadai, kualitas lingkungan baik,
partisipasi warga tinggi); dan
Cluster
III (tingkat kesejahteraan rendah, akses
terhadap pusat pemerintahan rendah, sarana ekonomi rendah, kualitas lingkungan
rendah, partisipasi warga rendah). Arahan pengembangan disesuaikan dengan
karakteristik masing-masing wilayah yaitu:
Cluster
I (peningkatan jumlah dan
jenis usaha rumahtangga/kecil/mikro, meningkatkan jumlah dan akses pada sarana
pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kualitas SDM dan peran serta aktif
warga);
Cluster
II (penguatan usaha rumahtangga/kecil/mikro, meningkatkan
kualitas SDM melalui peningkatan akses terhadap sarana teknologi informasi dan
lembaga kursus/keterampilan); dan
Cluster
III (meningkatkan taraf hidup
masyarakat, pengembangan jumlah dan jenis usaha rumahtangga/kecil/mikro,
peningkatan jumlah dan akses terhadap sarana/prasarana pendidikan, kesehatan
dan ekonomi serta penataan lingkungan kumuh).
Kata Kunci: Potensi, hierarki desa (analisis
skalogram
), cluster desa (analisis
IN BATU BARA DISTRICT
ABSTRACT
Batu Bara District is one of the coastal areas in North Sumatera which
has great economic potency. In 2012, PDRB per capita in Batu Bara District was
55.13 million rupiahs which was the highest PDRB in North Sumatera. However,
Batu Bara District still has complex problems such as high level of poverty and
low level of the quality of human resources in the coastal area. In organizing the
strategy of coastal area development in Batu Bara District, it is necessary to
conduct a research in order to identify the potency and the direction of its
development. Based on the analysis of village hierarchy with a scalogram (in
order to find out the relative performance of the development level of the coastal
areas, compared with the other villages), it was found that of 19 coastal villages
in Batu Bara District, only one of them, Tanjung Tiram village, was in the
category of hierarchy I (high development), seven of them were in the category of
hierarchy II (moderate development), and 11 of them were in the category of
hierarchy III (low development). Based on multivatriate analysis, it was found
that there were three clusters of village development with different
characteristics: Cluster I (included good access to central Administration,
moderate level of welfare, inadequate education and health facilities, adequate
economic facilities, good quality of environment, and moderate level of public
participation); Cluster II (included high level of welfare, good access to central
Administration, adequate access to education and health facilities, adequate
economic facilities, good quality of environment, and high level of public
participation); and Cluster III (included low level of welfare, bad access to
central Administration, bad economic facilities, bad quality of environment, and
low level of public participation). The direction of development was adjusted to
the characteristics of each area: Cluster I (included improving the number and
types of home/small/micro businesses, improving the number of and access to
education and health facilities, and improving human resources and active public
participation); Cluster II (included empowering home/small/micro businesses and
improving the quality of human resources through the improvement of the access
to technological information and course/skill institutions); and Cluster III
(included improving people’s standard of living, developing the number and types
of home/small/micro businesses, improving the number of and access to
education, health, and economic facilities and infrastructure, and organizing slum
areas).
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya dalam penulisan tesis yang berjudul “Analisis Potensi
dan Arah Pengembangan desa Pesisir di Kabupaten Batu Bara. Tesis ini disusun
sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar Megister Sains pada Program Studi
Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini, penulis banyak
memperoleh bantuan, bimbingan, petunjuk, nasehat dan dukungan dari berbagai
pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
setulus hati khususnya kepada yang terhormat :
1.
Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K),
selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2.
Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
3.
Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE, selaku Ketua Program Studi Perencanaan
Pembangunan Wilayah dan Pedesaaan Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara.
4.
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.S, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis
ini.
5.
Kasyful Mahalli, SE, M.Si, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan tesis ini.
6.
Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE, Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak.
dan Dr. Rujiman, MA, selaku dosen pembanding yang telah banyak
memberikan masukkan dan arahan demi kesempurnaan tesis ini.
7.
Seluruh keluarga, khususnya kepada ibunda Sukaesih, istri tercinta Artaty
Sitanggang serta anak-anaku tersayang Hirzi Nugraha Supriadi dan Kayla
Nafisah Supriadi yang telah memberikan dukungan dan doa selama penulis
mengikuti studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
8.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas segala
bantuannya.
Tesis ini dipersembahkan bagi semua pihak yang membacanya dengan
harapan dapat memberi manfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan di masa
yang akan datang.
Dadan Supriadi
, lahir di Subang pada tanggal 01 Juli 1976, merupakan
anak Pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Ayahanda Dakim dan Ibunda
Sukaesih.
Pendidikan formal yang ditempuh, yaitu: Sekolah Dasar di SDN 01 Pagaden
Baru Subang, tamat pada tahun 1988, kemudian melanjutkan ke Sekolah
Menengah Pertama di SMPN 1 Pagaden Baru Subang, tamat pada tahun 1991 dan
melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Subang, tamat
pada tahun 1994. Pada tahun 1994 melanjutkan pendidikan Diploma III di
Akademi Ilmu Statistik Jakarta dan selesai tahun 1997 dengan gelar Ahli Madya
Statistik kemudian melanjutkan pendidikan Diploma IV pada Sekolah Tinggi
Ilmu Statistik Jakarta dan selesai pada tahun 1999 dengan gelar Sarjana Sains
Terapan (S.S.T). Pada tahun 2011, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan Program Studi Perencanaan
Pembangunan Wilayah Dan Perdesaan (PWD).
Pada tahun 1999 s/d 2003, penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil
pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara sebagai staf. Tahun 2003 s/d
2009 penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Badan Pusat Statistik
Kabupaten Tapanuli Selatan dengan jabatan Kasi Statistik Sosial. Pada tahun
2009 s/d sekarang penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Badan Pusat
Statistik Provinsi Sumatera Utara dengan jabatan Kasi Statistik Kesejahteraan
Halaman
ABSTRAK...
i
ABSTRACT
...
ii
KATA PENGANTAR...
iii
RIWAYAT HIDUP...
iv
DAFTAR ISI...
v
DAFTAR TABEL...
viii
DAFTAR GAMBAR...
x
DAFTAR LAMPIRAN...
xi
BAB I
PENDAHULUAN...
1
1.1. Latar Belakang...
1
1.2. Perumusan Masalah...
15
1.3. Tujuan Penelitian...
15
1.4. Manfaat Penelitian...
16
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA...
17
2.1. Penelitian Sebelumnya...
17
2.2. Pengertian Wilayah Pesisir...
22
2.3. Pengertian Potensi Pesisir dan Permasalahannya...
23
2.4. Pengembangan Wilayah...
24
2.5. Konsep Pengelolaan Wilayah Pesisir...
25
2.6. Kerangka Pemikiran...
26
BAB III METODE PENELITIAN...
30
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian...
30
3.2. Sumber dan Jenis Data...
31
3.3. Metode Analisis Data...
31
3.3.1. Analisis Potensi Wilayah dengan Skalogram...
31
3.3.2. Analisis Potensi Wilayah dengan Analisis
Multivariate
...
35
3.3.2.1. Analisis Komponen Utama
(Principal
Component Analysi
s
)
...
36
3.3.2.2. Analisis Kelompok
(Cluster Analysis)
...
40
3.3.2.3. Analisis Fungsi Diskriminan
(Discriminant Function Analysis)...
41
3.3.3. Deskripsi dengan Pendekatan Sistem Informasi
Geografis...
42
4.1.1.
Letak Geografi dan Batas Administrasi Wilayah..
45
4.1.2.
Topografi...
48
4.1.3.
Klimatologi...
52
4.1.4.
Hidrologi...
54
4.1.5.
Geologi...
54
4.1.6.
Penggunaan Lahan...
54
4.1.7.
Kependudukan...
59
4.1.8.
Ketenagakerjaan...
60
4.1.9.
Perekonomian Daerah...
62
4.1.10. Kegiatan Usaha...
63
4.1.11. Sarana Pendidikan...
64
4.1.12. Sarana Kesehatan...
65
4.1.13. Objek Pariwisata...
65
4.2. Analisis Hasil Penelitian dan Pembahasan...
66
4.2.1.
Keragaan Relatif Tingkat Perkembangan
Desa-desa Pesisir Dibandingkan dengan Desa pada
Umumnya di Kabupaten Batu Bara Berdasarkan
Hasil Analisis Analisis Skalogram...
66
4.2.2.
Analisis
Multivariate
untuk Mengetahui
Karakteristik Masing-masing
Cluster
Perkembangan Desa...
76
4.2.2.1. Analisis Komponen Utama
(Principal
Component Analysi
s
)
...
78
4.2.2.2. Analisis Kelompok
(Cluster Analysis)
..
81
4.2.2.3. Analisis Fungsi Diskriminan
(Discriminant Function Analysis)
...
87
4.2.3.
Arahan Pengembangan...
91
BAB V
KESIMPULAN...
96
5.1. Kesimpulan...
96
5.2. Saran...
98
No.
Judul
Halaman
1.1.
Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan dan industri perikanan
atas dasar harga berlaku Tahun 2007-2012...
4
1.2.
Potensi lahan budidaya perikanan dan tingkat pemanfaatan di
Indonesia (Ha) Tahun 2011...
4
1.3.
Jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Batu Bara menurut Kecamatan
dan Lokasi Desa...
6
1.4.
Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan dan industri pengolahan
atas dasar harga berlaku Tahun 2009-2012...
8
1.5.
Jumlah produksi ikan di Kabupaten Batu Bara menurut kecamatan
dan lokasi tangkapan...
9
1.6.
Perbandingan tingkat kesejahteraan dan pendidikan penduduk desa
pesisir dan bukan desa pesisir Batu Bara...
13
2.1.
Hasil-hasil penelitian terdahulu...
17
3.1.
Variabel yang digunakan dalam analisis skalogram...
35
3.2.
Variabel yang digunakan dalam PCA...
39
3.3.
Tabel alur metodologi penelitian...
43
4.1.
Letak dan kondisi geografis Kabupaten Batu Bara...
45
4.2.
Luas wilayah per kecamatan di Kabupaten Batu Bara Tahun 2013...
46
4.3.
Distribusi jenis
great group
tanah per kecamatan di Kabupaten
Batu Bara...
50
4.4.
Jumlah hari hujan, curah hujan, rata-rata suhu udara dan kelembaban
Kabupaten Batu Bara Tahun 2009-2012...
52
4.5.
Jenis dan luas penggunaan lahan di Kabupaten Batu Bara
Tahun 2012...
58
4.6.
Jumlah penduduk Kabupaten Batu Bara Tahun 2007 – 2012...
59
4.7.
Jumlah penduduk menurut kecamatan dan letak desa Tahun 2010...
60
4.8.
Jumlah dan persentase penduduk 15 tahun keatas di Kabupaten
Batu Bara menurut kegiatan seminggu yang lalu Tahun 2010-2012....
61
4.9.
Persentase penduduk 15 tahun yang bekerja di Kabupaten Batu Bara
menurut kecamatan dan lapangan usaha Tahun 2012...
62
4.12.
Jumlah sekolah di Kabupaten Batu Bara per kecamatan Tahun 2012..
64
4.13.
Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Batu Bara menurut
kecamatan Tahun 2012...
65
4.14.
Jenis, bentuk dan lokasi wisata di Kabupaten Batu Bara...
66
4.15.
Hasil analisis skalogram desa-desa pesisir Kabupaten Batu Bara...
75
4.16.
Nilai
eigenvalue
hasil analisis komponen utama...
80
4.17.
Hasil analisis kelompok pada desa-desa di Kabupaten Batu Bara...
82
4.18.
Karakteristik masing-masing
cluster
desa di Kabupaten Batu Bara...
84
4.19.
Perbandingan hasil analisis skalogram dan
multivariate
pada desa
pesisir Kabupaten Batu Bara...
89
4.20.
Matriks klasifikasi desa hasil analisis fungsi diskriminan...
90
4.21.
Matriks
cluster
desa hasil analisis fungsi diskriminan...
88
No.
Judul
Halaman
1.1.
PDRB perkapita Batu Bara dan beberapa daerah di Sumatera Utara
Tahun 2010-2012...
7
1.2.
Perkembangan persentase penduduk miskin Sumatera Utara dan
Batu Bara Tahun 2007-2012...
11
1.3.
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Sumatera Utara dan
Batu Bara Tahun 2007-2012...
12
2.1.
Kerangka pemikiran penelitian...
29
3.1.
Peta lokasi penelitian...
30
4.1.
Peta batas administrasi Kabupaten Batu Bara...
47
4.2.
Peta topografi Kabupaten Batu Bara ...
49
4.3.
Peta jenis tanah di Kabupaten Batu Bara...
51
4.4.
Peta curah hujan di Kabupaten Batu Bara...
53
4.5.
Peta DAS di Kabupaten Batu Bara...
55
4.6.
Peta geologi di Kabupaten Batu Bara...
56
4.7.
Peta penggunaan lahan di Kabupaten Batu Bara...
57
4.8.
Persentase penduduk 15 tahun yang bekerja di Kabupaten Batu Bara
berdasarkan lapangan usaha Tahun 2012...
61
4.9.
Sebaran desa Kabupaten Batu Bara berdasarkan nilai IPD...
70
4.10. Peta tematik Kabupaten Batu Bara berdasarkan hierarki
perkembangan desa...
74
4.11. Perbandingan nilai rata-rata, minimum dan maksimum IPD antara
desa pesisir dan bukan pesisir serta desa umumnya di Kabupaten
Batu Bara...
76
4.12. Grafik nilai tengah kelompok peubah-peubah
cluster
desa di
Kabupaten Batu Bara...
83
No.
Judul
Halaman
1.
Nilai variabel potensi desa Kabupaten Batu Bara Tahun 2011... 103
2.
Nilai indeks setiap variabel potensi desa Kabupaten Batu Bara,
Tahun 2011... 121
3.
Factor-variable correlations (factor Loadings), based on correlations
hasil Analisis Komponen Utama (PCA)... 141
4.
Communalities, based on correlations
hasil analisis komponen utama
(PCA)... 143
5.
Nilai factor scores
setiap desa hasil analisis komponen utama (PCA)... 145
6.
Classification of cases
setiap desa hasil analisis fungsi diskriminan... 149
ABSTRAK
Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu daerah pesisir di Sumatera
Utara yang memiliki potensi ekonomi yang besar. Pada tahun 2012 PDRB per
kapita Kabupaten Batu Bara sebesar 55,13 juta rupiah dan tertinggi di Sumatera
Utara. Namun Kabupaten Batu Bara memiliki permasalahan kompleks yaitu
tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang
utamanya terjadi di daerah pesisir. Dalam menyusun strategi pengembangan desa
pesisir di Kabupaten Bara diperlukan suatu penelitian untuk mengidentifikasi
potensi dan arah pengembangannya. Berdasarkan analisis hierarki desa dengan
skalogram (untuk mengetahui keragaan relatif tingkat perkembangan desa-desa
pesisir dibanding desa lainnya), menunjukkan bahwa dari 19 desa pesisir di
Kabupaten Batu Bara hanya satu desa tergolong hierarki I (perkembangan maju)
yaitu desa Tanjung Tiram, selanjutnya hierarki II (perkembangan sedang)
berjumlah 7 desa dan hierarki III (perkembangan rendah) berjumlah 11 desa.
Berdasarkan analisis
multivariate
, ada tiga
cluster
perkembangan desa dengan
karakteristik yang berbeda yaitu:
Cluster
I (akses terhadap pusat pemerintahan
baik, tingkat kesejahteraan sedang, sarana pendidikan dan kesehatan kurang
memadai, sarana ekonomi cukup memadai, kualitas lingkungan baik, tingkat
partisipasi warga sedang);
Cluster
II (tingkat kesejahteraan tinggi, akses terhadap
pusat pemerintahan cukup baik, jumlah dan akses sarana pendidikan dan
kesehatan yang memadai, sarana ekonomi memadai, kualitas lingkungan baik,
partisipasi warga tinggi); dan
Cluster
III (tingkat kesejahteraan rendah, akses
terhadap pusat pemerintahan rendah, sarana ekonomi rendah, kualitas lingkungan
rendah, partisipasi warga rendah). Arahan pengembangan disesuaikan dengan
karakteristik masing-masing wilayah yaitu:
Cluster
I (peningkatan jumlah dan
jenis usaha rumahtangga/kecil/mikro, meningkatkan jumlah dan akses pada sarana
pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kualitas SDM dan peran serta aktif
warga);
Cluster
II (penguatan usaha rumahtangga/kecil/mikro, meningkatkan
kualitas SDM melalui peningkatan akses terhadap sarana teknologi informasi dan
lembaga kursus/keterampilan); dan
Cluster
III (meningkatkan taraf hidup
masyarakat, pengembangan jumlah dan jenis usaha rumahtangga/kecil/mikro,
peningkatan jumlah dan akses terhadap sarana/prasarana pendidikan, kesehatan
dan ekonomi serta penataan lingkungan kumuh).
Kata Kunci: Potensi, hierarki desa (analisis
skalogram
), cluster desa (analisis
IN BATU BARA DISTRICT
ABSTRACT
Batu Bara District is one of the coastal areas in North Sumatera which
has great economic potency. In 2012, PDRB per capita in Batu Bara District was
55.13 million rupiahs which was the highest PDRB in North Sumatera. However,
Batu Bara District still has complex problems such as high level of poverty and
low level of the quality of human resources in the coastal area. In organizing the
strategy of coastal area development in Batu Bara District, it is necessary to
conduct a research in order to identify the potency and the direction of its
development. Based on the analysis of village hierarchy with a scalogram (in
order to find out the relative performance of the development level of the coastal
areas, compared with the other villages), it was found that of 19 coastal villages
in Batu Bara District, only one of them, Tanjung Tiram village, was in the
category of hierarchy I (high development), seven of them were in the category of
hierarchy II (moderate development), and 11 of them were in the category of
hierarchy III (low development). Based on multivatriate analysis, it was found
that there were three clusters of village development with different
characteristics: Cluster I (included good access to central Administration,
moderate level of welfare, inadequate education and health facilities, adequate
economic facilities, good quality of environment, and moderate level of public
participation); Cluster II (included high level of welfare, good access to central
Administration, adequate access to education and health facilities, adequate
economic facilities, good quality of environment, and high level of public
participation); and Cluster III (included low level of welfare, bad access to
central Administration, bad economic facilities, bad quality of environment, and
low level of public participation). The direction of development was adjusted to
the characteristics of each area: Cluster I (included improving the number and
types of home/small/micro businesses, improving the number of and access to
education and health facilities, and improving human resources and active public
participation); Cluster II (included empowering home/small/micro businesses and
improving the quality of human resources through the improvement of the access
to technological information and course/skill institutions); and Cluster III
(included improving people’s standard of living, developing the number and types
of home/small/micro businesses, improving the number of and access to
education, health, and economic facilities and infrastructure, and organizing slum
areas).
PENDAHULUAN
1.1. Latar
belakang
Kawasan pesisir
(coastal zone)
merupakan daerah pertemuan antara
ekosistem laut dan darat yang merupakan tempat habitat bagi berbagai mahluk
hidup serta mengandung berbagai sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan
yang bermanfaat bagi manusia. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,
wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Karena banyaknya sumberdaya
yang terkandung, menjadikan kawasan ini sebagai konsentrasi pemukiman
penduduk beserta dengan segenap kiprah pembangunannya. Lebih dari separuh
jumlah penduduk dunia bermukim di kawasan ini. Edgreen (1993)
dalam
Priyanto
(2010) memperkirakan bahwa sekitar 50-70 % dari 5,3 milyar penduduk di bumi
sekarang ini tinggal di kawasan. Di Indonesia sebanyak 324 kabupaten/kota
terletak di kawasan pesisir dan lebih dari 60 persen penduduk Indonesia tinggal di
kawasan pesisir (Kementerian Perikanan dan Kelautan, 2011).
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia. Indonesia memiliki
±
17.504 pulau dengan garis pantai
sepanjang 104.000 km (Kementerian Perikanan dan Kelautan, 2012). Berdasarkan
Konvensi Hukum Laut (
UNCLOS
) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas
wilayah seluas 3,2 juta km² yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta
hak ekslusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan
terkait seluas 2,7 km² pada perairan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) sampai
dengan 200 mil dari garis pantai. Sebagai negara kepulauan, wilayah pesisir
merupakan kawasan strategis yang memiliki berbagai keunggulan komparatif dan
kompetitif. Hal ini membuat wilayah pesisir berpotensi menjadi penggerak utama
(
prime mover)
potensi ekonomi nasional. Bahkan secara historis menunjukkan
bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat
karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya.
Terdapat beberapa jenis potensi yang terdapat di wilayah pesisir. Menurut
Dahuri
et al
., (2001) potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir dan
lautan secara garis besar terdiri dari tiga kelompok: (1) sumberdaya dapat pulih
(
renewable resources
), (2) sumberdaya tak dapat pulih (
non-renewable
resources
), dan (3) jasa-jasa lingkungan (
environmental services
). Sumberdaya
dapat pulih adalah sumberdaya yang dapat dikembangkan atau dilestarikan,
seperti hutan
mangrove
(bakau), terumbu karang, rumput laut, dan sumberdaya
perikanan laut. Sumberdaya yang tidak dapat pulih terdiri dari seluruh mineral dan
geologi, termasuk ke dalamnya antara lain minyak gas, batu bara, emas, timah,
nikel, biji besi, batu bara, granit, tanah liat, pasir, kaolin, kerikil, dan batu pondasi.
Jasa-jasa lingkungan meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai tempat
rekreasi dan parawisata, media transportasi dan komunikasi, sumber energi,
sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan, penampungan limbah,
pengatur iklim, kawasan lindung, dan sistem penunjang kehidupan serta fungsi
Potensi wilayah pesisir yang pemanfaatan paling besar dan menjadi tulang
punggung wilayah pesisir adalah perikanan, baik perikanan tangkap maupun
budidaya. Berdasarkan Kementerian Perikanan dan Kelautan (2012) pada tahun
2011 volume produksi perikanan tangkap sebesar 5.409.100 ton yang terdiri dari
5.061.680 ton (93,58 persen) perikanan laut dan sisanya 347.420 ton (6,42 persen)
berasal dari perikanan tangkap lainnya. Selain berasal dari perikanan tangkap,
wilayah pesisir juga menyimpan potensi melalui perikanan budidaya. Berdasarkan
sumber yang sama, pada tahun 2011 volume produksi perikanan budidaya di
Indonesia tercatat sebesar 6.976.750 ton, dimana sebanyak 5.469.845 ton (78,40
persen) merupakan perikanan budidaya laut dan tambak.
Dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB), sub sektor perikanan pada tahun
2007 menyumbang 2,47 persen terhadap PDB total Indonesia dengan nilai PDB
sebesar 97.967,30 milliar rupiah kemudian meningkat menjadi 2,77 persen
(137.249,50 milliar rupiah) pada tahun 2008. Pada tahun 2012, sub sektor
perikanan berhasil menyumbang 3,10 persen terhadap total PDB (255.332,30
milliar rupiah). Selain dari sektor primer, pada sektor industri, pada tahun 2007
industri perikanan juga menyumbang sekitar 2,75 persen terhadap PDB total
Indonesia dengan nilai 108.512,60 milliar rupiah dan terus meningkat menjadi
3,38 persen (217.137,30 miliar rupiah) pada tahun 2010. Pada Tabel 1.1 berikut
disajikan perkembangan nilai PDB sektor perikanan dan indutri perikanan serta
Tabel 1.1. Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan dan industri perikanan
atas dasar harga berlaku Tahun 2007-2012
Sektor
2007 2008 2009 2010 2011 2012
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]
Nilai PDB (Milliar Rupiah)
Perikanan
97.697,3
137.249,5
176.620,0
199.383,4
226.691,0
255.332,3
Industri Perikanan
108.512,6
150.888,0
193.165,4
217.137,3
-
-PDB Total
3.950.893,2 4.948.688,4 5.606.203,4 6.446.851,9 7.422.781,2 8.241.864,3
PDB Tanpa Migas
3.534.406,5 4.427.633,5 5.141.414,4 5.941.951,9 6.797.879,2 7.604.759,1
Persentase PDB Perikanan (%)
Terhadap PDB Total
2,47
2,77
3,15
3,09
3,05
3,10
Terhadap PDB Tanpa Migas
2,76
3,10
3,44
3,36
3,33
3,36
Persentase PDB Industri Perikanan (%)
Terhadap PDB Total
2,75
3,05
3,45
3,38
-
-Terhadap PDB Tanpa Migas
3,07
3,41
3,76
3,67
-
-Sumber: Statistik Indonesia, 2012
Keterangan: -) Data tidak tersedia
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daerah pesisir sebagai penghasil
utama perikanan mempunyai peran yang sangat besar dalam perekonomian dan
tentunya masih memiliki potensi yang besar dan peluang untuk pengembangan.
Pada Tabel 1.2 berikut disajikan potensi dan peluang pengembangan perikanan
khususnya perikanan budidaya berdasarkan jenis budidaya. Dimana peluang
budidaya perikanan di laut masih sangat terbuka, yaitu dari potensi sebesar
12.545.072 hektar yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 117.649 hektar saja
atau masih sekitar 1 persen saja dari potensi yang ada.
Tabel 1.2. Potensi lahan budidaya perikanan dan tingkat pemanfaatan
di Indonesia (ha) Tahun 2011
Jenis Budidaya
Potensi
Pemanfaatan
Peluang
pengembangan
[1] [2] [3] [4]
1.
Tambak 2.963.717
682.857
2.280.860
2.
Kolam 541.100
146.577
394.523
3.
Perairan Umum
158.125
1.290
156.735
4.
Sawah 1.536.289
165.688
1.370.601
Berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 136/3240.K Tentang
Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Utara
Tahun 2005-2010, Provinsi Sumatera Utara terletak pada pesisir geografis antara
1°- 4° LU dan 98° - 100° BT, sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD), sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi
Sumatera Barat dan Provinsi Riau. Pantai Barat Sumatera Utara berhadapan
langsung dengan Samudera Hindia, sedangkan Pantai Timur berhadapan langsung
dengan Selat Malaka. Luas areal Provinsi Sumatera Utara adalah 711.680 km²
(3,72% dari luas areal Republik Indonesia).
Berdasarkan sumber yang sama, Pantai Barat Sumatera Utara memiliki garis
pantai sepanjang 763,47 km (termasuk Pulau Nias). Potensi lestari beberapa jenis
ikan di perairan Pantai Barat terdiri dari: ikan pelagis 115.000 ton/tahun, ikan
demersal 78.700 ton/tahun, ikan karang 5.144 ton/tahun dan udang 21.000
ton/tahun. Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara terdiri dari 6 (enam)
Kabupaten/Kota yaitu: Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten
Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Nias dan
Kabupaten Nias Selatan. Luas administrasi kawasan pesisir Pantai Barat mencapai
25.328 km² (sekitar 39,93% dari luas Provinsi Sumatera Utara). Jumlah
pulau-pulau kecil yang terdapat di Pantai Barat Sumatera Utara mencapai 156 pulau-pulau.
Pantai Timur Sumatera Utara memiliki garis pantai sepanjang 545 km.
Potensi Lestari beberapa jenis ikan di perairan Pantai Timur terdiri dari: ikan
pelagis 126.500 ton/tahun, ikan demersal 110.000 ton/tahun, ikan karang 6.800
ton/tahun dan udang 20.000 ton/tahun. Wilayah pesisir Pantai Timur Sumatera
Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Batu
Bara dan Kabupaten Serdang Bedagai. Luas wilayah kecamatan pesisir dibagian
timur Sumatera Utara adalah 43.133,44 km² yang terdiri dari 35 kecamatan pesisir
dengan jumlah desa sebanyak 436 desa. Di Pantai Timur Sumatera Utara hanya
terdapat 6 (enam) pulau-pulau kecil.
Salah satu kabupaten di wilayah pesisir Pantai Timur Sumatera Utara yang
memiliki potensi yang besar adalah Kabupaten Batu Bara. Secara administratif
saat ini Kabupaten Batu Bara terdiri dari 7 kecamatan dan 151 desa/kelurahan
dengan luas wilayah 904,96 km
2. Pada wilayah ini terdapat 21 desa pesisir yang
terletak di 5 kecamatan dengan panjang pantai 58 km. Berikut pada Tabel 1.3
disajikan jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Batu Bara menurut kecamatan dan
lokasi desa.
Tabel 1.3. Jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Batu Bara
menurut kecamatan dan lokasi desa
Kecamatan Desa
pesisir
Bukan
desa pesisir
Jumlah
[1] [2] [3] [4]
1. Sei Balai
-
14
14
2.
Tanjung
Tiram
8 14 22
3.
Talawi
2 18 20
4.
Limapuluh
3 32 35
5. Air Putih
-
19
19
6. Sei Suka
2
18
20
7. Medang Deras
6
15
21
Jumlah
21 130 151
Sumber: BPS Kabupaten Batu Bara, 2013
Dengan luas wilayah dan panjang pantai sedemikian tersebut tentunya
wilayah pesisir Batu Bara menyimpan potensi yang sangat besar. Beberapa
potensi yang dimiliki antara lain: (1) Memiliki sumberdaya perikanan tangkap dan
dikembang
dukungan
s
takeholde
melalui be
Berb
Bara meru
yang dapa
kapita, dim
Pada Gam
Batu Bara
secara um
Bara ini d
salah satun
Gambar
Asahan
Simalung
Serdang
Medan
Batu Bar
Sumut
Jutaan Rp
As
gkan sebag
dan respo
er
yang ter
erbagai prog
bagai data
upakan dae
at memberi
mana Kabup
mbar 1.1 dis
a sebesar 55
mum yang s
disebabkan
nya PT. Ina
1.1. PDRB
Tahun
gun
Bedagai
ra
0
10
20
30
40
50
60
p.
sahan
Sim
gai lokasi w
ons yang p
rkait untuk
gram untuk
yang akan
rah potensi
ikan gamba
paten Batu B
sajikan bahw
5,13 juta ru
ebesar 26,5
karena ban
alum.
perkapita B
2010-2012
2010
17,85
12,67
16,33
39,72
44,14
21,11
malungun
S
wisata pant
positif dari
meningkat
meningkatk
disajikan m
i perekonom
aran potens
Bara adalah
wa pada ta
upiah jauh l
57 juta rupi
nyaknya ind
Batu Bara da
Serdang Beda
tai & wisat
i pemerinta
tkan keseja
kan kesejah
menunjukk
mian yang t
si tersebut
h yang palin
ahun 2012 P
lebih tinggi
iah. Tinggin
dustri besar
an beberapa
2011
20,24
14,09
18,12
44,21
50,06
23,99
agai
Meda
ta bahari;
ah kabupat
ahteraan ma
hteraan masy
kan bahwa
tinggi. Sala
adalah tin
ng tinggi di
PDRB perk
i dibanding
nya PDRB
r yang bero
a daerah di S
an
Batu Ba
dan (4) Ad
ten, DPRD
asyarakat p
yarakat pes
Kabupaten
ah satu indi
ngkat PDRB
Sumatera U
kapita Kabu
Sumatera U
Sebagaimana daerah pesisir lainnya, sektor perikanan juga memberikan
kontribusi yang besar bagi perekonomian Kabupaten Batu Bara. Informasi pada
Tabel 1.4 Menunjukkan bahwa sub sektor perikanan pada Tahun 2009
menyumbang 3,96 persen terhadap PDRB total Kabupaten Batu Bara dengan nilai
PDRB sebesar 574,33
milliar rupiah, angka ini relatif tidak berubah sampai
dengan Tahun 2012. Pada Tahun 2012, sub sektor perikanan menyumbang 3,75
persen terhadap total PDRB (788,30
milliar rupiah). Sektor yang memberikan
kontribusi terbesar bagi PDRB Kabupaten Batu Bara adalah sektor industri yakni
mencapai 33,50 persen pada tahun 2012 dengan nilai PDRB sebesar 11,26 trilliun
rupiah, dimana sebesar 33,50 persen disumbang industri pengolahan makanan,
minuman dan tembakau yang salah satunya adalah industri pengolahan hasil
perikanan.
Tabel 1.4. Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan dan industri pengolahan
atas dasar harga berlaku Tahun 2009-2012
Sektor
2009 2010 2011 2012
[1] [2] [3] [4] [5]
Nilai PDB (Milliar Rupiah)
Perikanan
574.330,31 642.639,86 721.103,43 788.295,69
Industri Pengolahan
7.772.676,61
8.888.294,31 10.172.560,42 11.260.000,33
PDB
Total
14.517.227,58 16.590.572,11 18.994.983,01 21.006.930,39
Persentase Terhadap PDB Total (%)
Perikanan
3,96 3,87 3,80 3,75
Industri Makanan, Minuman
dan Tembakau
53,54 53,57 53,55 53,60
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara 2013, (Data Diolah)
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daerah pesisir sebagai penghasil
utama perikanan mempunyai peran yang sangat besar dalam perekonomian dan
tentunya masih memiliki potensi yang besar dan peluang untuk pengembangan.
pada Tahun 2012 adalah sebesar 29,44 ribu ton yang terdiri dari 28,66 ribu ton
(97,34 persen) berasal dari laut dan sisanya sebesar 781,86 ton (2,66 persen)
merupakan hasil budi daya perikanan darat. Jumlah produksi ikan ini diyakini
masih jauh dari potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Batu Bara baik perikanan
laut maupun perikanan darat.
Tabel 1.5. Jumlah produksi ikan di Kabupaten Batu Bara
menurut kecamatan dan lokasi tangkapan
Kecamatan
Perikanan
laut
Perikanan
darat
Jumlah
[1] [2] [3] [4]
1. Sei Balai
-
99,92
99,92
2. Tanjung Tiram
14.960,00
75,80
15.035,80
3. Talawi
2.997,00
32,10
3.029,10
4. Limapuluh
1.805,00
29,10
1.834,10
5. Air Putih
-
81,82
81,82
6. Sei Suka
1.878,00
33,27
1.911,27
7. Medang Deras
7.020,00
429,85
7.449,85
Jumlah 28.660,00
781,86
29.441,86
Sumber: BPS Kabupaten Batu Bara, 2013
Berbagai penjelasan tersebut di atas sudah jelas menggambarkan betapa
wilayah pesisir menyimpan potensi yang sangat besar. Akan tetapi pada
kenyataannya yang terjadi sampai saat ini adalah bahwa kawasan pesisir masih
sangat termarjinalkan oleh karena desa-desa pesisir sangat berpotensi menjadi
kantong-kantong kemiskinan. Masyarakat pesisir yang mendiami desa-desa
pesisir kehidupannya sangat memprihatinkan, terampas hak-haknya sehingga
menjadi miskin. Kemiskinan di daerah pedesaan menjadi penyebab dan akibat
terjadinya kerusakan sumberdaya alam pedesaan yang berdampak pada
masyarakat luas (Rustiadi., et al., 2001). Kesalahan pelaksanaan pembangunan
selama ini karena proses perencanaan pembangunan yang dilakukan masih
dibalik amanat yang diterimanya, pemerintah berfungsi melayani/memfasilitasi
masyarakat yang berkepentingan secara langsung di dalam pemanfaatan
sumberdaya yang ada.
Kemiskinan dan tekanan-tekanan sosial ekonomi yang dihadapi oleh
rumahtangga nelayan di desa pesisir berakar dari faktor-faktor kompleks yang
saling terkait. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan kedalam faktor alamiah
dan non alamiah. Faktor alamiah berkaitan dengan fluktuasi musim penangkapan
dan struktur alamiah sumberdaya ekonomi desa. Faktor non alamiah berhubungan
dengan keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan, ketimpangan dalam
sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang pasti,
lemahnya jaringan pemasaran dan belum berungsinya koperasi nelayan yang ada,
serta dampak negatif kebijakan modernisasi perikanan yang telah berlangsung
sejak seperempat abad terakhir ini.
Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu daerah pesisir yang memiliki
potensi perekonomian yang besar, namun di sisi lain masih memiliki
permasalahan kompleks yaitu tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya
kualitas sumberdaya manusia. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa
Kabupaten Batu Bara memiliki nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
atas dasar harga berlaku Tahun 2012 tercatat sebesar 21,01 trilliun rupiah dan atas
harga konstan sebesar 8,11 trilliun rupiah serta dengan PDRB perkapita atas dasar
harga berlaku sebesar 55.132.971 rupiah dan merupakan yang tertinggi di
Sumatera Utara. Namun pada waktu yang sama persentase penduduk miskin
secara makro di Kabupaten Batu Bara sebesar 11,24 persen lebih tinggi dari
menunjuk
sepenuhny
tingginya
perusahaa
Gambar 1
Bara dan S
Gambar
Sela
ditunjukka
rendah.
dimana ni
rata Suma
IPM Kabu
dua puluh
IPM di S
2012).
1
1
1
1
1
2
Persen
kkan bahwa
ya dinikmat
nilai PDRB
an industri b
1.2. berikut
Sumatera U
r 1.2. Perkem
Batu B
ain tingkat
an oleh kua
Hal ini dig
ilai IPM Ka
atera Utara.
upaten Batu
h lima di Su
Sumatera U
13,9 17,8
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
2007
potensi per
ti oleh masy
B Kabupate
besar sepert
disajikan p
Utara dari Ta
mbangan P
Bara Tahun
kemiskinan
alitas sumbe
gambarkan
abupaten Ba
. Pada Gam
u Bara terca
umatera Ut
Utara adalah
12,55 89 13,62008
Sum
rekonomian
yarakat Batu
en Bara ini
ti PT. Inalu
perkembang
ahun 2007-2
ersentase Pe
n 2007-2012
n yang ma
er daya man
melalui In
atu Bara m
mbar 1.3 di
atat sebesar
tara. Untuk
h sebesar 7
11,51 64
12,8
2009
matera Utara
n Batu Bara
u Bara. Hal
i merupaka
um dan peru
gan persent
2012.
enduduk M
2
asih tinggi,
nusia Kabup
ndeks Pem
masih jauh le
sajikan, bah
72,71 dan h
perbanding
75,13 (BPS
11,31 87 12,22010
Batu Bara
a yang demi
ini dapat di
an kontribu
usahaan bes
tase pendud
Miskin Suma
, kondisi y
paten Batu B
mbangunan
ebih rendah
hwa pada t
hanya mene
gan, pada ta
S Provinsi S
10,83 29 11,
2011
a
ikian besar
imengerti k
si dari beb
sar lainnya.
duk miskin
atera Utara d
yang sama
Bara yang m
Manusia (I
h dibanding
tahun 2012
empati perin
ahun yang
Sumatera U
Gambar
Ting
di Kabupa
Sehingga
dengan ke
buruk, inf
berikut di
BLT 2011
huruf) yan
kaca mata
Sosial) Ta
desa pesis
kategori
mencapai
72,7
68
69
70
71
72
73
74
75
76
2
1.3. Perkem
Batu B
gginya tingk
aten Batu B
dapat dika
emiskinan,
frastruktur
isampaikan
1) dan tingk
ng dibedaka
a kemiskin
ahun 2011
sir Kabupate
sangat mis
55,10 perse
78
73
70,55
2007
mbangan Ind
Bara Tahun
kat kemiski
Bara diperk
atakan bahw
kualitas su
yang terba
informasi
kat pendidik
an menurut
nan mikro
yang dilaku
en Batu Bar
skin, miski
en jauh leb
3,29
70,98
2008
Su
deks Pemba
2007-2012
nan serta re
kirakan mer
wa daerah
umberdaya
atas dan ko
terkait ting
kan (ijazah t
desa pesisi
hasil PPL
ukan oleh B
ra yang men
in, hampir
bih tinggi di
73,8
71,25
2009
umatera Utara
angunan Ma
endahnya ku
rupakan kon
pesisir Kab
manusia y
ondisi buruk
gkat kemisk
tertinggi yan
ir dan desa
LS (Pendata
BPS, persen
nerima BLT
miskin d
ibanding ko
74,19
71,62
2010
Batu Bara
anusia Sum
ualitas sumb
ntribusi dar
bupaten Ba
yang rendah
k lainnya.
kinan (pers
ng dimiliki
bukan pesi
aan Program
ntase rumah
T yaitu ruma
dan rentan
ondisi di de
74,65
2
72,0
2011
a
atera Utara
berdaya ma
ri daerah pe
atu Bara id
h, sanitasi
Pada Tabe
entase pene
dan tingkat
isir. Berdas
m Perlindu
htangga di
ahtangga de
miskin la
esa bukan p
yang sebesar 37,89 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan
masyarakat desa pesisir jauh lebih rendah dibanding masyarakat desa bukan
[image:30.612.134.509.182.355.2]pesisir atau masyarakat Batu Bara pada umumnya.
Tabel 1.6. Perbandingan tingkat kesejahteraan dan pendidikan penduduk
desa pesisir dan bukan desa pesisir Batu Bara
Indikator
Desa
pesisir
Bukan desa
pesisir
Total
[1] [2] [3] [4]
Persentase Penerima BLT 2011
55,10
37,89
41,16
Tingkat Buta Huruf (%), 2010
6,66
3,30
4,16
Ijazah Tertinggi yang Dimiliki (%), 2010
•
Tidak/belum Tamat SD
20,16 12,41 14,38
•
Tamat SD
39,74 33,47 35,06
•
Tamat SLTP
21,10 25,58 24,44
•
Tamat SLTA
16,56 24,78 22,69
•
Tamat Perguruan Tinggi
2,44 3,77 3,43
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, (Data Diolah)
Selanjutnya dilihat dari kemampuan membaca dan menulis, tingkat buta
penduduk di desa pesisir jauh lebih tinggi dibanding penduduk di desa bukan
pesisir yaitu 6,66 persen dibanding 3,30 persen. Dilihat dati tingkat pendidikan
yang ditamatkan, berdasarkan data Sensus Penduduk Tahun 2010, penduduk 15
tahun keatas di desa pesisir Kabupaten Batu Bara pada umumnya hanya tamat SD
yaitu mencapai 39,74 persen. Namun selain itu terdapat juga sekitar 20,16 persen
penduduk dewasa di pesisir Kabupaten Batu Bara yang tidak pernah sekolah atau
tidak tamat SD. Kondisi tersebut tentunya sangat menghawatirkan dan wajib
mendapat perhatian serius, karena hanya 40,10 persen saja yang tamat pendidikan
dasar (SLTP). Demikian pula jika dibanding dengan wilayah bukan pesisir,
Masih terpuruknya kehidupan masyarakat pesisir tersebut salah satunya
disebabkan bahwa pada masa lalu, paradigma pembangunan lebih
memprioritaskan masyarakat perkotaan sedangkan masyarakat pesisir kurang
diperhatikan. Pemerintah daerah tidak membedakan secara khusus kawasan
pesisir dengan kawasan lainnya. Sudah saatnya paradigma tersebut dirubah
dengan memberikan perhatian khusus terhadap masyarakat pesisir agar mampu
mengejar ketertinggalan mereka akibat paradigma masa lampau.
Salah satu upaya untuk mengejar ketertinggalan desa-desa pesisir
Kabupaten Batu Bara ini adalah dengan mengembangkan desa-desa pesisir
tersebut. Dalam rangka pengembangan desa-desa pesisir tersebut, perlu terlebih
dahulu diketahui akar permasalahan dan potensi desa-desa pesisir. Langkah awal
dalam upaya pemanfaatan wilayah pesisir secara berkelanjutan adalah melakukan
kegiatan identifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat desa pesisir. Pemahaman
yang menyeluruh tentang kondisi ini dapat dikernbangkan untuk pengelolaan
sumberdaya pesisir dan lautan secara berkelanjutan.
Dengan demikian perlu dilakukan reorientasi kebijakan terhadap pola
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir di Kabupaten Batu
Bara. Sebagai langkah awal dalam menciptakan prakondisi reorientasi kebijakan
pola pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir Kabupaten Batu Bara, maka
dilakukan penelitian yang dapat mengetahui tingkat perkembangan wilayah
1.2. Perumusan
Masalah
Telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah di wilayah
pesisir oleh para
stakeholder
, namun ternyata belum dapat memberikan hasil yang
optimal. Dengan kata lain desa-desa pesisir tersebut pembangunannya tetap
termarginalkan. Berdasarkan hal tersebut rumusan permasalahan pokok dalam
penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana keragaan relatif tingkat perkembangan desa-desa pesisir
dibandingkan dengan desa lainnya di Kabupaten Batu Bara?
2.
Bagaimana karakteristik dari masing-masing
cluster
perkembangan desa?
3.
Bagaimana arah pengembangan desa-desa pesisir di Kabupaten Batu Bara ke
depan, berdasarkan karakteristik dari masing-masing
cluster
perkembangan
desa tersebut?
1.3. Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan
penelitian ini adalah :
1.
Mengetahui keragaan relatif tingkat perkembangan desa-desa pesisir
dibandingkan dengan desa lainnya di Kabupaten Batu Bara;
2.
Mengetahui karakteristik dari masing-masing
cluster
perkembangan desa;
3.
Memberikan arahan strategis pengembangan desa-desa di Kabupaten Batu
Bara ke depan, berdasarkan karakteristik dari masing-masing
cluster
1.4. Manfaat
Penelitian
Sebagai suatu kajian analisis pengembangan wilayah, secara akademik
penelitian ini kiranya dapat bermanfaat sebagai informasi awal untuk penelitian
lebih lanjut tentang berbagai potensi dan arah pengembangan desa pesisir di
Provinsi Sumatera Utara umumnya dan Kabupaten Batu Bara khususnya. Dengan
kata lain, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi salah satu
aspek pengembangan potensi di wilayah pesisir Kabupaten Batu Bara, yang
sampai sekarang ini belum banyak diketahui dan dikaji. Pada gilirannya,
penelitian ini kiranya memberikan manfaat bagi penentu kebijakan untuk
mengelola dan memberdayakan potensi di wilayah pesisir Kabupaten Batu Bara
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Penelitian Sebelumnya.
Beberapa hasil penelitian sebelumnya terkait analisis potensi dan arah
[image:34.612.125.563.261.634.2]pengembangan desa pesisir disajikan pada tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1. Hasil-hasil penelitian terdahulu
No.
Nama
Judul
Variabel/Metode
Kesimpulan
[1] [2] [3] [4] [5]
1
Achmad Fahrudin
(1996)
Analisa
Ekonomi
Pengelolaan
Lahan
Pesisir
Kabupaten
Subang, Jawa Barat
Penilaian
Ekonomi
Sumber
Daya
Pesisir
dilakukan dengan Tiga
Tahap:
Tahap
identifikasi
manfaat
dan
keterkaitan
antar
komponen sumberdaya
Tahap
kuantifikasi
manfaat dan fungsi ke
dalam nilai uang
Tahap
penilaian
alternatif
alokasi
pemnfaatan
lahan
pesisir
Lahan pesisir Kabupaten
Subang
yang
dimanfaatkan
untuk
hutan mangrove dengan
pola tambak tumpangsari
seluas
5.328,60
ha
dengan nilai ekonomi
Rp.79,92
milyar/tahun.
Untuk tambak rakyat
seluas
8.354,28
ha
(Rp.14,87 milyar/tahun)
Untuk
meningkatkan
nilai ekonomi total lahan
lebih
baik
dengan
meningkatkan
produktifitas 3.420,72 ha
tambak dari 8.354,28 ha
tambak yang sudah ada
2
Andreas D. Patria
(1999)
Analisis
Kebijakan
Pengembangan
Pariwisata
Pesisir
dengan
Pendekatan
Pengelolaan
Sumberdaya
Pesisir
yang
Berkelanjutan
(Studi Kasus di Pesisir
Utara Pulau Bintan
Kepulauan Riau)
Manfaat
dan
kerugian
(biaya) yang dirasakan
masyarakat dengan AHP,
Analisis
dinamika
perilaku masyarakat
Terjadi perubahan pola
hidup masyarakat dan
kesenjangan pendapatan
dan kesempatan kerja
Sistem ganti rugi telah
menyebabkan mayarakat
kehilangan
hak
atas
tanah
dan
akses
ke
peraiaran
Terjadinya kesenjangan
struktur
penguasaan
lahan
No.
Nama
Judul
Variabel/Metode
Kesimpulan
[1] [2] [3] [4] [5]
3.
Harrison (2000)
Analisa
Kebijakan
Pengelolaan
Sumberdaya
Hutan
Mangrove di Kawasan
Pesisir Kapet Batulicin
Kota Baru Kalimantan
Selatan
Analisis kebijakan dengan
Analytical
Hierarchy
Process (AHP)
Permasalahan
paling
dominan
adalah
koordinasi dari setiap
sektor
yang
terlibat
dalam
pengelolaan
sumberdaya mangrove
Adanya tumpang tindih
fungsi dan kewenangan
serta produk peraturan
antara Dinas Kehutanan
dan Pariwisata
Untuk
meningkatkan
nilai ekonomi total lahan
lebih
baik
dengan
meningkatkan
produktifitas 3.420,72 ha
tambak dari 8.354,28 ha
tambak yang sudah ada
4.
Marintan Rosienti
Sinurat (2000)
Analisis Kelembagaan
dalam
Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir di
Wilayah Pesisir Timur
Rawa Sragi Kabupaten
Lampung Selatan
Analisis evaluasi lahan,
Penentuan
prioritas
kegiatan
pemanfaatan
ruang, Analisis fungsi dan
wewenang kelembagaan,
Analisis
SWOT
kelembagaan
Evaluasi
kesesuaian
lahan pertanian sawah
pada umumnya sangat
sesuai
Prioritas
penggunaan
lahan menurut persepsi
masyarakat
adalah
tambak
Faktor
yang
mempengaruhi
terjadinya konflik dalam
pemanfaatan
ruang
adalah
terjadinya
penyimpangan
pemanfaatan ruang
5.
Sugiarti (2000)
Analisis
Kebijakan
Pemanfaatan
Ruang
Wilayah
Pesisir
di
Kota Pasuruan
Prioritas Penggunaan
Lahan, Persepsi
Stakehoolder
, SIG
Aspirasi
masyarakat
merupakan elemen penting
dalam
pengunaan
lahan
pantai dan perubahannya
6.
Bambang
Deliyanto (2001)
Studi
Evaluasi
Dampak
Pembangunan Wisata
Bahari
terhadap
Lansekap
Lahan
Pantai
Observasi
Lapangan
Parameter
Lansekap
Pantai,
Persepsi
dan
Aspirasi
Masyarakat,
Rencana
Tata
Ruang
Wilayah
Perlu
adanya
pengembangan
dampak
positif
yang
disertai
pengelolaan dampak negatif
pada
kegiatan
pengembangan
wisata
No.
Nama
Judul
Variabel/Metode
Kesimpulan
[1] [2] [3] [4] [5]
7.
Zarmawis Ismail
(2001)
Pengembangan
Potensi
Sosial
Ekonomi Masyarakat
Wilayah Pesisir yang
Berkelanjutan
Aspek
Sosial
(kependudukan
dan
aktivitas masyarakat),
Aspek
Ekonomi
(pekerjaan, pendapatan
dan sarana/prasarana)
Aspek
Kebijakan
Pemerintah
Aspek Lingkungan
Konsep
pengembangan
potensi sosial ekonomi
harus didasarkan pada
analisis
faktor-faktor
kekuatan,
kelemahan,
peluang dan tantangan
yang
dihadapi
masyarakat
wilayah
pesisir dan faktor-faktor
yang memfasilitasi upaya
pengembangan
Konsep
pengembangan
potensi sosial ekonomi
harus disesuaikan dengan
kemampuan daerah
8.
M. Saleh Oesman
(2002)
Pola
Keterkaitan
Pengelolaan
Sumberdaya
Pesisir
Pantai
Secara
Berkelanjutan
dalm
Pembangunan
Wilayah di Kabupaten
Lombok Timur
Pengelolaan Sumberdaya
Perikanan, Kelembagaan,
Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan Secara Parsial
Terdapat 5 (lima) dimensi
keterkaitan yaitu:
Dimensi produksi
Dimensi kesejahteraan
Dimensi pola hubungan
antar
stakeholders
Dimensi
pembangunan
wilayah
Dimensi kelembagaan
9.
Slamet Tarno
(2002)
Pengelolaan Wilayah
Pesisir
Berbasis
Masyarakat
Berdasarkan
Pendekatan
Sosiolinguistik (Studi
Kasus Pengelolaan
Wilayah
Pesisir
di
Provinsi Lampung)
Prilaku
Sosial-Komunikasi,
Karakter
Ruang Sosial, Analisis
Spasial
Interaksi perilaku sosial
ekonomi
komunitas
dialek
keterkaitannya
dengan
sumberdaya
pesisir masih kecil
Prilaku
sosiolingistik
komunitas dialek dalam
pengelolaan
pesisir
masih kecil
10.
Yulia Asyiawati
(2002)
Pendekatan
Sistem
Dinamik
Dalam
Penataan
Ruang
Wilayah Pesisir (Studi
Kasus Wilayah Pesisir
Kabupaten
Bantul,
Provinsi
Daerah
Istimewa Yogyakarta)
Kompleksitas kehidupan
masyarakat
dan
aneka
ragam
konflik
menyangkut lokasi dan
perolehan lahan
Faktor yang mempengaruhi
penataan ruang wilayah
pesisir Kabupaten bantul
adalah:
Luas lahan pesisir, luas
lahan
kegiatan
usaha,
jumlah penduduk, jumlah
tenaga kerja, produksi dan
produktivitas
lahan
kegiatan
usaha
serta
No.
Nama
Judul
Variabel/Metode
Kesimpulan
[1] [2] [3] [4] [5]
11.
Rika Ventina dan
Kasyful Mahalli
(2006)
Perencanaan Wilayah
Pesisir
Sebagai
Dampak
Proyek
Marine and Coastal
Resources
Management Project
(MCRMP)
(Studi
kasus di Desa Gambus
Laut Kecamatan Lima
Puluh
Kabupaten
Batubara)
Peningkatan kapasitas dan
pemberdayaan
masyarakat,
Jumlah
produksi, Harga jual dan
Pendapatan nelayan
Terjadi
peningkatan
jumlah produksi ikan,
harga
jual
dan
pendapatan masyarakat
Peranan institusi semakin
meningkat,
khususnya
kelompok nelayan yang
berakibat
terhadap
peningkatan
aktivitas
ekonomi
12.
Maykel A. J.
Karauwan (2007)
Kajian
Pengelolaan
Ekosistem Pesisir di
Sekitar
Kawasan
Reklamasi
Teluk
Manado
Provinsi
Sulawesi Utara
Kondisi ekosistem pesisir
di
sekitar
kawasan
reklamasi Teluk Manado,
Pemanfaatan sumberdaya
lingkungan pesisir
Telah terjadi perubahan
ekosistem pesisir dan laut
yang berpengaruh terhadap
mangrove,
lamun
dan
terumbu karang
13.
Agus Purwoko,
Sumono,
Sirojuzilam, Tavi
Supriana (2009)
Analisis Perencanaan
Peruntukan
dan
Pengelolaan
Ekosistem Mangrove
Untuk Pengembangan
Wilayah di Kawasan
Pesisir Kabupaten Deli
Serdang
Bahan dan peralatan:
citra satelit Landstat
ETM tahun 2006, 2008
dan lainnya, peta rupa
bumi
kecamatan-kecamatan
yang
termasuk
dalam
wilayah penelitian, peta
administrasi
sampai
tingkat desa serta data
sosial
ekonomi
masyarakat.
Analisis:
analisis
biofisik, analisis regresi
dan analisis jalur
Tingkat
kerusakan
ekosistem mangrove dan
kesesuaian peruntukkan
ekosistem mangrove di
Kabupaten
Serdang
Bedagai
dipengaruhi
secara
bersama-sama
oleh
intensitas
pengamanan,
penebangan kayu bakau,
kegiatan
pertambakan,
kegiatan
perk