• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Masyarakat Kecamatan Pahae Julu Terhadap Kehadiran Pt. Sarulla Operation Limited (SOL) di Kabupaten Tapanuli Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Respon Masyarakat Kecamatan Pahae Julu Terhadap Kehadiran Pt. Sarulla Operation Limited (SOL) di Kabupaten Tapanuli Utara"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON MASYARAKAT TERHADAP KEHADIRAN PT. SARULLA OPERATION LTD (SOL) DI KECAMATAN PAHAE JULU KABUPATEN

TAPANULI UTARA

Diajukan Guna Memenuhi Satu Syarat

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

Diajukan Oleh: MARIO VANRICHO

110902057

DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS

Respon Masyarakat Terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara. Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 89 halaman, 37 tabel, 1 lampiran serta 23 kepustakaan.

Kehadiran suatu perusahaan dalam masyarakat dapat memberikan aspek yang positif dan negatif. Perusahaan sebagai suatu sistem, dalam keberlanjutan dan keseimbangannya tidak bisa berdiri sendiri. Perusahaan memerlukan kemitraan timbal balik dengan institusi lain. Selain mengejar keuntungan ekonomi, perusahaan juga memerlukan alam sebagai sumber daya olahannya dan stakeholders lain untuk mencapai tujuannya. Dengan menggunakan pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga keuntungan secara sosial. Udang-Undang Nomor 40 Pasal 74 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas antara lain bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi perseroan tersebut. PT. Sarulla Operation Limited dengan kehadirannya tentunya juga mempunyai tanggung jawab sosial di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Respon Masyarakat Terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara.

Tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif, bertujuan menggambarkan Respon Masyarakat Terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 100 kepala keluarga yang ditarik melalui teknik penarikan sampel cluster random sampling, terdistribusi dari 5 desa yang dianggap mewakili dari 19 desa. Data penelitian yang diperoleh melalui penyebaran angket dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, dimana pengukuran sikap, persepsi, dan partisipasi dilakukan dengan menggunakan skala likert.

Hasil analisa data menyimpulkan bahwa, masyarakat yang diwakili responden memberikan respon dalam bentuk sikap yang netral terhadap kehadiran PT.Sarulla Operation Limited, dengan nilai 0,11. Kemudian respon dalam bentuk persepsi adalah netral dengan nilai 0,26. namun tidak dengan respon dalam bentuk partisipasi adalah negatif dengan nilai -0,19. Dengan demikian kesimpulan keseluruhan analisa data berdasarkan respon sikap, persepsi dan partisipasi respon masyarakat adalah netral dengan nilai 0,06.

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena belas kasihan-Nya yang selalu setia melindungi, menyertai, memimpin dan menguatkan penulis hingga pada pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Respon Masyarakat Kecamatan Pahae Julu Terhadap Kehadiran Pt. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kabupaten Tapanuli Utara”. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi sebagian syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial dari departemen ilmu kesejahteraan sosial, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, universitas sumatera utara.

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis juga banyak menerima bimbingan, nasehat, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Badarudin, Msi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

2. Ibu Hairani Siregar, S.sos, M.SP selaku Ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial.

3. Ibu Mastauli Siregar, S.sos, M.Si selaku dosen pembimbing yang dengan bijaksana dan sabar telah membimbing penulis sejak awal penyusunan skripsi ini.

(5)

5. Teristimewa untuk kedua orang tua saya yang sangat luar biasa yang saya banggakan dan cintai bapak P. Nainggolan dan ibu L.Marpaung yang selalu sabar dan bijak sana dalam memberikan nasehat dan arahan, Terima kasih buat semua pengorbanan yang bapak dan ibu berikan pada saya, dang marnasuda holong ni roham tu au amang inang, sai di tangi Tuhan i ma sude sakkap ni roha ta. Sai di ramoti ma ngolu muna di hatuaon ni umur muna, pasahat ma di tamiangmu asa boi ture hami anakkon muna anggiat boi hami pasonang roha muna

6. Buat Abang dan Adik saya tercinta Samuel Valentino Nainggolan danThalia Paramita Nainggolan semoga apa yang kita cita-citakan bisa kita dapat bersama. Amin

7. Kepada teman teman seangkatan saya kesos 2011 Terima kasih atas semua dukungan, doa dan cinta yang penulis terima selama ini.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak, guna menyempurnakan skripsi ini agar menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, Juli 2015

Mario Vanricho Nainggolan

(6)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 12

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 12

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 12

1.4 Sistematika Penulisan ... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Respon... ... 14

2.1.1 Pengertian Respon ... 14

2.1.2 Proses Terjadinya Respon ... 16

2.1.3 Indikator Respon... 17

2.2 Masyarakat... 20

2.3 Perusahaan... ... 22

2.3.1 Pengertian Perusahaan ... 22

2.3.2 Karakteristik Perusahaan ... 22

2.3.3 Peran Amdal dalam Pembangunan Perusahaan... 23

2.4 Kesejahteraan Sosial ... 26

2.7 Kerangka Pemikiran ... 27

2.8 Definisi Konsep dan Definisi Operasional ... 29

2.8.1 Definisi Konsep ... 29

2.8.2 Definisi Operasional ... 30

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian... ... 33

3.2 Lokasi Penelitian ... 33

3.3 Populasi………... 34

(7)

3.5 Teknik Analisis Data ... 35

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi Kecamatan Pahae Julu ... 36

4.2 Potensi Sumber Daya Alam... 37

4.3 Keadaan Penduduk ... 38

4.3.1 Jumlah Penduduk... 39

4.3.2 Sumber Daya Manusia... 40

4.4 Sarana Prasarana ... 40

4.4.1 Pendidikan ... 41

4.4.2 Rumah Ibadah... 42

4.4.3 Kesehatan ... 42

BAB V ANALISIS DATA 5.1 Karakteristik Identitas Responden…..…... 43

5.2 Indikator Penelitian…... 57

5.2.1 Sikap ... 57

5.2.2 Persepsi ... 73

5.2.3 Respon ... 81

5.3 Hasil Analisis Data ... 87

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan……...,,, ... 88

6.2 Saran…………... ... 89

(8)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS

Respon Masyarakat Terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara. Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 89 halaman, 37 tabel, 1 lampiran serta 23 kepustakaan.

Kehadiran suatu perusahaan dalam masyarakat dapat memberikan aspek yang positif dan negatif. Perusahaan sebagai suatu sistem, dalam keberlanjutan dan keseimbangannya tidak bisa berdiri sendiri. Perusahaan memerlukan kemitraan timbal balik dengan institusi lain. Selain mengejar keuntungan ekonomi, perusahaan juga memerlukan alam sebagai sumber daya olahannya dan stakeholders lain untuk mencapai tujuannya. Dengan menggunakan pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga keuntungan secara sosial. Udang-Undang Nomor 40 Pasal 74 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas antara lain bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi perseroan tersebut. PT. Sarulla Operation Limited dengan kehadirannya tentunya juga mempunyai tanggung jawab sosial di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Respon Masyarakat Terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara.

Tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif, bertujuan menggambarkan Respon Masyarakat Terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) Di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 100 kepala keluarga yang ditarik melalui teknik penarikan sampel cluster random sampling, terdistribusi dari 5 desa yang dianggap mewakili dari 19 desa. Data penelitian yang diperoleh melalui penyebaran angket dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, dimana pengukuran sikap, persepsi, dan partisipasi dilakukan dengan menggunakan skala likert.

Hasil analisa data menyimpulkan bahwa, masyarakat yang diwakili responden memberikan respon dalam bentuk sikap yang netral terhadap kehadiran PT.Sarulla Operation Limited, dengan nilai 0,11. Kemudian respon dalam bentuk persepsi adalah netral dengan nilai 0,26. namun tidak dengan respon dalam bentuk partisipasi adalah negatif dengan nilai -0,19. Dengan demikian kesimpulan keseluruhan analisa data berdasarkan respon sikap, persepsi dan partisipasi respon masyarakat adalah netral dengan nilai 0,06.

(9)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fenomena perkembangan industri di Indonesia yang sangat terkait dengan berbagai pihak dan kegiatan, serta diwarnai oleh unsur kapitalisme, telah mengarahkan kegiatan industri pada beragam konflik mulai dari konflik politis, sosial, budaya hingga ekonomi. Konflik di kawasan industri yang banyak berkembang, dipicu oleh dua perubahan dasar yakni kondisi ekonomi yang ditandai merosotnya kesejahteraan sebagian masyarakat Indonesia pasca krisis moneter, dan kondisi hukum yang masih lemah dalam hal penegakan menyebabkan banyaknya celah pemegang modal memanfaatkan rakyat untuk mendapatkan akses ke sumber daya mineral.

Konflik di kawasan industri biasanya melibatkan banyak aktor intelektual dan juga pemegang modal. Apabila ditelaah, maka dapat dikatakan bahwa konflik bisa terjadi pada dua tataran yaitu tataran makro dan tataran mikro. Pada tataran makro, konflik terjadi pada lingkup horizontal yang lebih luas, mencakup konflik antar departemen pemerintah, lembaga kehutanan dan LSM, dengan pemerintah pusat dan daerah. Pada tataran mikro, konflik terjadi antara masyarakat setempat dengan perusahaan dan pemerintah setempat, atau dengan oknum spekulan dan aparat.

(11)

pemanfaatan mineral timah antara PT. Indumuro Kencana dengan masyarakat Tambang Ilegal (TI) di Bangka Belitung, konflik di kawasan pertambangan emas antara PT. Palu Citra Mineral (PT.CPM) dengan penambang lokal di Kelurahan Poboya Palu, dan konflik Penambang Tanpa Izin (PETI) batubara di Kalimantan Selatan.

Sering sekali perusahaan-perusahaan besar tidak mampu menjalankan tanggung jawab sosialnya di tengah tengah masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan berdiri, sehingga mengakibatkan masyarakat memberikan respon yang negatif karena merasa dirugikan dengan kehadiran perusahaan. Konflik yang terjadi antara warga kecamatan Leupung, Aceh Besar, dengan PT. Semen Andalas Indonesia terjadi karena ketidakpuasan warga Leupung terhadap PT.Semen Andalas Indonesia yang belum mampu mengakomodir keinginan warga dan juga dinilai melanggar kesepakatan bersama.

Aktivitas PT.Semen Andalas Indonesia Lhoknga 18 Desember 2007 yang lalu lumpuh akibat ruas jalan menuju pabrik semen itu diblokir oleh ratusan warga setempat. Pemblokiran itu dilakukan karena PT.Semen Andalas Indonesia dinilai melanggar kesepakatan mengenai penerimaan karyawan putra daerah. Massa yang datang memblokir ruas jalan menuju PT Semen Andalas Indonesia serta melarang setiap karyawan memasuki area pabrik. Larangan itu mengakibatkan aktivitas pabrik semen yang berjarak 17 km dari kota Banda Aceh lumpuh.

(12)

menganggarkan dana sebesar Rp.3 Milyar per tahun untuk program pengembangan masyarakat di dua kecamatan tersebut. Kehadiran perusahaan haruslah mampu memberikan dampak yang baik kepada masyarakat, kepedulian perusahaan terhadap masyarakat tidak hanya sebatas pemberdayaan masyarakat yang terbatas hanya pada satu aspek saja, tetapi juga perusahaan ikut serta dalam menyukseskan pembangunan daerah, termasuk memberdayakan tenaga kerja

lokal. (http://www.serambinews.com/news/pt-sai csr-dan-kearifan-lokal).

Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Sumatera Utara antara lain dengan Pembangunan PLTPB Sarulla. PLTPB Sarulla adalah proyek yang tertunda selama hampir 15 tahun. Bersama dengan Pertamina, UNOCAL, sebuah perusahaan minyak Amerika yang pernah dituntut di pengadilan karena pelanggaran HAM saat membangun pipa LNG dengan junta militer Birma tahun

1994 itu telah mulai proyek eksploitasi. Proyek ini kemudian dibuka kembali dengan Keppres No.15 tahun 2002 tetapi karena biaya pengembangannya semakin membengkak, UNOCAL secara resmi menyatakan berhenti dari proyek. Pada bulan Juli 2003 UNOCAL menjual proyek ini ke PLN dan menyatakan bahwa sebagai gantinya investasi yang telah dikeluarkan sebesar 60 juta dolar Amerika akan diganti oleh PLN.

(13)

Widiono, Presiden Direktur PLN, Ari Sumarno, Presiden Direktur Pertamina, dan Konsorsium yang diwakili oleh Hilmi Panigoro, Presiden Direktur Medco Energi, David Citrin, Vice President Ormat,dan Akira Yokota, Executive Vice President Itchu, pada acara Japan-IndonesiaBusiness Forum. Deed of Assignment dengan PT. PLN (persero); Joint Operation Contract (JOC) dengan PT. Pertamina Geothermal Energy; dan Energy Sales Contract (ESC) dengan PT. Pertamina Geothermal Energy – dan PT. PLN.

Namun Sejak dibukanya areal PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), keresahan masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan terutama para pemudi dan kaum laki-lakinya semakin mencuat karena banyaknya pekerja berasal dari luar daerah. Mereka merasakan perusahaan bersikap tidak adil karena mayoritas karyawan perusahaan berasal dari luar daerah. Kalau pun ada penerimaan tenaga kerja lokal, itu pun mesti didahului dengan aksi tuntutan dari masyarakat dan hanya menempati posisi sebagai satpam/wakar, cheker, tenaga survai dan sedikit sekali sebagai operator apalagi staf kantor dan manajemen. Sedangkan dalam ketentuan AMDAL dikatakan perusahaan sebagian besar akan merekrut tenaga kerja lokal tertera

(14)

Development Bank (ADB) sebagai lembaga keuangan untuk menunda pencairan kredit pinjaman atas perusahaan dimaksud.

Secara umum munculnya masalah kepemilikan tanah di Desa Simataniari dan Desa Sibaganding Sumatera Utara berawal dari perbedaan persepsi dalam menafsirkan hak kepemilikan atas tanah oleh pemerintah dan perusahaan Sarulla Operation Ltd (SOL) dengan masyarakat setempat. Hal ini sangat dimungkinkan karena pada satu pihak persepsi hak kepemilikan atas tanah atau lahan didasarkan atas persepsi dari ketentuan pokok agraria sementara pada pihak yang lain, masyarakat melihat masalah hak kepemilikan atas tanah atau lahan menggunakan acuan hukum adat yang secara turun temurun ada dan telah menjadi tata nilai dalam kehidupan masyarakat. Kompleksitas persoalan diatas ditambah lagi dengan tidak berfungsinya lembaga adat sebagai institusi masyarakat yang legitimet dan muncul dari tata nilai masyarakat setempat. Ketidakberfungsian lembaga adat yang ada justru disebabkan karena pemberlakuan UU No. 5 Tahun 1979 yang berkaitan dengan pembentukan kelembagaan pemerintah desa.

(15)

sumber penghidupan masyarakat dengan pilihan-pilihan lain yang semestinya diberikan oleh pihak perusahaan.

Masyarakat yang sebelumnya merasa dirugikan dan tidak mendapatkan keuntungan dari adanya eksploitasi PLTP ini di beberapa daerah membuat portal- portal atau menutup jalan umum untuk pengangkutan barang milik perusahaan. dipimpin oleh desa (melalui aparat desa atau kesepakatan kampung) dan ada juga yang dikelola oleh kelompok tertentu. Tidak jarang hal ini menimbulkan konflik antara para sopir pengangkutan dengan para penarik pungutan atau penutup jalan tersebut.

Terjadinya pergeseran sosial dan budaya masyarakat. Dulunya petani pemilik dan sekarang menjadi buruh pekerja di perusahaan. Pergeseran pola hidup yang lebih konsumtif, penggunaan narkotika dan minuman keras oleh para anak remaja dan adanya praktek prostitusi, dan lain sebagainya sebagai akibat dari adanya perusahaan pertambangan batubara yang telah mengabaikan hak, nilai- nilai dan budaya masyarakat lokal.

(16)

juga tidak pernah diperdulikan pihak perusahaan. Selain itu, masak jalur pipa saja melewati rumah rumah penduduk, Bahkan, untuk desakan penghentian aktivitas PT SOL ini, dirinya mengancam akan menggelar aksi demonstrasi lanjutan serta memblokade jalan masuk ke lokasi PLTP (http://batakpos-online.com diakses pada tanggal 12 maret 2015, pukul 18:45 WIB).

Permasalahan perusahaan dengan masyarakat yang mendasari ialah Analisis Dampak Linkungan (AMDAL). Ketakutan masyarakat Kecamatan Pahae Julu maupun Pahae Jae ialah letak geografis yang sangat rentan terjadinya Gempa bumi dan terdiri dari sumur-sumur di dalam tanah yang diperkuat dindingnya dengan baja dan beton. Apabila terjadi gerakan - gerakan lateral atau vertikal di kulit bumi, sumur dan pelapisnya besar kemungkinan akan robek, dan bocor. Apalagi kalau kekuatan gempa sudah mencapai kekuatan 8,2 pada skala Richter akibatnya akan sangat fatal. Kesimpulannya, gempa di Tapanuli Utara dan Selatan, sebaiknya dilihat juga sebagai ’lampu kuning’ bagi penguasa dan para perencana PLTP Sarulla, supaya kita tidak mengulangi kesalahan di tempat- tempat lain.

(17)

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup dimasukkan ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan, maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut, sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Keputusan yang optimal tersebut dapat diartikan sebagai keputusan yang berwawasan lingkungan, karena telah memperhatikan aspek positif dan negatif suatu kegiatan usaha. Pembangunan suatu wilayah merupakan hal tidak dapat dihindarkan oleh siapapun.

Oleh karena itu, pengunaan sumber daya alam tersebut harus dilakukan secara bijak .Pemanfaatan sumber daya alam tersebut hendaknya dilandasi oleh tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu menguntungkan secara ekonomi (economically viable), diterima secara sosial (socially acceptable), dan ramah lingkungan (environmentallysound). Proses pembangunan yang diselenggarakan dengan cara tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan generasi masa kini dan yang akan datang.

(18)

Berdasarkan informasi yang dikemukakan sebelumnya peneliti tertarik mengkaji hal ini lebih lanjut dalam bentuk skripsi dengan judul “Respon Masyarakat Kecamatan Pahae Julu terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Ltd (SOL) Kabupaten Tapanuli Utara.”

1.2 Perumusan Masalah

Dari uraian di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana Respon Masyarakat Kecamatan Pahae Julu terhadap Kehadiran PT. Sarulla Operation Ltd (SOL) Kabupaten Tapanuli Utara?”

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3. 1 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah mengetahui respon masyarakat Kecamatan Pahae Julu terhadap kehadiran PT Sarulla Operation Ltd (SOL) Kabupaten Tapanuli Utara.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Dengan tercapainya tujuan penelitian, maka diharapkan agar hasil yang diperoleh dapat memberikan manfaat antara lain :

(19)

b. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara langsung atau tidak langsung bagi kepustakaan Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Berisikan uraian konsep yang berkaitan dengan masalah objek yang diteliti, kerangka pemikiran, defenisi konsep dan defenisi operasional.

BAB III : METODE PENELITIAN

Berisi tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, sumber dan teknik pengumpulan data.

BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Berisikan gambaran umum mengenai lokasi, dimana peneliti melakukan penelitian.

BAB V : ANALISA DATA

Berisi tentang uraian data yang diperoleh dalam penelitian beserta analisisnya.

BAB VI : PENUTUP

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Respon

2.1.1 Pengertian Repon

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, respons dapat diartikan sebagai suatu tanggapan, reaksi dan jawaban. Respons merupakan reaksi terhadap stimulus yang terbatas pada perhatian persepsi, pengetahuan, kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut. Studi tentang respons bisa dilihat dalam perilaku individu atau kelompok. Perilaku merupakan keadaan jiwa atau berfikir dan sebagainya dari seseorang untuk memberikan respons atau tanggapan terhadap situasi di luar subjek tersebut. Respons ada dua jenis yaitu :

a. Respons aktif yang disertai oleh tindakan individu akibat adanya rangsangan.

b. Respons pasif yaitu rangsangan yang tidak disertai oleh tindakan.

(21)

Respon pada prosesnya didahului oleh sikap seseorang, karena sikap merupakan kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah laku kalau ia menghadapi suatu rangsangan tertentu. Jadi berbicara mengenai respon tidak terlepas pembahasannya dengan sikap. Dengan melihat sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu maka akan diketahui bagaimana respon mereka terhadap kondisi tersebut. Louis Thurstone mendefenisikan sikap sebagai berikut : “Jumlah kecenderungan dan perasaan, kecurigaan dan prasangka, pra pemahaman yang mendetail, ide ide, rasa takut, ancaman dan keyakinan tentang suatu hal yang khusus dapat diketahui bahwa cara pengungkapan sikap dapat melalui :

1. Pengaruh atau penolakan. 2. Penilaian.

3. Suka atau tidak suka.

4. Kepositifan dan kenegatifan suatu objek psikologis.

Namun demikian terdapat dua jenis variabel yang mempengaruhi respon yakni : a. Variabel Struktural yakni faktor faktor yang terkandung dalam rangsangan

fisik dan ioropsiolog.

b. Variabel Fungsional yaitu faktor faktor yang terdapat dalam diri si pengamat misalnya kebutuhan suasana hati,pengalaman masa lalu (Cruthhefield, dalam Rahmat, 2004: 51-53).

Secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi respon seseorang yakni :

(22)

oleh karakteristik individual yang turut terpengaruh seperti sikap, motif, kepentingan, melihat, penyaluran dan harapannya.

b) Sasaran respon tersebut, sasaran itu berupa orang,benda atau peristiwa. Sifat sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap respon orang yang melihatnya. Dengan kata lain gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk dan ciri ciri lain dari sasaran respon turut mentukan cara pandang seseorang. c) Faktor situasi, respon dapat dilihat secara kartekstual yang berarti dalam

situasi mana respon itu timbul perlu pula mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam pembentukan atau tanggapan seseorang.

2.1.2 Proses Terjadinya Respon

Dalam hal ini ada beberapa gejala terjadinya respon, mulai dari pengamatan sampai berpikir. Gejala tersebut menurut suryabrata (1993:38) adalah sebagai berikut :

1. Pengamatan, yakni kesan-kesan yang diterima sewaktu perangsang mengenai indera dan perangsangnya masih ada. Pengamatan ini merupakan bagian dari kesadaran dan pikiran yang merupakan abstraksi yang dikeluarkan dari arus kesadaran.

(23)

3. Bayangan eiditik, yaitu bayangan yang sangat jelas dan hidup sehingga menyerupai pengamatan. Respon, yakni bayangan yang menjadi kesan yang dihasilkan dari pengamatan. Respon diperoleh dari penginderaan dan pengamatan.

Jadi proses terjadinya respon adalah pertama-tama indera mengamati objek tertentu, setelah itu muncul bayangan pengiring yang berlangsung sangat singkat sesaat sesudah perangsang berlalu. Setelah bayangan perangsang muncul kemudian bayangan editis, bayangan ini sifatnya lebih tahan lama, lebih jelas dari bayangan perangsang. Setelah itu muncul tanggapan dan kemudian pengertian.

2.1.3 Indikator Respon

Menurut Soemanto (1998: 28) “Respon yang muncul kedalam kesadaran, dapat memperoleh dukungan atau rintangan dari respon lain.” Dukungan terhadap respon akan menimbulkan rasa senang. Sebaliknya respon yang mendapat rintangan akan menimbulkan rasa tidak senang.

Penjalasan di atas menunjukkan bahwa indikator respon terdiri dari respon yang positif kecendurungan tindakannya adalah mendekati, menyukai, menyenangi, dan mengharapkan suatu objek. Sedangkan respon yang negatif kecendrungan tindakannya menjauhi, menghindari dan memberi objek tertentu. Sedangkan sadirman (1992: 215) mengemukakan bahwa indikator respon itu adalah:

a. Kenginan untuk bertindak/berpartisipasi aktif b. Membacakan/mendengarkan

(24)

d. Menimbulkan/membangkitkan perasaan e. Mengamati

Jones dan Davies dalam sarlito (1995), memberi definisi tindakan yaitu keseluruhan respon (reaksi) yang mencerminkan pilihan seseorang yang mempunyai akibat (efek) terhadap lingkungannya. Suatu tindakan dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian sesuatu agar kebutuhan tersebut terpenuhi.

Tindakan yang ditujukan oleh aspek psikomotorik merupakan bentuk keterampilan motorik yang diperoleh peneliti dari suatu proses belajar (Samsudin, 1997). Psikomotorik yang berhubungan dengan kebiasaan bertindak yang merupakan aspek perilaku yang menetap.

Respon dalam penelitian ini akan diukur dari dua aspek, yaitu persepsi, sikap.

2.1.3.1 Persepsi

Persepsi merupakan stimulus yang dindera oleh individu, diorganisasikan, kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera.

Persepsi menurut beberapa ahli :

• Menurut Mc Mahon adalah proses menginterpretasikan rangsangan (input)

dengan menggunakan alat penerima informasi (sensorik information).

• Menurut Morgan, King, dan Robinson menunjukkan bagaimana kita melihat,

mendengar, merasakan, mencium dunia sekitar kita dengan kata lain persepsi dapat juga didefinisikan sebagai gejala suatu yang dialami manusia.

• Menurut William James mengatakan persepsi terbentuk atas dasar data-data

(25)

dari pengelolaan ingatan (memory) kemudian diolah kembali berdasarkan pengalaman yang kita miliki (Adi, 1994 :105).

Fenomena lain yang terpenting dalam kaitannya dengan persepsi adalah atensi (attention). Atensi merupakan suatu proses penyeleksian input yang akan diproses dalam kaitan dengan pengalaman. Oleh karena itu, atensi ini menjadi bagian yang penting dalam proses persepsi. Hal- hal yang mempengaruhi atensi seseorang dapat dilihat dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi atensi adalah :

1. Motif dan kebutuhan.

2. Preparatory set, yaitu kesiapan seseorang untuk berespon terhadap suatu input sensorik tertentu tetapi tidak pada input yang lain.

3. Minat (interest).

Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi atensi adalah : 1. Intensius dan ukuran.

2. Kontras dengan hal-hal yang baru. 3. Pengulangan.

4. Pergerakan (Adi,1994:107).

2.1.3.2 Sikap

(26)

(unfavorable) pada suatu obyek tertentu. Sedangkan kelompok ahli psiologi sosial seperti Chave, Bogardus, LaPierre, Mead, dan Gordon Allport menganggap sikap sebagai kesiapan (kecenderungan potensial) untuk beraksi pada suatu obyek dengan cara-cara tertentu.

Sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu, artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peristiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain (Soetarno, 1994).

Sikap merupakan kecendurungan untuk bertindak, beroperasi, berfikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, dan nilai. Sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir tetapi merupakan hasil belaja. Sikap mempunyai daya dorong atau motivasi dan bersifat evaluatif, artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Objek sikap dirasakan adanya motivasi, tujuan, nilai, dan kebutuhan. Sikap merupakan kecendurungan yang berasal dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan suatu objek berupa manusia, hewan atau benda akibat pendirian atau persamaannya terhadap objek tersebut.

2.1.3.3 Partisipasi

(27)

pelaksanaan pembangunan memerlukan kesadaran warga masyarakat akan minat dan kepentingan yang sama. Untuk berhasilnya suatu program maka warga masyarakat dituntut terlibat tidak hanya dalam aspek kognitif dan praktis, tetapi juga ada keterlibatan emosianal pada program tersebut sehingga dapat memberi kekuatan dan perasaan untuk ikut serta dalam gerakan perubahan yang diperlukan dalam mengukur respon (Sumarto, 2004).

2.2 Masyarakat

2.2.1 Pengertian Masyarakat

Istilah masyarakat berasal dari akar kata arab syaraka yang berarti ikut serta, berpatisipasi atau musyaraka yang berarti saling bergaul. Di dalam bahasa inggris dipakai istilah society yang sebelumnya berasal dari kata lain socius, berarti kawan . masyarakat adalah memang sekumpulan manusia saling “bergaul” atau dengan istilah ilmiah saling berinteraksi (Koentjaraningrat, 2002:143).

(28)

Ada beberapa pengertian masyarakat :

a. Menurut Selo Sumarjan, masyarakat adalah orang – orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.

b. Menurut Koentjaraningrat, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama.

c. Menurut Ralph Linton, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.

d. Menurut Emile Durkheim (dalam Soleman B. Taneko, 1984:11) bahwa masyarakat merupakan suatu kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.

Suatu pergaulan hidup atau suatu bentuk kehidupan bersama manusia, maka masyarakat itu mempunyai ciri-ciri pokok yaitu sebagai berikut (Seokanto dalam Bastowi, 2005:38) :

a. Manusia yang hidup bersama. Didalam ilmu sosial tak ada ukuran yang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi, secara teoritis angka minimumnya ada dua orang yan hidup bersama.

(29)

mempunyai kenginan-kenginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau perasaan – perasaan. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbullah sistem komunikasi dan timbullah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia dalam kelompok tersebut.

c. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suattu kesatuan

d. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat dengan yang lainnya.

2.2.2 Pembangunan Masyarakat

Pembangunan masyarakat pada dasarnya adalah proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik, dan kondisi yang lebih baik tersebut pada umumnya dinyatakan dalam bentuk peningkatan taraf hidup atau kesejahteraan

(Soetomo, 2010 : 25).

(30)

daya potensial menjadi aktual. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendayagunaan sumberdaya untuk lebih memungkinkan penigkatan kesejahteraan masyarakat merupakan unsur pokok dari pembangunan masyarakat. Dalam setiap proses pembangunan masyarakat, terdapat tiga unsur essensial yaitu, adanya proses perubahan, mobilisasi atau pemanfaatan sumber daya dan pengembangan kapasitas masyarakat. Ketiga unsur dapat disebut sebagai konsep dasar pembangunan masyarakat yang dapat digunakan sebagai basis pemahaman dan penjelasan mengenai pembangunan masyarakat (Soetomo, 2010 : 30).

2.3 Perusahaan

2.3.1 Pengertian Perusahaan

Pengertian atau definisi Perusahaan ialah suatu tempat untuk melakukan kegiatan proses produksi barang atau jasa. Hal ini disebabkan karena kebutuhan manusia tidak bisa digunakan secara langsung dan harus melewati sebuah proses di suatu tempat, sehingga inti dari perusahaan ialah “tempat melakukan proses” sampai bisa langsung digunakan oleh manusia.

2.3.2 Karakteristik Perusahaan

(31)

1. Perusahaan yang bertengger di peringkat hitam atau dalam metafora serangga Elkington dianalogikan seperti ulat bahwa ulat merupakan usus yang menyamar sebagai hewan, dalam waktu sekejap saja daun yang hijau akan dilahap dan hanya menyisakan rangka dan sirip yang mirip hasil koyakan. Sistem ekonomi seperti ini menjalankan bisnis semata-mata untuk kepentingannya sendiri dan tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial sekililingnya.

2. Perusahaan yang berperingkat merah Elkington menyebutnya korporasi belalang. Memiliki kecenderungan mengesploitasi sumberdaya melampaui daya dukung ekologi, sosial, dan ekonomi serta secara kolektif menghasilkan dampak negatif.

3. Perusahaan yang menduduki peringkat biru korporasi kupu-kupu, mereka adalah perusahaan yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif terhadap usahanya karena CSR sebagai investasi bukan biaya.

4. Perusahaan yang menduduki peringkat hijau dalam korporasi lebah madu, mereka adalah perusahaan yang dengan tulus mempraktekkan CSR dan sebagai jantung bisnis mereka.

2.3.3 Peran Amdal dalam Pembangunan Perusahaan

(32)

memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut, sehingga dapat diambil keputusan yang optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Peranan Amdal dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Amdal sebagai Instrumen Perlindungan Lingkungan Hidup Dalam upaya menjaga lingkungan itulah digunakan Amdal sebagai salah satu instrumennya. Hal ini tertuang dalam Pasal 22 angka (1) Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 22 angka (1) tersebut menentukan setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki Amdal.

b. Amdal sebagai Instrumen dalam Perencanaan Pembangunan Hasil dari analisis mengenai dampak lingkungan dapat memberikan pedoman agar perencanaan pembangunan harus mencapai tujuan sosial dan ekonomi dengan tetap memperhatikan keseimbangan dinamis dengan lingkungan. Perencanaan pembangunan yang ideal adalah yang tidak hanya mampu mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan masyarakat tetapi juga mampu memadukan berbagai nilai dan berbagai kepentingan yang terlibat, salah satunya kepentingan akan adanya pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

(33)

untuk mengantisipasi dampak yang kemungkinan muncul akibat aktivitas/kegiatan. Dengan dapat diprediksinya dampak tersebut, maka dampak negatif dapat dihindari dan dampat positif dapat dimaksimalkan. Amdal sebagai alat pengendali artinya masalah atau dampak dapat dikendalikan dan diminimalisir, misalnya dengan pemberian pembatasan seperti sanksi. Amdal sebagai sarana pemantauan maksudnya sebagai alat kontrol dan koreksi terhadap pelaksanaan dan operasi proyek. Dengan kata lain, pemantauan ini merupakan alat pengelolaan lingkungan untuk menyempurnakan perencanaan program dan pembaharuan program dikemudian hari agar tujuan pengelolaan lingkungan tercapai.

2.4 Kesejahteraan Sosial

2.4.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial

Secara yuridis konsepsional, pengertian kesejahteraan sosial termuat dalam UU No. 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, pasal 1 ayat 1 adalah sebagai berikut :

“Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material,

spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.”

(34)

1. Menetapkan garis kebijaksanaan di bidang kesejahteraan sosial.

2. Mengembangkan kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial masyarakat. 3. Mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan usaha-usaha kesejahteraan

sosial (Depsos, 2009).

Untuk melaksanakan ketiga tugas pokok tersebut maka pemerintah menyelenggarakan usaha-usaha di bidang kesejahteraan sosial sebagai berikut :

1. Bantuan sosial kepada warga masyarakat yang kehilangan peranan sosial karena berbagai macam bencana (sosial maupun alamiah) atau akibat- akibat lain.

2. Menyelenggarakan sistem jaminan sosial. 3. Bimbingan, pembinaan dan rehabilitasi sosial.

4. Pengembangan dan penyuluhan sosial dan menyelenggarakan pendidikan dan latihan khusus untuk membentuk tenaga tenaga ahli dan keahlian di bidang kesejahteraan sosial.

Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat.

Menurut Kolle dalam bintarto, kesejahteraan dapat diukur dari beberapa aspek kehidupan:

(35)

2. Dengan melihat kualitas hidup dari segi fisik, seperti kesehatan tubuh, lingkungan alam, dan sebagainya;

3. Dengan melihat kualitas hidup dari segi mental, seperti fasilitas pendidikan, ligkungan budaya, dan sebagianya;

4. Dengan melihat kualitas hidup dari segi spiritiual, seperti moral, etika, keserasian penyesuaian, dan sebagainya.

2.4.2 Tujuan Kesejahteraan Sosial

Berdasarkan Pasal 3 UU Nomor 11/2009, penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan:

1. Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup; 2. Memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian;

3. Menigkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah dan menagani masalah kesejahteraan sosial;

4. Menigkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggungjawab sosial dunia usaha dalam penyelenggara kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan

5. Meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam penyelenggara kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan; dan

6. Meningkatkan kualitas manajemen penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

(36)

pelayanan dan pengembangan kesejahteraan sosial secara terencana,terarah, dan berkelanjutan.

Pembangunan kesejahteraan sosial merupakan perwujudan dari upaya mencapai tujuan bangsa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sila kelima pancasila menyatakan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, dan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara untuk melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi,dan keadilan sosial.

2.5 Kerangka Pemikiran

Kehadiran perusahaan dipastikan melahirkan cost yang harus ditanggung masyarakat sebagai akibat dari berbagai bentuk pencemaran yang ditimbulkan aktivitas ekonomi perusahaan sebagaimana telah dikemukakan. Oleh karena itu, cost tersebut harus diimbangi dengan benefit bagi masyakat setempat.

Salah satu keuntungan kehadiran perusahaan ialah membawa angin segar bagi perkembangan daerah tersebut. Harapan akan peningkatan taraf hidup menjadi harapan penduduk sebagai dampak kehadiran perusahaan. Kerugian yang didapat ketegangan, konflik dan kekerasan. Kerugian lainnya, aktivitas industri berbagai polusi, seperti polusi tanah, air, udara maupun suara.

(37)
(38)

BAGAN ALIR PIKIR

(39)

2.6 Definisi Konsep dan Defenisi Operasional 2.6.1. Defenisi Konsep

Defenisi Konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri-ciri yang berkaitan dengan berbagai peristiwa, obyek, kondisi, situasi dan hal-hal lain yang sejenis. Konsep diciptakan dengan mengelompokkan obyek-obyek atau peristiwa- peristiwa yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Defenisi konsep bertujuan untuk merumuskan sejumlah pengertian yang digunakan secara mendasar dan menyamakan persepsi tentang apa yang akan diteliti serta mengindari salah pengertian yang dapat mengaburkan tujuan (Silalahi, 2009 : 112).

Untuk menghindari salah pengertian atas makna konsep-konsep yang dijadikan obyek penelitian, maka seorang peneliti harus menegaskan dan membatasi makna-makna konsep dalam suatu penelitian disebut dengan definisi konsep. Secara sederhana definisi disini diartikan sebagai batasan arti. Definisi konsep adalah pengertian yang terbatas dari suatu konsep yang dianut dalam suatu penelitan (Siagian, 2011:38).

Adapun yang menjadi batasan konsep dalam penelitian ini adalah:

1. Respon adalah suatu tanggapan, tingkah laku atau sikap yang berwujud baik, pemahaman yang mendetail, penilaian, pengaruh, penolakan, suka atau tidak suka serta pemanfaatan pada suatu fenomena.

2. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontiniu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama.

(40)

sebuah lembaga komersil yang berkewajiban berpartisipasi memperbaiki kondisi sosial dan kesejahteraan masyarakat di sekitar lingkungan perusahaan.

4. Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara adalah lokasi Perusahaan PT. SOL Ltd berdiri.

2.6.2 Definisi Operasional

Defenisi operasional merupakan seperangkat petunjuk atau kriteria atau operasi yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan bagaimana mengamatinya dengan memiliki rujukan-rujukan empiris. Bertujuan untuk memudahkan penelitian dalam melaksanakan penelitian di lapangan. Maka perlu operasionalisasi dari konsep-konsep yang menggambarkan tentang apa yang harus diamati (Silalahi, 2009:120).

Definisi operasional sering disebu sebagai suatu proses operasionalisasi konsep, yang berarti menjadikan konsep yang semula bersifat statis menjadi dinamis. Jika konsep sudah bersifat dinamis, maka akan memungkinkan untuk dioperasikan. Wujud operasionalisasi konsep adalah dalam bentuk sajian yang benar-benar terperinci, sehingga makna dan aspek-aspek yang terangkum dalam konsep tersebut terangkat dan terbuka (Siagian, 2011 :141).

Adapun yang menjadi defenisi operasional dalam respon masyarakat kecamatan pahae julu terhadap kehadiran PT. SOL Ltd di Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara dapat diukur dari:

(41)

a. Penilaian adalah pengetahuan/informasi yang dimiliki masyarakat Kecamatan Pahae Julu terhadap kehadiran PT.SOL Ltd.

b. Penolakan atau penerimaaan adalah hubungan rasa senang/tidak senangnya masyarakat kecamaatan pahae julu dengan kehadiran PT. SOL Ltd.

c. Mengharapkan atau menghindari adalah kesiapan masyarakat kecamatan pahae julu untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan PT.SOL Ltd.

2. Persepsi atau pemahaman masyarakat kecamatan pahae julu dengan kehadiran PT. SOL Ltd, meliputi :

a. Pengetahuan masyarakat pahae julu tentang kehadiran PT. SOL Ltd. b. Pemahaman masyarakat pahae julu tentang tujuan kehadiran PT. SOL

Ltd.

c. Atensi adalah suatu proses penyeleksian masyarakat Kecamatan Pahae Julu terhadap kehadiran PT. SOL Ltd.

3. Partisipasi masyarakat kecamatan pahae julu terhadap keberadaan PT.SOL Ltd di Kecamatan Pahae Julu, meliputi :

a. Melaksanakan adalah masyarakat kecamatan pahae julu berperan serta dalam melaksanakan program-program maupun kegiatan dari PT.SOL Ltd.

(42)
(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tipe Penelitian

Penelitian ini tergolong tipe penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan objek dan fenomena yang di teliti. Termasuk didalamnya bagaiman unsur-unsur yang ada dalam variabel penelitian itu berinteraksi satu sama lain dan apa pula produk interaksi yang berlangsung (Siagian, 2011 : 52).

Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yaitu dengan menjabarkan hasil penelitian sebagaimana adanya yaitu data yang diperoleh di lapangan, dikumpulkan, diolah serta dianalisis. Dalam jenis penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan adalah kata-kata gambar dan bukan angka-angka. Dari hal tersebut, maka jelas bahwa penelitian deskriptif penelitian deskriptif bersifat mengambarkan dan melukiskan sesuatu hal berupa gambar atau foto yang didapat dari lapangan dan kemudian menjelaskannya dengan kata-kata. Melalui penelitian ini penulis menggambarkan tentang bagaimana Respon Masyarakat Kecamatan Pahae Julu Terhadap Kehadiran PT. SOL Ltd di Kabupaten Tapanuli Utara.

3.2 Lokasi Penelitian

(44)

sehingga sangat diperlukan penelitian mengenai respon kehadiran perusahaan terhadap masyarakat Kecamatan Pahae Julu.

3.3 Populasi

Populasi dapat diartikan sebagai sekumpulan obyek, benda, peristiwa atau individu yang akan dikaji dalam suatu penelitian (Siagian, 2011:155). Adapun yang menjadi populasi dari penelitian ini adalah masyarakat yang Desa Simataniari Kecamatan Pahae Julu yang berkisar 30 kepala keluarga (KK). Diketahui jumlah populasi adalah kurang dari 100 maka keseluruhan populasi akan diambil datanya.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Studi Kepustakaan, yaitu pengumpulan data atau informasi yang menyangkut masalah yang akan diteliti melalui penelaahan buku, jurnal dan karya tulis lainnya.

2. Studi lapangan, yaitu pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun alat-alat yang digunakan dalam rangka studi lapangan ini, yaitu :

(45)

b. Kuesioner, yaitu kegiatan mengumpulkan data dengan cara menyebar daftar pertanyaan untuk dijawab atau diisi dengan responden sehinnga peneliti memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

3.5 Teknik Analisis Data

Dalam peneliti ini, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif sehingga nantinya peneliti dapat menggambarkan informasi data yang diperoleh dalam penelitian, dimana pengelolaan data dilakukan dengan manual. Data dikumpulkan dari hasil kuesioner (angket), wawancara kemudian ditabulasi dalam bentuk distribusi frekwensi dan kemudian dianalisis.

Adapun langkah-langkah analisa data yang dilakukan adalah : 1. Pengkodingan, yaitu mengklarifikasi jawaban-jawaban menurut jenisnya 2. Membuat kategori untuk mengklarifikasikan agar data mudah dianalisa dan

disimpulkan serta untuk menjawab masalah yang ditemukan dalam penelitian sehingga jawaban yang beraneka ragam dapat disingkat.

3. Tabulasi, disini data dalam keadaan ringkas dan tersusun dalam suatu tabel sehingga dapat dibaca dengan mudah.

(46)

Pemberian skor data dilakukan mulai respon yang negatif menuju respon yang positif, yakni :

a. Skor Negatif adalah -1 b. Skor Netral adalah 0 c. Skor Positif adalah 1

Sebelum menentukan klasifikasi persepsi , sikap dan partisipasi maka ditentukanlah interval kelas sebagai pengukuran, yaitu :

Interval kelas (i) = nilai tertinggi (H) – nilai terendah (L) Banyak Kelas (K)

= 1-(-1) 3 = 2

3 = 0,66

Maka untuk menentukan katagori respon positif, netral maupun respon negatif dengan adanya nilai batasan sebagai berikut :

(47)

BAB IV

DESKRPSI LOKASI PENELITIAN

4.1 Kondisi Kecamatan Pahae Julu

Kecamatan Pahae Julu merupakan salah satu Kecamatan di Tapanuli Utara. Kecamatan Pahae Julu terdiri dari 19 desa, Desa Pangurotan, Lumban Gaol, Lumban Tonga, Sitolu Ama, Simanampang, Lobu Pining, Hutabarat, Lumban Dolok, Simardangiang, Sibaganding, Lumban Garaga, Janji Natogu, Lumban Jaean, Onan Hasang, Pantis, Lontung Dolok, Simataniari, Simasom Toruan, Simasom. Dengan Kepala Camat Abdipuan Hutabarat. Penduduk di kecamatan ini berjumlah, 2999 KK yang tersebar di seluruh desa, dengan mayoritas masyarakatnya yang bersuku Batak Toba.

Penduduk setempat umumnya hidup dari hasil pertanian meskipun ada juga yang bekerja di PT. Sarulla Operation Limited. Dengan kondisi dimana di kecamatan inilah perusahaan raksasa PT. Sarulla Operation Limited berdiri maka wilayah ini sangatlah rentan terkena dampak negatif dari aktifitas perusahaan tersebut. Tidak sedikit masyarakat meresahkan kesehatan mereka berupa gangguan pernafasan yang dialami penduduk setempat akibat polusi dan bau tak sedap yang disebabkan oleh aktifitas PT. Sarulla Operation Limited (SOL).

(48)

Sebelah Utara : Kecamatan Tarutung dan Siatas Barita Sebelah Selatan : Kecamatan Pahae Jae

Sebelah Barat : Kecamatan Adiankoting Sebelah Timur : Kecamatan Pangaribuan

4.2. Potensi Sumber Daya Alam.

Seperti halnya kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Tapanuli Utara, Kecamatan Pahae Julu juga masyarakatnya sebagian besar hidup sebagai petani. Dengan kondisi wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan dan dialiri sungai, maka tidak heran jika mayoritas penduduknya hidup dari hasil pertanian. Dengan adanya aliran sungai sehingga memudahkan sistem pengairan sawah serta digunakan juga untuk memancing ikan.

(49)

4.3. Keadaan Penduduk. 4.3.1. Jumlah Penduduk.

Jumlah penduduk di kecamatan Pahae Julu 12078 jiwa terdiri dari 5910 jiwa laki laki dan 6168 jiwa perempuan. Dan terdiri dari 2999 rumah tangga dari

19 desa. Rata-rata tingkat hunian per rumah tangga di kecamatan Pahae Julu adalah 4 orang. Berdasarkan kelompok umur penduduk di kecamatan Pahae Julu, penduduk paling banyak berada pada usia muda (5-9 tahun), yaitu 1467 jiwa atau

12,14 %. Sedangkan pada kelompok umur lanjut usia (65 tahun ke atas) hanya berkisar 336 jiwa atau 2,78 % dari total penduduk kecamatan Pahae Julu.

Distribusi penduduk, luas wilayah, dan kepadatan penduduk untuk desa/sampel disajikan dalam tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1

Luas Wilayah dan Serta Jumlah Kepadatan Penduduk No Desa/Kelurahan Jumlah Rumah Tangga Kepadatan Penduduk Jiwa/Km2

(1) (2) (3) (4)

1 Sibaganding 435 112 49,49

2 Onan Hasang 476 151 60,79

3. Lumban Jaean 508 162 58,06

4 Simataniari 459 138 55,43

5 Janji Natogu 456 122 52,64

Jumlah 2334 685 276,41

(50)

Kepadatan penduduk ini dipengaruhi posisi wilayah, dan juga disebabkan oleh aktivitas ekonomi penduduk, yang berada tidak jauh dari jalan otomatis mempunyai aktivitas ekonomi yang lebih banyak. Sedangkan yang berada dipedalaman masyarakatnya condong hanya sebagai petani dan berternak saja.

4.4. Sarana dan Prasarana 4.4.1 Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu kunci penentu kemajuan suatu bangsa dan kemajuan pendidikan itu sendiri sangat tergantung kepada ketersediaan prasarana pendukung yang ada di suatu wilayah.

Ketersediaan prasarana sekolah sebagai salah satu faktor penghambat kemajuan pendidikan di Kecamatan Pahae Julu. SD, SLTP dan SLTA masing- masing secara berurutan 23, 5 dan 2 gedung sekolah, dimana keseluruhan hampir seluruhnya sekolah negeri. Dengan jumlah murid SD 1920 siswa, jumlah murid SMP 753 siswa dan Jumlah murid SLTA 614 siswa.

(51)

4.4.2 Rumah Ibadah

Tabel 4.2

Jumlah Rumah Ibadah Menurut Desa dan Jenisnya

No Desa

Jenis Rumah Ibadah

Jumlah Gereja Mesjid Langgar/

Musholla

Kuil Wihara

1 Sibaganding - - - 0

2 Onan Hasang

2 1 - - - 3

3 Simataniari 3 - 1 - - 4

4 Lumban Jaean

4 - - - - 4

5 Janji Natogu 2 - - - - 2

Jumlah 11 1 1 0 0 13

Sumber : Kepala Desa/Lurah Kecamatan Pahae Julu

(52)

4.3 Sarana Kesehatan

Tabel 4.3

Jumlah Sarana Kesehatan Di Desa Dan Jenisnya

No Desa

Sumber : UPT Kecamatan Pahae Julu

(53)

BAB V ANALISIS

DATA

Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan melalui teknik pengumpulan data penyebaran kuesioner dan wawancara kepada responden, ternyata semua kuesioner telah diisi dan memenuhi syarat untuk dianalisis. Data kuesioner yang telah terkumpul dari 100 responden. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dapat dilihat pada tabel-tabel distribusi frekuensi yang telah dianalis sebagai berikut :

Sumber : Data Primer 2015

(54)

20-30 tahun adalah mereka yang menikah di usia muda dan patut dijadikan

Onan hasang Sibaganding Lumban

Jaean

Sumber : Data Primer 2015

(55)

Tabel 5.3 Penghasilan Perbulan

Sumber : Data Primer 2015

(56)

Tabel 5.4 Tanggungan Keluarga

Sumber : Data Primer 2015

(57)

Tabel 5.5 Agama Yang Dianut

Sumber : Data Primer 2015

(58)

Tabel 5.6 Pendidikan Formal Terakhir

Sumber : Data Primer 2015

Besarnya jumlah responden yang berpendidikan SLTA disebabkan karena tuntutan kebutuhan hidup. Sehingga mereka yang begitu menyelesaikan pendidikan SLTA langsung mencari pekerjaan untuk menambah penghasilan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dan tidak jarang dari mereka yang ikut berprofesi sebagai petani seperti orang tuanya. Adapun responden yang berpendidikan lebih tinggi seperti D3 dan S1 adalah penduduk pendatang.

5.2 SIKAP

(59)

Tabel 5.7

Distribusi Responden Berdasarkan Tanggapan Mengenai Kehadiran PT.SOL

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan tabel 5.7 Besarnya tanggapan setuju dari setiap responden mengenai kehadiran PT.SOL di sambut baik itu dikarenakan meningkatnya daya beli masyarakat, munculnya usaha usaha kecil. Seperti tanggapan bapak Parmian Siregar

“... Sekarang setiap paginya udah banyak yang sarapan ke kedai nasi

inilah semenjak adanya PT.SOL, yang dulunya kereta bisa dihitung di kampung

(60)

Tabel 5.8

Distribusi Responden Berdasarkan Perhatian PT.SOL Terhadap Kondisi Ekonomi Masyarakat

Sumber : Data Primer 2015

(61)

Tabel 5.9

Distribusi Responden Berdasarkan Pengaruh PT. SOL Terhadap Perekonomian

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan daftar dari tabel 5.9 menunjukkan bahwa pengaruh kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) terhadap perekonomian berpengaruh. Seperti yang dikutip dari Bpk Jonedward Sitompul

“ ... Udah beda ku tengok masyarakat disini udah bisa mereka minum

tuak pakai tambul dulu cuman datang ke lapo tuak hanya berhutang , sekarang

udah bisa mereka bekerja walaupun buruh harian lepas (BHL) tapi udah hebatlah

itu di kampung- kampung kita ini.

(62)

mungkin di orang lain berpengaruh, lihatlah gak ada nambah barang kami

Distribusi Responden Berdasarkan Hasil Produksi Pertanian Setelah Kehadiran PT. SOL

Sumber : Data Primer 2015

(63)

panen, seperti pernyataan salah seorang responden dari hasil wawancara

ikan nya, gak mungkin jadi orang kan...”

Tabel 5.11

Distribusi Responden Berdasarkan Hasil Produksi Peternakan Setelah Kehadiran

Sumber : Data Primer 2015

(64)

Sarulla Operation Limited . Hal ini disebabkan karena ada beberapa responden yang tidak memelihara ternak sebagai mata pencaharian mereka. Sedangkan masyarakat yang menyatakan kondisi hasil produksi peternakan menurun disebabkan karena adanya masyarakat yang mengalami ternaknya mati karena keracunan limbah yang disebabkan aktifitas PT. SOL.

Tabel 5.12

Distribusi Responden Berdasarkan Kehadiran PT. SOL Mampu Memperluas Lapangan Pekerjaan

Sumber : Data Primer 2015

(65)

Tabel 5.13

Distribusi Responden Berdasarkan Kehadiran PT. SOL Dapat Mengurangi Jumlah Pengangguran Di Kecamatan Pahae Julu

N

Sumber : Data Primer 2015

(66)

Tabel 5.14

Distribusi Responden Berdasarkan Tanggapan Penerimaan Karyawan Di PT.SOL

Sumber : Data Primer 2015

(67)

Tabel 5.15

Distribusi Responden Berdasarkan Kehadiran PT. SOL Mampu Menarik Jumlah Pekerja Lokal di Kecamatan Pahae Julu

NO Distibusi

Sumber : Data Primer 2015

(68)

Tabel 5.16

Distribusi Responden Berdasarkan Kehadiran PT. SOL Memberi Peluang Untuk Membuka Usaha

Sumber : Data Primer 2015

(69)

Tabel 5.17

Distribusi Responden Berdasarkan Kehadiran PT. SOL Dalam Memberi Peluang Terhadap Pekerjaan Sampingan

Sumber : Data Primer 2015

(70)

Tabel 5.18

Distribusi Responden Berdasarkan Kondisi Pekerjaan Dibandingkan Sebelum Kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL)

NO Distibusi

Sumber : Data Primer 2015

(71)

Tabel 5. 19

Distribusi Responden Berdasarkan Manfaat Kehadiran PT. SOL Dalam Meningkatkan Hasil Usaha Masyarakat

Sumber : Data Primer 2015

(72)

Tabel 5.20

Distribusi Responden Berdasarkan Tanggapan Program CSR Perusahaan Untuk Masing – Masing Desa

NO Distibusi

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan tabel distribusi 5.20 tanggapan masyarakat “biasa saja” hal ini disebabkan masih belum penuh berjalanya aktifitas CSR tersebut di masing- masing desa, namun di beberapa desa sudah ada yang berjalan program CSR tersebut seperti tertera ditabel distribusi 5.20 desa Lumban Jaean dan Desa Simataniari memberi tanggapan yang positif karena program CSR berupa Air Bersih Layak Minum ini sudah sampai tahap akhir dan sebentar lagi akan dinikmati oleh beberapa kepala keluarga di desa tersebut.

(73)

pekerja program CSR ini, kan gak betul lagi itu, lebih baik tidak usah daripada

kami jadi kuli gratisan ....”

Tabel 5.21

Distribusi Responden Berdasarkan Respon Setelah Mengetahui Program CSR Di Desanya

(74)

Tabel 5.22

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Sudah Tepat Program CSR Yang Terselenggara

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan dari Tabel distibusi 5.22 jelas terlihat bahwa program CSR masih Belum tepat dengan kebutuhan masyarakat hal ini disebabkan berbedanya permintaan dari setiap desa untuk program CSR ini namun di Desa Lumban Jaean dan Desa Simataniari yang sudah berjalan dan juga akan beroperasi dalam waktu dekat ini.

5.3 PERSEPSI

(75)

Tabel 5.23

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Anda Mengetahui Tentang Tujuan PT. SOL Berdiri Di Kecamatan Pahae Julu

N

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan tabel distribusi 5.23 Responden mengetahui tentang tujuan PT.SOL hal ini dikarenakan 5 desa yang menjadi sampel peneliti merupakan desa yang terdampak langsung aktifitas PT.SOL dan juga mayoritas penduduk desa di

(76)

Tabel 5.24

Distribusi Responden Berdasarkan Apakah Berdirinya Perusahaan Mempunyai Manfaat Yang Besar Bagi Responden

N

Sumber : Data Primer 2015

(77)

Tabel 5.25

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Responden Mengetahui Dampak Buruk Akibat Kehadiran PT.SOL Di

Kecamatan Pahae Julu

Berdasarkan dari pernyataan salah satu reponden pada saat dilapangan beberapa responden terlihat ragu untuk mengeluarkan pendapatnya hal ini mungkin yang menyebabkan ada sebagian responden yang menjawab mengetahui dan kurang mengetahui karena tidak menemukan dampak buruk dari kehadiran PT. SOL, seperti peryataan salah seorang responden berikut :

”...Cemana ya saya tidak terlalu berani bilang ada atau tidak ada dampak buruk

(78)

Tabel 5.26

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Responden Mengetahui Kehadiran Perusahaan Berpengaruh Terhadap

Kelestarian Lingkungan

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan daftar dari tabel 5.26 menunjukkan bahwa Responden mengetahui kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan.Aktifitas perusahaan yang setiap harinya menghasilkan limbah udara (polusi) menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan struktur tanah akibat penebangan pohon yang semakin melebar ke area perkebunan masyarakat. Seperti pernyataan salah seorang responden berikut:

”...Ya sudah jelas berpengaruh, lihat lah bukit bukit yang digunung itu

(79)

Tabel 5.27

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Responden Mengetahui Kehadiran PT. SOL Memiliki Program Tanggung Jawab

Sosial (CSR)

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan daftar dari tabel 5.27 menunjukkan bahwa masyarakat mengetahui bahwa kehadiran PT. Sarulla Operation Limited (SOL) memiliki tanggung jawab sosial (CSR). Hal ini disebabkan mudahnya informasi yang dapat dari mulut kemulut karena kebiasaan masyarakat setempat yang menghabiskan waktu malam nya setelah pulang bekerja ke kedai kopi atau di Lapo Tuak. Namun tidak sedikit responden yang menjawab ragu-ragu tentang program CSR yang dimiliki oleh PT. Sarulla Operation Limited (SOL). Seperti pernyataan salah seorang responden sebagai berikut :

”...sepertinya saya pernah dengar tentang program CSR, tetapi saya tidak

(80)

Tabel 5.28

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Dari manakah Responden

Mengetahui Program CSR

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan daftar dari tabel 5.28 menunjukkan bahwa masyarakat mengetahui program CSR dari Teman adalah mereka yang memiliki kenalan atau kerabat yang pernah bekerja di PT. Sarulla Operation Limited (SOL). Adapun responden yang mengetahui program CSR dari Perusahaan adalah mereka yang bekerja di PT. Sarulla Operation Limited.

(81)

Tabel 5.29

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Responden Mengerti Apa Yang Dimaksud Dengan Program CSR

N

Sumber : Data Primer 2015

Berdasarkan daftar dari tabel 5.29 menunjukkan bahwa masyarakat mengerti tentang apa yang dimaksud dengan program CSR responden yang mengerti apa yang dimaksud dengan program CSR disebabkan karena responden bekerja di PT. Sarulla Operation Limited sehingga informasi tentang program CSR secara langsung bisa mereka dapatkan. Dan responden yang kurang mengerti adalah mereka yang pernah mendengar namun tidak tahu pasti tentang program CSR dikarenakan rasa ingin tahu mereka masih rendah terhadap program CSR.

Namun ada yang memberika pernyataan ketika peneliti menanyakan tentang CSR Seperti pernyataan salah seorang responden berikut:

”...CSR, ahai poang , dang hu atusi manang aha i (CSR, apa itu, saya tidak

(82)

Tabel 5.30

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Responden Mengetahui Tujuan Dan Sasaran Program CSR

N

Berdasarkan daftar dari tabel 5.30 menunjukkan bahwa masyarakat tidak mengetahui tujuan dan sasaran dari program CSR. Hal ini terlihat ketika peneliti bertanya tentang tujuan dan sasaran program CSR masyarakat sama sekali tidak mengetahui dan justru malah terlihat sedikit emosi seperti pernyataan salah seorang responden sebagai berikut :

”...Yang cemana nya kau sedangkan apa itu CSR saya tidak tahu, kau tanya lagi

soal tujuan dan sasarannya. Manalah tau saya !!...”

5.4

Partisipasi

(83)

Tabel 5.31

Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan Apakah Responden Sering Ikut Serta Dalam Kegiatan Gotong- Royong Dari Perusahaan

NO Distibusi

Sumber : Data Primer 2015

Gambar

Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 5.1 Usia Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data dari tabel 5.56, dapat dianalisis apakah partisipasi responden termasuk positif atau negatif, dengan memberikan nilai 1 pada respon positif, nilai 0 pada

SOL (Sarulla Operational Limmited) Panas Bumi terhadap Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara.. Metode penelitian ini menggunakan

rapat besar dengan masyarakat Negeri Sibaganding Tua, yang terdiri dari 3 desa,. Sibaganding, Lumban Jaean, dan Simataniari, Jumat 16 Agustus

Pembangunan masyarakat pada dasarnya adalag proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik, dan kondisi yang lebih baik tersebut pada umumnya dinyatakan dalam bentuk

Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik: Memperkuat Pembangunan Kesejahteraan Sosial, Pekerjaan Sosial dan Negara.. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Pendekatan

Bagaimana kondisi sarana pendidikan didesa anda sebelum kehadiran PT... Bagaimana kondisi sarana pendidikan didesa anda setelah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Apakah Ada Pengaruh Kehadiran PT Sol (Sarulla Operational Limitted)

karena pada satu pihak persepsi hak kepemilikan atas tanah atau lahan didasarkan. atas persepsi dari ketentuan pokok agraria sementara pada pihak yang