Formulasi Sediaan Bedak Kompak Menggunakan Sari Wortel (Daucus carota L.) Sebagai Pewarna

79  169  26 

Teks penuh

(1)

FORMULASI SEDIAAN BEDAK KOMPAK

MENGGUNAKAN SARI WORTEL (

Daucus carota

L.)

SEBAGAI PEWARNA

SKRIPSI

OLEH: MAYA JUSTITIA

NIM 111524024

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

FORMULASI SEDIAAN BEDAK KOMPAK

MENGGUNAKAN SARI WORTEL (

Daucus carota

L.)

SEBAGAI PEWARNA

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH: MAYA JUSTITIA

NIM 111524024

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

FORMULASI SEDIAAN BEDAK KOMPAK

MENGGUNAKAN SARI WORTEL (

Daucus carota

L.)

SEBAGAI PEWARNA

OLEH:

MAYA JUSTITIA

NIM 111524024

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: 06 Desember 2013

Pembimbing I, Panitia Penguji:

Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt. Dra. Juanita Tanuwijaya, M.Si., Apt. NIP 195107031977102001 NIP 195111021977102001

Pembimbing II, Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt. NIP 195107031977102001

Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt. Drs. Suryanto, M.Si., Apt. NIP 196005111989022001 NIP 196106191991031001

Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan

penyusunan skripsi ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk

memformulasikan sediaan bedak dengan menggunakan sari wortel sebagai

pewarna. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya Kepada Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan

fasilitas selama masa pendidikan. Ibu Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt., dan

Ibu Dra. Nazliniwaty, M.Si., Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan

waktu, bimbingan dan nasehat dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas

selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Kepada ibu Dra.

Juanita Tanuwijaya, M.Si., Apt., Bapak Drs. Suryanto, M.Si., Apt., dan Ibu

Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan

saran, arahan, kritik dan masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Kepada Bapak Dr. Muchlisyam, M.Si., Apt., selaku koordinator program

Ekstensi Sarjana Farmasi USU yang telah memberikan arahan kepada penulis

selama ini. Kepada seluruh dosen dan seluruh staf Fakultas Farmasi USU.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada

Ayahanda Adarimizi dan Ibunda Cut Yunidar atas doa, dorongan dan

(5)

sahabat-sahabat saya Dwinanda, Niki, Dina, Kakak Suci, Anita, Andriani,

Erna, Yessy, Ami, Desy, Okti, Andre serta seluruh teman-teman kuliah

angkatan 2011 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun tidak

mengurangi arti keberadaan mereka, untuk teman terdekat saya Fandy Utomo

dan sahabat saya Mutia Afriendi yang selalu memberikan semangat dalam

penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya,

untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari

semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga

skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang

Farmasi.

Medan, Januari 2014

Penulis,

Maya Justitia

(6)

FORMULASI SEDIAAN BEDAK KOMPAK MENGGUNAKAN SARI WORTEL (Daucus carota L.)

SEBAGAI PEWARNA ABSTRAK

Sediaan bedak kompak adalah sediaan kosmetika dekoratif dan perawatan kulit yang ditujukan untuk menyembunyikan kekurangan pada kulit wajah, seperti menutupi bintik-bintik dan noda serta untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV matahari. Wortel mengandung beta karoten yang memberikan warna oranye dan dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pengganti pewarna sintetik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan bedak kompak menggunakan pewarna alami dari sari wortel.

Zat warna sari wortel diperoleh dari wortel segar dengan menggunakan

juicer kemudian ditambahkan natrium metabisulfit, lalu dikering bekukan hingga diperoleh sari wortel seperti karamel. Formula bedak kompak terdiri dari seng oksida, kaolin, talkum, magnesium karbonat. Sediaan dibuat dengan menggunakan alat pencetak tablet secara manual dengan konsentrasi warna 7,5, 10, 12,5 dan 15%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik mencakup pemeriksaan homogenitas, uji poles, daya sebar, uji kekerasan, uji keretakan, uji stabilitas dan juga dilakukan uji angka lempeng total, uji iritasi serta uji kesukaan.

Variasi konsentrasi pewarna sari wortel 7,5, 10, 12,5 dan 15% menghasilkan warna berturut-turut, yaitu krem, oranye lemah, oranye muda dan oranye tua. Hasil uji homogenitas bedak menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat homogen. Sediaan mudah dipoles dengan warna merata, kecuali pada konsentrasi 15% sukar dipoles. Daya sebar sediaan bedak kompak yang dibuat sesuai dengan daya sebar sediaan bedak kompak yang ada dipasaran. Hasil uji kekerasan bedak kompak dengan konsentrasi 7,5, 10, 12,5 dan 15% berturut-turut adalah dengan nilai rata-rata 0,38, 0,44, 0,45 dan 0,70 kg. Semua sediaan yang dibuat tidak mudah remuk dan pecah. Warna semua sediaan yang dibuat tidak mengalami perubahan selama 60 hari, pada hari ke 65 hingga hari ke 90 warna mengalami perubahan (tidak stabil). Bau dan bentuk semua sediaan yang dibuat stabil selama 90 hari. Sediaan tidak memenuhi persyaratan uji angka lempeng total dengan hasil yang diperoleh yaitu 1x105. Sediaan tidak menyebabkan iritasi. Kesimpulan yang diperoleh bahwa sari wortel dapat diformulasikan ke dalam bedak kompak dengan konsentrasi warna yang disukai yaitu konsentrasi 7,5, 10 dan 12,5%.

(7)

FORMULATION OF COMPACT POWDER USING CARROT JUICE (Daucus carota L.)

AS A COLOURANT ABSTRACT

The compact powder is a decorative and a skin care cosmetic intended to blot out the flaws on the skin, such as covering dark spots and blemishes and to protect the skin from exposure to UV rays of the sun. Carrot containing beta-carotene which can give away orange colour and can be used as a natural colourant replaces synthetic colourant. Purpose of this research was to formulated a compact powder using colourant from carrot juice.

The colourant of carrot juice was taken from fresh carrot using a juicer and then carrot juice added sodium metabisulfite, then in freeze drying until obtained carrot juice as a caramel. The formula of compact powder consist of zink oxide, light kaolin, talk, magnesium carbonas. The preparation were made by using a tool tablet mold manually with colour concentration of 7.5, 10, 12.5 and 15%. Examination of the preparation made covering physical quality inspection include examination of homogeneity, polishes test, powder spread test, hardness test, fracture test, stability test and well done total plate count test, irritation test and hedonic test.

Variation in the concentration of colourant used carrot juice 7.5, 10, 12.5 and 15% produced colour in a row, that is cream, orange weak, young orange and dark orange. The result of homogeneity of compact powder showing that the compact powder was homogenously well. The compact powder easily smeared with witness colour and didn’t clot when applied except at concentration of 15%, it was not easy smeared. Power spread of compact powder made same with power spread of compact powder on the market. The result of hardness test of compact powder at concentration 7.5, 10, 12.5 and 15% row is with on avarage 0.38, 0.44, 0.45 and 0.70 kg. All the preparation not easily broken and cracked. Colour of all the preparation that had not made difference for 60 days, but on 65 days to 90 day the preparation had made difference (unstable). The smell and all preparation shape are made stable for 90 days. The preparation was not qualify the requirement of total plate count test with the result was 1x105. The preparation didn’t cause irritation. The conclusion is that carrot juice can be formulated into compact powder with the colour preferrred concentration is the concentration of 7.5, 10 and 12.5%.

(8)
(9)

2.5 Kosmetika Dekoratif ... 9

2.6 Bedak ... 10

2.7 Komponen Utama dalam Sediaan Bedak Kompak ... 13

BAB III METODE PENELITIAN ... 18

3.4 Pembuatan Bedak Kompak dengan Sari Wortel sebagai Pewarna dalam Berbagai Konsentrasi ... 20

3.4.1 Formula ... 20

3.4.2 Formula yang dimodifikasi ... 20

3.4.3 Prosedur pembuatan pengikat ... 21

3.4.4 Prosedur pembuatan bedak kompak ... 22

3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Bedak Kompak ... 22

3.5.1 Pemeriksaan homogenitas ... 22

3.5.2 Uji poles ... 23

3.5.3 Daya sebar ... 23

(10)
(11)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Modifikasi formula sediaan bedak kompak menggunakan

sari wortel sebagai pewarna dalam berbagai konsentrasi ... 21

4.1 Warna yang dihasilkan ... 28

4.2 Data pemeriksaan daya sebar pada sediaan bedak kompak . 30

4.3 Data pemeriksaan kekerasan pada sediaan bedak kompak ... 31

4.4 Data pemeriksaan keretakan pada sediaan bedak kompak .... 32

4.5 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bentuk

sediaan ... 33

4.6 Data uji iritasi ... 35

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Hasil identifikasi tumbuhan ... 43

2. Bagan alir pembuatan sari wortel ... 44

3. Gambar tumbuhan wortel (Daucus carota L.) ... 45

4. Gambar wortel ... 46

5. Gambar alat freeze dryer ... 47

6. Gambar sari wortel dalam bentuk karamel ... 48

7. Perhitungan bahan ... 49

8. Gambar sediaan bedak kompak tanpa sari wortel ... 50

9. Gambar sediaan bedak kompak menggunakan sari wortel ... 51

10. Gambar warna yang dihasilkan ... 52

11. Gambar hasi uji homogenitas bedak ... 53

12. Gambar hasil uji poles bedak pada punggung tangan ... 54

13. Gambar hasil daya sebar bedak kompak ... 55

14. Gambar alat uji kekerasan ... 56

15. Format formulir uji kesukaan (Hedonict test) ... 57

16. Format surat pernyataan untuk iritasi ... 58

17. Gambar uji iritasi ... 59

18. Perhitungan hasil uji kesukaan (Hedonict test) ... 60

(13)

FORMULASI SEDIAAN BEDAK KOMPAK MENGGUNAKAN SARI WORTEL (Daucus carota L.)

SEBAGAI PEWARNA ABSTRAK

Sediaan bedak kompak adalah sediaan kosmetika dekoratif dan perawatan kulit yang ditujukan untuk menyembunyikan kekurangan pada kulit wajah, seperti menutupi bintik-bintik dan noda serta untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV matahari. Wortel mengandung beta karoten yang memberikan warna oranye dan dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pengganti pewarna sintetik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan bedak kompak menggunakan pewarna alami dari sari wortel.

Zat warna sari wortel diperoleh dari wortel segar dengan menggunakan

juicer kemudian ditambahkan natrium metabisulfit, lalu dikering bekukan hingga diperoleh sari wortel seperti karamel. Formula bedak kompak terdiri dari seng oksida, kaolin, talkum, magnesium karbonat. Sediaan dibuat dengan menggunakan alat pencetak tablet secara manual dengan konsentrasi warna 7,5, 10, 12,5 dan 15%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik mencakup pemeriksaan homogenitas, uji poles, daya sebar, uji kekerasan, uji keretakan, uji stabilitas dan juga dilakukan uji angka lempeng total, uji iritasi serta uji kesukaan.

Variasi konsentrasi pewarna sari wortel 7,5, 10, 12,5 dan 15% menghasilkan warna berturut-turut, yaitu krem, oranye lemah, oranye muda dan oranye tua. Hasil uji homogenitas bedak menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat homogen. Sediaan mudah dipoles dengan warna merata, kecuali pada konsentrasi 15% sukar dipoles. Daya sebar sediaan bedak kompak yang dibuat sesuai dengan daya sebar sediaan bedak kompak yang ada dipasaran. Hasil uji kekerasan bedak kompak dengan konsentrasi 7,5, 10, 12,5 dan 15% berturut-turut adalah dengan nilai rata-rata 0,38, 0,44, 0,45 dan 0,70 kg. Semua sediaan yang dibuat tidak mudah remuk dan pecah. Warna semua sediaan yang dibuat tidak mengalami perubahan selama 60 hari, pada hari ke 65 hingga hari ke 90 warna mengalami perubahan (tidak stabil). Bau dan bentuk semua sediaan yang dibuat stabil selama 90 hari. Sediaan tidak memenuhi persyaratan uji angka lempeng total dengan hasil yang diperoleh yaitu 1x105. Sediaan tidak menyebabkan iritasi. Kesimpulan yang diperoleh bahwa sari wortel dapat diformulasikan ke dalam bedak kompak dengan konsentrasi warna yang disukai yaitu konsentrasi 7,5, 10 dan 12,5%.

(14)

FORMULATION OF COMPACT POWDER USING CARROT JUICE (Daucus carota L.)

AS A COLOURANT ABSTRACT

The compact powder is a decorative and a skin care cosmetic intended to blot out the flaws on the skin, such as covering dark spots and blemishes and to protect the skin from exposure to UV rays of the sun. Carrot containing beta-carotene which can give away orange colour and can be used as a natural colourant replaces synthetic colourant. Purpose of this research was to formulated a compact powder using colourant from carrot juice.

The colourant of carrot juice was taken from fresh carrot using a juicer and then carrot juice added sodium metabisulfite, then in freeze drying until obtained carrot juice as a caramel. The formula of compact powder consist of zink oxide, light kaolin, talk, magnesium carbonas. The preparation were made by using a tool tablet mold manually with colour concentration of 7.5, 10, 12.5 and 15%. Examination of the preparation made covering physical quality inspection include examination of homogeneity, polishes test, powder spread test, hardness test, fracture test, stability test and well done total plate count test, irritation test and hedonic test.

Variation in the concentration of colourant used carrot juice 7.5, 10, 12.5 and 15% produced colour in a row, that is cream, orange weak, young orange and dark orange. The result of homogeneity of compact powder showing that the compact powder was homogenously well. The compact powder easily smeared with witness colour and didn’t clot when applied except at concentration of 15%, it was not easy smeared. Power spread of compact powder made same with power spread of compact powder on the market. The result of hardness test of compact powder at concentration 7.5, 10, 12.5 and 15% row is with on avarage 0.38, 0.44, 0.45 and 0.70 kg. All the preparation not easily broken and cracked. Colour of all the preparation that had not made difference for 60 days, but on 65 days to 90 day the preparation had made difference (unstable). The smell and all preparation shape are made stable for 90 days. The preparation was not qualify the requirement of total plate count test with the result was 1x105. The preparation didn’t cause irritation. The conclusion is that carrot juice can be formulated into compact powder with the colour preferrred concentration is the concentration of 7.5, 10 and 12.5%.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Defenisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

1176/MENKES/PER/VIII/2010 tentang notifikasi kosmetika adalah bahan atau

sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia

(epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan

mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah

penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara

tubuh pada kondisi baik (Ditjen POM, 2010).

Kosmetik menjadi suatu kebutuhan yang penting dalam kehidupan

sehari-hari. Banyaknya berbagai macam produk kosmetik yang beredar,

menyebabkan terjadinya peningkatan penggunaan kosmetik. Tujuan awal

penggunaan kosmetika adalah mempercantik diri yaitu usaha untuk menambah

daya tarik agar lebih disukai orang lain. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan

cara merias setiap bagian tubuh yang terpapar oleh pandangan sehingga terlihat

lebih menarik dan sekaligus juga menutupi kekurangan (cacat) yang ada

(Mitsui, 1997; Wasitaatmadja, 1997).

Bedak termasuk dalam kosmetika dekoratif yang ditujukan untuk

menyembunyikan kekurangan pada kulit wajah, misalnya untuk menutupi kulit

wajah yang mengkilap (skin imperfection and shininess), permukaan kulit yang

(16)

powder (bedak bubuk) dan compact powder (bedak padat). Loose powder

(bedak bubuk) adalah bedak berupa bubuk halus, lembut, homogen sehingga

mudah ditaburkan atau disapukan merata pada kulit wajah. Compact powder

(bedak padat) adalah bedak bubuk yang dipres menjadi bentuk cake, lembut,

homogen dan mudah disapukan merata pada kulit dengan spon. Komposisi

bedak padat ini mirip bedak bubuk tetapi ditambahkan bahan pengikat ke

dalam komposisinya. Bahan-bahan pengikatnya (binders) memperbesar

adhesinya pada kulit dan untuk membuat bedak dapat dipres menjadi kompak

(Tranggono dan Latifah, 2007).

Zat warna dapat digunakan dalam formulasi kosmetik termasuk untuk

sediaan bedak. Semua zat warna harus dipilih dengan hati-hati sebagai

komposisi dalam formula supaya dapat bercampur homogen dengan

bahan-bahan lainnya. Warna bedak harus serasi dengan warna kulit. Warna yang

digunakan untuk bedak muka harus bercahaya dan tetap memberikan hasil

yang bagus. Pewarna sintetis seperti Rhodamin B dapat menyebabkan iritasi

pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik, berbahaya untuk

sediaan kosmetik. Tahun 2006, pemerintah sudah mengeluarkan peringatan

agar produk kosmetik yang mengandung Rhodamin B itu, tidak dipasarkan lagi

(Young, 1972; Anonim, 2013).

Wortel merupakan sayuran umbi akar berwarna kuning-jingga tua.

Wortel merupakan sumber beta-karoten yang merupakan bahan utama

pembentuk vitamin A di dalam tubuh. Karoten merupakan pigmen yang

(17)

jenis gugus karotenoid yang telah ditemukan di alam yang memberikan warna

jingga, kuning atau oranye. Konsentrasi beta-karoten dapat dipengaruhi oleh

kepekatan warna pigmen (Khomsan, 2009; Hidayat dan saati, 2006).

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin meneliti penggunaan zat

warna sari wortel diformulasi sebagai sediaan bedak kompak dengan beberapa

macam konsentrasi.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian

ini adalah:

a. Apakah zat warna sari wortel dapat dipakai sebagai pewarna dalam

sediaan bedak kompak.

b. Apakah sediaan bedak kompak dengan zat warna sari wortel yang

dibuat, stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar dalam waktu 90 hari.

c. Apakah formulasi sediaan bedak kompak dengan zat warna sari wortel

dapat menyebabkan iritasi saat digunakan.

1.3Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian

ini adalah:

a. Zat warna sari wortel dapat dipakai sebagai pewarna dalam sediaan

(18)

b. Sediaan bedak kompak dengan zat warna sari wortel stabil dalam

penyimpanan pada suhu kamar dalam waktu 90 hari.

c. Sediaan bedak kompak dengan zat warna sari wortel tidak menyebabkan

iritasi saat digunakan.

1.4Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk membuat sediaan bedak kompak dengan memakai zat warna dari

sari wortel.

b. Untuk mengetahui kestabilan sediaan bedak kompak dengan zat warna

sari wortel pada suhu kamar dalam waktu 90 hari.

c. Untuk mengetahui sediaan bedak kompak dengan zat warna sari wortel

tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.

1.5 Manfaat Penelitian

Untuk meningkatkan daya guna dari wortel sebagai pewarna alami

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Wortel

Wortel termasuk tanaman tak berkayu, hidup semusim, tinggi mencapai

1 meter, dapat hidup dengan baik di daerah dingin atau dataran tinggi.

Batangnya pendek, basah, merupakan sekumpulan tangkai daun yang keluar

dari ujung umbi bagian atas. Daun majemuk, tangkai melebar, ujung

meruncing, pangkal berlekuk. Bunga membentuk seperti payung, memiliki

mahkota berbentuk bintang, berwarna putih. Biji kecil, bulat, lonjong, warna

putih. Akarnya akar tunggang menjadi besar berbentuk umbi, berdaging, warna

kuning kemerahan (Sunanto, 2002).

Tumbuhan wortel membutuhkan sinar matahari dan dapat tumbuh pada

semua musim. Bentuk wortel sangat beragam, itu dikarenakan perbedaan iklim

dan kelembaban tanah di berbagai negara berbeda. Cahyono (2002),

membedakan wortel menjadi tiga jenis yaitu, jenis Imperator, jenis Chantenay,

dan jenis Nantes (Dwicahya, 2010).

Pembentukan karoten dipengaruhi oleh suhu dan optimum pada suhu

16-25ºC, dapat lebih rendah pada suhu di bawah atau di atas kisaran tersebut.

Pembentukan pigmen terjadi setelah pertumbuhan umbi sehingga umbi muda

berwarna pucat. Dengan pertumbuhan yang terus berlangsung, karoten

terakumulasi dan mencapai konsentrasi maksimum setelah tanaman berumur

(20)

Wortel dapat dipanen setelah 100 hari tergantung dari jenisnya.

Pemanenan tidak boleh terlambat karena umbi akan semakin mengeras

sehingga tidak disukai oleh konsumen. Wortel selain dikenal sebagai tanaman

sayuran, tetapi juga bermanfaat sebagai tanaman berkhasiat obat yang dapat

digunakan untuk mengobati beberapa jenis penyakit, tidak hanya itu wortel

juga dapat di gunakan untuk kecantikan (Sunanto, 2002; Tim Penulis PS,

1992).

2.1.1 Sistematika tumbuhan

Dalam sistematika tumbuhan, wortel diklasifikasikan sebagai berikut

(Rukmana, 1995):

2.1.2 Kandungan kimia dan gizi

Wortel merupakan sumber beta-karoten yang merupakan bahan utama

pembentuk vitamin A di dalam tubuh, karena kandungannya mencapai 7.000

mikogram dalam 100 gram wortel. Kadar energi wortel relatif rendah sehingga

baik bagi orang yang berdiet rendah kalori. Kandungan gizi lainnya dalam

(21)

besi, natrium, kalium, vitamin A,D,E,K serta vitamin C. Kandungan kimia

umbi akar wortel ini berupa alkaloid daukina, dausina, daukosterina, minyak

atsiri, limonena, pirolidina. Sedangkan bijinya mengandung asam tiglat, azaron

dan bisabol (Khomsan, 2009).

2.2 Beta Karoten

Karoten menghasilkan warna jingga sampai merah. β-karoten

mempunyai sifat tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak dan pelarut

organik lainnya. Hal ini disebabkan karena karoten mempunyai struktur

nonpolar. β – karoten mempunyai sejumlah keistimewaan diantaranya sebagai

antioksidan yang dapat menyerang radikal bebas. β-karoten berfungsi sebagai

prekursor vitamin A yang disebut sebagai provitamin A yang mempunyai

kemampuan untuk dikonversikan menjadi vitamin A dua kali lebih besar

daripada jenis karoten lainnya. Diketahui bahwa dalam 1 μg karoten wortel

segar terdapat 0,92 μg β-karoten (Hidayat dan Saati, 2006).

2.3 Kulit

Kulit adalah organ terbesar dari tubuh, meliputi wilayah yang sangat

besar. Kulit memiliki variasi ketebalan di berbagai bagian tubuh. Kulit yang

paling tebal terdapat pada telapak kaki dan telapak tangan. Kulit merupakan

organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan

(22)

tertipis terdapat dibagian wajah, hal ini penting diketahui untuk menggunakan

kosmetik (Young, 1972; Wasitaatmadja, 1997).

Kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu: 1) Lapis epidermis atau

kutikel; 2) Lapis dermis (korium, kutis vera, true skin); dan 3) Lapis subkutis

(hipodermis). Dari sudut kosmetik, epidermis merupakan bagian kulit yang

menarik karena kosmetik dipakai pada epidermis itu. Meskipun ada beberapa

jenis kosmetik yang digunakan sampai ke dermis, namun tetap penampilan

epidermis yang menjadi tujuan utama (Tranggono dan Latifah, 2007;

Wasitaatmadja, 1997).

Dengan kemajuan teknologi, dermis menjadi tujuan dalam kosmetik

medik. Lapisan dermis jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapis subkutis

merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel

lemak di dalamnya (Tranggono dan Latifah, 2007; Wasitaatmadja, 1997).

2.4 Kosmetika

Penggolongan kosmetik menurut kegunaannya bagi kulit, antara lain

(Tranggono dan Latifah, 2007):

a. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics)

Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit, termasuk

di dalamnya, yaitu: kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser),

kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), kosmetik pelindung

(23)

b. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)

Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit

sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta

menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self

confidence). Dalam kosmetik riasan, peran zat warna dan zat pewangi

sangat besar.

2.5 Kosmetika Dekoratif

Kosmetik dekoratif untuk kulit, rambut dan pelengkap lainnya,

misalnya bibir dan kuku yang ada di pasaran, bertujuan untuk meningkatkan

atau melindungi dan menjaga kesehatan. Berbagai macam persiapan untuk

meningkatkan dan mengubah penampilan serta menutupi cacat. Untuk

kosmetika rias kulit wajah terdiri dari: a) Bedak (skin/face powder); b)

Compact rouge; c) Rouge cream; d) Fluid rouge; dan e) kamuflase (theater).

Perbedaan antara kosmetika tersebut terletak pada bahan dasar dan zat warna.

Konsentrasi zat warna dan bahan dasar akan menentukan bentuk dan daya rias

suatu kosmetika rias (Butler, 2000; Wasitaatmadja, 1997).

Dalam kosmetik dekoratif, peran zat warna dan zat pewangi sangat

besar. Tujuan penggunaan zat warna ini cendrung untuk menutupi hal-hal

yang dapat mengurangi kecantikan, misalnya garis-garis penuaan ditutupi,

rambut putih disemir, warna bibir dipersegar, kuku dicat, alis dan bulu mata

(24)

dalam bentuk lipstik, rouge, bedak, maskara dan sebagainya (Tranggono dan

Latifah, 2007).

Sedikit persyaratan untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah warna

yang menarik, bau yang harum menyenangkan, tidak lengket, tidak

menyebabkan kulit tampak berkilau dan sudah tentu tidak merusak atau

menganggu kulit, rambut, bibir, kuku dan lainnya. Kosmetika dekoratif dapat

dibagi dalam dua golongan besar, yaitu (Tranggono dan Latifah, 1997):

1. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan

pemakaiannya sebentar, misalnya bedak, lipstik, eye-shadow, pemerah

pipi dan lain-lain.

2. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu

lama baru luntur, misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut,

pengriting rambut dan preparat penghilang rambut.

2.6 Bedak

Bedak adalah jenis kosmetik yang telah digunakan sejak lama untuk

tujuan membuat wajah agar lebih menarik dan menutupi bintik-bintik

dan noda. Namun, seiring perkembangan zaman, tujuan utama bedak kini dapat

menghapus kilau minyak karena keringat dan sebum dan menjaga riasan dapat

bertahan lebih lama. Dengan penambahan warna seperti warna merah muda,

bedak juga dapat digunakan untuk memberikan kesan halus untuk warna kulit

(25)

Suatu bedak harus mencapai efek cukup buram untuk dapat menutupi

atau menyamarkan kekurangan pada kulit wajah, tapi hal ini tidak harus

memberikan efek seperti topeng. Selain itu, bedak harus bersifat cukup tahan

lama sehingga tidak dibutuhkan pembedakan berulang kali. Hal-hal yang harus

diperhatikan seperti warna dari kulit yang juga menggambarkan aktivitas

biologis dari jaringan epidermis dan dapat merupakan indikasi bagi seorang

wanita yang normal pada umumnya. Hidung yang merah, mungkin merupakan

gambaran dari pembuluh darah. Titik merah pada pipi yang sangat merah,

pancaran wajah yang pucat kekuningan, bintik-bintik hitam di bawah mata

menunjukkan tanda-tanda tak bercahaya dan juga menunjukkan jalan hidup

atau pola hidup dari orang tersebut (Balsam dan Sagarin, 1972).

Hampir semua orang memiliki kerutan dan garis-garis yang

menunjukkan perubahan pada usia, tanda lahir yang kecil, pembesaran

pori-pori, bekas jerawat, luka akibat lesi kulit dan sebagainya.

Kekurangan-kekurangan inilah yang ingin ditutupi oleh seorang wanita agar penampilannya

lebih menarik. Efek penutupan ini dapat dicapai dengan penggunaan bedak

wajah, make-up cair (seperti foundation, blush on, eye shadow) dan tambahan

lainnya (Balsam dan Sagarin, 1972).

Ada dua bentuk bedak wajah, yaitu:

a. Bedak tabur (Loose powder)

Bedak tabur merupakan produk bedak berupa bubuk di mana hampir

semua bahan baku serbuk dan tidak ada minyak digunakan. Bedak tabur dapat

(26)

mengurangi rasa lengket pada wajah serta menjaga riasan terlihat tetap baik

dalam waktu lama dengan mengontrol pengeluaran keringat dan sebum di

wajah. Pemakaian bedak tabur menggunakan puff agar bedak dapat tersebar

merata pada wajah. Bahan baku dasar bedak tabur adalah talkum. Selain itu

ditambahkan bahan-bahan lainnya seperti kaolin dan titanium oksida

mempunyai kemampuan menutupi yang baik, zink stearat dan zink miristat

untuk adhesi yang baik, serta kalsium karbonat dan magnesium karbonat untuk

menyerap keringat dan sebum. Pigmen pewarna dan pigmen mutiara biasanya

digunakan untuk meningkatkan warna kulit (Mitsui, 1997).

b. Bedak kompak (Compact powder)

Bedak kompak yang perkenalkan di Amerika pada tahun 1930 telah

mencapai popularitasnya dikarenakan penggunaannya yang sangat mudah dan

penyimpanan yang nyaman. Bedak kompak adalah bubuk yang dikompres

menjadi padatan. Penggunaan bedak kompak biasanya dengan memakai spons

bedak. Bedak kompak harus dapat menempel dengan mudah pada spons bedak

dan padatan bedaknya harus cukup kompak, tidak mudah pecah atau patah

dengan penggunaan normal (Butler, 2000).

Bahan baku dasar bedak kompak sama seperti bahan dasar bedak tabur

namun, pada bedak kompak menggunakan pengikat agar bedak dapat dipress

membentuk sebuah cake. Sifat dari pengikat yaitu, membantu dalam kompresi,

adhesi dan mengembangkan pewarna. Jika tingkat pengikat yang terlalu besar,

bedak akan semakin mengeras sehingga menyebabkan bedak menjadi sukar

(27)

hingga 10%, tergantung pada variabel formulasi. Pigmen pewarna dapat

ditambahkan pada bedak kompak (Barel, et al., 2001).

Bentuknya sangat padat, digunakan setelah pemakaian alas bedak.

Bahan-bahan yang terkandung di dalamnya membuat bedak jenis padat ini

cepat menyerap sekaligus mengurangi minyak. Bentuknya beragam, tidak

mudah tumpah hingga praktis dibawa kemanapun. Sebaiknya dioleskan

tipis-tipis saja (Anonim, 2010).

2.7 Komponen Utama dalam Sediaan Bedak Kompak

Pada dasarnya bahan dasar yang terkandung dalam bedak kompak

adalah identik dengan yang digunakan dalam bedak tabur. Namun, terdapat 2

karakteristik untuk bedak kompak yang mana tidak terdapat dalam bedak tabur,

kemampuan mengikat dan mudah lepas. Dasar dari padatan bedak harus dapat

dikempa dengan mudah, kemudian bersatu bersama dan tidak bergelombang

atau retak di bawah kondisi penggunaan yang normal. Untuk mencapai kondisi

ini bahan pengikat dibutuhkan. Bedak kompak juga harus memiliki sifat mudah

lepas ketika digosokkan dengan spons bedak. Tekanan yang terlalu rendah

akan menghasilkan padatan yang sangat mudah hancur; tekanan yang terlalu

besar akan menghasilkan padatan yang keras yang mana tidak mudah terlepas

(28)

Komponen bedak yang digunakan adalah (Balsam dan Sagarin, 1972;

Butler, 2000):

a. Talkum

Secara kimiawi, talkum adalah magnesium silikat (3MgO. 4SiO2.H2O).

Ini merupakan bahan dasar dari segala macam formulasi bedak modern, sifat

dari talkum adalah mudah menyebar namun, mempunyai daya menutupi yang

rendah. Untuk bedak wajah talkum harus putih, tidak berbau dan halus serta

sifatnya yang sangat mudah menyebar adalah hal yang sangat dibutuhkan.

Ukuran partikel dari talkum adalah salah satu kriteria untuk standar

kualitasnya. Paling tidak 98% harus dapat melewati ayakan mesh 200 (tidak

lebih besar dari 74 mikro).

b. Kaolin

Kaolin merupakan bahan dasar dari golongan silikiat. Kaolin memiliki

kemampuan menutupi dan adhesi yang baik, dalam jumlah maksimal 25%

kaolin dapat mengurangi sifat kilat talkum. Tidak semua aluminium silikat

dapat diklasifikasikan sebagai kaolin, namun 3 kelompok di bawah ini secara

khusus memiliki formula yang sama (Al2O3. 2SiO2.2H2O) dan dapat disebut

kaolin: nacrite, dickite, dan kaolinite. Karena kaolin higroskopis

penggunaannya pada bedak wajah umumnya tidak melebihi 25%.

c. Zink oksida

Terdapat 2 bahan golongan oksida logam yang biasa digunakan dalam

formulasi bedak wajah: zink oksida dan titanium dioksida. Penggunaan yang

(29)

ini tidak diinginkan namun, bila terlalu sedikit membuat bedak tidak dapat

menempel pada tubuh. Diketahui bahwa zink oksida memiliki beberapa sifat

terapeutik dan membantu menutupi kecacatan pada kulit. Namun, penggunaan

yang berlebihan dapat menyebabkan kulit kering. Seng oksida memiliki

kecenderungan untuk mengepalkan partikel, oleh karena itu harus diayak

sebelum pencampuran dengan bahan lain dalam formulasi.

d. Magnesium karbonat

Sifat yang baik dari magnesium karbonat membuat bahan ini biasa

digunakan dalam bahan penyusun bedak. Magnesium karbonat memiliki sifat

absorben yang baik dan terbukti memiliki sifat mendistribusi parfum yang

baik. Penggunaan magnesium karbonat dalam jumlah yang banyak dapat

menyebabkan kulit kering.

e. Pengharum

Pengharum merupakan konstituen penting dari kebanyakan bedak

wajah. Tingkat aroma bedak wajah harus tetap rendah. Karena luas permukaan

bedak yang besar, oksidasi produk wewangian dapat sangat mudah terjadi.

Oleh karena itu, penting untuk menggunakan wewangian yang dirancang

khusus mengandung bahan yang tidak mudah teroksidasi.

f. Zat warna

Bahan pewarna adalah dasar dari bedak wajah yang menampilkan

nuansa bayangan yang diinginkan. Pewarna digunakan dalam variasi yang

berbeda baik pigmen organik ataupun anorganik. Jumlah dari pewarna yang

(30)

Bahan pengopak dari oksida dan transparansi dari talkum sangat

mempengaruhi jumlah pewarna yang diinginkan.

g. Pengikat

Beberapa jenis bahan pengikat yang digunakan dalam bedak wajah

adalah bervariasi dan banyak. Oleh karena itu, terdapat 5 tipe dasar pengikat

yang digunakan (Balsam dan Sagarin, 1972):

1. Pengikat kering

Penggunaan dari pengikat kering seperti logam stearat (Zink atau

Magnesium stearat) dibutuhkan untuk meningkatkan tekanan bagi

kompaknya bedak kompak.

2. Pengikat minyak

Minyak tunggal, seperti minyak mineral, isopropil miristat dan turunan

lanolin, dapat digunakan untuk dicampurkan dalam formula sebagai

pengikat. Penggunaan pengikat minyak ini banyak digunakan dalam

formula bedak kompak.

3. Pengikat larut air

Pengikat larut air yang biasa digunakan umumnya adalah larutan gum

seperti tragakan, karaya, dan arab. Penambahan pengawet penting

dalam medium gum dan juga dalam semua larutan pengikat dari tipe ini

untuk mengatasi pertumbuhan bakteri.

4. Pengikat tidak larut air

Pengikat tidak larut air digunakan secara luas dalam bedak kompak.

(31)

digunakan dan dicampur dengan sejumlah air untuk membantu

pembentukan bedak padat yang halus dan kompak. Penambahan bahan

pembasah akan membantu untuk menyeragamkan distribusi

kelembaban bedak.

5. Pengikat emulsi

Karena kesulitan tercapainya keseragaman penggunaan pengikat tidak

larut air dalam bedak kompak, peneliti telah mengembangkan bahan

pengikat emulsi yang sekarang telah banyak digunakan. Emulsi

memberikan distribusi yang seragam baik pada fase minyak maupun

fase air, dimana hal ini penting dalam pengempaan serbuk. Pengikat

emulsi tidak akan kehilangan kelembaban secepat pengikat tidak larut

air. Penggunaan minyak dalam bentuk emulsi bertujuan untuk

mencegah penggumpalan yang dapat terjadi ketika minyak tunggal

digunakan sebagai pengikat dalam bedak wajah.

h. Pengawet

Tujuan penggunaan pengawet adalah untuk menjaga kontaminasi

produk selama pembuatan dan juga selama digunakan oleh konsumen, dimana

mikroorganisme dapat mengkontaminasi produk setiap kali penggunaannya,

baik dari tangan atau dari alat yang digunakan. Bahan- bahan yang digunakan

harus menunjukkan terbebas dari mikroorganisme. Oleh karena itu,

ditambahkan pengawet untuk menghindari kemungkinan terjadi kontaminasi

(32)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi

penyiapan sampel, pembuatan sari, pembuatan formula sediaan, pemeriksaan

mutu fisik sediaan, uji iritasi terhadap sediaan dan uji kesukaan (Hedonic test)

terhadap variasi sediaan yang dibuat.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium,

neraca analitis, freeze dryer, mesin pengering, spatula, sudip, kaca objek,

lumpang dan alu porselen, ayakan mesh 60 dan mesh 100, cawan penguap,

tissue, alat pencetak, alat penguji kekerasan (copley) dan wadah bedak

kompak.

3.1.2 Bahan-bahan

Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah wortel

(Daucus carota L). Bahan kimia yang digunakan antara lain: akuades, Seng

oksida, kaolin, talkum, magnesium karbonat, oleum citri, nipagin, gliserol dan

(33)

3.2 Penyiapan Sampel

Penyiapan sampel meliputi pengumpulan sampel, determinasi

tumbuhan dan pengolahan sampel.

3.2.1 Pengumpulan sampel

Pengumpulan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa

membandingkan dengan daerah lain. Sampel yang digunakan adalah buah

wortel yang masih segar yang terdapat di Desa Sempa Jaya, Kecamatan

Brastagi Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

3.2.2 Determinasi tumbuhan

Determinasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense,

Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, USU.

Hasil determinasi dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 43.

3.2.3 Pengolahan sampel

Buah wortel yang masih segar dikumpulkan kemudian disortasi, dicuci

hingga bersih, dikikis kulitnya. Setelah itu ditimbang berat wortel seluruhnya.

3.3 Pembuatan Sari Wortel

Buah wortel segar seberat 3 kg yang telah dicuci bersih, kemudian di

juice dengan juicer, didapat 750 ml sari wortel yang kedalamnya ditambahkan

0,1% Natrium metabisulfit di freeze drying selama 24 jam pada suhu -40ºC

(34)

3.4 Pembuatan Bedak Kompak dengan Sari Wortel sebagai Pewarna dalam Berbagai Konsentrasi

3.4.1 Formula

Formula dasar yang dipilih pada pembuatan bedak kompak

dalam penelitian ini dengan komposisi sebagai berikut (Formularium

Kosmetika Indonesia, 1985):

R/ Seng oksida 16,7 g

Kaolin 33,5 g

Talkum 33,3 g

Magnesiumkarbonat 16,5 g

Zat warna q.s

Parfum q.s

3.4.2 Formula yang dimodifikasi

Dalam penelitian ini, formula standar dari Formularium Kosmetika

Indonesia setelah dimodifikasi sebagai berikut:

(35)

Pengikat gom arab: Gom arab 5%

Gliserol 5%

Air 90%

Keterangan x = 7,5%, 10%, 12,5%, 15%

Konsentrasi sari wortel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

7,5%, 10%, 12,5%, 15% dan blanko (tanpa zat warna). Modifikasi formula

sediaan bedak kompak dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini.

Tabel 3.1 Modifikasi formula sediaan bedak kompak menggunakan sari wortel sebagai pewarna dalam berbagai konsentrasi

Keterangan:

Sediaan 1 : Formula tanpa sari wortel

Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi sari wortel 7,5% Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi sari wortel 10% Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi sari wortel 12,5% Sediaan 5 : Formula dengan konsentrasi sari wortel 15%

3.4.3 Prosedur pembuatan pengikat

Gom arab dimasukkan ke dalam lumpang, lalu ditambahkan air

sebanyak 1,5 kali dari berat gom arab. Di diamkan beberapa saat, kemudian

digerus kencang sampai terbentuk mucilago. Setelah itu, ditambahkan gliserol

sambil terus digerus. Ditambahkan sisa air lalu, digerus homogen.

(36)

3.4.4 Prosedur pembuatan bedak kompak

Seng oksida digerus terlebih dahulu, kemudian diayak dengan

pengayak mesh 60. Dimasukkan magnesium karbonat ke dalam lumpang.

Ditambahkan kaolin dan seng oksida, lalu digerus homogen. Kemudian

ditambahkan nipagin yang telah dihaluskan, digerus homogen (Massa I).

Didalam lumpang yang lain, digerus zat warna sari wortel bersama talkum

(Massa II). Dimasukkan massa II ke dalam massa I, dihomogenkan.

Ditambahkan parfum lalu, digerus perlahan sampai homogen. Kemudian

disemprotkan dengan sejumlah larutan pengikat secara perlahan-lahan dan

digerus hingga homogen. Ayak dengan pengayak mesh 60. Masukkan ke

dalam mesin pengering (dikeringkan kira-kira selama 10-20 menit). Kemudian

diayak kembali dengan pengayak mesh 100. Dikempa lalu dimasukkan ke

dalam wadah.

3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan

Pemeriksaan mutu fisik sediaan dilakukan terhadap masing-masing

sediaan bedak kompak. Pemeriksaan mutu fisik meliputi: pemeriksaan

homogenitas, uji poles, daya sebar, uji kekerasan, uji keretakan dan stabilitas

sediaan yang mencakup pengamatan terhadap perubahan bentuk, warna dan

bau dari sediaan.

3.5.1 Pemeriksaan homogenitas

Pewarna pada bedak wajah harus dapat terdispersi secara homogen

(37)

pada bedak. Pemeriksaan homogenitas dapat dilakukan dengan menyebarkan

bedak pada kertas putih dan dilihat homogenitasnya pada kaca pembesar. Jika

warna pada dasar bedak menyebar secara merata, maka bedak dikatakan

homogen (Butler, 2000).

3.5.2 Uji poles

Uji poles dapat dilakukan dengan mempoleskan sediaan bedak kompak

dengan menggunakan aplikator yang benar. Pengompakan yang tidak benar

akan mempengaruhi hasil dari parameter ini. Jika tekanan terlalu besar bedak

kompak yang dihasilkan tidak dapat dipoles dengan mudah dan akan ada gaya

adhesi yang cukup terhadap puff. Jika tekanannya terlalu rendah bedak kompak

akan menjadi kurang kompak dan mempunyai kecendrungan menjadi remuk

dan pecah (Butler, 2000).

3.5.3 Daya sebar

Sediaan dihaluskan terlebih dahulu lalu ditimbang sebanyak 0,5 gram

dan diletakkan ditengah-tengah kaca ditutup dengan kaca lain yang telah

ditimbang beratnya dan dibiarkan selama 1 menit. Kemudian diukur diameter

sebarnya, setelah itu ditambah beban 50 gram dan dibiarkan selama 1 menit,

lalu diukur diameter sebarnya. Dilakukan terus-menerus hingga diperoleh

diameter yang cukup untuk melihat pengaruh beban terhadap perubahan

diameter sebar sediaan (Garg, et al., 2002).

3.5.4 Uji kekerasan

Sediaan yang telah di buat di uji kekerasannya dengan menggunakan

(38)

tombol on yang terdapat dibelakang alat. Diletakkan 1 sediaan uji coba terlebih

dahulu lalu ditekan tombol new size, tujuannya agar alat selanjutnya dapat

menyesuaikan ukuran sediaan yang akan diuji kekerasannya. Setelah itu,

dibersihkan guard dengan kuas lalu, diletakkan sediaan yang akan diuji

kekerasannya. Kemudian tekan tombol test, maka alat akan menampilkan nilai

kekerasan dari sediaan.

3.5.5 Uji keretakan

Uji keretakan bedak kompak dilakukan dengan menjatuhkan bedak

kompak pada permukaan kayu beberapa kali (2-3 kali) pada ketinggian 8-10

inci. Jika bedak kompak tidak rusak, menunjukkan bahwa kekompakannya

lulus uji dan dapat disimpan tanpa memberikan hal-hal yang tidak memuaskan

(Butler, 2000).

3.5.6 Uji stabilitas

Uji ini meliputi parameter organoleptik yaitu dilakukan pengamatan

terhadap adanya perubahan bentuk, warna dan bau dari sediaan bedak kompak

dilakukan terhadap masing-masing sediaan selama penyimpanan pada suhu

kamar pada hari ke 1, hari ke 7, hari ke 15 dan selanjutnya setiap 5 hari sekali

hingga hari ke 90 (Anvisa, 2005).

3.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Setelah dilakukan pengujian kestabilan fisik terhadap sediaan,

kemudian dilanjutkan dengan uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test)

(39)

3.6.1 Uji iritasi

Uji iritasi dilakukan terhadap sediaan bedak kompak dengan maksud

untuk mengetahui bahwa bedak yang dibuat dapat menimbulkan iritasi pada

kulit atau tidak. Iritasi dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu iritasi primer yang

akan segera timbul sesaat setelah terjadi perlekatan atau penyentuhan pada

kulit dan iritasi sekunder yang reaksinya baru timbul beberapa jam setelah

penyentuhan atau perlekatan pada kulit (Ditjen POM, 1985).

Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji tempel terbuka

(open Test) pada lengan bagian bawah dalam terhadap 10 orang panelis. Uji

tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi

lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa

yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 2-3 kali sehari selama dua hari

berturut-turut (Tranggono dan Latifah, 2007).

Reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal-gatal atau

bengkak pada kulit lengan bawah bagian dalam yang diberi perlakuan. Adanya

eritema diberi tanda (+), eritema dan papula (++), eritema, papula disertai

pembentukan vesikula(+++), edema dan vesikula (++++) dan yang tidak

menunjukkan reaksi apa-apa diberi tanda (-) (Tranggono dan Latifah, 2007).

3.6.2 Uji kesukaan (Hedonic test)

Uji kesukaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis

terhadap sediaan yang dibuat. Jumlah panel uji kesukaaan makin besar semakin

baik. Sebaiknya jumlah itu melebihi 20 orang panelis. Pengujian dilakukan

(40)

kompak yang dibuat pada kulit punggung tangannya lalu, memberikan

penilaian terhadap masing-masing bedak kompak berdasarkan tekstur dan

warna.

Parameter pengamatan pada uji kesukaan adalah kemudahan penyapuan

sediaan bedak kompak, homogenitas dan intensitas warna. Menurut Badan

Standarisasi Nasional (2006) data yang diperoleh dari lembar penilaian

ditabulasi dan ditentukan nilai kesukaan setiap sediaan dengan mencari hasil

rerata pada setiap panelis pada tingkat kepercayaan 95%, menggunakan rumus:

P (

Keterangan: P : tingkat kepercayaan : Nilai rata-rata

1,96 : Koefisien standar deviasi pada taraf 95% S : Simpangan baku

n : Banyaknya panelis

Kriteria panelis (Soekarto, 1981):

1. Panelis yang digunakan adalah panelis tidak terlatih yang diambil

secara acak sebanyak 30 orang panelis. Jumlah anggota panelis semakin

besar semakin baik.

2. Berbadan sehat.

3. Tidak dalam tekanan.

4. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang cara-cara penilaian

(41)

3.7 Uji Angka Lempeng Total

Pengujian angka lempeng total dilakukan di Laboratorium

Mikrobiologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, USU.

Sebanyak 1 gram sediaan bedak kompak yang telah dihaluskan

dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi 10 ml aquabides steril

(pengenceran 1:10), sehingga diperoleh pengenceran 10-1. Dipersiapkan 4 buah

tabung reaksi. Dipipet 1 ml pengenceran 10-1 lalu, dimasukkan ke dalam

tabung reaksi I yang telah berisi 9 ml aquabides steril, diperoleh pengenceran

10-2. Kemudian dipipet 1 ml pengenceran 10-2 lalu, dimasukkan ke dalam

tabung reaksi II yang telah berisi 9 ml aquabides steril, diperoleh pengenceran

10-3. Demikian seterusnya hingga diperoleh pengenceran 10-5. Setelah itu,

dipipet 1 ml pengenceran 10-5 kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri.

Lalu ditambahkan 8-10 ml media PCA (Plate Count Agar) yang suhunya

38-40ºC kemudian dihomogenkan. Diinkubasi selama 24-48 jam dengan suhu

(42)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Sari Wortel

Hasil sari berupa karamel berwarna orange sebanyak 64,49 gram yang

diperoleh dari 3 kg wortel. Randemen yang diperoleh yaitu 2,15%.

4.2 Hasil Formulasi Sediaan Bedak Kompak

Variasi konsentrasi pewarna sari wortel yang digunakan menghasilkan

perbedaan warna pada sediaan bedak kompak. Bedak kompak dengan

konsentrasi sari wortel 7,5% menghasilkan warna krem dan pada konsentrasi

10% menghasilkan warna oranye lemah, pada konsentrasi 12,5% menghasilkan

warna oranye muda dan konsentrasi 15% menghasilkan warna oranye tua.

Aroma bedak kompak adalah aroma khas dari oleum citri. Warna sediaan

bedak kompak yang ada dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Warna yang dihasilkan

(43)

4.3 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Bedak Kompak 4.3.1 Hasil uji homogenitas bedak

Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat

homogen dan tidak ada ditemukan warna yang tidak merata pada saat

ditaburkan pada kertas putih.

4.3.2 Hasil uji poles bedak

Sediaan bedak kompak menghasilkan pengolesan yang baik jika

memberikan warna yang intensif, merata dan homogen saat dipoleskan pada

punggung tangan. Berdasarkan uji poles diperoleh hasil bahwa sediaan yang

menghasilkan pengolesan yang baik adalah sediaan pada konsentrasi sari

wortel 7,5, 10 dan 12,5%. Hal ini ditandai dengan satu sampai dua kali

pengolesan sediaan telah memberikan warna yang intensif dan homogen saat

dipoleskan pada kulit punggung tangan. Sedangkan, sediaan dengan

konsentrasi sari wortel 15% tidak memberikan warna yang intensif dan sukar

dipoleskan di kulit punggung tangan. Hal ini disebabkan tingkat zat warna sari

wortel yang tinggi. Wortel mengandung gula yang cukup tinggi, dimana gula

dapat berfungsi sebagai pengikat. Sehingga ketika ditambahkan pengikat gom

arab membuat sediaan bedak kompak dengan konsentrasi zat warna sari wortel

15% ini semakin mengeras dan sukar dipoleskan pada kulit punggung tangan.

Agar sediaan dapat dipoles maka jumlah pengikat harus diturunkan. Hasil uji

poles dapat dilihat pada Lampiran 12, halaman 54.

4.3.3 Hasil uji daya sebar

(44)

membandingkan daya sebar bedak kompak yang menggunakan sari wortel

sebagai pewarna dengan bedak kompak yang beredar dipasaran. Data hasil

pemeriksaan daya sebar dapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Data hasil pemeriksaan daya sebar pada sediaan bedak kompak

Sediaan keterangan Perlakuan (cm)

Nilai

Sediaan 1: Formula tanpa sari wortel

Sediaan 2: Formula dengan sari wortel 7,5% Sediaan 3: Formula dengan sari wortel 10% Sediaan 4: Formula dengan sari wortel 12,5% Sediaan 5: Formula dengan sari wortel 15%

(45)

Berdasarkan hasil pemeriksaan daya sebar yang telah dilakukan, daya

sebar sediaan bedak kompak menggunakan zat warna sari wortel sesuai dengan

daya sebar sediaan bedak kompak yang beredar di pasaran.

4.3.4 Hasil uji kekerasan

Masing-masing konsentrasi dari bedak kompak diuji kekerasannya

menggunakan alat pengukur kekerasan (copley). Hasil uji kekerasan dapat

dilihat pada Tabel 4.3 di bawah ini.

Tabel 4.3 Data pemeriksaan kekerasan pada sediaan bedak kompak Sediaan Perlakuan ke 1

(kg)

Sediaan 1: Formula tanpa sari wortel

Sediaan 2: Formula dengan sari wortel 7,5% Sediaan 3: Formula dengan sari wortel 10% Sediaan 4: Formula dengan sari wortel 12,5% Sediaan 5: Formula dengan sari wortel 15%

Sediaan 6: Sediaan bedak kompak caring colours martha tilaar (blooming pink)

Hasil uji kekerasan yang didapat terhadap sediaan bedak kompak

dengan konsentrasi 7,5, 10, 12,5 dan 15% menunjukkan hasil yang berbeda.

Semakin tinggi konsentrasi semakin meningkat tingkat kekerasan bedak. Hal

ini disebabkan kandungan gula pada wortel, dimana gula dapat sebagai

pengikat. Sehingga bedak dengan konsentrasi sari wortel tertinggi memiliki

(46)

5 di atas kekerasan sediaan yang ada dipasaran. Namun, kekerasan sediaan

yang dibuat ini masih dapat digunakan.

4.3.5 Hasil uji keretakan

Pengujian keretakan sediaan bedak kompak dilakukan untuk

mengetahui kekompakan dari sediaan. Hasil uji keretakan pada setiap sediaan

bedak kompak dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini.

Tabel 4.4 Data pemeriksaan keretakan pada sediaan bedak kompak

Sediaan Dijatuhkan pada permukaan kayu dengan ketinggian 8-10 inci sebanyak 3 (tiga) kali

1 Tidak pecah

Sediaan 1: Formula tanpa sari wortel

Sediaan 2: Formula dengan sari wortel 7,5% Sediaan 3: Formula dengan sari wortel 10% Sediaan 4: Formula dengan sari wortel 12,5% Sediaan 5: Formula dengan sari wortel 15%

Menurut Butler (2000), Jika bedak kompak tidak rusak, menunjukkan

bahwa kekompakannya lulus uji dan dapat disimpan tanpa memberikan hal-hal

yang tidak memuaskan. Dari hasil yang diperoleh maka, seluruh sediaan yang

dibuat memenuhi persyaratan uji keretakan.

4.3.6 Hasil uji stabilitas

Uji stabilitas dilakukan untuk mengetahui stabilitas sediaan selama

(47)

Tabel 4.5 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bentuk sediaan

Sediaan Sediaan Sediaan

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

bk : bau khas Sediaan 2: Formula dengan sari wortel 7,5% p : putih Sediaan 3: Formula dengan sari wortel 10% k : krem Sediaan 4: Formula dengan sari wortel 12,5% ol : oranye lemah Sediaan 5: Formula dengan sari wortel 15 om : oranye muda

ot : oranye tua m : memudar

Parameter yang diamati dalam uji kestabilan fisik ini meliputi

perubahan bentuk, warna dan bau sediaan. Dari hasil pengamatan bentuk,

didapatkan hasil bahwa seluruh sediaan bedak kompak yang dibuat tidak

terjadi perubahan bentuk dari bentuk awal pencetakan selama 90 hari pada

(48)

dibuat tetap stabil selama penyimpanan pada suhu kamar selama 60 hari

pengamatan. Pada hari ke 65 sampai hari ke 90 warna sediaan memudar.

Dengan bertambahnya konsentrasi zat warna sari wortel, warna bedak yang

dihasilkan semakin pekat. Bedak kompak dengan konsentrasi sari wortel 7,5%

memberikan warna krem, konsentrasi 10% memberikan warna oranye lemah,

konsentrasi 12,5% memberikan warna oranye muda dan konsentrasi 15%

memberikan warna oranye tua. Perubahan warna yang terjadi pada bedak

kompak pada hari ke 65 hingga hari ke 90 ini disebabkan kandungan beta

karoten yang terdapat dalam wortel. Beta karoten sangat mudah teroksidasi

dengan adanya cahaya, sehingga warna menjadi tidak stabil. Untuk

mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan warna yang disebabkan adanya

cahaya, penyimpanan dilakukan dalam wadah gelap. Sedangkan bau yang

dihasilkan dari seluruh sediaan bedak kompak adalah bau khas dari parfum

yang digunakan yaitu oleum citri. Bau sediaan tetap stabil dalam penyimpanan

90 hari pengamatan pada suhu kamar.

4.3.7 Hasil uji iritasi

Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan pada 10 orang panelis yang

dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan bedak kompak pada kulit lengan

bawah bagian dalam selama 2 hari berturut-turut, menunjukkan bahwa semua

panelis tidak menunjukkan reaksi terhadap parameter reaksi iritasi yang

diamati yaitu adanya eritema, edema, papula dan vesikula. Dari hasil uji iritasi

(49)

menyebabkan iritasi. Data hasil uji iritasi dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut

ini.

Tabel 4.6 Data uji iritasi

No Pernyataan

+++ = Eritema, papula dan vesikula ++++ = Edema dan vesikula

4.3.8 Hasil uji kesukaan (Hedonic test)

Data yang diperoleh dari lembar penilaian (kuesioner) ditabulasi dan

ditentukan untuk setiap sediaan dengan mencari hasil rata-rata pada setiap

panelis pada tingkat kepercayaan 95%.

Setiap panelis diminta untuk mengoleskan masing-masing sediaan

bedak kompak yang dibuat pada kulit punggung tangannya. Parameter

pengamatan pada uji kesukaan adalah kemudahan pengolesan bedak kompak,

homogenitas dan intensitas warna dari bedak kompak saat dipoleskan. Panelis

memberikan penilaian dengan mengisi kuesioner yang telah diberikan.

(50)

Tabel 4.7 Data nilai uji kesukaan (Hedonic test) Sediaan 2 : Formula dengan sari wortel 7,5%

(51)

Berdasarkan data uji kesukaan (Hedonic test) terhadap 30 orang

panelis, diketahui bahwa ada tiga sediaan bedak kompak yang disukai, yaitu

sediaan dengan konsentrasi 10, 12,5 dan 15%. Sediaan 4 yaitu bedak kompak

konsentrasi zat warna sari wortel 12,5% dengan presentase kesukaan 7,49%

panelis menyukai sediaan ini. Sediaan bedak kompak dengan konsentrasi zat

warna sari wortel 12,5% mudah dipoles dan memberikan warna yang sesuai

dengan warna kulit, sehingga banyak disukai kebanyakan panelis. Sediaan 5

yaitu bedak kompak dengan konsentrasi zat warna sari wortel 15% dengan

presentase 7,01% panelis menyukai sediaan ini. Presentase kesukaan pada

sediaan 3 yaitu dengan konsentrasi sari wortel 10% dengan presentase

kesukaan 6,61% panelis menyukai warna sediaan ini. Panelis yang menyukai

sediaan ini karena warna sediaan yang tidak terlalu gelap dan sesuai dengan

warna kulit panelis yang berwarna coklat. Dan pada sediaan 2 yaitu bedak

kompak dengan konsentrasi zat warna sari wortel 7,5% dengan presentase

kesukaan 6,18% panelis agak menyukai warna sediaan ini. Panelis yang lebih

memilih sediaan ini, memiliki kulit coklat muda dan warna dari sediaan ini

dapat menyatu dengan warna kulit panelis yang berkulit coklat muda.

Perhitungan hasil uji kesukaan (Hedonic test) pada Lampiran 18, halaman 60.

4.3.9 Hasil uji angka lempeng total

Pengujian angka lempeng total dilakukan pada bedak kompak yang

telah melalui uji kesukaan (Hedonic test). Kemudian dipilih satu konsentrasi

warna sediaan bedak kompak menggunakan sari wortel yang memiliki total

(52)

kompak tanpa pewarna sari wortel (blanko) untuk dilakukan pengujian angka

lempeng total.

Setelah dilakukan pengujian diperoleh hasil bahwa sediaan bedak

kompak tanpa pewarna sari wortel (blanko) memiliki nilai angka lempeng total

4x105 dan sediaan bedak kompak dengan konsentrasi warna sari wortel 12,5%

memiliki nilai angka lempeng total 1x105. Menurut “Keputusan Direktur

Jenderal Pengawas Obat Dan Makanan” tentang persayaratan cemaran

mikroba pada kosmetika menyatakan bahwa persayaratan angka lempeng total

pada sediaan rias wajah compact powder adalah 1x102.

Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa

sediaan bedak kompak tidak memenuhi persyaratan menurut Keputusan

Direktur Jenderal Pengawas Obat dan Makanan. Hal ini mungkin disebabkan

karena kondisi ruang kerja dan bahan-bahan baku yang dipakai kurang

memadai sehingga dapat memicu tumbuhnya mikroba pada sediaan bedak

(53)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

a. Zat warna sari wortel dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi

sediaan bedak kompak. Semakin bertambah konsentrasi sari wortel yang

digunakan dalam formula maka semakin bertambah pekat warna sediaan

bedak kompak yang dihasilkan. Bedak dengan konsentrasi 7,5% berwarna

krem, bedak dengan konsentrasi 10% berwarna oranye lemah, bedak

dengan konsentrasi 12,5% berwarna oranye muda dan bedak dengan

konsentrasi 15% berwarna oranye tua.

b. Hasil penentuan mutu fisik sediaan menunjukkan bahwa seluruh sediaan

yang dibuat stabil, tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk, warna

dan bau dalam penyimpanan selama 60 hari. Pada hari ke 65 sampai hari

ke 90 warna sediaan memudar.

c. Dari uji kesukaan sediaan yang disukai adalah bedak dengan konsentrasi

zat warna sari wortel 10, 12,5 dan 15%. Berdasarkan hasil uji iritasi yang

dilakukan terhadap 10 orang panelis menunjukkan sediaan bedak kompak

yang dibuat tidak menyebabkan iritasi.

5.2 Saran

a. Disarankan untuk dilakukan penelitian selanjutnya mengenai cara

(54)

b. Disarankan untuk dilakukan penelitian selanjutnya mengenai pemanfaatan

beta karoten sebagai antiaging.

c. Disarankan untuk peneliti selanjutnya dilakukan penambahan evaluasi

sediaan bedak kompak, seperti uji daya lekat.

d. Disarankan untuk peneliti selanjutnya dilakukan sterilisasi bahan baku

(55)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2010). Teknologi Kosmetik Bedak. Diakses 12 Juni 2010. http://www.pharmacyaurel.blogspot.com.

Anonim. (2013). Kenali Bahaya Kosmetik. Diakses Januari 2013. http://www.herbaltama.com.

Anvisa. (2005). Cosmetic Products Stability Guide, Edisi Kesatu. Brasilia:

National Health Survailance Agency Press. Hal. 18, 22.

Badan Standarisasi Nasional. (2006). Petunjuk Pengujian Organoleptik dan atau Sensori. Diakses Tanggal 10 Februari 2012. Hal. 5-6. http://www.scribd.com/doc/6544761B/SNI-01-2346-2006.

Balsam, M.S., dan Sagarin, E. (1972). Cosmetics Science and Technology. Edisi kedua. London: Jhon Willy and Son. Hal. 336-338, 400, 404-405.

Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I. (2001). Handbook of Cosmetic Science and Technology. New York: Marcel Dekker Inc. Hal. 5, 660.

Butler, H. (2000). Poucher’s Perfumes, Cosmetics and Soaps. Edisi Kesepuluh. Netherlands: Kluwer Academic Publisher. Hal. 169, 173, 178. 182, 188-189.

Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Depkes RI. Hal. 184, 187, 188.

Ditjen POM. (1994). Persyaratan Cemaran Mikroba pada Kosmetik. Jakarta: Depkes RI. Hal. 5.

Ditjen POM. (2010).Notifikasi Kosmetika. Jakarta: Depkes RI. Hal. 2.

Dwicahya, D.B. (2010). Media Informasi Tentang Sayuran Wortel. Diakses September 2010. http://www.elib.unikom.ac.id.

(56)

Hidayat, N., dan Saati, E.A. (2006). Membuat Pewarna Alami. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana. Hal. 9-12.

Khomsan, A. (2009). Rahasia Sehat dengan Makanan Berkhasiat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hal. 148, 149.

Mitsui, T. (1997). New Cosmetic Science. Edisi Kesatu. Amsterdam: Elsevier Science B.V. Hal. 3, 375-376.

Rukmana, R. (1995). Bertanam Wortel. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 11, 14, 17.

Rubatzky dan Yamaguchi, M. (1997). Sayuran Dunia 2. Edisi Kedua. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 166.

Soekarto. (1980). Penilaian Organoleptik Pusat Pengembangan Teknologi Pangan. Bogor: IPB Press. Hal. 145.

Sunanto, H. (2002). 100 Resep Sembuhkan Hipertensi, Asam Urat dan Obesitas. Jakarta: Penerbit PT Elexkomputindo Kelompok Gramedia. Hal 28, 29.

Tim Penulis PS. (1992). Sayur Komersial. Jakarta: Penebar Swadya. Hal. 128.

Tranggono, R.I.S., dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 6, 8, 11, 13, 90, 92, 104, 106, 167.

Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas Indonesia. Hal. 4, 5, 122.

(57)
(58)

Lampiran 2. Bagan alir pembuatan zat warna sari wortel

Wortel segar

Disortasi

Dicuci hingga bersih Dikikis kulitnya Ditimbang

Berat wortel

Ditimbang seberat 3 kg Dijuice dengan juicer

750 ml sari wortel

Ditambahkan 0,1% Natrium Metabisulfit

Di freeze drying selama 24 jam pada suhu -40ºC dengan tekanan 2 atm

(59)
(60)
(61)
(62)
(63)

Lampiran 7. Perhitungan bahan 1. Sediaan 1 (Blanko)

Seng oksida 16,7 g

Kaolin 33,5 g

Magnesium karbonat 16,5 g

Parfum q.s

Nipagin 0,1 g

Pengikat 12 g

Talkum = 100 – (16,7+33,5+16,5+0,1+12)

= 100 – 78,8

= 21,2 g

2. Sediaan 2 (Konsentrasi 7,5%)

Sari wortel 7,5% = x 100 = 7,5 g

Seng oksida 16,7 g

Kaolin 33,5 g

Magnesium karbonat 16,5 g

Parfum q.s

Nipagin 0,1 g

Pengikat 12 g

Talkum = 100 – (7,5+16,7+33,5+16,5+0,1+12)

(64)

= 13,7 g

(65)

Lampiran 9. Gambar sediaan bedak kompak menggunakan sari wortel

Konsentrasi 7,5%

Konsentrasi 10%

Konsentrasi 12,5%

Konsentrasi 15%

a

b

Keterangan:

(66)

Lampiran 10. Gambar warna yang dihasilkan

Keterangan: 1. Warna krem

2. Warna oranye lemah 3. Warna oranye muda 4. Warna oranye tua

No Warna

1

2

3

(67)
(68)

Lampiran 12. Gambar hasil uji poles bedak pada punggung tangan

1

2

3

4

Keterangan:

Sediaan 1 : Formula tanpa sari wortel

(69)

Lampiran 13. Gambar hasil uji daya sebar bedak kompak

a

b

Keterangan:

(70)
(71)

Lampiran 15. Format formulir uji kesukaan (Hedonic Test)

Hedonic Test

Pilihlah bedak mana yang saudara amat sangat suka sampai yang amat sangat

tidak suka berdasarkan homogenitas warna, kemudahan pengolesan dan

Figur

Gambar tumbuhan wortel (Daucus carota L.)  .................
Gambar tumbuhan wortel Daucus carota L . View in document p.12
Tabel 3.1 Modifikasi formula sediaan bedak kompak menggunakan sari wortel sebagai pewarna dalam berbagai konsentrasi
Tabel 3 1 Modifikasi formula sediaan bedak kompak menggunakan sari wortel sebagai pewarna dalam berbagai konsentrasi . View in document p.35
Tabel 4.1 Warna yang dihasilkan
Tabel 4 1 Warna yang dihasilkan . View in document p.42
Tabel 4.3 Data pemeriksaan kekerasan pada sediaan bedak kompak
Tabel 4 3 Data pemeriksaan kekerasan pada sediaan bedak kompak . View in document p.45
Tabel 4.5 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bentuk sediaan
Tabel 4 5 Data pengamatan perubahan bentuk warna dan bentuk sediaan . View in document p.47
Tabel 4.6 Data uji iritasi
Tabel 4 6 Data uji iritasi . View in document p.49
Tabel 4.7 Data nilai uji kesukaan (Hedonic test)
Tabel 4 7 Data nilai uji kesukaan Hedonic test . View in document p.50

Referensi

Memperbarui...