Peran Hutan Dalam Mereduksi Pemanasan Global

Teks penuh

(1)

KARYA ILMIAH

PERAN HUTAN DALAM MEREDUKSI

PEMANASAN GLOBAL

Oleh:

BUDI UTOMO

NIP: 132 305 100

Staf Pengajar Departemen Kehutanan

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang mana atas rahmat-Nya penulis masih

diberi kesehatan sehingga dapat menyelesaikan tulisan yang sederhana ini.

Pemanasan global yang terjadi merupakan dampak dari semakin majunya

teknologi yang diikuti dengan penggunaan ahan bakar berbasis fosil, peralatan perang,

dan lain sebagainya yang pada akhirnya berdampak pada timbulnya gas rumah kaca.

Tingginya kandungan CO2, CH4, CFC, dll dalam atmostir bumi menyebabkan

peningkatan suhu bumi yang pada akhirnya menyebabkan pergeseran iklim yang sulit

diprediksi. Kerusakan hutan khususnya akibat kebakaran erat kaitannya dengan

sumbangsih Indonesia pada efek pemanasan global tersebut. Kajian pemanasan global

ini penting untuk memberi masukan bagi kita akan pentingnya kelestarian hutan dalam

rangka mereduksi efek tersebut.

Pada kesempatan ini penulis berhasrat ingin mengucapkan terima kasih kepada

semua pihak yang telah berpartisipasi dalam membantu penyediaan literatur yang

diperlukan.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna, karenanya

kritik dan saran sangat diharapkan demi perbaikan tulisan-tulisan berikutnya. Akhir

kata penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Medan, Mei 2007

Budi Utomo

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

DAFTAR TABEL iii

DAFTAR GAMBAR iv

PENDAHULUAN 1

PEMANASAN GLOBAL 4

Perubahan peruntukan lahan 7

Intensitas karbon dan emisi per-kapita 8

Dampak yang terjadi 9

Pencegahan 11

MENGURANGI GAS RUMAH KACA 13

Alternatif penganggulangan 13

Moratorium 15

PUSTAKA 16

(4)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Pembukaan areal pertanian yang melibatkan kegiatan pembakaran hutan. 7

2. Uji coba penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (biodiesel) di Indonesia.

11

(5)

PENDAHULUAN

Di masa lalu Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan hutan alam

tropis terluas di dunia, memiliki keanekaragaman hayati tertinggi, sehingga dijuluki

"Zamrud Khatulistiwa" dan diharapkan mampu menjadi "penjaga" keseimbangan

keberlangsungan dan kelestarian ekosistem bumi, posisi Indonesia kini justru sangat

mengenaskan.

Secara tragis, Indonesia kini justru dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi gas

rumah kaca (GRK) terbesar di dunia yang salah satu dampaknya menimbulkan perubahan

iklim yang bisa mengancam kelangsungan hidup manusia di planet Bumi ini. Ini bisa terjadi

karena, jujur saja, akibat perilaku buruk kita dalam mengelola alam Indonesia.

Laporan ilmiah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang

dikeluarkan di Paris, 2 Februari 2007, secara tegas menyebutkan besarnya polah

manusia sebagai penyebab perubahan iklim. Menurut laporan ini, sebagaimana

disiarkan organisasi lingkungan hidup Indonesia, Pelangi, memberikan kemungkinan

sampai 90 persen bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab perubahan iklim

itu. Ini lebih tinggi daripada laporan terakhir pada 2001 yang menyebutkan bahwa

kemungkinannya hanya 66 persen.

Menurut IPCC, konsentrasi gas-gas karbondioksida (CO2), metana, dan

dinitro-gen oksida (N20), meningkat pesat sejak 1750 sehingga konsentrasi saat ini jauh lebih

tinggi dibandingkan sebelum era industri. Peningkatan konsentrasi CO2 terutama

disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil serta alih fungsi hutan menjadi lahan

ekonomis, sementara aktivitas pertanian menyebabkan peningkatan konsentrasi gas

metana dan dinitrogen oksida.

Perubahan Iklim

Perubahan iklim atau cuaca di Indonesia khususnya di Sumatera Utara

belakangan ini makin meningkat. Namun sejauh pengamatan lebih banyak

musim panas dibandingkan musim hujan. Hal ini terlihat dari beberapa bulan terakhir

selalu terjadi musim panas. Bila terjadi hujan tidak berlangsung lama dan kemudian

kembali panas.

Ironisnya pada musim panas ini suhu udara bisa mencapai 35 oC. Akibatnya banyak

(6)

kondisi tubuh yang tidak stabil. Menurut BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika)

Wilayah Medan salah satu pengaruh perubahan iklim di Medan bisa jadi karena makin

meningkatnya suhu udara dari 30 tahun terakhir ini sekitar 0.3 (nol poin tiga) – 0.85

o

C. Jadi sejak 30 tahun ini ada peningkatan rata-rata dari suhu udara.

Selain itu, ada juga peningkatan jumlah curah hujan yang naik. Karena itu kalau

suhu udara semakin meningkat maka dari pertumbuhan awan juga makin tinggi

sehingga jumlah curah hujan bila kita lihat lima tahun terakhir ini dibanding rata-rata

juga cukup meningkat dari curah hujan yang turun untuk di wilayah Sumatera Utara.

"Contohnya saja di stasiun Sampali, Polonia dan Sibolga. Kecendrungan curah hujannya

menjadi naik," katanya.

Namun secara global, kalau kita lihat dari data IPCC (Inter Governmental Thanel

on Climat Change) yang memantau dari peningkatan suhu global dunia, juga

mengalami peningkatan suhu udara. Hal itu disebabkan karena pengaruh banyaknya

CO2 yang ada ada di angkasa sehingga menyebabkan gas rumah kaca (GRK) sehingga

ada perubahan iklim yang tidak menentu.

Perubahan iklim seperti itu kadang di suatu daerah bisa menyebabkan

banjir yang besar karena curah hujannya tinggi, tapi daerah lain menjadi kondisinya

sangat kering. Hal itu mungkin dari salah satu efek pemanasan global dalam skala

dunia. Sedangkan kalau yang di wilayah Sumatera Utara sebenarnya dalam posisi

musim kemarau. Mungkin karena kondisi efek global iklim yang sudah tidak

berubah, sehingga ketika musim kemarau terasa sangat panas.

Di wilayah Sumut ada dua kali musim kemarau dan dua kali musim penghujan.

Untuk musim kemarau terjadi Januari-Maret dan Juni-Juli. Dan kebetulan bulan ini jatuh

pada musim kemarau, namun perubahan iklim yang tidak menentu menyebabkan

kadang-kadang hujan dan panas. Sedangkan musim penghujan April-Mei dan

September-Desember. Terjadinya dua kali musim kemarau dan dua

kali musim penghujan menurut Syafril, karena dua kali dilewati

matahari. Namun kadang kala ada sedikit keterlambatan atau kecepatan

sehingga menyebabkan perubahan iklim tidak menentu. Sebagai contoh, tahun

2006 kemarin terjadi keterlambatan musim hujan sampai pertengahan Januari. Jadi sampai

pertengahan akhir Maret Sumatera Utara masih terasa kering. Hal itu, karena

keterlambatan musim kemarau. Pada pertengahan Januari hujannya

(7)

berada di Jawa. Namun sekarang mulai balik lagi ke wilayah Sumatera

Barat, kemudian di sepanjang pantai Barat dan laut Jawa, tapi garis

pertumbuhan awannya belum stabil.

Menyikapi perubahan iklim atau cuaca ini, pihak BMG sendiri memberikan

informasi. Artinya BMG memberikan informasi prakiraan musim yakni musim kemarau

maupun hujan, sehingga masyarakat tinggal mengantisipasi misalnya

bertanam atau merencanakan pembangunan sesuai dengan prakiraan

itu.

Selain itu juga BMG menggunakan prakiraan bulanan. Misalnya bulan ini cuaca

normal atau di bawah normal, sektor pertanian atau untuk bidang-bidang peternakan bisa

(8)

PEMANASAN GLOBAL

Banyak yang tidak sadar kalau belakangan ini suhu udara dan perubahan

cuaca telah berdampak luas terhadap berbagai sendi kehidupan manusia.

Siang hari (tahun 2007 ini), sebagai contoh di kota Medan suhu udara bisa mencapai

35 sampai 36 derajat celsius. Sektor lainnya seperti pertanian pun terkena imbasnya.

Banyak tanaman yang mati akibat kekeringan, banyak petani yang berpikir

berkali-kali untuk memulai pertanaman. Tanpa disadari oleh banyak orang, bahwa sebenamya

saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia akibat terjadinya pemanasan global.

Bumi pun terasa makin panas belakangan.

Gejala alam ini mulai diteliti secara aktif mulai dekade tahun 1980-an dan

hasilnya sangat mengejutkan para ahli lingkungan k a r e na ke n ge r i a n a k a n

da mpa k y a ng dikuatirkan muncul kemudian. Carbon Dioksida (CO2) dan

beberapa jenis gas lainnya (CH4, N20, CFC), sisa pembakaran bahan bakar

minyak bumi temyata telah.memenuhi atmosfer bumi dan seolah menciptakan

(dinding kaca) yang menjebak panas sinar matahari tertahan di permukaan bumi,

fenomena ini dikenal sebagai efek rumah kaca.

Para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal

mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5 oC memasuki abad mendatang sebagai efek

akumulasi penumpukan gas tersebut. Akibat yang muncul cukup mencemaskan antara

lain meliputi : kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub; perubahan

pola angin; meningkatnya badai atmosferik; bertambahnya populasi dan jenis

organisme penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan; perubahan pola curah

hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem

lainnya.

Para pakar lingkungan dunia selama bertahun-tahun telah mencoba

mengum-pulkan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjelaskan fenomena alam ini, dan hasilnya

cukup mengejutkan yaitu, iklim mulai tidak stabil. Pada Juni 1998 di Tibet terjadi

gelombang udara panas, temperatur berkisar 25 oC selama 23 hari, kejadian ini belum

pernah terjadi sebelumnya. Kawasan Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara yang

dikenal udaranya sangat membekukan tulang kini mulai menghangat.

Sementara Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka 41 oC.

(9)

hujan mencapai tiga kali ukuran normal. Sementara di Indonesia, Meksiko dan

Spanyol terjadi musim kering berkepanjangan akibat dipicu oleh badai tropis yang

berujung pada terbakarnya hutan dengan luasan kumulatif mencapai jutaan hektar.

Kemudian, naiknya permukaan air laut di beberapa kawasan Asia dilaporkan

bahwa air laut telah meluap melampaui batas air payau dan memusnahkan areal

hutan bakau di kawasan tersebut.

Sementara di Fiji terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 cm per tahun

selama 90 tahun terakhir Berdasarkan hasil penelitian IPCC (1990) permukaan air

laut telah naik sekitar 10-20 cm pada masa abad terakhir ini. Bila angka kenaikan

permukaan air laut ini sampai menyentuh kisaran angka 20-50 cm maka habitat di

daerah pantai akan mengalami gangguan bahkan musnah.

Sedangkan peningkatan sebesar 1 meter diprediksi akan mampu menggusur

puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa dikawasan pesisir, lahan

pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar akan tercemar.

Perlu dilakukan tindakan menyeluruh disertai komitmen yang kuat untuk

menghentikan meluasnya wabah bencana Secara sederhana tindakan yang bisa

dilakukan adalah:

Pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan. Budaya

penghematan energi terutama yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari

bahan fosil (BBM) harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran.

Dalam bidang transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang

boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya

perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam

berbagai bentuk.

Upaya penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus

diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar

diesel/batu bara. Sebagai konsumen kita harus kritis melakukan penolakan untuk

mempergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih mempergunakan CFC

dalam produknya karena saat kita memakainya tak ubahnya kita menyediakan tali

untuk menjerat leher kita sendiri di masa mendatang. Bahan CFC banyak dijumpai

pada peralatan pendingin (Kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum.

Substitusi Bahan Bakar. Penggunaan gas alam dalam aktivitas rumah tangga

(10)

gas rumah kaca. Gas alam menghasilkan CO2 temyata 40 persen lebih rendah

dibanding batu bara dan 25 persen lebih rendah daripada minyak bumi sehingga

dengan menukar sumber bahan bakar kita bisa mengurangi tingkat emisi gas CO2.

Pelestarian Hutan dan Reboisasi. Keberadaan hutan ternyata berfungsi luar

biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperlambat penimbunan

gas-gas rumah kaca. Penelitian menunjukkan bahwa untuk menyerap 10 persen

emisi CO2 yang ada di atmosfer saat ini diperlukan upaya penanaman setidaknya pada

areal seluas negara Turki. Seandainya saja setiap jiwa di Sumatera Utara

(jumlah penduduk Sumut sekitar 12 juta jiwa) menaman satu batang pohon

maka setidaknya ada 12 juta pohon yang terhampar menjadi satu kawasan hutan

baru yang akan mampu menyerap jutaan ton carbon.

Suatu jumlah yang cukup berarti bagi upaya pelestarian bumi. Perlu

komitmen secara global untuk mengurangi kerusakan hutan akibat eksploitasi

hutan maupun kebakaran hutan dan menggiatkan upaya reboisasi pada lahan

kosong.

Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan merupakan salah satu dampak

dari perubahan iklim secara global. Sebenamya masih banyak langkah-langkah antisipatif yang dapat

dilakukan terutama dalam tatanan kebijakan nasional dalam rangka mencegah pemanasan global, namun

semuanya berpulang kembali kepada kesadaran kita semua selaku individu.

Kini saatnya berpartisipasi secara aktif bagi bumi yang telah memberikan kehidupan bagi kita. Bumi ini

hanya satu mari kita menjaganya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi penghuninya termasuk anak

cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan generasi mendatang.

P e r u b a h a n P e r u n t u k a n L a h a n

Terkait fenomena di atas, sejauh mana sebenarnya "sumbangsih" Indonesia bagi

terjadinya perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan nasib manusia di bumi ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan Pew Center dalam perubahan iklim global bertajuk

Climate Data: Insights and Observations yang dikeluarkan pada Desember 2004,

dapat menjadi gambaran posisi negeri khatulistiwa ini. Misalnya dalam perubahan

penggunaan lahan (land use change). Dalam skala global, penelitian yang melibatkan

World Resources Institute ini, jumlah CO2 dari aspek ini perkirakan mencapai 18 persen

dari total emisi tahunan. Penyebabnya antara lain akibat industri hutan, pembersihan dan

pengelolaan lahan untuk pertanian. CO2 dari perubahan peruntukan lahan ini merupakan

(11)

negara dunia ketiga.

Gambar 1. Pembukaan areal pertanian yang melibatkan kegiatan pembakaran hutan.

Peringkat suatu negara dalam penghitungan emisi global ini sangat tergantung

kepada jenis gas yang dihitung. Jika dihitung dari sumbangsihnya akibat perubahan

peruntukan lahan dan gas non CO2, maka Indonesia berada di posisi keempat.

Indonesia hanya berada di peringkat ke-25 dalam total emisinya jika dilihat dari

sumbangsih CO2 akibat penggunaan bahan bakar fosil. Nasib sama juga dialami Brazil,

yang jika dengan penghitungan perubahan peruntukan lahan dan gas non CO2, negara ini

naik dari peringkat ke-17 menjadi peringkat kelima. "Bersama-sama, kedua negara

mengumpulkan kira-kira 50 persen dari total perkiraan emisi CO2 global tahunan dari

perubahan peruntukan lahan," sebut hasil penelitian ini.

Intensitas Karbon dan Emisi per-Kapita

Intesintas karbon, yaitu tingkat emisi CO2 per unit dari keluaran ekonomi

(economic output), di Indonesia juga meningkat. Sepanjang 1990-2000, intensitas

karbon di Indonesia, bersama-sama dengan Arab Saudi, Ukraina dan Brazil, naik secara

signifikan.

Untuk emisi per kapita, "sumbangsih" Indonesia bersama-sama negara-negara lain

(12)

dan Brazil, yang memiliki sekitar 44 persen populasi dunia, menyumbang sekitar 24

persen emisi global.

Memang, harus diakui, emisi per kapita ini memiliki keterkaitan erat dengan tingkat

kesejahteraan rakyat suatu negara. Artinya, makin sejahtera rakyat suatu negara, maka

tingkat rata-rata emisi per orang makin tinggi. Namun, seperti disimpulkan dari

penelitian ini juga, jika ditambahkan dengan CO2 akibat perubahan peruntukan lahan,

maka lagi-lagi Indonesia dan Brazil memiliki tingkat emisi per kapita lebih tinggi

dibandingkan dengan Uni Eropa. Akhirnya, jika dihitung emisi kumulatifnya, yaitu

"sumbangsih" suatu negara dalam perubahan iklim secara keseluruhan dibandingkan

emisinya pada suatu waktu, posisi Indonesia juga menyesakkan dada.

Hasil penelitian Pew Center ini menjelaskan, "Pertumbuhan paling dramatis

dalam sejarah pembagian adalah pada negara-negara tropis yang merupakan produsen besar

kayu. Brazil dan Indonesia, dengan 0,9 persen dan 0,5 persen untuk emisi kumulatif bahan

bakar fosil-berturut-turut-melompat hingga ke 6,2 persen dan 7,2

persen-berturut-turut-dengan penambahan CO2 dari perubahan peruntukan lahan."

Indonesia sulit untuk membantah hasil penelitian ini. Berbagai peristiwa yang

berkaitan dengan hasil penelitian ini terus terjadi. Kebakaran hutan dan pembakaran

lahan hampir selalu terjadi setiap tahun. Menyedihkannya lagi, kasus kebakaran hutan

dan pembakaran lahan ini sampai-sampai merepotkan dan menyengsarakan

negara-negara tetangga Indonesia yang pada akhirnya membuat citra negeri berlimpah sumber

daya alam ini, makin terpuruk. Selain itu, berbagai fenomena bencana alam, yang

diduga erat berkaitan dengan akibat terjadinya perubahan iklim juga makin sering

menimpa berbagai daerah di Indonesia. Banjir bandang, tanah longsor, badai tropis,

musim hujan dan musim kering yang makin sulit diprediksi, adalah sedikit gambaran

lain dari pengaruh perubahan iklim itu. Secara global, laporan ilmiah IPCC pada Februari

2007 juga mengungkapkan beberapa temuan yang memprihatinkan terkait perubahan

iklim itu. Penemuan itu, misalnya, pada periode1850-2005 telah terjadi kenaikan suhu

rata-rata sebesar 0,76 derajat Celcius dan 11 dari 12 tahun terakhir (1995-2006)

merupakan tahun-tahun dengan rata-rata suhu terpanas sejak dilakukannya pengukuran

suhu pertama kali pada 1850. Kemudian, telah terjadi kenaikan permukaan laut global

rata-rata sebesar 1,8 meter per tahun dan antara periode 1961-2003 telah terjadi

kekeringan yang lebih intensif pada wilayah yang lebih luas sejak 1970-an, terutama di

(13)

diperkirakan lebih panas dan merupakan yang terpanas sejak 1987, kiranya juga harus

dilihat dari kacamata perubahan iklim yang melanda Indonesia.

Dampak yang terjadi

Sudah sejak lama para ahli mengkawatirkan efek yang timbul dari aktifitas

manusia di permukaan bumi seperti pembakaran bahan bakar fosil untuk kendaraan,

proses industri, penyediaan listrik dan proses penebangan hutan yang dapat

mengeluarkan sejumlah besar Gas Rumah Kaca (GRK) yang menutupi lapisan azon di

atmosfer bumi. Semakin tebal GRK menutupi lapisan di atmosfer menyebabkan panas

yang dipancarkan matahari ke bumi terperangkat. Akibatnya temperatur permukaan

bumi perlahan-lahan terus mengalami peningkatan. Peningkatan ternperatur ini disebut

pemanasan global.

Terjadinya pemanasan global ditandai dengan terjadinya perubahan iklim yang

secara cepat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia dan lingkungan, baik

pada saat sekarang maupun waktu yang akan datang. Misalnya pemanasan global

diperkirakan menyebabkan terjadinya kenaikkan suhu bumi rata-rata. Di Indonesia

kenaikkan telah terjadi peningkatan suhu udara sebesar 0,3 oC sejak tahun 1990, dan

peningkatan ini diperkirakan akan terus terjadi. Selain itu akibat dari pemanasan global

juga mempengaruhi kondisi hutan. Dengan perubahan iklim diperkirakan akan terjadi

pergantian beberapa spesies flora dan fauna yang terdapat di dalam hutan. Beberapa

spesies akan terancam punah karena tidak mampu beradaptasi, sedangkan spesies yang

mampu bertahan akan berkembang tidak terkendali. Begitu juga dengan kebakaran

hutan akibat terjadinya peningkatan suhu udara di lingkungan sekitar hutan semakin tidak

dapat terelakkan. Peningkatan suhu yang terjadi dalam masa yang cukup lama, seperti

musim kemarau panjang mengakibatkan mudah terbakar ranting-ranting atau daun-daun

akibat gesekan yang ditimbulkan.

Dampak lain dari pemanasan global juga terjadi pada pertanian karena adanya

pergeseran musim dan perubahan pola hujan. Pada umumnya semua bentuk sistem

pertanian sangat sensitif terhadap variasi iklim. Terjadinya keterlambatan musim

tanam atau panen akan memberikan dampak yang besar baik secara langsung maupun

tidak langsung, seperti ketahanan pangan, industri pupuk, transportasi dan lain

sebagainya.

(14)

juga terjadi dari pemanasan global. Hal ini disebabkan oleh naiknya suhu udara yang

menyebakan masa inkubasi nyamuk semakin pendek. Dampaknya, nyamuk malaria

dan demam berdarah akan berkembang biak lebih cepat.

Diperkirakan dengan adanya pemanasan global permukaan air laut mengalami

peningkatan. Dan berbagai studi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

memperlihatkan bahwa telah terjadi kenaikkan permukaan air laut sebesar 1-2 meter

dalam 100 tahun terakhir. Masih menurut IPCC, pada tahun 2030 permukaan air laut

akan bertambah antara 8-9 sentimeter dan permukaan laut saat ini. Sebagai dampak

naiknya permukaan air laut, banyak pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia

akan hilang. Apabila perkiraan IPCC terjadi, diperkirakan Indonesia akan kehilangan

2.000 pulau. Hal ini tentunya akan menyebabkan mundurnya garis pantai di sebagian

besar wilayah Indonesia. Akibatnya, bila ditarik garis batas 12 mil laut dari garis pantai,

maka sudah tentu luas wilayah Indonesia akan berkurang. Bukan itu saja, selain naiknya

permukaan air laut, suhu air laut juga mengalami peningkatan sebesar 2-3 derajat

celcius. Bila ini terjadi, alga yang merupakan sumber makanan akan mati karena tidak

mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Hal ini berdampak pada

menipisnya ketersediaan makanan terumbu karang. Akhirnya terumbu karang pun akan

berubah warna menjadi putih dan mati.

Pemutihan karang berimbas punahnya berbagai jenis ikan karang yang bernilai

ekonomis tinggi, seperti ikan. Padahal Indonesia mempunyai dari 1.650 jenis ikan

karang, itu pun hanya yang terdaftar di wilayah Indonesia bagian timur saja belum

terhitung yang berada di wilayah lainnya.

Pencegahan

Dengan berbagai akibat perubahan iklim tersebut, tak terkecuali yang melanda

Indonesia, yang lebih utama disebabkan oleh tingkah dan polah manusia, maka untuk

memperbaikinya juga harus memperbaiki perlakuan manusia terhadap alam atau bumi

secara global pula. Kita dituntut untuk mengubah gaya hidup kita yang selama ini tidak

(15)

Gamba

menahan laju perubahan iklim yang berakibat ekstrim itu adalah dengan mengurangi

emisi GRK hasil aktivitas manusia. Caranya antara lain bisa dengan menggunakan

bahan bakar dari sumber energi yang lebih bersih atau menggunakan sumber energi

terbarukan. Biodiesel, gas, tenaga matahari atau biomassa merupakan sumber energi yang

ramah terhadap lingkungan.

Sebuah penelitian di satu industri manufaktur di Cilegon, penggunaan gas bisa

menurunkan emisi GRK di industri ini hingga sebesar 31 persen dibandingkan ketika

menggunakan batubara. Langkah penting lainnya adalah Pemerintah Indonesia harus

segera mengubah kebijakannya dalam pembangunan yang sedang dilakukan. Dalam

setiap kebijakan ini, maka aspek lingkungan hidup mesti menjadi salah satu pertimbangan

utama. Kemudian, secara global, negara ini juga harus lebih meningkatkan peran

aktifnya dalam menjaga lingkungan hidup dunia dengan mengacu kepada Protokol Kyoto,

yang sudah diratifikasi menjadi Undang-undang (UU) No 17/2004.

Bagi Indonesia, ini sangat penting. Karena ternyata, perubahan iklim tersebut akan

berdampak sangat besar bagi Indonesia, seperti menurunnya produksi pangan,

terganggunya ketersediaan air dan meningkat dan meluasnya kasus penyakit. Semua

langkah ini, implementasinya membutuhkan perilaku dan cara pandang lebih ramah

terhadap alam. Jika perilaku dan pandangan terhadap alam masih seperti saat ini, maka

bukan tidak mungkin negeri kita yang dulu dikenal sebagai negeri Zamrud

(16)

Berbagai bencana yang terjadi belakangan ini, mungkin bisa menyadarkan kita bahwa

(17)

MENGURANGI GAS RUMAH KACA Alternatif Penanggulangan

Dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global disebabkan adanya GRK

dihasilkan dari aktifitas masyarakat, berbagai negara terus berupaya untuk menekan

jumlah GRK yang dihasilkan dengan cara mencari berbagai alternatif seperti tidak

mempergunakan minyak fosil secara berlebihan.

Salah satu upaya untuk menekan GRK, lahirnya konvensi perubahan iklim pada

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) tentang Pembangunan

Berkelanjutan di Rio de Janeiro Brasil pada bulan Juni 1992 silam. Dan hasil

konferensi tersebut telah disepati dan disyahkan perjanjian di bawah Perserikatan

Bangsa-Bangsa untuk me ngadopsi rencana-rencana besar yang terkait dengan upaya

konservasi lingkungan.

Sekedar menyegarkan ingatan, Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan

iklim (Konverensi Perubahan Iklim) dibuat berdasarkan gagasan dan program untuk

menekan emisi GRK secara internasional sejak tahun 1979. Konverensi diadopsi pada

tanggal 14 Mei 1992 dan mulai berlaku tanggal 21 Maret 1994.

Untuk Indonesia, pemerintah telah juga meratifikasi pada tanggal 23 Agustus 1994

melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang pengesahan United Nations

Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan

Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim). Konvensi Perubahan Iklim adalah suatu

perjanjian multi lateral untuk meningkatkan negara dalam upaya menurunkan emisi

GRK untuk menjaga stabil itas konsentrasi GRK di atmosfer pada tingkat aman bagi

sistem iklim di bumi.

Pertanyaanya, sudah sejauh mana negara Indonesia yang ikut dalam Konvensi

Perubahan Iklim berupaya untuk mengurangi emisi GRK. Bila dilihat secara kasat

mata, negara Indonesia masih belum mampu mengurangi emisi GRK. Besarnya

GRK yang dihasilkan Indonesia dengan penggunaan bahan minyak fosil, tidaklah

mengherankan bila Indonesia masuk dalam daftar negara penghasil GRK terbesar.

Meski upaya untuk mengurangi GRK belum maksimal, bukan berarti upaya

tersebut tidak dilakukan. Untuk menahan laju perubahan iklim yang sangat ditekankan

dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas,

(18)

penggunaan gas dan energi dari sumber terbarukan, atau melakukan program efisiensi

energi. Ini efektif dilakukan di sektor industri dan pembangkit listrik. Kedua sektor ini

termasuk penghasil emisi GRK utama di Indonesia, dan memiliki konsumsi energi per

kapita yang tinggi.

Menggantikan penggunaan batubara atau diesel menjadi gas bisa menghasilkan

penurunan emisi GRK yang signifikan. Beralih menggunakan sumber energi

terbarukan bisa mengurangi emisi GRK dalam jumlah yang lebih besar. Dengan

semakin tingginya harga minyak bumi, sumber energi terbarukan menjadi pilihan yang

semakin menarik.

Kerusakan hutan yang semakin parah dan diiringi dengan terjadinya musibah

seperti banjir, tanah longsor yang beruntun dan merengut nyawa dalam jumlah cukup

banyak berikut harta yang tak ternilai, merupakan persoaIan yang tidak kunjung tuntas.

Bukan itu saja, kekhawatiran pada penggundulan serta terjadinya pembakaran hutan

yang berakibat meningkatnya suhu panas bumi, juga ikut menambah daftar persoalan

yang muncul dan tidak mungkin dihindari.

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, ternyata sejak tahun 1861 sebagai

masa pertama pencatatan suhu bumi, maka rata-rata suhu global meningkat selama abad

ke-20. Alhasil, keberadaan hutan kita sudah tidak dapat lagi menyuplai kebutuhan kayu

untuk industri dan lain sebagainya. Tidak dapat disangkal lagi, ternyata untuk Sumut

sendiri, diperkirakan dari 3,7 Juta Hektar lahan hutan yang ada, maka setengahnya sudah

rusak atau dalam kondisi kritis. Kalau kita tidak segera mengambil sikap tegas untuk

mencegah perambahan, pembakaran atau penggundulan hutan, maka negeri ini akan

tandus dan gersang yang dipastikan akan diikuti dengan berbagai bentuk bencana

mengerikan. Bahkan sebelum itu semua terjadi, ada satu hal yang juga merisaukan kita,

karena ternyata dalam catatan salah satu badan lingkungan dunia, ternyata Indonesia

merupakan produsen ketiga terbesar penghasil gas emisi setelah USA dan China. Dari

beberapa sumber disebutkan bahwa, usaha untuk mengurangi produk karbon dioksida

(CO2) dengan mencegah terjadinya pembakaran hutan menjadi salah satu solusi terbaik

meredusir peningkatan emisi gas tersebut selain penghematan energi dan lain

sebagainya.

M o r a t o r i u m

(19)

pemicu utama kita meraih predikat buruk tersebut. Predikat ini tentu bertolak belakang

dengan identitas yang melekat pada bumi Indonesia yang tersohor dengan hutannya.

Karenanya, pemerintah harus segera rnenerapkan Moratorium (jeda tebang-red) hutan

untuk menghentikan segala bentuk pengrusakan yang masih terus berlangsung. Dengan

jeda tebang tersebut, secara otomatis potensi hutan kita tidak akan terusik, yang berarti

juga hutan akan membangun dirinya secara alami.

Walaupun konsep ini dinilai lambat, tapi jauh lebih efektif dari pada digalakkan

reboisasi hutan, tapi ternyata konversi atau pengalihan fungsi hutan tidak dikendalikan.

Selain itu, upaya penegakan hukum yang dilakukan aparatur penegak hukum kita,

seperti Operasi Hutan Lestari II tidak dilakukan secara seporadis. "Mustahil operasi

tersebut maksimal kalau tidak dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. Kalau

dihitung-hitung upaya rehabilitasi maupun reboisasi ternyata tidak sebanding dengan akibat

yang ditimbulkan dan pengrusakan hutan.

Bukankah sudah cukup banyak kasus atau musibah yang terjadi karena

pengrusakan hutan tersebut. Dan penting dicamkan, bahwa bencana tersebut akan

berakibat orang lain yang ticiak berdosa ikut menjadi korban serta rnenanggung

akibatnya. Bukan itu saja, karena bencana akan terus terjadi kalau alam serta hutan

makin parah. Karena itu, seluruh masyarakat sebaiknya turut serta secara global untuk

(20)

PUSTAKA ACUAN

Malau F. 1 April 2007. Dicari alternatif mengurangi gas rumah kaca. Analisa: 16 (1-3).

Sukma GA. 1 April 2007. Wajah buruk Indonesia dalam perubahan iklim. Analisa:

16 (1-3).

Purba JR. 2007. Moratorium hutan harus segera terlaksana. Analisa: 16 (4-5).

Pardede. JP. 22 Desember 2007. Ketika bumi makin panas. Analisa: 15 (1-3).

Figur

Gambar 1. Pembukaan areal pertanian yang melibatkan kegiatan pembakaran hutan.

Gambar 1.

Pembukaan areal pertanian yang melibatkan kegiatan pembakaran hutan. p.11

Referensi

Memperbarui...