Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS

YANG MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN

SENSITIVITAS PENGECAPAN DI KLINIK

SPESIALIS GINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA

MEDAN

SKRIPSI

Oleh:

ALDRIAN RAHARJA

NIM: 110600136

Pembimbing:

Sayuti Hasibuan, drg., Sp.PM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Ilmu Penyakit Mulut

Tahun 2015

Aldrian Raharja

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap

Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida

Medan

x + 63 halaman

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu kondisi dimana kedua ginjal tidak dapat

berfungsi secara normal. Uremia pada pasien GGK akan menyebabkan manifestasi di

tubuh, termasuk juga rongga mulut, salah satunya adanya gangguan sensitivitas

pengecapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

pasien GGK yang menjalani hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan, prevalensi

pasien hemodialisis yang mengalami gangguan sensitivitas pengecapan, hubungan

antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis dengan sensitivitas rasa manis, asin,

asam, pahit, dan umami. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan

pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien GGK yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 96 sampel.

Penelitian dilakukan dengan mencatat data pasien sesuai rekam medik kemudian

dilakukan penelitian pada lidah subjek dengan metode uji taste strips. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,8% subjek hemodialisis jangka pendek dan 19,2% subjek

hemodialisis jangka panjang mengalami gangguan pengecapan rasa manis; 97,3%

subjek hemodialisis jangka pendek dan 2,7% subjek hemodialisis jangka panjang

(3)

pendek dan 19,7% subjek hemodialisis jangka panjang mengalami gangguan rasa

asin. Sedangkan untuk gangguan pengecapan rasa pahit, 98,5% subjek hemodialisis

jangka pendek dan 1,5% subjek hemodialisis jangka panjang dan untuk gangguan

pengecapan rasa umami, 97,2% subjek hemodialisis jangka pendek dan 2,8% subjek

hemodialisis jangka panjang. Dari data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa asam, rasa pahit, dan rasa umami, tetapi tidak terdapat hubungan

antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan rasa manis dan

rasa asin.

(4)

HUBUNGAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS

YANG MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN

SENSITIVITAS PENGECAPAN DI KLINIK

SPESIALIS GINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA

MEDAN

SKRIPSI

Oleh:

ALDRIAN RAHARJA

NIM: 110600136

Pembimbing:

Sayuti Hasibuan, drg., Sp.PM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan

di hadapan tim penguji skripsi

Medan, Agustus 2015

Pembimbing: Tanda tangan,

Sayuti Hasibuan, drg., Sp. PM

---

NIP. 19700915 199701 1 001

(6)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan penguji pada tanggal ...

TIM PENGUJI

KETUA : Sayuti Hasibuan, drg., Sp. PM

ANGGOTA : 1. Nurdiana, drg., Sp. PM 2. Indri Lubis, drg.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang

senantiasa memberikan berkah, anugerah, dan kekuatan kepada penulis

sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk

mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang

tua yang sangat penulis sayangi, ayah Drs. Haur Lidian dan ibu Dra. Fifi

Wiyana atas segala kasih sayang, doa, dukungan, dan bantuan moril maupun

materil yang senantiasa diberikan. Kepada kedua adik penulis Randy Raharja

Lidian dan Ryan Raharja Lidian atas segala dukungan dan motivasi yang telah

diberikan selama ini.

Selama pembuatan skripsi ini penulis telah banyak mendapatkan bimbingan,

saran, bantuan, serta doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis

dengan segala kerendahan hati dan tulus mengucapkan rasa terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Nazruddin, drg., Sp.Ort., Ph.D selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Sumatera Utara.

2. Sayuti Hasibuan, drg., Sp.PM selaku Ketua Departemen Ilmu Penyakit Mulut

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan dosen pembimbing skripsi

yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya serta dengan sabar

memberikan bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis dalam

menyelesaikan penulisan skripsi ini.

3. Nurdiana, drg., Sp.PM dan Indri Lubis, drg. selaku dosen penguji skripsi yang

telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran dalam memberikan masukan kepada

penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.

4. Yumi Lindawati, drg. selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa

membimbing dan memotivasi penulis selama menjalani pendidikan akademis.

5. Prof. Dr. Harun Rasyid Lubis, Sp.PD-KGH selaku direktur Klinik Spesialis

(8)

6. Dr. Heri Farnas dan dr. Riri Andri Muzasti M.Ked (PD), Sp.PD serta seluruh

staf Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan yang telah memberikan

bimbingan dan bantuan selama penulis melaksanakan penelitian.

7. Seluruh staf pengajar FKG USU terutama staf dan pegawai di Departemen

Penyakit Mulut atas bantuan yang diberikan kepada penulis.

8. Kepada pasien Klinik Hipertensi dan Ginjal Rasyida Medan yang telah

banyak membantu, bersedia, dan bekerja sama mulai dari awal sampai akhir

penelitian berlangsung.

9. Cindy, Fatin, Jennifer, Karina, Khaera, Kiirtana, Shamini, Rizka, Victor, dan

Windy serta teman teman seperjuangan skripsi di Departemen Penyakit Mulut FKG

USU yang telah saling membantu dan memberikan semangat.

10. Kepada Alifa, Affan, Cut Nirza, Fatturahman, Joule, Suci yang telah

bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu penulis pada saat melakukan

penelitian.

11. Kepada seluruh sahabat penulis, Adelvryn, Akhdan, Anthoni, Dennis,

George Calvin, Jeremia, Jonesi, Kelly, Stefanus.

12. Teman-teman penulis Abraham, Aida, Astrid, Brian, Deasy Faradita, Denny,

Elisabeth Saragih, Eka Gandara, Grace, Ivan, Kevin, Koresy, Metha, Monang,

Monica, Natalie, Natanael, Novita, Raeesa, Revina, Rizky Ayu, Rizky Wahyudi,

Widya, Zeiro dan seluruh teman-teman FKG USU yang tidak dapat penulis sebutkan

satu per satu.

13. Semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangan pemikiran yang berguna bagi

fakultas, pengembangan ilmu kedokteran gigi, dan masyarakat.

Medan, Agustus 2015 Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... iv

2.1.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi ... 6

2.1.3 Klasifikasi ... 9

2.1.4 Komplikasi ... 9

2.1.5 Perawatan ... 12

(10)

2.2.1 Pengecapan Normal ... 17

2.2.2 Gangguan Sensitivitas Pengecapan ... 19

2.2.3 Metode Untuk Menguji Sensitivitas Pengecapan ... 20

2.3 Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis dengan Sensitivitas Pengecapan ... 21

2.4 Kerangka Teori ... 23

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 26

3.4.1 Kriteria Inklusi ... 26

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 27

3.6 Definisi Operasional ... 27

3.7 Sarana Penelitian ... 28

3.7.1 Alat ... 28

3.7.2 Bahan ... 29

3.8 Pelaksanaan Penelitian ... 29

3.8.1 Pembuatan Larutan Uji ... 29

4.1 Gambaran Umum Sampel Penelitian ... 34

4.2 Frekuensi Gangguan Sensitivitas Pengecapan ... 35

BAB 5 PEMBAHASAN ... 43

(11)

6.1 Kesimpulan ... 47 6.2 Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 49

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit... 9

2 Rencana tatalaksana GGK sesuai derajatnya... 12

3 Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

berdasarkan jenis kelamin... 34

4 Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

berdasarkan usia... 35

5 Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

berdasarkan lama menjalani hemodialisis... 35

6 Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa manis pada

pasien GGK yang menjalani hemodialisis... 36

7 Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa asam pada

pasien GGK yang menjalani hemodialisis... 36

8 Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa asin pada

pasien GGK yang menjalani hemodialisis... 37

9 Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa pahit pada

pasien GGK yang menjalani hemodialisis... 37

10 Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa umami

pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis... 38

11 Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan

sensitivitas pengecapan rasa manis... 38

12 Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan

sensitivitas pengecapan rasa asam... 39

(13)

sensitivitas pengecapan rasa asin... 40

14 Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan

sensitivitas pengecapan rasa pahit... 41

15 Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Penyebab GGK di Indonesia... 8

2 Proses hemodialisis... 14

3 Proses dialisis peritoneal... 16

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Lembar penjelasan kepada calon subjek penelitian

2. Lembar persetujuan setelah penjelasan (informed consent)

3. Lembar pemeriksaan pasien

4. Surat Persetujuan Komisi Etik

5. Surat Keterangan Penelitian

(16)

Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Ilmu Penyakit Mulut

Tahun 2015

Aldrian Raharja

Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Terhadap

Sensitivitas Pengecapan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida

Medan

x + 63 halaman

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu kondisi dimana kedua ginjal tidak dapat

berfungsi secara normal. Uremia pada pasien GGK akan menyebabkan manifestasi di

tubuh, termasuk juga rongga mulut, salah satunya adanya gangguan sensitivitas

pengecapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

pasien GGK yang menjalani hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan, prevalensi

pasien hemodialisis yang mengalami gangguan sensitivitas pengecapan, hubungan

antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis dengan sensitivitas rasa manis, asin,

asam, pahit, dan umami. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan

pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien GGK yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 96 sampel.

Penelitian dilakukan dengan mencatat data pasien sesuai rekam medik kemudian

dilakukan penelitian pada lidah subjek dengan metode uji taste strips. Hasil penelitian ini menunjukkan 80,8% subjek hemodialisis jangka pendek dan 19,2% subjek

hemodialisis jangka panjang mengalami gangguan pengecapan rasa manis; 97,3%

subjek hemodialisis jangka pendek dan 2,7% subjek hemodialisis jangka panjang

(17)

pendek dan 19,7% subjek hemodialisis jangka panjang mengalami gangguan rasa

asin. Sedangkan untuk gangguan pengecapan rasa pahit, 98,5% subjek hemodialisis

jangka pendek dan 1,5% subjek hemodialisis jangka panjang dan untuk gangguan

pengecapan rasa umami, 97,2% subjek hemodialisis jangka pendek dan 2,8% subjek

hemodialisis jangka panjang. Dari data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa asam, rasa pahit, dan rasa umami, tetapi tidak terdapat hubungan

antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan rasa manis dan

rasa asin.

(18)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu kondisi dimana kedua ginjal

tidak dapat berfungsi secara normal, yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi

glomerulus yang bersifat irreversibel, sehingga memerlukan perawatan berupa hemodialisis atau transplantasi ginjal.1,2 Prevalensi GGK di dunia pada tahun 2013

adalah sekitar 8-16 % dari 7 miliar penduduk di dunia, yaitu sekitar 500 juta–1 miliar orang.1 Di Amerika Serikat (2002), diperkirakan sekitar 5,9 juta (3,3%) orang dewasa

menderita GGK tingkat 1, tingkat 2 sebesar 5,3 juta (3%), tingkat 3 sebesar 7,6 juta

(4,3%), tingkat 4 sebesar 400 ribu (0,2%) dan tingkat 5 sebesar 300 ribu (0,1%),

sehingga didapatkan jumlah penderita GGK sekitar 20 juta orang,3 sedangkan di

negara berkembang seperti Indonesia, didapatkan data sekitar 200 – 300 per 1 juta penduduk menderita GGK.Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013,

GGK meningkat seiring dengan bertambahnya umur, meningkat tajam pada

kelompok umur 35-44 tahun (0,3 %), 45-54 tahun (0,4%), 55-74 tahun (0,5) dan >75

tahun (0,6 %). Di Sumatera Utara, secara keseluruhan diperoleh prevalensi pasien

GGK adalah sebesar 0,2 %.4

Pasien GGK pada awalnya tidak menemukan adanya gejala, tetapi pada tahap

selanjutnya, pasien akan mulai merasakan efek dan manifestasi pada tubuh seperti

nokturia dan anoreksia, kemudian pada tahap lebih lanjut, akan muncul komplikasi

berupa uremia, yaitu suatu keadaan dimana ginjal tidak dapat membuang urea keluar dari tubuh sehingga urea menumpuk dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan berbagai manifestasi di tubuh, seperti hipertensi dan anemia,5 termasuk juga

manifestasi di rongga mulut, seperti perdarahan pada gingiva, mukosa pucat,

stomatitis uremia, ulser, xerostomia, bau ureum dan gangguan sensitivitas

pengecapan. Gangguan sensitivitas pengecapan adalah gangguan rasa asin,

(19)

mulut, mekanisme terjadinya gangguan sensitivitas disebabkan oleh efek uremia pada

pasien GGK yang telah menjalani hemodialisis, dimana terjadinya penurunan fungsi

kelenjar saliva yang dapat menyebabkan gangguan fungsi saliva sebagai transpor

bahan-bahan kimia dalam zat makanan sehingga terjadinya perubahan sensitivitas

pengecapan.6,7,8

Sensasi rasa dapat dirasakan oleh ujung saraf pengecap pada seluruh

permukaan lidah, satu jenis rasa akan terasa lebih sensitif hanya pada daerah tertentu.

Ujung saraf pengecap berada pada seluruh permukaan lidah, dengan demikian zat-zat

kimia yang terlarut dalam saliva akan mengadakan kontak dan merangsang

ujung-ujung serabut saraf pengecap.9,10 Gangguan sensitivitas pengecapan dapat

menyebabkan nafsu makan pada penderita menjadi berkurang, hal ini akan

mengakibatkan asupan pada penderita menjadi berkurang, sehingga kualitas hidup

pada penderita akan menurun.6,11,12

Pada tahun 1999, Middleton dan Farinelli melakukan penelitian yang

mengevaluasi hubungan pasien GGK yang menerima Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dengan sensitivitas pengecapan pada 36 subjek. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pasien GGK yang

menjalani CAPD dengan sensitivitas pengecapan.10 Pada tahun 2012, penelitian yang

dilakukan oleh Manley, Haryono dan Keane pada 30 subjek penderita GGK,

menunjukkan bahwa 30 subjek (100 %) dapat mengidentifikasi rasa asin, 28 subjek

(90%) dapat mengidentifikasi rasa manis, 17 subjek (57%) sulit membedakan rasa

asam dengan rasa pahit, 21 subjek (70%) sulit membedakan rasa pahit dari keempat

rasa lainnya dan lebih dari 15 subjek, yaitu sebanyak 14 subjek (43%) sulit

membedakan rasa umami dari empat rasa primer lainnya.13

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara

penderita GGK yang menjalani CAPD dengan sensitivitas pengecapan, namun belum

ada penelitian lebih lanjut mengenai hubungan pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan. Oleh karena itu, perlu dilakukan

(20)

hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan yang akan dilakukan di Klinik Spesialis

Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

1.2Rumusan Masalah 1.2.1 Masalah Umum

Apakah terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas pengecapan?

1.2.2 Masalah Khusus

1. Berapakah prevalensi pasien hemodialisis yang mengalami

gangguan sensitivitas pengecapan?

2. Apakah terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensasi rasa manis?

3. Apakah terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensasi rasa asin?

4. Apakah terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensasi rasa asam?

5. Apakah terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensasi rasa pahit?

6. Apakah terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensasi rasa umami?

1.3Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas pengecapan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui prevalensi pasien hemodialisis yang mengalami

(21)

2. Untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensitivitas rasa manis.

3. Untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensitivitas rasa asin.

4. Untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensitivitas rasa asam.

5. Untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensitivitas rasa pahit.

6. Untuk mengetahui hubungan antara pasien GGK yang menjalani

hemodialisis dengan sensitivitas rasa umami.

1.4Hipotesis

1. Terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan gangguan sensitivitas pengecapan.

2. Terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas rasa manis.

3. Terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas rasa asin.

4. Terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas rasa asam.

5. Terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas rasa pahit.

6. Terdapat hubungan antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis

dengan sensitivitas rasa umami.

1.5Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Meningkatkan kompetensi keilmuan dan menambah wawasan dalam

bidang kedokteran gigi mengenai gangguan sensitivitas pengecapan pada pasien yang

(22)

2. Menyediakan data untuk penelitian lanjutan yang berhubungan dengan

gangguan sensitivas pengecapan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Untuk menambah informasi kepada para tenaga medis mengenai

keterkaitan antara terapi hemodialisis dengan kondisi di rongga mulut pasien, yaitu

gangguan sensitivitas pengecapan sehingga dapat menjalin kerja sama antara dokter

gigi dan dokter umum/dokter spesialis penyakit dalam untuk menangani masalah

tersebut.

2. Untuk menambah informasi kepada masyarakat penderita GGK

mengenai keterkaitan antara hemodialisis dengan kondisi kesehatan rongga

mulut yang menurun sehingga dapat bertindak segera untuk mencari

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gagal Ginjal Kronis (GGK) 2.1.1 Definisi

GGK adalah suatu proses patofisiologis yang menyebabkan penurunan

fungsi ginjal secara progresif dengan penyebab yang beragam. Pada

umumnya, hal ini akan berakhir dengan gagal ginjal tahap akhir. Gagal ginjal

tahap akhir adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan

fungsi ginjal yang irreversibel yang sudah mencapai tahapan dimana penderita

memerlukan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi

ginjal.1,2,14

Kriteria GGK adalah:16

1. Kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari tiga bulan, berupa

kelainan struktural atau fungsional, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi

glomerulus (LFG) baik kelainan patologis ataupun tanda tanda kelainan ginjal,

termasuk kelainan pada komposisi darah atau urin, ataupun kelainan dalam tes MRI. 2. LFG kurang dari 600 cc/menit/1.73 m2 selama lebih dari tiga bulan,

dengan atau tanpa tanda-tanda lain kerusakan ginjal.

2.1.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi

GGK dapat disebabkan manifestasi penyakit kronis seperti

diabetes mellitus atau hipertensi. Penyebab GGK yang paling sering adalah

penyakit diabetes, insidensinya mencapai 44%. Penyebab paling sering

kedua adalah penyakit hipertensi kronis, insidensinya mencapai 28%.16

Penyakit lain yang dapat menyebabkan rusaknya ginjal yaitu :13,17

1. Glumerulonefritis, yaitu penyakit yang menyebabkan inflamasi dan

(24)

2. Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yang merupakan penyakit autoimun.

3. Polycystic Kidney Disease, yaitu kelainan bawaan pada ginjal, dimana terdapat kista berukuran besar di dalam ginjal yang dapat merusak

jaringan sekitarnya.

4. Nephrotic syndrome atau sindroma nefrotik, merupakan manifestasi klinis dari setiap lesi glomerulus yang menyebabkan kelebihan ekskresi protein

dalam urin.

5. Pyelonephritis, yaitu manifestasi yang ditimbulkan akibat cedera berkelanjutan pada ginjal yang menyebabkan infeksi bakteri Escherichia coli.

6. Obstruksi akibat batu ginjal, tumor, atau pembesaran kelenjar prostat pada

pria.

7. Infeksi saluran kemih

Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2011 mencatat

penyebab GGK pada pasien yang menjalani hemodialisis di Indonesia seperti pada

(25)

Gambar 1. Penyebab GGK di Indonesia.18

Faktor predisposisi GGK dapat berupa faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.

Untuk faktor intrinsik, faktor predisposisi GGK adalah usia, jenis kelamin, ras dan

genetik. Semakin meningkat usia seseorang, maka akan lebih berisiko terkena GGK,

hal ini diakibatkan karena proses penurunan fungsi ginjal pada usia lanjut; untuk jenis

kelamin, beberapa penelitian menyatakan bahwa pria lebih berisiko dibandingkan

wanita; sedangkan untuk ras, ras Afrika dan Amerika lebih berisiko dibandingkan

ras-ras lainnya; dan telah diidentifikasi bahwa faktor genetik merupakan salah satu

faktor yang dapat memicu dan mempercepat perkembangan GGK. Untuk faktor

ekstrinsik, faktor predisposisi GGK adalah tingkat pendidikan, orang yang memiliki

latar belakang yang rendah akan lebih berisiko terkena GGK, hal ini diakibatkan

karena kurangnya kesadaran terhadap kesehatan; berat badan juga menjadi faktor

predisposisi GGK, orang dengan berat badan berlebih lebih berisiko dibandingkan

(26)

pemakaian obat-obatan berupa obat penghilang rasa sakit yang berlebih dan

penyalahgunaan obat-obat terlarang juga dapat meningkatkan risiko terkena GGK.17

2.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi atas derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG yang dihitung

berdasarkan serum kreatinin, usia, jenis kelamin dan berat badan dengan

menggunakan rumus Cockcroft-Gault sebagai berikut:19

LFG Serum Kreatin (mg/dL) x 72

Tabel 1. Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit.20

Derajat Penjelasan LFG (ml/mnt/1,73m2)

1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal

atau meningkat

≥ 90

2 Kerusakan ginjal dengan LFG menurun

ringan

60 – 89

3 Kerusakan ginjal dengan LFG menurun

sedang

30 – 59

4 Kerusakan ginjal dengan LFG menurun

berat

15 – 29

5 Gagal ginjal < 15 atau dialisis

2.1.4 Komplikasi

Menurunnya laju filtrasi glomerulus (LFG) berhubungan erat dengan

terjadinya komplikasi pada sistem organ tubuh. Semakin menurun LFG, maka

semakin berat juga komplikasi yang terjadi. Komplikasi yang terjadi pada GGK

(27)

1. Anemia

Anemia didefinisikan sebagai penurunan satu atau lebih sel darah merah

mayor, konsentrasi hemoglobin, hematokrit atau jumlah sel darah merah. Anemia

dapat ditegakkan dengan pemeriksaan hemoglobin berdasarkan jenis kelamin, yaitu

pada pria kurang dari 13 gr/dL, sedangkan pada wanita dibagi menjadi wanita

pra-menopause kurang dari 12 gr/dL dan wanita pasca pra-menopause kurang dari 13 gr/dL.

Anemia dapat didiagnosa pada setiap tingkat GGK dan terdapat hubungan erat

dengan tingkat keparahan GGK tersebut. Sebanyak 50% penderita GGK yang

menderita anemia. Anemia dapat terjadi karena kekurangan zat besi, asam folat dan

vitamin B12; perdarahan gastrointestinal, hiperparatiroid yang parah, inflamasi

sistemik, tetapi penyebab paling utama terjadinya anemia pada penderita GGK yaitu

menurunnya sintesis eritroprotein. Eritroprotein adalah glikoprotein yang

disekresikan oleh ginjal dan berperan penting dalam pertumbuhan dan diferensiasi

sel-sel darah merah pada sumsum tulang. Anemia pada pasien GGK dapat

meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat komplikasi kardiovaskular

(angina, hipertrofi ventrikel kiri,dan gagal jantung) yang dapat menyebabkan

kerusakan ginjal lebih lanjut yang disebut Cardiorenal Anemia Syndrome.21,22 2. Gangguan pada tulang dan metabolisme mineral

Ginjal merupakan organ utama ekskresi fosfat dan 1-α-hidroksilasi yang dihasilkan vitamin D. Penderita GGK mengalami peningkatan kadar serum fosfat

(hyperphosphatemia) yang menyebabkan tingkat dihidroksi-vitamin D menjadi inadekuat, yang dapat mengurangi sintesis jaringan parut parenkim dan terjadi

pengurangan ekskresi fosfat. Hal ini dapat menyebabkan kadar serum kalsium

menjadi menurun dan mengakibatkan peningkatan sekresi hormon paratiroid.

Gangguan pada tulang dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu turnover tulang yang rendah dan turnover tulang yang tinggi. Pasien pra-dialisis paling banyak mengalami turnover tulang yang tinggi karena peningkatan hormon paratiroid sehingga dapat meningkatkan resorpsi tulang serta meningkatkan kadar kalsium dalam darah.

(28)

utama penyakit kardiovaskular pada pasien GGK. Resorpsi tulang yang meningkat

dan terus menerus dapat menyebabkan fibrosis dan pembentukan kista pada tulang.

Kondisi ini juga dapat menyebabkan gejala seperti nyeri tulang bahkan tumor pada

kasus yang berat. Hormon paratiroid merupakan toksin uremia dan apabila kadarnya

meningkat dalam darah dapat menyebabkan kelemahan otot dan fibrosis pada

jaringan otot. Sebaliknya, pada pasien dialisis, lebih banyak mengalami turnover tulang yang rendah dengan penurunan hormon paratiroid. Hal ini akan menyebabkan

akumulasi dari matriks tulang yang tidak termineralisasi, penurunan volume tulang,

peningkatan insidensi fraktur dan berhubungan dengan peningkatan vaskularisasi dan

kalsifikasi.21,23

3. Penyakit jantung

Penyakit jantung merupakan penyebab dan komplikasi GGK. Komplikasi ini

sering dikaitkan dengan hiperfosfatemia dan hiperkalsemia yang dapat menyebabkan

kalsifikasi vaskular. Komplikasi pada jantung sering sekali berkembang menjadi

gagal jantung kongestif.21,22

4. Dislipidemia

Dislipidemia merupakan faktor risiko utama kesakitan dan kematian

kardiovaskular dan komplikasi ini paling sering dijumpai pada penderita GGK.

Secara umum, penurunan fungsi ginjal sejalan dengan peningkatan hiperlipidemia,

hipertrigliseridemia dan LDL kolestrol. Hal ini disebabkan oleh penurunan aktivitas

lipoprotein lipase dan trigliserida lipase. Beberapa penelitian menemukan bahwa

hiperparatiroid juga dapat meningkatkan keparahan dislipidemia.21,23

2.1.5 Perawatan

Perencanaan tatalaksana GGK disesuaikan dengan derajat penyakit

yang diderita oleh pasien seperti pada tabel 2.

(29)

Derajat

1 ≥ 90 Diagnosis dan perawatan, perawatan

pada kondisi komorbid, intervensi

5 < 15 Terapi pengganti ginjal jika terjadi

uremia

Dialisis adalah suatu perawatan untuk membersihkan darah penderita

ketika fungsi ginjal tidak dapat berfungsi secara optimal. Fungsi dari dialisis

adalah untuk membuang zat-zat sisa berbahaya, garam mineral berlebih dan

cairan cairan yang dihasilkan oleh tubuh dalam darah. Dialisis juga berfungsi

untuk mengatur tekanan darah dan membantu mempertahankan jumlah cairan

normal pada tubuh. Perawatan dialisis dapat memperpanjang usia penderita

GGK, tetapi perawatan ini bukan merupakan pengobatan untuk penderita

(30)

Terdapat dua jenis perawatan dialisis, yaitu:

1. Hemodialisis

Hemodialisis merupakan metode umum yang digunakan untuk merawat

pasien penderita GGK. Hemodialisis pertama kali digunakan sebagai terapi gagal

ginjal pada tahun 1960an dan telah banyak penelitian penelitian yang dilakukan untuk

membuat terapi hemodialisis menjadi lebih efektif dengan efek samping seminimal

mungkin. Meskipun belakangan ini telah dibuat alat dialisis yang lebih sederhana,

hemodialisis tetap merupakan terapi yang rumit dan kurang nyaman bagi penderita,

yang membutuhkan koordinasi pasien, keluarga pasien dan tim medis (dokter

spesialis ginjal, perawat, teknisi dan pekerja lainnya).25

Hemodialisis biasanya disediakan di rumah sakit atau di klinik dialisis.

Selama prosedur berlangsung, darah pasien berpindah dari alat kateter yang

dipasangkan pada pembuluh darah arteri pada lengan dan dihubungkan ke

tabung dari suatu mesin yang merupakan tempat pertukaran sisa-sisa

pembuangan, cairan,dan elektrolit. Membran semipermeabel memisahkan

darah pasien dari larutan dialisis (dialisat) dan konstituen bergerak diantara

kedua kompartemen tersebut. Misalnya, sisa sisa pembuangan berpindah dari

darah ke larutan dialisat, sementara ion bikarbonat bergerak ke dalam darah

dari larutan dialisat tersebut. Sel darah dan protein tetap berada dalam darah

karena tidak dapat melewati membran semipermeabel. Pertukaran terjadi

secara ultrafiltrasi, difusi dan osmosis. Setelah pertukaran telah selesai, darah

dikembalikan ke vena pasien. Heparin atau antikoagulan lainnya diberikan

dan tetap dilakukan pemantaun agar tidak terjadi pembekuan darah.

Hemodialisis pada pasien GGK biasanya dilakukan tiga kali seminggu dan

membutuhkan tiga sampai empat jam setiap sesinya. Pasien akan merasakan

perasaan yang sangat tidak nyaman karena terjadi perubahan drastis pada

keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh, tetapi pasien akan merasa

lebih baik setelah perawatan. Perasaan lebih baik tersebut akan menghilang

secara bertahap karena sisa sisa pembuangan akan kembali menumpuk

(31)

Alat yang digunakan pada hemodialisis adalah sebuah alat penyaring

yang disebut dialyzer. Dialyzer berfungsi untuk membuang zat zat sisa dan cairan berlebih pada darah dalam sebuah tabung, kemudian darah di dalam

tabung tersebut akan dimasukkan ke dalam tabung lainnya sehingga menjadi

darah bersih yang akan dimasukkan kembali ke dalam tubuh penderita.25

(32)

Indikasi hemodialisis adalah sebagai berikut:27

1. Asidosis metabolik

2. Uremia > 200 mg/dL

3. Hiperkalemia > 7 mEq/L

4. Kelebihan cairan

5. Encephalopati uremikum

6. Intoksikasi obat

7. LFG < 15 mL/menit/1,73 m2

Masalah yang paling sering dialami oleh pasien hemodialisis berkaitan dengan

akses vaskuler seperti thrombosis fistula, pembentukan aneurisma dan infeksi

terutama dengan graft sintetik atau akses vena sentral sementara. Infeksi sistemik

dapat timbul pada lokasi akses atau didapat dari sirkuit dialisis. Transmisi infeksi

yang ditularkan melalui darah seperti hepatitis dan HIV merupakan suatu potensial

yang berbahaya. Pada dialisis jangka panjang, deposit protein amiloid dialisis yang

mengandung mikroglobulin dapat menyebabkan sindrom terowongan karpal dan

artropati destruktif dengan lesi tulang kistik. Senyawa pengikat fosfat yang

mengandung aluminium dan kontaminasi aluminium dengan larutan dialisat sehingga

dapat terjadi toksisitas aluminium yang dapat menyebabkan demensia, mioklonus,

kejang dan penyakit tulang.23

2. Dialisis peritoneal

Dialisis peritoneal adalah suatu perawatan pada GGK dengan cara

memasukkan larutan dialisat ke dalam rongga peritoneum. Dialisat

menyebabkan sisa sisa pembuangan dan cairan yang berlebih ditarik melalui

membran peritoneal kedalam rongga peritoneum. Setelah proses tersebut

selesai, cairan akan dikeringkan dan diganti.28

Dialisis peritoneal dapat dilakukan di unit dialysis ataupun di rumah.

Perawatan ini dapat dilakukan pada malam hari disaat tidur dan dapat dilakukan terus

(33)

di daerah permukaan, tipis dan bervaskularisasi tinggi, berfungsi sebagai membran

semipermeabel. Sebuah kateter dengan titik masuk dan keluar tertanam dalam rongga

peritoneal. Larutan dialisat dimasukkan ke dalam rongga melalui kateter, yang

memungkinkan pertukaran zat zat sisa dan elektrolit dengan cara difusi dan osmosis.

Kemudian, cairan dialisat dikeringkan dari rongga oleh gravitasi ke dalam sebuah

wadah. Proses ini membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan

hemodialisis. Namun, proses pertukaran ini lebih kontinu, sehingga dapat mencegah

perubahan cairan dan elektrolit yang berlebihan dan mendadak di dalam tubuh dan

komponen-komponen yang terdapat di dalam larutan dialisis dapat disesuaikan

dengan kebutuhan individu. Komplikasi utama dialisis peritoneal adalah infeksi yang

dapat mengakibatkan peritonitis.25,28

Gambar 3. Proses dialisis peritoneal25

2.2Pengecapan

Pengecapan merupakan suatu bentuk kemoreseptor langsung yang

(34)

dasar mulut. Lidah melekat pada permukaan dalam mandibula mendekati midline dengan dukungan tulang hyoid. Selain untuk fungsi sensori berupa pengecapan, lidah juga berfungsi untuk mengunyah, menelan, berbicara.29

Terdapat empat jenis papilla lidah untuk mempersepsikan

pengecapan, yaitu papilla filiformis, fungiformis, foliate dan circumvalatte. Papila filiformis merupakan papilla yang paling banyak terdapat pada permukaan lidah. Papila fungiformis berbentuk seperti fungi atau jamur dan tersebar diantara papilla filiformis. Papila foliate terletak di daerah posterior lateral lidah. Papila circumvalatte tersebar pada daerah sepertiga posterior lidah dan membentuk huruf V. Pada papilla lidah terdapat reseptor

pengecapan yang disebut kuncup kecap (taste buds). Terdapat lima modalitas pengecapan dasar yang dapat dirasakan oleh taste buds, yaitu rasa manis,

asam, asin, pahit dan umami. Dari keempat jenis papilla, hanya ada tiga jenis

papilla yang memiliki reseptor pengecapan, yaitu papilla fungiformis, foliate dan circumvallate.29,30

2.2.1 Pengecapan normal

Pada manusia terdapat empat pengecapan dasar, yaitu rasa manis, asam, asin

dan pahit.9,30,31 Pada tahun 1908, rasa kelima ditemukan oleh seorang peneliti Jepang,

Kikunae Ikeda yaitu rasa umami.10

Terdapat lima rasa dasar yang dapat dirasakan oleh reseptor pengecapan,

yaitu:

Rasa manis, tidak dihasilkan oleh satu golongan bahan kimia saja.

Beberapa jenis bahan kimia yang membentuk rasa ini adalah gula, glikol, alkohol, aldehid, keton, amida, ester, beberapa asam amino, beberapa protein kecil, asam sulfat, asam halogen dan garam anorganik dari timah dan berilium yang merupakan bahan kimia organik. Perubahan kecil dalam struktur kimia, seperti penambahan

sederhana secara radikal dapat mengubah substansi rasa manis menjadi pahit.

(35)

Rasa asam, disebabkan oleh asam yang dirangsang oleh konsentrasi ion

hidrogen. Intensitas sensasi rasa asam dari asam-asam organik biasanya lebih tinggi

daripada asam mineral dengan konsentrasi ion hidrogen yang sama. Hal ini

disebabkan oleh asam organik lebih cepat menembus sel daripada asam mineral.

Reseptor asam terletak pada lateral lidah.9,10

Rasa asin, dihasilkan oleh garam terionisasi, terutama oleh konsentrasi

ion natrium. Kualitas rasa asin bervariasi, karena beberapa garam menimbulkan

sensasi rasa lain selain rasa asin. Kation garam, terutama kation natrium, berperan

dalam menghasilkan rasa asin, tetapi anion juga berkontribusi pada konsentrasi yang

lebih rendah. Reseptor asin terletak pada daerah lateral anterior lidah.9,10

Rasa pahit, sama seperti rasa manis, tidak hanya dihasilkan oleh satu jenis

zat kimia organik. Dua kelas zat tertentu yang menyebabkan rasa pahit, yaitu zat

organik dari rantai panjang nitrogen dan alkaloid. Alkaloid banyak terdapat dalam obat-obatan seperti kina, kafein, strychnine dan nikotin. Beberapa zat pada awalnya terasa manis tetapi akan berakhir pahit, seperti sakarin. Rasa pahit dengan intensitas tinggi biasanya membuat manusia mauoun hewan menolak suatu jenis makanan yang

membuat sensasi rasa pahit menjadi penting, karena banyak zat racun yang

ditemukan pada tanaman, seperti alkaloid, yang menyebabkan rasa pahit yang intens. Reseptor pahit terletak di daerah posterior lidah.9,10

Rasa umami, diartikan sebagai rasa enak, gurih, sedap dalam bahasa

Jepang, yang menunjukkan sensasi rasa menyenangkan yang secara kualitatif berbeda

dengan rasa manis, asin, asam, maupun pahit. Rasa Umami adalah rasa dominan pada

makanan yang mengandung monosodium glutamate, seperti ekstrak daging dan keju.

(36)

Gambar 4. Penampang peta rasa lidah32

2.2.2 Gangguan Sensitivitas Pengecapan

Gangguan sensitivitas pengecapan dapat disebabkan oleh banyak hal,

seperti infeksi saluran pernafasan, terapi yang menggunakan radiasi, cedera

kepala, pembedahan pada telinga, hidung dan tenggorokan, oral hygiene yang

buruk dan gejala sistemik seperti DM dan GGK, termasuk penggunaan

obat-obatan.17,33 Terdapat tiga jenis gangguan pengecapan, yaitu :

 Hypogeusia, yaitu berkurangnya kemampuan pengecapan, disebabkan oleh penyakit-penyakit sistemik seperti alzheimer, parkinson, ataupun GGK.13

 Dysgeusia, yaitu terganggunya organ atau reseptor pengecapan, disebabkan oleh oral hygiene yang buruk dan konsumsi obat-obatan, maupun pada penderita

(37)

 Ageusia, yaitu ketidakmampuan organ pengecapan untuk mengecap sensasi rasa sama sekali, dapat disebabkan oleh paparan zat kimia berbahaya ataupun

penyakit stroke.17,33

2.2.3 Metode Untuk Menguji Sensitivitas Pengecapan

Secara garis besar, terdapat dua metode untuk menguji sensitivitas

pengecapan, yaitu :

 Chemogustometry (Uji Taste Strips)

Uji Taste Strips dapat digunakan untuk menguji sensitivitas pengecapan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis. Alat yang digunakan untuk uji ini adalah

kertas Whatman dengan ukuran 2 x 8 cm. Bahan yang digunakan adalah larutan uji

rasa manis, asam, asin, pahit dan umami dengan masing-masing empat konsentrasi

yang berbeda. Taste Strips dicelupkan kedalam masing-masing konsentrasi larutan uji dan kemudian diujikan padah lidah subjek.34

 Electrogustometry (RION TR06)

RION TR06 adalah alat paling umum yang digunakan untuk menguji

pengecapan dengan menggunakan stimulus elektrik, bentuknya portable dan mudah

dibawa. Skala arus yang dikeluarkan alat ini adalh 4μA sampai 400μA. Arus stimulus

dapat diaplikasikan dengan durasi 0.5, 1.0 dan 2.00 detik ataupun berdasararkan

kontrol yang diinginkan.35

Aplikasi alat ini dilakukan secara manual dengan cara kerja arus elektrik

disalurkan menggunakan elektroda stainless steel, sehingga uji dapat dilakukan pada

(38)

2.3 Hubungan Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis dengan Sensitivitas Pengecapan

Pada pasien hemodialisis, sering dijumpai penurunan kesehatan gigi dan

mulut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan konsentrasi ureum

yang tinggi di dalam darah lebih berisiko memiliki lesi di mulut. Menurunnya

kesehatan gigi dan mulut ini akan semakin parah pada pasien usia lanjut, penderita

penyakit sistemik lain seperti diabetes mellitus dan penyakit ginjal, konsumsi

obat-obatan dan penurunan fungsi imun yang mempermudah terjadinya infeksi dan

inflamasi pada rongga mulut.37

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat kondisi oral pada pasien

hemodialisis. Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan banyaknya pasien

hemodialisis yang memiliki setidaknya satu atau lebih manifestasi di rongga mulut,

seperti perdarahan pada gingiva, mukosa pucat, stomatitis uremia, ulser di rongga

mulut, xerostomia, bau ureum dan gangguan sensitivitas pengecapan.12

Gangguan sensitivitas pengecapan pada pasien hemodialisis masih belum

diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi diketahui efek uremia dapat menjadi salah

satu faktor penurunan sensitivas pengecapan.6 Efek uremia akan menyebabkan

penurunan fungsi kelenjar saliva, dimana saliva merupakan komponen cairan utama

dari lingkungan eksternal sel reseptor pengecapan, dengan demikian, saliva berperan

dalam sensitivitas pengecapan.12

Saliva diproduksi oleh kelenjar saliva parotis, submandibula dan sublingual

pada sebelum, saat dan setelah makan. Saliva berfungsi untuk menghaluskan

makanan, membentuk bolus untuk pengunyahan dan penelanan, membantu

pengucapan, membersihkan jaringan lunak dan mencegah kerusakan gigi. Selain itu,

saliva juga berperan dalam mempersepsikan berbagai rasa, seperti rasa manis, asin,

asam, pahit dan umami. Saliva merupakan komponen cairan utama dari lingkungan

eksternal sel reseptor pengecapan, dengan demikian, saliva berperan dalam

sensitivitas pengecapan. Peran utamanya adalah sebagai transportasi zat rasa dan

(39)

rasa, saliva bertindak sebagai pelarut untuk zat rasa; air saliva melarutkan zat rasa

dan kemudian menyebar ke situs reseptor pengecapan. Selama proses ini, beberapa

unsur kimia saliva berinteraksi dengan zat rasa. Misalnya, buffer saliva dapat

menurunkan konsentrasi ion hidrogen bebas (rasa asam) dan ada beberapa protein

saliva yang dapat mengikat dengan zat rasa pahit. Efek lain saliva terhadap transduksi

rasa yaitu beberapa unsur saliva dapat terus menerus menstimulasi reseptor

(40)

2.4 Kerangka Teori

Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani

hemodialisis

Uremia penurunan fungsi kelenjar saliva

Batasan asupan

cairan

Konsumsi obat-obatan

Usia lanjut atrofi sel lidah

(41)

2.5 Kerangka Konsep

Lama menjalani hemodialisis:

- Jangka pendek - Jangka panjang

Gangguan sensitivitas pengecapan -Rasa manis

-Rasa asam -Rasa asin -Rasa pahit -Rasa umami

Usia pasien

≥ 30

tahun

Jenis kelami

(42)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pada penelitian cross sectional, peneliti melakukan uji sensitivitas pengecapan pada pasien hemodialisis diobservasi satu kali dengan lima rasa berbeda pada satu saat

tertentu.38

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida yang

beralamat di Jalan D.I. Panjaitan No.144 Medan. Pemilihan Klinik Spesialis Ginjal

dan Hipertensi Rasyida sebagai lokasi penelitian dikarenakan klinik ini merupakan

pusat hemodialisis di Kota Medan, dimana terdapat banyak pasien yang menjalani

terapi hemodialisis dan klinik ini juga memiliki sarana dan rekam medis yang

lengkap sehingga lebih terjangkau bagi peneliti untuk mendapatkan subjek penelitian.

Waktu penelitian dilakukan selama 2 bulan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis

di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan.

3.3.2 Sampel

(43)

Jumlah sampel dalam penelitian ini diambil dengan rumus penaksiran proporsi

populasi dengan ketentuan absolut (simpangan mutlak).

n =

Keterangan :

n : jumlah sampel yang diperlukan

d : tingkat akurasi (0,1)

P : proporsi kategori variabel yang diteliti. Oleh karena belum pernah ada penelitian

sebelumnya, maka nilai P = 0,5

Z : nilai kepercayaan 95% =1,96

n =

n =

n =

n = 96,04 → 96 orang

Berdasarkan perhitungan rumus, didapatkan besar sampel minimal adalah

sebanyak 96 orang yang akan diujikan masing-masing rasa manis, asam, asin, pahit

dan umami.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1 Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

1. Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis

Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan yang berusia ≥ 30 tahun.

(44)

3. Pasien yang tidak memiliki penyakit sistemik yang dapat menyebabkan

gangguan sensitivitas pengecapan seperti Diabetes Mellitus dan penyakit jantung.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis yang tidak

bersedia melakukan uji sensitivitas pengecapan.

3.5 Variabel Penelitian 3.5.1 Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronis

yang menjalani terapi hemodialisis.

3.5.2 Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah gangguan sensitivitas

pengecapan.

3.5.3 Variabel Terkendali

Variabel terkendali dalam penelitian ini adalah usia

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali

Variabel tidak terkendali dalam penelitian ini adalah jenis kelamin

3.6 Definisi Operasional

1. Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis adalah pasien gagal

ginjal kronis derajat 5 (LFG < 15 ml/mnt/1,73m2) yang sedang menjalani

hemodialisis, dapat dilihat dari rekam medik pasien.

2. Lama menjalani hemodialisis adalah lama waktu pasien menjalani

hemodialisis yang dihitung mulai dari inisiasi dialisis sampai saat ini dan dapat dilihat

(45)

a. Hemodialisis jangka pendek: subjek yang telah menjalani terapi

hemodialisis pada rentang 3-60 bulan.

b. Hemodialisis jangka panjang: subjek yang telah menjalani terapi

hemodialisis di atas 60 bulan.

3. Usia adalah perhitungan ulang tahun subjek penelitian dihitung sejak tahun

lahir sampai ulang tahun terakhir saat dilakukan penelitian yang dapat dilihat dari

rekam medik pasien.

4. Jenis kelamin adalah keadaan kodrati responden sesuai anatomis, yaitu pria

atau wanita yang dapat dilihat dari rekam medik pasien.

5. Sensitivitas pengecapan pasien gagal ginjal kronis yang menjalani

hemodialisis adalah tingkat kepekaan lidah pasien untuk dapat mempersepsikan rasa

manis, asam, asin, pahit dan umami.

6. Gangguan sensitivitas pengecapan adalah suatu kondisi dimana seseorang

tidak dapat mempersepsikan :

a. Rasa manis pada saat dilakukan uji Taste Strips dengan larutan uji sukrosa konsentrasi 20%.34

b. Rasa asam pada saat dilakukan uji Taste Strips dengan larutan uji asam sitrat konsentrasi 16,5%.34

c. Rasa asin pada saat dilakukan uji Taste Strips dengan larutan uji sodium klorida konsentrasi 10%.34

(46)

4. Tissue

5. Alat tulis

3.7.2 Bahan

1. Aquadest

2. Larutan sukrosa dengan konsentrasi larutan 20%

3. Larutan asam sitrat dengan konsentrasi larutan 16,5%

4. Larutan sodium klorida dengan konsentrasi larutan 10%

5. Larutan quinin hidroklorida dengan konsentrasi larutan 0,24%

6. Larutan monosodium glutamat dengan konsentrasi larutan 10%

3.8 Pelaksanaan Penelitian 3.8.1 Pembuatan Larutan Uji

1. Larutan uji dibuat terlebih dahulu di FMIPA Kimia USU. Larutan

uji dibuat untuk rasa manis, asam, asin, pahit dan umami. Masing-masing

jenis rasa terdiri dari empat konsentrasi yang berbeda, yaitu:

 Larutan sukrosa dengan konsentrasi larutan 20%

 Larutan asam sitrat dengan konsentrasi larutan 16,5%

 Larutan sodium klorida dengan konsentrasi larutan 10%

 Larutan quinin hidroklorida dengan konsentrasi larutan 0,24%

 Larutan monosodium glutamat dengan konsentrasi larutan 10%

2. Taste Strips dibuat dari filter paper berukuran 2 x 8 cm. Area sepanjang 2 x 2 cm pada taste strips akan dicelupkan kedalam larutan uji.

3.8.2 Prosedur Penelitian

Pengumpulan data ditujukan kepada pasien GGK yang diperoleh dari

rekam medik pasien dan datang ke Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi

(47)

Setelah pasien setuju menjadi subjek penelitian, pasien diminta

menandatangani informed consent. Kemudian dari rekam medik dicatat data pribadi pasien (nama, umur, jenis kelamin). Selanjutnya dilakukan penelitian

dengan langkah sebagai berikut :

1. Posisikan sampel dalam keadaan duduk.

2. Untuk setiap pengujian rasa tertentu, sebelumnya sampel diinstruksikan

untuk berkumur-kumur dengan air mineral sebanyak 60 ml selama kurang lebih 60

detik.

3. Lidah sampel dibersihkan dengan cotton roll.

4. Pengujian rasa manis dilakukan di daerah anterior lidah dengan larutan

glukosa 20% menggunakan taste strips, kemudian berikan penilaian.

5. Pengujian rasa asam dilakukan di daerah lateral posterior lidah dengan

larutan asam sitrat 16,5% menggunakan taste strips, kemudian berikan penilaian.

6. Pengujian rasa asin dilakukan di daerah lateral anterior lidah dengan

larutan sodium korida 10% menggunakan taste strips, kemudian berikan penilaian.

7. Pengujian rasa pahit dilakukan di daerah posterior lidah dengan larutan

quinine hidroklorida 0,24% menggunakan taste strips, kemudian berikan penilaian.

8. Pengujian rasa umami dilakukan di daerah tengah lidah dengan larutan

monosodium glutamat 10% menggunakan taste strips, kemudian berikan penilaian.

(48)

Rasa Merasa Tidak Merasa

Manis + -

Asam + -

Asin + -

Pahit + -

Umami + -

Umami

Pahit

Asin

Asam

Manis

(49)

3.9 Pengolahan dan Analisis Data 3.9.1 Pengolahan Data

Data dianalisis dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS

yaitu menggunakan uji Kruskal Wallis untuk melihat hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan gangguan sensitivitas pengecapan rasa manis, asam, asin, pahit

dan umami pada lidah penderita gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis.

3.9.2 Data Univariat

Analisis univariat (analisis deskriptif) bertujuan untuk mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian.40 Data univariat disajikan dalam bentuk tabel

yang meliputi :

1. Distribusi dan frekuensi pasien hemodialisis berdasarkan jenis kelamin.

2. Distribusi dan frekuensi pasien hemodialisis berdasarkan usia.

3. Distribusi dan frekuensi pasien hemodialisis dengan gangguan

sensitivitas pengecapan rasa manis, asin, asam, pahit, umami.

3.9.3 Data Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan terhadap variabel yang

diduga berhubungan atau berkorelasi. Data bivariat disajikan dalam bentuk tabel yang

meliputi :

1. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa manis pada pasien hemodialisis.

2. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa asin pada pasien hemodialisis.

3. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa asam pada pasien hemodialisis.

4. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa pahit pada pasien hemodialisis.

5. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

(50)

Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara hemodialisis dengan gangguan sensitivitas pengecapan. Berdasarkan

uji statistik tersebut dapat diputuskan:

a. Menerima Ha (menolak Ho), jika diperoleh nilai X² hitung > X² tabel

atau nilai p ≤ α (0,05)

b. Menolak Ha (menerima Ho), jika diperoleh nilai X² hitung < X² tabel

atau nilai p > α (0,05)

3.10 Etika Penelitian

Etika penelitian dalam penelitian ini mencakup hal sebagai berikut:

1. Ethical clearance

Peneliti mengajukan persetujuan pelaksanaan penelitian kepada komisi etik

penelitian kesehatan berdasarkan ketentuan etika yang bersifat internasional maupun

nasional.

2. Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Peneliti meminta secara sukarela subjek untuk berpartisipasi dalam

penelitian yang dilakukan. Bagi subjek yang setuju, dimohon untuk menandatangani

lembar persetujuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian.

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Data yang terkumpul dalam penelitian ini dijamin kerahasiannya oleh

(51)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Sampel Penelitian

Penelitian ini menggunakan subjek sebanyak 96 orang pasien gagal ginjal

kronis yang menjalani hemodialisis di Klinik Ginjal dan Hipertensi Rasyida

Medan.

Tabel 3 menunjukkan subjek penelitian yang dibagi berdasarkan jenis kelamin.

Pada penelitian ini terdapat 61 orang subjek pria (63,5%) dan 35 orang subjek

wanita (36,5%).

Tabel 3. Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi (f) Persentase (%)

Pria 61 63,5%

Wanita 35 36,5%

Total 96 100%

Tabel 4 menunjukkan usia subjek penelitian yang dibagi menjadi tiga kelompok

usia, yaitu kelompok usia 30-40 tahun, usia 41-50 tahun, dan usia >50 tahun.

Subjek dengan usia 30-40 tahun sebanyak 9 orang (9,4 %), usia 41-50 tahun

(52)

Tabel 4. Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

berdasarkan usia

Usia Frekuensi (f) Persentase (%)

30-40 tahun 9 9,4%

41-50 tahun 27 28,1%

>50 tahun 60 62,5%

Total 96 100%

Tabel 5 menunjukkan lama subjek penelitian menjalani hemodialisis yang

dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang menjalani hemodialisis selama 3-60

bulan dan >60 bulan. Subjek yang menjalani hemodialisis selama 3-60 bulan

yaitu sebanyak 79 orang (82,3%) dan yang menjalani >60 bulan yaitu

sebanyak 17 orang (17,7%).

Tabel 5. Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

berdasarkan lama menjalani hemodialisis

Lama Menjalani

Hemodialisis

Frekuensi (f) Persentase (%)

3-60 bulan (Jangka Pendek) 79 82,3%

>60 bulan (Jangka Panjang) 17 17,7%

Total 96 100%

4.2 Frekuensi Gangguan Sensitivitas Pengecapan

Tabel 6 menunjukkan frekuensi subjek penelitian yang mengalami gangguan

sensitivitas pengecapan rasa manis. Subjek penelitian yang mengalami

gangguan pengecapan rasa manis yaitu sebanyak 18 orang (18,8%) sedangkan

subjek yang tidak mengalami gangguan pengecapan rasa manis yaitu

(53)

Tabel 6. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa manis pada pasien

GGK yang menjalani hemodialisis

Sensitivitas

Pengecapan

Frekuensi (f) Persentase (%)

Manis (+) 78 81,2%

Manis (-) 18 18,8%

Total 96 100%

Tabel 7 menunjukkan frekuensi subjek penelitian yang mengalami gangguan

sensitivitas pengecapan rasa asam. Subjek penelitian yang mengalami

gangguan pengecapan rasa asam yaitu sebanyak 22 orang (22,9%) sedangkan

subjek yang tidak mengalami gangguan pengecapan rasa asam yaitu sebanyak

74 orang (77,1%).

Tabel 7. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa asam pada pasien

GGK yang menjalani hemodialisis

Sensitivitas

Pengecapan

Frekuensi (f) Persentase (%)

Asam (+) 74 77,1%

Asam (-) 22 22,9%

Total 96 100%

Tabel 8 menunjukkan frekuensi subjek penelitian yang mengalami gangguan

sensitivitas pengecapan rasa asin. Subjek penelitian yang mengalami

gangguan pengecapan rasa asin yaitu sebanyak 30 orang (31,3%) sedangkan

subjek yang tidak mengalami gangguan pengecapan rasa asin yaitu sebanyak

(54)

Tabel 8. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa asin pada pasien GGK

yang menjalani hemodialisis

Sensitivitas

Pengecapan

Frekuensi (f) Persentase (%)

Asin (+) 66 68,7%

Asin (-) 30 31,3%

Total 96 100%

Tabel 9 menunjukkan frekuensi subjek penelitian yang mengalami gangguan

sensitivitas pengecapan rasa pahit. Subjek penelitian yang mengalami

gangguan pengecapan rasa pahit yaitu sebanyak 29 orang (30,2%) sedangkan

subjek yang tidak mengalami gangguan pengecapan rasa pahit yaitu sebanyak

67 orang (69,8%).

Tabel 9. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa pahit pada pasien GGK

yang menjalani hemodialisis

Sensitivitas

Pengecapan

Frekuensi (f) Persentase (%)

Pahit (+) 67 69,8%

Pahit (-) 29 30,2%

Total 96 100%

Tabel 10 menunjukkan frekuensi subjek penelitian yang mengalami gangguan

sensitivitas pengecapan rasa umami. Subjek penelitian yang mengalami

gangguan pengecapan rasa umami yaitu sebanyak 25 orang (26,0%)

sedangkan subjek yang tidak mengalami gangguan pengecapan rasa umami

(55)

Tabel 10. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa umami pada pasien

GGK yang menjalani hemodialisis

Sensitivitas

Pengecapan

Frekuensi (f) Persentase (%)

Umami (+) 71 74,0%

Umami (-) 25 26,0%

Total 96 100%

Tabel 11 menunjukkan bahwa subjek penelitian yang menjalani hemodialisis

jangka pendek (3-60 bulan) mayoritas mengalami gangguan pengecapan rasa

manis yaitu sebanyak 16 orang (88,9%), sedangkan yang tidak mengalami

gangguan pengecapan rasa manis sebanyak 63 orang (80,8%). Sama halnya

pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang (>60 bulan)

mayoritas mengalami gangguan sensitivitas pengecapan rasa manis yaitu

sebanyak 2 orang (11,1%) dan yang tidak mengalami gangguan sensitivitas

pengecapan rasa manis sebanyak 15 orang (19,2%). Hasil uji statistik

menggunakan Pearson chi-square memperlihatkan bahwa nilai signifikansi p

= 0,416 atau p > sig α (0,05). Dengan demikian, Ho diterima atau Ha ditolak

sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara lama

(56)

Tabel 11. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 12 menunjukkan bahwa subjek penelitian yang menjalani hemodialisis

jangka pendek (3-60 bulan) mayoritas mengalami gangguan pengecapan rasa

asam yaitu sebanyak 7 orang (31,8%), sedangkan yang tidak mengalami

gangguan pengecapan rasa asam sebanyak 72 orang (97,3%). Sama halnya

pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang (>60 bulan)

mayoritas mengalami gangguan sensitivitas pengecapan rasa asam yaitu

sebanyak 15 orang (68,2%) dan yang tidak mengalami gangguan sensitivitas

pengecapan rasa asam sebanyak 2 orang (2,7%). Hasil uji statistik

menggunakan Pearson chi-square memperlihatkan bahwa nilai signifikansi p = 0,001 atau p > sig α (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak atau Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lama menjalani

(57)

Tabel 12. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 13 menunjukkan bahwa subjek penelitian yang menjalani hemodialisis

jangka pendek (3-60 bulan) mayoritas mengalami gangguan pengecapan rasa

asin yaitu sebanyak 26 orang (86,7%), sedangkan yang tidak mengalami

gangguan pengecapan rasa asin sebanyak 53 orang (80,3%). Sama halnya

pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang (>60 bulan)

mayoritas mengalami gangguan sensitivitas pengecapan rasa asin yaitu

sebanyak 4 orang (13,3%) dan yang tidak mengalami gangguan sensitivitas

pengecapan rasa asin sebanyak 13 orang (19,7%). Hasil uji statistik

menggunakan Pearson chi-square memperlihatkan bahwa nilai signifikansi p = 0,449 atau p > sig α (0,05). Dengan demikian, Ho diterima atau Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara lama

menjalani hemodialisis dengan sensitivitas pengecapan rasa asin.

Tabel 13. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

(58)

Lama menjalani

Tabel 14 menunjukkan bahwa subjek penelitian yang menjalani hemodialisis

jangka pendek (3-60 bulan) mayoritas mengalami gangguan pengecapan rasa

pahit yaitu sebanyak 13 orang (44,8%), sedangkan yang tidak mengalami

gangguan pengecapan rasa pahit sebanyak 66 orang (98,5%). Sama halnya

pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang (>60 bulan)

mayoritas mengalami gangguan sensitivitas pengecapan rasa pahit yaitu

sebanyak 16 orang (55,2%) dan yang tidak mengalami gangguan sensitivitas

pengecapan rasa pahit sebanyak 1 orang (1,5%). Hasil uji statistik

menggunakan Pearson chi-square memperlihatkan bahwa nilai signifikansi p = 0,001 atau p > sig α (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak atau Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lama menjalani

(59)

Tabel 14. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 15 menunjukkan bahwa subjek penelitian yang menjalani hemodialisis

jangka pendek (3-60 bulan) mayoritas mengalami gangguan pengecapan rasa

umami yaitu sebanyak 10 orang (40%), sedangkan yang tidak mengalami

gangguan pengecapan rasa umami sebanyak 69 orang (97,2%). Sama halnya

pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang (>60 bulan)

mayoritas mengalami gangguan sensitivitas pengecapan rasa umami yaitu

sebanyak 15 orang (60,0%) dan yang tidak mengalami gangguan sensitivitas

pengecapan rasa umami sebanyak 2 orang (2,8%). Hasil uji statistik

menggunakan Pearson chi-square memperlihatkan bahwa nilai signifikansi p = 0,001 atau p > sig α (0,05). Dengan demikian, Ho ditolak atau Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lama menjalani

(60)

Tabel 15. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

pengecapan rasa umami

Lama menjalani

hemodialisis

Gangguan Sensitivitas Pengecapan Rasa Umami

Nilai p

Ya Tidak

n % n %

Hemodialisis

jangka

pendek (3-60

bulan)

10 40,0 69 97,2

0,001 Hemodialisis

jangka

panjang (>60

bulan)

15 60,0 2 2,8

Figur

Gambar 1. Penyebab GGK di Indonesia.18

Gambar 1.

Penyebab GGK di Indonesia.18 p.25
Tabel 1. Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit.20

Tabel 1.

Klasifikasi GGK berdasarkan derajat penyakit.20 p.26
Gambar 2. Proses hemodialisis25

Gambar 2.

Proses hemodialisis25 p.31
Gambar 3. Proses dialisis peritoneal25

Gambar 3.

Proses dialisis peritoneal25 p.33
Gambar 4. Penampang peta rasa lidah32

Gambar 4.

Penampang peta rasa lidah32 p.36
Tabel 5. Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

Tabel 5.

Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis p.52
Tabel 4. Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis

Tabel 4.

Distribusi dan frekuensi pasien GGK yang menjalani hemodialisis p.52
Tabel 6. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa manis pada pasien

Tabel 6.

Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa manis pada pasien p.53
Tabel 8. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa asin pada pasien GGK

Tabel 8.

Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa asin pada pasien GGK p.54
Tabel 9. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa pahit pada pasien GGK

Tabel 9.

Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa pahit pada pasien GGK p.54
Tabel 10. Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa umami pada pasien

Tabel 10.

Distribusi dan frekuensi sensitivitas pengecapan rasa umami pada pasien p.55
Tabel 11. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 11.

Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas p.56
Tabel 12. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 12.

Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas p.57
Tabel 14. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 14.

Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas p.59
Tabel 15. Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas

Tabel 15.

Tabulasi silang antara lama menjalani hemodialisis dengan sensitivitas p.60

Referensi

Memperbarui...

Outline : PEMBAHASAN