Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara

325  28  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN INDIKATOR KINERJA KUNCI (IKK) PERIKANAN TUNA TERPADU

DI SULAWESI UTARA

RINE KAUNANG

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) Perikanan Tuna Terpadu di Sulawesi Utara adalah benar karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2010

(3)

A B S T R A C T

RINE KAUNANG

.

The development

of k

ey performance indicators of integrated tuna fishery in North Sulawesi. Under supervision of

:

DANIEL R. MONINTJA, VICTOR P.H. NIKIJULUW, and JOHN HALUAN

Key performance indicators (KPIs) are indicators used to report progress towards delivery on factors identified as critical to the success of an organization's goals and objectives. In a progressive environment, KPIs can also serve as tools for change, providing input into process management that will assist in bringing about sustainable performance improvements. The KPIs selected must reflect the organization's goals, they must be key to its success, and they must be measurable. Key performance indicators usually are long-term considerations for an organization

In general, this research was done to formulate the key performance indicators in economic, financial, social, ecology and government term which is clearly and measurable for integrated fisheries; to determine the appropriate fisheries performance in North Sulawesi; and to get the key perfoemance standard for evaluating the continuity of tuna fisheries.

This research was done in North Sulawesi that consist of 2 cities and 3 regencies. Field activity was done in Bitung city and the focus group discussion (FGD) in Manado. The focus group is the group that discussed the specifically structure case and has procedure and time frame. The data analysis were done in Manado and Bogor.

The result showed that the key performance indicators for integrated fisheries in national level consists of three dimension i.e, social, government and ecology. In fisheries level consist of economic, social, ecology and financial. In enterprise level are consist of process, outcome and output.

The model for integrated fisheries is built by several elements as an input that are tuna resources, the available of electric, water for industry, education level, crew training and the using of technology in catching fish. The production process is shown by the policy implementation of government, communication, the planning and the affectivity for law enforcement, fishing risk, appraisal program system, export value, production and value of production, IRR (internal rate of return), TAC (total allowable catch), wage and prosperity level.

____________

(4)

R I N G K A S A N

RINE KAUNANG. Pengembangan Indikator Kinerja Kunci Perikanan Tuna Terpadu di Sulawesi Utara. Komisi Pembimbing : Daniel R. Monintja, Victor P.H. Nikijuluw, dan John Haluan

Perangkat IKK ini adalah salah satu bagian statistik yang menggunakan uji yang dikenal dengan SMART: Specific (jelas dan terfokus), Measurable (dapat dikuantifikasi dan dibandingkan dengan data lain), Attainable (dapat dicapai, masuk akal dan dapat dipercaya), Realistic (sesuai dengan keadaan organisasi/perusahaan dan biayanya efektif) and Timely (dapat dilaksanakan sesuai dengan kerangka waktu yang ditentukan) (McNeeney 2004). Sampai saat ini usaha penangkapan ikan dan lembaga pemerintahan serta stakeholder perikanan lainnya bukan saja tidak tersedia tapi belum memiliki IKK sebagai kriteria analisis kunci keberhasilan atau potensi kelanjutan dari perikanan tuna baik di tingkat nasional maupun daerah. Kesulitan pemerintah dalam pembinaan usaha karena tidak adanya indikator kinerja yang jelas dan terukur; dari data BPS tahun 2008, ternyata dinamisasi perusahaan perikanan di Bitung yang bergerak di bidang penangkapan menurun sebesar 66,9% dari tahun 2000 sebanyak 143 perusahaan menjadi 33 perusahaan di tahun 2007, di lain pihak produksi tuna di tahun yang sama justru mengalami peningkatan. Hal ini menjadi suatu tantangan bahwa bilamana para investor dapat memanfaat indikator yang jelas dan terukur, diharapkan para pembuat keputusan dari perusahaan ini dapat melakukan antisipasi terhadap permasalahan yang sedang berlangsung. Untuk pemecahan masalah tersebut, maka perlu dilakukan pengkajian guna menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

(1) Apa indikator kinerja yang dapat diterima atau disepakati oleh para stakeholders

perikanan tuna terpadu?

(2) Bagaimana prioritas indikator kinerja berdasarkan penilaian pakar dan praktisi perikanan?

(3) Bagaimana kinerja perusahaan-perusahaan perikanan tuna di daerah Sulawesi Utara berdasarkan indikator kinerja yang diformulasikan?

(5)

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan indikator kinerja kunci (IKK) bagi pembangunan perikanan tuna di Sulawesi Utara. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

(1) Merumuskan indikator kinerja kunci ditinjau dari segi ekonomi, finansial, sosial, ekologi dan pemerintah yang jelas dan terukur untuk mempertahankan keberlangsungan usaha perikanan tuna terpadu

(2) Menentukan kinerja perikanan tuna terpadu yang sesuai di Sulawesi Utara;

(3) Memformulasikan IKK sebagai standar evaluasi pembangunan perikanan tuna yang berkelanjutan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat merupakan satu pengembangan IPTEKS yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan seni (pengelolaan) dan dapat membantu masyarakat dalam membuka peluang pekerjaan; memberikan informasi yang penting dan benar untuk lembaga pemerintah dalam menentukan kebijakan pembangunan; merupakan dasar/landasan dari penelitian lanjutan yang lebih komprehensif dalam aspek pengelolaan perikanan dalam memenuhi CCRF.

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Sulawesi Utara yang mencakup 2 kota dan 3 Kabupaten, yaitu Kota Bitung, Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, dan Kabupaten Minahasa Tenggara. Lokasi kegiatan lapangan berpusat di Kota Bitung. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dilakukan pada bulan Agustus 2008. Survei lapangan di perusahaan perikanan kota Bitung dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September 2008. Selanjutnya proses pengolahan dan analisis data dilakukan di Kota Manado dan di Bogor. Berkenaan dengan pengumpulan data, serangkaian kegiatan telah dikerjakan dalam bentuk FGD dan survei. Mengacu pada kuesioner, dalam kegiatan ini dilakukan FGD dan wawancara dan dokumentasi tentang objek perikanan tuna di Sulawesi Utara.

(6)

Indikator kinerja tingkat sektor perikanan menggambarkan aspek kebijakan lingkungan untuk pertumbuhan dan pengimplementasian sektor. Tujuannya adalah dengan memberikan dasar objektivitas dalam mengevaluasi kualitas kebijakan sektor perikanan, kemungkinan keberhasilan kinerja yang baru dan kinerja aktual dari usaha yang sedang berjalan. Indikator yang menjadi prioritas di tingkat sektor perikanan adalah ekonomi, sosial, ekologidan finansial.

Indikator kinerja tingkat perusahaan digunakan untuk mengakses beberapa aspek yang berperan dalam implementasi dan kinerja operasional perusahaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas indikator kinerja kunci tingkat perusahaan adalah indikator process, indikator outcome dan indikator output.

Terdapat komponen indikator yang penting dalam penilaian kinerja dan merupakan indikator yang kritis (indikator kunci), yaitu sebanyak 17 komponen indikator dengan tiga pilar indikator utama, yaitu indikator pemerintah, indikator ekologi dan indikator finansial

Melalui pilar-pilar indikator ini dapat disusun formulasi kinerja perikanan tuna di Sulawesi Utara, seperti disajikan dalam Gambar 38. Dalam formulasi ini terdapat input terkontrol dan tidak terkontrol, proses produksi dan output yang dinginkan. Input tidak terkontrol adalah potensi tuna di wilayah pengelolaan perikanan 715 dan 716 yang masing-masing sebesar 102.820 ton per tahun dan 227.669 ton per tahun. Input terkontrol terdiri dari peningkatan pendidikan, pelatihan ABK, penggunaan teknologi/hasil-hasil penelitian dengan pendapatan karyawan yang lebih besar dari upah minimum regional (UMR) yang ditetapkan oleh pemerintah. Melalui proses produksi yang ditunjang dengan kebijakan, rencana, komitmen pemerintah dan efektivitas penerapan hukum serta ketersediaan infrasrtuktur yang memadai. Akan diperoleh output, yaitu produksi dan ekspor (pendapatan) dan kesejahteraan karyawan dapat dicapai. Bila formulasi ini belum memenuhi kriteria indikator yang diinginkan maka akan dilakukan evaluasi lanjut. ______________

(7)

Hak Cipta milik IPB, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(8)

PENGEMBANGAN INDIKATOR KINERJA KUNCI (IKK) PERIKANAN TUNA TERPADU

DI SULAWESI UTARA

RINE KAUNANG

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Teknologi Kelautan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(9)

Penguji pada Ujian Tertutup : Prof. Dr. Ari Purbayanto, M.Si

Dr. Sugeng Hari Wisudo M. Si

Penguji pada Ujian Terbuka : Prof. Dr. David P.E. Saerang, MCom(Hons)

Dr. Suseno

(10)

Judul Disertasi : Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) Perikanan Tuna Terpadu di Sulawesi Utara

Nama : Rine Kaunang

NIM : C5260 10084

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja Ketua

Dr. Ir. Victor P.H. Nikijuluw, M.Sc. Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc.

Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi

Teknologi Kelautan Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc Prof.Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS

(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena dengan kasih-Nya maka disertasi dengan judul ” Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) Perikanan Tuna Terpadu di Sulawesi Utara” dapat diselesaikan. Disertasi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Teknologi Kelautan. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tak ternilai kepada Komisi Pembimbing, yaitu : Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja selaku ketua, Dr. Ir. Victor P.H. Nikijuluw, M.Sc dan Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran serta dengan penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyempurnaan disertasi ini. Ucapan terima kasih penulis kepada Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc selaku ketua Program Studi Teknologi Kelautan beserta para dosen dan staf pada Program Studi TKL Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama menyelesaikan studi di IPB, masing-masing:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. D. T. Sembel B. Agr. sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sam ratulangi Manado yang telah membantu penulis untuk melanjutkan pendidikan Program Doktor di IPB Bogor.

2. Kepala Dinas dan Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara dan juga kepada Kepala Dinas dan staf Dinas Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa, Minahasa Tenggara, Kota Manado dan Kota Bitung yang telah berpartisipasi dalam FGD dan memberikan data-data untuk penelitian.

3. Pimpinan perusahaan yang bergerak dalam usaha perikanan Tuna yang ada di Sulawesi Utara khususnya di kota Bitung, LSM Lestari, Dr. Gybert Mamuaya, Dr. Emil Reppie yang telah berpartisipasi dalam FGD dan memberikan data serta informasi untuk penelitian.

(12)

5. Rekan-rekan TKL S3 (Kelas Khusus PPKP) angkatan pertama dan teman-teman yang tidak dapat penulis sebut satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian disertasi ini.

Terakhir penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang mendalam kepada mama tercinta, adik-adik, suami, adik-adik ipar dan para ponakan tercinta yang telah memberikan doa, waktu dan perhatian yang begitu besar sehingga memotivasi penulis menyelesaikan studi di Institut Pertanian Bogor. Juga kepada Almarhum papa, walaupun sudah tidak ada tetapi harapan-harapan, nasihat dan doa beliau terus memberi motivasi dan semangat penulis.

Harapan penulis semoga disertasi ini dapat memberikan manfaat bagi yang memerlukannya. Imanuel.

Bogor, Januari 2010

Rine Kaunang

(13)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 11 Februari 1971 sebagai anak pertama dari pasangan Herman L. Kaunang (Almarhum) dan Anna E. Worang. Pendidikan sarjana ditempuh di jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado pada tahun 1989 dan lulus pada tahun 1993. Selanjutnya penulis melanjutkan program magister di Minders Bussines School of Oklahoma City University

untuk marketing field pada tahun 1995 hingga tahun 1997 dengan biaya sendiri. Tahun 2001, penulis memperoleh kesempatan untuk meneruskan studi Program Doktor pada program studi Teknologi Kelautan (TKL) Institut Pertanian Bogor dengan biaya sendiri.

Penulis bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado. Penulisan beberapa artikel diantaranya yang berjudul Indikator Kinerja Kunci (IKK) Perikanan Tangkap Tuna Terpadu di Sulawesi Utara diterbitkan oleh Maritek Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Artikel lain berjudul Indikator Kinerja Kunci Ekonomi dalam Perikanan Tuna Terpadu di Sulawesi Utara yang dimuat dalam

Pacific Journal Dewan Riset Daerah (DRD) Sulawesi Utara pada edisi Oktober tahun 2009. Karya-karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S3 penulis.

Penulis menikah di Manado pada tahun 2003 dengan Letkol. Inf. Theo Kawatu, S.Ip.

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... x

DAFTAR ISTILAH ... xi

1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1.4 Kerangka Pemikiran ... 8

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1 Indikator Kinerja Kunci (IKK) ... 12

2.1.1 Tujuan IKK ... 17

2.1.2 Dimensi IKK ... 18

2.1.3 Langkah-langkah pemilihan IKK ... 19

2.1.4 Metode penilaian ... 21

2.1.5 Contoh pengukuran IKK ... 23

2.2 Pembangunan Berkelanjutan ... 25

2.3 Komoditas Tuna ... 28

2.4 Perikanan Tuna Terpadu ... 37

2.5 Focus Group Discussion (FGD) ... 45

2.6 Multi Criteria Decision Making (MCDM) ... 46

3 METODOLOGI PENELITIAN ... 48

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 48

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 49

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 50

3.4 Metode Analisis Data ... 52

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 58

4.1 Keadaan Umum Provinsi Sulawesi Utara ... 58

4.2 Keadaan Umum Perikanan di Sulawesi Utara... 58

5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 63

5.1 Indikator Kinerja Kunci (IKK) Perikanan Tuna ... 64

(15)

vi Halaman

5.3 Formulasi Indikator Kinerja Kunci Sebagai Standar Evaluasi

Pembangunan Perikanan Tuna Terpadu ... 106

5.4 Pembahasan ... 110

6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 120

6.1 Kesimpulan ... 120

6.2 Saran ... 121

(16)

vii DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Penilaian menurut kategori kinerja ... 21

2. Penilaian kinerja dengan metode persentil ... 21

3. Penilaian kinerja menurut indikator Traffic Light ... 22

4. Penilaian kinerja berdasarkan indikator Ya/Tidak ... 22

5. Produksi dan potensi jenis tuna di WPP 715 dan WPP 716 ... .. 30

6. Data dan analisis ... 49

7. Peserta FGD ... 50

8. Presentase kinerja menurut bobot penilaian dalam perikanan tuna terpadu ... 52

9. Konstanta penilaian kinerja ... 56

10 Banyaknya produksi perikanan laut (ton) di Sulawesi Utara tahun 2007 ... 58

11 Jumlah rumah tangga dan perusahaan perikanan laut di Sulawesi Utara, tahun 2007 ... 59

12 Jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Sulawesi Utara ... ...60

13 Jenis alat tangkap dan sumberdaya ikan di Provinsi Sulawesi Utara ... ... 60

14 Longlist indikator perikanan Tuna tingkat nasional... ... 62

15 Indikator kinerja tingkat nasional sebelum dan sesudah FGD ... 69

16 Shortlisted penilaian indikator tingkat nasional ... 76

17 Longlist indikator perikanan tuna sektor perikanan ... 78

18 Indikator kinerja tingkat sektor perikanan sebelum dan sesudah FGD ... 82

19 Shortlisted penilaian indikator tingkat sektor perikanan ... 88

20 Longlist indikator perikanan Tuna tingkat perusahaan ... 90

21 Indikator kinerja tingkat perusahaan sebelum dan sesudah FGD ... 92

22 Shortlisted penilaian indikator tingkat perusahaan ... 98

23 Komponen indikator yang kritis dan sangat penting dalam penilaian kinerja perikanan Tuna terpadu ... 100

24 Komponen Indikator Penting dalam Penilaian Kinerja Perikanan Tuna Terpadu ... 101

25 Skoring untuk analisis kinerja perusahaan perikanan Tuna ... 102

(17)

viii DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Kerangka perumusan masalah ... 7

2 Diagram layang-layang ... 9

3 Kerangka alur penelitian indikator kinerja kunci (IKK) ... 11

4 Skema dimensi IKK ... 18

5 Indikator kinerja kunci yang digunakan dalam perawatan alat (persentase didasarkan pada ukuran sampel n = 131 jawaban yes atau no untuk tiap individu indikator) ... 23

6 Karakteristik keberadaan situasi perusahaan dalam penggunaan perawatan yang berhubungan dengan IKK dan kebutuhan untuk pengembangan wilayahnya (persentase didasarkan pada ukuran sampel n = 118) ... 24

7 Skema pembangunan berkelanjutan ... 26

8 Hubungan hak kepemilikan dan akses ... 28

9 Produksi tuna indonesia selang tahun 1999 hingga 2007 ... 29

10 Produksi cakalang dan madidihang di indonesia selang tahun 1999 hingga 2007 .... 33

11 Produksi tuna di sulawesi utara tahun 2004 hingga 2008 ... 34

12 Tangkapan tuna tahun 2004 hingga 2008 (PT. Bitung Mina Utama 2009) ... 35

13 Alur analisis IKK perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara ... 48

14 Peta Sulawesi Utara ... 59

15 Prioritas indikator tingkat nasional perikanan tuna terpadu. ... 73

16 Indikator kinerja kunci tingkat nasional setelah dilakukan FGD ... 73

17 Diagram layang-layang prioritas indikator kinerja kunci tingkat nasional ... 74

18 Skor prioritas elemen indikator sosial tingkat nasional ... 75

19 Skor prioritas elemen indikator pemerintah tingkat nasional ... 75

20 Skor prioritas elemen indikator ekologi tingkat nasional ... 76

21 Kontribusi elemen indikator yang penting dalam penilaian kinerja ... 76

22 Elemen indikator pendukung dalam penilaian kinerja tingkat nasional ... 77

23 Prioritas indikator kinerja kunci tingkat sektor perikanan ... 86

24 Prioritas indikator sektor perikanan setelah dilakukan FGD ... 87

25 Diagram layang-layang indikator tingkat sektor perikanan ... 87

26 Skor prioritas indikator tingkat sektor perikanan pada elemen ekonomi ... 88

27 Skor prioritas indikator sosial tingkat sektor perikanan ... 88

(18)

ix Halaman

29 Kontribusi elemen indikator kinerja tingkat sektor perikanan ... 89

30 Prioritas indikator kinerja kunci tingkat perusahaan sebelum FGD ... 96

31 Prioritas indikator kinerja kunci tingkat perusahaan setelah FGD ... 96

32 Diagram prioritas indikator tingkat perusahaan. ... 97

33 Skor prioritas indikator process tingkat perusahaan ... 97

34 Skor prioritas indikator outcome tingkat perusahaan ... 98

35 Skor prioritas indikator output tingkat perusahaan. ... 99

36 Kontribusi elemen terhadap indikator kinerja perikanan tangkap tuna terpadu tingkat perusahaan ... 99

37 Hasil skoring indikator kinerja pada perusahaan perikanan yang ada di Sulawesi Utara ... 105

38 Pilar indikator kinerja perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara ... 107

39 Hasil formulasi indikator dalam penilaian kinerja perusahan perikanan tuna terpadu tahun 2008 ... 109

(19)

x DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Lokasi penelitian ... 127

2 Nama-nama peserta FGD ... 128

3 Indikator tingkat nasional sebelum FGD ... 129

4 Indikator tingkat nasional sesudah FGD ... 130

5 Uji t dua sampel berpasangan tingkat nasional ... 131

6 Indikator tingkat sektor perikanan sebelum FGD ... 132

7 Indikator kinerja tingkat sektor perikanan setelah FGD... 133

8 Uji t dua sampel berpasangan tingkat sektor perikanan ... 134

9 Indikator kinerja tingkat perusahaan sebelum FGD ... 135

10 Indikator kinerja tingkat perusahaan setelah FGD ... 136

11 Uji t dua sampel berpasangan tingkat perusahaan ... 137

12 Analisis frekuensi relatif prioritas sebelum dan sesudah FGD ... 138

13 Produksi Tuna PT. Bitung Mina Utama selang tahun 2004 hingga 2008 ... ... 143

14 Jenis-jenis tuna yang tertangkap di Sulawesi Utara ... 144

15 Skoring untuk analisis kinerja kunci perikanan tuna terpadu ... 145

16 AHP tingkat nasional ... 146

17 AHP tingkat sektor perikanan ... 147

18 AHP tingkat perusahaan ... 148

(20)

xi DAFTAR ISTILAH

Apresiasi : Kenaikan nilai mata uang

BSC (Balance scorecard) : Satu alat manajemen kinerja (performance management tool) yang dapat membantu organisasi untuk menerjemahkan visi dan strategi ke dalam aksi denganmemanfaatkan sekumpulan indikator finansial dan non finansial yang terjalin dalam suatu hubungan sebab akibat

Cash ratio : Perbandingan antara jumlah kas yang dimiliki oleh

perusahaan dan jumlah kewajiban yang segera dapat ditagih

Catch Documentation Scheme : Dokumen yang menyatakan bahwa semua hasil tangkapan berasai

dari atau dieksport dari negara pengekspor , dan benar-benar berasal dari sumberdaya yang legal.

CPI (Consumer Price Index) : Indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.

CSR ( Corporate-Social-Responsibility)

: Keseimbangan kebutuhan makro dan kebutuhan internal perusahaan dengan memperhatikan aspek sosial

Depresiasi : Penurunan harga mata uang yang berlaku di pasar

Ecolabelling : Adalah metode yang secara sukarela dilaksanakan di

seluruh dunia sebagai sertifikat kinerja lingkungan, yang mana labelnya mengidentifikasi produk yang ramah lingkungan dan bisa didaur ulang

Feeding ground : Tempat mencari makan

Hak kepemilikan : Klaim pengelolaan sumberdaya yang sah terhadap sumberdaya ataupun jasa yang dihasilkan

IHK (Indeks harga konsumen) : lihat CPI

IHP (Indeks harga produsen) : Indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi dan digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan

Indikator kinerja kunci (IKK) : lihat KPI

(21)

xii

Internal rate return : Ukuran tingkat pengembalian hasil yang diperoleh oleh sebuah kegiatan berdasarkan aliran kas

Investasi : Komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya dengan tujuan memperoleh keuntungan

IOTC( Indian Ocean Tuna Commission)

: Organisasi yang mengatur pengelolaan spesies tuna, marlin, ikan pedang dan ikan layaran di kawasan Samudera Hindia

Kartu skor berimbang : lihat BSC

Keberlanjutan Perikanan : Aktivitas perikanan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk dapat memenuhi kebutuhannya

Kinerja (Performance) : Gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning

KPI ( Key Performance Indicators)

: Metrik finansial ataupun non-finansial yang digunakan untuk membantu suatu organisasi menentukan dan mengukur kemajuan terhadap sasaran organisasi

Leverage : Kemampuan dari biaya-biaya tetap dalam meningkatkan pengembalian hasil bagi pemilik suatu perusahaan

Likuiditas : Kemampuan perseroan untuk memenuhi kewajiban lancarnya yang diukur dengan menggunakan perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar.

Nursery ground : Tempat ikan membesarkan diri.

Pengukuran kinerja

(Performance Measurement)

: Suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kinerja berdasarkan tujuan, sasaran dan strategi

Perikanan tuna terpadu : Kegiatan usaha dengan memanfaatkan stok sumberdaya ikan yang meliputi kegiatan penangkapan, pengolahan, pemasaran dan pelestarian sumberdaya

Profitabilitas : Kemampuan perseroan untuk menghasilkan suatu

keuntungan dan menyokong pertumbuhan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang

(22)

xiii Rasio Leverage : Ukuran utang terhadap modal total perusahaan.

ROI (Return on Invesment) : Laba atas investasi merupakan rasio uang yang diperoleh atau hilang pada suatu investasi, relatif terhadap jumlah uang yang diinvestasikan

Solvabilitas : Kemampuan perseroan untuk memenuhi seluruh kewajibannya

Spawning ground : Tempat ikan berpijah

Stabilitas : Kemampuan perseroan dalam mempertahankan usahanya dalam jangka waktu panjang

(23)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Potensi sumberdaya kelautan di Indonesia telah dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas perekonomian yang di dalamnya termasuk usaha perikanan tangkap. Perikanan tangkap selama ini telah menjadi salah satu soko guru pembangunan di tanah air, baik dalam bentuk pengembangan ekonomi nasional secara umum maupun dalam peningkatan kesejahteraan.

Perikanan tangkap adalah satu aktivitas ekonomi yang unik, karena sumberdaya yang ada merupakan milik bersama (common property resources). Pemanfaatan sumberdaya ikan melalui aktivitas perikanan tangkap memberikan dampak eksternalitas baik positif maupun negatif. Sumberdaya ikan bersifat

renewable resources (sumberdaya yang dapat pulih) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan.

Luas wilayah perikanan laut sekitar 5, 8 juta km2, terdiri dari perairan kepulauan dan teritorial seluas 3,1 juta km2 serta perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km2. Dengan memperhatikan karakteristik sumberdaya ikan dan lingkungannya, wilayah perikanan di laut tersebut dibagi ke dalam 11 wilayah pengelolaan perikanan (WPP).

(24)

2

antara lain : (1) Sebagian besar nelayan masih merupakan nelayan tradisional dengan karakteristik sosial budaya yang memang belum begitu kondusif untuk suatu kemajuan. (2) Struktur armada perikanan yang masih didominasi oleh skala kecil/tradisional dengan kemampuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang rendah. (3) Masih timpangnya tingkat pemanfaatan stok ikan antara satu kawasan dengan kawasan perairan laut lainnya. (4) Masih banyaknya praktek

Illegal, Unregulated, and Unreported (IUU) fishing yang terjadi karena penegakan hukum (law enforcement) di laut masih lemah. (5) Belum memadainya dukungan sarana dan prasarana perikanan tangkap. (6) Terjadinya kerusakan lingkungan ekosistem laut, seperti kerusakan hutan mangrove, terumbu karang, dan padang lamun (seagrass beds), yang sebenarnya merupakan tempat (habitat) ikan dan organisme laut lainnya berpijah (spawning ground), mencari makan (feeding ground), atau membesarkan diri (nursery ground). (7) Masih rendahnya kemampuan penanganan dan pengolahan hasil perikanan, terutama oleh usaha tradisional sesuai dengan selera konsumen dan standardisasi mutu produk secara internasional (seperti Hazard Analysis of Critical Control Point/HACCP, persyaratan sanitasi, dan lainnya). (8) Lemahnya market intelligence yang meliputi penguasaan informasi tentang pesaing, segmen pasar, dan selera (preference) para konsumen tentang jenis dan mutu komoditas perikanan. (9) Belum memadainya prasarana ekonomi dan sarana sistem transportasi dan komunikasi untuk mendukung distribusi atau penyampaian (delivery) produk perikanan dari produsen ke konsumen secara tepat waktu, terutama di luar Jawa dan Bali (Barani 2004).

Di kawasan perikanan Indonesia terdapat 16 jenis ikan tuna yang diatur pengelolaanya oleh IOTC, yaitu: Yellow Fin Tuna, Skipjack, Bigeye Tuna, Albacore Tuna, Southern Bluefine Tuna, Long tail Tuna, Kawakawa, Frigate

Tuna, Bullet Tuna, Narrow Barred Spanish Mackerel, Indo Pacific King

Mackerel, Indo Pacific Blue Marlin, Black Marlin, Strip Marlin, Indo Pacific

Sailfish, dan Swordfish.

Produksi tuna Indonesia selang tahun 1999 hingga 2007 yang terdiri dari

sailfish, black marlin, blue marlin, swordfish, skipjack tuna, albacore, yellowfin

(25)

3

Tuna dipasarkan dalam bentuk segar, asap, beku dan kaleng. Berdasarkan kajian potensi sumberdaya ikan tuna tahun 1998, bahwa wilayah pengelolaan 716 (Samudera Pasifik dan Laut Sulawesi) mempunyai potensi ikan madidihang (yellowfintuna) sebesar 29.408 ton per tahun dan untuk wilayah pengelolaan 715 (Teluk Tomini dan Laut Maluku) sebesar 13.795 ton per tahun, ikan tuna mata besar (bigeyetuna) masing-masing sebesar 15.529 ton per tahun dan 6.032 ton per tahun, ikan albakora masing-masing sebesar 528 ton per tahun dan 34 ton per tahun dan ikan cakalang masing-masing sebesar 121.201 ton per tahun dan 55.403 ton per tahun, ikan tongkol masing-masing sebesar 37.615 ton per tahun dan 14.963 ton per tahun. Menurut PRPT (2001), bahwa tingkat pemanfaatan tuna di wilayah pengelolaan Laut Seram hingga Teluk Tomini sebesar 35,17% dari potensi sebesar 106,51 x 103 ton/tahun, sedangkan untuk wilayah Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik sebesar 87,54% dari potensi sebesar 175,26 x 103 ton/tahun. Besarnya perhatian dunia akan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya dapat pulih sekarang ini tertuang pada konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) yang dilakukan di Rio de Janeiro Brasil tahun 1992, menggambarkan konsensus global untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan yang lebih berbasis pada ekosistem lintas semua sektor aktivitas manusia, sebagai satu alat untuk pengembangan kesejahteraan manusia generasi sekarang tanpa mengorbankan generasi yang akan datang (FAO 2000). Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan diperlukan peran substansial pemerintah, pengembangan yang didukung dengan sains dalam pembuatan keputusan dan peningkatan informasi strategis. Oleh sebab itu, dalam membangun investasi dalam dunia usaha perikanan tangkap terpadu (pengintegrasian investasi penangkapan ikan dengan industri pengolahan ikan) yang dapat berkelanjutan, maka diusulkan untuk mengadopsi seperangkat Indikator Kinerja Kunci (IKK). Perangkat IKK ini adalah salah satu bagian statistik yang menggunakan uji yang dikenal dengan SMART: Specific (jelas dan terfokus), Measurable (dapat dikuantifikasi dan dibandingkan dengan data lain),

(26)

4

Sebagian dari perangkat IKK didasarkan atas data yang telah dikumpulkan, sehingga dapat dijadikan baselines dalam membuat perbandingan akan kemajuan yang telah dicapai. Setiap usaha penangkapan ikan tuna terpadu mempunyai produk yang bernilai tambah tinggi dan memiliki kualitas ekspor, sehingga dapat menciptakan iklim yang kondusif, menggerakkan ekonomi lokal dan memperluas penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat secara berkelanjutan dengan memilih IKK yang baik melalui pemahaman apa yang menjadi penggerak kemajuan.

Perkembangan IKK sebagai dasar penilaian atau kriteria analisis saat ini sangat pesat, khususnya pada industri manufaktur yang mulai dikembangkan dengan ―green IKK‖, dimana standar kualitas produk harus memperhatikan

keberlangsungan dari lingkungan. Demikian juga dalam perikanan, memang tidak disebutkan IKK harus green tapi persyaratan import dalam negeri di negara-negara tertentu, terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat perlu ada health certification, ecolabelling, HACCP untuk mengaplikasi SPS (Sanitary and Phytisanitary Agreement), catch certification dan khusus untuk Uni Eropa pada awal Januari 2010 memberlakukan catch document scheme untuk semua produk import (Dirjen P2HP 2009). Hal ini menunjukkan secara tidak langsung green

IKK telah masuk dalam industri perikanan dan menunjukkan bahwa konsumen sudah memperhatikan standar mutu produk.

Sejauh ini Indonesia telah berperan baik dalam perikanan dunia, namun masih sangat terbuka peluang untuk dapat dioptimalkan. Dari berbagai potensi, kekuatan, peluang dan tantangan yang di hadapi sub sektor ini, baik dari sisi pengelolaan sumberdayanya, kemiskinan nelayan dan kelembagaan menunjukan bahwa diperlukan suatu formula indikator kinerja perikanan. Namun demikian sampai saat ini usaha penangkapan ikan dan lembaga pemerintahan serta

(27)

5

program, atau kegiatan berhasil/gagal dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

1.2 Perumusan Masalah

Dalam pertemuan tahunan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) ke-13 yang dilaksanakan di Bali pada 30 Maret 2009, Indonesia memiliki momentum untuk memperoleh hal-hal yang positif, yaitu: (1) Aspek nasional, mendukung kebijakan nasional bagi upaya konservasi dan pengelolaan perikanan termasuk upaya pemanfaatan dan pengawasan shared fish stocks, (2) Aspek internasional, memperkuat posisi Indonesia dalam forum organisasi perikanan regional dan internasional, bagi kegiatan konservasi dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang berkelanjutan, (3) Aspek teknis ekonomi, memberikan peluang pemanfaatan sumberdaya shared fish stocks di laut lepas oleh Indonesa, (4) Aspek lingkungan, kelangsungan sumberdaya tuna di Indonesia yang terancam oleh tingginya permintaan tuna di pasar dunia, pertumbuhan jumlah armada tuna yang tinggi serta maraknya illegal fishing. Disamping itu, penerapan manajemen perikanan yang baik, juga merupakan wujud dari implementasi komitmen Pemerintah Indonesia terhadap isu mengenai pengelolaan perikanan yang bertanggungjawab sebagaimana tertuang dalam Code of Conduct for Responsible Fisheries (FAO 1995). Dalam pelaksanaannya diperlukan indikator kinerja yang sama dalam konsep, definisi dan proses untuk diimplementasikan. Akan tetapi terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan pedoman perikanan bertanggung jawab, yaitu: kesulitan pemerintah dalam pembinaan usaha karena tidak adanya indikator kinerja yang jelas dan terukur. Data BPS tahun 2008, ternyata dinamisasi perusahaan perikanan di Bitung yang bergerak di bidang penangkapan menurun sebesar 66,9% dari tahun 2000 sebanyak 143 perusahaan menjadi 33 perusahaan di tahun 2007. Hal ini menjadi suatu tantangan bahwa bilamana para investor dapat memanfaatkan indikator yang jelas dan terukur, diharapkan para pembuat keputusan dari perusahaan ini dapat melakukan antisipasi terhadap permasalahan yang sedang berlangsung.

(28)

6

meningkatkan pendapatan negara, peningkatan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Untuk itu diperlukan suatu indikator kinerja industri perikanan tuna untuk dapat menyeimbangkan kebutuhan makro dan internal ini dengan memperhatikan aspek sosial, yaitu corporate-social-responsibility (CSR), sehingga dalam penyusunan IKK industri harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Seiring dengan berjalannya waktu, kepedulian akan lingkungan berkembang pesat. Konsep green sustainability dan green environment

(29)

7

Gambar 1 Kerangka perumusan masalah

Untuk pemecahan masalah tersebut, maka perlu dilakukan pengkajian guna menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

(1) Apa indikator kinerja yang dapat diterima atau disepakati oleh para

stakeholders perikanan tuna terpadu?

(2) Bagaimana prioritas indikator kinerja berdasarkan penilaian pakar dan praktisi perikanan?

(3) Bagaimana kinerja perusahaan-perusahaan perikanan tuna di daerah Sulawesi Utara berdasarkan indikator kinerja yang diformulasikan? (4) Bagaimana formula IKK pembangunan perikanan tuna yang

(30)

8

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan indikator kinerja kunci (IKK) bagi pembangunan perikanan tangkap di Sulawesi Utara. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

(1) Merumuskan indikator kinerja kunci ditinjau dari segi ekonomi, finansial, sosial, ekologi dan pemerintah yang jelas dan terukur untuk mempertahankan keberlangsungan usaha perikanan tuna terpadu. (2) Menentukan kinerja perikanan tuna terpadu yang sesuai di Sulawesi

Utara.

(3) Memformulasikan IKK sebagai standar evaluasi pembangunan perikanan tuna yang berkelanjutan.

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat:

(1) Merupakan satu pengembangan IPTEKS yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan seni (pengelolaan) dan dapat membantu masyarakat dalam membuka peluang pekerjaan di bidang usaha perikanan tuna.

(2) Memberikan informasi yang penting dan benar untuk lembaga pemerintah dalam menentukan kebijakan pengembangan perikanan tuna.

(3) Merupakan dasar/landasan dari penelitian lanjutan yang lebih komprehensif dalam aspek pengelolaan perikanan dalam memenuhi

Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF)

1.4 Kerangka Pemikiran

Secara sederhana sistem perikanan dihubungkan dengan dimensi pembangunan berkelanjutan yang akan dikerjakan relevan dengan pelaksanaan

code of conduct for responsible fisheries (CCRF). Diagram layang-layang dibangun menurut 4 komponen utama, yaitu biomassa memijah, nursery, revenue

(31)

9

Setiap dimensi pembangunan berkelanjutan terdiri atas dua komponen yang saling bertolak belakang, dan disajikan dalam satu aksis. Tiap aksis diskala menurut tingkatan kriteria evaluasi yang ada, yaitu buruk, cukup, dapat diterima dan baik (Gambar 2)

Gambar 2 Diagram layang-layang

Pada diagram layang-layang ini dua komponen yang bertentangan adalah komponen kesejahteraan ekologi dan kesejahteraan manusia. Pada komponen pertama yang diutamakan adalah mempertahankan dan meningkatkan biomassa sumberdaya yang akan memijah dan yang mempertahankan kelangsungan hidup dari biomassa di daerah pembesaran. Sedangkan komponen yang kedua bertujuan untuk memnfaatkan sumberdaya dalam hal ini adalah biomassa yang ada di alam. Melalui pemanfaatan ini maka akan diperoleh pekerjaan dan keuntungan (revenue) yang akan memenuhi kesejahteraan manusia.

(32)

10

pembangunan berkelanjutan yang lengkap harus memasukkan mekanisme komunikasi yang efektif diantara stakeholder perikanan, yaitu pemerintah dan masyarakat umum. Indikator ini secara teratur di-review untuk mendapatkan insentif yang sesuai untuk dipertahankan dan ditingkatkan.

Dalam mendekatkan kegiatan perikanan tuna terpadu ke dalam pembangunan perikanan yang bertanggung-jawab, maka diperlukan indikator-indikator kunci dalam kinerjanya. Dalam upaya untuk mendekati keadaan ini, maka alur penelitian dimulai dengan melakukan pengkajian dari beberapa pustaka tentang Indikator Kinerja Kunci (IKK). Dari hasil kajian pustaka dilakukan identifikasi IKK menurut aspek ekonomi, sosial, ekologi, biologi dan finansial dari berbagai industri. Hasil identifikasi ini disusun dalam satu longlist IKK yang selanjutnya disesuaikan dengan industri perikanan terpadu, sehingga diperoleh

longlist IKK pada industri perikanan terpadu. Longlist ini selanjutnya dibagikan pada peserta seminar bersamaan dengan undangan seminar untuk mendapatkan penilaian pakar dan para stakeholders perikanan tuna. Selanjutnya diseminarkan dan dibagikan kembali longlist yang sama untuk mendapatkan penilaian para pakar dan praktisi yang berkecimpung di dunia perikanan setelah diskusi.

Hasil penilaian akan menentukan prioritas dan ketepatan IKK pada industri perikanan tangkap terpadu. Prioritas dan ketepatan IKK selanjutnya dianalisis dengan analisis frekuensi dan analisis faktorial untuk menyusun

shortlist menurut aspek ekonomi, sosial, ekologi, pemerintah dan finansial pada industri perikanan tangkap terpadu. Hasil shortlist ini, selanjutnya dibuat batasan atau definisi dari tiap aspek IKK yang tercakup di dalamnya metode pengukuran dan perhitungan serta kriteria keputusan.

(33)

11

Gambar 3 Kerangka alur pemikiran indikator kinerja kunci (IKK)

Pengkajian Pustaka

Penentuan IKK pada industri perikanan tuna terpadu

Longlist IKK pada industri perikanan tuna terpadu

Definisi/batasan IKK pada tingkat nasional, sektor perikanan dan perusahaan

Penilaian pakar dan praktisi tentang prioritas dan ketepatan IKK pada industri

perikanan tuna terpadu

Analisis frekuensi relatif pendapat pakar dan praktisi

Analisis prioritas pendapat pakar dan praktisi

Shortlisted IKK menurut aspek finansial, ekonomi, sosial, pemerintah, ekologi pada industri perikanan tuna terpadu

(34)

12

2 TINJAUAN PUSTAKA

Secara umum, indikator kinerja kunci harus menggambarkan keadaan sistem dan hasilnya berhubungan dengan sasaran dan tujuan masyarakat, perikanan berkelanjutan, ekosistem pendukung dan membangun keuntungan bersih bagi nelayan dan masyarakat untuk indikator kinerja kunci perikanan Indonesia. Namun sampai saat ini belum ada dokumen dari DKP tentang IKK perikanan di Indonesia maupun dari hasil penelitian yang telah dipublikasikan.

Dari segi ekonomi, tuna adalah spesies yang ekonomis penting karena mempunyai harga jual yang tinggi; karenanya produk perikanan tuna berkembang dengan pesat di Indonesia selang tahun 1999 hingga 2007. Untuk itu diperlukan suatu indikator kinerja kunci (IKK) perikanan tuna agar dapat menjadi acuan dalam pembangunan perikanan tuna berkelanjutan.

2.1 Indikator Kinerja Kunci (IKK)

Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi (Mahsun 2006).

Pengukuran kinerja (performance measurement) adalah suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kinerja berdasarkan tujuan, sasaran, dan strategi sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Elemen pokok suatu pengukuran kinerja antara lain: 1) tujuan, sasaran dan strategi organisasi, 2) indikator dan ukuran kinerja, 3) tingkat ketercapaian tujuan dan sasaran-sasaran organisasi dan evaluasi kinerja.

(35)

13

layanan, dan kepuasan. IKK umumnya dikaitkan dengan strategi organisasi yang contohnya diterapkan oleh teknik-teknik seperti kartu skor berimbang (BSC,

balanced scorecard) (Reh 2007).

Balance scorecard (BSC) didefinisikan sebagai satu alat manajemen kinerja (performance management tool) yang dapat membantu organisasi untuk menerjemahkan visi dan strategi ke dalam aksi dengan memanfaatkan sekumpulan indikator finansial dan non finansial yang kesemuanya terjalin dalam suatu hubungan sebab akibat (Luis dan Biromo, 2008). Dari definisi ini jelas bahwa BSC sangat berperan sebagai penerjemah atau pengubah (converter) visi dan strategi organisasi menjadi aksi. Dengan demikian bila satu organisasi telah menganalisis misinya, mengidentifikasi semua stakeholder-nya, dan menentukan sasarannya, maka dibutuhkan cara untuk mengukur kemajuan terhadap sasaran tersebut melalui indikator kinerja kunci.

Indikator kinerja kunci adalah ukuran yang dapat dikuantifikasi, dan disepakati bersama sebelumnya serta menggambarkan faktor keberhasilan kritis satu organisasi. Bisnis mempunyai satu indikator kinerja kunci yaitu dengan persentase pendapatan yang berasal dari pembayaran. Perikanan tangkap memfokuskan indikator kinerja kunci pada laju tangkap sumberdaya yang menjadi tujuan penangkapan. Apapun indikator kinerja kunci yang dipilih, haruslah menggambarkan sasaran organisasi atau usaha dan harus menjadi kunci keberhasilan, serta harus dapat diukur. Indikator kinerja kunci biasanya merupakan pertimbangan jangka panjang.

Analisis yang dilakukan terhadap dua kasus manajemen kesehatan dan keselamatan dalam satu perusahaan nasional produsen makanan di Amerika Serikat, memperlihatkan bahwa sepuluh indikator kinerja mempunyai hubungan positip yang signifikan (r = 0.985) dengan keseluruhan kinerja perusahaan (Colin 1997).

(36)

14

dalamnya. Akan tetapi persen keuntungan yang berkontribusi terhadap

community causes (komunitas) mungkin bukanlah satu indikator kinerja kunci. Dengan kata lain, bila perikanan tangkap tidak berhubungan dengan mendapatkan keuntungan, maka indikator kinerja kunci akan berbeda dengan IKK seperti laju tangkap dan keberhasilan dalam menyerap tenaga kerja. Meskipun berbeda secara akurat akan menggambarkan misi dan sasaran perikanan tangkap.

Tien-Hsiang et al. (2007), telah mengembangkan suatu Augmented Collaborative Planning, Forecasting and Replenishment (A-CPFR) model yang menggunakan dasar indikator kinerja kunci dalam usaha ritel bahan logistik yang aplikasinya dapat memperkecil tingkat inventori dan mempersingkat waktu respons terhadap fluktuasi permintaan pasar.

Reh (2007) menyatakan bahwa indikator kinerja kunci (IKK) harus dapat dikuantifikasi. Selanjutnya disebutkan bahwa bila Indikator Kinerja Kunci akan dijadikan nilai, maka harus ada cara untuk mendefinisikan dan mengukurnya secara akurat. Penting juga untuk mendefinisikan IKK dengan definisi yang tetap dari tahun ke tahun, IKK perlu untuk menetapkan targetnya masing-masing. Sebagai contoh untuk sasaran tenaga kerja, maka IKK harus memasukkan "turnover rate". Setelah ditetapkan, maka diperlukan persetujuan dan batasan kinerja dan selanjutnya target harus ditetapkan seperti "mengurangi turnover

sebesar 5% per tahun". Dengan demikian setiap orang akan memahami dan mampu untuk melakukan hal tersebut.

Gonzalez (2006), menyatakan bahwa Metrik dan IKK adalah balok bangunan dengan banyak visualisasi dashboard, karena ini adalah alat yang paling efektif dalam memperingatkan pengguna kemana mereka menghubungkan tujuannya. Informasi berikut membentuk balok bangunan dasar untuk rancangan informasi dashboard dan bangunannya sendiri, sehingga penting untuk dipahami benar tiap definisi dan konsep yang dibahas sebelum bergerak ke definisi berikutnya.

Perbedaan antara metrik dengan indikator kinerja kunci disebutkan oleh Bauer (2006) sebagai berikut:

(1) Metrics: ketika digunakan term metrik, maka acuannya adalah

(37)

15

yang terhubung dengan satu atau lebih dimensi. Sebagai misal, "penjualan kotor mingguan". Dalam kasus ini ukuran akan dinyatakan dalam rupiah (penjualan kotor) dan dimensi akan dinyatakan dalam waktu (minggu). Untuk ukuran tertentu, mungkin diinginkan untuk melihat nilai dengan perbedaan hirarki dimensi. Sebagai misal, melihat penjualan kotor menurut hari, minggu, atau bulan akan menunjukkan ukuran rupiah (penjualan kotor) menurut perbedan hirarki (hari, minggu, dan bulan) dengan dimensi waktu. Pembuatan asosiasi ukuran dengan tingkat hirarki spesifik menurut acuan dimensi terhadap keseluruhan bagian metrik. Ukuran yang lebih dari satu dimensi seperti penjualan kotor menurut daerah dan waktu disebut dengan analisis multidimensional. Paling banyak

dashboard hanyalah leverage analisis multidimensional dengan cara terbatas dan statis melalui beberapa alat ―slice-and-dice‖ yang lebih

dinamis. Ini penting untuk dicatat, karena jika dalam keperluan proses pengumpulan tidak tercakup signifikansi yang dibutuhkan untuk bentuk analisis ini, maka dapat ditambahkan dashboard

dengan beberapa bentuk alat analisis multidimensional.

(2) Indikator kinerja kunci (IKK) : adalah metrik sederhana yang terikat pada target. Kebanyakan IKK menunjukkan berapa besar metrik berada di atas atau di bawah target yang telah ditentukan. IKK biasanya ditunjukan melalui rasio antara hasil yang diperoleh dengan target dan dirancang untuk dengan sesaat pengguna bisnis dapat mengetahui rencananya sedang on atau off.

Nelson (2006) menyatakan bahwa dalam IKK terdapat Scorecard,

Dashboard, dan Laporan. Selanjutnya disebutkan perbedaan ketiganya sebagai berikut:

(38)

16

pada rencana strategis umum IKK lain dengan mengukur kemampuan organisasi dalam melaksanakan tujuan strategis.

(2) Dashboard: dashboard berada satu tingkat di bawah proses pembuatan keputusan bisnis dari satu scoreboard, jadi kurang fokus pada tujuan strategis dan lebih terikat pada sasaran operasional khusus. Sasaran operasional secara langsung berkontribusi pada satu atau lebih tujuan strategis di tingkat yang lebih tinggi. Dengan sebuah dashboard, pelaksanaan sasaran operasional itu sendiri menjadi fokus, bukan menjadi strategi tingkat lebih tinggi. Tujuan

dashboard adalah untuk memberikan informasi bisnis yang dapat dikerjakan dalam satu format baik intuitif maupun insightful. Data utama operasional adalah leverage IKK.

(3) Laporan: Laporan dapat sangat sederhana dan statis, seperti daftar transaksi penjualan selama periode waktu tertentu hingga ke bentuk laporan yang sangat rumit dengan pengelompokan saran, ringkasan bergulir dan jaringan yang dinamis. Laporan terbaik digunakan ketika pemakai butuh untuk melihat data mentah dan formatnya mudah dibaca. Ketika dikombinasikan dengan scoreboard dan

dashboard, maka laporan dapat menawarkan beragam cara untuk diikuti pengguna dalam menganalisis data secara spesifik menurut metrik dan indikator kinerja kunci.

(39)

17

kerja untuk membangun IKK yang dengan ringkas dapat merangkum penggerak bisnis paling kritis (Bauer 2006).

2.1.1 Tujuan IKK

IKK berkaitan dengan tujuan yang paling penting atau yang paling diperhatikan Hal-hal penting dalam pendefinisian IKK (Rendell 2006) adalah sebagai berikut:

(1) Tujuan organisasional: Penting untuk menetapkan IKK berdasarkan sasaran bisnis dalam industri. Contoh untuk hal ini, perusahaan yang sasarannya adalah "menjadi paling menguntungkan" akan mempunyai IKK berbeda dengan perusahaan yang sasarannya adalah "untuk meningkatkan konsumen sebesar lima puluh persen". Perusahaan pertama akan mempunyai IKK yang berhubungan dengan finansial, keuntungan dan kerugian, sedang perusahaan kedua akan fokus pada kepuasan konsumen dan respons waktu.

(2) Tujuan pengukuran: Penting untuk menganalisis IKK setiap waktu, menurut perubahan peningkatan yang dicapai - selanjutnya secara periodik kinerja dievaluasi ulang untuk memverifikasi kemajuan. Untuk hal ini, maka IKK harus dapat diukur. Sasaran "increase customer retention" kurang bermanfaat, karena terdapat sasaran yang tidak dapat dikuantifikasi, tetapi seperti yang disebut sebelumnya "to increase customer retention fifty percent" mempunyai kuantitas yang dapat ditelusuri.

(40)

18

bahwa IKK tidak dapat diubah, tetapi unit yang digunakan haruslah sama untuk mengukur sasaran tersebut.

(4) Konsensus manajerial : Penting untuk semua pengelola yang ada dalam perusahaan mempunyai lembaran yang sama, karena individu dari fungsi yang berbeda dalam perusahaan akan membantu dalam penyusunan IKK. Jika IKK benar-benar telah menggambarkan sasaran organisasi maka semua tingkatan dalam perusahaan akan berusaha untuk mencapai program, bila setiap orang yang terlibat di dalamnya mengetahui apa itu IKK.

Dalam indikator kinerja kunci diperlukan alat manajemen yang menjaga keseimbangan antara indikator finansial dan non finansial; indikator kinerja masa lampau, masa kini dan masa depan; indikator internal dan eksternal; dan indikator yang bersifat leading (cause/drivers) dan lagging (effect/outcome) (Luis and Biromo 2008).

2.1.2 Dimensi IKK

Dimensi IKK diuraikan oleh Bauer (2006) secara skematis disajikan pada Gambar 4 berikut:

Gambar 4 Skema dimensi IKK (diadopsi dari Bauer 2006)

(41)

19

management, Six Sigma) dan learning and growth (staff morale, training,

knowledge sharing); dimensi family terdiri dari produktivitas (rasio penjualan terhadap asset, revenue rupiah dari pembeli baru, alur penjualan), kualitas (komplain pembeli, percent returns, DPMO - defects per million opportunities),

profitability (kontribusi profit melalui segmen/pembeli, margin spreads),

timeliness (persen tepat waktu, percent keterlambatan), process efficiency (persen hasil, process uptime, pemanfaatan kapasitas), siklus waktu (waktu pemrosesan, waktu untuk melayani pelanggan), pemanfaatan sumberdaya (penjualan per total assets, penjualan per channel, wind rate), cost savings (cost per unit, inventory turns, cost of goods), growth (market share, customer acquisition/retention,

account penetration), innovation (new patents, new product rollouts, R&D

spend), dan technology (IT capital spending, CRM technologies implemented,

Web-enabled access). Dimensi IKK kategori terdiri dari hitungan langsung, persen, rasio sederhana, indeks, rata-rata komposit dan statistik; dan dimensi fokus terdiri dari time horizon - jangka pendek vs. jangka panjang, planning - strategi vs. taktik, indicator - pemimpin vs. pengikut, type - kualitatif vs. kuantitatif, view - internal vs. external, level - proses vs. hasil, purpose - perencanaan vs. pengawasan.

2.1.3 Langkah-Langkah Pemilihan IKK

Langkah-langkah dalam proses pemilihan IKK disebutkan oleh McNeeney and Meridium (2004) adalah sebagai berikut :

(1) Langkah 1. Mempertimbangkan kebutuhan stakeholder. Langkah ini menguji kebutuhan dan ekspektasi berbagai kelompok

(42)

20

(2) Langkah 2. Identifikasi aspek-aspek penting. Langkah ini tertuju pada pertanyaan ―Apakah aspek perusahaan kami paling penting dalam menetapkan komitmen keberlanjutan?‖ Ini memunculkan pengidentifikasian isu atau aspek yang berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan dan pemilihan tersebut adalah paling signifikan dipandang dari ekspektasi stakeholder, memunculkan isu, trend industri, dan sasaran strategis perusahaan.

(3) Langkah 3. Menetapkan sasaran perusahaan dan IKK. Langkah ini memberikan pemilihan aspek dengan prioritas tertinggi dari hasil yang diidentifikasi pada langkah 2, dan menetapkan sasaran luas dan IKK untuk peningkatan kinerja. Penetapan sasaran adalah bagian penting unit perusahaan dan bisnis dalam proses perencanaan trategis.

(4) Langkah 4. Pilih indikator kinerja dan metrics. Langkah ini mengambil sasaran dan IKK perusahaan dari langkah 3 dan menentukan bagaimana diimplementasikan sepanjang operasi perusahaan. Pemilihan mencakup indikator kinerja dan ukuran operasional.

(43)

21

2.1.4 Metode Penilaian

Pella (2008) menyebutkan bahwa penilaian keberhasilan melalui penggunaan alat ukur pencapaian strategi yang baik diperlukan unsur-unsur berikut:

(1) Dapat menjadi sarana perusahaan mengkomunikasikan strategi

(ability of the organization to communicate their strategy for

measures)

(2) Terkait secara langsung dengan strategi yang dipilih perusahaan (the selected measure adequately focuses on the strategic issue)

(3) Indikator tersebut bersifat kuantifitatif, memiliki formula tertentu dalam penghitungannya (quantifiable, can be evaluated objectively)

(4) Indikator tersebut dapat dihitung (the measures are quantifiable, reliabled and repeatable)

(5) Frekuensi pemutakhirannya bermanfaat (the frequency of updates are meaningfull)

(6) Penetapan target untuk perbaikan dapat dilakukan (meaningful targets for improvement are established)

(7) Kemungkinan pembandingan dengan perusahaan lain dapat dilakukan (external benchmarking is feasible and/or desirable)

(8) Pengukurannya masih valid (validity of measures – not old unvalid measures)

(9) Data dan sumber daya tersedia (availability of data and resources) (10) Biaya pengukurannya tidak melebihi manfaatnya (cost of measures

not more than benefit of measures)

(44)

22

(1) Penilaian berdasarkan kategori kinerja Tabel 1 Penilaian menurut kategori kinerja

1 3 bintang Tingkat kinerja paling tinggi

2 2 bintang

Kinerja secara umum baik, tetapi belum tercapai dengan standard konsistensi tinggi

3 1 bintang

Terdapat beberapa penyebab yang harus ditinjau sehubungan dengan kunci target atau kinerja yang kurang pada keseimbangan scorecard

4 Nol bintang Tingkat kinerja terendah dilihat dari kunci target

(2) Sistem penilaian scoring

Scoring digunakan pada tiap elemen penilaian, meliputi :

1) Sasaran kunci

Tiap sasaran kunci discore menurut tingkat capaian, yaitu Target tercapai : 0 poin

Belum tercapai : 2 poin Tidak tercapai sama sekali : 6 poin

2) Focus area

Penilaian ini diatur menurut peringkat, yaitu

 Kinerja tertinggi (di atas 50%): dua poin

 Kinerja menengah (20 hingga 50%): satu poin

 Kinerja terendah (di bawah 20%): nol poin

(3) Penilaian dengan metode persentil

Penilaian ini secara sederhana dipisahkan ke dalam 5 pita (band) untuk tiap kelompok nilai, sehingga diperoleh hasil seperti:

Tabel 2 Penilaian kinerja dengan metode persentil

Kinerja berada pada: Pita Dinyatakan sebagai:

Dibawah 10% 1 Sangat di bawah rata-rata

10 hingga kurang dari 30% 2 Di bawah rata-rata 30 hingga kurang dari 70% 3 Rata-rata

70 hingga kurang dari 90% 4 Diatas rata-rata

(45)

23

(4) Penilaian berdasarkan indikator traffic light & ya / tidak 1) Indikator ‗traffic light‘:

Tabel 3 Penilaian kinerja menurut indikator traffic light

No. Kinerja berada pada: Band: Dinyatakan sebagai:

1 Merah 1 Nyata di bawah rata-rata

2 Kuning 3 Rata-rata

3 Hijau 5 Nyata di atas ratarata

2) Indikator Ya / Tidak

Tabel 4 Penilaian kinerja berdasarkan indikator ya/tidak

No Kinerja berada pada: Band: Dinyatakan sebagai:

1 Tidak 1 Nyata di bawah rata-rata

2 Ya 5 Nyata di atas rata-rata

2.1.5 Contoh Pengukuran Indikator Kinerja Kunci

Contoh pengukuran IKK yang digunakan dalam industri pengolahan makanan di Norwegia, seperti yang dikemukakan oleh Røstad and Schjølberg (2000), disajikan dalam Gambar 5 berikut.

Gambar 5 Indikator kinerja kunci yang digunakan dalam perawatan alat

(persentase didasarkan pada ukuran sampel n = 131 jawaban Yes atau

no untuk tiap individu indikator) (diadopsi dari Røstad and Schjølberg 2000)

(46)

24

Gambar 6 Karakteristik keberadaan situasi perusahaan dalam penggunaan perawatan yang berhubungan dengan IKK dan kebutuhan untuk pengembangan wilayahnya (persentase didasarkan pada ukuran sampel n = 118).(diadopsi dari Røstad and Schjølberg 2000).

(47)

25

utama dalam upaya untuk mencapai RONA 12%. Untuk mencapai tujuan ini, maka harus dibangun kerja sama antar departemen. Untuk itu semua departemen dijelaskan tujuan dan membuat setiap orang akuntabel satu dengan yang lain. Selama berbulan-bulan dan setelah dilakukan banyak diskusi dan banyak presentase oleh kepala departemen, maka IKK mulai meningkat pada tiap-tiap

scorecard pimpinan departemen.

Sistem Sadar Makna Kriteria Aktivitas (SSMKA) adalah alat tangguh dalam lingkungan kerja multi aspek yang berfokus pada penonjolan keunggulan dan penguasaan pengertian kristeria. Indikator kinerja kuncinya adalah sadar akan kekhususan informasi teknologi dan pedagogi konteks serta model mental pengguna (Laffey et al. 2009).

Siswa dan mahasiswa yang memanfaatkan system pembelajaran jarak jauh menggunakan media komunikasi telah disurvei sejumlah tigaratus tujuhpuluh tujuh orang dan dianalisis niat berbagi informasinya terhadap sesama peserta system pembelajaran. Hasilnya menyatakan bahwa indikator kinerja kunci hubungan antar sesama murid tidak begitu terbuka. Hubungan antara guru dengan para murid lebih terbuka sehingga dapat membentuk kesadaran para murid dalam indikator perasaan, rasa keinginan tahu, teknik berpikir, dan rasa sosial sebagai insan. Ini akan meningkatkan interaksi antara murid dengan gurunya dalam proses pembelajaran jarak jauh (Heo 2009).

2.2 Pembangunan Berkelanjutan

(48)

26

pulalah yang mengemuka dalam arahan pengelolaan perikanan (artikel 7) sesuai

code of conduct for responsible fisheries (CCRF) (FAO 1995).

Pembangunan dibangun berdasarkan tiga pilar, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Titik dari ketiga pilar ini membentuk pembangunan yang berkelanjutan, seperti yang dikemukakan oleh Dreo (2007) yang dijelaskan melalui skema pada Gambar 7.

Gambar 7 Skema pembangunan berkelanjutan (Dréo 2007)

(49)

27

lingkungan di atas pertimbangan ekonomi dan budaya. Pendukung Pembangunan Berkelanjutan berargumen bahwa konsep ini menyediakan konteks bagi keberlanjutan menyeluruh dimana pemikiran mutakhir dari Pembangunan Hijau sulit diwujudkan. Sebagai contoh, pembangunan pabrik dengan tekhnologi pengolahan limbah mutakhir yang membutuhkan biaya perawatan tinggi sulit untuk dapat berkelanjutan di wilayah dengan sumberdaya keuangan yang terbatas. Selanjutnya Charles (2001) menyatakan keberlanjutan selain terdiri dari aspek ekologi dan sosial ekonomi juga ada aspek masyarakat dan kelembagaan dengan rincian sebagai berikut:

1) Ecological sustainability (keberlanjutan ekologi). Dalam pandangan ini memelihara keberlanjutan stok/biomass sehingga tidak melewati daya dukungnya, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas dari ekosistem menjadi konsern utama.

2) Socioeconomic sustainability (keberlanjutan sosio-ekonomi). Konsep ini mengandung makna bahwa pembangunan perikanan harus memperhatikan keberlanjutan dari kesejahteraan pelaku perikanan baik pada tingkat individu . Dengan kata lain mempertahankan atau mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi merupakan konsern dalam kerangka keberlanjutan.

3) Community sustainability, mengandung makna bahwa keberlanjutan kesejahteraan dari sisi komunitas atau masyarakat haruslah menjadi perhatian pembangunan perikanan yang berkelanjutan.

4) Institutional sustainability (keberlanjutan kelembagaan). Dalam kerangka ini keberlanjutan kelembagaan yang menyangkut memelihara aspek finansial dan administrasi yang sehat merupakan prasyarat dari ketiga pembangunan berkelanjutan di atas.

(50)

28

berkelanjutan dalam lima elemen utama, yaitu sumberdaya alam, lingkungan, kebutuhan manusia (ekonomi dan sosial), teknologi dan institusi (FAO 2001). Sumberdaya alam dan lingkungan adalah elemen untuk dilindungi, sedangkan elemen lainnya dipenuhi, diawasi dan berlangsung sesuai proses pengelolaan. Secara singkat, keberlanjutan ekologi berkenaan dengan jaminan kelestarian sumberdaya ikan yang dieksploitasi. Institusi yang dapat mewujudkannya adalah kepemilikan pribadi atau komunitas skala kecil (Hilborn et al, 1995).

Menurut Gibb and Bromley (1989) bahwa hak kepemilikan terhadap sumberdaya alam umumnya terdiri dari:

(1) State property dimana klaim pemilikan berada di tangan pemerintah. (2) Private property dimana klaim pemilikan berada pada individu atau

kelompok usaha

(3) Common property atau communal property dimana individu atau kelompok memiliki klaim atas sumberdaya yang dikelola bersama. Suatu sumberdaya alam bisa saja tidak memiliki klaim yang sah sehingga tidak bisa dikatakan memiliki hak pemilikan. Sumberdaya seperti ini disebut sebagai open acces (Grima dan Berkes 1989). Keterkaitan antara hak kepemilikan dan akses disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8 Hubungan hak kepemilikan dan akses

2.3 Komoditas Tuna

Tuna adalah ikan epipelagis yang hidup di lapisan permukaan hingga pertengahan dengan kedalaman mencapai lebih dari 500 m tergantung pada ukuran dan spesies. Tersebar di seluruh perairan dunia, kecuali di daerah kutub. Berenang dengan jarak yang jauh membentang dari utara hingga selatan dan juga

Komunal

Negara

Individu Hak

kepemilikan

Terbuka

Terbatas

(51)

29

membentuk pola migrasi transoceanic. Tuna harus berenang paling lambat 1 kali panjang tubuh per detik untuk melewatkan oksigen yang cukup pada insangnya. Tuna berenang dalam kawanan kecil berkisar dari enam hingga 40 ekor semuanya berukuran sama, tetapi sering terdiri dari beberapa spesies. Tuna yang berukuran 225 kg biasanya berenang sendirian (soliter). Jenis makanan tuna terdiri dari teri, layang, selar, hake, cod, bluefish, whiting, dan juga cumi-cumi serta crustacea, seperti udang (Fishbase 2000).

Di kawasan perikanan Indonesia terdapat 16 jenis ikan tuna yang diatur

Produksi tuna Indonesia selang tahun 1999 hingga 2007 yang terdiri dari

sailfish, black marlin, blue marlin, swordfish, skipjack tuna, albacore, yellowfin

tuna, dan bigeye tuna seperti yang dikemukakan oleh DKP and JICA (2009),

1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

P

Figur

Gambar 2 Diagram layang-layang

Gambar 2

Diagram layang-layang p.31
Gambar 3 Kerangka alur pemikiran indikator kinerja kunci (IKK)

Gambar 3

Kerangka alur pemikiran indikator kinerja kunci (IKK) p.33
Tabel 1     Penilaian menurut kategori kinerja

Tabel 1

Penilaian menurut kategori kinerja p.44
Tabel 3    Penilaian kinerja menurut indikator traffic light

Tabel 3

Penilaian kinerja menurut indikator traffic light p.45
Gambar 10 Produksi cakalang dan madidihang di  Indonesia selang tahun 1999

Gambar 10

Produksi cakalang dan madidihang di Indonesia selang tahun 1999 p.55
Gambar 12     Tangkapan tuna tahun 2004 hingga 2008 (Sumber: PT. Bitung Mina

Gambar 12

Tangkapan tuna tahun 2004 hingga 2008 (Sumber: PT. Bitung Mina p.57
Gambar 13  Alur analisis IKK perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara

Gambar 13

Alur analisis IKK perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara p.70
Gambar 14 Peta Sulawesi Utara (Sumber: BAPPEDA, 2008)

Gambar 14

Peta Sulawesi Utara (Sumber: BAPPEDA, 2008) p.81
Tabel 15 Indikator kinerja tingkat nasional sebelum dan sesudah FGD

Tabel 15

Indikator kinerja tingkat nasional sebelum dan sesudah FGD p.94
Gambar 18 Skor prioritas elemen indikator sosial tingkat nasional

Gambar 18

Skor prioritas elemen indikator sosial tingkat nasional p.97
Gambar 21 Kontribusi elemen indikator yang penting dalam penilaian kinerja

Gambar 21

Kontribusi elemen indikator yang penting dalam penilaian kinerja p.98
Gambar 20 Skor prioritas elemen indikator ekologi tingkat nasional

Gambar 20

Skor prioritas elemen indikator ekologi tingkat nasional p.98
Tabel 17 Longlist indikator kinerja kunci perikanan tuna di tingkat sektor

Tabel 17

Longlist indikator kinerja kunci perikanan tuna di tingkat sektor p.102
Tabel 18 Indikator kinerja di tingkat sektor perikanan sebelum dan sesudah FGD

Tabel 18

Indikator kinerja di tingkat sektor perikanan sebelum dan sesudah FGD p.106
Gambar 23 Prioritas indikator kinerja kunci di tingkat sektor perikanan

Gambar 23

Prioritas indikator kinerja kunci di tingkat sektor perikanan p.108
Gambar 25 Diagram layang-layang indikator di  tingkat sektor perikanan

Gambar 25

Diagram layang-layang indikator di tingkat sektor perikanan p.109
Gambar 24   Prioritas indikator di tingkat sektor perikanan setelah dilakukan FGD

Gambar 24

Prioritas indikator di tingkat sektor perikanan setelah dilakukan FGD p.109
Gambar 26 Skor prioritas indikator di tingkat sektor perikanan pada elemen

Gambar 26

Skor prioritas indikator di tingkat sektor perikanan pada elemen p.110
Gambar 29   Kontribusi elemen indikator kinerja di tingkat sektor perikanan

Gambar 29

Kontribusi elemen indikator kinerja di tingkat sektor perikanan p.111
Tabel 20 Longlist indikator kinerja kunci perikanan tuna di tingkat perusahaan

Tabel 20

Longlist indikator kinerja kunci perikanan tuna di tingkat perusahaan p.114
Tabel 21 Indikator kinerja di tingkat perusahaan sebelum dan sesudah FGD

Tabel 21

Indikator kinerja di tingkat perusahaan sebelum dan sesudah FGD p.116
Gambar 30 Prioritas indikator kinerja kunci di tingkat perusahaan sebelum

Gambar 30

Prioritas indikator kinerja kunci di tingkat perusahaan sebelum p.118
Gambar 32 Diagram prioritas indikator tingkat perusahaan.

Gambar 32

Diagram prioritas indikator tingkat perusahaan. p.119
Gambar 33 Skor prioritas indikator process di tingkat perusahaan

Gambar 33

Skor prioritas indikator process di tingkat perusahaan p.119
Gambar 36 Kontribusi elemen terhadap indikator kinerja perikanan tangkap

Gambar 36

Kontribusi elemen terhadap indikator kinerja perikanan tangkap p.121
Gambar 35 Skor prioritas indikator output di tingkat perusahaan.

Gambar 35

Skor prioritas indikator output di tingkat perusahaan. p.121
Tabel 22 Shortlisted penilaian indikator tingkat perusahaan

Tabel 22

Shortlisted penilaian indikator tingkat perusahaan p.122
Tabel 23 Komponen indikator yang kritis dan sangat penting dalam penilaian

Tabel 23

Komponen indikator yang kritis dan sangat penting dalam penilaian p.124
Tabel 24 Komponen indikator penting dalam penilaian kinerja perikanan

Tabel 24

Komponen indikator penting dalam penilaian kinerja perikanan p.125
Tabel 25 Skoring untuk analisis kinerja perusahaan perikanan tuna terpadu

Tabel 25

Skoring untuk analisis kinerja perusahaan perikanan tuna terpadu p.126

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Latar Belakang Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Perumusan Masalah Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Tujuan dan Manfaat Penelitian Kerangka Pemikiran Tujuan IKK Indikator Kinerja Kunci IKK Dimensi IKK Langkah-Langkah Pemilihan IKK Metode Penilaian Indikator Kinerja Kunci IKK Contoh Pengukuran Indikator Kinerja Kunci Pembangunan Berkelanjutan Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Komoditas Tuna Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Perikanan Tuna Terpadu Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Focus Group Discussion FGD Multi Criteria Decision Making MCDM Tempat dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data Analisis Frekuensi Relatif Analisis Prioritas Analytical Hierarchy Process AHP Augmented Key Performance Indicator AKPI Produksi perikanan Jumlah rumah tangga perikanan di Sulawesi Utara IKK perikanan tuna di tingkat nasional Indikator kinerja kunci perikanan tuna di tingkat sektor perikanan Indikator kinerja kunci perikanan tuna di tingkat perusahaan Keadaan Umum Provinsi Sulawesi Utara Penilaian kinerja perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Formulasi Indikator Kinerja Kunci Sebagai Standar Evaluasi Pembahasan Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Kesimpulan Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Saran Pengembangan Indikator Kinerja Kunci (IKK) perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Penilaian kinerja perikanan tuna terpadu di Sulawesi Utara Keadaan Umum Provinsi Sulawesi Utara Tempat dan Waktu Penelitian Multi Criteria Decision Making MCDM Latar Belakang