PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR PADA PERTUMBUHAN BIBIT PISANG MULI (Musa paradisiaca L.)

55  30  Download (1)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR PADA PERTUMBUHAN BIBIT

PISANG MULI (Musa paradisiaca L.)

Oleh

Susiwi Hayatina

Tanaman pisang Muli pada umumnya diperbanyak dengan cara pemisahan anakan, sehingga dalam produksi yang lebih besar terkendala dengan terbatasnya

bibit dan kerentanan terhadap penyakit. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan perbanyakan melalui pembelahan bonggol dengan memberikan

unsur hara yang cukup dan seimbang. Unsur hara dapat diberikan dengan cara pemupukan baik berupa pupuk organik cair (POC) maupun pupuk organik padat. Aplikasi POC dikombinasikan dengan penggunaan media tanam yang banyak

mengandung bahan organik seperti serasah daun flamboyan dan pupuk kandang ayam diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Fakultas Pertanian

pada bulan Juni hingga September 2011, menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis bahan organik

(2)

menggunakan uji F, yaitu untuk mengetahui pengaruh masing-masing perlakuan.

Apabila hasil uji F menunjukkan perbedaan nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil atau BNT pada taraf 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk organik cair tidak

berpengaruh nyata pada semua variabel pengamatan yaitu jumlah daun, panjang daun, lebar daun, tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah akar, panjang akar, bobot

basah akar dan bobot basah tanaman. Namun serasah daun flamboyán lebih nyata dalam meningkatkan jumlah akar dan panjang akar bibit tanaman pisang Muli dibandingkan pupuk kandang ayam.

(3)

(Skripsi)

Susiwi Hayatina

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

Oleh Susiwi Hayatina

(Skripsi)

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

Pada

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

(Musa paradisiaca L.) Nama Mahasiswa : Susiwi Hayatina

NPM : 0714012021 Program Studi : Agroteknologi

Fakultas : Pertanian

Menyetujui

1. Komisi Pembimbing

Ir. Rugayah, M.P. Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc.

NIP 196111071986032002 NIP 196104021986031003

2. Ketua Program Studi Agroteknologi

(6)

1. Tim Penguji

Ketua : Ir. Rugayah, M.P. ………..

Sekertaris : Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc. ………..

Penguji : Ir. Tri Dewi Andalasari, M.Si. ………..

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M. S. NIP 196108261987021001

(7)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Pisang merupakan salah satu buah yang masa berbuahnya tidak tergantung musim dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena harganya murah dan memiliki

banyak manfaat. Manfaat pisang antara lain sebagai sumber energi karena kandungan karbohidratnya tinggi. Selain itu, pisang juga mengandung beberapa vitamin seperti vitamin B6 dan C serta mineral seperti kalium, magnesium, besi,

fosfor dan kalsium yang bermanfaat untuk kesehatan (Suyanti dan Supriyadi, 2008).

Terdapat berbagai jenis pisang, salah satunya adalah pisang Muli. Pisang Muli

merupakan pisang khas Lampung, oleh karena itu sering disebut juga sebagai pisang Lampung. Pisang Muli memiliki warna kulit buah kuning penuh dan

warna daging buah putih kemerahan. Pisang ini memiliki rasa manis dan memiliki aroma yang harum. Pisang Muli sering disajikan sebagai buah segar atau sebagai buah meja. Selain itu pisang Muli dapat dijadikan dekorasi pada

berbagai acara, salah satunya adalah acara pernikahan.

(8)

Sebagai salah satu negara produsen pisang dunia, Indonesia telah memproduksi

sebanyak 6,20 % dari total produksi dunia dan 50 % produksi pisang Asia berasal dari Indonesia. Provinsi Lampung menyumbang 535.700 ton pisang, yaitu sekitar

10,6% produksi pisang nasional. Tetapi produksi pisang nasional masih tergolong rendah seperti di Provinsi Lampung produksi pisang hanya 10 – 15 ton per hektar sedangkan seharusnya memiliki potensi produktivitas 35 – 40 ton per hektar

(BPTP Lampung, 2011). Menurut Badan Pusat Statistik (2010), produksi pisang di Indonesia pada tahun 2007 yaitu 5.454.226 ton, sedangkan pada tahun 2009

meningkat menjadi 6.373. 533 ton.

Peningkatan produksi pisang membutuhkan jumlah bibit yang lebih banyak. Salah satu perbanyakan bibit pisang yang mudah dilakukan dan dapat diperoleh

bibit dalam jumlah banyak dan cukup seragam yaitu dengan menggunakan belahan bonggol. Bibit yang diperoleh dengan cara pembelahan bonggol yang telah berumur 3 bulan belum siap untuk pindah tanam ke lapang sehingga perlu

dilakukan pemeliharaan lanjutan, diantaranya dengan pemupukan yang berimbang dan penggunaan media tanam yang banyak mengandung bahan organik.

Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk organik cair (POC). Selain

mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman, POC juga banyak mengandung mikroorganisme yang mampu mendekomposisi bahan organik sehingga unsur hara lebih mudah tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Dalam penelitian ini

(9)

Rumusan Masalah:

1. Apakah pertumbuhan bibit pisang Muli dipengaruhi oleh jenis bahan organik yang digunakan?

2. Apakah pertumbuhan bibit pisang Muli dipengaruhi oleh konsentrasi pupuk organik cair (POC) yang digunakan?

3. Apakah pengaruh pemberian konsentrasi pupuk organik cair terhadap

pertumbuhan bibit pisang Muli bergantung pada bahan organik yang digunakan?

1.2 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh bahan organik terhadap pertumbuhan bibit

pisang Muli.

2. Untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi pupuk organik cair pada pertumbuhan bibit pisang Muli.

3. Untuk mengetahui apakah konsentrasi pupuk organik cair berinteraksi dengan bahan organik dalam mempengaruhi pertumbuhan bibit pisang Muli.

1.3 Landasan Teori

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup yang sudah terdekomposisi secara alami dengan jumlah dan jenis unsur hara yang

terkandung secara alami. Pupuk organik terdiri dari pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Pupuk organik cair pada umumnya merupakan ekstrak bahan

(10)

Mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk organik cair merupakan

mikroorganisme tanah seperti Rhizobium sp, Azospirillum sp, Azotobacter sp, bakteri pelarut fosfat, Pseudomonas sp, dan Bacillus sp. Mikroorganisme tersebut

akan berpengaruh positif bagi ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Sutanto, 2002).

Pemakaian bahan organik yang dapat digunakan sebagai media tanam diantaranya

serasah flamboyan dan pupuk kandang ayam. Tanaman flamboyan termasuk dalam famili leguminoceae. Menurut Sutanto (2002), sisa tanaman legum mengandung nitrogen yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Pitoy (2006)

penggunaan serasah flamboyan berpengaruh nyata dalam meningkatkan panjang sulur, jumlah daun, dan jumlah buku pada tanaman sirih merah. Unsur hara yang

terkandung dalam serasah flamboyan yaitu N 2,16 %, P 0,05 %, K 0,07 %, dan C organik 25,9 % (Pitoy, 2006). Serasah daun flamboyan menghasilkan

pertumbuhan tanaman sirih merah yang lebih baik dibandingkan serasah daun

LCC, yang ditunjukkan oleh variabel diameter ruas ke-3, total luas daun/tanaman, dan luas helaian daun (Rafikasari, 2007).

Pupuk kandang mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman untuk

pertumbuhannya. Selain mengandung unsur makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), pupuk kandang juga mengandung unsur mikro seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S) (Musnamar, 2007). Penggunaan

pupuk kandang biasanya sebagai media tanam yang dicampur dengan tanah. Pupuk kandang yang dapat digunakan sebagai campuran media tanam diantaranya

(11)

penggunaan dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia dan

menyumbangkan unsur hara bagi tanaman serta meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman. Selain itu pemberian pupuk kandang juga dapat memperbaiki sifat

fisika tanah, yaitu kapasitas tanah menahan air, kerapatan massa tanah, dan

porositas total, memperbaiki stabilitas agregat tanah dan meningkatkan kandungan humus tanah (Sarno, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian Saragi (2008), pada tanaman peleng (Spinacia oleracia) perlakuan pupuk kandang ayam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, total luas daun, bobot basah tanaman, bobot kering

tanaman, dan produksi per tanaman. Menurut Rosidah (2006), pemberian pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan tanaman nilam yang ditunjukkan oleh

peubah diameter batang, jumlah cabang, jumlah daun, bobot kering brangkasan, dan bobot segar tajuk. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam lebih baik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai

dibandingkan dengan pupuk kandang sapi dan kambing berdasarkan variabel tinggi tanaman, bobot kering akar, bobot kering batang, bobot kering daun, dan bobot kering daun/ 10 cm2 daun segar (Evanori, 2006).

1.4 Kerangka Pemikiran

Bibit merupakan salah satu faktor penting dalam produksi tanaman, karena

pertumbuhan awal bibit dapat menentukan pertumbuhan tanaman selanjutnya. Oleh karena itu diperlukan cara perbanyakan bibit dan pemeliharaan yang baik

(12)

dapat tercapai. Salah satu cara perbanyakan pisang yang dapat menghasilkan bibit

yang banyak, seragam, dan mudah dilakukan adalah dengan pembelahan bonggol. Bibit yang berasal dari pembelahan bonggol perlu dipelihara sebelum bibit siap

untuk ditanam di lapang. Pemeliharaan yang dilakukan dapat berupa pemupukan dan penggunaan media tanam yang baik. Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk organik.

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan organik atau makhluk hidup yang telah mati. Bahan organik ini mengalami pembusukan oleh

mikroorganisme sehingga bahan fisiknya akan berbeda dari semula. Pupuk

organik termasuk pupuk majemuk lengkap karena mengandung lebih dari satu unsur hara dan juga mengandung unsur hara mikro (Hadisuwito, 2008).

Pupuk organik terdiri dari dua jenis, yaitu pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk

organik cair biasanya digunakan sebagai penambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman karena mengandung berbagai jenis hara makro dan mikro serta

mikroorganisme yang mampu mendekomposisi bahan organik yang terdapat pada

media tanam sehingga unsur hara tersebut tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk organik cair diantaranya

Rhizobium sp, Azospirillum sp, Azotobacter sp, bakteri pelarut fosfat,

Pseudomonas sp, dan Bacillus sp. Mikroorganisme tersebut akan berpengaruh positif bagi ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga diperoleh

(13)

Salah satu jenis pupuk organik berbentuk padat adalah pupuk kandang. Pupuk

kandang tidak hanya membantu pertumbuhan, tetapi juga dapat menetralkan logam berat di dalam tanah, membantu penyerapan hara, dan mempertahankan

suhu tanah. Selain itu, pupuk kandang juga dapat menyuburkan tanah, dan memperbaiki struktur tanah (Hadisuwito, 2008). Pemilihan jenis kotoran ternak yang dapat digunakan sebagai pupuk kandang dapat didasari oleh kadar hara.

Kadar hara kotoran ternak berbeda-beda, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu jenis ternak, jenis makanan ternak, dan cara penyimpanan pupuk

kandang sebelum digunakan.

Pupuk kandang ayam sering digunakan karena mudah didapat dan harganya relatif lebih murah, selain itu pupuk kandang ayam mengandung unsur hara yang

lengkap yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil analisis Pitoy (2006), kandungan hara yang terdapat pada pupuk kandang ayam yaitu N 1,09 %, P 0,46 %, K 0,32 % dan C organik 20,13 %. Menurut Ismawati (2003)

dalam Polii (2009), selain mengandung unsur hara makro pupuk kandang ayam juga mengandung unsur hara mikro seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S).

Selain pupuk kandang, sumber bahan organik yang tidak kalah penting adalah sisa-sisa tanaman yang telah terdekomposisi yang disebut humus. Humus merupakan hasil pelapukan sisa-sisa tanaman yang terjadi secara alami dengan

bantuan mikroorganisme dan cuaca (Marsono dan Sigit, 2001). Salah satu jenis bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman adalah serasah daun flamboyan.

(14)

media tanam memberikan hasil pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik

dan dapat mempertahankan corak warna pink dan perak pada permukaan atas daun serta warna merah keunguan pada permukaan bawah daun sirih merah.

Hasil analisis Pitoy (2006), unsur hara yang terkandung dalam serasah flamboyan yaitu N 2,16 %, P 0,05 %, K 0,07 %, dan C organik 25,9 %.

Penggunaan media tanam yang banyak mengandung bahan organik seperti pupuk

kandang ayam dan serasah daun flamboyan dengan aplikasi konsentrasi pupuk organik cair yang tepat diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman yang ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah daun, panjang daun, lebar daun,

tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah akar, panjang akar, bobot basah akar, dan bobot basah tanaman.

1.5 Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Serasah daun flamboyan lebih baik dalam meningkatkan pertumbuhan bibit pisang Muli dibandingkan dengan pupuk kandang ayam.

2. Pupuk Organik Cair (POC) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit pisang Muli dan pemberian POC 6 ml/l lebih baik dalam meningkatkan

pertumbuhan bibit pisang Muli dibandingkan konsentrasi yang lebih rendah.

(15)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Botani Tanaman Pisang

Tanaman pisang merupakan salah satu jenis tanaman buah yang berbentuk semak dan memiliki batang semu (pseudostem). Tanaman ini memiliki tinggi bervariasi,

yaitu antara satu hingga empat meter, tergantung varietasnya. Tanaman ini

bersifat merumpun (tumbuh anakan). Berdasarkan taksonominya, tanaman pisang diklasifikasikan sebagai berikut.

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae Suku (famili) : Musaceae

Marga (genus) : Musa

Jenis (spesies) : Musa paradisiaca (Suyanti dan Supriyadi, 2008).

2.1.1Daun dan Batang

Tanaman pisang memiliki daun yang lebar dan panjang dengan tulang daun besar. Tepi daun tidak memiliki ikatan yang kompak sehingga mudah robek jika terkena

(16)

yang berukuran besar dan memiliki banyak mata tunas yang dapat tumbuh

menjadi tunas anakan (sucker) (Suyanti dan Supriyadi, 2008).

Corm pada tanaman pisang yang telah dewasa memiliki diameter sampai dengan 300 mm dan berat yang bervariasi tergantung pada kondisi tanaman (Robinson,

2006). Batang semu tanaman pisang terbentuk dari pelepah daun yang saling menutupi dengan kuat dan kompak sehingga dapat berdiri tegak (Sunarjo, 2008).

2.1.2 Bunga

Bunga pada tanaman pisang termasuk bunga tunggal yang keluar pada ujung batang dan hanya berbunga sekali selama hidupnya atau bersifat monokarpik.

Bunga pisang biasa disebut jantung, berwarna merah tua, kuning atau ungu dan setiap jantung terdiri dari banyak bakal buah (Gambar 1). Setiap sisir dilindungi oleh sebuah daun kelopak (Sunarjo, 2008).

Bunga pada pisang tersusun dalam dua baris melintang, yaitu bunga betina berada

di bawah bunga jantan (jika ada). Lima daun tenda bunga melekat sampai tinggi dengan panjang 6-7 cm. Benang sari yang berjumlah lima buah pada bunga betina terbentuk tidak sempurna. Pada bunga betina terdapat bakal buah yang

(17)

Gambar 1. Bunga tanaman pisang. Sumber: Overall, (2011)

2.1.3 Buah

Bunga pisang menyerbuk silang melalui serangga penyerbuk, tetapi umumnya tepung sari tidak fertil, oleh karena itu banyak buah pisang yang tidak berbiji (partenokarpi). Jenis pisang untuk konsumsi segar (buah meja) tidak berbiji

karena kromosomnya berlipat tiga (3n atau triploid). Pisang meja yang berbiji (diploid) misalnya adalah pisang batu (Sunarjo, 2008).

Pada umumnya setelah bunga keluar akan terbentuk satu kesatuan bakal buah

yang disebut sebagai sisir. Sisir pertama yang terbentuk akan terus memanjang membentuk sisir kedua, ketiga, dan seterusnya. Pada kondisi ini, sebaiknya jantung pisang dipotong karena sudah tidak bisa menghasilkan sisir lagi (Suyanti

(18)

2.1.4 Akar

Tanaman pisang berakar rimpang, tidak memiliki akar tunggang. Akar terbanyak berada di bagian bawah tanah. Akar ini tumbuh menuju ke bawah sampai

kedalaman 75-150 cm. Akar yang berada di bagian samping umbi batang tumbuh ke samping atau mendatar dengan ukuran dapat mencapai 4-5 cm (Suyanti dan Supriyadi, 2008). Akar utama memiliki ketebalan 5-8 mm dan berwarna putih

jika tanaman tersebut sehat. Selanjutnya akar tersebut akan berwarna abu-abu atau coklat dengan cepat sebelum tanaman mati. Distribusi akar tanaman pisang

dapat secara horizontal atau vertikal, hal ini dipengaruhi oleh tipe tanah dan drainase tanah (Robinson, 2006).

2.2 Pisang Muli

Pisang Muli memiliki ujung buah yang lancip. Setiap tandan terdiri dari 6-8 sisir dan setiap sisir terdiri dari 18-20 buah. Warna kulit buah kuning penuh dan warna

daging buah putih kemerahan. Rasa buahnya manis dan beraroma harum. Pisang Muli sering disajikan sebagai hidangan segar, selain itu dapat diolah menjadi keripik pisang berbahan baku pisang matang. Kandungan gizi dalam 100 gram

buah pisang muli dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan gizi dalam 100 gram buah pisang Muli

(19)

2.3 Syarat Tumbuh

Ketinggian tempat yang ideal untuk pertumbuhan pisang berada di bawah 1.000 meter dari permukaan laut. Iklim yang dikehendaki adalah iklim basah dengan curah hujan merata sepanjang tahun. Tanaman pisang menghendaki tempat

tumbuh yang subur. Kedalaman air tanah yang sesuai untuk pisang yang ditanam pada daerah beriklim biasa adalah 50 – 200 cm di bawah permukaan tanah.

Sementara jenis tanah yang disukai tanaman pisang adalah tanah liat yang mengandung kapur atau tanah aluvial dengan pH antara 4,5 – 7,5 (Suyanti dan Supriyadi, 2010).

2.4 Pupuk Organik

Bahan organik merupakan bagian dari tanah yang terdiri dari sisa-sisa hewan dan

tanaman pada berbagai tahap dekomposisi. Terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi jumlah bahan organik di tanah yaitu, vegetasi, iklim, tekstur tanah, dan drainase. Bahan organik dapat meningkatkan kandungan mineral di dalam

tanah dan memperbaiki tanah berpasir dengan meningkatkan kapasitas tanah memegang air (Plaster, 1997). Selain dapat meningkatkan kapasitas tanah dalam

menahan air, peranan bahan organik juga sebagai granulator atau memperbaiki struktur tanah, sumber unsur hara N, P, S dan unsur mikro, menambah

kemampuan tanah untuk meningkatkan kapasitas tukar kation dan menahannya

(Purwaningrahayu dan Radjit, 2008). Dengan bantuan mikroorganisme bahan organik akan berubah menjadi humus. Humus ini merupakan perekat yang baik

(20)

Pemupukan organik merupakan salah satu cara untuk menyediakan unsur hara

untuk tanaman pisang. Pupuk organik seperti yang berasal dari pekarangan atau pupuk unggas sangat sesuai untuk memupuk tanaman pisang karena dapat

memperbaiki struktur tanah dan sumber berbagai unsur hara. Mikroorganisme seperti mikoriza yang terdapat dalam pupuk organik sangat penting dalam mempengaruhi penyerapan unsur hara oleh tanaman (Robinson, 2006).

Dari bentuknya, ada dua jenis pupuk organik yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Pupuk organik padat merupakan pupuk organik yang berbentuk padat, aplikasinya dengan cara ditaburkan atau dibenamkan dalam

tanah. Terdapat beberapa jenis pupuk organik padat, diantaranya adalah pupuk kandang ayam dan serasah daun flamboyan. Pupuk kandang ayam dapat

memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan daya mengikat air dan unsur hara di dalam tanah (Novizam, 2002). Pemberian pupuk organik yang berasal dari hewan (pupuk kandang) merupakan salah satu alternatif agar pertumbuhan tanaman

menjadi lebih baik. Di antara pupuk kandang yang tersedia di Indonesia adalah dari ayam, kambing, kuda, dan sapi. Diduga yang terbaik adalah yang berasal dari ayam karena memperoleh makanan yang lengkap terdiri dari tepung tulang, dedak

padi, tepung jagung, tepung kacang hijau dan sebagainya (Tejasarwana, 1998). Serasah daun flamboyan berasal dari tanaman flamboyan yang merupakan

(21)

Pupuk organik cair merupakan pupuk organik berbentuk cairan. Pupuk organik

cair umumnya merupakan ekstrak bahan organik yang sudah dilarutkan dengan pelarut seperti air, alkohol, atau minyak. Pupuk organik cair kebanyakan

diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar yang

mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat

diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan

kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat,

meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan patogen penyebab penyakit (Rizqiani dkk., 2007). Aplikasi pupuk organik cair umumnya dengan cara disemprot ke daun atau disiram ke tanah.

Untuk pupuk organik cair Bio-Extrim lebih baik disiram ke tanah atau media tanam karena mengandung berbagai jenis mikroorganisme yang berfungsi mendekomposisi bahan organik (Musnamar, 2007).

Salah satu jenis pupuk organik cair yang merupakan pupuk hayati majemuk cair

yaitu dengan merek dagang Bio-Extrim. Manfaat dari pupuk hayati Bio-Extrim adalah memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kadar unsur hara makro dan

mikro secara alami, menghasilkan fitohormon atau zat perangsang tumbuh

berbahan organik dengan proses alami, memacu percepatan proses keluarnya akar,

(22)

Berdasarkan brosur yang dikeluarkan oleh PT. Bangkit Jaya Abadi (2009),

kandungan mikroorganisme yang ada dalam Bio-Ekstrim adalah sebagai berikut: 1. Rhizobium sp : 7,2 x 105 Cuf/ml

2. Azospirillum sp : 2,4 x 108 Cuf/ml 3. Azotobacter sp : 3,2 x 108 Cuf/ml 4. Bakteri pelarut phospate : 4,0 x 107 Cuf/ml

5. Pseudomonas sp : 5,0 x 106 Cuf/ml 6. Bacillus sp : 2,7 x 105 Cuf/ml

7. Salmonella : 0 Mpn/ml 8. E. Colli : 0 Mpn/ml 9. Patogenitas : negatif

(23)

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni sampai dengan September 2011.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah pisau, ember, gayung, takaran, gunting,polibag,

kamera digital dan alat tulis.

Bahan yang digunakan adalah bibit pisang muli dari hasil pembelahan bonggol yang telah berumur tiga bulan, pupuk organik cair Bio-Extrim (Gambar 2), pupuk

kandang ayam, serasah daun flamboyan, pupuk NPK mutiara 16:16:16 dan fungsida dengan bahan aktif tembaga oksiklorida 59,5 %.

(24)

3.3 Metode Percobaan

Perlakuan penelitian terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah jenis bahan organik dan faktor kedua adalah konsentrasi pupuk organik cair. Jenis bahan organik yang digunakan yaitu serasah daun flamboyan dan pupuk kandang ayam.

Konsentrasi pupuk organik cair yang digunakan yaitu 0 ml/l, 3 ml/l, dan 6 ml/l. Perlakuan tersebut disusun secara faktorial (2X3) dalam rancangan kelompok

teracak sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Pengelompokan dilakukan berdasarkan tinggi tanaman. Kelompok I tinggi tanaman 32,1 – 37,2 cm, kelompok II tinggi tanaman 24 – 28,3 cm, kelompok III tinggi tanaman 17,7 –

22,9 cm.

Analisis ragam dilakukan dengan menggunakan uji F, yaitu untuk mengetahui pengaruh masing-masing perlakuan. Apabila hasil uji F menunjukkan perbedaan nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil

(BNT) pada taraf 5 % dan 1%.

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Persiapan Media Tanam

Media tanam yang digunakan yaitu campuran tanah dengan serasah daun

(25)

3.4.2 Persiapan Bibit

Bibit pisang Muli diambil dari hasil pembelahan bonggol, yang telah berumur tiga bulan (Gambar 3). Bibit pisang dipilih dengan kriteria telah memiliki 5-8 daun,

tinggi tanaman 17-38 cm dan lingkar batang 5-11 cm. Sebelum bibit ditanam dilakukan pemotongan pada akar bibit pisang yang terlalu panjang dan bonggol yang terlalu besar. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan kondisi awal sebelum

perlakuan. Setelah itu bagian bonggol bibit pisang dicelupkan terlebih dahulu dalam larutan fungisida berbahan aktif tembaga oksiklorida 59,5 % Cu dengan

konsentrasi 2 g/l air.

Gambar 3. Bibit tanaman pisang Muli hasil pembelahan bonggol yang telah berumur tiga bulan.

3.4.3 Pemindahan Bibit ke Media dan Pemberian Pupuk Dasar

(26)

3.4.4 Aplikasi Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair (POC) diaplikasikan satu bulan setelah pindah tanam. Aplikasi pupuk dilakukan dengan cara menyiramkan larutan sesuai dengan

konsentrasi perlakuan (0 ml/l, 3 ml/l, dan 6 ml/l), aplikasi POC dapat dilihat pada Gambar 4. Masing-masing volume siram pada setiap sampel tanaman 250 ml. Pupuk organik cair diaplikasikan tiga kali, sehingga total volume siram per

tanaman adalah 750 ml larutan. Aplikasi kedua dilakukan seminggu setelah aplikasi pertama, dan aplikasi ketiga dilakukan dua minggu setelah aplikasi kedua.

Gambar 4. Aplikasi pupuk organik cair dengan cara disiramkan pada media tanam.

3.4.5 Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan pembuangan daun kering. Penyiraman dilakukan untuk mempertahankan kelembaban media tanam,

penyiraman dilakukan sampai mencapai kapasitas lapang. Penyiraman dilakukan

(27)

Pembuangan daun kering dilakukan apabila ada daun-daun yang telah layu

(Gambar 5). Pembuangan daun kering dilakukan dengan meggunakan cutter atau gunting dan dicatat jumlah daun kering yang terbuang.

Gambar 5. Pembuangan daun kering

3.5 Variabel Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Pengamatan awal digunakan untuk data awal penelitian sebagai pembanding dengan data akhir penelitian. Variabel pengamatan terdiri dari:

1. Penambahan tinggi tanaman (cm)

Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur tanaman dari

pangkal batang semu sampai pertemuan 2 daun terakhir yang muncul.

2. Penambahan lingkar batang (cm)

(28)

3. Penambahan jumlah daun (helai)

Jumlah daun yaitu banyaknya daun yang telah membuka sempurna pada setiap tanaman.

4. Panjang daun (cm)

Pengukuran panjang daun dilakukan pada daun kedua setelah daun membuka sempurna dengan cara mengukur panjang daun dari pangkal daun sampai

ujung daun diukur dengan menggunakan meteran.

5. Lebar daun (cm)

Lebar daun diukur pada daun kedua setelah daun membuka sempurna dengan

cara mengambil bagian tengah daun dan diukur dengan menggunakan meteran.

6. Jumlah akar

Jumlah akar diamati dengan cara menghitung jumlah akar primer yang

terbentuk pada setiap sampel bibit tanaman pisang Muli.

7. Panjang akar

Mengukur tiga akar primer terpanjang dari setiap sampel, kemudian

jumlahnya dirata-ratakan.

8. Bobot basah akar

Dilakukan dengan menimbang seluruh bagian akar dalam keadaan segar.

9. Penambahan bobot basah tanaman

(29)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Penambahan bahan organik serasah daun flamboyan ke dalam media tanam lebih baik dalam meningkatkan jumlah akar dan panjang akar bibit tanaman pisang Muli dibandingkan dengan bahan organik pupuk kandang ayam.

2. Pemberian pupuk organik cair pada berbagai taraf konsentrasi tidak

mempengaruhi pertumbuhan vegetatif bibit tanaman pisang Muli pada semua

variabel pengamatan.

3. Pengaruh konsentrasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan vegetatif bibit tanaman pisang Muli tidak bergantung pada jenis bahan organik yang

(30)

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian disarankan pada penelitian selanjutnya penggunaan pupuk organik cair sebaiknya dikombinasikan dengan media tanam dengan perbandingan bahan organik yang lebih rendah atau POC digunakan pada

(31)

(Skripsi)

Susiwi Hayatina

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(32)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bunga Tanaman Pisang ... 11

2. Pupuk Organik Cair Bio-Extrim ... 17

3. Bibit tanaman pisang Muli hasil pembelahan bonggol yang telah

berumur tiga bulan. ... 19

4. Aplikasi pupuk organik cair dengan cara disiramkan pada

media tanam ... 20 5. Pembuangan daun kering ... 21

6. Pengaruh jenis media terhadap jumlah akar pada pembibitan tanaman pisang Muli selama 2 bulan pengamatan. Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT

pada taraf 5%. BNT 0,05 % = 2,26 ... 26 7. Pengaruh jenis media terhadap panjang akar pada pembibitan

tanaman pisang Muli selama 2 bulan pengamatan. Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT

pada taraf 5%. BNT 0,05 % = 8,90. ... 27

8. Denah tata letak percobaan ... 53

9. Penambahan tinggi tanaman bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(33)

10. Penambahan lingkar batang bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a) dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 54

11. Penambahan jumlah daun bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a) dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 55

12. Panjang daun bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a)dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 55

13. Lebar daun bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a)dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 56

14.Panjang akar bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a) dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 56 15. Kondisi bibit pisang Muli pada akhir penelitian ... 57

(34)
(35)
(36)
(37)

3.3 Metode Percobaan ... 18

3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 18

3.4.1 Persiapan Media Tanam ... 18

3.4.2 Persiapan Bibit ... ... 19

3.4.3 Pemindahan Bibit ke Media dan Pemberian Pupuk Dasar ... 19

(38)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kandungan gizi dalam 100 gram buah pisang Muli ... 12

2. Rekapitulasi hasil analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair pada pertumbuhan bibit

pisang Muli ... 23

3. Nilai rata-rata variabel pertumbuhan bibit pisang Muli yang tidak

dipengaruhi oleh perlakuan konsentrasi pupuk organik cair (POC) ... 24 4. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap penambahan tinggi tanaman (cm) pisang Muli ... 39 5. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan

konsentrasi pupuk organik cair terhadap penambahan tinggi

tanaman (cm) pisang Muli ... 39 6. Analisis ragam untuk Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

pupuk organik cair terhadap penambahan tinggi tanaman (cm)

pisang Muli ... 40

7. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap penambahan lingkar batang (cm) pisang Muli ... 40

8. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan

konsentrasi pupuk organik cair terhadap penambahan lingkar batang

(cm) pisang Muli ... 41

9. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair terhadap penambahan lingkar batang (cm)

(39)

10. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap penambahan jumlah daun (helai) pisang Muli ... 42

11. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan Konsentrasi pupuk organik cair terhadap penambahan jumlah

daun (helai) pisang Muli ... 42 12. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

pupuk organik cair terhadap penambahan jumlah daun (helai)

pisang Muli ... 43 13. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap panjang daun (cm) pisang Muli ... 43 14. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan

Konsentrasi pupuk organik cair terhadap panjang daun (cm)

pisang Muli ... 44 15. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

pupuk organik cair terhadap panjang daun (cm) pisang Muli ... 44 16. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap lebar daun (cm) pisang Muli ... 45 17. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan

konsentrasi pupuk organik cair terhadap lebar daun (cm) pisang Muli .... 45 18. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

pupuk organik cair terhadap panjang daun (cm) pisang Muli ... 46 19. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap jumlah akar pisang Muli ... 46 20. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan

konsentrasi pupuk organik cair terhadap jumlah akar pisang Muli ... 47

21. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

pupuk organik cair terhadap jumlah akar pisang Muli ... 47

22. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap panjang akar (cm) pisang Muli... 48

23. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair terhadap panjang akar (cm)

pisang Muli ... 48 24. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

(40)

25. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap bobot basah akar (gram) pisang Muli ... 49

26. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair terhadap bobot basah akar (gram)

pisang Muli ... 50 27. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

pupuk organik cair terhadap bobot basah akar (gram) pisang Muli ... 50 28. Pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair

terhadap bobot basah tanaman (kg) pisang Muli ... 51

29. Uji kesamaan ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi pupuk organik cair terhadap bobot basah tanaman (kg)

pisang Muli ... 51 30. Analisis ragam untuk pengaruh jenis bahan organik dan konsentrasi

(41)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bunga Tanaman Pisang ... 11

2. Pupuk Organik Cair Bio-Extrim ... 17

3. Bibit tanaman pisang Muli hasil pembelahan bonggol yang telah

berumur tiga bulan. ... 19

4. Aplikasi pupuk organik cair dengan cara disiramkan pada

media tanam ... 20 5. Pembuangan daun kering ... 21

6. Pengaruh jenis media terhadap jumlah akar pada pembibitan tanaman pisang Muli selama 2 bulan pengamatan. Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT

pada taraf 5%. BNT 0,05 % = 2,26 ... 26 7. Pengaruh jenis media terhadap panjang akar pada pembibitan

tanaman pisang Muli selama 2 bulan pengamatan. Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT

pada taraf 5%. BNT 0,05 % = 8,90. ... 27

8. Denah tata letak percobaan ... 53

9. Penambahan tinggi tanaman bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(42)

10. Penambahan lingkar batang bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a) dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 54

11. Penambahan jumlah daun bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a) dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 55

12. Panjang daun bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a)dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 55

13. Lebar daun bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a)dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 56

14. Panjang akar bibit pisang Muli pada akhir penelitian :

(a) dengan bahan organik (b) tanpa bahan organik ... 56 15. Kondisi bibit pisang Muli pada akhir penelitian ... 57

(43)

DAFTAR PUSTAKA

Arisandhi, J. 2010. Pengaruh Cara Aplikasi Pupuk Organik Cair dan Media Tanam terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Gelombang Cinta (Anthurium plowmanii Croat). (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 58 hlm.

Astri, A.B. 2011. Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair dan Pemberian Pupuk NPK (16:16:16) terhadap Pertumbuhan Tanaman Pisang Ambon Kuning (Musa paradisiaca L.) pada Fase Vegetatif. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 58 hlm.

Badan Pusat Statistik. 2010. Produksi Buah-Buahan di Indonesia.

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek =55&notab=2. Diakses pada tanggal 23 Juli 2011.

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Lampung. 2011. Teknologi Budidaya Pisang. http://lampung.litbang.deptan.go.id /ind/images/stories/publikasi/pisang.pdf. Diakses pada tanggal 26 November 2010.

Djuarnanai, N, Kristian dan B.S Setiawan. 2002. Cara Cepat Membuat Kompos. PT. Agromedia Pustaka: Jakarta.

Evanori, W. 2006. Pengaruh Pemberian Beberapa Jenis Pupuk Kandang pada Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Cabai (Capsicum annum L.) Hibrida. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 56 hlm. Hadisuwito, S. 2008. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT. AgroMedia Pustaka:

Jakarta. 56 hlm.

Marsono dan P. Sigit. 2001. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya: Jakarta. 88 hlm.

Musnamar. E.I. 2007. Pupuk Organik. Penebar Swadaya: Jakarta. 127 hlm.

(44)

Overall, K. 2011. http://www.kimoverall.com/BananaFlowerOpening.html. Diakses pada tanggal 27 Desember 2011.

Parman, S. 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang (Solanum tuberosum L.). Buletin Anatomi dan Fisiologi Vol. XV No. 2. 11 hlm.

Plaster, E.J. 1997. Soil Science and Management. Delmar Publisher: New York. 402 hlm.

Pitoy, M.S. 2006. Pengaruh Perbedaan Sumber Bahan Organik Sebagai Media Tanam Pada Pertumbuhan Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) Dalam Pot. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 57 hlm.

Polii, G.M.M. 2009. Respon Produksi Tanaman Kangkung Darat (Ipomea reptans Poir.) terhadap Variasi Waktu Pemberian Pupuk Kotoran Ayam. Journal Soil Environment Vol.VII No.1. 5 hlm.

PT. Bangkit Jaya Abadi. 2009. http://bioextrim.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 25 Februari 2011.

Purwaningrahayu, R.D., B.S. Radjit. 2008. Aplikasi Bahan Organik dan Pupuk Anorganik P dan K pada Kacang Hijau di Lahan Sawah. Jurnal Agrivigor Vol.IIX No. 1. 8 hlm.

Rafikasari, A. 2007. Pengaruh Media Tanam dan Dosis Pupuk NPK (15:15:15) pada Pertumbuhan Tanaman Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.). (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 56 hlm. Rizqiani, N.F., E. Ambarwati, N.W. Yuwono. 2007. Pengaruh Dosis dan

Frekuensi Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Dataran Rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol.VII No.1. 11 hlm.

Robinson, J.C. 2006. Banana and Plantains. CABI Publishing: Cambridge USA. Rosidah. 2006. Pengaruh Dosis Cara Aplikasi Pupuk Kandang Ayam Pada

Pertumbuhan Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.). (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 58 hlm.

(45)

Sari, Nurma. 2010. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair dan Pupuk SP-36 terhadap Pertumbuhan Bibit Pisang Ambon Kuning (Musa

Paradisiaca L.). (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 57 hlm.

Sarno. 2009. Pengaruh Kombinasi NPK dan Pupuk Kandang terhadap Sifat Tanah dan Pertumbuhan serta Produksi Tanaman Caisim. Jurnal Tanah Tropika Vol.XIV No.3. 9 hlm.

Sunarjo, H. 2008. Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Penebar Swadaya. Jakarta. 176 hlm.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisus. Jakarta. 211 hlm. Suyanti dan A. Supriyadi. 2008. Pisang, Budidaya, Pengolahan, dan Prospek

Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta. 127 hlm.

(46)

Alhamdulillahi Rabbil ’alamin

(47)

“Doa memberikan kekuatan pada orang

yang lemah, membuat orang tidak percaya

menjadi percaya dan memberikan keberanian

pada orang yang ketakutan”

“Bila kita mengisi hati kita dengan

penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk

masa depan, kita tak memiliki hari ini

(48)

(Musa paradisiaca L.) Nama Mahasiswa : Susiwi Hayatina

NPM : 0714012021 Program Studi : Agroteknologi

Fakultas : Pertanian

Menyetujui

1. Komisi Pembimbing

Ir. Rugayah, M.P. Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc.

NIP 196111071986032002 NIP 196104021986031003

2. Ketua Program Studi Agroteknologi

(49)

1. Tim Penguji

Ketua : Ir. Rugayah, M.P. ………..

Sekertaris : Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc. ………..

Penguji : Ir. Tri Dewi Andalasari, M.Si. ………..

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M. S. NIP 196108261987021001

(50)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, 15 Agustus 1989. Penulis adalah anak pertama dari 2 bersaudara dari pasangan Bapak Giyatno dan Ibu Zoleha.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Hanura, Padang Cermin

Pesawaran pada tahun 2001. Pada tahun 2004, penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMPN 25 Bandar Lampung, sedangkan pendidikan

menengah atas diselesaikan di SMAN 2 Bandar Lampung pada tahun 2007. Pada

tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Hortikultura, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui

jalur Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB), dan pada tahun 2008 penulis diintegrasikan pada Program Studi Agroteknologi (AET), Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

(51)

Alhamdulillahi Rabbil ’alamin

(52)

“Doa memberikan kekuatan pada orang

yang lemah, membuat orang tidak percaya

menjadi percaya dan memberikan keberanian

pada orang yang ketakutan”

Bila kita mengisi hati kita dengan

penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran

untuk masa depan, kita tak memiliki hari ini

(53)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul: “Pengaruh Jenis

Bahan Organik dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan Bibit Pisang Muli (Musa paradisiaca L.)”.

Dengan selesainya penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang

setulus-tulusnya kepada :

1. Ibu Ir. Rugayah, M.P., selaku Pembimbing Utama yang telah memberikan

saran, bimbingan, motivasi dan pengarahan selama penelitian dan hingga selesainya penulisan skripsi.

2. Bapak Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc., selaku Pembimbing Kedua yang telah

memberikan saran, bimbingan, motivasi dan pengarahan selama penelitian dan penulisan skripsi.

3. Ibu Ir. Tri Dewi Andalasari, M.Si., selaku dosen Penguji yang telah memberi masukan dan pengarahan selama penelitian dan penulisan skripsi.

4. Ibu Ir. Azlina Heryati Bakrie, M.S., selaku Pembimbing Akademik atas

(54)

5. Bapak Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M. P., selaku ketua Program Studi

Agroteknologi Universitas Lampung.

6. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abas Zakaria, M. S., selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung.

7. Papa, mama, adikku Hargi Nugraha atas dukungan moral maupun material dan doa yang selalu diberikan kepada penulis.

8. Agustina Budi Astri, S.P., Ayu Septika, Fitri Mayasari, Maya Gusmarini, Ridho Hardian, Purdiana S. P., Khusnul Khotimah S. P., Arum Jayanti S. P.,

Prita Wulansari, S. P., Sumarmi S. P., Enggalih Melatri, Ahmad Komarudin, Tambat Arifin , Ali Mustofa, Poniran, Wisnu Wibowo atas bantuan, semangat

dan dukungan selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi.

9. Teman-teman Hortikultura angkatan 2006 dan 2007 atas persahabatan selama

ini.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan Bapak, Ibu, serta rekan-rekan semua. Amin.

Bandar Lampung, Januari 2012.

(55)

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, 15 Agustus 1989. Penulis adalah anak

pertama dari 2 bersaudara dari pasangan Bapak Giyatno dan Ibu Zoleha.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Hanura, Padang Cermin Pesawaran pada tahun 2001. Pada tahun 2004, penulis menyelesaikan pendidikan

menengah pertama di SMPN 25 Bandar Lampung, sedangkan pendidikan

menengah atas diselesaikan di SMAN 2 Bandar Lampung pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Hortikultura,

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB), dan pada tahun

2008 penulis diintegrasikan pada Program Studi Agroteknologi (AET), Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

Penulis melaksanakan Praktik Umum di PT. Mekar Unggul Sari Cileungsi Bogor, Jawa Barat pada tahun 2010 dan pernah menjadi asisten praktikum untuk mata

Figur

Gambar 1.  Bunga tanaman pisang.

Gambar 1.

Bunga tanaman pisang. p.17
Tabel 1.  Kandungan gizi dalam 100 gram buah pisang Muli

Tabel 1.

Kandungan gizi dalam 100 gram buah pisang Muli p.18
Gambar 2.  Pupuk organik cair Bio-Extrim.

Gambar 2.

Pupuk organik cair Bio-Extrim. p.23
Gambar 3.  Bibit tanaman pisang Muli hasil pembelahan bonggol yang telah berumur tiga bulan

Gambar 3.

Bibit tanaman pisang Muli hasil pembelahan bonggol yang telah berumur tiga bulan p.25
Gambar 4.  Aplikasi pupuk organik cair dengan cara disiramkan pada media tanam.

Gambar 4.

Aplikasi pupuk organik cair dengan cara disiramkan pada media tanam. p.26
Gambar 5.  Pembuangan daun kering

Gambar 5.

Pembuangan daun kering p.27

Referensi

Memperbarui...

Outline : Saran