MULYATI
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
i
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ”Dukungan Sosial dan Ekonomi Keluarga Terhadap Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Lansia di Kota Bogor” adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Tesis ini.
Bogor, Oktober 2012
Mulyati
ii
GUHARDJA
The purpose of this study is to (1)Identifying and analyze differences in socio-economic characteristics, social and socio-economic support quality of life and well-being of the elderly living alone and elderly live with children, (2) Analyze relationship socio-economic characteristics, social and economic support to the quality of life and well-being of the elderly, (3)Analyze the factors that affect quality of life and well-being of the elderly. The results showed there are differences in quality of life between elderly living alone and elderly live with children in term of economic support in the fulfillment of food, clothing among the elderly live alone and the elderly live with children. There are no significant differences in social support and welfare of the elderly but difference is in the condition of the house is currently occupied. There is significant relationship exists between the economic characteristics of individuals with the support of the work and age with quality of life. There is a relationship between economic and social support to the quality of life. And there is a relationship between quality of life and welfare of the elderly. Factors affecting the quality of life are the age and support awards and that affects the welfare of the elderly is the quality of life with dimensions of the psychological health and environment.
iii
MULYATI. Dukungan Sosial dan Ekonomi Keluarga Terhadap kualitas Hidup dan Kesejahteraan Lansia Di Kota Bogor. Dibimbing Oleh DIAH KRISNATUTI DAN SUPRIHATIN GUHARDJA.
Pada dasawarsa ini jumlah penduduk lanjut usia (lansia) mengalami peningkatan yang cukup mencolok. Adanya peningkatan jumlah penduduk lansia yang besar, menyebabkan beban ekonomi, sosial bertambah dan untuk mengurangi beban tersebut perlu ada pemanfaatan potensi lansia. Segala potensi yang dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan dipertahankan bahkan diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup yang
optimal (optimum Aging). Optimum aging bisa diartikan sebagai kondisi
fungsional lansia berada pada keadaan maksimum atau optimal, sehingga memungkinkan lansia bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan, berguna dan berkualitas. Dukungan keluarga baik berupa dukungan sosial dan ekonomi keluarga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan lansia. Dengan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan (1) Mengidentifikasi dan menganalisis perbedaan karakteritik sosial dan ekonomi, dukungan sosial, dukungan ekonomi, kualitas hidup dan kesejahteraan lansia yang mandiri dan hidup bersama keluarga; (2) Menganalisis hubungan karakteristik sosial ekonomi , dukungan sosial, dukungan ekonomi dengan kualitas hidup dan kesejahteraan lansia;(3) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan lansia.
iv
adalah sebagai ibu rumah tangga (51.6%) dan wirausaha (13.7%).
Sebagian besar (86.3%) LM memiliki anggota keluarga kecil dan separuh (50.6%) LA memiliki jumlah anggota keluarga sedang. Separuh contoh (50%) lansia berstatus janda atau duda meninggal. Hasil uji beda menunjukkan perbedaan yang nyata antara LM dan LA dalam besar keluarga. Hasil penelitian menunjukkan hampir separuh contoh (41.2% ) LM dan lebih dari separuh contoh (56.2%) LA berpendapatan kurang dari Rp. 500.000. Berdasarkan sumber pendapatan, dua pertiga LM (66.7%) berasal dari pensiun atau dari hasil bekerja, sedangkan untuk LA sumber pendapatannya berasal dari anak (58.9%).
Hasil penelitian menunjukkan baik LM (76.5%) maupun LA (74%) memperoleh dukungan sosial tinggi. Hasil uji beda tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara LM dan LA pada dukungan sosial total, namun terdapat perbedaan yang nyata dalam dukungan emosi dimensi berbagi persoalan dengan teman, dukungan penghargaan dimensi perhatian, rasa cinta dan kepedulian keluarga dan dukungan informasi.
Hasil penelitian menunjukkan dukungan ekonomi LM pada tingkatan sangat rendah (35.3%) demikian pula dengan LA dukungan ekonomi berada pada tingkatan rendah (41.1%). Hal ini disebabkan karena para lansia masih mempunyai penghasilan baik dari pensiunan maupun dari usaha (contohnya berdagang) .
Hasil penelitian menunjukkan hampir tiga perempat LM (74.5%) dan LA (71.2%) memiliki kualitas hidup dalam kategori sedang. Hasil uji beda menunjukkan perbedaan yang nyata (p≤0.10) pada LM dan LA. Hal ini berarti LM memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan LA yang terlihat dari kondisi kesehatan fisik LM lebih baik dari LA terutama dari rasa nyeri yang dirasakan , energy dan vitalitas, tidur dan istirahat.
Hasil penelitian menunjukkan hampir tiga perempat LM (74.5%) dan lebih dari tiga perempat LA (78.1%) memiliki kesejahteraan (kepuasan hidup) dalam katagori sedang. Hal ini berarti bahwa para lansia merasa puas dengan kehidupannya pada saat ini walaupun serba kekurangan. Hasil uji beda menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (p≤ 0.10) antara LM dengan LA. Terdapat perbedaan yang nyata pada kondisi rumah yang di tempati saat ini, karena LA lebih merasa puas dengan kondisi perumahan yang ditempati saat ini dibandingkan dengan LM. Hal ini mudah dimengerti karena kebutuhan LA di sediakan oleh anak.
v
diberikan oleh keluarga.Terdapat korelasi antara dukungan penghargaan
(r=.214 ; p≤0.05) dan dimensi dukungan emosi(r=.178 ; p≤0.05) dengan
kesejahteran lansia. Hal ini berarti bahwa kesejahteraan lansia akan diperoleh dari dukungan penghargaan yang berupa pujian, hadiah, pernyataan setuju, penilaian positif terhadap ide, menerima kekurangan dan dukungan emosi berupa ekspresi kasih sayang dan rasa cinta dari keluarga membuat lansia lebih sejahtera dan memperoleh kepuasan hidup. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan yang nyata dan positif antara kualitas hidup dengan kesejahteraan lansia ( r = 363; p≤0.01). Hal ini berarti bahwa semakin baik kualitas hidup maka semakin baik kesejahteran. Seluruh variabel dalam dimensi kualitas hidup (kesehatan fisik, kesehatan psikologis, relasi sosial dan lingkungan) berhubungan nyata. Koefisien korelasi terbesar adalah lingkungan (r=.0419; p ≤0.01)). Hal ini berarti lingkungan yang baik, terdiri dari akses informasi, pelayanan kesehatan, rekreasi, keamanan dan kenyamanan lingkungan fisik dan tempat tinggal dan sumber finansial berhubungan dengan tingkat kepuasan yang dirasakan para lansia.
Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan(p<0.05) pada kualitas hidup adalah usia dan dukungan penghargaan. Usia berpengaruh negatif nyata terhadap kualitas hidup. Faktor yang berpengaruh signifikan pada kesejahteraan adalah kesehatan psikologis(p<0.05) dan lingkungan (p<0.000).
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan pemberdayaan lansia diperlukan karena rendahnya pendapatan lansia (<Rp 500.000/bulan) dengan memberikan keterampilan yang bisa meningkatkan kesejahteraan lansia. Hal ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan program bina keluarga lansia melalui POSDAYA, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil lansia untuk dapat melakukan usaha kecil mandiri oleh lansia dan untuk lansia melalui keterampilan yang mampu dikerjakannya.
Dukungan sosial dari keluarga sangat diperlukan agar lansia merasa hidupnya bermanfaat. Terutama untuk lansia yang tinggal dengan anak, keluarga/anak harus memberikan perhatian serta mendorong lansia untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berada di lingkungan sehingga para lansia dapat bersosialisasi dengan baik. Keluarga juga diharapkan untuk memberi perhatian yang lebih kepada lansia yang tinggal dengan keluarga karena para lansia juga menginginkan perhatian, rasa cinta dan kepedulian tidak hanya materi yang diberikan. Keluarga diharapkan dapat memberikan informasi yang baik kepada lansia yang tinggal sendiri. Untuk meningkatkan kesejahteraan diperlukan dukungan sosial dan ekonomi dari keluarga. Dengan meningkatnya dukungan sosial dan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup baik dari kesehatan fisik, psikologis, relasi sosial dan lingkungan untuk mencapai
kesejahteraan.
vi
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau meyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
i
MULYATI
Tesis
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ii
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Tin Herawati, SP. M.Si
iii
NIM : I251090031
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Diah Krisnatuti, MS Dr. Ir. Suprihatin Guhardja, MS
Ketua Anggota
Koordinator Program Studi Dekan Sekolah Pasca
Ilmu Keluarga dan
Perkembangan Anak
Dr. Ir. Herien Puspitawati, MSc, MSc Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr
iv
SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi sekaligus tesis ini. Penulisan tesis ini tentu tidak terlepas dari dorongan semangat dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Oleh karena itu ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada:
1. Dr. Ir . Diah Krisnatuti, MS dan Dr. Ir. Suprihatin Guhardja, MS. selaku komisi pembimbing atas bimbingan, waktu, nasehat, kesabaran, kesempatan, dan ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan tesis ini.
2. Dr. Tin Herawati, SP. M.Si selaku dosen penguji luar komisi atas atas kesediaan dan waktunya untuk menjadi penguji pada ujian tesis.
3. Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc. selaku dosen perwakilan program studi IKA. Terima kasih atas kesediaan, nasehat, semangat dan masukan yang
diberikan kepada penulis, baik saat studi maupun saat ujian tesis.
4. Rekan-rekan staff pengajar di Jurusan Tata Boga dan PKK UNJ atas pengertiannya dan kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk melanjutkan studi.
5. Yayasan Damandiri yang telah memberikan beasiswa penelitian .
6. Kepala Puskesmas Semplak, Baranang Siang , Pulo Armin dan para kader Posbindu atas bantuannya selama penulis melakukan penelitian. 7. Seluruh keluarga, terutama suami dan anak-anak tercinta (Aditya dan
Nasywaa ), yang telah mencurahkan cinta, kasih sayang, do’a, semangat, pengorbanan moril dan materil untuk keberhasilan penulis menyelesaikan studi ini, serta Papa dan Mama yang selalu mendo’akan penulis’
8. Teman-teman IKA angkatan 2009, Mba Kenty, Ilham, Dian, Wiwik, Nia dan Puji, yang telah menemani hari-hari indah penuh makna selama menjalani studi ini serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas pelajaran kehidupan yang telah diberikan selama menjalani studi ini. Semoga tesis ini dapat bermanfaat.
v
anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Muslih Hambali dan ibu Eti Hayati.
vi
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR... x
DAFTAR LAMPIRAN... xi
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang... 1
Rumusan Masalah... 4
Tujuan Penelitian... 7
Manfaat Penelitian... 7
TINJAUAN PUSTAKA... 9
Pengertian keluarga dan Pendekatan Teori... 9
Pengertian Keluarga... 9
Teori Struktural Fungsional... 9
Teori Ekologi Keluarga... 10
Teori Perkembangan Keluarga... 11
Lanjut Usia... 12
Pengertian Lansia... 12
Batasan Lanjut Usia (Lansia)... 13
Proses Menua (Aging)... 14
Teori Penuaan... 15
Kesejahteraan Lansia... 16
Kualitas Hidup... 17
Definisi Kualitas hidup... 17
Ruang Lingkup Kualitas Hidup... 18
Dukungan Bagi Lansia... 20
Dukungan Sosial... 20
Dukungan Ekonomi... 24
Keluarga Sebagai Sumber Dukungan... 25
KERANGKA PEMIKIRAN... 27
METODE PENELITIAN... 31
Desain,Tempat dan Waktu Penelitian... 31
Populasi dan Penentuan Sampel... 31
Jenis dan Cara Pengumpulan Data... 33
Pengolahan dan Analisis Data... 34
Definisi Operasional... 40
HASIL DAN PEMBAHASAN... 43
Karakteristik Umum Lokasi Penelitian... 43
Karakteristik Lansia Contoh……… 48
Jenis Kelamin………. 48
Usia………. 48
Pendidikan……….. 50
vii
Status Perkawinan……… 53
Pendapatan……… 53
Status Tempat Tinggal………. 55
Dukungan Sosial……….. 56
Dukungan Ekonomi... 60
Kualitas Hidup... 62
Kesejahteraan Subyekif... 74
Hubungan Variabel Penelitian... 76
Karakteristik Individu dengan Dukungan Sosial, Dukungan Ekonomi, Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Lansia... 76 Dukungan Ekonomi dengan Dukungan Sosial, Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Lansia... 77 Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Lansia... 77 Kualitas Hidup dan Kesejahteraan... 78
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Hidup Lansia.. 79
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kesejahteraan Lansia.. 80
Pembahasan umum... 82
SIMPULAN DAN SARAN... 85
Simpulan... 85
Saran... 86
viii
Halaman
1.
Persentase penduduk lansia menurut pendidikan tertinggiyang ditamatkan dan jenis Kelamin...
3
2. Sebaran Posbindu terpilih disetiap kecamatan dan kelurahan.. 32
3. Jenis, metode dan skala. ... 33 4. Nilai alpha cronbach variabel penelitian yang digunakan... 34 5. Variabel pengukuran dan penilaian... 35 6. Katagori dukungan sosial, dukungan ekonomi, kualitas hidup
dan kesejahteraan lansia...
39 7. Sebaran penduduk berdasarkan kkelompok umur... 46 8. Sebaran penduduk berdasarkan jenis pekerjaan... 47 9. Sebaran penduduk menurut tingkat pendidikan... 47 10. Sebaran contoh berdasarkan jenis pekerjaan dan jenis
Kelamin...
52 11. Sebaran contoh yang selalu mendapatkan dukungan sosial
dimensi dukungan emosional...
56 12. Sebaran contoh yang selalu mendapatkan dukungan sosial
dimensi dukungan penghargaan...
57
13. Sebaran contoh yang selalu mendapatkan dukungan sosial
dimensi dukungan informasi
...
58 14. Sebaran contoh yang selalu mendapatkan dukungan sosial
dimensi dukungan instrumental...
59
15. Sebaran contoh yang selalu mendapatkan dukungan ekonomi 61
16. Sebaran contoh yang selalu terganggu pada kesehatan umum 63
17. Sebaran contoh yang selalu merasakan gangguan
kesehatan fisik aspek rasa nyeri...
64 18. Sebaran contoh selalu merasa terbatasi kesehatan fisik
aspek energi dan vitalitas...
65 19. Sebaran contoh selalu merasakan gangguan pada kesehatan
fisik aspek tidur dan istirahat...
66 20. Sebaran contoh yang selalu merasakan kesulitan
Kesehatan fisik aspek mobilitas...
67
21. Sebaran contoh yang selalu mengalami gangguan kesehatan
fisik aspek aktifitas sehari-hari...
67
22. Sebaran contoh yang selalu merasakan gangguan kesehatan
fisik aspek kemampuan bekerja...
68 23. Sebaran contoh yang setuju berdasarkan kualitas hidup
dimensi kesehatan psikologis...
70
24. Sebaran contoh yang merasa puas dalam dimensi relasi
sosial aspek hubungan personal...
71 25. Sebaran contoh yang merasa puas berdasarkan kualitas
hidup dimensi relasi sosial aspek hubungan sosial...
72 26. Sebaran contoh yang selalu merasa puas pada dimensi
lingkungan aspek akses informasi, pelayanan kesehatan dan rekreasi...
72
ix
dimensi lingkungan aspek sumber financial... 29. Sebaran contoh yang merasa puas berdasarkan
kesejahteraan lansia ditinjau dari aspek kepuasan hidup...
75 30. Sebaran koefisien korelasi antara karakteristik individu,
dukungan sosial, dukungan ekonomi, kualitas hidup dan kesejahteraan lansia...
76
31. Sebaran koefisien korelasi dukungan sosial, kualitas hidup dan kesejahteraan lansia………...
78 32. Sebaran koefisien korelasi kualitas hidup dan kesejahteraan
Lansia...
78 33 Hasil uji regresi linear berganda faktor-Faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup...
80 34. Hasil uji regresi linear berganda faktor-faktor yang
mempengaruhi kesejahteraan lansia...
x
1. Kerangka pemikiran……….. 30
2. Diagram pengambilan contoh………... 32
3. Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin dan status tinggal.. 48
4. Sebaran contoh berdasarkan usia dan status tinggal 49
5. Sebaran usia berdasarkan jenis kelamin... 49 6. Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan dan status
tinggal...
50 7. Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis
kelamin...
51 8. Sebaran contoh berdasarkan jenis pekerjaan dan status
tinggal...
51 9. Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga dan status
tinggal...
53 10. Sebaran contoh berdasarkan status perkawinan dan status
tinggal...
53
11. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan dan status tinggal... 54
12. Sebaran contoh berdasarkan sumber pendapatan dan status tinggal...
55 13. Sebaran contoh berdasarkan status rumah dan status tinggal.. 55 14. Sebaran contoh berdasarkan tingkatan dukungan Sosial... 60 15. Sebaran contoh berdasarkan tingkat dukungan ekonomi... 62 16. Sebaran contoh berdasarkan tingkatan kualitas hidup... 74 17. Sebaran contoh berdasarkan tingkatan Kesejahteraan
(Kepuasaan Hidup)...
xi
PENDAHULUAN Latar Belakang
Lanjut Usia (lansia) merupakan tahap akhir siklus perkembangan
manusia. Masa di mana semua orang berharap akan menjalani hidup dengan
tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta
dengan penuh kasih sayang. Pada dasawarsa ini jumlah penduduk lansia
mengalami peningkatan yang cukup mencolok. Peningkatan ini menurut para ahli
terjadi di hampir semua negara termasuk kawasan Asia seperti Jepang,
Hongkong, Singapore, Korea, China, Thailand, dan Indonesia. Berdasarkan
laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1980 jumlah penduduk lansia
di Asia Tenggara mencapai 13.146 juta jiwa atau sama dengan 3.7 %, pada
tahun 1990 meningkat menjadi 3.9% ( 17.147 juta jiwa), tahun 2000 menjadi
4.7% (24.893 juta jiwa) dan diperkirakan pada tahun 2025 mencapai 7.2% dari
jumlah penduduk (Hardywinoto dan Setiabudhi, 2005).
Peningkatan jumlah penduduk lansia sejalan dengan peningkatan usia
harapan hidup. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro
Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980 : 55.30
tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS.2000
diacu dalam Suhartini 2004). Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia
meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Sejak tahun 2000 penduduk
Indonesia sudah tergolong berstruktur tua. Suatu wilayah disebut berstruktur tua
jika persentase lansia lebih dari 7 persen . Jika dilihat sebaran penduduk lansia
menurut provinsi, persentase penduduk lansia di atas 10 persen ada di provinsi
D.I. Yogyakarta (14,02 persen), Jawa Tengah (10,99 persen), Jawa Timur (10,92
persen) dan Bali (10,79 persen) (Komnas Lansia 2009)
Peningkatan jumlah penduduk lansia ini antara lain disebabkan
membaiknya tingkat sosial ekonomi masyarakat, kemajuan di bidang pelayanan
kesehatan, dan meningkatnya tingkat pengetahuan masyarakat. Peningkatan
jumlah lansia akan membawa dampak terhadap kehidupan sosial ekonomi baik
dalam keluarga atau masyarakat luas. Implikasi ekonomis yang penting dari
meningkatnya jumlah penduduk adalah peningkatan dalam rasio ketergantungan
lansia (old age ratio dependency). Hal ini berarti bahwa setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk lansia. Wirakartakusuma
lansia pada tahun 1995 adalah 6,93% dan tahun 2015 menjadi 8,74% yang
berarti bahwa pada tahun 1995 sebanyak 100 penduduk produktif harus
menyokong tujuh orang lansia yang berumur 65 tahun ke atas sedangkan pada
tahun 2015 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong sembilan orang
lansia yang berumur 65 tahun ke atas. Adanya peningkatan jumlah penduduk
lansia yang besar, menyebabkan beban ekonomi, sosial bertambah dan untuk
mengurangi beban tersebut perlu ada pemanfaatan potensi lansia. Segala
potensi yang dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan
dipertahankan bahkan diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup yang
optimal (optimum Aging). Optimum aging bisa diartikan sebagai kondisi fungsional lansia berada pada keadaan maksimum atau optimal, sehingga
memungkinkan bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna,
membahagiakan, berguna dan berkualitas.
Proses penuaan menjadi lansia adalah sebuah proses alamiah bagi
setiap manusia yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun dalam kedudukan
apapun. Hurlock (1994) menguraikan permasalahan umum yang berhubungan
dengan lansia, antara lain ; (1) keadaan fisik lemah dan tidak berdaya, (2) status
ekonominya sangat terancam, (3) penyesuaian kondisi hidup dengan perubahan
status ekonomi dan kondisi fisik, (4) mengembangkan kegiatan baru yang lebih
cocok untuk orang yang berusia lanjut, dan lain-lain.
Penurunan kondisi fisik lansia berpengaruh pada kondisi psikis. Secara
fisik, berubahnya penampilan dan menurunnya fungsi panca indra dapat
menyebabkan para lansia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa
tidak berguna lagi dan masalah psikis adalah rasa kesepian. Permasalahan lain
yang dialami para lansia adalah pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti
kebutuhan sandang, pangan, perumahan, kesehatan, rekreasi dan sosial.
Kondisi fisik dan psikis para lansia yang menurun untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari yang semakin meningkat, seperti kebutuhan akan makanan
bergizi seimbang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perawatan bagi yang
menderita penyakit ketuaan dan kebutuhan rekreasi. Pemenuhan kebutuhan
sehari-hari lansia berasal dari pensiun, tabungan, bantuan keluarga dan lain-lain.
Bagi lansia yang memiliki asset dan tabungan cukup, tidak terlalu banyak
masalah, tetapi bagi lansia yang tidak memiliki jaminan hari tua dan tidak
memiliki aset dan tabungan yang cukup maka pilihan untuk memperoleh
Kualitas hidup penduduk lansia umumnya masih rendah. Kondisi ini dapat
terlihat dari sebagian besar penduduk lansia tidak/belum pernah sekolah dan
tidak tamat SD. Jika dibandingkan antar jenis kelamin, pendidikan tertinggi yang
ditamatkan lanjut usia perempuan secara umum lebih rendah dibandingkan
lansia laki-laki (BPS 2007 dalam Komnas Lansia 2009)).
Tabel 1 : Persentase penduduk lansia menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan jenis kelamin 2005, 2007 dan 2009.
Tingkat pendidikan yang
2005 2007 2009
ditamatkan L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Tdk/blm pernah sekolah
24.62 51.21 38.53 20.61 49.47 36.12 17.87 44.53 32.28
Tdk Tamat SD 33.27 27.49 30.25 32.27 27.27 29.58 31.44 27.89 29.52
SD 25.96 14.76 20.10 27.48 15.16 20.86 29.27 17.68 23.01
SMP 6.50 3.30 4.83 7.78 4.01 5.75 7.69 4.30 5.85
SMA 7.10 2.69 4.79 8.20 3.29 5.56 9.78 4.33 6.83
PT 2.55 0.54 1.50 3.66 0.81 2.13 3.96 1.27 2.51
Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100
Sumber : BPS RI-Susenas 2005, 2007 dan 2009 (Komnas Lansia, 2009)
Selain pendidikan, penduduk lansia juga mengalami masalah kesehatan.
Lansia yang sakit-sakitan akan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan
bahkan pemerintah, sehingga akan menjadi beban dalam pembangunan. Oleh
sebab itu, harus diusahakan masa lansia tetap sehat, produktif dan mandiri. Hal
ini tidak akan tercapai bila tidak mempersiapkan masa lansia sejak usia dini. Dari
sisi ekonomi, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) penduduk lansia masih
cukup tinggi, pada tahun 2009, TPAK penduduk lansia sebesar 47,85 persen.
TPAK penduduk lansia laki-laki (63,65 persen) hampir dua kali lipat lebih tinggi
dibandingkan lansia perempuan (33,84 persen). Dari hasil penelitian yang
dilakukan Komnas Lansia pada tahun 2008, ditemukan bahwa alasan paling
umum lansia masih bekerja adalah karena ekonomi yang tidak mencukupi,
alasan lain adalah karena ingin tetap aktif dan mandiri, sedangkan alasan lansia
tidak bekerja adalah karena kesehatan yang memburuk (Komnas Lansia , 2009)
Arah kebijakan tentang lansia sebenarnya lebih menitik beratkan pada
keluarga sebagai penanggungjawab utama terhadap lansia. Dalam hal ini
dukungan dari keluarga diharapkan menjadi kunci utama untuk kesejahteraan
lansia, namun pada kenyataannya di berbagai negara terjadi penurunan
dukungan dari anak terhadap lansia. Bagi lansia yang mandiri secara finansial,
dukungan yang perlu diberikan adalah perawatan, namun seiring dengan
berkurangnya curahan waktu yang diberikan untuk merawat lansia sehingga
diperlukan peran pengganti (Noveria, 2000)
Dukungan dari keluarga sangat diperlukan oleh para lansia baik
dukungan sosial maupun ekonomi. Dukungan keluarga dapat memberikan
kekuatan satu sama lain dan kemampuan anggota keluarga menciptakan
suasana saling memiliki untuk memenuhi kebutuhan pada perkembangan
keluarga usia lanjut. Keluarga merupakan tempat berlindung dari
tekanan-tekanan fisik maupun psikis yang datang dari lingkungannya. Dengan dukungan
yang diperoleh dari keluarga, lansia akan mencapai kualitas hidup yang lebih
baik untuk mencapai kesejahteraan lansia.
Rumusan Masalah
Peningkatan jumlah penduduk lansia ini sebagai konsekuensi dari
peningkatan usia harapan hidup. Peningkatan usia harapan hidup penduduk
Indonesia ini merupakan indikasi berhasilnya pembangunan jangka panjang
salah satu di antaranya yaitu bertambah baiknya keadaan ekonomi dan taraf
hidup masyarakat. Peningkatan jumlah penduduk lansia di seluruh dunia, dan
khususnya di Indonesia, memunculkan permasalahan tersendiri, terutama dari
sisi kesiapan pemerintah serta masyarakat untuk mendukung kehidupan dan
menjamin kesejahteraan lansia. Permasalahan terbesar yang menimpa lansia
adalah masalah kesehatan, penurunan kondisi fisik dan kesepian. Sehingga
penting kiranya melihat dukungan sosial lansia guna membantu lansia dalam
menyesuaikan diri dengan kondisi tuanya. Menurut Kuntjoro (2002) dukungan
sosial merupakan bantuan atau dukungan yang diterima individu dari
orang-orang tertentu dalam kehidupannya dan berada pada lingkungan sosial tertentu
yang membuat si penerima merasa diperhatikan, dihargai dan dicintai.
Dengan semakin meningkatnya penduduk lansia, dibutuhkan perhatian
dari semua pihak dalam mengantisipasi berbagai permasalahan yang berkaitan
dengan penuaan penduduk. Fenomena ini menimbulkan permasalahan global.
Permasalahan ini disebabkan keterbatasan lansia terutama karena faktor usia
dan biologis. Bantuan dan perlindungan bagi lansia diperlukan di berbagai
bidang seperti kesempatan kerja, kesehatan, pendidikan dan pelatihan,
kemudahan dalam penggunaan fasilitas dan sarana serta prasarana umum,
Selain itu lansia yang berpengalaman dan memiliki keahlian perlu diberi
kesempatan untuk tetap turut serta berpartisipasi dalam pembangunan dan hidup
bermasyarakat (Komnas Lansia, 2009).
Arah kebijakan lansia sebenarnya lebih menitik beratkan pada keluarga
sebagai penanggungjawab utama terhadap lansia. Dalam hal ini dukungan dari
keluarga diharapkan menjadi kunci utama untuk kesejahteraan lansia . Kebijakan
pemerintah untuk membangun perumahan dalam ukuran yang kecil
menyebabkan lansia tidak dapat hidup dengan anak karena keterbatasan tempat
tinggal (Kantor Meneg Kependudukan/BKKBN ,1998). Perubahan sosial di
masyarakat yaitu perubahan struktur keluarga dari keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) ikut membawa perubahan terhadap lansia. Sebelumnya lansia tinggal bersama dalam satu rumah dengan anggota
keluarga lainnya, namun perubahan menyebabkan lansia tinggal terpisah
dengan anak-anak.
Demikian juga di zaman modernisasi, hubungan orang muda dan orang
tua semakin renggang. Kesibukan yang melanda kaum muda hampir menyita
seluruh waktunya, sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk memikirkan
orang tua. Kondisi seperti ini menyebabkan kurangnya komunikasi antara orang
tua dan anak, kurangnya perhatian dan pemberian perawatan terhadap orang
tua. Keluarga, sebagai bagian dari suatu komunitas masyarakat, merupakan
lingkaran terdekat dan merupakan sumber utama dari dukungan sosial yang
dimiliki lansia. Walaupun demikian, bagi anak yang harus menjaga dan
mengurus orang tua yang sudah lansia tidaklah mudah, dan sering kali
menimbulkan kecemasan dan tekanan. Ada tiga sumber tekanan bagi keluarga
yang harus mengurus lansia: (1) Kesulitan menghadapi kenyataan menurunnya
kemampuan orang tua, terutama bila melibatkan penurunan kemampuan
kognitifnya. Bila keluarga tidak memahami penyebab-penyebab, ketidaktahuan
ini akan menimbulkan kecemasan, ambivalensi, serta sikap antagonis terhadap
orang tua yang sudah lansia; (2) Bila situasi membuat lansia merasa
terkungkung, atau sampai menganggu peran serta tanggung jawab anak
(misalnya sebagai istri/suami, orang tua, karyawan), maka akan menimbulkan
perasaan marah dan rasa bersalah, di samping kecemasan dan depresi, baik
bagi lansia itu sendiri maupun anak atau keluarga yang mengurusnya; (3) Bila
tanggung jawab seperti apa yang harus diberikan oleh keluarga dan seberapa
tanggung jawab tersebut harus dilakukan (Achir 2001).
Kondisi perkotaan yang berpacu untuk memperoleh kekuasaan dan
kekayaan banyak menimbulkan rasa kecemasan, ketegangan, ketakutan, bagi
penduduknya yang dapat menyebabkan penyakit mental. Kondisi perkotaan
yang besifat individualisme menyebabkan kontak sosial menjadi longgar
sehingga penduduk merasa tidak aman, kesepian dan ketakutan. Untuk
memperbaiki kualitas sumber daya manusia lansia perlu mengetahui kondisi
lanjut usia di masa lalu dan masa sekarang sehingga orang lanjut usia dapat
diarahkan menuju kondisi kemandirian. Sehubungan dengan kepentingan
tersebut perlu diketahui kondisi lansia yang menyangkut kondisi kesehatan,
kondisi ekonomi, dan kondisi sosial. Dengan mengetahui kondisi-kondisi itu,
maka keluarga, pemerintah, masyarakat atau lembaga sosial lainnya dapat
memberikan perlakuan sesuai dengan masalah yang menyebabkan lansia
tergantung pada orang lain. Lansia dapat mengatasi persoalan hidupnya maka
dapat ikut serta mengisi pembangunan salah satunya yaitu tidak tergantung pada
orang lain, dengan demikian angka ratio ketergantungan akan menurun,
sehingga beban pemerintah akan berkurang (Wiratakusumah 2002).
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang
akan diteliti, yaitu :
1. Bagaimana karakteristik lansia yang hidup mandiri dan hidup dengan
anak?
2. Bagaimana dukungan sosial dan ekonomi lansia yang hidup mandiri dan
hidup dengan anak?
3. Bagaimana kualitas hidup dan kesejahteraan lansia yang mandiri dan
hidup dengan anak?
4. Seberapa besar hubungan dukungan sosial dan ekonomi keluarga
terhadap kualitas hidup lansia ?
5. Apakah ada hubungan antara kualitas hidup dengan kesejahteraan
lansia?
6. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kualitas hidup dan
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh dukungan ekonomi dan sosial keluarga terhadap kualitas
hidup lansia untuk meningkatkan kesejahteraan lansia.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
1. Mengidentifikasi dan menganalisis perbedaan karakteritik sosial dan
ekonomi, dukungan sosial, dukungan ekonomi, kualitas hidup dan
kesejahteraan lansia yang mandiri dan hidup dengan anak.
2. Menganalisis hubungan karakteristik sosial ekonomi , dukungan sosial,
dukungan ekonomi dengan kualitas hidup dan kesejahteraan lansia,
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup dan
kesejahteraan lansia.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi keluarga agar dapat memenuhi
kebutuhan lansia guna meningkatkan kualitas hidup lansia. Dan dapat
menjadikan acuan bagi lansia untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup
lansia sehingga para lansia dapat hidup mandiri.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi penelitian lansia selanjutnya
terutama ditinjau dari segi ilmu keluarga dan sebagai panduan untuk bahan
ajar bagi para pendidik dibidang ilmu keluarga khususnya lansia.
3. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapakan akan dapat menjadikan informasi untuk pemerintah
dalam menentukan kebijakan yang berkaiatan dengan permasalahan lansia
mengingat Indonesia saat ini sedang memasuki negara berstruktur lanjut
4. Bagi LSM
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk para LSM agar dapat
membuat program-program pemberdayaan masyarakat khususnya program
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Keluarga dan Pendekatan Teori
Pengertian Keluarga
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992, keluarga adalah suatu
kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan
adopsi serta berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan
sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, anak laki dan perempuan, saudara
laki-laki dan perempuan serta merupakan pemelihara kebudayaan bersama.
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri atau
suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.
Mattessich dan Hill (1987) diacu dalam Zeitlin et al. (1995) mendefinisikan
keluarga sebagai suatu kelompok dimana anggotanya memiliki kekerabatan,
tempat tinggal, atau hubungan emosional yang sangat erat. Keluarga sebagai
sebuah sistem sosial mempunyai tugas atau fungsi agar sistem tersebut berjalan.
Tugas tersebut berkaitan dengan pencapaian tujuan, integritas dan solidaritas,
serta pola keseimbangan atau pemeliharaan keluarga artinya adalah bahwa
dalam mempertahankan eksistensi institusinya, keluarga dalam melaksanakan
tugas-tugasnya tidak lepas dari pola keseimbangan (Megawangi 1999).
Teori Struktural Fungsional
Pendekatan struktural-fungsional adalah pendekatan teori sosiologi yang
dapat diterapkan dalam institusi keluarga. Keluarga sebagai sebuah institusi
dalam masyarakat mempunyai prinsip-prinsip serupa yang terdapat dalam
kehidupan sosial masyarakat. Pendekatan ini mengakui adanya keragaman
dalam kehidupan sosial yang merupakan sumber utama dari adanya struktur
masyarakat dan keragaman dalam fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam
struktur sebuah sistem (Megawangi 1999).
Pendekatan teori struktural-fungsional dapat digunakan untuk
menganalisa peran anggota keluarga agar keluarga dapat berfungsi dengan baik
untuk menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat (Muflikhati 2010). Menurut
teori struktural fungsional, keluarga juga dapat dilihat sebagai subsistem dalam
masyarakat (Megawangi 1999). Keluarga dalam subsistem masyarakat tidak
akan terlepas dari interaksinya dengan subsistem-subsistem lainnya yang ada
Dalam interaksi tersebut keluarga berfungsi untuk memelihara keseimbangan
sosial dalam masyarakat (equilibrum state).
Salah satu aspek penting dari perspektif struktural-fungsional adalah
bahwa setiap keluarga yang sehat terdapat pembagian peran atau fungsi yang
jelas, fungsi tersebut terpolakan dalam struktur hirarki yang harmonis dan ada
komitmen terhadap terselenggaranya peran atau fungsi itu. Peran adalah
sejumlah kegiatan yang diharapkan bisa dilakukan oleh setiap anggota keluarga
sebagai subsistem keluarga dengan baik untuk mencapai tujuan sistem.
Sejumlah kegiatan atau aktivitas yang memiliki kesamaan sifat dan tujuan
dikelompokkan ke dalam sebuah fungsi.
Teori Ekologi Keluarga
Konsep Ekologi manusia menyangkut saling ketergantungan antara
manusia dengan lingkungan, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya
buatan. Pendekatan ekologi atau ekosistem menyangkut hubungan
interdependensi antara manusia dan lingkungan di sekitamya sesuai dengan
aturan norma kultural yang dianut. Konsep ekologi manusia juga dikaitkan
dengan pembangunan. Keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan sangat
bergantung pada faktor manusianya yaitu seluruh penduduk dan sumberdaya
alam yang dimiliki serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah
ekologi menetapkan adanya ketahanan atau ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan yang serasi dari seluruh subsistem (Soerjani,
2000 dalam Puspitawati, 2009)
Pendekatan ekologi keluarga merupakan teori yang dapat digunakan untuk
mengkaji beragam masalah berkaitan dengan keluarga dalam hubungannya
dengan beragam lingkungan. Nilai moral dasar ekologi keluarga terletak pada
saling ketergantungan manusia dengan alam, kebutuhan manusia untuk hidup
berdampingan satu sama lain dan kebutuhan untuk hidup lebih baik. Nilai moral
dasar tersebut diimplementasikan dalam kemampuan adaptasi, daya untuk hidup
(survival) dan pemeliharaan keseimbangan (equilibrum atau homeostatis) untuk mengkaji kehidupan manusia yang lebih baik (Sunarti, 2007)
Menurut Deacon dan Firebaugh (1988), lingkungan keluarga dapat
diklasifikasikan menjadi lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan
mikro adalah kondisi-kondisi di sekitar keluarga baik dalam arti lokasi maupun
Kedua lingkungan ini menjadi penyangga dalam menyerap berbagai masukan
dari lingkungan makro. Lingkungan makro atau larger enviroment merupakan aspek yang ada di luar sistem keluarga dan lingkungan mikronya. Keluarga akan
mempunyai efek yang kecil terhadap atau bahkan tidak bisa mengontrol keadaan
dari lingkungan makro. Pada hakekatnya, lingkungan makro dapat
dikelompokkan menjadi (a) lingkungan yang berkaitan dengan sistem
kemasyarakatan, yaitu sosial budaya, politik, ekonomi dan teknologi dan (b)
lingkungan alam dan buatan disekitarnya, yaitu Kondisi alam (sumberdaya alam)
serta struktur yang melingkupi seluruh ekosistem seperti struktur sosial dan
kebijakan pemerintah
Teori Perkembangan Keluarga
Teori perkembangan keluarga menjelaskan perkembangan keluarga
secara dinamis dan mengklasifikasikannya ke dalam satu rangkaian tahap
perkembangan yang jelas. Tahap-tahap perkembangan dianggap sebagai
masa-masa stabilitas relatif yang berbeda secara kuantitatif dan kualitatif diantara
tahap-tahapnya. Empat asumsi dasar tentang teori perkembangan keluarga: (1)
Keluarga berkembang dan berubah dari waktu ke waktu dengan cara-cara yang
sama dan dapat diprediksi; (2) Manusia menjadi matang karena berinteraksi
dengan orang lain, sehingga mereka memulai tindakan-tindakan serta reaksi
terhadap tuntutan lingkungannya; (3) Keluarga dan anggotanya melakukan
tugas-tugas tertentu yang ditetapkan oleh mereka sendiri atau oleh konteks
budaya dan masyarakat;(4) Kecenderungan keluarga untuk memulai dengan
sebuah awal dan akhir yang kelihatan jelas.
Teori perkembangan keluarga meningkatkan pemahaman tentang
keluarga pada titik yang berbeda dalam berbagai siklus kehidupan mereka dan
menghasilkan deskripsi yang khas tentang kehidupan keluarga dalam berbagai
tahap perkembangannya. Setiap fase perkembangan keluarga menghadapi
tugas-tugas baru dan belajar teknik adaptasi yang sesuai. Duvall (1962)
menggambarkan tipe siklus keluarga dari keluarga utuh dengan lingkaran yang
memiliki 8 sektor. Lingkaran ini dapat membantu menempatkan keluarga berada
difase yang mana dan memprediksi kapan setiap fase akan dicapai. Dalam fase
perkembangan Duvall, lansia memasui fase kehidupan ke 8 yaitu masa tahap
terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun,
berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.
karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Stressor
tersebut adalah berkurangnya pendapatan, kehilangan berbagai hubungan
social, kehilangan pekerjaan serta perasaan menurunnya produktivitas dan
fungsi kesehatan.
Menurut Duvall tugas perkembangan lansia meliputi: (1) Menemukan
rumah yang memuaskan untuk akhir-akhir tahun kehidupan; (2) Menyesuaikan
diri terhadap masa pensiun; (3) Membentuk rutinitas rumah tangga yang
nyaman; (4) Saling menjaga satu sama lain sebagai suami istri; (5) Menghadapi
kehilangan pasangan; (6) Mempertahankan hubungan dengan anak dan cucu;
(7) Menjaga minat terhadap orang di luar keluarga; (8) Saling merawat antara
satu sama lain sesama lansia; (9) menemukan makna hidup (life review). Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan merupakan tugas
utama keluarga pada tahap ini.
Berdasarkan teori perkembangan Erikson (Latifah 2000), lansia
dikelompokkan kedalam tahap perkembangan psikososial yang disebut ego integrity versus despair. Ego integrity mengacu pada kemampuan untuk melihat kebelakang tentang kekuatan dan kelemahan seseorang dengan rasa harga diri
(dignity), optimis dan kearifan. Sementara despair mengacu pada keputusasaan sebagai akibat masalah fisik, kesulitan ekonomi, isolasi sosial dan kurangnya
pekerjaan yang berarti dalam kehidupan di usia lansia. Dalam hal ini, tentu saja
yang diharapkan adalah lansia yang mampu mencapai ego integriity dan bukan sebaliknya. Jika individu tersebut sukses mencapai tugas ini maka dia akan
berkembang menjadi individu yang arif dan bijaksana (menerima dirinya apa
adanya, merasa hidup penuh arti, menjadi lansia yang bertanggung jawab dan
kehidupannya berhasil). Namun jika individu tersebut gagal mencapai tahap ini
maka dia akan hidup penuh dengan keputusasaan (lansia takut mati, penyesalan
diri, merasakan kegetiran dan merasa terlambat untuk memperbaiki diri).
Lanjut Usia
Pengertian Lansia
Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup
seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari
periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang
kesejahteraan lansia menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang
mencapai usia 60 tahun ke atas. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut
usia, ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek
ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia
adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang
ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban
dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan
masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai
beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara
negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat (Suhartini 2004). Dari aspek
sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di negara
Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini
dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh
terhadap pengambilan keputusan serta luasnya hubungan sosial yang semakin
menurun. Akan tetapi di Indonesia penduduk lanjut usia menduduki kelas sosial
yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda. (Suara Pembaharuan 14
Maret 1997 dalam Suhartini 2004) Batasan Lanjut Usia (lansia)
Ada berbagai macam batasan kapan seseorang dikatakan lansia. Di
Indonesia, lanjut usia dimulai sejak usia 60 tahun sesuai dengan yang tertera
pada Undang-Undang no : 13/1998 tentang Kesejahteraan Lansia (pasal 1 ayat
2). Lebih lanjut dijelaskan dalam pasal 1 ayat 3 dan 4 bahwa lansia itu ada dua
macam, yaitu Lansia potensial dan lansia tidak potensial. Lansia potensial adalah
lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang
dapat menghasilkan barang dan/atau Jasa. Sedangkan Lansia tidak potensial
adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah schingga hidupnya
bergantung pada bantuan orang lain. Di Amerika, usia 65 tahun digunakan
sebagai benchmark dalam mengelompokkan penduduk berusia lanjut.
Hawari (dalam Mulia, 2009) menyebutkan bahwa di dalam gerontologi,
menjelaskan bahwa dari segi kesehatan, lansia dapat dikelompokkan menjadi 2
golongan, yaitu : (1) Kelompok well old, yakni sehat, tidak sakit-sakitan; (2) Kelompok sick old, yakni lansia yang menderita penyakit dan memerlukan pertolongan medis dan psikiatris.
World Health Organization (WHO) membagi umur tua sebagai berikut :
(1) Usia pertengahan (middle age), yakni kelompok usia 45-59 tahun; (2) Usia lanjut (elderly) kelompok usia 60-74 tahun; (3) Tua (old) antara 75-90 tahun; (4) Sangat tua (very old) kelompok usia di atas 90 tahun. Sedangkan Wattie (2007 )menjelaskan bahwa konsep lansia dapat dijelaskan dari usia kronologis dan usia
biologis. Usia kronologis mengacu pada usia yang sebenarnya, yakni usia
dihitung berdasarkan jumlah tahun yang telah dilalui dalam kehidupan
seseorang. Sedangkan Usia biologis diperhitungkan berdasarkan faktor fisik,
mental, dan sosial yang dialami oleh individu, yang ditentukan oleh faktor
genetik, kualitas gizi, gaya hidup, dan kesakitan.
Burnside (1979) diacu dalam Arisanti (2010) menentukan batasan lanjut
usia berdasarkan usia kronologisnya sebagai berikut : (a) Young-old (60-69 tahun); dianggap sebagai masa transisi utama dari masa dewasa akhir ke masa
tua. Biasanya ditandai dengan penurunan pendapatan dan keadaan fisik yang
menurun. Sehubungan dengan berkurangnya peran, individu sering merasa
kurang memperoleh penghargaan dari lingkungan; (b) Middle-age-old (70-79
tahun); identik dengan periode kehilangan karena banyak pasangan hidup dan
teman yang meninggal. Selain itu ditandai dengan kesehatan yang semakin
menurun, partisipasi dalam organisasi formal menurun, muncul rasa gelisah dan
mudah marah serta aktifitas seks menurun; (c)Very Old (80-89 tahun) ; Pada masa ini lanjut usia telah mengalami kesulitan dalam beradaptasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Selain itu ketergantungannya terhadap
orang lain dalam melakukan kegiatan sehari-hari semakin besar; (d) Very-very old (lebih dari 90 tahun); lebih parah dari masa sebelumnya dimana individu benar-benar tergantung pada orang lain dengan kesehatan yang semakin buruk.
Untuk keperluan penelitian kali ini pengelompokkan usia berdasarkan Burnisude
yang akan digunakan.
Proses Menua (Aging)
Menua (menjadi tua/aging) adalah suatu proses menghilangnya secara
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap lesion/luka (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita
(Constantinides dalam Darmojo dan Martono 2004).
Proses menua merupakan proses yang terus-menerus secara alamiah
dimulai sejak lahir dan setiap individu tidak sama cepatnya. Menua bukan status
penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam
menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Aging proses
adalah suatu periode menarik diri yang tak terhindarkan dengan karakteristik
menurunnya interaksi antara lansia dengan orang lain di sekitarnya. Individu
diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi ketidamampuan
dan bahkan kematian (Cox 1984 dalam Miller1995). Teori Penuaan
Teori yang berhubungan dengan penuaan dari teori psikososial
memusatkan perhatian pada perubahan sikap dan perilaku yang menyertai
peningkatan usia. Teori psikososiol terdiri dari:
1) Teori disengangement (pembebasan)
Teori ini menyatakan bahwa orang yang menua menarik diri dari peran yang
biasanya dan terikat pada aktivitas yang lebih intropeksi dan berfokus diri
sendiri. Empat konsep dadar teori ini yaitu : (i) individu yang menua dan
masyarakat secara bersama saling menarik diri, (ii) disengangement adalah intrinsik dan tidak dapat diletakkan secara biologis dan psikologis, (iii)
disengangement dianggap perlu untuk proses penuaan, (iv) disengangement
bermanfaat baik bagi lansia maupun bagi masyarakat (Potter & Perry, 2005).
Dalam kaitannya dengan lansia, teori mengandung arti bahwa lansia yang
bahagia adalah lansia yang mampu melepaskan diri dari aktivitas-aktivitas
yang selama ini ditekuninya, misalnya bekerja sebagai pimpinan perusahaan,
petani atau pedagang, kemudian beralih kepada aktivitas-aktivitas baru yang
lebih sesuai dengan kemampuannya terutama kemampuan fisik (Latifah,
1999).
2) Teori aktifitas
Lanjut usia dengan keterlibatan sosial yang lebih besar memiliki semangat
dan kepuasan hidup yang tinggi, penyesuaian serta kesehatan mental yang
lebih positif dari pada lanjut usia yang kurang terlibat secara sosial (Potter &
3) Teori kontinuitas (kesinambungan)
Teori kontinuitas atau teori perkembangan menyatakan bahwa kepribadiaan
tetap sama dan perilaku menjadi lebih mudah diprediksi seiring penuaan.
Teori kontinuitas berdasarkan pada asumsi bahwa identitas merupakan
fungsi dari hubungan serta interaksi dengan orang lain. Seseorang yang
sukses sebelumnya, pada lanjut usia akan tetap berinteraksi dengan
lingkungannya serta tetap memelihara indentitas dan kekuatan egonya.Teori
tahap-tahap perkembangan manusia dari Erickson menerangkan bahwa
pada tahap akhir manusia harus memilih antara sense of integrity atau sense of despair, sedangkan Peck menambahkan bahwa pada usia lanjut seseorang harus memilih antara ego differentiation melawan work role preoccupation (pensiun). Juga harus memilih antara memulihkan hubungan yang baik dengan orang lain dan tetap aktif kreatif atau terikat pada pikiran
yang terpusat pada kemunduran fisiknya (Rusilanti 2006)
Kesejahteraan Lansia
Kesejahteraan lansia menurut UU no. 13 tahun 1998 pasal 1 adalah
suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual
yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketenteraman lahir batin
yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan
kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga,
serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia
sesuai dengan Pancasila. Kesejahteraan merupakan harapan dan tujuan hidup
setiap orang. Tingkat kesejahteraan setiap orang dapat berbeda-beda dalam arti
keadaan kesejahteraan yang dialami seseorang belum tentu sama bagi orang
lain. Konsep kesejahteraan adalah sesuatu yang bersifat subjektif dimana setiap
orang mempunyai pedoman, tujuan dan cara hidup yang berbeda-beda sehingga
memberikan nilai-nilai yang berbeda pula tentang faktor-faktor yang menentukan
tingkat kesejahteraan ( Andriani 2009).
Penanganan dan upaya peningkatan kesejahteran sosial Lansia
merupakan tanggung jawab bersama, keluarga - masyarakat - pemerintah. Oleh
sebab itu segenap lapisan masyarakat dihimbau untuk lebih meningkatkan
kesadaran dan kepeduliannya sehingga dapat berperan nyata baik secara
perorangan, kelompok maupun dalam wadah organisasi. Pola penanganan
ini perlu menjadi pemikiran kita karena sebagai negara yang penduduknya sudah
berstruktur tua, peran serta setiap warga negara sangat membantu Pemerintah
dan kepentingan Lansia. Pemberdayaan dan pendaya gunaan Lansia potensial
merupakan amanat undang-undang dalam mewujudkan “ dunia untuk segala
usia”. Harapan kita: Mereka tidak selalu menjadi obyek pembangunan tetapi
juga sebagai subyek /pelaku pembangunan (Komnas Lansia 2009).
Kesejahteraan sulit didefinisikan dan lebih sulit untuk diukur.
Secara umum, ukuran kesejahteraan diklasifikasikan menjadi dua katagori, yakni
kesejahteraan objektif dan subjektif. Pada penelitian ini yang akan digunakan
untuk mengukur kesejahteraan lansia adalah kesejahteraan subyektif.
Kesejahteraan secara subyektif menggambarkan evaluasi individu tentang
kehidupannya, yang mencakup kebahagian, kondisi emosi yang gembira,
kepuasan hidup dan relatif tidak adanya semangat dan emosi yang tidak
menyenangkan ( Simanjuntak , 2010).
Secara operasional Sumarwan dan Hira (1993) dalam Andriani (2009), variabel kepuasan merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan variabel
kebahagian, karena dapat melihat gap antara aspirasi dan tujuan yang ingin
dicapai. Menurut Guhardja et al (1992) puas atau tidaknya seseorang dapat
dihubungkan dengan nilai yang dianut oleh orang tersebut dan tujuan yang
diinginkan. Apabila tujuan yang dicapai sesuai dengan nilai yang dianut maka
diharapkan kepuasan akan terpenuhi. Kepuasan merupakan “output” yang telah
diperoleh keluarga akibat kegiatan manajemen. Ukuran kepuasan ini dapat
berbeda-beda untuk setiap individu atau bersifat subjektif
Kualitas Hidup
Definisi Kualitas Hidup
Kualitas hidup merupakan persepsi individu dari posisi laki-laki/wanita dalam
hidup ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai dimana laki-laki/wanita itu
tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan
perhatian. Hal ini merupakan konsep tingkatan, terangkum secara kompleks
mencakup kesehatan fisik seseorang, status psikologis, tingkat kebebasan,
hubungan sosial, dan hubungan dengan karakteristik lingkungan (WHO, 1994)
Menurut Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto (Anonimous 2011),
mungkin terjadi dalam hidupnya. Masing-masing orang memiliki kesempatan dan
keterbatasan dalam hidupnya yang merefleksikan interaksinya dengan
lingkungan. Sedangkan kenikmatan itu sendiri terdiri dari dua komponen yaitu
pengalaman dari kepuasan dan kepemilikan atau prestasi
Menurut Calman diacu oleh Silitonga (2007) konsep dari kualitas hidup
adalah bagaimana perbedaan antara keinginan yang ada dibandingkan perasaan
yang ada sekarang, definisi ini dikenal dengan sebutan “Calman’s Gap”. Calman
mengungkapkan pentingnya mengetahui perbedaan antara perasaan yang ada
dengan keinginan yang sebenarnya. Jika perbedaan antara kedua keadaan ini
lebar, ketidakcocokan ini menunjukkan bahwa kualitas hidup seseorang tersebut
rendah. Sedangkan kualitas hidup tinggi jika perbedaan yang ada antara
keduanya kecil.
Ruang Lingkup Kualitas Hidup
Kualitas hidup dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu; (1) Internal individu
yang terdiri dari fisik, psikologis dan spiritual; (2) Kepemilikan yang berkaiatan
dengan hubungan individu dengan lingkungannya yang dibagi dua yaitu secara
fisik dan sosial; (3) Harapan yang berupa prestasi dan aspirasi individu dapat
dibagi dua yaitu secara praktis dan secara pekerjaan. (Universitas Toronto 2011)
Menurut Ventegodt, Merriek & Anderson (2003) , kualitas hidup dapat
dikelompokkan dalam tiga bagian yang berpusat pada suatu aspek hidup yang
baik, yaitu: (1) Kualitas hidup subjektif, yaitu bagaimana suatu kehidupan yang
baik dirasakan oleh masing-masing individu yang memilikinya. Masing-masing
individu secara personal mengevaluasi bagaimana gambaran sesuatu dan
perasaan mereka; (2) Kualitas hidup eksistensial, yaitu seberapa baik hidup
seseorang merupakan level yang dalam. Ini mengasumsikan bahwa individu
memiliki suatu sifat yang lebih dalam yang berhak untuk dihormati dan dimana
individu dapat hidup dalam keharmonisan; (3) Kualitas hidup objektif, yaitu
bagaimana hidup seseorang dinilai oleh dunia luar. Kualitas hidup objektif
dinyatakan dalam kemampuan seseorang untuk beradaptasi pada nilai-nilai
budaya dan menyatakan tentang kehidupannya.
Kualitas hidup dalam penelitian ini mengacu pada aspekl-aspek kualitas
hidup yang terdapat pada WHOQOL-BREF (Skevington, Lotfy & O’Connell 2004)
dimana terdapat 4 ranah yang terbagi dalam beberapa fase. Ranah-ranah
hubungan sosial; (4)lingkungan, sedangkan secara rinci bidang-bidang yang
termasuk kualitas hidup adalah sebagai berikut :
1. Ranah kesehatan fisik terdiri atas sub ranah, yaitu: (a) Aktivitas sehari-hari ;
menggambarkan kesulitan dan kemudahan yang dirasakan individu ketika
melakukan aktivitas sehari-hari; (b) Ketergantungan pada obat-obatan atau
bantuan medis ; mengambarkan ketergantungan individu pada obat-obatan atau
bantuan medis dalam aktivitas sehari-hari; (c) Energi dan kelelahan ;
menggambarkan tingkat energi yang dimiliki individu dalam menggambarkan
kehidupan sehari-hari; (d) Mobilitas ; menggambarkan tingkat mobilitas individu;
(e) Sakit dan ketidaknyamanan ; sejauh mana ketidaknyamanan individu
terhadap rasa sakit yang dimiliki; (f) Tidur dan istirahat ; menggambarkan kualitas
istirahat individu; (g) Kapasitas kerja ; menggambarkan kemampuan individu
untuk menyelesaikan tugas-tugas; (h) Aktivitas seksual ; menggambarkan
kehidupan seksual individu.
2. Ranah Psikologis, terdiri dari sub ranah, yaitu: (a) Gambaran tubuh dan
penampilan (Bodily image and appearance) ; menggambarkan bagaimana
individu memandang keadaan tubuh (body image) dan penampilannya; (b)
Penghargaan terhadap diri ; menggambarkan bagaimana individu menilai dan
memandang dirinya; (c) Berpikir, belajar, memori dan konsenterasi;
menggambarkan aspek kognitif individu yang memungkinkan untuk
berkonsentasi, belajar dan menjalankan fungsi kognitif lainnya.
3. Ranah sosial, terdiri dari sub ranah, yaitu: (a) Relasi personal ;
menggambarkan hubungan individu dengan anak, menantu, cucu dan kerabat;
(b) Relasi sosial ; menggambarkan hubungan sosial dengan tetangga , teman
dan dukungan sosial yang dapat diperoleh individu dari lingkungan sekitarnya.
4. Ranah lingkungan (enviroment), terdiri dari sub ranah, yaitu: (a) Sumber
financial ; menggambarkan keadaan financial individu; (b) Keamanan dan
kenyaman fisik lingkungan: menggambarkan situasi kondisi keamanan dan
kenyaman lingkungan fisik disekitar individu yang dapat mempengaruhi
kebebasan dirinya, seperti polusi/kebisingan/iklim; (c) Perawatan kesehatan dan
social care ; menggambarkan ketersediaan perawatan kesehatan dan social care
yang dapat diperoleh individu; (d) Lingkungan tempat tinggal; menggambarkan
keadaan rumah-tempat tinggal individu; (e) Akses informasi, transportasi, dan
keterampilan baru : Kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi baru,
keterampilan (skill) baru; menggambarkan ada atau tidaknya kesempatan bagi
individu untuk mendapatkan informasi dan meningkatkan keterampilan yang
diperlukan; (f) Partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi atau aktifitas lain pada
waktu luang: menggambarkan kegiatan menyenangkan; menggambarkan
sejauhmana individu memiliki kesempatan dan dapat berpartisipasi untuk
berekreasi atau menikmati waktu luang.
Dukungan Bagi Lansia
Dukungan yang diperlukan lansia agar bisa menikmati masa tuanya
penuh kebahagiaan dan keceriaan atau dengan perkataan lain memiliki kualitas
hidup yang baik sangat beragam baik bentuk maupun sumbernya. Bentuknya
bisa berbentuk dukungan sosial dan atau dukungan ekonomi. Sumbernyapun
bisa berasal dari individu/perorangan dalam keluarga atau luar keluarga, dan
institusi baik pemerintah maupun non pemerintah
Dukungan Sosial
Dukungan sosial bagi lansia sangat diperlukan selama lansia sendiri
masih mampu memahami makna dukungan sosial tersebut sebagai penyokong
atau penopang kehidupannya. Namun dalam kehidupan lansia seringkali ditemui
bahwa tidak semua lansia mampu memahami adanya dukungan sosial dari
orang lain, sehingga walaupun ia telah menerima dukungan sosial tetapi masih
saja menunjukkan adanya ketidakpuasan, yang ditampilkan dengan cara
menggerutu, kecewa, kesal dan sebagainya (Kuntjoro,2002). Padahal menurut
Taylor (1999) dukungan sosial merupakan sesuatu yang memberikan pengaruh
yang menguntungkan. Seperti yang juga dinyatakan oleh Hoffman (1994) bagi
kondisi lansia yang mengalami tekanan yaitu bahwa :
”...having friends or some other kinds of social support make it much easier for older adults to cope with stress” (Hoffman, 1994; 543).
yang jika diterjemahkan adalah memiliki teman atau beberapa macam
dukungan social lain membuat lansia lebih mudah melakukan koping terhadap
stress.
Demikian juga Smet (1994) menjelaskan bahwa jika seorang individu
merasa didukung oleh lingkungan maka bagi individu tersebut segalanya akan
menyenangkan.
Gottlieb (dalam Smet, 1994) mendefinisikan dukungan
social secara operasional sebagai berikut :
“Social support consist of the verbal and/or non verbal information or advice tangible aid or action that is proffer by social intimates or inferred by their presence and has beneficial emotional or behavioral effect on the recipient “
Jika diterjemahkan secara bebas, “dukungan sosial terdiri dari informasi
verbal atau non verbal atau nasehat, bantuan yang terlihat atau tindakan yang
ditawarkan oleh orang yang memiliki hubungan social dekat/akrab atau mereka
yang kehadirannya dirasakan dekat dan memiliki pengaruh emosional dan
perilaku yang menguntungkan pada penerima bantuan”.
Definisi lain dikemukan oleh Siegel (dalam Taylor, 1999) :
”Social support has been defined as information from other that one is love and care for esteemed and valued, and part of a network of communication and mutual obligation from parents a spouse or lover, other relatives, friend, social and community contact such as churches or clubs or even devoted pet ”
Yang terjemahannya: dukungan sosial adalah informasi dari orang lain yang
sayang dan memiliki perhatian, menghormati dan menghargai dan merupakan
bagian jaringan komunikasi dan kewajiban timbal balik dari orang tua, pasangan
hidup atau kekasih, relasi, teman, kontak social dan lingkungan seperti
keanggotan gereja atau club atau bahkan binatang peliharaan.
Sarafino (1996) mengartikan dukungan social adalah kenyamanan,
perhatian, penghargaan atau bantuan yang diterima individu dari orang lain, baik
sebagai individu perorangan atau kelompok. Bentuk dukungan sosial, menurut
Sarafino(1996) terdiri dari : dukungan emosi, penghargaan, informasi dan
instrumental
Dukungan Emosi. Dukungan emosi merupakan ekspresi kasih sayang dan
rasa cinta orang-orang di sekitar individu (Russel, et al.,1994) dalam
Puspitawati(2009). Individu dapat mencurahkan perasaan, kesedihan ataupun
kekecewaannya pada seseorang, yang membuat individu sebagai penerima
dukungan sosial merasa adanya keterikatan, kedekatan dengan pemberi
dukungan, sehingga menimbulkan rasa aman dan percaya (Weiss, Cutrona &
Russell, 1987; Witty et al, 1992) dalam Conger (1994). Turner (1983)
mengemukakan bahwa dukungan emosi ini sangat penting dan dibutuhkan
setiap individu dalam setiap perode kehidupan, curahan perhatian yang
membantu kesehatan mental dan kesejahteraan individu (Mirowsky & Ross
1989). Demikian pula Sarafino (1996) dalam Tati (2004) mengatakan bahwa
dukungan emosi melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap
individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai dan diperhatikan.
Dukungan ini melipuyi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi serta
bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. Dukungan ini biasanya dari
orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan individu, seperti keluarga,
tetangga atau mungkin teman.
Dukungan Penghargaan. Dengan adanya pengakuan dari orang lain
atas kemampuannyadan kualitas personelnya, maka individu sebagai penerima
dukungan merasa memiliki nilai terhadap dirinya dan ia merasa dihargai atas
segala yang telah dilakukannya (Cutrona et al, 1994; Felton & Berry, 1992).
Dukungan ini dapat berupa pujian, hadiah, pernyataan setuju dan penilaian
positif terhadap ide-ide, perasaan atau performa orang lain atau mau menerima
atas segala kekurangan pada dirinya.
Dukungan Informasi. Dukungan informasi memungkinkan individu
sebagai penerima dukungan dapat memperoleh pengetahuan dari orang lain
(Felton & Berry, 1992 dalam Conger 1994) . Pengetahuan yang diperoleh dapat
berupa bimbingan, arahan, diskusi masalah maupun pengajaran suatu
keterampilan. Dengan adanya informasi ini, maka individu dapat menyelesaikan
masalahnya atau menambah pengetahuan baru. Hasil studi Cobb (1976) dalam
Puspitawati (2009) mengemukakan bahwa pengalaman menunjukkan dukungan
informasi yang menuntun dan dinilai serta memiliki jaringan tugas-tugas yang
saling menguntungkan. seseorang pada sebuah keyakinan bahwa ia
diperhatikan, dihargai.
Dukungan Instrumental. Bentuk dukungan instrumental melibatkan
bantuan langsung, misalnya berupa bantuan finansial atau bantuan dalam
mengerjakan tugas-tugas tertentu (Sarafino, 1996). Dukungan berupa materi
atau jasa yang diberikan oleh orang lain kepada individu sebagai penerima
dukungan (Borgatta, 1992 dalam Tati 2004). Dukungan dapat berbentuk uang,
barang kebutuhan sehari-hari atau bantuan praktis, seperti memberikan fasilitas
transportasi, memberi pinjaman uang atau barang rumah tangga lainnya,
menyediakan waktu dan tenaga untuk mengasuh anak.
Collins et al, (1993) membagi dukungan sosial dalam tiga elemen yang saling
a. The significant other help the individual mobilize his psychological resources and master his emotional burdens.
b. They share his tasks; and
c. They provide him with extra supplies of money, materials, tool, skills and cognitive guidance to improve the handling of his situation.
Terjemahan bebasnya adalah: a) Pasangan hidup, atau teman dekat
membantu individu memobilisasi sumber-sumber psikologisnya dan penguasaan
beban emosionalnya; b) Mereka berbagi dalam mengerjakan pekerjaan yang
menjadi tugas individu tersebut; dan selanjutnya c) mereka membantunya
dengan memberi uang tambahan, material, peralatan, keterampilan-keterampilan
dan petunjuk yang bersifat kognitif untuk memperbaiki cara menangani
situasinya.
Dikaitkan dengan sumbernya dukungan sosial merupakan segala
sesuatu yang berjalan secara kontinyu dan dimulai dari unit keluarga, kemudian
bergerak secara progresif dari individu-individu anggota keluarga, dimana
keluarga merupakan anggota kelompok yang dianggap penting dalam
memberikan dukungan sosial.
Secara operasional sumber-sumber dukungan sosial dibagi ke dalam dua
golongan, yaitu :
a. Sumber dukungan informal, antara lain :
Sumber dukungan individu seperti suami/istri, tetangga, saudara, teman.
Dukungan yang dapat diperoleh antara lain berupa dukungan emosional, kasih
sayang, nasehat, material dan informasi.
1. Sumber dukungan kelompok yaitu dari kelompok-kelompok sosial seperti
PKK, BKB, Posbindu, Karangtaruna.
b. Sumber dukungan formal, dapat diperoleh dari bidang :
1. Profesional seperti psikiatri, psikolog, pekerja sosial atau spesialis
lainnya.
2. Pusat-pusat pelayanan antara lain ; rumah sakit, BP4, panti sosial atau
lembaga-lembaga pelayanan lainnya.
Sumber utama dukungan sosial yang potensial terdapat dalam keluarga,
sebab dalam keluarga mempunyai fungsi-fungsi dukungan tertentu yang tidak
dapat berubah, seperti dukungan suami terhadap istri untuk melaksakan
melaksanakan pengasuhan anak dengan cara suami memberikan simpati,
perhatian, kepercayaan yang dilandasi kasih sayang.
Dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial keluarga adalah bantuan yang
berasal dari keluarga individu yang menerima bantuan. Bentuk bantuan dapat
berupa informasi, tingkah laku tertentu, yang dapat menjadikan individu yang
menerima bantuan merasa disayangi, diperhatikan, dan bernilai. Dukungan
sosial yang berasal dari keluarga merupakan dukungan yang sangat penting
artinya bagi para lansia. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan kumpulan
orang-orang yang dapat diandalkan kesinambungan dukungannya di saat
seorang lansia mulai terpisah dari lingkungan luarnya, seperti dari teman sekerja,
rekan bisnis, ataupun orang lainnya di luar keluarga
Dukungan Ekonomi
Pada umumnya para lanjut usia adalah pensiunan atau mereka yang
kurang produktif lagi. Secara ekonomis keadaan lanjut usia dapat digolongkan
menjadi 3 (tiga) yaitu g