• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Risiko Obesitas Sentral Pada Orang Dewasa Di Sulawesi Utara, Gorontalo Dan Dki Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Faktor Risiko Obesitas Sentral Pada Orang Dewasa Di Sulawesi Utara, Gorontalo Dan Dki Jakarta"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR RISIKO OBESITAS SENTRAL PADA ORANG

DEWASA DI SULAWESI UTARA, GORONTALO

DAN DKI JAKARTA

ELYA SUGIANTI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

ABSTRACT

ELYA SUGIANTI. Risk Factors of Central Obesity Among Adults in North Sulawesi, Gorontalo, and Jakarta. Supervised by HARDINSYAH and NURFI AFRIANSYAH.

Obesity is now considered as a major public health problem, affecting both developed and developing countries. Recently, central obesity has greater health hazards than overall obesity. The aim of this research is to analyze risk factors of central obesity among adults in North Sulawesi, Gorontalo, and Jakarta. This research used secondary data of Riskesdas 2007, Department of Health. The criterias of the study location was the province that had the three highest prevalence of central obesity. The total samples was 26 561 subjects aged 15 years. A logistic regressions was used to analyze risk factors of central obesity. Results showed that risk factors of central obesity in North Sulawesi are aged 35, women, married, divorce/widowed, high school, housewife, military/police/civil servants, private business officers, entrepreneur/private servant, urban area, and hard inactivity. Risk factors of central obesity in Gorontalo are aged 35, women, married, divorce/widowed, housewife, military/police/civil servants, entrepreneur/ private servant, expenditure 20 tile, urban area, hard inactivity, and mental disorder. Risk factors of central obesity in Jakarta are aged 35, women, married, divorce/widowed, housewife, private business officers, entrepreneur/private servant , expenditure fifth quintile , former smoker, fatty food, and mental disorder. Sweet food is the factor that reduce of central obesity in Jakarta. Women is more likely having central obesity in thirth provinces.

(3)

RINGKASAN

ELYA SUGIANTI. Faktor Risiko Obesitas Sentral pada Orang Dewasa di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan DKI Jakarta (dibimbing oleh HARDINSYAH dan NURFI AFRIANSYAH)

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor risiko obesitas sentral pada orang dewasa di Sulawesi Utara, Gorontalo dan DKI Jakarta. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) Menganalisis hubungan antara karakteristik demografi dan sosial-ekonomi dengan kejadian obesitas sentral, (2) Menganalisis hubungan antara gaya hidup dengan kejadian obesitas sentral, dan (3) Menganalisis faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi.

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Departemen Kesehatan. Jumlah sampel awal obesitas sentral 30 150, setelah dikurangi data yang tidak lengkap tersisa 26 561 sampel, dengan rincian: Sulawesi Utara 8 885 sampel, Gorontalo 5 871 sampel, dan DKI Jakarta 11 805 sampel.

Data dalam penelitian ini seluruhnya merupakan data Riskesdas 2007 yang diperoleh dalam bentuk electronic file. Data terdiri atas variabel karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel (umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, dan tipe wilayah), gaya hidup (kebiasaan merokok, aktivitas fisik berat, konsumsi minuman beralkohol, konsumsi sayuran dan buah, konsumsi makanan/minuman manis, konsumsi makanan berlemak, dan kondisi mental emosional) dan ukuran lingkar perut. Data selanjutnya diolah menggunakan Microsoft Excell 2007 dan SPSS 15.0 for Windows dengan analisis deskriptif menggunakan crosstab, Korelasi Spearman, Kontingensi, dan Regresi Logistik.

Prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel berjenis kelamin perempuan dengan umur 45-54 tahun (Sulawesi Utara dan DKI Jakarta) dan 55-64 tahun (Gorontalo); berstatus cerai hidup/mati; besar keluarga 1-2 orang; tamat Perguruan Tinggi (Sulawesi Utara dan Gorontalo) dan tidak sekolah (DKI Jakarta); ibu rumah tangga; pengeluaran per kapita kuintil ke-5; tinggal di perkotaan; tidak merokok; tidak beraktivitas fisik berat; tidak mengonsumsi minuman beralkohol; kurang mengonsumsi sayuran dan buah (Sulawesi Utara dan Gorontalo) serta cukup mengonsumsi (DKI Jakarta); tidak pernah mengonsumsi makanan/minuman manis; mengonsumsi makanan berlemak 3-6 kali per minggu (Sulawesi Utara), 1 kali per hari dan < 3 kali per bulan (Gorontalo), dan tidak pernah mengonsumsi (DKI Jakarta); serta kondisi mental emosional terganggu.

(4)

makanan berlemak (DKI Jakarta) berhubungan nyata negatif dengan kejadian obesitas sentral.

Faktor risiko obesitas sentral di Sulawesi Utara adalah umur 35-54 tahun (OR=1.9), umur 55 tahun (OR=2.1), perempuan (OR=4.3), berstatus kawin (OR=3.2), berstatus cerai (OR=2.4), tamat SMA/PT (OR=1.4), ibu rumah tangga (OR=1.5), TNI/POLRI/PNS (OR=1.5), pegawai BUMN/swasta (OR=1.5), wiraswasta/pedagang/jasa (OR=1.7), tinggal di perkotaan (OR=1.5), dan tidak beraktivitas fisik berat (OR=1.2).

Faktor risiko obesitas sentral di Gorontalo adalah umur 35-54 tahun (OR=2.3), umur 55 tahun (OR=2.8), perempuan (OR=7.1), berstatus kawin (OR=3.1), berstatus cerai (OR=2.4), tamat SD/SMP (OR=1.3), ibu rumah tangga (OR=1.7), wiraswasta/pedagang/jasa (OR=2.6), TNI/POLRI/PNS (OR=1.9), pengeluaran per kapita kuintil ke-2 (OR=1.6), kuintil ke-3 (OR=1.6), kuintil ke-4 (OR=2.0), kuintil ke-5 (OR=2.3), tinggal di perkotaan (OR=1.3), tidak beraktivitas fisik berat (OR=1.3), dan kondisi mental emosional terganggu (OR=1.2).

(5)

FAKTOR RISIKO OBESITAS SENTRAL PADA ORANG

DEWASA DI SULAWESI UTARA, GORONTALO

DAN DKI JAKARTA

ELYA SUGIANTI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada

Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(6)

Judul : Faktor Risiko Obesitas Sentral pada Orang Dewasa di

Sulawesi Utara, Gorontalo dan DKI Jakarta

Nama : Elya Sugianti

NIM : I14050689

Disetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof.Dr.Ir. Hardinsyah, MS Nurfi Afriansyah, SKM, MScPH

NIP. 1959 0807 198303 1 001 NIP. 1964 0424 198903 1 002

Diketahui,

Ketua Departemen Gizi Masyarakat

Dr.Ir.Evy Damayanthi, MS

NIP. 1962 1204 198903 2 002

(7)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini..

Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak

membantu sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, yaitu kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS dan Bapak Nurfi Afriansyah, SKM,

MScPH selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan banyak

bimbingan dan saran selama penulisan skripsi ini.

2. Ibu Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi selaku dosen pemandu seminar atas

kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini.

3. Ibu dr. Mira Dewi, MS selaku dosen penguji yang telah banyak

memberikan saran untuk perbaikan skripsi ini.

4. Bapak Dr.Triono Soendoro, PhD dan Ibu Dr. Atmarita, MPH, PH yang

telah memberikan ijin dalam penggunaan data Riskesdas 2007

5. Bapak dan ibu tercinta, adikku Deni serta seluruh keluarga besar di

Banyuwangi atas doa, kasih sayang, dan perhatiannya.

6. Ibu Dr.Ir.Titik Sumarti MC, MS sekeluarga atas kasih sayang dan

dukungan yang diberikan selama ini.

7. Soulmateku tercinta, nyunyun, terima kasih atas semua doa, dukungan, dan perhatian yang diberikan, semoga persahabatan kita akan terus

terjalin, selamanya.

8. Teman-teman pembahas : Deni, Kokom, Veni, teman-teman Se-PS :

Farida, Agni, Wardina, dan teman-teman GIZ 42, terima kasih atas

kritikan, dukungan dan perhatian yang diberikan. Adik-adik GIZ 43,44,45

sukses selalu untuk kalian.

9. Teman-teman SOKAers : Nci, Fefin, Eka, Esty, Anne, Sri, dan Santi,

terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan.

10. Teman-teman alumni Smansa’05, Lare Blambangan, dan Etosers, terima

kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan serta kepada semua

pihak yang telah banyak membantu, yang tidak dapat disebutkan satu per

satu.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Agustus 2009

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Banyuwangi pada tanggal 1 Juni 1986 dari Bapak

Sugianto dan Ibu Tasmiyatun. Penulis merupakan anak pertama dari dua

bersaudara.

Tahun 2005 penulis lulus dari SMA Negeri I Genteng dan pada tahun yang

sama, penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk

IPB (USMI). Penulis memilih mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat,

Fakultas Ekologi Manusia.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di keorganisasian Uni

Konservasi Fauna (UKF) periode 2006/2007, Lare Blambangan periode

2006/2007, Himpunan Mahasiswa Peminat Gizi Pertanian (HIMAGITA) periode

2006/2007, Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi (HIMAGIZI) periode 2007/2008, dan

Forum Syiar Islam FEMA (FORSIA) periode 2007/2008. Penulis juga aktif

sebagai panitia beberapa seminar maupun acara-acara yang berlangsung di

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI………....viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang………..1

Tujuan ... 3

Kegunaan ... 3

TINJAUAN PUSTAKA……….4

Obesitas ... 4

ObesitasSentral ... 4

Dampak Obesitas Sentral………6

Pengukuran Obesitas Sentral……….6

Faktor Risiko Obesitas Sentral………...7

Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi ... 8

GayaHidup ... 12

KERANGKA PEMIKIRAN……….19

METODE ... 23

Desain,Tempat, danWaktu ... 23

Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel………..23

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 23

PengolahandanAnalisisData ... 24

Asumsi dan Keterbatasan ... 27

Batasan Operasional ... 27

HASIL DAN PEMBAHASAN………30

Gambaran Umum Wilayah ... 30

Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi Sampel………..32

Gaya Hidup Sampel ... 34

Profil Obesitas Sentral berdasarkan Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi ... 36

Profil Obesitas Sentral berdasarkan Gaya Hidup ……….39

Hubungan Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi dengan Obesitas Sentral ... 41

Hubungan Gaya Hidup dengan Obesitas Sentral………..45

Faktor Risiko Obesitas Sentral ... 50

Faktor Risiko Obesitas Sentral di Sulawesi Utara ... 50

Faktor Risiko Obesitas Sentral di Gorontalo………...53

Faktor Risiko Obesitas Sentral di DKI Jakarta ... 55

(10)

Penemuan Penting………..57

Keterbatasan Penelitian……….60

Penelitian Lanjutan ... 61

KESIMPULAN DAN SARAN ………...63

Kesimpulan ... 63

Saran………64

DAFTARPUSTAKA ... 65

(11)

FAKTOR RISIKO OBESITAS SENTRAL PADA ORANG

DEWASA DI SULAWESI UTARA, GORONTALO

DAN DKI JAKARTA

ELYA SUGIANTI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(12)

ABSTRACT

ELYA SUGIANTI. Risk Factors of Central Obesity Among Adults in North Sulawesi, Gorontalo, and Jakarta. Supervised by HARDINSYAH and NURFI AFRIANSYAH.

Obesity is now considered as a major public health problem, affecting both developed and developing countries. Recently, central obesity has greater health hazards than overall obesity. The aim of this research is to analyze risk factors of central obesity among adults in North Sulawesi, Gorontalo, and Jakarta. This research used secondary data of Riskesdas 2007, Department of Health. The criterias of the study location was the province that had the three highest prevalence of central obesity. The total samples was 26 561 subjects aged 15 years. A logistic regressions was used to analyze risk factors of central obesity. Results showed that risk factors of central obesity in North Sulawesi are aged 35, women, married, divorce/widowed, high school, housewife, military/police/civil servants, private business officers, entrepreneur/private servant, urban area, and hard inactivity. Risk factors of central obesity in Gorontalo are aged 35, women, married, divorce/widowed, housewife, military/police/civil servants, entrepreneur/ private servant, expenditure 20 tile, urban area, hard inactivity, and mental disorder. Risk factors of central obesity in Jakarta are aged 35, women, married, divorce/widowed, housewife, private business officers, entrepreneur/private servant , expenditure fifth quintile , former smoker, fatty food, and mental disorder. Sweet food is the factor that reduce of central obesity in Jakarta. Women is more likely having central obesity in thirth provinces.

(13)

RINGKASAN

ELYA SUGIANTI. Faktor Risiko Obesitas Sentral pada Orang Dewasa di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan DKI Jakarta (dibimbing oleh HARDINSYAH dan NURFI AFRIANSYAH)

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor risiko obesitas sentral pada orang dewasa di Sulawesi Utara, Gorontalo dan DKI Jakarta. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) Menganalisis hubungan antara karakteristik demografi dan sosial-ekonomi dengan kejadian obesitas sentral, (2) Menganalisis hubungan antara gaya hidup dengan kejadian obesitas sentral, dan (3) Menganalisis faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi.

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Departemen Kesehatan. Jumlah sampel awal obesitas sentral 30 150, setelah dikurangi data yang tidak lengkap tersisa 26 561 sampel, dengan rincian: Sulawesi Utara 8 885 sampel, Gorontalo 5 871 sampel, dan DKI Jakarta 11 805 sampel.

Data dalam penelitian ini seluruhnya merupakan data Riskesdas 2007 yang diperoleh dalam bentuk electronic file. Data terdiri atas variabel karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel (umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, dan tipe wilayah), gaya hidup (kebiasaan merokok, aktivitas fisik berat, konsumsi minuman beralkohol, konsumsi sayuran dan buah, konsumsi makanan/minuman manis, konsumsi makanan berlemak, dan kondisi mental emosional) dan ukuran lingkar perut. Data selanjutnya diolah menggunakan Microsoft Excell 2007 dan SPSS 15.0 for Windows dengan analisis deskriptif menggunakan crosstab, Korelasi Spearman, Kontingensi, dan Regresi Logistik.

Prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel berjenis kelamin perempuan dengan umur 45-54 tahun (Sulawesi Utara dan DKI Jakarta) dan 55-64 tahun (Gorontalo); berstatus cerai hidup/mati; besar keluarga 1-2 orang; tamat Perguruan Tinggi (Sulawesi Utara dan Gorontalo) dan tidak sekolah (DKI Jakarta); ibu rumah tangga; pengeluaran per kapita kuintil ke-5; tinggal di perkotaan; tidak merokok; tidak beraktivitas fisik berat; tidak mengonsumsi minuman beralkohol; kurang mengonsumsi sayuran dan buah (Sulawesi Utara dan Gorontalo) serta cukup mengonsumsi (DKI Jakarta); tidak pernah mengonsumsi makanan/minuman manis; mengonsumsi makanan berlemak 3-6 kali per minggu (Sulawesi Utara), 1 kali per hari dan < 3 kali per bulan (Gorontalo), dan tidak pernah mengonsumsi (DKI Jakarta); serta kondisi mental emosional terganggu.

(14)

makanan berlemak (DKI Jakarta) berhubungan nyata negatif dengan kejadian obesitas sentral.

Faktor risiko obesitas sentral di Sulawesi Utara adalah umur 35-54 tahun (OR=1.9), umur 55 tahun (OR=2.1), perempuan (OR=4.3), berstatus kawin (OR=3.2), berstatus cerai (OR=2.4), tamat SMA/PT (OR=1.4), ibu rumah tangga (OR=1.5), TNI/POLRI/PNS (OR=1.5), pegawai BUMN/swasta (OR=1.5), wiraswasta/pedagang/jasa (OR=1.7), tinggal di perkotaan (OR=1.5), dan tidak beraktivitas fisik berat (OR=1.2).

Faktor risiko obesitas sentral di Gorontalo adalah umur 35-54 tahun (OR=2.3), umur 55 tahun (OR=2.8), perempuan (OR=7.1), berstatus kawin (OR=3.1), berstatus cerai (OR=2.4), tamat SD/SMP (OR=1.3), ibu rumah tangga (OR=1.7), wiraswasta/pedagang/jasa (OR=2.6), TNI/POLRI/PNS (OR=1.9), pengeluaran per kapita kuintil ke-2 (OR=1.6), kuintil ke-3 (OR=1.6), kuintil ke-4 (OR=2.0), kuintil ke-5 (OR=2.3), tinggal di perkotaan (OR=1.3), tidak beraktivitas fisik berat (OR=1.3), dan kondisi mental emosional terganggu (OR=1.2).

(15)

FAKTOR RISIKO OBESITAS SENTRAL PADA ORANG

DEWASA DI SULAWESI UTARA, GORONTALO

DAN DKI JAKARTA

ELYA SUGIANTI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada

Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(16)

Judul : Faktor Risiko Obesitas Sentral pada Orang Dewasa di

Sulawesi Utara, Gorontalo dan DKI Jakarta

Nama : Elya Sugianti

NIM : I14050689

Disetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof.Dr.Ir. Hardinsyah, MS Nurfi Afriansyah, SKM, MScPH

NIP. 1959 0807 198303 1 001 NIP. 1964 0424 198903 1 002

Diketahui,

Ketua Departemen Gizi Masyarakat

Dr.Ir.Evy Damayanthi, MS

NIP. 1962 1204 198903 2 002

(17)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini..

Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak

membantu sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, yaitu kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS dan Bapak Nurfi Afriansyah, SKM,

MScPH selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan banyak

bimbingan dan saran selama penulisan skripsi ini.

2. Ibu Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi selaku dosen pemandu seminar atas

kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini.

3. Ibu dr. Mira Dewi, MS selaku dosen penguji yang telah banyak

memberikan saran untuk perbaikan skripsi ini.

4. Bapak Dr.Triono Soendoro, PhD dan Ibu Dr. Atmarita, MPH, PH yang

telah memberikan ijin dalam penggunaan data Riskesdas 2007

5. Bapak dan ibu tercinta, adikku Deni serta seluruh keluarga besar di

Banyuwangi atas doa, kasih sayang, dan perhatiannya.

6. Ibu Dr.Ir.Titik Sumarti MC, MS sekeluarga atas kasih sayang dan

dukungan yang diberikan selama ini.

7. Soulmateku tercinta, nyunyun, terima kasih atas semua doa, dukungan, dan perhatian yang diberikan, semoga persahabatan kita akan terus

terjalin, selamanya.

8. Teman-teman pembahas : Deni, Kokom, Veni, teman-teman Se-PS :

Farida, Agni, Wardina, dan teman-teman GIZ 42, terima kasih atas

kritikan, dukungan dan perhatian yang diberikan. Adik-adik GIZ 43,44,45

sukses selalu untuk kalian.

9. Teman-teman SOKAers : Nci, Fefin, Eka, Esty, Anne, Sri, dan Santi,

terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan.

10. Teman-teman alumni Smansa’05, Lare Blambangan, dan Etosers, terima

kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan serta kepada semua

pihak yang telah banyak membantu, yang tidak dapat disebutkan satu per

satu.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Agustus 2009

(18)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Banyuwangi pada tanggal 1 Juni 1986 dari Bapak

Sugianto dan Ibu Tasmiyatun. Penulis merupakan anak pertama dari dua

bersaudara.

Tahun 2005 penulis lulus dari SMA Negeri I Genteng dan pada tahun yang

sama, penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk

IPB (USMI). Penulis memilih mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat,

Fakultas Ekologi Manusia.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di keorganisasian Uni

Konservasi Fauna (UKF) periode 2006/2007, Lare Blambangan periode

2006/2007, Himpunan Mahasiswa Peminat Gizi Pertanian (HIMAGITA) periode

2006/2007, Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi (HIMAGIZI) periode 2007/2008, dan

Forum Syiar Islam FEMA (FORSIA) periode 2007/2008. Penulis juga aktif

sebagai panitia beberapa seminar maupun acara-acara yang berlangsung di

(19)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI………....viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang………..1

Tujuan ... 3

Kegunaan ... 3

TINJAUAN PUSTAKA……….4

Obesitas ... 4

ObesitasSentral ... 4

Dampak Obesitas Sentral………6

Pengukuran Obesitas Sentral……….6

Faktor Risiko Obesitas Sentral………...7

Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi ... 8

GayaHidup ... 12

KERANGKA PEMIKIRAN……….19

METODE ... 23

Desain,Tempat, danWaktu ... 23

Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel………..23

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 23

PengolahandanAnalisisData ... 24

Asumsi dan Keterbatasan ... 27

Batasan Operasional ... 27

HASIL DAN PEMBAHASAN………30

Gambaran Umum Wilayah ... 30

Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi Sampel………..32

Gaya Hidup Sampel ... 34

Profil Obesitas Sentral berdasarkan Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi ... 36

Profil Obesitas Sentral berdasarkan Gaya Hidup ……….39

Hubungan Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi dengan Obesitas Sentral ... 41

Hubungan Gaya Hidup dengan Obesitas Sentral………..45

Faktor Risiko Obesitas Sentral ... 50

Faktor Risiko Obesitas Sentral di Sulawesi Utara ... 50

Faktor Risiko Obesitas Sentral di Gorontalo………...53

Faktor Risiko Obesitas Sentral di DKI Jakarta ... 55

(20)

Penemuan Penting………..57

Keterbatasan Penelitian……….60

Penelitian Lanjutan ... 61

KESIMPULAN DAN SARAN ………...63

Kesimpulan ... 63

Saran………64

DAFTARPUSTAKA ... 65

(21)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Karakteristik variabel penelitian………24

2. Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel………33

3. Gaya hidup sampel ... 36

4. Sebaran sampel berdasarkan karakteristik demografi dan sosial-ekonomi terhadap kejadian obesitas sentral……….38

5. Sebaran sampel berdasarkan gaya hidup terhadap kejadian obesitas sentral ... 40

6. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral ... 49

7. Faktor risiko obesitas sentral di Sulawesi Utara ... 52

8. Faktor risiko obesitas sentral di Gorontalo ... 54

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

(23)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dewasa ini obesitas telah menjadi masalah kesehatan dan gizi masyarakat

dunia, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Review atas epidemi obesitas yang dilakukan Low, Chin dan Deurenberg-Yap (2009) memperlihatkan

bahwa prevalensi kelebihan berat (overweight) di negara maju berkisar dari 23.2% di Jepang hingga 66.3% di Amerika Serikat, sedangkan di negara

berkembang berkisar dari 13.4% di Indonesia sampai 72.5% di Saudi Arabia.

Adapun prevalensi kegemukan (obesity) di negara maju berkisar dari 2.4% di Korea Selatan hingga 32.2% di Amerika Serikat, sedangkan di negara

berkembang berkisar dari 2.4% di Indonesia sampai 35.6% di Saudi Arabia (Low,

Chin & Deurenberg-Yap 2009).

World Health Organization (WHO) memperkirakan, di dunia ada sekitar 1.6 milyar orang dewasa berumur 15 tahun kelebihan berat dan setidak-tidaknya

sebanyak 400 juta orang dewasa gemuk (obese) pada tahun 2005, dan diperkirakan >700 juta orang dewasa akan gemuk (obese) pada tahun 2015 (WHO 2000; Low, Chin & Deurenberg-Yap 2009). Di Indonesia, Riset Kesehatan

Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa 8.8% orang dewasa berumur 15

tahun kelebihan berat dan 10.3% gemuk (Balitbangkes Depkes 2008).

Kegemukan atau obesitas merupakan kondisi ketidaknormalan atau

kelebihan akumulasi lemak dalam jaringan adiposa. Berdasarkan Indeks Massa

Tubuh (IMT), obesitas dibagi menjadi tiga kategori, yakni: Obesitas I, Obesitas II

dan Obesitas III. Adapun berdasarkan distribusi lemak, obesitas dibagi menjadi

dua kategori, yaitu: obesitas sentral dan obesitas umum. Untuk penduduk barat,

seseorang dikatakan obesitas apabila IMT-nya 30 kg/m2 atau lingkar perut 102

cm pada pria dan 88 cm pada wanita, sedangkan untuk penduduk Asia,

IMT-nya >25 kg/m2 atau lingkar perut 90 cm pada pria dan 80 cm pada wanita

(WHO 2000).

Menurut WHO (2000), obesitas sentral adalah kondisi kelebihan lemak

perut atau lemak pusat. Obesitas sentral lebih berhubungan dengan risiko

kesehatan dibandingkan dengan obesitas umum (Shen et al 2006;Wittchen et al 2006). Prevalensi obesitas sentral pada penduduk barat dan timur tinggi.

Prevalensi obesitas sentral pada laki-laki AS meningkat dari 37% (periode

1999-2000) menjadi 42.2% (periode 2003-2004), sedangkan prevalensi obesitas

(24)

yang sama (Li et al. 2007).Pada laki-laki dan perempuan Eropa, obesitas sentral yang didefinisikan menurut kriteria lingkar perut definisi lokal (menggunakan nilai

cut-off 90-102 cm untuk laki-laki dan 80-92 cm untuk perempuan) secara berturut-turut adalah 21% dan 24% di Belgia, 8% dan 13% di Perancis, 23% dan

65% di Spanyol, dan 18% dan 39% di Turki (Wittchen et al 2006). Prevalensi obesitas sentral di Yunani 36% pada laki-laki dan 43% pada perempuan

(Panagiotakos et al. 2004), China 16.1% pada laki-laki dan 37.6% pada perempuan (Reynolds et al. 2007), Oman 49.3% (Al-Riyami&Afifi 2003). Di Indonesia, prevalensi obesitas sentral di Kota Padang didapatkan sebesar 12.1%

pada laki-laki dan 46.3% pada perempuan (Kamso 2007), sedangkan di

Denpasar diperoleh sebesar 51.1% (Gotera et al. 2006). Riskesdas 2007 menemukan prevalensi obesitas sentral sebesar 18.8% (Balitbangkes Depkes

2008).

Obesitas sentral dapat terjadi karena adanya perubahan gaya-hidup,

seperti tingginya konsumsi minuman beralkohol (Dorn et al. 2003; Riserus&Ingelsson 2007), kebiasaan merokok (Canoy et al. 2005; Xu et al. 2007), tingginya konsumsi makanan berlemak (Garaulet et al. 2001), rendahnya konsumsi sayuran dan buah (Drapeau et al. 2004; Newby et al. 2003), dan rendahnya aktivitas fisik (Slentz et al. 2004; Besson et al. 2009). Selain itu, peningkatan umur (Martins&Marinho 2003), perbedaan jenis kelamin (Dekkers et al. 2004), dan status sosial ekonomi (Reynolds et al. 2007) diduga juga berhubungan dengan kejadian obesitas sentral.

Peningkatan prevalensi obesitas sentral berdampak pada munculnya

berbagai penyakit degeneratif. Obesitas sentral berhubungan dengan

peningkatan sindrom metabolik (Shen et al. 2006), aterosklerosis (Lee et al. 2007), penyakit kardiovaskuler (Baik et al. 2000; Wildman et al. 2005), diabetes tipe 2 (Wang et al. 2005; Krishnan et al. 2007), batu empedu (Tsai et al. 2004), gangguan fungsi pulmonal (Chen et al. 2007), hipertensi dan dislipidemia (Barbagallo et al. 2001).

Riskesdas 2007 merupakan pengejawantahan salah satu dari empat grand strategy Departemen Kesehatan, yakni berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan (Balitbangkes Depkes 2008). Laporan Riskesdas 2007 baru memberikan

informasi tentang obesitas sentral sebatas prevalensi dan belum menyajikan

(25)

prevalensi obesitas sentral tertinggi, yaitu di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan DKI

Jakarta berturut-turut 31.5%, 27%, dan 27.9% (Balitbangkes Depkes 2008).

Terdapatnya jumlah sampel yang besar dan informasi yang luas pada Riskesdas

2007 serta tingginya prevalensi obesitas sentral di Sulawesi Utara, Gorontalo,

dan DKI Jakarta membuat peneliti tertarik untuk menganalisis lebih lanjut

faktor-faktor risiko obesitas sentral pada ketiga provinsi tersebut.

Tujuan

Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor risiko

obesitas sentral pada orang dewasa di Sulawesi Utara, Gorontalo dan DKI

Jakarta.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk:

1. Menganalisis hubungan antara karakteristik demografi dan

sosial-ekonomi dengan kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi.

2. Menganalisis hubungan antara gaya-hidup dengan kejadian obesitas

sentral pada ketiga provinsi.

3. Menganalisis faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian

obesitas sentral pada ketiga provinsi.

Kegunaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi

berbagai pihak antara lain:

1. Bagi peneliti, dapat mengaplikasikan ilmu yang pernah diberikan,

meningkatkan kemampuan dalam mengolah, menganalisis dan

menginterpretasi data.

2. Bagi wilayah terkait, dapat memberikan gambaran mengenai populasi

yang berisiko mengalami obesitas sentral sehingga dapat dijadikan acuan

dalam membuat kebijakan dan promosi kesehatan masyarakat dalam

mengontrol penyakit degeneratif.

3. Bagi masyarakat, menyadarkan akan adanya faktor risiko obesitas sentral

dan dampaknya terhadap kesehatan.

4. Bagi institusi pendidikan, dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam

(26)

TINJAUAN PUSTAKA

Obesitas

Obesitas merupakan kondisi ketidaknormalan atau kelebihan akumulasi

lemak pada jaringan adiposa. Obesitas tidak hanya berupa kondisi dengan

jumlah simpanan kelebihan lemak, namun juga distribusi lemak di seluruh tubuh.

Distribusi lemak dapat meningkatkan risiko yang berhubungan dengan berbagai

macam penyakit degeneratif (WHO 2000).

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indeks pengukuran sederhana

untuk kekurangan berat (underweight), kelebihan berat (overweight), dan kegemukan/obesitas dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badan

kuadrat. Cut off point dalam pengklasifikasian obesitas adalah IMT 30.00. Berdasarkan IMT, obesitas dibagi menjadi tiga kategori, yakni: obesitas tingkat I

dengan IMT 30.00-34.99; obesitas tingkat II dengan IMT 35.00-39.99; dan

obesitas tingkat III dengan IMT 40.00. Cut off point obesitas di Asia Pasifik memiliki kriteria lebih rendah daripada kriteria WHO pada umumnya. Cut off point obesitas pada penduduk Asia Pasifik adalah IMT 25.00. Berdasarkan cut off point obesitas pada penduduk Asia Pasifik, obesitas dibagi menjadi dua kategori, yaitu: obesitas tingkat I dengan IMT 25.00-29.99 dan obesitas tingkat II dengan

IMT 30.00. Berdasarkan distribusi lemak, obesitas dibedakan menjadi dua

jenis, yakni obesitas sentral dan obesitas umum (WHO 2000).

Obesitas Sentral

Obesitas sentral merupakan kondisi kelebihan lemak yang terpusat pada

daerah perut (intra-abdominal fat). Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa peningkatan risiko kesehatan lebih berhubungan dengan obesitas sentral

dibandingkan dengan obesitas umum. Wildman et al. (2004) menemukan, laki-laki dan perempuan yang mengalami obesitas sentral mempunyai tekanan darah

sistol dan diastol, kolesterol total, kolesterol LDL, dan triasilgliserol rata-rata

tinggi, serta kolesterol HDL rendah.

Lofgren et al. (2004) menemukan bahwa ukuran lingkar perut (waist circumference) berhubungan dengan kadar insulin, leptin, tekanan darah diastol, trigliserida plasma, dan apolipoprotein-C. Perempuan dengan lingkar perut > 88

cm memiliki konsentrasi leptin, tekanan darah diastol, trigliserida plasma, dan

(27)

darah, gula darah, kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida rata-rata lebih

tinggi, serta kolesterol HDL dan adiponektin lebih rendah.

Menurut WHO (2000), jaringan lemak visceral (intra-abdominal fat) memiliki sel per unit massa lebih banyak, aliran darah lebih tinggi, reseptor glucocorticoid (kortisol) dan androgen (testosterone) lebih banyak dan katecholamine lebih besar dibandingkan dengan jaringan lemak bawah kulit (subcutaneous adipose). Von-Eyben et al. (2003) menemukan bahwa jaringan lemak intra-abdominal berhubungan linier dengan enam faktor risiko metabolik, seperti tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, glukosa darah, kolesterol HDL, trigliserida serum,

dan plasminogen activator inhibitor 1 (PAI-1) plasma.

Jaringan adiposa disadari sebagai organ endokrin penting yang

menghasilkan beberapa hormon protein. Namun, tingginya akumulasi lemak,

terutama pada daerah perut (intra-abdominal fat) memicu jaringan adiposa menghasilkan hormon dalam jumlah yang tidak normal, seperti tingginya sekresi

insulin, tingginya level testoteron dan androstenedion bebas, rendahnya level

progesteron pada perempuan dan testoteron pada laki-laki, tingginya produksi

kortisol, dan rendahnya level hormon pertumbuhan. Ketidaknormalan produksi

hormon ini diduga meningkatkan risiko kesehatan (WHO 2000).

Lemak visceral adalah komponen lemak tubuh penting sebagai faktor risiko metabolik (Wildman et al. 2004). Review yang dilakukan Klein et al. (2007) memperlihatkan hubungan obesitas sentral dengan kardiometabolik. Klein et al. (2007) menyatakan, mekanisme biologi hubungan antara obesitas sentral

dengan kardiometabolik belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat

beberapa hipotesis yang dapat ditegakkan. Pertama, keterbatasan kemampuan

jaringan lemak subcutaneous dalam menyimpan kelebihan energi menyebabkan akumulasi lemak yang berakibat pada disfungsi metabolik pada beberapa organ.

Kedua, terjadinya lipolisis pada jaringan adiposa omental dan mesenteric yang melepaskan asam lemak bebas. Hal ini dapat menginduksi resistensi insulin dan

menyediakan substrat untuk sintesis lipoprotein dan simpanan lipid. Jaringan

adiposa omental dan mesenteric jugamemproduksi protein dan hormon spesifik, seperti adipokin inflamatori, angiotensinogen, dan kortisol (dibangkitkan oleh

(28)

Dampak Obesitas Sentral

Dampak obesitas sentral lebih tinggi risikonya terhadap kesehatan

dibandingkan dengan obesitas umum (de Pablos-Velasco et al. 2002). Beberapa penelitian sebelumnya menemukan tingginya dampak obesitas sentral terhadap

risiko kesehatan. Obesitas sentral berdampak terhadap peningkatan risiko

kematian (Zhang et al. 2007; Pischon et al. 2008; Bigaard et al. 2003). Wildman et al. (2005) menemukan, obesitas sentral meningkatkan risiko hipertensi, dislipidemia, diabetes, dan sindrom metabolik pada laki-laki dan perempuan.

Obesitas sentral juga berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler dan penyakit jantung koroner (Baik et al. 2000; Sonmez et al. 2004; Wildman et al. 2005). Gotera et al. (2006) menyatakan, dampak obesitas sentral terhadap penyakit jantung koroner berkaitan dengan dua mekanisme, yaitu mekanisme

langsung melalui efek metabolik protein yang disekresikan oleh jaringan lemak

seperti interleukin (IL) 1, IL 6, TNF- adiponektin dan masih banyak protein

lainnya terhadap endotel pembuluh darah, dan efek tidak langsung akibat

faktor-faktor lain yang muncul sebagai risiko penyakit kardiovaskuler akibat dari

obesitas sentral tersebut.

Obesitas sentral lebih berhubungan dengan sindrom metabolik (Shen et al. 2006; Griesemer 2008). Obesitas sentral dapat digunakan sebagai prediktor

risiko diabetes tipe dua (Wang et al. 2005; Krisnan et al. 2007) dan batu empedu (Tsai et al. 2004). WHO (2000) menyatakan, obesitas meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, sindrom

metabolik, gangguan toleransi glukosa, diabetes tipe 2, hipertensi, batu empedu,

dislipidemia, susah napas, sleep apnoea, hyperuricaemia, gout, ketidaknormalan produksi hormon, polysistic ovary syndrome, ketidaksuburan, masalah psikososial, dan beberapa tipe kanker.

Pengukuran Obesitas Sentral

Pengukuran sederhana yang dapat digunakan untuk mendeteksi obesitas

sentral, yaitu: lingkar perut, rasio pinggang panggul (waist hip ratio), WCR (waist chest ratio), dan WHtR (waist to-height-ratio). Pengukuran lingkar perut merupakan suatu parameter yang menyediakan perkiraan ukuran lemak tubuh

yang mengumpul di perut. Pengukuran lingkar perut menyediakan pengukuran

(29)

otot dan lemak (WHO 2000). Lingkar perut lebih akurat untuk mencerminkan

obesitas sentral (Sonmez et al. 2003).

Lingkar perut dapat digunakan sebagai indikator pelengkap untuk

mendeteksi risiko kesehatan pada berat normal dan kelebihan berat

(Wannamethee et al. 2005). Diagnosis menggunakan IMT lebih lemah jika dibandingkan dengan lingkar perut dan WHtR. Lingkar perut merupakan

pengukuran yang lebih mudah daripada WHtR (Sonmez et al. 2003). Wang et al. (2005) menemukan bahwa lingkar perut lebih baik dalam mengukur obesitas

sentral daripada WHtR sebagai prediksi risiko diabetes tipe 2. Pengukuran

menggunakan lingkar perut lebih cocok sebagai prediktor kematian pada usia

lebih dari 65 tahun dibandingkan dengan IMT (Baik et al. 2000). Visscher et al. (2001) menemukan bahwa pengukuran lingkar perut pada laki-laki yang tidak

pernah merokok dapat mendeteksi lebih akurat individu yang berisiko tinggi

terhadap kematian daripada pengukuran IMT. Lingkar perut lebih kuat sebagai

prediktor CHD (Lofgren et al. 2004) dan hipoadiponektinemia (Gotera et al. 2006) daripada IMT.

Kriteria obesitas sentral adalah lingkar perut 102 cm pada laki-laki dan

88 cm pada perempuan. Adapun kriteria obesitas sentral di wilayah Asia Pasifik

adalah lingkar perut 90 cm pada laki-laki dan 80 cm pada perempuan (WHO

2000). Ko dan Tang (2007) menemukan cut off point pre-obesitas sentral untuk penduduk China adalah lingkar perut 84-90 cm pada laki-laki dan 74-80 cm pada

perempuan. Cut off point pre-obesitas sentral setara dengan IMT (23-25) dan berdampak pada peningkatan risiko kesakitan. Penelitian sebelumnya di China,

menemukan bahwa cut off point lingkar perut dan IMT yang rendah dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingginya risiko CVD di China, yakni dengan

lingkar perut 80 cm dan IMT 24 (Wildman et al. 2004). Cut off point lingkar perut untuk mendiagnosis sindrom metabolik populasi perkotaan di Irak adalah 99 cm

pada laki-laki dan 97 cm pada perempuan (Mansour et al. 2007). Faktor Risiko Obesitas sentral

Penyebab utama masalah obesitas adalah lingkungan dan perubahan

perilaku. Peningkatan proporsi lemak dan peningkatan densitas energi dalam

diet, penurunan level aktivitas fisik dan peningkatan perilaku sedentary, merupakan faktor utama yang dapat meningkatkan berat badan pada populasi.

(30)

kelamin, dan umur saling berinteraksi memengaruhi peningkatan berat badan

(WHO 2000).

Faktor risiko yang diduga berhubungan dengan obesitas sentral dalam

penelitian ini adalah karakteristik demografi dan sosial-ekonomi (umur, jenis

kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per

kapita, dan tipe wilayah) dan gaya-hidup (kebiasaan merokok, aktivitas fisik,

perilaku konsumsi makanan/minuman, dan stres).

Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi

Umur

Umur merupakan faktor risiko obesitas sentral yang tidak dapat diubah.

Seiring dengan bertambahnya umur, prevalensi obesitas sentral mengalami

peningkatan (Martins&Marinho 2003; Erem et al 2004). Peningkatan umur akan meningkatkan kandungan lemak tubuh total, terutama distribusi lemak pusat

(Chang et al. 2000; Demerath et al. 2007). Aekplakorn et al. (2007) menemukan bahwa prevalensi obesitas sentral meningkat sampai dengan umur 44 tahun dan

menurun kembali pada umur 45-54 tahun.

Prevalensi obesitas sentral ditemukan lebih tinggi pada sampel dengan

umur lebih tua (Janghorbani et al. 2007). Pada umur lebih tua terjadi penurunan massa otot dan perubahan beberapa jenis hormon yang memicu penumpukan

lemak perut. Kantachuvessiri et al. (2005) menyatakan bahwa pada umur 40-59 tahun seseorang cenderung obesitas dibandingkan dengan umur yang lebih

muda. Hal ini diduga karena lambatnya metabolisme, kurangnya aktivitas fisik,

dan frekuensi konsumsi pangan yang lebih sering. Selain itu, orang tua biasanya

tidak begitu memperhatikan ukuran tubuhnya.

Jenis Kelamin

Prevalensi obesitas umum dan obesitas sentral lebih tinggi pada

perempuan dibandingkan dengan laki-laki (Al-Riyami&Afifi 2003;

Martins&Marinho 2003; Gutierrez-Fisac et al. 2004; Yoon et al. 2006). Obesitas sentral lebih umum dijumpai pada perempuan (Sonmez et al. 2003; Pablos-Velasco et al. 2002). Tingginya prevalensi obesitas pada perempuan menunjukkan bahwa kelebihan lemak pusat lebih banyak terdapat pada

(31)

laki karena adanya perbedaan tingkat aktivitas fisik dan asupan energi pada

laki-laki dan perempuan.

Demerath et al. (2007) menemukan, lemak perut lebih tinggi pada perempuan yang lebih tua daripada laki-laki muda. Jaringan adiposa meningkat

dengan bertambahnya umur, perempuan cenderung lebih berisiko obesitas

sentral, terutama setelah menopause. Perempuan postmenopause memiliki persentase lemak perut, kolesterol total, dan trigliserida yang tinggi. Seiring

dengan bertambahnya umur dan efek menopause, pada perempuan akan terjadi peningkatan kandungan lemak tubuh, terutama distribusi lemak tubuh pusat

(Chang et al. 2000).

Perempuan mengontrol kelebihan energi sebagai lemak simpanan,

sedangkan laki-laki menggunakan kelebihan energinya untuk mensintesis

protein. Pada perempuan, pola penggunaan energi untuk keseimbangan energi

positif dan deposit lemak disebabkan oleh dua alasan. Pertama, penyimpanan

lemak jauh lebih efisien daripada protein. Kedua, penyimpanan energi sebagai

lemak akan berperan pada rendahnya rasio jaringan bebas lemak dengan

jaringan lemak dengan hasil tidak meningkatnya RMR (Resting Metabolite Rate) pada kecepatan yang sama sebagai massa tubuh (WHO 2000).

Status Kawin

Obesitas berhubungan nyata positif dengan status kawin (Erem et al. 2004; Janghorbani et al. 2007). Prevalensi obesitas tertinggi pada orang yang memiliki status cerai dan terendah pada orang yang belum menikah (Erem et al. 2004). Janghorbani et al. (2007) menyatakan bahwa prevalensi obesitas lebih tinggi pada sampel yang telah menikah. Hal ini karena kurangnya aktivitas fisik setelah

menikah dan perubahan pola makan yang menyesuaikan pasangannya. Namun,

penelitian yang dilakukan oleh Panagiotakos et al. (2004) terhadap orang dewasa berumur 20-89 tahun di Yunani menemukan bahwa tidak terdapat

hubungan obesitas dengan status kawin.

Besar Keluarga

Besar keluarga merupakan jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam

satu rumah. Adiningrum (2008) menemukan bahwa jumlah anggota keluarga

tidak berhubungan dengan kegemukan. Namun, lebih lanjut Adiningrum (2008)

menyatakan bahwa besarnya jumlah anggota keluarga akan memengaruhi

distribusi pangan yang akan diterima masing-masing individu. Terlalu banyaknya

(32)

mengurangi kenyamanan dalam hidup berkeluarga. Dengan banyaknya anggota

keluarga, akan memperkecil kemungkinan seseorang menjadi gemuk.

Setiap penambahan anak, risiko obesitas meningkat sebesar 4% pada

laki-laki dan 7% pada perempuan (Weng et al. 2004). Kantachuvessiri et al. (2005) menemukan bahwa besar keluarga tidak berhubungan dengan obesitas sentral

di Thailand. Demikian halnya penelitian yang dilakukan oleh Al-Riyami dan Afifi

(2003) yang menemukan tidak terdapatnya hubungan antara besar keluarga

dengan obesitas sentral.

Pendidikan

Beberapa hasil penelitian sebelumnya menemukan bahwa prevalensi

obesitas sentral lebih tinggi pada orang berpendidikan rendah (Gutierrez-Fisac et al. 2004; Panagiotakos et al. 2004). Wolff et al. (2006) menemukan bahwa prevalensi obesitas sentral meningkat pada laki-laki berpendidikan tengah (10-12

tahun) dan atas (>12 tahun) serta sedikit berubah pada pendidikan rendah ( 9

tahun), sedangkan pada perempuan, prevalensi obesitas sentral meningkat pada semua tingkatan pendidikan, khususnya pada pendidikan rendah. Pendidikan

berhubungan dengan kepercayaan dan tingkat pengetahuan (Yoon et al. 2006). Aekplakorn et al. (2007) menemukan bahwa terdapat hubungan negatif pada perempuan dan hubungan positif pada laki-laki antara pendidikan dengan

obesitas sentral. Tingginya level pendidikan juga meningkatkan berat badan dan

lingkar perut (Zhang et al. 2008). Namun, Rosmond dan Bjorntorp (2000) menemukan bahwa rendahnya status sosial ekonomi (pekerjaan dan pendidikan)

berhubungan dengan obesitas sentral dan tingginya nilai kortisol.

Pekerjaan

Perubahan pada struktur sosial berhubungan dengan peningkatan

obesitas. Hubungan ini terletak pada peningkatan proporsi populasi pekerjaan

dalam bidang pelayanan, perkantoran, dan profesi lain yang kurang aktivitas fisik

jika dibandingkan dengan pekerjaan manual yang membutuhkan banyak aktivitas

fisik pada masyarakat tradisional (WHO 2000).

Dekkers et al. (2004) menyatakan bahwa kecepatan perkembangan jaringan adiposa dari anak sampai dewasa muda dipengaruhi oleh status sosial

ekonomi. Lahmann et al (2000) menyatakan bahwa status sosial ekonomi orang tua (pekerjaan ayah) merupakan prediktor kuat peningkatan jaringan adiposa

(33)

antara pekerjaan ayah dan pekerjaaan sendiri berhubungan dengan perubahan

berat badan dan lingkar perut.

Pengeluaran per Kapita

Pengeluaran per kapita merupakan salah satu indikator status ekonomi

seseorang. Pengeluaran per kapita paralel dengan pendapatan per kapita

seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Reynolds et al (2007) menemukan bahwa pendapatan berhubungan dengan obesitas sentral pada laki-laki.

Semakin tinggi pendapatan rumah tangga semakin berisiko obesitas (Erem et al. 2004). Peningkatan pendapatan berpengaruh pada peningkatan konsumsi rumah

tangga seperti makanan tinggi lemak dan konsumsi daging (WHO 2000).

Pendapatan berhubungan positif dengan kejadian obesitas sentral pada

laki-laki di Korea. Pendapatan tinggi meningkatkan obesitas sentral 1.37 kali

dibandingkan dengan pendapatan terendah pada laki-laki di Korea. Pada

perempuan, pendapatan tidak menunjukkan hubungan nyata dengan kejadian

obesitas sentral. Pengaruh pendapatan terhadap obesitas terletak pada

ketersediaan dalam membeli makanan dan aktivitas fisik (Yoon et al. 2006). Tipe Wilayah

Tipe wilayah perkotaan berhubungan positif dengan obesitas. Wilayah

perkotaan berhubungan dengan obesitas karena peningkatan jumlah orang yang

tinggal di perkotaan. Wilayah perkotaan berhubungan dengan berbagai faktor

yang memengaruhi diet, aktivitas fisik, dan komposisi tubuh. Hal ini melibatkan

perubahan transportasi, kemudahan akses dan penggunaan fasilitas kesehatan

dan pendidikan modern, komunikasi, pemasaran dan ketersediaan pangan, dan

perbedaan profil pekerjaan dengan yang lainnya (WHO 2000).

Reynolds et al. (2007) menemukan bahwa prevalensi obesitas sentral lebih tinggi pada sampel yang tinggal di perkotaan. Tingginya prevalensi obesitas

sentral di perkotaan diakibatkan oleh urbanisasi yang berhubungan dengan

perubahan gaya hidup dan perubahan perilaku seperti rendahnya aktivitas fisik

dan tingginya konsumsi makanan berlemak. Janghorbani et al. (2007) menyatakan bahwa seseorang yang tinggal di perkotaan cenderung mengikuti

(34)

Gaya Hidup

Kebiasaan Merokok

Chiolero et al. (2008) menyatakan bahwa merokok dapat meningkatkan resisten insulin dan berhubungan dengan akumulasi lemak pusat. Xu et al. (2007) menyatakan bahwa merokok berhubungan negatif dengan peningkatan

berat badan (IMT) tetapi positif berhubungan dengan lingkar perut pada laki-laki.

Merokok dalam jangka waktu lama berpengaruh pada obesitas sentral daripada

obesitas umum. Erem et al (2004) menemukan hubungan negatif merokok dengan obesitas sentral. Mantan perokok berhubungan positif dengan obesitas

sentral (Erem et al. 2004; Janghorbani et al. 2007). Perokok menurunkan 0.68 cm lingkar perut, sedangkan mantan merokok berhubungan dengan peningkatan

1.98 cm lingkar perut (Koh-Banerjee et al. 2003). Mekanisme biologi antara merokok dengan pola distribusi lemak tidak jelas. Meskipun perokok memiliki

nilai rata-rata IMT yang lebih rendah daripada bukan perokok, perokok memiliki

profil distribusi lemak yang mencerminkan konsekuensi metabolik merokok

dengan lebih tingginya lemak pusat (Canoy et al. 2005).

Mantan perokok berpeluang mengalami obesitas lebih tinggi dibandingkan

dengan perokok dan bukan perokok. Hal ini disebabkan oleh efek ganda

merokok yaitu merokok meningkatkan pengeluaran energi dan menurunkan

nafsu makan, dan kedua efek akan hilang pada mantan perokok (Chiolero et al. 2007). Review yang dilakukan oleh Chiolero et al. (2008) mengenai hubungan merokok pada berat tubuh, distribusi lemak tubuh dan resistensi insulin

memperlihatkan bahwa di satu sisi, nikotin meningkatkan pengeluaran energi

dan menurunkan nafsu makan pada perokok, sedangkan di sisi yang lain,

perokok berat memiliki berat badan lebih tinggi daripada perokok ringan atau

tidak merokok, jika merokok diimbangi dengan gaya hidup yang tidak baik seperti

rendahnya tingkat aktivitas fisik, dan diet yang buruk.

Pada perempuan, setelah 30 hari penghentian merokok, RMR 16% lebih

rendah daripada ketika masih merokok sehingga dapat menyebabkan

peningkatan berat badan sebagai efek menurunnnya RMR dan peningkatan

asupan energi. Sejumlah studi menunjukkan bahwa seseorang yang

menghentikan kebiasaan merokoknya kelihatan meningkat berat badannya. Hal

ini diduga karena peningkatan asupan energi dan penurunan pengeluaran

energi, penurunan aktivitas fisik, perubahan oksidasi lemak, dan metabolisme

(35)

Lemak visceral dipengaruhi oleh konsentrasi kortisol. Sedangkan perokok memiliki lebih tinggi konsentrasi kortisol plasma daripada orang yang tidak

merokok. Tingginya konsentrasi kortisol adalah konsekuensi aktivitas

sympathetic nervous system yang diinduksi oleh merokok. Massa lemak visceral meningkat ketika konsentrasi estrogen menurun dan konsentrasi testosteron

meningkat. Rendahnya estrogen, kelebihan androgen, dan peningkatan

testosteron pada perempuan berhubungan dengan akumulasi lemak visceral. Pada laki-laki lemak visceral meningkat dengan penurunan testosteron. Sementara testosteron pada laki-laki menurun dengan merokok.

Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik merupakan upaya pencegahan peningkatan berat badan dan

secara signifikan berkontribusi untuk menurunkan berat badan dalam jangka

panjang dan mengurangi risiko kesehatan yang berhubungan dengan penyakit

kronis (Jakicic&Otto 2005). Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa

penurunan aktivitas fisik berhubungan dengan peningkatan lingkar perut (Erem

et al. 2004; Slentz et al. 2004; Zhang et al. 2008; Besson et al. 2009). Rendahnya aktivitas fisik berhubungan positif dengan obesitas pada perempuan

tetapi tidak pada laki-laki (Janghorbani et al. 2007). Aktivitas fisik dapat berpengaruh terhadap perubahan jaringan lemak pusat, bahkan pada anak-anak

(Barbeau et al. 2007).

Mustelin et al. (2009) menemukan bahwa terdapat hubungan kuat antara aktivitas fisik dan lingkar perut. Aktivitas fisik secara nyata memodifikasi efek dari

faktor genetik seseorang. Peningkatan aktivitas fisik lebih berhubungan secara

nyata dengan lingkar perut daripada IMT. Williams dan Satariano (2005)

menemukan bahwa lingkar perut menurun secara signifikan dengan lari pada

semua umur, namun penurunan lebih nyata pada perempuan yang lebih tua

daripada yang lebih muda, khususnya pelari jarak pendek. Latihan tingkat berat

dapat menghindarkan penumpukan lemak yang bertambah seiring dengan umur.

Intervensi latihan (exercise) intensif tingkat moderat selama 12 bulan secara nyata merubah berat tubuh, lemak tubuh total, dan lemak perut. Exercise berperan pada penurunan lemak tubuh khususnya lemak perut (Irwin et al. 2003). Latihan sedang sampai berat selama 12 bulan menurunkan berat tubuh

rata-rata pada perempuan 1.4 kg dan kontrol 0.7 kg, pada laki-laki 1.8 kg dan 0.1

(36)

fisik berat atau sedang minimal 60 menit/hari disarankan untuk menurunkan

obesitas (McTiernan et al. 2007).

Menurut Koh-Banerjee et al. (2003), aktivitas fisik berat lebih dari 0.5 jam/hari menurunkan 0.91 cm lingkar perut. Aktivitas fisik menurunkan obesitas

sentral melalui penggunaan lemak dari daerah perut, sebagai hasil redistribusi

jaringan adiposa. Jumlah energi yang dikeluarkan pada waktu melakukan

aktivitas fisik tergantung dari durasi, waktu, dan frekuensi (WHO 2000). WHO

(2003) menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik sedang per hari selama 30

menit.

Perilaku KonsumsiMakanan/minuman

Perilaku konsumsi makanan/minuman adalah kebiasaan seseorang dalam

mengonsumsi makanan/minuman. Dalam penelitian ini perilaku konsumsi

meliputi konsumsi minuman beralkohol, konsumsi sayuran dan buah, konsumsi

makanan/minuman manis, dan konsumsi makanan berlemak.

Konsumsi minuman beralkohol

Penelitian yang dilakukan oleh Dorn et al. (2003) terhadap 2343 orang dewasa berumur 35-74 tahun di New York menemukan hubungan antara

konsumsi minuman beralkohol dengan distribusi lemak tubuh sentral. Lebih lanjut

Dorn et al (2003) menyatakan bahwa konsumsi minuman beralkohol secara berlanjut dapat meningkatkan lemak abdominal (lemak perut) sebagai risiko

untuk penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya. Demikian halnya dengan

beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan positif antara

konsumsi minuman beralkohol dengan obesitas sentral (Erem et al. 2004; Panagiotakos et al. 2004). Sebaliknya, Tolstrup et al. (2008) menemukan hubungan negatif antara frekuensi minuman beralkohol dengan 5 tahun

peningkatan lingkar perut pada perempuan, sedangkan pada laki-laki tidak

berhubungan. Koh-Banerjee et al. (2003) menemukan bahwa konsumsi minuman beralkohol tidak berhubungan dengan peningkatan lingkar perut setelah 9 tahun.

Penelitian kohort terhadap laki-laki berumur 70 tahun menunjukkan bahwa

asupan minuman beralkohol berhubungan positif dengan lingkar perut.

Berdasarkan hubungan antara jumlah minum/minggu dengan lingkar perut,

setiap tambahan minum/minggu meningkatkan lingkar perut 0.12 cm.

Berdasarkan diet tujuh hari, asupan minuman beralkohol berhubungan positif

(37)

lingkar perut, sebaliknya pada beer dan wine tidak berhubungan (Riserus&Ingelsson 2007).

Laki-laki dan perempuan yang mengonsumsi sejumlah minuman beralkohol

memiliki lingkar perut yang lebih besar setelah 10 tahun. Terdapat perbedaan

hubungan antara tipe minuman beralkohol dengan lingkar perut. Konsumsi beer meningkatkan lingkar perut pada laki-laki dan perempuan setelah 10 tahun.

Adapun konsumsi wine pada laki-laki berfluktuasi, sedangkan pada perempuan tidak berhubungan. Namun, terdapat kecenderungan rendahnya lingkar perut

pada laki-laki dan perempuan yang mengonsumsi sejumlah besar wine setelah 10 tahun. Spirit meningkatkan risiko obesitas pada laki-laki dan perempuan (Vadstrup et al. 2003). Bobak et al. (2003) menemukan bahwa asupan beer berhubungan positif dengan obesitas sentral pada laki-laki dan negatif pada

perempuan. Efek beer kuat pada laki-laki yang bukan perokok daripada laki-laki perokok.

Mekanisme hubungan antara tingginya asupan minuman beralkohol

dengan simpanan lemak perut tidak begitu jelas, kemungkinan karena minuman

beralkohol menyediakan sejumlah energi (6-10% asupan energi). Jika tingginya

asupan minuman beralkohol berhubungan dengan tingginya asupan energi,

asupan minuman beralkohol juga berhubungan dengan IMT (Riserus&Ingelsson

2007). WHO (2000) menyatakan bahwa satu gram minuman beralkohol dapat

menyumbangkan energi sebesar 7 kilokalori. Sumbangan energi ini lebih besar

dibandingkan dengan karbohidrat dan protein.

Tingginya asupan minuman beralkohol, tidak konsisten berhubungan

dengan IMT. Mungkin, minuman beralkohol berhubungan dengan obesitas

sentral melalui mekanisme non energi, seperti pengaruhnya terhadap hormon

steroid yang meningkatkan simpanan lemak perut. Tingginya asupan minuman

beralkohol, menyebabkan penurunan konsenstrasi darah testoteron pada

laki-laki, dan rendahnya sekresi lipid hormon steroid yang menyebabkan akumulasi

lemak visceral (Riserus&Ingelsson 2007). Konsumsi Sayuran dan Buah

Konsumsi tinggi sayuran, buah, dan biji-bijian berhubungan dengan

penambahan kecil pada IMT dan lingkar perut (Newby et al. 2003). Demikian halnya yang dinyatakan oleh Drapeau et al. (2004) bahwa konsumsi sayuran dan buah dapat menurunkan lingkar perut dan berat tubuh. Penelitian kohort

(38)

dengan risiko obesitas. Perempuan yang mengonsumsi buah lebih tinggi dapat

menurunkan 25% risiko obesitas dibandingkan yang lebih rendah (OR=0.75).

Perempuan dengan asupan sayuran lebih tinggi menurunkan 16% risiko obesitas

dibandingkan dengan yang lebih rendah (OR=0.84). Penurunan asupan sayuran

atau buah berhubungan dengan tingginya risiko peningkatan berat badan selama

12 tahun. Peningkatan asupan sayuran dan buah berhubungan nyata dengan

rendahnya risiko obesitas pada perempuan. Konsumsi sayuran dan buah adalah

bagian dari strategi diet dalam mengontrol kegemukan dan obesitas (He et al. 2004).

Epstein et al. (2001) menyatakan bahwa peningkatan intervensi sayuran dan buah menurunkan asupan tinggi lemak dan gula, sedangkan intervensi

penurunan lemak dan gula tidak berpengaruh pada perubahan asupan sayuran

dan buah. Peningkatan konsumsi karbohidrat dan serat dapat meningkatkan rasa

kenyang, menurunkan asupan energi, dan asupan lemak. Kontribusi utama

dalam mengontrol berat badan adalah menurunkan asupan energi dan

pembatasan diet. Peningkatan asupan serat 12 gram/hari berhubungan dengan

penurunan 0.63 cm lingkar perut dalam waktu 9 tahun (Koh-Banerjee et al. 2003). Serat dapat membatasi asupan energi dengan cara rendahnya densitas

energi, dan efek mempercepat rasa kenyang (WHO 2000).

Peningkatan konsumsi sayuran dan buah dapat menggantikan kelebihan

densitas energi dari diet dan mengurangi asupan lemak. Peningkatan konsumsi

buah lebih baik untuk mengontrol berat badan daripada sayuran. Buah lebih

mudah dimakan sebagai snack atau dessert, sedangkan sayuran sering dikombinasikan dengan bahan lain yang mengandung energi seperti mentega,

saus, minyak, dan keju. Buah lebih berperan dalam pengaturan berat badan

dibandingkan dengan jus buah. Buah mengandung serat yang menimbulkan efek

mempercepat rasa kenyang (Drapeau et al. 2004). Konsumsi Makanan/minuman Manis

Makanan manis meningkatkan berat tubuh dan lingkar perut. Hubungan ini

diduga karena kombinasi antara makanan berlemak dengan makanan manis.

Makanan manis seringkali kaya lemak (Drapeau et al. 2004). Diet fruktosa berkontribusi pada peningkatan asupan energi dan berat badan. Minuman manis

berenergi meningkatkan asupan energi yang berlebihan. Peningkatan konsumsi

(39)

HFCS dan peningkatan asupan soft drink dan minuman manis lain berperan

pada peningkatan total energi dan konsumsi fruktosa yang berkontribusi pada

epidemi obesitas (Bray et al. 2004).

Review yang dilakukan oleh Drewnowski (2007) memperlihatkan bahwa urbanisasi pada negara berkembang kuat hubungannya dengan peningkatan

konsumsi makanan manis. Mekanisme fisiologi mengapa konsumsi makanan

manis meningkatkan lemak tubuh melibatkan tingginya densitas energi dan efek

rasa lezat makanan manis dan efek lemahnya rasa kenyang. Beberapa

penelitian cross sectional menemukan bahwa tingginya asupan makanan manis berhubungan negatif dengan asupan makanan berlemak, sehingga dapat

memproteksi obesitas. Hal ini diduga karena terdapatnya counfounding seperti umur dan aktivitas fisik.

Review yang dilakukan oleh Malik et al. (2006) menunjukkan bahwa pada beberapa penelitian cross sectional terdapat hubungan positif, negatif atau tidak berhubungan antara asupan minuman manis dan kelebihan berat badan atau

obesitas. Demikian halnya pada penelitian kohort, juga ditemukan hubungan

positif, negatif atau tidak berhubungan antara asupan minuman manis dengan

obesitas. Terdapatnya hubungan antara konsumsi makanan manis dengan

obesitas diduga karena kontribusinya terhadap total energi. Minuman manis

berenergi menghasilkan asupan energi lebih tinggi daripada minuman manis

dengan pemanis buatan. Penggantian minuman manis berenergi dengan

minuman manis dengan gula buatan tidak memengaruhi total asupan energi.

Konsumsi makanan berlemak

Penelitian yang dilakukan oleh Guallar-Castillon et al. (2007) terhadap 33542 orang Spanyol berumur 29-69 tahun menunjukkan bahwa makanan

gorengan (food fried) berhubungan positif dengan obesitas umum dan obesitas sentral karena dapat menghasilkan asupan energi yang tinggi. Huot et al. (2004) menyatakan bahwa konsumsi makanan berlemak berhubungan dengan obesitas

pada laki-laki, namun tidak pada perempuan. Konsumsi makanan berlemak

dapat meningkatkan lingkar perut dan berat tubuh (Drapeau et al 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Garaulet et al (2001) terhadap 85 sampel obesitas tingkat 1 dan tingkat 2 berumur 30-70 tahun menunjukkan bahwa

konsumsi makanan berlemak merupakan faktor yang berhubungan dengan

(40)

Asupan lemak memiliki densitas energi lebih tinggi dibandingkan zat gizi

makro lain. Satu gram lemak menyumbang 9 kilokalori. Efek stimulasi makanan

berlemak pada asupan energi karena rasa enak di mulut ketika mengonsumsi

makanan berlemak. Makanan berlemak mengatur sinyal yang mengontrol rasa

kenyang dengan cara melemahkan, menunda, dan mencegah pada waktu

seseorang mengonsumsi makanan berlemak (WHO 2000).

Review yang dilakukan oleh Drewnowski (2007) menunjukkan bahwa perubahan pola diet berhubungan dengan transisi zat gizi yang secara langsung

berhubungan dengan obesitas. Di China, terdapat hubungan paralel antara

perkembangan ekonomi, peningkatan konsumsi lemak, dan obesitas. Mekanisme

fisiologi yang menjelaskan mengapa konsumsi makanan lemak berperan dalam

peningkatan lemak tubuh adalah densitas energi yang tinggi, rasa lezat makanan

berlemak, tingginya efisiensi metabolik, lemahnya kekuatan rasa kenyang, dan

lemahnya regulasi fisiologi asupan lemak terhadap asupan karbohidrat.

Stres

Lee et al. (2005) menemukan bahwa depresi berhubungan dengan lemak pusat (visceral fat) pada perempuan premenopause yang mengalami kegemukan. Depresi berhubungan pada peningkatan jangka panjang BWV

(Body Weight Variability) dan tidak berhubungan dengan level IMT atau trend IMT. Terdapat hubungan positif yang kuat antara jenis kelamin perempuan

dengan BWV. Hal ini menjelaskan hubungan nyata antara perempuan dengan

depresi (Hasler et al. 2005). Roberts et al. (2003) menemukan bahwa obesitas berhubungan dengan peningkatan depresi setelah 5 tahun. Depresi dapat

menyebabkan peningkatan IMT dan sekresi kortisol (Roberts et al. 2007).

Roemmich et al. (2007) menemukan bahwa reaktivitas stres mengawali penyakit kardiovaskuler sebelum remaja oleh peningkatan total dan obesitas

sentral pada anak. Anak dengan peningkatan reaktivitas heart rate pada waktu stres memilki peningkatan lemak tubuh, IMT, dan lemak pusat. Katz et al. (2000) menemukan bahwa depresi konsisten berhubungan dengan obesitas dan

obesitas sentral. Level metabolit kortisol meningkat pada laki-laki depresi, tetapi

tidak berhubungan dengan adiposa. Obesitas sentral pada laki-laki berhubungan

(41)

KERANGKA PEMIKIRAN

Obesitas sentral adalah salah satu jenis obesitas yang banyak dialami

orang dewasa, baik di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas

sentral terjadi akibat kelebihan akumulasi lemak pada daerah perut. Peningkatan

kejadian obesitas sentral berimplikasi pada peningkatan berbagai macam

penyakit degeneratif, seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, dislipidemia,

diabetes tipe 2, batu empedu, dan beberapa jenis kanker (WHO 2000).

Terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan terjadinya obesitas

sentral, antara lain karakteristik demografi dan sosial-ekonomi serta gaya-hidup.

Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi meliputi umur, jenis kelamin, status

kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, dan tipe

wilayah. Kejadian obesitas sentral meningkat seiring dengan bertambahnya umur

seseorang; makin bertambah umur, semakin meningkat kandungan lemak tubuh

total seseorang, terutama distribusi lemak pusatnya. Peningkatan umur pun

menyebabkan penurunan massa otot dan perubahan beberapa jenis hormon

sehingga dapat memicu penumpukan lemak perut.

Jenis kelamin juga berhubungan dengan kejadian obesitas sentral.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obesitas sentral lebih banyak dialami

perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini karena kelebihan lemak pusat

lebih banyak terdapat pada perempuan.

Status kawin berhubungan pula dengan kejadian obesitas sentral.

Beberapa penelitian menunjukkan, hubungan nyata positif antara status kawin dengan kejadian obesitas sentral. Seseorang yang menikah akan cenderung

menyesuaikan diri dengan pasangannya. Penyesuaian diri dapat memengaruhi

gaya hidup dan pola makannya.

Besar keluarga pun berpengaruh terhadap kejadian obesitas sentral.

Seseorang yang memiliki anggota keluarga kecil cenderung lebih berisiko

mengalami obesitas sentral dibandingkan dengan yang memiliki anggota

keluarga besar. Seseorang dengan anggota keluarga kecil cenderung memiliki

ketersediaan pangan lebih banyak daripada seseorang dengan anggota keluarga

besar.

Pendidikan juga berhubungan dengan kejadian obesitas sentral.

Pendidikan yang rendah dapat meningkatkan risiko obesitas sentral. Pendidikan

dapat memengaruhi kepercayaan seseorang mengenai kebiasaan makan. Di

(42)

seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi lebih mudah menyerap

informasi mengenai pesan kesehatan daripada seseorang yang berpendidikan

lebih rendah.

Perubahan dan peningkatan proporsi pekerjaan berhubungan pula dengan

terjadinya obesitas sentral. Hal tersebut karena pada beberapa jenis pekerjaan

tertentu tidak membutuhkan aktivitas fisik yang cukup sehingga terjadi

penumpukan kelebihan energi dalam tubuh. Begitu pun dengan peningkatan

pengeluaran per kapita, ini juga berhubungan dengan peningkatan kejadian

obesitas sentral. Hal itu terkait dengan kemudahan dalam memanfaatkan akses

dan penggunaan fasilitas modern yang membuat rendahnya aktivitas fisik

seseorang. Seseorang yang berpendapatan tinggi sering membelanjakan

pendapatannya tersebut untuk mengonsumsi pangan berenergi tinggi.

Tipe wilayah pun berhubungan dengan kejadian obesitas sentral. Beberapa

penelitian menemukan bahwa obesitas sentral lebih banyak dialami orang yang

tinggal di perkotaan d

Gambar

Gambar 1. Bagan kerangka pemikiran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral
Tabel 1. Kategori variabel penelitian
Tabel 2. Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel
Tabel 4. Sebaran sampel berdasarkan karakteristik demografi dan sosial-ekonomi terhadap kejadian obesitas sentral
+7

Referensi

Dokumen terkait

Maraknya prosesor digital dan mikrokontroler yang terlihat dengan harganya yang semakin murah, fasilitas yang semakin lengkap dan kecepatannya yang semakin tinggi, maka penyedia

Maka berdasarkan keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa ajakan, tantangan bersaing, atau dibaca sebagai tindakan janji Ki Enthus Susmono dengan (klaim) “Wayang Gagrak

Tujuan dari penelitian ini yakni untuk: (1) mengindentifikasi model bisnis dengan penerapan lean canvas; (2) kendala dalam penerapan lean canvas pada project bisnis mahasiswa

Beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk mengeksplorasi studi kasus adalah studi literatur, kajian literatur, pencarian data, survey kondisi fisik ruang berjalan kaki,

PESERTA NAMA L/P JENJANG TUGAS BID...

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diperolehnya informasi bahwa metabolisme protein pada ternak yang diberi ampas teh dapat berlangsung dengan baik.. Pakan

Kelima fitur ini akan membentuk 18 nilai tekstur sel Pap smear yang selanjutnya akan digunakan untuk klasifikasi sel ke dalam sel normal atau abnormal dengan menggunakan