• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Pasar Produk Sarapan Dengan Pendekatan Riset Aksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan Pasar Produk Sarapan Dengan Pendekatan Riset Aksi"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN PASAR PRODUK SARAPAN DENGAN

PENDEKATAN RISET AKSI

HANISA PRATIWI

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

▸ Baca selengkapnya: setelah rak dan produk sudah dibersihkan, display kembali produk hingga rapi sesuai dengan

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengembangan Pasar Produk Sarapan dengan Pendekatan Riset Aksi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Febuari 2015

(4)

ABSTRAK

HANISA PRATIWI. Pengembangan Pasar Produk Sarapan dengan Pendekatan Riset Aksi. Dibimbing oleh ENDANG WARSIKI dan AJI HERMAWAN.

Sarapan sering dilewatkan oleh sebagian besar orang. Sarapan berfungsi sebagai pemasok energi untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk: (i) mengidentifikasi permasalahan ketika sarapan, (ii) merancang solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah, dan (iii) menggunakan Business Model Canvas (BMC) untuk mendapatkan model bisnis yang sesuai dengan produk sarapan hasil rancangan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekan riset aksi yang terdiri atas pembuatan hipotesis model bisnis, tes permasalahan, perancangan produk, tes solusi, dan verifikasi model bisnis. Wawancara dilakukan pada 72 responden untuk tes permasalahan dan 56 responden potensial untuk tes solusi. Permasalahan utama pada sarapan yaitu porsi, biaya, antrian, kebersihan, dan cita rasa produk. Segmen konsumen yang memiliki masalah ialah mahasiswa dan pekerja. Solusi yang ditawarkan yaitu produk sarapan onigiri yang memiliki fitur praktis, porsi sesuai kebutuhan sarapan, harga terjangkau, dan rasa yang enak. Hasil tes solusi menunjukkan seluruh responden tertarik akan produk yang ditawarkan dan 79% responden menyatakan butuh akan kehadiran produk onigiri yang diberi merek dagang Icha-Ichi Onigiri.

Kata kunci: sarapan, riset aksi, onigiri, model bisnis

ABSTRACT

HANISA PRATIWI. The Customer Development of Breakfast Product Using Action Research. Supervised by ENDANG WARSIKI and AJI HERMAWAN.

Breakfast is often missed by most of people. Breakfast serves as an energy supplier to support dialy activities. The aims of this study were: (i) to identify the problems which occur during breakfast, (ii) to design the suitable solution to solve the problems, and (iii) to use Business Model Canvas (BMC) to get business model that suits breakfast product from the research. This study was conducted by using action research method which consists of making the business model hypotheses, test the problem, product design, test the solution, and business verification. Interviews were conducted with 72 respondents for test the problem and 56 potential respondents for test the solution. The main problems which occur during breakfast were: the food portion, the high cost, the length of queue, the hygiene of the food, and the taste of the food. The customer segments which had the problems were mostly college students and workers (employees). One of the offered solutions was onigiri, which has practical features, right portion, affordable price, and good taste. The result of the solution test showed that all respondents were interested in the product and 79% of the respondents said that they need the onigiri, which has a trademark called Icha-Ichi Onigiri.

(5)
(6)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

pada

Departemen Teknologi Industri Pertanian

PENGEMBANGAN PASAR PRODUK SARAPAN DENGAN

PENDEKATAN RISET AKSI

HANISA PRATIWI

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(7)
(8)
(9)
(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya, tak lupa shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya. Tanpa seizin dari-Nya, skripsi yang diberi judul Pengembangan Pasar Produk Sarapan dengan Pendekatan Riset Aksi tidak mungkin dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada:

1. Orang tua, Papa, Mama, Tante Ayu, Irfan, Reza, Nenek, Tante As, serta keluarga penulis lainnya atas segala bantuan dan doa yang telah diberikan 2. Dr Endang Warsiki, STP MSi dan Dr Ir Aji Hermawan, MM selaku dosen

pembimbing

3. Dr Eng Taufik Djatna, STP, MSi selaku dosen penguji

4. Seluruh dosen dan staff Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB 5. Keluarga besar Karya Salemba Empat dan Bank Mandiri yang telah menjadi

donatur dalam membantu biaya kuliah penulis

6. Recognizing and Monitoring Program (RAMP) yang telah bersedia mendanai penuh penelitian penulis. Bapak Aji, Bapak Eko, dan Kang Willy atas kesediaan waktunya untuk berdiskusi

7. Laboran Ibu Ega, Ibu Dyah, Ibu Rini, Bapak Gun, dan para responden 8. Kardinah, Brilliant, Suci, Tiwi, Febri, Egi, Kiki, Tiya, Icha, Achor, Hijran,

Mamet, dan kawan-kawan TIN47 lainnya atas kebersamaannya. Kakak-kakak TIN 46, Adik-adik TIN48 dan TIN49 atas segala bantuannya.

9. Erwin Nurhaq, Kuat Hadianto, Moch. Yusron, Yusuf Nur H, dan Alfi Ramadhan

10.Zainab, Maryam, Naomi, Milla, Zaitun, Amma, Fathimah, dan keluarga Smuth 16 lainnya. Sahabat-sahabat asrama Annisa, Dyah, Inestha, dan Yuliana atas dukungan dan hiburannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Febuari 2015

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1!

Latar Belakang 1!

Tujuan Penelitian 2!

Ruang Lingkup Penelitian 2!

METODE 3!

Tempat dan Waktu Penelitian 3!

Metode 3!

Prosedur Analisis Data 4!

HASIL DAN PEMBAHASAN 5!

Pembuatan hipotesis awal 5!

Asumsi Ukuran Pasar (Market Size) – sebelum tes permasalahan 9!

Tes permasalahan (Test the Problem) 11!

Ukuran Pasar (Market Size) – setelah tes permasalahan 17!

Perancangan Produk 19!

Tes Solusi (Test the Solution) 24!

Verifikasi Model Bisnis 33!

SIMPULAN DAN SARAN 36!

Simpulan 36!

Saran 37!

DAFTAR PUSTAKA 37!

LAMPIRAN 39

(12)

DAFTAR TABEL

1 Keterangan umum profil responden 12!

2 Daftar permasalahan sarapan 12!

3 Daftar dampak adanya permasalahan sarapan 13!

4 Daftar solusi yang dilakukan responden 13!

5 Daftar keluhan responden 13!

6 Daftar kendala dari solusi yang dilakukan responden 14! 7 Daftar fitur utama solusi produk sarapan yang diharapkan 14! 8 Daftar fitur tambahan produk sarapan yang diharapkan 14! 9 Daftar lokasi penjualan produk sarapan yang diharapkan 15!

10 Tingkat kebutuhan solusi produk sarapan 15!

11 Kategori harga jual produk sarapan yang diharapkan 15! 12 Perubahan komponen kanvas model bisnis (BMC 0 menjadi BMC 1) 16! 13 Perbandingan signifikansi kepulenan nasi antar perlakuan 20! 14 Perbandingan signifikansi kesukaan aroma nasi antar perlakuan 20! 15 Perbandingan signifikansi kesukaan rasa nasi antar perlakuan 21!

16 Analisis kesukaan rasa varian bahan isian 21!

17 Daftar konversi zat gizi 22!

18 Daftar perhitungan zat gizi produk sarapan onigiri per porsi 22! 19 Daftar konversi zat gizi untuk produk onigiri 22! 20 Daftar zat gizi makanan atau minuman ringan 22! 21 Permasalahan pada aktivitas sarapan beserta solusi yang ditawarkan 26!

22 Saran pada produk onigiri oleh responden 31!

23 Perubahan komponen kanvas model bisnis (BMC 1 jadi BMC 2) 33!

DAFTAR GAMBAR

1 Customer development process (Blank dan Dorf 2012) 2! 2 Potensi sarapan pagi untuk pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja

(sebelum tes permasalahan) 11!

3 Potensi pasar produk sarapan pagi untuk mahasiswa dan pekerja

(setelah tes permasalahan) 18!

4 Ilustrasi perancangan produk sarapan 19!

5 Ukuran genggaman produk onigiri 23!

6 Produk onigiri rasa ayam, rasa hati sapi, dan rasa ikan tuna (kiri ke

kanan) 23!

7 Ilustrasi kemasan produk onigiri paper wrap, paper bag, dan satchel

paper (kiri ke kanan) 24!

8 Keterangan varian rasa produk onigiri 24!

9 Hasil wawancara tes solusi produk onigiri 25!

10 Varian rasa yang disarankan responden 25!

11 Perbaikan tampilan produk onigiri yang disarankan responden 27! 12 Alasan responden ragu-ragu terhadap kesesuaian segmen konsumen

produk onigiri 28!

(13)

14 Lokasi dan cara penjualan produk onigiri yang disarankan oleh

responden 29!

15 Aspek-aspek pada produk makanan yang mempengaruhi loyalitas

responden 29!

16 Persentase tingkat kebutuhan responden terhadap produk onigiri 30!

17 Logo produk Icha-Ichi Onigiri 31!

18 Desain kemasan primer produk Icha-Ichi Onigiri. Ikon varian isi ayam, ikon varian isi ikan tuna, dan ikon varian isi hati sapi (kiri ke kanan) 32! 19 Desain kemasan sekunder (paper bag) produk Icha-Ichi Onigiri 32! 20 Desain kemasan sekunder tampak depan dan tampak belakang 32! 21 Tampilan produk Icha-Ichi Onigiri setelah perbaikan desain ikon per

varian rasa. Kiri ke kanan: rasa ayam, rasa ikan tuna, dan rasa hati sapi 33!

DAFTAR LAMPIRAN

1 Alur pengerjaan penelitian 39!

2 Kanvas model bisnis 0 42!

3 Perhitungan asumsi ukuran pasar (sebelum tes permasalahan) 43!

4 Daftar pertanyaan tes permasalahan 45!

5 Kanvas model bisnis 1 47!

6 Permasalahan sarapan pada responden 48!

7 Keluhan responden 49!

8 Solusi yang dilakukan responden 50!

9 Kendala solusi yang dilakukan responden 51!

10 Fitur-fitur solusi produk yang diharapkan 52!

11 Perhitungan penilaian potensial dan tidak potensial pada responden –

customer scoreboard 53!

12 Perhitungan ukuran pasar setelah tes permasalahn 57! 13 Perhitungan signifikansi kepulenan nasi antar perlakuan 59! 14 Perhitungan signifikansi kesukaan aroma nasi antar perlakuan 63! 15 Perhitungan signifikansi kesukaan rasa nasi antar perlakuan 67! 16 Perhitungan uji hedonik kesukaan rasa isian 71!

17 Daftar pertanyaan pada tes solusi 74!

18 Kanvas model bisnis 2 77!

(14)
(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sarapan merupakan waktu makan pada pagi hari yang berfungsi sebagai peningkat energi untuk menunjang aktivitas manusia. Menurut Stevanie (2011), ketika manusia istirahat atau tidur pada malam hari, maka tubuh akan melakukan proses pengosongan lambung dimana makanan terakhir yang masuk ke dalam tubuh adalah makanan yang dimakan antara pukul 18.00 – 20.00 atau sekitar jam makan malam. Sarapan diperlukan sebagai pemasok glukosa yang akan dikonversi kembali menjadi energi untuk menunjang aktivitas manusia pada pagi hari. Gibson & Gunn (2011) menambahkan sarapan berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi, mencegah hipoglikemia, dan menstabilkan kadar glukosa darah. Sarapan sering kali dilewatkan oleh orang-orang, terutama bagi mereka yang memulai kegiatannya pada pagi hari dan memiliki mobilitas tinggi. Data dari Wulandari (2013) menunjukkan bahwa 16.9% - 59% anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa di Indonesia tidak melakukan kegiatan sarapan setiap hari. Artinya, dari 246 877 748 jiwa masyarakat Indonesia (BPS 2013), terdapat 4 172 233 941 – 145 657 871 jiwa yang melewatkan sarapan setiap harinya.

Mengacu pada penelitian Murniati (2011), alasan umum yang menyebabkan manusia melewati sarapan ialah tidak sempat, tidak memiliki nafsu makan, dan tidak ada pangan untuk disantap atau pangan tidak disediakan di rumah. Menurut Sandercock (2010), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebiasaan sarapan seseorang, di antaranya adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, waktu tempuh atau jarak antara rumah dengan lokasi aktivitas, dan penghasilan. Melewati sarapan akan menyebabkan lambung dalam kondisi kosong selama 10 – 11 jam sejak makan malam terakhir dilakukan, hal ini akan memicu terjadinya pembongkaran persediaan tenaga pada jaringan lemak oleh tubuh yang menyebabkan kondisi tubuh menjadi lemas (Stevanie 2011).

(16)

2

pelanggan (customer relationship), aliran dana (revenue streams), aset sumber daya (key resources), aset kegiatan (key activities), aset kemitraan (key partnership), dan struktur biaya (cost structure). Hasil akhir dari penelitian ini adalah terciptanya sebuah solusi berupa suatu produk sarapan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia serta kanvas model bisnis yang sesuai dengan produk sarapan hasil rancangan.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk (i) mengidentifikasi permasalahan ketika sarapan, (ii) merancang solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah, dan (iii) menggunakan Business Model Canvas (BMC) untuk mendapatkan model bisnis yang sesuai dengan produk sarapan hasil rancangan.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup metode validasi pengembangan pasar yang dilakukan pada penelitian ini mengacu pada teori customer development process yang terdiri atas empat tahapan yaitu, customer discovery, customer validation, customer creation, dan company building (Blank dan Dorf 2012). Penelitian ini berfokus pada tahap pertama yaitu customer discovery (Gambar 1). Customer discovery dibagi lagi menjadi empat tahapan, yaitu membuat hipotesis awal, tes permasalahan, tes solusi, dan verifikasi model bisnis. Customer discovery berperan untuk menguji persepsi konsumen terhadap permasalahan yang dialami dan kebutuhan konsumen akan penyelesaian masalah tersebut (Blank dan Dorf 2012).

Hasil dari masing-masing tahapan yang dilakukan pada customer discovery dirangkum dalam model bisnis yang diadaptasi dari business model canvas (BMC) atau kanvas model bisnis oleh Osterwalder dan Pigneur (2012). Terdapat sembilan komponen bisnis dalam BMC, yaitu proposisi nilai, segmen pelanggan, hubungan pelanggan, jalur, aliran pendapatan, sumber daya kunci, aktivitas kunci, kemitraan, dan struktur biaya. Komponen bisnis yang difokuskan dalam penelitian ini adalah proposisi nilai, segmen pelanggan, hubungan pelanggan, jalur, aliran pendapatan, dan struktur biaya.

Gambar 1 Customer development process (Blank dan Dorf 2012) Customer

Discovery!

Customer Validation!

Customer Creation!

Company Building!

(17)

3

METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan tersebar di daerah Bogor, Bandung, dan Jakarta. Daerah Bogor di antaranya adalah kampus Institut Pertanian Bogor, daerah Dramaga, dan daerah Padjajaran. Jakarta di daerah Universitas Indonesia. Bandung di daerah Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Pendidikan Indonesia. Waktu penelitian dimulai dari bulan Febuari 2014 – Januari 2015.

Metode

Tahapan pertama customer discovery yaitu pembuatan hipotesis awal, pada tahap ini hipotesis dirangkum ke dalam BMC 0. Setelah itu masuk ke tahap dua yaitu test permasalahan, hipotesis yang sudah dirangkum dalam BMC 0 diuji kepada responden apakah komponen-komponen pada model bisnis sudah sesuai dengan kebutuhan mayoritas responden. Jika hasil yang didapatkan belum sesuai dengan kebutuhan mayoritas responden, maka kembali lagi ke tahapan pertama yaitu memperbaiki hipotesis. Hasil perbaikan hipotesis lalu diuji kembali dengan tes permasalahan pada responden yang sama. Jika mayoritas responden menyatakan bahwa hasil tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan mereka, maka penelitian berlanjut ke tahapan ketiga yaitu tes solusi. Hasil dari tes permasalahan adalah didapatkannya daftar permasalahan, solusi yang telah dilakukan, solusi yang diinginkan, serta keterangan tambahan lain mengenai aktivitas sarapan yang dilakukan responden. Data-data yang didapatkan dari tes permasalahan dianalisis dengan menggunakan teknik reduksi dan kategorisasi (Satori dan Komariah 2011). Analisis data dilakukan untuk menentukan responden yang potensial, tidak potensial, serta segmen konsumen. Metode analisis untuk menilai konsumen potensial dan tidak potensial yang digunakan terdapat dalam Blank dan Dorf (2012), yaitu customer scorecard.

Hasil tes permasalahan dikonversi menjadi sebuah prototype product atau minimum viable product (MVP) yang dirancang pada tahap perancangan produk. Minimum viable product adalah produk yang sudah memiliki elemen-elemen yang dianggap mampu menyelesaikan permasalahan atau memenuhi kebutuhan konsumen (Blank dan Dorf 2012). Setelah produk sarapan dirancang, penelitian dilanjutkan ke tahap berikutnya: tes solusi kepada responden potensial.

Tes solusi dilakukan untuk mengetahui apakah MVP yang ditawarkan sudah memiliki elemen-elemen kunci yang dapat menyelesaikan permasalahan konsumen. Jika belum sesuai, maka dilakukan perancangan ulang baik dari MVP ataupun komponen BMC yang kemudian diuji kembali kesesuaiannya pada responden yang sama. Jika mayoritas responden menyatakan bahwa MVP beserta komponen BMC-nya sudah sesuai, maka didapatkan sebuah produk sarapan yang sesuai bagi segmen konsumen beserta model bisnisnya.

(18)

4

telah dilakukan. Terdapat tiga faktor verifikasi yang digunakan sebagai parameter sebuah model bisnis yang ditetapkan sudah sesuai, yaitu kecocokan produk dengan pasar, pelanggan produk dan cara mencapainya, dan pendapatan yang didapatkan oleh perusahaan (Blank dan Dorf 2012). Alur pengerjaan penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode riset bisnis kategori riset aksi atau riset tindakan. Satori dan Komariah (2011) menjelaskan bahwa “penelitian kualitatif dilakukan untuk mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif”. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan reduksi data. Reduksi data merupakan penyusunan data-data penting yang dipilih berdasarkan kategori tertentu untuk menghasilkan gambaran yang lebih jelas mengenai hasil pengamatan (Satori dan Komariah 2011).

Menurut Umar (2003), riset aksi bertujuan untuk mengidentifikasi masalah (problem identification research) atau mengatasi masalah (problem solving research). Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara langsung pada responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling kepada responden pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Purposive sampling merupakan salah satu cara menentukan sampel yang didasari oleh pertimbangan atau karakteristik tertentu (Sugiyono 2010). Menurut Blank dan Dorf (2012), responden sebanyak 50 orang dianggap sudah mencukupi untuk menghasilkan data yang stasioner atau jenuh. Artinya, penambahan responden tidak menghasilkan sebuah informasi baru. Namun, dalam penelitian ini dilakukan pengambilan sampel sebanyak 72 responden untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Wawancara dilakukan dalam dua tahap, yaitu wawancara pada tes permasalahan dan tes solusi.

Pada tahap tes permasalahan, wawancara yang digunakan ialah wawancara semi standar atau wawancara semi struktur untuk mengetahui dan menggali informasi sedalam mungkin mengenai permasalahan dan keinginan responden pada produk sarapan. Daftar pertanyaan tes permasalahan dapat dilihat pada Lampiran 4.

Wawancara terstandar atau wawancara terstruktur digunakan dalam tes solusi pada responden yang sama. Responden yang diwawancara pada tahap tes solusi ialah sebanyak 56 responden potensial. Jumlah tersebut didapatkan dari analisis data tes permasalahan dengan menggunakan customer scoreboard yang akan menghasilkan data konsumen potensial dan konsumen tidak potensial. Daftar pertanyaan tes solusi dapat dilihat pada Lampiran 17.

Prosedur Analisis Data

(19)

5 teknik reduksi dan kategorisasi akan menunjukkan tingkat perkembangan kejenuhan jawaban dari responden. Segmen konsumen yang didapatkan dari data hasil tes permasalahan akan dikategorikan menjadi dua yaitu konsumen potensial dan tidak potensial. Pengkategorian ini merujuk kepada cara customer scoreboard yang terdapat di Blank dan Dorf (2012), yaitu pemberian skor angka untuk masing-masing parameter sehingga didapatkan nilai yang menunjukkan apakah konsumen tersebut potensial atau tidak potensial.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan hipotesis awal

Hipotesis pada model bisnis akan dibuktikan dengan melakukan tes permasalahan untuk menentukan apakah hipotesis yang sudah dirancang sesuai dengan kenyataan yang dialami oleh konsumen. Hipotesis pada penelitian ini ialah adanya permasalahan ketika sarapan yang dialami oleh segmen konsumen dengan karakteristik: memiliki aktivitas pada pagi hari, sibuk, dan mobilisasi cenderung tinggi yang menyebabkan terlewatnya atau tertundanya kegiatan sarapan. Segmen konsumen yang memiliki karakteristik tersebut ialah pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Hipotesis segmen konsumen tersebut didukung data dari media harian online Okezone (2013) dan Jawapos (2014) yang menyebutkan jam masuk sekolah di Indonesia ialah pukul 06:30 WIB dan jam masuk kantor bagi PNS pada pukul 07:30 WIB. Pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja dihipotesiskan memiliki permasalahan ketika sarapan dan membutuhkan solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut berupa produk sarapan yang praktis, bersih, mengenyangkan, dan harga terjangkau. Rangkuman hipotesis awal untuk kanvas model bisnis dapat dilihat pada Lampiran 2.

Proposisi nilai (value proposition)

Proposisi nilai adalah kelebihan atau manfaat yang akan didapatkan oleh konsumen atas suatu produk atau jasa yang ditawarkan produsen (Tim PPI Manajemen 2012). Penawaran proposisi nilai atau manfaat produk digunakan sebagai daya tarik agar pelanggan menggunakan atau membeli produk dari perusahaan tersebut.

Terdapat berbagai cara untuk memenuhi kegiatan sarapan, di antaranya adalah sarapan di rumah, membeli produk sarapan, membawa bekal sarapan, dan lain sebagainya. Walaupun penting, sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang melewatkan sarapan akibat padatnya aktivitas pada pagi hari. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis awal mengenai permasalahan sarapan ialah masyarakat melewatkan sarapan akibat sibuknya aktivitas pada pagi hari. Proposisi nilai yang diasumsikan sesuai untuk permasalahan tersebut ialah produk sarapan yang memiliki fitur manfaat sebagai berikut :

! Praktis

(20)

5 teknik reduksi dan kategorisasi akan menunjukkan tingkat perkembangan kejenuhan jawaban dari responden. Segmen konsumen yang didapatkan dari data hasil tes permasalahan akan dikategorikan menjadi dua yaitu konsumen potensial dan tidak potensial. Pengkategorian ini merujuk kepada cara customer scoreboard yang terdapat di Blank dan Dorf (2012), yaitu pemberian skor angka untuk masing-masing parameter sehingga didapatkan nilai yang menunjukkan apakah konsumen tersebut potensial atau tidak potensial.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan hipotesis awal

Hipotesis pada model bisnis akan dibuktikan dengan melakukan tes permasalahan untuk menentukan apakah hipotesis yang sudah dirancang sesuai dengan kenyataan yang dialami oleh konsumen. Hipotesis pada penelitian ini ialah adanya permasalahan ketika sarapan yang dialami oleh segmen konsumen dengan karakteristik: memiliki aktivitas pada pagi hari, sibuk, dan mobilisasi cenderung tinggi yang menyebabkan terlewatnya atau tertundanya kegiatan sarapan. Segmen konsumen yang memiliki karakteristik tersebut ialah pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Hipotesis segmen konsumen tersebut didukung data dari media harian online Okezone (2013) dan Jawapos (2014) yang menyebutkan jam masuk sekolah di Indonesia ialah pukul 06:30 WIB dan jam masuk kantor bagi PNS pada pukul 07:30 WIB. Pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja dihipotesiskan memiliki permasalahan ketika sarapan dan membutuhkan solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut berupa produk sarapan yang praktis, bersih, mengenyangkan, dan harga terjangkau. Rangkuman hipotesis awal untuk kanvas model bisnis dapat dilihat pada Lampiran 2.

Proposisi nilai (value proposition)

Proposisi nilai adalah kelebihan atau manfaat yang akan didapatkan oleh konsumen atas suatu produk atau jasa yang ditawarkan produsen (Tim PPI Manajemen 2012). Penawaran proposisi nilai atau manfaat produk digunakan sebagai daya tarik agar pelanggan menggunakan atau membeli produk dari perusahaan tersebut.

Terdapat berbagai cara untuk memenuhi kegiatan sarapan, di antaranya adalah sarapan di rumah, membeli produk sarapan, membawa bekal sarapan, dan lain sebagainya. Walaupun penting, sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang melewatkan sarapan akibat padatnya aktivitas pada pagi hari. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis awal mengenai permasalahan sarapan ialah masyarakat melewatkan sarapan akibat sibuknya aktivitas pada pagi hari. Proposisi nilai yang diasumsikan sesuai untuk permasalahan tersebut ialah produk sarapan yang memiliki fitur manfaat sebagai berikut :

! Praktis

(21)

6

produk yang praktis atau siap saji seperti jajanan, roti, minuman sereal, teh, dan lain sebagainya.

! Bersih

Kebersihan merupakan salah satu fitur penting yang harus ada dalam suatu produk pangan. Produk pangan yang diolah dalam kondisi yang tidak bersih dapat menyebabkan berbagai macam penyakit bagi konsumen. Tingkat kebersihan produk sarapan yang banyak di jual di pinggir jalan seperti jajanan, gorengan, dan lainnya tidak terjamin karena adanya kontak secara langsung antara asap kendaraan dan udara bebas dengan produk pangan. Selain itu, produk pangan yang bersih dapat memperpanjang umur simpan produk pangan.

! Harga terjangkau

Harga merupakan salah satu faktor penentu konsumen membeli suatu produk. Harga yang tidak sesuai dapat mengakibatkan rendahnya jumlah produk yang terjual. Hipotesis mengenai harga produk sarapan yang dinilai terjangkau mengacu pada data rata-rata pengeluaran per kapita sebulan (rupiah) menurut kelompok barang dan daerah tempat tinggal yang terdapat pada BPS (2013). Kategori yang digunakan ialah pengeluaran rata-rata makanan dan minuman jadi senilai Rp 128 770 per bulan atau Rp 4 292 per hari. Maka harga produk sarapan yang dinilai terjangkau ialah sekitar Rp 4 292. makanan atau minuman ringan: roti tawar (248.50 kkal), roti manis/roti lain (161.50 kkal), kue basah (137.50 kkal), dan makanan gorengan (181.00 kkal). Jumlah kalori tersebut belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi untuk sarapan dimana menurut Khomsan (2005), kalori yang dibutuhkan untuk sarapan ialah kurang lebih 500 kkal – 550 kkal atau 25% dari kebutuhan kalori sehari. Fitur mengenyangkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi untuk menyuplai energi saat beraktivitas hingga siang hari.

Segmen pelanggan (customer segments)

Segmen konsumen yang diasumsikan memiliki permasalahan saat sarapan ialah segmen konsumen yang memulai aktivitasnya pada pagi hari, memiliki tingkat mobilisasi yang cenderung padat atau tinggi sehingga tidak sempat untuk sarapan. Karakter tersebut dinilai ada pada segmen konsumen pelajar sekolah, mahasiswa dan pekerja. Pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja pada umumnya memulai aktivitasnya pada pagi hari. Hal ini disebabkan oleh jam masuk sekolah, kuliah, dan kantor dimulai pada pagi hari.

Hubungan Pelanggan (customer relationship)

(22)

7 tersebut, akibatnya perusahaan tidak mampu mendapatkan pelanggan (Tim PPI Manajemen 2012). Hubungan pelanggan merupakan salah satu cara untuk menyampaikan informasi profil produk kepada konsumen dengan target untuk mendapatkan pelanggan. Hubungan pelanggan juga berfungsi untuk memelihara pelanggan yang sudah menggunakan produk perusahaan dan mengembangkan atau memperluas jangkauan segmen konsumen yang belum tergapai. Menurut Blank dan Dorf (2010), terdapat tiga tahapan pada hubungan pelanggan yaitu mendapatkan pelanggan, mempertahankan pelanggan, dan meperbesar pelanggan.

Produk sarapan yang akan dirancang memiliki target konsumen pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja yang secara umum berumur antara 15 – 55 tahun. Segmen konsumen yang memiliki rentang umur 15 – 35 tahun memiliki kecenderungan untuk terlibat secara aktif pada media sosial di internet. Hal ini ditunjukkan dalam media online Kominfo (2013) yang menyatakan bahwa pada tahun 2013, sebanyak 63 juta masyarakat Indonesia dengan rentang umur 13 – 45 tahun merupakan pengguna internet dan 95%-nya menggunakan internet untuk keperluan media sosial. Berdasarkan data tersebut, maka media online ataupun media sosial merupakan salah satu media yang berpotensi untuk dijadikan sebagai media promosi pada tahap mendapatkan pelanggan. Selain media online, dilakukan juga promosi dengan cara mengikuti bazar pada acara-acara yang banyak didatangi oleh segmen konsumen kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja.

Tahap selanjutnya ialah mempertahankan pelanggan. Peningkatan kualitas produk sarapan dari segi konsistensi rasa dan harga yang sebanding dengan kualitas produk merupakan salah satu cara untuk mempertahankan pelanggan. Mengadakan promo produk melalui diskon atau penerapan konsep kupon pada hari-hari besar tertentu juga dapat dilakukan untuk mempertahankan pelanggan.

Tahap memperbesar pelanggan dapat dilakukan setelah target segmen konsumen pelajar, mahasiswa, dan pekerja didapatkan dan dipertahankan. Perancangan produk-produk sarapan baru seperti produk sarapan khusus diet atau produk sarapan khusus kaum vegetarian dapat dijadikan salah satu cara untuk memperbesar pelanggan produk sarapan.

Jalur (channel)

Komponen kanvas model bisnis channel merupakan jalur yang digunakan oleh perusahaan sebagai suatu sistem penjualan untuk menghantarkan proposisi nilai (value proposition) yang dimiliki oleh suatu produk kepada konsumen (Tim PPI Manajemen 2012). Sistem penjualan yang dinilai sesuai untuk produk sarapan yang akan dirancang ialah melalui penjualan secara langsung (direct sell) dan penjualan secara tidak langsung (indirect sell). Penjualan secara langsung dilakukan melalui pembukaan stand pada lokasi-lokasi yang dianggap strategis. Penjualan secara tidak langsung dilakukan dengan cara bekerja sama dengan pihak kedua seperti reseller atau kerja sama dengan kantin-kantin yang terdapat pada sekolah, kampus, atau kantor. Pemilihan jalur penjualan melalui pembuatan stand, reseller, dan kantin didasari oleh karakteristik produk sarapan yang harus mudah ditemukan dan tersedia dimana-mana.

Aliran Pendapatan (revenue stream)

(23)

8

sebagai parameter suatu aliran pendapatan ialah penghasilan dalam bentuk uang yang dihasilkan. Penjualan produk merupakan salah satu cara mendapatkan penghasilan untuk perusahaan. Jalur aliran pendapatan yang akan digunakan oleh produk sarapan ialah dengan melakukan penjualan produk kepada segmen konsumen. Penjualan produk dilakukan secara langsung dan melalui perantara. Penjualan produk secara langsung merupakan penjualan yang langsung dilakukan oleh perusahaan kepada konsumen. Penjualan melalui perantara dilakukan dengan bantuan dari reseller atau menitipkan produk ke kantin atau warung.

Asumsi awal harga penjualan produk sarapan mengacu kepada data rata-rata pengeluaran per kapita sebulan (rupiah) menurut kelompok barang dan daerah tempat tinggal yang terdapat pada BPS (2013). Jenis makanan yang diasumsikan digunakan oleh masyarakat perkotaan untuk memenuhi kebutuhan sarapan ialah makanan dan minuman jadi dengan jumlah Rp 128 770 per bulan atau Rp 4 292 per hari.

Sumber Daya Kunci (key resources)

Hipotesis sumber daya kunci atau key resources produk sarapan terbagi menjadi tiga jenis yaitu bahan baku, sumber daya manusia, dan teknologi. Bahan baku untuk mengolah produk sarapan didapatkan dari menjalin kemitraan dengan pemasok bahan baku. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya produksi yang dikeluarkan. Sumber daya manusia yang digunakan ialah pegawai, reseller, dan ibu-ibu rumah tangga. Pegawai digunakan untuk membantu proses produksi produk sarapan. Reseller dibutuhkan untuk melakukan distribusi penjualan produk sarapan. Produksi produk sarapan tersebar diberbagai tempat untuk mempermudah proses distribusi, maka dari itu digunakan tenaga kerja tambahan ibu-ibu rumah tangga. Proses produksi akhir produk sarapan akan dilakukan di perumah ibu-ibu rumah tangga yang sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan.

Aktivitas Kunci (key activities)

Aktivitas kunci yang diperlukan untuk menjalankan roda bisnis produk sarapan ialah pengadaan bahan baku, produksi, marketing atau pemasaran, dan distribusi. Bahan baku di pasok dari pemasok bahan baku dengan cara menjalin kerja sama mitra. Kegiatan produksi diasumsikan dibagi dua, yaitu produksi produk utama dan produksi finishing. Produksi produk utama yaitu aktivitas produksi yang mengolah bahan baku menjadi produk sarapan setengah jadi yang dilakukan pada sebuah rumah produksi. Produksi finishing merupakan pengolahan produk sarapan hingga menjadi produk akhir yang siap dipasarkan. Produksi finishing ini dilakukan pada perumahan ibu-ibu rumah tangga yang sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan.

Kemitraan (key partner)

(24)

9 yaitu ibu-ibu rumah tangga yang bertugas untuk mengolah bahan setengah jadi menjadi produk jadi produk sarapan. Kemitraan dengan reseller dilakukan dengan cara mencari sumber daya manusia yang bersedia bekerja sama untuk memasarkan produk sarapan. Rumah produksi finishing yang dijalankan oleh ibu-ibu rumah tangga yang sudah bekerja sama dengan tujuan untuk memudahkan distribusi kepada reseller. Hal ini dilakukan agar reseller tidak perlu mengambil barang ke rumah produksi utama. Sebaliknya, rumah produksi utama tidak perlu mengantarkan produk secara langsung kepada masing-masing reseller.

Struktur Biaya (cost structure)

Analisis biaya untuk menentukan harga pokok produksi pada produk sarapan ialah dengan menggunakan metode full costing. Full costing merupakan metode yang menggunakan aspek biaya yang berpengaruh kepada produk secara keseluruhan. Aspek pembiayaan yang diperhitungkan dalam metode full costing adalah direct material, direct labor, dan overhead (Warindrani 2006). Direct material merupakan bahan-bahan yang berhubungan langsung dengan produk sarapan. Direct labor adalah tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan proses pengolahan atau proses produksi produk sarapan. Biaya overhead merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan diluar proses produksi seperti bahan bakar, listrik, pemeliharaan bangunan, dan lain sebagainya. Selain direct material, direct labor, dan overhead, terdapat biaya lain yang dimasukkan dalam analisis biaya full costing yaitu biaya pemasaran, distribusi, dan biaya return product.

Kanvas model bisnis 0 kemudian di uji dengan dilakukan tes permasalahan yang menanyakan langsung kepada responden segmen konsumen yaitu mahasiswa, pelajar sekolah, dan pekerja. Pertanyaan yang ditanyakan kepada masing-masing responden ialah: intensitas sarapan, permasalahan ketika sarapan, dampak yang diakibatkan akibat adanya masalah, solusi yang saat ini responden lakukan, kendala dari solusi yang dilakukan, harapan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan responden, ketertarikan responden akan hadirnya alternatif solusi yang diharapkan, tingkat kebutuhan responden pada alternatif solusi yang diharapkan, dan kesediaan untuk tes solusi. Daftar pertanyaan tes permasalahan dapat dilihat pada Lampiran 4.

Asumsi Ukuran Pasar (Market Size) – sebelum tes permasalahan Ukuran pasar bertujuan mengetahui seberapa besar potensi pasar untuk suatu produk. Besarnya jumlah pasar pada ukuran pasar mengerucut menjadi tiga bagian yaitu Total Addressable Market (TAM), Served Available Market (SAM), dan Target Market (TM). Pada pengembangan pasar produk sarapan, dihipotesiskan segmen konsumennya ialah pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Gambar 2 menunjukkan rangkuman TAM, SAM, dan TM.

Total Addressable Market (TAM)

(25)

10

Data dari Kemendikbud (2012) menunjukkan bahwa penduduk usia sekolah yang bersekolah 7-18 tahun berjumlah 42 468 842 jiwa. Data penduduk usia sekolah yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi sebesar 5 381 270 jiwa. Data dari Sakernas (2012), total jumlah penduduk 15 tahun ke atas menurut status pekerjaan utama di Indonesia ialah 110 808 154 jiwa. Total segmen konsumen pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja ialah 158 658 266 jiwa. Jumlah tersebut menunjukkan asumsi TAM untuk pasar sarapan dengan segmentasi konsumen pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Jika diasumsikan harga rata-rata untuk produk sarapan yang merujuk pada data rata-rata pengeluaran per kapita sebulan (rupiah) menurut kelompok barang dan daerah tepat tinggal kategori makanan dan minuman jadi yang didapatkan dari BPS (2013) sebesar Rp 4 292 per hari dan asumsi setiap orang melakukan kegiatan sarapan sekali sehari, maka dapat dihitung asumsi besarnya potensi pendapatan dari pasar sarapan. Potensi pendapatan pasar sarapan yang dapat dihasilkan ialah sebesar Rp 248 550 866 350 280 per tahun. Hasil tersebut didapatkan dari perkalian antara total TAM dan asumsi harga produk sarapan. Perhitungan asumsi pendapatan TAM pasar produk sarapan dapat dilihat pada Lampiran 3.

Served Available Market (SAM)

Served Available Market (SAM) pasar sarapan adalah segmen konsumen yang mengalami masalah saat melakukan aktivitas sarapan. Data dari Wulandari (2013) menyebutkan bahwa 16.9% - 59% masyarakat Indonesia anak usia sekolah, remaja, dan dewasa tidak sarapan. Jika diambil nilai tengah dari rentang nilai persen tersebut maka, sebanyak 37.95% anak usia sekolah, remaja, dan dewasa yang tidak sarapan. Asumsi potensi besarnya jumlah segmen konsumen untuk pasar sarapan sebesar 158 658 266 jiwa, yang diambil dari nilai TAM, maka terdapat 60 210 881 jiwa yang melewatkan sarapan. Hasil penelitian dari Djusmidar (1991) menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor yang menyebabkan tidak dilakukannya kegiatan sarapan yaitu, faktor fisiologis (55.6%), faktor waktu (33.3%), dan faktor kesehatan (11.1%). Permasalahan yang dapat diselesaikan ialah tidak dilakukannya kegiatan sarapan akibat faktor waktu, yaitu sebanyak 33.3%. Djusmidar (1991) menerangkan faktor waktu terdiri dari tidak sempat dan terburu-buru ketika melakukan aktivitas pada pagi hari. Jika diasumsikan 33.3% dari 60 210 881 jiwa yang melewatkan sarapan akibat faktor waktu, maka terdapat 20 050 223 jiwa anak usia sekolah, mahasiswa, dan pekerja yang melewatkan sarapan karena terburu-buru atau tidak sempat. Jika diasumsikan harga produk sarapan ialah Rp 4 292 dan sarapan dilakukan setiap hari sekali, maka potensi pendapatan pasar sarapan untuk kategori SAM ialah sebesar Rp 86 055 557 116 per hari. Perhitungan asumsi pendapatan SAM dapat dilihat pada Lampiran 3.

Target Market (TM)

(26)

11 sebesar 20 050 jiwa untuk satu kota, dengan asumsi harga produk sarapan Rp 4 292. Jika diasumsikan sarapan dilakukan setiap hari sekali, maka potensi pendapatan pasar produk sarapan untuk TM ialah sebesar Rp 86 054 600 per hari. Perhitungan asumsi pendapatan TM dapat dilihat pada Lampiran 3.

Tes permasalahan (Test the Problem)

Wawancara tes permasalahan dilakukan pada 72 orang responden yang terdiri atas pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Data mengenai keterangan profil umum responden yang diwawancarai dapat dilihat pada Tabel 1. Tes permasalahan kepada responden pelajar menunjukkan hasil yang negatif. Sebanyak sembilan dari sepuluh responden pelajar sekolah yang diwawancarai menerangkan bahwa mereka tidak memiliki masalah sarapan. Hal ini disebabkan oleh sarapan sudah disediakan oleh orang tua masing-masing di rumah, kalaupun mereka tidak sempat atau sedang terburu-buru, maka orang tua sudah menyiapkan bekal untuk di bawa ke sekolah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelajar sekolah akan dihilangkan dari segmentasi konsumen (customer segment) pada kanvas model bisnis 1 (Lampiran 5). Segmen konsumen selanjutnya ialah mahasiswa, mayoritas mahasiswa yang diwawancarai menunjukkan hasil yang positif, yaitu mereka memang memiliki masalah ketika sarapan dan mengharapkan adanya sebuah solusi alternatif agar dapat melakukan aktivitas sarapan secara efektif (87.5% dari 32 responden mahasiswa).

Segmen terakhir adalah pekerja atau orang yang sudah bekerja. Berdasarkan tes permasalahan, pekerja dengan tipe pekerjaan yang cenderung santai, dapat mobilisasi ke lain tempat, dan peraturan kerja yang tidak mengikat, seperti pekerjaan laboran, driver, penjaga toko kelontongan, dan pekerjaan sejenisnya cenderung tidak memiliki masalah sarapan. Hal ini disebabkan oleh mereka diberikan kebebasan untuk makan saat jam kerja atau di luar jam istirahat. Jenis pekerjaan yang memiliki masalah saat sarapan ialah pekerjaan dengan karakter peraturan kerja yang mengikat, pekerja cenderung sibuk dari mulai jam masuk

Gambar 2 Potensi sarapan pagi untuk pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja (sebelum tes permasalahan) TAM!

158 658 266 jiwa potensi pasar sarapan

• Potensi pendapatan pasar sarapan Rp 248 550 866 350 280 per hari

SAM

20 050 223 jiwa potensi pasar sarapan • Potensi pendapatan pasar sarapan Rp 86 055

557 116 per hari

TM

• 20 050 jiwa potensi pasar sarapan

(27)

12

hingga jam keluar atau jam istirahat, dan tidak dapat mobilisasi ke sembarang tempat, seperti pegawai bank, pegawai department store, pegawai rumah sakit, dan pekerjaan sejenisnya. Mengacu pada hasil tersebut, maka segmentasi konsumen pekerja untuk kanvas model bisnis 1 dikerucutkan menjadi pekerja yang memiliki karakter pekerjaan yang cenderung ketat seperti pekerja kantoran (pemerintah ataupun swasta), pegawai department store, pegawai ritel atau supermarket, pegawai rumah sakit, dan pekerjaan dengan karakter sejenis.

Hasil tes permasalahan pada 72 responden pelajar sekolah, mahasiswa, dan pekerja menunjukkan bahwa sebanyak 28 responden melakukan kegiatan sarapan setiap hari, 35 responden kadang-kadang sarapan, dan 9 responden tidak pernah sarapan. Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 1 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4).

Sebanyak 96% dari total responden menyatakan ada masalah saat sarapan dan 4% menyatakan tidak ada masalah saat sarapan (Lampiran 6). Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 2 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar permasalahan yang ditampilkan adalah urutan frekuensi lima teratas yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Daftar permasalahan sarapan

Permasalahan Frekuensi

Terburu-buru 35

Ada aktivitas lebih pagi atau sibuk 21

Terlambat 21

Belum mau makan 12

Warung atau kantin sekitar belum buka 9 Tabel 1 Keterangan umum profil responden

Kategori Jumlah Rentang umur Rata-rata umur

(28)

13

Responden yang menyatakan adanya penundaan waktu sarapan atau sarapan yang terlewat akibat adanya permasalahan sarapan adalah sebesar 94% dan 6% menyatakan permasalahan sarapan tidak mempengaruhi kegiatan sarapan. Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 3 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar jumlah responden yang menunda atau melewati sarapan akibat adanya permasalahan dapat dilihat pada Tabel 3.

Adanya masalah ketika sarapan menyebabkan kegiatan sarapan menjadi terganggu seperti ditunda atau ditinggalkan sama sekali, hal ini dapat menyebabkan kondisi tubuh menjadi menurun (Stevanie 2011). Berdasakan hasil wawancara pada tes permasalahan, 90% responden mengakui adanya keluhan kondisi tubuh akibat menunda atau meninggalkan sarapan sementara 10% tidak merasakan keluhan apapun (Lampiran 7). Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 4 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar urutan frekuensi lima terbesar keluhan kondisi pada responden dapat dilihat pada Tabel 4.

Sebanyak 97% responden melakukan solusi sendiri agar mereka tetap melakukan aktivitas sarapan ataupun mengganti sarapan dengan jenis makanan lain, sementara 3% tidak melakukan solusi (Lampiran 8). Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 5 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar lima frekuensi solusi terbanyak dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Daftar keluhan responden

Keluhan Frekuensi

Lapar 47

Lemas atau lesu 23

Maag atau sakit perut 21 Konsentrasi menurun 10

Pusing 10

Tabel 3 Daftar dampak adanya permasalahan sarapan

Dampak Jumlah

Tidak sarapan atau terlambat sarapan 54

Tidak sarapan 8

Terlambat sarapan 6

Belum ada masalah 4

Tabel 4 Daftar solusi yang dilakukan responden

Solusi yang dilakukan Frekuensi Konsumsi jajanan makanan ringan (gorengan/kue) 53

Konsumsi roti 39

Konsumsi minuman energi/susu/teh/kopi 17

Menunda waktu sarapan 10

(29)

14

Walaupun responden telah melakukan solusi untuk permasalahan kegiatan sarapan, namun 92% responden menyatakan masih ada kendala dari solusi yang saat ini mereka lakukan dan 8% responden belum merasakan ada kendala (Lampiran 9). Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 6 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar lima kendala dengan frekuensi terbanyak dapat dilihat pada Tabel 6.

Akibat adanya kendala tersebut, sebanyak 97% responden mengharapkan sebuah solusi produk sarapan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, 3% responden menerangkan bahwa solusi yang mereka lakukan saat ini sudah cukup ataup belum terpikirkan solusi permasalahan yang lebih baik (Lampiran 10). Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 7 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar lima fitur solusi produk sarapan dengan frekuensi terbanyak yang diharapkan oleh responden dapat dilihat pada Tabel 7.

Sebanyak 47 responden menyatakan solusi yang mereka harapkan adalah produk sarapan yang mengandung karbohidrat. Empat puluh dari 47 responden merujuk sumber karbohidrat yang berasal dari beras. Delapan belas responden menyatakan solusi yang diharapkan berupa produk seperti roti dan 5 responden mengharapkan produk sarapan dengan bahan baku lain seperti sereal atau minuman berenergi, dan 2 responden sisanya menerangkan tidak memerlukan

Tabel 6 Daftar kendala dari solusi yang dilakukan responden

Kendala dari solusi yang dilakukan Frekuensi Tidak kenyang hingga makan siang atau lebih cepat lapar 44 Biaya yang dikeluarkan lebih banyak atau lebih boros 18 Membeli sarapan di warung atau kantin lama mengantri 14 Jajanan atau makanan di warung dikhawatirkan tidak sehat 7

Sarapan yang diinginkan sudah habis 7

Tabel 8 Daftar fitur tambahan produk sarapan yang diharapkan

Fitur tambahan produk Frekuensi

Kemasan atau tampilan menarik 41

Varian rasa banyak 30

Kemasan sehat (tidak berbahaya) 9

Sertifikasi halal/BPOM/Dinkes/dll 9

Promosi penjualan (bonus/diskon/kupon) 9

Tabel 7 Daftar fitur utama solusi produk sarapan yang diharapkan

Fitur produk sarapan Frekuensi

Praktis dimakan 53

Praktis dibawa atau kemasan praktis 49 Mengenyangkan atau porsi sesuai 41

Harga terjangkau 36

(30)

15 solusi produk sarapan lain. Fitur tambahan pada produk solusi ditanyakan kepada responden untuk mengetahui komponen tambahan apa saja yang mereka harapkan ada pada sebuah produk makanan baru sehingga mereka tertarik untuk mencoba atau membelinya. Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 10 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar lima frekuensi fitur tambahan pada produk terbanyak dapat dilihat pada Tabel 8.

Secara umum, responden menerangkan bahwa produk sarapan sebaiknya mudah untuk ditemui. Lokasi penjualan produk sarapan yang diharapkan oleh responden dapat dilihat pada Tabel 9. Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 8 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Daftar yang ditampilkan adalah lokasi dengan lima frekuensi terbanyak.

Harga jual produk sarapan yang diharapkan oleh responden mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 9 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Harga jual produk dibuat menjadi empat kategori yang dapat dilihat pada Tabel 10.

Seluruh responden yang diwawancarai menyatakan tertarik akan produk sarapan yang dirancang berdasarkan kebutuhan mereka. Tingkat kebutuhan produk sarapan pada masing-masing responden berbeda-beda. Kebutuhan produk sarapan yang disesuaikan dengan kebutuhan responden dibagi menjadi lima kategori, yaitu sangat tidak butuh, tidak butuh, biasa saja, butuh, dan sangat butuh. Hasil tersebut mengacu pada jawaban pertanyaan nomor 11 pada daftar pertanyaan tes permasalahan (Lampiran 4). Jumlah responden berdasarkan tingkat kebutuhan solusi produk sarapan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 10 Tingkat kebutuhan solusi produk sarapan

Kategori kebutuhan Jumlah

Tabel 9 Daftar lokasi penjualan produk sarapan yang diharapkan

Lokasi Frekuensi

Warung pinggir jalan 35

Warung sekitar (kosan/rumah/kantor/sekolah/kampus) 33

Kantin di sekolah/kampus/kantor 28

Tempat ramai orang berlalu-lalang 8

Datang langsung ke konsumen (delivery) 6

Tabel 11 Kategori harga jual produk sarapan yang diharapkan

Harga jual produk Jumlah

Rp 5.000 – Rp 7.000 35

> Rp 7.000 – Rp 10.000 23

< Rp 5.000 12

(31)

16

Berdasarkan hasil tes permasalahan yang telah dilakukan, maka penelitian dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu perbaikan pada kanvas model bisnis 0 (Lampiran 2) dan perancangan produk sarapan yang disesuaikan dengan hasil tes permasalahan pada responden. Perbaikan kanvas model bisnis 0 menjadi kanvas model bisnis 1 dapat dilihat pada Lampiran 5. Komponen kanvas model bisnis yang dirubah terangkum dalam Tabel 12.

Responden dibagi menjadi dua kategori yaitu responden potensial dan tidak potensial. Cara pembagian mengacu pada customer scoreboard yang terdapat

Tabel 12 Perubahan komponen kanvas model bisnis (BMC 0 menjadi BMC 1)

Komponen BMC 0 BMC 1

(32)

17

pada Blank dan Dorf (2012). Penempatan responden pada masing-masing kategori didasari oleh perhitungan dari empat bobot penilaian yang datanya didapatkan dari hasil wawancara tes permasalahan. Penilaian yang digunakan untuk perhitungan tersebut ialah intensitas tidak sarapan (bobot 15%), solusi yang diharapkan (bobot 30%), ketertarikan (bobot 25%), dan tingkat kebutuhan (bobot 30%). Besarnya persentase bobot pada masing-masing penilaian didasari oleh asumsi. Aspek intensitas tidak sarapan memiliki bobot terkecil (15%) karena diasumsikan terdapat sebagian responden yang tidak sarapan memilih untuk melewatkan sarapan dibandingkan dengan mengkonsumsi produk subtitusi sarapan lain. Aspek ketertarikan memiliki bobot 25% karena diasumsikan tingkat ketertarikan responden akan hadirnya produk sarapan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka berkaitan dengan keinginan responden untuk membeli atau mencoba produk tersebut. Bobot terbesar yaitu penilaian pada aspek solusi yang diharapkan (30%) dan tingkat kebutuhan (30%), hal ini disebabkan oleh responden yang mengharapkan adanya sebuah solusi berkaitan dengan adanya permasalahan pada aktivitas sarapan responden. Perhitungan penilaian pada responden terdapat pada Lampiran 11.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa terdapat 56 orang dari 72 responden yang dinilai potensial (77.78%) dan 16 orang yang dinilai tidak potensial (22.22%). Responden yang termasuk ke dalam penilaian potensial akan diwawancarai kembali untuk menanyakan kesesuaian Minimum Viable Product (MVP) dengan kebutuhan mayoritas responden.

Ukuran Pasar (Market Size) – setelah tes permasalahan

Perhitungan terhadap ukuran pasar dihitung kembali berdasarkan hasil tes permasalahan.

Total Addressable Market (TAM)

Data primer dari hasil wawancara pada tes permasalahan menunjukkan bahwa segmen konsumen yang memiliki permasalahan sarapan dan membutuhkan solusi untuk permasalahan tersebut ialah mahasiswa dan pekerja. Tipe karakteristik pekerja yang dijadikan segmen konsumen juga mengerucut menjadi pekerja kategori pegawai atau karyawan. Tipe pekerjaan yang memiliki aturan kerja mengikat sehingga tidak dapat sarapan di saat jam kerja berlangsung. Data jumlah pekerja atau karyawan mengacu pada jumlah penduduk 15 tahun ke atas menurut status pekerjaan utama kategori buruh/karyawan/pegawai oleh Sakernas (2012) yaitu sebanyak 40 291 583 jiwa. Data jumlah mahasiswa mengacu pada Kemendikbud (2012) sebesar 5 381 270, maka total segmen konsumen mahasiswa dan pekerja (karyawan atau pegawai) yaitu 45 672 853 jiwa.

Mengacu pada data dari Wulandari (2013), 16.9% - 59% anak usia sekolah, remaja, dan dewasa tidak melakukan kegiatan sarapan. Jika diasumsikan jumlah TAM merupakan perkalian antara nilai tengah dari rentang persen tersebut (37.95%) dengan total segmen konsumen mahasiswa dan pekerja, maka didapatkan hasil potensi TAM produk sarapan sebesar 15 290 655 jiwa.

(33)

18

produk sarapan ialah sebesar Rp 76 453 275 000 per hari. Perhitungan TAM terdapat pada Lampiran 12.

Served Available Market (SAM)

Data persentase pasar yang memiliki permasalahan ketika sarapan didapatkan dari data primer hasil wawancara tes permasalahan. Sebanyak 50% responden yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka memiliki masalah ketika melakukan kegiatan sarapan dan membutuhkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (Tabel 11). Lima puluh persen dari nilai TAM (15 290 655 jiwa) ialah sebesar 7 645 328 jiwa. Asumsi potensi pendapatan produk sarapan kategori SAM didapatkan dari perkalian antara harga jual produk dan jumlah konsumen yang mengkonsumsi produk sarapan. Jika diasumsikan segmen konsumen SAM mengkonsumsi satu produk sarapan per hari dengan harga Rp 5 000, maka besarnya potensi pendapatan produk sarapan yaitu Rp 38 226 637 500 per hari. Perhitungan SAM dapat dilihat pada Lampiran 12.

Target Market (TM)

Target market produk sarapan yang dirancang dihitung berdasarkan pertimbangan asumsi berupa perhitungan target pasar produksi di satu kota dan persaingan dengan produk-produk sarapan lainnya yang banyak beredar dipasaran. Asumsi target pasar ialah sebesar 0.015% dari SAM (7 645 328 jiwa), yaitu 1 147 jiwa. Dengan harga jual Rp 5 000 dan asumsi segmen konsumen TM mengkonsumsi satu produk per hari, maka potensi pendapatan TM untuk produk sarapan ialah sebesar Rp 5 730 000 per hari. Perhitungan TM dapat dilihat pada Lampiran 12.

Gambar 3 Potensi pasar produk sarapan pagi untuk mahasiswa dan pekerja (setelah tes permasalahan)

TAM!

15 290 655 jiwa potensi pasar produk sarapan •  Rp 76 453 275 000 potensi pendapatan pasar

produk sarapan per hari

SAM

7 645 328 jiwa potensi pasar produk sarapan • Rp 38 226 637 500 potensi pendapatan pasar

produk sarapan per hari

TM

• 1 147 jiwa potensi pasar produk sarapan •Rp 5 730 000 potensi pendapatan pasar produk

(34)

19

Perancangan Produk

Produk dirancang berdasarkan hasil tes permasalahan, dimana secara umum responden yang mewakili segmentasi konsumen membutuhkan suatu produk sarapan yang terdiri atas karbohidrat dengan sumber dari beras, dilengkapi dengan berbagai varian rasa. Produk sarapan juga diharapkan praktis untuk di konsumsi ataupun dibawa saat berpergian, sehingga bentuk dan kemasan produk harus mendukung agar produk sarapan dapat dikonsumsi kapanpun dan dimanapun. Selain itu porsi produk yang diharapkan sesuai untuk kebutuhan sarapan. Produk sarapan yang dirancang mengadaptasi konsep nasi kepal atau onigiri yang berasal dari Jepang (Gambar 4). Produk dengan konsep nasi kepal diasumsikan mampu memenuhi kebutuhan dan harapan responden akan hadirnya sebuah produk yang praktis dan mengenyangkan. Produk ini juga terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak karena dapat ditambahkan bahan isian dengan varian rasa yang bermacam-macam sehingga memenuhi kebutuhan gizi untuk sarapan sehari-hari. Produk nasi kepal (onigiri) untuk prototype awal akan dibuat dalam tiga varian rasa yaitu ayam, ikan tuna, dan hati sapi. Sebelum di uji coba tes solusi kepada responden, produk di uji melalui uji organoleptik pada panelis. Uji organoleptik yang akan dilakukan meliputi tingkat kepulenan nasi, kesukaan aroma nasi, kesukaan rasa nasi, dan kesukaan bahan isian.

Uji organoleptik kepulenan nasi

Produk onigiri membutuhkan karakter beras yang menghasilkan tekstur nasi yang lengket atau pulen agar mudah dicetak dan tidak hancur ketika dikonsumsi. Tekstur nasi dirancang dengan tiga jenis perlakuan yang kemudian akan diuji organoleptik pada panelis untuk menentukan urutan kepulenan nasi. Metode uji yang digunakan ialah uji rangking yang mengacu pada Setyaningsih et al. (2010). Tes organoleptik dilakukan oleh 34 panelis dengan tiga bahan uji formulasi nasi untuk menentukan urutan rangking kepulenan nasi. Kode formulasi nasi ialah 123, 456, dan 789. Hasil uji rangking dengan rasio ragam taraf 5% menyatakan bahwa tingkat kepulenan nasi 123 (-0.62) < U456 (0.075) < U789 (0.55) (Tabel 13 Bagian A). Tabel 13 Bagian B menunjukkan tingkat perbedaan antar ketiga formulasi.

Hasil analisis statistika pada Tabel 13 Bagian B menunjukkan ketiga formulasi nasi memiliki tingkat kepulenan yang berbeda satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari nilai selisih skor antara dua formulasi lebih besar dibandingkan dengan nilai R2 (0.306) atau R3 (0.323). Jika selisihnya lebih kecil daripada R2

(35)

20

atau R3, maka kedua formulasi yang dibandingkan memiliki tingkat kepulenan yang sama menurut panelis. Perhitungan perbandingan signifikansi kepulenan nasi antar perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 13.

Uji organoleptik aroma nasi

Tes organoleptik aroma nasi menggunakan metode uji hedonik yang

mengacu pada Setyaningsih et al. (2010). Formulasi nasi dan kode yang

digunakan serupa dengan uji organoleptik kepulenan nasi, hanya berbeda kode atau variabel. Kode yang digunakan ialah 331, 664, dan 997 dimana kode 331 = 123, kode 664 = 456, dan kode 997 = 789. Uji hedonik dapat memperlihatkan tingkat kesukaan panelis terhadap aroma nasi. Aroma suatu produk dapat mempengaruhi tingkat selera makan konsumen, maka dari itu uji terhadap kesukaan aroma nasi perlu dilakukan. Skala uji hedonik yang digunakan ialah skala 1-9, dimana nilai yang lebih tinggi lebih disukai.

Hasil pengujian dengan rasio ragam taraf 5% pada Tabel 14 Bagian A menunjukkan urutan kesukaan panelis pada aroma nasi. Aroma formulasi U331 (6.147) > U664 (6.088) > U997 (5.441). Data tersebut menunjukkan bahwa aroma nasi formulasi U331 lebih disukai dibandingkan dengan kedua formulasi lainnya. Pengujian analisis statistik pada Tabel 14 Bagian B, menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis pada formulasi U331 dinilai sama dengan formulasi U664. Hal ini disebabkan oleh selisih antara skor U331 dan U664 memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan R2 (0.600). Sementara tingkat kesukaan panelis terhadap aroma formulasi U997 berbeda dengan kedua formulasi lainnya karena hasil selisih skor U997 dengan U331 dan U664 lebih besar daripada R2 dan R3 (0.632). Perhitungan perbandingan signifikansi kesukaan aroma nasi antar perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 14.

Uji organoleptik rasa nasi

Tes organoleptik selanjutnya ialah kesukaan panelis terhadap rasa ketiga formulasi nasi. Formulasi dan kode yang digunakan serupa dengan uji organoleptik aroma nasi. Tes ini menggunakan metode uji hedonik yang dapat menunjukkan formulasi nasi mana yang rasanya paling disukai oleh panelis.

Metode uji hedonik mengacu kepada Setyaningsih et al. (2010) Uji hedonik

Tabel 14 Perbandingan signifikansi kesukaan aroma nasi antar perlakuan

Bagian A

Perlakuan U331 U664 U997

Rata-rata 6.147 6.088 5.441

Kode formulasi Hasil Kesimpulan

Bagian B

U331 - U664 0.059 < R2 (0.600) Jadi U331 = U664

U331 - U997 0.706 > R3 (0.632) Jadi U331 ≠ U997

U664 - U997 0.647 > R2 (0.600) Jadi U664 ≠ U997

Tabel 13 Perbandingan signifikansi kepulenan nasi antar perlakuan

Bagian

Kode formulasi Hasil Kesimpulan

U789 – U123 1.170 > R3 (0.323) U789 ≠ U456

U789 – U456 0.475 > R2 (0.306) U789 ≠ U123

(36)

21

kesukaan nasi dilakukan karena adanya fitur utama yang diharapkan responden, yaitu rasa produk sarapan yang enak. Tabel 15 Bagian A menunjukkan hasil uji hedonik dengan rasio ragam taraf 5% dimana formulasi U997 (6.441) > U664 (6.294) > U331 (5.618). Data tersebut menunjukkan bahwa cita rasa nasi formulasi U997 lebih disukai dibandingkan dengan formulasi U664 dan U331.

Analisis statistik pada Tabel 15 Bagian B menunjukkan bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap U997 berbeda dibandingkan dengan formulasi U331 dan U664. Hal ini disebabkan oleh hasil selisih antara formulasi U997 dengan U664 dan U331 lebih besar daripada R2 (0.306) dan R3 (0.322). Tingkat kesukaan panelis terhadap rasa nasi formulasi U331 dan U664 dinilai sama karena hasil selisih kedua formulasi lebih kecil dibandingkan dengan R2. Perhitungan perbandingan signifikansi kesukaan rasa nasi antar perlakuan dapat dilihat pada Lampiran 15.

Uji organoleptik rasa isian

Tes organoleptik selanjutnya adalah uji kesukaan rasa isian, yaitu rasa ayam, rasa ikan tuna, dan rasa hati sapi. Tes organoleptik kesukaan juga dilakukan dengan metode uji hedonik yang mengacu pada Setyaningsih et al. (2010). Serupa dengan uji hedonik rasa nasi, uji hedonik rasa isian juga dilakukan karena adanya harapan fitur utama rasa yang enak pada produk sarapan. Hasil uji menunjukkan bahwa ketiga jenis varian tidak berbeda nyata pada rasio ragam taraf 5% dan rasio ragam taraf 1% hal ini menunjukkan bahwa tidak ada varian rasa yang lebih disukai dibandingkan dengan varian rasa yang lainnya (Tabel 16). Analisis ketika Fhitung tidak berbeda nyata tidak dapat dilanjutkan pada analisis selanjutnya, yaitu uji perbedaan dengan menggunakan Uji Duncan. Tingkat kesukaan panelis terhadap ketiga varian rasa sama rata atau tidak berbeda. Perhitungan uji hedonik rasa isian dapat dilihat pada Lampiran 16.

Penentuan porsi produk onigiri

Selanjutnya adalah fitur utama produk sarapan berupa porsi sesuai atau mengenyangkan. Penentuan besarnya porsi sarapan onigiri, mengacu kepada

Tabel 16 Analisis kesukaan rasa varian bahan isian

Sumber

Tabel 15 Perbandingan signifikansi kesukaan rasa nasi antar perlakuan

Bagian A

Perlakuan U997 U664 U331

Rata-rata 6.441 6.294 5.618

Kode formulasi Hasil Kesimpulan

Bagian B

U997 – U664 0.147 > R2 (0.306) U331 = U664

U997 – U331 0.823 > R3 (0.322) U331 ≠ U997

(37)

22

jumlah kalori yang dibutuhkan rata-rata manusia untuk sarapan berdasarkan literatur. Rata-rata manusia membutuhkan asupan kalori sebesar 2.000 kkal dan 52 gram protein untuk menunjang aktivitas sehari-hari (WNPG 2004). Kalori yang dibutuhkan untuk sarapan agar mendapatkan gizi yang cukup sekitar 25% dari asupan kebutuhan kalori manusia setiap harinya (Khomsan 2005). Hal ini ditegaskan kembali oleh Judarwanto (2007) yang menyatakan bahwa sarapan dianjurkan memenuhi ¼ Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam sehari. Artinya kalori yang dibutuhkan oleh rata-rata manusia untuk sarapan dengan kadar gizi yang baik adalah sekitar 500 kkal dan 13 gram protein. Berdasarkan daftar konversi zat gizi yang terdapat pada BPS (2012) (Tabel 17), dapat dihitung asumsi kasar jumlah besarnya sarapan untuk satu porsi produk sarapan onigiri (Tabel 18 dan Tabel 19). Dalam satu porsi onigiri, terkandung 150 gram beras dan 20 gram bahan isian (ikan tuna/daging ayam/hati sapi). Bahan isian mengandung 50% ikan tuna/daging ayam/hati sapi dan 50% kentang.

Tabel 17 Daftar konversi zat gizi

Jenis makanan Satuan Kalori (kkal) Protein (gram)

Beras kg 3622 84.75

Tabel 19 Daftar konversi zat gizi untuk produk onigiri

Jenis makanan Jumlah (gram) Kalori (kkal) Protein (gram)

Beras 150 543.3 12.71

Kentang 10 5.208 0.17

Ikan tuna 10 9.04 1.36

Daging ayam 10 30.2 1.82

Hati sapi 10 13.6 1.97

Tabel 18 Daftar perhitungan zat gizi produk sarapan onigiri per porsi

Jenis varian Satuan Kalori (kkal) Protein (gram)

Rasa ikan tuna Satu porsi 557.548 14.248

Rasa daging ayam Satu porsi 578.708 14.708

Ikan tuna Satu porsi 562.108 14.858

Rata-rata Satu porsi 566.121 14.605

Tabel 20 Daftar zat gizi makanan atau minuman ringan

Jenis makanan Satuan Kalori (kkal) Protein (gram)

Roti tawar Bungkus kecil 248.50 7.95

Roti manis/roti lain Potong 161.50 2.45

Susu cair pabrik 250 ml 122.00 6.40

Kue basah Potong 137.50 1.96

Makanan gorengan Potong 181.00 4.94

(38)

23

Data dari BPS (2012) menunjukkan bahwa makanan pengganti sarapan yang banyak dijadikan solusi alternatif responden seperti jajanan ringan (gorengan atau kue), roti, susu, teh, atau kopi mengandung kadar kalori dan protein yang lebih rendah dibandingkan dengan angka kecukupan gizi sarapan yang seharusnya (Tabel 20). Hal ini menyebabkan tubuh menjadi lebih cepat lapar dari yang seharusnya. Terbukti dari hasil tes permasalahan bahwa kekurangan atau kendala yang paling banyak dirasakan responden dari solusi yang mereka lakukan adalah lebih cepat lapar atau tidak kenyang (Tabel 6). Pernyataan ini juga terdapat pada Khomsan (2005) yang menyatakan bahwa makanan ringan seperti gorengan (pisang goreng, singkong, ubi) yang umum dijadikan makanan untuk pengganti sarapan hanya mampu memenuhi energi sebesar 5% dan protein 2% dari kebutuhan gizi sehari.

Hal ini menyebabkan adanya kecenderungan untuk membeli makanan tersebut lebih dari satu porsi atau hanya berfungsi untuk menahan rasa lapar. Akibatnya biaya yang dikeluarkan menjadi lebih tinggi, hal ini terbukti dari kendala kedua yang dirasakan oleh responden (Tabel 6), solusi yang mereka lakukan saat ini menyebabkan biaya yang dikeluarkan lebih tinggi atau lebih boros. Perancangan harga produksi dan harga jual untuk produk sarapan onigiri ditentukan setelah tes solusi dilakukan apakah produk sarapan onigiri sudah memenuhi kebutuhan konsumen atau masih ada perbaikan kembali. Setelah perancangan produk, tahapan selanjutnya ialah tes solusi. Produk hasil rancangan dapat dilihat pada Gambar 5, Gambar 6, dan Gambar 7.

Gambar 5 Ukuran genggaman produk onigiri

Gambar

Tabel 12  Perubahan komponen kanvas model bisnis (BMC 0 menjadi BMC 1)
Gambar 3 Potensi pasar produk sarapan pagi untuk mahasiswa
Gambar 6  Produk onigiri rasa ayam, rasa hati sapi, dan rasa ikan tuna (kiri ke kanan)
Gambar 8  Keterangan varian rasa produk onigiri
+7

Referensi

Dokumen terkait