Variabilitas Curah Hujan dan Produktivitas Jambu Mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri

42  11  Download (0)

Full text

(1)

VARIABILITAS CURAH HUJAN

DAN PRODUKTIVITAS JAMBU METE

DI KABUPATEN MUNA DAN WONOGIRI

HARRYADE PUTRA

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Variabilitas Curah Hujan dan Produktivitas Jambu Mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)
(5)

ABSTRAK

HARRYADE PUTRA. Variabilitas Curah Hujan dan Produktivitas Jambu Mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri. Dibimbing oleh Impron dan Akhmad Faqih.

Produksi jambu mete dipengaruhi faktor iklim, salah satunya yaitu oleh curah hujan. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh keragaman curah hujan terhadap produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang merupakan sentra produksi jambu mete di Indonesia. Hasil analisis menyimpulkan bahwa anomali curah hujan berkorelasi negatif dengan anomali produktivitas jambu mete di kedua kabupaten. Peningkatan anomali curah hujan dapat menyebabkan penurunan anomali produktivitas atau sebaliknya. Analisis korelasi silang menunjukkan korelasi terbesar antara produktivitas dengan curah hujan saat periode pembungaan terjadi pada bulan Agustus di Kabupaten Muna dan bulan Maret di Kabupaten Wonogiri. Hubungan antara curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 paling kuat terjadi pada lag 0 di Kabupaten Muna dan pada lag 2 di kabupaten Wonogiri.

Kata kunci: jambu mete, curah hujan, produktivitas.

ABSTRACT

HARRYADE PUTRA. Rainfall Variability and Productivity of Cashew Crop in Muna and Wonogiri. Supervised by Impron and Akhmad Faqih.

Cashew crop production is influenced by climate, one of which is by precipitation. This research was conducted to study the effect of rainfall variability in cashew crop production in Muna, Southeast Sulawesi and Wonogiri, Central Java, which are the center of cashew crop production in Indonesia. The results of the analysis in this study concluded that the rainfall anomalies are negatively correlated with the productivity of cashew crop in the two districts. Thus, an increase in rainfall anomalies can lead to decreased productivity, and vice versa. Cross-correlation analysis showed the highest correlation between productivity to rainfall at the flowering period in August in Muna and March in Wonogiri. The relationship between rainfall and sea surface temperature anomalies in Niño 3.4 was highest occurred at lag 0 in Muna and at lag 2 in Wonogiri.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

pada

Departemen Geofisika dan Meteorologi

VARIABILITAS CURAH HUJAN

DAN PRODUKTIVITAS JAMBU METE

DI KABUPATEN MUNA DAN WONOGIRI

HARRYADE PUTRA

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi : Variabilitas Curah Hujan dan Produktivitas Jambu Mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri

Nama : Harryade Putra NIM : G24070035

Disetujui oleh

Dr Ir Impron, MAgrSc Pembimbing I

Dr Akhmad Faqih Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Tania June, MSc Ketua Departemen

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2012 ini ialah Kacang Mete, dengan judul Variabilitas Curah Hujan dan Produktivitas Jambu Mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Impron, MAgrSc dan Bapak Dr Akhmad Faqih selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan, dan arahan selama penyelesaian karya ilmiah ini. Serta Bapak Ir Handi Supriadi yang telah memberikan historis data di lokasi penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya, dan juga kepada seluruh teman-teman yang telah memberikan semangat dan motivasinya, serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian karya ilmiah ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

TINJAUAN PUSTAKA 2

Variabilitas Iklim di Indonesia 2

Karakteristik Tanaman Jambu Mete 2

Keadaan Iklim yang Mempengaruhi Tanaman Jambu Mete 3

METODE 4

Waktu dan Tempat Penelitian 4

Alat dan Bahan Penelitian 4

Tahapan Penelitian 4

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Kabupaten Muna 7

Kabupaten Wonogiri 15

SIMPULAN DAN SARAN 24

Simpulan 24

Saran 24

DAFTAR PUSTAKA 25

(12)

DAFTAR TABEL

1 Waktu terjadinya peristiwa El Niño-Southern Oscillation dari tahun

1990 sampai 2010 2

2 Jadwal berbunga dan panen jambu mete di Kabupaten Muna dan

Wonogiri 5

3 Persentase korelasi anomali curah hujan dengan produktivitas 10 4 Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño

3.4 dengan produktivitas 14

5 Persentase korelasi antara curah hujan dengan produktivitas di

Kabupaten Wonogiri 18

2 Jumlah produksi dan luas lahan jambu mete di Kabupaten Muna 7

3 Produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna 7

4 Anomali produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna berdasarkan

metode first differences 8

5 Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten Muna (tahun 1996-2009) 9 6 Scatter Plot anomali produktivitas dengan curah hujan 9

7 Hubungan produktivitas dengan curah hujan 10

8 Anomali produktivitas berdasarkan kondisi curah hujan 10 9 Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan Juli (periode

pembungaan) 11

10 Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan Agustus (periode

pembungaan) 11

11 Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan September

(periode pembungaan) 12

12 Cross correlation antara curah hujan dengan anomali suhu muka laut

di Niño 3.4 12

13 Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dan anomali suhu muka

laut di Niño 3.4 13

14 Hubungan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 dengan curah

hujan pada lag 0 13

15 Rata-rata anomali produktivitas berdasarkan jenis peristiwa El

Niño-Southern Oscillation 14

16 Anomali produksi dan luas lahan jambu mete di Kabupaten Wonogiri 15 17 Produktivitas jambu mete di Kabupaten Wonogiri 15 18 Anomali produktivitas jambu mete di Kabupaten Wonogiri

berdasarkan metode first differences 16

19 Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten Wonogiri (tahun

1990-2010) 16

20 Total Curah Hujan Tahunan di Kabupaten Wonogiri (tahun

(13)

21 Scatter Plot hubungan anomali produktivitas dan curah hujan di

Kabupaten Wonogiri 18

22 Anomali produktivitas dan curah hujan di Kabupaten Wonogiri 18 23 Rata-rata perubahan anomali produktivitas pada saat anomali curah

hujan meningkat dan menurun 19

24 Hubungan produktivitas dengan curah hujan pada bulan Maret

(periode pembungaan) 19

25 Hubungan produktivitas dengan curah hujan pada bulan April

(periode pembungaan) 20

26 Hubungan produktivitas dengan curah hujan pada bulan Mei (periode

pembungaan) 20

27 Cross correlation anomali suhu muka laut di Niño 3.4 dengan curah

hujan 21

28 Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dengan anomali suhu

muka laut di Niño 3.4 21

29 Hubungan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 dengan anomali curah

hujan pada lag 2 22

30 Rata-rata anomali produktivitas berdasarkan jenis peristiwa El

(14)
(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI (2013) memaparkan bahwa jambu mete (Anacardium occidentale) termasuk komoditas unggulan dan juga diekspor ke berbagai negara di dunia sehingga menyumbang perolehan devisa negara. Penghasil mete terbesar jambu mete di dunia yaitu India, Vietnam, Afrika Barat, Afrika Timur, Brasil, dan diikuti Indonesia pada posisi ke enam. Jambu mete termasuk salah satu tanaman penghijauan karena mampu tumbuh baik pada lahan kritis sekalipun.

Wilayah pengembangan jambu mete di Indonesia berada di beberapa provinsi seperti provinsi Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara dan Papua. Kabupaten Muna merupakan penghasil komoditi jambu mete terbesar di Sulawesi Tenggara (Ola et al. 2011), dan Jawa Tengah, merupakan penghasil komoditi jambu mete terbesar ke tujuh di Indonesia, salah satu daerah yang memproduksi mete di Jawa Tengah adalah Kabupaten Wonogiri. Beberapa daerah di Kawasan Timur Indonesia yang merupakan penghasil utama jambu mete dengan sumbangan terhadap produksi mente nasional adalah Sulawesi Tenggara (47,5%), Sulawesi Selatan (20,4%), NTT (5,0%) dan Bali (3,5%) (Nogoseno 1990). Perkebunan mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri merupakan perkebunan rakyat sehingga produksi mete menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi masyarakat setempat. Jambu mete merupakan komoditas unggulan dan menjadi salah satu sumber pendapatan petani (Zaubin 2002). Di KTI komoditas ini memberikan peluang yang besar bagi pengentasan kemiskinan, karena pada umumnya di kawasan ini sebagian besar berlahan kering (Hadad dan Koerniati 1996).

Unsur-unsur iklim yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas jambu mete adalah suhu udara, kelembaban, curah hujan, dan radiasi matahari (Cahyono 2001). Nair et al. (1979) mengatakan bahwa apabila cuaca kering selama musim berbunga dan pemasakan buah akan meningkatkan hasil panen jambu mete, apabila pada musim berbunga turun hujan lebat maka produksi akan sangat menurun, apabila cuaca berawan pada saat musim berbunga akan meningkatkan serangan nyamuk teh (Helopeltis anacardii), suhu yang terlalu tinggi yaitu antara 39 – 42ºC akan mengakibatkan kerontokan buah. Pada penelitian ini unsur iklim yang akan dianalisis hanya curah hujan saja.

Tujuan Penelitian

(16)

2

TINJAUAN PUSTAKA

Variabilitas Iklim di Indonesia

NOAA (2003) memberikan definisi untuk kejadian El Niño dan La Niña berdasarkan indeks Niño 3.4, yaitu El Niño adalah, fenomena yang terjadi di Samudera Pasifik ekuator yang dicirikan oleh Suhu Muka Laut (SML) di wilayah Niño3.4 yang melebihi atau sama dengan 0.5ºC, rata–rata 3 bulan berturut–turut atau lebih. Sedangkan La Niña adalah fenomena yang juga terjadi di Samudera Pasifik ekuator yang dicirikan oleh SML di wilayah Niño3.4 kurang dari atau sama dengan 0.5ºC, rata-rata tiga bulan berturut-turut atau lebih.

Fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berdampak besar terhadap keragaman curah hujan di Indonesia dan akan menyebabkan penurunan curah hujan terutama di musim peralihan saat memasuki musim hujan jika fenomena tersebut terjadi pada durasi yang semakin panjang, sehingga terjadi pergeseran awal musim hujan dan juga musim kemarau (Boer 2003; Naylor et al. 2002).

Indonesia telah mengalami kejadian kekeringan 43 kali sejak tahun 1884, dan hanya 6 kali yang kejadiannya tidak bersamaan dengan fenomena ENSO (Boer dan Subbiah 2005). Boer (2001) menyimpulkan bahwa selama pengamatan dari tahun 1896 sampai 1987 terhadap tahun-tahun El-Niño, diperoleh bahwa setiap peningkatan anomali suhu muka laut di daerah Niño 3 rata-rata curah hujan wilayah di Indonesia pada musim kering turun sekitar 60 mm. Waktu terjadinya peristiwa ENSO dari tahun 1990 sampai tahun 2010 ditunjukkan pada Tabel 1.

Karakteristik Tanaman Jambu Mete

Jambu mete pertama kali dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 1972 yang awalnya untuk program penghijauan pada lahan kritis, beberapa tahun kemudian tanaman ini dapat meningkatkan pendapatan petani serta memperluas lapangan kerja (Alaudin 1996). Sejak tahun 1979 Direktorat Jenderal Perkebunan mulai mengembangkan jambu mete melalui pola Unit Pelayanan Pengembangan (UPP), walaupun dengan input yang sangat terbatas yaitu hanya penyaluran benih kepada petani, itupun tidak seluruhnya dibiayai oleh APBN, tetapi beberapa propinsi oleh APBD (Nogoseno 1996).

Tabel 1 Waktu terjadinya peristiwa El Niño-Southern Oscillation dari tahun 1990 sampai 2010

Peristiwa ENSO Tahun Kejadian

El Niño 1991, 1994, 1997, 2002, 2004, 2006, 2009 Normal 1990 1992, 1993, 1996, 2001, 2003, 2005, 2008 La Niña 1995, 1998, 1999, 2000, 2007, 2010

(17)

3 Tanaman jambu mete mulai berbunga dari umur 1.5 - 3 tahun, tergantung varietasnya, dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat, suhu, kelembaban, dan curah hujan (Nambiar 1980). Waktu dan musim pembungaan jambu mete bervariasi pada setiap daerah tergantung pada posisi ketinggian dari permukaan laut, suhu, kelembapan, dan curah hujan. Pembungaan terjadi setelah puncak pertumbuhan vegetatif yaitu pada awal musim kering dan berakhir pada musim hujan (Duncan 2001). Periode pembungaan jambu mete berlangsung selama 2.5 bulan, dan puncak pembungaan terjadi pada minggu keempat setelah bunga pertama muncul (Wunnachit 1991). Gambar buah jambu mete ditunjukkan pada Gambar 1 (Rismunandar 1981).

Keadaan Iklim yang Mempengaruhi Tanaman Jambu Mete

Jambu mete biasanya ditanam pada daerah kering yang sering terjadi musim kemarau dan daerahnya berada pada ketinggian 5 sampai 1200 meter dari permukaan laut (Steennis 1978).

Jambu mete akan tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan 500 sampai 3800 mm per musim tanam, tanah berpasir dan punya drainase yang baik (Purseglove 1974)

Tanaman jambu mete tumbuh baik pada daerah-daerah 150LU sampai 150LS dengan kisaran suhu harian sekitar 15 sampai 350C dan curah hujan 1000 sampai 2000 mm pertahun (Ohler 1979), dan dapat tumbuh di tempat-tempat dengan ketinggian 1 sampai 1200 m di atas permukaan laut (Rismundar 1981).

Keterangan gambar:

(a) Buah mete semu atau cashew apple (b) Buah mete sejati atau cashew nut

(18)

4

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Desember 2012 di Laboratorium Agrometeorologi Departemen Geofisika dan Meteorologi, dengan daerah kajian di Kabupaten Muna dan Wonogiri.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini: 1 Seperangkat komputer.

2 Microsoft Office (Microsoft Word dan Microsoft Excel 2007). 3 Minitab 15.

4 SPSS 16.

5 Data produksi tahunan tanaman mete di Kabupaten Muna selama 14 tahun (1996 – 2009) dan data produksi tahunan tanaman mete di Kabupaten Wonogiri selama 21 Tahun (1990 – 2010). Data diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

6 Data curah hujan bulanan di Kabupaten Muna selama 14 tahun (1996 – 2009), dan data curah hujan bulanan di Kabupaten Wonogiri selama 21 tahun (1990 – 2010). Data diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

7 Data Anomali Suhu Muka Laut (ASML) di wilayah Niño 3.4 selama 21 tahun (1990-2010). Data tersebut diunduh dari internet (http://www.cpc.ncep.noaa.gov/data/indices/)

Tahapan Penelitian

Persiapan Data

Untuk mengetahui produktivitas tanaman mete setiap tahunnya maka produksi harus dibandingkan dengan luas lahan tanaman setiap tahunnya. Sehingga akan didapatkan data produksi per hektar di setiap tahunnya. Data produktivitas tersebut dinyatakan dalam ton/ha.

Produktivitas = ∑ produksi mete

∑ luas penggunaan lahan

(19)

5 iklim itu bisa dilakukan dengan salah satu metode analisis tren. Metode analisis tren yang digunakan pada penelitian ini adalah metode first differences, yaitu:

deviasinya. Data curah hujan yang digunakan hanya dari fase pembungaan sampai pada fase panen saja. Fase pembungaan sampai pada fase pemanenan diperkirakan selama 6 bulan pada setiap daerah. Proses pembungaan jambu mete diperkirakan terjadi selama 3 bulan dari awal terbentuknya bunga sampai semua pohon sudah berbunga sepenuhnya, dan bulan selanjutnya adalah periode buah masak yang terjadi selama 3 bulan juga sampai semua pohon menghasilkan buah yang siap dipetik. Jadwal awal pembungaan sampai pada panen akan berbeda pada setiap daerah. Tabel 2 berikut menunjukkan periode pembungaan dan buah masak pada masing-masing daerah.

Pengolahan Data

a. Analisis pengaruh curah hujan terhadap produktivitas

Analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh curah hujan terhadap produksi jambu mete adalah regresi linear. Data curah hujan digunakan sebagai peubah bebas, dan data produktivitas digunakan sebagai peubah respon. Persamaan regresi linear adalah sebagai berikut:

koefisien determinasi R2, yang nilainya berkisar dari 0-100 %).

Tabel 2 Jadwal berbunga dan panen jambu mete di Kabupaten Muna dan Wonogiri

Daerah Periode Pembungaan (bulan)

(20)

6

b. Menghitung persentase korelasi anomali curah hujan dengan produktivitas Tujuannya yaitu untuk melihat besarnya persentase korelasi anomali yang berkorelasi positif dan negatif yang mana korelasi positif yaitu kejadian curah hujan dan produktivitas yang sama-sama mengalami peningkatan atau sama-sama mengalami penurunan pada tahun yang sama, sedangkan korelasi negatif yaitu kejadian curah hujan bertolak belakang dengan produktivitas. Ada 4 kemungkinan korelasi antara curah hujan dengan produktivitas yaitu:

1 pada saat curah hujan meningkat, produktivitas juga meningkat 2 pada saat curah hujan menurun, produktivitas juga menurun 3 pada saat curah hujan meningkat, produktivitas menurun 4 pada saat curah hujan menurun, produktivitas meningkat

Persentase dihitung dengan membagi jumlah masing-masing total kejadian pada setiap kemungkinan tersebut dengan total semua data. Dengan menghitung persentase korelasi 4 kemungkinan tersebut akan bisa dilihat persentase kejadian terbesar yang terjadi di lokasi penelitian.

c. Menghitung anomali produktivitas berdasarkan kondisi curah hujan

Tujuannya yaitu untuk melihat besarnya perubahan nilai rata-rata anomali produktivitas yang disebabkan oleh pengaruh anomali curah hujan. Cara perhitungannya adalah dengan merata-ratakan anomali produktivitas pada dua kondisi perubahan anomali curah hujan tersebut yaitu pada saat peningkatan anomali dan pada saat penurunan anomali.

d. Menghitung time lag hubungan anomali suhu muka laut dengan curah hujan Untuk melihat time lag hubungan anomali suhu muka laut dengan curah hujan digunakan metode analisis cross correlation dengan bantuan software SPSS 16. Data ASML digunakan sebagai peubah bebas dan curah hujan digunakan sebagai peubah respon.

e. Menghitung persentase korelasi anomali suhu muka laut dan produktivitas pada berbagai kondisi El Niño-Southern Oscillation

Ada 3 jenis peristiwa ENSO yaitu El Niño, Normal, La Niña. Pada setiap peristiwa ENSO anomali produktivitasnya bisa meningkat dan menurun. Perhitungan persentasenya adalah dengan membandingkan besarnya penurunan dan juga peningkatan produktivitas pada masing-masing peristiwa ENSO dengan seluruh korelasi data yang ada. Hasil persentase korelasi antara ASML dan produktivitas ini akan menunjukkan rasio antara kejadian penurunan dan peningkatan produktivitas pada setiap peristiwa ENSO.

f. Menghitung rata-rata anomali produktivitas berdasarkan jenis peristiwa El Niño-Southern Oscillation

(21)

7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kabupaten Muna

Produktivitas Jambu Mete di Kabupaten Muna

Produksi jambu mete di Kabupaten Muna dari tahun 1996 sampai tahun 2009 tidak merata setiap tahunnya, ada peningkatan dan penurunan produksi. Begitu juga dengan luas lahan penanaman mete, selalu mengalami perubahan, setiap tahun selalu terjadi pengurangan atau penambahan luas lahan (Gambar 2).

Pengaruh perubahan luas lahan tanaman jambu mete harus dihilangkan, yaitu dengan menghitung produktivitas jambu mete setiap tahunnya. Produktivitas didapatkan dengan membagi produksi tahunan mete dengan luas lahan pada tahun tersebut. Produktivitas mete dari tahun 1996 sampai 2009 ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3 Produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna Gambar 2 Jumlah produksi dan luas lahan jambu mete di

(22)

8

Berdasarkan Gambar 3, Produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna selalu mengalami perubahan tren setiap tahunnya. Tren tersebut bisa diakibatkan oleh faktor-faktor selain faktor iklim. Oleh karena itu, agar hubungan antara curah hujan dengan produktivitas lebih terlihat, maka faktor-faktor selain faktor iklim tersebut harus dihilangkan dengan salah satu metode analisis untuk menghilangkan tren. Metode analisis penghilangan tren yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode first differences. Anomali produktivitas jambu mete yang sudah distandarisasi dengan metode first differences ditunjukkan pada Gambar 4.

Karekteristik Hujan di Kabupaten Muna

Unsur iklim yang dialisis pada penelitian ini adalah curah hujan. Rata-rata curah hujan bulanan dari tahun 1996 sampai 2009 di Kabupaten Muna ditampilkan pada Gambar 5. Berdasarkan Gambar 5, Kabupaten Muna memiliki 10 bulan basah dan 1 bulan kering, sehingga Kabupaten Muna termasuk daerah basah, di mana berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson bahwa Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan besar dari 100 mm dan Bulan Kering (BK) Bulan dengan curah hujan kecil dari 60 mm. Kabupaten Muna termasuk daerah bercurah hujan tahunan tinggi. Rata-rata curah hujan tahunan dari tahun 1996 sampai tahun 2009 adalah 2405 mm.

Periode pembungaan jambu mete di Kabupaten Muna dimulai dari bulan Juli (akhir musim hujan) dan diperkirakan akhir bulan September sudah memasuki musim kemarau sehingga jambu mete mulai menghasilkan buah dan mulai dapat dipanen pada akhir bulan September ini. Periode panen berakhir pada akhir bulan Desember yang sudah memasuki awal musim hujan. Puncak pembungaan terjadi pada minggu keempat setelah bunga pertama muncul dan diperkirakan jatuh pada bulan Agustus.

(23)

9

Hubungan Produktivitas dengan Curah Hujan

Analisis regresi linear antara produktivitas dengan curah hujan (Gambar 6) menunjukkan bahwa curah hujan berkorelasi negatif dengan produktivitas dengan nilai koefisien determinasi yang sangat kecil, yaitu 0.006. Gambar 7 menunjukkan hubungan anomali curah hujan dengan anomali produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna. Tinggi rendahnya curah hujan tidak selalu mempengaruhi produktivitas secara konstan, curah hujan yang sangat tinggi tidak selalu menyebabkan produktivitas menurun, dan begitu juga sebaliknya, curah hujan yang rendah juga tidak selalu menyebabkan peningkatan produktivitas.

Tabel 3 menunjukkan persentase korelasi anomali curah hujan dengan produktivitas dengan mengabaikan besarnya jumlah curah hujan yang berdasarkan pada hubungan produktivitas dengan curah hujan pada Gambar 7. Dari 13 tahun data curah hujan dan produktivitas di Kabupaten Muna, 61.55% data menunjukkan korelasi negatif yang berarti hubungan curah hujan berbanding terbalik dengan produktivitas, sedangkan data yang menunjukkan korelasi positif hanya 38.46%. Pengaruh curah hujan paling dominan terjadi pada saat anomali curah hujan menurun, yang menyebabkan produktivitas meningkat, 46.15% data

Gambar 5 Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten Muna (tahun 1996-2009)

(24)

10

menunjukkan hal ini, sedangkan kolerasi lainnya hanya dibawah 24%. Dapat disimpulkan bahwa curah hujan akan berpengaruh baik pada produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna jika pada periode pembungaan sampai buah masak curah hujannya sedikit.

Besarnya perubahan nilai rata-rata anomali produktivitas yang disebabkan oleh pengaruh anomali curah hujan dapat dilihat pada Gambar 8. Pada saat

Gambar 8 Anomali produktivitas berdasarkan kondisi curah hujan

Gambar 7 Hubungan produktivitas dengan curah hujan Tabel 3 Persentase korelasi anomali curah hujan dengan produktivitas

Jenis Korelasi

Korelasi anomali

CH dengan P Tahun Kejadian

Persentase (%)

Positif CH naik, P naik 2003, 2004, 2005 23.08 38.46 CH turun, P turun 2000, 2007 15.38

Negatif CH naik, P turun 1998, 2008 15.38 61.54 CH turun, P naik 1997, 1999, 2001, 2002, 2006, 2009 46.15

(25)

11 anomali curah hujan meningkat menyebabkan rata-rata anomali produktivitas menurun drastis sebesar 0.2. Sedangkan pada saat anomali curah hujan menurun hanya menyebabkan peningkatan produktivitas yang cenderung sedikit, hanya sebesar 0.02. Jadi disimpulkan bahwa curah hujan paling dominan mempengaruhi produktivitas jambu mete pada saat curah hujan menurun, sedangkan pengaruh curah hujan yang paling besar terjadi pada saat curah hujan meningkat yang menyebabkan produktivitas menurun drastis.

Periode pembunggaan jambu mete di Kabupaten Muna dimulai dari awal bulan Juli, yang berlangsung selama 2-3 bulan sampai akhir bulan September, Periode pembungaan adalah saat tanaman jambu mete paling kritis terhadap curah hujan. Gambar 9, 10, dan 11 adalah perbandingan hubungan produktivitas dengan curah hujan setiap bulan pada periode pembungaan. Besarnya nilai koefisien determinasi yaitu 0.00 pada bulan Juli, 0.513 pada bulan Agustus, dan 0.026 pada bulan September. Pola hubungan antara produktivitas dengan curah hujan yang paling terlihat dan nilai koefisien determinasi terbesar adalah pada bulan Agustus.

Gambar 9 Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan Juli (periode pembungaan)

(26)

12

Bulan Agustus inilah terjadi puncak pembungaan karena pembungaan jambu mete berada pada puncaknya pada minggu ke empat setelah bunga pertama muncul. Disimpulkan bahwa produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna akan bagus jika pada bulan Agustus (puncak pembungaan) curah hujannya kecil.

Hubungan Curah Hujan dan Produktivitas dengan Fenomena El Niño-Southern Oscillation

Hubungan antara curah hujan di Kabupaten Muna dengan anomali suhu muka laut (ASML) di Niño 3.4 paling kuat terjadi pada lag 0 (Gambar 12), yang berarti perubahan ASML akan berdampak langsung terhadap curah hujan pada saat itu juga. Gambar 13 menunjukkan hubungan antara curah hujan dengan Niño 3.4 pada lag 0.

Berdasarkan analisis secara regresi linear (Gambar 14), besarnya nilai koefisien determinasi antara ASML di Niño 3.4 dengan curah hujan adalah 0.031. Tabel 4 menunjukkan rasio kejadian peningkatan dan penurunan anomali produktivitas pada saat terjadinya peristiwa El Niño-Southern Oscillation.

Gambar 11 Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan September (periode pembungaan)

(27)

13

Kecenderungan peningkatan produktivitas pada saat El Niño adalah sangat besar, yaitu 100%, tidak pernah terjadi penurunan produktivitas. Sedangkan pada saat La Niña, kecenderungan terjadinya peningkatan dan penurunan produktivitas adalah sama.

Besarnya perubahan rata-rata anomali produktivitas yang disebabkan oleh pengaruh ENSO dapat dilihat pada Gambar 15. Pada saat El Niño, rata-rata anomali produktivitas meningkat 0.46. Pada saat kondisi normal, rata-rata anomali produktivitas juga meningkat tetapi tidak sebesar pada saat El Niño, yaitu sebesar 0.18. Sedangkan pada saat La Niña, rata-rata anomali produktivitas menurun drastis, yaitu menurun sebesar 0.98

.

Gambar 14 Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 Gambar 13 Hubungan anomali suhu muka laut di

(28)

14

Gambar 15 Rata-rata anomali produktivitas berdasarkan jenis peristiwa El Niño-Southern Oscillation Tabel 4 Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño

3.4 dengan produktivitas Jenis

Enso

Anomali Produktivitas

Tahun Kejadian Persentase

(%)

El Niño P meningkat 1997, 2002, 2004, 2006, 2009 38.46

P menurun - 0.00

Normal P meningkat 2001, 2003, 2005, 2008 30.77

P menurun - 0.00

La Niña P meningkat 1998, 1999 15.38

P menurun 2000, 2007 15.38

(29)

15

Kabupaten Wonogiri

Produktivitas Jambu Mete

Besarnya hasil dan produksi jambu mete beserta luas lahan tanamannya di Kabupaten Wonogiri ditunjukkan pada Gambar 16. Berdasarkan Gambar 16 terlihat produksi mete tidak merata setiap tahunnya, ada peningkatan dan ada penurunan. Sedangkan luas lahan tanamannya cenderung rata dan mengalami sedikit peningkatan dan penurunan saja setiap tahunnya. Terlihat bahwa hasil produksi mete tidak hanya dipengaruhi oleh penambahan luas lahan saja.

Pengaruh perubahan luas lahan tanaman jambu mete harus dihilangkan, yaitu dengan menghitung produktivitas jambu mete setiap tahunnya. Produktivitas didapatkan dengan membagi produksi tahunan mete dengan luas lahan pada tahun tersebut. Produktivitas mete di Kabupaten Wonogiri dari tahun 1990 sampai 2010 ditunjukkan pada Gambar 17.

Berdasarkan Gambar 17, tren produktivitas tanaman jambu mete di Kabupaten Wonogiri cenderung meningkat setiap tahunnya. Tahun 1990 sampai tahun 1999 produktivitas jambu mete cenderung stabil. Tahun 1999 sampai 2010 produktivitasnya meningkat, walaupun ada beberapa penurunan di beberapa tahun. Lonjakan produktivitas meningkat sangat drastis dari tahun 1999 ke tahun

Gambar 16 Anomali produksi dan luas lahan jambu mete di Kabupaten Wonogiri

(30)

16

2000 yaitu peningkatannya hampir empat kali lipatnya, dan kembali turun ke kondisi normal pada tahun 2001. Begitu juga pada tahun 2002 ke tahun 2003 produktivitas kembali naik 3 kali lipatnya. Puncak produktivitas tertinggi terjadi pada tahun 2000 yaitu 1.05 ton/ha, dan produktivas terendah terjadi pada tahun 1996 yaitu 0.18 ton/ha.

Pengaruh dari faktor-faktor selain dari faktor iklim harus dihilangkan dengan metode first differences. Produktivitas jambu mete yang sudah di standarisasi dengan metode first differences ditunjukkan pada Gambar 18.

Karakteristik Hujan di Kabupaten Wonogiri

Curah hujan rata-rata bulanan dari tahun 1990 sampai tahun 2010 di Kabupaten Wonogiri ditunjukkan pada Gambar 19. Curah hujan di Kabupaten Wonogiri menunjukkan tipe hujan monsunal yaitu wilayah yang memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim hujan (DJF) dan periode musim kemarau (JJA). Musim hujan dimulai pada bulan November dan berakhir pada bulan April, bulan Mei sampai Oktober merupakan musim kemarau. Bulan kering berjumlah 3 bulan dan bulan basah berjumlah 7 bulan di mana berdasarkan

Gambar 18 Anomali produktivitas jambu mete di Kabupaten Wonogiri berdasarkan metode first differences

(31)

17

klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson bahwa Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan besar dari 100 mm dan Bulan Kering (BK) Bulan dengan curah hujan kecil dari 60 mm. Musim pembungaan mete di Wonogiri dimulai dari bulan April dan periode panen berakhir pada akhir bulan Sepetember. Hal ini sesuai dengan karakteristik tanaman jambu mete yang pembungaannya terjadi pada awal musim kering dan berakhir pada musim hujan.

Kabupaten Wonogiri termasuk daerah bercurah hujan tahunan tinggi. Dari rentang tahun 1990 sampai 2010 seperti pada Gambar 20, curah hujan paling rendah terjadi pada tahun 2002 dengan jumlah curah hujan 1312 mm, dan curah hujan paling tinggi terjadi pada tahun 2010 dengan jumlah 3130 mm. Perbedaan antara tahun dengan curah hujan terendah dan tertinggi adalah dua kali lipat, ini berarti variabilitas curah hujan di Kabupaten Wonogiri sangat tinggi, begitu juga dengan tahun-tahun yang lainnya yang dapat dilihat dari naik turunnya jumlah curah hujan setiap tahunnya. Hal ini diperkirakan akan mempengaruhi produktivitas jambu mete. Rata-rata curah hujan dari tahun 1990 sampai tahun 2010 adalah 1993 mm.

Hubungan Curah Hujan dengan Produktivitas

Berdasarkan Gambar 21, secara umum curah hujan di Kabupaten Wonogiri setiap tahunnya tidak selalu mempengaruhi produktivitas jambu mete, perubahan curah hujan tidak selalu diikuti oleh perubahan produktivitas. Dari tahun 1991 sampai 1997 curah hujan bisa dikatakan dalam kondisi normal karena perubahan curah hujan tidak terlalu tinggi, dan pada tahun tersebut produktivitas juga cenderung stabil. Begitu juga pada tahun-tahun normal lainnya yaitu tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007, dimana pada tahun ini curah hujan dan produktivitas dalam keadaan stabil dan dalam hal wajar.

Pada tahun 1998 curah hujan meningkat drastis tetapi produktivitas masih stabil, serta tahun 2000 disaat curah hujan normal tetapi produktivitas meningkat sangat drastis dan mencapai level tertinggi di periode 20 tahun tersebut. Setelah puncak tertinggi produktivitas pada tahun 1999, tahun 2001 terjadi penurunan produktivitas lagi bahkan sangat drastis, melebihi dari keadaan normal dan menjadi tahun dengan produktivitas terendah selama periode 20 tahun tersebut padahal curah hujan pada saat ini dalam kondisi normal.

(32)

18

Tabel 5 menunjukkan persentase korelasi anomali curah hujan dengan produktivitas dengan mengabaikan besarnya nilai anomali curah hujan dan produktivitas itu sendiri. Dari 20 tahun data curah hujan dan produktivitas di Kabupaten Wonogiri, 60% data menunjukkan kolerasi negatif yaitu berarti curah

Gambar 22 Anomali produktivitas dan curah hujan di Kabupaten Wonogiri

Gambar 21 Scatter Plot hubungan anomali produktivitas dan curah hujan di Kabupaten Wonogiri

Tabel 5 Persentase korelasi antara curah hujan dengan produktivitas di Kabupaten Wonogiri

Jenis Korelasi

Korelasi anomali

CH dengan P Tahun Kejadian

Persentase (%)

Positif CH naik, P naik 1993, 2000, 2009 15 40

CH turun, P turun 1991, 1996, 1999, 2003, 2007 25

Negatif CH naik, P turun

1992, 1994 1995, 1998, 2001, 2005,

2008, 2010 40 60

CH turun, P naik 1997, 2002, 2004, 2006 20

(33)

19 hujan berbanding terbalik dengan produktivitas sedangkan data yang menunjukkan kolerasi positif adalah 40%. Pengaruh curah hujan paling dominan terjadi pada saat anomali curah hujan meningkat, yang menyebabkan produktivitas menurun, 40% data menunjukkan hal ini. Dapat disimpulkan bahwa curah hujan akan berpengaruh buruk pada produktivitas jambu mete di Kabupaten Wonogiri jika pada periode pembungaan sampai buah masak curah hujannya meningkat.

Analisis korelasi antara curah hujan dengan produktivitas secara regresi linear ditunjukkan pada Gambar 22. Berdasarkan Gambar 22, Analisis pengaruh curah hujan terhadap produktivitas jambu mete menunjukkan korelasi negatif, yaitu curah hujan berbanding terbalik dengan produktivitas, dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0.107. Semakin tinggi curah hujan maka produktivitas akan semakin menurun, begitu juga sebaliknya.

Besarnya perubahan nilai anomali produktivitas yang disebabkan oleh pengaruh curah hujan dapat dilihat pada Gambar 23. Pada saat anomali curah hujan meningkat menyebabkan rata-rata anomali produktivitas menurun sebesar 0.13. Sedangkan pada saat anomali curah hujan menurun menyebabkan peningkatan produktivitas sebesar 0.32

Gambar 23 Rata-rata perubahan anomali produktivitas pada saat anomali curah hujan meningkat dan menurun

(34)

20

Periode pembunggaan jambu mete di Kabupaten Wonogiri dimulai dari awal bulan Maret, yang berlangsung selama 2-3 bulan sampai akhir bulan Mei, Pada periode pembungaan inilah saat kritis terhadap curah hujan. Gambar 24, 25, dan 26 adalah perbandingan hubungan produktivitas dengan curah hujan setiap bulan pada periode pembungaan dari bulan Maret sampai bulan Mei dengan nilai koeisien determinasi 0.143 pada bulan Maret, 0.005 pada bulan April, dan 0.001 pada bulan Mei. Pola hubungan antara produktivitas dengan curah hujan yang paling terlihat dan nilai koefisien determinasi terbesar adalah pada bulan Maret. Bulan Maret inilah terjadi puncak pembungaan karena pembungaan jambu mete berada di puncaknya pada minggu keempat setelah bunga pertama muncul. Dapat disimpulkan bahwa produktivitas jambu mete di Kabupaten Wonogiri akan bagus jika pada bulan Maret (puncak pembungaan) curah hujannya kecil.

Gambar 26 Hubungan produktivitas dengan curah hujan pada bulan Mei (periode pembungaan)

(35)

21

Hubungan Produktivitas dan Curah Hujan dengan Fenomena El Niño-Southern Oscillation

Berdasarkan Gambar 27 dapat dilihat bahwa perubahan ASML di lokasi Niño 3.4 paling besar mempengaruhi curah hujan di Kabupaten Wonogiri adalah pada lag 2, yang artinya perubahan ASML di Niño 3.4 akan mempengaruhi curah hujan di Kabupaten Wonogiri dalam periode 2 bulan mendatang setelah perubahan ASML tersebut terjadi. Hubungan curah hujan dengan ASML di Niño 3.4 dapat dilihat dari Gambar 28.

Analisis secara regresi linear menunjukkan nilai koefisien determinasi antara curah hujan dan ASML di Niño 3.4 di Wonogiri adalah 0.011 (Gambar 29). Tabel 6 menunjukkan rasio kejadian peningkatan dan penurunan produktivitas pada saat terjadinya peristiwa ENSO. Pada saat terjadinya El Niño, kecenderungan terjadinya peningkatan produktivitas lebih besar daripada terjadinya penurunan produktivitas. Sedangkan pada saat terjadinya La Niña dan kondisi normal, kecenderungan penurunan produktivitas sangat besar daripada peningkatan produktivitas.

Besarnya perubahan anomali produktivitas yang disebabkan oleh pengaruh ENSO pada saat terjadinya El Niño, La Niña, dan saat kondisi normal dapat dilihat pada Gambar 30. Pada saat El Niño dan La Niña rata-rata anomali

Gambar 28 Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 Gambar 27 Cross correlation anomali suhu muka laut di

(36)

22

produktivitas sama-sama mengalami peningkatan, tetapi pada saat El Niño peningkatannya lebih besar daripada saat La Niña. Rata-rata anomali produktivitas pada saat El Niño meningkat 0.56, sedangkan pada saat La Niña peningkatannya hanya 0.05. Penurunan rata-rata anomali produktivitas hanya terjadi pada saat kondisi normal, yaitu menurun sebesar 0.52.

Tabel 6 Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 dengan produktivitas

Jenis ENSO

Kondisi

Produktivitas Tahun Kejadian

Persentase (%)

El Niño P meningkat 1997, 2002, 2004, 2006, 2009 25

P menurun 1991, 1994 10

Normal P meningkat 1993 5

P menurun 1996, 2001, 2003, 2005, 1992, 2008 30

La Niña P meningkat 2000 5

P menurun 1999, 1995, 1998, 2007, 2010 25

Keterangan : P = Produktivitas

(37)

23

(38)

24

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Analisis pengaruh curah hujan terhadap produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna menunjukkan korelasi negatif dengan nilai koefisien determinasi 0.006. Pengaruh curah hujan terhadap produktivitas yang paling sering terjadi adalah pada saat anomali curah hujan mengalami penurunan daripada saat mengalami peningkatan, tetapi perubahan anomali produktivitas lebih besar adalah pada saat terjadi peningkatan curah hujan. Korelasi terbesar antara produktivitas dengan curah hujan pada periode pembungaan adalah pada bulan Agustus. Hubungan antara curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 paling kuat terjadi pada lag 0, yang berarti perubahan anomali suhu muka laut akan berdampak langsung terhadap curah hujan pada saat itu juga. Perubahan rata-rata anomali produktivitas pada saat El Niño meningkat 0.46, pada saat kondisi normal meningkat sebesar 0.18, dan pada saat La Niña menurun sebesar 0.98.

Analisis pengaruh curah hujan terhadap produktivitas jambu mete di Kabupaten Wonogiri menunjukkan korelasi negatif dengan nilai koefisien determinasi 0.107. Pengaruh curah hujan terhadap produktivitas paling sering terjadi pada saat anomali curah hujan mengalami peningkatan, tetapi perubahan rata-rata anomali produktivitas terbesar terjadi pada saat curah hujan mengalami penurunan. Korelasi terbesar antara produktivitas dengan curah hujan pada periode pembungaan terjadi pada bulan Maret. Perubahan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 akan mempengaruhi curah hujan di Kabupaten Wonogiri dalam periode 2 bulan mendatang setelah perubahan anomali suhu muka laut tersebut terjadi. Perubahan rata-rata anomali produktivitas pada saat El Niño meningkat 0.56, pada saat kondisi normal yaitu menurun sebesar 0.52, dan pada saat La Niña meningkat 0.05.

Saran

(39)

25

DAFTAR PUSTAKA

Alaudin. 1996. Status dan pengembangan nasional komoditas jambu mete di Indonesia. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Komoditas Jambu Mete. Bogor, 5 – 6 Maret 1996. Hlm. 1 – 16.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2010. Pembangunan Model Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Jambu Mete dan Mitigasinya. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Boer R. 2001. Analisis Risiko Iklim untuk Produksi Pertanian. Paper disajikan dalam Pelatihan Dosen PT Se Sumatera-Kalimantan dalam Bidang Pemodelan dan Simulasi Pertanian dan Lingkungan, Bogor.

Boer R. 2003. Penyimpangan Iklim di Indonesia. Disajikan dalam Seminar Nasional Ilmu Tanah dengan tema "Menggagas Strategi Alternatif dalam Menyiasati Penyimpangan Iklim serta Implikasinya pada Tataguna Lahan dan Ketahanan Pangan Nasional", Gedung University Center Universitas Gajah Mada.

Boer R, Subbiah. 2005. Agriculture drought in Indonesia. In V.J. Boken, A.P. Cracknell and R.L. Heathcote (eds). Monitoring and predicting agriculture drought: A global study. Oxford University Press, New York. p:330-344. Cahyono B. 2001. Jambu Mete, Teknik Budidaya dan Analisis Usahatani.

Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Direktorat Tanaman Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI. 2013. Memilih Benih Jambu Mete Yang Baik Dan Benar.

Duncan IE. 2001. A Review of the potential for development of Cashew Production in Zona Paz Region, Guatemala, Central America. P 34. Abt Associates Inc. Suite 600-4800 Montgomery Lane Bethesda, MD 20814-5341.

Hadad EA, Koerniati S. 1996. Sambung Pucuk Sebelas Nomor Harapan Jambu Mete Langsung di Lapang. Prosiding. Forum Komunikasi Ilmiah Komoditas Jambu Mente. Tanggal 5 – 6 Maret 1996. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor.

Nair MK, Bhasakara EVV, Nambiar. 1979. Mono-graph on Plantation Crops-1: Cashew (Ana-cardium occidentale L.). Central Plantation Crops Research Institute, Kerala India. p. 43− 65.

Nambiar. 1980. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2006. Peta Kesesuaian Lahan dan Iklim Jambu Mete.

Naylor RL, Falcon W, Wada N, Rochberg D. 2002. Using El-Niño Southern Oscillation climate data to improve food policy planning in Indonesia, Bulletin of Indonesian Economic Studies, 38, 75-91.

[NOAA] National Oceanic and Atmospheric Administration. 2003. Monthly Atmospheric and SST Indices. http://www.cpc.ncep.noaa.gov/data/indices/ [2 Oktober 2013]

(40)

26

Ohler JG. 1979. Cashew. Koninklik Institut voor de tropen. Departmen of Agricultural Research, Amsterdam.

Ola TL, Nurland F, Salman D, Rukmana D. 2011. Perilaku Ekonomi Petani Jambu Mete di Kabupaten Buton Dan Muna. Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari.

Purseglove JW. 1974. Tropical Crops, Dycotyledons. Long-man Press. London. Rismunandar. 1981. Memperbaiki Lingkungan dengan Bercocok Tanam Jambu

Mete dan Advokat. Penerbit Sinar Baru, Bandung.

Steenis V. 1978. Flora. Penerbit PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Wunnachit. 1991. Flowering and Fruiting Phenology Cashew in Australia. Department of Plant Science, Faculty of Natural Resources. Prince of Songkla University, Hat Yai, Songkhla.90112. 9 P.

(41)

27

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Baruah Gunuang, Kec. Bukik Barisan Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada tanggal 15 Desember 1988 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Afrizal M SPd dan Hazlentati SPd. Pendidikan formal penulis dimulai dari SD Negeri 01 Baruah Gunuang dan lulus pada tahun 2001. Penulis melanjutkan pendidikan di SMP 1 Kec. Bukik Barisan dan selesai pada tahun 2004. Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Suliki dan lulus seleksi masuk IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dengan Program Studi Meteorologi Terapan, Departemen Geofisika dan Meeteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai Program Studi Mayor. Pada tahun kedua di IPB, penulis memilih program studi Sistem Informasi dari Departemen Ilmu Komputer sebagai Program Studi Minor.

(42)

Figure

Gambar 3   Produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna

Gambar 3

Produktivitas jambu mete di Kabupaten Muna p.21
Gambar 4   Anomali

Gambar 4

Anomali p.22
Gambar 6   Scatter Plot anomali produktivitas dengan

Gambar 6

Scatter Plot anomali produktivitas dengan p.23
Gambar 5   Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten

Gambar 5

Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten p.23
Gambar 7   Hubungan produktivitas dengan curah hujan

Gambar 7

Hubungan produktivitas dengan curah hujan p.24
Gambar 10   Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan Agustus (periode pembungaan)

Gambar 10

Hubungan produktivitas dengan curah hujan bulan Agustus (periode pembungaan) p.25
Gambar 12   Cross correlation antara curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4

Gambar 12

Cross correlation antara curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 p.26
Gambar 11   Hubungan produktivitas dengan curah hujan

Gambar 11

Hubungan produktivitas dengan curah hujan p.26
Tabel 4 menunjukkan rasio kejadian peningkatan dan penurunan anomali

Tabel 4

menunjukkan rasio kejadian peningkatan dan penurunan anomali p.26
Gambar 14   Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dan anomali suhu muka laut di Niño 3.4

Gambar 14

Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 p.27
Tabel 4   Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 dengan produktivitas

Tabel 4

Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 dengan produktivitas p.28
Gambar 16   Anomali produksi dan luas lahan jambu mete

Gambar 16

Anomali produksi dan luas lahan jambu mete p.29
Gambar 19   Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten

Gambar 19

Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten p.30
Gambar 18   Anomali

Gambar 18

Anomali p.30
Gambar 20    Total Curah Hujan Tahunan di Kabupaten

Gambar 20

Total Curah Hujan Tahunan di Kabupaten p.31
Gambar 21   Scatter Plot hubungan anomali produktivitas

Gambar 21

Scatter Plot hubungan anomali produktivitas p.32
Gambar 24   Hubungan produktivitas dengan curah hujan pada bulan Maret (periode pembungaan)

Gambar 24

Hubungan produktivitas dengan curah hujan pada bulan Maret (periode pembungaan) p.33
Gambar 25   Hubungan produktivitas dengan curah hujan

Gambar 25

Hubungan produktivitas dengan curah hujan p.34
Gambar 28   Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4

Gambar 28

Scatter Plot hubungan anomali curah hujan dengan anomali suhu muka laut di Niño 3.4 p.35
Gambar 29   Hubungan anomali suhu muka laut di Niño

Gambar 29

Hubungan anomali suhu muka laut di Niño p.36
Tabel 6   Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño

Tabel 6

Persentase korelasi antara anomali suhu muka laut di wilayah Niño p.36
Gambar 30   Rata-rata anomali produktivitas berdasarkan jenis peristiwa El Niño-Southern Oscillation

Gambar 30

Rata-rata anomali produktivitas berdasarkan jenis peristiwa El Niño-Southern Oscillation p.37

References

Outline : SIMPULAN DAN SARAN

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in