• Tidak ada hasil yang ditemukan

. Analisis Keberlanjutan Dan Pengembangan Co-Operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (Lkm-A) Kabupaten Lamongan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan ". Analisis Keberlanjutan Dan Pengembangan Co-Operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (Lkm-A) Kabupaten Lamongan."

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEBERLANJUTAN DAN PENGEMBANGAN

CO-OPERATIVE ENTREPRENEURSHIP LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) KABUPATEN LAMONGAN

RATIH APRI UTAMI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Keberlanjutan dan Pengembangan Co-operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Kabupaten Lamongan, adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

RATIH APRI UTAMI. Analisis Keberlanjutan dan Pengembangan Co-operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Kabupaten Lamongan. Dibimbing oleh LUKMAN M BAGA dan SUHARNO.

Agribisnis perdesaan berkembang melalui partisipasi aktif petani dalam sistem komunitas dan kelembagaan. Komunitas kelembagaan diberdayakan melalui aktivitas kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Salah satu permasalahan yang dihadapi petani pada masyarakat agribisnis perdesaan adalah kesulitan dalam mengakses pembiayaan melalui perbankan. Pada tahun 2008, pemerintah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang disalurkan melalui Gapoktan sebesar 100 juta rupiah. Dana PUAP bertujuan sebagai pemberdayaan mandiri pengelolaan keuangan di tingkat kelompok tani sekaligus sebagai stimulus agar dapat ditumbuhkan menjadi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) untuk keberlanjutan pembiayaan untuk petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis proses penumbuhan LKM-A dan keberlanjutan LKM-A Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan berdasarkan pendekatan kelembagaan, finansial dan nasabah, serta implikasi pengembangan Co-operative Entrepreneurship LKM-A Kabupaten Lamongan.

Penelitian ini dilakukan di LKM-A Gapoktan Sejahtera, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur karena pertimbangan: (1) Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan telah menerima dana PUAP sejak Tahun 2011, (2) Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan mempunyai tingkat kinerja keuangan yang meningkat setiap tahunnya, (3) LKM-A Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan mempunyai catatan administrasi yang baik yang direkomendasikan dari pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Lamongan sebagai LKM-A yang berprestasi tahun 2013, (4) Belum pernah diadakan penelitian serupa di Kabupaten Lamongan terkait keberlanjutan dan pengembangan co-operative entrepreneurship LKM-A. Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan Februari dan Maret 2015. Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer seperti kuesioner dan wawancara kepada pengurus, anggota LKM-A, Penyuluh Mitra Tani, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, Direktur Pembiayaan Kementerian Pertanian dan Dosen akademisi Perguruan Tinggi Pertanian. Metode yang digunakan adalah analisis pertumbuhan LKM-A dan analisis keberlanjutan menggunakan tiga pendekatan yaitu lembaga, finansial dan nasabah untuk selanjutnya dapat digunakan untuk menarik implementasi pengembangan co-operative entrepreneurship.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penumbuhan LKMA pada Gapoktan

Sejahtera dikategorikan “baik” pada tahapan persiapan, namun “kurang baik”

(5)

dari 2012 sampai 2014. Saat ini LKM-A Gapoktan Sejahtera sedang bersiap untuk memperkuat dirinya dengan lembaga hukum berupa koperasi. Sehingga peneliti mengajukan pola implikasi co-operative entrepreneurship sebagai penguatan badan hukum koperasi yang telah dikuatkan melalui sistem kelembagaan yaitu kelompok tani. Pengembangan LKM-A menuju Co-operative Entrepreneurship melalui materi kurikulum kelompok kepada pelaku sentral yaitu Ketua Gapoktan, ketua LKM-A, dan Ketua kelompok Tani untuk mengikuti sekolah lapang yang terdiri dari pelatihan dan magang. Materi yang disusun disesuaikan potensi desa dan Sistem Informasi Pertanian yang disusun melalui kerjasama kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten dan Perguruan Tinggi Pertanian terkait. Metode pengembangan co-operative entrepreneurship menggunakan dua pendekatan yaitu pelaku dan proses. Pendekatan pertama berdasarkan pelaku difokuskan pada pengembangan sumberdaya manusia yang ada dan potensial untuk dibentuk menjadi seorang wirakoperasi yaitu melalui unit usaha otonom LKM-A yang mempunyai prinsip koperasi. Pendekatan kedua dilihat dari sisi proses dengan berdasarkan kedudukan LKM-A dalam gapoktan, yaitu sebagai financial education untuk mendukung unit usaha gapoktan seperti saprodi, produksi, pengolahan, dan pemasaran.

(6)

SUMMARY

RATIH APRI UTAMI. Sustainability Analysis and Co-operative Entrepreneurship Development of Micro Finance Institutional Agribussines (LKM-A) in Lamongan District. Supervised by LUKMAN M BAGA and SUHARNO.

Rural agribusiness developed through the active participation of farmers community. Community empowered through Farmer’s Group (Poktan) and farmers' groups combined (Gapoktan). One of the problems faced by farmers in the rural areas is the lack of access to sources of bank financing. In the year 2008, the government implement the program of Rural Agribusiness Development (PUAP) which are routed through Gapoktan of 100 million dollars. PUAP fund was intended to empower independent financial management at the farmer group level and as a stimulus that can be grown into Agribussiness Micro Finance Institutions (LKM-A) for the financial sustainability for farmers. The purpose of this study was to analyze the growth and sustainability of LKM-A based on institutional, financial and customers approachment, and to develop LKM-A towards the Co-operative Entrepreneurship.

This research was conducted in the LKM-A of Gapoktan Sejahtera, Lamongan District, for consideration: (1) Gapoktan Sejahtera had received funding PUAP since the year 2011, (2) Gapoktan Sejahtera had the financial performance increased every year, (3) Gapoktan Sejahtera had a record of good administration recommended from the Department of Agriculture and Forestry Lamongan District as LKM-A achievers in 2013, (4) Gapoktan Sejahtera was now similar research in Lamongan District related to sustainability and development of co-operative entrepreneurship LKM-A. Data research conducted from February until March 2015. Primary and secondary data was used such as questionnaires and interviews to the board, members of the LKM-A, PMT, Head of Agriculture Lamongan, Director of the Finance Ministry of Agriculture and Lecturer College of Agriculture. The method used is the analysis of the growth of LKM-A and sustainability analysis using three approachment which are institutions, financial and customer that can be used to attract the implementation of the development co-operative entrepreneurship.

(7)

actors those are chairman of Gapoktan, chairman of the LKM-A, and the Chairman of farmer groups to attend the field school which consists of training and apprenticeship. The material arranged has adjusted potential to the village and Agricultural Information System which was developed through a partnership of the Ministry of Agriculture, Department of Agriculture Lamongan District and the related College of Agriculture. Cooperative entrepreneurship development method uses two approaches, i.e. actors and processes. The first approach, based on actors focuses on developing existing and potential human resources to create a co-operativepreneur through an autonomous business unit, LKM-A whose principle is cooperative. The second, in term of the processes, is basrd on the position of LKM-A at gapoktan, i.e as the financial education to support business unit in gapoktan such as inputs, production, processing, and marketing.

(8)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Magister Sains Agribisnis

ANALISIS KEBERLANJUTAN DAN PENGEMBANGAN

CO-OPERATIVE ENTREPRENEURSHIP LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO-AGRIBISNIS (LKM-A) KABUPATEN LAMONGAN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2015

(10)
(11)

Judul Tesis : Analisis Keberlanjutan dan Pengembangan Co-operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Kabupaten Lamongan

Nama : Ratih Apri Utami NIM : H351130111

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Dr Ir Lukman M Baga, MAEc Ketua

Dr Ir Suharno, MADev Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis

Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

(12)
(13)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah Co-operative Entrepreneurship, dengan judul Analisis Keberlanjutan dan Pengembangan Co-operative Entrepreneurship Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) di Kabupaten Lamongan.

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang membantu terselesaikannya tesis saya:

1. Bapak Dr Ir Lukman M Baga, MAEc dan Bapak Dr Ir Suharno, MADev selaku dosen pembimbing,

2. Ibu Dr Ir Dwi Rachmina, MSi dan Bapak Dr Ir Burhanuddin, MM sebagai dosen penguji sidang.

3. Ibu Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS sebagai Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis (MSA)

4. Yuni Sulistyawati, Dewi Martiawaty Utami dan Bapak Yusuf yang membantu proses administrasi tingkat program studi.

5. Ketua LKM-A, Ketua Gapoktan, Kepala Desa, PPL, PMT dan petani Desa Puter, Kecamatan Kembangbahu dalam memfasilitasi pengumpulan data. 6. Divisi Pengembangan SDM dan Kelembagaan serta Kepala Dinas

Pertanian dan Kehutanan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, Pejabat PEMDA dan KESBANGPOL Kabupaten Lamongan atas bantuan data serta izinnya melakukan penelitian.

7. Direktur Pembiayaan Kementerian Pertanian atas kesediaan wawancara terkait PUAP dan LKM-A.

8. Orang tua dan saudara-saudara atas doa dan motivasinya.

9. Rekan-rekan organisasi Pascasarjana IPB di Forum WACANA (2013-2014) dan HIMMPAS (2014-2015), Sahabat-sahabat MSA 4 dan Tim Pengajar Nurul Fikri Jakarta-Bogor atas segala dukungannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(14)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xiii

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 5

Tujuan Penelitian 8

Manfaat Penelitian 8

Ruang Lingkup Penelitian 8

2 TINJAUAN PUSTAKA 9

Pasar Kredit Perdesaan 9

Pengelolaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) 10

Keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) 11

Kajian Lembaga Keuangan Mikro dengan pendekatan Co-operative

Entrepreneurship 13

3 KERANGKA PEMIKIRAN 15

Kerangka Pemikiran Teoritis 15

Kerangka Pemikiran Operasional 31

4 METODE PENELITIAN 33

Lokasi dan Waktu Penelitian 33

Jenis dan Sumber Data 33

Metode Pengumpulan Data 33

Metode Penentuan Responden 34

Metode Pengolahan dan Analisis Data 35

Definisi Operasional Penelitian 39

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 41

Gambaran Umum Daerah Penelitian 41

Gambaran Umum LKM-A Gapoktan Sejahtera 44

Karakteristik Petani Responden 47

Analisis Proses Penumbuhan LKM-A 49

Analisis Keberlanjutan LKM-A Gapoktan Sejahtera 53 Implikasi Pola Pengembangan Co-operative Entrepreneurship LKM-A 66

6 KESIMPULAN DAN SARAN 74

Kesimpulan 74

Saran 74

DAFTAR PUSTAKA 75

LAMPIRAN 80

(15)

DAFTAR TABEL

1 Luas panen (Hektar) tanaman padi, jagung, kedelai menurut provinsi di

Indonesia Tahun 2014 3

2 Jumlah gapoktan penerima dana PUAP di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, dan Nasional tahun 2008–2013 4 3 Jumlah LKM-A Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, dan

Nasional Tahun 2008–2013 6

4 Kategori pencapaian skor variabel proses penumbuhan LKM-A 35

5 Proses penumbuhan LKM-A 36

6 Keberlanjutan nasabah 38

7 Kategori pencapaian skor variabel kepuasan nasabah LKM-A 39

8 Sebaran nasabah LKM-A menurut jenis kelamin 47

9 Sebaran nasabah LKM-A menurut golongan usia 47

10 Sebaran nasabah LKM-A menurut tingkat pendidikan 48 11 Sebaran nasabah LKM-A menurut golongan pengalaman usahatani 48 12 Sebaran nasabah LKM-A menurut golongan luas lahan 49 13 Hasil penumbuhan LKM-A Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan 52 14 Pendapatan LKM-A Gapoktan Sejahtera menurut sumber pendapatan

tahun 2011-2014 (dalam Rupiah) 60

15 Perkembangan beban LKM-A Gapoktan Sejahtera menurut jenis beban

tahun 2011-2014 (dalam Rupiah) 61

16 Pendapatan, beban, dan Sisa Hasil Usaha (SHU) LKM-A Gapoktan

Sejahtera 61

17 Keberlanjutan finansial LKM-A Gapoktan Sejahtera 62 18 Rata-rata nilai parameter keberlanjutan nasabah LKM-A Gapoktan

Sejahtera 64

DAFTAR GAMBAR

1 Tahapan proses pembinaan kelembagaan PUAP 18

2 Kedudukan LKM-A dalam Gapoktan 21

3 The Critical Triangle in Achieving Economic Sustainability of

Microfinance 23

4 Co-operative business model 30

5 Kerangka pemikiran operasional 32

6 Peta Kabupaten Lamongan 42

7 Skema pembiayaan LKM-A Gapoktan Sejahtera 54

8 Pertemuan pengurus dan anggota LKM-A Gapoktan Sejahtera 55

9 Buku rekening BRI LKM-A Gapoktan Sejahtera 56

10 Tahap screening anggota LKM-A Gapoktan Sejahtera 57 11 Surat pernyataan peminjaman dan pengembalian dana PUAP LKM-A 58 12 Berita acara nasabah yang tidak mengembalikan dana PUAP tepat

waktu 59

13 Implikasi pengembangan co-operative entrepreneurship LKM-A

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Rekapitulasi Jumlah Desa/Gapoktan PUAP Tahun 2008 s/d 2014 80 2 Tabulasi Data Penilaian Responden Terhadap Penumbuhan LKMA 81 3 Tabulasi Data Penilaian Responden Terhadap Penumbuhan LKMA 82 4 Tabulasi Data Persepsi Nasabah Terhadap Penyaluran dana PUAP 83 5 Tabulasi Data Persepsi Nasabah Terhadap Pemanfaatan dana PUAP 86 6 Tabulasi Data Persepsi Nasabah Terhadap Pengembalian PUAP 87 7 Pendapatan LKM-A Gapoktan Sejahtera Tahun 2012 89 8 Pendapatan LKM-A Gapoktan Sejahtera Tahun 2013 90 9 Pendapatan LKM-A Gapoktan Sejahtera Tahun 2014 91

(17)

1

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor pertanian dan agribisnis di perdesaan merupakan sumber pertumbuhan perekonomian nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan sektor pertanian dan agribisnis yang tumbuh positif dibandingkan dengan sektor lainnya (Thohari 2003). Agribisnis perdesaan berkembang melalui partisipasi aktif petani melalui sitem komunitas dan kelembagaan. Komunitas di perdesaan mengatur kegiatan ekonomi petani dengan mengadakan koordinasi dalam pemakaian sumber-sumber yang ada melalui adat dan kelembagaan. Pembangunan perdesaan berbasis agribisnis salah satunya dilakukan melalui pengembangan kelembagaan kelompok petani yang dibutuhkan dalam rangka pemberdayaan petani untuk dapat tumbuh berkembang secara dinamis dan mandiri.

Petani di perdesaan umumnya berskala usaha kecil-kecil tapi jumlahnya banyak. Karena kecil-kecil sering tidak mampu menangkap skala usaha ekonomis di bidang produksi, distribusi, dan mendapatkan layanan jasa. Karena itu petani-petani kecil tidak akan mampu untuk memperbaiki dirinya dari segi efisiensi, efektivitas, dan persaingan dengan kelompok lain di luar petani. Inilah yang menjadi alasan ekonomis pentingnya suatu organisasi ekonomi petani (Saragih 2015). Kebijakan pengembangan kelembagaan tani berbasis satu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam satu desa, merupakan upaya Kementerian Pertanian untuk membangun organisasi atau kelembagaan tani yang kuat, mandiri sebagai basis pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekonomi petani di perdesaan.

Kelembagaan di tingkat petani salah satunya dilakukan melalui kelompok tani. Kelompok tani merupakan sarana untuk menggali potensi sumberdaya manusia di bidang usahatani. Sedikitnya ada tiga alasan mengapa diperlukan kelompok tani dalam pembangunan pertanian di perdesaan Indonesia. Pertama, rendahnya rasio jumlah PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dibandingkan dengan jumlah petani sehingga diperlukan wadah yang dapat mempermudah kerja PPL dalam melaksanakan tugas penyuluhan mereka. Kedua, terbatasnya sumberdaya yang dimiliki petani secara individual sehingga dengan bekerjasama dalam kelompok akan mendorong petani untuk menggabungkan sumberdaya mereka menjadi lebih ekonomis. Ketiga, perilaku berkelompok sudah merupakan budaya Indonesia, terutama di perdesaan. Sebagian besar aktivitas masyarakat perdesaan sangat dipengaruhi oleh keputusan kelompok (Martaamidjaja 1993).

(18)

tidak atau belum dimiliki oleh petani kecil. Pada umumnya aset yang mereka miliki terutama aset fisik seperti tanah, rumah dan lain-lain belum memiliki sertifikat. Hal lain yang memberatkan adalah mekanisme perbankan yang menurut penduduk perdesaan menyulitkan, sangat birokratis dan transaksi yang mahal (Setyarini 2008).

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berupaya mengatasi kesulitan akses permodalan petani dengan menggulirkan program bantuan modal untuk petani melalui bantuan langsung atau subsidi. Namun belajar dari pengalaman kredit program/bantuan modal dari pemerintah, ternyata sebagian besar program tidak dapat berkelanjutan pelaksanaannya di tingkat lapang. Setelah program selesai, petani tidak lantas menjadi mandiri dan sejahtera. Salah satu penyebabnya adalah karena dana bantuan program pemerintah tidak dapat dikelola dengan baik oleh petani. Sehingga pemerintah mulai mengadakan program dengan tujuan mendekatkan akses permodalan petani. Maka pada tahun 2008, Kementerian Pertanian melaksanakan Program PUAP (Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan) sebagai program prioritas yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan Kementerian/Lembaga lain di bawah payung Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. PUAP dirancang secara partisipatif dengan petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani (gapoktan) sebagai pelaku utama yang difasilitasi oleh pemerintah dari tingkat Kementerian Pertanian sampai ke desa/kelurahan. Tujuan Program PUAP adalah mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai dengan potensi wilayah dengan sasaran untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani.

Kelembagaan tani pelaksana program PUAP yang berfungsi sebagai pengelola bantuan modal usaha bagi petani anggota adalah Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Pengelolaan bantuan program PUAP melalui Gapoktan dengan harapan dana tersebut dapat tumbuh dan berkembang, sehingga kebutuhan modal bagi usahatani dapat terpenuhi secara berkesinambungan. Gapoktan penerima dana PUAP diharapkan dapat mengelola dana tersebut melalui unit usaha otonom simpan pinjam atau Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PUAP, Gapoktan didampingi oleh Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani (PMT). Di dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 08/Permentan/OT.140/1/2013 tentang Pedoman PUAP disebutkan bahwa pola dasar PUAP dirancang untuk meningkatkan keberhasilan penyaluran dana PUAP kepada Gapoktan dalam mengembangkan usaha produktif petani dalam mendukung 4 (empat) sukses Kementerian Pertanian yaitu; (1) Swasembada berkelanjutan; (2) Diversifikasi pangan; (3) Peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, dan (4) Peningkatan kesejahteraan petani. Untuk pencapaian tujuan tersebut, komponen utama dari pola dasar pengembangan PUAP adalah; (1) Keberadaan Gapoktan; (2) Keberadaan Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani sebagai pendamping; (3) Pelatihan bagi petani, pengurus Gapoktan, dan lain-lain; dan (4) Penyaluran dana PUAP kepada petani (pemilik dan atau penggarap), buruh tani, dan rumah tangga tani (Kementerian Pertanian 2013).

(19)

warga yang terpilih dari lingkungan ikatan pemersatunya (tingkat desa) yang bersepakat untuk bekerjasama saling menolong dengan menabung secara teratur dan terus-menerus, sehingga terbentuk modal bersama yang terus berkembang, guna dipinjamkan kepada para anggota untuk tujuan produktif dan kesejahteraan dengan tingkat bagi hasil/jasa tabungan maupun pembiayaan yang layak dan bersaing (Burhansyah, 2010).

LKM-A dikelola secara tersendiri (otonom) oleh anggota Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani yang dianggap berprestasi. Pola LKM-A ini sejalan dengan kebijakan revitalisasi pertanian dan rencana strategis pembangunan pertanian yang mengarahkan upaya pengelolaan keuangan seiring dengan peningkatan kapasitas kelompok tani. Dengan demikian di masa mendatang kelompok tani fungsinya dikembangkan untuk menjadi lembaga keuangan mikro pertanian. LKM-A tersebut diharapkan mampu mengelola sumberdaya finansial untuk melayani kebutuhan petani di lingkungannya dalam upaya mengembangkan usaha ekonomi produktif di bidang pertanian. Keberadaan LKM-A menjadi salah satu solusi dalam pembiayaan sektor pertanian di perdesaan karena mempunyai peran strategis sebagai penghubung dalam aktifitas perekonomian masyarakat tani. LKM-A juga berperan menguatkan kelembagaan petani dalam pengembangan agribisnis yang tidak lepas dari lemahnya akses petani terhadap berbagai sumber daya produktif, yaitu: modal, teknologi, dan informasi pasar (Hanafie 2010).

Berdasarkan data Kementerian Pertanian terlihat bahwa penyaluran dana BLM PUAP (Bantuan Langsung Mandiri – Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan) sejak tahun 2008 hingga tahun 2014 didistribusikan kepada 49 186 Gapoktan di 33 Provinsi di Indonesia. Provinsi penerima BLM-PUAP terbesar yaitu Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah Gapoktan sebanyak 6 631 Gapoktan kemudian Provinsi Jawa Timur yang menduduki peringkat kedua dengan jumlah Gapoktan 5 694 Gapoktan dan Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat ketiga dengan jumlah 3 739 Gapoktan. Data Rekapitulasi Penerima Dana BLM-PUAP Tahun 2008-2014 dapat dilihat pada lampiran 1.

Pendistribusian dana PUAP Kementerian Pertanian didasarkan pada jumlah desa pertanian yang menunjang swasembada pajale (padi, jagung, kedelai). Padi, jagung, kedelai merupakan komoditas unggulan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2014), provinsi dengan luas panen terbesar tanaman pangan padi, jagung, kedelai disajikan pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1 Luas panen (Hektar) tanaman padi, jagung, kedelai menurut provinsi di Indonesia Tahun 2014

No. Provinsi Luas panen (Ha)

Padi Jagung Kedelai

1 Jawa Timur 2 072 822 1 202 300 214 880

2 Jawa Tengah 1 800 908 538 102 72 235

(20)

Berdasarkan Tabel 1, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan luas panen terbesar untuk tanaman padi, jagung, kedelai yang menjadikan alasan Kementerian Pertanian mengalokasikan pendistribusian BLM PUAP. Salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur yang mendapatkan program PUAP terbanyak sejak awal program berjalan tahun 2008 adalah Kabupaten Lamongan. Kebijakan dari Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Lamongan memberlakukan setiap Gapoktan PUAP di Kabupaten Lamongan yang menerima dana BLM PUAP diharapkan membentuk unit usaha keuangan mikro lengkap dengan pengurusnya setelah mencairkan dan menggunakan dana stimulus PUAP tersebut. Jumlah Gapoktan penerima dana PUAP di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, dan Nasional disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Jumlah gapoktan penerima dana PUAP di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, dan Nasional tahun 2008–2013

Tingkat Jumlah Gapoktan Penerima PUAP

2008 2009 2010 2011 2012 2013 Nasional 10 542 9 884 8 587 9 110 6 050 3 300 Provinsi Jawa Timur 1 083 925 906 1 243 954 426 Kabupaten

Lamongan

35 17 92 83 45 42

Sumber: Kementerian Pertanian (2014)

Dana penguatan modal usaha PUAP secara terstruktur digulirkan Gapoktan kepada para anggota kelompok tani sebagai peminjaman sehingga pada Tahun ke-2 Gapoktan sudah dapat mengembangkan Unit Usaha Simpan Pinjam (U-S/P). Gapoktan penerima bantuan BLM-PUAP diharapkan dapat menjaga perguliran dana sampai pada fase pertumbuhan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) pada Tahun ke-3. LKM-A yang berhasil ditumbuhkan oleh Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan akumulasi modal melalui dana keswadayaan yang dikumpulkan oleh anggota melalui tabungan maupun melalui saham anggota.

(21)

Perumusan Masalah

Salah satu permasalahan yang mendasar dihadapi petani di perdesaan adalah lemahnya akses kepada sumber pembiayaan perbankan karena tidak feasible dan bankable. Hal ini memperkuat alasan bahwa pembiayaan petani skala usaha mikro di perdesaan seyogyanya dilakukan oleh lembaga keuangan khusus yang bukan berbentuk bank. Apabila hanya mengandalkan perbankan, maka sulit bagi petani untuk mendapatkan akses pembiayaan. Selain itu, permasalahan lain adalah terkait jangkauan nasabah, pengelolaan dan keberlanjutan kelembagaan pembiayaannya.

Berbeda halnya dengan pasar barang dan jasa, pasar kredit secara inheren adalah bersifat tidak sempurna, artinya terdapat ketidaktentuan tentang selesainya sebuah transaksi kredit. Sebuah transaksi kredit akan melibatkan hubungan antara pemberi pinjaman (lender) dan peminjam (borrower) dalam periode waktu tertentu dalam konteks ketidaktentuan (uncertainty). Sebuah kredit akan dikatakan selesai sempurna manakala peminjam telah membayar semua jumlah yang dipinjam. Dalam hal selesainya pinjaman inilah terdapat unsur ketidaktentuan dalam hal pembayaran atau pengembalian jumlah yang dipinjam (Syukur 2002).

Pada tahun 2008 pemerintah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang bertujuan untuk mengatasi permodalan petani menjalankan agribisnis, petani difasilitasi dengan cara Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar 100 juta rupiah melalui Gapoktan. Program dana hibah dari pemerintah ini mempunyai jangka waktu, artinya terdapat batasan untuk melaksanakan program PUAP ini, sehingga petani tidak dapat terus bergantung pada dana PUAP, karena dana PUAP hanya bertujuan sebagai stimulus agar petani mampu membangun suatu lembaga keuangan. Gapoktan penerima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PUAP diarahkan untuk dapat dibina dan ditumbuhkan menjadi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) sebagai salah satu unit usaha dalam Gapoktan demi keberlanjutan pembiayaan untuk petani.

Salah satu lokasi Gapoktan penerima dana BLM PUAP adalah di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Berdasarkan rekomendasi Dinas Pertanian dan Kehutanan Lamongan, salah satu Gapoktan penerima PUAP yang telah mampu membentuk LKM-A dan dianggap berprestasi yaitu Gapoktan Sejahtera. Gapoktan Sejahtera berada di Desa Puter, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan merupakan penerima dana PUAP pada tahun 2011. LKM-A yang sudah otonom seperti LKM-A Sejahtera tampaknya dapat dijadikan model bagi gapoktan-gapoktan lain yang belum membentuk LKM-A. Pemanfaatan dana PUAP dialokasikan untuk pembelian sarana produksi kegiatan pertanian yang dibutuhkan oleh petani anggota. Pemanfaatan dana PUAP lainnya adalah melalui perguliran dan penambahan dana keswadayaan, sehingga dapat berfungsi sebagai Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).

(22)

Usaha Simpan Pinjam (U-S/P). Gapoktan penerima dana BLM-PUAP diharapkan dapat menjaga perguliran/perputaran dana sampai pada fase pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A) pada tahun ke-3. LKM-A yang berhasil ditumbuh kembangkan oleh Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan akumulasi modal melalui dana keswadayaan yang dikumpulkan oleh anggota melalui tabungan maupun melalui saham anggota (Kementerian Pertanian 2014).

Pertumbuhan LKM-A di Kabupaten Lamongan masih rendah. Hal tersebut ditunjukkan melalui persentase pertumbuhan LKM-A terhadap jumlah gapoktan penerima PUAP. Sehingga diperlukan analisis proses penumbuhan LKM-A yang dapat memberikan informasi bagi gapoktan penerima PUAP lainnya dalam menumbuhkan LKM-A. Perkembangan Gapoktan penerima dana PUAP Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur dan Nasional yang telah membentuk LKM-A tahun 2008 sampai 2013 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah LKM-A Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, dan

Pertumbuhan dan perkembangan LKM-A di perdesaan diharapkan menjadi solusi terhadap permasalahan alternatif akses permodalan yang berkelanjutan untuk petani. Penyaluran dana PUAP melalui LKM-A diiringi oleh sistem kepengurusan dan penyusunan program yang baik akan mempengaruhi keberlanjutan LKM-A tersebut sebagai alternatif permodalan agribisnis perdesaan. LKM-A diharapkan dapat memberikan pelayanan keuangan mikro sesuai dengan yang dibutuhkan petani miskin dan pengusaha mikro pertanian di perdesaan secara berkelanjutan. Pengukuran kinerja pengelolaan LKM-A dilakukan karena sering terjadi permasalahan pada Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia. Masalah yang sering terjadi pada LKM di Indonesia adalah kebanyakan LKM seperti LKM milik pemerintah, LKM proyek, maupun LKM-LSM menghadapi persoalan mengenai keberlanjutannya. Ketidakmampuan menjaga keberlanjutan tersebut dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor utama seperti (1) ketergantungan terhadap dukungan, baik dari pemerintah ataupun donor; (2) hanya merupakan proyek yang didesain untuk sementara waktu; (3) ketiadaan sistem keuangan mikro yang memadai, dan (4) ketidakmampuan beradaptasi dengan situasi pasar keuangan mikro yang ada (Ismawan 2003).

(23)

ditentukan oleh kemampuan LKM-A menjangkau sebanyak mungkin petani yang benar-benar memerlukan bantuan penguatan modal untuk kegiatan usahanya. Mengingat berkembang penjangkauan model LKM, perhatian sekarang ini berpusat pada keberlanjutan program. Keberlanjutan dan penjangkauan adalah masalah yang banyak dibahas dalam bidang keuangan mikro yaitu dalam hubungan jangkauan peserta dan keberlanjutan lembaga (Morduch 2000).

Keberadaan LKM-A Gapoktan Sejahtera Kabupaten Lamongan, harus menjadi solusi bagi petani anggota Gapoktan penerima dana PUAP dalam memperoleh permodalan untuk menjalankan usahataninya. Lembaga keuangan yang dikembangkan oleh Gapoktan mempunyai beberapa ciri khas yang sesuai dengan karakteristik daerah dan kelompoknya masing-masing, yang menyangkut aspek sasaran kelompok (agribisnis), syarat peminjaman dan pengajuan, cara pengembalian, dan sistem insentif dan sanksi. Syarat-syarat yang ditetapkan oleh lembaga keuangan level gapoktan mengikuti aturan yang sudah disepakati oleh forum musyawarah yang dibentuk oleh Gapoktan. Berdasarkan pedoman pengembangan LKM-A Gapoktan PUAP (2014), terdapat kinerja Gapoktan yang dijadikan bahan pertimbangan adalah: (a) Dana keswadayaan; (b) sarana dan prasarana kantor/tempat usaha; (c) kemampuan gapoktan dalam mengoptimalkan dana masyarakat; (d) kemampuan dalam menghasilkan laba. Untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut gapoktan harus memiliki kelembagaan dan organisasi yang kuat dan berkelanjutan. Kinerja LKM-A Sejahtera bagi masyarakat agribisnis perdesaan kabupaten Lamongan perlu ditingkatkan secara terus menerus dan dipertahankan keberlanjutannya.

(24)

Berdasarkan perumusan masalah di atas, beberapa pertanyaan penelitian mengenai analisis keberlanjutan dan pengembangan co-operative entrepreneurship LKM-A Sejahtera Kabupaten Lamongan adalah:

1. Bagaimana proses penumbuhan LKM-A Sejahtera Kabupaten Lamongan? 2. Bagaimana analisis keberlanjutan LKM-A Sejahtera Kabupaten Lamongan

berdasarkan pendekatan kelembagaan, finansial dan nasabah?

3. Pendekatan apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan Co-operative Entrepreneurship LKM-A?

Tujuan Penelitian

1. Menganalisis proses penumbuhan LKM-A Sejahtera Kabupaten Lamongan.

2. Menganalisis keberlanjutan LKM-A Sejahtera Kabupaten Lamongan berdasarkan pendekatan kelembagaan, finansial dan nasabah.

3. Merumuskan implikasi pengembangan Co-operative Entrepreneurship LKM-A

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai Keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) di Kabupaten Lamongan. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak diantaranya :

1. Bagi LKM-A lain, sebagai bahan masukan perbaikan dan contoh perkembangan LKM-A;

2. Bagi Gapoktan untuk mendukung peningkatan kinerja LKM-A;

3. Bagi Dinas Pertanian dan Kehutanan diharapkan dapat memberi masukan, evaluasi dan penilaian terhadap kinerja LKM-A;

4. Bagi peneliti diharapkan dapat mempertajam kemampuan menganalisis permasalahan yang ada di kehidupan nyata sesuai dengan materi yang telah didapatkan diperkuliahan;

5. Bagi pembaca sebagai sumber literatur dan perbandingan dalam penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.

Ruang Lingkup Penelitian

(25)

2

TINJAUAN PUSTAKA

Pasar Kredit Perdesaan

Kredit berperan penting dalam pembiayaan pembangunan, dalam konteks yang lebih luas juga dikemukakan bahwa dengan akses kredit, maka seseorang akan dapat mengoptimalkan usahanya untuk mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Salah satu permasalahan klasik yang dihadapi sektor pertanian di pedesaan adalah masalah akses kredit permodalan. Anwar (1995) menyatakan di dalam pasar kredit pedesaan dalam kenyataannya terjadi segmentasi pasar. Terjadinya segmentasi pasar ini, khususnya pasar kredit bagi masyarakat golongan ekonomi lemah terlihat jelas. Hal ini terjadi karena ada penghalang kelembagaan (institutional barrier) bagi rumah tangga miskin dan golongan ekonomi lemah untuk akses pada lembaga keuangan formal.

Zeller dan Sharma (2000) menyelidiki faktor-faktor penentu akses kredit formal dan informal. Mereka memperkenalkan konsep batas kredit untuk mengukur akses terhadap pinjaman dan berpendapat bahwa peminjam potensial, terlepas dari kekayaan dan karakteristik lain, dapat memperoleh sejumlah terbatas dari pemberi pinjaman. Seseorang dikatakan memiliki akses ke kredit jika ia mampu meminjam sejumlah tertentu dari pasar kredit informal atau formal. Akses ke kredit, diukur dengan batas kredit dan jumlah yang sebenarnya dipinjam. Penelitian dieksplorasi melalui data dari 350 rumah tangga pedesaan di Bangladesh. Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok program kredit berhasil menjangkau orang-orang miskin yang memiliki kurang dari setengah hektar tanah.

Nguyen et al. (2000) memberikan bukti empiris dari Burkina Faso yang menunjukkan potensi keuangan mikro pedesaan yang melampaui pinjaman dan melayani permintaan yang lebih luas untuk tabungan dan asuransi jasa. Kaum miskin pedesaan di negara yang terkena pola pendapatan musiman dan ketidakpastian permintaan besar hasil panen serta kondisi pasar, menyebabkan permintaan jasa bagi petani sebagai nasabah tidak hanya kredit tetapi juga tabungan dan layanan asuransi untuk kelancaran pendapatan dan konsumsi. Sebagian besar LKM, yang hanya menyediakan pinjaman ternyata tidak sepenuhnya memenuhi permintaan jasa keuangan.

Akses terhadap LKM berkaitan dengan jangkauan LKM terhadap nasabahnya. Kajian penelitian LKM terhadap ekonomi rumah tangga peserta atau nasabah telah dilakukan oleh Khandker et al. (1995) terhadap operasi Grameen Bank (GB). Dari kajian tersebut dikemukakan bahwa GB secara finansial telah dapat mencapai self suffiency. GB telah mampu meyakinkan membantu golongan miskin keluar dari kemiskinannya. Tingkat anggota yang keluar dari GB adalah 5 persen dan tingkat pengembaliannya secara konsisten tetap tinggi mencapai lebih dari 90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat program GB cukup baik bagi anggotanya untuk berpartisipasi. Khandker mencoba menggabungkan kajian tentang lembaga keuangan (GB) dan anggotanya secara terintegrasi.

(26)

salah satu contoh LKM yang berhasil mengentaskan kemiskinan adalah Grammen Bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus di Bangladesh. Kunci keberhasilan Grammen Bank terletak pada strategi yang mumpuni dalam membangun hubungan yang harmonis antara bank dan peminjam (The bank-borrower relationship). Struktur organisasi dibuat sangat efisien dan efektif, sehingga semua kebijakan yang diarahkan oleh manajemen Grammen Bank dapat diaplikasikan secara baik di tingkat lokal. Salah satu upaya pengamanan dalam pembiayaan, pihak Grammen Bank menerapkan salah satu instrumen, yaitu aturan tanggung renteng di dalam kelompok.

Di Indonesia, keberhasilan LKM yang membantu permodalan kredit perdesaan bermunculan seiring dengan meningkatnya kebutuhan usahatani. Berenbach dalam Churchill (1997) mengemukakan keberhasilan LKM Indonesia karena dalam hal skala, jenis, jumlah, penetrasi pasar, dan profitabilitas, LKM di Indonesia adalah yang paling maju di dunia. Pada waktu itu, Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki jaringan LKM meluas hingga ketingkat desa. Lebih dari 15 ribu bank unit desa menyediakan tabungan dan kredit kepada hampir 17 juta nasabah.

Pengelolaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Di dalam pengelolaannya, LKM dihadapkan pada faktor kritis, yakni yang berkaitan dengan kelembagaan dan pemanfaat/nasabah. Dari sisi kelembagaan, permasalahan LKM terkait dengan aspek sustainabilitas/keberlanjutan. Keberlanjutan LKM dipengaruhi oleh: (a) kapabilitas sumberdaya manusia (SDM) pengelola LKM dan (b) dukungan modal awal (seed capital). Dari sisi nasabah/pemanfaat, aspek yang menjadi faktor kritis terkait dengan karakteristik individu, jenis usaha dan kelayakan usahanya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa usaha di sektor pertanian kurang dilirik oleh LKM dengan alasan berisiko tinggi, perputaran cash flow lambat, dan lain-lain (Hendayana dan Bustaman 2008).

Pengalaman menunjukkan bahwa dana bantuan selama ini sulit digulirkan dan bahkan cenderung tidak produktif, karena tidak adanya lembaga yang mengelola keuangannya. Kebutuhan pembiayaan bagi petani sangat penting bagi kegiatan usaha taninya. Saat ini di negara-negara dimana pembiayaan mikro sedang dikembangkan secara besar-besaran, mungkin hanya 5 persen pembiayaan mikro yang dapat dipenuhi. Bahkan di sebagian besar negara, kurang dari 1 persen permintaan potensial pembiayaan mikro yang dapat dipenuhi (Christen et al. 1994).

(27)

pengurus Gapoktan yang menyelewengkan dana PUAP, dan meningkatkan kerja unit usaha simpan pinjam untuk meningkatkan kesejahteraan anggota Gapoktan.

Keberhasilan LKM jika tidak diiringi dengan tingkat pengelolaan lembaga yang efektif maka akan terjadi kegagalan lembaga keuangan tersebut dalam hal keberlanjutannya. Marulanda, et al. (2010), membuat laporan kerja tentang kegagalan implementasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Amerika Latin. Di antara faktor- faktor yang menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan LKM adalah: (1) Kelemahan metodologis, karena tidak digunakannya metode secara tepat, hingga pelaksanaan metode yang parsial dan penggunaan metodologi tertentu tanpa mempertimbangkan jenis kelompok sasaran. (2) Penipuan dilakukan secara sistematis, yang pada dasarnya terjadi pada dua tingkatan dan dengan cara yang berbeda, yaitu kecurangan yang dilakukan pada tingkat manajemen, dan penyimpangan yang dilakukan oleh tenaga di lapangan, biasanya petugas kredit. (3) Pertumbuhan yang tidak terkendali, pengelola/pengurus LKM memaksakan diri untuk mencari nasabah sebanyak banyaknya tanpa memperhitungkan kemampuan keuangan LKM. (4) Kehilangan fokus, ketika mencoba untuk merambah berbagai jenis usaha mikro lainnya, atau memperbanyak jenis layanan usaha tanpa terlebih dahulu memperkuat layanan utama dari LKM tersebut. (5) Kesalahan desain, dengan mencontoh bentuk layanan kredit yang telah berhasil, namun ternyata bentuk layanan tersebut tidak cocok dengan potensi pasar yang ada di sekitar LKM tersebut. (6) Intervensi pemerintah yang berlebihan dalam bentuk kebijakan untuk mengatur dan mengembangkan kredit mikro. Intervensi tersebut termasuk upaya pemerintah menciptakan bank perkreditan untuk pertanian dan peternakan, akan tetapi pada akhirnya bank tersebut tidak lagi fokus pada pelayanan pembiayaan usaha pertanian dan peternakan, melainkan beralih kepada pelayanan pembiayaan di sektor lain.

Keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Penelitian LKM di India ditunjukkan oleh Kaur (2014), yang mengkaji lembaga keuangan mikro dianggap sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan akses pada lembaga keuangan. Untuk mencapai tujuan ini LKM diharuskan berkelanjutan dengan tetap mencapai jangkauan masyarakat miskin. Setelah krisis keuangan mikro Andhra Pradesh tahun 2010, keberlanjutan dan jangkauan LKM di India diragukan dan dipertanyakan. Krisis keuangan mikro telah menunjukkan operasional keberlanjutan LKM India sangat buruk, namun LKM di India tampaknya tetap menjadi pemain terbaik di Asia Selatan

(28)

kinerja serta evaluasi kinerja secara periodik. Hasil evaluasi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang bisa membantu LKM untuk mencapai tujuannya. Selain itu, LKM juga memiliki peranan strategis di lingkungan masyarakat terutama bagi masyarakat menengah kebawah yang bekerja di sektor pertanian.

Untuk mengukur kinerja keberlanjutan LKM, Bhinadi (2008) menawarkan dua pendekatan, yaitu indikator keuangan (financial) dan jangkauan (outreach). Indikator keuangan mencakup kualitas portofolio, leverage, capital adequacy ratio, produktivitas, efisiensi, profitabilitas, dan kelayakan kuangan (financial viability). Indikator jangkauan mencakup capaian klien dan staf, pinjaman dan tabungan/deposito. Sedangkan Indikator kinerja LKM diukur dari enam area, yaitu: (1) kualitas portfolio (portfolio quality), (2) produktivitas dan efisiensi (productivity and efficiency), (3) kelayakan keuangan (financial viability), (4) profitabilitas (profitability), (5) leverage dan kecukupan modal (leverage and capital adquacy), dan (6) skala, jangkauan, dan pertumbuhan (scale, outreach and growth). Keenam indikator tersebut dipilih karena bermanfaat baik bagi pengelola LKM maupun pihak eksternal.

Borbora dan Sarma (2008) menganalisis keberlanjutan LKM di India. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun LKM yang bersangkutan mengalami peningkatan jangkauan nasabah sejak awal, LKM belum bisa menjadi mandiri. Meskipun LKM sudah beroperasional secara mandiri, untuk mencapai kemandirian, aspek keuangan merupakan masalah penting yang dijadikan pertimbangan. LKM beroperasi secara mandiri namun tetap tergantung pada subsidi, yang tercermin dalam SDI (Subsidy Dependency Index). Hal ini dapat ditangani dengan menurunkan biaya operasi atau dengan meningkatkan pendapatan suku bunga. Hal lain yang dapat menjadi kemungkinan untuk membuat LKM berkelanjutan adalah pengenalan pendanaan ekuitas dan peraturan yang diperlukan.

Keberlanjutan LKM berkaitan dengan jangkauan (outreach) pembiayaan perdesaan yang mempengaruhi tingkat penggunaan kredit yang dapat dijangkau oleh anggota tersebut. Hal ini berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hossain (1988), dengan mengambil kasus pada peserta skim kredit Grameen Bank di Bangladesh. Kajian Hossein menyatakan bahwa pada dasarnya rumah tangga miskin memiliki kemampuan yang tinggi untuk menggunakan kredit apabila mereka diberikan akses kepada sumber kredit. Selanjutnya dari sisi jangkauan dan keberlanjutan, Christen et al. (1994) lebih lengkap memperinci faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain jumlah total nasabah, jumlah nasabah perempuan, dan jumlah pinjaman yang dibuat atau biasa dilaporkan secara berkala.

(29)

kelembagaan mekanisme pengajuan dan penyaluran skim KUM memiliki karakteristik yang tertuang khusus dalam bentuk mekanisme screening, incentive, dan enforcement yang dapat menjamin diperolehnya peserta kredit yang prospektif. Hal ini dapat mendorong peserta kredit untuk berdisiplin dan memiliki komitmen yang tinggi dalam menggunakan kredit, menabung dan mengembalikan kredit secara teratur.

Kajian Lembaga Keuangan Mikro dengan Pendekatan Co-operative Entrepreneurship

Sebuah lembaga keuangan yang cocok bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi lemah di perdesaan menurut Yunus (2008), pendiri Grameen Bank, sebaiknya berasaskan kepercayaan. Dengan memberikan kepercayaan kepada masyarakat, maka mereka akan memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan. Mayoritas masyarakat yang meminjam pada lembaga keuangan mikro adalah wanita. Hal ini dikarenakan mereka cenderung lebih jujur dan lebih visioner dalam melakukan sesuatu hal.

Salah satu lembaga keuangan yang membangun kepercayaan dengan anggotanya adalah koperasi. Peningkatan kesadaran untuk membangun gerakan koperasi mulai dirasakan negara berkembang. Penelitian Avsec dan Stromajer (2015), mengemukakan bahwa krisis keuangan dan ekonomi menyebabkan peningkatan kesadaran tentang koperasi di Eropa. Hal serupa menyebabkan terbangunnya minat koperasi dan model bisnis di Slovenia. Beberapa inisiatif untuk mendirikan koperasi baru telah muncul dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan koperasi tradisional (misalnya koperasi petani) dan koperasi sektor baru (misalnya media, pekerja, pasokan pangan, energi dan koperasi perumahan) lokal melalui penggunaan survei sejarah singkat. Penelitian menggunakan data statistik yang tersedia dan perubahan yang relevan dalam kebijakan publik terhadap koperasi di Slovenia.

Pengaruh antara manajerial dan perilaku SDM lembaga keuangan yang menerapkan prinsip koperasi, ditunjukkan pada penelitian Lynall (2008) yang menyatakan hubungan ketergantungan organisasi dan pencapaian tujuan bisnis memerlukan upaya gabungan dari pelaku dengan peran yang berbeda baik di dalam maupun di luar organisasi. Hasil penelitian menemukan bahwa ada hubungan yang kuat antara keselarasan yang dirasakan dan perbedaan dalam manajerial dan perilaku oportunistik dalam koperasi.

(30)

pada koperasi keuangan dan petani di daerah pedesaan. Selain itu, model organisasi koperasi informal dan semi formal terus meluas di seluruh negeri.

Ukuran kecil yang terfragmentasi dan ketidaksempurnaan pasar mempengaruhi kinerja pertanian keluarga. Keluarga petani tidak bisa menangkap peluang ekonomi, atau kebijakan pengaruh yang mempengaruhi mereka. Penelitian tentang gerakan koperasi yang membantu petani dalam menangkap peluang ekonomi dilakukan oleh Herbel et al. (2015). Pengalaman gerakan French Farm Machinery Co-operative (CUMA) menggambarkan dengan baik bagaimana sebuah gerakan kecil petani diselenggarakan melalui prinsip koperasi yang berkontribusi pada penghapusan hambatan utama untuk peningkatan ekonomi dan pembangunan sosial dari keluarga petani. Namun demikian kinerja koperasi dipengaruhi oleh masalah insentif meresap. Sejarah CUMA menunjukkan bagaimana modal sosial adalah sumber daya penting dalam mengatasi beberapa masalah insentif. CUMA berhasil menciptakan lembag koperasi yang efektif melalui pengembangan hubungan: anggota keluarga petani di dalam koperasi, antara koperasi local dan melalui banyaknya jaringan relasi koperasi mereka dengan stakeholder.

Kelembagaan di tingkat petani melalui Gapoktan mempunyai potensi untuk dikembangkan prinsip koperasi melalui pendekatan wirakoperasi (Co-operative entrepreneur). Menurut penelitian Baga (2011), metode pengembangan wirakoperasi ini difokuskan pada pengembangan sumberdaya manusia yang ada dan potensial untuk bentuk menjadi seorang wirakoperasi yaitu ketua kelompoktani maupun ketua Gapoktan, karena keberadaan mereka di tengah masyarakat seringkali menjadi panutan. Metode ini dikembangkan dengan menggunakan dua pendekatan yaitu human capital dan social capital. Sistem pembinaan sumberdaya manusia pengembang agribisnis harus dilaksanakan secara simultan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai tahap evaluasi. Pengetahuan dan pemahaman akan usaha bersama (co-operative business) tidak boleh dilupakan, karena pengembangan agribisnis di Indonesia akan sulit dilakukan jika dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan harus bersama-sama dan berkelompok yang akan menghasilkan suatu sinergi.

(31)

3

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis Konsep Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Dalam upaya mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperlukan dukungan yang komprehensif dari lembaga keuangan. Selama ini sektor petanian dan UMKM terkendala akses pendanaan ke lembaga keuangan formal. Untuk mengatasi kendala tersebut, di masyarakat telah tumbuh dan berkembang banyak lembaga keuangan non-bank yang melakukan kegiatan usaha jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik yang didirikan pemerintah atau masyarakat. Lembaga-lembaga tersebut dikenal dengan sebutan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Seibel (1998) mendefinisikan LKM sebagai lembaga keuangan formal dan non-formal yang menyediakan layanan simpanan mikro, kredit mikro, investasi mikro, dan asuransi mikro untuk mengembangkan layanan usaha ekonomi mikro. Dalam arti sempit, LKM adalah lembaga keuangan skala kecil dan lokal. Dalam arti yang lebih luas, LKM dapat merupakan lembaga keuangan mikro skala regional dan nasional untuk memfasilitasi layanan keuangan mikro para penabung dan peminjam kecil. Sedangkan menurut Microcredit Summit (1997) dalam Ashari (2006) definisi kredit mikro yaitu program pemberian kredit berjumlah kecil kepada warga miskin untuk membiayai kegiatan produktif yang dikerjakan sendiri agar menghasilkan pendapatan, yang memungkinkan mereka peduli terhadap diri sendiri dan keluarganya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendeskripsikan kegiatan usaha LKM meliputi jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha. Kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dapat dilakukan secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah.

(32)

Lembaga keuangan mikro merupakan suatu lembaga yang berupaya menyediakan jasa keuangan, terutama simpanan dan kredit, dan juga jasa keuangan lain yang diperuntukkan bagi keluarga miskin dan berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses terhadap bank komersial (Arsyad 2008). Selain berperan sebagai perantara keuangan, beberapa LKM juga menyediakan jasa perantara sosial seperti pembentukan kelompok, pengembangan kepercayaan diri, serta pelatihan pengetahuan keuangan dan kemampuan manajemen untuk anggota sebuah kelompok yang bertujuan untuk memberikan manfaat bagi perempuan dan laki-laki berpenghasilan rendah (Bennet, Ledgerwood 1999). Dengan adanya jasa tambahan lainnya, pendekatan keuangan mikro bukanlah pendekatan minimalis yang berperan sebagai lembaga-lembaga perantara keuangan saja akan tetapi merupakan pendekatan terpadu yang dapat mengurangi kemiskinan, mengembangkan serta memperkuat kapasitas institusional sistem keuangan lokal dengan menemukan cara terbaik dengan meminjamkan uang kepada keluarga miskin dengan biaya minimum.

Menurut Ledgerwood (1999), LKM dapat dikelompokan menjadi tiga bentuk berdasarkan tingkat formalitasnya. Institusi formal terdiri dari lembaga keuangan yang disahkan oleh pemerintah dan terikat oleh peraturan dan pengawasan oleh pemerintah, sementara institusi informal terdiri dari perantara yang beroperasi diluar kerangka peraturan dan pengawasan pemerintah. Di antara kedua bentuk tersebut, terdapat institusi semiformal yang terdiri dari lembaga-lembaga yang tidak diatur oleh otoritas perbankan tetapi terdaftar atau memiliki izin dari otoritas atau pemerintah daerah.

LKM sebagai lembaga keuangan non-bank telah memudahkan akses pembiayaan dalam wilayah pasar kredit perdesaan. Seseorang dikatakan memiliki akses kredit jika ia mampu meminjam sejumlah tertentu dari pasar kredit informal atau formal. Masyarakat desa kurang memiliki cukup akses terhadap kredit disbanding masyarakat perkotaan. Sektor pertanian baik dari sisi intensif tenaga kerja maupun intensif modal memiliki tingkat pengembalian yang rendah dibanding sektor industri. Investasi modal sulit ditemukan pada sektor pertanian. Berdasarkan pandangan tradisional, pertumbuhan ekonomi harus didasarkan pada industrialisasi, sektor pertanian kurang menguntungkan untuk investasi. Tapi bukti empiris tidak menyatakan demikian. Karakteristik kredit di kebanyakan wilayah perdesaan: kecil, berisiko, dan high-cost. Sebagian besar petani meminjam modal di pasar keuangan informal dengan membayar tingkat bunga yang sangat tinggi. Rendahnya investasi sumber daya manusia di perdesaan menyebabkan rendahnya tingkat pengembalian investasi modal. Melalui kebijakan dan program yang tepat untuk memperbaiki alokasi modal di perdesaan, akan diperoleh tingkat pengembalian investasi modal yang lebih tinggi.

Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)

Untuk mendekatkan sumber pelayanan di sektor pertanian kepada petani, maka sejak tahun 2008 diinisiasi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Latar belakang PUAP yang merupakan salah satu program terobosan Kementerian Pertanian yang berada dalam kelompok program

(33)

mekanisme pemberdayaan untuk penanggulangan kemiskinan, mengembangkan potensi dan perkuatan kapasitas kelompok masyarakat miskin khususnya petani di perdesaan. PUAP adalah bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan usaha agribisnis sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran. Setiap gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang mengajukan dana PUAP dan memenuhi persyaratan administrasi sesuai dengan pedoman PUAP, mendapatkan bantuan dana bergulir (revolving fund) sebesar 100 juta rupiah. Dana PUAP merupakan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang disalurkan secara langsung dengan cara ditransfer ke rekening Gapoktan. Pengelolaan bantuan modal usaha bagi petani tersebut, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani, dikoordinasikan oleh Gapoktan.

Dana PUAP dilaksanakan melalui penyediaan dana penguatan modal usaha petani sebagai stimulasi melalui koordinasi Gapoktan. Komponen utama dari pola dasar pengembangan PUAP adalah; (1) Keberadaan Gapoktan; (2) Keberadaan Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani sebagai pendamping; (3) Pelatihan bagi petani, pengurus Gapoktan, dan lain-lain; dan (4) Penyaluran dana PUAP kepada petani (pemilik dan atau penggarap), buruh tani, dan rumah tangga tani. Sesuai dengan mekanisme pelaksanaan program PUAP, maka pada Tahun ke-I, dana PUAP dimanfaatkan oleh Gapoktan untuk membiayai usaha produktif sesuai dengan usulan anggota secara berjenjang melalui Rencana Usaha Anggota (RUA), Rencana Usaha Kelompok (RUK) dan Rencana Usaha Bersama (RUB). Dana penguatan modal usaha PUAP digulirkan Gapoktan kepada para anggota kelompok tani sebagai pinjaman sehingga pada Tahun ke-2 Gapoktan sudah dapat mengembangkan Usaha Simpan Pinjam (U-S/P). Gapoktan penerima dana BLM PUAP diharapkan dapat menjaga perguliran/ perputaran dana sampai pada fase pembentukan Lembaga Keuangan Mikro Agribinis (LKM-A) pada Tahun ke-3. LKM–A yang berhasil ditumbuh kembangkan oleh Gapoktan diharapkan dapat meningkatkan akumulasi modal melalui dana keswadayaan yang dikumpulkan oleh anggota melalui tabungan maupun melalui saham anggota. Pengembangan unit simpan pinjam, dalam struktur organisasi Gapoktan sejalan dengan format penumbuhan kelembagaan tani di perdesaan yang tertuang pada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 82/Permentan/OT.140/8/2013 yang mengamanatkan Gapoktan merupakan format final dari organisasi di tingkat petani diperdesaan yang di dalamnya terkandung fungsi-fungsi pengelolaan antara lain unit pengolahan dan pemasaran hasil, unit penyediaan saprodi dan unit usaha jasa permodalan dan lain sebagainya (Kementerian Pertanian 2014).

(34)

Gambar 1 Tahapan proses pembinaan kelembagaan PUAP Sumber: Pedoman Pengembangan LKMA Kementerian Pertanian (2014)

Keberhasilan program PUAP dalam bentuk penyaluran dana BLM kepada gapoktan sangat tergantung pada kesiapan gapoktan dalam mengelola dana tersebut. Adapun LKM yang memfokuskan kegiatannya pada pelayanan keuangan untuk usaha pertanian (agribisnis) disebut LKM-A. Menurut Hendayana et al. (2008), LKM-A adalah kelembagaan usaha yang mengelola jasa keuangan untuk membiayai agribisnis berskala kecil di perdesaan, baik yang berbentuk formal maupun non formal. Untuk itu peranan lembaga keuangan mikro di tingkat gapoktan (LKM-A) memainkan peranan penting dan strategis dalam pengembangan dana BLM-PUAP.

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A)

LKM-A merupakan lembaga yang dibentuk untuk mengelola dana PUAP. PUAP merupakan bantuan Pemerintah Pusat kepada petani yang tergabung dalam Gapoktan yang bersifat sebagai dana bergulir (revolving fund). Hal ini berarti dana PUAP yang diberikan kepada Gapoktan adalah sebagai modal kerja untuk menjalankan dan meningkatkan kegiatan usaha ekonomi produktif dan bukan dana bantuan yang secara cuma-cuma diberikan kepada petani tanpa disertai dengan kewajiban untuk mengembalikannya. Dengan demikian, petani pemanfaat dana PUAP memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana tersebut kepada LKM-A untuk digulirkan kembali kepada petani lain di dalam Gapoktan yang bersangkutan (Direktorat Pembiayaan Pertanian 2014).

(35)

Gapoktan. Kebijakan pengembangan Gapoktan PUAP menjadi LKM-A merupakan langkah strategis (Kementerian Pertanian 2014)

LKM-A sebagai badan usaha harus memiliki mekanisme yang sederhana sehingga mudah dipahami serta dapat mengakomodasi aktivitas petani setempat. Petani/kelompok tani diberi ruang otonom, untuk menentukan aktivitas ekonomi yang dibutuhkan. Partisipasi yang menyeluruh dalam arti pengelolaannya melibatkan multi ”stakeholder” melalui pertemuan kelompok sejak tahap perumusan kebijakan Keterbukaan informasi, sehingga petani/kelompok tani dapat mengetahui dan memberikan kontribusi bahkan melakukan kompensasi pengelolaan program dan dana harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan (accountable).

Tujuan umum pembentukan LKM-A adalah untuk membantu memfasilitasi kebutuhan modal usahatani bagi petani. Secara khusus pembentukan LKM-A bertujuan untuk (Hendayana et al 2009) :

1. Meningkatkan kemudahan akses petani terhadap skim pembiayan yang disediakan pemerintah atau pihak lainnya;

2. Meningkatkan produktivitas dan produksi usahatani/usaha ternak dalam rangka mendorong tercapainya nilai tambah usahatani;

3. Mendorong pengembangan ekonomi perdesaan dan lembaga ekonomi perdesaan, utamanya Gapoktan.

Berdasarkan Pedoman Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Gapoktan PUAP (2014), penumbuhan LKM-A oleh Gapoktan penerima dana BLM PUAP, dilakukan melalui proses dan tahapan– tahapan antara lain (1) Identifiasi awal Gapoktan; (2) Validasi profil; (3) Tahap Transformasi Unit Usaha Keuangan Mikro/Simpan Pinjam Gapoktan Menjadi LKM-A; (4) Implementasi,dan penumbuhan; (5) Fasilitasi Penumbuhan dan Pengembangan LKM-A.

1. Tahap Identifiasi meliputi, pengukuran aspek organisasi kapasitas organisasi gapoktan, tatalaksana dan pembukuan gapoktan, Kinerja Gapoktan PUAP

2. Tahap Validasi Profil Gapoktan. Tahap validasi ini merupakan tahap kedua setelah informasi teoritis diperoleh dari laporan kelompok maupun Dinas lingkup pertanian mengenai profi umum kelompok, kemudian dilanjutkan dengan melakukan verifiasi dan validasi atas informasi-informasi tersebut melalui kunjungan lapangan (site visit). Pada saat ini juga ditanyakan pengetahuan kelompok (pengurus dan anggota) mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan LKM.

3. Tahap Transformasi Unit Usaha Keuangan Mikro/Simpan Pinjam Gapoktan Menjadi LKM-A. Tahapan ini merupakan tahapan lanjutan setelah Gapoktan yang memenuhi persyaratan dan layak untuk membentuk unit usaha LKM-A.

(36)

No. 1 Tahun 2013 tentang LKM maka sebaiknya LKM-A berbadan hukum Koperasi simpan pinjam di bidang agribisnis. (5) Pengurusan ijin usaha simpan pinjam dengan jenis usaha agribisnis.

5. Fasilitasi Penumbuhan dan Pengembangan LKM-A. Pemerintah memfasilitasi penumbuhan dan pengembangan LKM-A melalui : (1) Menyelenggarakan pelatihan bagi pengurus (2) Pendampingan bagi Gapoktan PUAP untuk dapat memahami dan operasionalisasi LKM-A yang dilaksanakan oleh Penyelia Mitra Tani (PMT); (3) Pembinaan teknis, monitoring dan evaluasi (Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota); (4) Fasilitasi pola Linkages dengan perbankan dan non perbankan (Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota).

Menurut Hendayana (2010), terdapat 7 prinsip yang harus dijadikan acuan dalam penumbuhan LKM-A.

1. Prinsip kebutuhan, artinya LKM-A hanya ditumbuhkembangkan di lokasi potensial yang petaninya memerlukan dukungan fasilitasi permodalan, dan belum ada lembaga jasa pelayanan keuangan di lokasi itu.

2. Prinsip fleksibelitas. LKM-A yang ditumbuhkembangkan harus disesuaikan dengan kondisi dan budaya setempat.

3. Prinsip partisipatif. Penumbuhan LKM-A harus melibatkan para petani di lingkungan setempat, sehingga selain dapat mengakomodasi aspirasi petani, pengembangan yang dibangun secara partisipatif akan mampu membangun rasa kepedulian dan kepemilikan serta proses melalui bekerja bersama.

4. Prinsip akomodatif. Dalam hal ini penumbuhan LKM-A harus mengedepankan pemenuhan kebutuhan nasabah. Persyaratan untuk akses ke LKM-A disusun sedemikian rupa sehingga bisa membuka peluang seluas-luasnya untuk menjangkau kebutuhan petani dengan kelengkapan persyaratan minimal yang dimiliki petani.

5. Prinsip kemandirian. Artinya, meskipun penumbuhan dan pembentukan LKM-A bertujuan menyediakan permodalan usahatani, namun jangan sampai menciptakan ketergantungan, tetapi harus mampu mendorong terjadinya penguatan kapasitas kelembagaan kelompok tani.

6. Prinsip kemitraan. Dalam hal ini penumbuhan dan pembentukan LKM-A dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), seperti penyedia sarana produksi, tokoh-tokoh masyarakat tani, dunia usaha, perguruan tinggi, dan instansi sektoral terkait dalam setiap kegiatan.

7. Prinsip keberlanjutan. Penekanan keberlanjutan adalah pada kemampuan organisasi LKM-A untuk tetap terus berjalan, meskipun sudah tidak ada campur tangan lembaga atau aparat pemerintah dan swasta yang mendukungnya.

(37)

agribisnis kepada anggota Gapoktan, baik usaha perorangan maupun kelompok. Selain itu LKM-A juga dapat menghimpun dana dari anggota Gapoktan dalam bentuk tabungan. Tabungan anggota ini juga dapat menjadi penyertaan modal LKM-A dalam rangka pembiayaan usaha agribisnis. Dalam struktur organisasinya, LKM-A minimal terdiri dari manajer dan bendahara serta Badan Pengawas yang beranggotakan Komite Pengarah Desa. Struktur organisasi tersebut fleksibel, bisa disesuaikan dengan perkembangan organisasi.

`

Gambar 2 Kedudukan LKM-A dalam Gapoktan Sumber: Pedoman Pengembangan LKMA Kementerian Pertanian (2014)

Gapoktan yang ditumbuhkan menjadi LKM-A adalah Gapoktan Utama, sedangkan aspek penilaian yang menjadi ukuran kinerja Gapoktan untuk ditumbuhkan menjadi LKM-A adalah (Direktorat Pembiayaan Pertanian, 2011)

a. Modal keswadayaan, yaitu modal dari anggota yang berhasil dikumpulkan oleh Gapoktan dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan khusus. Modal keswadayaan merupakan alat ukur utama dalam menentukan kemandirian Gapoktan.

b. Simpanan sukarela, yaitu simpanan anggota yang mencerminkan bentuk kepercayaan sekaligus partisipasi anggota kepada Gapoktan.

c. Aset yang dikelola, yaitu kekayaan Gapoktan yang berasal dari dana keswadayaan (simpanan anggota), saham, dan dana penyertaan pemerintah

(38)

yang dikelola untuk kepentingan anggota. Pertumbuhan aset dapat dijadikan ukuran keberhasilan Gapoktan dalam meyakinkan masyarakat dan pihak lain untuk menitipkan dana penguatan modal kepada Gapoktan. d. Kumulatif penyaluran, yaitu besarnya dana yang disalurkan sesuai dengan

usulan anggota dan mencerminkan gambaran ketaatan pengurus Gapoktan dalam menjalankan aturan organisasi. Dalam sistem perbankan, kumulatif penyaluran disebut dengan LDR (Loan to Deposit Ratio).

e. Tingkat pembiayaan bermasalah, yaitu pembiayaan usaha tani oleh Gapoktan yang mengalami masalah dalam pengembalian. Pembiayaan yang bermasalah sangat tergantung pada; (a) analisis usaha anggota sebelum pembiayaan diberikan; (b) anggota tidak dapat membayar pinjaman akibat puso; (c) anggota tidak mau membayar karena niat yang kurang baik dari anggota yang bersangkutan.

Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) yang merupakan produk Kementerian Pertanian, tugas pengawasannya dilakukan oleh Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani (PMT) yang merupakan Tenaga Harian Lepas (THL) Kementerian Pertanian. Penyelia Mitra Tani yang selanjutnya disingkat PMT adalah individu yang memiliki keahlian di bidang keuangan mikro yang direkrut oleh Kementerian Pertanian untuk melakukan supervisi dan advokasi kepada Penyuluh dan Pengelola Gapoktan dalam pengembangan PUAP. Status PMT adalah sebagai THL. Tugas utama PMT menurut buku Petunjuk Teknis PMT PUAP (2011) adalah sebagai berikut:

1. Melakukan supervisi dan advokasi proses penumbuhan kelembagaankepada Gapoktan bersama Penyuluh Pendamping;

2. Melaksanakan pertemuan reguler dengan Penyuluh Pendamping dan Gapoktan;

3. Melakukan verifikasi awal terhadap RUB dan dokumen administrasilainnya;

4. Melaksanakan pengawalan pemanfaatan dana BLM PUAP 2013 yang dikelola oleh Gapoktan;

5. Bersama dengan Penyuluh yang telah mendapatkan Training of Trainer (TOT), melakukan pendampingan kepada Gapoktan dan Penyuluh Pendamping;

6. Bersama dengan Tim Teknis Kabupaten/ Kota melaksanakan evaluasi pelaksanaan PUAP tahun sebelumnya dan membuat laporan tentang perkembangan pelaksanaan PUAP kepada Tim PUAP Pusat melalui e-form dan laporan tertulis melalui Tim Pembina PUAP Provinsi c.q Sekretariat Tim Pembina PUAP Provinsi; dan

7. Melaksanakan fungsi pendampingan bagi Gapoktan PUAP yang telah berhasil meningkatkan kinerja usaha dan jumlah dana keswadayaan sehingga tumbuh menjadi lembaga ekonomi petani atau LKM-A.

Konsep Keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro

Gambar

Gambaran Umum Daerah Penelitian
Gambar 1  Tahapan proses pembinaan kelembagaan PUAP
Gambar 2  Kedudukan LKM-A dalam Gapoktan
Gambar 3 The Critical Triangle in Achieving Economic Sustainability of
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: apakah faktor eksternal dan interna perawat berpengaruh terhadap

Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Ekspositoris Melalui Jurnal Pribadi Siswa Kelas IV di SDN Balasklumprik I/434 Surabaya setelah melalui lima tahap dalam setiap

COD yang lebih baik bila tidak diaktivasi dengan H O maupun H SO (3% dan 7,5%). Kata kunci: Chemical Oxygen Demand, air limbah industri penyamakan kulit, abu terbang

Menurut Mulyadi (2006:166) untuk menciptakan sistem pengendalian intern yang baik dalam perusahaan maka ada empat unsur pokok yang harus dipenuhi antara lain: a)

Pada dasarnya perangkat keras yang dibuat adalah sebuah wattmeter. Wattmeter ini berfungsi untuk mengukur daya yang dipakai oleh peralatan elektronik rumah tangga seperti

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan ejaan pada makalah mahasiswa STKIP Al Hikmah berjumlah 150 kesalahan yang terdiri: (1) kesalahan penggunaan huruf

Proses dan prosedur pembelian maupun pengadaan barang atau jasa ditetapkan oleh Tim Pengadaan Barang Undiknas sesuai Manual Prosedur Pengadaan Barang/Jasa, yang mencakup

Berdasarkan hasil analisis angket dari gu- ru tentang kemampuan guru mengimplementa- sikan Kurikulum 2013 ditinjau dari kompetensi pedagogik guru biologi, total skor yang