KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

37  22 

Teks penuh

(1)

1

ABSTRAK

KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA

DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Oleh MITA SUCIATI

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan menetapkan kelayakan novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Data berupa unit-unit teks pada novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Teks tersebut berupa paparan bahasa yang menggambarkan konflik yang terkandung di dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.

(2)

2

manusia dengan alam. Pada novel 5 cm tidak ditemukan adanya konflik manusia dengan masyarakat. Konflik utama dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro yaitu konflik manusia dengan dirinya sendiri. Konflik utama berupa pertentangan dalam diri lima tokoh (Arial, Genta, Ian, Riani, dan Zafran) untuk tetap berada dalam dunia mereka (komunitas lima sahabat) atau memilih keluar, melihat dunia luar, keluar dari zona nyaman. Konflik utama tersebut memicu timbulnya konflik-konflik lain dalam alur novel 5 cm.

Novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro layak dijadikan sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) karena sesuai dengan kriteria pemilihan bahan pembelajaran, yaitu dilihat dari aspek bahasa, aspek psikologis, dan aspek latar belakang budaya.

(3)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

5.1.1 Konflik dalam Novel

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro adalah sebagai berikut.

a. Konflik Manusia dengan dirinya (konflik Batin) 1) Tokoh Arial

(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk mengutarakan isi hati atau memilih untuk memendam saja perasaan cintanya pada seorang wanita.

2) Tokoh Genta

(4)

3) Tokoh Ian

(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan antara perasaan rendah diri yang dialami tokoh Ian dengan keinginan untuk tetap berada dalam komunitas empat sahabatnya; (c) pertentangan antara perasaan putus asa dengan keinginan untuk segera menyelesaikan kuliah.

4) Tokoh Riani

(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk mengakui semua perasaannya terhadap tokoh Zafran dengan kodratnya sebagai seorang wanita

5) Tokoh Zafran

(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk mengungkapkan perasaan cinta terhadap seorang wanita atau memilih terus memendam perasaan tersebut.

b. Konflik Manusia dengan Manusia

(5)

c. Konflik Manusia dengan Masyarakat

Pada novel 5 cm, tidak ditemukan adanya konflik manusia dengan masyarakat

d. Konflik Manusia dengan Alam

Konflik manusia dengan alam dalam novel yaitu konflik melawan cuaca panas, melawan udara yang amat dingin, melawan kondisi alam Mahameru dengan hutan-hutan lebat, dan melawan alam pendakian yang terjal.

Berdasarkan tiga jenis konflik tersebut, dapat disimpulkan bahwa konflik utama dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro yaitu konflik manusia dengan dirinya sendiri. Konflik berupa pertentangan dalam diri masing-masing tokoh untuk tetap berada dalam dunia mereka sendiri (komunitas lima sahabat) atau memilih keluar, melihat dunia luar, keluar dari zona nyaman. Konflik utama tersebut memicu timbulnya konflik-konflik lain dalam alur novel 5 cm.

5.1.2 Kelayakan Konflik dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro Sebagai Bahan Ajar Sastra Indosesia di Sekolah Menengah Atas (SMA)

(6)

5.2 Saran

5.2.1 Saran Teoretis

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan penelitian/ kajian yang lebih lanjut, lebih dalam, dan lebih luas lagi mengenai struktur alur yang terdapat dalam sebuah karya fiksi khususnya novel.

5.2.2 Saran Praktis

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada

a. siswa agar meneladani sikap para tokoh yang bernilai moral baik, terutama mengenai sikap yang diambil para tokoh dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Melalui novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, siswa diharapkan dapat mengambil hikmah melalui sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya dalam menghadapi konflik. Melalui novel tersebut, siswa juga diharapkan dapat mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, dan memotivasi siswa dalam menentukan tujuan hidupnya;

(7)
(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial memiliki konflik yang majemuk. Randall Collins (1975) dalam Ritzer (2005:162) mengemukakan bahwa konflik merupakan proses sentral dalam kehidupan sosial. Ia melihat bahwa orang memunyai kepentingan sendiri-sendiri, sehingga benturan-benturan mungkin terjadi karena kepentingan-kepentingan tersebut pada dasarnya saling bertentangan. Konflik merupakan unsur dasar kehidupan manusia dan tidak dapat dilenyapkan dari kehidupan budaya manusia. Manusia dapat mengubah sarana-sarana, asas-asas, atau pendukungnya, tetapi tidak dapat membuang konflik itu sendiri. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa potensi konflik merupakan naluri kehidupan setiap manusia.

(9)

Prosa (Inggris: prose) sebagai salah satu genre di samping genre-genre lain yang terdapat dalam dunia kesastraan, menawarkan berbagai permasalahan dalam kehidupan manusia. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut sebagai fiksi (fiction). Fiksi menurut Altenbernd dan Lewis (1966:14) dalam Nurgiyantoro (1994:2), dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. Fiksi menceritakan berbagai peristiwa kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan, dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam sebuah karya fiksi dihubungkan berdasarkan pola kausalitas atau sebab akibat, sehingga membentuk suatu alur yang menarik.

(10)

Sebuah alur memiliki tiga unsur pembangun yaitu peristiwa, konflik, dan klimaks. Pengembangan alur sebuah karya fiksi akan dipengaruhi oleh bangunan konflik yang ditampilkan. Konflik merupakan inti dari sebuah alur, sumber adanya cerita. Ada cerita saja tanpa didasari konflik di dalamnya tidak mungkin ada cerita yang lengkap dan menarik. Sebuah rentetan cerita tanpa konflik di dalamnya tak akan ada alur. Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa akan sangat menentukan kadar kemenarikan cerita yang dihasilkan.

Konflik adalah sesuatu yang ―dramatik‖, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Warren, 1989: 285). Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra yang juga tergolong jenis fiksi, melibatkan permasalahan atau konflik yang kompleks, mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak.

(11)

menantang langit luas. Kecintaan kepada tanah air digambarkan dengan realis dan logis. Penulis mampu memainkan perasan pembaca melalui peran-peran tokoh dalam novel 5 cm. (http://isbedystiawanzs.blogspot.com/2008/12/5-cm-dan-fenomena-novel-popular.html)

Donny Dhirgantoro terbilang baru dalam pentas sastra di Indonesia, tetapi tidak membuat isi novel ini seperti buatan penulis baru. Dengan gaya penulisan yang mudah dipahami, membuat novel yang pertama kali terbit pada 21 Mei 2005 ini patut menjadi bacaan kawulamuda yang menginginkan gaya penulisan berbeda (http://jiwafreud.blogspot.com/2008/01/mimpi-dari-donny-dhirgantoro.html).

Novel 5 cm adalah sebuah kisah tentang lima anak muda (Arial, Genta, Ian, Riani dan Zafran) yang telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Kebiasaan melakukan berbagai hal bersama membawa mereka pada satu titik yaitu rasa bosan pada keadaan yang menurut mereka standar-standar saja. Mereka memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Selama tiga bulan berpisah itulah masing-masing kembali menjadi diri sendiri, berjuang sendiri mengejar mimpi dan cita-cita, masing-masing tokoh memiliki konflik yang harus diselesaikan. Selama tiga bulan berpisah itulah telah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya.

(12)

cita-cita, dan cinta, bukan cuma seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan, dan punya nama. 5 cm adalah novel yang membangun, ada banyak pelajaran yang bisa didapat ketika membacanya. Banyak kata-kata yang mampu membakar semangat dan perjuangan pembaca. Seperti dalam kutipan berikut.

―...begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh disini.‖ Ian membawa jari telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya.

―Biarkan dia menggantung mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, dan cita-cita, keyakinan diri...‖

―..dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa.‖

―…kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja., bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu.‖ (5 cm, 362-363)

Betapa pun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan sebuah karya fiksi (dalam hal ini: novel), ia haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap memunyai tujuan estetik dan mendidik. Melalui sarana cerita tersebut pembaca secara tak langsung dapat belajar, merasakan, dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang secara sengaja ditawarkan pengarang. Hal itu akan mendorong pembaca untuk ikut merenungkan berbagai masalah dalam kehidupan. Oleh karena itu cerita atau fiksi atau karya sastra pada umumnya, sering dianggap dapat membuat manusia menjadi lebih arif, atau dapat dikatakan ―memanusiakan

(13)

Sebuah karya sastra yang baik, mengajak orang untuk merenungkan masalah-masalah hidup yang musykil. Sebuah karya sastra mengajak orang untuk saling mengasihi manusia lain (Mursal Esten, 1987:9). Jakob Sumardjo (1984: 14), karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayan, serta zamannya.

Sudarni dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX mengemukakan bahwa dengan sastra orang akan berbudaya, dengan budaya orang akan bermartabat, dan akhirnya dengan bermartabat orang akan bermanfaat. Pengajaran sastra akan membantu siswa dalam mengembangkan wawasan terhadap tradisi dalam kehidupan manusia, menambah kepekaan terhadap berbagai problema personal

dan masyarakat, dan bahkan sastra pun akan menambah pengetahuan siswa terhadap berbagai konsep teknologi dan sains. (http://www.pusatbahasa.diknas.

go.id/laman/artikel/Sudarni-Bangka_Barat.pdf)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, tersirat betapa pentingnya pengajaran sastra di sekolah. Hal tersebut sejalan pula dengan tujuan umum pengajaran sastra di sekolah yaitu, siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Hal ini juga dipertegas dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA tahun 2007, mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI semester 1.

Standar kompetensi : (membaca) memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/ terjemahan.

(14)

Melalui kegiatan mengapresiasi karya sastra, dalam hal ini mengenai konflik yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, diharapkan siswa dapat menikmati dan mengambil hikmah dari novel tersebut, serta dapat mengenal dan mengamalkan nilai-nilai moral yang dianggap baik dan luhur.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

―Bagaimanakah konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan

kelayakannya sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA)?‖.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Mendeskripsikan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.

b. Menetapkan kelayakan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA).

1.4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoretis

(15)

b. Manfaat Praktis

1) Memberikan pengetahuan kepada pembaca, siswa, dan khususnya guru di SMP maupun SMA mengenai materi konflik dalam novel, khususnya yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.

2) Membantu guru Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya guru Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk mendapatkan alternatif bahan ajar sastra Indonesia di sekolah.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Konflik dalam novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Untuk menganalisis konflik dalam novel ini, penulis mengacu kepada pendapat Gorys Keraf (1981:168) yang membagi konflik yaitu, konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, konflik manusia dengan alam.

b. Kelayakan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) dilihat berdasarkan tiga aspek berikut.

1) Bahasa 2) Psikologis

(16)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Terhadap Novel

Istilah novel berasal dari kata Latin novellus yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti ―baru‖. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis

sastra lainnya seperti puisi atau drama, maka jenis novel ini muncul kemudian. Novel merupakan salah satu jenis prosa yang paling banyak dibaca oleh masyarakat dunia (Tarigan,1984:164).

Novel adalah karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita dalam kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (Depdiknas, 1995: 694).

Novel merupakan ragam tulisan yang merupakan bagian dari prosa fiksi. Novel memberi peluang untuk hadirnya banyak tokoh, pertikaian dan alur yang kompleks, pengembangan lingkungan secara lebih luas, eksplorasi terhadap tokoh secara mendalam (Abrams, 1981:119).

(17)

Pendapat serupa dikemukakan Cecep Syamsul Hari (http://cecepsyamsulhari. webs.com/mencaridanmenemukan.htm), novel adalah sebuah prosa naratif yang panjang dan kompleks, yang secara imajinatif berjalin dengan pengalaman manusia melalui suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain dengan melibatkan sekelompok atau sejumlah orang (tokoh, karakter) di dalam latar yang spesifik.

Novel adalah sebuah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan dari latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin sebuah cerita (Aminuddin, 2004:6)

Sejalan dengan Aminuddin, Tarigan (1991:164) mengemukakan bahwa novel dibangun oleh jalannya suatu cerita atau alur. Novel adalah suatu cerita yang panjang yang menceritakan kehidupan pria/ wanita. Karena bentuk novel yang panjang, cerita tersebut ditulis dalam satu buku/ lebih. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa novel adalah sebuah cerita dengan suatu alur yang cukup panjang mengisi satu buku/ lebih yang menggarap kehidupan pria/ wanita yang bersifat imajinatif. Novel terdiri dari pelaku-pelaku, mulai dari waktu muda, mereka menjadi tua, mereka bergerak dari satu adegan ke adegan yang lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain (H.E Batus dalam Tarigan, 1991:164).

(18)

a. Memiliki alur (plot). Sebuah novel biasanya memunyai plot pokok, yakni batang tubuh cerita, ditambah/ dirangkai dengan plot-plot kecil. Plot-plot kecil tadi hanyalah tambahan saja/ anak plot yang harus masih merupakan kesatuan/ bersifat menjelaskan plot utamanya. Karena struktur bentuknya yang luas ini, maka sebuah novel dapat bercerita panjang lebar dan membahas secara luas pula.

b. Memiliki tema. Di dalam tema juga terdapat tema utama dan tema-tema sampingan yang fungsinya sama dengan plot. Inilah sebabnya dalam roman/ novel pengarang dapat membahas hampir semua segi persoalan dari tema pokok.

c. Karakter. Tokoh-tokoh dalam novel/ roman juga banyak. Ada kalanya memang hanya melukiskan beberapa tokoh utama saja, sedangkan tokoh lain hanya digambarkan sekilas, hanya untuk melengkapi penggambaran tokoh-tokoh utama. Tetapi dalam novel/ roman, pengarang sering menghadirkan banyak tokoh cerita yang masing-masing digambarkan secara secara lengkap dan utuh, sehingga roman semacam itu seolah-olah merupakan konsentrasi kisah beberapa tokoh besar.

(19)

2.2 Tinjauan Terhadap Alur

Stanton dalam Nurgiyantoro (1994:113) mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Foster dalam Nurgiyantoro juga mengemukakan bahwa alur adalah peristiwa-peristiwa cerita yang memunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. Alur menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca.

Abrams mengemukakan bahwa alur sebuah karya fiksi merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu.

Alur ialah urutan peristiwa dari awal hingga akhir dalam sebuah cerita yang berkaitan dengan perilaku tokoh-tokohnya/ perwatakan. Sebuah alur yang meyakinkan terletak pada gambaran watak-watak yang mengambil bagian didalamnya. Peristiwa-peristiwa cerita dalam alur didukung oleh pelukisan watak-watak tokoh dalam suatu rangkian alur yang menceritakan manusia dengan berbagai persoalan, tantangan dalam kehidupannya. Nurgiyantoro (1995:165) mengemukakan bahwa watak menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti ditafsirkan oleh pembaca, lebih merujuk pada kualitas pribadi seorang tokoh.

(20)

Alur merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat dalam narasi itu, yang berusaha memulihkan situasi narasi ke dalam suatu situasi yang seimbang dan harmonis (Keraf, 1992:147).

Pada dasarnya semua pendapat di atas mempergunakan kata ―kunci‖ peristiwa

-peristiwa yang berhubungan sebab akibat. Berdasarkan uraian mengenai pengertian alur di atas, penulis mengacu pada pendapat Stanton dalam Nurgiyantoro, alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Alur mengemukakan peristiwa yang terjadi, dan mengapa hal itu terjadi. Merupakan rentetan peristiwa sebab akibat, dijalin dengan melibatkan konflik, atau pertikaian yang pada akhirnya terdapat peleraian.

Secara teoretis, alur dapat diurutkan atau dikembangkan ke dalam tahap-tahap tertentu secara kronologis. Namun dalam praktiknya, dalam langkah-langkah ―operasional‖, pengarang tak selamanya tunduk pada teori itu. Alur sebuah karya

(21)

a. Tahap penyituasian (situasion), merupakan tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh (-tokoh) cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain. Terutama, berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.

b. Tahap pemunculan konflik (generating circumstances), dalam tahap ini masalah (-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya.

c. Tahap peningkat konflik (rising action), konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencekam dan menegangkan. Konflik-konflik yang terjadi, internal, eksternal, ataupun keduanya, pertentangan-pertentangan, benturan-benturan antar kepentingan, masalah, dan tokoh yang mengarah ke klimaks semakin tak dapat dihindari.

(22)

e. Tahap penyelesaian (denouement), konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain, sub-subkonflik atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga diberi jalan keluar, cerita diakhiri.

2.3 Peristiwa, Konflik, dan Klimaks

Alur dibangun oleh unsur peristiwa. Namun sebuah peristiwa tidak begitu saja hadir. Peristiwa hadir akibat dari aktivitas tokoh-tokoh di dalam cerita yang memiliki konflik atau pertentangan dengan dirinya sendiri, tokoh lainnya atau dengan lingkungan di mana tokoh itu berada.

Selain itu, peristiwa-peristiwa bisa juga disebabkan oleh aktivitas alam yang menimbulkan konflik dengan manusia. Setiap konflik akan bergerak menuju titik intensitas tertinggi, dimana pertentangan tak dapat lagi dihindari. Itulah yang disebut sebagai klimaks. Dengan demikian, sebuah plot dibangun oleh peristiwa, konflik, dan klimaks.

(23)

Konflik memiliki pengertian pertarungan atau pertentangan antara dua hal yang menyebabakan terjadinya aksi reaksi. Pertentangan itu bisa berupa pertentangan fisik atau pertentangan yang terjadi di dalam batin manusia. Konflik merupakan unsur terpenting dari pengembangan plot. Bahkan bisa dikatakan sebagai elemen inti dari sebuah karya fiksi. Konflik demi konflik yang disusul oleh peristiwa demi peristiwa akan menyebabkan konflik menjadi semakin meningkat. Konflik yang telah sedemikian meruncing disebut klimaks.

2.4 Tinjauan Terhadap Konflik

Konflik adalah percekcokan; perselisihan; ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya) (Depdiknas, 1995:518). Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Warren (1989:285), konflik adalah sesuatu yang ―dramatik‖, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan

yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.

Dengan demikian, konflik dalam pandangan kehidupan yang normal-wajar-faktual, artinya bukan dalam cerita, menyaran pada konotasi yang negatif, sesuatu yang tak menyenangkan. Itulah sebabnya orang lebih suka menghindari konflik dan menghendaki kehidupan yang tenang.

(24)

kemenarikan, kadar suspense cerita yang dihasilkan. Bahkan sebenarnya, yang dihadapi dan menyita perhatian pembaca sewaktu membaca suatu karya naratif adalah (terutama) peristiwa-peristiwa konflik, konflik yang semakin memuncak , klimaks, dan kemudian penyelesaian (Burhan Nurgiyantoro,1994:122).

Konflik adalah persaingan dan pertentangan untuk memenangkan kepentingan atau sumber-sumber daya yang ada dalam mayarakat. Konflik juga merupakan kegalauan yang bersumber dari ketidaksepahaman antar pendapat beberapa pihak. Konflik timbul dalam situasi dimana terdapat dua atau lebih kebutuhan, harapan, keinginan dan tujuan yang tidak berkesesuaian, saling bersaing dan menyebabkan salah satu tokoh atau lebih merasa ditarik ke arah dua jurusan yang berbeda sekaligus, dan menimbulkan perasaan yang sangat tidak enak. Jika memunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Linda L. Davidoff, 1991:178). Namun hal tersebut tidak berlaku untuk cerita yang diteksnaratifkan. Kehidupan yang tenang, tanpa adanya masalah (serius) yang memicu munculnya konflik, dapat berarti ―tak akan ada cerita, tak akan ada alur‖. Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita jika memunculkan konflik, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan.

(25)

Konflik yang baik adalah konflik yang secara logika cerita memang wajar terjadi, dan keberadaannya memang diperlukan untuk menggerakkan cerita, atau menegaskan tema yang dipilih pengarang.

Gorys Keraf dalam buku Argumentasi dan Narasi (1981:168), membagi konflik menjadi empat yaitu, konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, konflik manusia dengan alam.

2.5 Konflik Manusia dengan Dirinya Sendiri

Konflik manusia dengan dirinya sendiri (atau: konflik batin) adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau: tokoh-tokoh) cerita. Ia lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya. Suatu pertarungan individual melawan dirinya sendiri.

Dalam konflik ini timbul kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan dalam batin seseorang, keberanian melawan ketakutan, kejujuran melawan kecurangan, kekikiran melawan kedermawanan, antara keinginan tokoh untuk hidup berkecukupan dengan tekadnya untuk tidak korupsi, dan sebagainya. Konflik manusia dengan dirinya sendiri dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

(26)

Kecantikan Lastri tidak mampu memberikan jawabannya. Kecerdasannya memang mampu memberi tahu kepadanya bahwa terkadang seorang gadis memang bisa saja terjebak pada dilema cinta — cinta pada orang tua ataukah cinta kepada jiwanya. Kecerdasannya memberi tahu bahwa kedua cinta itu harus bisa terdamaikan.Mencintai kedua orang tua seharusnya tidak perlu mengorbankan harapan dan keinginan sendiri sebagai seorang gadis yang akan memikat seorang laki-laki pujaan. Tetapi kecerdasannya ternyata tidak mampu menolong mengatasi dilema itu ketika dia sendiri yang mengalaminya. (Kafilah-Kafilah Cinta, 2008:206)

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana tokoh Lastri sedang mengalami konflik dalam dirinya. Muncul pertentangan dalam diri tokoh Lastri, ia sebagai seorang gadis desa berada di antara pilihan untuk mengikuti keinginan kedua orang tuanya untuk dijodohkan dengan lelaki yang tidak ia cintai atau memilih mengikuti kata hatinya, memilih lelaki yang memang dicintainya dan menentang keinginan orang tuanya.

Konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), dapat pula dilihat pada kutipan berikut.

Berkali sudah aku berusaha mencari tahu di mana Salmi Bulan, adakah ia memang dimangsa kematian, atau ia diselamatkan tentara sewaan, dan akhirnya menjadi wanita simpanan, atau dijadikan istri secara paksa. Bertahun-tahun aku memendam kesedihan sendiri. Rasanya ada teriakan khianat dan umpatan keserongan jika aku menyenangkan diriku dengan wanita lain, sementara Salmi Bulan belum kuketahui hidup atau mati. Bukankah ia telah sah menjadi istri, dan aku suami, meskipun kami baru di atas pelaminan? Tetapi, jika Salmi sendiri sudah bersuami?

(Percintaan Angin, 2003:53)

(27)

2.6 Konflik Manusia dengan Manusia (antar manusia)

Konflik antar manusia adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak antara manusia dengan manusia atau masalah–masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia. Ia antara lain berwujud perkelahian antara seorang dengan seorang yang lain karena masalah-masalah pribadi, atau kasus-kasus hubungan antar manusia lainnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

Dengkurannya semakin keras. Kali ini masalah di antara kita sudah selesai, kedudukannya sudah berubah. Aku melompat dari meja yang lebih rendah. Kuguncang bahunya dengan keras: ―Ayah, bangunlah.‖

Ia tak akan pernah memahamiku. Kami akan selalu merasa asing terhadap satu sama lainnya. Seperti dua kolam di halaman yang sama tanpa adanya terusan yang menghubungkan keduanya. Quang telah meninggal. Tali penghubung terakhir antara kami telah terputus.

―Keluarga kita tidak ikut bertanggung jawab atas gerakan perlawanan. Aku anak tertua. Sudah menjadi kewajibanku untuk pergi. Tetapi ia berbeda. Ia sangat pandai, berhasil memenangkan pernghargaan kedua dalam kompetisi matematika tingkap provinsi. Ia ingin belajar ilmu komputer. Aku menulis surat kepadamu tentang hal itu...‖

Dengan gusar, ayahku bicara: ―Surat apa? Aku tidak ingat ada surat.‖ ―Kau sebenarnya mengetahui betul surat apa itu.‖

―Oh, jadi kau menuduhku berbohong?‖

―Aku menerima surat dari Quang. Ia bilang ia ingin belajar ilmu komputer, tetapi kau mendesaknya untuk mendaftarkan dirinya ke dinas militer. Ia bilang kau yang menyuruhnya, ‗Pada masa perang, masa depan menjadi milik para pejuang.‘ Kau bahkan menghadiri pertemuan partai yang memutuskan untuk memobilisasinya. Itu fakta.

―Tidak banyak orang yang memiliki kecerdasan seperti dia. Ia bisa saja menjadi...‖ Tiba-tiba saja, aku tidak dapat lagi meneruskan ucapanku. Rasanya leherku tercekik. Tidak ada gunanya berbicara dengan ayahku.(Novel Tanpa Nama, 2007:137-138)

(28)

2.7 Konflik Manusia dengan Masyarakat

Konflik manusia dengan masyarakat adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antara manusia dengan manusia dalam struktur masyarakat luas. Ia antara lain berwujud masalah suatu kelompok manusia dalam negara melawan pemerintah negara itu, sebuah negara melawan negara yang lain, saingan atau pertarungan dalam perdagangan, persaingan antara kelompok-kelompok dalam masyarakat, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya.

Masyarakat merupakan sebuah komunitas yang saling bergantung satu sama lain. Umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas teratur. Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama (Depdiknas, 1995:635). Sebuah masyarakat hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.

Masyarakat tidak begitu saja muncul seperti sekarang ini, tetapi adanya perkembangan yang dimulai dari masa lampau sampai saat sekarang ini. Masyarakat ini kemudian berkembang mengikuti perkembangan zaman sehingga kemajuan yang dimiliki masyarakat sejalan dengan perubahan yang terjadi secara global. Masyarakat seperti ini dikenal sebagai masyarakat besar, seperti dalam sebuah negara.

(29)

kepentingan-kepentingan sama. Manusia memerlukan perlindungan dari rekan-rekannya. Manusia memunyai kemampuan yang terbatas di dalam pergaulan hidup, keadaan demikian menyebabkan timbulnya kelompok kecil yang merupakan wadah orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Kelompok kecil (small group) adalah suatu kelompok yang secara teoretis terdiri dari paling sedikit dua orang, dimana orang-orang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dan yang menganggap hubungan itu sendiri penting baginya. Small group pada hakikatnya merupakan sel yang menggerakkan suatu organisme yang dinamakan masyarakat. (Soekanto, 2007:144)

(30)

Kutipan berikut ini merupakan contoh konflik antara manusia dengan pemerintah, yaitu terjadi antara anggota pers dengan pemerintah Hindia Belanda, yang diambil dari novel Kembang Jepun karya Remy Sylado.

Sehabis J.A. Nieland membacakan dakwaannya, hakim ketua memalu meja, lalu bertanya kepada Tjak Broto, ―Apa tuan paham dakwaan terhadap diri tuan?‖

―Maaf beribu maaf, tuan hakim, saya tidak paham sama sekali.‖

―Tuan tidak paham pada beberapa bagian dakwaan, atau salah satu bagian saja?‖

―Maksud saya, tuan hakim, saya tidak paham jalan logika tuan jaksa, yang mengatakan saya membangkang pada peraturan pemerintah Hindia Belanda, dan bahwa yang saya tulis itu isapan jempol untuk menghasut rakyat.‖

...

―Kalau begitu apa motivasi tuan menulis semua itu?‖ kata Nieland.

―Saya ingin membantu pemerintah Hindia Belanda untuk informasi yang betul. Tugas pers adalah memberikan informasi yang benar bagi segenap pembaca, baik pemerintah maupun rakyat. Pemerintah Hindia Belanda selama ini memperoleh informasi yang tidak benar, sebab infomasi itu datang dari para demang, wedana, bupati yang korup, karena terlalu asyik mementingkan pribadi...‖ (Kembang Jepun, 2004:77)

Pada kutipan di atas, Tjak Broto sebagai seorang anggota pers koran Tjahaya Soerabaya dituduh Pemerintah Hindia Belanda menulis berita bohong terkait kelalaian pemerintah menangani mandor dan makelar kuli kontrak, menyebabkan kuli kontrak hidup sengsara di luar Jawa. Pemerintah Hindia Belanda di Surabaya sebenarnya telah sejak lama memperhatikan Tjahaya Soerabaja sebagai suara pembela gerakan nasional sehingga pemerintah berusaha melakukan pembredelan terhadap koran tersebut. Konflik akhirnya berujung di meja pengadilan.

(31)

mencari dukungan politik. Sang menteri dianggap menggunakan kampus untuk mencari dukungan mencalonkan diri jadi presiden!

...

Suasana semakin hiruk pikuk, ketegangan mulai menjalar membuat panik mahasiswa yang rada penakut. Beberapa mahasiswa bernyali batu mencoba maju dari barisan, meneriaki aparat yang menyambut dengan ayunan pentungan yang menyambar ke sana kemari, meninggalkan memar memerah di berbagai tempat pada tubuh-tubuh mahasiswa. Keberingasan dari kedua pihak mulai menggumpal. Wajah-wajah keras pasukan berhadapan dengan wajah-wajah marah mahasiswa yang merasa kegiatan mereka di kampus sendiri diintervensi aparat. (Epigram, 2006:63)

Kutipan di atas merupakan contoh konflik yang terjadi di sebuah kampus. Konflik terjadi antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Mahasiswa menolak kedatangan seorang menteri ke kampus mereka. Mahasiswa merasa bahwa sang menteri tengah mencari dukungan politik. Sang menteri dianggap menggunakan kampus untuk mencari dukungan guna mencalonkan diri menjadi presiden. Mahasiswa menolak kampus mereka dipolitisir. Meskipun maksudnya memang belum jelas, tetapi sebagian kecil aktivis mahasiswa menanggapinya dengan serius. Akhirnya terjadi keributan antara aparat dan mahasiswa, saat para mahasiswa menggelar demonstrasi.

2.8 Konflik Manusia dengan Alam

Konflik manusia dengan alam adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan elemen alam. Suatu pertarungan yang dilakukan oleh seorang tokoh atau manusia secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melawan kekuatan alam yang mengancam hidup manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

(32)

Sungai Serang yang mengalir gagah di tahun 80-an yang mengalir di utara Pedukuhan Tempel, kini seumpama liukan ular kurus yang kelaparan dan tak terurus. Dengan dipimpin sesepuh dukuh, warga tempel sebenarnya telah menjalankan shalat istisqo‘ sebanyak 3 kali, tapi hujan juga tidak datang-datang. Musim kemarau begitu menyengsarakan warga Dukuh Tempel. Semua warga masih ingat, tiga bulan yang lalu, tetua Dukuh Tempel membuat kesepakatan bersama warga dukuh. Tidak ada warga yang tidak tahu bahwa hanya ada dua sumur yang masih menyimpan air. Dari dua sumur itu, hanya satu sumur saja yang boleh digunakan, sebab sumur yang satunya hanya boleh digunakan untuk keperluan masjid. Barang siapa ketahuan menggunakannya, maka ia pantas untuk ―di massa‖— sebuah istilah yang dipakai warga untuk menghakimi dia yang ketahuan mengambil air dari sumur tersebut.

(Kafilah-Kafilah Cinta, 2008:3)

Berdasarkan kutipan tersebut terlihat konflik yang dialami Warga Dukuh Tempel dengan alam, yaitu melawan kemarau yang berkepanjangan. Betapa kemarau menyengsarakan warga dukuh tersebut. Warga Tempel akhirnya membuat sebuah kesepakatan untuk mengatasi masalah kemarau di dukuh mereka yaitu dengan mengatur pemakaian air seluruh warga dukuh tersebut. Kutipan di atas menggambarkan bagaimana manusia bertarung melawan alam atau melawan bencana yang ditimbulkan oleh sebagian dari lingkungannya.

2.9 Pembelajaran Sastra (Novel) di Sekolah Menengah Atas (SMA)

(33)

S. Effendi dalam Supriyadi (1996:310) mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

Yus Rusyana dalam Supriyadi (1996:310), apresiasi sastra dapat diterangkan sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya, serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu. Dalam mengapresiasi sastra, seseorang mengalami (dari hasil sastra itu) pengalaman yang telah disusun oleh pengarangnya. Panuti dalam Supriyadi juga menyebutkan bahwa apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman. Untuk memahami dan menghayati karya sastra, siswa diharapkan langsung membaca karya sastra, bukan membaca ringkasannya.

(34)

Pada dasarnya tujuan umum pengajaran sastra di sekolah yaitu, siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Novel sebagai salah satu jenis karya sastra yang termasuk dalam genre prosa dapat dijadikan alternatif bahan pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA tahun 2007, mata pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia yang terkait dengan konflik dalam novel, terdapat pada kelas XI semester 1. Standar Kompetensi: (membaca) memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/ terjemahan. Kompetensi Dasar: menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan.

Melalui kegiatan mengapresiasi unsur-unsur dalam karya sastra, dalam hal ini konflik dalam novel, memungkinkan siswa untuk menambah wawasan tentang permasalahan-permasalahan hidup, serta cara mengatasinya. Selain itu, siswa juga dapat mengambil nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel.

(35)

a. Bahasa

Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang dibahas, melainkan juga ditentukan oleh faktor-faktor lain, seperti cara penulisan yang dipakai si pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu, dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang.

Penguasaan suatu bahasa tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang tampak jelas pada tiap individu. Oleh karena itu, agar pembelajaran sastra dapat lebih berhasil, guru perlu mengembangkan keterampilan khusus untuk memilih bahan pembelajaran sastra yang bahasanya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa siswa. Seorang guru hendaknya selalu berusaha memahami tingkat kebahasaan siswa-siswanya sehingga berdasarkan pemahaman itu guru dapat memilih materi yang cocok untuk disajikan.

b. Psikologis

(36)

Ada empat tahap perkembangan psikologis yang penting diperhatikan oleh guru untuk memahami psikologi anak-anak sekolah dasar dan menengah (Rahmanto, 1993:30). Empat tahap perkembangan psikologis tersebut adalah sebagai berikut.

1) Tahap Penghayal (8 sampai 9 tahun)

Pada tahap ini imajinasi anak-anak belum banyak diisi dengan hal-hal yang nyata, tetapi masih penuh dengan fantasi kekanak-kanakan

2) Tahap Romantik (10 sampai 12 tahun)

Anak mulai menanggalkan fantasi dan berpikir mengarah ke realitas. Meski pandangannya tentang dunia ini masih sangat sederhana, tetapi pada tahap ini anak mulai menyenangi cerita kepahlawanan, petualangan, bahkan kejahatan. 3) Tahap Realistik (13 sampai 16 tahun)

Anak-anak benar-benar terlepas dari dunia fantasi. Mereka sangat berminat pada realitas atau apa yang benar-benar terjadi. Mereka terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan yang nyata.

4) Tahap Generalisasi (16 tahun dan selanjutnya)

(37)

Usia anak SMA berada antara tahap realistik dan generalisasi. Meskipun tidak semua siswa dalam satu kelas memunyai tahapan psikologis yang sama, guru harus tetap berusaha menyajikan karya sastra yang setidak-tidaknya secara psikologis dapat menarik minat sebagian besar siswa kelas itu.

c. Latar Belakang Budaya

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (37 Halaman)