KINERJA DINAS KOPERASI, USAHA KECIL MENENGAH, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGELOLAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA BANDAR LAMPUNG

45  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

KINERJA DINAS KOPERASI, USAHA KECIL MENENGAH, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGELOLAAN USAHA

MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh

HILMAN ABDILLAH

Keberadaan kelompok Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dihadapkan pada masalah keterbatasan modal, peralatan kerja dan manajemen usaha. Dasar hukum pembinaan dan pengelolaan UMKM oleh pemerintah adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Permasalahan penelitian adalah: (1) Bagaimanakah kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan UMKM di Kota Bandar Lampung? (2) Apakah faktor penghambat kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan UMKM di Kota Bandar Lampung?

Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan empiris. Pengumpulan data dilakukan dengan studi lapangan dan studi pustaka. Pengolahan data meliputi tahapan seleksi data, klasifikasi data dan penyusunan data. Analisis data yang digunakan adalah analisis yuridis kualitatif,

Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kinerja Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung dalam pembinaan dan pengelolaan UMKM adalah: a) Penciptaan iklim usaha yang kondusif, yaitu memudahkan para pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha, tetapi keterbatasan anggaran berdampak pada kinerja tahun anggaran 2013/2014 yang belum optimal, karena jumlah pelaku usaha kecil yang memperoleh dana bergulir baru mencapai 41 pelaku usaha dari sebanyak 105 pelaku usaha kecil yang terdata atau baru mencapai 39.05%. b) Peningkatan akses kepada sumber daya produktif, yaitu pendidikan dan pelatihan wirausaha kepada pelaku UMKM, yang sudah dilaksanakan secara optimal c) Pengembangan kewirausahaan dan UMKM berkeunggulan kompetitif, yaitu memberikan bantuan berupa modal usaha dan peralatan kerja bagi para pelaku UMKM, tetapi hasilnya belum dilaksanakan secara optimal. (2) Faktor penghambat kinerja Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan UMKM adalah: a) Keterbatasan anggaran dalam memberikan bantuan modal usaha kepada pelaku UMKM. b) Keterbatasan sumber daya manusia UMKM yang berdampak pada lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar dan kualitas persaingan usaha yang rendah.

Saran penelitian ini adalah: (1) Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan disarankan untuk meningkatkan intensitas pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi pelaku UMKM (2) Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan untuk memperbanyak jumlah kelompok usaha mikro, kecil dan menengah yang mendapatkan bantukan modal dan peralatan usaha.

(2)

ABSTRACT

PERFORMANCE OF COOPERATIVE, SMALL, MEDIUM ENTERPRISES, INDUSTRY AND TRADE DEPARTMENT IN GUIDANCE AND MANAGEMENT OF MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES

AT BANDAR LAMPUNG By

HILMAN ABDILLAH

The existence of groups of Micro, Small and Medium Enterprises faced the problem of lack of capital, labor and business management tools. The legal basis for development and management of Micro, Small and Medium Enterprises by the government is Act No. 20 of 2008 on Micro, Small and Medium Enterprises. The research problem is: (1) How is the performance of cooperative, small, medium enterprises, industry and trade department in guidance and management of micro, small and medium enterprises at Bandar Lampung? (2) What are some factors that inhibiting performance of cooperative, small, medium enterprises, industry and trade department in guidance and management of micro, small and medium enterprises at Bandar Lampung?

The approach used is a matter of normative and empirical juridical approach. Data collected by field studies and literature. Data processing includes the data selection process, classification of data and preparation of the data. Analysis of the data used is the juridical analysis of qualitative

The results showed: (1) Performance of cooperative, small, medium enterprises, industry and trade department in guidance and management of micro, small and medium enterprises at Bandar Lampung are: a) The creation of a conducive business climate, which make it easier for small, medium enterprises to develop business. The results of the performance of the fiscal year 2013/2014 show the number of small businesses that acquire new revolving fund reaches 41 businessmen from as many as 105 small businesses recorded or only reached 39.05%. b) Increased access to productive resources, namely education and entrepreneurship training to small, medium enterprises, and implemented optimally c) Development of entrepreneurship and SMEs competitive advantage, namely to provide assistance in the form of venture capital and working equipment for the small, medium enterprises. (2) Factors inhibiting the performance of the Department of Cooperatives, small, medium enterprises, Trade and Industry in the development and management of small, medium enterprises are: a) The limited budget to provide capital assistance to SMEs. b) Lack of human resources of SMEs that have an impact on the weakness of the business network and market penetration capability and low quality competition, but this result is not optimal.

Suggestion of this research are: (1) the Department of Cooperatives, small, medium enterprises, Trade and Industry suggested to increase the intensity of entrepreneurship education and training for small, medium enterprises (2) Department of Cooperatives, SMEs, Trade and Industry to increase the number of groups of micro, small and medium gain support of capital and business equipment.

(3)
(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Hilman Abdillah, dilahirkan di Bandar

Lampung pada tanggal 10 Januari 1992, sebagai anak

kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Hi. Romzi Halim

S.E M.M dan Hj. Nila Wati.

Jenjang pendidikan yang pernah ditempuh oleh penulis adalah Taman Kanak-Kanak

Aysiyah yang diselesaikan pada tahun 1998, menamatkan pendidikan dasar di SD1

Al-Azhar Bandar Lampung pada tahun 2004, lalu melanjutkan pendidikan

menengah pertama di SMP Al-Kautsar Bandar Lampung yang selesai pada tahun

2007, dan pendidikan menengah Atas di SMA Negeri 9 Bandar Lampung selesai

pada tahun 2010. Pada tahun 2011, penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Fakultas

(7)

M O T O

“Barangsiapa bersungguh-sungguh,sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri”

(Q.S Al-Ankabut [29]: 6)

“Pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan,tapi harus dicari pula dengan semangat dan disertai ketekunan”

(Abigail Adams)

“Kepuasan itu terletak pada usaha,bukan pada pencapaian hasil”

(Mahatma Gandhi)

“Saya tidak berharap menjadi segalanya untuk setiap orang,saya lebih suka menjadi sesuatu untuk seseorang”

(8)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kupanjatkan kepada ALLAH SWT, Tuhan Semesta Alam

untuk setiap Nikmat dan Karunia-Nya yang mengalir dalam hidupku ini.

Karena Ridho-Mu dengan segala kerendahan hati

Kupersembahkan karya ini untuk

Kedua orang tuaku H. Romzi Halim S.E M.M dan Hj. Nila Wati

yang telah melahirkan, merawat, mendidik dan memperjuangkan diriku menghadapi

dunia ini dengan tetesan keringat yang tidak dapat kubalas dengan apapun. Serta

memberikan do’a, dukungan, semangat, cinta dan kasih sayang, sehingga aku bisa

menyelesaikan skripsi ini semata-mata untuk membanggakan kalian,

kakakku Mirwan Pratama S.S.T.P

dan adikku Muhammad Aby dan Dian Ferdisa Puteri.

yang selalu mendo’akan, mendukung dan menyemangatiku dalam menggapai

keberhasilanku ini.

(9)

SAN WACANA

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam, sebab

hanya dengan rahmat dan karunianya-Nya semata, maka penulis dapat

menyelesaikan Skripsi yang berjudul: Kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil

Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam Pembinaan dan Pengelolaan

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung. Skripsi

ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada

Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Penulis menyadari bahwa proses penyusunan hingga selesainya skripsi ini, penulis

banyak mendapatkan, bimbingan dan dukungan berbagai pihak, oleh karena itu,

dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas

Lampung.

2. Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H., selaku Ketua Jurusan Hukum Administrasi

Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung dan selaku Pembahas I yang telah

memberikan saran dan keritik kepada penulis dalam penyusunan skripsi.

3. Bapak Charles Jackson, S,H,.M.H., selaku Pembimbing I, atas masukan dan

saran serta bimbingan diberikan dalam proses penyusunan hingga selesainya

(10)

4. Ibu Ati Yuniati, S,H,.M.H., selaku Pembimbing II, atas masukan dan saran serta

bimbingan diberikan dalam proses penyusunan hingga selesainya skripsi ini.

5. Bapak Satria Prayoga, S.H.M.H, selaku Pembahas II yang telah memberikan

saran dan keritik kepada penulis dalam penyusunan skripsi

6. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah

banyak mengajari dan member ilmu kepada saya;

7. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan

Kota Bandar Lampung beserta segenap jajarannya yang telah memberikan

bantuan dan informasi yang penulis butuhkan dalam pelaksanaan penelitian ini

8. Untuk kedua orangtuaku: Hi. Romzi Halim S.E M.M dan Hj.Nila Wati , yang

selalu menjadi inspirasi, memberikan doa dan dukungan baik materil maupun

pemikiran serta selalu mendukung segala tingkah laku dan tindakanku.

Terimakasih telah menjadi contoh yang baik dalam kehidupanku

9. Untuk kakak dan adikku: Mirwan Pratama S.S.T.P. dan Muhammad Aby, yang

selalu memberikan semangat, motivasi dan doa kepadaku

10.Dian Ferdisa Puteri yang telah memberikan do’a, dukungan, kepercayaan,

semangat, cinta dan kasih sayang, sehingga penulis termotivasi untuk

menyelesaikan skripsi ini.

11.Tidak lupa juga kepada Kiyay Apri, Kiyay Zakaria, Mas Misyo, Pak Marlan,

serta orang-orang di lingkungan Kantin Fakultas Hukum yang selalu

mendengarkan keluh kesah saya menyelesaikan skripsi ini, terimakasih banyak

(11)

12.Teman-teman seperjuanganku selama menempuh perkuliahan Himawan, Tyo,

Ferdiyan, Fahmi, Gery, Mufty, Odi, Mamed, Danan, Dery, Ery, Putera, Gilang,

Fadel terimakasih untuk dukungannya dan pertemanan selama ini, ,

13.Sahabat-sahabatku dari SMA : Denis, Eki John, Ecca, Rizky, Ridho, Dicky dan

yang lain nya terimakasih telah memberikan motivasi dan doa kepadaku;

14.Keluarga besar HIMA HAN dan seluruh angkatan 2011 sampai 2013 yang tidak

dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan serta semangat yang

diberikan;

15.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu

Penulis berdoa kebaikan yang telah diberikan kepada penulis, akan mendapatkan

balasan kebaikan yang lebih besar dari Allah SWT membalas kebaikan yang telah

diberikan kepada penulis dengan kebaikan yang lebih besar lagi di sisi-Nya dan

akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin

Bandar Lampung, Februari 2015 Penulis

(12)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 7

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 7

1.3.2 Kegunaan Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Pengertian Tugas Pokok dan Fungsi ... 9

2.2 Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ... 12

2.3 Pembinaan dan Pengelolaan Usaha Kecil... 17

2.4 Dasar Hukum Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

3.1 Pendekatan Masalah ... 24

3.2 Sumber dan Jenis Data ... 24

3.2.1 Data Primer ... 25

3.2.2 Data Sekunder ... 25

3.3 Prosedur Pengumpulan Data ... 26

3.4 Prosedur Pengolahan Data ... 26

3.5 Analisis Data ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 28

(13)

4.2 Kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam Pembinaan dan Pengelolaan Usaha Kecil

Mikro dan Menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung ... 29

4.2.1 Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif ... 29

4.2.2 Peningkatan Akses kepada Sumber Daya Produktif ... 38

4.2.3 Pengembangan Kewirausahaan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Berkeunggulan Kompetitif ... 49

4.3 Faktor-Faktor Penghambat Kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam Pembinaan dan Pengelolaan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung ... 53

4.3.1 Keterbatasan Anggaran dalam Memberikan Bantuan Modal Usaha ... 53

4.3.2 Keterbatasan Sumber Daya Manusia Pelaku Usaha Kecil ... 55

BAB V PENUTUP ... 58

5.1 Simpulan ... 58

5.2 Saran ... 59

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pemberlakuan otonomi daerah pada dasarnya menuntut Pemerintah Daerah untuk melaksanakan berbagai kebijakan yang berorientasi pada upaya mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bergulirnya otonomi daerah bukannya semakin memperkuat komitmen pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan masyarakat kelas bawah. Pemberian wewenang yang lebih besar kepada pemerintah daerah belum diikuti dengan piranti kebijakan dan strategi pembangunan sosial.1

Setiap individu dalam konteks otonomi daerah merupakan individu yang dapat mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang ada di dalam dirinya secara optimal. Individu-individu yang otonom ini selanjutnya akan membentuk komunitas yang otonom, dan akhirnya bangsa yang mandiri serta unggul. Pada dasarnya individu-individu yang otonom menjadi modal dasar bagi perwujudan otonomi daerah yang hakiki. Dengan dasar ini, maka penguatan otonomi daerah harus membuka kesempatan yang sama dan seluas-luasnya bagi penduduk untuk

1

(15)

2

mengembangkan segala potensi yang dimilikinya dalam mencapai kesejahteraan yang diharapkan, termasuk dalam menciptakan, menekuni dan mengembangkan lapangan pekerjaan.

Penduduk merupakan elemen penting dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam pola dan kerangka menyeluruh, hubungan pertambahan penduduk sebagai sumberdaya manusia mengakibatkan melonjaknya angkatan kerja, dan pada akhirnya setiap kegiatan produksi diarahkan pada peningkatan penyerapan tenaga kerja serta pemanfaatan optimalisasi potensi ekonomi.

Dalam pembangunan di era reformasi ini, rakyat Indonesia selaku penduduk telah bertekad untuk menciptakan perekonomian yang mandiri dan mantap, berdasarkan demokrasi ekonomi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (Selanjutnya ditulis UUD 1945) dan dengan cita-cita meningkatkan kemakmuran rakyat dan pemerataan ekonomi. Hal ini dijabarkan dalam arah pembangunan ekonomi, yaitu terwujudnya perekonomian nasional yang mandiri dan handal berdasarkan demokrasi ekonomi untuk meningkatkan kemakmuran seluruh rakyat secara selaras, adil, dan merata.

Hal ini sesuai dengan salah satu arah pembangunan nasional adalah membangun bangsa yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan. Kebijakan ideal tersebut dapat dicapai dengan memobilisasi segenap potensi sumber daya masyarakat yang ada. Bangsa yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan merupakan ciri bangsa yang memiliki keberdayaan kuat.2

2

(16)

3

Menurut Pasal 1 Angka (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, yang dimaksud dengan usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

Kelompok usaha kecil merupakan wujud kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia. Keberadaan kelompok ini tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan perekonomian secara nasional. Kelompok usaha kecil selalu menjadi sasaran program pengembangan dari berbagai institusi pemerintah, namun program pengembangan tersebut belum menunjukkan terwujudnya pemberdayaan terhadap kelompok tersebut. Sehubungan dengan hal ini, para pelaku usaha kecil dihadapkan pada berbagai masalah seperti keterbatasan sumber daya manusia, keuangan dan peralatan kerja yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha mereka.

(17)

4

pembinaan kepada sektor usaha kecil di daerahnya masing-masing dalam rangka memberdayakan masyarakat.

Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 menyatakan bahwa pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas-luasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan.

Sehubungan dengan hal tersebut maka Kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung sebagai salah satu unsur perangkat daerah memiliki fungsi pembinaan terhadap usaha mikro, kecil dan menengah di Kota Bandar Lampung. Fungsi ini sesuai dengan konsep usaha kecil sebagai kelompok usaha yang potensial dalam mengurangi angka kemiskinan, karena dengan usaha ini maka penduduk mengusahakan sumber-sumber ekonomi yang produktif bagi keluarga atau masyarakat yang ada di sekitarnya, sehingga hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintahan dalam bidang pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan secara berkesinambungan.

(18)

5

kerja, peralatan maupun pelatihan di bidang manajemen pengembangan usaha atau pemasaran produk3

Sehubungan dengan pelaksanaan kebijakan tersebut maka dapat dilaksanakan suatu kajian sebagai upaya serangkaian tindakan untuk mengetahui hasil yang menguntungkan atau kurang menguntungkan terhadap kinerja Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung dalam rangka mengatasi hambatan-hambatan berupa keterbatasan modal, sarana dan prasarana, sumber daya manusia serta pemasaran produk oleh kelompok usaha kecil, yang dilakukan dalam rangka pembinaan usaha kecil.

Selain itu sesuai dengan Rencana Strategis Kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung Tahun 2011-2015 maka diketahui bahwa kebijakan pembinaan usaha kecil disesuaikan dengan tujuan untuk mengembangkan Kota Bandar Lampung sebagai pusat jasa dan perdagangan, berbasis pada ekonomi kerakyatan. Pelaksanaan misi ini didasarkan oleh posisi strategis Kota Bandar Lampung sebagai ibukota provinsi, sekaligus sebagai jalur perlintasan dan pusat jasa, industri, dan perdagangan. Misi ini ditujukan untuk membangun dan mengoptimalkan potensi ekonomi daerah dalam rangka memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Faktanya menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil dihadapkan pada berbagai keterbatasan modal, peralatan usaha dan manajemen untuk mengembangkan usaha mereka baik dalam bidang produksi maupun pemasaran. Pelaku usaha kecil

3

(19)

6

pada dasarnya mengharapkan bantuan dari pemerintah pada usaha yang dijalaninya, sehingga dapat berkembang dan menjadi sumber pendapatan bagi keluarganya serta bagi orang lain yang akan dipekerjakan pada usaha kecil miliknya.

Jumlah pelaku usaha kecil yang terdata tahun 2011 pada Dinas adalah 242 pelaku usaha kecil, dari jumlah tersebut ditargetkan sebesar 80% memperoleh bantuan modal dan peralatan kerja, tetapi sampai dengan akhir tahun 2012, jumlah usaha kecil yang memperoleh bantuan modal dan peralatan kerja baru mencapai 151 pelaku usaha kecil atau baru mencapai 62.39%.4

Pelaku usaha Kecil di Kota Bandar Lampung di antaranya adalah di Kelurahan Segala Mider Tanjung Karang Barat Bandar Lampung yang menjalani bidang pengolahan dan penjualan keripik pisang yang dihadapkan pada kendala keterbatasan modal dan peralatan usaha, sampai saat ini usahanya belum mengalami perkembangan secara signifikan. Pelaku usaha kecil mengharapkan adanya bantuan baik modal usaha maupun peralatan kerja untuk dapat mengembangkan usahanya.5

Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melakukan penelitian dan menuangkannya ke dalam Skripsi berjudul: Kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam Pembinaan dan Pengelolaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung.

4

Rencana Strategis Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar LampungTahun 2011-2015.

5

(20)

7

1.2Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung?

2. Apakah faktor penghambat kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung?

1.3Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang diajukan maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung

2. Untuk mengetahui faktor penghambat kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung

1.3.2 Kegunaan Penelitian

(21)

8

1. Kegunaan teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam pengembangan kajian Hukum Administrasi Negara, khususnya yang berkaitan dengan kinerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Bandar Lampung

2. Kegunaan praktis

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tugas Pokok dan Fungsi

Tugas pokok dan fungsi secara umum merupakan hal-hal yang harus bahkan wajib dikerjakan oleh seorang anggota organisasi atau pegawai dalam suatu instansi secara rutin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan program kerja yang telah dibuat berdasarkan tujuan, visi dan misi suatu organisasi. Setiap pegawai seharusnya melaksanakan kegiatan yang lebih rinci yang dilaksanakan secara jelas dan dalam setiap bagian atau unit. Rincian tugas-tugas tersebut digolongkan kedalam satuan praktis dan konkrit sesuai dengan kemampuan dan tuntutan masyarakat. Tugas pokok dan fungsi merupakan suatu kesatuan yang saling terkait antara tugas pokok dan fungsi. Suatu organisasi menyelenggarakan fungsi-fungsi dalam melaksanakan tugas pokok.

Tugas pokok adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan, pekerjaan yang merupakan tanggung jawab, perintah untuk berbuat atau melakukan sesuatu demi mencapai suatu tujuan. Tugas pokok sebagai satau kesatuan pekerjaan atau kegiatan yang paling utama dan rutin dilakukan oleh para pegawai dalam sebuah organisasi yang memberikan gambaran tentang ruang lingkup atau kompleksitas jabatan atau organisasi demi mencapai tujuan tertentu.1

1

(23)

10

Fungsi berasal dari kata dalam Bahasa Inggris function, yang berarti sesuatu yang mengandung kegunaan atau manfaat. Fungsi suatu lembaga atau institusi formal adalah adanya kekuasaan berupa hak dan tugas yang dimiliki oleh seseorang dalam kedudukannya di dalam organisasi untuk melakukan sesuatu sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Fungsi lembaga atau institusi disusun sebagai pedoman atau haluan bagi organisasi tersebut dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan organisasi. Fungsi berkaitan erat dengan wewenang, yaitu kemampuan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik, atau secara yuridis wewenang adalah kemampuan bertindak yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku serta melakukan hubungan-hubungan hukum.2

Secara organisasional kewenangan adalah kemampuan yuridis yang didasarkan pada hukum publik. Terdapat kewenangan diikatkan pula hak dan kewajiban, yaitu agar kewenangan tidak semata-mata diartikan sebagai hak berdasarkan hukum publik, tetapi juga kewajiban sebagai hukum publik. Kewenangan tidak hanya diartikan sebagai kekuasaan, oleh karena itu, dalam menjalankan hak berdasarkan hukum publik selalu terikat kewajiban berdasarkan hukum publik tidak tertulis atau asas umum pemerintahan yang baik. Keweangan dalam hal ini dibedakan menjadi:

a. Pemberian kewenangan: pemberian hak kepada, dan pembebanan kewajiban terhadap badan (atribusi/mandat);

b. Pelaksanaan kewenangan: menjalankan hak dan kewajiban publik yang berarti mempersiapkan dan mengambil keputusan;

2

(24)

11

c. Akibat Hukum dari pelaksanaan kewenangan: seluruh hak dan/atau kewajiban yang terletak rakyat/burger, kelompok rakyat dan badan.3

Kewenangan adalah fungsi untuk menjalankan kegiatan dalam organisasi, sebagai hak untuk memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tujuan dapat tercapai. Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya dan lingkungan yang melingkupinya.4

Tugas pokok Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung adalah menyelenggarakan sebagaimana urusan Pemerintahan Kota Bandar Lampung di bidang perindustrian dan perdagangan berdasarkan asas otonomi yang menjadi kewenangan, tugas dekonsentrasi dan pembantuan serta tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Walikota berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung, mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Perumusan kebijakan teknis, pengaturan dan penetapan standar/pedoman

bidang perindustrian dan perdagangan

2) Pengembangan iklim serta kondisi mendorong pertumbuhan dan pemasyarakatan koperasi dalam wilayah kota

3

Ibid. hlm. 7. 4

(25)

12

3) Pembinaan dan pengembangan usaha kecil

4) Fasilitas askes penjaminan dalam penyediaan bagi UKM

5) Pemberian fasilitas usaha industri dalam rangka pengembangan UKM

6) Pemberian perlindungan kepastian berusaha terhadap usaha industri lintas kabupaten/kota

7) Pemberian bantuan teknis dalam pencegahan pencemaran lingkungan oleh industri lintas kabupaten/kota

8) Penyedian bahan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan pengembangan ekspor 9) Pembinaan, koordinasi dan penggawasan perdagangan

10)Pembinaan, sosialisasi, informasi dan publikasi dan penyelenggaraan perlindungan konsumen

11)Pembinaan dan pengendalian kemetrologian skala kota

12)Pelaksanaan pembinaan dan pengembangan UKM, perindustrian dan perdagangan

13)Pelaksanaan pengawasaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan bidang perindustrian dan perdagangan

14)Pelayanan administratif.

2.2 Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

(26)

13

Kriteria usaha mikro menurut Pasal 6 ayat (1) UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah:

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Selanjutnya Pasal 1 Angka (2) menyebutkan bahwa usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

Kriteria usaha kecil menurut Pasal 6 ayat (2) UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah:

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(27)

14

perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Kriteria usaha menengah menurut Pasal 6 ayat (3) UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah:

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Usaha mikro, kecil dan menengah merupakan suatu usaha yang mempekerjakan tenaga pelaksana dengan jumlah yang minimal dan dijalankan pemiliknya yang juga mengawasi sendiri sendiri semua fungsi pelaksana dengan jalan mendelegasikan pekerjaan kepada pegawai-pegawainya dari hari ke hari. Selain itu, usaha kecil didefinisikan sebagai suatu usaha dalam mana pemiliknya langsung mengendalikan tenaga-tenaga pelaksana dan tetap memegang pengendalian yang ketat atas seluruh kegiatan. Kegiatan usahanya dilakukan secara independen dan pada komunitas tertentu, dengan jenis usahanya berbentuk perdagangan/distribusi, produksi/industri kecil, dan jasa komersial. 5

5

(28)

15

Jaringan bisnis kecil yang dikonstruksi seputar jaringan sosial berkembang melalui asosiasi yang dibentuk oleh keluarga, sahabat dan kenalan. Dalam konteks bisnis kecil, asosiasi ini bisa dibentuk oleh pemilik dan karyawan perusahaan, meskipun satu karakter bisnis keluarga dapat menjadi staf yang relatif berstatus rendah dan berpengaruh.6

Usaha kecil, mikro dan menengah memiliki beberapa potensi dan keunggulan komparatif sebagai berikut:

a. Usaha kecil beroperasi menyebar di seluruh pelosok dengan berbagai ragam bidang usaha, karena kebanyakan usaha kecil muncul untuk memenuhi permintaan (aggregate demand) yang terjadi di daerah regionalnya. Bisa terjadi bahwa orientasi produksi usaha kecil tidak terbatas pada orientasi produk melainkan sudah mencapai taraf orientasi konsumen. Diperlukan suatu keputusan manajerial yang menuntut kejelian yang tinggi. Penyebaran usaha kecil berarti mengurangi urbanisasi dan kesenjangan desa-kota.

b. Usaha kecil beroperasi dengan investasi modal untuk aktiva tetap pada tingkat yang rendah dan sebagian besar modal terserap pada kebutuhan modal kerja. Karena yang dipertaruhkan kecil, maka usaha kecil memiliki kebebasan yang tinggi untuk masuk atau keluar dari pasar. Kegiatan produksinya dapat dihentikan sewaktu-waktu jika kondisi perekonomian yang dihadapi kurang menguntungkan. Konsekuensi lain dari rendahnya nilai aktiva tetap adalah mudah mengnyesuaikan dengan produknya, sehingga sebagai akibatnya akan memiliki derajat imunitas yang tinggi terhadap gejolak perekonomian internasional.

6

(29)

16

c. Sebagian besar usaha kecil merupakan usaha padat karya (labor intensive) yang disebabkan penggunaan teknologi sederhana, sehingga distribusi pendapatan bisa lebih tercapai. Selain itu keunggulan usaha kecil terdapat pada hubungan yang erat antara pemilik dengan karyawan menyebabkan sulitnya terjadi PHK (pemutusan hubungan kerja). Keadaan ini menunjukkan betapa usaha kecil memiliki fungsi sosial ekonomi.7

Beberapa kelemahan dari usaha kecil, mikro dan menengah adalah:

a. Adanya beberapa risiko di luar kendali wirausaha, seperti perubahan mode, peraturan pemerintah, persaingan, masalah tenaga kerja, serta masalah modal dapat menghambat bisnis. Beberapa bidang usaha kecil cenderung menghasilkan pendapatan yang tidak teratur sehingga pemilik tidak mendapat profit.

b. Mengelola bisnis sendiri juga berarti menyita waktu yang cukup banyak sehingga tidak ada waktu yang cukup bagi keluarga dan waktu untuk berekreasi. 8

Berdasarkan pendapat di atas maka diketahui bahwa yang dimaksud dengan usaha kecil dan menengah adalah suatu badan usaha, baik yang yang berbadan hukum maupun tidak, menjalankan usahanya dengan menggunakan modal yang relatif kecil dan bidang usahanya tidak terlalu besar serta dikelola oleh sedikit orang dengan manajemen yang sederhana. Jenis-jenis usaha kecil dan menengah adalah usaha makanan ringan produksi rumah tangga, usaha konveksi skala kecil, usaha

7

Lie Liana. Usaha Kecil Sebagai Sarana Memperkokoh Struktur Perekonomian Nasional. Yayasan Obor. Jakarta. 2008. hlm.12.

8

(30)

17

peternakan unggas, usaha perikanan, usaha meubel, bengkel dan dan kerajinan rumah tangga.

2.3 Pembinaan dan Pengelolaan Usaha Kecil

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembinaan berasal dari kata bina, yang artinya membangun, mendirikan, memperbaiki, atau memperbaharui. Sedangkan pembinaan didefinisikan sebagai hal atau cara dari hasil membina.9

Pembinaan adalah upaya pendidikan, baik formal maupun non formal, yang dilaksanakan secara sadar, berencana, dan terarah, tertur, dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar-dasar kepribadian yang seimbang, utuh, dan selaras pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat, kecenderungan, keinginan, serta kemampuan-kemampuannya sebagai bekal untuk selanjutnya, atas prakarsa sendiri menambah, meningkatkan, dan mengembangkan dirinya, sesamanya, maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu, dan kemampuan manusia yang optimal dan kepribadian yang mandiri. 10

Pembinaan terhadap kelompok usaha kecil ini merupakan perwujudan dari kebijakan pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, pembinaan sumberdaya manusia dan memperbaiki tingkat kesejahteraannya. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memeratakan akses seluruh masyarakat terhadap proses pembangunan dan hasil-hasilnya. Selain itu perlu adanya perhatian khusus terhadap kelompok masyarakat yang memiliki usaha kecil. Penanganan kemiskinan pada prinsipnya

9

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. 1998. hlm. 34.

10

(31)

18

merupakan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi sumberdaya alam yang tidak menguntungkan dan rendahnya akses kelompok masyarakat miskin terhadap peluang-peluang yang tersedia, termasuk dalam hal menjalankan usaha.11

Sasaran pengentasan yang perlu diutamakan adalah peningkatan kualitas dan kemampuan sumberdaya manusia dan mengembangkan tingkat partisipasi kelompok masyarakat miskin dengan jalan membuka peluang-peluang usaha produktif yang dapat diakses oleh kelompok masyarakat miskin. Hal ini bermakna bahwa dengan mengacu kepada dua sasaran tersebut maka bantuan kebijakan pembangunan harus diberikan dalam bentuk kegiatan yang dapat meningkatkan penghasilan, kemampuan berusaha, upaya meringankan beban hidup masyarakat, pemenuhan prasarana dasar sosial, pemberian modal kerja melalui kelompok swadaya masyarakat untuk dapat digulirkan lebih lanjut dan pembangunan /rehabilitasi sarana dan prasarana fisik yang menunjang kegiatan produktif masyarakat dan pemasaran hasil produksi pelaku usaha kecil di kota.12

Pemerintah daerah memberikan dukungan kepada masyarakat untuk memberdayakan diri untuk pengembangan kegiatan usaha kecil serta meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi pelaku usaha kecil menjadi jejaring atau mitra keuangan dalam rangka akses ke permodalan. Kebijakan di atas merupakan serangkaian kegiatan untuk menumbuh kembangkan kemampuan berusaha pada individu dan kelompok dalam upaya penanggulangan masalah kemiskinan yang terjadi di masyarakat. Usaha kecil yang dilaksanakan

11

Ibid. hlm. 77. 12

(32)

19

masyarakat diharapkan dapat menjadikan masyarakat menjadi lebih mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Selain itu bertujuan untuk menjadikan masyarakat sebagai subjek dan objek dalam pembangunan.

Kelompok usaha kecil berperan dalam upaya mewujudkan pembangunan daerah yang tangguh tantangan yang dihadapi semakin berat. Sistem ekonomi yang sangat terbuka menyebabkan persaingan bukan saja datang dari sektor domestik tapi datang juga dari sektor luar negeri. Oleh karena itu berbagai komponen perlu bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu strategi ke arah itu adalah pengembangan kemitraan. Tentu kondisi ini baru terwujud jika diantara pelaku usaha tercipta rasa saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.

Keterbatasan pelaku usaha kecil dalam mengakses sumber modal menunjukkan bahwa mereka mengalami beragam tekanan, baik tekanan ekonomi maupun tekanan sosial. Tekanan ekonomi berhubungan langsung dalam pengadaan sarana produksi usaha dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu tekanan sosial lebih bersifat kepada penilaian sebagian besar masyarakat di luar pelaku usaha kecil yang menilai bahwa pelaku usaha kecil itu terbelakang dan tertinggal karena tidak mempunyai keinginan untuk maju. Ini yang menyebabkan sebagian besar pelaku usaha kecil mengalami kemunduran usaha.13

Kebijakan pemerintah ini diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan dan mendukung terciptanya lapangan pekerjaan serta membantu penguatan modal dalam kegiatan usaha di berbagai bidang sehingga pada

13

(33)

20

akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah berusaha melaksanakan penanggulangan kemiskinan dan peningkatan lapangan kerja bagi masyarakat, untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran, meningkatkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku usaha, memberdayakan masyarakat dalam mengembangkan usaha mereka.14

Setiap individu menjadi otonom sehingga mereka bisa mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang ada di dalam dirinya secara optimal. Individu-individu yang otonom ini selanjutnya akan membentuk komunitas yang otonom, dan akhirnya bangsa yang mandiri serta unggul. Pada dasarnya individu-individu yang otonom menjadi modal dasar bagi perwujudan otonomi daerah yang hakiki. Dengan dasar ini, maka penguatan otonomi daerah harus membuka kesempatan yang sama dan seluas-luasnya bagi setiap pelaku, bagi setiap individu untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya dalam mencapai kesejahteraan yang diharapkan.

Pembinaan berarti mempersiapkan pelaku usaha kecil untuk memperkuat diri dan kelompok mereka dalam berbagai hal, khusunya di ekonomi. Sehubungan di atas maka pemerintah dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat dan menyediakan waktu yang cukup untuk mengembangkan mereka sampai benar-benar mandiri. Dari sisi pemerintah, inisiatif lokal dibutuhkan apabila pemerintah belum mampu memberikan pelayanan yang memadai, sementara kemampuan perencanaan pusat juga dalam kondisi lemah. Dari sisi masyarakat lokal, di antaranya adalah karena masih banyaknya sumberdaya yang

14

(34)

21

belum termanfaatkan, yang dipandang akan lebih efektif apabila menggunakan kebijakan lokal.

Penjelasan tersebut mengandung makna bahwa kebijakan pembangunan tidak dapat dilepaskan dari konsep kemandirian lokal mengisyaratkan, bahwa semua tahapan dalam proses pemberdayaan harus dilakukan secara terdesentralisasi. Upaya pemberdayaan dengan prinsip sentralisasi, deterministik, dan homogen dalam hal ini harus dihindari. Karena itu upaya pemberdayaan yang berbasis pada pendekatan desentralisasi akan menumbuhkan kondisi otonom, dimana setiap komponen akan tetap eksis dengan berbagai keragaman yang dikandungnya. Upaya pemberdayaan yang berciri sentralisitik tidak akan mampu memahami karakteristik spesifik tatanan yang ada, dan cenderung akan mengabaikan karakteristik tatanan. Sebaliknya upaya pemberdayaan yang dilakukan secara terdesentralisasi akan mampu mengakomodasikan berbagai keragaman tatanan. Usaha kecil memiliki kontribusi yang besar bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi maupun sosial. Usaha kecil dalam konteks penelitian ini dapat meredakan gejolak sosial dan ekonomi, karena jenis usaha ini relatif mudah dilakukan oleh pelaku usaha kecil. Usaha kecil menjadi alternatif pilihan sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Usaha kecil bagi masyarakat juga menjadi salah satu penopang kebutuhan ekonomi rumah tangga, sebab usaha kecil yang relatif mudah dimasuki dapat menjadi alternatif usaha sehingga kebutuhan rumah tangga tetap dapat terpenuhi. Usaha kecil menjadi harapan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari karena hasil pertanian sulit diharapkan. 15

15

(35)

22

2.4 Dasar Hukum Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Dasar hukum Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Menurut pertimbangan undang-undang ini dinyatakan bahwa pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam huruf b, perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas-luasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan;

Prinsip Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menurut Pasal 4 UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah:

c. Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;

d. Perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan; e. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai

dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; f. Peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;

(36)

23

a. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan;

b. Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; dan

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris.

1. Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan melalui studi kepustakaan (library research) dengan cara membaca, mengutip dan menganalisis teori-teori hukum dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian.

2. Pendekatan yuridis empiris adalah upaya untuk memperoleh kejelasan dan pemahaman dari permasalahan berdasarkan realitas yang ada berdasarkan hasil wawancara di lokasi penelitian1

3.2Sumber dan Jenis Data

Berdasarkan sumbernya, data terdiri dari data lapangan dan data kepustakaan. Data lapangan adalah yang diperoleh dari lokasi penelitian, sementara itu data kepustakaan adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber kepustakaan. Jenis data meliputi data primer dan data sekunder2 Data yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut:

1

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1983, hlm.7.

2

(38)

25

3.2.1 Data Primer

Data primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian dengan cara melakukan observasi dan wawancara (interview) dengan narasumber yang mengetahui masalah yang akan diteliti. Narasumber penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kepala Bidang Usaha Kecil Menengah (Guntari, S.Sos.)

b. Kepala Seksi Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (Meidian, SH) c. Kepala Subbagian Monitoring dan Evaluasi (Ir. Yeni Wati)

3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi kepustakaan (library research), dengan cara membaca, menelaah dan mengutip terhadap berbagai teori,

asas dan peraturan yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Bahan Hukum Primer, terdiri dari:

(a) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (b)Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan

Menengah

(c) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota

(39)

26

(e) Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung

(f) Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Izin Usaha Industri

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder dalam penelitian bersumber dari bahan-bahan hukum yang dapat membantu pemahaman dalam menganalisa serta memahami permasalahan, berbagai buku hukum, arsip dan dokumen, brosur, makalah dan sumber internet.

3.3 Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan:

1) Studi pustaka (library research), adalah pengumpulan data dengan melakukan serangkaian kegiatan membaca, menelaah dan mengutip dari bahan kepustakaan serta melakukan pengkajian terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pokok bahasan

2) Studi lapangan (field research), dilakukan sebagai usaha mengumpulkan data secara langsung di lokasi penelitian guna memperoleh data yang dibutuhkan melalui wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dipersiapkan sebelumnya.

3.4 Prosedur Pengolahan Data

(40)

27

1. Seleksi Data

Data yang terkumpul kemudian diperiksa untuk mengetahui kelengkapan data selanjutnya data dipilih sesuai dengan permasalahan yang diteliti.

2. Klasifikasi Data

Penempatan data menurut kelompok-kelompok yang telah ditetapkan dalam rangka memperoleh data yang benar-benar diperlukan dan akurat untuk kepentingan penelitian.

3. Penyusunan Data

Penempatan data yang saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan yang bulat dan terpadu pada subpokok bahasan sesuai sistematika yang ditetapkan untuk mempermudah interpretasi data

3.5 Analisis Data

(41)

BAB V P E N U T U P

5.1Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Kinerja Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah adalah:

a. Penciptaan iklim usaha yang kondusif, yaitu memudahkan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah untuk mengembangkan usaha mereka dan memberikan pembinaan kepada pelaku usaha.

b. Peningkatan akses kepada sumber daya produktif, yaitu melaksanakan kebijakan pendidikan dan pelatihan wirausaha kepada sumber daya manusia pelaku usaha mikro, kecil dan menengah untuk meningkatkan produksi serta memperbaiki manajemen usaha yang ditekuninya.

(42)

59

2. Faktor penghambat kinerja Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung dalam pembinaan dan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah adalah:

a. Keterbatasan anggaran dalam memberikan bantuan modal usaha kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Akibatnya belum semua pelaku usaha kecil ini memperoleh bantuan berupa dana pengembangan usaha dari Pemerintah Kota Bandar Lampung.

b. Keterbatasan sumber daya manusia pelaku usaha kecil, yang berdampak pada lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar dan kualitas persaingan usaha yang rendah.

5.2Saran

Saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Disarankan kepada Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandar Lampung disarankan untuk meningkatkan intensitas pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, dengan cara membuat jadwal khusus pada setiap kecamatan dan kelurahan. Hal ini penting dilakukan agar pada masa yang akan datang semua pelaku usaha di seluruh kelurahan dan kecamatan memperoleh pendidikan dan pelatihan kewirausahaan.

(43)

60

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Admosudirjo, Prajudi. Teori Kewenangan. PT. Rineka Cipta Jakarta. 2001. Azwar, Azrul. Pengantar Administrasi, BinaAksara, Jakarta. 1999.

Gaffar, Affan . Paradigma Baru Otonomi Daerah dan Implikasinya, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 2006.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. 1998. Fauzi, Ahmad. Membangun Usaha Kecil dan Menengah, Bina Cipta, Jakarta,

2001,

Handayaningrat, Soewarno. Administrasi dan Pembangunan Nasional, Gunung Agung, Jakarta. 2001.

Himawan, Muammar. Pokok-Pokok Organisasi Modern. Bina Ilmu. Jakarta.2004. Hasibuan, Malayu S.P. Organisasi dan Manajemen. Rajawali Press. 2004.

Hariyoso, Soewarno. Dasar-Dasar Manajemen dan Administrasi, Penerbit Erlangga, Jakarta. 2002.

Jefferson, Rumajar. Otonomi Daerah: Sketsa. Gagasan dan Pengalaman, Media Pustaka, Manado, 2006

Liana, Lie. Usaha Kecil Sebagai Sarana Memperkokoh Struktur Perekonomian Nasional. Yayasan Obor. Jakarta. 2008.

Martin Perry. Mengembangkan Usaha Kecil. Murai Kencana. Jakarta. 2000, Manan, Bagir. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi Hukum.

Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta, 2005

Putra, Fadillah. Paradigma Kritis dalam Studi Kebijakan Publik. Pustaka Pelajar. 2001.

(45)

Syafiie, Inu Kencana. Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia. Bumi Aksara. Jakarta.2003.

Wahab, Solichin Abdul. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Bumi Aksara. Jakarta. 2005. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan

Menengah

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah

Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung

Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Izin Usaha Industri

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...