GAMBARAN RADIOGRAFI CROUZON SYNDROME
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh :
CHAIRANI
NIM : 040600146
DEPARTEMEN RADIOLOGI DENTAL
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi Ini Telah Disetujui Untuk Dipertahankan
Di Hadapan Tim Penguji Skripsi
Pembimbing, Medan, 12 Agustus 2009
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
Crouzon’s syndrome merupakan penyakit autosomal dominan yang
disebabkan oleh mutasi gen pertumbuhan FGFR 2 (Fibroblast Growth Factor
Receptor 2) kromosom 10, kepala tidak berkembang dengan sempurna. Insiden
crouzon syndrome berkisar antara 1: 25000 sampai 1: 60000 kelahiran.
Secara klinis mempunyai kepala yang pendek dan lebar, atau sekitar 30%
penderita crouzon’s syndrome mengalami hydrocephalus. Manifestasi penyakit ini di
rongga mulut antara lain: protrusi mandibula, gigi berjejal pada maksila, maksila
atresia, crossbite anterior dengan open bite posterior, lengkung rahang maksila
berbentuk huruf V, cleft palate, bifid uvula, terkadang oligodontia, makrodonsia,
peg-shaped, dan diastema.
Gambaran radiografi yang dilihat melalui foto panoramik atau foto lateral
adalah sclerosis dan overlapping edges dengan manifestasi berupa hipoplasia
maksila, maloklusi klas III dan mandibula prognasi. Khusus untuk tulang tengkorak
kepala (spesifik) terlihat seperti logam tempa ”copper beating”. Perawatan yang
dapat dilakukan berupa bedah dan perawatan ortodonti. Prognosis tergantung pada
KATA PENGANTAR
Ucapan puji dan syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT beserta salawat
dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SWA atas limpahan kemudahan yang
diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu
syarat guna mendapat gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan,
saran dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis tercinta, ibunda
Supiah dan ayahanda M. Syarif, kakak tersayang Syafitri Erlianti, SE, abangda
Syahrial, SE, Bripka. Zulkifli, SH dan adik tercinta M. Armadi, serta Dany
Agusdarma Lizar, yang tiada henti-hentinya melimpahkan doa, kasih sayang,
dukungan dan pengorbanan yang tulus.
Penulis juga ingin mengucapkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Trelia Boel, drg., M.Kes., Sp.RKG selaku kepala bagian Radiologi Dental
Fakultas Kedokteran Gigi USU dan juga selaku pembimbing skripsi, yang telah
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi
2. Rusfian, drg., selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing
penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara.
3. Bapak Eddy Dahar, drg., M.Kes, selaku Pembantu Dekan I yang telah
memberikan bimbingan, arahan serta nasehat kepada penulis.
4. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama menuntut ilmu.
5. Kepada semua sahabat-sahabatku yang telah meluangkan waktu, pikiran,
memberikan semangat dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini.
6. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis hingga selesai skripsi ini.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam
memberikan sumbangan pemikiran kepada kita semua, amin.
Medan, 10 Agustus 2009 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii
ABSTRAK ... iv 3.1 Gejala Klinis Crouzon Syndrome di Rongga Mulut ... 7
3.2 Gambaran Radiografi ... 11
BAB 4 : PERAWATAN DAN PROGNOSIS CROUZON SYNDROME 4.1 Perawatan Crouzon Syndrome ... 15
4.2 Prognosis ... 17
BAB 5 : K E S I M P U L AN... 18
DAFTAR PUSTAKA ... 19
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 : Anatomi sutura dan fontanelles yang normal pada
tengkorak kepala.11 ... 4
Gambar 2 : Gambar sebelah kiri menunjukkan sagital synostosis
(dilihat dari superior) dengan ridged, sutura sagital
menyatu, dua buah temporal memanjang, pada gambar
sebelah kanan terlihat frontal dan occipital bossing.11... 5
Gambar 3. Gambaran wajah anak penderita crouzon syndrome berusia
2 tahun. Pada gambar diatas terlihat, hypertelorism dan
midfacial hipoplasia.6 ... 8
Gambar 4 Terlihat pada gambar hidung yang menonjol dan tajam
terlihat seperti paruh, dan pada mata terlihat orbital
proptosis (bola mata keluar)2 ... 8
Gambar 5 Pada gambar terlihat maksila atresia dari crouzon
syndrome. ... 9
Gambar 6 Gambar menunjukkan maksila atresia pada anak laki-laki
penderita crouzon syndrome. ... 10
Gambar 7. Pada gambar terlihat crossbite anterior dengan open bite
Gambar 8. Pada gambar diatas terlihat cleft lip dan cleft palate pada
maksila.6 ... 11
Gambara 9: Pada gambar C terlihat penyatuan sutura cranial yang
terlalu cepat dan tekanan pada permukaan dalam
kalvarium akibat pertumbuhan otak. Gambar D dan E
menunjukkan penutupan kranium sutural dengan tanda
yang jelas.8,9 ... 12
Gambar 10 : Gambaran radiografi tengkorak kepala lateral, gambaran ini
menunjukkan cranio-plasti (tanda panah). “copper
beating”atau logam tempa, memberikan efek pada seluruh
bagian frontal ditandai dengan adanya hydrocephalus yang
disebabkan oleh kraniositosis. Gambar diatas juga
menunjukkan hipoplasia maksila dan mandibula
prognasi.10 ... 13
Gambar 11. Gambaran panoramik penderita crouzon syndrome pada
anak laki-laki. 6 ... 14
Gambar 12. Gambaran radiografi panoramik penderita crouzon
syndrome pada anak perempuan.6... 14
Gambar 13. Gambar pertama merupakan gambar perempuan muda
penderita crouzon’s dan gambar kedua menunjukkan
gambaran setelah hasil perawatan dari orbital
hypertelorism, mandibula menjadi mundur dan maksila
maju menjadi oklusi normal serta terjadi pengurangan
Gambar 14. Gambar kiri merupakan gambar anak laki-laki berusia 2
tahun dengan Crouzon syndrome. Gambar sebelah kanan
menunjukkan gambaran setelah dilakukannya operasi dahi
menjadi maju dan dibutuhkan osteotomi monoblok setelah
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
Crouzon’s syndrome merupakan penyakit autosomal dominan yang
disebabkan oleh mutasi gen pertumbuhan FGFR 2 (Fibroblast Growth Factor
Receptor 2) kromosom 10, kepala tidak berkembang dengan sempurna. Insiden
crouzon syndrome berkisar antara 1: 25000 sampai 1: 60000 kelahiran.
Secara klinis mempunyai kepala yang pendek dan lebar, atau sekitar 30%
penderita crouzon’s syndrome mengalami hydrocephalus. Manifestasi penyakit ini di
rongga mulut antara lain: protrusi mandibula, gigi berjejal pada maksila, maksila
atresia, crossbite anterior dengan open bite posterior, lengkung rahang maksila
berbentuk huruf V, cleft palate, bifid uvula, terkadang oligodontia, makrodonsia,
peg-shaped, dan diastema.
Gambaran radiografi yang dilihat melalui foto panoramik atau foto lateral
adalah sclerosis dan overlapping edges dengan manifestasi berupa hipoplasia
maksila, maloklusi klas III dan mandibula prognasi. Khusus untuk tulang tengkorak
kepala (spesifik) terlihat seperti logam tempa ”copper beating”. Perawatan yang
dapat dilakukan berupa bedah dan perawatan ortodonti. Prognosis tergantung pada
keparahan malformasi.
BAB 1
PENDAHULUAN
Crouzon syndrome merupakan kelainan bawaan pada janin yang masih di
dalam kandungan saat terjadinya pembentukan organ-organ. Namun, dalam kasus
crouzon syndrome pembentukan organ-organ tersebut tidak berkembang dengan baik,
khususnya pada kepala. Ketika lahir bentuk kepala tidak sempurna. Lebih tepatnya,
tulang pada kepala sudah menutup sebelum waktunya. Seharusnya tulang pada
kepala, yang disebut dengan ubun-ubun masih terbuka sampai anak usia 18-24
bulan.1
Keadaan ubun-ubun lebih cepat menutup, maka otak sulit untuk berkembang
sehingga mendesak bagian lain. Bentuk kepala menjadi tidak proporsional dan
membuat bentuk wajah menjadi tidak proporsional. Secara radiografi pada pasien
crouzon syndrome yang dapat terlihat yaitu adalah sklerosis dan overlapping edges
dengan manifestasi berupa hipoplasia maksila, maloklusi klas III dan pada permukaan
dalam kranium secara radiografi tampak seperti logam tempa ”copper beating”.1,2
Perawatan crouzon syndrome yang dapat dilakukan berupa bedah dan
perawatan ortodonti. Prognosis tergantung pada keparahan malformasi, dan
umumnya bisa dirawat dengan bedah sehingga memungkinkan pasien untuk
Dalam skripsi ini penulis akan membahas tentang definisi, etiologi, tanda dan
gejala, gambaran klinis serta gambaran radiografi. Dalam skripsi ini juga akan
BAB 2
DEFINISI, ETIOLOGI SERTA TANDA DAN GEJALA
2.1Definisi
Crouzon syndrome merupakan penyakit autosomal dominan dengan gejala
yang bervariasi yang disebabkan oleh mutasi gen pertumbuhan FGFR2 (Fibroblast
Growth Factor Receptor 2) pada kromosom 10. Octave Crouzon (1912)
memperkenalkan sindrom herediter kraniofasial dysostosis pada ibu dan anak
laki-laki. Crouzon menggambarkan tiga kelainan bentuk tulang calvaria, anomali wajah,
dan exophthalmos. Penyakit ini dikarakteristikkan dengan tulang calvaria yang
terlalu cepat menutup dan sutura basis kranial dan juga seperti halnya orbital dan
maksila secara kompleks (craniosynostosis). 1,2,3,4,5
Kranium tersusun atas beberapa tulang yang dipisahkan oleh sutura. Sutura ini
membuat kranium membesar dan berkembang bersamaan dengan perkembangan
otak. Jika satu atau lebih sutura menutup lebih cepat, khususnya sebelum otak
berkembang secara sempurna, maka kemungkinan perkembangan otak akan menekan
kranium dan dapat mengakibatkan terbukanya sutura yang lain. Hal ini dapat
menyebabkan ketidaknormalan bentuk kepala dan pada beberapa kasus dapat
mempercepat perkembangan otak. 1,4
Penyatuan sutura yang terlalu cepat melibatkan sagital dan koronal sutura.
terjadi sendiri atau bersamaan dengan kelainan lain. Pada crouzon syndrome tidak
ditemukan kelainan pada jari-jari seperti yang terdapat pada penyakit Apert’s Pfeiffer
dan Saethre-Chotzen syndrome sebagai diagnosa bandingnya.1,2,4
2.2Etiologi
Crouzon syndrome disebabkan oleh mutasi gen pertumbuhan FGFR2
(Fibroblast Growth Factor Receptor 2) kromosom 10. Mutasinya gen FGFR2
memiliki efek yang berbeda pada tiap individu. Prematur synostosis pada sutura
koronal, sagital dan kadang-kadang sutura lamboidal dimulai pada tahun pertama
kelahiran dan berakhir pada tahun kedua atau ketiga. Urutan dan kecepatan penyatuan
sutura menentukan tingkat deformitas dan kecacatan. 1,2,3
Gambar 2 : Gambar sebelah kiri menunjukkan sagital synostosis (dilihat dari superior) dengan ridged, sutura sagital menyatu, dua buah temporal memanjang, pada gambar sebelah kanan terlihat frontal dan occipital bossing.11
Pada saat sutura tertutup, pertumbuhan sutura secara tegak lurus menjadi
terbatas dan tulang menjadi stuktur yang tunggal. Keseimbangan pertumbuhan
terjadi pada saat mempertahankan terbukanya sutura untuk perkembangan otak.
Bagaimanapun, semakin besar frekuensi sutura synostosis akan mengakibatkan
penyatuan yang cepat dari sutura basis kranium, hipoplasia midfacial, orbital yang
dangkal, dorsum nasal yang pendek, hipoplasia maksila, dan terkadang terjadi
penyumbatan pernapasan atas.1
Jika kedua orang tua tidak menderita crouzon syndrome, kesempatan kedua
anak yang lahir dengan crouzon syndrome sangat kecil. Namun, jika salah satu orang
tua menderita crouzon syndrome, kemungkinan bahwa setiap kehamilan akan
menghasilkan anak dengan sindrom adalah 1 dari 2 (50% risiko). Jika anak yang lain
syndrome), maka anak yang nantinya lahir tidak menderita crouzon syndrome. Jika
ada anggota keluarga lain memiliki crouzon syndrome, maka risiko terjadinya
crouzon syndrome untuk setiap kehamilan sebesar 50%.3
2.3Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dari crouzon syndrome tergantung pada bagaimana dan
kapan sutura kranial menyatu dengan cepat selama perkembangan janin. Tanda dan
gejala yang sering terjadi antara lain:1,2
1. Pembentukan tulang kepala yang terlalu cepat (craniosynostosis)
2. Perkembangan yang lambat dari hidung dan soket mata (midface hypoplasia)
3. Hidung berbentuk paruh
4. Mikrotia pada telinga
5. Kehilangan atau mengecilnya kanal telinga (congenital aural atresia)
6. Penyakit ini menyebabkan kehilangan pendengaran
7. Anomali pada tangan dan kaki (tetapi bukan syndactyly)
8. Acanthosis nigricans
9. Mandibula prognasi, gigi rahang atas crowded, oligodontia, cleft palate,
BAB 3
GEJALA KLINIS DAN GAMBARAN RADIOGRAFI CROUZON SYNDROME
DI RONGGA MULUT
3.1Gejala Klinis Crouzon Syndrome di Rongga Mulut
Pada pasien crouzon syndrome secara klinis mempunyai kepala yang pendek
dan lebar (tengkorak kepala pendek), atau sekitar 30% penderita crouzon syndrome
mengalami hydrocephalus. Hipertelorism, dan orbital proptosis dan divergent
strabismus. Berdasarkan riwayat keluarga, hipertelorism dan orbital proptosis dapat
dijadikan kriteria minimal untuk diagnosa penyakit crouzon syndrome.1,2,5,6,7,8,9,10
Penderita crouzon syndrome kemungkinan menjadi buta diakibatkan sutura
yang terlalu cepat menutup dan peningkatan tekanan intrakranial. Hidung terlihat
menonjol dan tajam terlihat seperti paruh karena maksila yang sempit dan pendek
dalam arah vertikal dan anteroposterior. Tulang hidung anterior hipoplastik dan
retrusi sehingga tidak mampu untuk mendukung jaringan lunak hidung. Langit-langit
pada palatum tinggi, lengkung rahang sempit dan retrusi. Hal ini mengakibatkan gigi
pada rahang atas berjejal atau crowded.1,2,6,8,9
Telinga pada penderita crouzon syndrome secara klinis memiliki kanal telinga
sempit atau tidak ada serta terjadi deformasi pada bagian tengah telinga. Kira- kira
5% kulitnya menderita acantosis nigricans, dimana hal ini dapat diketahui setelah
Gambar 3. Gambaran wajah anak penderita crouzon syndrome berusia 2 tahun. Pada gambar diatas terlihat, hypertelorism dan midfacial hipoplasia.6
Crouzon syndrome merupakan penyakit autosomal dominan yang disebabkan
oleh mutasi gen pertumbuhan FGFR2, hal ini mengakibatkan sutura kranium yang
cepat menutup. Adapun manifestasi penyakit ini yang dapat ditemukan di rongga
mulut antara lain :1,2,5,6
1. Protrusi mandibula
Penderita crouzon syndrome akan mengalami prognathism mandibula.
Prognatishm mandibula adalah protusi rahang bawah yang melebihi jarak normal
dari basis kranium.
2. Maksila atresia
Gambar 6 Gambar menunjukkan maksila atresia pada anak laki-laki penderita crouzon syndrome.
3. Gigi berjejal pada maksila.
4. Crossbite anterior dengan open bite posterior
Gambar 7. Pada gambar terlihat crossbite anterior dengan open bite pada gigi posterior pada penderita crouzon syndrome 2
6. Cleft palate dan bifid uvula
Gambar 8. Pada gambar diatas terlihat cleft lip dan cleft palate pada maksila.6
7. Terkadang oligodontia, makrodonsia, peg-shaped, dan diastema.
3.2Gambaran Radiografi
Tanda awal radiografi pada pasien crouzon syndrome sutura cranial
synostosis adalah sklerosis dan overlapping edges. Secara normal sutura tulang
tengkorak kepala adalah radiolusen, namun pada kasus ini tidak terdeteksi yang
terlihat hanya perubahan jaringan sklerotik. Penyatuan dasar kranium yang cepat
mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan wajah.8,9
Dalam beberapa kasus terlihat perubahan dari kranium, dimana sering terlihat
adanya pertumbuhan yang normal pada penderita crouzon syndrome karena adanya
peningkatan tekanan intrakranial dari perkembangan otak. Perubahan ini terlihat
Gambara 9: Pada gambar C terlihat penyatuan sutura cranial yang terlalu cepat dan tekanan pada permukaan dalam kalvarium akibat pertumbuhan otak. Gambar D dan E menunjukkan penutupan kranium sutural dengan tanda yang jelas.8,9
Pertumbuhan yang kurang pada dasar kranium dalam arah anterior posterior
mengakibatkan hipoplasia maksila, maloklusi klas III pada beberapa pasien.
Hipoplasia maksila merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya orbital
proptosis disebabkan karena bentuk batas dari inferior orbital dan jika maksila
hipoplasti yang parah, maka maksila tidak dapat mendukung orbital secara adekuat.
Secara tipikalnya pada crouzon syndrome mandibula lebih kecil dari maksila, tetapi
pada crouzon syndrome dimana maksila hipoplasia terlihat mandibula
prognasi.1,8,9,10,11,12
Diangnosa banding dari crouzon syndrome adalah Apert Syndrome dan
Saethre-Chotzen Syndrome dimana terlihat adanya prematur craniositosis yang
merupakan bagian dari sindrom genetik yang sering terjadi. Insiden crouzon
craniosytosis harus dibedakan dengan crouzon syndrome, termasuk sindrom-sindrom
lain dari craniositosis dan koronal craniositosis sindrom. Karakteristik wajah
membantu mendiagnosa crouzon syndrome.1,2,4,8,
Gambar 11. Gambaran panoramik penderita crouzon syndrome pada anak laki-laki. 6
BAB 4
PERAWATAN DAN PROGNOSIS CROUZON SYNDROME
4.1Perawatan Crouzon Syndrome
Perawatan crouzon syndrome tergantung dari tiap individu dan usia. Untuk
bayi, operasi diperlukan untuk melepas dan kembali dari tulang tengkorak kepala,
sehingga dapat tumbuh lebih normal. Ortodonsi dilakukan untuk meluruskan gigi dan
rahang, mengembalikan gigi ke posisi yang lebih normal, bisa dilakukan pada masa
kanak-kanak, anak remaja, dewasa. Operasi yang sulit biasanya dilakukan oleh
Dokter Ahli Bedah Kraniofasial.3
Perawatan pasien crouzon syndrome tahap pertama melibatkan perawatan dari
craniosynostosis dengan memperbaiki sesuai kebutuhan dan kemajuan dari
frontal-orbitalnya. Prosedur ini biasanya dilakukan pada usia empat sampai enam bulan dan
efektif untuk meningkatkan ruang intrakranial dan orbital diperbesar. Tidak biasa
dilakukan untuk ventriculo-peritoneal shunt yang biasa dilakukan pada penderita
hydrocephalus yang tidak bisa diterapkan pada penderita crouzon syndrome.
Terkadang pembedahan kranium diperlukan pada anak penderita crouzon syndrome
untuk perbaikan kranium dan orbital.2,3,4,
Tahap berikutnya dilakukan rekonstruksi pada wajah ketika anak berumur
empat sampai enam tahun. Jenis keberhasilan perawatan ini dapat dicapai dengan
baik bila LeFort III dibarengi dengan perawatan osteotomi monoblok. Posisi dahi dan
Tahap akhir rekonstruksi adalah perawatan maloklusi gigi kelas III. LeFort I
osteotomi digunakan untuk memperbaiki kelainan gigi dengan kombinasi perawatan
orthodonti. Hal ini biasanya dilakukan setelah pertumbuhan wajah selesai dan dapat
dikombinasikan dengan genioplasty. Prosedur tambahan seperti rhinoplasty mungkin
diperlukan dalam rekontruksi wajah.11,12
Gambar 14. Gambar kiri merupakan gambar anak laki-laki berusia 2 tahun dengan Crouzon syndrome. Gambar sebelah kanan menunjukkan gambaran setelah dilakukannya operasi dahi menjadi maju dan dibutuhkan osteotomi monoblok setelah anak berusia empat sampai enam tahun.12
4.2Prognosis
Prognosis bagi pasien crouzon syndrome adalah baik, tetapi tergantung pada
keparahan malformasinya, inovasi dari bedah kraniofasial telah memungkinkan
pasien penderita crouzon syndrome untuk mendapatkan kehidupan yang baik dan
BAB 5
K E S I M P U L AN
Crouzon syndrome merupakan penyakit autosomal dominan dengan gejala
yang bervariasi. Kelainan yang dijumpai pada keadaan ini adalah kalvaria, anomali
wajah, dan exophthalmos.
Adapun manifestasi penyakit crouzon syndrome ini yang dapat ditemukan di
rongga mulut antara lain: protrusi mandibula, gigi berjejal pada maksila, maksila
atresia, crossbite anterior dengan open bite posterior, lengkung rahang maksila
berbentuk huruf V, cleft palate dan bifid uvula, terkadang oligodontia, makrodonsia,
peg-shaped, dan diastema.
Sedangkan secara radiografi terlihat pada foto panoramik atau foto lateral
pasien crouzon syndrome adalah sklerosis dan overlapping edges dengan manifestasi
berupa hipoplasia maksila dan maloklusi klas III. Secara normal tulang tengkorak
kepala tidak terdeteksi tetapi yang terlihat hanya sklerosis yang seharusnya pada
sutura yang normal terlihat radiolusen, perubahan ini terlihat sebagai multiple
radiolusen yang muncul akibat tekanan dari permukaan dalam kranium yang tampak
seperti logam tempa (”copper beating”).
Perawatan crouzon syndrome yang dapat dilakukan berupa bedah dan
perawatan ortodonti. Prognosis ini baik tergantung pada keparahan malformasinya,
inovasi dari bedah kraniofasial telah memungkinkan pasien untuk mendapatkan
DAFTAR PUSTAKA
1. Chen H. Crouzon’s Syndrome. Departements of pediaxtrics, Obstetrics and
Gynecology, Pathology, Director of Perinatal genetics and genetic laboratori
services, Louisiana State University Medical Centre, Laboratory director,
Hema-concencer Citogenetics Laboratory, Gaynesville, Florida, 2007
2. Bergstrom, Vonne L. Congenital and Acquired Deafness in Clefting and
Craniofacial Syndrome. Cleft Palate Craniofacial Journal, 2007 : 15(3): 254-61.
3. Anonymous, information abaut Crouzon’s Syndrome (Craniofacial Dysostosis),
Cleft Palate Foundation, Chapel Hill, 2009
4. Arathi R, et al. Crouzon’s Syndrome : Case Report. Journal of Indian Society of
Pedodontics and Preventive Dentistry, 2007 : 25(5) : 10-2.
5. Steven L. Singer, et al. Dentofacial features of a family with crouzon’s syndrome.
Case reports. Australian Dental Journal, 1997 : 42(1) : 11-7.
6. Melero SJ, Leite MM, Carvalho IM. Dental Anomalies in Patients Carrying the
Apert Syndrome and the Crouzon’s Syndrome. Salusvita, Bauru, 2005 : 24(2) :
183-93.
7. Lowe LH, Booth TN, Joglar JM, Rollins NK. Midface Anomalies in Children.
Journal of RadioGraphics, 2000 : 24(4).
8. White SC, Pharoah MJ. Oral Radiology : Principles and Interpretation. 6th ed. St.
9. White SC, Pharoah MJ. Oral Radiology : Principles and Interpretation. 5th ed. St.
Louis, Missouri : Elvesier, 2004 : 640-41.
10.Leonard MA. A sporadic case of apparent crouzon’s syndrome with
extracraniofacial manifestations. Journal of Medical Genetics, 1974 : 11 :
206-08.
11.Kabbani H, Raghuveer TS. Craniosynostosis. Journal of the American Academy
of Family Physicians, 2004 : 69 : 2863-70.