• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Usahatani Kopi Samosir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Strategi Pengembangan Usahatani Kopi Samosir"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI KOPI SAMOSIR (Coffeea arabica)

(Studi kasus : Desa Tamba Dolok, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir)

SKRIPSI

OLEH :

BOIMAN GULTOM 090304079 AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

(Studi kasus : Desa Tamba Dolok, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir)

SKRIPSI

OLEH :

BOIMAN GULTOM 090304079 AGRIBISNIS

Skripsi Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Sarjana di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

(Ir. Thomson Sebayang, MT) (HM. Mozart B. Darus, M.Sc)

NIP. 19571115198611001 NIP. 196405051994032002

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

BOIMAN GULTOM (090304079) dengan judul Strategi Pengembangan Usahatani Kopi Arabika (Studi Kasus : Desa Tamba Dolok Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir). Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Ir. Thomson Sebayang, MTdan Bapak HM. Mozart B. Darus, M.Sc

Salah satu komoditas unggulan subsektor perkebunan di kabupaten Samosir adalah komoditas kopi namun kenyataan menunjukkan bahwa terjadi penurunan produksi dari tahun ke tahun.

Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi strategi pengembangan usahatani kopi Arabika di daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah secara purposive, dalam hal ini daerah penelitian dipilih di desa Tamba Dolok kecamatan Sito-tio kabupaten Samosir dan sampel dipilih sebanyak 70 orang berdasarkan pertimbangan tertentu. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis SWOT.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa alternatif strategi yang diformulasi dalam rangka pengembangan usahatani kopi Arabika di daerah penelitian adalah strategi defensif (Defensive strategic)

(4)

pada tanggal 17 November 1991 anak dari Bapak G Gultom dan Ibu M Tamba Spd. Penulis merupakan anak ke empat dari enam bersaudara

Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :

1. Tahun 1997 masuk Sekolah Dasar Negeri 1 Cinta Maju kabupaten Samosir dan tamat tahun 2003.

2. Tahun 2003 masuk Sekolah Menegah Pertama Swasta Budi Mulia Pangururan kabupaten Samosir dan tamat tahun 2006

3. Tahun 2006 masuk Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pangururan kabupaten Samosir dan tamat tahun 2009

4. Tahun 2009 Menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan

5. Bulan Agustus 2013 mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Pantai Cermin Kanan Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai

(5)

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan kasih Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Judul skripsi ini adalah : “STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI KOPI ARABIKA” (Studi kasus Desa Tamba Dolok, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir). Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini pertama penulis mengucapkan terima kasih kepada Kedua Orangtua yaitu Bapak G Gultom dan Ibu M Tamba Spd yang telah membesarkan penulis, memberikan nasihat, didikan, pengorbanan, dan dukungan baik secara meteri maupun doa sehingga penulis dapat menyelesaikan studi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Abang dan Kakak dan Adek penulis atas semangat dan motivasi yang telah diberikan selama ini.

Dalam rangka penyelesaian skripsi ini secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada kedua pembimbing skripsi saya yaitu Bapak Ir. Thomson Sebayang, MT, sebagai ketua komisi pembimbing dan Bapak HM. Mozart B. Darus, M.Sc, selaku anggota komisi pembimbing yang telah mengajari, membimbing, dan membantu mengerjakan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

(6)

3. Kepala Desa Tamba Dolok beserta pegawai lainnya.

4. Seluruh Responden dan Instansi yang terkait dengan penelitian ini. yang telah memberikan data kepada penulis selama penelitian

5. Rekan mahasiswa yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penulis menempuh pendidikan dan menyusun skiripsi ini Penulis menyadari bahwa skiripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu diharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca.

(7)

DAFTAR ISI

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka... 9

Landasan Teori ...13

Kerangka Pemikiran ...15

METODE PENELITIAN Metode Penentuan Daerah Penelitian ...18

Metode Pengambilan Sampel ...19

DESKRIPSI WILAYAH DAN KARAKTERIKTISK SAMPEL Deskripsi Wilayah Penelitian ...26

Kegiatan Pengusahaan Kopi ...28

Karakteristik Petani dan Usahatani ...30

HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Internal (Kekuatan dan Kelemahan) dan Faktor Eksternal (Peluang dan Ancaman) Usaha tani Kopi Samosir....32

(8)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...47 Saran ...48

(9)

Tabel Judul Halaman

Tabel 1 Volume dan Nilai Ekspor Kopi Arabika di Indonesia Tahun 2007-2012 .. 2 Tabel 2 Luas Areal dan Produksi Kopi Arabika Indonesia Tahun 2007- 2012….. 3 Tabel 3 Volume dan Nilai Ekspor Kopi Arabika di Provinsi Sumatera

Utara Periode 2007-201……….. 4 Tabel 4 Luas Areal Tanaman Menghasilkan dan Produksi Kopi Arabika

di Provinsi Sumatera Utara Periode 2007- 2011... 5 Tabel 5 Luas Areal Tanaman dan Produksi Kopi Arabika di Kabupaten

Samosir Periode 2007- 2011 ... 6 Tabel 6 Luas Tanaman, Produksi dan Produktivitas kopi Sumatera Utara

tahun 2011... 18 Tabel 7 Luas Tanaman Produktif, Produksi dan Produktivitas kopi Arabika

kabupaten Samosir tahun 2011... 19 Tabel 8 Luas tanaman, Produksi dan Produktivitas Kopi Arabika Kecamatan

Sitio-tio tahun 2011 ... 19 Tabel 9 Keterangan Rating Menurut Kategori ... 22 Tabel 10 Faktor Strategi ... 23 Tabel 11 Luas Lahan Tanaman Perkebunan Menurut Komoditi di Kecamatan

Sitio-tio pada Tahun 2012 ... 27 Tabel 12 Karakteristik Petani dan Usahatani Kopi ... 30 Tabel 13 Matriks Evaluasi Faktor Internal Strategi Pengembangan Usahatani

kopi kabupaten Samosir... 39 Tabel 14 Matriks evaluasi faktor eksternal sterategi pengembangan usahatani

kopi... 40 Tabel 15 Gabungan Matriks Faktor Strategi Internal - Eksternal Strategi

(10)

No Judul Halaman

1. Skema Kerangka Pemikiran ... 17

(11)

No Judul

1. Karakteristik Petani Sampel

2. Skor kekuatan yang ada di daerah penelitian 3. Skor kelemahan yang ada di daerah penelitian

(12)

Usahatani Kopi Arabika (Studi Kasus : Desa Tamba Dolok Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir). Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Ir. Thomson Sebayang, MTdan Bapak HM. Mozart B. Darus, M.Sc

Salah satu komoditas unggulan subsektor perkebunan di kabupaten Samosir adalah komoditas kopi namun kenyataan menunjukkan bahwa terjadi penurunan produksi dari tahun ke tahun.

Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi strategi pengembangan usahatani kopi Arabika di daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah secara purposive, dalam hal ini daerah penelitian dipilih di desa Tamba Dolok kecamatan Sito-tio kabupaten Samosir dan sampel dipilih sebanyak 70 orang berdasarkan pertimbangan tertentu. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis SWOT.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa alternatif strategi yang diformulasi dalam rangka pengembangan usahatani kopi Arabika di daerah penelitian adalah strategi defensif (Defensive strategic)

(13)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, hal ini dapat ditunjukkan dengan

besarnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian. Menurut data Badan Pusat

Statistik (BPS) dari seluruh luas lahan yang ada di Indonesia 74,68 persen digunakan

untuk pertanian.

Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan

paling konsisten baik ditinjau dari areal maupun produksi. Salah satu komoditas

unggulan dalam subsektor perkebunan adalah kopi. Kopi merupakan produk yang

mempunyai peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagian

besar produksi kopi di Indonesia merupakan komoditas perkebunan yang diekspor ke

pasar dunia.

Pada tahun 2012, Indonesia menempati urutan ketiga dengan kontribusi 657.000 ton

sedangkan yang pertama adalah Brazil dengan kontribusi 3.049.560 ton pertahun,

kedua adalah Vietnam dengan kontribusi 1.320.000 ton, keempat adalah Kolombia

dengan kontribusi 480.000 ton dan urutan kelima adalah Euthiopia dengan kontribusi

390.000 ton (Anonimus, 2013).

Salah satu jenis kopi yang diekspor oleh Indonesia ialah kopi Arabika. kopi Arabika

(14)

sedangkan kopi Robusta dominan diekspor dalam kualitas sedang sampai rendah

(AEKI, 2012).

Perkembangan volume dan nilai ekspor kopi Arabika indonesia pada periode

2007-2012 mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun seperti diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Kopi Arabika di Indonesia Tahun 2007-2012

Tahun Volume Ekspor (Ton) NilaiEkspor (U$)

2007 50.952.000 154.791.177.630

2008 59.735.000 207.564.131.438

2009 62.855.000 199.486.260.281

2010 78.036.000 276.933.166.202

2011 44.875.000 276.210.037.301

2012 51.606.000 306.317.289.973

Total 348.059.000,00 1.421.302.062.825

Rata 58.009.833 236.883.677.137

Sumber:Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia, 2012

Pada Tabel 1 terlihat volume ekspor kopi Arabika Indonesia cenderung meningkat

dari tahun 2007 sampai tahun 2009, namun dari tahun 2010 sampai 2012

perkembangan volume ekspor kopi cenderung menurun. Begitu juga halnya dengan

nilai ekspor kopi yang berfluktuasi dari tahun ke tahun dan cenderung mengalami

peningkatan. Negara tujuan ekspor kopi Arabika ini adalah USA, Jepang, Jerman,

(15)

Perkembangan produksi kopi Arabika Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke

tahun sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Luas Areal dan Produksi Kopi Arabika Indonesia Tahun 2007- 2012

Sumber :Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia, 2012

Pada Tabel 2 diperlihatkan bahwa perkembangan luas areal kopi Arabika meningkat

dari tahun ketahun dan untuk produksi kopi Arabika juga meningkat selama periode

2007-2012. Nilai ekspor kopi Arabika yang terus meningkat akan mendorong petani

untuk memperluas areal pertanaman kopi agar dapat menghasilkan jumlah produksi

yang lebih besar.

Produksi kopi di Indonesia berpeluang meningkat beberapa tahun mendatang seiring

dengan peningkatan perluasan areal penanaman kopi yang dilakukan oleh petani

(Anggara dan Sri, 2011).

Menurut Departemen Pertanian Republik Indonesia Direktorat Jendral Perkebunan

(2012) Pulau Sumatera merupakan penyumbang terbesar produksi kopi nasional.

Penyumbang terbesar adalah Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara

dan Aceh.Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang berpotensi untuk

Tahun Luas Areal (Ha) Total Produksi (Ton)

2007 228.931 124.098

2008 239.476 129.660

2009 281.398 147.631

2010 251.582 146.641

2011 251.753 146.761

2012 252.645 147.017

Total 1.330.002 705.259

(16)

pengembangan budidaya kopi Arabika. Perkembangan jumlah ekspor dan nilai

ekspor kopi Arabika di Sumatera Utara diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Volume dan Nilai Ekspor Kopi Arabika di Provinsi Sumatera Utara Periode 2007-2011

Tahun Volume Ekspor (Ton) Nilai Ekspor(U$)

2007 62.365 189.463.648

2008 54.430 189.130.588

2009 55.529 176.235.344

2010 61.304 217.554.857

2011 64.389 396.320.626

Total 298.017 1.168.705.063

Rata-Rata 59.603 233.741.012

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara. 2012

Pada Tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2008 volume ekspor Kopi Arabika menurun

sebesar 7.835 ton dari tahun 2007, tetapi pada tahun 2008 sampai 2011

perkembangan jumlah ekspor kopi Arabika di Sumatera Utara cenderung meningkat

dari tahun ke tahun. Perkembangan nilai ekspor juga cenderung meningkat dimana

perkembangan nilai ekspor terbesar terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar

(17)

Perkembangan luas areal dan produksi kopi Arabika di Sumatera Utara juga

mengalami peningkatan. Keadaan ini diperlihatkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Luas Areal Tanaman Menghasilkan dan Produksi Kopi Arabika di Provinsi Sumatera Utara Periode 2007- 2011

Tahun Luas Areal (Ha) Total Produksi (Ton)

2007 35.017,55 42.222,57

Sumber:Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara, 2012

Pada Tabel 4 luas lahan tanaman menghasilkan Kopi Arabika mengalami

peningkatan dari tahun ke tahun dan perkembangan total produksi juga mengalami

peningkatan. Namun pada tahun 2011 terjadi penurunan produksi sebesar 309,9 ton.

Dari Tabel 3 dan 4 dapat dilihat jumlah ekspor, nilai ekspor dan luas areal kopi

Arabika di Provinsi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan namun pada tahun

2011 mengalami penurunan sebesar 30.990 ton walau luas areal tetap meningkat

sebesar 1294,45 ha artinya terjadi penurunan produktivitas pada tahun tersebut.

Kopi arabika merupakan komoditi unggulan Kabupaten Samosir yang sangat

potensial untuk dikembangkan karena kondisi geografis Kabupaten Samosir terletak

pada wilayah dataran tinggi dengan ketinggian antara 700 -1.700 mdpl dengan

(18)

1.500 mdpl = ± 65 % merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan berbagai

jenis tanaman agribisnis dan hortikultura khususnya kopi dengan syarat tumbuh 1000

mdpl (Anonimus, 2013).

Berbeda halnya dengan luas areal tanaman kopi Arabika yang cenderung meningkat

produksi kopi Arabika di kabupaten Samosir dari tahun 2007 sampai tahun 2011

mengalami fluktuasi seperti di perlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 5. Luas Areal Tanaman dan Produksi Kopi Arabika di Kabupaten Samosir Periode 2007- 2011

Tahun Luas Areal (Ha) Total Produksi (Ton)

2007 3.495 7. 495

2008 3.748 2.419

2009 3.916 2.573

2010 4.092 2.468

2011 4.175,40 2.542, 69

Total 19.426,4 17.497,69

Rata-Rata 3.885,28 3.499.538

Sumber:Samosir Dalam Angka, 2012

Dari tabel 5 dapat di ketahui bahwa Luas areal tanaman kopi arabika di Kabupaten

Samosir mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai tahun 2011 namun berbeda

dengan total produksi yang mengalami fluktuasi dan dari tahun 2008 sampai tahun

2011 cenderung lebih rendah dari rata-rata produksi pertahun.

Total produksi yang cenderung lebih rendah dari rata-rata total produksi tidak lepas

dari masalah-masalah yang dihadapi Petani Kopi Arabika di Kabupaten Samosir

(19)

menyulitkan para petani untuk memasarkan sendiri Kopi arabika yang dihasilkannya,

kurangnya modal untuk memperluas lahan perkebunan atau memperluas usahatani

kopi Arabika, penggunaan teknologi yang masih belum optimal untuk

mengembangkan usahatani kopi Arabika.

Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan yang ada dan meningkatkan

pendapatan usahatani petani secara maksimal maka perlu dikaji strategi yang tepat

didalam pengembangan usahatani kopi Arabika tersebut khususnya di kabupaten

Samosir mengingat komoditi kopi Arabika mempunyai peluang pasar yang baik di

dalam negeri dan luar negeri.

1.2. Identifikasi masalah

Berdasarkan uraian di atas maka masalah penelitian ini di identifikasikan sebagai

berikut:

1. Apa faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor-faktor eksternal

(peluang dan ancaman) usahatani kopi Arabika di daerah penelitian?

2. Apa formulasi strategi dalam pengembangan usahatani kopi Arabika di daerah

(20)

1.3. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk menjelaskan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan

faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) usahatani kopi Arabika di daerah

penelitian.

2. Untuk memformulasi strategi pengembangan usahatani kopi Arabika di daerah

penelitian.

1.4. Kegunaan penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Sebagai masukan bagi petani dan pihak-pihak yang membutuhkan.

2. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

3. Bagi peneliti sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian sarjana di program

(21)

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Pustaka

Kopi adalah spesies tanaman berbentuk pohon yang termasuk dalam famili

Rubiaceae dan genus Coffea. Tanaman ini tumbuhnya tegak, bercabang dan bila

dibiarkan tumbuh dapat mencapai 12 m. daunnya bulat telur dengan ujung agak

meruncing daun tumbuh berhadapan pada batang, cabang dan ranting-rantingnya.

Tanaman kopi umumnya berasal dari benua Afrika dan bukan produk homogeny ada

banyak varietas dan beberapa cara pengolahanya.

Diseluruh dunia kini terdapat sekitar 4.500 jenis kopi dan dibagi dalam empat

kelompok besar, yakni:

a. Coffea Canephora, yang salah satu jenis varietasnya menghasilkan kopi dagang

Robusta;

b. Coffea Arabica menghasilkan kopi dagang Arabika;

c. Coffea Excelsia menghasilkan kopi dagang Exselsia;

d. Coffea Liberica menghasilkan kopi dagang Liberika (Bahri, 1996).

Kopi Arabika memiliki syarat tumbuh ketinggian 7.00 sampai 2.000 mdpl tapi untuk

tumbuh maksimal ditanam pada ketinggian 1.000 sampai 1.500 meter diatas

permukaan laut, dengan garis lintang 20oLS sampai 20oLU. Untuk curah hujan 1.500

(22)

kurang dari 45% dan pH 5,5-6,5. Iklim sangat berpengaruh terhadap produktivitas

tanaman kopi.Pengaruh iklim mulai nampak sejak cabang-cabang primer menjelang

berbunga. Pada saat bunga membuka sampai dengan berlangsung penyerbukan

pertumbuhan buah muda sampai tua dan masak menjelang kemarau pada umumnya

cuaca mulai terang, udara tidak berawan, berarti penyinaran matahari akan lebih

banyak maka suhu akan meningkat. Banyak atau lamanya penyinaran merupakan

stimulan bagi besar kecilnya persiapan pembungaan. Semakin banyaknya penyinaran

maka persiapan pembentukan bunga akan semakin cepat. Untuk penanaman kopi

diperlukan beberapa persiapan diantaranya bahan tanaman dan persipan areal.

Persiapan bahan tanam meliputi penyediaan benih, penyemaian benih dan persemaian

lapangan (AEKI, 2006).

Kopi Arabika mempunyai beberapa sifat penting:

 Mengkehendaki daerah dengan ketinggian antara 700 sampai 1.700 mdpl

dengan suhu sekitar 16 sampai 20 derajat celcius.

 Mengkehendaki daerah beriklim kering atau bukan kering 3 bulan/tahun

secara berturut-turut, tetapi sesekali mendapatkan hujan.

 Peka terhadap penyakit karat daun terutama bila ditanam di dataran rendah

atau kurang dari 500 mdpl

Budidaya kopi Arabika

Untuk mendapatkan hasil kopi Arabika yang optimal dalam pembudidayaan kopi

diperlukan persyaratan dan teknik-teknik tertentu yaitu sebagai berikut :

(23)

Untuk mendapatkan bahan tanaman diperlukan benih dan entres untuk sambungan

dan stek. Benih yang akan digunakan untuk batang bawah harus dipilih dari buah

kopi yang baik dan masak dari bahan yang dikehendaki untuk mendapatkan biji untuk

benih kulit dan daging buah dipisahkan dan lendir dibersihkan dengan abu. Setelah

itu benih diangin-anginkan selama kurang lebih dua sampai tiga hari. Benih yang

tersedia kemudian disemaikan pada media yang telah disiapkan.

Tanah persemaian harus dipacul kira-kira 30 cm dan bersih dari sisa-sisa akar dan

batu-batu lain. Pada bagian atas bedengan diberi lapisan apsir tebal kira-kira 5 cm.

Bedengan harus diberi naungan dan setiap hari harus disiram dengan air yang cukup

tetapi tidak tergenang.Setelah benih berusia tiga bulan harus dipindahkan

kepersemaian lapangan.

b. Penanaman

Persiapan lahan dilakukan pembersihan dari semak, membongkar tunggul atau akar

pohon yang ada. Kumpulkan seluruh bagian semak yang ada, kemudian diberakan

dan dilakukan pengajiran. Jarak tanam berbentuk segi empat 2,5 x 2,5 m, pagar 1,5 x

2,5 m, untuk tumpangsari 2 x 4 m. Untuk lubang tanamnya dibuat tiga bulan sebelum

tanam dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm dan tanah galian dicampur dengan pupuk

kandang ke dalam lubang setelah 2-4 minggu. Bibit kopi harus berumur 4-5 bulan,

tinggi minimal 20 cm, jumlah minimal tiga pasang.

Selain itu juga perlu ditanam pohon pelindung yang hendaknya sudah ditanam 1-2

(24)

selain untuk melindungi tanaman kopi itu berguna sebagai memperpanjang umur

produksi, menghindari penyakit, mengurangi biaya penyiangan, dapat menurunkan

suhu air dan tanah pada musim panas. Penanaman kopi Arabika dapat dilakukan pada

awal musim penghujan diharapkan agar tidak banyak tanah yang terlepas dari akar

dan leher akar bibit ditanam rata dengan permukaan tanah.

c. Pemeliharaan

Penyulaman dilakukan pada bibit yang sudah mati untuk menjamin jumlah tegakan

tanaman. Penyiangan dilakukan empat kali sebulan pada tanaman muda sedangkan

tanaman dewasa dua kali sebulan yang bertujuan meratakan unsur hara dan air.

Pemupukan dilakukan dua kali setahun yaitu awal musim hujan dan akhir musim

hujan.

d. Panen dan Pasca Panen

Kopi Arabika mulai berbuah pada umur tiga tahun. Buah yang sudah masak berwarna

merah tua dan pemetikan dilakukan harus hati-hati jangan sampai ada bagian pohon

yang rusak. Pengolahan hasil dibagi menjadi dua bagian yaitu :

a. Pengolaha1an secara kering yaitu buah kopi yang sudah kering diperam selama 24

jam, kemudian dijemur panas matahari diputar balikan agar merata sampai 10-14

hari, untuk memisahkan kulit buah.

b. Pengolahan secara basah buah yang baru dipetik ditumbuk dengan lesung dan

diberi sedikit air supaya cepat keluar, selain itu juga untuk menghilangkan

lendir-lendir masih memikat perlu diperam dulu dalam kaleng atau diisi air 3-4 hari dan

(25)

2.2. Landasan Teori

Analisis SWOT adalah instrument yang digunakan untuk melakukan analisis

strategis. Menurut Drs. Robert Simbolon, MPA (1999), analisis SWOT merupakan

suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah terutama dengan

melakukan analisis atas lingkungan strategis yang lazim disebut sebagai lingkungan

internal dan lingkungan eksternal.

Strategi yang tepat didasarkan pada kemampuan menemukenali diri dan

lingkunganya, sehingga strategi benar-benar dapat terwujud dari kekuatan yang

dimilikinya dan peluang yang dihadapinya. Analisis yag tepat dalam menyusun

strategi adalah analisis SWOT. Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis

SWOT adalah memahami seluruh informasi dalam suatu kasus, menganalisis situasi

untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang

harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah (Rangkuti, 2001).

SWOT merupakan singkatan dari strength (kekuatan-kekuatan), weaknesses

(kelemahan-kelemahan), opportunities (peluang-peluang) dan treaths

(ancaman-ancaman). Pengertian-pengertian kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam

analisis SWOT adalah sebagai berikut :

 Kekuatan (strength)

Kekuatan adalah sumberdaya, keterampilan atau keunggulan lain relative

terhadap pesaing dan kebutuhan dari pasar suatu perusahaan.

(26)

Kelemahan adalah keterbatasan/kekurangan dalam sumberdaya alam,

keterampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif

suatu perusahaan.

 Peluang (opportunities)

peluang adalah situasi/kecenderungan utama yang menguntungkan dalam

lingkungan perusahaan

 Ancaman( threaths)

Ancaman adalah situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan

dalam lingkungan perusahaan (Amin, 1994)

Langkah menyusun analisis SWOT

1. Pengumpulan data

2. Tahap analisis

3. Tahap pengambilan keputusan

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh

data yang diperlukan. Data yang berhubungan erat dengan studi dan objek penelitian.

Data yang dikumpulkan dapat berupa data primer maupun sekunder.

Data primer didapat melalui beberapa metode yaitu:

a. Metode pengamatan langsung

Metode ini adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada

pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.

(27)

Metode ini bisa dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan kuesioner atau

sebuah set pernyataan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian

dimana yang menulis isiannya adalah responden. Cara yang kedua adalah dengan

wawancara yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan

cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya dan penjawab dengan alat

yang dinamakan panduan wawancara (interview guide).

2.3. Kerangka Pemikiran

Kopi Arabika merupakan salah satu komoditas yang sangat potensial di Kabupaten

Samosir. Namun usahatani kopi Arabika di Samosir belum optimal, hal ini terlihat

bahwa produktivitas kopi Samosir hanya 1,01 ton per hektar pada tahun 2011. Dalam

pengembangan kopi di Samosir petani kesulitan dalam memperoleh benih unggul dan

memasarkan produksi kopi kabupaten Samosir, sehingga petani tidak memperhatikan

kualitas produk. Apabila harga kopi turun, petani tidak peduli dengan kualitas dan

hasil panenannya, ketika harga naik, produksinya malah turun.Disamping itu biaya

produksi yang cenderung makin mahal menjadi faktor penghambat pengembangan

usahatani kopi Samosir.

Sementara menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera

Utara tahun 2012 kopi Arabika di Sumatera Utara terbukti menjadi salah satu

penyumbang devisa. Ekspor kopi Sumatera Utara dari tahun 2007 hingga tahun 2011

telah mencapai Rp. 1.533.684.789 dari hasil ekspor Kopi Arabika sebanyak 359.506

ton. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan strategi

(28)

apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usahatani kopi di

Kabupaten Samosir dan strategi utama apa yang dapat mengembangkan Usahatani

kopi Kabupaten Samosir guna mengembangkan pendapatan petani kopi Arabika di

kabupaten Samosir dan peningkatan produktivitas kopi Arabika untuk menambah

devisa negara. Di lain pihak dengan adanya dukungan pemerintah untuk memperluas

areal perkebunan dan bantuan benih, maka penelitian strategi pengembangan

usahatani kopi ini perlu dilakukan.

Penelitian mengenai strategi pengembangan usahatani kopi dilakukan dengan

mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan kopi di

Kabupaten Samosir. Untuk mengetahui alternatif strategi pengembangan kopi, maka

identifikasi faktor internal dan eksternal dianalisis dengan analisis SWOT.

Dari alternatif yang sudah didapat, selanjutnya dilakukan analisis dan evaluasi

strategi sebelum tahap penetapan rencana strategi, setelah evaluasi dilakukan maka

dilanjutkan dengan tahap terakhir menetapkan rencana strategis pengembangan kopi

Kabupaten Samosir yang didukung oleh hasil analisis lingkungan internal dan

eksternal serta mengusulkan strategi komprehensif sehingga yang diusulkan akan

sesuai dengan kondisi Kabupaten samosir.

Untuk lebih jelasnya, akan digambarkan pada kerangka pemikiran sebagai berikut ini

(29)

Keterangan:

: hubungan

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Analisis Faktor-faktor

Internal dan Eksternal

Analisis SWOT Usahatani Kopi Arabika

Strategi PengembanganUsahatani Kopi Arabika

Kabupaten Samosir

Opportunities

(peluang-peluang) Weaknesses

(kelemahan-kelemahan) Strenghts

(kekuatan-kekuatan)

Threats

(30)

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian

Pemilihan daerah penelitian dilakukan secara metode purposive yakni dengan

pertimbangan tertentu (sengaja). Kabupaten Samosir dipilih dengan pertimbangan

bahwa kabupaten Samosir merupakan salah satu sentra produksi kopi di Sumatera

Utara seperti diperlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 6. Luas Tanaman, Produksi dan Produktivitas kopi Sumatera Utara

Sumber : Sumatera Utara dalam Angka 2012

Dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Samosir, maka kecamatan Sitio-tio

dipilih sebagai daerah penelitian dengan pertimbangan bahwa kecamatan ini

merupakan kecamatan yang memiliki produktivitas tertinggi diantara kecamatan yang

(31)

Tabel 7. Luas Tanaman Produktif, Produksi dan Produktivitas kopi Arabika kabupaten Samosir tahun 2011

Kecamatan Luas Tanaman Produktif

Desa Tamba Dolok dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa

desa ini merupakan desa yang memiliki luas tanaman kopi yang paling luas diantara

desa yang ada sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 8. Luas tanaman, Produksi dan Produktivitas Kopi Arabika Kecamatan Sitio-tio tahun 2011

Desa Luas tanaman (ha) Produksi

(ton)

Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani kopi Arabika

(32)

dianggap dapat mewaliki populasi. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan

dengan menggunakan metode Slovin. Menurut Slovin dalam pengantar Metode

Penelitian (Sevilla, 1993), besarnya sampel dapat ditentukan dengan rumus:

n = N 1+Nd2

Dimana:

n = ukuran sampel

N = ukuran populasi

d = galat penduga (10 %)

Jumlah populasi petani kopi arabika di daerah penelitian adalah sebanyak 239 maka

dengan menggunakan rumus Slovin besar sampel penelitian diperoleh sebagai

berikut:

n = N 1+Nd2

n = 239 1+239 (0,1)2

n = 70

Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 orang petani kopi.

2.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data

sekunder. Data primer merupakan hasil wawancara peneliti langsung dengan

responden yang menjadi sampel dengan daftar kuesioner yang telah disiapkan

(33)

Dinas Perkebunan Kabupaten Samosir, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, PPL,

Kepala Desa, literatur, buku, dan media internet yang sesuai dengan penelitian ini.

3.3. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu ditabulasi secara sederhana dan

selanjutnya dianalisis dengan metode analisis yang sesuai.

Untuk tujuan (1) digunakan analisis deskriptif dengan cara menggambarkan dan

menjelaskan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang

dan ancaman) usahatani kopi Arabika di daerah penelitian.

Untuk tujuan (2) digunakan metode analisis SWOT pada usahatani kopi Arabika

didaerah penelitian untuk menentukan strategi pengembangan usahatani. Sesuai

dengan teori yang dikemukakan alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor

strategis adalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas

bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan

kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik ini menghasilkan empat sel

kemungkinann alternative strategis, seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini

(34)

Sebelum melakukan analisis data seperti diatas maka terlebih dahulu dilakukan

pengumpulan data. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan model matrik

faktor strategi eksternal seperti di bawah ini.

Tabel 9. Keterangan Rating Menurut Kategori

Rating Kategori Faktor Internal Faktor Eksternal

4 Sangat Baik Kekuatan Peluang

3 Baik Kekuatan Peluang

2 Cukup Baik Kekuatan Peluang

1 Tidak Baik Kekuatan Peluang

4 Tidak Baik Kelemahan Ancaman

3 Cukup Baik Kelemahan Ancaman

2 Baik Kelemahan Ancaman

1 Sangat Baik Kelemahan Ancaman

Dari tabel diatas skor masing-masing faktor dapat dihitung dengan memberikan skala

mulai dari 4 sampai dengan 1 berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi

usahatani yang bersangkutan.

Pada faktor internal, skala 1 dan 2 menunjukkan kelemahan, skala 3 dan 4

menunjukkan kekuatan. Pada faktor eksternal, skala 1 dan 2 menunjukkan ancaman,

sedangkan skala 3 dan 4 menunjukkan peluang.

Setiap faktor internal kekuatan dan faktor eksternal peluang diberi kategori sangat

baik sampai tidak baik dan diberi rating mulai dari 4 untuk kategori sangat baik

sampai 1 intuk kategori tidak baik dan untuk faktor internal kelemahan dan faktor

eksternal ancaman diberi kategori sangat baik sampai tidak baik dan diberi rating

mulai dari 1 untuk kategori sangat baik sampai 4 untuk kategori tidak baik yang

(35)

Tabel 10. Faktor Strategi

Berdasarkan tabel diatas, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor

strateginya adalah menentukan faktor yang menjadi kelemahan-kekuatan serta

peluang-ancaman dalam kolom 1, lalu diberi bobot masing-masing faktor tersebut

yang jumlahnya tidak boleh melebihi total pada kolom 3. Secara matematis

penentuan bobot dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

Bobot= Rating x total bobot Total rating

Kemudian peringkatkan setiap faktor dari 4 (sangat baik) sampai 1 (tidak baik) dalam

kolom 3 berdasarkan respon pedagan terhadap faktor itu.Kemudian yang terakhir

kalikan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan scoring dalam kolom 4.

Setelah itu hasil analisis pada tabel matriks faktor strategi internal dan faktor strategi

(36)

3.4. Defenisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penafsiran penelitian ini,

maka perlu dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut:

3.4.1. Defenisi

1. Petani kopi Arabika adalah petani yang memiliki lahan sendiri dan mengusahakan

serta mendapat penghasilan dari usaha tani kopi Arabika.

2. Usahatani adalah suatu kegiatan yang dilakukan petani mulai dari memproduksi

biji kopi Arabika hingga dipasarkan yang dilakukan oleh petani di desa Tamba

Dolok.

3. Strategi pengembangan usahatani kopi Arabika adalah hal-hal yang dapat

digunakan untuk meningkatkan usahatani kopi Arabikadi Desa Tamba Dolok.

4. Strengths adalah kekuatan-keuatan yang ditemukan dalam usaha tani kopi

Arabika di Desa Tamba Dolok.

5. Weaknesses adalah kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam usaha tani kopi

Arabika di Desa Tamba Dolok.

6. Opportunities adalah berbagai peluang yang muncul dalam usaha tani kopi

Arabika di Desa Tamba Dolok.

7. Threats adalah berbagai ancaman yang muncul dalam usaha tani kopi Arabika di

(37)

3.4.2. Batasan Operasional

1. Tempat daerah penelitian adalah desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio,

kabupaten Samosir.

2. Sampel penelitian ini adalah petani yang mengusahakan tanaman kopi Arabika di

desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.

(38)

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian

Pemilihan daerah penelitian dilakukan secara metode purposive yakni dengan

pertimbangan tertentu (sengaja). Kabupaten Samosir dipilih dengan pertimbangan

bahwa kabupaten Samosir merupakan salah satu sentra produksi kopi di Sumatera

Utara seperti diperlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 6. Luas Tanaman, Produksi dan Produktivitas kopi Sumatera Utara

Sumber : Sumatera Utara dalam Angka 2012

Dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Samosir, maka kecamatan Sitio-tio

dipilih sebagai daerah penelitian dengan pertimbangan bahwa kecamatan ini

merupakan kecamatan yang memiliki produktivitas tertinggi diantara kecamatan yang

(39)

Tabel 7. Luas Tanaman Produktif, Produksi dan Produktivitas kopi Arabika kabupaten Samosir tahun 2011

Kecamatan Luas Tanaman Produktif

Desa Tamba Dolok dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa

desa ini merupakan desa yang memiliki luas tanaman kopi yang paling luas diantara

desa yang ada sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut.

Tabel 8. Luas tanaman, Produksi dan Produktivitas Kopi Arabika Kecamatan Sitio-tio tahun 2011

Desa Luas tanaman (ha) Produksi

(ton)

Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani kopi Arabika

(40)

dianggap dapat mewaliki populasi. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan

dengan menggunakan metode Slovin. Menurut Slovin dalam pengantar Metode

Penelitian (Sevilla, 1993), besarnya sampel dapat ditentukan dengan rumus:

n = N 1+Nd2

Dimana:

n = ukuran sampel

N = ukuran populasi

d = galat penduga (10 %)

Jumlah populasi petani kopi arabika di daerah penelitian adalah sebanyak 239 maka

dengan menggunakan rumus Slovin besar sampel penelitian diperoleh sebagai

berikut:

n = N 1+Nd2

n = 239 1+239 (0,1)2

n = 70

Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 orang petani kopi.

2.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data

sekunder. Data primer merupakan hasil wawancara peneliti langsung dengan

responden yang menjadi sampel dengan daftar kuesioner yang telah disiapkan

(41)

Dinas Perkebunan Kabupaten Samosir, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, PPL,

Kepala Desa, literatur, buku, dan media internet yang sesuai dengan penelitian ini.

3.3. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu ditabulasi secara sederhana dan

selanjutnya dianalisis dengan metode analisis yang sesuai.

Untuk tujuan (1) digunakan analisis deskriptif dengan cara menggambarkan dan

menjelaskan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang

dan ancaman) usahatani kopi Arabika di daerah penelitian.

Untuk tujuan (2) digunakan metode analisis SWOT pada usahatani kopi Arabika

didaerah penelitian untuk menentukan strategi pengembangan usahatani. Sesuai

dengan teori yang dikemukakan alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor

strategis adalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas

bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan

kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik ini menghasilkan empat sel

kemungkinann alternative strategis, seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini

(42)

Sebelum melakukan analisis data seperti diatas maka terlebih dahulu dilakukan

pengumpulan data. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan model matrik

faktor strategi eksternal seperti di bawah ini.

Tabel 9. Keterangan Rating Menurut Kategori

Rating Kategori Faktor Internal Faktor Eksternal

4 Sangat Baik Kekuatan Peluang

3 Baik Kekuatan Peluang

2 Cukup Baik Kekuatan Peluang

1 Tidak Baik Kekuatan Peluang

4 Tidak Baik Kelemahan Ancaman

3 Cukup Baik Kelemahan Ancaman

2 Baik Kelemahan Ancaman

1 Sangat Baik Kelemahan Ancaman

Dari tabel diatas skor masing-masing faktor dapat dihitung dengan memberikan skala

mulai dari 4 sampai dengan 1 berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi

usahatani yang bersangkutan.

Pada faktor internal, skala 1 dan 2 menunjukkan kelemahan, skala 3 dan 4

menunjukkan kekuatan. Pada faktor eksternal, skala 1 dan 2 menunjukkan ancaman,

sedangkan skala 3 dan 4 menunjukkan peluang.

Setiap faktor internal kekuatan dan faktor eksternal peluang diberi kategori sangat

baik sampai tidak baik dan diberi rating mulai dari 4 untuk kategori sangat baik

sampai 1 intuk kategori tidak baik dan untuk faktor internal kelemahan dan faktor

eksternal ancaman diberi kategori sangat baik sampai tidak baik dan diberi rating

mulai dari 1 untuk kategori sangat baik sampai 4 untuk kategori tidak baik yang

(43)

Tabel 10. Faktor Strategi

Berdasarkan tabel diatas, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor

strateginya adalah menentukan faktor yang menjadi kelemahan-kekuatan serta

peluang-ancaman dalam kolom 1, lalu diberi bobot masing-masing faktor tersebut

yang jumlahnya tidak boleh melebihi total pada kolom 3. Secara matematis

penentuan bobot dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

Bobot= Rating x total bobot Total rating

Kemudian peringkatkan setiap faktor dari 4 (sangat baik) sampai 1 (tidak baik) dalam

kolom 3 berdasarkan respon pedagan terhadap faktor itu.Kemudian yang terakhir

kalikan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan scoring dalam kolom 4.

Setelah itu hasil analisis pada tabel matriks faktor strategi internal dan faktor strategi

(44)

3.4. Defenisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penafsiran penelitian ini,

maka perlu dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut:

3.4.1. Defenisi

1. Petani kopi Arabika adalah petani yang memiliki lahan sendiri dan mengusahakan

serta mendapat penghasilan dari usaha tani kopi Arabika.

2. Usahatani adalah suatu kegiatan yang dilakukan petani mulai dari memproduksi

biji kopi Arabika hingga dipasarkan yang dilakukan oleh petani di desa Tamba

Dolok.

3. Strategi pengembangan usahatani kopi Arabika adalah hal-hal yang dapat

digunakan untuk meningkatkan usahatani kopi Arabikadi Desa Tamba Dolok.

4. Strengths adalah kekuatan-keuatan yang ditemukan dalam usaha tani kopi

Arabika di Desa Tamba Dolok.

5. Weaknesses adalah kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam usaha tani kopi

Arabika di Desa Tamba Dolok.

6. Opportunities adalah berbagai peluang yang muncul dalam usaha tani kopi

Arabika di Desa Tamba Dolok.

7. Threats adalah berbagai ancaman yang muncul dalam usaha tani kopi Arabika di

(45)

3.4.2. Batasan Operasional

1. Tempat daerah penelitian adalah desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio,

kabupaten Samosir.

2. Sampel penelitian ini adalah petani yang mengusahakan tanaman kopi Arabika di

desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.

(46)

4.1 Deskripsi Wilayah Penelitian

Kecamatan Sitio-tio merupakan pemekaran dari Kecamatan Harian sesuai dengan

Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Samosir Nomor : 7 Tahun 2002. Kecamatan

Ulu Pungkut mempunyai luas 29.519,06 Ha yang meliputi 8 desa yaitu yaitu desa

Sabulan, desa Holbung, desa Janji Raja, desa Janji Maria, desa Cinta Maju, desa

Tamba Dolok,desa Parsaoran, desa Buntu Mauli.

Kondisi jalan di delapan desa kecamatan Sitio-tio sebagian besar belum di aspal

hanya sebagian desa seperti desa Tamba Dolok desa Cinta Maju dan desa Sabulan,

sehingga akses jalan menuju Kecamatan Sitio-tio sering mengalami gangguan.

Penyebab tingginya kerusakan jalan adalah adanya beberapa ruas jalan tertentu yang

rawan genangan air di musim penghujan.

Kecamatan Sito-tio pada tahun 2012 memiliki jumlah penduduk sebanyak 7.191 jiwa

yaitu laki-laki 3.594 orang dan perempuan 3.597 orang. Mayoritas penduduk

memiliki mata pencaharian sebagai petani. Tanaman pertanian yang paling dominan

diusahakan oleh masyarakat mencakup tanaman padi, palawija dan tanaman

perkebunan seperti kopi, coklat, kelapa, kemiri dan cengkeh. Luas tanaman

(47)

Tabel 11. Luas Lahan Tanaman Perkebunan Menurut Komoditi di Kecamatan Sitio-tio pada Tahun 2012

NO Tanaman Perkebunan Luas Lahan (Ha)

1 Kopi 215.55

Sumber : Dinas Perkebunan Kecamatan Sitio-tio, 2012

Tabel 3 menunjukkan bahwa kopi adalah tanaman perkebunan yang merupakan

komoditi unggulan di Kecamatan Sitio-tio dengan luas lahan 215,55 Ha.

Dari delapan desa/kelurahan yang ada, hampir semua desa/kelurahan memproduksi

kopi meskipun sebagian desa tidak memprioritaskan tanaman kopi sebagai komoditi

unggulanya.

Desa Tamba Dolok adalah salah satu desa di Kecamatan Sitio-tio yang hampir

seluruh penduduknya mengusahakan tanaman Kopi Arabika dan tanaman Padi. Desa

Tamba Dolok merupakan dataran tinggi yang terletak pada ketinggian 970-1200

meter diatas permukaan laut. Desa ini memiliki luas wilayah 315,5 Ha yang terdiri

dari 3 Dusun. Desa Tamba Dolok di sebelah utara berbatasan dengan desa

Hutagalung, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Janjimaria, sebelah barat

berbatasan dengan Desa Sihotang dan sebelah timur berbatasan dengan desa Cinta

Maju.

Kondisi iklim di Desa Tamba Dolok adalah beriklim hujan tropis dengan suhu udara

berkisar antara 230C – 320C dan kelembaban udara antara 80-85%. Jumlah curah

(48)

dan pegunungan serta tanah yang subur sehingga sangat sesuai untuk budidaya kopi

Arabika.

Jumlah penduduk Desa Tamba Dolok pada tahun 2013 sebanyak 1.117 jiwa yang

tergabung dalam 209 KK (Kepala Keluarga). Hampir semua penduduk bekerja

sebagai petani atau buruh tani. Hal ini disebabkan masyarakat sudah turun-temurun

menjadi petani dan minimnya tingkat pendidikan menyebabkan masyarakat tidak

memiliki keahlian lain.

4.2 Kegiatan Pengusahaan Kopi

Kopi Arabika merupakan komoditi unggulan Tamba Dolok. Kegiatan budidaya yang

dilakukan petani kopi meliputi pembibitan, penanaman, hingga panen. Kebanyakan

petani tidak melakukan pemupukan dan tidak menggunakan pestisida. Hal ini

disebabkan karena tingginya harga pupuk dan obat-obatan pemberantas hama.

Varietas kopi yang ditanam oleh petani kopi di Desa Tamba Dolok adalah kopi

Arabika dan kopi Robusta. Namun petani di desa Tamba Dolok mayoritas menanam

kopi Arabika yang memang lebih sesuai dan cepoat menghasilkan daripada kopi

Robusta. Kopi Arabika yang ditanam di Desa Tamba Dolok dulunya berasal dari bibit

unggul yang diberikan oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Samosir tapi untuk

sekarang ini para petani menghasilkan sendiri bibit yang diperlukan.

Kopi Arabika di desa Tamba Dolok mulai berbunga pada umur 1,5 tahun dan dapat

dipanen mulai umur 2,5 tahun. Selang waktu mulai dari kopi berbunga sampai bisa

dipanen sekitar 7-8 bulan. Panen kopi biasanya dilakukan pada bulan

(49)

November dan pertengahan bulan April. Petani menjual kopi kepada pedagang

pengumpul dalam bentuk beras kopi atau biji kopi yang sudah dijemur.

Kegiatan pemasaran Kopi Arabika di desa Tamba Dolok terjadi setiap hari karena di

Desa Tamba Dolok terdapat banyak pedagang pengumpul yang bersaing sehingga

setiap kopi yang di panen bisa cepat di jual kepada pedagang pengumpul yang

membuat harga lebih tinggi dari pedagan pengumpul lainya. Petani menjual biji kopi

yang sudah dijemur (beras kopi) kepada Pedagang Pengumpul yang ada di desa,

kemudian Pedagang Pengumpul yang di desa menjual kopi kepada Pedagang Besar.

Hampir semua Pedagang Pengumpul di desa Tamba Dolok menjual kopi kepada

Pedagang Besar yang sama yang berdomisili di desa tetangga yaitu desa Cinta Maju.

Pedagang Besar ini datang ke desa setiap minggu untuk membeli biji kopi dari

(50)

4.3 Karakteristik Petani dan Usahatani

Sampel dalam penelitian ini merupakan petani yang memiliki tanaman kopi Arabika

Samosir yang sedang memproduksi kopi Arabika di desa Tamba Dolok, kecamatan

Sitio-tio, kabupaten Samosir.

Karakteristik sampel dalam penelitian dijelaskan secara rinci dalam Tabel berikut :

Tabel 12. Karakteristik Petani dan Usahatani Kopi

No Karakteristik Petani dan usahatani Rentang Rata-rata

1 Umur Petani (tahun) 25-60 43,5

2 Tingkat Pendidikan (tahun) 0-16 6

3 Pengalaman petani (tahun) 3-13 8

4 Frekuensi Panen dalam 1 bulan 1-4 2

5 Luas Lahan (rante) 3-25 5

Sumber : Lampiran 1

Tabel 4 menunjukkan bahwa sampel dalam penelitian ini merupakan petani yang

memiliki tanaman Kopi Arabika yang sedang memproduksi pada bulan Januari 2014

di desa Tamba Dolok, kecamatan Sitio-tio, kabupaten Samosir.

Adapun usia sampel dalam penelitian ini bervariasi, mulai dari usia 25 tahun hingga

usia 60 tahun, dimana usia rata-rata sampel adalah 43,5 tahun.

Kebanyakan petani Kopi Desa Tamba Dolok memiliki tingkat pendidikan rendah,

yaitu lulusan SD. Keterbatasan biaya dan minimnya sarana pendidikan di desa Tamba

(51)

Pengalaman usaha tani kopi Arabika dari setiap sampel berbeda-beda, ada yang

menekuni usaha tani kopi Arabika selama 3 tahun hingga 13 tahun. Rata-rata

pengalaman petani menekuni usahatani kopi Samosir adalah 8 tahun.

Frekuensi panen kopi yang dilakukan petani berbeda-beda, ada yang memanen biji

kopi sekali dalam seminggu (4 kali dalam sebulan), sekali dalam sepuluh hari (3 kali

dalam sebulan) atau setiap dua minggu (2 kali dalam sebulan). Namun sebagian besar

petani, memanen biji kopi setiap 2 minggu sekali.

Luas lahan yang dimiliki sampel bervariasi, mulai dari 1 rante hingga 25 rante.

(52)

5.1 Faktor Internal (Kekuatan dan Kelemahan) dan Faktor Eksternal (Peluang dan Ancaman) Usaha tani Kopi Samosir.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bantuan kuisioner dan sesuai dengan beberapa metode yang digunakan, untuk mengetahui faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) pada Strategi Pengembangan Usaha Tani Kopi Samosir. Tahap pertama yang dilakukan adalah “Tahap Pengumpulan Data”.

Faktor-faktor internal terdiri dari faktor kekuatan dan kelemahan dari strategi

pengembangan kopi Samosir. Faktor-faktor eksternal terdiri dari faktor peluang dan

ancaman dari strategi pengembangan kopi Samosir.

Melalui tahap ini maka diketahui faktor internal dan eksternal sebagai berikut:

5.1.1 Faktor Lingkungan Internal

Kekuatan (Strenghts). Kekuatan utama yang menjadi menyokong upaya pengembangan usaha tani kopi di kabupaten Samosir di Desa Tamba Dolok adalah sebagai berikut :

1. Ketersediaan bibit kopi.

Ketersediaan bibit kopi merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan

usaha tani kopi di Desa Tamba Dolok. Bibit kopi yang digunakan dalam penanaman

kopi di Desa Tamba Dolok merupakan bibit yang ditanam atau di produksi sendiri

(53)

2. Ketersediaan tenaga kerja

Ketersediaan tenaga kerja sebagai salah satu faktor eksternal dalam pengembangan

Kopi Samosir sangatlah penting. Tenaga kerja yang memadai dan berkualitas akan

membantu menghasilkan produksi kopi yang baik.

Tenaga kerja merupakan faktor eksternal dalam pengembangan kopi kabupaten

Samosir karena faktor tenaga kerja dalam hal ini tidak dapat dikendalikan oleh

petani. Di desa Tamba Dolok tersedia sumber daya manusia yang biasanya

merupakan tenaga kerja dalam keluarga karena petani tidak memiliki modal yang

cukup untuk membayar tenaga kerja.

Sebagian besar usaha tani kopi Samosir desa Tamba Dolok menggunakan tenaga

kerja dalam keluarga (TKDK) sehingga biaya tenaga kerja minimal, tetapi jumlah

tenaga kerja tersebut belum memadai terutama pada waktu puncak panen. Pada saat

puncak panen tiba biji kopi yang sudah matang harus segera dipetik agar tidak

membusuk. Produksi kopi melimpah di musim panen sementara jumlah tenaga kerja

dalam keluarga tidak memadai.

3. Ketersediaan lahan usaha tani

Desa Tamba Dolok memiliki luas wilayah 315,5 Ha dimana luas lahan pemukiman

adalah 12 Ha, sisanya merupakan lahan pertanian milik warga dan areal hutan

lindung. Namun demikian lahan tersebut terletak di lereng pegunungan dan

perbukitan sehingga sulit dijangkau dan rawan longsor dan sarana transportasinya

(54)

Kelemahan (Weakness). Kelemahan utama yang menjadi menghambat upaya strategi pengembangan usaha tani kopi di Desa Tamba Dolok adalah :

1. Modal Usaha tani rendah

Modal Usaha Tani merupakan faktor yang sangat penting dalam pengembangan

usaha tani dimana jika tidak ada modal maka usaha tani tidak akan bisa berjalan.

Petani di Desa Tamba Dolok mengalami kesulitan dalam masalah permodalan

dimana kekurangan modal selalu masalah yang sangat banyak dihadapi para petani

Sebagian besar petani kopi Samosir Desa Tamba Dolok berasal dari golongan kurang

mampu dan banyak yang tidak memiliki pekerjaan sampingan selain bertanam kopi

sehingga permodalan menjadi masalah dalam menjalankan usaha tani Kopi Samosir.

Permodalan dapat diperoleh dari modal sendiri dan modal yang berasal dari pinjaman

non-lembaga seperti saudara, teman dan sebagainya, mengingat di Desa Simpang

Banyak Julu tidak ada terdapat bank, koperasi atau credit union. Namun petani lebih

banyak memperoleh modal dari para pedagang pengumpul yang nantinya kopi hasil

produksi mereka harus di jual kepada pedagang pengumpul tersebut sehingga

tentunya akan membatasi kebebasan para petani dalam mendapatkan informasi

mengenai harga kopi.

2. Penguasaan teknologi sangat rendah

Penguasaan teknologi kopi di kabupaten Samosir tergolong masih rendah karena

segala kegiatan yang berhubungan dengan pemanenan, pemeliharaan dan pasca panen

masih menggunakan tenaga manusia tanpa unsur teknologi yang digunakan. Ini

(55)

proses pengembangan usaha tani kopi seperti penggunaan mesin gilingan kopi,mesin

sortasi, pengukur kadar air dan sebagainya dapat mendukung usaha tani lebih efektif

dan efesien

3. Bantuan pemerintah

Peran pemerintah khususnya dalam permodalan sangat penting, dimana pemerintah

memberikan berbagai bantuan seperti subsidi pupuk atau BLP (Bantuan Langsung

Pupuk), BLBU (Bantuan Langsung Benih Unggul), dan KUR (Kredit Usaha Rakyat).

Hal ini diharapkan dapat membantu para petani yang memiliki keterbatasan terhadap

modal.

Namun para petani sulit mendapakan bantuan kredit tersebut dan menurut pengakuan

petani pemerintah tidak pernah ikut campur tangan dalam masalah yang dihadapi para

petani khususnya masalah permodalan. Melalui Kelompok Tani, para petani

mengajukan pinjaman ke bank untuk mendapatkan bantuan kredit, tetapi pihak bank

meminta jaminan dari para petani. Bagi petani yang tidak memiliki agunan tentu saja

pinjaman sulit untuk diperoleh. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya permodalan

(56)

5.1.2 Faktor Lingkungan Eksternal

Peluang (Opportunity). Peluang utama yang menjadi pendorong tercapainya percepatan pengembangan usaha tani kopi di Desa Tamba Dolok Kabupaten Samosir adalah:

1. Informasi pasar yang tersedia

Informasi pasar merupakan faktor yang sangat penting yang dibutuhkan oleh petani

khususnya petani yang meminjamkan modal dari para pedagang pengumpul.

Di desa Tamba Dolok informasi pasar harga kopi sangat mudah didapatkan karena di

desa tetangga terdapat pedagang besar yang merupakan satu satunya di kecamatan

sitio-tio yang menjual kopi kering atau yang sudah diolah langsung ke pusat

perdagangan kopi di Medan sehingga untuk masalah informasi pasar sangat mudah

untuk didapatkan dari pedagang besar tersebut.

2. Harga kopi yang stabil

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak dibudidayakan

masyarakat di kabupaten Samosir. Bagi petani kopi, stabilitas harga sangat

berpengaruh besar dalam menentukan gairah mereka untuk terus menanam.

dengan harga kopi yang sesuai ditingkatan petani, gairah para petani kopi di

Kabupaten Samosir semakin meningkat. Ini merupakan suatu peluang yang sangat

(57)

Ancaman (Threaths). Ancaman utama yang dapat menjadi penghalang tercapainya

pengembangan usaha tani kopi di Desa Tamba Dolok Kabupaten Samosir adalah :

1. Keterbatasan Penyuluhan

Untuk meningkatkan produksi dan teknik budidaya tanaman kopi yang benar

harusnya didukung dengan adanya tenaga penyuluh yang akan membimbing para

petani untuk melakukan teknik budidaya tanaman kopi yang benar. Namun

pengakuan para petani di desa Tamba Dolok hampir tidak pernah ada kegiatan

penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga penyuluh sehingga peran penyuluh di Desa

Tamba Dolok sangat minim.

Petani harus mengikuti informasi-informasi terbaru mengenai teknik budidaya, bibit

unggul, mesin-mesin pertanian, panen, penanganan pasca panen ataupun informasi

pasar agar tidak ketinggalan. Untuk itu, peran tenaga pendamping atau penyuluh

pertanian sangat dibutuhkan dalam membimbing petani menjalankan usaha tani

kopi.

Untuk itu perlu kebijakan pemerintah untuk menggalakkan kembali tenaga penyuluh

di Desa Tamba Dolok sehingga para petani dapat melakukan usahatani yang lebih

efektif.

2. Sarana dan prasarana

Areal penjemuran dan pabrik pengolahan biji kopi merupakan bagian penting dalam

usaha tani Kopi. Petani di desa Tamba Dolok merasa kesulitan untuk menjemur kopi

(58)

penjemuran dan pabrik pengolahan kopi hanya ada di desa tetangga yaitu desa cinta

maju yang bersebelahan dengan desa tamba dolok, sedangkan infrastruktur jalan dan

transportasi untuk ke desa sebelah cukup sulit sehingga para petani biasanya langsung

menjual kopi yang dihasilkan kepada para pedagan pengumpul yang mempunyai

transportasi.

5.2. Analisis dan Formulasi Strategi Pengembangan usahatani kopi

Setelah mengidentifikasi faktor eksternal apakah termasuk peluang atau ancaman

maka dilakukan pembobotan untuk mengetahui nilai penting faktor tersebut dalam

pengembangan kopi Samosir.

5.2.1. Hasil Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal

Cara membuat matriks IFAS dan EFAS :

1. Faktor-faktor internal/eksternal sesuai dengan kelompoknya yaitu faktor yang

memberikan kekuatan (Strength) disusun dan faktor kelemahan (Weaknesses) serta

faktor yang memberikan peluang (opportunity) dan faktor ancaman (threat).

2. Selanjutnya masing-masing faktor tadi diberi bobot. Dalam memberikan bobot

dilakukan secara hati-hati dan didasarkan pada tingkat kepentingan dan dampak

strategisnya. Semakin penting faktor tersebut, maka semakin tinggi bobot yang

harus diberikan. Maksimum total bobot adalah 1 (satu).

3. Langkah berikutnya terhadap setiap faktor baik kekuatan dan kelemahan atau

peluang dan ancaman diberi rating. Rating dibuat dengan ketentuan untuk

faktor-faktor yang memberikan kekuatan dan peluang harus diberi tanda positif dan

sebaliknya untuk faktor-faktor yang memberikan kelemahan dan ancaman

(59)

paling besar, maka harus diberi rating positif yang paling besar, demikian

sebaliknya bila kekuatannya dan peluangnya kecil. Cara yang sama juga

diperlakukan pada faktor-faktor yang memberi kelemahan dan ancaman paling

besar, maka harus diberi rating negatif paling banyak, demikian sebaliknya bila

tingkat kelemahannya dan peluangnya kecil.

4. Selanjutnya Bobot dikalikan dengan Rating, sehingga akan diperoleh Nilai atau

Skor.

5. Setelah semua faktor dihitung skornya, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan

total skor secara keseluruhan.

Adapun tabel perhitungan pembobotan x rating faktor internal Strategi pengembaangan usahatani kopi kabupaten Samosir dapat disajikan pada tabel 5.3 berikut ini :

Tabel. 13. Matriks Evaluasi Faktor Internal Strategi Pengembangan Usahatani kopi kabupaten Samosir

Faktor strategis (Kekuatan) Rating Bobot Skor

Ketersediaan bibit kopi 4 0,21 0,84

Faktor strategis (Kelemahan) Nilai Bobot Skor

Ketersediaan modal usaha tani -4 0,21 -0,84

Penguasaan teknologi -3 0,16 -0,48

(60)

Adapun tabel perhitungan pembobotan x rating faktor eksternal Strategi pengembaangan usahatani kopi kabupaten Samosir dapat disajikan pada tabel 5.4 berikut ini :

Tabel.14. Matriks evaluasi faktor eksternal sterategi pengembangan usaha tani kopi

Faktor strategis (Peluang) Rating Bobot Skor

Tersedidanya informasi pasar 3 0,25 0,75

Harga Kopi yang stabil 2 0,17 0,34

Faktor strategis (Ancaman)

Tenaga Penyuluh -4 0,33 -1,32

Sarana dan Prasarana -3 0,25 -0,75

Tabel.15 Gabungan Matriks Faktor Strategi Internal - Eksternal Strategi pengembaangan usahatani kopi kabupaten Samosir

Faktor strategis (Kekuatan) Rating Bobot Skor

Ketersediaan bibit kopi 4 0,21 0,84

Faktor strategis (Kelemahan) Rating Bobot Skor

Ketersediaan modal usaha tani -4 0,21 -0,84

Penguasaan teknlogi -3 0,16 -0,48

Bantuan Pemerintah -3 0,16 -0,48

(61)

Selisih Kekuatan-Kelemahan -0,28

Faktor strategis (Peluang) Rating Bobot Skor

Tersedidanya informasi pasar 3 0,25 0,75

Harga Kopi yang stabil 2 0,17 0,34

Jumlah 1,09

Faktor strategis (Ancaman)

Keterbatasan Penyuluhan -4 0,33 -1,32

Sarana dan Prasarana -3 0,25 -0,75

Jumlah 1 -2,07

Selisih Peluang-Ancaman -0,98

5.2.2. Formulasi Strategi Pengembangan Usahatani kopi kabupaten Samosir

Ada 6 faktor-faktor internal dalam pengembangan agribisnis kopi Samosir yaitu

ketersediaan bibit kopi, Ketersediaan tenaga kerja, Ketersediaan lahan, Ketersediaan modal usaha tani, Penguasaan teknologi, Bantuan Pemerintah, Faktor yang paling tinggi ratinganya adalah ketersediaan bibit kopi Samosir. Ada 4 faktor-faktor eksternal

dalam pengembangan agribisnis kopi Samosir yaitu Tersedidanya informasi pasar,

Harga Kopi yang stabil, Keterbatasan Penyuluhan, Sarana dan Prasarana dimana

faktor yang paling tinggi ratingnya adalah Tenaga Penyuluh.

Setelah melakukan perhitungan bobot -dari masing-masing faktor internal maupun

eksternal kemudian dianalisis dengan menggunakan matrik posisi. Matrik ini

(62)

Tamba Dolok Kabupaten Samosir Berdasarkan Tabel 5.5 diperoleh nilai X < 0 yaitu

-0,28 dan nilai Y < 0 yaitu -0, 98. Posisi titik kordinatnya dapat dilihat pada kordinat

Cartesius berikut ini :

Gambar 5.1. Matriks Posisi SWOT Pengembangan Usahatani Kopi

Dari hasil hasil matriks internal - eksternal yang diperoleh dari nilai total skor

pembobotan pada Strategi pengembangan diperoleh faktor internal bernilai -0,28

yang artinya nilai ini merupakan selisih antara kekuatan dan kelemahan, dimana

kelemahan lebih besar dibandingkan dengan kekuatan. Dan untuk faktor eksternal,

bernilai -0,98 yang artinya nilai ini merupakan selisih antara peluang dan ancaman,

(63)

Dari diagram diperoleh usaha srategi pengembangan usaha tani kopi berada pada

daerah IV (Strategi Defensif). Situasi pada daerah IV merupakan situasi yang sangat

tidak menguntungkan, pengembangan usahatani kopi tersebut menghadapi berbagai

ancaman dan kelemahan internal. Fokus strategi yaitu melakukan tindakan

penyelamatan agar terlepas dari kerugian yang lebih besar (defensive). Pada situasi ini

Strategi yang digunakan bedasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan

berusaha meminimalkan kelemahan serta menghindari ancaman. Strategi WT

bertujuan untuk mengurangi kelemahan internal dengan menghindari ancaman

eksternal.

Penjelasan hasil di atas dari tahap pengumpulan data, data diperoleh lagi yang lebih

spesifik, dengan membuat “tahap analisis”, dimana memanfaatkan semua informasi

kedalam model perumusan strategi. Model tersebut adalah Matriks SWOT, sehingga

beberapa katagori yang muncul yakni strategi SO, strategi ST, strategi WO, strategi

WT dapat diperoleh. Matriks SWOT dapat dilihat pada tabel 15 berikut :

Tabel.16. Matriks SWOT Strategi Pengembangan Usahatani

(64)

stabil b. Penyediaan suplai produksi kopi untuk tujuan yang lebih efektif (W1,S1,S2). melalui dukungan pemerintah dengan mengadakan lembaga permodalan dan menggalakan penyuluhan yang dibutuhkan oleh petani kopi (W1, T1, W3}

b. Pembenahan teknologi yang sesuai untuk keperluan tenaga penyuluh dalam melaksanakan tugasnya. (W2,T1)

Gambar

Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Kopi Arabika di Indonesia Tahun 2007-2012
Tabel 2. Luas Areal dan Produksi Kopi Arabika Indonesia Tahun 2007- 2012
Tabel 3. Volume dan Nilai Ekspor Kopi  Arabika di Provinsi Sumatera Utara Periode 2007-2011TahunVolume Ekspor (Ton)Nilai Ekspor(U$)
Tabel 4. Luas Areal Tanaman Menghasilkan dan Produksi Kopi Arabika              di Provinsi Sumatera Utara Periode 2007- 2011
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis SWOT yaitu dengan cara membandingkan faktor internal kekuatan (Strenghts) dan kelemahan (Weaknesses) dengan faktor eksternal peluang (Oppurtunities) dan

Hasil penelitian SWOT, terdapat 10 faktor internal dan 11 faktor eksternal yang memengaruhi eksistensi perusahaan yang terdiri dari 6 faktor kekuatan, 4 faktor kelemahan, 6

Adapun yang menjadi faktor internal dan faktor eksternal di Desa Buntu Batu Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang yaitu meliputi faktor kekuatan (tersedianya lahan

yaitu evaluasi faktor internal (Internal Factor Evaluation) yang menganalisis kekuatan dan kelemahan dalam perusahaan dan evaluasi faktor eksternal (External Factor

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tambah pada produk ulap doyo yang dihasilkan dan mengetahui faktor internal (kekuatan dan kelemahan) perusahaan serta

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) serta faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) dalam pengembangan peternakan

- Untuk mengetahui kekuataan dan kelemahan dari faktor internal serta peluang dan ancaman dari faktor internal serta peluang dan ancaman dari faktor eksternal Kampung

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman), merumuskan strategi