• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi."

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS DAYA SAING EKONOMI KOTA TEBING TINGGI

OLEH

DIVIYA BARDI 110501052

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ABSTRACT

The purpose of the reasearch is for analysing some elements which influence and be determinant of economic competitiveness in Tebing Tinggi City in 2014. This research is using Analytical Hierarchy Process Method (AHP). This will be using purposive sampling method, this research uses primary data which it will be using quetioneres and interview over 30 respondens, it consists it students, teachers,publics,birocration,nonbanking, and businessman.

The result of the research is the element which the most influential factor determining economic competitiveness in Tebing Tinggi City is Infrastructur of physical which it has value of weigth 0,272, and thenlabor and productivity (0,239), institutional (0,205), regional economic (0,169)and the last position is social politic (0,116).

(3)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penentu daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi pada tahun 2014 yang menggunakan Analisis Hierarki Proses (AHP).Penelitian ini data primer dengan kuisioner dan wawancara terhadap 30 responden yang terdiri dari mahasiswa, staf/pengajar, tokoh masyarakat, birokrasi, perbankan, non perbankan dan pengusaha.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang paling dominan dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi, yang pertama adalah infrasrtuktur fisik (0,272), kemudian faktor tenaga kerja dan produktivitas (0,239), faktor kelembagaan (0,205), faktor perekonomian daerah (0,169), dan posisi yang terakhir sosial politik (0,116).

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi berjudul “ Analisis Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi”.

Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di

departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Sumatera Utara dan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi.Tentunya dalam

penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, maka penulis dengan

terbuka mengharapkan masukan dari berbagai pihak.

Dalam kesempatan ini, penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih

kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini

dan juga penyelesaian studi penulis, terutama kepada :

1. Kedua orangtua tercinta Alm. Ganda RubendanMarima atas cinta, kasih,

sayang, doa dan seluruh dukungan baik moril maupun materil yang telah

diberikan kepada penulis.

2. Bapak Prof. Dr Azhar Maksum, S.E., M.Ec.,Ac, Ak, CA. selaku Dekan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, S.E., M.Ec.selaku Ketua Departemen Ekonomi

Pembangunan dan Drs. Syahrir Hakim, M.Si sebagai Sekretaris Departemen

Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera

(5)

4. Bapak Irsyad Lubis, S.E., M.Soc.Sc., Ph.D, selaku Ketua Program Studi S1

Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera

Utara.

5. Bapak Paidi Hidayat, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Program Studi S1

Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera

Utara dan sebagai dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan

waktunya untuk memberikan bimbingan dari awal sehingga terselesaikannya

skripsi ini.

6. Ibu Dra. Raina Linda Sari, M.Si. selaku dosen penguji yang telah meluangkan

waktunya dan memberikan saran dan kritik dalam skripsi ini.

7. Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution,S.E., M.Si.selaku dosen penguji saya yang

telah banyak memberikan dukungan dan masukan berupa saran dan kritik.

8. Seluruh staf pengajar dan staf pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sumatera Utara, terutama Departemen Ekonomi Pembangunan.

9. Kepada keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan moril dan

juga materil.

10. Kepada seluruh teman-teman Ekonomi pembangunan 2011 dan kepada

seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga hasil penelitian skripsi ini dapat

bermanfaat bagi banyak pihak, termasuk bagi penulis sendiri.

(6)

DAFTAR ISI

2.2.4 Infrastruktur dan Sumber Daya alam... 11

2.2.5 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ... 11

2.2.6 Sumber Daya manusia ... 12

2.2.7 Kelembagaan ... 12

2.2.8 Governance dan Kebijakan Pemerintah ... 13

2.2.9 Manajemen dan Ekonomi Mikro ... 13

2.3 Penelitian Terdahulu... 14

2.4 Kerangka Konseptual ... 16

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 18

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 18

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian... 18

3.4 Metode Pengambilan Sampel... 18

3.5 Batasan Operasional... 20

3.6 Definisi Operasional ... 20

3.7 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 21

3.8 Metode Analisis Data ... 22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi... 35

(7)

4.1.2 Kondisi Demografis ... 36

4.1.3 Kondisi Perekonomian Kota Tebing Tinggi ... 38

4.2 Profil Responden... 40

4.3 Pembobotan dan Pemeringkatan Faktor Daya saing... 41

4.3.1 Faktor Infrastruktur Fisik ... 44

4.3.2 Faktor Tenaga Kerja dan Produktivitas ... 46

4.3.3 Faktor Kelembagaan ... 49

4.3.4 Faktor Perekonomian daerah... 52

4.3.5 Faktor Sosial Politik ... 55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 59

5.2 Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

(8)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

3.1 Jumlah Sampel Berdasarkan Kelompok

Masyarakat ... 20

3.2 Matriks Perbandingan Berpasangan ... 30

3.3 Skala Penilaian Perbandingan ... 31

3.4 Pembangkit Random (RI) ... 34

4.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan dan Jenis kelamin di Kota Tebing Tinggi Tahun 2013 ... 37

(9)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Indikator Utama Penentu Daya Saing Ekonomi Kota

Tebing Tinggi ... 17

4.1 Nilai Bobot Dari Faktor Penentu Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi ... 42

4.2 Persentase Faktor Penentu Daya Saing ... 43

4.3 Persentase Bobot Variabel Faktor Infrastruktur ... 44

4.4 Persentase Bobot Variabel Faktor Tenaga Kerja ... 47

4.5 Persentase Bobot Variabel Faktor kelembagaan ... 50

4.6 Persentase Bobot Variabel Faktor Perekonomian Daerah ... 53

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner Penelitian... 53

(11)

ABSTRACT

The purpose of the reasearch is for analysing some elements which influence and be determinant of economic competitiveness in Tebing Tinggi City in 2014. This research is using Analytical Hierarchy Process Method (AHP). This will be using purposive sampling method, this research uses primary data which it will be using quetioneres and interview over 30 respondens, it consists it students, teachers,publics,birocration,nonbanking, and businessman.

The result of the research is the element which the most influential factor determining economic competitiveness in Tebing Tinggi City is Infrastructur of physical which it has value of weigth 0,272, and thenlabor and productivity (0,239), institutional (0,205), regional economic (0,169)and the last position is social politic (0,116).

(12)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penentu daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi pada tahun 2014 yang menggunakan Analisis Hierarki Proses (AHP).Penelitian ini data primer dengan kuisioner dan wawancara terhadap 30 responden yang terdiri dari mahasiswa, staf/pengajar, tokoh masyarakat, birokrasi, perbankan, non perbankan dan pengusaha.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang paling dominan dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi, yang pertama adalah infrasrtuktur fisik (0,272), kemudian faktor tenaga kerja dan produktivitas (0,239), faktor kelembagaan (0,205), faktor perekonomian daerah (0,169), dan posisi yang terakhir sosial politik (0,116).

(13)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pada era otonomi daerah ini pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

menghadapi persoalan dalam membangun ekonomi maka suatu daerah harus

membangun perekonomian yang memiliki daya saing dan efisiensi.Pada era

otonomi daerah ini maka program pembangunan ekonominya harus desentralisasi

dan memiliki daya saing, sehingga cakupannya lebih luas dan tidak hanya sekedar

pembangunan ekonomi daerah.

Daya saing (competitiveness) merupakan salah satu kata kunci yang lekat

dengan pembangunan ekonomi lokal atau daerah.Daya saing daerah juga banyak

diartikan sebagai kemampuan perusahaan pada suatu daerah dalam menghasilkan

pendapatan yang tinggi serta tingkat kekayaan yang lebih merata untuk

penduduknya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami peningkatan daya

saing secara cepat dan dinamis di kawasan Asia-Pasifik." Forum Ekonomi Dunia

atau World Economic Forum(WEF)” melalui portalnya mempublikasikan ranking

daya saing global (The Global CompetitivenessReport/GCR) tahun 2014-2015

Indonesia menempati peringkat 34 dari 144 negara, atau naik 4 tingkat dari posisi

sebelumnya 38 (tahun 2013-2014), dan posisi ke-50 pada 2012-2013. Menurut

WEF, kenaikan ranking indeks daya saing Indonesia pada periode ini dikarenakan

perbaikan di beberapa kriteria seperti infrastruktur dan konektifitas, kualitas tata

(14)

ASEAN bersama Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, yang terus

memperbaiki peringkat daya saing mereka sejak tahun 2009.

The Global Competitiveness Report's didasarkan pada Global

Competitiveness Index (GCI), yang diperkenalkan World Economic Forum pada

tahun 2004.Laporan ini mendefinisikan daya saing sebagai seperangkat institusi,

kebijakan dan faktor-faktor yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara.

Skor GCI dihitung berdasarkan 12 kategori yakni institusi atau lembaga,

infrastruktur, makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi

dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi tenaga kerja, pengembangan pasar

keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.

Dari ke-12 kategori itu, total skor yang diraih Indonesia adalah 38,

mengungguli sejumlah negara di Eropa seperti Spanyol (35), Portugal (36), dan

Italia (49); negara-negara Timur Tengah seperti Kuwait (40), Bahrain (44), atau

Oman (46); juga negara-negara Asia seperti Filipina (52), Vietnam (68), dan India

(71).Adapun negara-negara Asia yang posisinya di atas Indonesia antara lain

adalah Singapura (2), Jepang (6), Taiwan (14), Malaysia (20), Korsel (26), China

(28), dan Thailand (31).

Sejak otonomi daerah tahun 2001, Kota Tebing Tinggi mengalami

perubahan yang diakibatkan karena pemekaran.Pemekaran Kota Tebing Tinggi

terbentuk berdasarkan peraturan daerah Kota Tebing Tinggi Nomor 15 Tahun

2006 tanggal 9 November 2006.Kotamadya Tebing Tinggi yang memiliki luasnya

(15)

35 kelurahan. Kelima kecamatan itu terdiri dari, yaitu: 1).

Padang Hulu, 3). Rambutan, 4). Tebing Tinggi Kota, dan 5). Bajenis.

Dari hasil penelitian PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD (2008)

dalam neraca daya saing daerah, Kota tebing Tinggi berada di peringkat ke-148

secara keseluruhan dalam daya saing daerah dari 434 neraca daya saing daerah.

Berdasarkan input perekonomian daerah, Kota Tebing Tinggi berada di peringkat

ke-251. Peringkat ini masih di bawah Kabupaten dan Kota lainnya di Sumatera

Utara seperti Kabupaten Asahan yang berada di peringkat ke-73, Kabupaten Deli

Serdang di peringkat ke-95, dan Kota Tanjung balai di peringkat ke-103.

Berdasarkan input SDM dan ketenagakerjaan, Kota Tebing Tinggi berada di

peringkat ke-245. Berdasarkan input infrastruktur, SDA, dan lingkungan, berada

di peringkat ke-130. Dan berdasarkan output tingkat kesempatan kerja, kota

Tebing Tinggi berada di peringkat ke-389. Ini menunjukkan bahwa masih

tingginya tingkat pengangguran di Kota Tebing Tinggi dan infrastruktur yang

masih belum memadai.

Berdasarkan BPS Kota Tebing Tinggi dalam periode 2008-2012, kinerja

ekonomi Kota Tebing Tinggi yang diukur dengan besaran PDRB per kapita atas

dasar harga yang berlaku terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 kinerja

ekonomi Kota Tebing Tinggi hanya sebesar Rp 12,93 juta per tahun. Sedangkan

jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi Kota Tebing Tinggi pada tahun 2012

mengalami peningkatan sebesar 6,75 %. Pertumbuhan tersebut meningkat

(16)

Kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Kota Tebing Tinggi adalah

sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memberikan kontribusi sebesar 22,45

persen dan diikuti oleh sektor industri yang memberikan kontribusi sebesar 19,56

persen. Selain itu sektor lain yang memberikan kontribusi yang cukup besar

adalah sektor jasa-jasa (termasuk jasa pendidikan dan kesehatan) yakni sebesar

19,38 persen.

Seiring dengan berkembangnya fasilitas ekonomi perdagangan dan

perbankan industri, kesehatan, komunikasi serta fasilitas pendukung lainnya,

perekonomian Tebing Tinggi tumbuh dengan cepat. Perkembangan ekonomi

Tebing Tinggi terpacu karena letak strategis kota yang berada di jalur lintas

Sumatera. Kondisi ini mendorong perkembangan Tebing Tinggi sebagai kota

perdagangan, yang tercermin dari aktivitas yang menonjol disektor perdagangan.

Persaingan antar daerah yang terjadi pada saat ini, membuat pemerintah

daerah Kota Tebing Tinggi dituntut untuk lebih menyiapkan daerahnya sebaik

mungkin agar dapat menarik investasi ke Kota Tebing Tinggi. Sehingga untuk

mengetahui bagaimana daya saing ekonomi terjadi maka perlu dilakukan

penelitian tentang “Analisis Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi”. 1.2 Perumusan Masalah

Demikian juga halnya dengan penulisan skripsi ini, sesuai latar belakang

diatas, telah ditentukan permasalahan-permasalahan yang akan di bahas pada

(17)

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana tingkat daya saing ekonomi di Kota Tebing

Tinggi.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan dan menambah pengetahuan bagi penulis dan

pembaca khususnya yang berkaitan dengan daya saing ekonomi.

2. Sebagai bahan pustaka, informasi dan referensi bagi para yang memerlukan

serta sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

3. Sebagai bahan dan tambahan ilmu yang dapat memperkaya pengetahuan dan

sarana untuk menerpkan pengetahuan teoritis yang diperoleh di bangku kuliah

serta sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan pendidikan strata 1 pada

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Daya Saing Daerah

Daya saing daerah menurut definisi yang dibuat UK-DTI adalah

kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan dan kesempatan kerja

yang tinggi dengan tetap terbuka terhadap persaingan domestik maupun

internasional.Sementara itu CURDS mendefiniskan daya saing daerah sebagai

kemampuan sektor bisnis atau perusahaan pada suatu daerah dalam menghasilkan

pendapatan yang tinggi serta tingkat kekayaan yang lebih merata untuk

penduduknya.

Daya saing menjadi salah satu isu utama dalam pembangunan daerah.

Konsep daya saing pada umumnya dikaitkan dengan kemampuan suatu

perusahaan, kota, daerah, wilayah atau negara dalam mempertahankan atau

meningkatkan keunggulan kompetitif secara berkelanjuatan (Porter, 2000). Salah

satu pendekatan yang digunakan untuk memeperjelas konsep daya saing daerah

adalah berdasarkan definisi European Commission yang mendefinisikan daya

saing sebagai “kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa yang sesuai

dengan kebutuhan pasar internasional, diiringi dengan kemampuan

mempertahankan pendapatan yang tinggidan berkelanjutan, lebih umumnya

adalah kemampuan (regions) untuk menciptakan pendapatan dan kesempatan

kerja yang relatif tinggi sementara terekspos pada daya saing eksternal”

(19)

Sementara Huggins (2007) dalam publikasi “UK Competitiveness Index”

mendefinisikan daya saing daerah sebagai “kemampuan dari perekonomian untuk

menarik dan mempertahankan perusahaan-perusahaan dengan kondisi yang stabil

atau dengan pangsa pasar yang meningkat dalam aktivitasnya, dengan tetap

mempertahankan atau meningkatkan standar kehidupan bagi semua yang terlibat

di dalamnya”. Dalam pengertian daya saing ini secara tersirat dinyatakan pula

bahwa kondisi perekonomian yang kondusif merupakan suatu syarat mutlak untuk

meningkatkan daya saing daerah.

Daya saing tempat (loyalitas dan daerah) merupakan kemampuan

ekonomi dan masyarakat lokal untuk memberikan peningkatan standar hidup bagi

warga .Daya saing (competitiveness) merupakan salah satu kata kunci yang lekat

dengan pembangunan ekonomi lokal/daerah.Camagnni (2002) mengungkapkan

bahwa daya saing daerah kini merupakan salah satu isu sentral, terutama dalam

rangka mengamankan stabilitas ketenagakerjaan, dan memanfaatkan integrasi

eksternal (kecenderungan global), serta keberlanjutan pertumbuhan kesejahteraan

dan kemakmuran lokal.

Dalam menghadapi globalisasi ekonomi, yang dicirikan persaingan bebas

yang bersifat global, dimana suatu masyarakat hanya akan eksis atau bertahan

apabila mereka mempunyai daya saing tinggi. Daya saing yang di timbulkan

dalam arti persaingan yang fair, dapat juga merupakan potensi untuk aliansi,

karena potensi aliansi pada dasarnya adalah merupakan kemampuan daerah atau

(20)

Global Competitive Report 2000, World Competitiveness Report dan

Institute for Management Development (IMD) menerbitkan daftar peringkat daya

saing internasional negara-negara di dunia. Dengan indeks daya saing yang

dihitung atas dasar 9 kelompok karakteristik structural ekonomi, yang meliputi:  Keterbukaan terhadap perdagangan dan Keuangan Internasional .

 Peran kebijakan fiskal dan regulasi pemerintah.

 Birokrasi yang efisien.

 Pembangunan pasar financial.

 Kualitas infrastruktur.

 Kualitas teknologi.

 Kualitas manajemen bisnis.

 Fleksiibilitas pasar tenaga kerja dan pengembangan sumber daya manusia.

 Kualitas kelembagaan hukum dan politik.

Ukuran daya saing ekonomi sebenarnya ditentukan oleh empat faktor di

atas, yakni kebijakan pemerintah, kelembagaan dan kemampuan, serta birokrasi

yang efisien.Pengembangan keempat faktor ini merupakan birokrasi yang

efisien.Pengembangan keempat faktor ini merupakan kunci bagii pembangunan,

khususnya pembangunan ekonomi daerah.Kualitas kelembagaan dan kemampuan

nasional tidak hanya tercermin atas prestasi pada tingakt pusat saja, tetapi atas

dasar yang ada di seluruh Indonesia.Dengan demikian daya saing ekonomi daerah,

tetapi harus bersaing dalam ukuran internasional (Halwani, 2002:422).

Dengan demikian untuk meningkatkan daya saing saing ekonomi daerah

(21)

internasional.Kesiapan pemerintah daerah secara sungguh-sungguh dalam menata

pengembangan kelembagaan, mempertajam kebijakan pemerintah daerah,

memperkuat sumber daya manusia aparatur (birokrasi) dan masyarakat daerah,

hingga pemberdayaan ekonomi daerah secara menyeluruh merupakan kunci

dalam pembangunan ekonomi daerah yang memiliki daya saing yang tinggi pada

era globalisasi ekonomi ini.

2.2 Indikator Utama Daya Saing Ekonomi Daerah 2.2.1 Perekonomian Daerah

Perekonomian daerah merupakan ukuran kinerja secara umum dari

perekonomian makro (daerah) yang meliputi penciptaan nilai tambah, akumulasi

capital, tingkat konsumsi, kinerja sektoral perekonomian, serta tingkat biaya

hidup. Indicator kinerja ekonomi makro mempengaruhi daya saing daerah melalui

prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Nilai tambah merefleksikan produktivitas perekonomian setidaknya dalam

jangka pendek.

2. Akumulasi modal mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing dalam

jangka panjang.

3. Kemakmuran suatu daerah mencerminkan kinerja ekonomi di masa lalu.

4. Kompetisi yang didorong mekanisme pasar akan meningkatkan kinerja

ekonomi suatu daerah. Semakin ketat kompetisi pada suatu perekonomian

daerah, maka akan semakin kompetitif perusahaan-perusahaan yang akan

(22)

2.2.2 Keterbukaan

Keterbukaan merupakan ukuran seberapa jauh perekonomian suatu daerah

berhubungan dengan daerah lain yang tercermin dari perdagangan daerah tersebut

dengan daerah lain dalam cakupan nasional dan internasional, indikator ini

menentukan daya saing melalui prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Keberhasilan suatu daerah dalam perdagangan internasional merefleksikan

daya saing perekonomian daerah tersebut.

2. Keterbukaan suatu daerah baik dalam perdagangan domestik maupun

internasional meningkatkan kinerja perekonomiannya.

3. Investasi internasional mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien

ke seluruh penjuru dunia.

4. Daya saing yang di dorong oleh ekspor terkait dengan orientasi

pertumbuhan perekonomian daerah

5. Mempertahankan standar hidup yang tinggi mengharuskan integrasi

dengan ekonomi internasional.

2.2.3 Sistem Keuangan

Sistem keuangan merefleksikan kemampuan sistem financial perbankan

dan non-perbankan di daerah untuk memfasilitasi aktivitas perekonomian yang

memberikan nilai tambah. Sistem keuangan suatu daerah akan mempengaruhi

alokasi faktor produksi yang terjadi di perekonomian daerah tersebut. Indikator

siatem keuangan ini mempengaruhi daya saing daerah melalui prinsip-prinsip

(23)

1. Sistem keuangan yang baik mutlak diperlukan dalam memfasilitasi

aktivitas perekonomian daerah.

2. Sektor keuangan yang efisien dan terintegrasi secara internasional

mendukung daya saing daerah.

2.2.4 Infrastruktur dan Sumber Daya Alam

Infrastruktur dalam hal ini merupakan indikator seberapa besar sumber

daya seperti modal fisik, geografis, dan sumber daya alam dapat mendukung

aktivitas perekonomian daerah yang bernilai tambah. Indikator ini mendukung

daya saing daerah melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Modal fisik berupa infrastruktur baik ketersediaan maupun kualitasnya

mendukung aktivitas ekonomi daerah.

2. Modal alamiah baik berupa kondisi geografis maupun kekayaan alam yang

terkandung di dalamnya juga mendorong aktivitas perekonomian daerah.

3. Teknologi informasi yang maju merupakan infrastruktur yang mendukung

berjalannya aktivitas bisnis di daearh yang berdaya saing.

2.2.5 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Ilmu pengetahuan dan teknologi mengukur kemampuan daerah dalam ilmu

pengetahuan dan teknologi serta penerapannya dalam aktivitas ekonomi yang

meningkatkan nilai tambah. Indikator ini mempengaruhi daya saing daerah

melalui beberapa prinsip di bawah ini:

1. Keunggulan kompetitif dapat dibangun melalui aplikasi teknologi yang sudah

(24)

2. Investasi pada penelitian dasar dan aktivitas yang inovatif yang menciptakan

pengetahuan baru sangat krusial bagi daerah ketika melalui tahapan

pembangunan ekonomi yang lebih maju.

2.2.6 Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia dalam hal ini ditunjukan untuk mengukur

ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia. Faktor-faktor SDM ini

mempengaruhi daya saing daerah berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

1. Angkatan kerja dalam jumlah besar dan berkualitas akan meningkatkan daya

saing suatu daerah.

2. Pelatihan dan pendidikan adalah cara yang paling baik dalam meningkatkan

tenaga kerja yang berkualitas.

3. Sikap dan nilai yang dianut oleh tenaga kerja juga menentukan daya saing

suatu daerah.

4. Kualitas hidup masyarakat suatu daerah menentukan daya saing daerah

tersebut begitu juga sebaliknya.

2.2.7 Kelembagaan

Kelembagaan merupakan indikator yang mengukur seberapa jauh iklim

sosial, politik, hukum dan aspek keamanan mampu mempengaruhi secara positif

aktivitas perekonomian di daerah. Pengaruh faktor kelembagaan terhadap daya

saing daerah didasarkan pada beberapa prinsip sebagai berikut:

1. Stabilitas sosial dan politik melalui system demokrasi yang berfungsi dengan

baik merupakan iklim yang kondusif dalam mendorong aktivitas ekonomi

(25)

2. Peningkatan daya saing ekonomi suatu daerah tidak akan dapat tercapai tanpa

adanya sistem hukum yang baik serta penegakan hukum yang independen.

3. Aktivitas perekonomian suatu daerah tidak akan dapat berjalan secara optimal

tanpa didukung oleh situasi keamanan yang kondusif.

2.2.8 Governance dan Kebijakan Pemerintah

Governance dan kebijakan Pemerintah dimaksudkan sebagai ukuran dari

kualitas administrasi pemerintah daerah, khususnya dalam rangka menyediakan

infrastruktur fisik dan peraturan-peraturan daerah. Secara umum pengaruh faktor

governance dan kebijakan pemerintah bagi daya saing daearah dapat didasarkan

pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Dengan tujuan menciptakan iklim persaingan yang sehat intervensi

pemerintah dalam perekonomian sebaiknya diminimalkan.

2. Pemerintah daerah berperan dalam menciptakan kondisi sosial yang

terprediksi serta berperan dalam meminimalkan resiko bisnis.

3. Efektivitas administrasi pemerintahan daerah dalam menyedikan infrastruktur

dan aturan-aturan berpengaruh terhadap daya saing ekonomi suatu daearah.

4. Efektifitas pemerintah daerah dalam melakukan koordinasi dan menyediakan

informasi tertentu pada sektor swasta mendukung daya saing ekonomi suatu

daerah.

2.2.9 Manajemen dan Ekonomi Mikro

Dalam indikator manajemen dan ekonomi mikro pengukuran yang

(26)

dikelola dengan cara yang inovatif, menguntungkan dan bertanggung jawab.

Prinsip-prinsip yang relevan terhadap daya saing daerah di antaranya adalah:

1. Rasio harga/kualitas yang kompetitif dari suatu produk mencerminkan

kemampuan managerial perusahaan-perusahaaan yang berada di suatu daerah.

2. Orientasi jangka panjang manajemen perusahaan akan meningkatkan daya

saing daerah di mana perusahaan tersebut berada.

3. Efisiensi dalam aktivitas perekonomian ditambah dengan kemampuan

menyesuaikan diri terhadap perubahan adalah keharusan bagi perusahaan yang

kompetitif.

4. Kewirausahaan sangat krusial bagi aktivitas ekonomi pada masa-masa awal.

5. Dalam usaha yang sudah mapan, mamnajemen perusahaan memerlukan

keahlian dalam mengintegrasikan serta membedakan kegiatan-kegiatan usaha.

2.3 Penelitian Terdahulu

BI-PPSK dan FE Unpad (2001) dengan judul penelitian yaitu “Identifikasi

Faktor-Faktor Penentu Serta Pemeringkatan Daya Saing Antar Daerah Provinsi di

Indonesia” dengan menggunkan indikator daya berupa perekonomian daerah,

keterbukaan, sistem keuangan, infrastruktur dan sumber daya alam, ilmu

pengetahuan dan teknologi, sumber daya manusia, institusi, tata pemerintahan dan

kebijakan, serta manajemen dan ekonomi mikro.

KKPOD (2005) dengan judul penelitiannya “Analisis daya tarik investasi

214 Kabupaten/Kota di Indonesia” dalam penelitian ini KPPOD menyatakan

(27)

upaya-upaya meningkatkan PAD dan relatif mengabaikan aspek-aspek yang mampu

menarik investasi.

Kuncoro (2005) dalam penelitiannya yang berjudul “Daya Tarik Investasi

dan Pungli di DIY” menyebutkan bahwa menurut persepsi pelaku usaha di DIY,

faktor kelembagaan memiliki bobot terbesar dalam menentukan daya tarik

investasi/ kegiatan berusaha di DIY.Kemudian diikuti oleh faktor infrastruktur

fisik, yang ketiga adalah faktor sosial politik.

Huggins Associates (2007) dalam penelitian yang berjudul “European

Competitiveness Index (ECI)” dengan menggunakan indikator yaitu kreativitas,

kinerja ekonomi, infrastruktur dan aksesibilitas, tenaga kerja terdidik, dan

pendidikan dengan menggunakan metode Tree Factor Model, Indeks Komposit,

berserta Bobot dihasilakan dari data Envelopment Analysis.

Ira Irawati, dkk (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengukuran

Tingkat Daya Saing Daerah”. Berdasarkan Variabel Perekonomian Daerah,

Variabel Infrastruktur dan Sumber Daya Alam serta Variabel Sumber Daya

Manusia di Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara” dengan menggunakan metode

AHP , maka dapat diambil kesimpulan peringkat daya saing terbaik berdasarkan

variabel perekonomian daerah, infrastruktur, sumber daya alam dan sumber daya

manusia pada Kabupaten/Kota di provinsi Sulawesi Tenggara turut mendukung

Kabupaten/Kota tersebut menjadi peringkat terbaik secara umum.

Paidi Hidayat (2012) dengan penelitiannya yang berjudul “Analisis Daya

(28)

saing adalah faktor infrastruktur, diikuti faktor perekonomian daerah dan

selanjutnya faktor sistem keuangan. Skala prioritas untuk faktor infrastruktur

adalah ketersediaan infrastruktur dan kualitasnya,seperti kualitas pelabuhan laut

dan udara serta kualitas jalan. Selain itu, skala prioritas perekonomian daerah

adalah tingkat daya beli maasyarakat.Sementara, untuk skala prioritas sistem

keuangan dalah kinerja lembaga keuangan.

2.4 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptal ini merupakan penentuan variabel daya saing ekonomi

Kota Tebing Tinggi disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari penelitin ini.

Variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan perbandingan

dari beberapa penelitian sebelumnya yaitu PPSK BI dan UNPAD (2001), KPPOD

(2005), Kuncoro (2005), Huggins Associates (2007), Ira Irawati, dkk (2008),

(29)

Gambar2.1

Indikator Utama Penentu Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi

Faktor Penentu Daya Saing Ekonomi Daerah

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mengkaji tentang faktor-faktor penentu daya

saing ekonomi Kota Tebing Tinggi pada tahun 2014 dengan pendekatan

Analytical Hierarchy Process (AHP).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Tebing Tinggi provinsi Sumatera Utara,

Indonesia. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu satu bulan.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk yang tinggal dan

bermukim di Kota Tebing Tinggi.Berdasarkan data BPS (2014), jumlah angkatan

kerja di Kota Tebing Tinggi sebanyak 65.619 jiwa. Berdasarkan rumus Slovin :

n= N

d = Nilai Presisi (dalam penelitian ini sebesar 80%), d = 0,2

3.4 Metode Pengambilan Sampel

Prosedur pengambilan sampel atau responden dilakukan secara purposive

sampling, yakni dengan menentukan sampel atau responden yang dianggap dapat

mewakili segmen kelompok masyarakat yang dinilai mempunyai pengaruh atau

(31)

Sesuai dengan penelitian sosial menurut Roscoe (1982:253) dalam buku

Taniredja dan Mustafidah (2011:38) memberikan saran-saran untuk penelitian

sebagai berikut :

1. Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan

500.

2. Bila sample dibagi dalam kategori maka jumlah anggota sampel setiap

katagori minimal 30.

3. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi

atau regresi ganda misalnya). Maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali

dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5

(independent + dependent) maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50

4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok

eksperimen dan kelompok control, jumlah anggota sampel masing – masing

antara 10 sampai dengan 20.

Dalam penelitian ini sample yang di ambil sebanyak 30 responden yang

terdapat di 5 kecamatan dan 35 kelurahan Kota Tebing Tinggi. Adapun jumlah

(32)

Tabel 3.1

Jumlah Sampel Berdasarkan Kelompok Masyarakat

No Kelompok Masyarakat Responden

1 Mahasiswa/Pelajar 3

2 Staf Pengajar/Dosen/Guru 3

3 Masyarakat Umum 4

Penelitian ini dibatasi oleh beberapa faktor sehingga tidak terjadi

kesalahan dalam memahami dan menganalisis permasalahan yang ada.

Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Kelembagaan

2. Sosial Politik

3. Ekonomi Daerah

4. Tenaga Kerja dan Produktifitas,

5. Infrastruktur fisik.

3.6 Definisi Operasional

Definisi operasional bertujuan untuk menghindari kesalahan pemahaman

dalam menafsirkan istilah yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini,

Faktor-faktor yang menjadi objek penelitian dapat didefiniskan sebagai berikut:

1. Kelembagaan, yaitu mengukur seberapa kondusif iklim sosial, politik, hokum

(33)

2. Sosial Politik, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan kekuasaan

dan wewenang dalam pelaksanaan kegiatan sistem politik,yang banyak

dipengaruhi oleh beberapa faktor sosial budaya.

3. Ekonomi Daerah, yaitu merupakan ukuran kinerja secara umum dari

perekonomian daerah secara makro yang meliputi penciptaan nilai tambah,

akumulasi kapital, tingkat konsumsi, kinerja sektoral, perekonomian, serta

tingkat biaya hidup.

4. Tenaga Kerja dan Produktifitas, yaitu setiap orang yang mampu melakukan

pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi

kebutuhan sendirimaupun untuk masyarakat.

5. Infrastruktur Fisik, yaitu sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian

sistem stuktur yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektoral public dan

sektoral privat sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan agar

perekonomian dapat berfungsi dengan baik.

3.7 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini maka jenis

data yang digunakan adalah :

1. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari pihak pertama

yang menjadi objek penelitian.Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari

wawancara dan juga pengisian kuisioner terhadap kelompok masyarakat yang

(34)

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi-instansi yang terkait

dengan melakukan studi kepustakaan terhadap bahan-bahan publikasi secara

resmi, buku-buku, majalah-majalah serta laporan lain yang berhubungan

dengan penelitian.

Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini

adalah :

1. Kuisioner

Para penduduk yang menjadi responden atau sampel dalam penelitian ini

diberikan lembaran kuisioner. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi

dari kelompok masyarakat yang menjadi sampel dalam penelitian daya saing

ekonomi Kota Tebing Tinggi

2. Wawancara

Teknik wawancara dilakukan kepada kelompok masyarakat yang menjadi

sampel adalah untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai

saran atau keluhan masyarakat secara langsung terhadap faktor-faktor penentu

daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi pada tahun 2014.

3.8 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam menganalisis daya saing

ekonomi Kota Tebing Tinggi pada tahun 2014 meliputi analisis deskriptif dan

Analytical Hierarchy Process (AHP). Secara jelasnya, metode yang digunakan

(35)

1. Analisis Deskriptif

Analisis ini memberikan gambaran tentang karakteristik tertentu dari data

yang telah dikumpulkan. Data tersebut akan dianalisis sehingga menghasilkan

gambaran mengenai persepsi masyarakat terhadap faktor-faktor penentu daya

saing ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2014.

Analisis data disajikan dalam bentuk tabulasi, gambar (chart) dan diagram.

Prioritas alternatif terbaik dari total rangking yang diperoleh merupakan rangking

yang dicari dalam Analytical Hierarchy Process(AHP) ini.

2. Analytical Hierarchy Process (AHP)

Analisis ini digunakan untuk memberikan nilai bobot setiap faktor dan

variabel dalam menghitung faktor-faktor penentu daya saing ekonomi

kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2014. Proses pemberian

bobot indikator dan sub-indikator (variabel) dilakukan dengan menggunakan

Analitical Hierarchy Process (AHP) melalui kuisioner untuk kelompok

masyarakat yang sudah ditentukan sebelumnya dari berbagai latar belakang

disiplin ilmu.

Metode Analytical Hierrchy Process (AHP) awalnya dikembangkan oleh

Prof. Thomas Lorie Saaty dari Wharton Business School sekitar tahun

1970.Metode ini digunakan untuk mencari rangking atau urutan prioritas dari

berbagai alternatif dalam pemecahan suatu permasalahan.Dalam kehidupan

sehari-hari, seseorang senantiasa dihadapkan untuk melakukan pilihan dari

(36)

pengambilan keputusan tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja melainkan

multifaktor dan mencakup berbagai jenjang maupun kepentingan.

Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran yang

digunakan untuk menemukan skala rasio, baik dari perbandingan berpasangan

yang diskrit maupun kontinu.Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari

ukuran aktual atau skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dan

preferensi relatif. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan

secara efektif atas persoalan dengan menyederhanakan dan mempercepat proses

pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam

bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki, memberi

nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan

mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana

yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil

pada situasi tersebut.

Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat menyederhanakan masalah

yang kompleks dan tidak terstruktur, strategik dan dinamik menjadi bagiannya,

serta menjadikan variabel dalam suatu hirarki (tingkatan). Masalah yang

kompleks dapat diartikan bahwa kriteria dari suatu masalah yang begitu banyak

(multikriteria), struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian pendapat dari

pengambil keputusan, pengambil keputusan lebih dari satu orang, serta

ketidakakuratan data yang tersedia.

Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang kompleks

(37)

yang menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas.

Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logika yang

bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan

yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif

sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat. Selain

itu AHP juga memiliki perhatian khusus tentang penyimpangan dari konsistensi,

pengukuran dan ketergantungan di dalam dan di luar kelompok elemen

strukturnya.

Analytical Hierarchy Process (AHP) mempunyai landasan aksiomatik

yang terdiri dari:

1. Resiprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks perbandingan

berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan. Misalnya, jika A

adalah k kali lebih penting dari pada B maka B adalah 1/k kali lebih penting

dari A.

2. Homogenity, yaitu mengandung arti kesamaan dalam melakukan

perbandingan. Misalnya, tidak dimungkinkan membandingkan jeruk dengan

bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan dalam

hal berat.

3. Dependence, yang berarti setiap level mempunyai kaitan (complete hierarchy)

walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna (incomplete

(38)

4. Expectation, yang berarti menonjolkon penilaian yang bersifat ekspektasi dan

preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat merupakan data

kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif.

Secara umum pengambilan keputusan dengan metode AHP didasarkan

pada langkah-langkah berikut:

1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.

2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan

dengan kriteria–kriteria dan alternaif–alternatif pilihan yang ingin di rangking.

3. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan

kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing–masing tujuan

atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan

pilihan atau judgement dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat tingkat

kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.

4. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam

matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom.

5. Menghitung nilai eigen vector dan menguji konsistensinya, jika tidak

konsisten maka pengambilan data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen

vector yang dimaksud adalah nilai eigen vector maksimum yang diperoleh

dengan menggunakan matlab maupun dengan manual.

6. Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.

7. Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai

(39)

pilihan dalam penentuan prioritas elemen–elemen pada tingkat hirarki

terendah sampai pencapaian tujuan.

8. Menguji konsistensi hirarki. Jika tidak memenuhi dengan CR < 0,15 maka

penilaian harus diulang kembali.

Rasio Konsistensi (CR) merupakan batas ketidakkonsistenan

(inconsistency) yang ditetapkan Saaty.Rasio Konsistensi (CR) dirumuskan sebagai

perbandingan indeks konsistensi (RI). Angka pembanding pada perbandingan

berpasangan adalah skala 1 sampai 9, dimana:

• Skala 1 = setara antara kepentingan yang satu dengan kepentingan yang

lainnya

• Skala 3 = kategori sedang dibandingkan dengan kepentingan lainnya

• Skala 7 = kategori amat kuat dibandingkan dengan kepentingan lainnya

• Skala 9 = kepentingan satu secara ekstrim lebih kuat dari kepentingan

Prioritas alternatif terbaik dari total rangking yang diperoleh merupakan

rangking yang dicari dalam Analytical Hierarchy Process (AHP) ini. Dalam

menyelesaikan persoalan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) ada

beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain sebagai berikut (Saaty,

1990) :

a. Decomposition

Sistem yang kompleks dapat dengan mudah dipahami kalau sistem

tersebut dipecah menjadi berbagai elemen pokok, kemudian elemen-elemen

(40)

terlibat dalam sistem. Sebagian besar masalah menjadi sulit untuk diselesaikan

karena proses pemecahannya dilakukan tanpa memandang masalah sebagai suatu

sistem dengan suatu struktur tertentu.

Pada tingkat tertinggi dari hirarki, dinyatakan tujuan, sasaran dari sistem

yang dicari solusi masalahnya.Tingkat berikutnya merupakan penjabaran dari

tujuan tersebut. Suatu hirarki dalam metode AHP merupakan penjabaran elemen

yang tersusun dalam beberapa tingkat, dengan setiap tingkat mencakup beberapa

elemen homogen. Sebuah elemen menjadi kriteria dan patokan bagi

elemen-elemen yang berada di bawahnya.Dalam menyusun suatu hirarki tidak terdapat

suatu pedoman tertentu yang harus diikuti. Hirarki tersebut tergantung pada

kemampuan penyusun dalam memahami permasalahan. Namun tetap harus

bersumber pada jenis keputusan yang akan diambil.

Untuk memastikan bahwa kriteria-kriteria yang dibentuk sesuai dengan

tujuan permasalahan, maka kriteria-kriteria tersebut harus memiliki sifat-sifat

berikut :

1. Minimum

Jumlah kriteria diusahakan optimal untuk memudahkan analisis.

2. Independen

Setiap kriteria tidak saling tumpang tindih dan harus dihindarkan

pengulangan kriteria untuk suatu maksud yang sama.

3. Lengkap

(41)

4. Operasional

Kriteria harus dapat diukur dan dianalisis, baik secara kuantitatif maupun

kualitatif dan dapat dikomunikasikan.

b. Comparative Judgment

Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua

elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan criteria di atasnya.

Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh dalam

menentukan prioritas dari elemen-elemen yang ada sebagai dasar pengambilan

keputusan. Hasil dari penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang

dinamakan matriks pairwise comparison.

Yang pertama dilakukan dalam menentapkan prioritas elemen-elemen

dalam suatu pengambilan keputusan adalah dengan membuat perbandingan

berpasangan, yaitu membandingkan berpasangan, yaitu membandingkan dalam

bentuk berpasangan seluruh kriteria untuk setiap sub sistem hirarki. Dalam

perbandingan berpasangan ini, bentuk yang lebih disukai adalah matriks, karena

matriks merupakan alat yang sederhana yang biasa dipakai, serta memberi

kerangka untuk menguji konsistensi. Rancangan matrik ini mencerminkan dua

segi prioritas yaitu, mendominasi dan didominasi.

Misalkan terdapat suatu sub sistem hirarki dengan kriteria C dan sejumlah

n alternatif dibawahnya, Ai sampai An. Perbandingan antar alternatif untuk sub

sistem hirarki itu dapat dibuat dalam bentuk 8 matriks n × n, seperti pada tabel 2

(42)

Tabel 3.2

Nilai a11 adalah nilai perbandingan elemen A1 (baris) terhadap A1

(kolom) yang menyatakan hubungan :

a. Seberapa jauh tingkat kepentingan A1 (baris) terhadap kriteria C dibandingkan

dengan A1 (kolom) atau

b. Seberapa jauh dominasi A1 (baris) terhadap A1 (kolom) atau

c. Seberapa banyak sifat kriteria C terhadap A1 (baris) dibandingkan dengan A1

(kolom).

Nilai numerik yang dikenakan untuk seluruh perbandingan diperoleh dari

skala perbandingan yang disebut Saaty pada tabel 5. Apabila bobot kriteria Ai

adalah Wi dan bobot elemen Wj maka skala dasar 1-9 yang disusun Saaty

mewakili perbandingan (Wi/Wj)/1. Angka-angka absolute pada skala tersebut

merupakan pendekatan yang amat baik terhadap perbandingan bobot elemen Ai

(43)

Tabel 3.3

Skala penilaian perbandingan Skala tingkat

kepentingan Definisi Keterangan

1 Sama pentingnya Kedua elemen mempunyai pengaruh

yang sama

3 Sedikit lebih penting

Pengalaman dan penilaian sedikit memihat satu elemen dibandingkan dengan pasangannya

5 Lebih penting

Pengalaman dan penilaian sangat memihak satu elemen dibandingkan dengan pasangannya

7 Sangat penting

Satu elemen sangat disukai dan secara praktis dominasinya sangat nyata dibandingkan dengan elemen pasangannya

9 Mutlak lebih penting

Satu elemen terbukti mutlak lebih disukai dibandingkan dengan pasangannya, pada tingkat keyakinan yang tertinggi

2,4,6,8 Nilai tengah

Diberikan bila terdapat keraguan penilaian antara dua penilaian yang berdekatan

Kebalikan Aij = 1/Aji

Bila aktivitas i memperoleh suatu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki nilai kebalikannya bila dibandingkan i

Sumber: Thomas L. Saaty (1991)

Saaty menyusun angka-angka absolute sebagai skala penilaian

berdasarkan kemampuan manusia untuk menilai secara kualitatif, yaitu melalui

ungkapan sama, lemah, amat kuat, dan absolute atau ekstrim.

Penilaian yang dilakukan oleh banyak partisipan akan menghasilkan pendapat

yang berbeda satu sama lain. AHP hanya memerlukan satu jawaban untuk matriks

perbandingan.

(44)

mean. Rata-rata geometric dipakai karena bilangan yang dirata-ratakan adalah

deret bilangan yang sifatnya rasio dan dapat mengurangi gangguan yang

ditimbulkan salah satu bilangan yang terlalu besar atau terlalu kecil.

Teori rata-rata geometric menyatakan bahwa jika terdapat n partisipan

yang melakukan perbandingan berpasangan, maka terdapat n jawaban atau nilai

numerik untuk setiap pasangan. Untuk mendapatkan nilai tertentu dari semua nilai

tersebut, masing-masing nilai harus dikalikan satu sama lain kemudian hasil

perkalian itu dipangkatkan dengan 1/n. Secara sistematis dituliskan sebagai

berikut:

aij = (z1. z2. z3. …. zn)1/n

Dengan :

aij = Nilai rata-rata perbandingan berpasangan kriteria Ai dengan Aj untuk n partisipan Zi = Nilai perbandingan antara A1 dengan Ai untuk partisipan i, dengan nilai i = 1, 2, 3, …, n n = Jumlah partisipan

c. Synthesis of Priority

Dari setiap matriks Pairwise Comparison kemudian dicari Eigenvector

dari setiap matriks Pairwise Comparison untuk mendapatkan local priority.

Karena matriks Pairwise Comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk

mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis di antara local priority.

Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki Pengurutan

elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis dinamakan priority

setting.

d. Logical Consistency

Salah satu asumsi utama model AHP yang membedakannya dengan

(45)

mutlak. Dengan model AHP yang memakai persepsi manusia sebagai inputnya

maka ketidakkonsistenan mungkin terjadi karena manusia memiliki keterbatasan

dalam menyatakan persepsinya secara konsisten terutama kalau harus

membandingkan banyak kriteria. Berdasarkan kondisi ini maka manusia dapat

menyatakan persepsinya tersebut akan konsisten nantinya atau tidak.

Pengukuran konsistensi dari suatu matriks itu sendiri didasarkan atas

eigenvalue maksimum. Dengan eigenvalue maksimum, inkonsistensi yang biasa

dihasilkan matriks perbandingan dapat diminumkan.

Rumus dari indeks konsistensi adalah:

CI = (λmaks – n) ( n – 1)

Dengan:

CI = Indeks konsistensi

(λmaks = Eigenvalue maksimum

n = Orde maktrik

Dengan λ merupakan eigenvalue dan n ukuran matriks. Eigenvalue

maksimum suatu matriks tidakakan lebih kecil dari nilai n sehingga tidak

mungkin ada nilai CI negatif. Makin dekat eigenvalue maksimum dengan

besarnya matriks, makin konsisten matriks tersebut dan apabila sama besarnya

maka matriks tersebut konsisten 100% atau inkonsistensi 0%. Dalam pemakaian

sehari-hari CI tersebut biasa disebut indeks inkonsistensi karena rumus (2.2) di

atas memang lebih cocok untuk mengukur inkonsistensi suatu matriks.

Indeks inkonsistensi di atas kemudian diubah dalam bentuk rasio

inkonsistensi dengan cara membaginya dengan suatu indeks random. Indeks

(46)

sampai 10 yang didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National

Laboratory dan kemudian dilanjutkan oleh Wharton School.

Tabel 3.4

Pembangkit Random (RI)

N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

RI 0 0 0.58 0.9 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49

CR = CI/RI

CR = Rasio konsistensi RI = Indeks random

Selanjutnya konsistensi responden dalam mengisi kuesioner

diukur.Pengukuran konsistensi ini dimaksudkan untuk melihat ketidak

konsistensinan respon yang diberikan responden. Sato dalam Chow and Luk

(2005) telah menyusun nilai CR (Consistency Ration) yang diizinkan adalah CR

(47)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi 4.1.1 Kondisi Geografis dan Topografis

Kota Tebing Tinggi adalah salah satu dari tujuh kota yang ada di Provinsi

Sumatera Utara, yang berjarak sekitar 78 Kilometer dari Kota Medan . Kota

Tebing Tinggi terletak pada 3˚19ˈ00̎ - 3˚21ˈ00̎ Lintang Utara dan 98˚11ˈ - 98˚21ˈ

Bujur Timur. Kota Tebing Tinggi berada dibagian tengah Kecamatan Tebing

Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai yang dibatasi oleh :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan PTPN-III Kebun Rambutan Kabupaten

Serdang Bedagai

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan PTPN-IV Kebun Pabatu dan Perkebunan

Paya Pinang

3. Sebelah Timur berbatasan dengan PT. Socfindo Tanah Besih/PT. Paya

Pinang

4. Sebelah Barat berbatasan dengan PTP-III Kebun Gunung Pamela kabupaten

Serdang Bedagai.

Hingga Desember 2013 Kota Tebing Tinggi terdiri dari 5 kecamatan dan

35 kelurahan dengan luas wilayah 38,438 km2. Kecamatan Padang Hilir

merupakan kecamatan yang terluas dengan luas 11,441 km2 atau 29,76% dari luas

Kota Tebing Tinggi. Sebagian besar (45,55%) lahan di Kota Tebing Tinggi

(48)

kota Tebing Tinggi terletak di dataran renfdah Pulau Sumatera dengan

ketinggian 18 – 34 m diatas permukaan laut. Selama tahun 2013 Kota Tebing

Tinggi mengalami hari hujan sebanyak 147 hari dengan curah hujan berkisar

antara 13 -278 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April 278 mm. Hari

hujan terbanyak bulan Oktober yaitu selama 18 hari.

4.1.2 Kondisi Demografis

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada pertengahan tahun 2013,

jumlah penduduk Kota Tebing Tinggi sebanyak 140.065 jiwa dengan jumlah

rumah tangga sebanyak 36.195 rumah tangga.

Dengan luas wilayah Kota Tebing Tinggi yang hanya 38,438 km2, tingkat

kepadatan penduduk Kota Tebing Tinggi mencapai 3,88 jiwa/km2. Jumlah

penduduk laki-laki lebih sedikit dari jumlah penduduk perempuan. Pada tahun

2013 jumlah penduduk laki-laki sebanyak 73.680 jiwa (49,43%) dan perempuan

75.385 (50,57%). Rasio jenis kelamin (Sex Ratio) penduduk Kota Tebing Tinggi

sebesar 97,73%, yang berarti hanya 98 orang laki-laki dalam 100 penduduk

(49)

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kota Tebing Tinggi Tahun 2013

Kecamatan Penduduk (orang) Rasio Jenis

Kelamin

Sumber : Badan Pusat Statistik

Sebagaian besar penduduk Kota Tebing Tinggi berdomisili di Kecamatan

Bajenis (22,81%), Kecamatan rambutan (21,71%), Kecamatan Padang Hilir

(20,70%), sedangkan 18,44 % di Kecamatan Padang Hulu dan sisanya 16,34%

tinggal di Kecamatan Tebing Tinggi Kota.

Pada usia produktif (15 – 64 tahun) di Kota Tebing Tinggi mencapai

66,61% dari total penduduk. Sementara penduduk usia non produktif (usia 0 – 14

tahun dan usia 64 tahun keatas) sebanyak 33,39%.

Pada tahun 2013, jumlah penduduk Kota Tebing Tinggi yang berusia 15

thun keatas sebanyak 95.041 orang, yang terdiri dari 65.619 orang angkatan kerja

dan 39.531 orang bukan angkatan kerja (penduduk yang masih sekolah dan

mengurus rumah tangga). Dari seluruh angkatan kerja, penduduk yang bekerja

ada sebanyak 60.787 orang, sedangkan yang yang mencari pekerjaan sebanyak

4.832 orang. Sebagian besar penduduk Kota Tebing Tinggi bekerja di sektor

(50)

Pada tahun 2013, berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja Kota Tebing

Tinggi , tercatat ada sebanyak 689 orang mencari pekerjaan, yang sebagian besar

adalah tamatan SLTA (29,46%), yang terdiri dari SMU sederajat sebanyak 139

orang dan SMEA ke atas sebanyak 64 orang. Jumlah pencari kerja yang sudah

ditempatkan sebanyak 69 orang, yang terdiri dari 19 orang SLTA dan 24 orang

SMP. Sementara itu sebanyak 620 orang pencari kerja lainnya belum

ditempatkan.

4.1.3 Kondisi Pertumbuhan Ekonomi Kota Tebing Tinggi

Berdasarkan perhitungan PDRB atas dasar harga berlaku, kinerja ekonomi

Kota Tebing Tinggi tahun 2013 sebesar 3,45 triliun rupiah. Angka tersebut naik

sekitar 16,53% dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,96 triliun rupiah. Akan

tetapi kinerja ini masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.

Jika faktor inflasi dihilangkan, kinerja ekonomi rill di Kota Tebing Tinggi

tahun 2013 yang diukur dengan besarnya PDRB atas dasar harga konstan 2000

mencapai 1,42 triliun rupiah. Kinerja rill tersebut lebih tinggi dari tahun 2012

yang sebesar 1,33 triliun rupiah.

Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Kota Tebing Tinggi mencapai

6,91%. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan tahun 2012 yang tumbuh

sebesar 6,75%. Pertumbuhan ekonomi yang paling cepat terjadi disektor

perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 8,15%.

Kontibusi terbesar dalam pembentukan PDRB Kota Tebing Tinggi adalah

sektor perdagangan, hotel dan restoran diikuti oleh sektor industri. Pada tahun

(51)

22,24%, sedangkan sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar

19,58%. Sektor lain yang memberikan kontribusi yang cukup besar adalah sektor

jasa-jasa (termasuk jasa pendidikan dan kesehatan) yakni sebesar 19,57%.

Sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak potensi sumber daya

alam, pemerintah Kota Tebing Tinggi terus berupaya mengoptimalkan

pengelolaan seluruh potensi yang ada, seperi perkebunan sagu, kelapa dan home

industri. Selain itu juga Kota Tebing Tinggi kedepannya akan membuka potensi

baru yang berupa ekowisata alam, kampong mangrove dan wisata pantai.

Pusat perbelanjaan tradisional Kota tebing Tinggi melayani penjual dan

pembeli dari Kota Tebing Tinggi maupun dari luar Kota Tebing Tinggi. Adapun

pasar-pasar tradisional tersebut adalah :

• Pasar Gurami

• Pasar Iskandar Muda

• Pasar Kain/ Pasar Inpres

• Pasar Sakti

• Pasar Senangin

• Pasar/Pajak Mini

Selain itu ada juga pusat perbelanjaaan modern dan restauran, seperti;

• Mall Ramayana

• Restaurant India

• Pondik Bagelen

(52)

• Rumah Makan Bu Haji amin

Sarana transportasi di Kota Tebing Tinggi terutama adalah becak mesin

roda tiga, angkutan umum, dan juga tersedia kereta api untuk berpergian keluar

kota. Sebagaimana letak geografis Kota Tebing Tinggi yang berada pada jalur

transit lintas barat dn timur sumatera, demikian juga halnya dengan keberadaan

stasiun kereta api berada pada jalur transit. Letak stasiun yang strategis sangat

membantun dalam menunjuang kegiatan koleksi dan distribusi komoditas di Kota

Tebing Tinggi. Pergerakan arus komoditas banyak menggunakan jasa angkutan

kereta api, terutama komoditas yang berasal dari atau menuju Kota Medan dan

Kota Tanjung Balai.

Keseluruhan panjang jalan Kota Tebing Tinggi 2013 adalah 264,92 Km,

terdiri dari Jalan Negara 19,20 Km, Jalan Provinsi 5,00 Km, dan Jalan Kota

240,72 Km.

4.2 Profil Responden

Berdasarkan hasil tabulasi terhadap 30 responden yang menjadi sampel

dalam penelitian ini didapat informasi bahwa responden berjenis kelamin pria

sebesar 44% dan berjenis kelamin wanita sebesar 56%. Sedangkan responden

yang paling banyak diwawancarai berusia 20-30 tahun berkisar 50%. Kemudian

diikuti oleh usia 41-50 berkisar sebesar 20%. Lalu usia 31-40 berkisar 13.3%. Dan

yang berusia diatas 50 tahun sebesar 10%.Serta yang berusia dibawah 20 tahun

sebesar6.7%.Sementara itu untuk tingkat pendidikan, pada umumnya responden

(53)

36.7%. Sisanya 3.3% responden yang tamatan SMP/Sederajat. Untuk lebih

jelasnya, karakteristik responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2

Karakteristik Responden

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase

1 Pria 13 44%

2 Wanita 17 56%

Usia (Tahun) Jumlah Persentase

1 20< 2 6.7%

2 20-30 15 50%

3 31-40 4 13.3%

4 41-50 6 20%

5 >50 3 10%

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

1 SMP/Sederajat 1 3.3%

2 SMA/Sederajat 11 36.7%

3 D3/S1/S2 18 60%

sumber : Data Primer Diolah

4.3 Pembobotan dan Pemeringkatan Faktor Daya Saing Ekonomi

Daya saing ekonomi daerah merupakan representasi dari dari kinerja

indikator-indikator pembentuknya. Semakin baik kinerja indikator-indikator

pembentuknya, maka akan semakin tinggi daya saing ekonomi suatu daerah.

Sebaliknya, apabila kinerja indikator-indikator pembentuk daya saing ekonomi

tersebut rendah, maka daya saing ekonomi daerah tersebut juga rendah. Untuk

melihat daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi, maka terlebih dahulu ditentukan

faktor-faktor penentu daya saing ekonomi dengan menentukan nilai bobot dari

masing-masing faktor tersebut. Pembobotan ini diperoleh dengan menggunakan

(54)

Pembobotan ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan faktor-faktor

yang menentukan daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi tahun 2014. Bobot

yang lebih besar dari suatu faktor menunjukkan bahwa faktor tersebut lebih

penting dibandingkat dengan faktor lainnya dalam menentukan daya saing

ekonomi Kota Tebing Tinggi. Berikut ini hasil pembobotan dari faktor-faktor

penentu daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi seperti yang dapat dilihat pada

gambar di bawah ini.

Gambar 4.1

Nilai Bobot dari Faktor Penentu Daya Saing Ekonomi Kota Tebing Tinggi Hasil diatas menunjukkan bahwa faktor penentu daya saing ekonomi Kota

(55)

paling tinggi yaitu sebesar 0,272. Kemudian diikuti oleh faktor tenaga kerja dan

produktivitas sebesar 0,239. Berikutnya faktor kelembagaan dengan bobot sebesar

0,205 dan kemudian faktor perekonomian daerah dengan bobot sebesar 0,169.

Faktor sosial politik berada di urutan terakhir dengan bobot sebesar 0,116.

Gambar 4.2

Persentase Faktor Penentu Daya Saing

Dari hasil pembobotan tersebut, tanggapan responden terhadap faktor

penentu daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi dipengaruhi oleh tiga faktor

dengan nilai bobot terbesar, yaitu faktor infrastruktur, faktor tenaga kerja dan

produktivitas, serta faktor kelembagaan. Faktor infrastruktur dianggap penting

karena faktor tersebut menjadi tolak ukur bagi tumbuh dan berkembangnya

kegiatan ekonomi di suatu daerah. Berikut akan dijelaskan masing-masing faktor

penentu daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi berdasarkan pemeringkatan

(56)

4.3.1 Faktor Infrastruktur Fisik

Infrastruktur fisik merupakan faktor pendukung bagi kelancaran kegiatan

usaha. Ketersedian dan kualitas infrastruktur fisik sangat mempengaruhi

kelancaran dunia usaha di suatu daerah. Semakin besar skala suatu usaha, maka

kebutuhan akan ketersediaan infrastruktur fisik juga akan semakin besar.

Faktor infrastruktur fisik yang terdiri dari dua variabel yaitu ketersediaan

infrastruktur fisik dan kualitas infrastruktur. Variabel ketersediaan infrastruktur

fisik memiliki bobot sebesar 0,571 atau 57% dari keseluruhan bobot faktor

infrastruktur fisik. Variabel kualitas infrastruktur fisik memiliki bobot sebesar

0,429 atau 63% dari keseluruhan bobot faktor infrastruktur fisik. Persentase bobot

dari masing-masing variabel faktor infrastruktur fisik dapat dilihat pada gambar di

bawah ini.

Gambar 4.3

Persentase Bobot Variabel Faktor Infrastruktur Fisik

Menurut tanggapan responden bahwa ketersediaan infrastruktur fisik lebih

menjadi prioritas dalam faktor infrastruktur fisik. Hasil pembobotan ini didukung

oleh hasil wawancara terhadap responden yang menunjukkan bahwa dalam

Ketersediaan Infrastruktur

Fisik 57% Kualitas

(57)

variabel ketersediaan infrastruktur fisik, 10% responden menyatakan kurang

setuju terdahap ketersediaan jalan yang sudah memadai. Hanya sekitar 73%

responden yang menyatakan setuju bahwa ketersediaan jalan sudah memadai.

Begitu juga dengan ketersedian pelabuhan laut yang sudah memadai. Hanya 7%

responden yang menyatakan setuju kalau ketersediaan pelabuhan laut sudah

memadai. 13% responden menyatakan kurang setuju terhadap pernyataan ini. Dan

10% menyatakan tidak setuju kalau ketersediaan pelabuhan laut sudah memadai.

Sedangkan untuk ketersediaan pelabuhan udara, 53% responden menyatakan

sangat tidak setuju kalau ketersediaan pelabuhan udara di Kota Tebing Tinggi

sudah memadai.Namun, 30% responden menyatakan tidak setuju dan hanya 7%

responden yang menyatakan setuju bahwa ketersediaan pelabuhan udara sudah

memadai. Untuk pelabuhan udara sendiri, Kota Tebing Tinggi tidak memiliki

pelabuhan udara. Oleh karena itu sebagian besar responden menyatakan

ketidaksetujuannya terhadap penyataan tersebut. Kemudian untuk ketersediaan

saluran telepon, 70% responden setuju kalau ketersedian saluran telepon sudah

memadai. Hanya 3% responden yang menyatakan tidak setuju, dan 7% responden

menyatakan kurang setuju.

Dalam variabel kualitas infrastruktur fisik, 13% responden menyatakan

kurang setuju terhadap kualitas jalan sudah yang baik.77% responden menyatakan

setujukalau kualitas jalan di Kota Tebing tinggi sudah baik. Kemudian untuk

akses dan kualitas pelabuhan laut yang sudah baik, 17% responden menyatakan

(58)

Sedangkan untuk akses dan kualitas pelabuhan udara yang sudah baik, 40%

responden menyatakan sangat tidak setuju, dan hanya 3% responden yang

menyatakan setuju. Selanjutnya, untuk kualitas saluran dan sambungan telepon

yang sudah baik, 67% responden menyatakan setuju bahwa kualitas saluran dan

sambungan telepon sudah baik.

Berdasarkan analisis dan persepsi dari para responden, hal ini

menunjukkan bahwa responden menginginkan kualitas infrastruktur yang lebih

baik lagi sehingga dapat meningkatkan pergerakan sumber-sumber ekonomi bagi

peningkatan kegiatan ekonomi di Kota Tebing Tinggi.Akan tetapi, ketersediaan

infrastruktur yang memadai juga sudah cukup bagi para responden dalam

peningkatan daya saing ekonomi Kota Tebing Tinggi dimasa kini maupun

mendatang.

4.3.2 Faktor Tenaga Kerja dan Produktivitas

Tenaga kerja merupakan indikator yang penting dalam meningkatkan daya

saing ekonomi suatu daerah. Tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkualitas

akan meningkatkan daya saing ekonomi suatu daerah. Faktor tenaga kerja dan

produktivitas terdiri dari 3 variabel, yaitu biaya tenaga kerja, ketersediaan tenaga

kerja, dan produktivitas tenaga kerja.

Variabel biaya tenaga kerja memiliki bobot sebesar 0,212 atau 21% dari

keseluruhan bobot faktor tenaga kerja dan produktivitas. Variabel ketersediaan

tenaga kerja memiliki bobot sebesar 0,457 atau 46%. Dan variabel produktivitas

(59)

tenaga kerja dan produktivitas. Persentase bobot dari masing-masing variabel

dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.4

Persentase Bobot Variabel Faktor Tenaga Kerja dan Produktivitas Menurut tanggapan responden menunjukkanbahwa ketersediaan tenaga

kerjadan produktivitas tenaga kerja lebih menjadi prioritas dalam faktor tenaga

kerja dan produktivitas. Hasil pembobotan ini didukung oleh hasil wawancara

terhadap responden yang menunjukkan bahwa dalam variabel biaya tenaga kerja,

27% responden menyatakan kurang setuju terdahap besarnya upah tenaga kerja

sesuai dengan ketentuan UMK. Dan47% responden yang menyatakan setuju

besarnya upah tenaga kerja sesuai dengan ketentuan UMK.Selebihnya, 23%

responden setuju dan 3% responden tidak setuju terhadap besarnya upah tenaga

kerja sesuai dengan ketentuan UMK. Begitupun dengan besarnya upah tenaga

kerja sesuai dengan kebutuhan hidup masyarakat, dimana sebagian respondennya

Biaya Tenaga Kerja

21%

Ketersediaan Tenaga Kerja

46% Produktivitas Tenaga Kerja

Gambar

Gambar2.1
Tabel 3.1 Jumlah Sampel Berdasarkan Kelompok Masyarakat
Tabel 3.2 Matriks perbandingan berpasangan
Tabel 3.3 Skala penilaian perbandingan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini yaitu faktor perekonomian daerah menjadi faktor yang paling penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kota Padangsidimpuan dengan bobot sebesar

Dapat kita lihat gambar di atas bahwa persentase penentu daya saing ekonomi di kabupaten Labuhanbatu Selatan menurut tanggapan masyarakat bobot Infrastruktur Fisik

Adapun hasil dari penelitian ini faktor yang paling penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kabupaten Langkat adalah faktor tenaga kerja dan produktivitas dengan bobot

Hasil dari penelitian ini yaitu faktor perekonomian daerah menjadi faktor yang paling penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kota Padangsidimpuan dengan bobot sebesar

Hasil dari penelitian ini yaitu faktor infrastruktur menjadi faktor yang paling penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi Kabupaten Batu Bara dengan bobot sebesar

Dengan hasil penelitian faktor yang paling penting dalam pembentukan daya saing ekonomi kota Sibolga yaitu faktor infrastruktur dengan bobot nilai sebesar 0,328

Dengan hasil penelitian faktor yang paling penting dalam pembentukan daya saing ekonomi kota Sibolga yaitu faktor infrastruktur dengan bobot nilai sebesar 0,328

Hasil pembobotan tersebut menunjukkan bahwa faktor faktor penentu daya saing ekonomi Kota Binjai 2014 dipengaruhi oleh faktor infrastruktur fisik, faktor perekonomian