PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK NUMBERED HEAD TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBANGUN KONSEP DAN PENGUASAAN KONSEP SISTEM KOLOID

69 

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIKNUMBERED HEAD TOGETHERUNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN

MEMBANGUN KONSEP DAN PENGUASAAN KONSEP SISTEM KOLOID

( PTK pada Siswa Kelas XI IPA2SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun

Pelajaran 2010-2011)

Oleh MISWANTI

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kimia XI IPA di SMA

Gajah mada Bandar Lampung diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata tes

formatif pada materi pokok sistem koloid tahun pelajaran 2009-2010 adalah 55.

Hanya 35% siswa yang mendapat nilai 65, sedangkan sedangkan yang

mendapat nilai < 65 sekitar 65 %. Nilai tersebut belum mencapai Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di SMA Gajah Mada Bandar

Lampung yaitu siswa yang memperoleh nilai 65 sebanyak 100%.

Aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran rendah dan keterampilan

membangun konsep sebagai salah satu keterampilan generik sains selama proses

pembelajaran pada materi pokok sistem koloid belum pernah dilatihkan pada

siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas, membangun konsep,

penguasaan konsep dan ketuntasan belajar siswa adalah dengan menerapkan

model pembelajaran teknikNumbered Heads Together (NHT).

Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran teknik

(2)

konsep, (2) rata-rata penguasaan konsep, (3) kriteria siswa yang mencapai

ketuntasan belajar pada materi pokok sistem koloid melalui pembelajaran

kooperatif teknikNHT. Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus, subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA2SMA Gajah Mada TP 2010-2011 yang

berjumlah 38 orang. Data penelitian terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif.

Data kualitatif yang berupa data aktivitason tasksiswa yang diungkap melalui lembar observasi. Data kuantitatif yang berupa data keterampilan membangun

konsep, penguasaan konsep dan ketuntasan belajar siswa yang diungkap melalui

tes formatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase dari siklus I

ke II dan siklus II ke III: (1) rata-rata keterampilan membangun konsep siswa

sebesar 10,39 % dan 7,37% ; (2) rata-rata nilai penguasaan konsep sebesar 9,84%

dan 10,94% ; (3) ketuntasan belajar sebesar 21,05% dan 26,32%.

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif teknikNHT, keterampilan

(3)

A. Latar Belakang

Kimia merupakan mata pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan

sehari-hari. Oleh karena itu dalam pembelajaran tidak sekedar untuk memenuhi

tuntutan belajar siswa di sekolah saja, tetapi juga dapat melatih cara berfikir siswa

untuk memecahkan masalah terutama pembelajaran kimia secara sains. Sains

berasal darinatural scienceatausciencesaja, biasanya disebut Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu pengetahuan alam merupakan sekumpulan ilmu-ilmu serumpun yang

terdiri atas Biologi, Fisika, Kimia, Geologi dan Astronomi yang berupaya

menjelaskan setiap fenomena yang terjadi di alam. Mengingat bidang kajiannya

berbeda, sains selalu menjadi wahana berfikir yang sama. Dalam proses

pembelajarannya, siswa dapat diajak berfikir sains berdasarkan metode ilmiah.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kimia SMA Gajah Mada

Bandar Lampung diketahui bahwa rata-rata nilai ulangan harian mata pelajaran

kimia pada materi pokok sistem koloid pada semester genap tahun pelajaran

2009-2010 adalah 55. Hanya 35 % siswa yang mendapat 65,

sedangkan yang mendapatkan nilai < 65 sekitar 65 %. Perolehan persentase ini

merupakan persentase paling rendah dari 2 kelas. Nilai tersebut belum mencapai

KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan sekolah yaitu 100 % siswa

(4)

sepe-nuhnya berhasil pada materi pokok sistem koloid. Hal ini menunjukkan bahwa

siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami materi pokok sistem koloid.

Kesulitan yang dialami oleh siswa dikarenakan strategi yang digunakan dalam

pembelajaran oleh guru masih kurang tepat yaitu guru lebih memfokuskan pada

ketuntasan materi pelajaran, siswa mendengarkan penjelasan guru, siswa tidak

dibimbing untuk menemukan konsep, dan siswa lebih terbiasa menghafal materi

yang ada di buku dan dicatatkan guru tanpa memahami konsep materi tersebut

dengan baik. Aktivitas lain seperti bertanya, menjawab antar teman,

mendis-kusikan permasalahan antar teman dan guru juga belum tampak. Bahkan tidak

jarang jika siswa merasa jenuh, akhirnya akan mengobrol dan membuat

kegaduh-an di kelas bahkkegaduh-an keluar masuk kelas. Kesulitkegaduh-an siswa kelas XI IPA SMA Gajah

Mada Bandar Lampung untuk memahami materi juga terjadi pada materi

kelarutan dan hasil kali kelarutan semester genap tahun pelajaran 2010-2011 di

sekolah tersebut, hal ini terbukti dengan perolehan hasil ujian pada materi pokok

kelarutan dan hasil kali kelarutan, dimana rata-ratanya hanya 55 dan hanya 35%

siswa yang mencapai KKM.

Selama ini guru juga belum pernah melatihkan keterampilan generik sains yang

dikembangkan oleh Brotosiswoyo (2001) kepada siswa secara terprogram. Selain

itu, pembelajaran lebih ditekankan untuk mengerjakan soal-soal latihan dalam

LKS yang hanya berisi uraian singkat materi system koloid. Bagi siswa yang

kemampuannya tinggi, hal ini tidak menjadi masalah, tetapi untuk siswa yang

kemampuan akademisnya kurang atau rendah mereka akan merasa kesulitan.

(5)

praktikum pada proses pembelajaran, dengan kata lain guru kurang melatih

keterampilan generik sains siswa pada setiap pembelajaran yang dilakukan.

Padahal seorang guru sangat penting melatihkan KGS kepada siswa, karena dapat

membekali siswa dengan suatu pengalaman dan kemampuan berfikir tingkat

tinggi yang sangat berguna untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam

kehidupannya.

Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa pada materi sistem koloid adalah

mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan

sehari-hari dan membuat berbagai sistem koloiddengan bahan-bahan yang ada

disekitarnya melalui percobaan. Agar siswa dapat mencapai kompetensi dasar

ini, siswa harus dilatih keterampilan generik sainsnya seperti pengamatan

langsung dan pengamatan tak langsung saat praktikum , membangun konsep dan

melakukan inferensi logika dalam menyimpulkan setiap pemahaman konsep

mereka tentang sistem koloid, serta menuliskan bahasa simbolik untuk persamaan

reaksi. Oleh karena itu, suatu strategi pembelajaran yang mestinya digunakan guru

ialah pembelajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan generik sains

dengan bantuan media LKS ( Lembar Kerja Siswa ).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dewi (2009) pada materi pokok

sistem koloid menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan LKS KGS

memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir

menurut sains mereka sendiri. Hasil penelitian Andesta (2009), pada materi

pokok hukum-hukum dasar kimia; menunjukkan bahwa pembelajaran dengan

(6)

kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir berdasarkan pengetahuan

sains yang mereka miliki. siswa mampu menyerap pesan yang terkandung dalam

LKS yang telah diterapkan dan mampu melaksanakan pembelajaran

menggunakan LKS dengan baik.

LKS berbasis keterampilan generik sains adalah LKS yang berisi prosedur dan

pertanyaan-pertanyaan yang mengandung berbagai indikator keterampilan generik

sains yang dapat mengarahkan siswa untuk mengkonstruksi dan meningkatkan

keterampilan generik sainsnya. Penggunaan media LKS berbasis keterampilan

generik sains adalah untuk memudahkan siswa pada kegiatan praktikum dan non

praktikum karena petunjuk dalam LKS dipaparkan secara jelas sehingga akan

memudahkan siswa untuk menemukan konsep sistem koloid.

Selain media, model pembelajaran yang digunakan juga harus sesuai yaitu model

pembelajaran yang dapat menarik minat dan gairah belajar siswa, sehingga siswa

aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat

membangkit-kan semangat belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran

kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam

satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang

untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Akan tetapi, guru kimia

kelas XI IPA di SMA Gajah Mada Bandar Lampung belum pernah menerapkan

model pembelajaran kooperatif. Dalam proses pembelajaran guru hanya

mengunakan metode ceramah, mengisi soal-soal di LKS dan mencatat, sehingga

guru dirasakan belum membantu siswa dalam menemukan dan memahami

(7)

pembelajaran kooperatif yang cocok diterapkan di SMA Gajah Mada kelas XI

IPA semester genap adalah model kooperatif teknikNumbered Head Togethet (NHT). Model pembelajaran kooperatif teknik Numbered Head Togethet (NHT) lebih memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk menyampaikan

pendapatnya. Sehingga tidak terjadi suasana belajar siswa yang pasif.

Bila dilihat dari kemampuan yang dimiliki siswa, serta metode pembelajaran

yang digunakan dalam proses pembelajaran kurang tepat. Dalam proses

pembelajaran pernah dilakukan metode diskusi kelompok biasa, tetapi proses

belajar tersebut tidak begitu baik. Hal itu dikarenakan terlihat dalam suatu

kelompok siswa yang berkemampuan tinggi lebih banyak bicara dan terlalu

mendominasi. Sebaliknya ada juga siswa yang pasif dan pasrah saja pada teman

yang lebih dominan, sehingga masih ada beberapa siswa yang merasa jenuh dan

akhirnya mengganggu kelompok lain bahkan juga masih ada yang keluar masuk

kelas tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya. Pada situasi seperti

ini, pemerataan tanggung jawab dalam kelompok tidak tercapai, karena siswa

yang pasif menguntungkan dirinya pada teman yang dominan.

Menanggapi permasalahan ini maka akan diterapkan model pembelajaran

koope-ratif teknikNumbered Head Togethet (NHT). Hasil penelitian Rahmayanti (2009) diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif teknikNHTdapat mening-katkan penguasaan konsep pada materi pokok larutan elektrolit dan reaksi redoks.

(8)

Model ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (Lie, 2003). Teknik ini memberi

kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan menimbang

ja-waban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk

me-ningkatkan kerjasama mereka. TeknikNHT lebih banyak melibatkan siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran untuk mengecek

pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka dilakukan penelitian yang

berjudul : Penerapan Pembelajaran kooperatife tekniknumbered Head Together Untuk Meningkatkan Keterampilan membangun Konsep dan Penguasaan konsep

Sistem Koloid (PTK pada Siswa Kelas XI IPA2SMA Gajah Mada Bandar

Lampung T.P

2010-B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah pembelajaran kooperatif teknikNHT dapat meningkatkan keterampilan membangun konsep siswa pada materi pokok sistem koloid dari

siklus ke siklus?

2. Bagaimanakah pembelajaran kooperatif teknikNHTdapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi pokok sistem koloid dari siklus ke

siklus?

3. Bagaimanakah pembelajaran kooperatif teknikNHT dapat meningkatkan persentase siswa yang mencapai KKM pada materi pokok sistem koloid dari

(9)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah

mendeskrip-si-kan:

1. Peningkatan keterampilan membangun siswa dengan menerapan

pembelajaran kooperatif teknikNHT pada materi pokok sistem koloid dari siklus ke siklus.

2. Peningkatan penguasaan konsep siswa dengan menerapan pembelajaran

kooperatif teknikNHT pada materi sistem koloid dari siklus ke siklus. 3. Peningkatan persentase siswa yang mencapai KKM pada materi pokok

sistem koloid dengan menerapan pembelajaran kooperatif teknikNHT dapat meningkatkan dari siklus ke siklus.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat:

1. Bagi siswa

Melatih siswa aktif dalam pembelajaran, melatih keterampilan generik sains

siswa, menumbuhkan rasa tanggung jawab, penerimaan perbedaan antar

individu, kemampuan berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dengan

teman, menumbuhkan rasa ketergantungan positif sesama teman dan

membangun konsep.

2. Bagi guru dan peneliti

Memberikan pengalaman secara langsung bagi guru mitra dan masukan

(10)

menerapkan pembelajaran kooperatif sebagai alternatif bentuk pembelajaran

kimia pada materi pokok sistem koloid dalam meningkatkan aktivitas siswa

dalam pembelajaran dan menumbuhkan keterampilan generik sains siswa pada

materi pokok Sistem Koloid.

3. Bagi sekolah

Menjadi informasi dan sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan

mutu pembelajaran kimia di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Agar penelitian ini mencapai sasaran sebagai mana yang telah dirumuskan, maka

ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada:

1. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA2semester genap SMA

Gajah Mada Tahun Pelajaran 2010-2011.

2. Pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif

teknikNHTyang memiliki 4 struktur langkah kegiatan utama yaitu

penomoran, pengajuan pertanyaan, berfikir bersama dan pemberian jawaban.

3. Keterampilan membangun konsep adalah suatu kemampuan yang dapat

memahami persamaan dan perbedaan dari suatu kejadian sampai

terbentuknya suatu konsep.

4. Penguasaan konsep diukur mengunakan tes formatif di setiap akhir siklus.

5. Materi pokok pada penelitian ini adalah Sistem Koloid yang terdiri dari sub

materi pokok sistem koloid, sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam

(11)
(12)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada

strategi pembelajaran, siswa dituntut bekerjasama dalam kelompok-kelompok

kecil untuk menolong satu sama lainnya dalam memahami suatu pelajaran,

memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan lainnya dengan tujuan

mencapai prestasi belajar yang tinggi (Lie, 2003).

Menurut Artzt dan Newman yang dikutip

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan dimana para siswa dikelompokan ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk memecahkan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mencapai tujuan bersama.

Sedangkan menurut Lie (2007):

Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran gotong royong adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas terstruktur, di mana dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator.

Dalam pengertian lain, Eggen dan Kauchak dalam Trianto (2007) menyatakan

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan

partisipasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat

keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk

(13)

belakangnya. Bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah tujuan bersama

akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang

akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah.

Berdasarkan pengertian di atas terlihat jelas bahwa siswa dilatih untuk saling

bekerjasama dan saling membantu dengan temannya dalam rangka saling

mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling menghargai satu sama lainnya,

sehingga siswa akan terlatih hidup dalam masyarakat sesuai dengan kodrat

manusia adalah sebagai mahluk sosial yang artinya saling membutuhkan satu

sama lainnya.

Selanjutnya Ibrahim, dkk (2000) menyatakan:

Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerjasama saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

Sedangkan Abdurrahman (1999) mengatakan:

Nilai hasil belajar kelompok ditentukan oleh rata-rata hasil belajar individu Pembelajaran kooperatif menampakkan wujudnya dalam bentuk belajar Kelompok. Dalam belajar kooperatif anak tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada orang lain, tiap anggota kelompok dituntut untuk memberikan urunan bagi keberhasilan kelompok.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif adalah

salah satu strategi pembelajaran dimana siswa dikelompokkan menjadi beberapa

kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang yang heterogen untuk

bekerjasama, saling membantu di antara anggota kelompok untuk menyelesaikan

tugas bersama. Pembelajaran kooperatif dapat melatih siswa berkolaborasi untuk

(14)

yang nantinya dapat mencapai potensi yang optimal. Dilain pihak, para pengajar

sangat enggan menerapkan pembelajaran di kelas dengan asas gotong royong.

Lie (2007) mengemukakan beberapa alasan mengapa para pengajar enggan

menerapkan asas tersebut, diantaranya:

a. Kekhawatiran akan terjadinya kekacauan di kelas.

b. Adanya siswa yang tidak suka belajar berkelompok, lebih memilih belajar secara individu.

c. Siswa yang malas lebih mengandalkan temannya yang tekun dan siswa yang tekun merasa dituntut bekerja secara ekstra dalam kelompoknya. d. Adanya perasaan minder bagi siswa yang kurang mampu belajar bersama

siswa yang lebih pandai.

Faktor-faktor di atas dapat dikendalikan oleh pembelajaran kooperatif, karena

pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur tertentu untuk memungkinkan

proses belajar dan pembelajaran di kelas secara efektif. Roger dan David Johnson

nggap

mencapai hasil yang maksimal, kerja

kelompok harus memiliki unsur-unsur di bawah ini:

1. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya

untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif. Pembelajaran kooperatif

mengajarkan siswa untuk saling bergantung satu sama lain dengan teman satu

kelompoknya. Oleh sebab itu, setiap anggota harus bertanggung jawab agar

teman yang lain dalam kelompoknya dapat berhasil, sehingga siswa yang

berkemampuan rendah tidak merasa minder dan terpacu untuk meningkatkan

usaha mereka menjadi lebih baik, sedangkan siswa yang lebih pandai tidak

merasa dirugikan karena temannya yang kurang mampu juga telah

memberikan sumbangan.

(15)

Dalam pembelajaran kooperatif, setiap anggota kelompok memiliki tugas

masing-masing dan harus bertanggung jawab agar dapat menyelesaikan

tugas selanjutnya demi keberhasilan kelompok.

3. Tatap muka

Dalam pembelajaran kelompok setiap anggota diberi kesempatan untuk

berdiskusi dan bertatap muka, sehingga untuk memperoleh kesimpulan tidak

berasal dari satu kepala namun dari hasil pemikiran beberapa kepala. Selain

itu, masing-masing anggota kelompok akan timbul sikap mampu menghargai

perbedaan dan pendapat orang lain, serta dapat memanfaatkan kelebihan

orang lain untuk mengisi kekurangannya masing-masing.

4. Komunikasi antar anggota

Tidak semua siswa memiliki keahlian untuk mendengarkan dan berbicara.

Pembelajaran kooperatif mengajarkan bagaimana menyatakan sanggahan dan

pendapat positif dengan ungkapan yang baik dan halus. Keberhasilan dari

suatu kelompok sangat bergantung pada kesediaan untuk saling

mendengar-kan dan kemampuan mereka mengeluarmendengar-kan pendapat. Oleh sebab itu, dalam

pembelajaran kooperatif dibutuhkan suatu komunikasi yang baik antar

anggota kelompok.

5. Evaluasi proses kelompok

Evalusi proses kerja kelompok tidak perlu diadakan setiap ada kerja

kelompok, namun pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus untuk

kelompok yang hendak dievaluasi. Evalusi berfungsi untuk meningkatkan

efektifitas kerja sama antar anggota kelompok.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran

(16)

pembelajaran. Kelompok dalam pembelajaran kooperatif bersifat heterogen,

sehingga siswa yang pandai dapat memberikan masukan kepada temannya yang

berkemampuan rendah dan siswa yang berkemampuan rendah memperoleh

banyak keuntungan belajar dengan rekannya yang pandai.

Menurut Lungdren dalam Ibrahim, dkk (2000), manfaat dari pembelajaran

kooperatif bagi siswa yang berprestasi rendah antara lain

1. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas 2. Rasa harga diri lebih tinggi

3. Memperbaiki sikap terhadap ilmu pengetahuan dan sekolah 4. Memperbaiki kehadiran

5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar 6. Perselisihan antar pribadi kurang

7. Sikap apatis kurang

8. Pemahaman lebih mendalam 9. Motivasi lebih mendalam 10. Hasil belajar lebih baik.

Menurut Ibrahim, dkk (2003) pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai

berikut

1. Siswa bekerjasama dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.

4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Menurut Ibrahim, dkk ( 2007) langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif

ditunjukkan pada Tabel 1 sebagai berikut

Tabel 1. Enam langkah/fase dalam model pembelajaran kooperatif

Fase Tingkah laku guru

a. Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

b. Fase 2

Menyajikan Informasi

(17)

c. Fase 3

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien. d. Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

e. Fase 5 Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah

dipelajari/masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

f. Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya atau hasil belajar individu dan kelompok.

B. Pembelajaran Kooperatif TeknikNumbered Head Together (NHT)

Dalam penerapannya pembelajaran kooperatif memiliki beberapa teknik

pembelajaran, dan salah satunya adalah teknikNHT. TeknikNHTdikembangkan oleh Spencer Kagan dalam Lie ( 2007) yang memberi kesempatan kepada siswa

untuk saling membagikan ide-ide dan menimbang jawaban yang paling tepat dan

dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan kerjasama mereka. Adapun

langkah-langkah dalam teknik ini adalah

1. Penomoran

Guru mengelompokkan siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5

orang dan memberi mereka nomor sehingga setiap siswa dalam kelompoknya

memiliki nomor yang berbeda.

(18)

Guru mengajukan pertanyaan secara langsung atau memberikan tugas dan

masing-masing kelompok mengerjakannya.

3. Berfikir bersama

Setiap anggota kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan

setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya dan mengetahui jawabannya.

4. Pemberian jawaban

Guru memanggil satu nomor tertentu dan para siswa dari setiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyampaikan jawaban

kepada seluruh kelas secara bergiliran. Setelah semua siswa dari tiap

kelompok memberikan jawabannya dan saling menanggapi, guru kemudian

meluruskan dan memberi penguatan terhadap jawaban siswa menuntun siswa

untuk menarik kesimpulan tentang materi pembelajaran yang telah dipelajari.

C. Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar adalah serangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa selama

proses pembelajaran berlangsung. Menurut Sardiman (1994 ):

Aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia karena manusia memiliki jiwa sebagai sesuatu yang dinamis memiliki potensi dan energi sendiri.

Sedangkan pengertian aktivitas belajar menurut Winkel (1983):

Aktivitas belajar adalah segala kegiatan belajar siswa yang menghasilkan suatu perubahan khas, yaitu hasil belajar yang akan nampak melalui prestasi belajar yang akan dicapai.

Oleh sebab itu secara alami siswa menjadi aktif karena adanya motivasi dan

(19)

guru maupun siswa dituntut berperan aktif, untuk itu guru harus menciptakan

suasana yang dapat melibatkan siswa secara aktif.

Pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku dan tindakan

yang dialami oleh siswa itu sendiri. Dimyati dan Mudjiono (2002) menyatakan

bahwa belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Belajar

merupakan bagian dari aktivitas, tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas.

Aktivitas belajar harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk meningkatkan hasil

belajar. Seiring dengan itu, Djamarah (2000) menyatakan bahwa belajar sambil

melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik, sebab

kesan yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama tersimpan di dalam benak

anak didik.

Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang didahului dengan perencanaan

dan didasari untuk mencapai tujuan belajar, yaitu perubahan pengetahuan dan

keterampilan yang ada pada diri siswa yang melakukan kegiatan belajar.

Kegiatan belajar yang dilakukan adalah kegiatan yang dapat mendukung

pencapaian tujuan dalam proses pembelajaran. Seperti yang diungkapkan

jar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar

adalah rangkaian kegiatan belajar siswa di sekolah baik yang dilakukan di dalam

maupun di luar kelas. Di dalam aktivitas belajar itu sendiri terkandung tujuan

yaitu ingin mengadakan perubahan diri baik tingkah laku, pengetahuan,

(20)

Paul B. Diedrich dalam Hamalik (2004) mengklasifikasikan aktivitas siswa dalam

8 kelas sebagai berikut

1. Visual Activitiesyang termasuk di dalamnya misal, membaca, memperhatikan, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain

2. Oral Activitiesseperti, menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.

3. Listening Activitiesmeliputi, mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, pidato, musik.

4. Writing Activitiesmeliputi, menulis karangan, laporan angket, menyalin. 5. Drawing Activitiesmeliputi, menggambar, membuat peta, grafik,

diagram.

6. Motor Activitiesmeliputi, melakukan percobaan, membuat konstruksi, bemain, berkebun, beternak.

7. Mental Activitiesmisalnya, menanggap, mengingat, memecahkan soal, menganalis, melihat hubungan, mengambil kesimpulan.

8. Emosional Activitiesseperti, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Aktivitas-aktivitas dalam belajar juga dapat dibedakan menjadi aktivitas yang

relevan dengan pembelajaran(on task)dan aktivitas yang tidak relevan(off task). Aktivitas yang relevan dengan pembelajaran(on task),contohnya adalah bertanya kepada teman, bertanya kepada guru, mengemukakan pendapat, aktif

memecah-kan masalah, berdiskusi dan bekerja sama. Aktivitas yang tidak relevan dengan

pembelajaran(off task),contohnya adalah tidak memperhatikan penjelasan guru, mengobrol dengan teman, dan keluar masuk kelas.

D. Keterampilan Generik Sains

Sains berasal darinatural scienceatausciencesaja yang sering disebut dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang meliputi Kimia, Bilogi, Fisika, Geologi, dan

Astronomi. Belajar sains sarat akan kegiatan berfikir, sehingga pembelajaran

sains perlu diubah modusnya agar dapat membekali setiap siswa dengan

(21)

Dengan demikian, diharapkan siswa memiliki kemampuan berfikir dan bertindak

berdasarkan pengetahuan sains yang dimilikinya atau lebih dikenal sebagai

keterampilan generik sains. Pembelajaran dengan melatih keterampilan generik

sains merupakan suatu pembelajaran yang mengajak siswa berfikir melalui sains

dalam kehidupannya.

Sunyono (2009) bahwa pada dasarnya cara berpikir dan berbuat dalam

mempelajari berbagai konsep sains dan menyelesaikan masalah, serta belajar

secara teoritis di kelas maupun dalam praktik adalah sama, karena itu ada

kompetensi generik. Kompetensi generik adalah kompetensi yang digunakan

secara umum dalam berbagai kerja ilmiah. Kompetensi generik diturunkan dari

keterampilan proses dengan cara memadukan keterampilan itu dengan

komponen-komponen alam yang dipelajari dalam sains. Jika memperhatikan kompetensi

dasar dalam standar kompetensi dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)

tampak bahwa yang dimaksudkan dengan kompetensi dasar adalah kompetensi

khusus yang berkaitan dengan sesuatu konsep. Kompetensi generik adalah

kompetensi yang lebih luas daripada kompetensi dasar. Kompetensi generik

merupakan kompetensi yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai konsep

dan menyelesaikan berbagai masalah sains. Dalam satu kegiatan ilmiah, misalnya

kegiatan memahami konsep, terdiri dari beberapa kompetensi generik.

Kegiatan-kegiatan ilmiah yang berbeda dapat mengandung kompetensi-kompetensi generik

yang sama.

Menurut Brotosiswoyo (2001):

(22)

Makna dari setiap indikator keterampilan generik sains tersebut adalah

1. Pengamatan langsung

Sains merupakan ilmu tentang fenomena dan prilaku alam sepanjang masih

dapat diamati oleh manusia. Hal ini menuntut adanya kemampuan manusia

untuk melakukan pengamatan langsung dan mencari keterkaitan-keterkaitan

sebab akibat dari pengamatan tersebut. Pengamatan langsung dalam hal ini

adalah suatu pengamatan yang dapat langsung diamati oleh indera manusia

tanpa menggunakan alat bantu, contohnya terjadinya endapan, perubahan

warna, dan timbulnya bau dapat diamati langsung oleh indera manusia.

2. Pengamatan tak langsung

Alat indera manusia memiliki keterbatasan dalam mengamati gejala-gejala

alam. Pengamatan tak langsung terjadi pada saat pengamatan langsung tidak

dapat dilakukan karena keterbatasan alat indera dalam mengamati gejala-gejala

alam yang terjadi. Sehingga untuk mengatasi keterbatasan tersebut manusia

melengkapi diri dengan berbagai peralatan. Sebagai contoh penggunaan

indikator universal untuk mengukur pH, penggunaan kalorimeter untuk

mengukur kalor, serta penggunaan mikroskop ultra untuk melihat partikel

koloid.

3. Kesadaran akan skala besaran

Kesadaran akan skala besaran diartikan sebagai kemampuan seseorang

mendeskripsikan akan skala besaran dari berbagai objek yang dipelajarinya.

Dengan demikian ia dapat membayangkan bahwa yang dipelajari adalah

tentang dari ukuran yang sangat besar seperti jagad raya sampai yang sangat

kecil seperti keberadaan pasangan elektron. Ukuran jumlah juga sangat

(23)

molekul dalam 1 mol zat mencapai 6,02 x 1023partikel.

4. Bahasa simbolik

Untuk memperjelas gejala alam yang dipelajari oleh setiap rumpun ilmu

diperlukan bahasa simbolik, agar terjadi komunikasi dalam bidang

ilmu tersebut. Keterampilan generik sains dalam bidang bahasa simbolik

adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengenali simbol-simbol, seperti

dalam ilmu kimia mengenal adanya lambang unsur, persamaan reaksi,

simbol-simbol untuk reaksi searah, reaksi kesetimbangan, resonansi, dan banyak lagi

bahasa simbolik yang telah disepakati dalam bidang ilmu tersebut.

5. Kerangka logika taat asas

Pada pengamatan panjang tentang gejala alam yang melalui banyak

hukum-hukum, orang akan menyadari keganjilan dari sifat taat asasnya secara logika.

Untuk membuat hubungan hukum-hukum itu agar taat asas, maka perlu

ditemukan teori baru yang menunjukkan kerangka logika taat asas. Kerangka

logika taat asas dalam hal ini adalah suatu kemampuan seseorang

menghubungkan hukum-hukum yang telah ada serta dapat menunjukkan

keganjilan dan menemukan jawaban dari keganjilan tersebut. Pada materi

pengaruh konsentrasi terhadap pergeseran kesetimbangan, penambahan

konsentrasi suatu zat akan menyebabkan pergeseran kesetimbangan dengan

cara mengurangi jumlah konsentrasi zat yang ditambahkan atau dikenal dengan

hukum aksi reaksi yang taat pada azas Le Chatelier.

6. Inferensia logika

Logika sangat berperan dalam melahirkan hukum-hukum sains. Banyak fakta

yang tak dapat diamati langsung tetapi dapat ditemukan melalui inferensia

(24)

Jadi, inferensia logika adalah suatu kemampuan seseorang berfikir logis dalam

belajar sains. Misalnya titik nol derajat Kelvin sampai saat ini belum dapat

direalisasikan keberadaannya, tetapi orang yakin bahwa itu benar.

7. Hukum sebab akibat

Rangkaian hubungan antara berbagai faktor dari gejala yang diamati diyakini

sains selalu membentuk hubungan yang dikenal sebagai hukum sebab akibat.

Hukum sebab akibat dalam keterampilan generik sains adalah kemampuan

menghubungkan antara perlakuan kepada sesuatu dengan dampak yang

ditimbulkan. Sebagai contoh dalam materi sistem koloid apabila fase

terdispersi dan fase pendispersi berbeda, maka jenis koloid yang dihasilkan

juga akan berbeda.

8. Pemodelan matematik

Untuk menjelaskan hubungan-hubungan yang diamati diperlukan bantuan

pemodelan metematik agar dapat diprekdisikan dengan tepat bagaimana

kecenderungan hubungan atau perubahan suatu fenomena alam. Pemodelan

matematik adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki seseorang yang

belajar sains untuk mempermudah dalam belajar sains itu sendiri. Misalnya

dalam materi hidrolisis garam diperlukan kemampuan menggunakan rumus pH

larutan garam.

9. Membangun konsep

Kemampuan membangun konsep adalah suatu kemampuan yang dapat

memahami persamaan dan perbedaan dari suatu kejadian sampai terbentuk

suatu konsep. Misalnya dalam materi sistem koloid, dapat membedakan

(25)

E.Keterkaitan Keterampilan Generik Sains dan Konsep-Konsep Sains

Berdasarkan paradigma baru dalam mempelajari sains yang harus berdampak

pada kompetensi, bahkan efek iringan dari suatu pembelajaran dirasakan lebih

penting pada abad ke-21 ini, daripada efek pembelajaran langsung. Sebagai

akibatnya guru perlu menentukan terlebih dahulu keterampilan generik sains yang

perlu dimiliki siswa sebagai dampak suatu pembelajaran sains.

Dengan berkembang pesatnya pengetahuan sains, maka pertambahan

konsep-konsep sains yang perlu dipelajari siswa juga sangat besar. Sebagai akibatnya

perlu ada pemilihan konsep-konsep essensial yang dipelajari siswa.

Konsep-konsep essensial ini dipilih berdasarkan pada pentingnya Konsep-konsep tersebut untuk

kehidupan siswa dan pentingnya memberi pengalaman belajar tertentu kepada

siswa, agar memperoleh bekal keterampilan generik sains yang memadai.

Menurut Liliasari ( 2007), untuk menentukan pengetahuan sains yang perlu

dipelajari siswa, pengajar perlu terlebih dahulu melakukan analisis konsep-konsep

sains yang ingin dipelajari.

Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara jenis

konsep-konsep sains dengan keterampilan generik sains yang dapat dikembangkan. Hasil

analisis dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Hubungan jenis konsep dan keterampilan generik sains

No Keterampilan generik sains Jenis Konsep 1 Pengamatan langsung Konsep konkrit 2 Pengamatan langsung/tak langsung, inferensia

logika.

Konsep abstrak konkrit dengan contoh konkrit 3 Pengamatan tak langsung, inferensia logika. Konsep abstrak 4 Kerangka logika taat asas, hukum sebab akibat,

inferensia logika.

(26)

5 Bahasa simbolik, pemodelan matematik. Konsep yang

memnyatakan simbol 6 Pengamatan langsung/tak langsung, hukum

sebab akibat, kerangka logika taat asa, inferensisa logika.

Konsep yang menyatakan sifat

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dalam mempelajari konsep-konsep sains

dibekalkan kemampuan berfikir yang kompleks. Pada umumnya setiap konsep

sains dapat mengembangkan lebih dari satu macam keterampilan generik sains,

kecuali konsep konkrit. Jenis konsep ini sangat terbatas jumlahnya dalam sains,

kerena itu mempelajari konsep sains pada hakekatnya adalah mengembangkan

keterampilan berfikir sains, yang merupakan berfikir tingkat tinggi (Liliasari,

2007).

F. Penguasaan Konsep

Penguasaan adalah proses, cara, perbuatan menguasai, atau mengusahakan.

Penguasaan diartikan sebagai pemahaman atau kesanggupan untuk menggunakan

pengetahuan, kepandaian, dan sebagainya. Konsep adalah ide atau pengertian

yang diabstrakkan dari peristiwa yang konkret. Van Den Berg dalam Arikunto,

(2004), konsep didefinisikan sebagai abstrak dari ciri-ciri sesuatu yang dapat

mempermudah komunikasi antar manusia dan yang memungkinkan manusia

berfikir. Hamalik (2004) mengemukakan bahwa konsep adalah suatu kelas atau

kategori stimuli yang memiliki ciri-ciri umum. Stimuli adalah objek-objek /

konsep-konsep tidak terlalu kongruen dengan pengalaman pribadi.

Menurut Sagala (2003) definisi konsep adalah:

Konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga menghasilkan produk

(27)

dari fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berpikir abstrak.

Konsep juga diartikan sebagai suatu jaringan hubungan dalam suatu objek yang

mempunyai ciri-ciri dan dapat diobservasi. Berdasarkan pengertian-pengertian

tersebut, penguasaan konsep adalah pemahaman siswa terhadap ide yang memiliki

ciri-ciri dan dapat diabstrakkan dari peristiwa konkret. Untuk mengetahui sejauh

mana penguasaan konsep dan keberhasilan siswa terhadap materi yang diajarkan

diperlukan tes hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka atau nilai

tertentu. Tes adalah ujian tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui

pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seorang individu. Jadi,

penguasaan konsep siswa terhadap materi tertentu dapat diketahui dengan adanya

tes yang diberikan guru kepada siswa pada akhir pembelajaran yang telah

ditempuh dalam jangka waktu tertentu.

Penguasaan konsep akan mempengaruhi ketercapaian hasil belajar siswa. Suatu

proses dikatakan berhasil apabila hasil belajar yang didapatkan meningkat atau

mengalami perubahan setelah siswa melakukan aktivitas belajar, pendapat ini

didukung oleh Djamarah dan Zain (1996) yang mengatakan bahwa belajar pada

hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah

berakhirnya melakukan aktivitas belajar.

Proses belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya

adalah pembelajaran yang digunakan guru dalam kelas. Dalam belajar dituntut

juga adanya suatu aktivitas yang harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk

meningkatkan penguasaan materi. Materi pelajaran kimia terdiri atas

(28)

lain saling berkaitan, dalam mempelajari ilmu kimia diperlukan penguasaan

konsep sebagai dasar untuk mempelajari konsep-konsep berikutnya yang lebih

kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan terhadap suatu konsep tidak

mungkin baik jika siswa tidak melakukan belajar karena siswa tidak akan tahu

banyak ten-tang materi pelajaran. Sebagian besar materi pelajaran yang dipelajari

disekolah terdiri dari konsep-konsep. Semakin banyak konsep yang dimiliki

seseorang, se-makin banyak alternatif yang dapat dipilih dalam menyelesaikan

masalah yang dihadapinya.

G. Lembar Kerja Siswa

LKS merupakan alat bantu untuk menyampaikan pesan kepada siswa yang

digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Melalui media pembelajaran

berupa LKS ini akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi

pembelajaran dan mengefektifkan waktu, serta akan menimbulkan interaksi antara

guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.

Menurut Sriyono (1992):

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah salah satu bentuk program yang

berlandaskan atas tugas yang harus diselesaikan dan berfungsi sebagai alat untuk mengalihkan pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu mempercepat tumbuhnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Menurut Sudjana (Djamarah dan Zain, 2000), fungsi LKS adalah :

a) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

b) Sebagai alat bantu untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian siswa.

(29)

d) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi lebih aktif dalam pembelajaran. e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan pada

siswa.

f) Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar, karena hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi.

Menurut Prianto dan Harnoko (1997), manfaat dan tujuan LKS antara lain

1. Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar. 2. Membantu siswa dalam mengembangkan konsep.

3. Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan proses pembelajaran

4. Membantu guru dalam menyusun pelajaran.

5. Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

6. Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajarai melalui kegiatan belajar.

7. Membantu siswa untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

Pada proses belajar mengajar, LKS digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk

menuntun siswa mendalami materi dari suatu materi pokok atau sub materi pokok

mata pelajaran yang telah atau sedang dijalankan. Melalui LKS siswa harus

(30)

III. METODE PENELITIAN

A. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas kelas XI IPA2SMA Gajah Mada

Bandar Lampung, semester genap Tahun Pelajaran 2010-2011 yang berjumlah 38

siswa terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan.

B. Prosedur PenelitianTindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus. Siklus I dilaksanakan 3 x

pertemuan, siklus II dilaksanakan 3 x pertemuan, dan siklus III dilaksanakan

3x pertemuan. Prosedur pelaksanaan pada penelitian ini adalah perencanaan,

pelaksanaan tindakan dan observasi, evaluasi dan análisis data, dan refleksi.

Siklus I

Pelaksanaan siklus I terdiri dari 3 pertemuan. 2 x pertemuan dengan

masing-masing alokasi waktu 2 x 40 menit untuk pembelajaran, 1 x pertemuan berikutnya

untuk tes formatif . Tahap-tahap pelaksanaan siklus I adalah

1. Perencanaan siklus tindakan I

Tahap-tahap dalam perencanaan ini adalah :

a. Menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

b. Menyusun Lembar Kegiatan Siswa ( LKS).

(31)

d. Menyusun lembar observasi kinerja guru dalam pembelajaran.

e. Menyusun soal-soal tes formatif untuk mengukur keterampilan membangun

konsep dan penguasaan konsep.

2. Pelaksanaan tindakan dan observasi

Siklus I dilaksanakan sebanyak 3 x pertemuan. Siklus I dilaksanakan sebanyak 3

x pertemuan, pertemuan 1 dan 2 masing-masing dilaksanakan dengan alokasi

waktu 2 x 40 menit untuk pelajaran dan pertemuan 3 dilaksanakan dengan

alokasi waktu 1 x 40 menit untuk tes formatif. Pada siklus I sub materi yang

diajarkan adalah sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam. Pada siklus I ini sub

materi yang akan diajarkan adalah sistem koloid.

a. Pertemuan 1 (2 x 40 menit) Fase 1 (Penomoran):

1. Mengkondisikan siswa dalam kelompok dan memberikan kartu bernomor

yang berbeda pada masing-masing anggota kelompok.

2. Menyampaikan indikator pembelajaran.

3. Memberikan pertanyaan yang bertujuan mengaitkan pembelajaran dengan

pengetahuan sains awal siswa. Contohnya, pernahkah kalian melarutkan

garam dalam air? Pernahkah kalian mencampurkan kopi dengan air?

Pernahkah kalian membuat segelas susu?

Fase 2 (Pengajuan pertanyaan):

1. Membagikan LKS I tentang larutan, suspensi, dan koloid.

2. Menginstruksikan siswa untuk melakukan praktikum.

3. Menginstruksikan siswa untuk menuliskan data hasil pengamatan dan

(32)

Fase 3 (Berfikir bersama):

1. Membimbing siswa dalam melakukan praktikum

2. Membimbing siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menuliskan data

hasil pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS.

Fase 4 (Pemberian jawaban):

1. Memanggil 1 nomor tertentu secara acak dan setiap siswa dari tiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangannya lalu menyampaikan

jawabannya untuk seluruh kelas secara bergiliran dengan bimbingan guru.

2. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.

3. Memberikan penguatan mengenai materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai

pemantapan konsep yang telah diterima siswa.

Selama pembelajaran berlangsung, guru mitra melakukan observasi kinerja guru

dan dua orang observer melakukan observasi aktivitas siswa dengan mengisi

lembar observasi yang telah disediakan.

b. Pertemuan 2 (1 x 40 menit) Fase 1(Penomoran):

1. Mengkondisikan siswa dalam kelompok dan memberikan kartu bernomor

yang berbeda pada masing-masing anggota kelompok.

2. Menyampaikan indikator pembelajaran.

3. Memberikan pertanyaan yang bertujuan mengaitkan pembelajaran dengan

pengetahuan sains awal siswa. Contohnya, pernahkah kalian melihat batu

apung? Mengapa batu apung tidak tenggelam bila dimasukkan dalam air?

(33)

1. Membagikan LKS II tentang jenis-jenis koloid berdasarkan fase terdispersi

dan medium pendispersinya.

2. Menginstruksikan siswa untuk melakukan praktikum.

3. Menginstruksikan siswa untuk menuliskan data hasil pengamatan dan

menjawab pertanyaan dalam LKS secara berkelompok.

Fase 3 (Berfikir bersama):

1. Membimbing siswa dalam melakukan praktikum

2. Membimbing siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menuliskan data hasil

pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS.

Fase 4 (Pemberian jawaban):

1. Memanggil 1 nomor tertentu secara acak dan setiap siswa dari tiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangannya lalu menyampaikan

jawabannya untuk seluruh kelas secara bergiliran dengan bimbingan guru.

2. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.

3. Memberikan penguatan mengenai materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai

pemantapan konsep yang telah diterima siswa.

Selama pembelajaran berlangsung, guru mitra melakukan observasi kinerja guru

dan dua orang observer melakukan observasi aktivitas siswa dengan mengisi

lembar observasi yang telah disediakan.

3. Evaluasi dan analisis data

Melakukan tes formatif 1 untuk menentukan keterampilan membangun konsep

(34)

itu, dilakukan analisis data untuk menentukan persentase keterampilan

membangun konsep dan penguasaan konsep siswa.

4. Refleksi

Setelah siklus I selesai, bersama guru mitra melakukan refleksi untuk menemukan

kekurangan yang terjadi pada siklus I. Sebagai acuan dari refleksi adalah hasil tes

dari uji siklus I sebagai tes keterampilan membangun konsep dan penguasaan

konsep, hasil observasi kinerja guru, dan hasil observasi aktivitas siswa. Apabila

terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran yang telah berlangsung, maka

akan dicari pemecahan masalahnya yang akan diterapkan pada siklus II.

Siklus II

Siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi siklus I. Adapun pelaksanaan

sebagai berikut.

1. Perencana tindakan II

Berdasarkan hasil refleksi pada Siklus I, maka kegiatan yang harus dilakukan

dalam tahap rencana tindakan ini adalah sebagai berikut:

1. Menyiapkan media pembelajaran (LKS), lembar aktivitason tasksiswa, lembar observasi kinerja guru, dan soal-soal Tes Formatif.

2. Mengingatkan kembali tugas dan kewajiban anggota masing-masing

kelompok.

2. Pelaksanaan tindakan dan observasi

Siklus II dikembangkan berdasarkan pada hasil refleksi siklus I. Siklus II

(35)

dilaksanakan dengan alokasi waktu 2x40 menit untuk pelajaran dan pertemuan 3

dilaksanakan dengan alokasi waktu 1 x 40 menit untuk tes formatif. Pada siklus

II sub materi yang diajarkan adalah sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam

kehidupan.

a. Pertemuan 3 (2 x 40 menit) Fase 1 (Penomoran):

1. Mengkondisikan siswa dalam kelompok dan memberikan kartu bernomor

yang berbeda pada masing-masing anggota kelompok.

2. Menyampaikan indikator pembelajaran.

3. Memberikan pertanyaan yang bertujuan mengaitkan pembelajaran dengan

pengetahuan sains awal siswa. Contohnya, pernahkah kalian melihat sorot

lampu mobil yang mengenai kabut di pagi hari? Bagaimana perbandingannya

dengan sorot lampu mobil pada siang hari yang terik?

Fase 2 (Pengajuan pertanyaan):

1. Membagikan LKS III tentang efek Tyndall dan Koagulasi.

2. Menginstruksikan siswa untuk melakukan praktikum.

3. Menginstruksikan siswa untuk menuliskan data hasil pengamatan dan

menjawab pertanyaan dalam LKS secara berkelompok

Fase 3 (Berfikir bersama):

1. Membimbing siswa dalam melakukan praktikum.

2. Membimbing siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menuliskan data hasil

pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS.

(36)

1. Memanggil 1 nomor tertentu secara acak dan setiap siswa dari tiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangannya lalu menyampaikan

jawabannya untuk seluruh kelas secara bergiliran dengan bimbingan guru.

2. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.

3. Memberikan penguatan mengenai materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai

pemantapan konsep yang telah diterima siswa.

Selama pembelajaran berlangsung, guru mitra melakukan observasi kinerja guru

dan dua orang observer melakukan observasi aktivitas siswa dengan mengisi

lembar observasi yang telah disediakan.

b. Pertemuan 4 (2 x 40 menit) Fase 1 (Penomoran):

1. Mengkondisikan siswa dalam kelompok dan memberikan kartu bernomor

yang berbeda pada masing-masing anggota kelompok.

2. Menyampaikan indikator pembelajaran.

3. Memberikan pertanyaan yang bertujuan mengaitkan pembelajaran dengan

pengetahuan sains awal siswa. Contohnya, pernahkah kalian melihat alat cuci

darah? Bagaimana kerja alat tersebut sehingga dapat menggantikan fungsi

ginjal untuk membersihkan darah yang kotor?

Fase 2 (Pengajuan pertanyaan):

1. Membagikan LKS IV tentang gerak Brown, elektroforesis, dialisis, dan koloid

pelindung.

(37)

3. Menginstruksikan siswa untuk menuliskan data hasil pengamatan dan

menjawab pertanyaan dalam LKS secara berkelompok

Fase 3 (Berfikir bersama):

1. Membimbing siswa dalam melakukan pengamatan terhadap gambar yang di

tayangan

2. Membimbing siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menuliskan data hasil

pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS.

Fase 4 (Pemberian jawaban):

1. Memanggil 1 nomor tertentu secara acak dan setiap siswa dari tiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangannya lalu menyampaikan

jawabannya untuk seluruh kelas secara bergiliran dengan bimbingan guru.

2. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.

3. Memberikan penguatan mengenai materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai

pemantapan konsep yang telah diterima siswa.

Selama pembelajaran berlangsung, guru mitra melakukan observasi kinerja guru

dan dua orang observer melakukan observasi aktivitas siswa dengan mengisi

lembar observasi yang telah disediakan.

3. Evaluasi dan analisis data II

Melakukan tes formatif 2 untuk menentukan skor keterampilan membangun

konsep dan penguasaan konsep. Tes formatif dilaksanakan di luar jam pelajaran.

(38)

keterampilan membangun konsep dan penguasaan konsep.

4. Refleksi II

Setelah siklus II selesai, bersama guru mitra melakukan refleksi untuk

menemukan kekurangan yang terjadi pada siklus II. Sebagai acuan dari refleksi

adalah hasil tes dari uji siklus II sebagai keterampilan membangun konsep dan tes

penguasaan konsep, hasil observasi kinerja guru, dan hasil observasi aktivitas

siswa. Apabila terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran yang telah

berlangsung, maka akan dicari pemecahan masalahnya yang akan diterapkan pada

siklus III.

Siklus III

Siklus III dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi siklus II. Adapun pelaksanaan

sebagai berikut:

1. Perencanaan tindakan III

Berdasarkan hasil refleksi pada Siklus II, maka kegiatan yang harus dilakukan

dalam tahap rencana tindakan ini adalah sebagai berikut:

1. Menyiapkan media pembelajaran (LKS), lembar aktivitason tasksiswa, lembar observasi kinerja guru, dan soal-soal Tes Formatif.

2. Mengingatkan kembali tugas dan kewajiban anggota masing-masing

kelompok.

2. Pelaksanaan tindakan dan observasi

Siklus III dikembangkan berdasarkan pada hasil refleksi siklus II. Siklus III

(39)

dilaksanakan dengan alokasi waktu 2x40 menit untuk pelajaran dan pertemuan 3

dilaksanakan dengan alokasi waktu 1 x 40 menit untuk tes formatif. Pada siklus

III sub materi yang diajarkan adalah pembuatan koloid dan peranannya dalam

kehidupan.

a. Pertemuan 5 (2 x 40 menit) Fase 1 (Penomoran):

1. Mengkondisikan siswa dalam kelompok dan memberikan kartu bernomor yang

berbeda pada masing-masing anggota kelompok.

2. Menyampaikan indikator pembelajaran.

3. Memberikan pertanyaan yang bertujuan mengaitkan pembelajaran dengan

pengetahuan sains awal siswa. Contohnya, pernahkah kalian membuat

agar-agar? Bagaimana wujudnya?

Fase 2 (Pengajuan pertanyaan):

1. Membagikan LKS V tentang koloid liofil dan koloid liofob.

2. Menginstruksikan siswa untuk melakukan praktikum.

3. Menginstruksikan siswa untuk menuliskan data hasil pengamatan dan

menjawab pertanyaan dalam LKS secara berkelompok

Fase 3 (Berfikir bersama):

1. Membimbing siswa dalam melakukan praktikum.

2. Membimbing siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menuliskan data

hasil pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS.

(40)

1. Memanggil 1 nomor tertentu secara acak dan setiap siswa dari tiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangannya lalu menyampaikan

jawabannya untuk seluruh kelas secara bergiliran dengan bimbingan guru.

2. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.

3. Memberikan penguatan mengenai materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai

pemantapan konsep yang telah diterima siswa.

Selama pembelajaran berlangsung, guru mitra melakukan observasi kinerja guru

dan dua orang observer melakukan observasi aktivitas siswa dengan mengisi

lembar observasi yang telah disediakan

b. Pertemuan 6 (2 x 40 menit) Fase 1 (Penomoran):

1. Mengkondisikan siswa dalam kelompok dan memberikan kartu bernomor yang

berbeda pada masing-masing anggota kelompok

2. Menyampaikan indikator pembelajaran.

3. Memberikan pertanyaan yang bertujuan mengaitkan pembelajaran dengan

pengetahuan sains awal siswa. Contohnya, pernahkah kalian membuat

agar-agar?

Fase 2 (Pengajuan pertanyaan):

1. Membagikan LKS VI tentang pembuatan koloid secara dispersi.

2. Menginstruksikan siswa untuk melakukan praktikum.

3. Menginstruksikan siswa untuk menuliskan data hasil pengamatan dan

menjawab pertanyaan dalam LKS secara berkelompok.

(41)

1. Membimbing siswa dalam melakukan praktikum.

2. Membimbing siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menuliskan data

hasil pengamatan dan menjawab pertanyaan dalam LKS.

Fase 4 (Pemberian jawaban):

1. Memanggil 1 nomor tertentu secara acak dan setiap siswa dari tiap kelompok

dengan nomor yang sama mengangkat tangannya lalu menyampaikan

jawabannya untuk seluruh kelas secara bergiliran dengan bimbingan guru.

2. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran.

3. Memberikan penguatan mengenai materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai

pemantapan konsep yang telah diterima siswa.

Selama pembelajaran berlangsung, guru mitra melakukan observasi kinerja guru

dan dua orang observer melakukan observasi aktivitas siswa dengan mengisi

lembar observasi yang telah disediakan.

3. Evaluasi dan analisis data III

Melakukan tes formatif 3 untuk menentukan skor keterampilan membangun

konsep dan penguasaan konsep. Tes formatif dilaksanakan di luar jam pelajaran.

Setelah itu, dilakukan analisis data untuk menentukan peningkatan persentase

keterampilan membangun konsep dan penguasaan konsep.

4. Refleksi III

Setelah siklus III selesai, bersama guru mitra melakukan refleksi untuk

mene-mukan kekurangan yang terjadi pada siklus III. Sebagai acuan dari refleksi adalah

hasil tes dari uji siklus III sebagai tes keterampilan membangun konsep dan

(42)

siswa. Apabila terdapat kelebihan pada proses pembelajaran yang telah

berlangsung, maka akan dipertahankan pada proses pembelajaran berikutnya.

Secara garis besar, langkah-langkah penelitian ditunjukkan dalam Gambar 1

(dimodifikasi dari Dario Kemmis dan Taggart) bagan pelaksanaan penelitian:

Siklus I Siklus II Siklus III

Gambar 1. Bagan pelaksanaan penelitian

C. Data Penelitian

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

1. Data kualitatif

Data kualitatif berupa data observasi kinerja guru dan data aktivitason task siswa selama proses pembelajaran Sistem Koloid dengan penerapan

pembelajaran kooperatif teknikNHT. 2. Data kuantitatif

Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data keterampilan membangun Orientasi lapangan

observasi 1 Tindakan dan

(43)

konsep dan penguasaan konsep yang diungkap melalui tes formatif.

D. Teknik Pengumpulan Data

Ada dua metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu

1. Observasi

Teknik observasi dilakukan untuk memperoleh data aktivitason tasksiswa dan kinerja guru. Aktivitason tasksiswa diamati menggunakan lembar

observasi oleh dua orang observer dan kinerja guru diamati oleh guru mitra

selama proses pembelajaran berlangsung.

2. Tes

Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data keterampilan membangun

konsep dan penguasaan konsep. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus,

sebanyak tiga kali yaitu tes siklus I,II dan III, dengan jenis tes pilihan

berganda dan essai. Data keterampilan membangun konsep diperoleh dari

soal essai dan data penguasan konsep diperoleh dari soal pilihan ganda.

E. Teknik Analisis Data

1. Data kualitatif diperoleh dari data aktivitason tasksiswa yaitu a. Persentase setiap jenis aktivitas

Aktivitas yang diamati adalah aktivitason tasksiswa,yaitu aktif

menjawab pertanyaan dari guru, aktif bertanya kepada guru, aktif dalam

diskusi kelompok, dan aktif mengemukakan pendapat. Persentase setiap

jenis aktivitason taskpada setiap siklus dihitung menggunakan rumus:

100% x N

Ain %Ain

(44)

%Ain = Persentase setiap jenis aktivitason tasksetiap pertemuan in = Jumlah siswa yang melakukan setiap jenis aktivitason task

setiap pertemuan

N = Jumlah siswa yang hadir

b. Rata-rata persentase setiap jenis aktivitason taskpada satu siklus dihitung dengan rumus:

%Asi = S Σ %Ai

Keterangan:

%Asi = Rata-rata persentase setiap jenis aktivitason taskdalam satu siklus.

Σ %Ai = Jumlah persentase setiap jenis aktivitason taskdalam satu siklus. S = Jumlah pertemuan dalam satu siklus.

c. Peningkatan rata-rata persentase setiap jenis aktivitason taskdari siklus ke siklus dihitung menggunakan rumus:

% A = %Asn %Asn-1

Keterangan:

% A = Peningkatan rata-rata persentase setiap jenis aktivitason taskdari siklus I ke siklus II.

n

%As = Rata-rata persentase seiap jenis aktivitas on taskpada siklus II.

1 -n

%As = Rata-rata persentase setiap jenis aktivitason taskpada siklus I.

(45)

Data kuantitatif diperoleh dari keterampilan membangun konsep dan penguasaan

konsep.

a. Rata-rata skor keterampilan membangun konsep pada siklus ke-n dihitung

dengan rumus:

Gi = Rata-rata skor keterampilan membangun konsep pada siklus ke-n.

n

Gi = Jumlah skor keterampilan membangun konsep pada siklus ke-n

s = Jumlah siswa yang mengikuti tes keterampilan membangun konsep

b. Persentase keterampilan membangun konsep pada siklus ke-n dihitung dengan

menggunakan rumus:

% Gsn = Persentase keterampilan membangun konsep pada siklus ke-n.

n

Gi = Rata-rata skor keterampilan membangun konsep pada siklus ke-n.

n = Skor maksimum

c. Peningkatan persentase keterampilan membangun konsep dari siklus ke siklus

dihitung menggunakan rumus:

% Gi = % Gin - %Gin-1

Keterangan:

% Gi = Peningkatan persentase keterampilan membangun konsep

dari siklus ke siklus.

(46)

%Gin-1= Persentase keterampilan membangun konsep pada siklus ke n-1.

d. Data penguasaan konsep

1) Rata-rata penguasaan konsep setiap siklus

N Xn Xn

Keterangan :

Xn = Rata-rata nilai penguasaan konsep setiap siklus ke-n Xn = Jumlah nilai penguasaan konsep setiap siklus ke-n N = Jumlah siswa keseluruhan

2) Untuk menghitung rata-rata persentase peningkatan penguasaan konsep

digunakan rumus :

% = Persentase peningkatan penguasaan konsep

2

X = Rata-rata penguasaan konsep siklus ke-2

1

X = Rata-rata penguasaan konsep siklus ke-1

3) Persentase siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 tiap siklus

100%

%Sk= persentase jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 siklus ke-n

(47)

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan poin peningkatan kelompok yang

didapatkan dari penjumlahan poin peningkatan setiap anggota kelompok dibagi

dengan jumlah anggota kelompok. Menurut Slavin dalam Trianto (2007)

pemberian skor perkembangan individu dapat dilihat pada Tabel 3 berikut

Tabel 3. Cara Perhitungan Skor Perkembangan Individu

Nilai Tes Skor perkembangan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 0 10 poin sampai 1 poin di bawah skor awal 10 Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20 Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 Nilai sempurna (tidak memperhatikan skor awal) 30

Skor awal adalah skor yang diperoleh sebelum kuis/tes, jadi skor awal disini

menggunakan nilai tes sebelumnya. Penghargaan kelompok diberikan

berdasarkan poin peningkatan kelompok. Skor kelompok adalah rata-rata dari

peningkatan individu dalam kelompok tersebut. Untuk peningkatan skor

kelompok digunakan rumus:

Keterangan :Nk= Nilai kelompok

Kelompok yang memperoleh poin sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan

berhak mendapatkan penghargaan berdasarkan tabel 4 berikut:

Tabel 4. Tingkat Penghargaan Kelompok

(48)

Penghargaan pada kelompok terdiri atas tiga tingkat sesuai dengan nilai

perkembangan yang diperoleh kelompok yaitu :

a. Tim sangat bagus diberikan bagi kelompok yang memperoleh nilai kelompok

25 ≤ Nk ≤ 30.

b. Tim bagus diberikan bagi kelompok yang memperoleh nilai kelompok

15 ≤ Nk < 25.

c. Tim cukup bagus diberikan bagi kelompok yang memperoleh nilai

kelompok 5 ≤ Nk <15.

F. Indikator Kinerja

Indikator kinerja dalam penelitian ini yaitu:

1. Adanya peningkatan setiap jenis aktivitason tasksiswa pada materi pokok sistem koloid dari siklus ke siklus sebesar 5%.

2. Adanya peningkatan keterampilan membangun konsep pada materi pokok

sistem koloid dari siklus ke siklus sebesar 5%.

3. Adanya peningkatan penguasaan konsep pada materi pokok sistem koloid dari

(49)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa melalui

pembelajaran teknikNHT menggunakan LKS yang disusun berdasarkan LKS keterampilan generik sains mampu :

1. Peningkatan keterampilan membangun konsep dari siklus I ke siklus II dan II

ke III > 5%, data peningkatan keterampilan membangun konsep sebesar

10,39% dan 7,37%,

2. Terjadi peningkatan nilai rata-rata penguasaan konsep siswa pada pembelajaran

materi pokok sistem koloid menggunakan model pembelajaran teknikNHT sehingga dapat meningkatkan keterampilan membangun konsep dari siklus I ke

siklus II dan II ke III sebesar 9,84% dan 10,49%, sehingga indikator kinerja

yang ditetapkan telah tercapai.

3. Meningkatkan persentase jumlah siswa yang mencapai KKM pada

pembelajaran materi pokok sistem koloid dengan model pembelajaran teknik

NHT pada siklus I sebesar 44,73% (17 siswa) , siklus II sebesar 65,78 % (24 siswa) dan siklus III sebesar 92,10% (35 siswa). Indikator kinerja yang

ditetapkan telah tercapai.

(50)

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan saran

bahwa:

Bagi guru atau calon peneliti yang tertarik dengan pembelajaran teknikNHT menggunakan media keterampilan membangun, sebaiknya lebih memperhatikan

(51)

SISTEM KOLOID

(PTK pada Siswa Kelas XI IPA2SMA Gajah Mada Bandar Lampung

Tahun Pelajaran 2010-2011)

Oleh MISWANTI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(52)

SISTEM KOLOID

(PTK pada Siswa Kelas XI IPA2SMA Gajah Mada Bandar Lampung

Tahun Pelajaran 2010-2011) (Skripsi)

Oleh MISWANTI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(53)

Gambar Halaman

1. Bagan pelaksanaan penelitian ... 41 2. Grafik persentase tiap jenis aktivitason taskpada tiap siklus ... 50 3. Grafik persentase peningkatans aktivitason tasksiswa

siklus ke siklus ... 51 4. Grafik persentase keterampilan membangun konsep pada tiap

siklus... 52 5. Grafik peningkatan persentase keterampilan membangun

konsep... 52 6. Grafik rata-rata penguasaan konsep 53 7. Grafik peningkatan

rata-8. Grafik persentase ketuntasan belajar siswa pada tiap

(54)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR... xiv

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif ... 10

B. Pembelajaran Kooperatif TeknikNumbered Head Together(NHT) ... 15

C. Aktivitas Belajar ... 16

D. Keterampilan Generik Sains ... 19

E. Keterkaitan Keterampilan Generik Sains dan Konsep-Konsep Sains ... 23

F. Penguasaan Konsep ... 25

G. Lembar Kerja Siswa ... 27

III. METODE PENELITIAN A. Subyek Penelitian ... 29

B. Prosedur penelitian ... 29

(55)

xi

b. Si 33

c. Siklus 37

C. Data Penelitian ... 42 D. Teknik Pengumpulan Data ... 42 E. Teknik Analisis Data ... 43

1. Data Kualit 43

2. Data Kuantitatif 44

F. Indikator Kinerja... 48

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Hasil Data Kualitatif .. 49

2. Hasil Data Kuantitatif

a. Data Keterampilan Membangun Konsep b. Data Penguasaan Konsep

c.

B. Pembahasan ... 55

1. 55

2. .. 66

3. Sik . 75

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 84

B. 85

(56)

xii

3. Lembar kerja siswa ... 108

4. Tes formatif ... 122

5. Kunci jawaban tes formatif ... 132

6. Kisi-kisi indikator KGS pada media pembelajaran menggunakan LKS kimia berbasis keterampilan generik sains ... 137

7. Lembar observasi siswa ... 140

8. Kisi-kisi hubungan nomor soal tes ... 143

9. Perhitungan data hasil penelitian 1. Data kualitatif ... 160

2. Data kuantitatif a. Rata-rata penguasaan konsep kimia... 166

b. Persentase peningkatan penguasaan konsep ... 167

c. Persentase jumlah siswa yang memperoleh nilai 65... 167

d. Peningkatan persentase ketuntasan dari siklus ke Siklus ... 167

e. Perhitungan keterampilan membangun Konsep... 171

10. Perolehan penghargaan kelompok ... 173

11. Data hasil penguasaan konsep dan ketuntasan belajar siswa ... 175

12. Pembagian kelomp 176

13. Data hasil keterampilan membangun kon 177

Figur

Tabel 1. Enam langkah/fase dalam model pembelajaran kooperatif
Tabel 1 Enam langkah fase dalam model pembelajaran kooperatif. View in document p.16
Tabel 2. Hubungan  jenis konsep dan keterampilan generik sains
Tabel 2 Hubungan jenis konsep dan keterampilan generik sains. View in document p.25
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dalam mempelajari konsep-konsep sains
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dalam mempelajari konsep konsep sains. View in document p.26
Gambar 1Perencanaan II. Bagan pelaksanaan penelitian
Gambar 1Perencanaan II Bagan pelaksanaan penelitian. View in document p.42
Tabel 3. Cara Perhitungan Skor Perkembangan Individu
Tabel 3 Cara Perhitungan Skor Perkembangan Individu. View in document p.47
Tabel 4. Tingkat Penghargaan Kelompok
Tabel 4 Tingkat Penghargaan Kelompok. View in document p.47
TabelHalaman
TabelHalaman. View in document p.59

Referensi

Memperbarui...