• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMITMEN KARIR TERHADAP KESUKSESAN KARIR DENGAN PERSEPSI EMOSI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PADA MAHASISWA MM UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KOMITMEN KARIR TERHADAP KESUKSESAN KARIR DENGAN PERSEPSI EMOSI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PADA MAHASISWA MM UNS"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

PENGARUH KOMITMEN KARIR TERHADAP KESUKSESAN

KARIR DENGAN PERSEPSI EMOSI SEBAGAI VARIABEL

PEMODERASI PADA MAHASISWA MM UNS

TESIS

Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Program Studi Magister Manajemen

Minat Utama :

Manajemen Sumber Daya Manusia

Diajukan Oleh:

IMELDA THERESIA

NIM : S4108020

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)
(3)
(4)

commit to user

HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Imelda Theresia

NIM : S4108020

Program Studi : Magister Manajemen

Minat Utama : Manajemen Sumber Daya Manusia

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul ”Pengaruh Komitmen

Karir Terhadap Kesuksesan Karir Dengan Persepsi Emosi Sebagai Variabel

Pemoderasi Pada Mahasiswa MM UNS” adalah betul-betul karya saya sendiri.

Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya ini tidak benar, maka

saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang

saya peroleh atas tesis tersebut.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Surakarta, 20 September 2010

Yang Menyatakan,

(5)

commit to user

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Ketika kumohon pada Yesus kekuatan, Yesus memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika kumohon pada Yesus kebijaksanaan, Yesus memberiku masalah untuk kupecahkan

Ketika kumohon pada Yesus kesejahteraan, Yesus memberiku akal untuk berpikir

Ketika kumohon pada Yesus keberanian, Yesus memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi

Ketika kumohon pada Yesus sebuah cinta,

Yesus memberiku orang - orang bermasalah untuk kutolong

Ketika kumohon pada Yesus bantuan, Yesus memberiku kesempatan

Aku tidak pernah menerima apa yang kuminta pada Yesus, tapi aku menerima segalanya yang aku butuhkan

# Doaku terjawab sudah #

Karya ini penulis persembahkan untuk:

Papi dan Mami Tercinta Papa dan Mama Angkat di Solo

(6)

commit to user

KATA PENGANTAR

Puji Tuhan penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat

dan rahmat-Nya yang telah dicurahkan sehingga tesis berjudul PENGARUH

KOMITMEN KARIR TERHADAP KESUKSESAN KARIR DENGAN

PERSEPSI EMOSI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PADA

MAHASISWA MM UNS dapat terselesaikan dengan baik. Tesis ini merupakan

salah satu syarat untuk memperoleh derajat S-2 pada Program Studi Magister

Manajemen Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Terselesaikannya penyusunan Tesis ini tidak terlepas dari bantuan

berbagai pihak. Dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan

ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pasca Sarjana

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. Hartono, M.S, selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Dr. Mugi Harsono, S.E, M.Si, selaku Dosen Pembimbing I, yang telah

memberikan bimbingan, dukungan, dan arahan dalam menyelesaikan

penulisan tesis ini.

4. Sinto Sunaryo, S.E, M.Si, selaku Dosen Pembimbing II, yang telah banyak

sekali memberikan bimbingan, arahan, dan masukan dalam menyelesaikan

penulisan tesis ini.

5. Seluruh dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Sebelas

Maret Surakarta yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi

penulis.

6. Papih Widyantara dan Mamih Mariana tercinta atas doa dan dukungannya

yang tak pernah ada habis – habisnya kepada penulis untuk penyelesaian

Tesis ini .

7. Semua kakakku tersayang yaitu : Kristina + Toto, Kristanto + Popy +

(7)

commit to user

8. Orang tua angkatku di Solo, Bapak dan Ibu Sugeng Sugioko atas

dukungan doa dan semangatnya setiap hari.

9. Bapak dan Ibu Bambang Santoso, selaku pemilik PT. Hidup Baru Plasindo

tempat penulis bekerja, atas kesempatan serta dukungan material dan non

material yang telah diberikan.

10.Bapak dan Ibu Andri Santoso, selaku direktur PT. Hidup Baru Plasindo

tempat penulis bekerja, atas pengertian dan kelonggaran waktu yang

diberikan selama penulis menjalani kuliah dan penyelesaian Tesis ini.

11.Bapak dan Ibu Bambang Yandoyo, selaku GM - PT. Hidup Baru Plasindo

tempat penulis bekerja, atas dukungan, dorongan, masukan, dan

kepercayaan yang telah diberikan kepada penulis.

12.Teman-Teman Angkatan XXVI Akhir Pekan MM UNS: sahabatku

Fransiska, Andri, Pak Waskito, Mas Suset, Mas Budi, Ambar, Nugroho,

Pak Dhoni, Bang Irman, Mas Arul, Pak Wisnu, Anton, Iwed, Mbak

Ivonne, Pak Kamto, Bu Puji; terima kasih atas jalinan pertemanan dan

kerjasama yang baik selama ini.

13.Seluruh karyawan MM UNS: Mbak Dewi, Mbak Netty, Mbak Yulia, Mas

Danang, Mas Ir, Mas Edi, Mas Titut, terima kasih banyak atas bantuannya

dan kesabarannya selama ini.

Penulis menyadari bahwa karya ini masih banyak kekurangan dan jauh

dari sempurna. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat

diharapkan untuk memperbaiki tulisan ini.

Surakarta, 20 September 2010

Penulis,

(8)

commit to user

E. Orisinalitas Penelitian .………. 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 8 A. Landasan Teori ………. 8

B. Penelitian Terdahulu ... 21

C. Kerangka Pemikiran ... 22

D. Perumusan Hipotesis ... 23

(9)

commit to user

2. Hubungan antara komitmen karir, kesuksesan karir dan persepsi

emosi

25

BAB III. METODE PENELITIAN 28

A. Desain Penelitian ... 28

D. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel ... 31

E. Pengujian Instrumen Penelitian ………... 34

1. Uji validitas ... 34

2. Uji reliabilitas ... 35

F. Teknik Pengujian Hipotesis ………. 36

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 40 A. Hasil Penyebaran Kuisioner ………...………… 40

B. Gambaran Umum Responden ………..…... 40

C. Analisis Deskriptif Tanggapan Responden Tiap Variabel ..………… 42

1. Variabel komitmen karir ………. 42

2. Variabel kesuksesan karir dalam dimensi tingkat gaji …..………. 45

3. Variabel kesuksesan karir dalam dimensi kepuasan karir…… ….. 47

4. Variabel persepsi emosi ………. 49

D. Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas ……….……... 52

1. Uji Validitas ………. 52

2. Uji Reliabilitas ………. 58

(10)

commit to user

BAB V. PENUTUP 66

A. Kesimpulan ………. 66

B. Keterbatasan Penelitian ………... 67

C. Saran ……… 68

DAFTAR PUSTAKA

(11)

commit to user DAFTAR TABEL

Tabel IV.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 40

Tabel IV.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja ... 41

Tabel IV.3 Distribusi Responden Berdasarkan Usia ... ... 41

Tabel IV.4 Deskripsi Tanggapan Responden pada Variabel Komitmen Karir ... 42

Tabel IV.5 Deskripsi Responden pada Variabel Tingkat Gaji ... 45

Tabel IV.6 Deskripsi Tanggapan Responden pada Variabel Kepuasan Karir ... 47 Tabel IV.7 Deskripsi Tanggapan Responden pada Variabel Persepsi Emosi 49 Tabel IV.8 Hasil Uji Validitas Variabel Komitmen Karir ………... 54

Tabel IV.9 Validitas Item Variabel Komitmen Karir ………... 54

Tabel IV.10 Hasil Uji Validitas Variabel Kesuksesan Karir ………...……... 55

Tabel IV.11 Validitas Item Variabel Kepuasan Karir ………..……... 56

Tabel IV.12 Hasil Uji Validitas Variabel Persepsi Emosi …...………...….... 57

Tabel IV.13 Validitas Item Variabel Persepsi Emosi .. ………...…... 58

Tabel IV.14 Hasil Uji Reliabilitas ……..………...…... 59

Tabel IV.15 Hasil Regresi Hirarki pada dimensi Tingkat Gaji ... 60

(12)

commit to user DAFTAR GAMBAR

(13)

commit to user DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner

Lampiran 2 Tabulasi Data Mentah

(14)

commit to user INTISARI

IMELDA THERESIA. S4108020. Pengaruh Komitmen Karir Terhadap Kesuksesan Karir dengan Persepsi Emosi sebagai Variabel Pemoderasi Pada Mahasiswa MM UNS.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji: 1.a) pengaruh komitmen karir terhadap kesuksesan karir dalam dimensi tingkat gaji, 1.b) pengaruh komitmen karir terhadap kesuksesan karir dalam dimensi kepuasan karir, 2.a) hubungan antara komitmen karir dan kesuksesan karir dalam dimensi tingkat gaji dengan persepsi emosi sebagai variabel moderasi, 2.b) hubungan antara komitmen karir dan kesuksesan karir dalam dimensi kepuasan karir dengan persepsi emosi sebagai variabel moderasi.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1.a) komitmen karir secara positif berhubungan dengan kesuksesan karir dalam dimensi tingkat gaji, 1.b) komitmen karir secara positif berhubungan dengan kesuksesan karir dalam dimensi kepuasan karir, 2.a) persepsi emosi akan memoderasi hubungan antara komitmen karir dan tingkat gaji, hubungan akan menjadi lebih kuat pada tingkat persepsi emosi tinggi dibanding pada tingkat persepsi emosi yang lebih rendah, 2.b) persepsi emosi akan memoderasi hubungan antara komitmen karir dan kepuasan karir, hubungan akan menjadi lebih kuat pada tingkat persepsi emosi tinggi dibanding pada tingkat persepsi emosi yang lebih rendah.

Sampel dalam penelitian ini sebanyak 88 orang dengan menggunakan metode sensus. Pengujian validitas menggunakan Confirmatory Factor Analysis

dan pengujian reliabilitas dengan menggunakan Alpha Cronbach. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hierarchical Regression Analysis.

Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: 1) hasil pengujian terhadap hipotesis 1a, menyatakan bahwa komitmen karir berpengaruh terhadap kesuksesan karir obyektif (tingkat gaji) didukung secara signifikan dan positif, 2) hasil pengujian terhadap hipotesis 1.b, menyatakan bahwa komitmen karir berpengaruh terhadap kesuksesan karir subyektif (kepuasan karir) didukung secara signifikan dan positif, 3) hasil pengujian terhadap hipotesis 2.a, menyatakan bahwa komitmen karir berpengaruh terhadap kesuksesan karir obyektif (tingkat gaji) dengan persepsi emosi sebagai variabel pemoderasi tidak didukung secara signifikan, 4) hasil pengujian terhadap hipotesis 2.b, menyatakan bahwa komitmen karir berpengaruh terhadap kesuksesan karir subyektif (kepuasan karir) dengan persepsi emosi sebagai variabel pemoderasi tidak didukung secara signifikan.

(15)

commit to user ABSTRACT

IMELDA THERESIA. S4108020. The Influence of Career Commitment to Career Success with Emotion Perception as Moderating Variable on UNS University Students.

The purpose of this research are to examine: 1.a) the influence of career commitment to career success in salary level dimension, 1.b) the influence of career commitment to career success in career satisfaction dimension, 2.a) relationship between commitment career and career success in salary level dimension with emotion perception as moderating variable, 2.b) relationship between commitment career and career success in career satisfaction dimension with emotion perception as moderating variable.

Hypothesis used in this research are: 1.a) career commitment positively related to career success in salary level dimension, 1.b) career commitment positively related to career success in career satisfaction dimension, 2.a) emotion perception will moderate the relationship between career commitment and salary level, such that the relationship will be stronger at higher than at lower levels of emotion perception 2.b) emotion perception will moderate the relationship between career commitment and career satisfaction, such that the relationship will be stronger at higher than at lower levels of emotion perception.

Sample in this research is 88 peoples uses sensus method. Validity test uses Confirmatory Factor Analysis and reliability test uses Alpha Cronbach. Data analysis in this research uses Hierarchical Regression Analysis.

The result based on the data analysis are :1) the result of the test of hypothesis 1.a, proved that career commitment has significant and positive influence toward objective career success (salary level), 2) the result of the test of hypothesis 1.b, proved that career commitment has significant and positive influence toward subjective career success (career satisfaction), 3) the result of the test of hypothesis 2.a, proved that emotion perception doesn’t have significant and positive influence toward relationship between career commitment and objective career success (salary level), 4) the result of the test of hypothesis 2.b, proved that emotion perception doesn’t have significant and positive influence toward relationship between career commitment and subjective career success (career satisfaction).

(16)

commit to user BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karir amatlah penting bagi karyawan maupun bagi organisasi. Karir

seorang dengan yang lain tidaklah sama, ada perjalanan karir yang lambat tetapi

ada pula yang cepat. Sebuah pengujian oleh Gattiker dan Larwood (dalam Poon

2004) menyangkut kesuksesan karir mengungkapkan beberapa faktor perbedaan

individu yang dapat mempengaruhi sukses karir, antara lain faktor demografi,

sifat penempatan, motivasi, pengaruh perilaku politis, kemampuan teori,

pendidikan, dan masa jabatan pekerjaan.

Seseorang yang sangat peduli terhadap perkembangan karirnya cenderung

akan berkomitmen pada karirnya. Komitmen karir merupakan keyakinan

seseorang dan penerimaan nilai dari pekerjaan yang telah dipilihnya dan

keinginan untuk bertahan pada pekerjannya. Seseorang yang memiliki komitmen

karir tinggi akan memberikan dampak positif bagi kinerjanya yang pada akhirnya

dapat menunjang kesuksesan karir bagi dirinya. Beberapa penelitian telah

menunjukkan pentingnya komitmen karir terhadap kesuksesan karir (Carson dan

Bedeian, 1994).

Komitmen kepada karir mempengaruhi perilaku individu. Individu yang

sangat berkomitmen terhadap karir mereka, telah menunjukkan bahwa mereka

memberikan waktu lebih banyak dalam pengembangan keahlian mereka, dan

(17)

commit to user

(Aryee dan Tan, 1992). Orang-orang yang memiliki komitmen pada karir mereka

akan menetapkan tujuan karir yang tinggi untuk diri mereka dan berupaya seperti

halnya tetap pada tuntutannya mengejar tujuan ini meskipun di hadapannya ada

rintangan dan halangan (Colarelli dan Bishop, 1990).

Saat ini, para peneliti mulai mengusulkan persepsi emosi sebagai variabel

yang dapat mempengaruhi komitmen karir dan kesuksesan karir pada pekerjaan

konseptual. Persepsi emosi merupakan salah satu bagian dari kecerdasan

emosional. Menurut Mayer dan Salovey (1997), emotional intelligence atau yang

biasa dikenal dengan kecerdasan emosi adalah kemampuan individu untuk

mengenali, menggunakan dan mengekspresikan emosi; kemampuan individu

untuk mengikutsertakan emosi sehingga memudahkan ia dalam melakukan proses

berpikir; kemampuan individu untuk memahami emosi dan pengetahuan

mengenai emosi; serta kemampuan individu dalam meregulasi emosi untuk

mengembangkan emosi dan menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan

tuntutan lingkungan.

Persepsi yang dimiliki setiap orang terhadap kesuksesan karir sangat

berbeda tergantung cara pandang mereka masing – masing. Robbins (2002)

mengatakan, bahwa persepsi adalah suatu proses dimana tiap individu

mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna

kepada lingkungan mereka. Kotler (1997) mendefinisikan persepsi sebagai suatu

proses seorang individu dalam memilih, mengorganisasi dan menafsirkan semua

(18)

commit to user

Persepsi emosi merupakan komponen yang paling dasar dari kecerdasan

emosional dalam model Mayer dan Salovey (1997), mengacu pada

kemampuannya untuk mengidentifikasi emosi (dalam dirinya dan orang lain),

menyatakan emosi dengan teliti, dan membeda-bedakan ungkapan emosi antara

akurat dan tidak akurat. Seseorang yang memiliki tingkat persepsi emosi tinggi

mampu megendalikan dirinya dalam menghadapi berbagai keadaan/kondisi yang

tidak pernah terbayangkan sebelumnya dengan lebih obyektif. Hal ini sangat

berguna sekali dalam usaha untuk mencapai kesuksesan karir bagi dirinya,

sehingga dapat dikatakan bahwa persepsi emosi bisa memberi efek dorongan

terhadap faktor penentu kesuksesan karir. Seperti yang dikemukakan oleh Sari

(2002), emotional aptitude berhubungan secara positif terhadap kepuasan karir

walaupun tidak secara langsung pada hubungannya dengan komitmen karir.

Seseorang dengan kecerdasan emosional yang tinggi lebih memiliki kepuasan

karir dibanding mereka yang rendah pada kecerdasan emosinya.

Tidak semua orang bisa memperoleh kesuksesan karir. Kesuksesan karir

mengandung dua makna, yaitu sukses karir secara obyektif dan subyektif

(Jaskolka, 1995; Melamed, 1996). Kesuksesan karir secara obyektif dapat diukur

secara mudah seperti posisi kerja dan gaji, sedangkan kesuksesan karir secara

subyektif tidak dapat diukur dengan mudah (Nabi, 1999). Indikator kesuksesan

karir secara subyektif adalah tingkat kepuasan seorang pegawai atas karir yang

diperolehnya. Kesuksesan karir secara subyektif juga dapat diukur melalui

(19)

commit to user

Nabi (1999) menemukan bahwa pegawai yang sukses berkarir secara

obyektif (memperoleh gaji yang tinggi) adalah mereka yang berpendidikan tinggi.

Hal ini didukung oleh Simanjuntak (2001) yang mengatakan bahwa menurut teori

human kapital, seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui tingkat

pendidikan. Fenomena ini juga nampak pada mahasiswa MM UNS. Mahasiswa

MM UNS yang sudah bekerja pada umumnya lebih memfokuskan diri pada karir

yang ingin diperolehnya. Melanjutkan studi pada program pasca sarjana

merupakan salah satu upaya untuk lebih meningkatkan kesuksesan karir mereka

baik secara subyektif maupun obyektif, meskipun untuk mencapai sebuah

kesuksesan karir yang mereka harapkan tidaklah cukup hanya dengan memiliki

gelar master tetapi mereka juga perlu memperhatikan tingkat komitmen karir, dan

juga tingkat persepsi emosinya. Untuk itulah penelitian ini menarik untuk dikaji

lebih mendalam. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Poon (2004).

Dalam penelitian ini dikaji bahwa komitmen karir yang tinggi dapat

mempengaruhi kesuksesan karir individu secara subyektif dan obyektif dengan

menambahkan persepsi emosi sebagai pemoderasi yang diharapkan dapat

memberikan peranan pada pencapaian kesuksesan karir individu. Berdasarkan

latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh komitmen

karir terhadap kesuksesan karir dengan persepsi emosi sebagai variabel

(20)

commit to user B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. a. Apakah komitmen karir berpengaruh pada kesuksesan karir dalam dimensi

tingkat gaji?

b. Apakah komitmen karir berpengaruh pada kesuksesan karir dalam dimensi

kepuasan karir?

2. a. Apakah persepsi emosi memoderasi hubungan antara komitmen karir

dengan kesuksesan karir dalam dimensi tingkat gaji?

b. Apakah persepsi emosi memoderasi hubungan antara komitmen karir

dengan kesuksesan karir dalam dimensi kepuasan karir?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai

dalam melakukan penelitian ini adalah :

1. a. Menguji pengaruh komitmen karir terhadap kesuksesan karir dalam

dimensi tingkat gaji.

b. Menguji pengaruh komitmen karir terhadap kesuksesan karir dalam

dimensi kepuasan karir.

2. a. Menguji hubungan antara komitmen karir dan kesuksesan karir dalam

dimensi tingkat gaji apakah dapat dimoderasi oleh persepsi emosi.

b. Menguji hubungan antara komitmen karir dan kesuksesan karir dalam

(21)

commit to user D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara :

1. Akademis

a. Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menambah

wawasan ilmu pengetahuan dan mengkaji lebih dalam mengenai teori

tentang kesuksesan karir.

b. Peneliti berikutnya

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wacana bagi peneliti

selanjutnya yang mengambil topik sejenis.

2. Praktis

Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan

dan masukan bagi tiap individu karyawan untuk mengelola karir dalam rangka

mencapai kesuksesan karir mereka dengan memperhatikan komitmen karir

dan persepsi emosi sebagai faktor pendorongnya.

E. Orisinalitas Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh komitmen karir terhadap

kesuksesan karir subyektif dan obyektif serta menguji apakah kedua hal tersebut

dapat dimoderasi oleh persepsi emosi. Penelitian ini merupakan replikasi dari

penelitian Poon (2004). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya :

1. Penelitian Poon (2004): menguji pengaruh komitmen karir pada kesuksesan

(22)

commit to user

Menggunakan tiga variabel kendali, yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan

dan lama bekerja. Penelitian dilakukan pada mahasiswa yang sudah bekerja

dari tiga universitas besar di Malaysia.

Penelitian saat ini : merupakan replikasi penuh dari jurnal Poon yaitu menguji

pengaruh komitmen karir pada kesuksesan karir secara subyektif dan obyektif

dengan persepsi emosi sebagai varibel pemoderasi. Menggunakan dua variabel

kendali, yaitu jenis kelamin, dan lama bekerja. Penelitian dilakukan pada

mahasiswa pasca sarjana Universitas Sebelas Maret yang sudah bekerja.

2. Penelitian Sari, Ria dan Poon (2002): menguji pengaruh emotional aptitude

pada kesuksesan karir secara subyektif dan obyektif dengan komitmen karir

sebagai pemediasi. Emotional aptitude sebagai variabel bebas, kesuksesan

karir sebagai variabel terikat dan komitmen karir sebagai variabel mediasinya.

Penelitian saat ini: menguji pengaruh komitmen karir pada kesuksesan karir

secara subyektif dan obyektif dengan persepsi emosi sebagai varibel

pemoderasi. Komitmen karir digunakan sebagai variabel bebas, kesuksesan

karir sebagai variabel terikat dan persepsi emosi sebagai variabel

(23)

commit to user BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Definisi Karir

Karir seorang pegawai dimulai pada saat pegawai tersebut mulai bekerja,

yang dilihat dari jabatan awal yang diduduki dan tercermin pada besarnya gaji

awal yang diperoleh. Seiring dengan berjalannya waktu, jabatan dan gaji yang

diperoleh seorang pegawai akan mengalami perubahan. Pegawai yang

memperoleh karir yang bagus akan menerima jabatan yang lebih tinggi dan gaji

yang lebih besar dibandingkan apa yang diperolehnya saat memulai pekerjaan.

Arthur (dalam Poon, 2004) menggambarkan karir sebagai urutan

pengembangan pengalaman kerja seseorang dari waktu ke waktu, sedangkan

akumulasi yang timbul dari pengalaman kerja ini adalah kesuksesan karir. Mathis

dan Jackson (2002) mengartikan karir sebagai urutan posisi yang terkait dengan

pekerjaan yang diduduki seseorang sepanjang hidupnya. Karir sering juga

diterjemahkan sebagai mobilitas dalam suatu organisasi mulai dari penerimaan,

pengangkatan menjadi pegawai sampai pensiun dalam suatu rangkaian jenjang

kepangkatan dan dalam jabatan – jabatan yang dilaluinya (Saydam, 1997).

Simamora (1999) menjelaskan bahwa kata “karir” dapat dipandang dari beberapa

perspektif yang berbeda. Dari satu perspektif, karir adalah urut - urutan posisi

yang diduduki oleh seseorang selama masa hidupnya. Meskipun begitu, dari

(24)

commit to user

motivasi yang terjadi karena seseorang menjadi semakin tua. Ini merupakan karir

yang subyektif. Kedua perspektif tersebut, obyektif dan subyektif, terfokus pada

individu. Kedua perspektif tersebut menganggap bahwa orang memiliki beberapa

tingkat pengendalian terhadap nasib mereka sehingga dapat memanipulasi

peluang agar memaksimalkan keberhasilan dan kepuasan yang berasal dari karir

mereka.

Hall (1971) mengemukakan ada empat pengertian yang berbeda mengenai

karir, yaitu bahwa karir dapat dipandang sebagai :

a. Kemajuan, seperti misalnya peningkatan jenjang karir manajerial

b. Profesi, seperti misalnya peningkatan kredibilitas dari seorang dokter, guru

besar, pengacara, konsultan manajemen, staf eksekutif perusahaan

c. Riwayat kerja, dalam arti dinamikan perubahan selama bekerja

d. Pola perspesi terhadap aspirasi, kepuasan, konsep diri atau sikap yang

terbentuk melalui pengalaman kerja.

Dari pengertian di atas, Hall merumuskan batas pengertian karir sebagai proses

perjalanan hidup seseorang yang terbatas pada lingkungan kerja dan merupakan

sikap dan perilaku yang menjadi hasil dari pengalaman kerja yang dapat dinilai

secara obyektif (kinerjanya) dan subyektif (persepsi individu).

Schein (dalam Siwi, 2007) menyebutkan bahwa karir dapat ditinjau dari

sisi individu dan dari sisi organisasi. Dari sisi individu, karir berarti sejumlah ciri

dan pengalaman individu sejak mulai masuk, bekerja dan akhirnya keluar dari

organisasi dimana individu bekerja. Sedangkan dari sisi organisasi, karir berarti

(25)

commit to user

keputusannya dalam hal bekerja untuk siapa, bilamana, bagaimana dan seberapa

besar tingkat kemajuannya.

Dari pengertian di atas dapat disarikan bahwa: (1) karir merupakan

sejumlah ciri dan pengalaman yang dimiliki individu selama bekerja, (2) karir

merupakan suatu proses yang melalui beberapa tahap perkembangan, (3) karir

merupakan hasil interaksi antara kepentingan individu dan organisasi.

Dari beberapa pendapat ahli tersebut dapat dikatakan bahwa karir

merupakan serangkaian sikap dan perilaku kerja yang dipersepsikan secara

individual yang mencerminkan hasil interaksi antara kepentingan individu

(karakteristik kepribadiannya) dengan organisasi atau lingkungan kerja dalam

mencapai tujuan hidup.

2. Komitmen Karir

Komitmen karir didefinisikan sebagai hubungan secara psikologis antara

pribadi pekerja dengan jabatan atau pekerjaan yang telah dipilihnya (Lee,

Carswell, dan Allen, 2000). Sedangkan Vandenberg dan Scarpello (1994)

mendefinisikan komitmen karir sebagai keyakinan seseorang dan penerimaan nilai

dari pekerjaan yang telah dipilihnya dan keinginan untuk bertahan pada

pekerjannya.

Komitmen Karir mengacu pada identifikasi dengan dan keterlibatan di

jabatan seseorang (Mueller, 1992) dan ditandai oleh pengembangan dan

kesanggupan untuk tujuan karir (Colarelli dan Bishop, 1990). Pendek kata, itu

mengacu pada motivasi seseorang untuk bekerja di lapangan kerja yang dipilih

(26)

commit to user

Menurut Carson dan Bedeian (1994) komitmen karir memiliki 3 dimensi, yaitu :

1. Resilience – ketekunan dalam menghadapi kesulitan bekerja

2. Identity – hubungan secara emosional pada jabatannya

3. Planning – keahlian pengembangan karir dan tindakan perencanaan tujuan

Komitmen kepada karir mempengaruhi perilaku individu.

Individu-individu yang komit terhadap karir mereka, telah menunjukkan bahwa mereka

membaktikan waktu lebih banyak dalam pengembangan keahlian mereka, dan

menunjukkan niat yang rendah untuk menarik diri dari karir dan pekerjaan mereka

(Aryee dan Tan, 1992).

Ashkanasy (2002) mengemukakan bahwa pekerja yang sudah tua lebih

berkomitmen terhadap pekerjaannya dibandingkan dengan pekerja muda di

perusahaan. Kistyanto (2005), pada penelitiannya mengenai jenis kelamin dan

komitmen karir untuk berbagai profesi di wilayah terpilih, menemukan bahwa

pekerja wanita lebih berkomitmen pada karirnya ketimbang pekerja pria. Martoyo

(1990) menyatakan penambahan usia dari pekerja memiliki pengaruh yang

signifikan pada komitmen karir mereka.

Vanderberg dan Scarpello (1994) mendefinisikan komitmen karir sebagai

keyakinan seseorang dalam penerimaannya pada pilihan pekerjaan dan keinginan

untuk menjaga posisi pekerjaannya itu. Sedangkan menurut Mayer (1999)

komitmen karir adalah tingkatan komitmen seseorang pada sebuah pekerjaan atau

(27)

commit to user 3. Kesuksesan Karir

Penelitian Poole (1993) menyimpulkan bahwa kesuksesan karir

dipengaruhi oleh kriteria kesuksesan karir obyektif maupun kriteria kesuksesan

karir subyektif. Lebih lanjut dinyatakan Poole bahwa kriteria kesuksesan karir

obyektif maupun kriteria kesuksesan karir subyektif berhubungan secara timbal

balik dan keduanya dipengaruhi oleh kultur dan struktur sosial (melalui sosialisasi

peranan menurut jenis kelamin dan kepribadian), pengalaman peranan keluarga

(seperti kualitas peranan orang tua) dan peluang serta hambatan organisasi (seperti

program pengembangan karir). Kultur dan struktur sosial dibuat untuk

membentuk pengalaman peranan keluarga dan respon terhadap peluang dan

hambatan organisasi. Konsisten dengan saling ketergantungan antara lapisan kerja

dan keluarga (Kanter dalam Kistyanto, 2005), sebuah hubungan timbal balik

terbentuk di antara pengalaman peranan keluarga dengan peluang serta hambatan

organisasi. Dalam hal ini dinyatakan bahwa pengalaman dalam keluarga dan

peranan organisasi akan mempengaruhi respon afektif terhadap hasil kerja

(kepuasan kerja) dalam kesuksesan karir subyektif, khususnya kepuasan karir.

Kesuksesan karir secara obyektif didefinisikan sebagai tingkat kesuksesan

yang dapat diukur dan diamati secara obyektif seperti gaji atau kompensasi dan

jabatan manajerial (Melamed, 1996). Kesuksesan karir secara subyektif dapat

diartikan sebagai perasaan yang dimiliki oleh seorang pegawai mengenai karirnya,

seperti persepsi pencapaian karir dan prospek masa depan karirnya (Aryee, 1994).

Individu yang memperoleh kesuksesan berkarir secara subyektif akan merasa

(28)

commit to user

sebenarnya tidak mencapai standar kerja yang seharusnya. Kesuksesan karir

secara subyektif juga dapat diukur melalui persepsi pegawai tentang kesuksesan

karir dan kepuasan karir (Burke, 1999).

Arthur (dalam Poon 2004) telah menggambarkan suatu karir seperti

sebuah “urutan adegan pengembangan dari pengalaman pekerjaan seseorang dari

waktu ke waktu”. Akumulasi prestasi yang timbul dari pengalaman pekerjaan ini

adalah kesuksesan karir (Judge, 1999). Hasil kesuksesan karir yang disebabkan

oleh keadaan luar terdiri dari dua hal yaitu secara obyektif dan secara subyektif.

Hasil kesuksesan karir secara obyektif meliputi hasil riil seperti upah dan promosi,

relatif lebih tampak dibanding hasil kesuksesan karir secara subyektif yaitu

kepuasan karir, yang tergantung pada suatu persepsi seseorang tentang suksesnya

(Judge, 1995).

Nabi (1999) menggolongkan pegawai berdasarkan kesuksesan karir

(obyektif dan subyektif) ke dalam 4 golongan yaitu :

a. Golongan pemenang (sukses berkarir secara obyektif dan subyektif)

b. Golongan pemenang subyektif (sukses berkarir secara subyektif, namun tidak

sukses secara obyektif)

c. Golongan korban sukses (sukses berkarir secara obyektif namun secara

subyektif tidak sukses)

d. Golongan pegawai frustrasi (tidak sukses berkarir secara obyektif dan

(29)

commit to user 4. Definisi Persepsi

Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap

orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat

penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman (Thoha, 1990).

Menurut Rakhmat (dalam Siwi, 2007) persepsi adalah pengalaman tentang obyek,

peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan

menafsirkan pesan. Pendapat lain dikemukakan oleh Atkinson (1998), persepsi

adalah proses dimana kita mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus

dengan lingkungan. Pendapat ini selaras dengan pendapat yang dikemukan oleh

Devidoff (1991) mengartikan persepsi sebagai proses mengorganisikan dan

rnenghubungkan data-data indera kita untuk dikembangkan sedemikian rupa

sehingga kita dapat menyadari sekeliling kita termasuk sadar akan diri sendiri.

Beberapa pendapat di atas, pada dasarnya memiliki satu inti, yaitu bahwa persepsi

adalah proses pemberi arti terhadap suatu stimulus dengan lingkungan.

Pada dasarnya persepsi atau hasil persepsi hanya ada dua, yaitu persepsi

positif dan persepsi negatif. Persepsi positif adalah persepsi yang menggambarkan

segala pengetahuan dan tanggapan terhadap sesuatu, yang diteruskan dengan

pemanfaatannya. Persepsi negatif adalah persepsi yang rnenggambarkan segala

pengetahuan dan tanggapan yang tidak selaras dengan obyek persepsi (Thoha,

1990). Hal ini akan diteruskan dengan kepasifan, penolakan atau bahkan

penentangan terhadap obyek yang dipersepsikan. Dengan demikian, dapat

dikatakan bahwa persepsi, baik persepsi positif maupun persepsi negatif, akan

(30)

commit to user

Menurut Thoha (1990), ada beberapa proses dalam persepsi yang dapat

dipergunakan sebagai bukti bahwa sifat persepsi merupakan hal yang komplek

dan interaktif yaitu:

a. Stimulus atau situasi yang hadir

Mula terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan dengan suatu

situasi atau suatu stimulus. Situasi yang dihadapi itu rnungkin bisa herupa

stimulus pengideraan dekat atau langsung berupa bentuk lingkungan sosio

kultur dan fisik yang menyeluruh.

b. Registrasi

Dalam masa registrasi gejala yang tampak adalah mekanisme fisik yang

berupa penginderaan dan syarat seseorang terpengaruh. Kernampuan fisik

untuk mendengarkan dan melihat akan mempengaruhi persepsi. Pada tahap ini

terkirim padanya kemudian mulailah ia mendaftar semua informasi yang

terdengar atau terlihat olehnya.

c. Interprestasi

Setelah terdaftar semua informasi yang sampai kepada seseorang, subproses

berikutnya yang bekerja adalah interprestasi yang merupakan suatu aspek

kognitif dan persepsi yang amat penting. Proses interprestasi tergantung pada

cara pengalaman belajar, memotivasi dan kepribadian seseorang.

d. Umpan balik atau feedback

Seorang karyawan yang melaporkan hasil kerjanya kepada atasannya,

kemudian mendapatkan umpan balik dengan melihat raut muka atasannya.

(31)

commit to user

dan kemudian terdengar suara bergumam seperti mau ditelan sendiri. Umpan

balik semacam ini membentuk persepsi tersendiri bagi karyawan. Bagi atasan

tersebut barangkali heran bahwa bawahannya mampu melaksanakan tugasnya

dengan baik dan diam-diam dia memujinya. Tetapi persepsi karyawan bahwa

ia bersalah, tidak membawa kepuasan bagi atasannya.

5. Persepsi Emosi

Menurut model Mayer dan Salovey (1997), emotional intelligence atau

yang biasa dikenal dengan kecerdasan emosi adalah

the ability to perceive accurately, appraise,and express emotion; the ability to access and/or generate feelings when they facilitate thought; the ability to understand emotion and emotional knowledge; and the ability to regulate emotions to promote emotional and intellectual growth

yang artinya adalah kemampuan individu untuk mengenali, menggunakan

dan mengekspresikan emosi; kemampuan individu untuk mengikutsertakan emosi

sehingga memudahkan ia dalam melakukan proses berpikir; kemampuan individu

untuk memahami emosi dan pengetahuan mengenai emosi; serta kemampuan

individu dalam meregulasi emosi untuk mengembangkan emosi dan menampilkan

tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan.

Berdasarkan definisi tersebut, Mayer dan Salovey membagi emotional

intelligence kedalam 4 (empat) cabang, yaitu:

a. Persepsi Emosi (Emotional Perception)

The ability to accurately recognize how you and those around you are feelings

yang artinya adalah kemampuan individu untuk mengenali emosi, baik

(32)

commit to user

emotional intelligence dititikberatkan pada persepsi emosi, yaitu kemampuan

individu untuk mengidentifikasi emosi secara akurat.

Lebih lanjut, kemampuan individu dalam memahami emosi yang

dirasakan akan sampai pada tahap dimana ia mampu mengekspresikan

perasaan secara akurat dan mengekspresikan kebutuhan yang mengitari

perasaan-perasaan tersebut. Ia juga sensitif terhadap ekspresi emosi yang tidak

sesuai atau yang dimanipulasi, karena individu dengan emotional intelligence

yang baik memahami ekspresi dan manifestasi dari emosi.

b. Integrasi Emosi (Emotional Integration)

The ability to generate emotions and to use emotions in cognitive tasks such as problem solving and creativity,

yang artinya adalah kemampuan individu dalam memanfaatkan sensasi

emosi yang dirasakan untuk menghadapi masalah - masalah yang berkenaan

dengan sistem kognisi. Cabang kedua dari emotional intelligence adalah

integrasi emosi yang menitikberatkan peran emosi dalam menghadapi masalah

yang berkenaan dengan sistem kognisi.

Kontribusi emosi yang kedua dalam melakukan aktivitas kognisi adalah

dengan “menempatkan” emosi pada suatu hal sehingga dapat lebih mudah

untuk dipahami. Individu akan mencoba untuk menempatkan dirinya pada

posisi orang lain yang merasakan sensasi emosi tertentu dan mencoba untuk

merasakan emosi tersebut pada dirinya sendiri ketika dimintai pendapat

mengenai emosi yang dirasakan oleh suatu karakter pada sebuah cerita atau

(33)

commit to user

Perputaran mood yang dirasakan individu dapat merubah cara pandang

individu sehingga mendorong individu untuk melihat suatu hal dari berbagai

sudut pandang. Lebih lanjut, individu akan mampu untuk memahami bahwa

perbedaan pemikiran serta tingkah laku yang ditampilkan disebabkan oleh

jenis mood yang berbeda-beda.

c. Pemahaman Emosi (Emotional Understanding)

The ability to understand complex emotions and emotional “ chains” , how emotions transition from one stage to another,

yang artinya adalah kemampuan individu untuk memahami emosi yang

dirasakan dan dapat menggunakan pengetahuan mengenai emosi yang

dirasakan untuk mengetahui bagaimana penerapannya dalam kehidupan

sehari-hari.

Cabang ketiga dari emotional intelligence adalah pemahaman emosi yang

menitikberatkan pada kemampuan individu untuk memahami emosi yang

dirasakan serta bagaimana penerapannya didalam kehidupan sehari-hari.

Setelah individu menyadari emosi yang dirasakan, ia mulai untuk memberi

nama dan menyadari hubungan yang terjadi diantara emosi-emosi yang telah

ia beri nama.

Kemampuan yang paling mendasar dari cabang ini adalah individu mampu

untuk memberi nama pada emosi yang sedang ia rasakan serta menyadari

persamaan serta perbedaan yang mendasari terjadinya emosi tersebut.

Semakin berkembang, individu mulai menyadari adanya emosi yang

(34)

commit to user

d. Pengaturan Emosi (Emotional Management)

The ability which allows you to intelligently integrate the data of emotions in your self and in others in order to devise effective strategies that help you achieve positive outcomes,

yang artinya adalah kemampuan individu dalam memadukan data-data

mengenai emosi yang dirasakan oleh diri sendiri maupun orang lain untuk

menentukan tingkah laku yang paling efektif yang akan ditampilkan pada saat

berinteraksi dengan orang lain.

Cabang keempat dari emotional intelligence adalah pengaturan emosi yang

menitikberatkan pada kemampuan individu dalam meregulasi emosi yang

dirasakan. Individu diharapkan terbuka dan memiliki toleransi pada reaksi

emosi yang timbul, baik reaksi emosi yang menyenangkan maupun yang tidak

menyenangkan. Hal ini dapat menjadi pembelajaran untuk dapat melakukan

regulasi emosi ketika merasakan sensasi emosi yang sama dalam suatu situasi

tertentu.

Semakin matang, individu akan semakin mampu untuk meregulasi emosi

yang dirasakan. Ia mulai dapat memilah seberapa besar atensi yang harus ia

berikan pada mood tertentu yang ia rasakan dan ia mengetahui dengan jelas

bagaimana mood tersebut mempengaruhi dirinya dalam berinteraksi di

lingkungan sosial. Regulasi tetap menjadi perhatain meskipun individu

mencoba nutuk meningkatkan mood yang buruk, meminimalisir mood yang

(35)

commit to user

Dengan demikian, pengaturan emosi individu dikatakan optimal bila ia

mampu untuk mengatur dan memahami emosi yang dirasakan tanpa perlu

membesar-besarkan atau meminimalisir kepentingannya.

Dimensi-dimensi emotional intelligence menurut Mayer dan Salovey

(1997) lebih dikenal dengan sebutan four branch model of emotional intelligence.

Keempat cabang tersebut disusun mulai dari kemampuan yang menggunakan

proses psikologi paling dasar hingga yang kompleks (yang membutuhkan

penggabungan dari beberapa proses psikologi).

Persepsi Emosi, merupakan hal utama dan komponen yang paling dasar

dari kecerdasan emosional dalam model Mayer dan Salovey (1997), mengacu

pada kemampuannya untuk mengidentifikasi emosi (dalam dirinya dan orang

lain), menyatakan emosi dengan teliti, dan membedakan antara ungkapan emosi

akurat dan tidak akurat. Konsep ini menyerupai pada kesadaran diri dan dimensi

kesadaran sosial dari model kecerdasan emosional intrapersonal dan kecerdasan

antar hubungan pribadi (Goleman, 2002) . Menurut Meyer dan Salovey (1997),

kemampuan untuk merasa, menilai, dan mengekspresikan emosi dapat membantu

sebagai fasilitator pemikiran emosional, pemahaman emosi, dan manajemen

emosi.

Dalam penelitian ini dipusatkan pada persepsi emosi karena menurut

Rozell (2002) persepsi emosi merupakan hal umum untuk sebagian besar model

yang utama tentang kecerdasan emosional telah diperlihatkan untuk

menghubungkan dengan hasil organisatoris penting yang mencakup status

(36)

commit to user

(dalam Poon, 2004) pada beberapa studinya yang menggunakan seperangkat

instrumen yang telah diusulkan untuk mengukur kecerdasan emosional

menemukan hanya faktor persepsi emosi yang muncul secara nyata dari

kepribadian atau kecerdasan umum.

Penelitian Poon (2004) mengatakan bahwa komitmen karir dapat

mendorong kesuksesan karir secara obyektif berupa tingkat gaji dan kesuksesan

karir subyektif yaitu kepuasan karir. Dan yang paling penting bahwa penelitian ini

menemukan hubungan pemoderasian yang dimainkan oleh persepsi emosi dalam

memfasilitasi pengaruh komitmen karir pada kesuksesan karir obyektif.

B. Penelitian Terdahulu

1. Poon (2004) melakukan penelitian untuk hubungan komitmen karir terhadap

kesuksesan karir yang ditandai dengan tingkat perolehan gaji (obyektif) dan

kepuasan karir (subyektif) karyawan yang bersangkutan, juga ditambahkan

sebuah variabel persepsi emosi sebagai variabel pemoderasi. Penelitiannya

dilakukan terhadap mahasiswa bisnis yang sudah bekerja, di tiga universitas

besar di Malaysia. Penelitian dilakukan terhadap 180 responden dengan 114

orang pria dan 66 orang wanita. Dari penelitiannya, diperoleh bahwa

komitmen karir dapat mempengaruhi kesuksesan karir subyektif dan obyektif.

Terdapat juga hubungan antara komitmen karir dengan tingkat gaji pada

tingkat persepsi emosi menengah keatas tetapi tidak pada tingkat persepsi

emosi rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi emosi memoderasi

(37)

commit to user

2. Sari (2002) melakukan penelitian mengenai keserasian emosional (emotional

aptitude) dan komitmen karir berkaitan dengan perolehan jumlah gaji dan

kepuasan karir, dalam hal ini komitmen karir menjadi mediasi antara perilaku

secara emosional dengan perolehan jumlah gaji dan kepuasan karir. Penelitian

dilakukan terhadap 221 pelajar berpendidikan yang telah dewasa dan sudah

bekerja. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa komitmen karir dapat

mempengaruhi sukses karir obyektif (ditandai dengan jumlah gaji) dan sukses

karir subyektif (ditandai dengan kepuasan karir) sedangkan keserasian

emosional berhubungan secara tidak langsung terhadap kepuasan karir melalui

komitmen karir dan keserasian emosional tidak berhubungan pada kesuksesan

karir obyektif yang ditandai dengan peningkatan jumlah gaji.

C. Kerangka Pemikiran

Penelitian ini didasarkan dari Poon (2004) yang mengatakan bahwa

komitmen karir dapat mempengaruhi kesuksesan karir dalam dimensi tingkat gaji

dan kepuasan karir dengan persepsi emosi sebagai pemoderasinya.

Individu yang sangat berkomitmen terhadap karir mereka, telah

menunjukkan bahwa mereka memberikan waktu lebih banyak dalam

pengembangan keahlian mereka dan menunjukkan niat yang rendah untuk

menarik diri dari karir dan pekerjaan mereka sehingga komitmen karir yang tinggi

dapat mendorong ke arah karir yang lebih sukses dalam wujud penghargaan diri

(38)

commit to user

Hubungan komitmen karir dengan kesuksesan karir, baik dalam tingkat

gaji maupun kepuasan karir juga dapat dipengaruhi oleh persepsi emosi. Pada

penelitian ini persepsi emosi bertindak sebagai variabel moderasi yang dapat

memainkan peranan diantara hubungan komitmen karir dengan kesuksesan karir.

Sebagai variabel moderasi, peranan yang dilakukan oleh persepsi emosi dapat

memperkuat atau memperlemah variabel bebasnya. Komitmen karir tinggi yang

dimiliki oleh individu dapat meningkatkan kesuksesan karir dan dengan

dimilikinya persepsi emosi tinggi pula yang dimiliki tiap individu seperti

ketenangan dalam menghadapi masalah sulit, kestabilan emosi dalam menanggapi

setiap permasalahan, mampu berpikir bijaksana dalam situasi darurat, dan lain

sebagainya akan dapat lebih meningkatkan pencapaian kesuksesan karirnya.

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran

D. Perumusan Hipotesis

1. Hubungan antara Komitmen Karir dan Kesusksesan Karir

Johnson (2004) mengatakan bahwa usia, jenis kelamin dan status

pernikahan mempunyai pengaruh penting pada komitmen karir dan kesuksesan

karir dalam dimensi kepuasan karir dari pekerja di perusahaan. Olatunji (2004)

mengatakan bahwa lingkungan kerja yang baik, gaji yang menarik, manajemen Kesuksesan Karir (Y)

Persepsi Emosi (M)

Komitmen Karir (X) 1.Tingkat Gaji (Y1)

(39)

commit to user

karir dan kenaikan secara teratur dapat mempengaruhi pekerja untuk memiliki

komitmen karir yang tinggi di setiap perusahaaan.

Komitmen kepada karir mempengaruhi perilaku individu. Individu yang

sangat berkomitmen terhadap karir mereka, telah menunjukkan bahwa mereka

memberikan waktu lebih banyak dalam pengembangan keahlian mereka, dan

menunjukkan niat yang rendah untuk menarik diri dari karir dan pekerjaan mereka

(Aryee dan Tan, 1992).

Studi yang lampau, sebagai contoh, sudah menemukan bahwa karyawan

yang berkomitmen untuk suatu pekerjaan atau karir cenderung untuk

mengembangkan sikap yang konsisten dengan komitmennya (Carson, 1999).

Dalam suatu studi mengenai pengaruh komitmen karir dan komitmen

organisatoris pada hasil terkait dengan kerja, Carson (1999) menemukan bahwa

yang memiliki komitmen tinggi menyangkut karir mempunyai kepuasan karir

lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki komitmen karir rendah.

Orang - orang yang memiliki komitmen dengan karir mereka akan

menetapkan tujuan karir yang tinggi untuk diri mereka dalam usahanya mengejar

tujuan ini meskipun di hadapan ada rintangan dan halangan (Colarelli dan Bishop,

1990). Usaha lebih besar dan ketekunan biasanya memimpin ke arah capaian lebih

tinggi (Bandura, 1993). Capaian tinggi, pada gilirannya, menghasilkan

penghargaan seperti promosi atau gaji lebih tinggi (Greenhaus dan Parasuraman,

1993) seperti halnya penghargaan dari dalam seperti kepuasan diri yang berasal

(40)

commit to user

berhasil terhadap standar pribadinya menurut Locke Dan Latham (dalam Poon,

2004).

Hasil penelitian Poon (2004) menyatakan bahwa komitmen karir dapat

mendorong kearah karir yang lebih sukses dalam wujud penghargaan lainnya

(pencapaian gaji) atau penghargaan diri (kepuasan karir).

Berdasarkan hasil – hasil penelitian tersebut, hipotesis dalam penelitian ini

dirumuskan sebagai berikut :

H.1. Komitmen karir berpengaruh pada kesuksesan karir dalam dimensi tingkat

gaji dan kepuasan karir

H.1.a. Komitmen karir berpengaruh pada tingkat gaji.

H.1.b. Komitmen karir berpengaruh pada kepuasan karir.

2. Hubungan antara komitmen karir, kesuksesan karir dan persepsi emosi

Seperti diuraikan sebelumnya, komitmen karir memotivasi orang-orang

untuk menetapkan tujuan karir dan menanam modal dalam karir mereka dengan

memberikan usaha lebih untuk mencapai tujuannya. Strategi karir ini dapat

ditingkatkan melalui persepsi emosi dengan berbagai cara. Sebagai contoh,

emosional kewaspadaan diri memudahkan penggunaan dari masukan emosional

untuk membentuk pertimbangan, membuat aneka pilihan, dan memutuskan antar

beberapa pilihan dan kemampuan untuk menyatakan emosi, merupakan salah satu

komunikasi yang efektif dengan orang lain untuk memahami tujuan seseorang

(George, 2000). Oleh karena itu, orang-orang yang bisa merasa dan memahami

(41)

commit to user

ketrampilan pekerjaan mereka, menetapkan sasaran hasil karir yang sesuai,

mengembangkan rencana karir realistis, dan memperoleh pengalaman

pengembangan yang diperlukan untuk mengambil keuntungan dari peluang karir.

Persepsi emosi seharusnya dapat menjaga keputusan karir mereka selaras dengan

kebutuhan, nilai dan konsekuensi, serta mengalami kepuasan karir menurut

London Dan Stumpf (dalam Poon, 2004).

Orang - orang yang bisa merasa dan memahami emosi di pihak lain

seharusnya bisa berhubungan baik dengan orang lain. Kemampuan untuk

merasakan emosi telah diketahui untuk dihubungkan dengan pengenalan jiwa

orang lain/empati (Mayer, 1999). Kualitas ini seharusnya membantu seseorang

menjamin reaksi positif dan evaluasi dari lainnya (misalnya tingkat prestasi kerja

yang baik dari atasan), membantu perkembangan dan memelihara hubungan

berkualitas dengan orang lain.

Persepsi emosi dapat secara langsung mempengaruhi hasil pekerjaan,

sehingga dapat dikatakan sebagai variabel yang memberikan pengaruh terhadap

variabel lain menyangkut kesuksesan karir. Menurut teori motivasi dan capaian

Locke Dan Latham (dalam Poon, 2004), faktor yang menjadi pengaruh terhadap

perilaku adalah tujuan, aktualisasi diri, penghargaan, dan komitmen, bukan

kemampuan untuk menerima dan menyatakan emosi.

Pada tingkatan empiris terbaru telah menunjukkan persepsi emosi

mempunyai sebuah hubungan lemah dengan kinerja (Van Rooy dan Viswesvaran,

(42)

commit to user

dan kesuksesan karir dalam dirinya sendiri, tetapi dapat membantu meningkatkan

efek tegangan utama pengarah kinerja dan kesuksesan.

Hasil Poon (2004) menunjukkan bahwa komitmen karir dapat

mempengaruhi kesuksesan karir secara obyektif dilihat dari jumlah gaji yang

diperolehnya dan kesuksesan karir secara subyektif dilihat dari kepuasan karir. Di

samping itu, persepsi emosi juga memoderasi hubungan antara komitmen karir

pada kesuksesan karir secara obyektif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

komitmen karir berhubungan secara positif dengan perolehan jumlah gaji. Pada

individu yang memiliki persepsi emosi level menengah ke atas terjadi banyak

peningkatan jumlah gaji, sedangkan individu dengan persepsi emosi rendah hanya

terjadi sedikit peningkatan pada jumlah gaji yang diperolehnya.

Berdasarkan hasil – hasil penelitian tersebut, hipotesis dalam penelitian ini

dirumuskan sebagai berikut :

H2.a. Persepsi emosi akan memoderasi hubungan antara komitmen karir dan

tingkat gaji, dimana hubungan akan menjadi lebih kuat pada tingkat

persepsi emosi tinggi dibanding pada tingkat persepsi emosi yang lebih

rendah.

H2.b. Persepsi emosi akan memoderasi hubungan antara komitmen karir dan

kepuasan karir, dimana hubungan akan menjadi lebih kuat pada tingkat

persepsi emosi tinggi dibanding pada tingkat persepsi emosi yang lebih

(43)

commit to user BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini merupakan pengujian hipotesis (hypothesis testing) dan

risetnya adalah riset kausal/sebab akibat, karena pada penelitian mengidentifikasi

hubungan sebab akibat antara variabel dengan tujuan sebagai berikut:

a. Untuk memahami variabel mana yang berfungsi sebagai penyebab (variabel

bebas/independent) dan variabel mana yang berfungsi sebagai akibat

(variabel tergantung/dependent).

b. Untuk menentukan karakteristik hubungan antara variabel penyebab dan

efek yang akan diprediksi.

Penelitian ini memberikan penjelasan mengenai hubungan antara komitmen

karir terhadap kesuksesan karir dengan persepsi emosi sebagai moderasinya yang

telah dilakukan oleh Poon (2004) dengan obyek penelitian yang berbeda.

2. Dimensi waktu penelitian

Waktu yang dibutuhkan pada penelitian ini hanya melibatkan satu waktu

tertentu dengan banyak sampel, sehingga merupakan penelitian cross–sectional.

3. Kedalaman riset

Penelitian ini mendalam karena hanya terdiri dari satu variable bebas, satu

variabel terikat dan satu variable moderator yang berarti cakupan pembahasan

(44)

commit to user

yaitu dengan studi kasus pada mahasiswa MM UNS yang sudah bekerja dengan

tahun akademis 2009 – 2010.

4. Metode pengumpulan data dan lingkungan risetnya

Lingkungan penelitan yang digunakan merupakan jenis lingkungan

noncontrived setting, yaitu lingkungan riil (field setting) dan metode pengumpulan

data yang dipakai dalam penelitian adalah dengan menggunakan:

a. Kontak langsung

Dilakukan dengan penyebaran kuisioner yang merupakan daftar pertanyaan

yang diberikan kepada sejumlah responden, dimana mereka harus mengisi

jawaban dari daftar pertanyaan yang diberikan.

Data yang dikumpulkan meliputi :

1). Data gambaran atau profil responden yang berisi tentang: jenis

kelamin, alamat, umur, tempat bekerja, jenis pekerjaan, pengalaman

bekerja dan penghasilan per bulan.

2). Data persepsi responden mengenai komitmen karir terhadap

kesuksesan karir dengan persepsi emosi sebagai variabel moderasi.

b. Kontak tidak langsung

1). Observasi

Observasi merupakan pengamatan secara langsung terhadap obyek

yang diteliti, sehingga data yang diperoleh merupakan data yang

berasal dari sumbernya mengenai fakta – fakta dan kejadian – kejadian

(45)

commit to user

2). Penelitian kepustakaan (library research)

Pada penelitian kali ini penulis mengumpulkan data sekunder yang

berkaitan dengan masalah yang diteliti dengan cara mempelajari

literatur - literatur sebagai landasan teoritis dalam pemecahan masalah.

5. Unit analisis

Yang menjadi unit analisis pada penelitian ini adalah sebuah individu yang

sudah bekerja di beberapa perusahaan dan tergabung sebagai mahasiswa

Universitas Sebelas Maret jurusan Magister Manajemen.

B. Populasi dan Sampel

Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah mahasiswa MM UNS

yang sudah bekerja dan masih aktif dalam mengikuti perkuliahan dengan tahun

akademis 2009 - 2010. Metode dilakukan dengan sensus karena pengambilan data

dilakukan pada semua elemen dalam populasinya.

Jumlah mahasiswa MM UNS saat ini adalah :

a. Angkatan 32 (Cawu I)

1) Reguler pagi : 4 orang

2) Non regular : 21 orang

b. Angkatan 31 (Cawu II)

1) Reguler pagi : 11 orang

2) Non regular : 17 orang

c. Angkatan 30 (Cawu III)

1) Reguler pagi : 9 orang

(46)

commit to user

d. Angkatan 29 (Cawu IV)

1) Reguler pagi : -

2) Non regular : 20 orang

Dengan demikian jumlah responden dalam penelitian ini adalah 106 orang.

C. Jenis Data

1. Data primer

Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data mengenai

tanggapan responden terhadap komitmen karir, kesuksesan karir dan persepsi

emosi dari mahasiswa MM UNS dengan membagikan kuisioner.

2. Data sekunder

Yaitu data dari sumber-sumber yang berhubungan dengan objek penelitian,

misalnya dari majalah atau publikasi lain. Data sekunder yang digunakan dalam

penelitian ini diperoleh dari literatur baik dari perpustakaan, maupun dari internet

yang berhubungan dengan objek penelitian.

D. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel

Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah :

1. Independent Variable atau variabel bebas : Komitmen Karir ( X )

Komitmen Karir adalah sikap yang ditunjukkan dengan identifikasi dan

keterlibatan pada jabatan seseorang yang ditandai oleh pengembangan dan

kesanggupan diri untuk mencapai suatu karir tertentu. Penelitian ini

menggunakan 8 item pertanyaan dari Chay dan Bruvold (2003) dengan skala

(47)

commit to user

2. Dependent Variable atau variabel terikat : Kesuksesan Karir (Y) dalam

dimensi Tingkat Gaji ( Y1 ) dan Kepuasan Karir ( Y2 )

Kesuksesan karir adalah pemenuhan terhadap tuntutan orientasi karir atau

sejauh mana individu mampu mendayagunakan bakat, memenuhi kebutuhan

dan menyesuaikan diri secara konsisten dengan nilai yang terdapat dalam

dirinya.

Dalam penelitian ini, kesuksesan karir ditinjau dalam dimensi berikut, yaitu :

a. Tingkat Gaji adalah besaran nilai yang diperoleh seseorang sebagai bentuk

kompensasi yang berhak diterima karena telah melakukan tugas dan

tanggung jawab pekerjaan yang telah diberikan kepadanya. Penelitian ini

menggunakan kelompok range gaji yang kemudian di-kode-kan.

b. Kepuasan Karir yaitu perasaan seseorang terhadap karirnya. Pada dasarnya

kepuasan karir bersifat individual karena setiap orang mempunyai tingkat

kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya.

Menggunakan 5 item pertanyaan dari Greenhaus (1990) dengan skala

likert 4 poin mulai dari sangat tidak setuju (1) sampai dengan sangat setuju

(4). Dengan menghilangkan jenjang tengah untuk mengeliminasi tendensi

terpusat atau tendensi sentral yang mungkin terjadi dalam pengukuran.

3. Moderator Variable atau variabel moderasi : Persepsi Emosi (M)

Persepsi Emosi adalah komponen yang paling dasar dari kecerdasan

emosional dan mengacu pada kemampuannya untuk mengidentifikasi emosi

(dalam dirinya dan orang lain), menyatakan emosi dengan teliti, dan

(48)

commit to user

ini menggunakan 12 item pertanyaan dari Poon (2004) dengan skala likert 4

poin.

4. Control Variable (variabel pengendali) : Jenis Kelamin dan pengalaman kerja

Harsono (2001) menyatakan bahwa dalam penelitian berbasis perilaku

(psiometrik), tidak ada satu pun variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi

oleh satu variabel lain. Satu variabel kriteria selalu berkaitan dan dipengaruhi

oleh banyak variabel prediktor. Peneliti tidak harus memasukkan atau

mempertimbangkan semua variabel prediktor yang diduga berpengaruh tetapi

berada di luar lingkup topik penelitian, peneliti tidak boleh mengabaikan

begitu saja,dengan cara melakukan kontrol agar bisa memberikan eksplanasi

hasil penelitian yang lebih baik.

Variabel kontrol adalah variabel bebas (prediktor) yang efeknya terhadap

variabel kriteria dikontrolkan oleh peneliti dengan cara menjadikan

pengaruhnya netral. Arti netral di sini adalah sebelum variabel-variabel

prediktor utama dimasukkan dalam analisis, variabel kontrol harus diuji

dahulu pengaruhnya, sehingga ketika variabel prediktor utama dimasukkan

dalam pengujian, peneliti dapat mengetahui perubahan tingkat pengaruhnya

terhadap variabel kriteria. Dalam beberapa literatur, variabel kontrol sering

juga disebut covariates (Harsono, 2002).

Isaac dan Michael (dalam Harsono, 2001) mencontohkan bahwa variabel yang

paling sering dipake dalam penelitian sosial dengan level analisis individual

adalah usia, jenis kelamin, intelgensia, status sosial ekonomi, tingkat

(49)

commit to user

kontrol adalah dengan mendasarkan pada penelusuran penelitian terdahulu

mengenai berbagai variabel prediktor yang berpengaruh terhadap variabel

kriteria yang akan diuji, yang berada di luar topik penelitian kita. Biasanya

variabel kontrol tidak dimasukkan dalam model penelitian.

E. Pengujian Instrumen Penelitian

Sehubungan dengan pentingnya instrumen penelitian, maka harus dilakukan

pengujian terhadap instrumen tersebut. Instrumen penelitian harus memiliki

kualifikasi tertentu sebagai tolok ukur untuk menyatakan kemampuan dan

kelayakan instrumen dalam menjaring, mengungkap, menyadap, dan mengukur

semua informasi berupa data yang akan diolah peneliti. Persyaratan utama dalam

menguji instrumen penelitian adalah validitas dan reliabilitas.

1. Uji Validitas

Merupakan uji homogenitas item pertanyaan per variabel untuk

menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur untuk

melakukan fungsinya. Semakin tinggi validitas alat ukur maka semakin kecil

varian kesalahannya. Pengukuran uji validitas dalam penelitian ini, digunakan

metode Factor Analysis. Dalam metode Factor Analysis, suatu item dianggap

valid jika factor loading-nya diatas 0,4 atau rule of thumb (Sekaran, 2001)

Analisis Faktor termasuk dalam salah satu bagian analisis multivariate, yang

merupakan metode statistik yang digunakan untuk meringkas informasi dalam

(50)

commit to user

menjadi dimensi yang lebih kecil, yang selanjutnya disebut “faktor”. Analisis

faktor dapat juga dinyatakan dengan proses menilai mana saja variabel yang layak

untuk dimasukkan ke dalam analisis selanjutnya (Santoso, 2003). Logika

pengujiannya adalah jika variabel memang memiliki kecenderungan untuk

mengelompok dan membentuk sebuah faktor, maka variabel tersebut memiliki

korelasi yang cukup kuat. Sebaliknya jika korelasi dari variabel itu rendah, maka

akan memiliki kecenderungan untuk tidak mengelompok.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu instrumen

dapat dipercaya atau dapat diandalkan dan sejauh mana hasil pengukuran tetap

konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih, terhadap gejala yang

sama, alat ukur yang sama. Hasilnya ditunjukkan oleh sebuah indeks yang

menunjukkan seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diandalkan. Untuk mengukur

reliabilitas alat pengukur digunakan teknik Alpha Cronbach dengan rumus

sebagai berikut (Arikunto,1996):

k : Banyaknya butir pertanyaan atau soal

(51)

commit to user

Indeks Alpha Cronbach yang digunakan yaitu (Sekaran,2001):

0,800-1,000 : reliabilitas baik

0,600-0,799 : reliabilitas diterima

0,400-0,599 : reliabilitas kurang baik

F. Teknik Pengujian Hipotesis

Untuk menetapkan incremental predictability dari penambahan setiap

variabel atau blok variabel pada persamaan regresi, setiap hipotesis diuji dengan

analisis regresi hirarkis (Hierarchical Regression Analysis). Hierarchical

Regression Analysis merupakan pengembangan dari moderatated regression

equation. Hierarchical regression Analysis adalah analisa regresi yang dilakukan

berkali-kali dengan komposisi variabel yang berbeda, mungkin ditambah, atau

dikurangi. Tujuannya adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat pengaruhnya di

setiap langkah pengujian (Harsono, 2002).

Proses pegujiannya sebagai berikut:

1. Variabel kontrol dimasukkan ke dalam pengujian

2. Variabel kontrol dan variabel utama dimasukkan ke dalam pengujian, dilihat

perubahan koefisien determinasinya, nilai t dan nilai F-nya.

3. Variabel kontrol, variabel utama dan variabel interaksi dimasukkan ke dalam

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ………………………………………...… 23
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran
Tabel IV.1 menunjukkan bahwa responden yang paling banyak dalam
Tabel IV.2 menunjukkan bahwa responden yang paling banyak dalam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana dan modered regression analysis (MRA) dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian ini

Product Moment dan Uji Reliabilitas menggunakan rumus Cronbach’s Alpha. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Cochran. Berdasarkan hasil analisis

Analisis regresi bertingkat (Hierarchical Regrasi Analysis) merupakan teknik statistik yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel mediasi (Kepuasan

Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode hierarchical regression analysis didapatkan hasil bahwa kepuasan konsumen memediasi secara fully mediated

Hasil ini menunjukkan manajemen laba riil tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan se- dangkan berdasarkan hasil uji moderated regression analysis perusahaan yang diaudit

Hasil ini menunjukkan manajemen laba riil tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan se- dangkan berdasarkan hasil uji moderated regression analysis perusahaan yang diaudit

Alat analisis yang digunakan adalah analisis asumsi klasik, koefisien regresi linier berganda, uji t dan uji moderated regression analysis (MRA) dengan menggunakan

Pengujian hipotesis atau teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan alat statistik regresi untuk menguji pengaruh variabel