PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS DAN SELF CONFIDENCE

58  16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN

MATEMATIS DAN SELF CONFIDENCESISWA (Studi pada Siswa KelasVIII Semester Genap SMP Negeri 12

Bandarlampung Tahun Pelajaran 2013/2014)

Oleh

KABERNARDO SATRIA MARSA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN

MATEMATIS DAN SELF CONFIDENCE SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 12

Bandarlampung T.P. 2013/2014)

Oleh

KA BERNARDO SATRIA MARSA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan penalaran matematis dan self confidence siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest posttest control group design. Populasi adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2013/2014 yang terdistribusi dalam sembilan kelas. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIII Hdan VIII I yang diambil dengan teknik

purposive sampling. Data penelitian diperoleh melalui tes kemampuan penalaran matematis dan skala self confidence. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa, namun tidak dapat meningkatkan self confidence siswa.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap KA Bernardo Satria Marsa yang biasa dipanggil Ado atau Nando dilahirkan di Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur, Lampung pada tanggal 10 Maret 1992. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Kiagus Riduan dan Ibu Sugiyanti.

Penulis menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak di TK Kamala Bhayangkari Metro pada tahun 1998. Lalu penulis melanjutkan Sekolah Dasar di SD Muhammadiyah 1 Metro dan lulus pada tahun 2004. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Metro dan lulus pada tahun 2007. Setelah itu, melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 5 Metro dan lulus pada tahun 2010.

(8)

Moto

Kesuksesan diperoleh tidak mudah

tetapi harus diperoleh dengan

(9)

Persembahan

Segala Puji Bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna

Sholawat serta Salam Selalu Tercurah Kepada Uswatun Hasanah

Rasululloh Muhammad SAW.

Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan

karya sederhana ini untuk orang-orang yang selalu berharga

dalam hidupku.

Ayah (Kiagus Riduan) dan Ibuku tercinta (Sugiyanti), yang telah

membesarkan, mendidik, memberikan kasih sayang, semangat,

dan selalu mendoakan, serta selalu ada dikala ku sedih dan

senang dengan pengorbanan yang tulus ikhlas

demi kebahagiaan dan keberhasilanku.

Adik-adikku (KA Rajes Aditiya Saputra dan

KA Robin Renaldi Inzagi) yang telah

Memberikan dukungan dan semangatnya padaku

serta seluruh keluarga besar yang terus memberikan

dukungan dan doanya padaku, terima kasih.

Para pendidik yang telah mengajar dengan penuh kesabaran

Semua Sahabat terbaikku yang begitu tulus menyayangiku dengan

segala kekuranganku, dari kalian aku belajar memahami arti ukhuwah.

dan

(10)

ii

SANWACANA

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah atas manusia yang akhlaknya paling mulia, yang telah membawa perubahan luar biasa, menjadi uswatun hasanah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Skripsi yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematis dan Self Confidence Siswa (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 12 Bandar Lampung T.P. 2013/2014) adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada:

(11)

iii

sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, ilmu yang berharga, memberikan perhatian, memotivasi, sran dan kritik baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

3. Bapak Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan sumbangan pemikiran, petunjuk, nasehat dan arahan kepada penulis demi terselesaikannya skripsi ini.

4. Bapak Drs. Pentatito Gunowibowo, M.Pd., selaku pembahas yang telah memberikan kritik dan saran kepada penulis sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku Rektor Universitas Lampung beserta staff dan jajarannya.

6. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung beserta staff dan jajarannya yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA yang telah mem-berikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Ibu Dra. Nurhanurawati, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(12)

iv

Lampung beserta Wakil, staff, dan karyawan yang telah memberikan kemudahan selama penelitian.

11.Ibu Tugiyati, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak membantu dalam penelitian.

12.Siswa/siswi kelas VIII SMP Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014, atas perhatian dan kerjasama yang telah terjalin.

13.Adik-adikku (KA Rajes Aditiya Saputra dan KA Robin Renaldi Inzagi) dan keluarga besarku yang telah memberikan doa, semangat, dan motivasi kepadaku.

14.Sahabat-sahabat dan temen-temen yang terbaik Sovian, Rusdi, Tri, Kiki, Aziz, Perdan, Aan, Eko, Rico, Dedi, Radit, Imam, Heru, Arief dan Novrian yang selama ini memberiku semangat dan doa serta selalu menemani saat suka dan duka. Semoga persahabatan dan kebersamaan kita selalu menjadi kenangan yang indah sampai kapanpun.

15.Sahabat yang sekaligus partner kerja satu tim yang selalu bisa diandalkan Sovian Hakim dan Intan Permata Sari. Terima kasih untuk kerjasama, bantuan, pengertian dan perjuangan yang telah kita lalui bersama-sama.

(13)

v

Tri F., Arief, Novrian, Beni, Intan, Endang, Tri H., Sulis, Rini, Fertil, Novi, Nurul R., Nurul H., Utari, Imas, Qorri, Ria A., Yulisa, Dhea, Dian, Asih, Andri, Iga, Rianita, Hesti, Cita, Ebta, Lia, Josua, Wira, Kismon, Alji, Dilla, Valenti, dan Aulia tetap semangat untuk menjadi guru yang terbaik.

18.Kakak-kakakku angkatan 2006 sampai 2009 serta adik-adikku angkatan 2011 sampai 2013 terima kasih atas kebersamaan kalian selama ini.

19.Teman-teman KKN di Desa Pagar Buana dan PPL di SMP Negeri 1 Way Kenanga Kabupaten Tulang Bawang Barat: Tahta, Feri, Dedi, Qeis, Evita, Novia, Kadek, Made, Imas, dan Ajeng. Semoga kekeluargaan dan silatuhrahmi kita akan terus terjalin.

20.Penjaga Gedung G: Pak Liyanto dan Pak Mariman terima kasih atas bantuan-nya selama ini.

21.Almamater tercinta yang telah mendewasakanku.

22.Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga dengan kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan pada penulis mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat.

Bandar Lampung, September 2014 Penulis

(14)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan pendapat Joesoef (2011) yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga berperan dalam menciptakan insan yang cerdas, kreatif, trampil, bertanggung jawab, produktif, dan berakhlak. Dengan pendidikan yang bermutu, akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga pendidikan yang berlangsung dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam suatu proses pembelajaran.

(15)

Tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah melatih penalaran dalam menarikkesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, ekplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, daninkonsisten. Pada proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik merupakan hal yang penting untuk menentukan titik awal keberhasilan pembelajaran yang pada akhir-nya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pentingnya pembelajaran pada tingkat SMP/MTs menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah ialah memberikan bekal ilmu kepada peserta didik, menumbuhkan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Namun pada kenyataannya, pembelajaran lebih menekankan pada ketercapaian target materi menurut kurikulum atau menurut buku yang dipakai sebagai buku wajib, bukan pada pemahaman materi yang dipelajari dan peningkatan keterampilan berpikir siswa. Padahal salah satu kecakapan hidup yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah kemampuan penalaran.

(16)

pada diri sendiri dalam setiap menghadapi segala persoalan untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya. Siswa yang memiliki kemampuan penalaran akan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam segala aspek kehidupannya.

Pada kenyataannya kemampuan penalaran matematis siswa di negara Indonesia pada satuan pendidikan SMP masih rendah. Hal ini sesuai dengan hasil studi The Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011 yang menunjukkan bahwa penguasaan matematika siswa Indonesia kelas delapan SMP berada di peringkat 38 dari 45 negara, dalam hal ini Indonesia hanya mampu mengumpulkan nilai rata-rata kemampuan matematika 386 poin dari skor rata-rata internasional yaitu 500 poin. Adapun domain pada survei TIMMS yaitu knowing

(pengetahuan), applying (mengaplikasikan), dan reasoning (penalaran). Pada domain reasoning (penalaran) di Indonesia rata-rata persentase yang menjawab benar yaitu 17% dari 30% rata-rata persentase yang menjawab benar Internasional. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan penalaran matematis siswa di Indonesia masih rendah.

(17)

pendapatnya. Sehingga kepercayaan diri siswa sangat penting dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terdapat pada LKK dan masalah kontekstual. Selain itu, pentingnya meningkatkan kepercayaan diri pada siswa sebagai sumber kekuatan untuk dapat mengakualisasikan diri siswa secara utuh, maka siswa membutuhkan bantuan dari guru dan orang tua. Siswa yang memiliki kepercayaan diri dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga dapat menimbulkan keberanian dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya sendiri.

(18)

disajikan dalam bentuk ilustrasi gambar, sehingga siswa sulit memahami dan menyelesaikan soal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa untuk menyajikan pernyataan matematika dalam bentuk gambar atau diagram masih rendah, hal ini berkaitan dengan salah satu indikator kemampuan penalaran matematis.

Salah satu model pembelajaran yang relevan adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu model pembelajaran yang menghadapkan siswa dalam mengerjakan masalah matematis dengan kemampuan yang dimilikinya dan siswa dituntut untuk menyelesaikan pemecahan masalah tersebut. Pada model pembelajaran ini, siswa diberikan masalah-masalah kemudian siswa menyelesaikan masalah-masalah dengan kemampuan yang mereka ketahui. Selain itu, pada model pembelajaran ini siswa yang dominan saat mengerjakan pesoalan-persoalan yang diberikan sedangkan peranan guru lebih sebagai fasilitator. Siswa di tuntut dapat menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan grafik maupun melakukan manipulasi matematika dengan baik. Hal ini akan melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan penalaran matematis. Selain kemampuan secara kognitif, kemampuan afektif pun perlu ditingkatkan seperti kemampuan self confidence siswa.

(19)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah yaitu“Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis dan self confidence siswa?”.

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakanpembelajaran konvensional?”.

2. Apakah peningkatan self confidence siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dari pada peningkatan self confidence siswa yang menggunakanpembelajaran konvensional?

C. Tujuan Penelitian

(20)

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dalam pendidikan matematika berkaitan dengan modelPembelajaran Berbasis Masalah dan pembelajaran konvensional serta hubungannya dengan peningkatan kemampuan penalaran matematisdan self confidencesiswa.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat menjadi saran untuk praktisi pendidikan dalam memilih model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis dan self confidencesiswa serta menjadi sarana mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan matematika

E. Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini antara lain:

(21)

2. Pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru dalam pembelajaran. Dalam hal ini, pembelajaran yang dimaksud yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas (teacher center).

3. Kemampuan penalaran matematis adalah kemampuan untuk berpikir mengenai permasalahan-permasalahan matematis secara logis untuk memperoleh suatu penyelesaian dan menjelaskan atau memberikan alasan atas penyelesaian dari suatu permasalahan dilihat dari:

a. Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan diagram.

b. Mengajukan dugaan.

c. Melakukan manipulasi matematika.

d. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi.

e. Menarik kesimpulan dari pernyataan. f. Memeriksa kesahihan suatu argumen.

g. Menentukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.Kajian Teori

1. Kemampuan Penalaran Matematis

Istilah penalaran matematis dalam beberapa literatur disebut dengan mathematical reasoning. Brodie (2010:7) menyatakan bahwa, “Mathematical reasoning is reasoning about and with the object of mathematics.” Pernyataan tersebut dapat

diartikan bahwa penalaran matematis adalah penalaran mengenai dan dengan objek matematika. Selain itu, Shadiq (2004:2) menjelaskan penalaran (jalan pikiran atau reasoning) sebagai: “Proses berpikir yang berusaha menghubung -hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu

kesimpulan”.

Penalaran sering pula diartikan cara berfikir yang merupakan penjelasan dalam upaya memperlihatkan hubungan antara dua hal atau lebih yang diakui kebenarannya dengan langkah-langkah tertentu yang berakhir dengan suatu kesimpulan hasil (Kurniawati,2006). Penalaran merupakan tahapan berpikir matematik tingkat tinggi, mencakup kapasitas untuk berpikir secara logis dan sistematis.“Kemampuan bernalar memungkinkan peserta didik untuk dapat

memecahkan permasalahan dalam kehidupannya, di dalam dan di luar sekolah”

(23)

merupakan proses berfikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju suatu kesimpulan.

Penalaran matematika adalah salah satu proses berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan (Nurahman, 2011). Penalaran matematika merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui dan mengerjakan permasalahan matematika. Secara umum, terdapat dua model penalaran matematika, yakni penalaran induktif dan penalaran deduktif.Menurut Suherman (2001), matematika dikenal sebagai ilmu deduktif. Ini berarti proses pengerjaan matematik harus bersifat deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan (induktif), tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif.Menurut Matlin (2009), penalaran deduktif berarti membuat beberapa kesimpulan logis berdasarkan informasi yang diberikan.

Penalaran matematika yang mencakup kemampuan untuk berpikir secara logis dan sistematis merupakan ranah kognitif matematik yang paling tinggi. Wardani (Nailil, 2011:12) menyatakan bahwa indikator-indikator kemampuan penalaran matematika siswa adalah:

1. Mengajukan dugaan

2. Melakukan manipulasi matematika

3. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan terhadap kebenaran solusi

4. Menarik kesimpulan dari suatu pernyataan 5. Memeriksa kesahihan suatu argumen

(24)

Sedangkan menurut Romadhina (2007:29), indikator penalaran matematis adalah: 1. Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan

diagram.

2. Mengajukan dugaan

3. Melakukan manipulasi matematika

4. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau buktiterhadap beberapa solusi

5. Menarik kesimpulan dari pernyataan 6. Memeriksa kesahihan suatu argumen

7. Menentukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

Jadi, kemampuan penalaran matematis adalah kemampuan untuk berpikir atau pemahaman mengenai permasalahan-permasalahan matematis secara logis untuk memperoleh penyelesaian, memilah apa yang penting dan tidak penting dalam menyelesaikan sebuah permasalahan tersebut, dan menjelaskan atau memberikan alasan atas penyelesaian dari suatu permasalahan. Berdasarkan uraian di atas indikator (aspek) kemampuan penalaran matematis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kemampuan menyajikan pernyataan matematika melalui lisan, tulisan, gambar, sketsa atau diagram

2. Kemampuan mengajukan dugaan

3. Kemampuan melakukan manipulasi matematika

4. Kemampuan memberikan alasan terhadap beberapa solusi 5. Kemampuan memeriksa kesahihan suatu argumen

(25)

2. Self Confidence

Kepercayaan diri (self confidence) adalah unsur penting dalam meraih kesuksesan. Molloy (2010:138) menjelaskan bahwa kepercayaan diri adalah merasa mampu, nyaman dan puas dengan diri sendiri, dan pada akhirnya tanpa perlu persetujuan dari orang lain. Sedangkan kepercayaan diri menurut Ghufron dan Rini (2011:35) adalah keyakinan untuk melakukan sesuatu pada diri subjek sebagai karakteristik pribadi yang di dalamnya terdapat kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung jawab, rasional dan realistis.

Menurut Preston (2007:14), aspek-aspek pembangun kepercayaan diriadalah self-awareness (kesadaran diri), intention (niat), thinking (berpikir positif danrasional),

imagination (berpikir kreatif pada saat akan bertindak), act (bertindak).

Menurut Lauster (Ghufron & Rini, 2011:35-36), aspek-aspek kepercayaan diri adalah sebagai berikut:

1. Keyakinan kemampuan diri yaitu sikap positif seseorang tentang dirinya atas kemampuan yang dimilikinya. Sehingga dia mampu secara sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya.

2. Optimis yaitu sikap positif yang dimiliki seseorang yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri dan kemampuannya.

3. Objektif yaitu seseorang yang memandang permasalahan sesuai dengan kebenaran yang semestinya, bukan menurut dirinya.

(26)

5. Rasional dan realistis yaitu menganalisis suatu masalah, sesuatu hal, dan suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka kemampuan self confidence adalah kemampuan dan keyakinan diri sendiri untuk membentuk pemahaman dan keyakinan siswa tentang kemampuannya dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

3. Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran aktif yang bertujuan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih optimal, kreatif, dan partisipatif. Pembelajaran Berbasis masalah terdiri dari 5 langkah yang dimulai dengan pengenalan peserta didik kepada suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerjanya.

(27)

untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri dan mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

Menurut Ertmer &Simon (Savery, 2006), karakteristik dari PBM yaitu (1) peran guru sebagai fasilitator belajar, (2) merupakan tanggungjawab siswa untuk menjadi pengarah dan mandiri dalam belajarnya, dan (3) unsur yang paling penting dalam PBM adalah perancangan permasalahan sehingga merupakan daya penggerak untuk penyelidikan. Tantangan untuk banyak guru ketika mereka mengadopsi pendekatan PBM adalah mereka harus membuat transisi dari guru sebagai penyedia pengetahuan menjadi guru sebagai tutor yang menjadi manager dan fasilitator dalam belajar. Dalam PBM siswa memerlukan scaffolding

pembelajajaran yang diperlukan untuk mendukung pengembangan ketrampilan-ketrampilan pemecahan masalah, mengarahkan ketrampilan-ketrampilan-ketrampilan-ketrampilan belajar, dan keterampilan bekerja dalam kelompok.

Langkah-langkah tersebut merupakan tindakan berpola dan pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dan pengembangan PBM dapat terwujud (Suprijono, 2007:73). Menurut Suprijono (2007:74), langkah-langkah PBM adalah:

1. Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik.

Pada tahap ini, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang dibutuhkan, memotivasi perserta didik untuk teribat dalam pemecahan masalah yang telah dipilih.

2. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar (meneliti).

(28)

3. Membimbing investigasi mandiri dan kelompok.

Pada tahap ini, guru membimbing peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan solusi pemecahan masalah.

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

Pada tahap ini, guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya diskusinya kepada kelompok lain dan berbagi tugas dengan temannya.

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Pada tahap ini, guru membantu peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang telah mereka gunakan.

Manfaat dari Pembelajaran berbasis masalah menurut Smith (Amier, 2009:27) adalah

pelajar akan meningkat kecakapan pemecahan masalahnya, lebih mudah mengingat,

meningkat pemahamannya, meningkat pengetahuan dengan dunia praktek,

mendorong mereka penuh pemikiran, membangun kemampuan kepemimpinan dan

kerja sama, kecakapan belajar, dan memotivasi pelajar.

(29)

maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasilkarya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Adapun tahap-tahap pelaksanan pembelajaran berbasis masalah dikemukan oleh Darmawan (2010:110) adalah :

Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah

Fase Indikator Perilaku Guru

1 Orientasi siswa pada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah

2 Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut 3 Membimbing penyelidikan sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya.

5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.

B.Kerangka Pikir

(30)

Kemampuan penalaran matematis adalah salah satu kemampuan yang penting bagi siswa. Kemampuan penalaran matematis adalah kemampuan untuk berpikir mengenai cara penyelesaian dari permasalahan-permasalahan matematis, memilah apa yang penting dan tidak penting dalam menyelesaikan sebuah permasalahan tersebut, dan menjelaskan atau memberikan alasan atas penyelesaian dari suatu permasalahan.

Kemampuan self confidence atau kepercayaan diri adalah kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan tugas dengan cara penyelesaian yang baik dan efektif serta kepercayaan atas kemampuan yang dimiliki siswa dalam mengambil keputusan atau pendapat dirinya. Kemampuan self confidence siswa yang tinggi merupakan salah satu faktor penting untuk menyelesaikan masalah bagi siswa. Dengan menyelesaikan masalah dengan baik, siswa merasa bangga dan bahagia. Individu yang percaya diri akan merasa mudah dan senang menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru,mempunyai pegangan hidup yang kuat, dan mampu mengembangkan potensinya. Individu juga sanggup dan bekerja keras untuk mencapai kemajuan serta penuh keyakinan terhadap peran yang dijalaninya sehingga cenderung lebih mudah meraih keberhasilan. Oleh sebab itu, diperlukan pembelajaran yang sesuai untuk mengembangkan kemampuan penalaran matematis dan self confidence siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

(31)

berkaitan dengan kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan permasalahan

tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, pembelajaran berbasis masalah dapat mendukung pengembangan keterampilan pemecahan masalah siswa pada kegiatan diskusi kelompok. Hal ini dapat mengembangkan keaktifan siswa dalam menyelesaikan permasalahan selama proses pembelajaran.

Lagkah-langkah dalam pembelajaran berbasis masalah yaitu pada langkah pertama guru memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa.Pada langkah ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa untuk terlibat dalam memecahan masalah yang telah dipilih. Masalah yang diberikan kepada siswa berhubungan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan guru untuk motivasi siswa akan membentuk keyakinan diri pada kemampuan siswa untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan sungguh-sungguhsehingga dapat meningkatkan minat belajar, motivasi siswa, dan memberikan dampak positif bagi siswa.

(32)

dalam kelompoknya dapat mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya. Pada saat kegiatan diskusi kelompok, siswa akan selalu berpandangan baik tentang dirinya, kemampuannya dan teman sekelompoknya sehingga dapat menimbulkan sikap optimis pada siswa untuk menyelesaikan LKK dengan baik.

Pada langkah ketiga guru membimbing siswa menyelidiki secara mandiri maupun kelompok. Pada langkah ini, siswa akan melakukan manipulasi matematika terhadap masalah yang disajikan dalam LKK. Selain itu, guru mendorong siswa untuk menginterprestasikan ide-ide yang dimilikinya untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan matematis yang selanjutnya akan disampaikan pada kelompoknya. Kemudian ide-ide tersebut dijadikan satu dengan ide-ide lainnya dan dituliskan pada lembar kerja kelompok secara terperinci, sehingga mendapatkan penyelesaian matematis secara objektif. Penyelesaian matematis tersebut sesuai dengan fakta dari kemampuan siswa saat menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam hal ini, siswa dituntut agar dapat mengembangkan kemampuan penalaran matematis.

(33)

kerjanya, siswa diharapkan mampu menjelaskan dengan baik dan mudah dipahami bagi teman-teman lainnya, sehingga terjadi interaksi antar kelompok ketika salah satu kelompok menyampaikan hasil diskusi. Setelah melakukan presentasi, kelompok lain dapat memberikan tanggapan dan saran dalam menyelesaikan permasalahan yang terdapat di LKK.

Pada langkah kelima, guru menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah saat pembelajaran akan berakhir. Pada langkah ini, guru membantu siswa memeriksa kebenaran terhadap proses penyelidikan yang mereka lakukan serta mengklarifikasikan hasil diskusi dan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, sehingga siswa dapat menyimpulkan pokok pembelajaran tersebut. Pada langkah ini, siswa dapat menganalisis suatu masalah dengan logis dan sesuai dengan kenyataan sehingga dapat membentuk sikap rasional dan realistik yang lebih baik.

Berdasarkan uraian di atas, diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) siswa dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis dan self confidence siswa lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional.

C. Anggapan Dasar

Penelitian ini mempunyai anggapan dasar sebagai berikut:

(34)

2. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan penalaran matematis dan self confidence siswa selain model pembelajaran dikontrol agar pengaruhnya sama pada kelas sampel.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pertanyaan dalam rumusan masalah yang diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Hipotesis Umum

Model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa dan self confidence siswa.

2. Hipotesis Khusus

a. Peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

(35)

III. METODE PENELITIAN

A.Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Bandarlampung. Kelas di SMP Negeri 12 Bandarlampung terdiri dari sembilan kelas, terdiri dari kelas VIII A, sampai kelas VIII I. Pengambilan sampel dalam

penelitianini dilakukan dengan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel atas dasar pertimbangan bahwa kelas yang dipilih adalah kelas yang yang diajar oleh guru yang sama. Selain itu, berdasarkan wawancara dengan guru mitra kemampuan siswa di setiap kelas yang diambil sebagai sampel penelitian adalah kelas-kelas dengan siswa yang kemampuan matematis relatif sama, maka terpilih kelas VIII H terdiri dari 30 siswa sebagai kelas eksperimen

yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah dan kelas VIIII terdiri dari 24

siswa sebagai kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional.

B. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan menggunakan desain pretest – posttest control group design. Pemberian pretest

dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa, sedangkan pemberian

(36)

adalah model pembelajaran berbasis masalah. Garis besar pelaksanaan penelitian disajikan dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Desain penelitian

Perlakuan

Treatment group R O1 A1 X1 O2 A2

Control group R O1 A1 X2 O2 A2

Diadaptasi dari Fraenkel dan Wallen (1993:248) Keterangan:

R = Pemilihan kelas secara acak O1 = Tes awal (pretest)

O2 = Tes Akhir (posttest)

A1 = Angket (non tes) setelah pretest

A2 = Angket (non tes) setelah posttest

X1 = Model pembelajaran berbasis masalah

X2 = Model pembelajaran konvensional

C.Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, digunakan dua jenis instrumen yaitu tes dan non tes. Instrumen tes digunakan untuk mengukur kemampuan penalaran matematis siswa, dan instrumen non tes digunakan untuk mengukur self confidence siswa.

1. Tes

(37)

Tabel 3.2. Pedoman Penskoran Soal Kemampuan Penalaran Matematis No Indikator

Kemampuan Penalaraan

Respon Siswa Terhadap soal Skor

A Menyajikan

 Salah sama sekali (tidak menjawab)

 Salah Menyajikan pernyataan matematika

 Menyajikan pernyataan matematika dengan selengkapnya

 Tidak mengajukan dugaan sama sekali

 Membuat dugaan yang benar, tetapi belum lengkap

 Membuat Mengajukan dugaan dengan prosedur dan memperoleh jawaban yang benar

 Tidak ada jawaban atau jawaban salah

 Melakukan manipulasi matematikadengan benar tetapi belum lengkap

 Melakukan manipulasi matematika yang benar dan mendapatkan hasil benar

0

 Tidak ada kesimpulan atau tidak ada keterangan

 Menarik kesimpulan dengan benar tetapi bukti dan alasan yang diberikan belum lengkap

 Menarik kesimpulan dengan benar serta bukti dan alasan yang tepat

0

 Tidak memeriksa kesahihan sama sekali

 Memberikan kesahihan tetapi kurang tepat

 Memberikan kesahihan dengan benar

0

 Tidak memberikan pola matematis secara generalisasi

 Memberikan pola matematis tetapi tidak lengkap

 Memberikan pola matematis dengan lengkap dan benar

0 1 2

(38)

Materi yang diujikan adalah pokok bahasan Garis Singgung Lingkaran. Tes yang diberikan pada setiap kelas baik soal-soal untuk pretes dan posttes adalah sama

a. Validitas Instrumen

Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi dari instrumen tes kemampuan penalaran matematis ini dapat diketahui dengan cara membandingkan isi yang terkandung dalam tes kemampuan penalaran matematis dengan indikator kemampuan penalaran matematisyang telah ditentukan.

Dalam penelitian ini soal tes dikonsultasikan kepada guru mata pelajaran matematika kelas VIII. Dengan asumsi bahwa guru mata pelajaran matematika kelas VIII SMP Negeri 12 Bandarlampung mengetahui dengan benar kurikulum SMP, maka validitas instrumen tes ini didasarkan pada penilaian guru mata pelajaran matematika tes yang dikategorikan valid adalah yang butir-butir tesnya telah dinyatakan sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran yang diukur berdasarkan penilaian guru mitra.

(39)

kemudian diolah dengan menggunakan bantuan Software Microsoft Excel untuk mengetahui reliabilitas tes, daya pembeda, dan indeks kesukaran butir soal.

b. Reliabilitas Tes

Reabilitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana instrumen dapat dipercaya dalam penelitian. Bentuk soal tes yang digunakan pada penelitian ini adalah soal tes uraian, karena itu untuk menperoleh koefisien reliabilitas (11) digunakan rumus Alpha yang dirumuskan sebagai berikut:

r11 =

1 1− 2 2

Keterangan:

r 11 = Koefisien reliabilitas alat evaluasi

= Banyaknya butir soal

2 = Jumlah varians skor tiap soal 2 = Varians skor total

Koefisien reliabilitas yang telah dihitung memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Menurut Suherman (1990:177), koefisien reliabilitas diinterpretasikan seperti yang terlihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Kriteria Reliabilitas

Koefisien relibilitas (r11) Kriteria

r11≤ 0,20 sangat rendah

0,20 < r11≤ 0,40 Rendah

0,40 < r11≤ 0,60 Sedang 0,60 < r11≤ 0,80 Tinggi 0,80 < r11≤ 1,00 sangat tinggi

(40)

c. Daya Pembeda

Daya pembeda dari sebuah soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut membedakan tingkat kemampuan siswa. Dengan kata lain daya pembeda sebuah butir soal adalahkemampuan butir soal itu untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai. (Suherman, 2003) untuk menentukan daya pembeda digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

DP = Daya pembeda

JBA = Banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok atas

JBB = Banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok bawah

JSA = Jumlah siswa kelompok atas

Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan daya pembeda dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Kriteria Daya Pembeda

Daya pembeda (DP) Kriteria

DP ≤ 0,00 Sangat jelek

0,00 < DP ≤ 0,20 Jelek

0,20 < DP ≤ 0,40 Agak baik

0,40 < DP ≤ 0,70 Baik

0,70 <DP ≤ 1,00 Sangat baik

Setelah dilakukan perhitungan didapatkan daya pembeda butir item soal yang telah diujicobakan disajikan pada Tabel 3.6.Hasil perhitungan daya pembeda butir item soal selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.2.

A

JS

(41)

d. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran digunakan untuk menentukan derajat kesukaran suatu butir soal.Sudijono (2001:372) mengungkapkan untuk menghitung tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan rumus berikut:

=

Keterangan:

TK : Tingkat kesukaran suatu butir soal

JT : Jumlah skor yang diperoleh siswa pada butir soal yang diperoleh

IT : Jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh siswa pada suatu butir soal.

Untuk menginterpretasi tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan kriteria

indeks kesukaran menurut Sudijono (2001:372) sebagai berikut :

Tabel 3.5 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran

Nilai Interpretasi

0.00≤ ≤0.15 Sangat Sukar

0.16≤ ≤0.30 Sukar

0.31≤ ≤0.70 Sedang

0.71≤ ≤0.85 Mudah

0.86≤ ≤1.00 Sangat Mudah

(42)

Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba No

Soal

Validitas Reliabilitas Daya Pembeda Tingkat Kesukaran koefisien reliabilitas soal 0,79 yang berarti soal memiliki reliabilitas yang tinggi. Daya pembeda untuk semua soal dikatagorikan baik dan agak baik serta tingkat kesukaran untuk nomor 1a, 1b, 2a, 2c, 3a, 3b, dan 4a termasuk soal dengan tingkat kesukaran sedang dan untuk nomor 2b dan 4b termasuk soal dengan tingkat kesukaran mudah dan untuk nomor 3c termasuk soal dengan tingkat kesukaran sukar. Karena semua soal sudah valid dan sudah memenuhi kriteria reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran yang sudah ditentukan maka soal tes kemampuan penalaran matematis sudah layak digunakan untuk mengumpulkan data penelitian.

2.Instrumen Non tes

Instrumen non tes yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket self confidence yang diberikan kepada siswa yang mengikuti PBM dan pembelajaran

konvensional sebelum mendapat perlakuan dan setelah mendapat perlakuan.

(43)

setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Skala self

confidence dibuat dalam bentuk 20 pernyataan. Penskoran skala self confidence

menggunakan hasil pengisian skala self confidence sebelum dan sesudah pembelajaran dengan 24 responden pada kelas kontrol dan 30 responden pada kelas eksperimen.

Skala self confidence dalam penelitian ini berdasarkan pada empat aspek pengukuran self confidence yaitu keyakinan kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung jawab dan rasional dan realistik. Adapun Indikator pengukuran self confidence ditunjukan seperti pada Tabel 3.7.

Tabel 3.7Aspek Penilaian Self Confidence

NO ASPEK Indikator

1 Keyakinan Kemampuan diri Kemampuan siswa untuk menyelesaiakan sesuatu dengan sungguh-sungguh

2 Optimis Sikap dan prilaku siswa yang selalu berpandangan baik tentang dirinya dan kemampuannya

3 Objektif Kemampuan siswa menyelesaikan permasalahan sesuai dengan fakta 4 Bertanggung jawab Kemampuan siswa untuk berani

menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya 5 Rasional dan realistik Kemampuan siswa untuk

menganalisis suatu masalah dengan logis dan sesuai dengan kenyataan. Diadaptasi dari Lauster (Ghufron & Rini, 2011)

(44)

dimilikinya dengan orang lain, mengidentifikasi kemampuan, kelebihan, dan kekurangan yang dimilikinya dalam matematika.

Proses perhitungannya menggunakan software Microsoft Excel 2007. Azwar (2012: 143) menyatakan bahwa prosedur perhitungan skor skala self confidence

untuk setiap nomor adalah:

1. Menghitung frekuensi masing-masing kategori tiap butir pernyataan, 2. Menentukan proporsi masing-masing kategori,

3. Menghitung besarnya proporsi kumulatif,

4. Menghitung nilai dari �� � ℎ= 1

2 + � , dimana � = proporsi kumulatif

dalam kategori sebelah kiri,

5. Mencari dalam tabel distribusi normal standar bilangan baku (z) yang sesuai dengan pktengah.,

6. Menjumlahkan nilai z dengan suatu konstanta k sehingga diperoleh nilai terkecil dari z + k = 1 untuk suatu kategori pada satu pernyataan, dan

7. Membulatkan hasil penjumlahan pada langkah 6.

(45)

D.Prosedur Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan meliputi beberapa tahapan. Urutan pelaksanaan penelitian yaitu.

1. Tahap Persiapan

a. Identifikasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran matematika di Provinsi

Lampung. Identifikasi masalah dilakukan dengan mewawancarai beberapa guru matematika SMP di Provinsi Lampung. Dari hasil wawancara dapat

disimpulkan bahwa secara umum siswa SMP belum memiliki kemampuan penalaran matematis yang baik.

b. Pemilihan populasi penelitian yang dapat mewakili kondisi kemampuan

penalaran matematis siswa SMP di Provinsi Lampung, yaitu seluruh siswa kelas VIII SMPN 12 Bandarlampung tahun pelajaran 2013-2014.

c. Menyusun proposal penelitian

d. Membuat perangkat pembelajaran dan instrument untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol

e. Mengonsultasikan bahan ajar dan instrumen dengan dosen pembimbing dan guru bidang studi matematika

f. Melakukan ujicoba instrumen penelitian pada tanggal 15 Februari 2014 g. Merevisi instrumen penelitian jika diperlukan.

2. Tahap Pelaksanaan

(46)

b. Melaksanakan pembelajaran matematika dengan model PBM pada kelas eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol pada tanggal 22 februari 2014 sampai 29 Maret 2014 sebanyak delapan pertemuan tiap kelas

c. Memberikan postes pada kelas kontrol pada tanggal 28 Maret 2014dan kelas eksperimen pada tanggal 29 Maret 2014.

3. Tahap Pengolahan Data

a. Mengumpulkan data dari masing-masing kelas

b. Mengolah dan menganalisis hasil data yang diperoleh dari masing-masing kelas serta membuat kesimpulan.

c. Menyusun laporan penelitian.

E.Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

Data yang diperoleh setelah memberi perlakuan pada sampel adalah data kuantitatif yang terdiri dari nilai tes kemampuan penalaran matematis siswa dan skor self confidence kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari tes kemampuan penalaran diperoleh nilai pretest, postest, dan peningkatan kemampuan (N-Gain1).

Dari pengisian angket skala self confidence, diperoleh skor awal, skor akhir, dan peningkatan self confidence (N-Gain2).

(47)

Hasil perhitungan gain kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan klasi-fikasi dari Meltzer (Noer, 2010:105) seperti terdapat pada tabel berikut:

Tabel 3.8Kriteria Indeks Gain

Indeks Gain (g) Kriteria g > 0,7 Tinggi

0,3 < g ≤ 0,7 Sedang

g ≤ 0,3 Rendah

Meltzer (Noer, 2010: 105)

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terhadap data skor kemampuan penalaran matematis siswa, maka dilakukan uji prasyarat terhadap data kuantitatif dari kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengujian prasyarat ini dilakukan untuk mengetahui apakah data sampel berasal dari data populasi yang berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen.

a. Uji Normalitas

Untuk mengetahui apakah kemampuan penalaran matematis siswa dari sampel yang diteliti berasal dari populasi berdistribusi normal atau sebaliknya dilakukan uji normalitas pada data tersebut. Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah:

H0 : Data berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1 : Data berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal

Dalam Ruseffendi (1998:407–410) rumus untuk menghitung nilai statistik Uji Kolmogorov-Smirnov Z, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

= �−

Keterangan:

�= Angka pada data

(48)

s =Standar deviasi

Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan persamaan Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut:

� = |� − � |

Keterangan:

Dn : Nilai hitung Kolmogorov Smirnov Fn(xi) : Peluang harapan data ke i

F(xi) : Luas kurva z data ke i

Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov Z (K-S Z) menggunakan software SPPS versi 17.0 dengan kriteria pengujian yaitu jika nilai probabilitas (sig) dari Z lebih besar dari � = 0,05, maka hipotesis nol diterima (Trihendradi, 2005: 113). Hasil uji normalitas data penelitian disajikan dalam Tabel 3.10 dan data selengkapnya pada Lampiran C.7, C.8, C.11, C.12, C.19, C.20, C.27, dan C.28.

(49)

populasi yang berdistribusi tidak normal, sementara data lainnya berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas Varians

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah variansi populasi bersifat homogen atau tidak berdasarkan data skor aktivitas sampelyang diperoleh. Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah:

Ho: �12 = �22 (varians kedua kelompok data bersifat homogen)

H1: �12 ≠ �22 (variansi kedua kelompok data bersifat tidak homogen)

Dalam Fathoni (2013: 8), langkah-langkah pengujiannya adalah:

Pertama, menghitung Selisih masing-masing skor data dengan rata-rata kelompok, dengan rumus:

=

Keterangan:

� = Skor awal

= Rata-rata kelompok

Kemudian menghitung nilai F, dengan rumus:

� =

Keterangan:

SSb = Jumlah kuadrat antar kelompok

SSw = Jumlah kuadrat dalam kelompok

(50)

=

Dalam penelitian ini, uji Levene dilakukan dengan bantuan software SPSS Statistic 17.0. Kriteria uji yang dipakai adalah terima H0 jika sig.>

0,05(Trihendradi, 2005:145). Uji homogenitas tidak dilakukan pada data pretes penalaran matematis dan indeks skor gain self confidence dikarenakan data tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Hasil uji homogenitas data penelitian disajikan dalam Tabel 3.11 dan data selengkapnya pada Lampiran C.6 hingga Lampiran C.7 serta Lampiran C.14 hingga Lampiran C.15.

Tabel 3.10 Uji Homogenitas Data Penelitian Sumber Data Kelompok

Pretes Self Confidence Eksperimen 30

0,819 0,370 Diterima Kontrol 24

Berdasarkan hasil uji, hanya data skor gain penalaran matematisdan pretes self confidence memiliki varians yang homogen.

c. Teknik Pengujian Hipotesis

Setelah diketahui normalitas dan homogenitas data yang diperoleh yaitu skor gain

(51)

1. Hipotesis uji data skor gain penalaran matematis

Ho:μ1 = μ2, (tidak ada perbedaan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dengan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

H1:μ1 ≠ μ2, (ada perbedaan peningkatan kemampuan penalaran matematis

siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dengan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

2. Hipotesis uji data pretes self confidence

Ho:μ1 = μ2, (tidak ada perbedaan self confidenceawal siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dengan

selfconfidence awal siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

H1:μ1 ≠ μ2, (ada perbedaan self confidence awal siswa yang mengikuti

pembelajaran berbasis masalah dengan self confidence awal siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

Untuk data skor gain penalaran matematisdan data pretes self confidence yang memiliki varians yang homogen rumus yang digunakan untuk menguji kesamaan dua rata-rata seperti dalam Sudjana (2005: 239) adalah:

= 1− 2

1 1+

(52)

dengan

Keterangan:

1 = Rata-rata skor awal pada kelas eksperimen 2 = Rata-rata skor awal pada kelas kontrol n1 = Banyaknya subyek kelas eksperimen n2 = Banyaknya subyek kelas kontrol

1

2 = Varians kelompok eksperimen

2

2 = Varians kelompok kontrol 2 = Varians gabungan

Data pretes penalaran matematisdan indeks skor gain self confidence siswa berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Hipotesis-hipotesis yang diuji dirumuskan sebagai beikut:

3. Hipotesis uji data pretes penalaran matematis

Ho:μ1 = μ2, (tidak ada perbedaan kemampuan awal penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dengan kemampuan awal penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

H1:μ1≠μ2, (ada perbedaan kemampuan awal penalaran matematis siswa yang

(53)

4. Hipotesis uji data skor gain self confidence

Ho: μ1 = μ2, (tidak ada perbedaan peningkatan self confidence siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dengan peningkatan

self confidence siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

H1: μ1 ≠ μ2, (ada perbedaan peningkatan self confidence siswa yang

mengikuti pembelajaran berbasis masalah dengan peningkatan

self confidence siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional).

Untuk menghitung nilai statistik uji Mann-Whitney U, rumus yang digunakan adalah

sebagai berikut.

Min(U1,U2) dengan 1 = 1 2+ 1 ( 1+1)

2 − �

Keterangan:

U1 = Nilai uji Mann-Whitney

n1 = Banyaknya sampel pada kelas eksperimen

n2 = Banyaknya sampel pada kelas kontrol

Ri = Ranking ukuran sampelke i i = 1 atau 2

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan SPSS versi 17.0.baik untuk melakukan uji-t maupun uji Mann-Whitney U dengan kriteria uji adalah jika nilai probabilitas (Sig.) lebih besar dari �= 0,05, maka H0 diterima (Trihendradi, 2005:

146). Jika H0 ditolak maka perlu dianalisis lanjutan untuk mengetahui apakah

(54)

tinggi daripada peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Adapun analisis lanjutan tersebut menurut Ruseffendi (1998: 314) menyatakan bahwa jika H1 diterima maka cukup melihat

(55)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh simpulan bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Bandarlampung, namun tidak dapat meningkatkan selfconfidence siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, sedangkan tidak terjadi peningkatan

self confidence, baik siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah maupun siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

B.Saran

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, saran-saran yang dapat dikemukan yaitu: 1. Kepada guru, dalam upaya meningkatkan kemampuan penalaran matematis,

disarankan untuk menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran matematika.

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Amier, M. taufiq, 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based learning.

Jakarta:Prenada Media Group

Arends. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Azwar, Saifuddin. 2012. Sikap Manusia Teori dan Pengukuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Brodie, Karin. 2010. Teaching Mathematical Reasoning in Secondary SchoolClassroom. New York: Springer.

Darmawan. 2010. Penggunaan Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Pembelajaran IPS di MI Darrusaadah Pandeglang. Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 11 No.2. [online]. Tersedia: http://jurnal.upi.edu/file/3_darmawan.pdf

Fathoni, Mukhamad. 2013. Uji Homogenitas varians. [online]. Diakses di http://www.slideshare.net/mukhamadfathoni1/9-uji-homogenitas-varianspa-da tanggal 10 april 2014.

Fraenkel, Jack R dan Norman E Wallen. 1993. How to Design and Evaluate Research in Education. Singapura: McGraw-Hill.

Joesoef, Daud. 2011. Daoed Joesoef: Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa. [online], tersedia http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/23/15253241/ Daoed.Joesoef.Pendidikan.Kunci.Kemajuan.Bangsa.html, diakses 16 Janu-ari 2014

Jurdak, M. (2009). Toward Equity in Quality in Mathematics Education. New York: Springer Science+Business Media, LI.C.

Kurniawati, Lia. 2006. “Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika

Siswa SMP”. Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1. Jakarta: IAIN Indonesia Social Equity Project.

(57)

Matlin, Margaret W. (2009). Cognitive Psychology Seventh Edition International Student Version. Printed In Asia: John Wiley & Sons, Inc.

Molloy, A. (2010). Coach Your Self Mimpi Tercapai, Target Terpenuhi.

(TerjemahanRetnadi Nur’aini dari ASPIRATIONS: 8 Easy Steps to Coach Yourself to Succes).Jakarta: Raih Asa Sukses.

Nailil, Faroh. 2011. Pengaruh Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematika Terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Materi Pokok Himpunan Pada Peserta Didik Semester 2 Kelas VII MTs NUNurul Huda Mangkang Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011. Semarang: IAIN Walisongo

Natawidjaja, R. 1987. Pendekatan pendekatan Dalam Penyuluhan Kelompok. CV. Diponegoro, Bandung.

Nurahman, Iman.. (2011). “Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Accelerated Instruction (TAI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan

Komunikasi Matematika Siswa SMP”.Pasundan Journal of Mathematics

Education Jurnal. 1, (1), 96-130.

Nur Ghufron & Rini R.S. (2011). Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Noer, Sri Hastuti. 2010. Jurnal Pendidikan MIPA. Jurusan P.MIPA. Unila. Preston, D.L. (2007). 365 Steps to Self-Confidence. UK: How To Books Ltd. Romadhina, Dian. 2007. Pengaruh Kemampuan Penalaran dan

KemampuanKo-munikasi Matematik terhadap Kemampuan Menyelesaikan SoalCerita pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung Siswa KelasIX SMP Negeri

29 Semarang melalui Model Pembelajaran

PemecahanMasalah.http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/H ASHf1de/c0fe599f.dir/doc.pdf, diakses tanggal 28 november 2013

Ruseffendi. 1998. Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Savery, J. R. (2006). Overviews of Problem-based Leaarning: Definitions and Distinctions.. The Interdisciplinary Journal of Problem-based Learning,

Volume1 No 1.

(58)

Sudarman. 2007. Problem Based Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.

Jurnal Pendidikan Inovatif Vol. 02 No. 02. [online]. Tersedia: http://physicsmaster.orgfree.com/Artikel%20&%20Jurnal/Wawasan%20Pen didikan/PBL%20Model.pdf

Sudijono, Anas. 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Tarsito: Bandung.

Suherman, E. 1990. Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi PendidikanMatematika. Bandung: Wijayakusumah

Suherman, Erman, dkk.. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA- Universitas Pendidikan Indonesia.

Suherman, Erman, dkk. 2003. Common Text Book : Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA FMIPA UPI.

Sukirwan. (2008). Kegiatan Pembelajaran Eksploratif untuk Meningkatkan Kemampuan Penalarandan Koneksi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Tesis. Bandung: UPI. Tidak diterbitkan.

Suprijono, Agus, 2007. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Trihendradi, Cornelius. 2005. Step by Step SPSS 13.0 Analisis Data Statistik. Yogyakarta: Andi Offset.

Wardhani, Sri dkk. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP: Belajar dari PISA danTIMSS. Yogyakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.

Figur

Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah
Tabel 2 1 Tahap Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah . View in document p.29
Tabel 3.1. Desain penelitian
Tabel 3 1 Desain penelitian . View in document p.36
Tabel 3.2. Pedoman Penskoran Soal Kemampuan Penalaran Matematis
Tabel 3 2 Pedoman Penskoran Soal Kemampuan Penalaran Matematis . View in document p.37
Tabel 3.3 Kriteria Reliabilitas
Tabel 3 3 Kriteria Reliabilitas . View in document p.39
Tabel 3.4 Kriteria Daya Pembeda
Tabel 3 4 Kriteria Daya Pembeda . View in document p.40
Tabel 3.5 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran
Tabel 3 5 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran . View in document p.41
Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba
Tabel 3 6 Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba . View in document p.42
Tabel 3.7Aspek Penilaian Self Confidence
Tabel 3 7Aspek Penilaian Self Confidence . View in document p.43
Tabel 3.8Kriteria Indeks Gain
Tabel 3 8Kriteria Indeks Gain . View in document p.47
Tabel 3.9 Rekapitulasi Uji Normalitas Data Penelitian
Tabel 3 9 Rekapitulasi Uji Normalitas Data Penelitian . View in document p.48
Tabel 3.10 Uji Homogenitas Data Penelitian
Tabel 3 10 Uji Homogenitas Data Penelitian . View in document p.50

Referensi

Memperbarui...