ANALISIS CELAH FISKAL (FISCAL GAP) KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

62 

Teks penuh

(1)

ANALISIS CELAH FISKAL (FISCAL GAP) KABUPATEN LAMPUNG TENGAH TAHUN (2002-2011)

Di susun Oleh Novia Ani Tiara

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI

Pada

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

ANALISIS CELAH FISKAL (FISCAL GAP) KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Oleh

NOVIA ANI TIARA

Dalam proses desentralisasi harus ada pendistribusian wewenang atau kekuasaan dari

tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah, sedangkan

otonomi berarti adanya kebebasan menjalankan atau melaksanakan sesuatu oleh suatu bagian

wilayah/daerah Dari sisi pemerintah ada 2 hal utama yang menjadi bahasan sehubungan dengan

adanya otonomi daerah yakni kebutuhan fiskal (fiscal needs) dan kapasitas fiskal (fiscal capacity)

yang keduanya dapat dikaitkan dalam upaya mengoptimalkan Pendapataan Asli Daerah (PAD).

Kesenjangan fiskal (fiscal gap) merupakan selisih negative antara kebutuhan fiskal dengan

kapasitas fiskal dianggap sebagai kebutuhan yang harus ditutup melalui transfer Pemerintah Pusat.

Sehingga solusi untuk kesenjangan fiskal adalah memperbanyak kapasitas fiskal. Untuk itu

penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan celah fiskal kabupaten lampung tengah

pada periode tahun 2002 hingga tahun 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif

dengan pendekatan kualitatif yakni metode yang didasarkan pada analisis variabel-variabel yang

mendukung analisis tersebut yangtidak dapat diukur secara nyata, tapi menggunakan analisa yang

sifatnya menjelaskan secara uraian.

Hasil penelitian menunjukan bahwa, pertama; Selama periode tahun 2002 hingga 2011,

kapasitas fiskal yang dimiliki Kabupaten Lampung Tengah hampir setiap tahunnya mengalami

penurunan, kedua ; Nilai celah fiskal (fiscal gap) yang dimiliki Kabupaten Lampung Tengah relatif tinggi hal itu menunjukan bahwa tingkat kesenjangan antara kapasitas fiskal dengan

kebutuhan fiskal tidak berjalan seimbang, ketiga ; Dengan tingginya nilai celah fiskal yang

dimiliki oleh Kabupaten Lampung Tengah juga menunjukan bahwa Kabupaten Lampung Tengah

belum bisa menciptakan kemandirian daerah dalam hal keuangan

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

J. Perimbangan Keuangan antara pusat dan daerah ... 36

K. Kajian Penelitian Sebelumnya ... 39

E. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Tengah ... 46

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pendapatan Asli Daerah ... 51

B. Bagi Hasil Pajak/SDA ... 54

(7)

D. Lain-lain pendapatan sah ... 59

E. Belanja Pegawai ... 61

F. Jumlah Penduduk Miskin ... 64

G. Menghitung Kapasitas Fiskal ... 65

H. Indeks Pembangunan Manusia ... 69

I. Indeks Kemahalan Konstruksi ... 70

J. Luas Wilayah ... 72

K. Jumlah Penduduk ... 74

L. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 76

M. Menghitung Kebutuhan Fiskal ... 78

N. Menghitung Celah Fiskal ... 81

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 88

(8)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Otonomi daerah merupakan suatu penyerahan kewenangan yang diberikan

dari pemerintah pusat yang mana dalam pelaksanaan otonomi daerah merupakan

suatu bentuk harapan yang positif bagi perekonomian Indonesia, dimana dengan

adanya otonomi daerah maka masing-masing daerah yang terdapat di Indonesia

memiliki kesempatan untuk mengelola, mengembangkan dan membuat daerah

tersebut untuk lebih berkembang dari sebelumnya sesuai dengan kebutuhan dan

potensi yang dimiliki pada masing-masing daerah. Salah satu kegiatan dalam

rangka pelaksanaan otonomi daerah tersebut adalah desentralisasi di bidang

keuangan atau yang biasanya disebut dengan desentralisasi fiskal. Dalam proses

desentralisasi harus ada pendistribusian wewenang atau kekuasaan dari tingkat

pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah,

sedangkan otonomi berarti adanya kebebasan menjalankan atau melaksanakan

sesuatu oleh suatu bagian wilayah/daerah. Dengan kata lain, desentralisasi adalah

berkurangnya atau diserahkannya sebagian atau seluruh wewenang pemerintah

dari pusat ke daerah-daerah. Sehingga daerah yang menerima kewenangan

bersifat otonom, yakni dapat menentukan cara pengelolaan daerahnya sendiri

(9)

tanggungjawab , dan pembagian kekuasaan serta wewenang dalam bidang fiskal

yang meliputi aspek penerimaan maupun pengeluaran.

Secara singkat yang dimaksud dengan desentralisasi fiskal adalah suatu

proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada

pemerintahan yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan

dan pelayanan public sesuai dengan banyaknya kewenangan bidang pemerintahan

yang dilimpahkan (Seragih, 2003)

Dari sisi pemerintah ada 2 hal utama yang menjadi bahasan sehubungan

dengan adanya otonomi daerah yakni kebutuhan fiskal (fiscal needs) dan kapasitas

fiskal (fiscal capacity) yang keduanya dapat dikaitkan dalam upaya

mengoptimalkan Pendapataan Asli Daerah (PAD). Selisih dari kebutuhan fiskal

dan kapasitas fiskal disebut dengan kesenjangan fiskal (fiscal gap) ini yang

menjadi penentu atau patokan dalam menentukan besarnya transfer dari pusat.

Optimalisasi potensi PAD disini sehubungan dengan perannya terhadap Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pelaksanaan UU No. 34/2000

sebagai penguatan PAD. Kesenjangan fiskal (fiscal gap) merupakan selisih

negative antara kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal dianggap sebagai

kebutuhan yang harus ditutup melalui transfer Pemerintah Pusat. Sehingga solusi

untuk kesenjangan fiskal adalah memperbanyak kapasitas fiskal.

Ide dasarnya adalah untuk daerah yang memiliki kapasitas fiskal relatif

lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan fiskalnya, maka DAU yang

dialokasikan seyogyanya tidak terlalu besar, namun sebaliknya apabila suatu

(10)

kapasitas fiskalnya maka membutuhkan alokasi DAU yang relatif besar pula. Jadi

kapasitas fiskal ini dapat dianggap sebagai acuan atau mewakili kemampuan suatu

daerah dalam melaksanakan semua kewenangan wajibnya dalam pelaksanaan

pemerintahan maupun pembangunan daerahnya. Desentralisasi fiskal yang

dilaksanakan pemerintah Provinsi Lampung belum dapat terlaksana dengan baik.

Penerimaan Provinsi Lampung masih bergantung pada dana perimbangan

yang diberikan oleh pemerintah pusat. Setiap tahun dana perimbangan

menyumbang lebih besar dari PAD, yaitu sebesar tak kurang dari 60% dari total

penerimaan dan juga Kapasitas Fiskal Provinsi Lampung masih tergolong dalam

kategori indeks kapasitas yang masuk dalam kategori rendah yaitu sebesar 0,2060

(Fatchurrochman, 2012).Hal ini menunjukan bahwa kemandirian Provinsi

Lampung dalam hal fiskal masih kurang.

Berdasarkan indeks Kapasitas Fiskal, daerah dikelompokkan dalam empat

kategori yaitu sangat tinggi (memiliki indeks 2,0 atau lebih), tinggi (1,0 hingga

kurang dari 2,0), sedang (0,5 hingga kurang dari 1,0), dan rendah (kurang dari

0,5). Berikut disajikan tabel indeks kapasitas fiskal berdasarkan kategori yang

telah ditetapkan

Tabel 1 Kategori Indeks Kapasitas Fiskal

Kategori indeks

Sangat Tinggi 2 >

Tinggi 1 - 2

Sedang 0,5 – 1

Rendah 0 - 0,5

(11)

Dimaksudkan dengan keterangan tabel diatas bahwa apabila indeks kapasitas

fiskal di suatu daerah tergolong rendah berarti suatu daerah tersebut dalam hal

pendanaan keuangan masih perlu bantuan pendanaan dari pusat, sedangkan indeks

kapasitas fiskal yang tergolong sedang hal itu berarti kemampuan keuangan

daerah mengalami peningkatan yang cukup baik, sehingga dalam bantuan

pendanaan tidak terlalu besar, kemudian yang dimaksudkan dengan indeks

kapasitas fiskal yang tergolong tinggi dan sangat tinggi hal itu menunjukan bahwa

(12)

5 Tabel 2 Peta Kapasitas Fiskal Provinsi Lampung Tahun 2009-2012

No Daerah

Kabupaten Lampung Barat 0,3128 Rendah 0,321 Rendah 0,215 Rendah

Kabupaten Lampung Selatan 0,0989 Rendah 0,0978 Rendah 0,1097 Rendah

Kabupaten Lampung Tengah 0,1583 Rendah 0,089 Rendah 0,0675 Rendah

Kabupaten Lampung Utara 0,1257 Rendah 0,101 Rendah 0,1106 Rendah

Kabupaten Lampung Timur 0,1807 Rendah 0,1279 Rendah 0,1537 Rendah

Kabupaten Tanggamus 0,1367 Rendah 0,1133 Rendah 0,1765 Rendah

Kabupaten Tulang Bawang 0,4547 Rendah 0,325 Rendah 0,3633 Rendah

Kabupaten Way Kanan 0,2871 Rendah 0,3607 Rendah 0,3427 Rendah

Kota Bandar Lampung 0,2213 Rendah 0,2257 Rendah 0,1989 Rendah

0 Kota Metro 0,6164 Sedang 0,8038 Sedang 0,6671 Sedang

1 Kabupaten Pesawaran 0,1159 Rendah 0,1198 Rendah

2 Kabupaten Pringsewu 0,1133 Rendah 0,1596 Rendah

3 Kabupaten Mesuji 0,325 Rendah 0,6574 Sedang

4 Kabupaten Tulang Bawang Barat 0,325 Rendah 0,5876 Sedang

(13)

6

Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa Kabupaten Lampung Tengah memiliki indeks

kapasitas fiskal yang tergolong paling rendah di Provinsi Lampung dimana

disetiap tahun nya mengalami penurunan indeks kapasitas fiskal yang pada tahun

2009 0,1583 hingga tahun 2011 hanya 0,0675. Dengan berdasarkan indeks

kapasitas fiskal tersebut dapat diindikasikan bahwa Kapasitas Fiskal Kabupaten

Lampung Tengah pun tergolong rendah. Hal tersebut menunjukan bahwa

Kabupaten Lampung Tengah memiliki tingkat kemandirian daerah yang kurang

baik serta memiliki kemampuan yang kurang dalam hal menggali sumber-sumber

pendapatan daerah nya sendiri.

Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa kapasitas fiskal daerah kabupaten

Lampung Tengah tergolong rendah sehingga masih sangat bergantung pada

transfer dana perimbangan dari pemerintah pusat. Berikut disajikan data

perkembangan penerimaan serta pengeluaran pemerintah daerah kabupaten

(14)

Tabel 3 Perkembangan Realisasi Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2002-2011 (ribu rupiah)

Rincian 2009 2010 2011

Pertumbuhan (%)

PENERIMAAN DAERAH 922.221.009 1.107.611.964 1.284.646.860 18,04 Pendapatan Daerah 887.672.366 1.072.881.274 1.206.784.083 16,67 Pendapatan Asli Daerah 20.289.640 37.086.491 37.681.698 42,19 Pajak Daerah 8.302.270 20.510.342 20.408.468 93,76 Retribisi Daerah 8.611.695 6.980.795 3.640.544 33,38 Hasil perusahaan milik daerah 2.500.000 3.387.525 3.253.037 19,73 lain-lain PAD yang sah 875.675 6.207.829 10.179.849 35,03 Dana Perimbangan 798.756.698 698.563.612 955.388.703 24,65 Bagi Hasil Pajak 46.612.028 76.422.646 41.270.733 54,97 Bagi hasil bukan pajak/Sumber

Daya Alam 9.458.886 26.136.991 24.543.064 91,20

Dana Alokasi Umum 669.111.784 706.661.775 785.179.586 8,36 Dana Alokasi Khusus 73.574.000 87.142.200 104.395.300 19,11 lain-lain pendapatan yang sah 68.626.028 139.231.144 213.713.482 48,18 pembiayaan daerah 34.548.643 34.730.717 77.862.777 62,35 PENGELUARAN DAERAH 922.221.009 1.107.611.964 1.284.646.860 18,04 Belanja tdk langsung 628.619.525 796.190.026 851.425.345 16,75 belanja langsung 141.670.609 190.734.560 413.221.919 26,63 pembiayaan daerah 97.930.875 120.687.378 20.000.000 30,09 Sumber :BPS Provinsi Lampung (data diolah)

Berdasarkan Tabel 3 dapat terlihat bahwa Dana Perimbangan menyumbang lebih

besar di setiap tahun nya dari PAD, yaitu sebesar Rp. 798.756.698 pada tahun

2009 kemudian terjadi penurunan yaitu pada tahun 2010 sebesar Rp. 698.563.612

selanjutnya mengalami peningkatan yang amat signifikan yaitu terjadi pada tahun

2011 sebesar Rp. 955.388.703. Sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada

tahun 2009 Rp. 20.289.640 sampai pada tahun 2011 sebesar Rp. 37.681.698. Hal

ini menunjukan bahwa masih besarnya ketergantungan akan Dana Perimbangan

dari pemerintah pusat. Hal tersebut pula mengindikasikan masih kurangnya upaya

pemerintah daerah Kabupaten Lampung Tengah dalam menggali dan mengelola

sumber keuangan daerahnya sehingga tidak mampu menopang perekonomian

(15)

Variasi pemilikan sumber daya alam dikatakan akan membuat ketimpangan antar

daerah, dikatakan pula bahwa daerah yang miskin tentu memiliki PAD dan PDRB

yang rendah. Sebagai konsekuensi negara kesatuan, maka pemerintah memainkan

peran distribusi dari daerah yang kaya kepada daerah yang miskin agar tidak

terjadi ketimpangan yang tajam. Kebijakan yang diambil adalah dengan dana

perimbangan terutama melalui DAU, dan masing-masing daerah akan menerima

DAU berbeda-beda tergantung pada kapasitas fiskal (PAD, PDRB) dan kebutuhan

fiskal (jumlah penduduk, luas wilayah dan sebagainya). Jika kapasitas fiskal suatu

daerah rendah sedangkan kebutuhan fiskalnya tinggi maka porsi DAU yang

diterima akan besar pula. Transfer DAU kesetiap daerah harus

mempertimbangakan kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal (potensi daerah) atau

yang disebut dengan celah fiskal. DAU dialokasikan dengan tujuan sebagai

jaminan keseimbangan vertikal dan jaminan keseimbangan horizontal (Siti

Sriningsih dan Muadi Yasin, 2009).

Dalam ketentuan Umum UU Nomor 25 Tahun 1991 dijelaskan tentang apa yang

dimaksud dengan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah adalah suatu

sistem pembiayaan pemerintahan dalam kerangka Negara kesatuan, yang

mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta

pemerataan antardaerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan

dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah sejalan dengan

kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata acara penyelenggaraan

kewenagngan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.

Sedangkan Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan

(16)

daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan

desentralisasi.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disebut bahwa Dana Perimbangan

merupakan inti dari hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah serta

merupakan suatu sistem hubungan keuangan yang bersifat vertikal antara

pemerintah pusat dan daerah sebagai konsekuensi dari pelaksanaan otonomi

daerah dalam bentuk penyerahan sebagaian wewenang pemerintahan. Oleh karena

itu, dikatakan bahwa hubungan keuangan merupakan sebuah sistem pembiayaan

penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah. Pengaturan perimbangan

keuangan antara pusat dan daerah sangat perlu dilakukan karena tidak semua

wewenang pemerintahan diberikan atau diserahkan kepada pemerintah daerah.

Oleh karena itu, kepentingan dan kebutuhan dana untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintahan pusat atau negara juga harus tersedia secara

memadai. Dana perimbangan berkaitan langsung dengan penyelenggaraan

pemerintahan daerah dalam konteks otonomi daerah atau desentralisasi. Dalam

arti sederhana, dana perimbangan adalah pembagian penerimaan antartingkatan

pemerintah guna menjalankan fungsi pemerintahan dalam kerangka desentralisasi

(Seragih, 2003).

Sebagaimana yang telah diterangkan diatas, bahwa Dana Alokasi Umum (DAU)

merupakan komponen terbesar dari dana perimbangan dalam Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Alokasi dana pusat ke daerah dalam

bentuk DAU ini merupakan transfer yang bersifat block grants. Di samping itu,

(17)

tidak semua daerah mempunyai struktur dan kemampuan fiskal yang sama itulah

mengapa terjadi ketidakseimbangan fiskal antar daerah di karenakan

masing-masing daerah memiliki perbedaan luas wilayah, jumlah penduduk, jumlah

penduduk miskin, potensi sumber daya, kondisi dan kekayaan alam, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, DAU sebagai bagian dari pusat ke daerah yang berfungsi sebagai

faktor pemerataan fiskal antara daerah-daerah serta memperkacil kesenjangan

kemampuan fiskal atau keuangan antar daerah. Kesenjangan fiskal (fiscal gap)

hingga saat ini masih tergolong relatif besar, hal ini juga disebabkan oleh

kebutuhan fiskal daerah (fiscal need) relatif lebih besar dibandingkan dengan

kemampuan atau kapasitas fiskal daerah, seperti kemampuan Pendapatan Asli

Daerah (PAD). Dengan kata lain, besarnya DAU suatu daerah adalah total

kebutuhan daerah dikurangi dengan total potensi atau kapasitas ekonomi daerah

yang bersangkutan.

Dana Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari APBN

yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana

Alokasi Khusus (DAK). Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu

Daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi

ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta

untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Ketiga

komponen Dana Perimbangan ini merupakan sistem transfer dana dari

Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh. DBH adalah dana yang

bersumber dari pendapatan APBN yang dibagihasilkan kepada Daerah

berdasarkan angka persentase tertentu. Pengaturan DBH dalam Undang-Undang

(18)

tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000. Dalam Undang-Undang ini

dimuat pengaturan mengenai Bagi Hasil penerimaan Pajak Penghasilan (PPh)

Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 serta

sektor pertambangan panas bumi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang

Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. Selain itu, dana reboisasi yang

semula termasuk bagian dari DAK, dialihkan menjadi DBH.

DAU bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah yang

dimaksudkan untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar-Daerah

melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi

Daerah. DAU suatu Daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap)

suatu Daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan Daerah (fiscal need) dan

potensi Daerah (fiscal capacity). Dalam Undang-Undang ini ditegaskan kembali

mengenai formula celah fiskal dan penambahan variabel DAU. Alokasi DAU bagi

Daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskal kecil akan

memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya, Daerah yang potensi fiskalnya

kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar.

Secara implisit, prinsip tersebut menegaskan fungsi DAU sebagai faktor

pemerataan kapasitas fiskal.

DAK dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di

Daerah tertentu yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas

nasional, khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan

(19)

percepatan pembangunan Daerah. Dalam melaksanakan pembangunan daerah

dibutuhkan pula dana yang mencukupi untuk melaksanakan pembangunan daerah

tersebut, tingkat kemahalan konstruksi/harga bangunan merupakan cerminan nilai

bangunan/biaya yang dibutuhkan untuk pemerintah daerah dalam pelaksanaan

pembangunan tersebut.

Yang dimaksud dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) adalah angka indeks

yang menggambarkan perbandingan harga bahan bangunan/konstruksi antarlokasi

yang berbeda pada periode yang sama. Sedangkan Tingkat kemahalan harga

bangunan kabupaten/kota merupakan cerminan dari suatu nilai bangunan /biaya

yang dibutuhkan untuk membangun 1 (satu) unit bangunan. Berikut disajikan

tabel perkembangan indeks kemahalan konstruksi (IKK) Kabupaten Lampung

Tengah pada periode 2002-2011

Tabel 4 Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2002-2011

No tahun Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK)

1 2002 62,21

(20)

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa indeks kemahalan konstruksi Kabupaten

Lampung Tengah naik pada setiap tahunnya. Nilai terendah terjadi pada tahun

2002 yaitu sebesar 62,21 sedangkan nilai tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu

sebesar 87,43. Dengan pengukuran indeks kemahalan konstruksi tersebut

menggambarkan bahwa kebutuhan dana untuk melakukan pembangunan daerah

juga meningkat setiap tahunnya. Sedangkan indeks kapasitas fiskal Kabupaten

Lampung Tengah tergolong rendah sehingga tidak mampu untuk membiayai

sendiri kebutuhan daerah nya dan masih mengandalkan bantuan dana dari pusat.

Tingginya nilai kebutuhan fiskal yang dimiliki Kabupaten Lampung Tengah

menunjukan masih tingginya kebutuhan dan ketergantungan akan bantuan dana

dari pemerintah pusat. Dengan tingginya kebutuhan fiskal Kabupaten Lampung

Tengah yang tidak diikuti dengan kapasitas fiskal yang memadai hal tersebut

menunjukan bahwa Kabupaten Lampung Tengah belum memiliki kemandirian

dalam hal keuangan dalam rangka membiayai kegiatan pemerintahannya. Dengan

demikian, secara tidak langsung daerah yang memiliki indeks kapasitas fiskal

tergolong rendah sedangkan kebutuhan fiskal relatif tinggi akan membebani

anggaran pemerintah pusat.

Sejalan dengan amanat UU Nomor 33 tahun 2004 Pasal 27 data daerah yang

digunakan untuk mengukur Kebutuhan Fiskal daerah mengalami perubahan

menjadi jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kemahalan konstruksi, Produk

Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia,

sedangkan Kapasitas Fiskal diukur dengan data bagi hasil pajak dan bukan pajak

(21)

belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah yang sebelumnya digunakan sebagai acuan

untuk memperhitungkan faktor penyeimbang dalam formula DAU, berdasarkan

UU Nomor 33 Tahun 2004 data tersebut digunakan sebagai dasar penghitungan

Alokasi Dasar dalam Dana Alokasi Umum (DAU). Variabel Kebutuhan Fiskal (

jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, PDRB per kapita,

dan Indeks Pembangunan Manusia) yang merupakan cerminan kebutuhan

pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Sedangkan

Variabel Kapasitas Fiskal mencerminkan potensi ekonomi daerah yang

dipresentasikan dengan potensi Industri, SDA, SDM, dan PDRB. Potensi ekonomi

ini dapat dicerminkan oleh penerimaan daerah dari Bagi Hasil Pajak dan Bukan

Pajak, serta potensi PAD yang dimiliki daerah.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas yang menunjukan bahwa indeks kapasitas

Kabupaten Lampung Tengah tergolong paling rendah di Provinsi Lampung,

sedangkan kebutuhan fiskal Kabupaten Lampung Tengah lebih besar dari

kapasitas fiskal. Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang

rumusan masalahnya menganalisis perkembangan celah fiskal Kabupaten

Lampung Tengah pada tahun 2002-2011 ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian di atas tujuan dari penelitian ini yang ingin dicapai oleh

penulis adalah untuk menganalisis perkembangan celah fiskal Kabupaten

(22)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi penulis lainnya yang

akan melakukan penelitian dengan masalah yang serupa, serta dapat memberikan

kontribusi bagi Pemerintah Daerah yang bersangkutan dalam melaksanakan

Otonomi Daerah, serta dalam mengelola potensi sumber-sumber daya yang

terdapat pada daerah tersebut untuk lebih berkembang lagi. Dengan adanya

perhitungan dan analisis dalam penelitian ini, semua pihak yang menjadi otonomi

daerah Provinsi Lampung khususnya pada Kabupaten Lampung Tengah akan

lebih mudah mengukur kinerja Pemerintahan Daerah, serta tingkat partisipasi dan

responbilitas masyarakat. Dalam konteks keilmuan, penelitian ini akan

mempertegas implementasi teori Ekonomi Publik (pemerintah daerah),

keterkaitan antara konsep teori dan kondisi rill akan tergambar dengan jelas.

E. Kerangka Pemikiran

Desentralisasi fiskal merupakan salah satu komponen utama dari desentralisasi.

Agar pemerintah daerah melaksanakan fungsinya secara efektif, dan diberikan

kebebasan dalam pengambilan keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik,

maka mereka harus didukung sumber-sumber keuangan yang memadai baik yang

berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk surcharge of taxes, Bagi

Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Pinjaman, maupun Subsidi/Bantuan dari

Pemerintah Pusat. Sesuai dengan UU Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 bahwa

perimbangan keuangan Pusat dan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi

fiskal mengandung pengertian bahwa kepada daerah diberikan kewenangan untuk

(23)

keuangan antara pusat dan daerah. Kebijakan perimbangan keuangan antara pusat

dan daerah dilakukan dengan mengikuti pembagian kewenangan (money follows

function).

Hal ini berarti bahwa hubungan keuangan antara pusat dan daerah perlu diberikan

pengaturan sedemikian rupa, sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi

tanggung jawab daerah dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan yang ada.

“Secara teoritis desentralisasi seperti yang dikemukakan oleh Benyamin Hossein

adalah pembentukan daerah otonom dan/atau penyerahan wewenang tertentu

kepadanya oleh pemerintah pusat. Philip Mawhod menyatakan desentraliasi

adalah pembagian dari sebagiankekuasaan pemerintah oleh elompok yang

berkuasa di pusat terhadap kelompok-kelompok lain yang masing-masing

memiliki otoritas di dalam wilayah tertentu di suatu negara. Dari defenisi kedua

pakar diatas, menurut Jayadi N.K. bahwa mengandung empat pengertian:

pertama, desentralisasi merupakan pembentukan daerah otonom; kedua, daerah

otonom yang dibentuk diserahi wewenang tertentu oleh pemerintah pusat; ketiga,

desentralisasi juga merupakan pemencaran kekuasaan oleh pemerintah pusat;

keempat, kekuasaan yang dipencarkan diberikan kepada kelompok-kelompok

masyarakat dalam wilayah tertentu.”

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang dimulai sejak 1

Januari 2001, maka Pemerintah Daerah diberi kewenangan yang lebih luas, nyata,

(24)

menjalankan tugasnya sebagai daerah otonom, Pemerintah Daerah sangat

bergantung pada dana perimbangan dari Pemerintah Pusat berupa bagi hasil pajak,

bagai hasil SDA, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Dana Alokasi Umum yang merupakan penyangga utama pembiayaan APBD

sebagian besar terserap untuk belanja pegawai, sehingga belanja untuk

proyek-proyek pembangunan menjadi sangat berkurang. Sehubungan dengan adanya

otonomi daerah ada dua hal yang menjadi bahasan utama, yakni kebutuhan fiskal

(fiscal needs) dan kapasitas fiskal (fiscal capacity) yang keduanya dapat dikaitkan

dalam upaya mengoptimalkan Pendapataan Asli Daerah (PAD). Selisih dari

kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal disebut dengan kesenjangan fiskal (fiscal

gap) ini yang menjadi penentu atau patokan dalam menentukan besarnya transfer

dari pusat. Kesenjangan fiskal (fiscal gap) merupakan selisih negative antara

kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal dianggap sebagai kebutuhan yang harus

ditutup melalui transfer Pemerintah Pusat. Sehingga solusi untuk kesenjangan

fiskal adalah memperbanyak kapasitas fiskal.

Mengenai kapasitas fiskal ini, satu dampak yang perlu diingat dengan penggunaan

pendapatan aktual daerah sebagai ukuran kapasitas fiskal akan berdampak kurang

baik, karena akan menyebabkan transfer dari pusat ke daerah banyak dipengaruhi

oleh upaya perpajakan (tax effort) daerah. Hal ini akan menimbulkan opini negatif

bahwa daerah tidak perlu bersusah payah menghimpun pendapatan (

under-collect), agar bisa memperoleh transfer yang banyak dari pusat. Semakin gencar

daerah menghimpun penerimaan pajak, maka akan semakin tinggi ukuran

kapasitas fiskalnya dan semakin kecil transfer yang akan diterimanya. Untuk

(25)

peningkatan PAD. Peningkatan kapasitas fiskal pada dasarnya adalah optimalisasi

sumber-sumber penerimaan daerah. Oleh karena itu tidak perlu dibuat dikotomi

antara PAD dengan dana perimbangan. Namun juga perlu dipahami bahwa

peningkatan kapasitas fiskal bukan berarti anggaran yang besar jumlahnya.

Anggaran yang besar namun tidak dikelola dengan baik (tidak memenuhi prinsip

value for money) justru akan menimbulkan masalah, misalnya dengan terjadinya

kebocoran anggaran. Yang terpenting adalah optimalisasi anggaran karena peran

pemerintah daerah nantinya bersifat sebagai fasilitator dan motivator dalam

menggerakkan pembangunan di daerah (Rusdianto, 2010)

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

Hipotesis

1. Diduga perkembangan celah fiskal (fiscal gap) kabupaten lampung tengah

pada periode tahun 2002 hingga tahun 2011 mengalami

Desentralisasi Fiskal

Otonomi Daerah

Keuangan Daerah (DAU)

1. Kebutuhan fiskal (fiscal needs) 2. Kapasitas fiskal (fiscal capacity)

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Otonomi Daerah

Kebijakan otonomi daerah di Indonesia telah dilaksanakan sejak 1 Januari 2000 dengan mengacu

pada UU Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah. Dalam Undang-Undang No. 32

tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi derah adalah hak ,wewenang, dan kewajiban

daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan

masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundan-undangan. Kewenangan yang dimaksud

dalam pasal 1 ini mencakup dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali wewenang dalam

bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal, agama, serta

kewenangan lainnya. Pengertian otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk

mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan

aspirasi masyarakat (Suparmoko, 2002).

Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan sesuai dengan kehendak dan

kepentingan masyarakat. Berkaiatan dengan hakekat otonomi daerah tersebut yang berkenaan

dengan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana publik dan

pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat maka

(27)

pembiayaan daerah serta jenis dan besar belanja yang harus dikeluarkan agar perencanaan

keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Data keuangan daerah yang memberikan

gambaran statistik perkembangan anggaran dan realisasi, baik penerimaan maupun pengeluaran

dan analisa terhadapnya merupakan informasi yang penting terutama untuk membuat kebijakan

dalam pengelolaan keuangan daerah untuk meliahat kemampuan/ kemandirian daerah (Yuliati,

2001).

Menurut Mardiasmo (Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah) adalah: Untuk meningkatkan

pelayanan publik (public service) dam memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya

terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu:

 Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

 Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah.

 Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi

dalam proses pembangunan.

Pemberian otonomi daerah dimaksudkan agar dapat terjadinya kemandirian daerah dalam

mengatur apa yang menjadi kebutuhan daerahnya sendiri tanpa adanya campur tangan dari

pemerintah pusat. Otonomi daerah sendiri bertujuan agar daerah dapat mempercepat

pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerahnya, mengurangi kesenjangan antar daerah dan

meningkatkan kualitas pelayanan publik agar lebih efisien dan responsive terhadap kebutuhan,

potensi maupun karakteristik di daerah masing-masing. Hal ini di tempuh melalui peningkatan

hak dan tanggung jawab pemerintah daerah untuk mengelola rumah tangganya sendiri (Bastian,

(28)

Dalam penyelenggaraan otonomi daerah tidak hanya dibiayai oleh APBN, tetapi juga berasal

dari sumber-sumber pendapatan sendiri yang digali dari potensi daerah yang dimiliki, ini artinya

bahwa pendapatan yang digali dalam APBD juga dapat mendukung pelaksanaan desentralisasi

atau otonomi daerah tersebut. Selama ini, sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan

dan pembangunan daerah, baik propinsi, kabupaten dan kota berasal dari pendapatan asli daerah

(PAD), bagian daerah dari bagi hasil pajak dan bukan pajak (BHPBP), dana alokasi berupa

sumbangan dan bantuan pembangunan pusat kepada daerah, pinjaman daerah, dan sisa lebih

APBD tahun sebelumnya. Semua jenis penerimaan ini dimasukan ke dalam APBD propinsi,

kabupaten dan kota (Seragih, 2003).

Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat memberikan keleluasan kepada daerah dalam

pembangunan daerah melalui usaha-usaha yang sejauh mungkin mampu meningkatkan

partisipasi masyarakat, karena pada dasarnya terkandung 3 misi utama sehubungan dengan

pelaksanaan otonomi daerah tersebut yaitu (Mardiasmo, 2002) :

1. Menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah.

2. Meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat.

3. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta

(29)

B. Desentralisasi Fiskal

Desentralisasi fiskal merupakan salah satu komponen utama dari desentralisasi. Agar pemerintah

daerah melaksanakan fungsinya secara efektif, dan diberikan kebebasan dalam pengambilan

keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik, maka mereka harus didukung sumber-sumber

keuangan yang memadai baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk

surcharge of taxes, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Pinjaman, maupun Subsidi/Bantuan dari

Pemerintah Pusat. Sesuai dengan UU Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 bahwa perimbangan

keuangan Pusat dan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal mengandung

pengertian bahwa kepada daerah diberikan kewenangan untuk memanfaatkan sumber keuangan

sendiri dan didukung dengan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Kebijakan

perimbangan keuangan antara pusat dan daerah dilakukan dengan mengikuti pembagian

kewenangan (money follows function). Hal ini berarti bahwa hubungan keuangan antara pusat

dan daerah perlu diberikan pengaturan sedemikian rupa, sehingga kebutuhan pengeluaran yang

akan menjadi tanggung jawab daerah dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan yang ada.

Keuntungan sistem pemerintahan terdesentralisasi ditinjau dari berbagai aspek menurut

para ahli adalah sebagai berikut (Khusaini, 2006):

1. Sisi ekonomi, program-program pembangunan pemerintah dalam bidang ekonomi lebih

diarahkan pada kepentingan lokal dan disesuaikan dengan lingkungan daerah setempat, hal ini

akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi fungsi alokasi oleh pemerintah daerah sehingga akan

meningkatkan willingness to pay masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan

(30)

2. Sisi administratif, desentralisasi dapat meningkatkan sistem administrasi di daerah, karena

pemerintah daerah dapat mengumpulkan informasi dan mendistribusikan kepada masyarakat

secara efektif sehingga pelayanan akan menjadi lebih efisien dan dapat diterima oleh masyarakat;

3. Sisi politik, desentralisasi dapat meningkatkan demokrasi melalui partisipasi

masyarakat secara langsung, mendidik masyarakat tetang proses pengambilan

keputusan, dan meningkatkan persatuan dalam negara yang multikultural.

Pembiayaan penyelenggaraan pemerintah berdasarkan asas desentralisasi dilakukan atas beban

APBD, pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelaksanaan asas

dekonsentrasi dilakukan atas beban APBN dan pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan

dalam rangka tugas pembantuan dibiayai atas beban anggaran tingkat pemerintahan yang

menugaskan. Selanjutnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, dan pelayanan kepada

masyarakat berdasarkan asas desentralisasi, kepada daerah diberikan kewenangan untuk

memungut pajak/retribusi (tax assignment) dan pemberian bagi hasil penerimaan (revenue

sharing) serta bantuan keuangan (grant) atau dikenal dengan Dana Perimbangan.

Di samping itu daerah juga diberi kewenangan untuk melakukan pinjaman baik dari dalam

negeri maupun luar negeri. Pinjaman tersebut dapat berupa pinjaman jangka pendek untuk

membiayai kesulitan arus kas daerah, dan pinjaman jangka panjang untuk membiayai kebutuhan

pengeluaran penyediaan sarana dan prasarana daerah. Sumber-sumber pembiayaan daerah yang

utama dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal adalah:

a) Pendapatan Asli Daerah (PAD)

b) Dana Perimbangan

(31)

− Dana Alokasi Umum

− Dana Alokasi Khusus

a) Pinjaman daerah

Berkenaan dengan desentralisasi fiskal tersebut ada 3 pilihan. Pertama, memberikan seluruh

basis pajak kepada daerah kemudian mewajibkannya untuk menyetor sebagian dari hasil pajak

tersebut kepada tingkat pemerintah yang lebih tinggi untuk membiayai pengeluaran yang

menjadi tanggungjawabnya. Kedua, merupakan kebalikan dari pilihan pertama, yaitu seluruh

kewenangan perpajakan berada pada pemerintah pusat, kemudian membiayai pemerintah daerah

dengan sistem hibah atau transfer, baik melalui bagi hasil seluruh penerima maupun melalui bagi

hasil penerimaan pajak-pajak tertentu. Ketiga, merupakan kombinasi dari pilihan satu atau dua,

yaitu member beberapa kewenangan pemungutan pajak kepada daerah. Apabila terjadi

ketimpangan akibat pemberian wewenang ini maka untuk melengkapi eksistensi pajak daerah

tersebut diberikan pula bagi hasil atau transfer pemerintah pusat.

C. Kebutuhan Fiskal

Kebutuhan Fiskal adalah kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi dasar umum,

dengan komponen pengukuran jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi,

Produk Domestik Regional Bruto Perkapita dan Indeks Pembangunan Manusia. Setiap daerah

(subnation) mesti menyediakan pelayanan public minimum (vital) kepada masyarakat yang

berada di wilayahnya, tanpa memandang apakah mereka itu penduduk tetap atau pendatang.

Banyak daerah yang menanggung banyak beban tanggung jawab fiskal, seperti misalnya daerah

yang memiliki banyak penduduk miskin, ataupun daerah dengan proporsi penduduk usia sekolah

(32)

misalnya, mesti menanggung beban pengeluaran per kapita yang amat tinggi untuk konstruksi

dan pemeliharaan jalan. Ini semua mencerminkan besarnya kebutuhan fiskal karena biaya dalam

penyediaan jasa pelayanan publik menjadi tinggi ataupun cakupan dari program-program yang

mesti dilaksanakan oleh daerah melebar. Pada dasarnya Kebutuhan Fiskal adalah kebutuhan

daerah untuk membiayai semua pengeluarannya dalam rangka menjalankan fungsi dan

kewenangan daerah menyediakan pelayanan publik (Simanjuntak, 2003)

Mulai TA 2006 berdasarkan UU No. 33/2004 formula kebutuhan fiskal tersebut disesuaikan

menjadi :

Kbf = total pengeluaran daerah rata-rata x (indeks jumlah penduduk) + (indeks luas wilayah) + (indeks kemahalan konstruksi) + (indeks pembangunan manusia) + (indeks PDRB perkapita)

D. Kapasitas Fiskal

Kapasitas Fiskal adalah sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil

(DBH). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.02/2006 tantang peta kapasitas fiskal

dalam rangka penerusan pinjaman luar negeri pemerintah kepada daerah dalam rangka hibah,

yang dimaksud dengan kapasitas fiskal adalah gambaran kemampuan keuangan daerah yang

dicerminkan melalui pendapatan daerah (tidak termasuk dana alokasi khusus, dana darurat dan

penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu) dikurangi

dengan belanja pegawai serta dikaitkan dengan jumlah penduduk miskin. Untuk meningkatkan

(33)

optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerah. Berdasarkan undang-undang nomor 33 tahun

2004, yang merupakan kapasitas fiskal daerah yaitu sumber pendanaan daerah yang berasal dari

PAD dan Dana Bagi Hasil (Dirjen Perimbangan Keuangan,2004) dalam undang-undang tersebut

disebutkan pula bahwa daerah dengan kapasitas fiskal yang besar, akan tetapi kebutuhan

fiskalnya kecil akan memperoleh transfer dana dari pusat dalam bentuk Dana Alokasi Umum

(DAU), dengan jumlah yang relatif kecil.

Langkah-langkah untuk meningkatkan kapasitas fiskal daerah mengutip (Nurida, 2012) adalah:

a. Mengoptimalisasi Pendapatan Asli Daerah.

b. Mengoptimalisasi sumber-sumber penerimaan daerah.

Oleh karena itu tidak perlu dibuat dikotomi antara PAD dengan dana perimbangan.

c. Mengoptimalisasi anggaran.

Oleh karena itu bukan berarti anggaran yang besar jumlahnya. Anggaran yang besar

namun tidak dikelola dengan baik (tidak memenuhi prinsip value for money) justru akan

menimbulkan masalah, misalnya dengan terjadinya kebocoran anggaran.

d. Reformasi Birokrasi

Bagaimana cara pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat agar terjadi

reformasi yaitu perubahan agar menjadi lebih baik lagi. Pelayanan publik yang

dilaksanakan oleh birokrasi Pemerintah seharusnya digerakkan oleh visi dan misi

pelayanan.

e. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Penyebaran SDM yang berkualitas diberbagai daerah harus segera dilaksanakan.

(34)

berbagai cara seperti pelatihan, pemenuhan standart kualitas aparatur daerah, seminar,

peningkatan soft skill, dsb.

Menurut peraturan menteri keuangan nomor 153/PMK.07/2007 tentang peta kapasitas fiskal

dalam rangka meneruskan pinjaman lar negeri pemerintah kepada daerah dalam bentuk hibah,

penetapan kapasitas fiskal dilakukan dengan menghitung pendapatan asli daerah (PAD)

ditambah dengan dana bagi hasil (DBH), dana alokasi mum (DAU), dan pendapatan lain-lain,

kemudian dikurangi dengan beban anggaran belanja gaji pegawai lalu dibagi dengan jumlah

penduduk miskin, dengan formula sebagai berikut :

KF =(PAD+BH+DAU+PL)-BP Jumlah penduduk miskin

Dimana :

KF = Kapasitas Fiskal

PAD = Pendapatan Asli Daerah

BH = Bagi Hail Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak

DAU = Dana Alokasi Umum

PL = Penerimaan lain-lain yang sah

BP = Belanja Pegawai

 Alokasi dasar adalah:

Alokasi dasar = gaji PNSD termasuk kenaikan gaji pokok dan gaji ke-13 dan gaji CPNSD

 Ketentuan:

(35)

Jika celah fiskal = 0, maka: DAU = Alokasi dasar

Jika celah fiskal < 0 (atau negatif) dan nilainya negatif lebih kecil dari alokasi dasar, maka: DAU

= Alokasi dasar

Jika celah fiskal < 0 (atau negatif) dan nilainya sama atau lebih besar dari alokasi dasar, maka:

DAU = 0

E. Dana Perimbangan

Seperti halnya daerah-daerah lainnya, setiap daerah otonom baru hasil pemekaran akan mendapatkan

dana perimbangan dari pemerintah. Dana perimbangan pada dasarnya juga bagian dari praktik otonomi

daerah dalam konteks desentralisasi di bidang fiskal. Berdasarkan UU No.33 Tahun 2004, perimbangan

keuangan diartikan sebagai suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis,

transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi dengan

mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan penyelenggaraan

dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Kebijaksanaan perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah

tersebut dilakukan dengan mengikuti pembagian kewenangan atau money follows function. Hal ini berarti

bahwa hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah perlu diberikan pengaturan sedemikian rupa,

sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggungjawab Daerah dapat dibiayai dari

sumber-sumber penerimaan yang ada.

Sejalan dengan pembagian kewenangan yang disebutkan di atas maka pengaturan pembiayaan Daerah

dilakukan berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Pembiayaan

penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan azas desentralisasi dilakukan atas beban APBD, pembiayaan

penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi dilakukan atas beban

(36)

beban anggaran tingkat pemerintahan yang menugaskan.Selanjutnya dalam rangka penyelenggaraan

pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan asas desentralisasi, kepada Daerah diberikan

kewenangan untuk memungut pajak/ retribusi (tax assignment) dan pemberian bagi hasil penerimaan

(revenue sharing) serta bantuan keuangan (grant) atau dikenal sebagai dana perimbangan sebagai sumber

dana bagi APBD. Secara umum, sumber dana bagi daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana

perimbangan (dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus) dan pinjaman daerah,

dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Tiga sumber pertama langsung dikelola oleh Pemerintah Daerah melalui APBD, sedangkan yang lainnya

dikelola oleh Pemerintah Pusat melalui kerjasama dengan Pemerintah Daerah.Dana Perimbangan

bertujuan untuk menciptakan keseimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan antara

Pemerintahan Daerah.Sesuai dengan ketentuan UU No.33 Tahun 2004, dana perimbangan merupakan

pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri atas Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum,

dan Dana Alokasi Khusus. Dana perumbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam

mendanai kewenangannya juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan

pemerintahan antara pusat dan daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar

daerah.

F. Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU, adalah dana perimbangan dan bersumber dari

pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar

daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. DAU

sebagai salah satu elemen desentralisasi fiskal menjadi elemen penting bagi pemerintah daerah

(37)

rangka menjalankan kewenangan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan publik

kepada masyarakat. DAU yang merupakan transfer pemerintah pusat kepada daerah bersifat

“block grant”, yang berarti daerah diberi keleluasaan dalam penggunaannya sesuai dengan

prioritas dan kebutuhan daerah dengan tujuan untuk menyeimbangkan kemampuan keuangan

antardaerah.

Landasan hukum pelaksanaan DAU adalah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan Pusat dan Keuangan Daerah. Sebagai amanat UU No.33 Tahun 2004, alokasi yang

dibagikan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah Pusat minimal 26 persen dari total

penerimaan dalam negri netto. DAU diberikan berdasarkan celah fiskal dan alokasi dasar. Celah

fiskal merupakan kebutuhan daerah yang dikurangi dengan kapasitas fiskal daerah, kebutuhan

daerah dihitung berdasarkan variabel-variabel yang ditetapkan undang-undang sedangkan

perhitungan kapasitas fiskal didasarkan atas Penerimaan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi

Hasil yang diterima daerah. Sementara Alokasi Dasar dihitung berdasarkan gaji PNS daerah.

Dana Aloasi Umum bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah dan

dimaksudkan untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah yang harus

ditetapkan pemerintah sekurang-kurangnya 26% dari pendapatan dalam negeri Netto.

Pengalokasian DAU kepada daerah menggunakan dasar alokasi dasar dan celah fiskal. Cara

perhitungan DAU atas dasar Alokasi Dasar berdasarkan jumlah gaji pegawai daerah yang

bersangkutan meliputi gaji pokok, tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan sesuai dengan

(38)

Pajak Penghasilan (PPh Pasal 21). Sementara celah fiskal (fiscal gap) dihitung dengan cara

kebutuhan daerah (fiscal need) dikurangi potensi daerah (fiscal capacity). Kebutuhan Fiskal

merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum yang

diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan

Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia.

Sementara Kapasitas Fiskal adalah sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD dan DBH.

Dalam Undang-Undang ini ditegaskan kembali mengenai formula celah fiskal dan penambahan

variabel DAU. Alokasi DAU bagi Daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskal

kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya, Daerah yang potensi fiskalnya

kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara

implisit, prinsip tersebut menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.

G. Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus (DAK) dimaksudkan untuk membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah

tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk

membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai

standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. Oleh karena itu DAK

setiap tahun selalu dialokasikan dalam APBN yang disesuaikan dengan program yang menjadi

prioritas nasional. Untuk menetapkan daerah tertentu yang akan mendapatkan alokasi DAK,

maka pemerintah menetapkan kriteria meliputi kriteria umum, khusus dan teknis. Kriteria umum

ditetapkan dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari

penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah. Sementara

kriteria khusus ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang mengatur

(39)

standar kualitas/kuantitas konstruksi, serta perkiraan manfaat lokal dan nasional yang menjadi

indikator dalam perhitungan teknis.

H. Dana Bagi Hasil

1. Pengertian Dana Bagi Hasil

Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasian

kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam

rangka pelaksanaan Desentralisasi (UU 33 Tahun 2004/PP Nomor 55 Tahun 2005). Dana

Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada daerah

berdasarkan angka presentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil

(PP Nomor 55 Tahun 2005).

2. Sumber Dana Bagi Hasil

1. Pajak, terdiri dari:

a) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

b) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

c) Pajak penghasilan (PPh) pasal 25 dan pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam

negeri dan PPh pasal 21

2. Sumber daya alam, berasal dari:

a) Kehutanan

b) Pertambangan umum

c) Perikanan

d) Pertambangan Minyak Bumi

e) Pertambangan Gas Bumi

(40)

I. Celah Fiskal (fiscal gap)

Celah fiskal atau yang bias disebut dengan kesenjangan fiskal merupakan suatu komponen yang

masuk di dalam formula penghitungan Dana Alokasi Umum (DAU). Sedangkan DAU itu sendiri

adalah salah satu komponen yang terdapat di dalam Dana Perimbangan di APBN yang

pengalokasiannya didasarkan atas formula dengan konsep kesenjangan fiskal (fiscal gap) yang

merupakan selisih negatif antara Kebutuhan Fiskal (fiscal need) dengan Kapasitas Fiskal (fiscal

capacity). Konsep dasar formulasi DAU secara implicit merupakan penjabaran dari teori

governmental transfer yang berbasis pada konsepsi fiscal gap, dengan konsep ini nantinya

kesenjangan fiskal yang dianggap sebagai kebutuhan yang harus ditutup melalui transfer dari

Pemerintah Pusat. Fiscal gap inilah yang seyogyanya ditutup oleh DAU, karena dengan

demikian pemerataan (dalam arti setiap daerah bisa membiayai setiap kebutuhan dasar di

wilayahnya) dapat terpenuhi (Simanjutak, 2003)

Jadi kesenjangan fiskal (fiscal gap) merupakan selisih negatif antara kebutuhan fiskal dengan

kapasitas fiskal yang dianggap sebagai kebutuhan yang harus ditutup melalui transfer Pemerintah

Pusat. Sehingga solusi untuk kesenjangan fiskal adalah dengan meningkatkan kapasitas fiskal.

Apabila di suatu daerah memiliki kapasitas fiskal yang relatif besar dibandingkan dengan

kebutuhan fiskalnya maka DAU yang dialokasikan juga tidak terlalu besar, namun apabila yang

terjadi sebaliknya yaitu daerah yang memiliki tingkat kapasitas fiskal yang relatif lebih rendah

sedangkan kebutuhan fiskal yang lebih tinggi, maka daerah tersebut membutuhkan DAU yang

relatif besar pula agar tetap dapat menyediakan pelayanan dasar yang cukup baik. Berdasarkan

UU Nomor 33 tahun 2004 tentang penghitungan DAU, maka celah fiskal dapat dihitung dengan

(41)

Celah fiskal = KbF (Kebutuhan Fiskal) – KpF (Kapasitas Fiskal)

Kebutuhan Fiskal dapat diartikan sebagai kebutuhan daerah untuk membiayai semua

pengeluaran daerah dalam rangka menjalankan fungsi/kewenangan daerah dalam penyediaan

pelayanan publik. Dalam perhitungan DAU, kebutuhan daerah tersebut dicerminkan dari

variabel-variabel kebutuhan fiskal sebagai berikut :

a.Jumlah Penduduk

b.Luas Wilayah

c.Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK)

d.PDRB per Kapita

e. Indeks Pembangunan Manusia

yang merupakan cerminan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan

dasar umum. Setiap daerah harus menyediakan pelayanan publik minimum (vital) kepada

masyarakat yang berada di wilayahnya, tanpa memandang apakah mereka itu penduduk tetap

atau pendatang. Banyak daerah yang menanggung banyak beban tanggung jawab fiskal, seperti

misalnya daerah yang memiliki banyak penduduk miskin, ataupun daerah dengan proporsi

penduduk usia sekolah yang tinggi. Lalu daerah-daerah yang dengan wilayah amat luas dan

penduduk tersebar misalnya, harus menanggung beban pengeluaran per kapita yang amat tinggi

untuk konstruksi dan pemeliharaan jalan. Ini semua mencerminkan besarnya kebutuhan fiskal

karena biaya dalam penyediaan jasa pelayanan publik menjadi tinggi ataupun cakupan dari

(42)

fiskal adalah kebutuhan daerah untuk membiayai semua pengeluarannya dalam rangka

menjalankan fungsi dan wewenang daerah menyediakan pelayanan publik.

Menurut Undang-Undang Tahun 2004 Pasal 28 ayat 3, yang dimaksud dengan kapasitas fiskal

adalah sumber pendanaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah dan Dana Bagi

Hasil. Sedangkan kapasitas fiskal adalah (potensi) sumber pendapatan yang dimiliki oleh daerah,

termasuk pendapatan asli daerah (PAD), bagi hasil pajak, dan sumber daya alam. Untuk

mengukur suatu kemampuan fiskal daerah juga harus diperhitungkan potensi pendapatan asli

daerah dan penerimaan daerah lainnya (Seragih, 2003).

Kapasitas fiskal menunjukan tingkat kemandirian keuangan suatu daerah. Hal ini dikarenakan

besarnya tingkat kapasitas fiskal yang dimiliki suatu daerah menentukan jumlah dana

perimbangan yang diberikan pemerintah pusat terhadap daerah tersebut. Semakin tinggi tingkat

kapasitas fiskal suatu daerah, maka dana perimbangan yang diberikan pemerintah pusat akan

semakin kecil, dan begitu juga sebaliknya jika kapasitas fiskalnya rendah, maka dana

perimbangan yang diberikan pemerintah pusat akan cukup besar. Selama ini sebagian daerah

masih banyak yang menggantungkan diri pada dana perimbangan dari pemerintah pusat.

Hal itu menunjukan proses desentralisasi fiskal yang tidak berhasil, karena proses desentralisasi

fiskal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemandirian daerah. Pada era desentralisasi fiskal

ini pemerintah daerah harus mampu berinovasi dalam mencari sumber pendapatan baru ataupun

(43)

J. Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah

Keuangan daerah, sebagai alat fiskal pemerinta daerah merupakan bagian integral dari keuangan

Negara dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi, memeratakan hasil pembangunan dan

menciptakan stabilitas ekonomi selain stabilitas social politik. Peranan keuangan daerah makin

penting, selain karena keterbatasan dana yang dapat dialihkan ke daerah berupa subsidi dan

bantuan, tetapi juga karena makin kompleknya persoalan yang dihadapi daerah dan pemecahnya

membutuhkan partisipasi aktif masyarakat daerah. Selain itu, peranan keuangan daerah yang

makin meningkat akan mendorong terwujudnya otonomi daerah yang lebih nyata dan

bertanggungjawab. (Radianto, 1997)

Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa hubungan antara ketergantungan daerah atas dana

pusat dan kekeluasan daerah akan pengeluaran-pengeluarannya adalah tidak langsung.

Berdasarkan pandangan ini, yang penting bagi otonomi daerah adalah daerah mempunyai sumber

pendapatan yang elastis, tidak tergantung kepada dana asal tersebut, dan mempunyai kekeluasan

terutama dalam menggunakan dana bagi kepentingan masyarakat daerah di dalam batas-batas

yang ditentukan perundang-undangan (Davey, 1989)

1. Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah

Menurut Davey (1982 dalam Basri dan Subri, 2005), tujuan hubungan antara pusat dan

daerah adalah:

1. Adanya pembagian wewenang yang rasional antara tingkat-tingkat pemerintahan

(44)

2. Pemerintah daerah memiliki sumber-sumber dana yang cukup, sehingga dapat

menjalankan tugas atau fungsi dengan baik (penyediaan dana untuk menutup

kebutuhan rutin dan pembangunan),

3. Pembagian yang adil antara pembelanjaan daerah yang satu dan daerah lainnya,

4. Pemerintah daerah dalam mengusahakan pendapatan (pajak dan retribusi) sesuai

dengan pembagian yang adil terhadap keseluruhan beban pengeluaran pemerintah.

2. Pendekatan Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah

Hubungan keuangan antara pusat dan daerah dapat dilakukan melalui beberapa

pendekatan (Basri dan Subri, 2005), yaitu:

1. Pendekatan Kapitalisasi (Permodalan)

Dalam pendekatan ini pemerintah daerah memperoleh modal permulaan yang

diharapkan untuk diinvestasikan menurut cara-cara yang dapat menghasilkan

pendapatan untuk menutup pengeluaran rutin. Pemerintah pusat mengadakan

investasi didaerah dan “berpatungan” dengan pemerintah daerah. Kemudian

pemerintah daerah diberi wewenang untuk mengelolanya. Keuntungan yang

diperolehnya sebagian menjadi hak pusat dan sebagian menjadi hak daerah, sesuai

dengan besarnya modal yang ditanam dan perimbangan manajemennya. Di luar

kesempatan itu, apabila dipandang perlu dengan melihat situasi dan kondisinya,

bagian keuangan yang menjadi hak pusat dapat saja disumbangkan kepada daerah

untuk pembangunan.

2. Pendekatan Sumber Pendapatan (income source approach) Pendekatan ini didasarkan

pada pemberian sebagian pendapatan dari sumber-sumber pendapatan oleh pusat ke

(45)

tertentu sepenuhnya yang diserahkan kepada daerah atau wewenang untuk menikmati

sebagian (persentase) dari pungutan yang dilakukan oleh daerah atas nama pusat.

3. Pendekatan Belanja (expenditure approach) Pendekatan ini didasarkan pada

kebutuhan pengeluaran biaya-biaya untuk proyek atau untuk membiayai kegiatan

rutin pemerintah daerah. Di sini pemerintah pusat membiayai kekurangan dari biaya

suatu proyek. Subsidi pemerintah pusat ini diberikan dengan mempertimbangkan

kemampuan dan alokasi bantuan pada masing-masing daerah, dan

kebutuhan-kebutuhan pembangunan tidak boleh ada perbedaan yang mencolok dengan

tahun-tahun sebelumnya.

4. Pendekatan Komprehensif (comprehensive approach) Pendekatan ini didasarkan

pada pemberian wewenang kepada daerah untuk mengelola sumber-sumber

pendapatannya sendiri guna membiayai pengeluaranpengeluaran daerah dan mencoba

untuk mempertemukan antara sumber-sumber pendapatan dan target belanja.

Sumber-sumber pendapatan yang boleh dikelola sepenuhnya oleh daerah merupakan

sumber pendapatan asli daerah (PAD). Apabila untuk membiayai

pengeluaran-pengeluaran daerah itu masih kurang (dan biasanya memang sangat kurang), maka

kekurangannya itu akan disubsidi pusat. Karena umumnya pemerintah daerah dalam

membiayai kebutuhan itu tidak cukup, maka pendekatan ini juga dinamakan

pendekatan defisit (deficit approach).

K. KAJIAN PENELITIAN SEBELUMNYA

1. Nama Peneliti : Aris Fatchurochman (2012)

(46)

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk data sekunder, alat analisis yang

Digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui perkembangan Kapasitas Fiskal Provinsi Lampung serta dapat memberikan manfaat

bagi pemerintah daerah untuk memperbaiki Kapasitas Fiskal Provinsi Lampung. Hasil dari

penelitian tersebut adalah selama periode 2001 hingga 2009, kapasitas fiskal yang dimiliki

provinsi lampung termasuk yang terendah diantara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Nilai

kapasitas fiskal yang rendah menunjukan bahwa setiap tahunnya Provinsi Lampung

mendapatkan bantuan dana perimbangan yang besar dari pusat. Kemudian dengan kecilnya

kapasitas fiskal yang dimiliki provinsi lampung juga menunjukan bahwa provinsi lampung

belum memiliki kemandirian dalam hal pengelolaan keuangan daerah nya.

2. Nama Peneliti : Ahmad Fadillah (2011)

Judul Penelitian : Analisis Peranan Dana Transfer Daerah dan Pendapatan Asli Daerah

(PAD) Terhadap Ketimpangan Kemampuan Keuangan Pada Provinsi

Sulawesi Selatan

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, dengan metode analisis data

metode analisis regresi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran

Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan celah

fiskalnya dan untuk mengetahui apakah Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli

Daerah (PAD) berpengaruh terhadap pemerataan kemampuan keuangan di Provinsi Sulawesi

(47)

berpengaruh tidak signifikan terhadap celah fiskal untuk Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan.

Hal ini karena banyak pemerintah daerah mendapatkan DAU kemudian digunakan sebagian

besar untuk belanja rutin seperti gaji pegawai negeri sipil di daerahnya masing-masing. Hal ini

yang membuat ketidakefektifan dalam penggunaan belanja daerah sehingga dana untuk

pengelolaan dan perbaikan infrastruktur menjadi sedikit. Variabel DAK berpengaruh signifikan

dalam mempengaruhi perubahan celah fiskal Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Karena setiap

daerah Kabupaten/Kota harus menyediakan dana pendamping sebagai prasayarat jika menerima

DAK dari pemerintah pusat. Dana pendamping juga merupakan komitmen pemerintah daerah

untuk melaksanakan kegiatan yang di danai oleh DAK dari pemerintah pusat. Dana pendamping

yang disediakan oleh daerah adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) dari alokasi DAK yang

diberikan kepada daerah.

3. Nama Peneliti : Sulistyowati (2006)

Judul Penelitian : Analisis Ketimpangan Fiskal Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah Sebelum dan Sesudah Otonomi

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data runtun waktu dari periode Tahun 1997

sampai Tahun 2003, untuk semua Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah. Data dalam penelitian ini

adalah data sekunder, penelitian ini menggunakan analisis yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan adanya tingkat ketimpangan fiskal antara

kabupaten/kota di Jawa Tengah sebelum dan sesudah otonomi dan mengidentifikasi penyebab

ketimpangan fiskal sebelum dan sesudah otonomi di jawa tengah. Kesimpulan dari penelitian ini

adalah Baik sebelum maupun sesudah otonomi daerah adanya tranfer dana dari pemerintah pusat

(48)

Bantuan Pembangunan menjadi DAU dan DAK, Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata dan

Standar Deviasi, Kabupaten yang berada pada posisi ketimpangan fiskal dibawah rata-rata

sebelumotonomi daearah adalah Wonosobo, Rembang, Kudus, Demak, Temanggung dan

Batang, artinya kabupaten-kabupaten tersebut menerimaSDO dan Sumbangan Pembangunannya

kurang dari rata tingkat Jateng. Adapun yang berada pada posisi ketimpangan di atas

rata-rata meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Kebumen dan Wonogiri yang berarti SDO dan

(49)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam data ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data

yang telah diolah dan diterbitkan oleh lembaga yang berkaitan. Dalam penelitian ini, data yang

diperoleh berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, serta instansi lainnya yang

terkait dengan penelitian ini. Ruang waktu yang digunakan dalam penelitian ini yakni tahun

2002-2011.

B. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini selain menggunakan data dari beberapa instansi, penelitian ini juga menggunakan

penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membaca, dan memahami

malalui buku-buku, literatur, jurnal penelitian, serta hasil-hasil penelitian lainnya yang

berhubungan dengan permasalah yang akan dibahas pada penelitian ini.

C. Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel Kapasitas Fiskal:

(50)

Dalam penelitian ini. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu penerimaan yang diperoleh

daerah dari sumber-sumber dalam wilayah itu sendiri yang dipungut berdasarkan

Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

o Bagi hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak

Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan

kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam

rangka pelaksanaan desentralisasi (Deddi dkk, 2007).

Menurut Deddi dkk,2007 Dana bagi hasil terdiri dari :

1. Bagi hasil pajak, yang meliputi bagi hasil pajak bumi dan bangunan (PBB),

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan

(PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi dalam Negeri dan PPh

Pasal 21.

2. Bagi hasil sumber daya alam, yang meliputi sector kehutanan, pertambangan

umum, perikanan, tambang minyak bumi, gas alam dan panas bumi.

o Dana Alokasi Umum (DAU)

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah transfer dana dari pemerintah pusat ke pemerintah

daerah yang dimaksudkan untuk menutup kesenjangan fiskal (fiscal gap) dan pemerataan

kemampuan fiskal antar daerah dalam rangka membantu kemandirian pemerintah daerah

Figur

Tabel 1 Kategori Indeks Kapasitas Fiskal
Tabel 1 Kategori Indeks Kapasitas Fiskal . View in document p.10
Tabel 2 Peta Kapasitas Fiskal Provinsi Lampung Tahun 2009-2012
Tabel 2 Peta Kapasitas Fiskal Provinsi Lampung Tahun 2009 2012 . View in document p.12
Tabel 3 Perkembangan Realisasi Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah
Tabel 3 Perkembangan Realisasi Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah . View in document p.14
Tabel 4 Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2002-2011
Tabel 4 Indeks Kemahalan Konstruksi IKK Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2002 2011 . View in document p.19
Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Gambar 1 Kerangka Pemikiran . View in document p.25
Tabel 5 Gambaran Umum Kabupaten Lampung Tengah tahun 2011.
Tabel 5 Gambaran Umum Kabupaten Lampung Tengah tahun 2011 . View in document p.55

Referensi

Memperbarui...