Kualitas Hidup Wanita Lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu Tebing Tinggi

87 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KUALITAS HIDUP WANITA LANSIA DI KELURAHAN

PABATU KECAMATAN PADANG HULU TEBING TINGGI

SKRIPSI

Oleh

NAZLY CHAIRANI 111121069

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)

ABSTRAK

Judul : Kualitas Hidup Wanita Lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu Tebing Tinggi

Nama : Nazly Chairani Jurusan : Keperawatan Tahun : 2013

Kualitas hidup didefenisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau wanita dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan system nilai dimana mereka tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kualitas hidup wanita lansia secara umum dan berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian desain deskriftif digunakan untuk menggambarkan kualitas hidup wanita lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu Tebing Tinggi. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling yaitu pada wanita lansia yang berumur diatas 60 tahun dengan jumlah responden 53 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diambil dari WHOQOL – BREF. Analisa data dilakukan dengan crosstab antara kualitas hidup dengan faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Hasil penelitian ini bahwa kualitas hidup wanita lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi adalah cukup baik. Kepada petugas kesehatan perlu adanya upaya dalam peningkatan kualitas hidup. Upaya yang diharapkan dapat dilakukan oleh petugas kesehatan adalah melakukan diskusi dengan pendekatan secara holistik kepada wanita lansia. Salah satunya adalah dengan merubah persepsi masyarakat atau memunculkan sikap positif masyarakat khususnya wanita lansia.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Kualitas Hidup Wanita Lansia di Kelurahan Pabatu

Kecamatan Padang Hulu Tebing Tinggi ”.

Shalawat beriring salam tidak lupa pula penulis panjatkan kepada

Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam

kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan sebagaimana yang kita

rasakan pada saat sekarang ini.

Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi syarat dalam

mencapai gelar kesarjanaan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara. Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menghadapi berbagai

hambatan dan kesulitan. Namun, berkat adanya bantuan, bimbingan, dan

arahan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai

dengan waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang

terhormat:

1. Teristimewa buat Ayahanda dan Ibunda yang telah banyak memberikan do’a,

nasehat, materi dan dorongan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

2. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan

(5)

3. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan 1 Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara dan selaku dosen pembimbing yang telah banyak

memberi bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini .

4. Bapak Iwan Rusdi S.Kp, MNS selaku dosen pembimbing akademik yang telah

membantu bdalam proses perkuliahan.

5. Ibu Siti Saidah, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat selaku Ketua Departemen Keperawatan

Maternitas Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

6. Ibu Nur Afi Darti S.Kp, M.Kep dan Ibu Farida Linda Sari Siregar S.Kep, Ns,

M.Kep selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan dalam

skripsi ini.

7. Dewan Dosen beserta staf Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara.

8. Staf – staf Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi yang

telah memberikan izin untuk penelitian ini.

9. Buat adik – adikku Muhammad Zaim Al – Anshari dan Muhammad Fadlan

Choiri beserta anggota keluarga lain yang banyak memberi doa, dukungan

baik moril maupun materil.

10.Sahabat – sahabatku Imel teman sebimbingan dan seperjuangan yang telah

banyak membantu dalam skripsi ini, Tia, Vera, Maya, Adek, Endang, Ery

Boreg, Atikah, Miskah, Unin, Widya, Hanna, serta teman-teman sejawat

angkatan 2011 yang selalu memberikan bantuan, motivasi, partisipasi, dan

saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Kemudian

(6)

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak

terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini dimasa yang akan

datang.

Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri semoga kita selalu

dalam lindungan serta limpahan rahmat-Nya dengan kerendahan hati penulis

berharap mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada

umumnya dan penulis khususnya.

Medan, Februari 2013

(7)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Abstrak ... iii

Prakata ... iv

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel ... ix

Daftar Lampiran ... x

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang ... 5

2. Rumusan Masalah ... 5

3. Tujuan Penelitian ... 5

3.1. Tujuan Umum ... 5

3.2. Tujuan Khusus ... 5

4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Kualitas Hidup ... 8

1.1Definisi Kualitas Hidup ... 8

1.2Dimensi – Dimensi Kualitas Hidup ... 9

1.3Pengukuran Kualitas Hidup ... 12

1.4Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup ... 13

2. Wanita Lansia ... 17

2.1Definisi Wanita Lansia ... 17

2.2Perubahan – Perubahan Pada Wanita Lansia ... 17

2.3Masalah Dan Penyakit Pada Wanita Lansia ... 21

2.4Penanggulangan Masalah Terkait Proses Penuaan Alami...29

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 1. Kerangka Konseptual... 31

2. Definisi Operasional ... 32

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian ... 34

2. Populasi dan Sampel ... 34

2.1. Populasi ... 34

2.2. Sampel ... 34

3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35

4. Pertimbangan Etik ... 36

5. Instrumen Penelitian ... 36

6. Uji Validitas Dan Reliabelitas ... 37

7. Pengumpulan Data ... 38

(8)

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian ... 41

1.1. Data Demografi Responden... 41

1.2. Kualitas Hidup Wanita Lansia ... 42

2. Pembahasan ... 46

2.1. Kualitas Hidup Wanita Lansia ... 46

2.2. Kualitas Hidup Wanita Lansia Berdasarkan Usia,Pendidikan, Pekerjaan, Pernikahan, Penghasilan, dan Aktivitas Sosial ... 46

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ... 51

2. Saran ... 51

2.1. Praktek Keperawatan ... 51

2.2. Pendidikan Keperawatan ... 52

2.3. Penelitian Keperawatan ... 52

(9)

DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

Tabel 1.1.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik

responden wanita lansia……… 45 Tabel 1.2.1 Distribusi frekuensi dan persentase kualitas hidup wanita lansia... 46 Tabel 1.2.3 Distribusi frekuensi kualitas hidup berdasarkan umur... 48 Tabel 1.2.4 Distribusi frekuensi kualitas hidup berdasarkan pendidikan ...

51

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Lembar Persetujuan Responden 2. Instrumen Penelitian

(11)

ABSTRAK

Judul : Kualitas Hidup Wanita Lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu Tebing Tinggi

Nama : Nazly Chairani Jurusan : Keperawatan Tahun : 2013

Kualitas hidup didefenisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau wanita dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan system nilai dimana mereka tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kualitas hidup wanita lansia secara umum dan berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian desain deskriftif digunakan untuk menggambarkan kualitas hidup wanita lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu Tebing Tinggi. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling yaitu pada wanita lansia yang berumur diatas 60 tahun dengan jumlah responden 53 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diambil dari WHOQOL – BREF. Analisa data dilakukan dengan crosstab antara kualitas hidup dengan faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Hasil penelitian ini bahwa kualitas hidup wanita lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi adalah cukup baik. Kepada petugas kesehatan perlu adanya upaya dalam peningkatan kualitas hidup. Upaya yang diharapkan dapat dilakukan oleh petugas kesehatan adalah melakukan diskusi dengan pendekatan secara holistik kepada wanita lansia. Salah satunya adalah dengan merubah persepsi masyarakat atau memunculkan sikap positif masyarakat khususnya wanita lansia.

(12)

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Tahapan siklus kehidupan manusia, mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja,

dewasa muda, dewasa, tua, dan lanjut usia. Begitu juga dalam rentang usia lanjut

yang berkaitan dengan tahapan rentang kehidupan yang terbagi dalam dua tahap

yaitu tahap usia lanjut dini dan usia lanjut (Hurlock, 2000).

Berdasarkan jumlah penduduk masyarakat Indonesia pada tahun 2000, jumlah

penduduk di Indonesia mencapai 203,46 juta orang dengan 101,81 juta penduduk

wanita (Kasdu, 2002). Dalam kurun waktu 1990 sampai 2025 diperkirakan jumlah

penduduk Indonesia sebagai pertumbuhan lansia yang tercepat di dunia. Pada

tahun 2000 data jumlah lansia di Indonesia mencapai 16 juta jiwa. Sedangkan

berdasarkan data sensus badan pusat statistik pada tahun 2000 menunjukkan

bahwa jumlah penduduk lansia sebanyak 15.054.877 jiwa dengan jumlah lansia

wanita 52,42% dan pria 47,58% (Statistika, 2010 ).

Di Sumatera Utara (2000), proporsi penduduk lansia mencapai 18,46 % dan di

kota Medan (2001), proporsi penduduk lansia mencapai 21,2%, kemudian

meningkat pada tahun 2004 mencapai 24,69 % (Zulsita, 2011).

Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Wanita yang

sudah memasuki usia 60 tahun sampai 70 tahun dikatakan wanita lanjut usia.

Periode usia lanjut berlangsung secara perlahan dan bertahap yang disertai dengan

(13)

Proses penuaan merupakan proses fisiologis yang pasti dialami individu dan

proses ini akan diikuti oleh penurunan fungsi fisik, psikososial dan spiritual.

Perubahan dari segi biologis pada wanita lansia identik dengan gejala menopause,

antara lain ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara

tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas.

Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening,

kelelahan dan berdebar-debar (Hurlock, 2000).

Menurut Watson (2003 ) dalam (Setiyoadi, 2012) terdapat perubahan yang

umum dialami lansia. Seperti perubahan sistem imun yang cenderung menurun,

perubahan sistem integumen yang menyebabkan kulit mudah rusak, perubahan

elastisitas arteri pada sistem kardiovaskular yang dapat memperberat kerja

jantung, penurunan kemampuan metabolisme oleh hati dan ginjal serta penurunan

kemampuan penglihatan dan pendengaran. Penurunan fungsi fisik tersebut

ditandai dengan ketidakmampuan lansia untuk beraktivitas atau melakukan

kegiatan yang tergolong berat.

Kuntjoro (2002) mengatakan bahwa beberapa gejala psikologis yang menonjol

pada wanita lansia adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup,

kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang

kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka

merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa

kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.

Perubahan psikososial yang terjadi pada lansia erat kaitannya dengan

(14)

masyarakat. Sebagian besar lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan

psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman,

pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku

lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi

hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan,

koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. (Setiyoadi,

2012).

Kreitler & Ben (2004) dalam (Nofitri 2009) kualitas hidup diartikan sebagai

persepsi individu mengenai keberfungsian mereka di dalam bidang kehidupan.

Lebih spesifiknya adalah penilaian individu terhadap posisi mereka di dalam

kehidupan, dalam konteks budaya dan system nilai dimana mereka hidup dalam

kaitannya dengan tujuan individu, harapan, standar serta apa yang menjadi

perhatian individu.

Kualitas hidup individu tersebut biasanya dapat dinilai dari kondisi fisiknya,

psikologis, hubungan sosial dan lingkungannya WHOQOL Group, (1998) dalam

(Sekarwiri, 2008). Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas hidup yaitu jenis

kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, penghasilan, hubungan

dengan orang lain dan standar referensi (Nofitri, 2009).

Skevington, Lotfy dan O’ Connell (2004) dalam Sekarwiri (2008) pengukuran

kualitas hidup dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengukuran kualitas hidup

secara menyeluruh (kualitas hidup dipandang sebagai evaluasi individu terhadap

dirinya secara menyeluruh atau hanya mengukur domain tertentu saja (kualitas

(15)

WHOQOL-BREF merupakan alat ukur yang valid (r = 0,89 -0,95) dan reliable

(R= 0,66-0,87) (Sekarwiri, 2008).Berdasarkan hasil penelitian Salim, Sudharma,

Kusumaratma dan Hidayat (2007) bahwa kuesioner WHOQOL-BREF merupakan

kuesioner yang valid dan reliable untuk kualitas hidup lansia dengan nilai (r =

0,5-0,7) dan (R = 0,69-0,71).

Perubahan – perubahan yang terjadi pada wanita lansia baik fisik, psikologis,

sosial, dan lingkungan yang cenderung mengalami penurunan.

Penurunan-penurunan tersebut akan menyebabkan berbagai gangguan baik fisik, psikologis,

lingkungan dan sosial yang akan berdampak pada kualitas hidup wanita lansia

(Setiyoadi, 2012).

Selain ditinjau dari perbedaan jumlah dan angka harapan hidupnya, lansia pria

dan wanita juga memiliki perbedaan pada tingkat kualitas hidupnya. Usia harapan

hidup serta jumlah wanita lansia yang lebih tinggi dari pria lansia. Namun,

Dragomirecka & Selepova (2002) dalam studinya mengungkapkan bahwa kualitas

hidup pria lansia lebih tinggi dari pada wanita lansia. Pada pria lansia dilaporkan

secara signifikan bahwa pria lansia memiliki kepuasan yang lebih tinggi dalam

beberapa aspek yaitu hubungan personal, dukungan keluarga, keadaan ekonomi,

pelayanan sosial, kondisi kehidupan dan kesehatan.

Wanita lansia memiliki nilai yang lebih tinggi dalam hal kesepian, ekonomi

yang rendah dan kekhawatiran terhadap masa depan. Perbedaan gender tersebut

ternyata memberikan andil yang nyata dalam kualitas hidup lansia. Perlu adanya

suatu upaya peningkatan kualitas hidup terhadap lansia, terutama wanita lansia

(16)

lebih banyak. Meningkatnya jumlah lansia tentu tidak lepas dari proses penuaan

beserta masalahnya.

Berdasarkan data penduduk Kelurahan Pabatu proporsi jumlah seluruh wanita

yaitu sebesar 1150 orang, sedangkan proporsi jumlah wanita usia ≥60 tahun

sebesar 112 orang.

Dari uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti bagaimanakah kualitas hidup

wanita yang sudah memasuki masa lansia di Kel. Pabatu Kec. Padang Hulu,

Tebing Tinggi.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam

penelitian ini yaitu “bagaimanakah tingkat kualitas hidup wanita yang sudah

memasuki masa lanjut usia” di Kel. Pabatu Kec. Padang Hulu, Tebing Tinggi.

3. Tujuan Penelitian

3.1 Tujuan Umum :

Untuk menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita yang sudah memasuki

masa lanjut usia di Kel. Pabatu Kec. Padang Hulu, Tebing Tinggi.

3.2 Tujuan Khusus :

1. Menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita lansia berdasarkan usia

2.Menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita lansia berdasarkan

pendidikan

3. Menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita lansia berdasarkan pekerjaan

4. Menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita lansia berdasarkan status

(17)

5. Menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita lansia berdasarkan

penghasilan

6. Menggambarkan tingkat kualitas hidup wanita lansia berdasarkan hubungan

dengan orang lain.

4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

4.1Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan bacaan dan informasi bagi mahasiswa tentang kualitas

hidup wanita yang sudah memasuki masa lanjut usia. Selain itu penelitian ini

dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi pengembangan kurikulum pendidikan

keperawatan agar pendidikan senantiasa peka terhadap kenyataan yang ada di

lapangan khususnya masalah kualitas hidup wanita yang sudah memasuki masa

lanjut usia.

4.2 Bagi Pelayanan Kesehatan

Sebagai bahan informasi tentang kualitas hidup wanita yang telah

memasuki masa lanjut usia, sehingga tenaga kesehatan lebih peka terhadap

kualitas hidup wanita yang sudah memasuki masa lanjut usia dan dapat

memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.

4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya dan sebagai bahan

perbandingan apabila ada peneliti yang ingin melakukan penelitian dengan judul

(18)

4.4Bagi Wanita Lanjut Usia

Memberikan informasi tentang kualitas hidup wanita yang sudah

memasuki masa lanjut usia sehingga dapat diupayakan tindakan untuk

meningkatkan kualitas hidup dan dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam

menghadapi masa lanjut usia. Dengan demikian masa lanjut usia dapat dijalani

dengan lebih baik, sehingga dapat menjalani hari-harinya dengan kualitas hidup

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Kualitas hidup

1.1 Definisi Kualitas Hidup

Setiap individu memiliki kualitas hidup yang berbeda tergantung dari

masing-masing individu dalam menyikapi permasalahan yang terjadi dalam

dirinya. Jika menghadapi dengan positif maka akan baik pula kualitas hidupnya,

tetapi lain halnya jika menghadapi dengan negatif maka akan buruk pula kualitas

hidupnya. Kreitler & Ben (2004) dalam Nofitri (2009) kualitas hidup diartikan

sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian mereka di dalam bidang

kehidupan. Lebih spesifiknya adalah penilaian individu terhadap posisi mereka di

dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan system nilai dimana mereka hidup

dalam kaitannya dengan tujuan individu, harapan, standar serta apa yang menjadi

perhatian individu (Nofitri, 2009).

Menurut WHO (1994) dalam (Bangun 2008), kualitas hidup didefenisikan

sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau wanita dalam hidup, ditinjau dari

konteks budaya dan system nilai dimana mereka tinggal, dan berhubungan dengan

standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka.Hal ini merupakan

konsep tingkatan, terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status

psikologis, tingkat kebebasan, hubungan social dan hubungan kepada karakteristik

(20)

Di dalam bidang kesehatan dan aktivitas pencegahan penyakit, kualitas

hidup dijadikan sebagai aspek untuk menggambarkan kondisi kesehatan (Wilson

dkk dalam (Larasati, 2012). Adapun menurut Cohen & Lazarus dalam (Larasati,

2012) kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan seorang

individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka. Kualitas hidup individu

tersebut biasanya dapat dinilai dari kondisi fisiknya, psikologis, hubungan sosial

dan lingkungannya WHOQOL Group (1998) dalam (Larasati, 2012).

Kualitas hidup ditetapkan secara berbeda dalam penelitian lain. Namun

dalam penelitian ini kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan

keunggulan kualitas hidup seorang individu yang dapat dinilai berdasarkan konsep

WHOQOL Group (1998) dari kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan

lingkungan.

1.2 Dimensi – Dimensi Kualitas Hidup

Menurut WHOQOL group Lopez dan Sayder (2004) (dalam Sekarwiri

2008), kualitas hidup terdiri dari enam dimensi yaitu kesehatan fisik,

kesejahteraan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, hubungan dengan

lingkungan dan keadaan spiritual. Kemudian WHOQOL dibuat lagi menjadi

instrument WHOQOL – BREF dimana dimensi tersebut diubah menjadi empat

dimensi yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial dan

hubungan dengan lingkungan.

Dalam hal ini dimensi fisik yaitu aktivitas sehari-hari, ketergantungan

obat-obatan dan bantuan medis, energi dan kelelahan, mobilitas, sakit dan

(21)

Martonah (2010) aktivitas sehari – hari adalah suatu energi atau keadaan untuk

bergerak dalam memenuhi kebutuhan hidup dimana aktivitas dipengaruhi oleh

adekuatnya system persarafan, otot dan tulang atau sendi.

Ketergantungan obat-obatan dan bantuan medis yaitu seberapa besar

kecenderungan individu menggunakan obat-obatan atau bantuan medis lainnya

dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Energi dan kelelahan merupakan tingkat

kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sedangkan mobilitas merupakan tingkat perpindahan yang mampu dilakukan oleh

individu dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Kemudian sakit dan

ketidaknyamanan menggambarkan sejauh mana perasaan keresahan yang

dirasakan individu terhadap hal-hal yang menyebabkan individu merasa sakit

(Sekarwiri, 2008).

Menurut Tarwoto dan Martonah (2010) istirahat merupakan suatu keadaan

dimana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat badan menjadi lebih segar.

Sedangkan tidur adalah suatu keadaan relative tanpa sadar yang penuh ketenangan

tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan

masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda. Kapasitas

kerja menggambarkan kemampuan yang dimiliki individu untuk menyelesaikan

tugas-tugasnya.

Dimensi psikologis yaitu bodily dan appearance, perasaan negatif ,

perasaan positif, self – esteem, berfikir, belajar, memori, dan konsentrasi. Aspek

sosial meliputi relasi personal, dukungan sosial dan aktivitas seksual. Kemudian

(22)

security , perawatan kesehatan dan sosial care lingkungan rumah, kesempatan

untuk mendapatkan berbagai informasi baru dan keterampilan, partisipasi dan

kesempatan untuk melakukan rekreasi atau kegiatan yang menyenangkan serta

lingkungan fisik dan transportasi (Sekarwiri, 2008).

Bodily dan appearance menggambarkan bagaimana individu memandang

keadaan tubuh serta penampilannya. Perasaan negative menggambarkan adanya

perasaan yang tidak menyenangkan yang dimiliki oleh individu. Perasaan positif

merupakan gambaran perasaan yang menyenangkan yang dimiliki oleh individu.

Self – esteem melihat bagaimana individu menilai atau menggambarkan dirinya

sendiri. Berfikir, belajar, memori, dan konsentrasi dimana keadaan kognitif

individu yang memungkinkan untuk berkonsentrasi, belajar dan menjelaskan

fungsi kognitif lainnya (Sekarwiri, 2008).

Dimensi hubungan social mencakup relasi personal, dukungan social dan

aktivitas sosial. Relasi personal merupakan hubungan individu dengan orang lain.

Dukungan sosial yaitu menggambarkan adanya bantuan yang didapatkan oleh

individu yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Sedangkan aktivitas seksual

merupakan gambaran kegiatan seksual yang dilakukan individu (Sekarwiri, 2008).

Adapun dimensi lingkungan yaitu mencakup sumber financial, Freedom,

physical safety dan security, perawatan kesehatan dan sosial care, lingkungan

rumah, kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi baru dan

keterampilan, partisipasi dan kesempatan untuk melakukan rekreasi atau kegiatan

(23)

Sumber finansial yaitu merupakan keadaan keuangan individu. Freedom,

physical safety dan security yaitu menggambarkan tingkat keamanan individu

yang dapat mempengaruhi kebebasan dirinya. Perawatan kesehatan dan sosial

care merupakan ketersediaan layanan kesehatan dan perlindungan sosial yang

dapat diperoleh individu. Lingkungan rumah menggambarkan keadaan tempat

tinggal individu. Kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi baru dan

keterampilan yaitu menggambarkan ada atau tidaknya kesempatan bagi individu

untuk memperoleh hal-hal baru yang berguna bagi individu.

Partisipasi dan kesempatan untuk melakukan rekreasi atau kegiatan yang

menyenangkan merupakan sejauhmana individu memiliki kesempatan dan dapat

bergabung untuk berkreasi dan menikmati waktu luang. Sedangkan lingkungan

fisik menggambarkan keadaan lingkungan tempat tinggal individu (keadaan air,

saluran udara, iklim, polusi, dll). Transportasi yaitu sarana kendaraan yang dapat

dijangkau oleh individu (Sekarwiri, 2008).

1.3 Pengukuran Kualitas Hidup

Skevington, Lotfy dan O’ Connell (2004) dalam Sekarwiri (2008)

pengukuran kualitas hidup dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengukuran

kualitas hidup secara menyeluruh (kualitas hidup dipandang sebagai evaluasi

individu terhadap dirinya secara menyeluruh atau hanya mengukur domain

tertentu saja (kualitas hidup diukur hanya melalui bagian tertentu saja dari diri

seseorang. Pengukuran kualitas hidup oleh para ahli belum mencapai suatu

(24)

Pengukuran kualitas hidup alat WHOQOL – BREF merupakan

pengukuran yang menggunakan 26 item pertanyaan. Dimana alat ukur ini

mengunakan empat dimensi yaitu fisik, psikologis, lingkungan dan sosial.

1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh WHOQOL (dalam Power,

2003), persepsi individu mengenai kualitas hidupnya dipengaruhi oleh konteks

budaya dan sistem nilai dimana individu tinggal. Hal ini juga sesuai degnan apa

yang dikatakan Fadda dan Jiron (1999) bahwa kualitas hidup bervariasi antara

individu yang tinggal di kota/ wilayahsatu dengan yang lain bergantung pada

konteks budaya, sistem, dan berbagai kondisi yang berlaku pada wilayah tersebut.

Berbagai penelitian mengenai kualitas hidup menemukan beberapa faktor-faktor

lain yang mempengaruhi kualitas hidup. Berikut beberapa faktor yang

mempengaruhi kualitas hidup yaitu :

1. Gender atau Jenis Kelamin

Moons, dkk (2004) dalam (Noftri, 2009)mengatakan bahwa gender adalah

salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Bain, dkk (2003) dalam

(Nofitri, 2009) menemukan adanya perbedaan antara kualitas hidup antara

laki-laki dan perempuan, dimana kualitas hidup laki-laki-laki-laki cenderung lebih baik

daripada kualitas hidup perempuan. Bertentangan dengan penemuan Bain, dkk

(2004) dalam (Nofitri, 2009) menemukan bahwa kualitas hidup perempuan

cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Ryff dan Singer (1998) dalam (Nofitri,

2009) mengatakan bahwa secara umum, kesejahteraan laki-laki dan perempuan

(25)

hubungan yang bersifat positif sedangkan kesejahteraan tinggi pada pria lebih

terkait dengan aspek pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.

2. Usia

Moons, dkk (2004) dan Dalkey (2002) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan

bahwa usia adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian

yang dilakukan oleh Wagner, Abbot, & Lett (2004) dalam (Nofitri, 2009)

menemukan adanya perbedaan yang terkait dengan usia dalam aspek-aspek

kehidupan yang penting bagi individu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan

oleh Ryff dan Singer (1998) dalam (Nofitri, 2009), individu dewasa

mengekspresikan kesejahteraan yang lebih tinggi pada usia dewasa madya.

Penelitian yang dilakukan oleh Rugerri, dkk (2001) dalam (Nofitri, 2009)

menemukan adanya kontribusi dari faktor usia tua terhadap kualitas hidup

subjektif.

3. Pendidikan

Moons, dkk (2004) dan Baxter (1998) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan

bahwa tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kualitas hidup subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Wahl, dkk (2004) dalam

(Nofitri, 2009) menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring dengan

lebih tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan oleh individu. Penelitian yang

dilakukan oleh Noghani, dkk (2007) dalam (Nofitri, 2009) menemukan adanya

pengaruh positif dari pendidikan terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak

(26)

4. Pekerjaan

Moons, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa terdapat

perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang berstatus sebagai pelajar,

penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak bekerja (atau sedang mencari

pekerjaan), dan penduduk yang tidak mampu bekerja (atau memiliki disablity

tertentu). Wahl, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) menemukan bahwa status

pekerjaan berhubungan dengan kualitas hidup baik pada pria maupun wanita.

5. Status pernikahan

Moons, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa terdapat

perbedaan kualitas hidup antara individu yang tidak menikah, individu bercerai

ataupun janda, dan individu yang menikah atau kohabitasi. Penelitian empiris di

Amerika secara umum menunjukkan bahwa individu yang menikah memiliki

kualitas hidup yang lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah, bercerai,

ataupun janda/duda akibat pasangan meninggal Glenn dan Weaver (1981) dalam

(Nofitri, 2009) .Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahl, dkk

(2004) dalam (Nofitri, 2009) menemukan bahwa baik pada pria maupun wanita,

individu dengan status menikah atau kohabitasi memiliki kualitas hidup yang

lebih tinggi.

6. Penghasilan

Baxter, dkk (1998) dan Dalkey (2002) dalam (Nofitri, 2009) menemukan

adanya pengaruh dari faktor demografi berupa penghasilan dengan kualitas hidup

(27)

Asgharpour, Safa, dan Kermani (2007) dalam (Nofitri, 2009) juga menemukan

adanya kontribusi yang lumayan dari faktor penghasilan terhadap kualitas hidup

subjektif namun tidak banyak.

7. Hubungan dengan orang lain

Baxter, dkk (1998) dalam (Nofitri, 2009) menemukan adanya pengaruh

dari faktor demografi berupa faktor jaringan sosial dengan kualitas hidup yang

dihayati secara subjektif. Kahneman, Diener, & Schwarz (1999) dalam (Nofitri,

2009) mengatakan bahwa pada saat kebutuhan akan hubungan dekat dengan orang

lain terpenuhi, baik melalui hubungan pertemanan yang saling mendukung

maupun melalui pernikahan, manusia akan memiliki kualitas hidup yang lebih

baik baik secara fisik maupun emosional. Penelitian yang dilakukan oleh

Noghani, Asgharpour, Safa, dan Kermani (2007) dalam (Nofitri, 2009) juga

menemukan bahwa faktor hubungan dengan orang lain memiliki kontribusi yang

cukup besar dalam menjelaskan kualitas hidup subjektif.

8. Standard referensi

O’Connor (1993) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa kualitas hidup

dapat dipengaruhi oleh standard referensi yang digunakan seseorang seperti

harapan, aspirasi, perasaan mengenai persamaan antara diri individu dengan orang

lain. Hal ini sesuai dengan definisi kualitas hidup yang dikemukakan oleh

WHOQoL (Power, 2003) dalam (Nofitri, 2009), bahwa kualitas hidup akan

dipengaruhi oleh harapan, tujuan, dan standard dari masing-masing individu.

Glatzer dan Mohr (1987) dalam (Nofitri, 2009) menemukan bahwa di antara

(28)

memiliki pengaruh yang kuat terhadap kualitas hidup yang dihayati secara

subjektif. Jadi, individu membandingkan kondisinya dengan kondisi orang lain

dalam menghayati kualitas hidupnya.

2. Wanita Lansia

2.1 Defenisi wanita lansia

Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 yang dimaksud dengan

lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Zulsita,

2011).

2.2 Perubahan – Perubahan Pada Wanita Lansia

Perubahan – perubahan yang terjadi pada wanita lansia:

2.2.1 Perubahan fisik

Beberapa perubahan fisik yang terjadi pada wanita lansia:

1. Sel

Jumlah sel berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan

cairan intraseluler menurun.

2. Kardiovaskular

Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun

(menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun,

serta meningkatnya retensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah

meningkat.

3. Respirasi

Otot-otot pernafasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru

(29)

alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun,

serta terjadi penyempitan pada bronkus.

4. Persarafan

Saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat

dalam merespons dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan

dengan stres. Berkurang atau hilangnya lapisan myelin akson, sehingga

menyebabkan berkurangnya respons motorik dan refleks.

5. Muskuloskletal

Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk

(kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram,

tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis.

6. Gastrointestinal

Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun, dan peristaltik

menurun sehingga daya absorpsi juga ikut menurun. Ukuran lambung

mengecil serta fungsi organ aksesori menyebabkan berkurangnya produksi

hormone dan enzim pencernaan.

7. Genitourinaria

Ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan di

glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan

mengonsentrasi urine ikut menurun.

8. Vesika urinaria

(30)

9. Vagina

Selaput lendir mengering dan sekresi menurun. Penyebabnya adalah

kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis,

lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang

senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama,

keputihan, rasa sakit pada saat kencing.

10.Pendengaran

Membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang –

tulang pendengaran mengalami kekakuan.

11.Penglihatan

Respons terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap menurun,

akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak.

12.Endokrin

Produksi hormone menurun.

13. Kulit

Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan

telinga menebal. Elastisitas menuru, rambut memutih, kelenjar keringat

menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan

seperti tanduk.

14.Belajar dan Memori

Kemampuan belajar masih ada tetapi relative menurun. Memori ( daya

(31)

2.2.2 Perubahan Psikososial

Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya

dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila mengalami pensiun, seseorang

akan mengalami kehilangan, antara lain :

1. Kehilangan financial (pendapatan berkurang)

2. Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan/posisi yang cukup tinggi,

lengkap dengan semua fasilitas).

3. Kehilangan teman/kenalan atau relasi

4. Kehilangan pekerjaan/kegiatan

5. Merasakan atau sadar terhadap kematian, perubahan cara hidup (memasuki

rumah perawatan, bergerak lebih sempit).

6. Kemampuan ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan. Biaya hidup

meningkat pada penghasilan yang sulit, biaya pengobatan bertambah.

7. Adanya penyakit kronis dan ketidakmampuan.

8. Timbul kesepian akibat pengasingan dari lingkungan social.

9. Adanya gangguan saraf panca-indra, timbul kebutaan dan ketulian.

10. Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.

11. Rangakaian kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan

keluarga.

12. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik (perubahan terhadap gambaran

diri, perubahan konsep diri).

(32)

2.2.3 Perubahan Psikologis

Perubahan psikologis pada wanita lansia meliputi short term memory,

frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian,

perubahan keinginan, depresi, dan kecemasan. Psikis pada wanita usia lanjut

perubahan dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah, curiga, bertambah

pelit. Hal yang perlu dimengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada hamper

setiap lanjut usia, yakni keinginan berumur panjang, tenaganya sedapat mungkin

dihemat. Individu tetap mengharapkan tetap diberi peranan dalam masyarakat,

ingin mempertahankan hak dan harkatnya serta ingin tetap berwibawa.

Faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis:

1. Perubahan fisik

2. Kesehatan umum

3. Tingkat pendidikan

4. Keturunan

5. Lingkungan

(Nugroho, 2008)

2.3 Masalah Dan Penyakit Pada Wanita Lansia

2.3.1 Mudah jatuh

Jatuh pada wanita usia lanjut merupakan masalah yang sering terjadi. Banyak

factor yang mempengaruhi terjadinya jatuh wanita lansia baik faktor intrinsik

(33)

Adapun faktor intinsik yaitu :

1. Gangguan jantung atau sirkulasi darah

2. Gangguan system susunan saraf

3. Gangguan system anggota gerak

4. Gangguan penglihatan dan pendengaran

5. Gangguan psikologis

6. Gangguan gaya berjalan

Faktor ekstrinsik:

1. Cahaya ruangan yang kurang terang

2. Lingkungan yang asing bagi lanjut usia

3. Lantai yang licin

4. Obat-obatan yang diminum (diuretic, antidepresan, sedatif, anti-psikotik,

alcohol, dan obat hipoglikemik).

2.3.2 Mudah lelah

Hal ini dapat disebabkan oleh:

1. Faktor psikologis (perasaan bosan, keletihan, atau depresi)

2. Gangguan organis, misalnya : Anemia, kekurangan vitamin, perubahan pada

tulang, gangguan pencernaan, kelainan metabolism (diabetes mellitus,

hipertiroid), gangguan pencernaan, kelainan metabolism, gangguan ginjal

dengan uremia, gangguan faal hati, gangguan system peredaran darah dan

jantung.

3. Pengaruh obat, misalnya obat penenang, obat jantung, dan obat yang

(34)

2.3.3 Gangguan Kardiovaskular

1. Nyeri dada

Nyeri dada dapat disebabkan penyakit jantung koroner yang dapat

menyebabkan iskemia jantung, Aneurisme aorta, radang selaput jantung,

gangguan pada system alat pernafasan misalnya pleura-pneumonia/emboli

paru dan gangguan pada saluran pencernaan bagian atas.

2. Sesak nafas pada kerja fisik

Sesak nafas pada kerja fisik dapat disebabkan oleh kelemahan jantung,

gangguan system salurn nafas, berat badan berlebihan atau anemia.

3. Palpitasi

Palpitasi dapat disebabkan oleh gangguan irama jantung, keadaan umum

badan yang lemah karena penyakit kronis, dan faktor psikologis.

4. Edema kaki dapat disebabkan oleh kaki yang lama digantung, gagal jantung,

bendungan pada vena bagian bawah, kekurangan vitamin B1, gangguan

penyakit hati, penyakit ginjal, serta kelumpuhan pada kaki.

2.3.4 Nyeri atau Ketidaknyamanan

1. Nyeri pinggang atau punggung

Nyeri dapat disebabkan oleh gangguan sendi atau susunan sendi pada susunan

tulang belakang (osteomalasia, osteoporosis, dan osteoartitis), gangguan

pancreas, dan kelainan ginjal, gangguan pada rahim dan gangguan pada otot

(35)

2. Nyeri sendi pinggul

Gangguan sendi pinggul, misalnya radang sendi, sendi tulang yang keropos,

kelainan tulang sendi, dan akibat pada saraf punggung bagian bawah yang

terjepit.

3. Keluhan pusing

Keluhan pusing dapat disebabkan oleh gangguan lokal misalnya vaskular,

migrain, mata. Selain itu penyakit sistemis yang menimbulkan hipoglikemia

serta psikologis (perasaan cemas, depresi, kurang tidur dan lain-lain).

4. Kesemutan anggota badan

Keluhan ini dapat disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah lokal ,

gangguan persarafan umum dan gangguan persarafan lokal pada bagian

anggota badan.

2.3.5 Berat Badan Menurun

Berat badan menurun disebabkan oleh nafsu makan menurun, adanya

penyakit kronis, gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan

makanan terganggu serta faktor sosio-ekonomis.

2.3.6 Gangguan Eliminasi

1. Inkontinensia urine

Inkontinensia urine adalah pengeluaran urine tanpa disadari dalam jumlah

frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau

sosial. Hasil penelitian pada populasi lanjut usia di masyarakat ( usia diatas 70

(36)

Inkontinensia urine dapat terjadi karena adanya factor pencetus yang

mengiringi perubahan pada organ berkemih akibat prose menua, misalnya infeksi

saluran kemih, obat-obatan, kesulitan bergerak, kepikunan, dan lain-lain.

Penyebab inkontinensia urine ada dua yaitu penyebab akut dan penyebab

kronis. Penyebab akut biasanya dapat diatasi sehingga inkontinensia urine dapat

dihilangkan atau disembuhkan. Penyebab akut yaitu delirium, mobilitas terbatas,

infeksi pada saluran kemih serta farmaseutikal.

Sedangkan penyebab kronis inkontinensia urine tidak dapat dihilangkan

secara tuntas, tetapi dapat dikurangi dan dikontrol dengan beberapa

nonfarmakologis dan terapi farmakologis. Penyebab kronis tersebut antara lain

kelemahan otot dasar panggul atau instabilitas otot kandung kemih yang sudah

berat. Selain itu, adanya gangguan neurologis seperti stroke, penyakit parkinon,

dan demensia dapat juga menyebabkan kesulitan dalam upaya menanggulangi

inkontinensia urine, sehingga dapat dikategorikan sebagai penyebab kronis.

2. Inkontinensia Alvi

Inkontinensia alvi didefenisikan sebagai ketidakmampuan seseorang

dalam menahan dan mengeluarkan tinja pada waktu dan tempat yang tepat.

Penyebab inkontinensia alvi yaitu obat pencahar perut, gangguan saraf, keadaan

diare, kelainan pada usus besar, kelainan pada ujung saluran pencernaan serta

neurodiabetik.

2.3.7 Gangguan Ketajaman Penglihatan

Gangguan ini dapat disebabkan oleh presbiopi, kelainan lensa mata,

(37)

depigmentasi, pupil kontriksi, reflek direk lemah, tekanan dalam mata meninggi,

lapang pandang menyempit (glaukoma), Retina terjadi degenerasi dan radang

saraf mata.

2.3.8 Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran yang utama adalah hilangnya pendengaran

terhadap nada murni berfrekuensi tinggi, yang merupakan suatu fenomena yang

berhubungan dengan lanjut usia, bersifat simetris dengan perjalanan yang

progresif lambat.

2.3.9 Gangguan Tidur

Gangguan tidur dapat disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan faktor

intrinsik. Faktor intrinsik misalnya lingkungan yang kurang tenang, sedangkan

faktor ekstrinsik yaitu organik dan psikogenik. Organik berupa nyeri, gatal, kram

betis, sakit gigi, sindrom tungkai bergerak (akatisia) dan penyakit tertentu yang

membuat gelisah. Pada psikogenik yaitu depresi, kecemasan, stres, iritabilitas dan

marah yang tidak tersalurkan.

2.3.10 Penyakit Pada Sistem Pernafasan dan Kardiovaskular

1. Paru

Fungsi paru mengalami kemunduran dengan datangnya usia tua yang

disebabkan elastisitas jaringan paru dan dinding dada semakin berkurang.

Berkurangnya fungsi paru juga disebabkan oleh berkurangnya fungsi sistem

respirasi seperti fungsi ventilasi paru. Selain penurunan fungsi paru akibat

proses menua, beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru, antara lain

(38)

mempengaruhi sistem pernafasan lanjut usia dan karena daya tahan tubuh

menurun sehingga individu mudah terkena infeksi.

2. Jantung dan Pembuluh darah

Pada lanjut usia umumnya mengalami pembesaran jantung. Rongga bilik

kiri juga mengalami penurunan akibat semakin berkurangnya aktivitas. Pada

lanjut usia, tekanan darah akan naik secara bertahap, elastisitas jantung pada

usia 70 tahun menurun sekitar 50% dibandingkan dengan orang muda berusia

20 tahun. Oleh karena itu tekanan darah pada wanita lanjut usia mencapai

170/90 mmHg masih dianggap normal.

Perubahan lain yang terjadi yaitu perubahan pada pembuluh darah. Proses

yang disebut ateriosklerosis atau pengapuran dinding pembuluh darah dapat

terjadi pada banyak lokasi. Proses pengapuran ini akan berlanjut menjadi proses

yang menghambat aliran darah dan pada suatu saat dapat menutup pembuluh

darah.

Bila terjadi sumbatan jaringan yang dialiri zat asam oleh pembuluh darah

akan menyebabkan rusak/mati yang disebut infark. Bila terjadi di otak akan

terjadi stroke, sedangkan bila terjadi di jantung dapat menyebabkan infark

jantung atau infark miokard atau gangguan koroner lainnya. Pada wanita

biasanya menderita penyakit jantung koroner. Sekitar 12% wanita yang berusia

65 tahun keatas mengalami jntung koroner.

2.3.11 Hipertensi

Dari banyak penelitian epidemiologi didapat bahwa dengan meningkatnya

(39)

Hipertensi pada lanjut usia dibedakan atas:

1. Hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan

atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.

2. Hipertensi sistolik terisolasi tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan

tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

2.3.12 Penyakit Sistem Pencernaan

Pada lanjut usia sudah mengalami kelemahan otot polos sehingga proses

menelan sehingga proses menelan sering mengalami kesulitan.

Penyakit dan gangguan pada lambung meliputi:

1. Terjadi atrofi mukosa, atrofi sel kelenjar, yang menyebabkan sekresi asam

lambung dan pepsin dari faktor intrinsik kurang.

2. Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa

lambung. Insiden gastritis meningkat dengan lanjutnya proses menua dan

sering kali asimtomatik.

3. Ulkus peptikum yang bisa terjadi di esofagus, lambung, dan duodenum

walaupun kadar asam lambung pada lanjut usia sudah menurun, insiden

ulkus di lambung masih lebih banyak dibanding ulkus duodenum.

Gejalanya biasanya tidak spesifik, penurunan berat badan, mual, dan perut

terasa tidak enak.

2.3.13 Penyakit Sistem Urogenital

Peradangan dalam sistem urogenital ditemukan pada wanita usia lanjut

berupa peradangan kandung kemih sampai peradangan ginjal akibat sisa urine

(40)

2.3.14 Penyakit Gangguan Endokrin (Metabolisme)

Perubahan karena proses menua pada reseptor hormon, kerusakan

permeabilitas sel, dan sebagainya dapat menyebabkan perubahan respons inti sel

terhadap kompleks hormon reseptor.

Penyakit metabolik pada lanjut usia terutama disebabkan menurunnya

produksi hormon, antara lain terlihat pada wanita yang mendekati usia 50 tahun

yang ditandai dengan menopause. Proses metabolik yang banyaj ditemukan ialah

diabetes mellitus dan osteoporosis (berkurangnya zat kapur dan bahan mineral

sehingga tulang lebih mudah rapuh dan menipis).

(Nugroho, 2008)

2.4 Penanggulangan Masalah Terkait Proses Penuaan Alami

2.4.1 Penanggulangan masalah akibat perubahan fungsi tubuh

1. Perawatan diri sehari-hari

2. Senam/latihan pergerakan secara teratur

3. Pemeriksaan kesehatan secara rutin

4. Mengikuti kegiatan yang masih mampu dilakukan

5. Minum obat secara teratur jika sakit

6. Memakan makanan bergizi

7. Minum paling sedikit delapan gelas setiap hari

2.4.2 Penanggulangan akibat perubahan psikologis

1. Mengenal masalah yang sedang dihadapi

2. Memiliki keyakinan dalam memandang masalah

(41)

4. Memberi nasihat dan pandangan

5. Beribadah secara teratur

6. Terlibat dalam kegiatan sosial maupun keagamaan

7. Mempertahankan kehidupan seksual

2.4.3 Penanggulangan masalah akibat perubahan sosial/masyarakat

1. Memilki pandangan/wawasan

2. Saling mengunjungi

3. Melakukan kegiatan rekreasi

(42)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

1. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual dalam penelitian ini ditujukan untuk

menggambarkan bagaimana kualitas hidup wanita lanjut usia berdasarkan QOL –

BREF menurut WHO yang telah diuraikan pada Bab 2 yang mencakup kondisi

fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungannya. Berdasarkan tujuan

penelitian dan tinjauan kepustakaan maka konsep penelitian dapat digambarkan

sebagai berikut:

1. Gambar Kerangka Penelitian Kualitas Hidup Wanita Lansia Kualitas Hidup

WHOQOL-BREF

Faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas hidup:

1. Usia 2. Pendidikan 3. Pekerjaan

4. Status pernikahan 5. Penghasilan

6. Hubungan dengan orang lain

Tingkat kualitas hidup:

Baik

Cukup Baik

(43)

1.2Defenisi Operasional

Tabel. 1.2.1 Defenisi Operasional Variabel Penelitian

No Variabel Defenisi

Operasional

Kualitas hidup

adalah tingkat

persepsi

wanita usia 60

tahun

dengan 26 item

(44)
(45)

BAB 4

METODE PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu rancangan

penelitian yang bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan tentang suatu

keadaan secara objektif, dalam hal ini yang digambarkan adalah kualitas hidup

wanita lansia.

2. Populasi dan Sampel

2.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah para wanita lansia yang berumur ≥60

tahun dan tinggal di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi.

Adapun populasi wanita lansia di kel. Pabatu kec. Padang Hulu, Tebing Tinggi

berjumlah 112 orang (Data Kelurahan Pabatu).

2.2 Sampel

Sampel merupakan sebagian dari jumlah atau wakil dari populasi yang

diteliti (Arikunto, 2010). Besarnya sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan

(46)

n =

12 , 2 112

n = 52,8

Keterangan :

N : Besar populasi

n : Besar sampel

d : Tingkat kepercayaan/ketetapan yang diinginkan 0,1 (10%)

Maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 53 orang.

Metode yang digunakan adalah random sampling . Dimana peneliti

mengambil seluruh data responden dari kelurahan kemudian diundi, setelah diundi

nama yang keluar dijadikan sampel.

3. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu,

Tebing Tinggi pada tanggal 18 Juli 2012 – 18 Agustus 2012. Adapun alasan

peneliti melakukan penelitian di lokasi ini karena tidak pernah digunakan sebagai

lokasi penelitian, jumlah populasi wanita lansia berjumlah 112 orang sehingga

memudahkan dalam mendapatkan sampel yang memadai sesuai kriteria sampel

penelitian. Pertimbangan lain adalah akses untuk penelitian mudah dijangkau

peneliti.

4. Pertimbangan Etik

Pengumpulan data dalam penelitian ini diambil dari Kelurahan Pabatu

Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi. Peran serta dalam penelitian ini bersifat

(47)

Fakultas Keperawatan, kemudian surat persetujuan diberikan kepada Kepala

Kelurahan agar memberi persetujuan pengadaan penelitian di tempat tersebut.

Setelah peneliti mendapat lembar persetujuan dari Kelurahan maka

peneliti memberikan Informed Consent kepada responden yang ditandatangani

sebagai bukti kesediaan menjadi responden. Dalam hal ini responden tidak ada

yang menolak dalam penelitian ini. Semua responden akan dilindungi dari

kerugian materil, nama baik dan resiko yang timbul akibat penelitian ini. Dalam

menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama

responden pada lembar instrumen. Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh

peneliti, dan hanya kelompok data tertentu saja yang dilaporkan sebagai hasil

penelitian.

5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat

pengumpulan data. Pada bagian awal berisi data demografi yang berisi usia,

pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, penghasilan, dan hubungan dengan

orang lain. Kemudian pada bagian kedua berisi kuesioner kualitas hidup

berdasarkan WHOQOL-BREF.

Pengukuran kualitas hidup alat WHOQOL – BREF merupakan pengukuran

yang menggunakan 26 item pertanyaan. Dimana alat ukur ini mengunakan empat

dimensi yaitu fisik, psikologis, lingkungan dan sosial. Semua pertanyaan

berdasarkan pada skala likert lima poin (1-5) dan empat macam pilhan jawaban.

Pilihan jawaban yang pertama yaitu sangat buruk (1), buruk (2), biasa saja (3),

(48)

memuaskan (1), tidak memuaskan (2), biasa saja (3), memuaskan (4), dan sangat

memuaskan (5). Pilihan jawaban yang ketiga yaitu tidak pernah (1), jarang (2),

cukup sering (3), sangat sering (4) dan berlebihan (5). Pilihan jawaban yang

keempat yaitu tidak sama sekali (1), sedikit (2), sedang (3), sangat sering (4),

sepenuhnya dialami (5).

Untuk pertanyaan nomor 1 dan 2 tentang kualitas hidup secara menyeluruh

dan kesehatan secara umum. Domain 1 - Fisik ada pada pertanyaan nomor 3, 4,

10, 15, 16, 17, dan 18. Domain 2 - Psikologis ada pada pertanyaan nomor 5, 6, 7,

11, 19, dan 26. Domain 3 - Hubungan sosial ada pada pertanyaan nomor 20, 21,

dan 22. Domain 4 - Lingkungan ada pada pertanyaan nomor 8, 9, 12, 13, 14, 23,

24, dan 25. Nilai dari keempat domain menunjukkan persepsi individu pada

kualitas hidup di masing-masing domain.

6. Uji Validitas dan Reliabilitas

Alat ukur WHOQOLBREF merupakan alat ukur yang valid (r = 0,89

-0,95) dan reliable (R= 0,66-0,87) (Sekarwiri, 2008). Berdasarkan hasil

penelitian Salim, Sudharma, Kusumaratma dan Hidayat (2007) bahwa

kuesioner WHOQOL-BREF merupakan kuesioner yang valid dan reliable

untuk kualitas hidup lansia dengan nilai (r = 0,5-0,7) dan (R = 0,69-0,71).

Wardani (2004 dalam Sekarwiri 2008) juga telah melakukan uji validitas dan

uji reliabilitas instrumen WHOQOL – BREF untuk mengukur kualitas hidup.

Adapun uji validitasnya mengahasilkan Coefficient Alpha Cronbach 0,409 –

(49)

0,8756. Berdasarkan hasil uji yang dilakukan oleh Wardani (2004 dalam

Sekarwiri 2008) juga membuktikan bahwa instrumen WHOQOL – BREF

merupakan instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur kualitas hidup.

Pada penelitian ini instrumen hanya dilakukan uji reliabilitas, yaitu untuk

memastikan adanya konsistensi alat ukur dalam penggunaannya, atau dengan kata

lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan

berkali-kali pada waktu yang berbeda. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan

metode alpha dengan bantuan komputerisasi. Uji reliabilitas dilakukan dengan

jumlah responden sebanyak 30 responden. Dari data diperoleh Coefficient Alpha

Cronbach 0,846. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa instrumen ini reliabel

untuk mengukur kualitas hidup.

7. Pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara

dengan menggunakan kuesioner. Pengumpulan data dimulai setelah peneliti

menerima surat izin pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan yaitu

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan Kepala Kelurahan Pabatu

Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi. Kemudian peneliti mendatangi

responden yang telah diundi ke masing – masing rumah responden. Kemudian

memberi informed consent kepada para responden. Setelah responden bersedia

untuk menjadi objek penelitian maka peneliti melakukan wawancara pada

(50)

8. Analisa Data

Analisa data dilakukan setelah kuesioner dikumpulkan oleh peneliti

dengan cara :

1. Editing yaitu upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh

atau dikumpulkan, sehingga dapat dipastikan bahwa responden telah mengisi

semua kuesioner.

2. Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data

yang terdiri atas beberapa kategori, sehinggga memudahkan peneliti dalam

melakukan tabulasi dan analisa data.

3. Entry merupakan kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam

master tabel atau database komputer, yaitu dengan menggunakan bantuan

sistem komputer.

4. Cleaning adalah mengecek kembali data yang sudah dientri apakah ada

kesalahan atau tidak

5. Saving adalah penyimpanan data untuk siap dianalisis.

(Wahyuni, 2009).

Analisa data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dengan

menggunakan crosstab. Dalam menentukan hasil ukur digunakan rumus :

Panjang kelas (i) =

Banyak kelas Rentang

sehingga didapatkan jika skor 26-60 = tidak baik, 61-94 = cukup baik dan

95- 130 = baik.

Hasil analisa data akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi

(51)

dan persentase karakteristik demografi, tabel distribusi frekuensi dan persentase

kualitas hidup. Selain itu tabel distribusi kualitas hidup berdasarkan umur,

(52)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai kualitas hidup wanita lansia di

Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi dengan jumlah

responden sebanyak 53 orang dapat terlihat pada tabel di bawah ini:

1.1Karakteristik Demografi Responden

Pada penelitian ini data demografi responden mencakup usia, pendidikan,

pekerjaan, status pernikahan, penghasilan, dan aktivitas sosial. Secara rinci dapat

dilihat sebagai berikut:

Tabel. 1.1.1

Distribusi Frekuensi Dan Persentase Data Demografi Wanita Lansia Di Kelurahan

Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi Berdasarkan Data Demografi

Responden.

Data Demografi Frekuensi Persentase (%)

Usia - Tidak bekerja

(53)

Pernikahan

Dari tabel diatas berdasarkan usia dapat diketahui mayoritas berusia 60 – 74 tahun

(86,8%). Usia terendah responden adalah 60 tahun, usia tertinggi 79 tahun,

rata-rata usia 66,55. Berdasarkan pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan aktivitas

sosial dapat diketahui bahwa mayoritas responden 38 orang (71,7%) dengan

tingkat pendidikan tidak tamat SD/SD, tidak bekerja 40 orang (75,5%), janda 31

orang (58,5%), berpenghasilan <Rp.500.000 yaitu 35 orang (66,0%), dan

memiliki aktivitas sosial yaitu (100%).

1.2. Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan

Padang Hulu, Tebing Tinggi.

Tabel. 1.2.1

Distribusi Frekuensi Dan Presentase Kualitas Hidup Wanita lansia di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi

Kualitas Hidup Frekuensi Persentase (%)

Buruk

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia

(54)

Tabel. 1.2.2

Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi berdasarkan Usia.

Umur Kualitas hidup Total

Buruk Cukup baik Baik

F % F % F % F %

60 – 74 2 4,34 38 82,6 6 13,04 46 100

75 – 90 3 42,85 4 57,14 0 0 7 100

Dari tabel diatas bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia baik umur 60 – 74

dan umur 75 – 90 tahun adalah cukup baik .

Tabel. 1.2.3

Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi Berdasarkan Kategori Pendidikan.

Pendidikan Kualitas hidup Total

Buruk Cukup baik Baik

F % F % F % F %

Tidak tamat SD/ SD

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia

dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD/SD, SMP, SMA adalah cukup baik.

Pada tingkat pendidikan PT cenderung memiliki kualitas hidup baik .

Tabel. 1.2.4

Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi Berdasarkan Pekerjaan .

Pekerjaan Kualitas hidup Total

Buruk Cukup baik Baik

F % F % F % F %

Bekerja 1 6,66 10 66,66 4 26,66 15 100

(55)

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia

baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja adalah cukup baik.

Tabel. 1.2.5

Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi Berdasarkan Pernikahan.

Pernikahan Kualitas hidup Total

Buruk Cukup baik Baik

F % F % F % F %

Menikah 0 0 18 81,81 4 18,18 22 100

Janda 5 16,12 24 77,41 2 6,45 31 100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia

yang menikah maupun janda adalah cukup baik.

Tabel. 1.2.6

Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi Berdasarkan Penghasilan.

Penghasilan Kualitas hidup Total

Buruk Cukup baik Baik

F % F % F % F %

<500.000 5 14,7 28 82,35 1 2,9 34 100

500.000 -1000.000

0 0 14 93,33 1 6,66 15 100

>1000.000 0 0 0 0 4 100 4 100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia

yang berpenghasilan <500.000 dan 500.000 – 1000.000 adalah cukup baik.

Sedangkan responden yang berpenghasilan >1000.000 cenderung memiliki

(56)

Tabel. 1.2.7

Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Kelurahan Pabatu Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi Berdasarkan Aktivitas Sosial .

Aktivitas sosial Kualitas hidup Total

Baik Cukup baik Buruk

F % F % F % F %

Ada 5 9,4 42 79,24 6 11,32 53 100

Tidak ada 0 0 0 0 0 0 0 0

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas kualitas hidup wanita lansia

yang memiliki aktivitas sosial adalah cukup baik.

2. PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan dijabarkan mengenai hasil penelitian diantaranya

kualitas hidup wanita lansia, kualitas hidup wanita lansia berdasarkan faktor

umur, pendidikan, pekerjaan, pernikahan, penghasilan, dan faktor hubungan

dengan orang lain (aktivitas sosial).

2.1Kualitas Hidup Wanita Lansia

Hasil penelitian ini menemukan bahwa kualitas hidup wanita lansia memiliki

kualitas hidup yang cukup baik, yaitu dengan persentase 79,2 %. Coons dan

Kaplan (1994 dalam Larasakti, 2009) mengatakan bahwa setiap orang memiliki

kualitas hidup yang berbeda tergantung dari masing-masing individu dalam

menyikapi permasalahan yang terjadi dalam dirinya. Jika menghadapi dengan

positif maka akan baik pula kualitas hidupnya, tetapi lain halnya jika dihadapi

dengan negatif maka akan buruk pula kualitas hidupnya.

Berdasarkan hasil Penelitian (Nofitri, 2009) bahwa kualitas hidup pada

(57)

status sosial ekonomi menengah ke atas. Berbeda dengan kualitas hidup pada

penelitian ini bahwa responden wanita lansia, pendidikan minimal tidak tamat SD,

dan mayoritas responden memiliki penghasilan dibawah Rp.500.000.

Kualitas hidup akan mempengaruhi kelangsungan hidup wanita itu sendiri

terkait dengan harapan hidupnya. Jika memiliki kualitas hidup yang baik, maka

akan memiliki harapan hidup yang baik pula (Glasier dan Gabbie, 2008).

2.2 Kualitas Hidup Wanita Lansia Berdasarkan Usia , Pendidikan, Pekerjaan,

Penghasilan,Pernikahan dan Aktivitas sosial.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas hidup wanita lansia baik

berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan aktivitas sosial adalah

cukup baik. Hasil penelitian ini berbeda dengan teori dan penelitian sebelumnya

dimana pada teori dan penelitian sebelumnya bahwa faktor – faktor tersebut

mempengaruhi kualitas hidup.

Moons, dkk (2004) dan Dalkey (2002) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan

bahwa usia adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian

yang dilakukan oleh Wagner, Abbot, & Lett (2004) dalam (Nofitri, 2009)

menemukan adanya perbedaan yang terkait dengan usia dalam aspek-aspek

kehidupan yang penting bagi individu.

Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Ryff dan Singer (1998)

dalam (Nofitri, 2009), individu dewasa mengekspresikan kesejahteraan yang lebih

(58)

Pada penelitian mengenai pendidikan Moons, dkk (2004) dan Baxter (1998)

dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa tingkat pendidikan adalah salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup subjektif.

Wahl, dkk (2004 dalam Nofitri, 2009), dalam penelitiannya menemukan

bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring dengan tingkat pendidikan yang

didapatkan oleh individu. Semakin tinggi pendidikannya, kualitas hidup wanita

lansia semakin baik.

Dalam penelitian Moons, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa

terdapat perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang berstatus sebagai pelajar,

penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak bekerja (atau sedang mencari

pekerjaan), dan penduduk yang tidak mampu bekerja (atau memiliki disablity

tertentu). Penelitian ini sesuai dengan Wahl, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009)

menemukan bahwa status pekerjaan berhubungan dengan kualitas hidup baik pada

pria maupun wanita.

Moons, dkk (2004) dalam (Nofitri, 2009) mengatakan bahwa terdapat

perbedaan kualitas hidup antara individu yang tidak menikah, individu bercerai

ataupun janda, dan individu yang menikah atau kohabitasi. Penelitian empiris di

Amerika secara umum menunjukkan bahwa individu yang menikah memiliki

kualitas hidup yang lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah, bercerai,

ataupun janda/duda akibat pasangan meninggal Glenn dan Weaver (1981) dalam

(Nofitri, 2009) .Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahl, dkk

(59)

individu dengan status menikah atau kohabitasi memiliki kualitas hidup yang

lebih tinggi.

Baxter, dkk (1998) dan Dalkey (2002) dalam (Nofitri, 2009) menemukan

adanya pengaruh dari faktor demografi berupa penghasilan dengan kualitas hidup

yang dihayati secara subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Noghani,

Asgharpour, Safa, dan Kermani (2007) dalam (Nofitri, 2009) juga menemukan

adanya kontribusi yang lumayan dari faktor penghasilan terhadap kualitas hidup

subjektif namun tidak banyak.

Kualitas hidup wanita lansia pada penelitian ini baik berdasarkan usia,

pendidikan, pekerjaan, pekerjaan, pernikahan dan aktivitas sosial memiliki

kualitas hidup cukup baik. Hal ini terkait dengan usia wanita lansia dengan tahap

perkembangannya saat ini dan masa kehidupannya. Selain itu ada faktor yang

tidak diteliti yaitu standar referensi. Menurut O’Connor (1993) dalam (Nofitri,

2009) mengatakan bahwa kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh standard referensi

yang digunakan seseorang seperti harapan, aspirasi, perasaan mengenai

persamaan antara diri individu dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan definisi

kualitas hidup yang dikemukakan oleh WHOQoL (Power, 2003) dalam (Nofitri,

2009), bahwa kualitas hidup akan dipengaruhi oleh harapan, tujuan, dan standard

dari masing-masing individu. Glatzer dan Mohr (1987) dalam (Nofitri, 2009)

menemukan bahwa di antara berbagai standard referensi yang digunakan oleh

individu, komparasi sosial memiliki pengaruh yang kuat terhadap kualitas hidup

(60)

kondisi orang lain dalam menghayati kualitas hidupnya dimana secara psikologis

Figur

Tabel. 1.2.1 Defenisi Operasional Variabel Penelitian
Tabel 1 2 1 Defenisi Operasional Variabel Penelitian . View in document p.43
Tabel. 1.1.1
Tabel 1 1 1. View in document p.52
Tabel. 1.2.1
Tabel 1 2 1 . View in document p.53
Tabel. 1.2.2
Tabel 1 2 2 . View in document p.54
Tabel. 1.2.3
Tabel 1 2 3 . View in document p.54
Tabel. 1.2.4
Tabel 1 2 4 . View in document p.54
Tabel. 1.2.5
Tabel 1 2 5 . View in document p.55
Tabel. 1.2.6
Tabel 1 2 6 . View in document p.55
Tabel. 1.2.7
Tabel 1 2 7 . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...